Pada Loteng Rumah Hedy

“Loteng ya?” bisik Hedy samar, hampir tak terdengar.

Mya melirik sekilas ke arah Hedy lalu menggerakkan kepalanya dengan anggukan yang hanya beberapa inci saja.

Cira yang sempat mendengar ujara Hedy jadi kebingungan. “Apa sih?”

“Oh, enggak. Tadi kok tiba-tiba teringat saja sama mainan masa kecilku yang kusimpan di loteng! Kayaknya sudah lama nggak aku bersihkan,” sahut Hedy cepat.

“Aneh kamu ini. Keingat sesuatu terus diomongin begitu saja. Apa nggak bisa diomong dalam hati? Bikin yang dengar jadi bingung saja!” omel Cira.

Mya tersenyum tipis melihat ulah Cira dan Hedy, dua sahabat dekatnya.

Ketiga remaja itu pun lagi-lagi kembali asyik dengan dunianya masing-masing. Mya menekuni ponselnya sambil membaca beberapa cerita dari blog pribadi milik orang-orang di internet. Hedy yang juga asyik dengan ponselnya namun tenggelam dalam hutan belantara permainan. Dan Cira, berada di pusaran arus cerita dalam buku teenlit di tangannya.

“Aduh, iya nih sampai kelupaan! Aku kan janji sore ini harus mengantar Mama beli kado buat sepupuku! Hedy, antar aku pulang dong…” rengek Cira meminta.

“Sekarang?”

“Ya iya lah, sekarang! Aku kan nggak bilang besok!” mata Cira sedikit melotot dengan nada suara galak.

“Yah… padahal lagi asyik nih gamenya!” Hedy beranjak dengan tubuh malas.

“Aduh… itu game kan bisa nanti diterusin! Yuk!” Cira menarik tangan Hedy tanpa menunggu Hedy berkata mau atau tidak.

“Mya, aku sama Hedy tinggal dulu, nggak apa-apa kan kalau di sini sendirian?”

“Nyantai aja! Aku mau tetap sendirian di sini dulu kok. Mumpung bunga pohon sono lagi manis-manisnya nih di taman. Jarang-jarang kan bisa menikmati suasana begini.”

“Nah, iya tuh, benar kata Mya. Jarang lho lihat Pohon Sono seperti ini. Gimana kalau kamu pulang sendiri saja?” tawar Hedy yang langsung mendapat jawaban mata melotot dari Cira dan juga Mya.

“Apa sih, alasanmu dibuat-buat saja! Udah, pokoknya sekarang antar aku pulang. Ayo!” Cira tidak berkompromi lagi untuk menarik tangan Hedy.

“Iya, bilang saja kalau mau ngegame! Lagian, jadi cowok itu yang bertanggung jawab dong. Ceweknya pulang, ya dianterin,” Mya ikut-ikutan mengomeli Hedy.

Hedy melangkah dengan gerak kaki yang berat karena tangannya yang ditarik oleh Cira. Matanya meminta pertolongan Mya. Namun Mya yang tahu itu malah melempar pandangan dengan pura-pura menatap bunga-bunga pohon sono. Akhirnya, tangan-tangan yang saling melambai menjadi tanda perpisahan Mya dengan dua sahabatnya. Sepeninggal Cira dan Hedy yang pergi menuju rumah Cira, Mya kembali menekuni ponselnya. Hidung dan matanya memang masih betah berlama-lama di taman itu karena satu alasan, pohon sono yang sedang memekarkan gerombolan bunga kuningnya. Warnanya yang cerah, sesuai dengan warna favorit Mya. Dan wanginya yang menyeruak aroma menenangkan, membuat Mya betah berlama-lama duduk di taman perumahan tempatnya tinggal.

Seharusnya Mya kembali membayangkan andai ia berada di tengah-tengah pepohonan Sakura, dan menenggelamkan diri dalam berbagai cerita di internet yang sedang dikonsumsinya. Tapi bermenit-menit kemudian, keharuman bunga pohon sono tak lagi kuasa menenangkan hatinya. Apalagi sejak kata loteng tadi dengan jelas ia dengar dari Hedy teruntuk dirinya. Mya ingat, rasanya baru beberapa hari lalu Hedy memutuskan untuk menghentikan kebiasaannya dengan Mya yang kerap ngobrol pada waktu malam hari di loteng rumah Hedy. Alasannya, Hedy punya jadwal baru yang harus menelepon Cira setiap malam.

Kedekatan Hedy dan Mya terjalin sejak mereka berdua masih sama-sama berada di dalam kandungan mama mereka masing-masing. Kadang Mya pun heran, mengapa persahabatan dan kedekatan kedua mama mereka itu lalu bisa menurun juga pada ia dan Hedy.

Rumah Mya dan Hedy bersebelahan. Tentunya juga, inilah keinginan yang sudah diatur oleh kedua mama mereka untuk hidup bertetangga. Sampai-sampai, menikah dan hamil pun mereka tetap bisa menjaga kekompakan dan agak berbarengan waktunya! Mya lahir beberapa bulan lebih dulu dari Hedy. Dan sejak mereka bayi, banyak hal yang dibuat dekat oleh kedua mama mereka itu untuk ia dan Hedy.

Ketika waktu remaja tertapaki oleh Mya dan Hedy, hadirlah Cira, teman yang dikenal Mya sejak ia dan Hedy bersekolah di SMA yang sama. Mya yang ternyata mencintai Hedy, dan juga menyayangi Cira, akhirnya harus rela untuk membagi Hedy yang selalu hanya menjadi miliknya sejak ia kecil.

“Kamu ini… benar-benar nggak marah kalau aku jadian sama Cira?” Hedy menatap dalam mata Mya seakan tak percaya saat permintaan izinnya untuk jadian dengan Cira disetujui Mya.

Mya mengangguk pasti sambil tersenyum.

Hedy sendiri waktu itu hanya iseng belaka. Ia yang sebetulnya sangat ingin tahu seperti apa entuk hati Mya yang sesungguhnya, akhirnya benar-benar pacaran dengan Cira yang menjadi sahabat dekat Mya.

Yang tak Hedy sadari adalah, Mya sudah sangat tahu seperti apa Hedy. Hedy yang mungkin ingin melepas kedekatan dengannya, Hedy yang mencoba usil untuk menggoda hati cemburu Mya,  dan Hedy yang pastinya tak akan jauh dari Mya, hal-hal yang sudah begitu mudah ditebak oleh Mya.

Dan Mya benar. Tak hanya sampai seminggu, Hedy yang awalnya membuat jarak dengan Mya, akhirnya tidak bisa juga bertahan untuk kembali ke kebiasaan lama. Loteng di rumah Hedy hanya kosong selama beberapa hari saja dari kehadiran Mya dan cerita-cerita mereka berdua.

***

“Tok tok tok!”

“Halah, kayak nggak hapal saja. Jendela loteng ini kan nggak pernah aku kunci!” Hedy menertawakan ulah Mya.

“Untung nggak ada orang jahat yang tahu. Coba kalau ada, bisa habis harta di rumahmu ini!” Mya geleng-geleng kepala sambil membuka dan melangkah lebar memasuki loteng rumah Hedy.

“Yah… kalaupun rumahku kemalingan, pasti kamu yang aku curigai lebih dulu!” Hedy tertawa lalu mengacak-acak rambut ikal Mya.

Selanjutnya, Mya dan Hedy justru mengisi ruang waktu dengan keheningan. Saat mereka berdua ada di loteng rumah Hedy, memang selalu saja ada barang-barang kuno yang jadi perhatian mereka. Kebanyakan, berupa mainan masa kecil Hedy yang ditumpuk di rumah itu. Kali itu, Hedy sedang menata kembali rangkaian rel mainan kereta apinya. Mya memilih berinisiatif mencoba membantu Hedy dengan mengelap gerbong-gerbong miniatur kereta api.

“Rasanya, aku mau putus dari Cira. Enaknya seperti apa ya caranya mutusin si Cira itu?” tanya Hedy memecah kebisuan mereka berdua.

Mya memastikan kata-kata Hedy dengan memandang ke wajah Hedy. “Yakin?”

Suara hembusan nafas Hedy yang memberat menjadi sedikit jawabannya. “Aku nggak kuat dengan watak bossynya itu. Sudah begitu, cemburuannya minta ampun lagi. Dia bahkan pernah cemburu gara-gara kamu lho!” Hedy bersungut-sungut.

Mya malah tertawa melihat gerutuan Hedy. Karena sebelumnya Mya pernah menebak, gerutuan seperti itu pasti suatu saat akan ia dengar. Pertanyaan yang entah kapan itu terjawab ketika baru saja akhirnya Hedy mengeluarkan keluhannya.

“Eh, kayaknya ada yang bahagia nih terdengar dari nada ketawanya?” sindir Hedy dengan wajah tidak suka.

Demi melihat itu, Mya malah makin ingin tertawa lebar. Tapi selanjutnya, ia memilih untuk hanya tersenyum tertahan dan tertawa terbahak-bahak dari dalam hati. Rasanya sedang tidak tepat rupanya ia menunjukkan ekspresi gelinya demi melihat fenomena seorang Hedy yang cukup mudah ditebak sikapnya oleh Mya.

“Mya, aku serius nih mau minta pendapatmu. Kasih tahu aku dong, gimana caranya mutusin Cira?”

Alis mata Mya terangkat sambil matanya mengerjap-kerjap. “Ya sudah, putusin saja!” jawab Mya seadanya. Entah kenapa, terselip rasa kesal yang menyelinap ke dalam hatinya saat melihat ulah Hedy. Betapa mudahnya ia mempermainkan dirinya dan juga Cira, sahabat dekatnya.

“Mya… aku serius nih!” suara Hedy tiba-tiba sedikit merajuk seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada kakaknya.

Mya menghentikan aktivitasnya mengelap gerbong-gerbong mainan di tangannya. “Boleh Mya tanya, memangnya dulu, apa sih alasan Hedy jadian sama Cira? Jujur ya jawabnya!”

Degup jantung Hedy tiba-tiba agak berdentuman. Pertanyaan itu bagi Hedy seperti sebuah kata tanya yang sudah diketahui jawabannya oleh otak Mya. Hedy menelan ludah, tentu ia tidak bisa terus terang mengatakan apa yang sesungguhnya pada Mya. Karena Hedy merasa, sikap Mya yang sering cuek seakan-akan kerap berkesan bahwa tak ada perasaan suka yang disimpan Mya untuknya.

“Masa sih, kamu dulu jadian sama Cira karena iseng? Bisa gitu?” lagi, Mya mendesak Hedy untuk jujur mengaku.

“Aku benar-benar sudah bosan dengan ulah Cira,” jawab Hedy akhirnya setelah ia mencoba mencari-cari alasan yang tepat.

“Ha? Bosan? Ih, enak banget ya?!” nada sinis terdengar dari ucapan Mya yang lalu memberondong dengan segenap penghakiman. “Kenal Cira, lalu suka, pacaran, terus tahu aslinya seperti apa, kemudian bilang bosan dan berencana putus? Wah, hebat sekali?! Kamu kira Cira tidak punya perasaan untuk sakit hati?”

“Okelah Mya, jujur aku ngaku. Aku jadian dengan Cira karena aku ingin tahu, kamu bisa punya rasa cemburu atau nggak ke aku! Nah, sudah puas dengan jawabanku?!” di ujung pikirannya, Hedy tidak lagi bisa mengelak. Ditatapnya dengan berani mata Mya yang sedari tadi memang menuntut jawaban jujur darinya.

Sedetik dua detik berlalu. Tak disangka, Mya malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, Hedy jadi kebingungan melihatnya.

“Mya, aku serius! Bisa serius juga nggak sih?!”

Dengan tawa yang masih ada, Mya akhirnya menimpali, “Hedy, Mya tuh sudah kenal Hedy dari bayi. Dari Hedy masih di kandungan Tante Rosa malah. Sebetulnya Mya sudah tahu kok sebetulnya alasan Hedy pacaran dengan Cira!” nada suara Mya enteng.

Hedy kaget. Dengan gemas, ia acak-acak rambut Mya hingga rambut ikal itu makin kusut tak karuan. “Asem! Jadi kamu itu sudah tahu semuanya? Kamu mainin aku ya, Mya?”

Mya menangkis tangan Hedy dari rambutnya. “Aduh… bisa kesusahan deh Mya habis ini menyisir rambut Mya. Kalau gemas, nggak usah mainin rambut dong! Sudah tahu kalau nih rambut perlu penanganan khusus, masih juga hobi mengacak-acak!” protes Mya.

“Kamunya yang keterlaluan juga! Jadi, sebetulnya perasaanmu ke aku itu seperti apa sih, Mya? Oke, sekarang aku minta kamu yang jujur!” Hedy jadi makin penasaran dengan Mya.

Mya mengehela nafas, mencoba mengatur ritme di dadanya yang terasa sedang tidak jelas.

“Oke, kita kembali ke pertanyaanmu tadi saja, ya. Mya tanya, Hedy ingin putus dari Cira karena bosan?” Mya memerjelas kata-kata Hedy yang tadi sudah didengarnya.

Belum sempat Hedy mengangguk atau menjawab, Mya melanjutkan kata-katanya, “Hedy, belajarlah untuk bertanggung jawab pada apa yang sudah Hedy putuskan. Mya nggak akan bilang ke Hedy untuk menasehati agar Hedy putus dari Cira. Gila saja, Cira itu kan sahabat dekat Mya! Tapi dari awal, Mya juga tahu kok perasaan Hedy ke Mya. Jadi kalau Mya sih inginnya… besok, ya akan tetap sama seperti kemarin. Kita tetap temenan, Hedy dan Cira pacaran. Beres, kan?!” ujar Mya sambil bergerak membereskan mainan kereta apa milik Hedy dan menutup wadahnya.

“Tapi, jujur dong ke aku. Perasaanmu itu seperti apa sih Mya?” Hedy penasaran.

Mya terdiam, mencari-cari kepastian perasaannya sendiri. Apakah benar ia juga mencintai Hedy, ataukah selama ini hanya menganggap kedekatannya dengan Hedy adalah sebentuk persahabatan, persaudaraan, ataukah seperti cinta seorang cewek kepada seorang cowok?

Sambil beranjak, akhirnya Mya berujar, “Mungkin hati Mya, seperti loteng ini yang tak akan menunjukkan reaksi ketika ada atau tidak adanya Mya yang datang ke sini. Tapi, ia akan selalu menerima Mya jika Mya datang. Bedanya, kecuali jika Hedy tidak mau Mya ke sini, maka Mya tidak bisa masuk ke sini. Tapi untuk yang satu itu, hati Mya tidak seperti loteng ini,” jawab Mya yang kemudian membuka jendela dan bersiap beranjak keluar.

“Mya tunggu!” Hedy menahan Mya dengan mencengkeram tangan Mya. “Jadi, kamu juga punya perasaan sama dengan aku, kan?” mata Hedy berbinar seakan jawaban yang diinginkannya dari Mya itulah yang memang ada di hati Mya.

“Kita masih muda, Hedy. Masih banyak waktu membuat istilah untuk perasaan Mya dan Hedy, yang lalu kita sebut pacaran. Oke?” Mya menarik tangannya dengan kuat dan lalu melangkah tergesa kembali pulang ke rumahnya dengan meloncati pagar pembatas pendek antara tempat jemuran rumah Hedy dengan rumahnya.

Hedy kebingungan. Usahanya untuk membuat Mya akhirya mengaku ternyata masih juga sia-sia. Tapi jika ia harus terus berpacaran dengan Cira, rasanya ia sungguh tidak kuat untuk terus menghadapi sikap Cira yang menurutnya sungguh sering menjengkelkan dirinya. Malam itu Hedy tak bisa membayangkan jika keesokan harinya dan di hari-hari berikutnya, ia masih harus disiksa oleh permintaan-permintaan Cira yang selalu menuntut ini itu.

Sementara itu, Mya yang telah kembali ke kamarnya sedikit meneteskan air mata. Ada perasaan campur aduk yang ia rasa saat itu. Senang karena memang tebakannya tentang perasaan Hedy terhadapnya benar. Tapi ada juga rasa kesal karena Hedy cuma memanfaatkan Cira yang telah jadi sahabat dekatnya untuk menguji sebuah pernyataan cemburu dari Mya. Mya memang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Ia hanya sayang pada Hedy. Itu saja. Dan apapun yang asalkan bisa membuatnya selalu dekat dengan Hedy, Mya akan selalu melakukannya.

Setelah Papa Masuk Penjara

“Bukan Mama tidak sayang Nindya atau Fatar. Tapi Mama harus cari uang agar keluarga kita tetap bisa hidup. Mohon pengertiannya ya, Nak,” Mama mengecup kepalaku, menatap mataku dalam-dalam, menyeka air mataku yang berlinang dan juga air matanya sendiri yang mengalir deras, lalu membalikkan tubuh.

Saat ini dan untuk seterusnya, yang entah sampai kapan, aku dan adikku, Fatar, pasti akan bisa mendengar suara Mama dari telepon genggam saja.

Kupeluk kuat tubuh nenek. “Kenapa Mama tega pergi jauh dan tidak mengajak kami, Nek?” aku terisak di pelukan Nenek.

Nenek juga menangis. Tapi aku cukup bingung. Jika Nenek yang adalah ibu kandung dari ibuku juga sedih karena anaknya harus pergi, kenapa Nenek mengizinkan Mama bekerja di Singapura?

“Mamamu cari uang, Nin. Biar Nindya dan Fatar bisa tetap terus sekolah. Nanti kalau Papa sudah keluar dari penjara, Mama pasti pulang,” hibur Nenek.

Tapi, aku tetap tidak mengerti. Meski aku sudah kelas 5 SD, buat aku, hidupku sekarang begitu rumit. Aku ingat, semuanya berawal dari kejadian sekitar setahun yang lalu, saat Papa pulang dengan wajah gusar. Kulihat, Mama dan Papa bicara dengan serius di ruang makan. Papa menangis. Lalu Mama memeluk tubuh Papa.

Tak lama kemudian, aku sering melihat wajah papaku di televisi. Banyak berita yang mengatakan papaku telah korupsi. Sebetulnya aku tidak tahu pasti korupsi itu apa. Aku cuma pernah mendengar cerita orang yang melakukan korupsi, dan kemudian aku simpulkan, korupsi itu seperti mencuri.

Saat aku sadar, aku tidak percaya. Papaku itu orang yang jujur. Ia selalu memintaku dan adikku untuk bersikap jujur. Bahkan ketika aku berbohong, Papa lebih marah dari pada saat aku mengakui kesalahanku. Jadi menurutku, pasti orang-orang itu telah salah memberitakan papaku.

Nyatanya, Papa kemudian dipanggil polisi, lalu dipenjara. Aku menangis waktu tahu itu. Namun Mama mencoba menenangkanku. Menurutnya, Papa pasti akan segera keluar dari penjara. Karena Papa tidak salah. Lalu saat Papa dipenjara dan tidak kembali ke rumah, Mama kembali berkata, tidak selamanya orang benar itu dinyatakan benar. Itulah saat di mana aku makin bingung dengan semua yang ada.

“Apa Mama akan sering pulang, Nek?” tanyaku sambil terus menatap deretan pesawat di yang berbaris di bandara.

“Mungkin,” singkat jawaban Nenek.

“Apa Mama akan lupa padaku dan Fatar? Apa Mama akan menikah lagi dengan orang di Singapura? Apa Mama tidak akan pernah kembali lagi?” aku banyak bertanya. Namun semuanya itu aku pendam dalam hati.

Tapi sepertinya Nenek mengerti isi kepalaku. “Mamamu di sana kerja di tempat baik-baik, Nin. Ada kawan Mama yang sudah lama tinggal dan bekerja di sana. Nenek kenal dia, karena ia teman mamamu sejak kecil. Mamamu itu pintar. Tapi ia memilih untuk jadi ibu rumah tangga. Namun kondisi keluarga sekarang ini yang membuat mamamu akhirnya harus bekerja.”

“Papa dipenjara, tapi Papa tidak salah. Mama harus kerja ke luar negeri. Padahal Mama ingin terus dekat dengan aku dan Fatar. Sepertinya, hidup Papa dan Mama lebih berat. Aku harus coba terus jadi anak baik demi Papa dan Mama,” pikirku mencoba mengerti semua yang sedang terjadi. Meskipun, ini bukan hal yang mudah.

Gadis Penulis di Kuburan

Jika kamu sama-sama suka menulis seperti aku, kira-kira tempat apa yang menjadi favoritmu? Kalau aku, jawabannya adalah kuburan! Jangan merasa jawabanku ini aneh. Karena jika kamu belum mencobanya, kamu memang tidak akan pernah tahu bagaimana asyiknya menulis di kuburan!”

***

            Siang yang terik, dan tak akan aku hiraukan demi mengiringi jenazah kakekku tercinta. Untuk terakhir kalinya, satu dari sekian orang yang aku cintai dalam hidupku harus pergi. Setelah sebelumnya, aku juga telah kehilangan tanteku. Entah kenapa, ada dua penyakit yang menggaris dalam keluargaku. Diabetes dan kanker. Kakek meninggal karena diabetes. Tante meninggal karena kanker payudara.

Di pemakaman, saat aku sedang tersedu-sedu ketika melihat tubuh kakek yang berlapis kain putih diturunkan ke tanah, sekilas aku melihat sosok itu. Seorang gadis, mungkin sebayaku, terlihat sedang duduk bersandar di sebuah kuburan. Ia tampak sedang asyik menulis. Awalnya kupikir, mungkin otakku yang sedang berhalusinasi. Tapi ketika beberapa kali aku melihat ke arah gadis itu lagi, ia benar-benar nyata. Ia ada, dan terus asyik menulis.

Keherananku pada gadis itu terus menjadi saat langkahku meninggalkan tanah pemakaman. Sesaat aku berhenti, mencoba memandang gadis itu. Gadis yang masih asyik menulis, di bawah kerindangan pepohonan kamboja, dengan rerumputan tebal yang agak mengelilingi dan melindungi tubuhnya dari pandangan banyak orang. Sesekali pandangannya menyapu sekeliling. Tapi keramaian orang-orang yang ikut memakamkan kakekku, seperti tidak memengaruhi keasyikannya sama sekali.

Untungnya sedang musim liburan sekolah. Jadi keesokan harinya, aku mencoba menebus rasa penasaranku dengan datang lagi ke kuburan, berharap menemui gadis itu lagi. Nyatanya, ia lagi-lagi ada. Masih dengan gaya yang sama, duduk bersandarnya, tempat pilihannya, dan aktivitasnya, menulis!

Kudekati gadis itu. Berisik langkah kakiku yang bertabrakan dengan rumput dan ranting, seperti tidak mengusiknya.

“Hai!” sapaku singkat. Dan baru itulah, ia akhirnya sadar jika ada seseorang yang mendekatinya.

“Oh hai, hai juga!” wajahnya malah terlihat bingung sambil menoleh ke beberapa arah.

“Ada apa? Kok jadi bingung? Maaf, aku mengganggumu ya?” aku jadi tidak enak sendiri dengannya.

“Uhm… hanya bingung. Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada di sini? Kok aku tidak mendengar langkah kakimu?” ia lalu menatapku seakan-akan aku sosok aneh yang tiba-tiba jatuh dari atas langit.

“Hahaha… Mungkin kamu tadi terlalu asyik sendiri. Sampai-sampai, aku jalan mendekati kamu pun, kamu tidak sadar,” ujarku.

“Ya ya… mungkin aku terlalu khusyuk ya?!” akhirnya ia bisa tersenyum ke arahku.

Aku lalu memilih tempat duduk di sampingnya. “Oh ya, kita belum berkenalan kan? Namaku Rhea,” ujarku mengulurkan tangan.

“Nanda,” jawabnya sambil menjabat tanganku.

“Kamu ini memang sedang menulis ya, Nanda? Aneh, kenapa di kuburan?”

“Menulis di kuburan itu asyik lho! Nggak tahu kenapa, di sini suasananya tenang dan sejuk. Apalagi kamboja-kamboja itu…” Nanda menghentikan sejenak ujarannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, dan lalu tersenyum dengan damai.

“Baunya harum dan aku sangat menyukainya! Yah, memang aslinya agak capek juga sih menulis dengan cara manual, tidak langsung mengetik di laptop. Tapi suasana di sini, malah membuat aku seperti selalu saja ada inspirasi. Bahkan sampai lupa waktu saat menulis cerita,” ujar Nanda dengan mata berbinar.

“Bagaimana bisa kamu merasa nyaman dan punya ide menulis di kuburan? Apa kamu nggak takut kalau-kalau…” aku lalu merinding menatap ke sekeliling kuburan.

“Hantu?!” tebak Nanda. Tak lama kemudian lepaslah tawa riang Nanda.

“Iya, kamu tidak takut?”

“Ah, mana ada hantu usil yang siang-siang akan mengganggu aku. Lagi pula, aku kan tidak mengganggu mereka. Kalaupun ada yang datang, pasti akan aku ajak ngobrol. Siapa tahu, aku jadi punya inspirasi untuk menjadikannya ceritanya sebagai bahan cerita.”

Sekejap, Nanda lalu melihat ke arahku dengan tatapan penuh selidik. “Kamu bukan hantu kan?”

Aku langsung pura-pura cemberut. “Apa iya ada hantu yang secantik dan semodis aku?”

Kami berdua lalu tertawa bersama.

“Sebetulnya… aku juga suka menulis lho! Cuma masih hanya sebatas suka, sih. Belum bisa dibilang jago. Beberapa kali mengirimkan tulisan ke media, selalu ditolak. Akhirnya, ya cuma jadi koleksi pribadi saja di blog,” ujarku.

“Wah, kita sama kok. Aku juga begitu. Tapi, aku sih cuek-cuek saja dan masih tetap nyoba untuk kirim ke beberapa media. Ikutan lomba juga sering. Tapi… ya itu… nggak pernah menang!” Nanda menertawakan dirinya sendiri.

“Hehehe… ternyata kita satu nasib yah! Eh iya, ngomong-ngomong, kemarin ikutan juga lomba cerpen di majalah Dara, nggak?” tanyaku.

“Iya. Pengumumannya minggu depan kan?”

“Iya. Hm… berharap menang nih!” cetusku.

Nanda juga mengangguk. “Sama! Yah, mungkin karena sering kalah kali ya? Aku juga seperti nggak pernah lelah untuk berharap menang. Meskipun, ternyata nanti kenyataannya kok aku harus kalah lagi.”

Nanda lalu asyik menulis lagi. Aku lalu membatin, rasanya mulai besok aku ingin juga membawa perangkat menulisku, dan bersama Nanda mengasyikkan diri menulis di sini.

Sejak itu, hingga seminggu kemudian, jika ada yang melihat dua orang anak perempuan yang asyik menulis, bersandar di sebuah tepi bangunan kuburan, itulah kami, aku dan Nanda. Bersama Nanda, kami memang menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi saat asyik menulis. Kadang jika salah satu dari kami kehabisan ide, kami bisa saling bertukar pikiran. Jika ada salah satu dari kami yang kelelahan, kami akan bergantian tidur sejenak dan lalu bangun untuk menulis lagi.

Kegiatan menulis di tempat itu jadi terasa asyik karena kami pergi ke kuburan seperti laiknya orang yang sedang piknik. Kami pergi ke kuburan dengan membawa tikar dan bekal makanan yang berisi lengkap. Ada bekal untuk makan siang, camilan, sampai buah-buahan. Sayangnya, keasyikan kami berdua itu cukuplah hanya harus berlangsung selama seminggu.

***

“Nda, selamat yah…” seru Gina dan Mimi saat aku baru saja masuk ke dalam kelas.

“Selamat buat apa ya?” aku kebingungan.

“Namamu ada di daftar nama para pemenang lomba menulis cerpen di majalah Dara, lho!” ujar Mimi. Gina langsung menyodorkan halaman majalah Dara yang telah terbuka ke arahku.

“Memang sih, kamu bukan yang jadi juara satunya. Tapi, lumayan banget kan bisa dapat juara 2? Apalagi kamu selama ini memang ingin sekali bisa menang lomba atau paling tidak dimuat tulisannya di dalam majalah,” ujar Gina.

Kutelusuri halaman majalah yang memuat nama para pemenang lomba. Dan mataku tiba-tiba menemukan sebentuk nama yang begitu aku kenal akhir-akhir ini. “Rhea?”

Gina dan Mimi saling berpandangan. “Kamu kenal sama yang juara satu itu ya?” tanya Gina.

“Uhm, iya. Sebetulnya baru-baru ini juga kenalnya. Itu pun aku kenal dia malah sewaktu sama-sama hobi ke kuburan!” aku lalu tertawa teringat pengalaman mengasyikkanku selama liburan bersama Rhea.

“Di kuburan? Eh, yang benar dong kalau cerita?!” tiba-tiba tubuh Gina bergetar karena sepertinya ia merinding mendengar ucapanku.

“Hehehe… tenang… Rhea itu temanku yang memang aku kenal di kuburan. Jadi ceritanya kemarin pas liburan, aku memang hobi menulis di sana. Nah, pas itulah aku lalu kenalan dengan Rhea. Dia sama dengan aku, suka menulis, dan juga nggak pernah menang lomba atau dimuat tulisannya di majalah. Jadi, kami lalu sering berdua duduk di kuburan selama seharian untuk menulis bersama,” ceritaku pada Mimi dan Gina.

“Kok agak aneh ya waktu mendengarnya?” ujar Gina.

“Iya, sama! Kamu yakin itu Rhea yang menang lomba ini?” sambung Mimi.

“Aku benar-benar yakin. Soalnya Rhea bilang, judul cerpennya itu ya seperti yang ditulis di sini ini. Seperti Kamboja,” tiba-tiba aku seperti disergap perasaan merinding sendiri. Eh, ada apa sih dengan badanku ini?

Siang harinya, aku menyegerakan diri menuju kuburan, melangkahkan kakiku ke sebuah makam yang menjadi tempat biasanya aku dan Rhea bertemu. Aku cukup menyesal, kenapa dari beberapa hari bersama dengan Rhea, aku malah lupa menanyakan di mana alamat dan nomor teleponnya.

Seperti yang sempat aku tebak, aku memang tidak menemukan Rhea di sana. Yah, memang aku tidak ada janji hari ini dengan Rhea untuk saling bertemu di sini. Jadi pantas saja jika akhirnya aku tidak menemukan Rhea seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, entah kenapa aku merasa saat itu begitu ingin menjumpainya di kuburan, dan berharap ia juga berada di sana.

Beberapa menit aku duduk bersandar di sebuah kuburan yang menjadi tempatku mengasyikkan diri seperti biasanya. Di tempat itu, beberapa hari kemarin, aku begitu banyak bisa menghasilkan tulisan yang lalu aku kirim ke beberapa media seperti biasanya. Apalagi sejak Rhea kemudian menjadi teman menulisku selama liburan di kuburan. Yang ada, setiap hari selalu saja ada ide-ide baru yang sepertinya tak ada habis-habisnya.

Karena hari makin sore dan suram di area kuburan itu, aku lalu memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba, sekuntum bunga kamboja jatuh mengenai kepalaku dan terpantul di sebuah makam yang ada di samping jalan tempatku melangkah. Bunga kamboja yang masih segar. Aku lalu memungut bunga itu dan menghirup wanginya dalam-dalam.

“Seperti Kamboja!” tiba-tiba tubuhku tersentak. Aku langsung teringat dengan sebuah judul cerpen milik Rhea yang membuatnya telah mengungguli aku dalam lomba cerpen di majalah Dara. Saat mencoba memandangi kamboja, tatapan mataku lalu memantul lurus ke arah tulisan di sebuah nisan, tempat kamboja yang sedang ada dalam tanganku sebelumnya kupungut.

“RIP. Rhea.”

Seperti berjuta-juta sengatan listrik lalu menyergap ke tubuhku. Ku amati nisan itu, ada nama Rhea, tanggal lahirnya yang memang sebaya denganku, dan tanggal kematiannya yang tertulis baru saja, sekitar tiga minggu lalu.

Tubuhku langsung merosot, tersungkur di tepi nisan Rhea. “Jadi… selama ini yang menemani aku menulis itu siapa, Rhea? Kamukah itu? Kamukah yang memang sudah berhari-hari ada di dalam kuburan ini?” aku lalu menangis sejadi-jadinya.

Ada berbagai rasa bermain di otak dan hatiku. Yang jelas, aku cukup sedih karena menemui kenyataan bahwa orang yang selama ini begitu menjadi bagian dari sumber inspirasiku, ternyata telah lebih dulu meninggalkan aku? Bahwa ternyata kebersamaanku dengan seorang sahabat beberapa hari kemarin hanyalah sebuah cerita semu? Dan yang paling tidak bisa aku terima, bahwa ternyata aku tidak bisa lagi menjumpai seorang Rhea di kehidupan nyata meski hanya sekedar untuk mengucapkan kata selamat!

Di edisi majalah Dara berikutnya, aku menemukan sedikit profil Rhea. Rhea yang aku temui di kuburan, Rhea yang namanya kutemui dalam pengumuman nama pemenang di majalah, Rhea yang kutemukan nisannya di suatu senja, memang orang yang sama. Sayang, ia harus menerima kenyataan jika ujung perjuangannya untuk menjadi pemenang lomba menulis sekaligus dimuat ceritanya di majalah, tidak bisa ia lihat secara nyata. Penyakit leukemia itu telah menjemputnya lebih dulu.

Jika kalian suka menulis seperti aku, kira-kira tempat apa yang menjadi favoritmu? Kalau aku, jawabannya adalah kuburan! Karena di situlah aku menemukan berbagai inspirasi dan menjumpai seorang sahabat yang meski hanya bisa bersama dalam waktu yang singkat. Meski aku tahu, Rhea yang kujumpai waktu itu adalah sosok tidak nyata, tapi aku tidak pernah jera untuk menulis di kuburan. Bahkan aku berharap, semoga bisa menjumpai lagi sesosok Rhea. Atau mungkin, menjumpai sosok-sosok lain yang sudi kembali datang ke dunia untuk membantuku menemukan jalan cerita dalam setiap tulisanku.

Jatuh

Kabarnya, hari ini waktunya pengumuman hasil olimpiade sains tingkat provinsi. Itu artinya, kalau Nela bisa lolos di Olimpiade Ekonomi kali ini, ia bisa maju sampai tingkat nasional. Dan yang membuat Nela sampai saat ini cemas adalah karena sebelum momen olimpiade, ia tidak sempat jatuh.

Buat Nela, ada hubungannya antara jatuh dengan kesuksesannya. Dulu sebelum ikut Olimpiade Fisika saat SMP, ia jatuh dari motor sewaktu dibonceng tantenya. Tak lama kemudian, ia dinyatakan menang juara 1 Olimpiade Fisika tingkat nasional. Lalu sebelum ujian masuk ke SMA favorit yang saat ini jadi sekolahnya, Nela juga harus melewati peristiwa jatuh dulu dari tempat tidur. Akhirnya, ia bisa diterima di sekolah yang begitu ia impikan dengan nilai ujian masuk tertinggi.

Jadi sebelum Olimpiade Ekonomi tingkat kabupaten kemarin ia jatuh dari tangga, ia tidak kaget lagi. Meskipun kakinya memar dan berwarna biru lebam di sana-sini, ia cuma bisa tersenyum kecil. Sementara Miss Hani, guru ekonominya justru panik dan khawatir habis-habisan.

“Aduh Nel, itu gimana ceritanya sih kamu sampai jatuh dari tangga asrama? Kamu berangkat sekolah sambil buru-buru, ya?”

“Uhm, enggak juga sih Miss. Kemarin itu sambil nunggu Apri, saya duduk di tangga. Terus, saya ingat mimpi saya semalam. Saya mimpi Miss, saya jatuh berguling-guling dari tangga. Lalu saya mikir, apa jadinya ya kalau saya jatuh dari sini sekarang? Habis itu seingat saya, saya ngantuk Miss karena kelamaan nunggu Apri. Tahu-tahu, saya sudah jatuh sampai bawah tangga,” cerita Nela dengan penuh semangat.

Nela mendapati Miss Hani yang lalu menatapnya dengan pandangan aneh.

“Tenang saja Miss, saya sudah biasa kok jatuh sebelum tes. Biasanya habis itu, saya mesti dapat nilai paling bagus di hasil tes,” cetus Nela geli.

Lalu saat sehari sebelum olimpiade sains diselenggarakan, dan Nela menyadari dirinya tidak kunjung jatuh, Nela jadi panik sendiri. Uniknya, Miss Hani pun jadi ikut panik.

“Aduh, gimana ini Nel, kamu kok nggak jatuh-jatuh juga sih?”

“Hehehe,” Nela cuma tertawa menanggapi. Meski dalam hati, sebenarnya ia pun juga ikut panik.

“Bagaimana kalau… kamu saya dorong sekarang biar jatuh?” ujar Miss Hani usil.

“Ih Miss ini! Kan jatuh itu sakit Miss…”

“Habisnya gimana dong? Kalau kamu nggak jatuh, berarti kamu bisa jadi nggak lolos olimpiade provinsi.”

Dalam hati Nela jadi bingung sendiri. Apa iya kalau ia sengaja jatuh, lalu hasil olimpiadenya berarti akan bagus?”

Sore harinya saat berjalan pulang ke asrama, Nela disapa oleh Vita.

“Nel, sudah tahu hasil olimpiade belum? Dengar-dengar nih, dari sekolah kita yang lolos cuma tiga orang lho dari kita berdelapan yang kemarin ikut olimpiade,” tutur Vita yang ikut olimpiade TIK.

“Aku nggak lolos ya?” mata Nela langsung spontan berkaca-kaca. Ia sudah membayangkan hasil yang akan diperolehnya.

“Hehehe, yang nggak lolos itu aku! Kamu sih lolos. Untung lho bisa dapat ranking 3 besar. Selamat ya!”

“Beneran, Vit?” Nela lansung cepat menyeka air matanya.

“Iya. Beruntung banget kamu, Nel. Nilaimu itu cuma beda tipis sama anak yang ranking 4. Tadi aku sudah lihat hasilnya di Miss Luluk.”

Nela justru menangis lagi. Malah, kali ini tangisnya makin deras dari sebelumnya.

“Lho, kamu ini gimana sih? Lolos kok malah nangis?” Vita kebingungan.

Dalam hati, Nela merapal begitu banyak syukur. “Terima kasih Tuhan. Terima kasih. Walaupun aku enggak ranking 1, walaupun nilaiku beda tipis sama yang ranking 4, tapi yang penting aku bisa lolos ke nasional, yang penting aku nggak harus kesakitan karena jatuh. Dan yang penting lagi sekarang aku sadar, kalau aku tidak jatuh itu bukan berarti takdirku jelek.”

Musim Jamblang di Lopang, Momen yang Sayang Dilewatkan

 

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek? Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! :D

SAM_3084

Si hitam manis dari Lopang

 

Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kalian bisa menjumpai buah yang satu ini dengan aneka jenis. Mulai dari yang kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh. Atau dari yang rasanya masam, sampai yang rasanya manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah. Yang warnanya hitam pekat hingga ungu kemerahan pun ada di Lopang.

SAM_3088

Juwet yang bergelantungan di pohon

 

Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan. Saat saya menuliskan tulisan ini di blog, buah yang disebut Juwet oleh masyarakat Lamongan ini sedang musim-musimnya lho. Buat yang belum pernah ke sana, ini dia how to-nya:

  • ·         Daerah Lopang itu berada di selatan dari pusat kota Lamongan. Tanya saja orang-orang di sekitaran jalan Lamongan, bagaimana untuk bisa sampai di Lamongan. Nanti, kalian akan ditunjukkan arahnya. Uhuk, karena minim penunjuk arah, untuk orang yang baru ke sana, memang harus banyak bertanya. Lopang sendiri masuk daerah Kembangbahu tapi ia dekat dengan pusat kota Lamongan atau Kecamatan Tikung. Jadi hati-hati ya, jangan sampai kebablasan jauh ke arah Kembangbahu :D
  • ·         Minim petunjuk jalan pun kembali kita jumpai di daerah Lopang. Satu-satunya cara ya harus bertanya ke penduduk sekitar, di mana kebun Juwet yang sering banyak dikunjungi orang.
  • ·         Kalau ke tempat ini, enaknya naik sepeda motor. Bisa langsung dinaiki sampai ke on the spotnya kebun Juwet. Kalau naik mobil, sepertinya harus berhenti dulu di dekat gang kecil, baru setelah itu masuk ke dalam dengan berjalan kaki.
  • ·         Sebetulnya, istilah kebun Juwet ini bukanlah sebuah area dengan pohon-pohon Juwet yang berdiri agak rapat lho ya. Melainkan, sebuah area luas dengan petak-petak sawah kering yang sedang tidak ditanami, lalu akan kita jumpai pohon-pohon Juwet yang tersebar di beberapa tempat.
SAM_3082

Area persawahan yang ditumbuhi pohon-pohon Juwet di beberapa tempat

 

Mungkin yang dari tadi baca tulisan ini berpikir, kok kayaknya repot banget sih mau makan Juwet saja. Enakan juga beli saja. Eit, hal itu sepertinya akan tidak berlaku bagi mereka yang mau dapat Juwet dengan ukuran besar dan rasa yang manis, serta bagi para pecinta panjat pohon. Kok bisa?

  • ·         Kalau kalian hanya ingin icip-icip Juwet, manjat langsung sambil menikmati Juwet, di sini boleh banget lho. Asal jangan manjat sambil bawa wadah gede untuk nampung Juwet saja. Dijamin, itu akan mengundang pelototan yang punya pohon Juwet! :D
SAM_3094

Monggo buat yang mau menikmati Juwet sambil manjat sendiri

  • ·         Harga Juwet di tempat ini bervariasi. Kalau yang ditaruh di dalam kerendeng atau wadah keranjang yang berbentuk seperti silinder, harganya bisa 20 ribu sampai 45 ribu rupiah. Terus kalau misalnya kalian beli satu kerendeng, lalu ingin manjat dan memetik sendiri sambil pinjam wadah satu kerendeng, harganya bisa lima ribu rupiah saja! Jadi, harga yang puluhan ribu rupiah itu tadi hitung-hitung upah untuk mereka yang sudah memanjat dan memetik pohon Juwet.
  • ·         Satu lagi kenapa enakan ke tempat ini langsung adalah kita bisa duduk santai sambil menghirup udara segar nan semilir di bawah pohon Juwet. Sambil gelar tikar, lalu bawa makanan sendiri, piknik cara ini juga asik! Asal ingat, bawa lagi sampahnya ya…
SAM_3089

Duduk di bawah pohon dengan pemandangan kayak begini di atas kepala kita? Surga dunia rasanya!

 

Biarpun buah ini bisa langsung dinikmati, tapi ada beberapa tips nih yang bisa dicoba:

  • ·         Jika ingin menyimpannya lebih lama di dalam kulkas, ibu saya biasa mencucinya terlebih dahulu sampai bersih, kemudian dibilas dengan air garam. Katanya sih, agar getahnya luntur. Kalau menurut saya sendiri, cara ini bisa berguna untuk membersihkan Juwet dari belatung yang terkadang ada.
  • ·         Makan Juwet pakai garam? Boleh-boleh saja. Di beberapa tempat, kebiasaan ini sering dilakukan. Namun khusus mayoritas Juwet dari Lopang, kayaknya hal itu nggak perlu deh. Karena rasa sepet di Juwet ini kalah dengan rasa manisnya.
  • ·         Suami saya malah bilang, ada tips untuk membuat tawar rasa sepet dari Juwet. Caranya, makanlah sebutir Juwet sekaligus dengan isinya. Satu biji saja, bukan semua Juwet yang dimakan ya! :D Tips ini sih katanya ia ketahui sejak dari kecil dulu. Percaya nggak percaya, kembali kepada kalian sendiri deh. J

Saya sendiri yang notebene suami orang asli Lopang, baru sekali ke kebun Juwet. Terus waktu cerita-cerita sama suami, ada beberapa hal nih yang jadi kepikirannya saya:

  • ·         Konon, populasi pohon Juwet di Desa Lopang itu dulunya sangat lebih banyak dari yang ada sekarang. Seiring waktu, pohon-pohon itu banyak yang ditebang dan tanahnya dijadikan area sawah. Saat musim orang nikah, pohon-pohon Juwet juga banyak yang jadi sasaran untuk ditebang. Kayu dari pohon ini bagus untuk bahan bakar memasak karena bisa menghasilkan api yang bagus.
  • ·         Kalau beli Juwet berwadah kerendeng, ehm, jangan harap harganya termasuk si kerendeng juga ya. Wadah kerendengnya cuma untuk alat mengambil Juwet yang sedang dipetik, atau untuk menakar Juwet yang akan dibeli. Gara-gara ini, saya jadi usul ke suami untuk menjadikan ini sebagai peluang bisnis (*beginilah kalau nyonyanya orang Ekonomi! hehehe…). Habisnya, si Juwet terlihat lebih menarik kalau diletakkan di dalam kerendeng. Apalagi buat pembeli yang asalnya dari luar daerah Lamongan. Juwet dalam kerendengnya kan jadi terlihat lebih enak dibawa.
  • ·         Gara-gara saya posting ke social media tentang Juwet dan teman-teman dari luar daerah banyak yang bilang pengen juga, jadi kepikiran lagi peluang bisnis yang sampai sekarang belum ada. Ceritanya, ada teman di Batam yang bilang pernah lihat buah ini di sana. Sementara itu, saya terpikir, kalau buah ini dibawa sekali jalan sambil naik pesawat sih asik-asik saja. Tapi kalau dibawanya dengan jasa pengiriman, gimana caranya ya? Hal ini bikin saya dan suami jadi memikirkan caranya nih. Kalau sampai ketemu, kayaknya tahun depan kami membuka penawaran penjualan Juwet via online deh! :D
  • ·         Dari dulu sampai sekarang, sebetulnya sudah banyak orang yang tahu tempat kebun Juwet di Lopang. Tapi, banyak juga yang belum tahu. Nah, di Lopang sendiri nggak pernah juga tuh dibuatkan penunjuk arahnya. Sementara itu, saya dan suami malah sudah terpikir tentang desa wisata saja. Rasanya, ini pemikiran yang bisa dibilang muluk, utopis, dan… ah, sudahlah!
  • ·         Banyak varietas atau jenis Juwet di Lopang. Tapi, sampai sekarang belum pernah ada yang mendata atau membuat namanya.
  • ·         Ketika banyak pohon Juwet yang makin hari makin sedikit, untungnya beberapa orang muda di Lopang mulai terpikir untuk mengembang-biakkan pohon ini. Hm, kayaknya peluang bisnis juga nih. Nanti saya mau bilang ke suami ah untuk bikin bibit pohon Juwet yang banyak terus ditawarkan untuk dijual saat musim Juwet nanti. ;)

 

Fyi, musim Juwet di Lopang tinggal sekitar sebulanan lagi lho. Yang mau datang, ayo segera ke Lopang…

Jalan-jalan Dulu, atau Nasionalisme Dulu?

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan, ayam dulu, atau telur dulu yang keluar? Begitu juga hubungan antara jalan-jalan dan nasionalisme. Kita jalan-jalan dulu baru bisa punya rasa nasionalisme, atau punya nasionalisme dulu baru jalan-jalan? Hehehe, meski buat saya pertanyaan yang terakhir agak janggal juga sih. Karena biasanya, orang punya uang dan waktu dulu baru punya kesempatan jalan-jalan.

Seperti halnya alasan yang mewakili kubu penjawab ayam atau telur dulu yang keluar, sebetulnya antara nasionalisme dan jalan-jalan juga sama-sama bisa memunculkan satu sama lain. Maksudnya, simak yuk yang berikut ini.

Kalau kamu masuk mau masuk di kubu jalan-jalan dulu biar kemudian bisa punya nasionalisme, maka jalan-jalanlah seperti…

  1. Ramon J Tungka di acara 100 Hari Keliling Indonesia. Dijamin, waktu 100 hari itu nggak akan cukup! Iya lah, karena jalan-jalannya bukan hanya tempat-tempat wisata. Tapi, melebur ke berbagai kehidupan masyarakat. Misal, kalau pergi ke Merapi di Jogjakarta, cobalah sambil ngobrol dengan masyarakat sekitar dan selamilah, (eh salah, ini kan gunung!) hayatilah bagaimana filosofi kehidupan masyarakat di sana. Dijamin, bisa dapat ilmu kehidupan khas Indonesia. Pernah beberapa tahun yang lalu sebelum Merapi meletus, saya diajak teman ke kaki gunung itu. Pas asyik jeprat-jepret, lewatlah sepasang kakek nenek dengan memanggul kayu-kayu besar yang sepertinya dari dalam hutan. Yang membuat saya takjub, ini kakek nenek, lho! Mereka tidak peduli umur dan terus saja beraktivitas. Nah, mbah-mbah saja rajin dan kuat begitu. Masa yang muda dan segar bugar bisanya mengeluh terus bin malas?

    Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi

    Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi Jogjakarta

  2. Agustinus Wibowo ke berbagai tempat di penjuru dunia. Sebetulnya antara Agustinus dan Ramon itu 11-12. Mereka menjelajah ke tempat-tempat dan bersinggungan dengan kehidupan masyarakat. Ibarat kata jauh di mata dekat di hati, yakin deh, perjalanan ke berbagai daerah di luar negeri bisa membuat rindu tanah air. Uhuk, sayangnya perjalanan saya ke luar negeri masih dua kali saja dan melulu ke Singapura. Jadi belum tahu rasanya kangen berat sama Indonesia. Hihihi…

    Singapura

    Di tepi sungai di Singapura

  3. Trinity Traveler, yang setelah berjalan-jalan ke berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, lalu berkata bahwa wisata di Indonesia tetaplah yang terbaik. Kita nggak akan tahu mana yang lebih keren kalau tahunya cuma itu-itu saja. Andai Trinity jagoan kandang (halah, kayak sepak bola saja!), ia mungkin tidak akan bisa berkata dengan jiwa nasionalismenya, bahwa destinasi wisata di Indonesia adalah yang terbaik.

    SAM_2205

    Yang canggih main beginian, cuma operator lanting alias rakit bambu di Loksado, Kalimantan Selatan, lho!

  4. Nadine Candrawinata. Buat saya yang nggak bisa berenang apalagi menyelam, Nadine sudah membuat saya bangga dan senang melihat hasil liputannya di tv yang menyelam ke berbagai tempat di Indonesia. Dengan lihainya, Nadine menunjukkan apa saja yang bagus dari destinasi-destinasi bawah laut di Indonesia, orang seperti saya jadi tahu dan rasanya bangga lho melihat sebegitunya kekayaan alam Indonesia!

    card021

    Birunya air laut Natuna, di Kepulauan Riau, sungguh menggoda hati. Sayang, saya nggak bisa berenang apalagi menyelam. Jadi cuma jeprat-jepret dari atas laut saja.

  5. Saya! Haish, narsis dimulai! Jujur, saya pernah melakukan jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia dan lalu merasa kadar nasionalisme saya makin bertambah. Misalnya saat ke Bromo, ternyata banyak sekali turis asing yang begitu menikmati pemandangan alam di sana. Rasanya senang dan bangga melihat betapa mereka begitu menyukai alam Indonesia.

    Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

    Bromo yang sedang tersaput kilauan emas sang fajar ini cakepnya mengundang para turis mancanegara untuk datang ke sana.

Sedangkan kalau merasa punya uang nasionalisme dulu baru mau jalan-jalan, berpetualanglah seperti:

  1. Teman-teman pengajar yang mengikuti program Indonesia Mengajar, SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan), atau program 1000 Guru. Mereka yang ikut ketiga program tersebut, kebanyakan memiliki jiwa nasionalisme ingin berbagi ilmu dan mengabdi pada masyarakat, sekaligus berpetualang. Di Indonesia Mengajar, banyak lulusan yang bahkan bukan dari disiplin ilmu keguruan, tapi tertarik ikut program tersebut dan dengan suka cita berpetualang ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Kalau SM3T, sebetulnya program dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk para sarjana pendidikan yang kelak ingin jadi guru PNS. Nah, kalau yang 1000 Guru ini memang memberi peluang bagi siapa saja yang ingin jadi pengajar sekaligus jalan-jalan dalam arti berwisata.
  2. Teman-teman tenaga kesehatan yang mengikuti program Nusantara Sehat. Kalau yang ini program Kementerian Kesehatan untuk para tenaga kesehatan ke tempat-tempat terpencil dan perbatasan Indonesia. Kebanyakan yang ikut ini melakukannya dengan penuh pengabdian sekaligus bisa memuaskan petualangannya untuk menjelajahi daerah Indonesia. Tentunya, jalan-jalan yang ini jauh dari kata wisata hiburan.
  3. Uhm… ada yang ingin menambahkan lagi? Yuk tulis di komentar…
SAM_0608ok

Vandalisme di Jembatan Barito. Yang seperti ini nggak ada bagusnya deh!

Tapi dari sekian model orang jalan-jalan, menurut saya, tolong jangan ditiru deh model yang seperti ini:

  1. Lihat film tentang petualangan, terus bergaya ikut-ikutan meniru film itu, eh ternyata film yang ditiru itu sesat! Saya nggak mau sebut filmnya apa, karena kayaknya kebanyakan dari kalian sudah tahu. Endingnya, akhirnya jalan-jalan tapi merusak alam atau bahkan membahayakan diri sendiri. Entah ke mana malah kemudian nasionalisme itu berada.
  2. Jalan-jalan lalu bergaya mengabadikan momen indah untuk selamanya. Kebanyakan jatuhnya di vandalisme. Misalnya, menuliskan namamu dan pasangan pada gua yang konon bersejarah sejak zaman prasejarah. Yang seperti ini, yakin deh, tidak akan dihargai sama sekali oleh manusia modern di generasi berikutnya. Memangnya situ manusia purbakala yang membuat bentuk telapak tangan lalu jadi pengamatan ahli sejarah zaman sekarang?
  3. Tidak tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat tujuan. Atau, tempat yang sesungguhnya cagar alam, yang bila masuk ke sana kita harus izin terlebih dulu, tapi kita menjadikannya tempat wisata. Pernah suatu ketika, saya dan teman pergi ke bukit kerang peninggalan prasejarah yang ada di Bintan. Sewaktu ke sana, ada beberapa orang yang dengan santainya naik-naik ke puncak gunung atas bukit kerang yang umurnya sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Fatalnya, saya ikut-ikutan! Karena tempat ini baru ditemukan sehingga masih belum diteliti secara mendalam oleh para sejarahwan, banyak warga yang awam sehingga tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Nah, setelah turun dan ngobrol dengan seorang warga yang ditugasi untuk sementara mengawasi tempat tersebut, barulah saya sadar. Fuih, rasanya saya menyesal sudah ceroboh.

    Pengunjung yang sewaktu saya datang masih bisa duduk di atas bukit

    Mbak-mbaknya sedang duduk cantik di atas tumpukan sampah kerang peninggalan prasejarah. Padahal kerang-kerang itu rapuh dan mudah rusak.

Intinya, kalau kita memang sayang sama tanah air Indonesia kita ini, ayo jalan-jalan. Tapi asal jangan jalan-jalan yang asal ya. Kembali ke pertanyaan, jadi menurut kamu duluan mana hayo, jalan-jalan atau nasionalisme?

“Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia”

Pelajaran Silaturahmi di Idul Fitri

 

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

silaturahmi

(Sumber foto: sadikemonikafitriani.blogspot.com)

 

Menjadi anak dari orangtua dan cucu dari mbah yang dituakan itu sangat melenakan saya. Dulu saat saya lajang, setiap lebaran, saya suka nongkrong anteng di rumah atau di rumah mbah. Nggak perlu capek-capek keliling. Toh saudara-saudara yang lain pastinya akan berdatangan ke rumah untuk bersilaturahmi lebaran. Jadi, saya tinggal ikut saliman deh.

 

Semuanya berubah saat saya menikah. Kondisi yang pertama, suami saya tinggal di desa dengan tradisi saling kunjung. Rasanya, satu desa itu harus dikunjungi semuanya. Sedangkan kondisi kedua, ehm, suami saya ternyata hobi bersilaturahmi!

 

Karakter saya dan suami memang beda untuk urusan hubungan sosial. Saya tipe introvert dan kurang suka bertemu banyak orang. Sementara suami, tipe ekstrovert yang senang berkomunikasi dengan orang banyak.

 

Dua kali lebaran terakhir ini, saya resmi melepas status lajang. Artinya, ya saya harus ikut suami juga keliling-keliling silaturahmi. Kondisi istimewanya, di lebaran tahun lalu saya dalam kondisi hamil, sedangkan lebaran tahun ini punya seorang bayi yang ke mana-mana harus digendong.

 

Saat lebaran, saya sampai harus sering pasang muka cemberut karena kelelahan. Suami saya mengajak berkunjung ke tetangga-tetangga desa. Kalau bawa badan sendiri sih enak. Lha sekarang ini harus sambil gendong bayi euy! Rasanya kaki saya sungguh lelah. Dari satu rumah ke rumah lain, langkah kaki saya sampai tersaruk-saruk.

 

Dan yang membuat saya gemas, suami cuma ketawa melihat ulah saya sambil berkomentar, “Biar kenal orang di sini.”

 

Saya sendiri memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan suami. Kalaupun saya minta bergantian menggendong bayi, suami saya tidak bisa menggunakan gendongan langsung pakai seperti yang biasa saya pakai. Jadilah mau tidak mau saya sendiri yang harus menggendong si kecil.

 

Pikiran saya tentang betapa menyebalkannya harus bersilaturahmi ke banyak orang itu sedikit demi sedikit berubah saat saya diajak mengunjungi keluarga atasannya dulu sewaktu bekerja di Surabaya. Waktu itu saya pikir, “Ngapain sih keluarganya mantan atasan saja kok harus didatengin?”

 

Yah, mungkin di situlah Allah punya cara berkomunikasi dengan saya. Selama berkunjung ke rumah tersebut, suami saya dan mereka tampak akrab berbincang-bincang. Uniknya meski didatangi suami saya yang sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan mereka, keluarga mantan atasan suami saya tersebut cukup ramah.

 

“Iya ya, lama lho kamu itu nggak main ke sini. Tapi bener, silaturahmi itu memang jalannya rezeki,” ucap keluarga mantan atasan suami.

 

Deg! Saya langsung tercenung. Saya perhatikan dan mencoba menarik kesimpulan, mungkin itulah mengapa orang yang saat itu sedang saya kunjungi bisa sukses memiliki usaha les pelajaran untuk anak-anak sekolah.

 

Hingga beberapa hari kemudian pikiran saya tentang silaturahmi pun lalu berkelana ke beberapa hal. Salah satunya adalah tentang cerita ibu saya bahwa konon, salah satu orang kaya di kota tempat saya tinggal itu sebetulnya masih punya hubungan darah dengan keluarga ibu. Namun karena perbedaan ekonomi, jadilah lambat laun hubungan silaturahmi dengan mereka jadi merenggang.

 

Hal lain yang saya renungkan adalah tentang sudah banyaknya generasi di tingkatan mbah yang sudah tidak ada. Jika saya ingat-ingat, saya bahkan sampai tidak tahu siapa anak padhe saya yang masih satu mbah buyut dengan saya. Jika dibiarkan, wah, jangan-jangan silaturahmi itu bisa putus di generasi anak saya nanti.

 

Sementara itu jika dibandingkan suami saya, ia bahkan rela mengajak saya dan si kecil untuk bersilaturahmi ke sepupu-sepupu suami yang dengar-dengar sih, mereka kurang mau bersilaturahmi dengan keluarga suami saya. Tapi suami tidak memermasalahkan hal itu. Karena baginya, inti dari silaturahmi itu lebih penting dari pada memikirkan siapa dan bagaimana orang lain punya cara beda bersilaturahmi dengan kita.

 

Nah, karena Allah saja sudah mau berkomunikasi dengan saya dengan cara hikmah yang membuat saya merenung itu, maka saya pikir, saya harus berubah. Seperti dalam hadis yang berujar jika silaturahmi itu berkaitan dengan rezeki dan umur, jadi saya tidak mau jika dua hal itu Allah sempitkan untuk saya.

 

Jadilah di tahun ini, saya mulai mengajak si kecil untuk bersilaturahmi ke rumah pakdhe dan budhe, yang merupakan sepupu ibu saya, yang rumahnya berjarak dekat dari rumah tempat saya tinggal. Pikir saya, kebangetan deh kalau rumah sedekat itu kok saya yang muda ini nggak mau berkunjung ke mereka. Padahal saat saya melahirkan, mereka mau berkunjung ke rumah untuk menengok saya.

 

Seperti yang suami pernah katakan ke saya, saya harus memerkenalkan saudara-saudara ke anak saya agar anak saya kelak tidak menjadi sosok yang kaku hingga tak mau kenal saudara. Jadi jika saya ingin anak saya tidak seperti itu, maka saya sendiri dulu kan yang harus berubah? Dan di Idul Fitri tahun ini, buat saya, Allah memberi pelajaran  momen silaturahmi untuk membuat saya menjadi lebih baik.

11231684_726139134158452_6792884820157637012_n

Berfoto bersama keluarga besar suami. (Sumber foto: koleksi pribadi)