Mi Tropicana Slim? Nggak Masalah!

“Beneran kamu ngerjain semua PR Fisika ini sampai begadang?” Cindy bertanya seakan tak percaya dengan kata-kataku barusan.

Aku mengangguk dengan senyum manis.

“Sambil makan mi?” tanyanya lagi dengan nada ketidakpercayaan yang meninggi.

Jawabanku tetap berupa anggukan. Malah makin manis.

“Nggak mungkin!” Cindy berdesis. Ia sangat tahu, selama ini aku sering menghindari begadang sampai malam karena perutku yang suka susah kompromi alias gampang lapar

Sesaat ia menatapku dengan segala tatapan yang meragukanku. Kemudian, ia pun berlalu.

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Tapi dalam hati, aku tertawa terbahak-bahak bahagia.

Ah, dasar Cindy kudet! Masa dia nggak tahu sih kalau sekarang ini sudah ada Mi Kering Tropicana Slim. Mi yang satu ini lebih rendah lemak. Jadinya meski begadang sambil makan mi, aku sih nggak masalah lagi.

Mi Tropicana Slim

Mi Kering Tropicana Slim rasa ayam bakar, teman camilan yang pas buat begadang sambil ngerjain PR.

Memang, aku ini suka gampang lapar. Apalagi kalau pas begadang sambil ngerjain PR yang bejibun. Jadinya merasa beruntung banget deh ada Mi Tropicana Slim. Lapar hilang, tapi badanku tetap aman nggak gampang gemuk.

Sebagai anak yang sering jawara di kelas atau sekolah, tentunya aku suka teliti dulu kalau ada apa-apa. Termasuk urusan sebelum memilih camilan. Waktu aku lihat di tivi ada Mi Tropicana Slim, aku coba cari tahu dan akhirnya kecantol di link ini.

Mi Kering Tropicana Slim itu dibuat dengan proses pengeringan yang dipanggang, bukan digoreng. Terus, kadar kalorinya terkontrol. Jadi aman tentram damai deh aku mengkonsumsinya.

Kelebihan lain dari Mi Tropicana Slim itu kadar natriumnya lebih rendah. Sebagai jagoannya anak sains, aku tahu banget kalau natrium itu berguna bagi tubuh. Tapi kalau kebanyakan, bisa bikin hipertensi alias darah tinggi. Itu dia yang aku suka dari Mi Tropicana Slim. Lagian, aku nggak suka mi yang rasanya terlalu asin, menurutku, seperti mi yang kebanyakan ada.

Alasan lain kenapa aku sengaja milih Mi Tropicana Slim sebagai camilanku saat begadang, soalnya mi ini kaya vitamin, mineral, dan sumber serat. Di balik bungkusnya, aku bisa tahu kalau Mi Kering Tropicana Slim itu mengandung vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, C, D, E, Asam Folat, Kalsium, dan zat Besi. Tuh kan, pilihan camilanku ini kaya gizi banget!

So, gara-gara Mi Tropicana Slim, persainganku dengan Cindy nampaknya akan makin meruncing. Kalau sebelumnya kami bersaing siapa yang paling pintar di kelas, sekarang persaingan kami sudah di tataran siapa yang bisa lebih kelihatan langsing. Mungkin dia dulu bisa merasa menang karena lebih slim dari pada aku. Tapi kini berkat ada Mi Kering Tropicana Slim, aku yakin bisa jadi yang lebih slim dari Cindy!

Akibat Keusilan Raka

Oleh: Ika Maya Susanti

Satu hal yang paling dibenci Usy jika sedang piket. Eit, tapi ini bukan karena Usy malas. Justru Usy adalah anak yang suka kebersihan. Tapi kalau ia harus menyapu deretan bangku yang dekat dengan pintu penghubung dengan kelas sebelah, Usy paling tidak suka.

Di sekolah Usy, tiap kelas memiliki dua pintu. Selain pintu untuk keluar masuk, setiap kelas juga punya pintu penghubung dengan kelas sebelahnya. Yang Usy tidak suka, sudah beberapa kali ia selalu diusili oleh Raka, adik kelasnya yang duduk di kelas lima.

“Dia naksir kamu, kali!” respon Lala saat Usy mengadukan keusilan Raka yang selalu menahan pintu setiap kali Usy ingin menutup pintu itu.

Mendengar itu, Usy langsung cemberut dengan mata melotot. “Jadi aku ditaksir adik kelas?”

Lala langsung tertawa melihat respon Usy. “Habisnya, seumur-umur enggak ada lho cewek yang suka diusili Raka. Baru sejak kamu jadi anak baru di sekolah ini saja dia jadi usil seperti itu.”

“Huh, dasar anak kembar yang aneh! Saudara kembarnya, si Riki, cool banget. Tapi adiknya?” Usy menghela napas panjang.

Sejak sering diusili Raka, akhirnya Usy selalu menghindari tugas piket menyapu di deretan dekat pintu penghubung kelas. Ia lebih memilih mengambil tugas menyapu di deretan lain saja.

Sialnya, hari ini Gina, teman satu kelompok piketnya tidak masuk. Padahal biasanya Gina yang mau diajak bertukar untuk menyapu di deretan dekat pintu penghubung. Akhirnya mau tidak mau, Usy terpaksa menyapu deretan itu juga.

Sebelum menutup pintu, Usy sejenak mengedarkan pandangan dengan cepat ke kelas sebelah. Ia melihat Raka ada duduk di pojokan kelas dan sepertinya ia tidak melihat keberadaan Usy yang akan menutup pintu.

“Aman!” pikir Usy lega yang langsung bergerak menutup pintu dengan cepat.

Namun seiring gerakan pintu yang menutup, Usy sempat mendengar seseorang seseorang berujar,” Kak, tunggu sebentar. Aku mau… Aw! Aduh…”

Wajah Usy langsung tegang. “Itu kan suara Raka? Jadi yang tadi aku lihat itu Riki?” pikir Usy.

Sementara itu, suara di seberang pintu terus memohon agar pintu dibuka. “Tolong Kak, buka pintunya. Jariku terjepit nih!”

Tapi Usy tetap tidak bergerak membuka pintu. Ia pikir, “Ah, biar saja. Biasanya kan selalu begitu, dia berpura-pura jarinya terjepit agar aku membuka pintu terus dia menahan pintu itu sambil tertawa-tawa. Maaf ya, kali ini aku tidak akan tertipu!”

Namun bukan ketukan yang ia dengar. Beberapa pukulan keras menghujam pintu, meminta agar pintu itu segera dibuka. Dengan gerakan malas, Usy akhirnya membuka pintu itu. Betapa terkejutnya ia saat melihat tangan sosok di depannya yang sudah berlumur darah. Sementara itu anak yang lain membentak-bentaknya dengan kesal.

“Kalau menutup pintu kira-kira, dong!” bentak anak tersebut.

Di depan Usy, dua sosok kembar menatapnya dengan wajah marah. Usy jadi bingung, jadi yang jarinya terjepit ini Raka atau Riki? Saat ia mengamati tahi lalat di pipi anak yang jarinya berdarah, Usy baru sadar jika itu adalah Riki.

“Aduh, maaf. Tapi ini kan salah kamu sendiri, kamu suka mengusili aku dengan berpura-pura jarimu terjepit. Sekarang kalau akhirnya kejadiannya seperti ini, dan yang kena malah saudara kembarmu, ya bukan salah aku juga, dong!” Usy jadi merasa serba salah.

Di satu sisi ia merasa bersalah karena jari Riki terluka karenanya. Padahal selama ini Riki tidak pernah membuat perkara dengan Usy. Tapi di sisi lain, ia juga kesal kalau harus disalahkan. Bukankah ia jadi melakukan hal itu karena ulah Raka yang sering mengusilinya?

“Tapi tadi kan aku sudah teriak-teriak kesakitan, Kak. Lihat tanganku, berdarah gini! Kakak harus tanggung jawab!” Riki meraung marah sambil menangis kesakitan.

“Ayo ikut aku ke UKS,” ajak Usy kemudian.

Sesampainya di UKS, dengan cekatan Usy langsung mengobati jari manis dan kelingking Raka yang berdarah. Usy bersyukur, jari Riki tidak sampai hancur karena ulahnya. Tapi demi melihat darah yang begitu banyak keluar dari jari Riki, Usy merasa tidak nyaman. Ia membayangkan bagaimana sakit yang dirasakan Riki.

“Aku benar-benar minta maaf,” pinta Usy lagi.

Namun Usy lalu melirik tajam ke arah Raka. Seakan-akan Usy ingin berkata, “Nih, gara-gara keusilanmu, aku jadi melukai jari saudara kembarmu.”

Karena ditatap dengan pandangan tajam, Raka jadi merasa kikuk.

“Iya, aku juga minta maaf. Selama ini aku sering mengusili Kak Usy,” ujar Raka.

“Lagian kamu itu kenapa sih suka usil kalau aku sedang piket dan menutup pintu penghubung kelas?” timpal Usy.

“Aku mau kenalan dengan Kakak,” jawab Raka malu-malu sambil menunduk.

“Ya kan caranya bisa baik-baik. Enggak bercanda dengan cara yang nggak mutu kayak biasanya itu!”

“Iya Kak. Maaf,” lanjut Raka.

Sejak kejadian itu, Raka dan Riki jadi berteman akrab dengan Usy. Sejak itu juga, Lala yang tahu hal itu jadi sering menggodai Usy. “Ciye… jadi sekarang dekatnya sama dua-duanya nih! Pilih yang mana, Raka, atau Riki?”

“Apaan sih?” wajah Usy memerah. “Mereka itu adik kelas kita!”

“Yah, kan ditaksir adik kelas juga enggak apa-apa,” goda Lala lagi.

Usy cuma menimpali candaan Lala dengan tersenyum. Dalam kepala Usy cuma satu hal, ia harus lebih berhati-hati jika menanggapi candaan orang lain. Ia tidak mau terlalu marah sampai mencelakai orang lain lagi.

* Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls No.12 / th.X, terbit 14 Januari 2015.

Klapertart Sahnaz

Oleh: Ika Maya Susanti

Faras tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di Minggu pagi itu. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, ada Sahnaz, teman sekolahnya yang sedang berjualan di pasar Minggu pagi yang ada di Jalan Semeru.
“Bukannya dia anak dosen yang katanya habis sekolah di Jerman? Anak dosen kok jualan di emperan?” batin Faras heran.
Sejenak Faras mengingat-ingat dan lalu mengangguk mantap. Faras ingat betul itu karena ia sempat iri dengan cerita-cerita Sahnaz selama hidup di Jerman. Sahnaz yang beberapa lalu menjadi anak baru di sekolahnya banyak memikat hati teman-temannya dengan cerita-ceritanya. Ya, siapa sih yang tidak mau merasakan hidup setahunan lebih di Jerman, bisa bersekolah di sana, dan banyak mengujungi tempat mengasyikkan selama di sana. Dan yang lebih membuat Faras iri, Sahnaz telah membuatnya tersingkir dari teman-temannya. Banyak temannya yang tidak lagi tertarik dengan cerita-ceritanya saat tampil memainkan biola di berbagai tempat serta berbagai prestasinya di tingkat nasional bahkan internasional.
Kembali Faras terpaku dan ragu untuk terus melangkah. Padahal ia ingin sekali ke arah penjual yang ada di dekat tempat Sahnaz berjualan saat ini. Di situ, biasanya ada orang berjualan buah kering yang menjadi langganannya.
“Uh, nanti kalau aku lewat situ, pasti aku akan dipanggilnya. Terus, aku disuruh beli barang dagangannya lagi. Ih, malu-maluin saja!” gerutu Faras.
Tiba-tiba sekejap saja Faras terkejut karena rupanya Sahnaz menyadari ada orang yang sedang memerhatikannya. Faras buru-buru mengalihkan tatapannya saat pandangan mata Sahnaz beradu dengan tatapan matanya Faras. Tak menunggu hitungan detik, Faras langsung bergegas pergi. Ia sempat mendengar suara Sahnaz yang memanggil-manggil namanya. Tapi Faras pura-pura tidak mendengar.
Keesokan paginya di sekolah, Faras kembali melihat keriuhan teman-temannya yang berkumpul di dekat Sahnaz.
“Ah, lagi-lagi si tukang cerita itu pasti sedang mengobral cerita,” gerutu Faras sendirian.
Sebuah tepukan di bahu yang dirasanya tiba-tiba membuat Faras terkejut.
“Ras, kamu kemarin aku panggil-panggil kok enggak dengar sih?” seru Nadine.
“Oh ya? Masa sih?” Faras memutar bola matanya ke arah kanan mencoba mengingat-ingat. Ia tak merasa mendengar suara Nadine yang memanggilnya kemarin saat ia ke pasar Minggu pagi.
“Bukannya kemarin yang memanggil namaku itu Sahnaz ya? Oh, rupanya Nadine,” bisik hati Faras.
“Aku kemarin ikut nongkrong di emperan sama Sahnaz. Awalnya sih aku kebetulan lewat. Eh, baru tahu kalau Sahnaz itu ternyata sejak Minggu pagi kemarin jualan klapertart di sana. Pas nyoba, ternyata enak! Jadi ketagihan deh dan akhirnya nongkrong di situ sambil beli dan mencoba terus klapertartnya Sahnaz,” Nadine bercerita panjang.
“Makan klapertart? Di emperan? Ih, enggak banget deh!” batin Faras. Namun ia tetap memasang tampang senyum meski agak ditahan di depan Nadine.
“Oh iya, kamu lihat Sahnaz enggak?”
Faras langsung mengarahkan kepala dan tatapan matanya ke arah Sahnaz yang masih dikerubungi teman-teman sekelasnya.
“Soalnya aku kemarin pesan ke dia. Kamu harus coba klapertart buatan mamanya Sahnaz, Ras. Enak! Dijamin bisa ketagihan kayak aku,” Nadine tertawa lalu beranjak mendekati Sahnaz.
Mood Faras langsung buruk pagi itu. Teman-temannya sedang memusatkan perhatiannya ke Sahnaz. Nadine juga malah menambahi dengan cerita klapertart buatan mamanya Sahnaz yang katanya lezat. Semuanya terasa menyebalkan baginya.
“Sahnaz, dan Sahnaz lagi! Membosankan!” Faras menggerutu pelan. Ia letakkan kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat dan ditumpuk di atas meja.
“Hei Faras, kamu kemarin sih sudah dipanggil-panggil sama Nadine tapi kamunya enggak dengar. Nih, klapertartnya tinggal satu. Khusus buat kamu, deh,” Sahnaz tiba-tiba menghampiri meja Faras dan meletakkan semangkuk kecil klapertart.
Faras hanya menatap klapertart bertabur kismis dan kacang almond yang nampaknya lezat di matanya.
“Ini klapertartnya spesial, Ras. Mamaku kan asli Manado. Dia punya resep khusus. Kamu coba deh. Nanti kalau enak, kamu bisa beli ke aku,” ujar Sahnaz sambil tertawa dan mengerlingkan mata.
Pada akhirnya Faras memasukkan sesendok klapertart yang langsung membuat matanya mengerjap-kerjap.
“Enak banget!” seru Faras spontan.
“Terima kasih. Hehe, berarti lain kali kamu harus beli,” Sahnaz tersenyum senang. “Aku senang, di sini teman-teman juga mendukung aku jadi pengusaha kecil. Jadi pengusaha itu cita-citaku, Ras. Papaku kan dosen ekonomi. Sering ia memberitahu bagaimana cara bisnis yang asik. Katanya, satu kunci suksesnya itu harus berani. Awalnya aku ragu dan takut malu. Tapi untungnya teman-teman di sini malah mendukungku.”
Faras masih terus diam setelah mendengar celoteh Sahnaz. Banyak hal sedang berputar di kepalanya. Ada rasa malu sendiri, salut, dan tentunya rasa kelapa dan kismis yang sedang bermain di lidah Faras membuatnya terus ketagihan.
“Eh sudah ya. Jangan lupa, aku tunggu pesanannya.”
“Naz, terima kasih,” pada akhirnya Faras bisa tersenyum pada Sahnaz.
Kini Faras tahu, apa yang membuat teman-temannya menyukai Sahnaz. Temannya itu punya kepribadian yang periang dan ramah, berani tidak malu, serta gigih berjuang demi cita-citanya.

*cerpen ini pernah dimuat di Majalah GIRLS No. 06/Th.X, yg terbit 22 Oktober 2014

Setiap Ibu Bisa Jadi Penulis

Keterangan: Foto milik Oktaviani

Keterangan: Foto milik Oktaviani

Oleh: Ika Maya Susanti

Judul buku : Momwriter’s Diary
Pengarang : Dian Kristiani
Penerbit : PT Bhuana Ilmu Populer, Jakarta
Tahun terbit : 2014
Tebal buku : 139 halaman

Sekarang banyak caranya jadi ibu rumah tangga dan punya penghasilan di rumah. Biasanya pilihannya kalau tidak buka toko di rumah, jualan barang lewat online atau internet, atau menulis. Nah, karena konon menjadi penulis itu sepertinya prospek menghasikan banyak uang, jadilah banyak wanita yang masih single atau para ibu rumah tangga yang memilih profesi ini. Perhatian ke keluarga bisa terpenuhi, penghasilan pun tetap bisa masuk ke saku.
Tapi apa iya semudah itu? Banyak orang berkata, TIDAK! Alasannya, sulit membagi waktu antara urusan keluarga atau mengurus anak, memasak, membersihkan rumah dan segala urusan domestik lainnya, dengan urusan menulis itu sendiri. Nyatanya di luaran sana, ada beberapa wanita yang sudah menjadi ibu dari beberapa anak dan tetap professional dalam urusan menulis.
Satu dari sekian penulis yang eksis di dunia kepenulisan itu bernama Dian Kristiani. Jika ke toko buku, mungkin Anda akan menemukan beberapa bukunya di rak buku anak, novel remaja, novel dewasa, buku berunsur komedi, hingga nonfiksi! Belum lagi jika terkadang Anda pun menemukan namanya di beberapa majalah wanita atau anak-anak berskala nasional.
Mau tahu rahasianya? Ibu dari dua putra ini sudah membaginya di bukunya yang berjudul Momwriter’s Diary. Dijamin, Anda tidak akan menemukan jawaban dari rahasia itu berupa keberadaan asisten, jin atau peri baik hati yang membantunya setiap hari.
Keseharian wanita asal Semarang yang kini tinggal di Sidoarjo ini mirip dengan gambar sampul bukunya. Ada laptop di atas meja yang di sekelilingnya bisa Anda jumpai wastafel dengan air mengalir, kompor menyala, setrika yang belum selesai, atau lantai yang masih dipel. Tapi bukan seberantakan itu tentunya di kehidupan nyata. Maksudnya, Dian memang banyak melakukan segala aktifitas rumah tangganya sendiri. Di malam hari tak jarang ia pun masih harus menjadi guru privat bagi kedua putranya, Edgard dan Gerald.
Buku terbitan anak perusahaan Kompas Gramedia ini tidak melulu berisi bagaimana menyiasati waktu agar seimbang antara kesibukan rumah tangga dengan kegiatan menulis. Wanita yang kerap melakukan aktivitas menulisnya di malam hari atau di sela-sela waktu yang ada di setiap harinya ini, banyak berbagi tips tentang tehnik dari menulis itu sendiri.
Yang mengasyikkan dari buku ini adalah karena ditulis oleh seorang penulis yang sudah banyak menghasilkan buku dengan berbagai jenis dan diterbitkan oleh beberapa penerbit besar di Indonesia, Anda bisa mendapati beberapa tips menulis seperti bagaimana menulis fabel, kumpulan cerita nyata yang penuh hikmah atau berbau komedi, buku bergambar atau picturial book, sampai novel.
Tak hanya itu, dengan gaya penulisan yang tidak bertele-tele, Anda juga bisa menemukan berbagai tips atau pengetahuan seputar kepenulisan mulai dari bagaimana menemukan ide, apa itu plagiarisme, mengirimkan naskah lewat agensi atau langsung ke penerbit, seputar royalti atau jual putus, pentingnya ikut pelatihan menulis, urusan promosi buku, dan beberapa hal seputar sikap menjadi seorang penulis.
Sikap menjadi penulis ini ternyata turut menjadi sorotan bagi Dian. Bagaimana seorang penulis sehari-hari mengupdate status di media sosial hingga sikap menjaga agar terus produktif ini ternyata berhubungan dengan makin sukses tidaknya seorang penulis eksis di dunia kepenulisan.
Bagi yang mengenal sosok Dian secara langsung, membaca buku ini seperti langsung mengobrol dengan sang penulis buku ini sendiri. Gaya bicara Dian yang ceplas-ceplos, to the point dan tidak suka bertele-tele, akan Anda jumpai di buku ini. Jadi meski buku ini terkesan tipis namun dijamin, siapapun yang membacanya akan merasa puas karena telah mendapatkan banyak tips berguna yang memang sering dijumpai dalam dunia kepenulisan sehari-hari.
Masih belum puas, ada bagian tanya jawab yang ini Dian dapatkan dari pengalamannya ditodong pertanyaan seputar kepenulisan dari banyak orang. Mulai dari pertanyaan umum bagaimana caranya jadi penulis, hingga menyiasati jika naskah ditolak oleh penerbit.
Buku ini juga punya bonus menarik. Di halaman akhir, Anda bisa mendapatkan daftar alamat media nasional yang bisa Anda tuju untuk mengirimkan tulisan. Dan yang tak kalah menarik dari buku ini adalah Anda bisa menjumpai komik keseharian seorang Dian di kehidupan nyata bersama suami dan kedua anaknya. Komik singkat ini bisa dibilang cukup menghibur karena berunsur komedi.
Jadi jika Anda sedang mencari buku cara menjadi penulis, di berbagai toko buku memang telah banyak buku bertema seputar itu. Namun jika Anda ingin mencari buku yang beda dari buku bertema serupa dan bisa membuat Anda tahu cara menjadi penulis, termotivasi, sekaligus terhibur, buku inilah yang harus Anda pilih. Pun setelah membacanya Anda akan tahu, menjadi penulis profesional sekaligus ibu rumah tangga ternyata adalah hal yang mudah.

Jadi Mbok Jamu Kunyit Karena Typhus

Oleh: Ika Maya Susanti

Ada saat di mana hari-hari saya selama hampir sebulan penuh harus menjadi mbok jamu di setiap sore hari. Setiap pulang kuliah, saya harus memarut kunyit, memeras, dan meminumnya dengan dicampur madu terlebih dahulu.

Ceritanya sewaktu dulu kuliah, hampir sebulan saya harus isirahat di rumah Lamongan karena sakit typhus. Tapi istirahat itu tidak membuat saya pulih seperti sedia kala dalam waktu yang cepat. Bagaimana tidak, pikiran saya ada di Malang. Saya bingung memikirkan bagaimana tertinggalnya materi perkuliahan saya, tugas-tugas yang belum saya kerjakan, dan beberapa ujian dari dosen.

Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke Malang meski kondisi yang belum sepenuhnya fit. Namun ada yang saya dan ibu saya khawatirkan jika saya harus kembali kuliah. Obat dari dokter yang hampir habis sementara tubuh saya tidak kunjung benar-benar sehat. Masih ada rasa nyeri di bagian perut jika saya agak banyak bergerak.

Suatu ketika, ibu saya diberitahu oleh seorang saudara untuk membuat jamu kunyit madu dan itu harus diminum setiap harinya. Dan menurut banyak penelitian, satu dari sekian manfaat kunyit adalah untuk mengobati penyakit typhus. Di hari-hari terakhir saya berada di rumah, jamu kunyit madu ini ternyata cukup terasa manfaatnya. Nyeri di bagian perut saya pun jadi agak berkurang dan tidak sehebat seperti biasanya.

Saat harus kembali ke Malang, akhirnya saya harus membawa sekantong plastik kunyit sebagai bekal. Rasanya hampir satu kilo banyaknya kunyit yang saya bawa! Ada alasan kenapa saya harus repot-repot membawa kunyit dari rumah. Kunyit yang dipakai bukanlah sembarang kunyit melainkan rimpang kunyit yang tua.

Ibu saya menyebutnya dengan empunya kunyit. Warnanya lebih tua dan hampir berwarna merah, rimpangnya lebih besar, tidak oranye muda atau berimpang kecil seperti kebanyakan kunyit yang biasa ada di pasar. Kunyit tua ini jarang sekali bisa ditemukan di pasar biasa karena umumnya orang lebih suka memakai kunyit biasa atau yang masih muda untuk memasak. Kunyit tua ini jika diparut memiliki getah yang lebih banyak dari pada kunyit biasa. Warna getahnya agak putih dan cenderung lengket.

Prosesnya biasanya saya memarut kunyit terlebih dahulu, menyeduhnya dengan air panas, lalu setelah agak dingin baru disaring dan dicampur dengan madu. Tentunya semua proses ini membuat tangan saya menjadi kuning. Tak jarang, saya sering jadi bahan olok-olok teman-teman kuliah. Tapi, ya sudahlah, yang penting saya bisa benar-benar sembuh dari sakit yang saya alami itu.

Alhamdulillah, tak sampai sebulan, rasa sakit di perut saya akhirnya hilang. Saya jadi bisa lagi bergerak dan berjalan cepat. Pasalnya selama sakit, saya harus bergerak serba lambat sambil memegangi perut. Ini sungguh sangat mengganggu aktivitas saya.

Karena sakit typhus itu terkadang kerap muncul saat saya terlalu kelelahan, biasanya jika tanda-tanda gejalanya sudah mulai terasa, kunyit inilah yang jadi andalan saya. Jika perut saya kok terasa mulai agak nyeri, lidah saya terasa pahit dan warnanya memutih, badan terasa demam, langsung deh saya mengambil kunyit untuk dijadikan obat.

Tapi karena proses membuat jamu kunyit dengan cara memarut dan memeras itu sangat membutuhkan waktu, saya tidak lagi menggunakan cara memarut dan memeras lagi. Cukup dibersihkan kulitnya lalu saya iris tipis-tipis. Potongan kunyit itu kemudian saya seduh dengan air panas. Jika sudah agak dingin, saya kemudian menuangkan madu ke dalamnya.

Beberapa teman yang tahu kebiasaan saya tersebut memang sering bergidik saat melihat saya meminum air seduhan kunyit. Selalu saja pertanyaannya, “Nggak pahit?” Dan saya hanya menggeleng samil tertawa.

Karena sering meminum seduhan kunyit, saya memang jadi terbiasa dengan rasa kunyit yang menurut saya sih, tidak pahit. Benar lho, rasanya masih lebih pahit bubuk puyer yang harus saya minum saat sakit waktu kecil! Meski tidak diberi madu, saya asyik saja meminum seduhan kunyit itu. Yah, dari pada harus meminum obat yang khasiatnya saja lebih ampuh kunyit, kenapa ia tidak jadi sahabat setia saya saja?

Referensi:
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-tanaman-koleksi-kunyit

Mematahkan Kutukan Teori Perdagangan

Oleh: Ika Maya Susanti

Pernahkah mendengar pertanyaan tentang hal berikut ini?

“Indonesia katanya penghasil minyak bumi. Kenapa masih impor?”

“Di Indonesia ada petani kedelai. Tapi kenapa Indonesia harus mengimpor kedelai dari Amerika Serikat?”

Bahkan sebagai penyerta pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul pula adanya beberapa pihak yang menyalahkan pihak pemerintah. Pemerintah Indonesia dilabeli sebagai pihak yang begitu ketergantungan kegiatan impor. Tak ayal, efek dari pola konsumsi ini membuat neraca pengeluaran Indonesia jadi membengkak.

Sebetulnya meski Indonesia memproduksi beberapa produk, kenyataannya, kebutuhan beberapa produk itu tak sebanding dengan keberadaan jumlah produk yang dibutuhkan. Kelangkaan, inilah masalah utama dalam ilmu ekonomi yang menjadi pangkal dari berbagai keputusan ekonomi berikutnya.

Misalnya pada kasus minyak bumi. Dewasa ini keberadaan tambang minyak bumi di Indonesia makin hari makin menurun jumlahnya. Ini masih ditambah dengan keterbatasan jumlah kilang minyak yang mampu mengolah minyak bumi hingga menjadi beberapa produk turunan. Ujung-ujungnya tentu saja, kapasitas jumlah minyak bumi yang diproduksi oleh Indonesia sendiri tidak sebanding dengan makin terus meningkatnya kebutuhan masyarakat akan berbagai produk minyak bumi.

Hal senada juga terjadi pada kasus kedelai. Masyarakat Indonesia yang sehari-hari begitu akrab dengan makanan olahan dari kedelai seperti tahu dan tempe membuat bangsa ini sangat membutuhkan keberadaan kedelai dalam jumlah besar. Sayangnya, lagi-lagi kelangkaanlah yang berbicara. Luas lahan tanaman yang terus menurun, produktivitas kedelai lokal yang sedikit, membuat harga kedelai lokal meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya pemerintah memilih untuk mengimpor kedelai dari Amerika Serikat sebagai solusinya. Masalah kelangkaan ini pun makin dianggap genting karena ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang menggantungkan nasib mata pencahariaanya pada kedelai untuk usaha pembuatan tahu dan tempe.

Kegiatan impor dua produk tersebut dilakukan Indonesia yang tentunya atas dasar teori perdagangan absolut dan komparatif. Kedua teori perdagangan ini didasari pada jumlah produksi yang menjadi unggulan dari sebuah negara. Pada akhirnya sebuah negara akan memutuskan, manakah dari produksi di negaranya yang menjadi unggulan dan prospek untuk diekspor, dan manakah produksi yang jumlahnya tidak seberapa sehingga pemerintah memutuskan untuk mengimpor barang.

Biasanya, produk dikatakan unggulan berdasarkan kebutuhan dalam jumlah besar dari negara lain serta harga produk tersebut yang jauh lebih murah jika dibandingkan negara lain yang memproduksi barang serupa. Sementara itu produk bisa dikatakan tidak unggul jika kualitas dan kuantitas produk kalah jika dibandingkan produk negara lain, dan tentu saja, harganya pun lebih mahal jika dibandingkan harga produk serupa dari negara lain.

Uniknya jika kita melihat kondisi alam Indonesia, begitu banyak sumber daya alam yang melimpah dan hal ini bisa memposisikan Indonesia sebagai negara yang banyak memiliki keunggulan absolut jika dibandingkan negara lain. Namun sayangnya fakta itu terpatahkan pada harga dan kualitas produk yang kerap kalah dari negara lain. Kelemahan kebanyakan produk Indonesia didasari pada minimnya kualitas SDM yang berperan dalam proses produksi serta minimnya teknologi yang membuat kesemua itu memunculkan biaya yang membebani harga produk di kancah internasional.

Kasus kedelai misalnya. Banyak orang yang sadar jika Indonesia mampu memproduksi kedelai. Namun fakta yang telah dipaparkan dalam tulisan ini sebelumnya membuat kebutuhan kedelai di dalam negeri tidak teratasi. Impor kedelai dari Amerika Serikat menjadi solusinya karena harganya yang lebih murah. Amerika Serikat mampu memproduksi kedelai dari bibit yang berkualitas dan teknologi pengolahan yang canggih sehingga kuantitas produk sangat tinggi.

Dalam perdagangan internasional dewasa ini yang tanpa batas, tentunya Indonesia akan kesulitan jika menerapkan kebijakan proteksi untuk melindungi industri dalam negeri. Jika menganut idealisme seperti yang diterapkan oleh Bung Karno, konsekuensi besar terkait dengan segala yang berhubungan dengan hubungan internasional akan terkena imbasnya.

Satu-satunya solusi adalah Indonesia harus membenahi kualitas sumber daya manusia. Dengan peningkatan kualitas SDM, Indonesia bisa membenahi teknologi yang terkait dengan kegiatan produksi.

Kekuatan SDM memang mampu membuat sebuah negara yang bahkan kurang memiliki sumber daya alam menjadi negara yang lebih aktif kegiatan ekspornya dari pada kegiatan impornya. Indonesia yang banyak mengekspor produk yang masih minim olahan, kerap mengakibatkan pemasukan ekspor Indonesia kalah besar nilainya jika dibandingkan negara yang mengolah bahan baku dari Indonesia lalu mengekspornya lagi di pasar internasional.

Swiss sebagai negara yang terkenal sebagai penghasil coklat, faktanya sangat tergantung pada kegiatan impor coklat dari beberapa negara termasuk Indonesia. Amerika Serikat menerapkan kebijakan membangun beberapa industri di Tiongkok dengan alasan murahnya SDM. Produk hasil dari Tiongkok ini lalu diolah lagi dengan teknologi tinggi di Amerika Serikat menjadi produk yang nilai jualnya lebih tinggi jika dibandingkan produk yang dihasilkan dari Tiongkok.

Perdagangan internasional memang identik dengan teori komparatif dan absolut. Namun hal itu tidak serta merta harus membuat Indonesia begitu tergantung pada keunggulan sumber daya alam yang ada saja. Karena perdagangan bebas tidak hanya melihat secara sederhana siapa membutuhkan apa. Tapi produk dengan kapasitas besar dan harga yang bersainglah yang bisa membuat setiap negara mampu unggul di perdagangan internasional. Dan Indonesia, harus segera membenahi itu semua hingga ketergantungan impor pun bisa sedikit demi sedikit dikurangi dan bahkan membuat Indonesia mampu memunculkan produk unggulan baru bernilai plus di mata negara lain.

Buku yang tak Segokil dan Seunyu Judulnya

Cover Buku – [Resensi] Guru Gokil Murid Unyu Karya J Sumardianta

Oleh: Ika Maya Susanti

Judul buku : Guru Gokil Murid Unyu
Pengarang : J Sumardianta
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : April 2013
Tebal buku : XIII + 303 halaman

Kata gokil dan unyu memang bukan bahasa baku dalam bahasa Indonesia. Gokil identik dengan fenomena gila. Sedangkan unyu identik dengan fenomena lucu yang begitu menggemaskan. Tapi jika itu yang Anda harapkan dari buku ini, lupakan saja! Di buku ini pembaca tidak akan menemukan berbagai cerita gokil dan unyu para guru atau murid seperti laiknya buku-buku khas berlabel personal literature.
Istilah gokil ditujukan penulis buku ini bagi para guru yang hebat dan mampu menginspirasi muridnya menjadi unyu. Sedangkan kata unyu ditujukan untuk murid yang cerdas yang tidak hanya galau melulu tetapi juga bisa mengatasi persoalan di tengah perkembangan dunia internet dan kepungan tayangan televisi yang tidak mendidik.
Buku yang ditulis oleh penulis dengan nama asli Y. Sumardiyanto ini sangat sarat dengan berbagai fenomena seputar dunia pendidikan. Sumardianta sendiri membagi tulisannya menjadi enam bagian yaitu Kacamata Sang Pendidik, Sosok, Alam adalah Guru, Hidup untuk Menghidupi, Jendela Ilmu, dan Sekolah Bukan Rumah Kaca.
Sebagai seorang guru yang telah mengajar selama 20 tahun lebih, Sumardianta cukup mampu mengupas berbagai fenomena dalam dunia pendidikan. Dalam setiap bagian bukunya, pembaca diajak untuk merenungkan tentang fenomena keberadaan guru berikut perannya dalam dunia pendidikan serta sisi manusiawi dari profesi guru itu sendiri. Sistem pendidikan secara global atau dalam lingkup di Indonesia sendiri berikut institusi sekolah juga menjadi sorotan dalam buku ini.
Yang unik dari pemikiran Sumardianta dalam menyoroti fenomena peserta didik atau siswa dewasa ini adalah ia mendeskripsikan kondisi yang ada berikut penyebabnya, deskripsi karakter, serta bagaimana menghadapinya. Kondisi siswa masa kini bukan dianggapnya sebagai masalah melainkan sebagai tantangan untuk para guru agar mampu lebih kreatif dengan berbagai metode mengajar dan sikap positif dalam kegiatan belajar mengajar.
Guru yang punya nilai lebih menurutnya bukan yang killer, bukan yang mampu mengajarkan hal rumit menjadi terlihat sederhana, serta bukan yang mampu memenuhi berbagai tuntutan sertifikasi. Tapi guru yang memiliki kemampuan lebih, mampu menginspirasi muridnya, itulah yang menjadi guru dengan kriteria plus. Di buku inilah Sumardianta mengupas fenomena pendidikan yang sedikit banyak menyentil peran dan karakter para guru.
Dalam setiap bahasannya, penulis yang namanya kerap muncul di kolom resensi media nasional ini begitu dalam saat mengupas berbagai fenomena yang ada. Di setiap awal tulisan, ada kutipan inspiratif dari berbagai tokoh baik dalam maupun luar negeri, baik filsuf tempo dulu maupun tokoh masa kini. Kemudian penulis mengantar pembaca ke berbagai analogi yang bisa berupa cerita fiksi atau berita nyata. Keluasan wawasan Sumardianta yang begitu hobi membaca buku membuat ia bisa membicarakan suatu bahasan dengan perbandingan cerita dan wacana yang tak cukup satu dua.
Bagi yang tidak fokus saat membaca setiap tulisan dari penulis yang masih berstatus guru di SMA Kolese John De Britto Yogyakarta ini mungkin akan kesulitan menemukan inti dari setiap tulisan yang disajikannya. Karena penulis buku ini bisa membawa pembaca berkelana ke berbagai wacana yang ditulisnya sehingga pembaca pun berpeluang untuk menemukan nilai positifnya sendiri dari paparan renungan seorang Sumardianta.
Jadi, nikmati saja kegiatan membaca buku ini. Karena nilai plus dari buku ini adalah pembaca seakan-akan tidak hanya sedang membaca sebuah buku tapi berbagai buku yang pernah hinggap di kepala Sumardianta. Pembaca juga diajak mengetahui banyak hal seputar perkembangan dunia pendidikan atau berbagai hal yang bisa dikaitkan ke dalam dunia pendidikan yang patut untuk direnungkan, dievaluasi, serta dicari solusinya. Untuk itulah buku ini tidak akan membuat para pembaca merasa digurui. Ada proses bersama yang dilakukan oleh Sumardianta yang ia tuang dalam tulisannya.
Meski sarat wacana yang berbobot dan bentuk tulisan yang bisa dibilang serius, Sumardianta mampu menuliskannya dengan alur yang tidak rumit dan bahasa yang komunikatif serta mudah dimengerti. Pembaca buku ini tidak akan diajak untuk sesekali membuka kamus ilmiah. Dengan bahasa yang sederhana penulis mampu memaparkan berbagai fenomena dengan makna yang tak dangkal. Anda bisa menjadikan buku ini sebagai teman bersantai yang tak akan membuat kening berkerut saat membacanya.
Buku ini tidak hanya akan membawa pembaca bicara masalah demi masalah. Ada banyak inspirasi positif yang bisa ditangkap untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Karena itu, buku karya Sumardianta ini sangat bagus jika dibaca oleh siapapun yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, para pengajar, orang tua, atau para pengambil kebijakan pendidikan.