Jadi Mbok Jamu Kunyit Karena Typhus

Oleh: Ika Maya Susanti

Ada saat di mana hari-hari saya selama hampir sebulan penuh harus menjadi mbok jamu di setiap sore hari. Setiap pulang kuliah, saya harus memarut kunyit, memeras, dan meminumnya dengan dicampur madu terlebih dahulu.

Ceritanya sewaktu dulu kuliah, hampir sebulan saya harus isirahat di rumah Lamongan karena sakit typhus. Tapi istirahat itu tidak membuat saya pulih seperti sedia kala dalam waktu yang cepat. Bagaimana tidak, pikiran saya ada di Malang. Saya bingung memikirkan bagaimana tertinggalnya materi perkuliahan saya, tugas-tugas yang belum saya kerjakan, dan beberapa ujian dari dosen.

Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke Malang meski kondisi yang belum sepenuhnya fit. Namun ada yang saya dan ibu saya khawatirkan jika saya harus kembali kuliah. Obat dari dokter yang hampir habis sementara tubuh saya tidak kunjung benar-benar sehat. Masih ada rasa nyeri di bagian perut jika saya agak banyak bergerak.

Suatu ketika, ibu saya diberitahu oleh seorang saudara untuk membuat jamu kunyit madu dan itu harus diminum setiap harinya. Dan menurut banyak penelitian, satu dari sekian manfaat kunyit adalah untuk mengobati penyakit typhus. Di hari-hari terakhir saya berada di rumah, jamu kunyit madu ini ternyata cukup terasa manfaatnya. Nyeri di bagian perut saya pun jadi agak berkurang dan tidak sehebat seperti biasanya.

Saat harus kembali ke Malang, akhirnya saya harus membawa sekantong plastik kunyit sebagai bekal. Rasanya hampir satu kilo banyaknya kunyit yang saya bawa! Ada alasan kenapa saya harus repot-repot membawa kunyit dari rumah. Kunyit yang dipakai bukanlah sembarang kunyit melainkan rimpang kunyit yang tua.

Ibu saya menyebutnya dengan empunya kunyit. Warnanya lebih tua dan hampir berwarna merah, rimpangnya lebih besar, tidak oranye muda atau berimpang kecil seperti kebanyakan kunyit yang biasa ada di pasar. Kunyit tua ini jarang sekali bisa ditemukan di pasar biasa karena umumnya orang lebih suka memakai kunyit biasa atau yang masih muda untuk memasak. Kunyit tua ini jika diparut memiliki getah yang lebih banyak dari pada kunyit biasa. Warna getahnya agak putih dan cenderung lengket.

Prosesnya biasanya saya memarut kunyit terlebih dahulu, menyeduhnya dengan air panas, lalu setelah agak dingin baru disaring dan dicampur dengan madu. Tentunya semua proses ini membuat tangan saya menjadi kuning. Tak jarang, saya sering jadi bahan olok-olok teman-teman kuliah. Tapi, ya sudahlah, yang penting saya bisa benar-benar sembuh dari sakit yang saya alami itu.

Alhamdulillah, tak sampai sebulan, rasa sakit di perut saya akhirnya hilang. Saya jadi bisa lagi bergerak dan berjalan cepat. Pasalnya selama sakit, saya harus bergerak serba lambat sambil memegangi perut. Ini sungguh sangat mengganggu aktivitas saya.

Karena sakit typhus itu terkadang kerap muncul saat saya terlalu kelelahan, biasanya jika tanda-tanda gejalanya sudah mulai terasa, kunyit inilah yang jadi andalan saya. Jika perut saya kok terasa mulai agak nyeri, lidah saya terasa pahit dan warnanya memutih, badan terasa demam, langsung deh saya mengambil kunyit untuk dijadikan obat.

Tapi karena proses membuat jamu kunyit dengan cara memarut dan memeras itu sangat membutuhkan waktu, saya tidak lagi menggunakan cara memarut dan memeras lagi. Cukup dibersihkan kulitnya lalu saya iris tipis-tipis. Potongan kunyit itu kemudian saya seduh dengan air panas. Jika sudah agak dingin, saya kemudian menuangkan madu ke dalamnya.

Beberapa teman yang tahu kebiasaan saya tersebut memang sering bergidik saat melihat saya meminum air seduhan kunyit. Selalu saja pertanyaannya, “Nggak pahit?” Dan saya hanya menggeleng samil tertawa.

Karena sering meminum seduhan kunyit, saya memang jadi terbiasa dengan rasa kunyit yang menurut saya sih, tidak pahit. Benar lho, rasanya masih lebih pahit bubuk puyer yang harus saya minum saat sakit waktu kecil! Meski tidak diberi madu, saya asyik saja meminum seduhan kunyit itu. Yah, dari pada harus meminum obat yang khasiatnya saja lebih ampuh kunyit, kenapa ia tidak jadi sahabat setia saya saja?

Referensi:
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-tanaman-koleksi-kunyit

Mematahkan Kutukan Teori Perdagangan

Oleh: Ika Maya Susanti

Pernahkah mendengar pertanyaan tentang hal berikut ini?

“Indonesia katanya penghasil minyak bumi. Kenapa masih impor?”

“Di Indonesia ada petani kedelai. Tapi kenapa Indonesia harus mengimpor kedelai dari Amerika Serikat?”

Bahkan sebagai penyerta pertanyaan-pertanyaan tersebut sering muncul pula adanya beberapa pihak yang menyalahkan pihak pemerintah. Pemerintah Indonesia dilabeli sebagai pihak yang begitu ketergantungan kegiatan impor. Tak ayal, efek dari pola konsumsi ini membuat neraca pengeluaran Indonesia jadi membengkak.

Sebetulnya meski Indonesia memproduksi beberapa produk, kenyataannya, kebutuhan beberapa produk itu tak sebanding dengan keberadaan jumlah produk yang dibutuhkan. Kelangkaan, inilah masalah utama dalam ilmu ekonomi yang menjadi pangkal dari berbagai keputusan ekonomi berikutnya.

Misalnya pada kasus minyak bumi. Dewasa ini keberadaan tambang minyak bumi di Indonesia makin hari makin menurun jumlahnya. Ini masih ditambah dengan keterbatasan jumlah kilang minyak yang mampu mengolah minyak bumi hingga menjadi beberapa produk turunan. Ujung-ujungnya tentu saja, kapasitas jumlah minyak bumi yang diproduksi oleh Indonesia sendiri tidak sebanding dengan makin terus meningkatnya kebutuhan masyarakat akan berbagai produk minyak bumi.

Hal senada juga terjadi pada kasus kedelai. Masyarakat Indonesia yang sehari-hari begitu akrab dengan makanan olahan dari kedelai seperti tahu dan tempe membuat bangsa ini sangat membutuhkan keberadaan kedelai dalam jumlah besar. Sayangnya, lagi-lagi kelangkaanlah yang berbicara. Luas lahan tanaman yang terus menurun, produktivitas kedelai lokal yang sedikit, membuat harga kedelai lokal meningkat seiring dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya pemerintah memilih untuk mengimpor kedelai dari Amerika Serikat sebagai solusinya. Masalah kelangkaan ini pun makin dianggap genting karena ada begitu banyak masyarakat Indonesia yang menggantungkan nasib mata pencahariaanya pada kedelai untuk usaha pembuatan tahu dan tempe.

Kegiatan impor dua produk tersebut dilakukan Indonesia yang tentunya atas dasar teori perdagangan absolut dan komparatif. Kedua teori perdagangan ini didasari pada jumlah produksi yang menjadi unggulan dari sebuah negara. Pada akhirnya sebuah negara akan memutuskan, manakah dari produksi di negaranya yang menjadi unggulan dan prospek untuk diekspor, dan manakah produksi yang jumlahnya tidak seberapa sehingga pemerintah memutuskan untuk mengimpor barang.

Biasanya, produk dikatakan unggulan berdasarkan kebutuhan dalam jumlah besar dari negara lain serta harga produk tersebut yang jauh lebih murah jika dibandingkan negara lain yang memproduksi barang serupa. Sementara itu produk bisa dikatakan tidak unggul jika kualitas dan kuantitas produk kalah jika dibandingkan produk negara lain, dan tentu saja, harganya pun lebih mahal jika dibandingkan harga produk serupa dari negara lain.

Uniknya jika kita melihat kondisi alam Indonesia, begitu banyak sumber daya alam yang melimpah dan hal ini bisa memposisikan Indonesia sebagai negara yang banyak memiliki keunggulan absolut jika dibandingkan negara lain. Namun sayangnya fakta itu terpatahkan pada harga dan kualitas produk yang kerap kalah dari negara lain. Kelemahan kebanyakan produk Indonesia didasari pada minimnya kualitas SDM yang berperan dalam proses produksi serta minimnya teknologi yang membuat kesemua itu memunculkan biaya yang membebani harga produk di kancah internasional.

Kasus kedelai misalnya. Banyak orang yang sadar jika Indonesia mampu memproduksi kedelai. Namun fakta yang telah dipaparkan dalam tulisan ini sebelumnya membuat kebutuhan kedelai di dalam negeri tidak teratasi. Impor kedelai dari Amerika Serikat menjadi solusinya karena harganya yang lebih murah. Amerika Serikat mampu memproduksi kedelai dari bibit yang berkualitas dan teknologi pengolahan yang canggih sehingga kuantitas produk sangat tinggi.

Dalam perdagangan internasional dewasa ini yang tanpa batas, tentunya Indonesia akan kesulitan jika menerapkan kebijakan proteksi untuk melindungi industri dalam negeri. Jika menganut idealisme seperti yang diterapkan oleh Bung Karno, konsekuensi besar terkait dengan segala yang berhubungan dengan hubungan internasional akan terkena imbasnya.

Satu-satunya solusi adalah Indonesia harus membenahi kualitas sumber daya manusia. Dengan peningkatan kualitas SDM, Indonesia bisa membenahi teknologi yang terkait dengan kegiatan produksi.

Kekuatan SDM memang mampu membuat sebuah negara yang bahkan kurang memiliki sumber daya alam menjadi negara yang lebih aktif kegiatan ekspornya dari pada kegiatan impornya. Indonesia yang banyak mengekspor produk yang masih minim olahan, kerap mengakibatkan pemasukan ekspor Indonesia kalah besar nilainya jika dibandingkan negara yang mengolah bahan baku dari Indonesia lalu mengekspornya lagi di pasar internasional.

Swiss sebagai negara yang terkenal sebagai penghasil coklat, faktanya sangat tergantung pada kegiatan impor coklat dari beberapa negara termasuk Indonesia. Amerika Serikat menerapkan kebijakan membangun beberapa industri di Tiongkok dengan alasan murahnya SDM. Produk hasil dari Tiongkok ini lalu diolah lagi dengan teknologi tinggi di Amerika Serikat menjadi produk yang nilai jualnya lebih tinggi jika dibandingkan produk yang dihasilkan dari Tiongkok.

Perdagangan internasional memang identik dengan teori komparatif dan absolut. Namun hal itu tidak serta merta harus membuat Indonesia begitu tergantung pada keunggulan sumber daya alam yang ada saja. Karena perdagangan bebas tidak hanya melihat secara sederhana siapa membutuhkan apa. Tapi produk dengan kapasitas besar dan harga yang bersainglah yang bisa membuat setiap negara mampu unggul di perdagangan internasional. Dan Indonesia, harus segera membenahi itu semua hingga ketergantungan impor pun bisa sedikit demi sedikit dikurangi dan bahkan membuat Indonesia mampu memunculkan produk unggulan baru bernilai plus di mata negara lain.

Buku yang tak Segokil dan Seunyu Judulnya

Cover Buku – [Resensi] Guru Gokil Murid Unyu Karya J Sumardianta

Oleh: Ika Maya Susanti

Judul buku : Guru Gokil Murid Unyu
Pengarang : J Sumardianta
Penerbit : Bentang, Yogyakarta
Tahun terbit : April 2013
Tebal buku : XIII + 303 halaman

Kata gokil dan unyu memang bukan bahasa baku dalam bahasa Indonesia. Gokil identik dengan fenomena gila. Sedangkan unyu identik dengan fenomena lucu yang begitu menggemaskan. Tapi jika itu yang Anda harapkan dari buku ini, lupakan saja! Di buku ini pembaca tidak akan menemukan berbagai cerita gokil dan unyu para guru atau murid seperti laiknya buku-buku khas berlabel personal literature.
Istilah gokil ditujukan penulis buku ini bagi para guru yang hebat dan mampu menginspirasi muridnya menjadi unyu. Sedangkan kata unyu ditujukan untuk murid yang cerdas yang tidak hanya galau melulu tetapi juga bisa mengatasi persoalan di tengah perkembangan dunia internet dan kepungan tayangan televisi yang tidak mendidik.
Buku yang ditulis oleh penulis dengan nama asli Y. Sumardiyanto ini sangat sarat dengan berbagai fenomena seputar dunia pendidikan. Sumardianta sendiri membagi tulisannya menjadi enam bagian yaitu Kacamata Sang Pendidik, Sosok, Alam adalah Guru, Hidup untuk Menghidupi, Jendela Ilmu, dan Sekolah Bukan Rumah Kaca.
Sebagai seorang guru yang telah mengajar selama 20 tahun lebih, Sumardianta cukup mampu mengupas berbagai fenomena dalam dunia pendidikan. Dalam setiap bagian bukunya, pembaca diajak untuk merenungkan tentang fenomena keberadaan guru berikut perannya dalam dunia pendidikan serta sisi manusiawi dari profesi guru itu sendiri. Sistem pendidikan secara global atau dalam lingkup di Indonesia sendiri berikut institusi sekolah juga menjadi sorotan dalam buku ini.
Yang unik dari pemikiran Sumardianta dalam menyoroti fenomena peserta didik atau siswa dewasa ini adalah ia mendeskripsikan kondisi yang ada berikut penyebabnya, deskripsi karakter, serta bagaimana menghadapinya. Kondisi siswa masa kini bukan dianggapnya sebagai masalah melainkan sebagai tantangan untuk para guru agar mampu lebih kreatif dengan berbagai metode mengajar dan sikap positif dalam kegiatan belajar mengajar.
Guru yang punya nilai lebih menurutnya bukan yang killer, bukan yang mampu mengajarkan hal rumit menjadi terlihat sederhana, serta bukan yang mampu memenuhi berbagai tuntutan sertifikasi. Tapi guru yang memiliki kemampuan lebih, mampu menginspirasi muridnya, itulah yang menjadi guru dengan kriteria plus. Di buku inilah Sumardianta mengupas fenomena pendidikan yang sedikit banyak menyentil peran dan karakter para guru.
Dalam setiap bahasannya, penulis yang namanya kerap muncul di kolom resensi media nasional ini begitu dalam saat mengupas berbagai fenomena yang ada. Di setiap awal tulisan, ada kutipan inspiratif dari berbagai tokoh baik dalam maupun luar negeri, baik filsuf tempo dulu maupun tokoh masa kini. Kemudian penulis mengantar pembaca ke berbagai analogi yang bisa berupa cerita fiksi atau berita nyata. Keluasan wawasan Sumardianta yang begitu hobi membaca buku membuat ia bisa membicarakan suatu bahasan dengan perbandingan cerita dan wacana yang tak cukup satu dua.
Bagi yang tidak fokus saat membaca setiap tulisan dari penulis yang masih berstatus guru di SMA Kolese John De Britto Yogyakarta ini mungkin akan kesulitan menemukan inti dari setiap tulisan yang disajikannya. Karena penulis buku ini bisa membawa pembaca berkelana ke berbagai wacana yang ditulisnya sehingga pembaca pun berpeluang untuk menemukan nilai positifnya sendiri dari paparan renungan seorang Sumardianta.
Jadi, nikmati saja kegiatan membaca buku ini. Karena nilai plus dari buku ini adalah pembaca seakan-akan tidak hanya sedang membaca sebuah buku tapi berbagai buku yang pernah hinggap di kepala Sumardianta. Pembaca juga diajak mengetahui banyak hal seputar perkembangan dunia pendidikan atau berbagai hal yang bisa dikaitkan ke dalam dunia pendidikan yang patut untuk direnungkan, dievaluasi, serta dicari solusinya. Untuk itulah buku ini tidak akan membuat para pembaca merasa digurui. Ada proses bersama yang dilakukan oleh Sumardianta yang ia tuang dalam tulisannya.
Meski sarat wacana yang berbobot dan bentuk tulisan yang bisa dibilang serius, Sumardianta mampu menuliskannya dengan alur yang tidak rumit dan bahasa yang komunikatif serta mudah dimengerti. Pembaca buku ini tidak akan diajak untuk sesekali membuka kamus ilmiah. Dengan bahasa yang sederhana penulis mampu memaparkan berbagai fenomena dengan makna yang tak dangkal. Anda bisa menjadikan buku ini sebagai teman bersantai yang tak akan membuat kening berkerut saat membacanya.
Buku ini tidak hanya akan membawa pembaca bicara masalah demi masalah. Ada banyak inspirasi positif yang bisa ditangkap untuk memajukan dunia pendidikan di Indonesia. Karena itu, buku karya Sumardianta ini sangat bagus jika dibaca oleh siapapun yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, para pengajar, orang tua, atau para pengambil kebijakan pendidikan.

Peringatan Alam dari Keringnya Sendang

Oleh: Ika Maya Susanti

Saya hanya bisa memandang wajah-wajah takjub saat ibu mertua dan adik ipar saya melihat beberapa foto sumber mata air yang usai saya ambil sebelumnya.

“Kok bisa begitu ya sekarang? Dulu padahal ini untuk tempat mandi orang. Airnya penuh!” seru ibu mertua saya.

Dan begitulah fakta yang juga sempat saya dengar dari suami saya saat mengajak saya main ke sumber mata air yang menjadi tumpuan banyak warga di Desa Lopang. Kebanyakan warga di desa tersebut sangat mengandalkan keberadaan aliran air yang mengalir dari mata air Beji.

Kondisi mata air itu sendiri saat ini memang sangat jauh berbeda dari beberapa puluh tahun yang lalu. Dahulu, ada dua sendang yang berdekatan yang airnya berasal dari sumber mata air Beji. Bahkan menurut suami saya, memang dahulunya kondisi air sendangnya penuh.

“Bahkan dulu ada yang sempat ketakutan kalau-kalau airnya meluber dan akan membanjiri kampung,” tutur suami saya.

Beginilah kondisinya sekarang, hanya ada sedikit genangan air yang tersisa di musim kemarau. Padahal dulu sendang ini sepat dikhawatirkan airnya meluber dan membanjiri desa.

Beginilah kondisinya sekarang, hanya ada sedikit genangan air yang tersisa di musim kemarau. Padahal dulu sendang ini sepat dikhawatirkan airnya meluber dan membanjiri desa.

Sementara itu faktanya, saat ini kondisi sendang tersebut hampir mengering. Di bagian dasar sendang, saya melihat sebuah pompa air yang terus aktif menyala. Suami saya menyayangkan keberadaan pompa air tersebut yang menurutnya merupakan milik pribadi dan bukan dikelola untuk kepentingan bersama.

“Coba saja kalau ini tidak dibor, pasti airnya bisa memenuhi ke sendang yang ada di sana,” tunjuknya ke arah sendang yang lebih besar.

Di dekat mesin pompa itu sendiri, ada beberapa bekas pipa yang menjadi pertanda jika titik itu juga pernah dibor untuk diambil airnya.

Sedangkan nasib sendang yang lebih besar, lebih mengenaskan lagi. Tak ada sedikitpun air yang menggenang. Saat saya ke sana, memang sedang musim kemarau. Namun kondisi sendang yang mengering itu menurut suami saya, dulu tidak demikian adanya.

Ini sendang yang lebih besar. Kondisinya lebih mengenaskan lagi karena tak tersisa air sedikitpun di dasar sendang ini saat musim kemarau. Saya malah sempat membayangkan, bahkan dasar sendang ini sekarang bisa digunakan anak-anak untuk tempat bermain bola.

Ini sendang yang lebih besar. Kondisinya lebih mengenaskan lagi karena tak tersisa air sedikitpun di dasar sendang ini saat musim kemarau. Saya malah sempat membayangkan, bahkan dasar sendang ini sekarang bisa digunakan anak-anak untuk tempat bermain bola.

Tak jauh dari sendang tersebut, terdapat menara air yang di bagian bawahnya terdapat pompa air berkekuatan besar yang aktif. Sumber air inilah yang menjadi andalan banyak warga sejak sekitar 10 tahun terakhir. Saat saya mengunjungi tempat itu, ternyata baru beberapa bulan dibuatkan sumber bor mata air yang baru.

Menara untuk pengelolaan mata air Beji.

Menara untuk pengelolaan mata air Beji.

Sumber mata air hasil pengeboran baru

Sumber mata air hasil pengeboran baru

Sumber mata air hasil pengeboran lama

Sumber mata air hasil pengeboran lama

Sebetulnya, Desa Lopang adalah daerah yang sangat kaya akan sumber mata air meski letaknya tidak di pegunungan. Menurut suami saya, dalam satu desa, terdapat beberapa wilayah yang air tanahnya berkualitas bagus dan bisa dikonsumsi untuk diminum. Sementara beberapa wilayah yang lain memiliki mata air yang kondisinya tidak demikian. Jika diolah untuk air minum, sumber air tanah jenis yang kedua ini rasanya cenderung pahit.

Nah, daerah inilah yang kemudian awalnya menjadi alasan untuk dibuatnya pengeboran mata air Beji. Warga jadi tidak perlu berpayah-payah lagi harus berjalan ke sendang untuk mengambil air. Para warga hanya tinggal membuat saluran air ke rumah dan air pun akan dengan mudahnya mengalir deras. Kualitas mata air Beji memang cukup baik. Jika dimasak, airnya bisa diminum. Kondisinya pun bening dan bisa mengaliri rumah-rumah warga dengan debit air yang deras.

Pompa air ini bekerja hampir 24 jam setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan air warga Desa Lopang

Pompa air ini bekerja hampir 24 jam setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan air warga Desa Lopang

Namun beberapa waktu terakhir, kondisi debit air dari mata air Beji menurun. Apalagi jika memasuki musim kemarau. Terkadang air bisa tidak keluar atau keluar dengan debit yang kecil.

“Ini karena banyak warga yang sekarang dengan mudahnya memilih memakai aliran air dari mata air Beji. Padahal dulu, hanya yang kualitas jelek air tanahnya saja yang pakai,” keluh suami saya.

Memang bisa dibilang warga dimudahkan dengan keberadaan aliran air dari mata air Beji yang dikelola oleh pihak desa. Dalam sebulan, para warga cukup membayar 30 ribu rupiah saja. Itu untuk pemakaian sepuasnya! Tentunya jumlah uang yang keluar bisa lebih besar jika rumah warga yang bersangkutan memilih mengandalkan air tanah di pekarangannya sendiri yang mengandalkan mesin pompa sendiri. Mereka bisa menghabiskan biaya untuk listrik yang jumlah nominalnya jadi lebih besar.

Sementara itu, kelompok pemuda desa yang menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam telah berupaya untuk menjaga kelestarian daerah sendang dan mata air Beji. Dahulunya, daerah di sekitar tempat tersebut seperti hutan yang lebat. Banyak pepohonan besar yang tumbuh di sana. Tapi seiring waktu, banyak warga yang menebang pohon-pohon tersebut untuk dimanfaatkan kayunya. Para pemuda desa pun akhirnya mencoba memerbaiki dengan menanam beberapa tanaman yang bisa berumur panjang.

Namun sepertinya usaha tersebut kurang maksimal jika warga tidak lebih bijak dalam memanfaatkan keberadaan mata air Beji. Karena dalam hitungan tahun saja, perubahannya bisa terlihat dari sendang yang mengering serta sumber mata air yang harus berpindah titik karena tidak lagi menghasilkan debit air yang deras. Alam selalu punya cara untuk mengingatkan manusia agar lebih bijak dalam bersikap.

Perlunya Pelestarian Air Tanah di Pemukiman Padat

Oleh: Ika Maya Susanti

Sudah lama keluarga saya dan banyak orang yang tinggal di pemukiman tempat saya tinggal menggantungkan kebutuhan airnya dengan mengandalkan air tanah. Semua ini bermula dari masalah betapa sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya dan keluarga sejak sekitar awal tahun 90-an tinggal di sebuah perumnas yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Oke, bayangkan saja bagaimana bentuk perumnas itu. Ada yang di satu ruas jalan terdiri dari rumah-rumah besar, hingga satu gang yang bisa terdiri dari deretan rapat rumah berukuran tipe 36.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Di tempat saya tinggal, air PAM hanya mengalir di waktu-waktu tertentu saja. Sungguh berbeda dengan daerah pusat kota yang bisa mendapatkan air bersih kapan saja dari keran-keran yang ada di rumah. Itupun tergantung dengan waktu dan siapa yang tinggal lebih dulu dekat dengan aliran air. Rumah-rumah di daerah yang dilewati oleh air terlebih dahulu otomatis bisa terpenuhi dulu kebutuhannya. Sedangkan di ujung jalan yang sama, yang tidak dilewati air terlebih dahulu, nasibnya bisa sebaliknya.

Itu masih belum lagi masalah waktu pengaliran air yang terkadang jadwalnya adalah saat tengah alam atau dini hari di kala orang-orang sedang beristirahat. Ditambah dengan masalah siapa yang dapat lebih dulu, otomatis banyak orang yang kesal dengan kondisi tersebut.

Solusinya, saat di waktu awal-awal saya tinggal di sana, banyak orang giat membuat tandon air. Umumnya diletakkan di bawah yang berada di halaman rumah agar air mudah mengisi ke tandon tersebut. Tapi tetap saja, saat perumnas makin hari makin menambah rumah-rumah baru, jadwal giiliran air yang makin padat, tentunya banyak orang yang sudah sangat tidak sabar dengan masalah ini.

Beberapa orang lambat laun mulai memikirkan untuk mencari solusi lain. Ada daerah RW misalnya yang berinisiatif membuat pompa air manual bertuas untuk dipakai beramai-ramai dengan warga di sekitar tersebut. Warga dari daerah lain sampai ikut mengantri dengan membawa berbagai wadah penampung air dan dibawa atau dipikul bolak-balik ke rumahnya.

Kondisi yang melelahkan itu membuat beberapa orang mulai terpikir untuk mencoba mengebor air tanah di halaman rumahnya masing-masing. Untungnya, rumah saya termasuk yang airnya tawar dan jernih. Sementara di beberapa tempat lain di perumnas tidak demikian. Bagi keluarga saya, solusi air akhirnya terpecahkan. Sering keluarga kami juga menawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan air bersih dari sumber air di depan rumah kami. Dan untuk air PAM, selamat tinggal! Kami akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan meteran air yang ada. Asyiknya, kami tentunya tidak perlu lagi bayar air, begadang demi menunggu air yang itu pun kadang bisa jadi tidak keluar di waktu yang seharusnya, dan bisa menggunakan air kapan saja untuk kebutuhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Apa yang kami lakukan akhirnya ditiru oleh beberapa tetangga dan banyak orang di perumnas pun melakukan hal yang serupa. Namun karena keluarga kami tidak merasa yakin dengan kebersihan air tanah yang kadang bisa berwarna keruh, kami pun mengandalkan air galon. Untuk konsumsi langsung minum, kami menggunakan Aqua. Sedangkan untuk memasak, kami menggunakan air galon isi ulang.

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Kondisi itu sudah berlangsung sejak saya tinggal di akhir-akhir tahun 90-an. Seiring waktu, masalah pun muncul. Saat kemarau, air tanah di tempat saya jadi berkurang debitnya. Warnanya pun kerap makin keruh. Pernah juga sekitar tak sampai lima kali sejak pengeboran air tanah dibuat, kami harus memperdalam kedalaman pengeboran.

Bagaimana tidak, kondisi itu terjadi sejak para tetangga di sekitar kami juga mengandalkan air tanah. Perbandingannya bisa 20 rumah mengandalkan air tanah dan hanya satu saja yang masih setia dengan PAM!

Ini makin diperparah dengan minimnya penunjang pelestarian air tanah. Sangat minim keberadaan lahan terbuka yang memungkinkan air dari permukaan tanah jadi mudah terserap. Di tempat saya tinggal yang berada di gang kecil dengan rumah-rumah tipe 36 yang berjejer padat, hanya sedikit saja yang membiarkan halaman rumahnya tetap ditumbuhi tanaman atau pohon mangga yang menjadi pemberian awal dari pihak perumnas. Perbandingannya bisa senasib dengan kondisi siapa yang punya sumber air tanah dengan yang setia dengan air PAM. Halaman terbatas yang ada kerap digunakan pemilik rumah untuk membuat tandon air sebagai cara mengatasi masalah air di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, akar pohon mangga yang kokoh dirasa tidak cocok untuk menjadikan tanaman tersebut tumbuh di lahan yang terbatas.

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Kesadaran warga akan kelestarian lingkungan alam ini kemudian berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Lomba lingkungan sehat yang kerap diadakan pihak kabupaten hingga nasional membuat warga sekitar pada akhirnya membuat lubang resapan biopori.

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Banyak orang tentunya sudah tahu manfaat dari keberadaan biopori. Beberapa lubang biopori yang ada mampu memudahkan tanah untuk meresapkan air dari permukaan tanah sehingga meminimalisir masalah banjir. Air resapan ini pada akhirnya juga bermanfaat sebagai cara untuk menjaga kelestarian dan volume air tanah yang ada.

Uniknya seperti gambaran yang telah saya sebutkan, lahan terbuka untuk membuat biopori di lingkungan tempat saya tinggal ini sangat terbatas. Bayangkan saja, ada seruas jalan berbentuk gang, lalu got di tepi kanan dan kiri, kemudian area rumah warga. Tentunya dengan masing-masing rumah yang rata-rata telah ditutup permukaan tanahnya.

Akhirnya biopori itu pun dibuat di tengah jalan gang! Ini hal yang sangat dilematis bagi warga di tempat saya tinggal. Pernah ada pihak yang menyalahkan kenapa ada pembuatan biopori di tengah jalan. Namun terbatasnya lahan membuat setiap orang pun harus bertanya, lantas di mana lagi biopori harus dibuat?

Cerita lain dari sulitnya usaha pelestarian air tanah adalah sikap penggunaan air tanah dalam kehidupan sehari-hari. Air tanah yang bisa keluar kapan saja membuat banyak orang terlena dengan kondisi ini. Jujur, penggunaan air tanah ini bisa membuat kami kerap tidak cermat dan irit. Sering air mengalir begitu saja di tengah-tengah aktivitas penggunaannya yang padahal dan seharusnya air itu harus dihentikan.

Sementara itu, peringatan tentang kualitas dan kuantitas kondisi air tanah sudah terlihat di beberapa tahun terakhir. Air yang makin keruh, pun volumenya yang makin sedikit. Saya tidak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisinya di 5 atau 10 tahun mendatang. Kerap saya berpikir, akankah saya dan orang-orang di sekitar saya masih bisa mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Aksi pelestarian lingkungan hidup yang kerap hadir dalam bentuk lomba membuat saya terpikir andai saja ada juga penilaian tentang bagaimana warga di suatu tempat melestarikan air tanah atau bagaimana manajemen yang cerdas dari warga untuk menggunakan air yang ada. Bisa air PAM atau terutama air tanah.

Karena dari lomba yang telah ada sebelumnya, saya melihat justru dari situlah warga tergerak untuk terpacu melestarikan dan menjaga lingkungan alam yang ada. Tidak hanya agar lingkungan terlihat hijau, akan tetapi semoga esensi dari pelestarian alam yang sesungguhnya, bisa juga dimaksudkan untuk melestarikan air tanah yang merupakan bagian dari kekayaan alam yang ada.

Pernah saya ditunjukkan oleh seorang teman bagaimana sikap hidup saat ini terhadap alam mampu memiliki akibat di kehidupan yang akan datang. Waktu itu, saya begitu enteng menanggapinya. Dan tentang keberadaan air tanah, rupanya kini saya lambat laun sudah melihat bagaimana dampaknya jika kita kurang bijak dalam menggunakan sumber air tanah.

Cita-cita Qisia

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            Angin menerbangkan rambut Qisia yang sedang melamun saat duduk di atas boncengan sepeda ayahnya. Ia tersadar dan penasaran mengapa negaranya hingga kini belum punya stasiun luar angkasa dan segala perangkat antariksa canggih lainnya.

            Kemarin, Qisia mendapat pertanyaan dari teman-temannya setelah mereka sibuk membanggakan negaranya masing-masing. Ini untuk kesekian kalinya Qisia kesulitan harus menjawab pertanyaan teman-temannya di Sekolah Saint John’s Heidelberg Jerman.

            Dulu sewaktu awal datang ke sekolah itu dan memperkenalkan diri dari Indonesia, banyak temannya yang menanyakan hal aneh. Ada yang bertanya, Indonesia itu ada di mana. Ketika ia jawab dekat Australia, Singapura, dan Malaysia, mereka malah bertanya apakah Indonesia itu dekat dengan Bali. Rasanya ingin sekali Qisia tertawa. Tapi lantas ia menahan mulutnya. Ia melihat tatapan serius teman-temannya yang memang tidak menganggap itu sebagai hal konyol. Saat Qisia menjawab Bali itu sebuah pulau di Indonesia, barulah mereka menggangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Qisia sungguh tak habis pikir, mengapa Bali lebih terkenal dari pada Indonesia.

            Pertanyaan lain yang membuat Qisia sampai membelalakkan mata adalah pertanyaan Frau, temannya dari Rusia. “Apakah di Indonesia itu ada listrik?” Katanya, ia pernah melihat acara tivi tentang orangutan di Kalimantan. Karena itu ia berpikir, Indonesia seperti kebanyakan negara di Afrika. Pertanyaan itu membuat Qisia harus menggigit bibirnya karena merasa tidak nyaman. Ia sedih, kenapa sampai ada orang di luar negeri yang menganggap Indonesia masih belum ada listrik.

            Qisia menghembuskan nafas berat. Ia tidak pernah menyesali keputusan ayahnya yang membawa ia dan ibunya untuk ikut tinggal di Jerman, menemani ayahnya yang sedang kuliah S3. Qisia malah senang, ia jadi bisa tahu banyak hal baru. Tapi jika itu tentang teman-temannya yang saling menceritakan negaranya masing-masing, Qisia kerap merasa tidak nyaman.

            “Ayah, kenapa negara kita tidak punya perangkat antariksa canggih?”

            Pertanyaan Qisia membuat ayahnya yang sedang mengayuh sepeda di tepi Sungai Rhein jadi menghentikan kayuhnya.

            “Memangnya kenapa Qisia? Qisia mau jadi astronot?” tanya Ayah.

            Qisia lalu bercerita tentang kejadian yang kemarin ia alami di sekolah. Frau Elter dan Tatjana bercerita kalau Rusia, Amerika, dan Jerman punya roket, pesawat antariksa, dan stasiun luar angkasa.

“Temanku Tang Tang dari China juga bilang punya. Iman dan Sharina dari India juga bisa buat. Kenapa Indonesia tidak punya? Apa kita tidak punya uang ya? Atau kita tidak mampu membuatnya? Kenapa?” Qisia mengulang pertanyaan-pertanyaan yang ia terima kemarin. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya cuma bisa tersenyum malu karena tidak bisa menjawab. Untungnya, saat itu Miss Elfreda memanggilnya ke kantor. Jika tidak, Qisia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi teman-temannya.

Ayah mengelus rambut panjang Qisia. “Nak, kalau Ayah menjawab dengan jelas pertanyaan teman-temanmu itu, rasanya akan sangat panjang penjelasannya. Intinya, negara kita memang belum mampu. Dan karena itulah ayah sampai mengajakmu untuk sekolah di Jerman. Ayah tidak sekedar ingin meminta Qisia dan Ibu menemani ayah belajar di sini. Kamu harus punya banyak ilmu dari sini.”

Qisia mengedip-kedipkan matanya sambil menatap kedua mata ayahnya dalam. “Ayah ingin Qisia jadi astronot, lalu karena itu Qisia harus belajar di Jerman? Qisia tidak mau jadi astronot, Ayah!” seru Qisia.

Ayah langsung tertawa terbahak-bahak, membuat seorang kakek tua yang kebetulan lewat di dekat mereka jadi tersenyum dengan heran.

“Memangnya Ayah memaksa Qisia jadi astronot? Memangnya Qisia mau jadi apa? Ayah sama Ibu akan menghargai apapun cita-cita Qisia asal itu positif, kok.”

“Qisia kira Ayah benar-benar serius mau menjadikan Qisia astronot karena negara kita tidak punya peralatan canggih antariksa,” Qisia bernafas lega.

Ia lalu teringat Om Hendra, adik ayahnya yang seorang dosen Elektro yang ahli Fisika dan bisa membuat berbagai perangkat elektronik unik di rumahnya sendiri.

“Qisia pengen seperti Om Hendra saja. Ahli Fisika. Nanti, Qisia akan sekolah di Kaiserslautern,” ujar Qisia yakin sambil menyebut sebuah universitas di Jerman yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya.

Ayah langsung membelalakkan mata. “Wah, kalau kamu kuliah di sana, uangnya siapa, Qisia? Hm, semoga ayahmu ini banyak rejeki ya biar kamu bisa kuliah di sana.”

“Ya uang beasiswa, dong. Kayak Ayah sekarang. Kan Qisia ini punya otak cemerlang. Qisia yakin, suatu saat bisa menunjukkan ke dunia kalau Indonesia itu hebat dan punya seorang ahli Fisika bernama Qisia!”

“Aamiin,” Ayah mengamini kata-kata Qisia. “Oh iya, ahli Fisika itu juga bisa jadi astronot, lho!”

“Masa iya, Yah?”

Ayah mengangguk-angguk kepalanya sambil menggerak-gerakkan alisnya. “Jadi, mau jadi ahli Fisika atau astronot?” goda Ayah.

Qisia berpikir sambil menatap Sungai Rhein. “Yang jelas, Qisia mau membuat Indonesia bangga dan tak ada lagi yang mengira kalau di Indonesia itu tidak ada listrik.”

Ayah dan Qisia lalu saling pandang dan tertawa bersama. Ya, Qisia memang masih tak habis pikir, kenapa zaman sekarang masih ada yang mengira Indonesia itu tak ada listrik ya?

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls No.19/Th.IX, terbit 23 April 2014

Cuaca Es Krim

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Cuaca ekstrim yang sedang terjadi akhir-akhir ini diperkirakan masih akan melanda beberapa daerah di Indonesia selama dua bulan ke depan. Untuk itu masyarakat perlu waspada dan menjaga kondisi tubuhnya untuk menghadapi cuaca tersebut.”

            “Apa tadi kata penyiarnya? Cuaca es krim?” celutuk nenekku yang biasa kupanggil dengan panggilan Mbah Putri.

            “Hihihi, cuaca ekstrim, Mbah,” aku tertawa geli sambil membetulkan ucapannya.

            “Lha yo, cuaca es krim, tho? Kok aku baru dengar ya ada cuaca namanya cuaca es krim? Aneh banget!”

            “Eks-trim!” seruku lebih keras lagi sambil mengeja, membetulkan ucapan mbahku yang masih yakin bahwa yang didengarnya adalah kata es krim.

            “Iya, cuaca es krim itu apa tho? Bukannya yang namanya cuaca itu ya cuma hujan dan panas, ya?”

            Aku termenung beberapa saat. “Aduh, apa ya? Nanti deh Mbah, Rena cari tahu dulu ya,” jawabku pada akhirnya. Lagi pula, aku merasa sudah menyerah jika harus terus membetulkan ucapan mbahku yang melulu mengucap kata es krim.

            Aku dan Mbah Putri sore itu sedang asyik melihat televisi. Kebetulan, kami sedang melihat berita tentang berbagai bencana alam yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.

            “Cuaca ekstrim? Apa maksudnya banjir di mana-mana, gempa dan tsunami?” aku mengelus-elus kepalaku sambil berpikir.

            Sebetulnya, aku bisa saja bertanya pada Mama atau Papa pada sore hari nanti saat mereka pulang kerja. Atau, aku bisa menanyakannya pada guruku di sekolah esok harinya. Tapi, saat ini aku tidak tahan dengan rasa ingin tahuku dan aku sungguh penasaran!

            Aku sering mendengar kata cuaca ekstrim dari berita. Di sekolah, aku dan teman-temanku jadi sering mengucap kata-kata itu saat sedang mengeluh tentang cuaca akhir-akhir ini yang bisa panas dan lalu mendadak hujan. Tapi…

            Aku lalu menepuk jidatku sendiri. Ya ampun, aku baru sadar. Terrnyata, sebenarnya selama ini aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan cuaca ekstrim!

            Segera kunyalakan komputer dan membuka halaman Google. Aku ingat, Mama pernah berpesan kalau aku sedang ingin tahu sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan, aku bisa mencarinya di Google.

            Segera kuketik di kotak Google. “Cuaca ekstrim adalah,” ejaku sambil mengetik.

            Ternyata, tidak ada situs yang langsung bisa membuatku menemukan arti kata cuaca ekstrim. “Yah, sepertinya aku harus membuka situs ini satu persatu.”

            Dari beberapa situs itu, aku memang menemukan penjelasan tentang cuaca ekstrim.

            “Cuaca ekstrim adalah kondisi cuaca yang sangat jarang terjadi, mengandung resiko bencana, dan parameter yang diukur nilainya…” kedua alisku langsung naik.

            “Aduh, kenapa kok bahasanya rumit begini ya? Bagaimana aku bisa menerangkan ke Mbah Putri kalau aku sendiri saja masih bingung dengan penjelasan ini?”

            Kucoba lagi membaca penjelasan dari beberapa situs yang ada. Ada yang menjelaskan, cuaca ekstrim itu seperti yang terjadi di Bandung. Jika siang hari suhunya sangat panas, lalu malam harinya bisa jadi sangat dingin.

            Selesai membaca beberapa situs, tetap saja, aku tidak mengerti dan tidak menemukan apa itu cuaca ekstrim.

            “Sepertinya, aku harus bertanya pada mama, papa, atau guru di sekolah, nih!” ujarku menyerah pada akhirnya.

            “Mbah, Rena masih belum menemukan artinya cuaca ekstrim di internet,” kataku sambil kembali duduk di sebelah Mbah Putri.

            “Apa Na, es krim? Kan, mamamu masih menyimpan es krim di kulkas. Kamu ini kok ya aneh. Hujan-hujan begini, kenapa malah mau makan es krim? Tuh, Mbah Putri baru saja menggoreng pisang goreng, lho. Sepertinya masih hangat. Itu saja eh yang kamu makan untuk jajanan sore ini,” tunjuk Mbah Putri ke arah meja makan.

            Aku kemudian berjingkat meninggalkan Mbah Putri sambil menahan tawa. “Hihihi, sepertinya Mbah Putri memang pendengarannya sudah agak berkurang. Cuaca ekstrim di berita, dibilangnya berkali-kali cuaca es krim. Aku bilang cuaca ekstrim, Mbah Putri malah bilang es krim di kulkas,” kataku dalam hati sambil tertawa geli.

            Sambil menikmati pisang goreng yang masih hangat, pikiranku masih saja penasaran dengan apa itu cuaca ekstrim. “Ekstrim? Hm… kok jadi ikut-ikutan ingat es krim di kulkas, ya?”

            Kubuka kulkas untuk mengambil satu sendok es krim ke dalam mangkok. Namun saat aku memasukkan sesendok es ke dalam mulutku, “Aduh duh duh…!” teriakku karena menahan ngilu di gigiku.

            “Kenapa, Na?” Mbah Putri lalu tergopoh-gopoh menghampiriku.

            “Lha kamu itu ngapain tho, nduk… Habis makan pisang goreng yang masih hangat, kok ya makan es krim. Ya jelas gigimu sakit!” omel Mbah Putri. “Sini, Mbah ambilkan air hangat untuk kamu minum biar rasa ngilunya agak hilang.

            Saat menahan gigiku yang sakit, aku justru tiba-tiba teringat tulisan yang baru saja kubaca dari internet.

            “Aha! Mendadak dingin, lalu panas. Mungkin seperti itu ya cuaca ekstrim. Mendadak hujan dan dingin. Tapi kemudian mendadak matahari bersinar terang dan panas,” aku lalu tersenyum karena sepertinya menemukan jawaban dari apa itu cuaca ekstrim.

            Saat Mbah Putri kembali dengan segelas air putih hangat, aku lalu berujar, “Mbah, Rena sudah tahu apa itu cuaca ekstrim!” seruku mantap.

            “Sudah, jangan bandel mau mencoba meneruskan makan es krim lagi lho, ya!” omel Mbah Putri.

            Aku bingung. Aduh, Mbah Putri ini. Padahal aku kan mau menjawab pertanyaannya tentang cuaca ekstrim!

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls bulan April 2014