Laksmi dan Plastik Bekas

2012 Februari - Kompas Anak-Laksmi dan Plastik Bekas

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Hari pertamaku di sekolah baru, di kelas 4 B. Saat masuk dan dikenalkan di depan kelas, mataku langsung melihat sosok yang sepertinya baru kulihat kemarin. Saat aku duduk, kupandangi gadis yang duduk di depanku itu. Untuk sesaat, aku jadi teringat kejadian di siang hari kemarin.

“Hai! Sedang apa?” tanyaku penasaran pada seorang gadis yang sedang mencari-cari sesuatu di bak sampah di depan rumahku.

“Aku mencari botol bekas apa saja yang berasal dari plastik. Apa di dalam rumahmu ada?” tanyanya.

Sesaat aku mencoba mengingat-ingat. “Ada, sebentar ya!” Aku berlari menuju kamarku, mengambili beberapa botol bekas minuman yang belum sempat kubuang.

“Ini!” seruku sambil memberikan botol-botol itu kepadanya.

Dengan wajah gembira, ia memasukkan botol-botol itu ke dalam karung plastiknya. “Terima kasih banyak!” serunya riang.

“Sama-sama. Tapi, untuk apa kamu mengumpulkan botol-botol bekas itu?” aku ingin tahu.

“Untuk diolah jadi bijih plastik,” jawabnya.

Baru kali itu aku mendengar kata-kata bijih plastik. Namun sayang, saat aku ingin bertanya lebih lanjut, gadis itu sudah buru-buru berlalu dari depan rumahku.

Dan gadis itu, kini duduk di depanku? Aku langsung seperti merasa tak percaya. Apalagi saat selama pelajaran, gadis itu sepertinya sangat pintar. Sering pertanyaan-pertanyaan dari guru di kelas bisa dijawabnya dengan benar.

Saat istirahat tiba, banyak teman-teman baruku yang mengajakku berkenalan. Termasuk gadis yang sangat membuatku penasaran itu.

“Kita sempat bertemu kemarin, kan? Namaku Laksmi,” ujar gadis itu ramah sambil mengulurkan tangannya.

“Uhm, eh, iya ya? Namaku Gadis,” jawabku lalu menjabat tangan Laksmi.

Tapi tak berapa lama, Nia dan Hera menarik tanganku dan membuatku menjauh dari Laksmi.

“Enggak usah deh dekat-dekat Laksmi,” seru Hera.

“Kamu enggak tahu ya, Laksmi itu kerjanya pemulung sampah!” tambah Nia.

“Lalu, apa yang salah?” aku heran. “Aku memang sudah tahu karena kemarin, dia lewat di depan rumahku,” jawabku jujur.

“Kamu enggak risih? Hih, bau seragamnya saja enggak enak!” seru Hera dengan jijik.

Karena Nia dan Hera terus menerus menjelek-jelekkan Laksmi, aku jadi kesal dan mencoba kembali duduk di bangkuku.

Saat kembali, kulihat Laksmi menatap sedih ke arahku. “Kamu juga akan menjauhiku seperti mereka?” tanyanya.

“Ya ampun Laksmi, kalau memang aku seperti mereka, pasti kemarin aku tidak akan menyapamu sewaktu kamu lewat di depan rumahku!” ujarku mencoba menenangkan Laksmi.

“Maaf. Kukira kamu akan seperti mereka juga,” keluhnya sedih.

Aku dan Laksmi jadi terdiam. Tiba-tiba sesuatu teringat di benakku. “Hei, boleh enggak pulang sekolah nanti aku main ke rumahmu? Sebetulnya aku masih ingin tahu apa itu bijih plastik seperti yang kamu bilang kemarin.”

“Tapi, nanti pulang sekolah aku harus keliling ke perumahan tempatmu tinggal untuk mencari sampah,” jawab Laksmi.

Sejenak aku jadi bingung sendiri. “Oh, atau begini saja. Bagaimana jika aku menemanimu berkeliling? Sekalian, aku jadi bisa membantumu dan sekaligus jadi bisa tahu jalan di perumahanku itu. Bagaimana?”

Awalnya Laksmi tetap menolak tawaranku. Ia takut aku jadi kotor, bau, dan malah membuatku jijik atas pekerjaannya itu. Namun karena aku terus memaksanya, Laksmi akhirnya menyerah.

Saat di perjalanan selama mencari sampah, Laksmi banyak bercerita tentang kondisinya.

“Aku bisa sekolah di sini karena beasiswa, Dis. Aku cuma ingin bisa pintar dan bisa jadi dokter nantinya. Itu cita-citaku sejak bapakku meninggal! Ia meninggal karena sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Sejak itu aku janji, aku harus pintar dan bisa jadi dokter. Aku tidak mau ada orang yang mengalami seperti apa yang bapakku alami. Apapun asal itu baik, akan aku lakukan Dis agar cita-citaku bisa tercapai. Meski aku harus jadi pemulung sekalipun, aku tidak menyesal!” cerita Laksmi panjang lebar. Sungguh, aku jadi ingin menangis rasanya saat tahu cerita tentang Laksmi yang sebenarnya.

Seharian bersama Laksmi, membuatku banyak tahu tentang sampah-sampah plastik yang dikumpulkan Laksmi dan bisa menghasilkan uang. Ternyata, sampah-sampah itu dikumpulkan di sebuah tempat, ditimbang, lalu Laksmi akan mendapatkan uang sebagai upahnya. Kebetulan, pengumpul sampah mau berbaik hati mengajakku untuk melihat bagaimana cara mengolah plastik-plastik bekas menjadi butiran kecil yang disebut biji plastik.

“Ini nanti bisa digunakan untuk membuat botol plastik lagi atau kantong kresek. Bahkan bisa diekspor juga lho!” ujar pengumpul plastik itu.

Sepulangnya dari jalan-jalan bersama Laksmi, aku sampai keheranan sendiri dengan pengalaman baruku hari itu. Tentang bijih plastik, tentang cita-cita Laksmi. Ah, rasanya aku pantas bersyukur bisa mengenal seorang teman baru seperti Laksmi.

*Cerpen ini pernah dimuat di Kompas Anak pada Ferbruari 2012

Badut yang tak Biasa

2012 27Sept - Bobo-Badut yang tak Biasa

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Kenalkan, namaku Wira,” ujarku mengenalkan diri.

Beberapa teman di sekolah baruku itu lalu mengenalkan dirinya satu persatu.  Lalu, tibalah giliran seorang anak perempuan yang sangat berbeda caranya saat memerkenalkan dirinya.

“Namaku Rini. Ibuku bekerja sebagai badut. Kalau kamu mengadakan pesta ulang tahun, panggil ibuku, ya!”

Aku langsung tertawa mendengarnya. Tapi sewaktu kulihat teman-teman di sekitarku, mereka justru diam dan tidak ada yang tertawa.

“Oh, eh, maaf, ya. Aku tidak bermaksud menghina,” cepat-cepat aku berujar. Aku takut jika Rini yang baru kukenal beberapa jam itu lalu tersinggung. Aku juga khawatir jika teman-temanku yang lain ikut marah dan membuat aku tidak punya teman di hari pertamaku menjadi anak baru.

“Tidak apa-apa,” jawab Rini riang dan terlihat tidak tersinggung.

Saat Rini sudah menjauh, barulah Uwi yang duduk sebangku denganku, bercerita tentang apa yang pernah terjadi pada Rini.

“Sebetulnya, dulu bapaknya Rini yang bekerja sebagai badut. Dia sering dipanggil di pesta-pesta ulang tahun. Tapi suatu hari, bapaknya mengalami kecelakaan dan meninggal. Pekerjaaan menjadi badut itu lalu diteruskan ibunya Rini. Meskipun sebetulnya, ibunya Rini masih bekerja sebagai guru TK hingga saat ini,” cerita Uwi.

Aku termenung. “Lho, lalu kenapa ibunya masih mau menjadi badut? Lagipula, aduh maaf ya, Rini kok malah terlihat bangga sih?” tanyaku heran.

“Soalnya, ibunya Rini seorang badut yang istimewa. Kalau penasaran, coba undang ibunya Rini untuk mengisi acara pesta di rumahmu. Kamu pasti akan tahu maksudku!” timpal Uwi.

Akhirnya saat pulang sekolah, aku meminta pada Mama untuk mengadakan pesta dadakan dalam waktu dekat.

“Wira ini ada-ada saja! Memangnya pesta untuk apa? Hari ulang tahun Wira, kan masih lama?” Mama menolak permintaanku.

“Yah, anggap saja pesta keakraban, Ma! Biar Wira makin mengenal teman-teman di sekolah baru Wira dan juga yang ada di perumahan tempat kita tinggal sekarang ini,” jawabku.

Karena alasanku itu, akhirnya Mama dan Papa setuju. Seminggu kemudian, pesta itu jadi diadakan. Tidak hanya teman-temanku di sekolah dan di perumahan saja yang diundang, Papa dan Mama juga mengundang anak-anak dari sahabat-sahabat Papa di kantor barunya. Tentu, aku tak lupa mengundang ibunya Rini untuk menjadi badut dan mengisi acara pesta itu.

Waktu Rini dan ibunya datang, aku terkejut. Ternyata, Rini juga hadir dengan mengenakan kostum badut di pestaku. “Lho, kamu kok ikut-ikutan jadi badut?”

“Pst… lihat saja deh aksiku dengan ibuku nanti!” jawab Rini.

Rupanya saat beraksi, Rini dan ibunya juga mendongeng. Dongeng itu hasil karangan ibunya Rini sendiri. Ceritanya pun sangat lucu, tentang seorang kurcaci yang tiba-tiba ingin menjadi peri. Karena ibunya Rini dan Rini membawakannya dengan cara yang lucu, aku dan banyak orang di pesta itu pun jadi tertawa senang.

“Jadi ceritanya, kurcaci itu merasa tubuhnya yang mungil memang mustahil untuk menjadi besar setinggi manusia. Karena itu, ia lalu memasang daun pisang di kedua tangannya. Hup! Hup! Ia lalu mengepakkan tangannya berharap bisa terbang,” cerita ibunya Rini sambil meloncat–loncat dengan mimik wajah yang lucu.

Sewaktu atraksi selesai dan waktunya istirahat bagi semua tamu di pesta, aku lalu mendekati Rini.

“Wah, kamu dan ibumu hebat ya, Rin! Sekarang aku jadi tahu kenapa Uwi pernah bilang kalau kamu dan ibumu adalah badut istimewa,” pujiku tulus.

Rini tersenyum. “Terima kasih. Jadi ikut senang nih karena kamu suka penampilanku dan ibuku tadi. Kapan-kapan, undang kami lagi, ya!” jawab Rini dengan wajah berseri-seri.

Dalam hati aku juga kagum dengan Rini yang suka membantu ibunya saat sedang menjadi badut. Yah, pantas saja ia tidak malu. Ibunya memang badut yang istimewa!

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo pada September 2012

Rahasia Kalung Kakek Danu

2012 18Okt - Bobo-Rahasia Kalung Kakek Danu

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Di kampungku, semua orang kenal dengan Kakek Danu. Beliau adalah orang yang paling tua di kampungku. Umurnya saja 150 tahun! Tapi, Kakek Danu tetap kuat melakukan segalanya sendirian. Ia malah tidak suka jika disuruh untuk berdiam diri di rumah.

Kakek Danu punya sebuah hobi. Ia suka duduk lama di warung kopi. Sambil mengopi, Kakek Danu suka bercerita. Terutama, pengalaman masa mudanya saat berperang melawan Belanda dan Jepang.

Banyak yang curiga, kehebatan Kakek Danu pasti karena kalung yang selalu dipakainya. Bentuk liontinnya sangat unik karena mirip sebuah tulang. Warnanya putih kekuning-kuningan. Jika ditanya dari mana asalnya, Kakek Danu tidak mau menjawab. Ia cuma berkata, “Kalung keramat ini adalah kalung kesayanganku.”

Karena penasaran, akhirnya banyak orang yang selalu berusaha menebak-nebak.

“Pasti itu adalah peninggalan orang tua Kakek dulu, ya?” tebak seorang warga.

“Cuma, kok bentuknya seperti tulang yang diasah tak beraturan, Kek?” sahut yang lain.

“Saya tebak, pasti itu adalah gigi hewan purba yang sekarang sudah tidak hidup lagi!” ujar yang lain.

Kakek Danu cuma tersenyum mendengar semua tebakan itu. Namun tetap saja, Kakek Danu tidak mau memberi jawabannya.

Suatu ketika, datanglah dua orang dari kota yang mencari Kakek Danu. Mereka sempat melihat Kakek Danu yang pernah menjadi berita di televisi saat ditemui petugas sensus. Tak hanya itu, mereka juga mendengar desas-desus jika kalung yang dikenakan Kakek Danu adalah kalung keramat.

“Kami ini pengoleksi barang antik, Kek. Kami tertarik dengan kalung milik Kakek. Karena itu, kami ingin membelinya,” ujar satu dari dua pria tersebut.

Kakek Danu tertawa terkekeh-kekeh. “Aduh… maaf sekali ya, kalung ini tidak akan saya dijual.”

“Tapi, kami bersedia membayar mahal lho, Kek!” ujar pria dari kota tersebut.

Kakek Danu tersenyum. “Memangnya mau kalian bayar berapa kalung ini?”

“Hm… bagaimana jika dua puluh juta?” tawar pria tersebut.

Semua orang yang mendengar itu langsung terkejut. Termasuk juga Kakek Danu.

“Baiklah, beri saya waktu semalam dulu ya untuk berpikir,” jawab Kakek Danu pada akhirnya.

Semua orang lalu menebak-nebak. “Pasti Kakek Danu ingin mengadakan ritual dulu sebelum menjual kalungnya!”

“Iya, mungkin karena itu adalah kalung yang sudah membuat Kakek Danu panjang umur,” timpal yang lain.

“Tapi saya kira, besok pasti Kakek Danu akan menjual kalung itu. Uang dua puluh juta itu kan cukup besar!” yang lain ikut menyahut.

Keesokan harinya, semua orang yang ada di kampung berkumpul di rumah Kakek Danu. Mereka penasaran, apakah Kakek Danu akan jadi menjual kalung itu atau tidak. Mereka juga menebak-nebak, mungkinkah akan ada kejadian aneh saat kalung itu dilepas oleh Kakek Danu.

Kakek Danu yang tahu perilah itu jadi tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, saya akan ceritakan semua tentang lionting kalung ini. Sebetulnya saya malu untuk menceritakannya. Karena liontin ini adalah gigi geraham saya yang terakhir kali copot waktu saya berumur 70 tahun!”

“Hah?” banyak orang terkejut saat mendengar itu. Mereka tidak menyangka jika benda kecil yang menjadi liontin kalung itu adalah gigi geraham Kakek Danu sendiri!

“Karena bentuknya lucu, saya membuatnya menjadi kalung. Sengaja saya tidak mau mengaku waktu kalian tanya. Saya khawatir, kalian semua akan jijik dengan kalung ini!”

Mendengar penjelasan itu, banyak orang menjadi malu. Termasuk, dua pria asal kota yang semula ingin membeli kalung tersebut.

“Jadi, mohon maaf, saya tidak ingin menjual kalung ini. Saya juga tidak ingin menipu kalian dengan mengaku kalau kalung ini adalah benda keramat,” ujar Kakek Danu pada dua pria asal kota tersebut.

Banyak orang yang kagum dengan sikap jujur Kakek Danu. Padahal jika  Kakek Danu mau berbohong, pasti Kakek Danu bisa mendapatkan uang yang banyak dari hasil penjualan kalungnya.

Tapi, tiba-tiba aku jadi penasaran dengan satu hal. “Lalu, yang membuat Kakek selama ini bisa berumur panjang, apa dong Kek?”

“Hehehe, Kakek ini kan suka berjalan-jalan waktu pagi hari tanpa menggunakan alas kaki. Kakek juga suka makan sayur dan buah-buahan. Jadi, bukan karena kalung ini Kakek panjang umur!” terang Kakek Danu.

Sejak itu, banyak orang di kampungku makin rajin memakan sayur dan buah-buahan serta berolah raga. Mereka semua ingin selalu bisa sehat seperti Kakek Danu.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo pada Oktober 2012

Ketika Peppy Iri

2012 4Okt - Girls - Ketika Peppy Iri

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Lagi-lagi di tengah!” gerutuku dalam hati saat Pak Wayan mengatur posisi untuk pentas ujian Tari Bali di Taman Mini Indonesia Indah.

“Masa, aku selalu mendapat tempat yang sama? Dan yang di depan, pasti Erna dan Esti lagi!” aku melirik sebal ke arah dua teman les menariku itu.

Aku tahu, Erna dan Esti pintar menari Bali. Gerakan tubuh mereka lebih gemulai. Tapi, aku sebetulnya tidak kalah bagus juga kok.

Perasaan yang tak nyaman itu membuatku terus memasang wajah masam hingga saat pulang dari les. Mama yang biasa menemaniku les menari, rupanya mengerti ada sesuatu yang tidak membuatku senang sore itu.

“Sepertinya sedang kesal ya? Ada apa?” tanya Mama sambil menyetir mobil sewaktu pulang dari tempat les.

“Itu tuh Ma, Pak Wayan nggak adil! Masa, Erna dan Esti terus yang ada di depan? Sedangkan aku dari dulu selalu dapat tempat di tengah.”

“Oh, nanti coba Mama bilang ke Pak Wayan, ya,” hibur Mama sambil tersenyum.

Hatiku merasa lega. “Ah, Mama memang selalu mengerti aku,” batinku gembira.

“Tapi, Mama juga punya masukan nih buat kamu. Kamu mau dengar enggak?”

“Apa, Ma?” aku menautkan alisku tanda penasaran.

“Peppy itu sebetulnya sudah bagus kok. Cuma, kakinya lebih ditekuk lagi kalau pas sedang menari. Jadi gerakan kakimu lebih terlihat luwes. Apalagi kamu kan tinggi. Mungkin, karena itu juga Pak Wayan sering meminta Peppy ada di bagian tengah,” saran Mama.

Aku mengangguk-angguk sambil mengingat pesan Mama. “Iya ya, sebetulnya Erna dan Esti juga tingginya hampir sama dengan aku. Tapi mereka selalu ada di depan,” ujarku.

“Terus satu lagi, senyumnya lebih lebar dong kalau sedang menari. Peppy itu cantik lho kalau senyumnya lebih lebar,” puji Mama sambil mencubit pipi kananku.

Aku jadi malu. Kalau kuingat, memang, aku sering lupa mengatur senyum saat sedang menari.

“Nanti di rumah, latihan menari di depan Mama, ya. Coba Mama kasih tahu apa saja yang harus Peppy perbaiki. Jadi kalau Mama minta ke Pak Wayan agar Peppy bisa di depan, Peppy memang pantas mendapatkan itu. Bagaimana?” tawar Mama.

Aku mengangguk-angguk dengan semangat tanda setuju. “Pokoknya, apapun aku lakukan asalkan aku bisa dapat menari di barisan paling depan!” tekadku.

Selama beberapa hari, Mama membimbingku untuk lebih giat berlatih. Apalagi, tari yang akan diujikan selain Tari Tenun adalah Tari Manuk Rawa, tari favoritku. Aku suka sekali tarian itu. Gerakan tarinya lincah. Agak melelahkan, sih. Tapi, aku malah menyukainya.

Selama beberapa hari berlatih, aku justru lupa akan keinginanku bisa menari di barisan depan. Yang ada, pikiranku selalu berkonsentrasi untuk menari lebih baik di tempat les dan saat berlatih di rumah. Aku juga makin teliti memerhatikan diriku saat menari dari dinding kaca yang ada ruang les tari.

“Minggu depan kita akan ujian. Cuma, saya ada pengumuman untuk perubahan formasi barisan Tari Manuk Rawa. Kali ini, Peppy ada di bagian depan ya. Sedangkan Esti dan Erna ada di belakang Peppy. Soalnya saya lihat, gerakan Peppy sangat bagus di Tari Manuk Rawa. Cuma untuk tari Tenun saja yang formasinya tetap,” ujar Pak Wayan saat memberi pengumuman di akhir latihan tari pada sebuah sore.

Aku langsung membelalakkan mata tanda tak percaya. “Apa, ada di barisan paling depan? Sendirian? Ah, baru kali ini nih Pak Wayan mengatur posisi seperti ini. Biasanya kan selalu Erna dan Esti yang ada di depan, berdua. Kali ini, aku benar-benar sendiri!” jantungku berdegup kencang karena senang.

Kulirik wajah Mama yang sedang tersenyum. “Mama, terima kasih,” bisikku lirih.

Saat pulang dari les tari, aku langsung mengecup pipi Mama.

“Terima kasih banyak, Ma. Pasti karena Mama kan yang sudah pernah bicara ke Pak Wayan agar aku dipindah ke depan?” ujarku tersenyum.

Mama justru kulihat berusaha menahan tawanya.

“Siapa yang sudah minta ke Pak Wayan agar kamu di depan? Nggak kok, Mama nggak bilang begitu ke Pak Wayan,” jawab Mama yang membuatku langsung berhenti tersenyum.

“Ah, yang benar, Ma?”

“Iya. Mama itu cuma sempat cerita ke Pak Wayan kalau kamu itu sebetulnya ingin di barisan depan. Tapi Mama juga bilang, rasanya kurang pas juga karena kemampuan menarimu memang masih tidak sebagus Erna dan Esti.”

“Ih Mama, anaknya sendiri kok enggak dipuji?” aku cemberut mengerucutkan bibirku.

“Waktu itu, Mama hanya tanya ke Pak Wayan, apa saja sebetulnya yang kurang bagus dari gerakanmu jika sedang menari. Eh, Pak Wayan lalu mengatakan kekuranganmu saat menari, persis seperti yang Mama dulu pernah sarankan ke kamu. Jadi, kalau sekarang kamu dapat tempat paling depan, itu memang karena usahamu sendiri, kok. Bukan karena Mama.”

Aku jadi tersipu.

“Nah, karena kamu sekarang sudah dapat barisan paling depan, tetap dijaga ya. Biar di ujian-ujian tari berikutnya, kamu bisa terus ada di depan seperti Erna dan Esti. Kan siapa tahu, suatu saat kamu berduet dengan Erna, Esti, atau dengan yang lainnya karena kamu dinilai bagus saat menari,” saran Mama.

Aku tersenyum. “Hm, menari di barisan paling depan saat pentas tari Manuk Rawa nanti akan jadi saat yang mendebarkan. Tapi karena aku menyukai tarian itu, aku akan coba menari dengan baik. Juga di tarian-tarian berikutnya,” tekadku dari dalam hati.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls pada bulan Oktober 2012

Ayahku yang Cerewet

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Habis bertengkar lagi dengan ayahmu?” tanya Jaujah.

Aku mengangguk dan tersenyum kaku.

“Hobi kok bertengkar dengan ayah sendiri,” ledek Jaujah.

Wajahku makin cemberut.

“Tadi sebelum berangkat sekolah, aku diomeli ayah karena aku masih mengerjakan PR. Katanya seharusnya aku mengerjakan itu semalam. Tapi semalam ada film bagus dan aku jadi lupa! Aku bilang, yang penting PRku selesai dan kukerjakan sendiri. Tetap saja, ayah masih mengomeliku. Katanya aku tidak disiplin dan tidak menghargai waktu,” gerutuku.

“Tapi ayahmu itu benar, Sinari. Duh, seharusnya kamu itu bersyukur lho punya ayah yang selalu perhatian ke kamu,” komentar Jaujah yang membuatku jadi makin menunpuk kesal.

Memang, jika dipikir-pikir kebiasaanku ini aneh. Aku sering beradu mulut dengan ayah yang menurutku cerewet. Jika banyak ibu di dunia ini yang suka banyak bicara, mengatur ini dan itu, ayah ibuku justru sebaliknya. Ibuku itu kalah banyak bicaranya jika dibandingkan ayah.

Di rumah, ayah paling banyak mengatur ini dan itu! Misalnya, pakai baju itu harus rapih. Kalau habis dicuci, harus disetrika. Enggak boleh langsung dilipat dan dipakai. Setrikanya harus yang licin.

Padahal, pekerjaan ayah adalah membawa perahu kelotok. Bukan berkerja di kantor. Biasanya orang yang ingin berwisata ke pasar terapung di Banjarmasin, Kalimantan Selatan sering menghubungi ayah. Bisa ke Kuin atau Lok Baintan. Walaupun pekerjaan ayah begitu, penampilannya selalu rapih dan wangi. Ia tidak suka pakai baju lusuh, kumal, atau banyak robekannya.

**

Sepulang sekolah, aku menemukan seuntai kalung yang terdiri dari bulatan kain kuning bercorak batik di atas kasurku. Belum sempat aku bertanya ke ayah atau ibu dari mana kalung itu, langsung kudengar suara ayah dari belakangku.

“Itu dikasih orang yang naik kelotok ayah. Dia juga suka warna kuning seperti kamu. Waktu ayah cerita kalau punya anak perempuan yang kesukaannya sama dengannya, eh, ia malah memberi kalung itu. Kamu pasti suka, kan?” terang ayah sambil tersenyum.

Aku tersenyum menatap kalung kuning di tanganku. Seketika aku ingat kata-kata Jaujah. Ya, ayahku memang sangat perhatian pada anaknya. Ia selalu ingat warna, makanan, atau benda kesukaanku. Ah, kenapa aku hanya selalu ingat kecerewetannya saja?

Aku lalu membalikkan tubuh dan memeluk ayah. “Terima kasih, Yah.”

Saingan Baru Tia

 

Oleh: Maya Alesha

 

Sebagai anak baru, Kay cukup baik dan ramah. Tia pun suka bersahabat dengannya. Tapi saat tahu Kay juga jagoan olahraga panjat dinding, Tia mulai tidak suka. Sebetulnya, Tia kagum dengan kemampuan Kay. Tapi di sudut hatinya yang lain, ia merasa tersaingi.

“Hebat! Mulai sekarang kalau ada lomba kategori pemanjat wanita junior, saya bisa mengikutsertakan kamu juga. Tidak Tia melulu,” puji ayah Tia yang juga pelatih di klub.

Segera Tia memalingkan mukanya karena kesal.

Tapi pujian ayah Tia belum selesai. “Menurut saya, kemampuan Kay sedikit lebih mahir dari Tia. Tia, kamu harus belajar banyak nih dari Kay,” nasihat Papa.

Rahang Tia mengeras karena kesal.

“Bagaimana kalau di pertemuan selanjutnya kita adu cepat panjat dinding, Kay? Jadi aku bisa belajar darimu,” tantang Tia.

Kay setuju dan mengangguk gembira.

Beberapa hari kemudian di pertemuan berikutnya, Kay dan Tia memenuhi janji mereka. Usai aba-aba dimulai, keduanya bergegas bergerak memanjat. Tia memilih mengambil jalur yang tak biasanya. Menurut perhitungannya, ia akan lebih cepat sampai di puncak. Sebetulnya Tia tahu, batu-batu yang dipegang dan dipijaknya itu lebih sering dilewati para pemanjat remaja yang lebih mahir. Tapi Tia hanya berpikir yang penting bisa menang dari Kay.

“Tia, hati-hati!” Kay yang masih berada di bawah Tia mencoba mengingatkan.

“Ah, aku bisa!” seru Tia yakin.

Namun beberapa menit kemudian, “Argh!”

Tia memekik. Pijakan kakinya meleset hingga membuatnya terkilir. Refleks, kaki dan tangan Tia terlepas dari batu yang dipijak dan dipegangnya. Kak Adit yang ada di bawah membantu melonggarkan tali milik Tia. Setibanya di bawah, ayah Tia langsung menggendong tubuh putrinya.

“Sakit …” Tia meringis hingga mengeluarkan air matanya.

Kay segera menyusul turun dan mengambilkan botol minum Tia yang ada di tasnya.

“Terima kasih,” ujar Tia. Kini ia justru merasa malu pada Kay.

Saat pulang, ayah Tia berujar, “Sebetulnya Ayah tadi ingin mengingatkan kamu. Tapi, kamu sepertinya ingin sekali menang dari Kay, ya?”

Tia tersenyum kecil karena malu. “Iya Yah, Tia salah.”

Ayah Tia lalu mengelus rambut putrinya. “Maaf, ya. Ayah sudah terlalu membandingkanmu dengan Kay. Selama ini kamu tidak punya saingan. Ayah jadi khawatir kamu tidak belajar dari kekalahan.”

Tia merenungi kata-kata ayahnya sambil memandangi kakinya yang bengkak karena terkilir.

“Baik Yah, lain kali aku akan lebih sportif,” janji Tia.

Tetangga Pak Topi Hitam

2014 September - Bobo-Tetangga Pak Topi Hitam12014 September - Bobo-Tetangga Pak Topi Hitam2

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Tetangga yang baik itu suka kebersihan, enggak suka berisik, lalu kalau dikasih makanan itu ya balas memberi makanan,” Pak Topi Hitam berhenti mengomel sejenak. Ia teringat Pak Gendut yang dulu tinggal di sebelah kiri rumahnya.

“Balas memberi makanannya itu juga harus yang enak. Aku kan sudah memberi dia mi istimewa yang kubuat dengan sari strawberry. Eh, dia cuma mengirimi aku mi goreng biasa. Tetangga macam apa itu?” Pak Topi Hitam terus mengomel sambil berjalan. Ia tidak sadar jika langkahnya telah sampai di Kampung Baru tempat para tetangganya sekarang tinggal.

Dulu, Pak Topi Hitam hidup dikelilingi tetangga yang baik dan ramah. Namun selalu ada yang menurutnya kurang baik dari para tetangganya itu. Karena tidak tahan, satu per satu para tetangga Pak Topi Hitam pindah ke Kampung Baru. Mereka menghormati leluhur Pak Topi Hitam yang pernah membangun Desa Lama.

Saat sadar, Pak Topi Hitam lantas segera bersembunyi. Ia ingin tahu bagaimana kehidupan para tetangganya kini di Kampung Baru.

Ia melihat Bu Rok Kuning sedang memetik labu. Pak Topi Hitam memekik tertahan. Itu buah kesukaannya! Dulu, ia sering membuat kue labu. Tapi tidak lagi sejak Bu Rok Kuning pindah. Pak Topi Hitam selalu kesal pada Bu Rok Kuning yang suka memupuk kebunnya dengan kotoran sapi. Menurut Pak Topi Hitam, kebun labu jadi membuat lingkungan desanya bau.

Lalu, ia melihat Nona Sepatu Besar sedang membawa sekeranjang apel hijau. Lagi-lagi Pak Topi Hitam menutup mulutnya erat-erat. Ia takut suara memekiknya terdengar karena begitu ingin apel itu. Dulu Nona Sepatu Besar sering datang ke rumahnya memberi apel hasil kebunnya sambil bernyanyi keras. Pak Topi Hitam tak suka dengan suara Nona Sepatu Besar yang berisik. Tapi sejak Nona Sepatu Besar pergi, ia tidak bisa lagi membuat manisan apel.

Pak Topi Hitam mengeluh. “Uh, andai saja aku bisa berkebun, pasti aku bisa membuat kue labu dan manisan apel yang lezat!”

Tak lama kemudian, Pak Topi Hitam melihat Pak Gendut berjalan melintas. Ia menyapa Nona Sepatu Besar dan Bu Rok Kuning. “Wah, labu yang besar dan bagus. Apel-apelnya juga terlihat segar. Andai ada Pak Topi Hitam, ia pasti bisa membuat makanan yang lezat.”

Nona Sepatu Besar tertunduk sedih menatap keranjang apelnya. “Sayang, aku tidak bisa membuat manisan apel seenak buatannya. Andai bisa, aku ingin membuatnya dan mengirimkan untuk Pak Topi Hitam. Bukankah sekarang hari ulang tahunnya? Aku ingin memberi kado itu untuknya.”

“Ya, aku juga tidak bisa membuat kue labu yang lezat. Aku ingin membuatnya dan memberikan itu padanya. Tapi, ia pasti tidak suka,” sahut Bu Rok Kuning.

“Sama. Aku juga tidak bisa memasak yang enak. Eh, bagaimana jika malam ini kita diam-diam datang ke rumahnya? Kita letakkan saja sekeranjang apel dan sebuah labu besar di depan pintu rumahnya?” usul Pak Gendut.

Mata Bu Rok Kuning dan Nona Sepatu Besar langsung berbinar.

“Usul yang bagus. Biar dia sendiri yang memasaknya. Sejak kita pergi, ia tidak bisa lagi membuat kue labu dan manisan apel karena ia tidak pernah bisa berkebun,” ujar Bu Rok Kuning.

“Ya, aku setuju. Aku janji, nanti malam aku akan datang dan tidak bernyanyi. Aku tak mau ia terganggu lagi dengan suaraku,” ucap Nona Sepatu Besar.

Pak Topi Hitam yang mendengar semua itu merasa terharu, para tetangganya masih ingat makanan-makanan yang suka ia buat. Bahkan mereka ingat jika sekarang hari ulang tahunnya. Sementara Pak Topi Hitam sendiri malah lupa.

Sebuah ide terbersit di kepala Pak Topi Hitam. Ia ingin menyambut kedatangan tetangganya malam ini dan membuatkan kue labu dan manisan apel untuk dimakan bersama. Pak Topi Hitam malu, ia selalu menuntut tetangga-tetangganya ini dan itu. Sementara mereka tak pernah marah saat Pak Topi Hitam mengusir mereka dari Desa Lama.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo 2014