Mewaspadai Extrapyramidal Symptoms

Saya benar-benar tidak akan lupa atas apa yang terjadi pada anak saya beberapa hari lalu. Bayi yang baru beberapa hari melewati usia satu tahunnya itu harus melewati sembilan jam kondisi otot kaku yang tak saya sadari sedikitpun.
Semua berawal saat ia mengalami muntah-muntah sebanyak empat kali sejak Selasa siang hingga malam. Lalu makin malam, perutnya kembung. Suhu badannya juga makin naik.
Karena bayi saya tidak suka minum obat dan saya pun berusaha sebisa mungkin memilih cara alternatif, akhirnya saya buatkan campuran irisan bawang merah dan minyak telon. Setelah itu, saya usap bagian perut, punggung, dan telapak kakinya dengan campuran tersebut.
Pagi harinya, kondinya tak juga membaik. Akhirnya saya dan suami berinisiatif membawanya ke bidan yang terkenal kerap menyembuhkan anak-anak yang sakit. Sepulang dari sana, saya mendapat tiga obat: antimual-muntah, antikembung, dan lactobacylus. Ketiganya lalu segera saya minumkan. Dan di situlah semuanya bermula.
Awalnya bayi saya pada akhirnya bisa tertidur pulas. Namun ketika bangun, lambat laun keceriaannya berubah menjadi wajah mungil yang terus menatap ke arah atas. Semula saya kira ia tertarik pada benda yang sedang dilihatnya. Saat saya ambilkan benda tersebut, tangannya menampik.
Beberapa waktu kemudian posisi tidurnya saya ubah. Kembali ia menatap ke arah atas. Saya telusuri apa yang menarik perhatiannya. Saat menjumpai bayangan beberapa boneka besar yang kerap tak ia suka, sudut itu lalu ditutupi koran oleh ibu saya.
Pandangannya tak juga beralih. Saya dan ibu mulai gelisah. Akhirnya bayi saya digendong ibu. Ia pun berujar, mungkin anak saya sawan pengantin karena beberapa waktu lalu diajak ke pengantin. Ibu lalu mendesak suami saya untuk memintakan bedak pengantin untuk diusap ke tubuh anak saya.
Makin lama, tatapan mata anak saya makin terlihat kosong. Ia masih sering menatap ke atas. Malah saat saya susui, saya lihat matanya menjadi juling. Tak hanya itu, makin sore, tubuhnya makin lemah. Anak yang biasanya penuh teriakan, tawa, dan kaki yang aktif menendang, saat itu tidak lagi saya jumpai. Ia bahkan hanya dia tak mau saya susui.
Suami saya lalu mengajak untuk membawa si kecil ke dokter anak. Di situlah kami baru tahu, ternyata ada dua obat yang seharusnya tidak boleh diminumkan. Obat yang maksudnya untuk mengatasi kembung, malah merupakan obat maagh. Padahal anak saya tidak maagh. Lalu yang paling membuat saya terkejut adalah obat antimual yang karena inilah anak saya menjadi terlihat aneh.
Saat itu saya bertanya, kenapa anak saya jadi melulu menatap ke atas. Padahal sampai pagi hari itu tidak demikian.
“Ya itu akibat obat antimualnya itu. Dulu saya pernah ketemu kasus kayak gini. Anaknya sampai melotot terus ke atas terus kejang-kejang. Orang tuanya sudah manggil para normal segala. Padahal anaknya kena efek obat itu.”
image

Saya dan suami langsung merasa lega. Selain jadi tahu penyebabnya, kami pun jadi makin percaya bahwa tidak ada yang namanya sawan penganten.
Segera kami pulang ke rumah. Namun saat kami usai shalat maghrib, saya yang sedang meracik bubur untuk anak saya, dikejutkan oleh suara suami yang meminta saya segera datang.
“Mi’, anake kena apa iki lo?”
Saya lihat kedua tangan anak saya mengepal kencang. Sebisa mungkin suami saya mencoba mengendurkan kepalan tangannya. Sadar apa yang terjadi dengan sekilas teringat masa kecil adik saya yang kerap kejang, saya cek mulut anak saya. Gigi-giginya sedikit mengatup. Namun tidak begitu kencang menggigit.
Segera saya angkat dan saya dudukkan ia di pangkuan saya. Pelan-pelan, saya suapi ia dengan biskuit bayi kesukaannya dengan tujuan agar ada sesuatu yang bisa ia gigit. Sementara itu, suami saya segera melarikan motor kembali ke dokter anak sebelumnya karena saat kami telepon, pihak klinik malah meminta kami untuk datang meminta obat antikejang.
Lambat laun bayi kecil saya mengendurkan kepalan tangan dan katupan giginya. Lega melihatnya pelan-pelan mau makan. Meski alam hati saya bingung, kenapa saya merasakan tubuhnya gemetar di pangkuan saya. Saat melihat gelas, ia merengek yang saya pahami sebagai kebiasaannya meminta minum.
Usai minum, saya minumkan sekalian obat dari dokter anak. Obat berhasil masuk. Sesudah itu, saya lihat ia menjulur-julurkan lidahnya. Saat saya beri air putih, ia seperti kesulitan menelan. Segera saya susui. Senang rasanya saat ia kembali mau menyusu.
Namun beberapa saat kemudian ia malah menggigit dan terus makin kuat. Saya lepas sebisa mungkin dan saya ganti dengan jempol saya. Gigitannya makin mengencang hingga saya kesakitan. Sambil panik, ibu segera mencari perban untuk mengganjal.
Pikiran kami sama, langsung segera membawa ia ke IGD. Bergegas ibu menggendong bayi saya dan membawanya pergi. Sementara saya terpaksa menunggu beberapa saat di rumah karena suami belum pulang dari dokter anak dan ayah saya masih keluar membeli lauk makan malam.
Saat akhirnya saya dan suami bisa menyusul becak yang dinaiki ibu, segera saya angkat bayi saya agar lebih cepat sampai ke IGD.
Petugas IGD langsung menyediakan tempat tidur dan obat-obatan. Setelah saya ditanya berat badan si kecil, selang oksigen segera dipasang. Obat segera dimasukkan ke dalam dubur. Alat deteksi jantung dijepitkan di jempol kaki anak saya.
Senyum saya pecah saat melihatnya bisa teriak lagi, menangis, dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Karena hampir seharian, saya sulit menjumpai itu semua.
Semua tanda tanya besar saya terjawab saat dua kali kunjungan dokter anak yang mengecek kondisi bayi saya selama opname dua hari berturut-turut.
  – Anak saya tidak kejang akan tetapi mengalami Extrapyramidal symptoms. Karena jika kejang, ia tidak bersuara. Beda dengan ekstrapiramidal di mana saat itu ia masih bisa mengelurkan suara rintihan tangis. Benar-benar pengetahuan baru buat saya dan juga para dokter muda yang mengikuti dokter anak yang sedang kunjungan. Karena di histori lembar data anak saya, kasus yang dialami anak saya ditulis dengan bahasa kejang. Padahal aslinya seharusnya bukan.
  – Semua yang terjadi pada anak saya adalah akibat zat metoclopramide. Obat antimual dengan kandungan ini sebetulnya tidak boleh diberikan pada anak-anak. Dari hasil cerita dengan bulek saya atau saat baca di internet, ada beberapa orang yang bisa mengalami efek samping berupa kejang otot. Ada yang lehernya kaku. Sementara adik sepupu saya pernah sampai tergulung ke belakang lidahnya.
Extrapyramidal symptoms memang efek samping dari obat anti mual yang jika tidak diwaspadai, bisa berlarut-larut dan akhirnya fatal akibatnya.
Ini akan jadi catatan bagi histori kesehatan untuk anak saya. Ke depannya, saya maupun ia, harus waspada dengan zat metoclopramide. Meski apapun merk obatnya.
Satu hal yang juga saya syukuri, alhamdulillah ia selamat dari kecerobohan saya yang tidak paham bagaimana mengatasi anak dengan kondisi kejang atau extrapyramidal symtomps. Seharusnya, saya tidak boleh menyuapinya atau memasukkan tangan untuk mengganjal giginya yang mengatup rapat.
Kini saya jadi lebih waspada untuk selalu siap sedia termometer dan obat penurun panas. Sebelumnya, saya akui kalau saya itu ‘ndablek’ dengan yang namanya suhu tubuh si kecil. Pasalnya, saya amati bayi saya mirip dengan abinya yang kerap memiliki suhu tubuh lebih tinggi dari orang kebanyakan. Biasanya jika sumeng, saya cukup susui saja dan setelah itu ia banyak berkeringan lalu kembali normal.
Terus saya berharap, ia tak lagi kembali opname di RS baik itu di setiap tanggal 30 Desember maupun waktu-waktu lainnya. Ya, seminggu setelah lahir, tahun lalu bayi saya harus opname tiga hari dua malam di NICU karena kuning. Tahun ini, di tanggal dan waktu yang sama ia kembali harus opname di RS.

Melestarikan Jamu dalam Program Green and Clean

Namanya Kampung Delapan Dewa. Hm, terdengar keren ya, namanya? Awalnya, daerah tempat saya tinggal yang berada di Jalan Made Karyo VII, RT 3 RW 8 Perumnas Made Lamongan ini tak punya nama kampung. Lalu ketika pemerintah Kabupaten Lamongan menggalakkan program Green and Clean yang mengusung gerakan penghijauan dan lingkungan hunian yang sehat, daerah tempat saya tinggal itu kemudian memiliki nama yaitu Kampung Besek.

Nah, buat yang penasaran dengan nama Delapan Dewa atau belum tahu itu sebetulnya diambil dari nama apa, yuk, saya cerita sedikit. Suatu ketika, tetangga saya, Pak Tik, yang berprofesi sebagai marinir dan sering bertugas ke berbagai penjuru daerah di Indonesia, pulang dengan membawa tanaman. Lalu ditunjukkanlah tanaman itu ke ayah saya yang hobi bercocok tanam. Katanya Pak Tik, buah tanaman itu berkhasiat untuk mengatasi darah tinggi. Karena saat itu warga di tempat saya tinggal sedang rajin berbenah lingkungan demi program Green and Clean, ayah pun memerbanyak tanaman tersebut di beberapa pot dan diletakkan di depan beberapa rumah.

Hingga suatu ketika, warga di tempat saya tinggal mengadakan rekreasi dan mengunjungi produsen Jamu Dayang Sumbi di daerah Mojokerto. Nah, tanaman yang waktu itu masih belum diketahui namanya itu ternyata banyak dibudidayakan di sana. Waktu saya ikut ke sana, rasanya gemas banget melihat tanaman itu tumbuh subur dengan buah yang berukuran lebih besar dari tanaman yang ada di lingkungan tempat saya tinggal.

Delapan Dewa fix

Tanaman Delapan Dewa yang menjadi ‘maskot’ RT 3 RW 8 Made Karyo Perumnas Made Lamongan dalam ajang Green and Clean. Buah dari tanaman ini bisa digunakan untuk bahan baku jamu. Bahkan, beberapa warga di tempat saya tinggal kerap memetik dan langsung mengonsumsinya jika merasa pusing akibat darah tinggi yang sedang kambuh. (Foto: koleksi pribadi)

Saat itu barulah kami tahu kalau nama tanaman tersebut adalah Delapan Dewa dengan khasiatnya yang lain yaitu sebagai obat keputihan. Sepulang dari sana, panitia Green and Clean daerah saya merumuskan konsep lingkungan yang baru untuk persiapan lomba. Nama kampung pun berubah menjadi Delapan Dewa. Pasalnya, di sekitar tempat saya tinggal telah begitu banyak tanaman Delapan Dewa yang ditanam di depan rumah warga.

Selain tanaman Delapan Dewa yang sekilas terlihat sebagai tanaman hias, sebetulnya banyak lagi tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan baku jamu atau untuk pengobatan. Di daerah tempat saya tinggal, tanaman-tanaman itu tidak hanya dikumpulkan di area Tanaman Obat Keluarga atau TOGA saja. Akan tetapi tanaman-tanaman ini pun ditanam bersanding dengan tanaman hias dan tanaman berbuah.

Misalnya tanaman binahong. Di lingkungan tempat saya tinggal, tanaman ini bahkan bisa dijumpai hingga tiga jenis. Ada jenis yang bertangkai hijau dengan buah berwarna hitam jika sudah masak, jenis yang bertangkai merah dengan daun hijau, dan binahong merah yang bertangkai dan berdaun merah. Warga lalu menjadikan tanaman-tanaman obat ini sebagai jamu jika dibutuhkan. Misalnya saat adik ipar saya usai operasi, langsung saja memetik daun binahong dan menyeduhnya.

binahong fix

Tiga jenis binahong yang ada di lingkungan sekitar rumah saya. Tanaman ini kerap digunakan warga untuk memercepat penyembuhan luka dengan cara menyeduh daunnya. (Foto: koleksi pribadi)

Konon, khasiat meminum seduhan daun binahong itu bisa membantu memercepat penyembuhan luka. Binahong juga bisa digunakan untuk menyembuhkan batk, radang paru-paru, dan untuk menambah vitalitas tubuh. Uniknya, di desa tempat suami saya tinggal, tumbuhan ini tumbuh liar dan biasanya sering digunakan untuk makanan ternak kambing saja lho.

Memertahankan keberadaan TOGA dalam program Green and Clean juga dilakukan gang lain yang ada di Perumnas Made. Di daerah RT 2 RW 5 yang menamakan daerahnya dengan Kampung Punokawan, saya menjumpai keberadaan TOGA yang ditata dengan rapi, berlatar baliho bergambar tanaman-tanaman TOGA berikut manfaatnya. Jadi siapapun bisa tahu, tanaman apa dan apa khasiat dari tanaman tersebut.

?????????????

Kebun TOGA di Kampung Punokawan Perumnas Made yang ditata dengan rapi dan informatif bagi siapa saja. (Foto: koleksi pribadi)

Hal serupa juga saya jumpai di daerah Tumenggungan. Di situ ada sebidang tanah yang ditanami dengan tanaman-tanaman yang tergolong dalam TOGA, yang setiap tanaman tersebut diberi label nama berikut khasiatnya.

Toga Tumenggungan

Kebun TOGA di Temenggungan, Lamongan. Tiap tanaman diberi label nama tanaman berikut manfaatnya. (Foto: koleksi pribadi)

Jika dulu tanaman-tanaman yang tergolong dalam TOGA identik dengan tanaman berumbi seperti jahe, kunyit, atau kencur yang menjadi bahan dasar jamu pada umumnya, kini dengan semakin majunya perkembangan informasi, kondisi itu mulai berubah. Tanaman yang biasa ditanam sebagai tanaman hias sekalipun ternyata bisa digunakan sebagai bahan jamu atau pengobatan. Hanya saja ketika informasi tersebut makin banyak tersebar di dunia maya, keberadaan jamu yang sesungguhnya bisa dibuat sendiri dari tanaman-tanaman yang ada di sekitar, masih terasa kurang berkembang.

Kalau dari yang saya amati, inilah kondisi-kondisi yang terlihat:

  • TOGA masih kerap dihadirkan sebagai pajangan pelengkap di lingkungan tempat tinggal. Tanaman-tanaman ini ditata dengan rapi namun keberadaannya kurang dimanfaatkan sesuai khasiat dari tanaman tersebut.
  • Orang ingin praktis. Jadinya saat sakit, lebih memilih ke dokter, membeli obat, dari pada memanfaatkan tanaman obat-obatan sebagai jamu untuk dikonsumsi. Darah tinggi kambuh? Mending langsung konsumsi obat dari pada mengunyah butiran buah Delapan Dewa.
Dayang Sumbi3

Orang awam sering tahu tanaman ini sebagai tanaman hias. Tapi ternyata, ada khasiat di balik tanaman tersebut. (Foto pribadi diambil di kebun TOGA Dayang Sumbi)

  • Informasi tentang khasiat setiap tanaman kurang begitu diketahui banyak orang. Kok bisa? Pasalnya, mereka yang tahu khasiat tanaman ini adalah orang yang rajin bersentuhan dengan dunia maya. Contohnya orangtua saya sendiri saja. Ayah saya itu begitu menggilai tanaman Euphorbia. Tapi karena ayah saya tidak pernah bersentuhan dengan internet, beliau jadi tidak tahu kalau tanaman hias kesayangannya itu sesungguhnya bisa jadi bahan jamu.

Sementara itu saya sendiri sempat takjub juga waktu tahu berbagai manfaat tanaman yang kerap saya jumpai di sekitar rumah. Misalnya tanaman-tanaman berikut ini:

  • Euphorbia: untuk mengobati diare akut, malaria, demam, membunuh serangga, radang anak telinga, sakit gigi, hepatitis, bisul, pendarahan pada menstruasi, luka bakar, sesak napas, rematik, sembelit, dan gigitan ular.
Euphorbia

Euphorbia. (Foto koleksi pribadi)

  • Kembang Kertas: bisa untuk mengobati disentri, panas dalam, kencing nanah, batuk rejan, dan bisul.
Kembang Kertas

Kembang Kertas. (Foto koleksi pribadi diambil di kebun TOGA Temenggungan)

  • Mawar: dapat digunakan untuk menghilangkan jerawat, perawatan kulit, kesehatan rambut, kesehatan mata, bengkak pada kaki, kanker payudara, batuk kering, haid tidak lancar, dan radang sendi
Mawar

Mawar. (Foto koleksi pribadi)

  • Melati: bisa untuk mengobati sesak napas, demam dan sakit kepala, sengatan lebah atau serangga, sakit mata, menurunkan berat badan, mencegah kolesterol, mencegah penuaan, membuat rambut menjadi kuat, mengobati susah tidur, stres, menyeimbangkan gula darah, mengobati jerawat di wajah, bahan masker tubuh, mengobati radang usus, demam berdarah, radang ginjal, dan daunnya bisa untuk menghentikan ASI.
Melati

Melati. (Foto koleksi pribadi diambil di kebun TOGA Temenggungan)

  • Adenium atau Kamboja Jepang: bisa untuk mengobati luka sayatan baru, kaki pecah-pecah, kaki bengkak
Kamboja Jepang

Adenium. (Foto koleksi pribadi)

Itu baru segelintir tanaman berbunga cantik yang saya tahu khasiatnya dari internet. Seringnya, saya sendiri tidak tahu nama tanaman yang ada di sekitar saya. Andai tahu, lalu googling di internet, yakin deh, selalu ada saja manfaat tanaman yang bisa digunakan sebagai bahan jamu untuk pengobatan. Asalkan, kita juga harus tahu cara mengolah berikut takaran bahan dan cara mengonsumsinya.

Keberadaan TOGA, atau program lomba penghijauan lingkungan tempat tinggal seperti program Green and Clean, sebetulnya begitu dekat sebagai upaya pelestarian jamu di Indonesia. Namun TOGA yang bisa dimanfaatkan sebagai jamu untuk pengobatan atau menjaga kesehatan tubuh pun kurang terlihat keberadaannya dalam kehidupan sehari-hari.

Jamu di kalangan masyarakat Indonesia masih kerap diidentikkan dengan jamu gendong, rasa yang pahit, dan cara pembuatan atau konsumsi yang tidak praktis. Walaupun kini sudah ada jamu yang dikemas dalam bentuk lebih modern seperti atau sirup dalam sachet, tetap saja keberadaan jamu masih kurang dimaksimalkan penggunaannya.

Padahal, definisi jamu itu sendiri (kalau yang saya dapat dari KBBI) adalah obat yang dibuat dari akar-akaran, daun-daunan, dan sebagainya. Dari sebuah situs yang saya baca, jamu merupakan bahan obat alam yang masih berupa simplisia sederhana seperti irisan rumpang, daun, dan akar kering. Jadi kalau misalnya ibu saya menyeduh daun sirih merah yang diambil dari depan rumah untuk mengobati darah tinggi, sebetulnya ibu saya itu sedang membuat dan mengkonsumsi jamu, lho.

Karena melihat fenomena TOGA dan program penghijauan yang begitu dekat dengan kegiatan melestarikan keberadaan jamu di Indonesia namun tak kunjung menyentuh aksi pelestarian jamu itu sendiri, saya jadi terpikir beberapa hal.

  • Saya tertarik dengan yang dilakukan para warga di Kampung Punokawan Made Mulyo. Jika jalan-jalan melewati gang daerah itu, saya bisa tahu, tanaman apa khasiatnya apa dan wujud tanamannya seperti apa. Wawasan siapapun jadi bertambah dengan keberadaan TOGA yang dibentuk dengan cara seperti ini.
  • Andai saja tak hanya program lomba penghijauan, saya pun berharap suatu ketika ada program lomba gerakan hidup dengan jamu. Biar masyarakat jadi berlomba-lomba mencari tahu dan kemudian benar-benar memanfaatkan pengetahuannya tentang manfaat tanaman untuk mengobati dirinya sendiri dan atau orang lain.

Saat awal program Green and Clean dicanangkan, jujur, saya meremehkan lomba ini. Ah, paling-paling jadi ajang tren musiman dan tidak menyentuh esensi dari maksud penghijauan itu sendiri, pikir saya waktu itu. Tapi ternyata di kemudian hari, saat orang merasakan enaknya lingkungan hijau, masyarakat pun memertahankan upaya penghijauan. Tidak lagi menjadi ajang aji mumpung lomba.

Seperti itu juga yang saya harapkan dari lomba gerakan hidup dengan jamu. Masyarakat sepertinya harus diajak bereuforia dulu dalam keseruan lomba. Saat pada akhirnya mereka merasakan manfaat enaknya minum jamu bagi tubuh, istilah tren minum jamu pun berubah menjadi kebutuhan dan kebiasaan.

  • Ada baiknya keberadaan TOGA tidak hanya sebagai pajangan, pelengkap ajang penghijauan. Segala tanaman yang ada di TOGA hendaknya benar-benar dimanfaatkan oleh warga sekitar.
TOGA

Kebun TOGA. (Foto koleksi pribadi)

  • Langkah edukasi tentang jamu, khasiat beberapa tanaman, berikut cara pengolahannya rupanya perlu juga dikembangkan ke masyarakat. Seperti yang tadi sudah saya katakan, ada lho generasi orang-orang yang tidak pernah bersentuhan dengan internet hingga tidak tahu informasi terkini tentang khasiat tanaman yang ada di sekitarnya. Karena itu saya acungi jempol untuk beberapa produsen jamu yang memberikan kesempatan kepada masyarakat umum untuk mengunjungi tempat produksinya dan bisa berjalan-jalan ke area perkebunan atau taman yang ditata sedemikian rupa sehingga masyarakat bisa tahu jenis tanaman berikut khasiatnya. Seperti produsen jamu Dayang Sumbi yang membuat tanam TOGA untuk tempat rekreasi masyarakat umum.
Dayang Sumbi2

Ada pemandu di kebun TOGA Dayang Sumbi yang siap menerangkan kepada para pengunjung tentang manfaat berbagai tumbuh-tumbuhan yang ada berikut cara menggunakannya. (Foto kolesi pribadi)

Dayang Sumbi1

Warga RT 03 RW 08 Perumnas Made Lamongan mengunjungi kebun TOGA Dayang Sumbi di Mojokerto. (Foto koleksi pribadi)

  • Di program Green and Clean, saya tertarik dengan keberadaan kader anak-anak yang harapannya mereka pun bisa turut serta membantu aksi penghijauan. Hal semacam ini ada baiknya bisa diadakan juga dalam paket lomba pelestarian jamu di masyarakat.

Saya jadi ingat keponakan saya yang berusia 5 tahun. Sejak usia 3 tahun, ia terbiasa mengenal dekat tanaman delapan dewa sebagai obat. Maksudnya, ia sering bermain sambil dimintai tolong tetangga saya untuk memetiki buah delapan dewa dan lalu dikonsumsi tetangga saya itu. Yang namanya anak kecil, disuruh mainan memetik buah-buah kecil warna merah, ya dianya senang saja. “Ayo Fa, Mbah Muin kepalanya lagi sakit nih. Ambilin buah delapan dewa yang merah-merah, ya,” itu yang kadang dilakukan tetangga saya sambil duduk santai dan bermain dengan keponakan saya. Alhasil, saat suatu ketika mbah kakung saya mengeluh sakit pusing, Rafa keponakan saya itu bisa refleks memetiki buah Delapan Dewa di pekarangan rumah untuk diberikan ke mbah kakung saya, lho.

Saat keberadaan jamu makin lestari di masyarakat Indonesia, saya yakin, akan makin banyak masyarakat yang sadar untuk hidup sehat dengan kondisi tubuh yang makin sehat. Kalau program Green and Clean bisa jadi tren atau gaya hidup, kenapa tidak gaya hidup mengkonsumsi jamu buatan sendiri dari tanaman di sekitar kita juga bisa demikian halnya, bukan?

Asrinya hunian hijau

Lingkungan hunian yang hijau, asri, di mana aneka tanaman hias, berbuah, bahkan obat bisa dijumpai di banyak daerah di Lamongan. (Foto koleksi pribadi)

Bahan penunjang tulisan:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/1199-herbal-plants-collection-mawar

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/569-herbal-plants-collection-melati

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/593-herbal-plants-collection-binahong

http://manfaat.co.id/18-manfaat-bunga-melati-untuk-kesehatan-dan-kecantikan

http://www.khasiattumbuhan.com/2014/04/manfaat-tanaman-kembang-kertas.html

http://tanaman–herbal.blogspot.com/2015/01/manfaat-dan-khasiat-bunga-euphorbia.html

http://manfaatbuahdaun.blogspot.com/2014/02/manfaat-bunga-mawar.html

http://www.manfaat.info/manfaat-adenium-kamboja-jepang-bagi-tubuh/

http://www.kompasiana.com/adityasetiawan/kebun-toga-dayang-sumbi-mojokerto-plesiran-sambil-berobat_54f84b5fa3331163648b4dbc

http://lansida.blogspot.com/2011/04/bedanya-jamu-herbal-terstandar-dan.html

Jadi Mbok Jamu Kunyit Karena Typhus

Oleh: Ika Maya Susanti

Ada saat di mana hari-hari saya selama hampir sebulan penuh harus menjadi mbok jamu di setiap sore hari. Setiap pulang kuliah, saya harus memarut kunyit, memeras, dan meminumnya dengan dicampur madu terlebih dahulu.

Ceritanya sewaktu dulu kuliah, hampir sebulan saya harus isirahat di rumah Lamongan karena sakit typhus. Tapi istirahat itu tidak membuat saya pulih seperti sedia kala dalam waktu yang cepat. Bagaimana tidak, pikiran saya ada di Malang. Saya bingung memikirkan bagaimana tertinggalnya materi perkuliahan saya, tugas-tugas yang belum saya kerjakan, dan beberapa ujian dari dosen.

Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke Malang meski kondisi yang belum sepenuhnya fit. Namun ada yang saya dan ibu saya khawatirkan jika saya harus kembali kuliah. Obat dari dokter yang hampir habis sementara tubuh saya tidak kunjung benar-benar sehat. Masih ada rasa nyeri di bagian perut jika saya agak banyak bergerak.

Suatu ketika, ibu saya diberitahu oleh seorang saudara untuk membuat jamu kunyit madu dan itu harus diminum setiap harinya. Dan menurut banyak penelitian, satu dari sekian manfaat kunyit adalah untuk mengobati penyakit typhus. Di hari-hari terakhir saya berada di rumah, jamu kunyit madu ini ternyata cukup terasa manfaatnya. Nyeri di bagian perut saya pun jadi agak berkurang dan tidak sehebat seperti biasanya.

Saat harus kembali ke Malang, akhirnya saya harus membawa sekantong plastik kunyit sebagai bekal. Rasanya hampir satu kilo banyaknya kunyit yang saya bawa! Ada alasan kenapa saya harus repot-repot membawa kunyit dari rumah. Kunyit yang dipakai bukanlah sembarang kunyit melainkan rimpang kunyit yang tua.

Ibu saya menyebutnya dengan empunya kunyit. Warnanya lebih tua dan hampir berwarna merah, rimpangnya lebih besar, tidak oranye muda atau berimpang kecil seperti kebanyakan kunyit yang biasa ada di pasar. Kunyit tua ini jarang sekali bisa ditemukan di pasar biasa karena umumnya orang lebih suka memakai kunyit biasa atau yang masih muda untuk memasak. Kunyit tua ini jika diparut memiliki getah yang lebih banyak dari pada kunyit biasa. Warna getahnya agak putih dan cenderung lengket.

Prosesnya biasanya saya memarut kunyit terlebih dahulu, menyeduhnya dengan air panas, lalu setelah agak dingin baru disaring dan dicampur dengan madu. Tentunya semua proses ini membuat tangan saya menjadi kuning. Tak jarang, saya sering jadi bahan olok-olok teman-teman kuliah. Tapi, ya sudahlah, yang penting saya bisa benar-benar sembuh dari sakit yang saya alami itu.

Alhamdulillah, tak sampai sebulan, rasa sakit di perut saya akhirnya hilang. Saya jadi bisa lagi bergerak dan berjalan cepat. Pasalnya selama sakit, saya harus bergerak serba lambat sambil memegangi perut. Ini sungguh sangat mengganggu aktivitas saya.

Karena sakit typhus itu terkadang kerap muncul saat saya terlalu kelelahan, biasanya jika tanda-tanda gejalanya sudah mulai terasa, kunyit inilah yang jadi andalan saya. Jika perut saya kok terasa mulai agak nyeri, lidah saya terasa pahit dan warnanya memutih, badan terasa demam, langsung deh saya mengambil kunyit untuk dijadikan obat.

Tapi karena proses membuat jamu kunyit dengan cara memarut dan memeras itu sangat membutuhkan waktu, saya tidak lagi menggunakan cara memarut dan memeras lagi. Cukup dibersihkan kulitnya lalu saya iris tipis-tipis. Potongan kunyit itu kemudian saya seduh dengan air panas. Jika sudah agak dingin, saya kemudian menuangkan madu ke dalamnya.

Beberapa teman yang tahu kebiasaan saya tersebut memang sering bergidik saat melihat saya meminum air seduhan kunyit. Selalu saja pertanyaannya, “Nggak pahit?” Dan saya hanya menggeleng samil tertawa.

Karena sering meminum seduhan kunyit, saya memang jadi terbiasa dengan rasa kunyit yang menurut saya sih, tidak pahit. Benar lho, rasanya masih lebih pahit bubuk puyer yang harus saya minum saat sakit waktu kecil! Meski tidak diberi madu, saya asyik saja meminum seduhan kunyit itu. Yah, dari pada harus meminum obat yang khasiatnya saja lebih ampuh kunyit, kenapa ia tidak jadi sahabat setia saya saja?

Referensi:
http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-tanaman-koleksi-kunyit

Perlunya Pelestarian Air Tanah di Pemukiman Padat

Oleh: Ika Maya Susanti

Sudah lama keluarga saya dan banyak orang yang tinggal di pemukiman tempat saya tinggal menggantungkan kebutuhan airnya dengan mengandalkan air tanah. Semua ini bermula dari masalah betapa sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya dan keluarga sejak sekitar awal tahun 90-an tinggal di sebuah perumnas yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Oke, bayangkan saja bagaimana bentuk perumnas itu. Ada yang di satu ruas jalan terdiri dari rumah-rumah besar, hingga satu gang yang bisa terdiri dari deretan rapat rumah berukuran tipe 36.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Di tempat saya tinggal, air PAM hanya mengalir di waktu-waktu tertentu saja. Sungguh berbeda dengan daerah pusat kota yang bisa mendapatkan air bersih kapan saja dari keran-keran yang ada di rumah. Itupun tergantung dengan waktu dan siapa yang tinggal lebih dulu dekat dengan aliran air. Rumah-rumah di daerah yang dilewati oleh air terlebih dahulu otomatis bisa terpenuhi dulu kebutuhannya. Sedangkan di ujung jalan yang sama, yang tidak dilewati air terlebih dahulu, nasibnya bisa sebaliknya.

Itu masih belum lagi masalah waktu pengaliran air yang terkadang jadwalnya adalah saat tengah alam atau dini hari di kala orang-orang sedang beristirahat. Ditambah dengan masalah siapa yang dapat lebih dulu, otomatis banyak orang yang kesal dengan kondisi tersebut.

Solusinya, saat di waktu awal-awal saya tinggal di sana, banyak orang giat membuat tandon air. Umumnya diletakkan di bawah yang berada di halaman rumah agar air mudah mengisi ke tandon tersebut. Tapi tetap saja, saat perumnas makin hari makin menambah rumah-rumah baru, jadwal giiliran air yang makin padat, tentunya banyak orang yang sudah sangat tidak sabar dengan masalah ini.

Beberapa orang lambat laun mulai memikirkan untuk mencari solusi lain. Ada daerah RW misalnya yang berinisiatif membuat pompa air manual bertuas untuk dipakai beramai-ramai dengan warga di sekitar tersebut. Warga dari daerah lain sampai ikut mengantri dengan membawa berbagai wadah penampung air dan dibawa atau dipikul bolak-balik ke rumahnya.

Kondisi yang melelahkan itu membuat beberapa orang mulai terpikir untuk mencoba mengebor air tanah di halaman rumahnya masing-masing. Untungnya, rumah saya termasuk yang airnya tawar dan jernih. Sementara di beberapa tempat lain di perumnas tidak demikian. Bagi keluarga saya, solusi air akhirnya terpecahkan. Sering keluarga kami juga menawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan air bersih dari sumber air di depan rumah kami. Dan untuk air PAM, selamat tinggal! Kami akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan meteran air yang ada. Asyiknya, kami tentunya tidak perlu lagi bayar air, begadang demi menunggu air yang itu pun kadang bisa jadi tidak keluar di waktu yang seharusnya, dan bisa menggunakan air kapan saja untuk kebutuhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Apa yang kami lakukan akhirnya ditiru oleh beberapa tetangga dan banyak orang di perumnas pun melakukan hal yang serupa. Namun karena keluarga kami tidak merasa yakin dengan kebersihan air tanah yang kadang bisa berwarna keruh, kami pun mengandalkan air galon. Untuk konsumsi langsung minum, kami menggunakan Aqua. Sedangkan untuk memasak, kami menggunakan air galon isi ulang.

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Kondisi itu sudah berlangsung sejak saya tinggal di akhir-akhir tahun 90-an. Seiring waktu, masalah pun muncul. Saat kemarau, air tanah di tempat saya jadi berkurang debitnya. Warnanya pun kerap makin keruh. Pernah juga sekitar tak sampai lima kali sejak pengeboran air tanah dibuat, kami harus memperdalam kedalaman pengeboran.

Bagaimana tidak, kondisi itu terjadi sejak para tetangga di sekitar kami juga mengandalkan air tanah. Perbandingannya bisa 20 rumah mengandalkan air tanah dan hanya satu saja yang masih setia dengan PAM!

Ini makin diperparah dengan minimnya penunjang pelestarian air tanah. Sangat minim keberadaan lahan terbuka yang memungkinkan air dari permukaan tanah jadi mudah terserap. Di tempat saya tinggal yang berada di gang kecil dengan rumah-rumah tipe 36 yang berjejer padat, hanya sedikit saja yang membiarkan halaman rumahnya tetap ditumbuhi tanaman atau pohon mangga yang menjadi pemberian awal dari pihak perumnas. Perbandingannya bisa senasib dengan kondisi siapa yang punya sumber air tanah dengan yang setia dengan air PAM. Halaman terbatas yang ada kerap digunakan pemilik rumah untuk membuat tandon air sebagai cara mengatasi masalah air di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, akar pohon mangga yang kokoh dirasa tidak cocok untuk menjadikan tanaman tersebut tumbuh di lahan yang terbatas.

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Kesadaran warga akan kelestarian lingkungan alam ini kemudian berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Lomba lingkungan sehat yang kerap diadakan pihak kabupaten hingga nasional membuat warga sekitar pada akhirnya membuat lubang resapan biopori.

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Banyak orang tentunya sudah tahu manfaat dari keberadaan biopori. Beberapa lubang biopori yang ada mampu memudahkan tanah untuk meresapkan air dari permukaan tanah sehingga meminimalisir masalah banjir. Air resapan ini pada akhirnya juga bermanfaat sebagai cara untuk menjaga kelestarian dan volume air tanah yang ada.

Uniknya seperti gambaran yang telah saya sebutkan, lahan terbuka untuk membuat biopori di lingkungan tempat saya tinggal ini sangat terbatas. Bayangkan saja, ada seruas jalan berbentuk gang, lalu got di tepi kanan dan kiri, kemudian area rumah warga. Tentunya dengan masing-masing rumah yang rata-rata telah ditutup permukaan tanahnya.

Akhirnya biopori itu pun dibuat di tengah jalan gang! Ini hal yang sangat dilematis bagi warga di tempat saya tinggal. Pernah ada pihak yang menyalahkan kenapa ada pembuatan biopori di tengah jalan. Namun terbatasnya lahan membuat setiap orang pun harus bertanya, lantas di mana lagi biopori harus dibuat?

Cerita lain dari sulitnya usaha pelestarian air tanah adalah sikap penggunaan air tanah dalam kehidupan sehari-hari. Air tanah yang bisa keluar kapan saja membuat banyak orang terlena dengan kondisi ini. Jujur, penggunaan air tanah ini bisa membuat kami kerap tidak cermat dan irit. Sering air mengalir begitu saja di tengah-tengah aktivitas penggunaannya yang padahal dan seharusnya air itu harus dihentikan.

Sementara itu, peringatan tentang kualitas dan kuantitas kondisi air tanah sudah terlihat di beberapa tahun terakhir. Air yang makin keruh, pun volumenya yang makin sedikit. Saya tidak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisinya di 5 atau 10 tahun mendatang. Kerap saya berpikir, akankah saya dan orang-orang di sekitar saya masih bisa mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Aksi pelestarian lingkungan hidup yang kerap hadir dalam bentuk lomba membuat saya terpikir andai saja ada juga penilaian tentang bagaimana warga di suatu tempat melestarikan air tanah atau bagaimana manajemen yang cerdas dari warga untuk menggunakan air yang ada. Bisa air PAM atau terutama air tanah.

Karena dari lomba yang telah ada sebelumnya, saya melihat justru dari situlah warga tergerak untuk terpacu melestarikan dan menjaga lingkungan alam yang ada. Tidak hanya agar lingkungan terlihat hijau, akan tetapi semoga esensi dari pelestarian alam yang sesungguhnya, bisa juga dimaksudkan untuk melestarikan air tanah yang merupakan bagian dari kekayaan alam yang ada.

Pernah saya ditunjukkan oleh seorang teman bagaimana sikap hidup saat ini terhadap alam mampu memiliki akibat di kehidupan yang akan datang. Waktu itu, saya begitu enteng menanggapinya. Dan tentang keberadaan air tanah, rupanya kini saya lambat laun sudah melihat bagaimana dampaknya jika kita kurang bijak dalam menggunakan sumber air tanah.

Besarnya Manfaat Tanah Bagi Kesehatan

(Termasuk, Kenapa Air Liur Anjing Harus Dibasuh dengan Tanah atau Debu)

Pagi tadi, saya merasa agak terganggu dengan jari kaki saya yang terasa gatal. Sejak SMA, saya memang punya alergi alias tidak tahan dengan detergen yang mengenai daerah jari kaki saya. Jika sudah kena detergen dalam waktu yang agak lama, ada beberapa jari saya yang langsung terasa gatal-gatal. Saya lupa istilah medisnya waktu itu. Jelasnya, apa yang saya alami itu bukanlah kutu air.

Nah, ketika itulah saya lalu teringat dengan tanah. Ya, biasanya jika jari kaki saya sedang bermasalah, yang saya ingat, dulunya saya bisa menyembuhkannya dengan cara berjalan-jalan dengan tanpa alas kaki, dan langsung menginjak tanah.

Saat teringat itu pagi tadi, ingatan saya pun jadi melayang ke sebuah artikel yang pernah saya baca yaitu tentang mengapa dalam Islam air liur anjing harus dibasuh dengan menggunakan tanah atau debu untuk mensucikannya.

Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa melihat artikel yang ada di sini: http://www.indrabpm.co.cc/2010/07/bahaya-air-liur-anjing.htm

Singkat ceritanya, ternyata air liur anjing itu mengandung berbagai kuman atau bakteri penyebab penyakit. Jika setelah terkena air liur lalu mencucinya dengan air sabun saja, menurut artikel tersebut, keberadaan sabun masih belum bisa untuk membuat kuman atau bakteri itu bersih.

Hal menarik lain dari tanah yang ada hubungannya dengan kesehatan tubuh juga bisa teman-teman lihat di dalam artikel ini: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1750718-makan-tanah-demi-kesehatan/

Artikel tersebut cukup unik karena di dalamnya kita bisa membaca tentang manfaat mengkonsumsi tanah yang dilakukan oleh penduduk lokal Uganda dan simpanse.

Tak hanya tanah, hewan yang memiliki kehidupan sangat dekat dengan tanah pun memiliki khasiat yang sangat besar bagi kesehatan. Nah, teman-teman tentunya sudah sering kan mendengar khasiat manfaat mengonsumsi cacing tanah bagi kesehatan? Meskipun masih banyak yang merasa jijik untuk melakukannya, tapi tidak dipungkiri bahwa ada fakta tentang manfaat besar dari mengonsumsi cacing tanah bagi kesehatan, terutama untuk penyembuhan.

Setelah membaca artikel-artikel tersebut, saya jadi punya pikiran seperti ini nih:

  1. Rasanya, rumah beralaskan tanah lebih sehat dari pada rumah yang menggunakan lantai keramik ya? :D
  2. Fenomena khasiat tanah ini juga jadi membuat saya teringat dengan kebiasaan penduduk yang ada di suatu kawasan di Pulau Madura, yang menggunakan pasir untuk bagian dari rumahnya. Termasuk untuk tempat tidur. Kalau teman-teman mungkin sudah tahu, ada nggak ya hasil penelitian yang mengungkapkan korelasi positif antara kebiasaan penduduk di daerah itu dengan kesehatan mereka?
  3. Sepertinya, memungkinkan barangkali ya, adanya pengobatan alternatif dengan cara mengubur tubuh di dalam tanah? (tentu saja dengan kepala di atas tanah) :D

Kesehatan Gigi

Superman pun Sikat Gigi Dulu

            Punya anak dengan gigi sehat putih berderet seperti intan mutiara memang menjadi kebanggaan orang tua. Namun siapa yang tahan kalau mendengar anak merengek meminta ice cream atau permen yang menjadi makanan kesukaannya. Padahal, makanan tersebut sangat membahayakan kesehatan gigi.

            “Kita tidak bisa melarang mereka untuk makan ice cream atau permen. Anak kalau dilarang untuk makan itu susah sekali. Boleh saja makan asal minta mereka untuk sikat gigi setelah itu,” ujar dokter gigi Akira.

            Jika menginginkan buah hati kita memiliki gigi yang sehat, sebetulnya kebiasaan membersihkan gigi harus dibiasakan sejak usia dini. Bahkan sejak bayi mulai memiliki gigi susu.

            “Dari bayi usia empat sampai enam bulan, ia harus rutin dibersihkan giginya walau hanya baru tumbuh satu gigi. Caranya dengan menggunakan kapas atau handuk basah dan dilap giginya,” saran Akira.

            Sedangkan ketika anak menginjak usia dua tahun, mulailah kebiasaan menyikat gigi harus dimulai. Akira menganjurkan, ajarilah anak menggosok giginya dengan sikat dan pasta gigi yang mengandung fluroid. Kebiasaan berkumur juga perlu dibiasakan pada anak usia ini.

            Kebiasaan menggosok gigi ini hendaknya diawali dari kebiasaan orang tua dalam menggosok gigi yang ditunjukkan kepada anak. Untuk menanamkan anak agar senang menggosok gigi, bisa juga dimulai dari kebiasaan mendongeng yang biasa dilakukan oleh orang tua.

            “Bisa juga kan kalau pas orang tua mendongeng, diselipkan pesan-pesan agar anak jadi senang gogok gigi. Misalnya, ada Superman, dia gosok gigi juga kok, Dek,” ibu dari dua putra ini mencontohkan kebiasaan yang bisa dilakukan oleh para orang tua.

            Ketika anak sudah mulai mau melakukan aktivitas menggosok gigi, orang tua juga perlu memberikan contoh cara menyikat gigi yang benar. Baik gigi susu maupun gigi dewasa, cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan sikat dari atas ke bawah dan bukan dari satu sisi ke samping sisi yang lain. Jangan lupa, biasakan juga untuk menyikat lidah karena bagian mulut inipun bisa menyimpan sisa-sisa makanan.

            Setelah anak terbiasa untuk menyikat gigi, orang tua pun tak perlu khawatir lagi apabila melihat si kecil menikmati santapan ice cream atau permen. Asalkan mereka mau menyikat giginya seusai makan, menurut Akira tidak ada masalah.

            Selain kebiasaan menyikat gigi, konsultasi secara rutin ke dokter juga perlu dibiasakan. “Malah kalau dua sudah punya gigi pada umur dua bulan, anak harus dibiasakan dibawa berkonsultasi ke dokter gigi. Konsultasi ini dilakukan setiap enam bulan sekali,” imbuh  dokter gigi Chandra Rizal. (ika)

 

Kandungannya Bauksitnya Rusak Gigi

            Gigi berlubang, gusi bengkak, hingga gigi membusuk. Masalah-masalah tersebut memang begitu mudah ditemui dalam masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri). Terutama bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

            Maka tak heran bagi Kartika, seorang dokter gigi yang sering melakukan bakti sosial di pulau-pulau terpencil bersama dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), ia kerap sampai harus mencabut gigi setiap pasiennya. Tak jarang, 20 lebih dari gigi para pasien pun bisa harus dicabutnya dalam sebuah acara bakti sosial.

            “Ini karena banyak masyarakat di kepulauan yang kurang tahu cara merawat gigi yang benar. Mulai dari cara menggosok gigi sampai faktor air di daerah Kepri yang banyak mengandung bauksit,” ungkapnya.

            Karena itu, Kartika sering mendemokan kepada masyarakat utamanya mereka yang ada di kepulauan tentang cara menyikat gigi yang benar. “Lakukan sikat gigi secara rutin terutama jangan lupa untuk mengosok gigi setiap malam,” pesan Kartika. (ika)

 

Waspadai juga Minuman Bersoda

            Jika para orangtua mencemaskan keberadaan permen, ice cream, atau makanan manis lainnya yang biasa disukai oleh anak-anak, sebetulnya ada satu jenis minuman yang juga harus diwaspadai.

            Sebetulnya, sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwasanya soda sangat tidak baik bagi kesehatan. Selain kandungan gulanya yang tidak baik bagi mereka yang utamanya mengalami kegemukan, soda juga sangat tidak baik bagi pertumbuhan gigi apalagi pada anak.

            Menurut sebuah penelitian tim peneliti dari Southern Illinois University School of Dental Medicine, kandungan asam sitrat pada minuman bersoda mampu mengikis lapisan enamel gigi 10 kali lebih kuat dari pada jus buah.

            Meski kita menggosok gigi seusai meminumsoda, etap saja, minuman bersoda mampu mengikis lapisan gigi kita dalam waktu tiga menit setelah kita meminum soda. (ika)

Menolong Korban Tenggelam

Hindari Berenang Setelah Makan

            Sering masyarakat saling menasehati agar jika setelah makan, jangan langsung berenang. Namun, jarang dari masyarakat yang mengetahui mengapa kegiatan berenang tidak boleh dilakukan sesaat setelah berenang.

            Ternyata menurut Didi Juli Handoko, Training Manager dari Jet Asia, kasus tenggelamnya seseorang saat berenang sering juga disebabkan karena kegiatan tersebut dilakukan setelah makan.

            “Yang pernah kejadian dulu juga seperti itu. Jadi habis makan langsung berenang sehingga terjadi kejang perut. Kalau bisa setengah jam setelah makan itu kita jangan dulu berenang karena ketika makanan yang sudah masuk bisa menyumbat saluran pernafasan,”jelasnya.

            Jika Anda berada di dekat kejadian dimana seseorang tenggelam, maka harus ada seseorang yang menghubungi pihak tenaga medis atau ambulan untuk datang ke lokasi kejadian. Menurut Didi, pertolongan kejadian seperti ini tidak bisa dilakukan seorang diri.

            Sementara itu jika ada dari saksi mata yang mengetahui kejadian tersebut dan bisa berenang sekaligus menyelam, orang inilah yang bisa menjadi penolong korban yang sedang tenggelam.

Jika korban masih bergerak, tolong korban dengan cara membawanya menggunakan tali. Tapi yang terpenting menurut Didi, si penyelamat juga harus dalam posisi selamat lebih dulu untuk bisa menolong korban.

            “Sedangkan kalau korban langsung tenggelam, si penolong harus berenang dan menyelam mengambil korban. Bawa dia ke permukaan dan langsung cek denyut nadinya yang berada di urat leher sambil dibawa ke tepian,”terang Didi.

            Cara menolongnya pun tidak bisa sembarangan. Letakkan kepala korban di bahu kanan, jika si penolong tidak kidal, kemudian angkat dagu korban dan letakkan di dada sebelah kanan dari penolong.

            “Yang terpenting harus diketahui ada yang namanya tehnik ABC. Urut-urutannya yang pertama itu airway atau saluran pernafasannya, breathing atau ada tidaknya nafas, dan circulation atau sirkulasi udara dari korban,”Didi mengingatkan.

            Dalam tehnik A, penolong harus melihat apakah ada atau tidak makanan yang mengganjal dan terdapat di mulut korban. Biasanya kasus orang tenggelam sering diakibatkan oleh adanya makanan yang menyumbat saluran pernafasan.

            Jika dijumpai adanya makanan yang menyumbat, penolong harus mengorek makanan tersebut dengan jari bahkan jika perlu ke bagian kerongkongannya hingga bersih dan tidak ada lagi terlihat makanan yang menyumbat.

            Sedangkan untuk tehnik B, cek ada tidaknya nafas. “Kaitkan pipi kita ke hidung korban dari situ kita bisa cek ada nggaknya nafas dari korban,”imbuh Didi yang masih mengingatkan untuk melakukan hal tersebut di saat penolong menarik korban ke tepian sembari berenang.

            Jika saluran nafas sudah bersih, tiup dua kali mulut korban dengan menutup hidungnya sambil berenang ke tepian dan cek apakah ia sudah lancar bernafas. Lalu yang terakhir adalah tehnik C dengan mengecek sirkulasi udara dari korban.

            Saat penolong sudah berhasil membawa korban ke tepian, bawa ia ke daratan yang datar. Jika korban masih belum membaik, lakukan dua kali tiupan ke mulut sambil menutup hidung dan lalu buka hidung korban. Cek apakah ada udara yang keluar lewat hidung atau tidak. Pertolongan ini dilakukan jika korban paru-parunya tidak bisa berkembang namun jantung masih berdetak.

            Kasus lain yang kadang juga terjadi adalah jika korban tidak dapat terdeteksi denyut nadinya. Jika terjadi seperti ini, lakukan juga 15 kali tekan dada selain dua kali tiup mulut.

            “Yang ditekan adalah tulang sternum yang letaknya di ujung dari tulang kita. Jadi kalau kita meraba tulang dada kita ke bawah itu ada tulang sternum yang letaknya di atas uluhati. Tekan tulang itu dengan tiga jari atas kita dengan hitungan satu detikan. Jadi hitungannya tidak asal,”ujar Didi.

            Biasanya menurut Didi, jika korban baru beberapa menit tenggelam dan bisa tertolong dengan cara-cara pertolongan di atas permukaan air, korban akan merespon dengan muntah. Namun jika yang terjadi korban sudah tenggelam lama, maka hanya kemungkinan kecil korban bisa tertolong meski sudah melewati cara-cara tadi.

            Perlu diperhatikan juga penanganan apabila korban sudah bisa bernafas setelah ditolong dengan cra-cara tadi. Posisikan tubuh korban dengan tidur miring ke arah kiri atau kanan.

Jika tubuh dimiringkan ke arah kanan, letakkan telapak tangan kiri korban di bawah pipi sebelah kanannya. Begitu juga sebaliknya. Tangan korban ditekuk ini secara tidak langsung akan menyanggah tubuh korban sehingga pernafasan lebih lancar.

“Terus selimuti tubuh korban agar hangat. Lebih baik jangan dulu dikasih makanan atau minuman. Begitu juga bau-bauan yang bisa merangsang dia agar siuman. Jangan dia dipaksa untuk sadar. Yang penting, cek saja terus pernafasannya karena sewaktu-waktu dia bisa kembali tidak lancar pernafasannya,”Didi mengingatkan. (ika)