Hari Pengusaha

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Setiap Selasa, di sekolah ini ada Hari Pengusaha,” itu yang sempat aku dengar dari Elang, teman baruku.

Aku baru saja pindah sekolah karena orang tuaku harus pindah kerja. Sekolahku kali ini memang unik. Aku bisa ke sekolah tanpa menggunakan seragam dan bisa belajar di luar ruangan. Kata Papa, sekolah baruku itu sekolah alam.

“Kamu pasti suka sekolah itu. Soalnya kamu itu suka banyak gerak, sih,” ujar Papa sambil tersenyum kepadaku.

Yah, Papa benar. Selama ini aku sering bosan dan mengantuk jika terus belajar di dalam kelas. Setelah beberapa hari bersekolah di sana, aku langsung merasa betah. Di sekolah itu, aku bisa belajar banyak hal yang tidak hanya dari buku pelajaran saja. Seperti kemarin, Bu Hani mengajak kelasku untuk membuat lubang biopori. Aku baru tahu kalau biopori besar manfaatnya. Biopori bisa digunakan untuk tempat mengumpulkan sampah organik dan menghasilkan pupuk kompos, juga katanya untuk mengurangi banjir di kota besar.

Nah, kali ini yang membuatku agak bingung adalah Hari Pengusaha. Aku cuma sempat tahu kalau di hari itu, kami bisa berjualan di sekolah.

“Aku besok mau jual jus buah. Nah, kalian mau jus buah apa? Nanti aku belanja ke pasar. Tapi, buahnya jangan yang mahal, ya! Ntar bisa bangkrut aku,” celoteh Dina.

“Aku jual keripik lagi, ah. Aku kan tinggal beli aneka keripik yang ada di toko dekat rumahku. Nanti kalau tidak habis, tinggal aku makan sendiri, deh!” sahut Elang yang memang hobi makan.

“Laras, kamu mau jual apa nanti?” Vanya penasaran karena sedari tadi aku hanya diam mendengarkan rencana teman-temanku.

“Jual apa ya? Aku belum tahu,” aku mengangkat bahu tanda bingung.

“Kamu jualan keripik saja kayak aku. Nanti kita duet keliling sekolah,” usul Elang.

“Memangnya boleh ya, kalau jenis barangnya sama?” tanyaku.

“Boleh, kok. Nanti kalian bisa bersaing usaha. Tapi awas, hati-hati ya terlalu murah. Barangmu memang akan lebih laku. Cuma, nanti kamu bisa rugi kalau seperti itu,” terang Dina.

“Ah, itu aku juga tahu. Uhm, enggak seru ah kalau aku juga berjualan keripik. Ada ide lain?” pikiranku langsung mencari-cari ide usaha apa yang bisa aku lakukan nanti.

“Kerupuk!” sahut Elang. Rupanya usul Elang masih kata yang tidak jauh dari keripik.

“Rambutan saja. Kan sekarang sedang musim,” usul Vanya.

“Ah iya, nanti kita kerja sama saja, Laras. Kalau ada yang mau jus rambutan, aku tinggal membeli rambutan ke kamu,” Dina memberi usulan yang menarik.

“Coba lihat nanti, deh. Barangkali aku punya ide lain. Terima kasih sarannya ya, teman-teman.” Aku tidak langsung menerima usulan teman-temanku. Karena yang sempat kudengar, beberapa anak besok juga berniat menjual rambutan yang saat ini memang sedang musimnya.

Saat pulang sekolah, pikiranku selalu saja bertanya-tanya, “Nanti mau jual apa?” Huh, aku ingin barang yang aku jual nanti berbeda dan bisa laku banyak.

“Nah, benar kata Papa, kamu memang pas ada di sekolah itu. Tuh, watak pengusahamu sudah kelihatan! Enggak mau punya usaha yang sifatnya udah banyak dipikirin orang. Kalau begitu, nah, selamat mencari ide untuk Hari Pengusaha, ya,” senyum jahil Mama. Mama justru tidak memberiku ide saat aku bertanya padanya. Katanya, biar aku benar-benar jadi pengusaha yang tangguh!

Karena tak kunjung mendapatkan ide, akhirnya aku menggunakan ide yang diusulkan Vanya. Yah, nanti kan aku bisa dapat pembeli utama dari Dina yang usahanya jus buah. Segera, aku mengirim sms ke Dina. Dina langsung senang karena ia jadi tidak perlu repot membawa rambutan ke sekolah. Yah, kenapa aku tidak melakukan simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan dengan pedagang yang lain? Eh lho, kenapa aku jadinya ngomongin simbiosis mutualisme yang seharusnya di pelajaran sains ya?

Saat Hari Pengusaha, aku menyambutnya dengan suka cita. Rambutanku laku banyak. Tidak hanya Dina yang terus membeli rambutanku karena banyak anak yang ingin mencoba jus rambutan. Tapi, teman-temanku yang lain juga suka karena aku satu-satunya penjual di hari itu yang menjual rambutan manis dengan harga murah. Hanya saja, aku bingung dengan tatapan aneh dari Vanya. Hingga pada akhirnya seusai berjualan, Vanya mendekatiku.

“Laras, kamu salah jual, atau memang sengaja menjual rambutanmu dengan harga murah?”

Seketika aku langsung gugup. Kuhitung lagi uangku yang sudah terkumpul. Benar saja, uangku hanya dua belas ribu. Padahal, aku sudah mengeluarkan uang dua puluh lima ribu untuk membeli rambutan kemarin.

“Aduh, aku kok jadi rugi begini?” seruku panik.

“Jangan-jangan kamu salah hitung ya sewaktu menjual rambutan perbuahnya?” selidik Vanya.

“Uhm, sepertinya sih begitu,” wajahku langsung masam seketika.

“Makanya, kan aku sudah kasih usulan untuk berjualan kerupuk. Kamu sih, enggak nurut!” sahut Elang sambil asyik menguyah keripik jualannya yang masih tersisa.

Melihat itu, Vanya dan Dina langsung tertawa. Tapi seketika, mereka langsung terdiam melihat wajahku yang terlihat sedih.

“Ah, aku memang harus belajar jadi pengusaha yang pintar!” gerutuku sambil mengelus kepala, memikirkan nasibku yang rugi di hari itu karena sudah tidak teliti berhitung.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls pada bulan Maret 2015

Sepeda Hias Putri

2013 Januari - Sepeda Hias Putri

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Aku punya mimpi, suatu saat bisa menaiki sebuah kendaraan seperti para putri kerajaan, berada dalam sebuah parade di jalan raya, dan dilihat banyak orang. Hm…pasti menyenangkan!

Ini pasti gara-gara Mami yang kerap mendongeng tentang putri kerajaan sewaktu kecil! Tetapi benar, rasanya menyenangkan jika bisa seperti itu.

“Anak-anak, Ibu punya pengumuman untuk kalian,” seru bu guru.

Aku yang sedari tadi asyik mencoret-coret buku, lalu menutup buku dan mencoba menyimak apa yang akan disampaikan oleh Bu Rosa.

“Bulan November nanti, seperti biasa, sekolah kita akan mengikuti parade sepeda hias. Nah, beberapa nama yang Ibu sebutkan akan mewakili sekolah kita dalam parade sepeda hias itu,” ujar Bu Rosa.

Ternyata di antara sekian nama, namaku disebut untuk mewakili sekolah.

“Eh, tetapi lihat nanti ya, pasti sepedaku lagi yang akan dijadikan pemimpin barisan sepeda hias sekolah kita!” ujar Wina dengan pongah.

“Iya, Win, aku yakin itu! Hiasan sepedamu selama ini selalu yang paling bagus! Bahan untuk menghiasnya saja selalu mahal!” timpal Dhea.

“Kamu Putri, pasti kamu akan di barisan tengah atau di belakang seperti biasanya!” ejek Wina sambil memandang ke arahku diiringi tawa teman-temannya.

Aku yang mendengar ucapan Wina hanya diam.

“Ah, biarkan saja. Aku juga enggak ingin dianggap sebagai peserta parade paling bagus! Karena yang penting aku bisa mewujudkan mimpiku menjadi putri berkendaraan sepeda hias yang cantik!” kataku dalam hati.

Sesampainya di rumah, aku mulai mencari ide. Waktu bertanya ke papi dan mami, mereka malah menyarankan untuk menggunakan barang-barang bekas.

“Kok, barang bekas, Pi, Mi?”

“Yah coba kamu pikir, beli bahan mahal tetapi akhirnya hiasan itu akan dibuang. Sayang dan buang-buang uang kan?” ujar Papi.

“Iya, Putri, barang bekas kalau dibuat menarik, bagus juga. Begini, kamu buat rancangannya dulu, lalu kami akan bantu mewujudkan idemu!” saran mami.

Sejak itu, aku mulai menggambar rancangan sepedaku. Hm, sepertinya jika dibuat ada sayapnya pasti menarik. Aku lalu menunjukkan rancanganku itu kepada papi dan mami.

Kedua orangtuaku menyarankan untuk menggunakan plastik bekas bungkus makanan ringan. Karena bingung mencari, akhirnya aku meminta plastik-plastik bekas kepada bapak kantin sekolahku.

“Memangnya mau dibuat apa, Put?” Pak Heri bingung akan ulahku mengumpulkan plastik-plastik bekas.

“Hm, ada saja, Pak! Nanti Bapak lihat saja hasilnya!” jawabku bermain rahasia.

Pak Heri cuma geleng-geleng kepala melihat ulahku.

Meski parade sepeda hias baru akan berlangsung seminggu lagi, aku sudah mulai menghias beberapa bagian sepedaku. Plastik-plastik bekas aku balik semuanya. Aku gunakan lapisan yang perak saja.

Karena sepeda yang biasa dipakai ke sekolah sudah mulai dihias, aku berjalan kaki ke sekolah.

Parade sepeda hias tinggal dua hari lagi. Mami, papi, dan Kak Rendra membantuku menghias.

“Wah, sepedamu pasti menarik nantinya! Idenya dari mana sih, Put?” tanya papi sambil membantu melipat plastik pembungkus makanan di tubuh sepedaku.

“Dari cerita mami!” jawabku mantap.

“Lho kok bisa dari cerita Mami? Cerita Mami yang mana, Put?” Mami bingung menerka-nerka.

“Itu lho Mi, tentang seorang putri yang memiliki kendaraan cantik dan disukai oleh banyak orang!” jawabku.

“Ih, itu kan cerita Mami zaman waktu kamu masih kecil. Itu lho Pi, cerita pengantar tidur si Putri…” terang mami.

“Ha-ha-ha…kamu ini kreatif juga, Put!” puji Papi.

“Yah, siapa dulu dong papi-maminya? Kan papi dan mami yang selalu mengajarkan untuk jadi anak kreatif dalam mewujudkan apa yang Putri mau?”

Keesokan harinya, aku berangkat ke sekolah mengayuh sepeda dengan riang gembira. Penampilannya hampir mirip seperti yang ada dalam bayanganku selama ini.

Apalagi, warnanya serba perak berkilau! He-he-he, padahal dari plastik bekas makanan tuh!

Sementara itu sepanjang jalan, banyak orang menyapaku karena senang melihat sepeda hiasku.

Ternyata sesampainya di sekolah, Bu Rosa tertarik melihat sepeda hias rancanganku.

“Wah, Put, sepedamu menarik sekali hiasannya! Kalau begitu, kali ini kamu yang berada di barisan depan ya! Biar Wina di barisan nomor tiga. Nomor duanya Rio.

Sepertinya hiasan sepeda Rio menarik dan kreatif. “Pasti para juri akan senang melihat karya kalian yang kreatif,” Bu Rosa mengatur barisan sepeda hias.

Namun, kejutan lain ternyata menungguku. Saat berkumpul di alun-alun, sekolahku mendapat undian barisan nomor satu, memimpin parade sepeda hias hari itu.

Tentu saja aku tidak menyangka. Aku belum pernah berada dalam sebuah parade sepeda hias di barisan paling depan. Apalagi, barisan paling depan di antara seluruh peserta parade!

Sepanjang jalan, banyak orang menyenangi sepedaku. Komentarnya unik dan lucu-lucu. Ada yang menyangka hiasan sepedaku mirip ikan, mirip burung, bahkan ada yang berkata mirip mata kucing.

Yah, meski tidak ada yang menebak dengan benar jika sepedaku adalah sebuah kereta seorang putri, aku cukup senang.

Hm…, ternyata memiliki ide kreatif dan menghasilkan sesuatu yang bagus itu tidak selalu mahal!

Pulang dari parade, aku langsung menuju kantin Pak Heri. Waktu melihat sepeda hiasku dan bercerita kejadian menarik selama parade, Pak Heri mengatakan senang karena sudah bisa membantu.

“Terima kasih, Pak. Bapak sudah banyak membantu, Putri!” ujarku kepada Pak Heri.

 

(Diterbitkan di Kompas Anak pada 29 Mei 2011)

Kamera Ama

2012 Mei - Girls-Kamera Ama

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Pokoknya Rara mau kamera! Masa, Ama saja dibelikan kamera saku oleh Papa dan Mamanya, aku enggak?”

Aku berlalu meninggalkan Bunda yang justru terlihat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Yah, bundaku selalu begitu. Bukannya malah menenangkanku, tapi malah tersenyum. Karena kesal, aku lalu keluar dari rumah dan berjalan dengan langkah malas ke arah lapangan basket yang ada di seberang rumahku.

Keluargaku, dan juga keluarganya Ama tinggal di sebuah lingkungan SMA berasrama. Karena usia kami hanya terpaut satu tahun, membuat kami jadi bersahabat dekat. Apalagi di lingkungan sekolah itu, hanya kami berdua saja yang usianya hampir sebaya. Banyak anak dari teman-teman bundaku yang mengajar di sekolah itu, usianya masih kecil.

Hari ini hari Minggu. Banyak siswa di sekolah tempatku tinggal yang sedang bermain basket atau bermain bola di lapangan bola yang letaknya tak jauh dari lapangan basket. Ah, mereka terlihat senang sekali. Sementara, aku justru sedang merasa tidak nyaman. Apalagi, kalau bukan karena permintaanku yang tidak dikabulkan oleh Bunda dan Ayahku. Mereka berdua masih saja tidak mau membelikanku kamera saku.

“Hai Rara, kamu dan keluargamu tidak keluar sekolah hari ini?” tanya Ama yang ternyata sudah ada di dekatku.

Aku cuma mengangkat bahu dengan tidak bersemangat. Sebetulnya tadi sempat kudengar siang ini Bunda dan Ayah akan mengajak aku dan adikku ke mall membeli kebutuhan bulanan seperti biasanya. Saat bisa keluar dari lingkungan sekolah adalah waktu yang selalu menyenangkan untukku. Tapi karena mereka tidak mau membelikanku kamera saku, ah, rasanya jadi malas jika harus ikut keluar.

“Cekrik. Cekrik.” Suara bidikan kamera Ama terdengar. Aku langsung menoleh dan melihat ke arah Ama yang sedang tersenyum senang.

“Hihihi… wajahmu jika sedang cemberut lucu juga ya!” seru Ama.

“Apaan sih?” aku membentak kesal. “Lain kali kalau mau foto orang itu jangan seenaknya begitu dong! Mentang-mentang punya kamera. Huh!” aku mendengus.

“Aduh, maaf… Sepertinya kamu sedang be-te ya hari ini? Tumben!”

“Suka-suka aku dong!” timpalku sengit.

“Ya sudah, kalau begitu aku ke tempat lain saja deh, cari objek foto yang lain,” Ama lalu melangkah pergi meninggalkanku di bangku pinggir lapangan basket.

“Ah, tanpa Ama rasanya lebih enak. Lebih baik aku sendirian di sini, melihat kakak-kakak itu bermain basket. Dari pada makin sakit hati melihat Ama yang asyik dengan kameranya!” batinku.

Tapi nyatanya, pandanganku tidak bisa lepas dari Ama dan kameranya. Dari kejauhan, aku melihat Ama yang begitu asyik membidik ke berbagai objek. Tak jarang, banyak dari kakak-kakak SMA yang meminta Ama untuk memotretnya.

“Ah, menyebalkan!” aku kembali memandang ke arah lapangan basket. Namun tak lama kemudian…

“Aah!” sebuah seruan dari beberapa anak terdengar dari arah lapangan sepak bola. Kontan, aku melihat ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari kerumunan tempat Ama dan beberapa kakak SMA yang ada di sana.

Karena ingin tahu, aku berlari mendekat.

“Ada apa, Kak?” tanyaku pada seorang kakak.

“Itu, kameranya Ama jatuh kena bola yang tak sengaja tertendang ke arah sini,” kata-kata itu entah kenapa tiba-tiba terdengar sebagai hal yang menyenangkan di telingaku.

“Lalu?” aku pura-pura perhatian dengan apa yang dialami Ama.

Ama kemudian menunjukkan kameranya yang ternyata memang rusak. LCD kameranya retak.

“Hehe, kameranya rusak deh!” Ama meringis, memaksakan senyumnya, lalu menghela nafas besar.

Sambil berjalan pulang, Ama berujar, “Aku tahu, Papa dan Mamaku mungkin tak akan marah. Mereka tahu, aku ingin sekali belajar fotografi sehingga mereka membelikan kamera saku ini. Tapi aku sedih, karena mereka kan sudah memercayakan aku untuk memiliki kamera ini. Ah, rasanya tak enak kalau aku harus meminta kamera baru lagi,” ujar Ama sambil menimang-nimang kameranya.

Mendengar alasan Ama memiliki kamera itu, hatiku yang awalnya senang jadi agak merasa berubah.

“Memangnya kamu sungguh-sungguh ya ingin belajar fotografi? Maaf, awalnya aku kira kamu cuma ikut-ikutan saja,” ujarku.

“Fotografi itu hal yang menyenangkan, Ra. Aku jadi bisa menyimpan banyak hal indah yang aku lihat dalam jepretan kamera. Awalnya aku cuma tahu dari sepupuku yang hobi fotografi. Aku lalu ingin belajar juga. Waktu aku minta dibelikan kamera ke Papa dan Mamaku, mereka juga sempat tanya, apa aku ini cuma ikut-ikutan saja atau memang benar-benar ingin belajar. Aku lalu janji jika kamera itu benar-benar aku pakai untuk belajar fotografi. Papa dan Mamaku juga berujar, kalau kamera itu tidak aku pakai belajar, maka kameranya akan diambil oleh mereka. Tapi… ah, kamera ini sekarang rusak!” keluh Ama sedih.

Aku jadi malu sendiri dengan diriku. Karena awalnya, tujuanku ingin dibelikan kamera justru karena aku ingin terlihat keren seperti yang kulihat dari Ama.

“Terus, sekarang jadi gimana dong?”

“Yah, sepertinya aku harus menabung dulu untuk bisa punya kamera lagi. Enggak enak ah kalau minta dibelikan kamera lagi,” kata Ama yang lagi-lagi memaksa dirinya untuk berujar sambil tersenyum.

Aku memandang Ama dengan rasa kasihan sekaligus kagum. “Ah Ama, semoga dirimu bisa punya kamera lagi ya!” doaku dari dalam hati.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls pada Mei 2012

Adik Tersayang

2012 Januari - Girls-Adik Tersayang

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Aku nggak mau punya adik kayak Nina!” teriak Rina yang lalu berlari masuk ke dalam kamar. Mama terkejut. Nina menangis.

“Ha… Ka… Ka…” tangis Nina dengan mulut terbuka dan nafas tersengal-sengal. Nina berusaha sebisa mungkin menyebut kata kakak untuk memanggil Rina.

“Sudah, nanti juga Kak Rina nggak marah lagi,” Mama membujuk Nina untuk pergi dari depan kamar Rina. Tapi Nina menggeleng. Telapak tangan Nina terbuka lebar dan terus menunjuk pintu kamar Rina.

Di dalam kamar, wajah Rina merah padam karena marah. Apalagi saat ia ingat teman-teman yang baru dikenalnya seminggu lalu, hari ini justru mengejeknya habis-habisan.

“Hahaha… Rina ternyata punya adik yang sekolah di SLB!”

“Jadi yang tadi ikut mengantar kamu ke sekolah dan pakai seragam SLB itu adikmu?”

“Ih, adikmu aneh! Hahaha…”

Bertubi-tubi Raka, Bayu, dan Hana mengejek dan menertawakan Rina. Rina cuma bisa diam dan menahan tangisnya dengan mata memerah. Teman-teman yang dikiranya lebih baik dari sekolahnya dulu saat di Karimun, ternyata tak seperti dugaannya.

“Kalau tahu begini, lebih baik dulu aku menolak waktu Mama dan Papa mengajakku pindah ke Batam. Lebih enak tinggal di rumah Nenek dan bersekolah di sana,” keluh Rina sedih.

Rina ingat waktu Mama beralasan mereka sekeluarga harus pindah ke Batam. “Adikmu bisa sekolah di tempat yang lebih baik di sana.”

Sambil melamun di dalam kamar, Rina memandangi fotonya bersama Nina dan kedua orang tuanya. Dipandanginya wajah Nina dengan lebih jelas.

“Adikku memang beda. Wajahnya yang kata dokternya mirip orang Mongol itu benar-benar aneh! Ia tidak mirip dengan aku, Mama, atau Papa. Katanya, Nina mengalami down syndrome. Apa sih itu? Jangan-jangan, dia aslinya bukan adikku?” gerutu Rina kesal.

Hari-hari berikutnya, Rina masih sering mendapat ejekan di sekolah. Rina jadi kerap menyendiri karena malu. Sedangkan di rumah, Rina masih tidak mau bermain dengan Nina.

“Semua ini gara-gara Nina! Rina balik ke Karimun saja ya, Ma? Rina sedih karena nggak punya teman di sekolah,” keluh Rina suatu ketika pada mamanya.

“Masa iya sih gara-gara Nina kamu jadi tidak punya teman?” tanya Mama.

“Buktinya, Rina memang diejek terus gara-gara punya adik yang sekolah di SLB!”

Sesaat Mama tercenung. “Besok, Rina ikut Mama yuk ke SLB. Ada pentas seni di sana. Anak-anak di SLB akan menunjukkan kebolehannya masing-masing di bidang seni. Kalau nanti kamu masih malu karena adikmu bersekolah di SLB, Mama setuju kalau kamu pindah lagi ke Karimun. Bagaimana?” tawar Mama.

Rina langsung menganggukkan kepalanya dengan mantap. “Cuma tinggal besok, dan aku bisa pindah ke Karimun. Yes!” batin Rina berseru senang.

Saat di pentas seni keesokan harinya, Rina terkejut saat bertemu Chika di depan SLB. Chika adalah teman satu kelas Rina di sekolah. Rina langsung ketakutan jika Chika nantinya akan mengejek dirinya seperti yang juga dilakukan beberapa temannya di sekolah.

“Hai Rina! Akhirnya kita ketemu juga di sini. Nanti duduk di sebelahku ya. Biar aku punya teman yang bisa diajak ngobrol,” ujar Chika dengan nada senang.

“Lho, kamu juga mau menonton acara pentas seni ini? Adikmu sekolah di sini juga?” tanya Rina seakan tak percaya jika Chika juga memiliki adik yang sama dengan adiknya.

Tapi Chika menggelengkan kepalanya dan membuat Rina langsung tak bersemangat lagi. “Abangku yang sekolah di sini. Dia nanti mau baca puisi, lho! Kamu pasti akan kagum nanti. Abangku itu…” Chika lalu menceritakan tentang abangnya dengan bangga.

Sambil mendengarkan celotehan Chika, Rina masih merasa terkejut. Rina tak menyangka, Chika justru bangga terhadap abangnya yang bersekolah di SLB. Apalagi menurut Chika, abangnya jika di rumah, sangat perhatian terhadap Chika.

“Tapi, kenapa di sekolah kamu enggak pernah diejek?” tanya Rina.

“Oh, tentang Raka, Bayu, dan Hana, ya? Santai saja! Aku dulu juga sering diejek. Tapi sejak mereka tahu kalau abangku berprestasi dan sering diliput wartawan, mereka akhirnya berhenti sendiri!” cerita Chika.

Rina lalu mengingat-ingat. “Iya ya! Selama ini cuma mereka bertiga saja yang sering mengejek aku. Aku saja mungkin ya yang terlalu sering malu sendiri?” gumam Rina.

“Iya, di sekolah kamu pendiam banget! Ke mana-mana sendiri. Padahal aku dan teman-teman yang lain ingin kenal sama kamu, lho,” kata Chika yang membuat Rina jadi sadar.

Chika benar. Saat pentas seni, penampilan abangnya Chika sangat bagus. Padahal, kondisi abangnya Chika sama dengan Nina. Tak hanya abangnya Chika. Di pentas seni itu, Rina juga dibuat takjub dengan penampilan beberapa anak yang sudah besar dan juga mengalami down syndrome. Ada yang bisa menari. Ada juga yang pintar bermain piano.

Sepanjang pentas seni, Rina jadi teringat adiknya. Nina suka menghibur Rina sambil menari dengan diiringi musik. Karena tariannya tidak jelas, Nina jadi terlihat lucu dan membuat Rina tertawa terpingkal-pingkal. Padahal, saat itu Rina sedang sedih.

“Jadi balik ke Karimun, Rin?” tanya Mama di dalam mobil usai mereka pulang dari SLB.

Mendengar pertanyaan itu, Rina tersenyum malu. Ia malah menguatkan pelukannya pada Nina yang duduk di sebelahnya. “Aku tidak mau berpisah dari adikku,” batin Rina.

 

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls pada Januari 2012

Laksmi dan Plastik Bekas

2012 Februari - Kompas Anak-Laksmi dan Plastik Bekas

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Hari pertamaku di sekolah baru, di kelas 4 B. Saat masuk dan dikenalkan di depan kelas, mataku langsung melihat sosok yang sepertinya baru kulihat kemarin. Saat aku duduk, kupandangi gadis yang duduk di depanku itu. Untuk sesaat, aku jadi teringat kejadian di siang hari kemarin.

“Hai! Sedang apa?” tanyaku penasaran pada seorang gadis yang sedang mencari-cari sesuatu di bak sampah di depan rumahku.

“Aku mencari botol bekas apa saja yang berasal dari plastik. Apa di dalam rumahmu ada?” tanyanya.

Sesaat aku mencoba mengingat-ingat. “Ada, sebentar ya!” Aku berlari menuju kamarku, mengambili beberapa botol bekas minuman yang belum sempat kubuang.

“Ini!” seruku sambil memberikan botol-botol itu kepadanya.

Dengan wajah gembira, ia memasukkan botol-botol itu ke dalam karung plastiknya. “Terima kasih banyak!” serunya riang.

“Sama-sama. Tapi, untuk apa kamu mengumpulkan botol-botol bekas itu?” aku ingin tahu.

“Untuk diolah jadi bijih plastik,” jawabnya.

Baru kali itu aku mendengar kata-kata bijih plastik. Namun sayang, saat aku ingin bertanya lebih lanjut, gadis itu sudah buru-buru berlalu dari depan rumahku.

Dan gadis itu, kini duduk di depanku? Aku langsung seperti merasa tak percaya. Apalagi saat selama pelajaran, gadis itu sepertinya sangat pintar. Sering pertanyaan-pertanyaan dari guru di kelas bisa dijawabnya dengan benar.

Saat istirahat tiba, banyak teman-teman baruku yang mengajakku berkenalan. Termasuk gadis yang sangat membuatku penasaran itu.

“Kita sempat bertemu kemarin, kan? Namaku Laksmi,” ujar gadis itu ramah sambil mengulurkan tangannya.

“Uhm, eh, iya ya? Namaku Gadis,” jawabku lalu menjabat tangan Laksmi.

Tapi tak berapa lama, Nia dan Hera menarik tanganku dan membuatku menjauh dari Laksmi.

“Enggak usah deh dekat-dekat Laksmi,” seru Hera.

“Kamu enggak tahu ya, Laksmi itu kerjanya pemulung sampah!” tambah Nia.

“Lalu, apa yang salah?” aku heran. “Aku memang sudah tahu karena kemarin, dia lewat di depan rumahku,” jawabku jujur.

“Kamu enggak risih? Hih, bau seragamnya saja enggak enak!” seru Hera dengan jijik.

Karena Nia dan Hera terus menerus menjelek-jelekkan Laksmi, aku jadi kesal dan mencoba kembali duduk di bangkuku.

Saat kembali, kulihat Laksmi menatap sedih ke arahku. “Kamu juga akan menjauhiku seperti mereka?” tanyanya.

“Ya ampun Laksmi, kalau memang aku seperti mereka, pasti kemarin aku tidak akan menyapamu sewaktu kamu lewat di depan rumahku!” ujarku mencoba menenangkan Laksmi.

“Maaf. Kukira kamu akan seperti mereka juga,” keluhnya sedih.

Aku dan Laksmi jadi terdiam. Tiba-tiba sesuatu teringat di benakku. “Hei, boleh enggak pulang sekolah nanti aku main ke rumahmu? Sebetulnya aku masih ingin tahu apa itu bijih plastik seperti yang kamu bilang kemarin.”

“Tapi, nanti pulang sekolah aku harus keliling ke perumahan tempatmu tinggal untuk mencari sampah,” jawab Laksmi.

Sejenak aku jadi bingung sendiri. “Oh, atau begini saja. Bagaimana jika aku menemanimu berkeliling? Sekalian, aku jadi bisa membantumu dan sekaligus jadi bisa tahu jalan di perumahanku itu. Bagaimana?”

Awalnya Laksmi tetap menolak tawaranku. Ia takut aku jadi kotor, bau, dan malah membuatku jijik atas pekerjaannya itu. Namun karena aku terus memaksanya, Laksmi akhirnya menyerah.

Saat di perjalanan selama mencari sampah, Laksmi banyak bercerita tentang kondisinya.

“Aku bisa sekolah di sini karena beasiswa, Dis. Aku cuma ingin bisa pintar dan bisa jadi dokter nantinya. Itu cita-citaku sejak bapakku meninggal! Ia meninggal karena sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Sejak itu aku janji, aku harus pintar dan bisa jadi dokter. Aku tidak mau ada orang yang mengalami seperti apa yang bapakku alami. Apapun asal itu baik, akan aku lakukan Dis agar cita-citaku bisa tercapai. Meski aku harus jadi pemulung sekalipun, aku tidak menyesal!” cerita Laksmi panjang lebar. Sungguh, aku jadi ingin menangis rasanya saat tahu cerita tentang Laksmi yang sebenarnya.

Seharian bersama Laksmi, membuatku banyak tahu tentang sampah-sampah plastik yang dikumpulkan Laksmi dan bisa menghasilkan uang. Ternyata, sampah-sampah itu dikumpulkan di sebuah tempat, ditimbang, lalu Laksmi akan mendapatkan uang sebagai upahnya. Kebetulan, pengumpul sampah mau berbaik hati mengajakku untuk melihat bagaimana cara mengolah plastik-plastik bekas menjadi butiran kecil yang disebut biji plastik.

“Ini nanti bisa digunakan untuk membuat botol plastik lagi atau kantong kresek. Bahkan bisa diekspor juga lho!” ujar pengumpul plastik itu.

Sepulangnya dari jalan-jalan bersama Laksmi, aku sampai keheranan sendiri dengan pengalaman baruku hari itu. Tentang bijih plastik, tentang cita-cita Laksmi. Ah, rasanya aku pantas bersyukur bisa mengenal seorang teman baru seperti Laksmi.

*Cerpen ini pernah dimuat di Kompas Anak pada Ferbruari 2012