Demi Sebuah Jembatan

Oleh: Ika Maya Susanti

“Nanti, kalian kami foto ya!”
Aku, Elis, dan Abas saling berpandangan. Namun belum sempat aku mengerti untuk apa kami bertiga harus berfoto, Abas sudah langsung menyahut mantap, “Ya lah Bang, kami siap!”
Kuperlambat langkah kakiku dan menarik tangan Abas. “Untuk apa kita difoto?”
“Sudah, nanti sampai rumah akan aku cerita ke kalian semuanya,” Abas merangkul dan menepuk-nepuk pundakku.
Sungguh, dalam hati aku sangat ingin tahu. Tapi sama halnya dengan Elis, adik Abas, ia pun tidak mau bercerita alasan kenapa kami bertiga harus difoto oleh kakak-kakak reporter dari Batam. Aku hanya tahu, para reporter itu tiba kemarin petang di Pulau Subang Mas tempat kami tinggal, dan lalu menginap di rumah Abas dan Elis.
“Kalau Abas kan kelas lima. Engkau kelas empat juga, sama dengan Elis?” tanya kakak reporter yang pada akhirnya kutahu bernama Menik.
“Iya, Kak,” aku cuma menjawab singkat. Sebetulnya, ingin sekali aku bertanya kenapa ia ingin memfoto kami semua. Tapi karena aku tidak berani, akhirnya aku putuskan untuk nanti saja menunggu jawaban dari Elis dan Abas.
“Rasanya capek enggak tiap hari berangkat dan pulang sekolah seperti ini?” tanya kawan Kak Menik yang bernama Bang Ganjar.
“Biasa saja, Bang,” jawabku sambil mengingat-ingat apa yang selalu aku lakukan setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah.
Jika air laut sedang surut, biasanya aku harus berjalan kaki lewat jalan setapak hingga ke ujung pulau. Yah, mungkin sekitar 30 menit. Lalu aku lepas sepatuku, dan kemudian aku berjalan menyeberang pulau ke Pulau Air Raja tempat sekolahku. Jika sedang surut, air laut sampai sebatas pahaku saja. Jarak Pulau Air Raja dengan Pulau Subang Mas tempatku tinggal cukup dekat. Tapi jika air sedang pasang, mamakku biasanya yang mengantar aku berangkat dan pulang dari sekolah dengan sampan. Aku tidak perlu lagi melewati jalan setapak yang cukup jauh itu.
Yang paling menakutkan adalah saat air sedang pasang dan ombak sedang tinggi. Kadang, aku sampai harus tidak masuk sekolah jika laut sedang seperti itu. Jadi jika ditanya apakah aku capek, rasanya aku merasa biasa saja.
Akhirnya sampai juga kami semua di tempat di mana mamakku biasa menunggu. Abas langsung mendampingi langkahku. “Biar aku yang bicara ke mamak engkau, kalau kita akan difoto dulu oleh kakak-kakak reporter itu.”
Awalnya mamakku cukup bingung, sama halnya denganku. “Kita semua hanya foto saja. Nanti kakak-kakak itu yang akan mengatur,” terang Abas.
Sesuai dengan arahan Kak Menik, aku dan Elis lalu naik ke atas sampan. Sementara Abas mendorong sampan dari belakang.
“Ya, begitu.”
“Sebentar, mundur lagi!”
“Coba, wajahnya sambil lihat ke arah sini.”
Kak Menik dan Bang Ganjar bergantian mengarahkan kami berdua. Aku jadi tahu, barangkali seperti ini ya rasanya menjadi seorang model jika sedang difoto. Beberapa kali, aku membayangkan andai foto-foto kami nantinya lalu terbit di koran. Kemudian dilihat banyak orang. “Wah, rasanya pasti wajah aku, mamak, dan kawan-kawanku itu ada di mana-mana,” batinku yang membuat aku jadi senyum-senyum sendiri.
Saat usai memfoto kami semua, Kak Menik lalu berujar, “Nanti, foto-foto ini akan kami buat di koran tempat Kakak kerja. Biar pemerintah tahu, kalau pulau kalian ini memang perlu sebuah jembatan. Masa, kalian harus jalan kaki dan menyeberang laut untuk sekolah?”
“Ya, betul itu, Kak. Kasih lihat foto-foto kami ini ya ke mereka,” timpal Abas.
Jembatan? Wah, benar juga itu. Sudah lama sekali aku mendengar kabar jika akan dibangun jembatan antara Pulau Subang Mas dengan Pulau Air Raja. Tapi sayang, sampai hari cuma baru jalan setapak saja yang pemerintah perbaiki.
Saat di sampan, aku lalu berujar ke Mamak, “Enak barangkali ya Mak, kalau nanti sudah ada jembatan. Mamak tak perlu lagi mengantar dan menjemput aku dengan sampan. Aku juga tidak perlu lagi jalan jauh, berenang, atau tidak masuk sekolah karena ombak sedang tinggi,” kataku berandai-andai.
“Iya,” jawab Mamak singkat.
“Andai nanti ada jembatan, rasanya aku pasti akan makin semangat ke sekolah,” tekadku.

Demi 90 Ribu Rupiah

Oleh: Ika Maya Susanti

“Sepertinya gadis itu tadi sudah salah membayarkan uangnya ke aku,” gumam Eko yang membuat mata Dodi langsung membeliak lebar.
“Hah! Jadi, tadi ia bayarnya kurang ya, ke kamu?”
“Enggak. Malah sepertinya dia kelebihan membayar waktu membeli sarung tangan itu. Harga sarung tangannya cuma enam puluh ribu. Tapi, dia justru memberikanku uang seratus lima puluh ribu. Pasti dia mengira selembar uang seratus ribu itu adalah uang sepuluh ribu,” Eko memandang lekat selembar uang berwarna merah di tangannya. Pikirannya lantas teringat pada seorang gadis yang sebelumnya sempat membeli sarung tangan darinya. Sepertinya seusia dengan kakaknya yang duduk di bangku SMA.
“Wah, kalau begitu kamu beruntung!” Dodi menepuk bahu Eko. “Cita-citamu membelikan baju baru untuk ibumu jadi bisa terwujud.”
“Tapi, uang ini bukan hakku. Aku harus mengembalikanya!” Eko bersikeras.
“Lalu, kamu mau mencari dia di mana?” pertanyaan Dodi membuat Eko mengedarkan pandangannya ke sekeliling area parkir bawah yang ada di tempat wisata Gunung Bromo. Mobil yang dinaiki gadis itu bersama keluarganya terlihat masih terparkir di sana.
“Rasanya, ia sudah naik ke atas. Sekilas tadi aku melihat ia naik jeep bersama kedua orangtuanya. Apa kamu mau menyusulnya ke sana?” Dodi bertanya. Namun dalam hati, ia begitu berharap sahabatnya itu tidak benar-benar melakukan hal tersebut.
“Paling tidak, kalau tidak jadi dikembalikan, aku kan bisa ikut dapat rezeki dari uang itu,” bisik hati Dodi penuh harap.
Namun jawaban Eko kemudian membuat Dodi langsung merasa lemas. “Iya, aku harus menyusulnya ke atas!” sahut Eko mantap yang membuat Dodi kecewa.
“Tapi, kamu sudah berjanji mau menemaniku mencari rumput untuk makanan kuda bapakku, iya kan?”
“Maaf Dod, uang ini bukan punyaku. Aku harus mengembalikan uang milik gadis itu,” tegas Eko. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas dan pulpen dari dalam tasnya.
Sejenak Dodi berpikir. “Baiklah, aku temani kamu dulu. Nanti setelah itu, kamu tetap temani aku mencari rumput, ya,” pinta Dodi yang lalu disetujui oleh Eko dengan anggukan kepala.
Dengan menumpang pick up, Eko dan Dodi mencoba menyusul gadis yang mereka cari. Mereka duduk di bak mobil tersebut. Dalam kendaraan yang melaju menderu melalui jalan menanjak dan menembus dini hari bertabur bintang, Dodi terus berdoa semoga ia bisa menemukan gadis itu. Bukan hal yang mudah untuk menemukan seseorang di daerah pengamatan Gunung Bromo kala matahari masih belum bangkit dari ufuk timur. Apalagi hari itu adalah hari Minggu. Banyak wisatawan yang biasanya datang untuk melihat kecantikan Gunung Bromo yang sempat meletus di tahun 2010.
Dini hari itu adalah hari ke empat bagi Eko dan Dodi yang sedang mencoba ikut berjualan beberapa barang yang bisa membantu menghangatkan tubuh para wisatawan di Gunung Bromo. Di hari Senin sampai Sabtu, mereka berangkat ke sekolah seusai dari berjualan. Mereka memutuskan untuk berjualan demi membantu ekonomi keluarga mereka. Dalam keranjang dagangan Eko dan Dodi, ada sarung tangan, topi sebo, dan syal tebal bertulis Bromo.
Sesampainya mobil pick up yang ditumpangi Dodi dan Eko di daerah pengamatan, kedua anak yang masih duduk di kelas lima itu dengan sigap kemudian meloncat dari bak mobil.
“Kemana kita akan mencarinya?” asap tipis dari mulut Dodi ikut keluar saat ia berbicara, tanda betapa dinginnya suhu di tempat itu. Namun mereka tidak memedulikan udara dingin yang makin menggigit dibandingkan area parkir yang ada di bawah.
Eko menjawab sambil mengangkat bahu. Ia sungguh tidak tahu bagaimana cara agar mudah menemukan gadis itu. Pada akhirnya, Dodi dan Eko hanya terus berjalan ke sana ke mari mencoba mencari ke segala penjuru arah. Tapi hingga matahari akhirnya muncul dan membuat daerah pengamatan menjadi terang, Dodi dan Eko tidak kunjung menemukan orang yang mereka cari.
“Bagaimana ini Ko, kita tidak bisa menemukan gadis itu. Kalau menunggu sampai matahari benar-benar terang, aku takut waktuku tidak cukup untuk mencari rumput,” seru Dodi cemas.
Eko mengerjap-kerjapkan matanya, mencoba mencari akal bagaimana caranya ia bisa mengembalikan uang yang bukan miliknya tersebut.
***
“Lalu, apa kamu ingin mengambil uang itu?” tanya seorang ibu pada anak perempuannya.
Bukannya langsung menjawab, gadis itu malah terus menatap selembar kertas yang ia temukan dalam jepitan alat pembersih kaca mobil bagian depan. Ia merasa bingung untuk beberapa saat.
“Uang kembalian? Sarung tangan? Apa iya aku tadi sudah salah membayar?”
Kembali ia mencoba mengingat-ingat dan kemudian memikirkan apa yang harus ia lakukan.
“Biarkan saja, Ma. Bukankah kita harus bergegas pulang karena Kakek sedang sakit dan dirawat di rumah sakit? Nanti kalau kita mencari rumah anak ini, pasti kita tidak bisa pulang cepat. Padahal kan tadi di telepon, Tante Tania meminta kita semua harus segera pulang,” ujar gadis itu.
Sebetulnya di selembar kertas itu sudah tertulis dengan sangat jelas alamat dan petunjuknya. Namun ia tidak punya waktu untuk menukar uang yang terlanjur dibayar lebih kepada anak penjual sarung tangan tadi pagi.

Konsekuensi dari Berani Berkata Benar

Sewaktu melakukan itu, saya hanya terpikir seandainya saya menjadi anak-anak yang datang ke saya dengan kebingungan dan kekhawatiran. Sewaktu mengungkapkan kebenaran itu, tak ada sedikitpun keinginan untuk menyingkirkan atau meminorkan pencitraan siapapun. Sewaktu melakukan itu, saya hanya ingin semuanya berjalan harmonis kembali seperti semula.

Tapi apa yang terjadi? Pekerja baik yang sedang khilaf itu disingkirkan. Para pecundang yang selama ini kerap berjalan setengah langkah dengan keberanian pura-pura itu yang bertahan. dan tinggallah saya yang menyaksikan semua drama dengan rasa bersalah.

Kemarin malam, sungguh tak bisa diungkap bagaimana rasa sesal saya di perahu kebimbangan. Saya bertanya pada diri sendiri, haruskah lain kali saya diam jika saya tahu sebuah kebenaran? Haruskan saya bungkam jika saya menjadi tempat mengadu anak-anak yang khawatir akan nasib mereka? Tidak. Saya bukan orang yang sangat bersedia menjadi tong sampah. Saya paling tidak suka menyediakan gratis telinga saya sementara otak saya hanya sibuk merekam namun tidak menghasilkan solusi masalah.

Tapi jika saya bertindak, saya tidak bisa menghindari adanya konsekuensi dari tindakan saya. Kecuali, jika sayalah pemimpinnya. Kecuali jika titik tumpu penyelesaian masalah ini ada pada saya yang bisa membuat harmonis kembali sebuah masalah. Faktanya, saya sedang tidak mengambil peran sebagai seorang pemimpin.

Saat mendengar berita itu, saya tidak bisa menunjukkan ekspresi apa-apa? Haruskah saya sedih karena orang yang sedang khilaf itu pergi? Tidak. Saya sedih karena begitu bagusnya para pemain drama itu memainkan peran berduka. Haruskah saya merasa bersalah? Tidak. Karena saya merasa bersalah telah mengambil langkah penyelesaian masalah ke orang-orang yang selama ini saya kenal kerap bertindak dengan setengah langkah.

Dan kini saya bertanya, haruskah setiap tindakan berani mengungkap kebenaran itu memerlukan hadirnya konsekuensi yang kerap tak mengenakkan?

Kekuatan Kata-kata

Namanya Galih, satu dari sekian anak saya di kelas Social Boys yang akhir-akhir ini kemajuannya begitu pesat. Kebetulan, saya tipe guru yang begitu mengamati perkembangan tiap anak dari sejak awal berkenalan.

Sejak awal saya mengenal Galih, sosoknya begitu kurang percaya diri. Selain itu, ia juga mudah gugup. Akibatnya di setiap kali ujian, nilai Galih selalu kurang memuaskan. Padahal, kerja kerasnya sudah sangat maksimal. Bahkan, kerap ia telah lebih bersusah payah dibandingkan teman-temannya yang akhirnya mendapat nilai jauh lebih tinggi.

Kondisi Galih tersebut terus berlanjut hingga di semester 2. Saya yang melihatnya jadi merasa khawatir sekaligus kasihan.

Galih seorang yang pleghmatis, suka damai. Saya tahu ia kecewa saat berkali-kali melihat nilainya yang kurang memuaskan. Namun dengan cepat ia tutup rasa ketidaknyamanannya dengan senyuman. Tapi bagi saya, kondisi itu sangat menyiksa pikiran saya sendiri.

Hingga pembagian nilai rapot seusai midtest semester 2, nilai Galih tidak berubah. Namun setelahnya, ada yang berbeda dari seorang Galih.

Nilai-nilai Galih jadi kerap berakhir gemilang. Bahkan, ia sering menjadi guru bagi teman-temannya dalam beberapa mata pelajaran. Perubahan Galih sangat drastis.

Ujung-ujungnya saat pembagian rapot seusai UAS semester 2, Galih mendapat nilai menakjubkan. Bahkan anak yang semula mendapat ranking 17 di semester 1 itu bisa naik menjadi ranking 10. Padahal, di semester 1 Galih ada di kelas dengan tingkat persaingan yang begitu rendah. Sementara di semester 2, Galih ada di kelas dengan anak-anak yang begitu hobi bersaing untuk menjadi yang terbaik di bidang akademik.

Penasaran, saya dekati Galih seusai pembagian rapot. Saya tanya, apa yang menyebabkan ia bisa berubah menjadi sangat lebih baik.

Jawabannya mengejutkan. Ia mengatakan keberhasilannya itu juga berkat kata-kata saya. Saya memang pernah memanggil Galih dan mengajaknya bicara tentang perkembangan akademiknya. Uniknya, saya malah hampir lupa, kapan, dan apa yang saya bicarakan.

Galih berujar, ia menempel apa yang saya katakan padanya, tentang saya yang percaya bahwa ia bisa. Ia sugesti dirinya dengan kata-kata ‘saya bisa’ ‘saya mampu’ di selembar kertas kecil dan ia tempel di dekat tempat tidur. Dibacanya kata-kata itu sebelum dan saat bangun tidur.

Mendengar itu, saya jadi malu. Karena jujur, selama ini saya mengira itu hal yang biasa. Bahkan seperti yang telah saya katakan, saya bahkan lupa jika pernah berkomunikasi itu dengan Galih. Tapi nyatanya, itu jadi hal yang begitu berarti untuk seorang Galih.

Sejenak saya merenung. Jujur, terkadang saya sering temperamen ke anak-anak saat melihat kebanyakan dari mereka yang kurang disiplin. Terkadang saya kurang mengingat jika apa yang saya lakukan, saya ucapkan, bisa berdampak entah itu positif atau negatif pada anak-anak. Terkadang saya tidak memerhitungkan itu semua. Dan cerita tentang Galih ini membuat saya belajar, saya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan berucap kepada anak-anak.

Inelastisnya Pasar Penerbangan Rute Banjarmasin – Surabaya

Semalam dan hari ini, saya benar-benar dibuat kaget oleh Citilink. Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, informasi bahwa pesawat yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin tidak lagi beroperasi sejak 1 Juli 2013. Itu saja pemberitahuannya. Saya pun baru berhasil menghubungi pihak customer service saat lewat tengah malam.

Mau tahu apa jawaban pihak CS? “Iya, kami belum bisa member informasi apa-apa karena hal tersebut sedang dalam pembicaraan.”

Akhirnya, saya putuskan untuk menghubungi pihak Citilink yang ada di bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Saya tidak sendiri. Rekan kerja saya yang juga memilih menggunakan Citilink mengalami nasib yang juga sama. Jadi kami putuskan, siang tadi untuk menghubungi kantor cabang maskapai yang satu grup dengan Garuda tersebut.

Sesampainya di bandara, saya melihat banyak orang yang juga berkerumun di depan loket. Bisa ditebak, wajah mereka pun gusar karena nasib jadwal penerbangan yang sudah mereka pesan tiba-tiba dinyatakan tutup rute. Pilihannya dua, meminta uang kembali atau pindah penerbangan.

Saya sendiri akhirnya memilih pindah penerbangan dengan konsekuensi harus menunggu kabar tiga hingga empat hari. Yah, dari pada saya meminta uang kembali dan harus membeli tiket maskapai lain yang lebih mahal? Selain itu, pilihan dipindah penerbangan ini pun tidak membuat saya harus bayar ekstra.

Saat keluar dari bandara, saya dan teman saya melihat sebuah papan iklan besar tentang adanya rute baru pesawat Garuda dengan tujuan Banjarmasin Surabaya. Teman saya langsung berujar, “Wah, Garuda akhirnya ada penerbangan baru Banjarmasin Surabaya!”

Kepala saya langsung mengerti apa yang sesungguhnya sedang saya alami. Yah tebakan yang mudah bukan? Citilink menutup rute Banjarmasin-Surabaya dan sebaliknya. Garuda, si saudara tuanya itu membuka rute yang sama. Jadi saya kira, keputusan saya untuk memindah penerbangan tadi adalah untuk dialihkan ke penerbangan ini. Ehem, itu sepertinya. Namun entah kepastiannya.

Sementara itu sebelumnya, penawaran dari pihak maskapai yang ada di Indonesia sendiri untuk rute tersebut adalah berasal dari Citilink, Lion Air, Sriwijaya, dan Batavia. Dua nama yang terakhir itu akhirnya tidak beroperasi. Pasar penerbangan pun menjadi duopoli, antara Lion Air dan Citilink.

Lantas, pilihan yang cerdas bagi Garuda untuk membuka rute penerbangan ini, dan menutup rute yang sebelumnya dipegang oleh Citilink. Pasar atau peminat rute penerbangan Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya ini memang terbilang tinggi. Cukup banyak orang Jawa Tmur yang merantau ke Kalimantan Selatan. Apalagi orang Lamongan yang terkenal sebagai penguasa pasar ayam penyet di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, maskapai Garuda yang kerap disebut sebagai penerbangan kelas ekonomi menengah ke atas, rasanya tetap tidak akan takut kalah persaingan oleh Lion Air, atau kehilangan income dari ditutupnya rute Citilink. Karena pangsa pasar rute ini selalu ada serta cukup banyak permintaannya. Meski Garuda memasang harga di atas Lion Air sekalipun, peminatnya tetap ada dan tidak bisa dibilang sedikit.

Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini masuk dalam kategori permintaan inelastis. Berapapun harganya, entah itu murah atau mahal, jumlah permintaannya cenderung statis atau sedikit mengalami perubahan. Apalagi di waktu lebaran atau liburan, saat di mana kecenderungan masyarakat Indonesia memilih berkumpul bersama keluarga di tempat lain.

Jadi bagi para konsumen pasar penerbangan rute Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya, selamat, Anda masuk dalam jebakan pasar inelastis dengan produsen duopoli yang akan berani menawarkan harga tinggi untuk Anda yang tidak lagi menganggap berpergian dengan pesawat adalah bentuk kemewahan lagi.