Musim Jamblang di Lopang, Momen yang Sayang Dilewatkan

 

Tahu buah jamblang, atau juwet, atau dhuwet, atau dhuwek? Di beberapa daerah, buah ini memang punya julukan yang berbeda-beda. Saya sendiri malah menyebutnya dengan plum Jawa! :D

SAM_3084

Si hitam manis dari Lopang

 

Nah, di daerah Lopang, Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, kalian bisa menjumpai buah yang satu ini dengan aneka jenis. Mulai dari yang kecil tanpa biji, sampai yang berukuran sebesar bakso telur puyuh. Atau dari yang rasanya masam, sampai yang rasanya manis tanpa menyisakan rasa sepet di lidah. Yang warnanya hitam pekat hingga ungu kemerahan pun ada di Lopang.

SAM_3088

Juwet yang bergelantungan di pohon

 

Di masa-masa akhir musim kemarau menjelang musim hujan, biasanya buah ini bermunculan. Saat saya menuliskan tulisan ini di blog, buah yang disebut Juwet oleh masyarakat Lamongan ini sedang musim-musimnya lho. Buat yang belum pernah ke sana, ini dia how to-nya:

  • ·         Daerah Lopang itu berada di selatan dari pusat kota Lamongan. Tanya saja orang-orang di sekitaran jalan Lamongan, bagaimana untuk bisa sampai di Lamongan. Nanti, kalian akan ditunjukkan arahnya. Uhuk, karena minim penunjuk arah, untuk orang yang baru ke sana, memang harus banyak bertanya. Lopang sendiri masuk daerah Kembangbahu tapi ia dekat dengan pusat kota Lamongan atau Kecamatan Tikung. Jadi hati-hati ya, jangan sampai kebablasan jauh ke arah Kembangbahu :D
  • ·         Minim petunjuk jalan pun kembali kita jumpai di daerah Lopang. Satu-satunya cara ya harus bertanya ke penduduk sekitar, di mana kebun Juwet yang sering banyak dikunjungi orang.
  • ·         Kalau ke tempat ini, enaknya naik sepeda motor. Bisa langsung dinaiki sampai ke on the spotnya kebun Juwet. Kalau naik mobil, sepertinya harus berhenti dulu di dekat gang kecil, baru setelah itu masuk ke dalam dengan berjalan kaki.
  • ·         Sebetulnya, istilah kebun Juwet ini bukanlah sebuah area dengan pohon-pohon Juwet yang berdiri agak rapat lho ya. Melainkan, sebuah area luas dengan petak-petak sawah kering yang sedang tidak ditanami, lalu akan kita jumpai pohon-pohon Juwet yang tersebar di beberapa tempat.
SAM_3082

Area persawahan yang ditumbuhi pohon-pohon Juwet di beberapa tempat

 

Mungkin yang dari tadi baca tulisan ini berpikir, kok kayaknya repot banget sih mau makan Juwet saja. Enakan juga beli saja. Eit, hal itu sepertinya akan tidak berlaku bagi mereka yang mau dapat Juwet dengan ukuran besar dan rasa yang manis, serta bagi para pecinta panjat pohon. Kok bisa?

  • ·         Kalau kalian hanya ingin icip-icip Juwet, manjat langsung sambil menikmati Juwet, di sini boleh banget lho. Asal jangan manjat sambil bawa wadah gede untuk nampung Juwet saja. Dijamin, itu akan mengundang pelototan yang punya pohon Juwet! :D
SAM_3094

Monggo buat yang mau menikmati Juwet sambil manjat sendiri

  • ·         Harga Juwet di tempat ini bervariasi. Kalau yang ditaruh di dalam kerendeng atau wadah keranjang yang berbentuk seperti silinder, harganya bisa 20 ribu sampai 45 ribu rupiah. Terus kalau misalnya kalian beli satu kerendeng, lalu ingin manjat dan memetik sendiri sambil pinjam wadah satu kerendeng, harganya bisa lima ribu rupiah saja! Jadi, harga yang puluhan ribu rupiah itu tadi hitung-hitung upah untuk mereka yang sudah memanjat dan memetik pohon Juwet.
  • ·         Satu lagi kenapa enakan ke tempat ini langsung adalah kita bisa duduk santai sambil menghirup udara segar nan semilir di bawah pohon Juwet. Sambil gelar tikar, lalu bawa makanan sendiri, piknik cara ini juga asik! Asal ingat, bawa lagi sampahnya ya…
SAM_3089

Duduk di bawah pohon dengan pemandangan kayak begini di atas kepala kita? Surga dunia rasanya!

 

Biarpun buah ini bisa langsung dinikmati, tapi ada beberapa tips nih yang bisa dicoba:

  • ·         Jika ingin menyimpannya lebih lama di dalam kulkas, ibu saya biasa mencucinya terlebih dahulu sampai bersih, kemudian dibilas dengan air garam. Katanya sih, agar getahnya luntur. Kalau menurut saya sendiri, cara ini bisa berguna untuk membersihkan Juwet dari belatung yang terkadang ada.
  • ·         Makan Juwet pakai garam? Boleh-boleh saja. Di beberapa tempat, kebiasaan ini sering dilakukan. Namun khusus mayoritas Juwet dari Lopang, kayaknya hal itu nggak perlu deh. Karena rasa sepet di Juwet ini kalah dengan rasa manisnya.
  • ·         Suami saya malah bilang, ada tips untuk membuat tawar rasa sepet dari Juwet. Caranya, makanlah sebutir Juwet sekaligus dengan isinya. Satu biji saja, bukan semua Juwet yang dimakan ya! :D Tips ini sih katanya ia ketahui sejak dari kecil dulu. Percaya nggak percaya, kembali kepada kalian sendiri deh. J

Saya sendiri yang notebene suami orang asli Lopang, baru sekali ke kebun Juwet. Terus waktu cerita-cerita sama suami, ada beberapa hal nih yang jadi kepikirannya saya:

  • ·         Konon, populasi pohon Juwet di Desa Lopang itu dulunya sangat lebih banyak dari yang ada sekarang. Seiring waktu, pohon-pohon itu banyak yang ditebang dan tanahnya dijadikan area sawah. Saat musim orang nikah, pohon-pohon Juwet juga banyak yang jadi sasaran untuk ditebang. Kayu dari pohon ini bagus untuk bahan bakar memasak karena bisa menghasilkan api yang bagus.
  • ·         Kalau beli Juwet berwadah kerendeng, ehm, jangan harap harganya termasuk si kerendeng juga ya. Wadah kerendengnya cuma untuk alat mengambil Juwet yang sedang dipetik, atau untuk menakar Juwet yang akan dibeli. Gara-gara ini, saya jadi usul ke suami untuk menjadikan ini sebagai peluang bisnis (*beginilah kalau nyonyanya orang Ekonomi! hehehe…). Habisnya, si Juwet terlihat lebih menarik kalau diletakkan di dalam kerendeng. Apalagi buat pembeli yang asalnya dari luar daerah Lamongan. Juwet dalam kerendengnya kan jadi terlihat lebih enak dibawa.
  • ·         Gara-gara saya posting ke social media tentang Juwet dan teman-teman dari luar daerah banyak yang bilang pengen juga, jadi kepikiran lagi peluang bisnis yang sampai sekarang belum ada. Ceritanya, ada teman di Batam yang bilang pernah lihat buah ini di sana. Sementara itu, saya terpikir, kalau buah ini dibawa sekali jalan sambil naik pesawat sih asik-asik saja. Tapi kalau dibawanya dengan jasa pengiriman, gimana caranya ya? Hal ini bikin saya dan suami jadi memikirkan caranya nih. Kalau sampai ketemu, kayaknya tahun depan kami membuka penawaran penjualan Juwet via online deh! :D
  • ·         Dari dulu sampai sekarang, sebetulnya sudah banyak orang yang tahu tempat kebun Juwet di Lopang. Tapi, banyak juga yang belum tahu. Nah, di Lopang sendiri nggak pernah juga tuh dibuatkan penunjuk arahnya. Sementara itu, saya dan suami malah sudah terpikir tentang desa wisata saja. Rasanya, ini pemikiran yang bisa dibilang muluk, utopis, dan… ah, sudahlah!
  • ·         Banyak varietas atau jenis Juwet di Lopang. Tapi, sampai sekarang belum pernah ada yang mendata atau membuat namanya.
  • ·         Ketika banyak pohon Juwet yang makin hari makin sedikit, untungnya beberapa orang muda di Lopang mulai terpikir untuk mengembang-biakkan pohon ini. Hm, kayaknya peluang bisnis juga nih. Nanti saya mau bilang ke suami ah untuk bikin bibit pohon Juwet yang banyak terus ditawarkan untuk dijual saat musim Juwet nanti. ;)

 

Fyi, musim Juwet di Lopang tinggal sekitar sebulanan lagi lho. Yang mau datang, ayo segera ke Lopang…

Jalan-jalan Dulu, atau Nasionalisme Dulu?

Pertanyaan ini mirip dengan pertanyaan, ayam dulu, atau telur dulu yang keluar? Begitu juga hubungan antara jalan-jalan dan nasionalisme. Kita jalan-jalan dulu baru bisa punya rasa nasionalisme, atau punya nasionalisme dulu baru jalan-jalan? Hehehe, meski buat saya pertanyaan yang terakhir agak janggal juga sih. Karena biasanya, orang punya uang dan waktu dulu baru punya kesempatan jalan-jalan.

Seperti halnya alasan yang mewakili kubu penjawab ayam atau telur dulu yang keluar, sebetulnya antara nasionalisme dan jalan-jalan juga sama-sama bisa memunculkan satu sama lain. Maksudnya, simak yuk yang berikut ini.

Kalau kamu masuk mau masuk di kubu jalan-jalan dulu biar kemudian bisa punya nasionalisme, maka jalan-jalanlah seperti…

  1. Ramon J Tungka di acara 100 Hari Keliling Indonesia. Dijamin, waktu 100 hari itu nggak akan cukup! Iya lah, karena jalan-jalannya bukan hanya tempat-tempat wisata. Tapi, melebur ke berbagai kehidupan masyarakat. Misal, kalau pergi ke Merapi di Jogjakarta, cobalah sambil ngobrol dengan masyarakat sekitar dan selamilah, (eh salah, ini kan gunung!) hayatilah bagaimana filosofi kehidupan masyarakat di sana. Dijamin, bisa dapat ilmu kehidupan khas Indonesia. Pernah beberapa tahun yang lalu sebelum Merapi meletus, saya diajak teman ke kaki gunung itu. Pas asyik jeprat-jepret, lewatlah sepasang kakek nenek dengan memanggul kayu-kayu besar yang sepertinya dari dalam hutan. Yang membuat saya takjub, ini kakek nenek, lho! Mereka tidak peduli umur dan terus saja beraktivitas. Nah, mbah-mbah saja rajin dan kuat begitu. Masa yang muda dan segar bugar bisanya mengeluh terus bin malas?

    Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi

    Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi Jogjakarta

  2. Agustinus Wibowo ke berbagai tempat di penjuru dunia. Sebetulnya antara Agustinus dan Ramon itu 11-12. Mereka menjelajah ke tempat-tempat dan bersinggungan dengan kehidupan masyarakat. Ibarat kata jauh di mata dekat di hati, yakin deh, perjalanan ke berbagai daerah di luar negeri bisa membuat rindu tanah air. Uhuk, sayangnya perjalanan saya ke luar negeri masih dua kali saja dan melulu ke Singapura. Jadi belum tahu rasanya kangen berat sama Indonesia. Hihihi…

    Singapura

    Di tepi sungai di Singapura

  3. Trinity Traveler, yang setelah berjalan-jalan ke berbagai tempat di dalam maupun luar negeri, lalu berkata bahwa wisata di Indonesia tetaplah yang terbaik. Kita nggak akan tahu mana yang lebih keren kalau tahunya cuma itu-itu saja. Andai Trinity jagoan kandang (halah, kayak sepak bola saja!), ia mungkin tidak akan bisa berkata dengan jiwa nasionalismenya, bahwa destinasi wisata di Indonesia adalah yang terbaik.

    SAM_2205

    Yang canggih main beginian, cuma operator lanting alias rakit bambu di Loksado, Kalimantan Selatan, lho!

  4. Nadine Candrawinata. Buat saya yang nggak bisa berenang apalagi menyelam, Nadine sudah membuat saya bangga dan senang melihat hasil liputannya di tv yang menyelam ke berbagai tempat di Indonesia. Dengan lihainya, Nadine menunjukkan apa saja yang bagus dari destinasi-destinasi bawah laut di Indonesia, orang seperti saya jadi tahu dan rasanya bangga lho melihat sebegitunya kekayaan alam Indonesia!

    card021

    Birunya air laut Natuna, di Kepulauan Riau, sungguh menggoda hati. Sayang, saya nggak bisa berenang apalagi menyelam. Jadi cuma jeprat-jepret dari atas laut saja.

  5. Saya! Haish, narsis dimulai! Jujur, saya pernah melakukan jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia dan lalu merasa kadar nasionalisme saya makin bertambah. Misalnya saat ke Bromo, ternyata banyak sekali turis asing yang begitu menikmati pemandangan alam di sana. Rasanya senang dan bangga melihat betapa mereka begitu menyukai alam Indonesia.

    Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

    Bromo yang sedang tersaput kilauan emas sang fajar ini cakepnya mengundang para turis mancanegara untuk datang ke sana.

Sedangkan kalau merasa punya uang nasionalisme dulu baru mau jalan-jalan, berpetualanglah seperti:

  1. Teman-teman pengajar yang mengikuti program Indonesia Mengajar, SM3T (Sarjana Mengajar di daerah Terluar, Tertinggal, dan Terdepan), atau program 1000 Guru. Mereka yang ikut ketiga program tersebut, kebanyakan memiliki jiwa nasionalisme ingin berbagi ilmu dan mengabdi pada masyarakat, sekaligus berpetualang. Di Indonesia Mengajar, banyak lulusan yang bahkan bukan dari disiplin ilmu keguruan, tapi tertarik ikut program tersebut dan dengan suka cita berpetualang ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Kalau SM3T, sebetulnya program dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk para sarjana pendidikan yang kelak ingin jadi guru PNS. Nah, kalau yang 1000 Guru ini memang memberi peluang bagi siapa saja yang ingin jadi pengajar sekaligus jalan-jalan dalam arti berwisata.
  2. Teman-teman tenaga kesehatan yang mengikuti program Nusantara Sehat. Kalau yang ini program Kementerian Kesehatan untuk para tenaga kesehatan ke tempat-tempat terpencil dan perbatasan Indonesia. Kebanyakan yang ikut ini melakukannya dengan penuh pengabdian sekaligus bisa memuaskan petualangannya untuk menjelajahi daerah Indonesia. Tentunya, jalan-jalan yang ini jauh dari kata wisata hiburan.
  3. Uhm… ada yang ingin menambahkan lagi? Yuk tulis di komentar…
SAM_0608ok

Vandalisme di Jembatan Barito. Yang seperti ini nggak ada bagusnya deh!

Tapi dari sekian model orang jalan-jalan, menurut saya, tolong jangan ditiru deh model yang seperti ini:

  1. Lihat film tentang petualangan, terus bergaya ikut-ikutan meniru film itu, eh ternyata film yang ditiru itu sesat! Saya nggak mau sebut filmnya apa, karena kayaknya kebanyakan dari kalian sudah tahu. Endingnya, akhirnya jalan-jalan tapi merusak alam atau bahkan membahayakan diri sendiri. Entah ke mana malah kemudian nasionalisme itu berada.
  2. Jalan-jalan lalu bergaya mengabadikan momen indah untuk selamanya. Kebanyakan jatuhnya di vandalisme. Misalnya, menuliskan namamu dan pasangan pada gua yang konon bersejarah sejak zaman prasejarah. Yang seperti ini, yakin deh, tidak akan dihargai sama sekali oleh manusia modern di generasi berikutnya. Memangnya situ manusia purbakala yang membuat bentuk telapak tangan lalu jadi pengamatan ahli sejarah zaman sekarang?
  3. Tidak tahu tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di tempat tujuan. Atau, tempat yang sesungguhnya cagar alam, yang bila masuk ke sana kita harus izin terlebih dulu, tapi kita menjadikannya tempat wisata. Pernah suatu ketika, saya dan teman pergi ke bukit kerang peninggalan prasejarah yang ada di Bintan. Sewaktu ke sana, ada beberapa orang yang dengan santainya naik-naik ke puncak gunung atas bukit kerang yang umurnya sudah ratusan bahkan ribuan tahun. Fatalnya, saya ikut-ikutan! Karena tempat ini baru ditemukan sehingga masih belum diteliti secara mendalam oleh para sejarahwan, banyak warga yang awam sehingga tidak tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di sana. Nah, setelah turun dan ngobrol dengan seorang warga yang ditugasi untuk sementara mengawasi tempat tersebut, barulah saya sadar. Fuih, rasanya saya menyesal sudah ceroboh.

    Pengunjung yang sewaktu saya datang masih bisa duduk di atas bukit

    Mbak-mbaknya sedang duduk cantik di atas tumpukan sampah kerang peninggalan prasejarah. Padahal kerang-kerang itu rapuh dan mudah rusak.

Intinya, kalau kita memang sayang sama tanah air Indonesia kita ini, ayo jalan-jalan. Tapi asal jangan jalan-jalan yang asal ya. Kembali ke pertanyaan, jadi menurut kamu duluan mana hayo, jalan-jalan atau nasionalisme?

“Tulisan ini disertakan dalam lomba ‘jalan-jalan nasionalisme’ yang diadakan Travel On Wego Indonesia”

Ngeasyikin Fotografi di KTM Resort Sekupang

Selama tinggal di Batam, menurut saya, tempat asyik untuk menghilangkan suntuk sekaligus menyalurkan hobi fotografi adalah di KTM Resort Sekupang. Jika sedang suntuk, biasanya sore hari saya mengendarai motor sendirian ke sana. Buat saya, agak lumayan jauh jika dari tempat tinggal saya dulu yang berada di Batu Ampar. Yah, untuk saya yang waktu itu biasa naik motor dengan sangat hati-hati, biasanya saya bisa menempuh waktu hingga 20 menit. Hehe, pasalnya, saat itu saya baru bisa naik motor.

Momen asyik mengunjungi KTM Resort Sekupang adalah saat sore hari. Karena tempat ini menghadap ke barat, kita bisa sambil menikmati sunset dari tepi pantai. Sinar matahari yang akan tenggelam juga membuat tempat ini cantik jika diabadikan ke dalam jepretan kamera.

Untuk yang belum pernah ke sana, penasaran kenapa saya bilang KTM Resort Sekupang adalah tempat yang cantik dan tenang saat sore hari? Karena di KTM Resort Sekupang, kita memang bisa menyewa tempat untuk tinggal beberapa hari di sana. Datang main ke sana saja tanpa menginap juga bisa kok. Untuk mereka yang beragama Budha, tempat ini juga jadi tempat sembahyang.

Buat saya, tempat paling oke adalah rumah-rumah panggung yang dibangun di bibir pantai. Di sana, ada bagian pantai yang berbatasan dengan daratan yang tinggi. Nah, di situlah rumah-rumah panggung resort itu berdiri menghadap ke arah pantai.

Deretan yang melengkung di bibir pantai ini sangat cantik untuk difoto. Biasanya, para fotografer paling sering mengabadikan bagian objek yang satu ini.

NUL

Deretan banguan resort yang menghadap ke pantai. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

Selain rumah-rumah panggungnya, KTM Resort terkenal dengan patung Dewi Kuan Im yang tinggi menjulang. Patung yang dibangun pada tahun 2004 ini terlihat anggun dengan warna putih yang tinggi menjulang. Konon, patung ini tingginya 22,37 meter dengan berat 112 ton lho! Di ujung bukit yang berada di tepi laut, sebetulnya ada juga patung Dewi Kuan Im. Namun, ukurannya tidak tinggi.

Saat sore hari, patung besar Dewi Kuan Im ini menurut saya jadi terlihat cantik terkena sinar keemasan dari matahari yang akan tenggelam. Dengan bunga-bunga teratai yang banyak ditanam di beberapa pot di bawah patung ini, jika difoto, patung ini makin terlihat berdiri dengan anggun.

NUL

Patung Dewi Kuan Im berdiri tinggi menjulang. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

Jika matahari sudah tenggelam dan masih menyisakan sedikit sinar yang menerangi KTM Resort, jangan buru-buru berhenti untuk mengabadikan tempat ini. Karena ternyata, masih ada siluet beberapa spot di tempat ini yang juga bagus untuk diabadikan dengan kamera.

Hingga sekarang, saya masih terkenang dengan tempat itu. Plus berandai-andai bisa naik mobil Agya. Kenapa Agya? Nah, kalau yang ini ceritanya karena ada teman saya yang beberapa waktu lalu membeli mobil Agya. Katanya, mobil yang satu ini asik untuk dikendarai di dalam kota. Gara-gara itu, saya jadi suka mengkhayal bisa ke sini atau ke situ dengan mobil Agya.

Mendengar cerita teman saya, saya pun penasaran. Akhirnya saya browsing ke internet, apa sih sebetulnya yang asik dari Agya. Nah, ini dia ternyata beberapa keseruan dari mobil Agya yang saya bayangkan akan asyik andai saja dipakai jalan ke KTM Resort Sekupang.

  • Agya itu diciptakan dengan konsep LCGC, alias low cost green car. Mobil ini irit bahan bakar. Pasalnya, kapasitas tangki bahan bakarnya 33 liter. Itu cukup dipakai untuk melaju sejauh 528 kilometer dengan 16 Km/liternya. Basic mesinnya hampir sama dengan MPV Toyota Avanza. Dengan bobot ringan, jadinya makin bikin irit bahan bakar. Irit bahan bakar berarti sedikit juga pemakaian BBM. Makanya disebut green car.
int-update-januari

Mobil berkonsep LCGC (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

Jadi, kalau pakai Agya dari tempat tinggal saya dulu di Batu Ampar ke Sekupang, dijabanin tiap hari juga kayaknya nggak bakal tekor uang bensin kali ya. Hehe, ini sih bisa bikin saya nggak suntuk tiap hari karena bisa sering main ke KTM Resort Sekupang kali ya?

  • Konsep penciptaan Agya yang lainnya adalah hatchback. Sebagai city car, mobil ini harapannya bisa gesit melaju di jalan macet yang identik dengan perkotaan.

Mungkin buat yang tinggal di Batam sudah pada tahu kalau makin hari, Batam itu makin macet. Tapi nggak asyik dong kalau gara-gara macet akhirnya jadi minim jalan-jalan. Apalagi buat yang hobi fotografi. Tentunya sering butuh mengunjungi tempat-tempat oke untuk jadi objek fotografi.

eks-update-januari

Model hatchback, si mungil yang gesit. (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

  • Mesin Agya berkapasitas 999 cc (1 liter) yang teknologinya DOHC fuel injection, 12 valves. Mobil ini punya tenaga 65 HP di 6000rpm dan torsi mesin 85 Nm di 3600 rpm. Hehehe, itu katanya sebuah situs yang saya baca.

Untuk yang tahu teknologi mesin mungkin lebih tahu itu artinya apa. Tapi buat saya, simpelnya, mobil ini punya kemampuan oke buat keliling kota atau bahkan diajak ke jalanan bertanjakan.

Kalau kita Sekupang terutama menuju KTM Resort, memang ada sedikit beberapa jalan yang bentuknya menanjak. So nggak masalah kalau kita naik Agya.

  • Kelebihan lain dari mobil ini adalah punya electric outer mirror (kecuali varian E), headlamp serta lampu kabut, AC, Power Windows + Central door lock, dan power steering. Tentunya ini akan sangat membantu kita dalam berkendara.
  • Tampilannya juga ciamik! Agya dilengkapi dengan side protective moulding serta desain chorem door outside handle. Mobil ini dicat dengan teliti alias detail. Jadinya si mungil ini bisa kelihatan mencolok warnanya.

Buat diajak jalan, tentunya mobil ini bisa bikin banyak mata ngelirik ngiri. Ah, saya saja yang belum punya udah mupeng kalau pas lihat mobil ini.

  • Fitur keamanannya ada dual SRS airbag. Jadi kalau ada sesuatu, kita yang mengendarainya jadi aman terlindungi.
safety_01-agya-160415

Dilengkapi dengan SRS Airbag. (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

  • Biar nggak suntuk, tentunya di jalan itu asyiknya sambil ngedengerin music dong. Nah, kita bisa melaju dengan Agya ambil memutar musik lewat koneksi USN, CD, maupun AUX.
con_gal_pic_D76C2AEF8B963C3BAB2D7B5B507D7DEF

Ini yang bikin perjalanan dengan Agya jadi lebih seru. (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

  • The last but not least, ini dia yang paling saya suka dari Agya. Tadi saya sudah nyebutin kalau Agya itu tipe mobil hatchback kan. Meski mungil, tapi kabin atau interiornya lega dan nyaman buat gerak kepala dan kaki.

Kapasitas penumpangnya bisa untuk 5 orang. Tapi kalau mau lebih enak. Ya cukup diisi 4 orang saja.

con_gal_pic_23AC191AC88967BA9A88D8437FE23259

Bagian belakang bisa diisi 3 orang. Tapi kalau mau leluasa, bisa diisi 2 orang saja. (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

Terus, masih ada sedikit space di bagian belakang mobil ini. Kita masih bisa kok menaruh tas atau beberapa barang di situ. Kan nggak asyik juga kalau naik mobil ini terus sambil memangku tas ransel atau bawaan lain selama perjalanan.

con_gal_pic_277C640DC1F7043B7901126445107CA3

Kursi bagian belakang bisa dilipat untuk bagasi yang lebih lebar. (Sumber foto: http://toyota.astra.co.id)

Nah, itu tadi hasil temuan saya saat browsing dan menurut saya yang oke tentang Agya. Plus, sesuai dengan bayangan saya andai dipakai untuk jalan ke KTM Resort Sekupang. Oh iya, ada juga nih beberapa hal yang asyik tentang fotografi di KTM Resort Sekupang.

  • Kata seorang teman yang memang profesinya fotografi, waktu yang asyik buat foto itu adalah di bawah jam sembilan pagi atau di atas jam tiga sore. Nah, kondisi di sekitar dan jalan menuju KTM Resort Sekupang ini banyak ditumbuhi pepohononan. Ambil foto saat pagi hari juga tetap oke kok. Jika pagi hari, warna teduh hijaunya jadi bisa memancar dengan bagus. Makanya, banyak orang yang hobi fotografi jadis sering menghabiskan waktu di sini. KTM Resort juga jadi tempat asik untuk membuat pre wedding. Apalagi saat sore hari. Asli, tempat ini bisa terlihat romantis abis!
siluet-senja-di-ktm-resort_503253447_o

Senja yang romantis. Uhuk, kalau menurut saya sih. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Beberapa spot untuk objek foto di KTM Resort yang asyik menurut saya adalah di patung Dewi Kuan Im. Lalu, tanaman teratai yang banyak ditanam di pot di bawahnya juga bagus lho untuk latar foto. Buat pecinta fotografi makro juga akan asyik jika mengabadikan detail dari keindahan bunga teratai.
patung-dewi-kuan-im-dan-teratai_503194176_o

Dewi Kuan Im dan teratari. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Untuk bagian resort, banyak orang yang berkunjung ke resort ini mengabadikan deretan rumah panggung dari bawah. Lekuknya memerlihatkan deretan rumah yang rapih dan asri.
ktm-resort-sekupang_503204182_o

Deretan resort yang menghadap ke laut. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Nah, pas jalan ke sini, saya tertarik dengan sebuah jembatan kecil berwarna merah yang berada di bawah deretan rumah resort. Dengan latar akar pohon yang menancap di tebing dan air yang mengalir di bawah jembatan ini, entah kenapa saya merasa kesannya hening dan tenang.
red-bridge_766365101_o

Jembatan merah ala KTM Resort Sekupang. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Karena tempat ini di tepi pantai yang berhadapan dengan arah matahari tenggelam, otomatis melihat sunrise di sini rasanya wah banget. Bisa kayak ada momen mengheningkan cipta deh saat matahari tenggelam yang membuat kita terpana. Eit, itu tapi kalau pas langitnya cerah tanpa awan. Kalau sedang sedikit tertutup awan, jangan kecewa. Masih ada momen dan spot di KTM Resort yang bisa kita abadikan. Waktu itu saya tidak sengaja menemukannya, yaitu saat beranjak ingin pulang. Eh, lha kok nemu siluet bangunan resort dan tubuh pohon yang tinggi menjulang. Ya sudah, jepret saja. Dan jadinya buat saya oke banget!
light-of-disk-at-ktm-resort_766364949_o

Siluet senja. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Saat matahari tengggelam, sebaikan kita juga tidak terlalu terpukau sampai lupa mencari objek foto yang lain. Saya jadi ingat kata-kata seorang bapak yang saya temui di Bromo. “Kalau memfoto matahari tenggelam atau terbit, itu sudah biasa. Di mana-mana juga bisa.” Dan lalu bapak itu kemudian memfoto Bromo yang terkena sinar matahari terbit. Nah, seperti itulah yang bisa kita jumpai kalau ke KTM Resort. Lihat saja ke arah patung Dewi Kuan Im. Warna putih bersihnya bisa tersapu sedikit warna emas dari pancaran sinar matahari. Ini akan jadi objek foto yang cantuk dan syahdu karena efek sinar senja.
patung-dewi-kuan-im_503194170_o

Patung Dewi Kuan Im yang terpapar sinar senja. (Foto dokumen pribadi tahun 2007)

  • Dari pengalaman, Karena banyaknya spot bagus di tempat ini, saya sampai lari ke sana-sini untuk mengabadikan kecantikan KTM Resort. Jadi, nggak bisa cukup sekali dua kali saja.

Well, itu kenangan saya tentang main fotografi ke KTM Resort. Ehem, dengan khayalan saya andai saat itu bisa ke sana setelah punya dan naik mobil Agya. Meski bermodal kamera poket, tapi saya puas bisa dapat foto bagus-bagus. Yah, seperti kata seorang fotografer profesional di sebuah majalah yang saya baca (aduh maaf, lupa namanya!). Intinya, hasil fotografi itu bisa bagus, nggak peduli mau pakai kamera kuaci sekalipun. Uhuk, saya bukan mau bilang kalau tangan saya bagus ngejepret main fotografi lho ya. Tapi… fotografi itu kalau memang objeknya bagus atau kita bisa melihat sudut pandang objek dengan bagus, ya hasilnya juga akan bagus.

Ketika Bromo Sudah Membuka Diri Lagi

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.

Bromo Gulita Menjelang Fajar

Bromo Gulita Menjelang Fajar

 

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

 

Para Pemburu Matahari Terbit

Para Pemburu Matahari Terbit

 

Laskar 'Ojeg' Berkuda

Laskar 'Ojeg' Berkuda

 

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

 

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

 

Kawah Bromo

Kawah Bromo

 

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Pasar Buah Ranuyoso, Lumajang

Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Kebun Raya Mini ala Bumiaji

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu


Bumiaji, Kota Batu

Bumiaji, Kota Batu

Jika di Bogor atau Pasuruan ada kebun raya, di Kota Batu atau tepatnya di Kecamatan Bumiaji, ternyata ada juga sebuah kebun raya mini yang tak kalah cantiknya. Letaknya ada di lereng gunung dan hampir berada di puncak dari perbukitan Kota Batu.

Tempat ini sendiri memiliki julukan arboretum atau kebun percobaan. Jika menurut Sulvi, satu dari mahasiswi Universitas Negeri Malang jurusan Biologi, arboretum menjadi surga dari  anak-anak Biologi, bidang studi yang dipilihnya.

Julukan kebun raya mini memang bisa mengena untuk tempat ini. Berbagai jenis tumbuhan ada dan ditanam di sana berikut nama-namanya. Anda bisa menemukan Pohon Kina yang bisa digunakan sebagai obat malaria, Paku Pohon yang berbentuk paku-pakuan tapi bisa tumbuh besar sebagai sebuah pohon, Kayu Manis, dan segala macam jenis tumbuhan lainnya.

Sayangnya saya kurang bisa mengajak bicara pengelola dari tempat itu. Yang saya tahu, di dekat pintu masuknya saja ada sebuah pohon sejenis cemara yang ditanam pada tahun 1992.

Hingga kini, tempat ini sering dijadikan kegiatan penelitian misalnya oleh para mahasiswa yang membutuhkan tempat ini sebagai bahan pembelajaran, sebagai wahana rekreasi oleh masyarakat, hingga kegiatan mahasiswa seperti diklat alam yang saya ikuti oleh adik-adik saya di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang.

Memang, tempat ini cukup cantik untuk dijadikan tempat rekreasi. Pengelola tempat ini sendiri memberikan beberapa sentuhan yang makin membuat siapapun menjadi nyaman untuk berada di sana.

Misalnya saja jalan setapak yang ditanami Bunga Panca Warna atau yang kadang juga disebut Bunga Desember. Bunga dengan kelopak-kelopak kecil yang mengumpul menjadi gerombolan berbentuk bulatan besar ini akan membaut gemas siapapun yang melihatnya. Warnanya yang bisa berubah-rubah membuat tempat itu seakan-akan memiliki beberapa jenis bunga yang berbeda warna.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Bunga Panca Warna memang memiliki beberapa fase pergantian warna. Mulai dari putih, kuning, biru, semburat keunguan, merah, atau beranjak ke jingga. Sayangnya, saya tidak hapal fase pergantian warna dari bunga ini.

Bunga Panca Warna

Bunga Panca Warna

Beberapa jembatan juga dibuat berjenjang di beberapa tempat. Karena tempat ini merupakan lereng bukit, maka kontur tanah di daerah inipun tidak rata. Dan jika Anda berdiri di pinggir sungai yang mengalirkan air dari sumbernya, maka Anda akan bisa melihat jembatan yang melintang dengan berjenjang.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Tak hanya pepohonan dan bunga yang ditanam dengan sengaja dan teratur, beberapa tumbuhan liar baik yang berbunga maupun tidak juga ikut tumbuh dan menambah kecantikan dari tempat ini.

Bunga liar

Bunga liar


Bunga di Arboretum

Bunga di Arboretum

Di tempat ini sendiri juga sebetulnya terdapat satu dari sekian sumber mata air dari Sungai Brantas. Kejernihan airnya bisa menghapus siapapun yang mungkin pusing jika pernah mengetahui betapa kotornya sungai itu ketika berada dalam garis menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Surabaya.

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Kecantikan tempat ini juga mengasyikkan bagi mereka yang mencintai dunia fotografi. Apalagi bagi mereka yang ingin mengabadikannya sebagai sesi foto pre wedding, inilah surga yang penuh dengan sudut natural yang segar sebagai pembalut kesan keromantisan.

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Namun jika memang itu tujuannya, sebaiknya datanglah ke tempat ini di kala pagi hari. Karena tempat ini berada di lereng puncak bukit, sinar matahari memang hanya bisa bersinar sampai sekitar pukul 10 pagi. Selebihnya, saputan awan akan mengambil alih dan membuat pencahayaan menjadi redup. Bahkan, rintikan gerimis justru yang kemudian turun membuat suasana menjadi muram.