Sesosok Gadis dalam Cermin Air

“Untuk apa air mata itu kau jatuhkan ke laut? Kerajaan air ini tak membutuhkan tambahan segelintir tetesan air yang asinnya tak sebanding dengan miliknya!”

Mata gadis ber-eye shadow tebal itu menatapku. Tak tajam, namun warna hitam luntur di lingkaran matanya menghujam belati ke arah mataku di balik keredupan sinar matanya.

“Siapa engkau?” gadis itu justru bertanya.

“Aku? Hanya orang yang kebetulan juga sepertimu, sedan g duduk di tepi lautan ini. Dan aku merasa terganggu dengan pemandangan suram yang kau hadirkan di sini.”

Sebuah tarikan di sudut bibir kanannya ia berikan demi mengganti tatapan matanya yang ia lempar jauh ke batas imajiner tempat matahari beberapa saat lagi menenggalamkan diri.

“Ia tak pernah menolakku untuk ada di sini. Apakah aku sedang bahagia, ataukah aku sedang merana, ia selalu menerimaku. Toh, kau bukan seseorang yang mengatur kadar asin air laut. Atau, pengatur aba-aba bagi tenggelamnya matahari,” cetus gadis dengan rambut terurai setengah kusut akibat permainan angin.

Jujur, aku jengah dengan kehadirannya. Banyak senyum manusia mengurai di sekitarku. Namun sosok gadis di hadapanku ini telah menguarkan aura kelabu dalam keriangan sapuan emas matahari yang sedang berjalan turun.

“Sudahlah! Kita tidak saling kenal. Jadi, pergilah dan carilah orang lain yang bisa kau ganggu!” hardiknya memintaku enyah.

Aku menatap sekali lagi ke arah sosok di hadapanku. Benarkah aku tak mengenalnya? Oh, tidak. Aku sedikit ingat siapa ia sebelum kemudian ia menumpahkan buliran-buliran air mata itu ke lautan. Bukankah ia gadis yang selalu menebar tawa meski orang lain tahu bagaimana ia telah menderita?

“Tidak, aku mengenalmu!” sahutku seusai rentetan bisu.

“Hahaha…” gadis itu tergelak, dan di sinilah aku yakin bahwa aku memang mengenalnya. Ya, aku kenal betul dengan pecahan tawa membahana itu!

“Baiklah, sekarang semua orang mengaku mengenalku. Sekarang aku tanya, apa yang kau kenal dariku?” todongnya memberi tanya.

“Kau gadis yang tak pernah mengenal duka. Namamu adalah Bahagia!”

Di sisa-sisa tawanya yang menyurut, ia mengayun-ayunkan kepala, tubuh, dan kedua kakinya. Aku menajamkan telinga. Tak ada musik yang kudengar. Tapi ada alunan tak nyata yang telah membuatnya berayun santai. Aku mulai ingat siapa gadis ini sesungguhnya.

“Engkau adalah sosok yang selalu memberi cinta meski kepada orang lain yang mungkin akan memberimu dinding batu yang sangat dingin,” lanjutku setelah sukses menggali memori.

Kini di pada tawanya yang mulai sulit aku kais, bening kristal kembali bergulir dari pelupuk matanya.

“Tapi kau tak pernah mengenalku yang selalu mencoba sekuat tenaga membangun sebuah taman penuh dengan bunga beraneka rupa dan aroma. Kau tak pernah tahu betapa aku kerap harus membereskan taman yang kerap porak poranda. Kau tak pernah tahu seperti engkau yang tak pernah peduli akan semua usahaku itu.”

Ombak air dari mata air yang memerah menelusup ke arah mataku. “Dan kau serta semua orang tak pernah tahu saat aku kemudian harus hadir menjadi hantu yang sungguh tak kuinginkan sebagai rupaku dalam kebahagiaan tanpaku yang telah aku ikhlaskan. Aku dan kesendirianku yang tak ingin aku harapkan kerap menjadi sesuatu yang membuat banyak orang murka. Aku sudah berjalan sendiri tanpa mengusik kebahagiaan yang telah meninggalkanku. Tapi mengapa aku masih harus disalahkan atas sebuah ketidakbahagiaan yang tercipta bukan karena salahku?”

Kini, aku kembali lupa siapa gadis di hadapanku. Seperti saat sebelumnya, saat air mata itu menetesi lautan, aku kembali amnesia akan siapa ia sesungguhnya.

“Siapa engkau?” tanyaku.

“Ah, kau memang tidak mengenalku. Jadi percuma aku harus bercerita siapa aku pada orang yang tak mengetahuiku. Yakinlah, lara ini bukan sebuah sajian yang menyenangkan untuk disukai,” ujarnya pada akhirnya lalu beranjak pergi.

“Hei, siapa engkau?” aku menahannya sekuat suara tanyaku. Gadis itu berhenti seketika namun tak kunjung menjawab. Ia hanya menatap air laut yang ada di hadapanku. Kuikuti arah tatapan itu. Dan aku melihat bayanganku adalah wajah gadis itu.

Sebotol Krim Pemutih


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Botol itu…”

Mataku terpana dan lalu mengerjap karena tak percaya. Pikiranku langsung meloncat ke tayangan televisi yang akhir-akhir ini aku lihat. Semuanya berawal dari benda itu, benda ajaib penuh gambar bergerak yang disebut televisi. Kehadirannya baru beberapa minggu di rumahku. Sejak para warga berupaya untuk mengadakan pembangkit listrik tenaga diesel selepas senja, keluargaku menjadi satu dari sekian orang yang mencoba menghadirkan sekotak televisi di rumah kami.

Tayangan berulang disebut iklan itulah yang selalu aku suka. Ada seorang wanita cantik, dengan bintik dan noda di wajahnya, yang sering ketakutan terkena sinar matahari. Meski awalnya ketika aku terpana pada pesonanya saat membandingkan dengan wajahku, aku cukup keheranan karena sebetulnya bintik dan noda menyamar miliknya itu sungguhlah tak ada artinya.

Tapi wanita itu ingin tampil lebih cantik. Dengan kulit putih nan licin yang mungkin seperti ubin putih di rumah Mak Itam, di Pulau Ngenang sana. Dan botol itu… sama seperti yang kulihat sekarang! Isinya berupa cairan agak merah namun berwarna lembut. Mirip serupa dengan warna dari botol wadahnya sendiri. Dan lagi-lagi dari iklan itu, aku ingat, bagaimana wanita cantik yang kulitnya sudah lebih putih dari kulitku itu memoleskan krim ajaib di kulit wajahnya. Hanya beberapa hari, wajahnya yang makin menawan lalu bisa memesona seorang pria tampan yang sudah lama ia puja dalam diam kekaguman.

Nyawa pikiranku merasuk kembali ke bulatan di pangkal leherku. Kuamati lagi wanita yang masih dengan santainya mengusap krim itu di wajahnya. Umurnya mungkin tidak berbeda jauh denganku yang telah beranjak jauh dari angka dua puluhan. Tapi ia masih menawan dan lebih terlihat muda! Sama dengan wanita cantik yang kulihat di televisi. Pasti… pasti karenalah krim itu penyebabnya! Namun sekilas pikiranku berjalan, ia cantik karena masih punya banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dan aku yang seumurnya selalu punya persediaan banyak waktu untuk suami dan anak. Tidak untuk diriku.

Ia datang dengan teman prianya untuk menjadi tamu di rumahku malam ini. Katanya, mereka pencari berita. Berpanas-panas mereka berdua menyewa pompong dari pelabuhan Punggur di Batam menuju Pulau Air Mas tempatku tinggal. Mereka bilang, kedatangannya ke pulau tempatku tinggal untuk mencari cerita kehidupan tentang kami, para suku laut yang sudah hidup di darat. Berikut fisik sebentuk kajang, perahu beratap rangkaian daun kelapa yang dulu jadi rumah berjalan kami di lautan.

Kutaksir pasti, pekerjaannya sering berada di bawah sinar matahari. Tak berbeda jauh denganku yang kerap menemani suamiku melaut. Dan mata pencahariannya itu tak membuat wajahnya legam. Sementara aku yang kerap asyik bercanda dengan matahari dan laut, mendapati wajah yang melegam karena jejak matahari yang terus menampar.

“Mak sedang tengok perempuan itu?” bisik Anis, puteri kecilku dari balik tirai, tepat tak jauh dari tempat berdiriku.

“Hush, tak usah bising! Kita tengok saje die!” sahutku masih tak merubah posisi berdiri. Anis menjejakkan kaki di lantai kayu, berebut dengan kakiku yang telah menopang tubuhku di tempat itu lebih dulu. Tirai bergoyang tak jenak. Ada tanganku dan tangan gadis cilikku yang tak kompak berpegangan pada tirai.

“Mana Bapak?”

“Di pelantar dekat kelong, Mak. Dengan kakak laki-laki teman kakak perempuan ini,” tunjuk Anis ke arah wanita yang jadi objek pandangan kami berdua.

Wanita yang kami asyik bicarakan tersadar, ia sedang diperhatikan.

“Eh, Anis, sini… Mau coba?” wanita itu mengayunkan tangannya ke arah Anis, tidak ke padaku.

“Boleh, Mak?” Anis mendongak meminta persetujuanku.

Aku mengangguk tak ikhlas. Ia tamuku. Aku yang mempersilakannya menginap di rumahku malam ini. Kenapa ia tak mengajakku juga?

Dan langkahku tetap membisu ditinggal tapak kaki mungil Anis yang mendekati wanita itu.

“Kamu mau coba? Harum lho!” wanita itu mendekatkan botol merah mudanya ke bawah lubang hidung Anis.

Anis tersenyum malu bercampur senang.

“Nih, Kakak oleskan di muka Anis ya!”

Setetes krim diletakkan di ujung telunjuk meruncing milik wanita itu. Lalu, diletakkannya setitik demi setitik di sebaran wajah Anis. Dahi, pipi, dagu, dan hidung gadis kecilku. Jari jemarinya kemudian mengusap dengan gemulai. Kadang menepuk, kadang mengusap.

Aku makin tak tahan hanya bisa mengamati dari balik tirai. Kudekati mereka berdua, berharap jari jemari itu juga melakukan hal yang sama di wajahku yang telah berharap ingin sedari tadi.

Tapi, keinginanku tertahan. Sungguh tak sopan rasanya apabila aku meminta meski dalam perhitungan itu tadi, akulah tuan rumah yang telah menyediakan tempat berteduh untuknya malam ini.

“Wangi betul, ye?” aku berbasa basi.

Wanita ayu itu mengangguk. “Saya sudah lama pakai ini. Kalau tidak, nanti kulit saya bisa merah-merah karena tidak kuat terkena cahaya matahari,” demikian alasannya.

Sedikit keningku berkerut, mengapa alasannya bisa berbeda dengan wanita cantik yang ada di televisi?

“Benar itu bisa buat kulit kite jadi putih?”

Wanita yang kutanya tertawa. “Hm… mungkin! Tapi… saya memang sudah dari lahir berkulit putih, Bu! Jadi alasannya ya itu tadi, saya nggak mau kulit saya kemerahan karena kena panas matahari.”

Kuamati wajah dan tubuh wanita di hadapanku. Betul, kulit tubuh dan wajahnya sama putihnya. Tapi jika di televisi wanita itu bisa putih karena krim ini, pastinya wanita ini pun juga bisa tetap putih karena krim itu.

“Nah, sudah deh!” sentuhan ringan terakhir dilakukan jarinya di kedua pipi putriku.

Anis mengambil kaca yang tergeletak di dekat kaki wanita itu. Alisnya bertemu, “Kok Anis tak nampak putih macam Kakak? Anis kan sudah pakai krim ini juga? Orang di tivi itu cakap, siapa saje yang pakai krim ini katanya bisa putih seperti wanita di tivi itu. Seperti Kakak juga!”

“Hush!” kututup mulut Anis dengan jari tanganku yang merapat. “Engkau tu ha, sudah diberi, pun! Cakap lah, terima kasih!”

Wanita itu tertawa. “Yang di iklan itu, orangnya memang sudah putih! Kakak juga aslinya memang sudah berkulit putih dari lahir.”

“Tapi karena krim ini tak, kulit kamu jadi tetap putih? Macam aku, berkulit putih pun tapi tiap hari dibawa melaut. Pasti lah tak seputih kulit engkau!” aku tertawa berujar. Rasanya apapun itu, krim itu memang punya kemampuan istimewa.

Anis mengambil botol krim pemutih yang masih hanya mampu kulihat. “Mahal Kak, krim macam ini?”

“Eh, Anis, tak patut kau pegang!” ku ambil dengan cepat dan kuletakkan lagi di dekat kaki wanita itu.

“Nggak apa-apa, Bu,” ditatapnya ramah mataku yang kubaca sebagai pertanda memang ia tidak mempermasalahkan ulah putriku.

“Uhm… harganya sih lumayan! Tapi… kalau kamu suka, ambil saja! Nanti biar Kakak beli lagi di Batam!” disodorkannya krim itu ke arah Anis.

Hatiku melonjak riang. Milik Anis, bukankah berarti milikku juga?

“Buat saye, Kak? Asyik… Terima kasih, Kak!” Anis menggenggam erat botol merah muda itu. Tak apa, botol itu diberikan untuk Anis. Karena pasti, nanti akan kupegang juga nanti!

**

Anis masih sekolah. Anak satu-satunya yang masih kukeluarkan dari rahimku itu sekolah SD kelas 3 di Pulau Ngenang, seberang Pulau Air Mas tempatku tinggal. Kupastikan saat matahari mampu memanaskan ubun-ubun kepala, ia baru akan pulang bersampan.

Inilah kesempatanku sekarang menggila dengan krim pemutih itu. Telah kutahan hasratku saat hanya bisa melihat Anis yang pagi ini lebih ingin merasa cantik karena telah mendapat sebuah krim pemutih. Juga telah kuredam keinginanku hingga waktu tak bisa lagi diucap pagi, usai melepas kepergian si wanita pembawa keberuntungan, begitu aku menamainya sekarang usai kejadian serah terima krim pemutih itu pada Anis. Dan penolakanku terhadap suamiku yang tadi melaut dengan alasan melepas kepergian wanita pencari berita itu dan kawannya, kuyakini, tak salah pasti.

Karena kini aku hanya ingin berdua dengan krim pemutih itu. Benar-benar menyentuh botolnya, menuangkan krimnya ke tanganku, dan mengolesinya di wajah legamku.

Kuterawang botol tak tembus pandang itu ke arah cahaya terang. Isinya terlihat masih banyak dalam samar. Berarti, bisa beberapa hari krim ini aku pakai dengan Anis. Dan rasanya, mimpiku bisa seperti wanita yang ada di televisi itu dapat menjadi sungguhan.

Detak jantungku tiba-tiba menderu. Krim pemutih yang biasanya hanya bisa kulihat pada kotak canggih berwarna warni dengan tampilan penuh gerak-gerik itu, kini sungguh nyata ada di tanganku. Oh Gayah… Oh Munah… tiba-tiba kuingat para wanita seusiaku yang dulu terbilang menjadi bunga laut di lingkungan suku laut tempat kami berkelompok kajang. Aku yakin, setelah ini kalian pasti tertakjub-takjub melihat perubahan molekku.

Pikiranku lalu melayang pada Amad, kekasih satu-satunya yang kupunya saat ini. Tentu, aku ingin ia melihat perubahanku. Paling tidak, melihatnya menatapku tajam terpesona seperti saat perkenalan aku dan dia di kajang milik keluarga kami masing-masing, yang masih kami naiki terpisah. Tatapan serupa yang ingin kulihat dari matanya, semoga seperti pria yang terpukau oleh wanita pemikat hatinya yang ada pada iklan di televisi.

Sambil pikiranku yang berjalan-jalan di reka kejadian antah berantah, kupoleskan wajahku dengan krim merah muda dari botol itu. Sejuk! Ada sensasi rasa yang agak dingin sekaligus memanas di wajahku. Pasti, inilah proses saat kulit hitamku makin menipis. Keyakinanku kucoba buktikan dalam pantulan cermin. Masih hitam memang. Tapi wajahku terlihat lebih cerah. Terpancang di pantulan wajahku sendiri, aku yakin, cermin ini mulai sekarang akan jadi saksi makin memutihnya kulit wajahku.

Selesai. Saat hendak beranjak, sebuah pikiran lain membuatku kembali melirik botol krim pemutih. Lalu ganti kutatap tanganku. Ah ya, kenapa juga tak kucoba krim itu untuk kulit tanganku yang legam? Tentu, makin sempurna kecantikanku nanti seperti wanita yang ada di televisi, juga halnya dengan wanita si pembawa keberuntungan.

Tanganku menggila, mengoles di sana sini bagian dari tangan cokelat pekatku. Ide lain bersusulan. Rasanya kakiku bisa iri jika aku hanya menyentuh kecantikan itu untuk wajah dan tanganku saja.

Aroma harum menguar dari sekujur tubuhku. Wanginya lebih merebak jika dibandingkan dengan sabun wangi yang selalu jadi andalanku. Kupandangi sinaran terang matahari yang memantulkan segala penjuru biru dari langit dan laut. Sekarang, tubuhku siap engkau sentuh, wahai matahari!

***

Anis pulang dari sekolah, usai begitu menggesa ia mengayuh sampan kecilnya menuju rumah kayu tepi lautnya. Tujuannya terpaut pada sebotol krim pemutih warisan kakak putih cantik yang jadi tamu rumahnya semalam.

Sampai di kamar, Anis kebingungan. Botol yang ingin ia sentuh isi krimnya itu jadi terasa ringan. Diterawangnya. Dan Anis terkejut ketika botol itu jadi berisi setengahnya saja. Padahal ketika sebelum berangkat sekolah, ia yakin, hampir seleher botol isi krimnya.

Suara Anis yang hendak berteriak memanggil mamaknya untuk meminta jawab, terkumpul di ruang sekat tenggorokan. Pada seberang kamar, melalui jendelanya, ia mengerutkan dahi kala melihat mamak yang dicarinya sedang duduk di tepi pelantar. Tanpa kegiatan, hanya duduk bersantai tiada peneduh.

Anis menggerakkan kakinya dengan cepat menuju mamaknya. Ada dua penasaran yang kini makin menguat untuk bertanya pada sang mamak. Rasa penasaran terhadap berat botol yang jadi ringan, dan mengapa mamaknya bersikap tak biasa di tengah siang hari yang sedang menjerik terik.

Kurang lima ayunan lagi langkah Anis mendekati mamaknya. Namun ada aroma khas yang baru dikenalnya semalam, menyapa lebih dulu. Seketika Anis langsung tahu dua jawaban dari pertanyaannya.

Tahi Lalat Kaki


Oleh: Ika Maya Susanti

 

Sejak mengenalnya, aku selalu melakukan ritual yang sama. Melihat kakinya. Apakah tanda titik hitam itu tiada, satu, atau banyak? Dan lagi-lagi kembali aku menghela nafas. Tanda itu kembali kutemui. Nafasku makin menghela berat. Mataku menangkap titik itu tidaklah satu, tapi beberapa. Bahkan di kedua kakinya!

Bentuknya titik hitam. Mungkin tampil dengan warna cokelat. Kadang menonjol sedikit timbul, kadang sedatar kulit di sekitarnya. Orang menyebutnya, tahi lalat.

Aku adalah orang yang percaya arti pada keberadaan tanda titik yang menyebar di tubuh manusia. Konon, selalu ada makna di balik sejumput titik yang sudah ditorehkan Tuhan pada tubuh manusia. Tahi lalat di bibir atas dan bawah menjadi tanda pemiliknya disenangi banyak orang dan mudah rejeki. Titik lalat di pipi kiri jadi gambaran pemilknya yang boros. Jika tertitik di dada, akan menembus ke hati yang jadi berwatak keras.

Ibuku menjadi bukti dari kebenaran mitos tentang makna posisi tahi lalat di tubuh. Sejak kukecil, di telapak kaki kanannya, kulihat setitik hitam pekat yang menerang di antara putihnya telapak kaki. Aku ingat, dulu di kala aku tertakjub-takjub melihat setitik tanda hitam besar milik kaki ibu, pandangan pertanyaanku dijawab demikian, “Ini berarti ibu ini orang yang kuat berjalan!” yakin jawaban Ibu.

Kata-kata itu benar. Ibu adalah pejalan kaki yang kuat dan tangguh. Bila berjalan dengan orang lain, pasti langkah kaki Ibu lebih menggesa dari orang yang berjalan bersamanya. Saat teman sejalannya lelah, Ibu masih tak memiliki nafas memburu yang tak buru-buru keluar untuk terdengar.

Makin besar, makin ku yakin bahwa pejalan yang kuat dan tangguh juga berarti tak akan lelah untuk menjelajah banyak tempat. Ibuku yang masih menjadi remaja belia asal Lamongan, menjawab dengan binar tawaran pakdhenya untuk merantau ke Jakarta. Berbagai cerita Ibu saat hidup di Jakarta, selalu membuatku ingat dan lantas melirik ke arah kakinya jika ia sedang menderas bercerita pengalaman merantau masa silamnya kepadaku. Tanda itu, kuyakin pastilah itu yang membuat Ibu berani menjadi perantau.

Ibu hanya punya satu tahi lalat kaki. Setelah melewati rentang waktu dan cerita, Ibu lalu kembali ke Lamongan. Membawa Ayah, aku, dan adikku untuk melanjutkan hidup di kota Boran. Tak ada perjalanan lain dari Ibu hingga kini.

Lepas SMA, aku terkejut dalam kesadaran baru saat kulihat sebuah titik hitam yang makin jelas menarik perhatian di kaki kiriku. Di bawah bulatan tulang kaki bagian dalam, di atas tumitku sendiri, kulihat setitik tanda. Aku lalu mengunduh tanya, mengail jawaban, hendak kemanakah kakiku ini nanti akan membawa pemiliknya?

Malang, Jogja, Balikpapan, dan Batam , ternyata kota-kota itu menelankan ingatanku pada tahi lalat kaki milik kakiku sendiri. Aku sempat lupa untuk beberapa waktu. Yang ada, hanyalah menikmati gelar petualang yang telah menyemat dilekatkan banyak orang. Melakoni sebagai pencari dan penyampai cerita berita, membuat kehausan melangkah itu selalu ada untuk tereguk.

Hingga suatu malam, usai melepas padatnya waktu yang menghasilkan kata lelah, kupandangi kakiku yang menancap gantung pada datarnya tembok. Dalam posisi rebah, mataku menatap urat-urat kaki yang menyeruak berebut bertonjolan. Satu tanda titik hitam pada punggung tapak kaki kiri membuatku terjingkat ingatan.

Aku langsung duduk, menatap tahi lalat kaki itu. Mencermatinya, dan menemukan satu tanda lagi di bagian atasnya. Di atas mata kaki, kembali kutemukan satu. Di dekat bulatan tulang kaki bagian dalam, menggenapi satu titik lagi. Satu kaki kiri, dengan lima tahi lalat kaki.

Ganti kuperiksa kaki kananku. Di dekat mata kaki, kutemukan tiga tanda titik hitam yang tersebar dalam ruang berdekatan. Nafas lega terhembus saat kutahu bagian dalam kaki kananku tak menambah jumlah keseluruhan tahi lalat di kedua kakiku.

Diam dan tergumam sendiri, aku mencoba mencari korelasi cerita ke belakang hari dari delapan tanda titik hitam itu. Mengingat awal muasal temuan cerita mitos tentang tahi lalat kaki yang pernah kudengar dari ibu, lalu berencana menemukan kebenaran dari mitos itu.

Melalui dunia maya, esok harinya kubuka laman kitab ramal versi Jawa atau yang bernama primbon. Sebetulnya tidaklah sekali itu aku membuka laman tersebut. Karena sebelum-sebelumnya, beberapa tanda tanya juga kerap kucari tahu melalui laman yang tampil dengan warna gelap hitamnya. Mulai dari keinginan memenuhi hasrat untuk mengetahui watak seseorang berdasarkan pasaran hari lahir dalam budaya Jawa atau yang disebut weton, sampai kecocokan seseorang dengan yang lain bila dilihat dari wetonnya masing-masing.

Rasanya pemilik laman itu cukup tahu, jika banyak orang seperti diriku yang telah bergulat dalam dunia moderen, namun masih menyisakan ruang kepercayaan budaya Jawa pada dirinya. Karena membawa primbon ke mana-mana, rasanya akan menjadi hal yang sulit. Meski tak bisa mungkir, tapi siapapun yang masih percaya primbon di pergaulan zaman serba teknologi canggih, akan malu untuk mengaku jujur.

Dari laman itu, dugaanku tentang tanda titik hitam pada kaki hanya sedikit dibenarkan. Seseorang yang punya tahi lalat di kaki akan tak mudah lelah saat berjalan. Itu saja keterangannya!

Tak hanya lewat primbon dunia maya, aku jadi punya hobi memandang selidik dari banyak kaki miliki teman-temanku sendiri. Ada yang kutemukan satu, dan kusadari temanku itu memang telah keluar dari kota asalnya untuk menjadi perantau. Ada yang tak kutemukan sama sekali, dan aku sadar pemiliknya memang tak pernah merantau ke mana-mana. Dan yang kutemukan banyak, memang benar adanya bila ia kerap merantau ke banyak daerah.

Namun tiba-tiba ada takut datang menodong. Begitu banyak sosok di sekitarku yang kutemui dengan tahi lalat di kakinya. Jangan-jangan dari orang-orang yang sering kutemui itu, akankah pendamping hidupku kelak juga memiliki tanda titik hitam yang menabur pencar seperti di kakiku?

Jawabanku terjawab pada satu demi satu kejadian. Sosok awal, ada di pacar pertamaku. Di angka usia 25 pada biodataku, sesosok pria dengan tahi lalat kaki sebanyak tiga mencoba melamarku. Sejenak, kucoba lupakan mitos yang telah menyergap otakku. Apalagi waktu kuceritakan mitos itu, priaku menjawab tegas lugas, “Takhayul!”

Sumpalan penyumbat legaku terlepas. Pria kekasihku yang pelaku ragam kisah di atas panggung pada banyak tempat itu, ternyata masih memiliki sisi kelugasan seorang pria yang berpegang di otak rasionalnya. Mungkin inilah orang yang akan menjadi tempatku berbagi hidup. Ia yang mampu menutupi kebiasaanku menyelidiki ketidakrasionalan hidup, dengan pola pikirnya yang lebih sering bermain di ranah rasional.

Namun nyatanya, kudapati ia juga perantau sejati. Kakinya tak pernah jenak di satu tempat. Kepercayaannya berikut kekuatan keyakinanku runtuh di saat kami memilih mengakhiri rencana masa depan kami berdua. Yang kami sama-sama sadari, dua perantau sejati tak mungkin bersatu untuk bertahan di satu tempat yang sama! Kali itu aku masih menjejakkan kaki di Batam. Dan ia memilih Jogja, tempat cinta pertamanya pada dunia lakon yang telah lebih mendekapnya dalam kenyamanan.

Kali ke dua di usia dua puluh tujuhku, seorang pria tanpa tanda titik hitam di kakinya, mencoba merajut keseriusan bersamaku. Ia, pria berparfum laut yang terjerang matahari, dari sebuah Pulau Ngenang di dekat Batam. Lagi-lagi sebuah pertemuan dalam proses pencarian berita, jadi cara Tuhan memertautkan hatiku dengan makhluk yang sedang mencari kepingan rusuknya.

Dan betapa aku bahagia melihat warna cokelat dan legam kakinya yang bersih tak bertitik hitam mencolok di sana sini. Tapi baik aku dan dia tak bisa menghapus tanda titik hitam di kakiku yang terlanjur ada. Saat itu aku masih kerap menjalani rentangan waktu ke berbagai birunya langit yang berbeda. Sedangkan ia masih setia dengan birunya laut yang terhampar di sekeliling tempatnya singgah sejak lahir.

Hingga ke sekian pergi kembaliku ke pulau tempatnya tinggal, ia menatapku dalam. Ia ingatkan bayangan masa depan yang telah kami lukis berdua. Di pulaunya, dengan anak-anak yang riang bersenda tawa dalam riuhnya ombak. Dan tentunya aku yang tak ke mana-mana.

“Bukankah kau dulu pernah berkata, ingin membuat masyarakat di pulau ini tak hanya mengandalkan pencaharian dari laut? Bukankah kau dulu ingin mengajak mereka membuat benda-benda kerajinan?” tanyanya berulang.

Pengingat lukisan masa yang belum terjadi itu membuatku mencoba bertanya-tanya, mampukah aku? Ada langit yang lebih sering memilih warna biru berikut lautan lepas di hamparan depan rumahnya. Ada deburan air yang tak pernah berhenti untuk sejenak waktu. Ada aroma asin menyapa hidung meski tak terkecap pada lidah. Ada panas dan dingin di berbagai ritme malam dan siang. Semua menjadi penunggu enam indera milikku yang menuai tanya di kepala. Akan selalu itu nantinya.

Tak akan kulihat birunya pegunungan berikut balutan dingin dan panas yang mengering. Tak ada pikuk bising berbagai mesin kendaraan yang hanya jeda saat bentuknya pergi melaju. Mampukah aku?

Akhirnya aku mengangguk. Untuk kala itu. Namun justru sulit kuingkari di lain hari ketika aku yang jatuh cinta pada laut juga tak bisa melepas rasa cintaku pada pegunungan. Termasuk rasa cintaku pada keramaian peradaban kota. Aku menggeleng padanya usai meminta maaf. Dan memilih menghapus rencana bersama yang telah menanti di beberapa minggu berikutnya. Memang, kali itu bisa kukatakan sikapku keterlaluan. Membuat keluarganya malu, saat lembaran pemberitahuan hari pernikahan kami telah mampir di banyak tangan.

Tapi, lagi-lagi sulit kupungkiri. Delapan tanda titik-titik hitam di kakiku berikut mitos yang membelilit otakku tak bisa kuhilangkan begitu saja. Bahkan andai tanda itu mampu kubuang satu. Yang ada, titik-titik itu makin jelas kemunculannya. Mungkin pada tiap titik, ada sepermili ukuran pertambahan diameternya.

Aku hanya mampu pergi meninggalkan pulau penuh kenangan itu. Usahaku berikutnya adalah menghapus jejak jika aku pernah mencoba menjadi bagian dari orang-orang yang lincah bermain dengan lautan yang selalu ada sebagai pagar pasang dan surut sebuah daratan berbentuk pulau. Lalu, aku mencoba melupakan sesosok pria tak bertahi lalat kaki dengan hatinya yang rela tersakiti.

Pulau Ngenang, dengan penyisaan kenangan yang membuatku makin mewaspadai alur hidup. Di kesudahannya, aku lebih menuruti kemauan tanda titik-titk hitam di kakiku. Menikmati suara burung besi yang menderu, dan tertidur nyaman di dalam lambungnya. Yang lalu kembali membawaku pada daratan-daratan baru penuh gairah untuk kutapaki. Lima tahun. Dan usai itu, sebuah perjumpaan hati yang baru kembali Tuhan berikan.

Di Losari, kami bersua, saat sedang ingin menjadi saksi matahari yang melukis emas pada pinggiran langit arah barat. Dan kedekatan yang lalu teranyam antar kami, membuatku kembali melakukan ritual yang sama. Menekuni kakinya. Apakah tanda titik hitam itu tiada, satu, atau banyak? Dan kembali aku menghela nafas menghempas gumpalan padat. Tanda itu lagi-lagi kutemui! Nafasku makin menghela berat. Mataku menangkap titik itu tidaklah satu, tapi beberapa. Bahkan di kaki kanan dan kiri!

Bentuknya titik hitam. Mungkin tampil dengan warna cokelat. Kadang menonjol sedikit timbul, kadang sedatar kulit di sekitarnya. Aku tak pernah mengerti mengapa orang menyebutnya dengan tahi lalat. Pun, aku yang tak tahu apakah benar kotoran lalat memang berwarna hitam. Aku hanya pernah melihat, lalat meninggalkan jejak hinggapnya dengan rupa titik-titik berwarna putih. Konon, itu pun adalah telurnya.

Aku dan dia, dua manusia bertanda titik hitam pada kaki dalam jumlah yang tak cukup satu dua. Kami sama-sama sadar keberadaan tanda itu, berikut kesadaran akan kenyataan karakter pemiliknya.

“Ya, aku memang sama denganmu. Memiliki tanda-tanda itu di kakiku. Juga hasrat kakiku yang selalu kelaparan menapaki tempat baru. Tapi apakah tanda itu lantas membuat kita tidak bisa saling mencinta?” tanyanya.

Aku menjawab juga mencintainya. Meski dalam nada ragu yang pasti terjaring jelas di telinganya.

Lagi ia bertanya, “Bisakah kita saling mencinta juga memiliki?”

Mataku menjawab dengan terawangan tak fokus pada sesuatu. Bisakah cinta tetap terjaga dengan rentang jarak yang selalu menjadi konstruksinya?

Tapi genggaman mantap tangan yang menangkup satu tangan kananku membuat bulatan pangkal bahuku bergerak mengulang dua kali. Kepalaku bergerak ke atas dan bawah.

Tak berapa lama, waktu membuktikan kami untuk terikat dalam sebuah janji yang kami harapkan selamanya. Setelahnya, kami menjadi dua wajah yang tersenyum menyambut para pengucap selamat berbahagia. Kami berdiri lama menebar bahagia dengan mereka yang datang menyalami, dan melupakan tahi lalat di kaki kami.

Ia dan aku, sepasang sosok beda. Saling mencinta. Bertahi lalat kaki sama berjumlah tak satu dua. Rendah berbeda kata. Tak pernah kering rasa saling memuja. Selalu banyak berpisah dari pada bersua. Andai tahi lalat kaki itu tak banyak menera, jika tanda itu tak menginspirasi kami untuk mengembara, bila rasa syukur kami kosong karena terisi jera mencinta, maka kami bukan dua orang yang lalu bertemu dan bersatu suara. Mungkin kami menjadi sosok-sosok berhati lelah karena terlalu menghitung jejak langkah asmara yang telah gagal di masing-masing sejarah. Dengan hati kami tak akan kunjung berbajukan cinta berpemilik manusia.

Beda Dunia


Oleh: Ika Maya Susanti

“Beres?”

Si Kecil mengacungkan jempolnya. “Mereka sudah keluar dari rumah ini, kok.”

“Tapi, rasanya mereka masih ada di luar rumah. Apalagi sih, yang mereka mau lakukan? Atau perlu kita ikut keluar untuk membuat atraksi baru?”

“Hahaha… sudahlah cukup! Kita duduk-duduk dan kumpul di sini saja. Kita ngobrol-ngobrol saja yuk, di sini,” ujar Si Tua yang lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa.

“Dasar manusia usil! Maunya apa sih mereka itu?” Si Wanita bersungut-sungut dan lalu ikut mendaratkan tubuhnya di sofa, bersebarangan dengan Si Tua.

“Yah, begitulah mereka. Kita tidak bisa menebak dengan pasti maunya apa. Kecuali, kita menampakkan diri, dan mereka lalu merinding. Ya, ya, seperti itulah yang mereka cari!”

Si Kecil melihat ke sekeliling. “Lho, kok tinggal kita bertiga. Penghuni yang lain ke mana, ya?”

“Sepertinya mereka kelelahan. Yah, pertunjukannya kan sudah berakhir. Hm, mungkin mereka ingin jalan-jalan ke tempat lain.”

Si Tua mengangguk-angguk. “Iya, benar itu! Malam ini malam Jumat kliwon, kan? Malamnya manusia juga suka berulah yang aneh-aneh.”

“Ah, benar itu. Dalam pikiran manusia itu, kita dipercaya punya kekuatan ekstra di malam Jumat Kliwon.” sahut Si Kecil.

“Oh iya, dengar berita kemarin di daerah utara sana? Konon, orang ramai-ramai mengejar Si Hitam yang sedang iseng pamer penampakan! Heboh pokoknya! Mereka bisa marah dan bergerak memukul-mukul angin! Lucunya kata Si Hitam, ada yang bilang ke orang lain kalau dia melihat sosok berwarna hitam dan putih. Eh, tapi yang lain mengatakan, katanya melihat sosok yang warnanya hitam putih terus bentuknya seperti Spiderman. Eh, Spiderman itu apa sih, Cil?” Si Wanita menyikut si kecil.

“Oh, itu tokoh jagoan di dunia manusia. Konon katanya bisa terbang tapi pakai tali yang keluar dari tangannya.”

“Wah, mengalahkan kemampuan kita dong? Jadi ada manusia yang bisa seperti itu? Hebat sekali!”

Si Kecil menggeleng. “Ya tentu tidak. Kalau kita kan melayang tanpa bantuan apapun! Lagi pula, itu cuma cerita buatan manusia saja!”

“Aha, aku tahu ke mana teman-teman kita pergi ke mana!”

Si Wanita menatap si Tua dengan terkejut. “Ke mana? Ke mana? Mereka mencari Spiderman, ya?”

“Ya tentu bukan, lah! Aku itu sedang membicarakan teman-teman kita yang lainnya ya tidak jelas sedang ke mana. Bukan mau bicara tentang Spiderman!”

“Ke mana? Ke mana?” Si Kecil ikut antusias.

“Menurutku, pasti mereka sedang ramai-ramai ke kuburan yang ada pohon beringinnya itu. Kan beberapa hari yang lalu, pohon beringin besat itu baru saja tumbang!”

Dahi Si Wanita mengerut. “Memangnya kenapa? Mereka mau berbondong-bondong membantu para penghuni pohon beringin itu pindah rumah?”

“Hm…” Si Tua jadi berpikir sejenak. “Mungkin barangkali ya?”

“Lho, bagaimana, sih? Katanya tahu. Kok jadi bicara barangkali?”

“Hehehe… soalnya tadi saya berpikirnya, mungkin teman-teman kita yang ada di rumah ini sedang ingin membuat kehebohan di depan manusia di dekat kuburan itu. Pasti mereka ingin unjuk atraksi!”

“Wah… kalau begitu aku mau menyusul, lah!” Si Kecil sudah bersiap-siap melesat pergi.

“Eh, jangan! Masa kamu tega membiarkan aku dan Si Tua berdua di rumah ini?”

“Terus kenapa? Kamu itu tidak usah berpikir yang macam-macam ya? Lagi pula, sebetulnya ada beberapa dari kita yang ada di kamar dan di kolam renang di belakang rumah, kok. Mereka sedang asyik bermain sendiri.” Si Tua menunjuk ke arah kolam yang sedang sibuk berkecipak sendiri.

“Hahaha…”

“Hush! Kamu kenapa jadi tertawa sendiri begitu? Ada apa?” hardik si Wanita kepada Si Kecil.

Si kecil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Aduh, aku jadi ingat kejadian barusan tadi. Bagaimana menurut kalian aksiku tadi? Padahal tadi aku cuma membuat jejak kaki di tangga. Tapi memang sih, pakai acara menutup pintu keras-keras dulu tadi! Bagaimana? Aksiku seru, kan?”

“Hm… lumayan!” Si Tua berujar pendek.

“Ah, lumayan apanya? Perempuan yang tadi itu saja langsung lari ke luar rumah! Huh, sukses kamu, Cil! Tapi, jadinya aku yang nggak dapat bagian beraksi tadi!” Si Wanita menggerutu.

“Kenapa? Memangnya kamu punya rencana aksi apa tadi?”

“Aku itu ingin sekali merasuk ke tubuh wanita itu! Katamu, yang seru seperti itu kan yang mereka cari?”

“Ya ya… Kalau saja tadi aksimu tadi bisa berjalan, sebetulnya asyik juga!”

Si Wanita mengangguk-angguk. “Aku terinspirasi dari cerita yang ada di daerah barat daya sana. Sejak ada kejadian kalau ada wanita yang kerasukan, lalu ditambah dengan aksi pintu lemari yang bergerak membuka tutup sendiri, katanya, acara itu jadi peminatnya! Jadi seperti katamu tadi itu ya?”

Si Tua mengangguk sekali saja dengan mantap.

“Tapi sebetulnya, ada nggak ya manusia yang tidak punya rasa takut?”

“Ada! Di daerah selatan sana, pernah ada cerita yang yah, seperti yang baru saja terjadi di rumah kita ini. Tapi versinya, cuma ada seorang pria yang duduk selama empat jam dan direkam oleh banyak kamera.”

“Lalu?” Si Wanita merasa tertarik.

“Nah, pria ini malah asyik ngobrol dengan dirinya sendiri. Ketawa-ketawa. Teriak-teriak memanggil kita. Tunjuk sana tunjuk sini sambil melotot. Ya akhirnya, banyak dari penunggu rumah itu cuma bisa menonton dari pinggir ruangan saja. Orangnya galak sekali, sih!”

“Tapi, apakah tidak ada teman-teman kita yang berani menunjukkan suatu pertunjukan di dalam acara itu? Lempar batu mungkin? Atau, memerlihatkan asap putih yang terbang ke sana sini?”

“Nah lucunya, sepertinya mereka jadi lupa! Soalnya, atraksi si pria itu sangat lucu dan menarik!”

“Hahaha…”

“Hihihi…”

“Hohoho…”

Si Wanita, Si Kecil, dan Si Tua tertawa terbahak-bahak.

“Eh, sebentar… Itu, kenapa orang-orang usil itu kembali masuk ke dalam rumah?”

“Hah, ada yang sepertinya bisa melihat kehadiran kita sedang duduk-duduk di sini!”

“Minggir. Ayo kita minggir! Rasanya mereka memang hendak menuju ke arah kita!”

“Aduh, tolong, tanganku dipegang! Lho kok? Aduh, kenapa tubuhku tertarik ke…”

**

“Siapa kamu?”

“Argh…. Akh…”

“Ayo bilang, siapa namamu? Jawab!”

“Hiks… hiks… ampun…” suara merintih sembari menangis terdengar menyayat.

“Kalau kamu tidak mau bicara, kamu tidak akan saya lepaskan!”

“Ampun… Lepaskan saya… Jangan ganggu saya…”

“Iya, bilang dulu, kamu siapa?”

“Saya penunggu rumah ini. Hihihi…”

“Siapa nama kamu?”

“Saya Marini…”

“Kamu yang dulu bunuh diri di rumah ini, ya?”

Anggukan kepala terlihat beberapa kali dengan pelan.

“Kenapa kamu bunuh diri?”

“Hiks, soalnya saya habis putus cinta. Pacar saya nikah lagi. Hiks! Hihihi…”

“Sekarang, kamu keluar dari tubuh ini!”

“Argh… saya tidak mau!”

“Lho, sekarang siapa kamu?”

“Saya Si Tua yang menunggu di pohon beringin yang ada di belakang rumah.”

“Kenapa kamu ikut merasuki tubuh ini? Ayo keluar!”

“Saya tidak mau!”

Sepasang mata melotot menatap dengan jalang ke arah segala penjuru. Tiba-tiba, pandangannya berhenti pada sesosok wanita yang tampak berdiri ketakutan.

“Ah, tolong… Kok dia jadi mau mengejar saya?”

“Kamu, keluar! Jangan ganggu wanita itu!”

“Saya mau dia!”

“Sudah, jangan macam-macam. Kamu harus keluar!”

Sebuah telapak tangan menepuk keras dahi seorang pria yang sedari tadi menggelepar-gelepar.

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi ini, Pak?”

Sesaat, pria yang ditanya itu mengehela nafas besar berekspresi lega dan lelah. “Mereka yang tadi masuk ke dalam tubuh perantara kita, sepertinya sejak kita keluar sebentar dari rumah ini, mereka sedang asyik duduk-duduk di sofa ini. Mereka adalah penunggu rumah ini yang sering aktif menampakkan diri sehingga masyarakat sekitar sampai bisa melihatnya.”

“Jadi, mereka tadi itu jahat tidak, Pak?”

“Kalau yang wanita, kadang usil, kadang baik. Kalau yang itu wujudnya kuntilanak. Jadi rambutnya panjang, lalu pakaiannya putih panjang begitu. Tapi kalau yang suara pria tua, yang terakhir tadi, itu memang yang bisa dikatakan ketua dari para penunggu alam ghaib di rumah ini! Rumahnya memang di pohon beringin yang ada di belakang rumah. Bahkan pernah ada cerita ya kalau tidak salah, sewaktu beringin itu akan ditebang, kapak setajam apapun tidak bisa membuat beringin itu tumbang. Jin tua itu punya kekuatan yang kuat sekali untuk memertahankan pohon tersebut. Juga, menjaga rumah ini dari manusia yang mencoba-coba masuk ke dalam rumah.”

“Jadi, cuma ada dua sosok itu, Pak yang saat ini sedang ada di sekitar kita?”

“Ah, tidak. Sebetulnya di sekitar kita ini ada satu lagi. Bentuknya seperti tuyul. Jadi, wujudnya anak kecil begitu. Dia wataknya mirip seperti yang sosok kuntilanak. Kadang dia diam saja dan tidak mengusik. Tapi kadang juga dia usil dan menimpuki kerikil ke orang-orang yang kebetulah melintasi rumah ini. Nah, dia inilah yang tadi sempat menunjukkan tapak kakinya di tangga tadi.”

“Baiklah. Jadi seperti itu ya Pak yang terjadi? Lantas ada sosok lagi tidak Pak di sekitar  kita saat ini?”

Pria yang ditanya menatap berkeliling. Beberapa detik, ia lalu memenjamkan mata. “Tadi kalau pas sebelum kita masuk, ada sosok yang sedang main air di kolam belakang. Tapi kalau yang tadi menampakkan seperti asap hitam, lalu asap putih, itu sepertinya mereka sedang pergi dari rumah ini.”

“Yah, baiklah pemirsa. Jadi, seperti itulah kondisi alam ghaib berikut fenomena-fenomena yang bisa Anda saksikan di rumah ini. Terus saksikan episode-episode lain dari Beda Dunia di waktu berikutnya. Selamat malam!”

**

“Apa yang mereka lihat? Jadi apa tadi kata orang itu?”

“Ada jin tua, kuntilanak, dan tuyul yang sedang asyik ngobrol di ruang tengah.”

“Jadi dia yakini lagi penglihatan yang katanya ghaib itu?”

“Ya, tepat! Mereka menipu diri mereka sendiri lagi!”

“Jadi, yang mana dari kita yang disebut tuyul, jin tua, dan kuntilanak?”

“Ya pokoknya kita bertiga!”

“Aneh, padahal dari tadi kita kan cuma duduk manis di sini dan melihat pikiran mereka hilir mudik ke sana sini?!”

“Ya, dan kita tadi cuma memainkan sentuhan di sana sini saja.”

Tiga sosok yang tidak bisa dijelaskan bentuk rupanya itu pun bertepuk tangan dengan senang.

Cerpen: Menjemput Dermawan


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Kenapa Hen? Lagi sakit ya?” Desi, sepupu Heni langsung melihat cemas demi menatap wajah Heni yang terlihat pucat.

“Iya Mbak, wasirku kambuh!” Ada sakit yang sedikit menyengat di bagian bawah tubuh Heni. Belum lagi rasa panas dingin tubuhnya yang tak jelas sejak kemarin malam.

“Kamu kurang minum barangkali kalau pas buka puasa?” Desi kembali mencecar.

Heni menggeleng. “Cuma kecapekan saja kok Mbak. Kemarin habis keliling minta dana ke orang-orang?”

“Dana? Dana apaan?” Desi terkejut sekaligus kebingungan.

“Ya dana bantuan buat TK tempatku ngajar.”

Desi mengernyitkan keningnya, tanda ia masih belum mengerti apa yang dimaksud oleh sepupunya.

**

“Bu Heni, kita keliling besok, lho! Tadi aku barusan di-sms sama Bu Titik.” ujar Bu Sofi sambil menyebutkan nama ketua yayasan dari TK tempat mereka mengajar.

Heni langsung mengangguk beberapa kali sebagai tanda jika ia pun telah menerima pesan yang sama.

“Bu, besok kl bisa sdh dimulai lho ya cari dananya.” Itu pesan yang sudah terbaca oleh Heni beberapa menit yang lalu.

“Jadi, ke mana saja Bu, tempat yang besok akan kita datangi?”

“Besok, tempat yang kita datangi ada sembilan puluh tempat. Banyak tho?” Bu Sofi terkekeh senang.

Heni terkejut dan geleng-geleng kepala. Dari mana saja Bu Sofi bisa mendapatkan nama orang-orang yang akan mereka datangi untuk dimintai dana? Untuk urusan pencarian sasaran calon dermawan, Heni memang memasrahkan semua hal itu kepada Bu Sofi.

“Walah, kok bisa banyak gitu, Bu? Apa nanti bisa semuanya kita datangi? Cuma tiga hari saja lho Bu, waktu kita,” benak Heni langsung khawatir demi membayangkan dengan singkat apa yang harus ia lakukan tiga hari ke depan. Menaiki motor, mengunjungi banyak orang untuk dimintai dana, dan belum lagi menghadapi teriknya matahari sekaligus kondisi tubuh yang sedang berpuasa ramadan.

“Insya Allah bisa! Ya kita coba dulu, Bu. Biar kita bisa dapat dana banyak. Kan kalau bisa dapat banyak, kita juga bisa dapat lumayan tho, cipratannya?” ujar Bu Sofi sambil menunjukkan daftar nama calon dermawan yang akan mereka mintai sumbangan.

Heni meraih daftar yang disodorkan oleh Bu Sofi. Benar, jumlahnya memang 90 orang! Ada beberapa nama yang ia tahu telah menjadi langganan mereka karena kerap memberikan sumbangan untuk TK tempat mereka mengajar. Namun, beberapa nama terasa asing di mata Heni.

“Lho Bu, toko-toko jualan hp ini kok ya juga dimintai sumbangan, tho?” Heni terheran-heran melihat beberapa daftar nama calon dermawan yang menurutnya terasa asing jika harus juga mereka mintai sumbangan.

“Nggak apa-apa. Ya itu tadi, kita coba dulu saya deh.”

**

“Kok bisa gitu? Kamu itu kan ngelamar di sana jadi guru. Kenapa harus minta-minta sumbangan juga? Wah… nggak benar itu! Nanti lah aku coba ngobrol sama suamiku. Kok ada guru TK tapi kerjanya bisa seperti itu!” Desi memprotes setelah sekilas mendengar cerita dari sepupunya. Ia pun berniat mengadukan masalah sepupunya itu kepada suaminya yang bekerja di unit pelayanan terpadu di dinas pendidikan.

“Ya habisnya mau bagaimana lagi. Mbak? Orang-orang dinas itu kalau ngasih dana, nggak cukup untuk pembangunan sarana di TK. Belum lagi ada potongan dana nggak jelas. Kalau nggak dibantu sambil dengan cara cari dana seperti itu, TK tempatku ngajar nggak bisa maju, Mbak!”

“Ah, ya enggak ah kalau itu gara-gara dinas pendidikan!” Desi merasa tidak terima nama tempat kerja suaminya ikut disebut-sebut sebagai penyebab.

“Yah, Mbak nggak percaya? Coba tanya deh TK lain. Mereka juga sering kok berpapasan dengan aku pas sama-sama minta sumbangan!” Heni membela diri.

Desi seperti tercenung mendengar cerita sepupunya. “Memangnya setiap kali minta, kamu dikasih berapa sih sama orang-orang itu?”

**

“Ada apa, Mbak?” wanita yang sepertinya menjadi pelayan di butik tempat Heni dan Bu Sofi datang kali itu memandang dengan penuh selidik. Dipandanginya sosok Heni dan Bu Sofi dari atas hingga bawah. Lalu, pandangan itu terhenti di sebuah map biru yang dipegang oleh Heni.

Tapi Heni juga tak ingin kalah menyelidik. Ditatapnya balik sosok pramuniaga yang sepertinya berusia tak jauh beda darinya. Ia berdandan cantik, dan berpakaian modis. Jika Heni tak ingat pada cita-citanya yang ingin menjadi pengajar bagi anak-anak kecil, rasanya mungkin ia akan iri demi melihat penampilan wanita itu. Bekerja dalam ruangan ber-AC, berikut dandanan dan baju yang cantik.

“Permisi Mbak,” Bu Sofi menengahi perang tatapan mata antara aku dan pramuniaga itu. “Kami mau minta sumbangan untuk TK kami,” suara Bu Sofi tertata seramah mungkin.

Alis pramuniaga itu bertaut. Tatapannya langsung menunjukkan rasa tak suka. “Tunggu atasan saya saja ya!”

Wajah pramuniaga sekilas menunjukkan kekecawaan. “Ada dua orang yang datang tapi untuk membeli pakaian dari butik ini,” batin Heni, mungkin itu yang ada dalam pikiran pramuniaga demi melihat sosoknya yang datang bersama Bu Sofi.

Gadis pramuniaga langsung berbalik di balik meja kasir. Tangannya yang bercat kuku warna biru laut menekuri hp yang juga berwarna warni pernak pernik warna senada yang mengkilat.

Awalnya Heni dan Bu Sofi bersedia menunggu. Apalagi baju-baju di butik itu membuat Bu Sofi cukup betah untuk berlama-lama melihat-lihat koleksi yang ada. Hanya melihat. Karena jika untuk membeli, rasanya bandrol harga di baju-baju itu bukan untuk ukuran gaji mereka. Dan Heni jadi merasa gelisah karena seperti menunggu sesuatu yang tidak pasti di tempat yang meski sejuk ber-AC.

“Permisi Mbak, ibu yang punya butik masih lama ya?” Heni memberanikan diri untuk bertanya.

“Ya nggak tahu, ya! Kalau mau ya tunggu saja!” ketus jawaban pramuniaga.

Bu Sofi mencolek tangan Heni, seakan memberi isyarat ke Heni untuk bersabar. Tapi Heni merasa gerah di ruangan sejuk bernuansa ungu itu. Bagaimana tidak, sudah lebih dari setengah jam ia berdiri tak jelas di butik itu. Jangankan dengan harapan menunggu adanya uang yang mereka dapatkan untuk TK mereka. Si pemilik butiknya ada atau tidak saja sudah tidak jelas pastinya.

Seorang wanita masuk ke dalam butik, membawa aroma bunga segar dari wangi parfumnya. Heni merasa mengenal wanita itu. Kalau tidak salah, wanita itu adalah teman sekolah dari Mbak Desi. Si pramuniaga pun langsung memberi tahu kepada wanita itu tentang kehadiran Heni dan Bu Sofi yang sedang mencoba meminta sumbangan untuk TK ke butik yang ternyata milik wanita itu.

Sesudah mendengar ujaran dari pramuniaganya, wanita yang berdandan lebih modis dan wah dari pramuniaganya itu langsung menatap Heni dan Bu Sofi dengan satu alis kiri yang terangkat.

“Oalah Mbak, ayu-ayu kok minta sumbangan! Apa nggak malu?”

Heni otomatis sudah tidak bisa lagi tersenyum. Rasanya ingin sekali ia keluar dari butik itu. Wajahnya sudah cukup memanas akibat terlalu lama menunggu dan malah berujung pada sebuah kata-kata tidak enak yang harus ia terima.

Lagi-lagi, Bu Sofi mencoba menengahi. “Kami bukan asal minta sumbangan kok Bu. Kami dari TK Melati yang ada di daerah Sawahan. Kalau Ibu tidak percaya, silakan dilihat data kami ini,” ujar Bu Sofi halus dan lalu menyodorkan map berwarna biru berisi data kondisi TK tempat mereka mengajar. Data-data itu memang telah mereka siapkan dan menjadi bekal dari pihak sekolah untuk mereka mencari dana.

Wanita pemilik butik yang masih memasang wajah tak ramah kemudian berkenan membuka dan membaca isi map. Hanya beberapa detik, ia lalu menutup map dan mengembalikannya lagi ke Bu Sofi.

“Tin, ambilin uang sepuluh ribu. Kasih ke mereka!” ujar pemilik butik yang lalu bergegas masuk begitu saja ke dalam sebuah ruangan lain di butik itu tanpa sedikit pun menatap dan berkata apa-apa ke arah Heni dan Bu Sofi.

Pramuniaga menurut. Diambilnya uang sepuluh ribu yang agak berpenampilan kusut untuk diberikan kepada Bu Sofi.

“Mohon maaf, bisa tanda tangan di sini?” Bu Sofi menunjukkan sebuah kolom pada selembar kertas yang berada di dalam map.

“Buat apa?” cetus ketus si pramuniaga.

“Maaf Mbak, tapi kami diminta seperti itu dari pihak yayasan sebagai bukti,” jelas Bu Sofi yang masih tidak menggeser intonasi ramahnya.

“Udah ah, nggak usah aja ya,” pramuniaga itu lalu kembali asyik menekuri hp-nya seperti tidak ingin melihat Heni dan Bu Sofi. Maksud lainnya adalah, silakan pergi dari sini!

**

“Ha, jadi si Dina temenku itu sampai seperti itu tingkahnya? Dasar, dari dulu zaman SD kelakuannya kok tetap saja pelit!” Desi marah-marah mendengar cerita adik sepupunya.

“Ya untungnya habis itu pas ke toko bangunan Lancar, kami dikasih uang 250 ribu, Mbak. Toko itu memang sudah langganan sering ngasih ke kami dalam jumlah yang besar. Heah, rasanya habis keluar dari butik itu terus dapat yang gede di toko Lancar, rasanya lega.”

Heni lalu bercerita jika apa yang dilakukan oleh pemilik butik itu sebetulnya belumlah seberapa. “Soalnya ada juga Mbak, yang mirip seperti itu. Sudah diomelin, disuruh nunggu lama, ya nggak dikasih uang lagi!”

“Sebentar, memangnya kalau orang-orang itu kamu mintai dana, rata-rata ngasih berapa tho?”

“Yah… paling kebanyakan ngasih lima puluh ribu, Mbak.”

“Terus,” Desi masih penasaran dengan cerita adik sepupunya. “Dari orang segitu banyak kemarin itu, kamu dapat berapa?”

Heni tersenyum simpul. “Lumayan Mbak. Aku sama Bu Sofi bisa dapat 5 jutaan! Kan kita bisa dapat sekitar sepuluh persennya.”

Desi menggeleng-gelengkan kepala. “Oalah Hen… Kalau aku jadi kamu, jujur, aku nggak bisa dan nggak terima. Wong ibaratnya ngelamar jadi guru, kok malah disuruh minta-minta sumbangan!” Desi bersungut-sungut.

Pernyataan Desi cuma disambut dengan senyum santai oleh Heni. Kegiatan yang sudah dilakukannya beberapa kali itu telah melunturkan keterkejutannya pada saat penugasan pertama ketika ia diminta untuk keliling mencari dana oleh pimpinan yayasannya.

**

“Bu Heni, sebentar lagi kan waktunya liburan, Bu Heni ikutan turun juga ya. Cari dana,” ujar Bu Titik.

“Cari dana? Dana apa tho, Bu Sofi?” karena tak berani bertanya langsung dengan Bu Titik yang terkenal kerap tegas dan cenderung ketus bila sedang bicara, Kiki pun akhirnya bertanya tentang apa yang dimaksud oleh Bu Titik itu kepada Bu Sofi.

“Oh, itu… Ya kalau pas liburan sekolah anak-anak, kita memang dapat tugas Bu buat minta dana ke beberapa orang. Soalnya kalau nggak gitu, sekolah TK tempat kita ini nggak bisa maju. Dana dari dinas soalnya nggak cukup,” jelas Bu Sofi.

“Lho, kenapa itu jadi tugasnya kita? Kok nggak pengurus saja yang minta dana? Lagi pula, kita kan guru. Tugas kita kan ya ngajar anak-anak,” ada nada sengit di suara Heni saat berkomentar.

Bu Sofi tersenyum tipis. “Hehehe… yang penting sekarang itu, kita bisa kerja halal, dan dapat uang. Kalau saya sih, ya begitu saja Bu, prinsipnya. Lha wong saya cuma lulusan SMA. Tapi, saya kerja kayak begini ini sudah syukur alhamdulillah. Lumayan, buat nambah bantu-bantu suami. Apalagi saya punya anak tiga.”

Heni agak sedikit terkejut mendengar kata-kata yang bernada maksud halus tersebut. Sepertinya Bu Sofi agak mengerti arah pikiran dari Heni.

“Bu Heni sih enak, masih lajang, belum berkeluarga. Tapi, Bu Heni juga sedang kuliah juga, tho? Rasanya, kerjaan yang ini dipertahankan saja dulu. Itu kalau saran saya sih. Soalnya kan bisa jadi pengalaman kerja. Sekaligus, Bu Heni juga jadi dapat tambahan uang. Ya nanti, coba deh sambil ngasih les ke anak-anak juga. Anak-anak TK itu sekarang lagi banyak yang butuh les baca tulis dan hitung lho, Bu. Soalnya kalau nggak gitu, mereka susah buat ngehadepin tes masuk ke SD,” panjang lebar Bu Sofi berujar. Tak hanya sekedar menepis apa yang sedang dirisaukan oleh Heni. Heni pun merasa, Bu Sofi sepertinya bisa mengerti bagaimana mengatasi kegalauan di hati Heni terhadap situasinya sekarang dan nanti.

“Waduh Bu, saya salut sama Ibu. Ya, mungkin karena saya masih baru lulus SMA barangkali ya. Jadinya pikiran-pikiran seperti itu, saya masih belum terpikir sampai ke situ.”

Menanggapi ucapan Heni, Bu Sofi cuma tersenyum. “Ya nanti kalau Bu Heni sudah punya tanggungan keluarga seperti saya, pasti mikirnya juga begitu, Bu. Sekarang begini saja lho, kita cuma lulusan SMA. Lalu bisa kerja. Itu alhamdulillah lho, Bu. Coba deh Bu Heni lihat di sekitar. Banyak lho Bu orang yang kepengen kerja. Jadi guru TK dibayar seratus ribu juga mau!”

**

Musik Hadad Alwi menggema dari telepon genggam milik Heni. Ada pesan masuk. Heni langsung meraih benda mungil itu dan membuka pesan yang terbaca olehnya siapa pengirimnya. Pesan dari Bu Sofi.

“Bu, kita dpt 500 rb lho satu orangnya. Soalnya hsl dana yg kita dpt kemarin banyak. Bu Heni saya tunggu ntar sore ya di rmh utk ambil bagiannya. Lumayan Bu, buat lebaran!”

Entah apakah harus tersenyum ataukah tidak. Tapi Heni berniat untuk tetap mengambil uang itu. Bukan untuk membeli sesuatu yang baru di hari lebaran. Tabungan miliknya sudah siap menunggu karena ada biaya kuliah di bulan depan yang telah menanti.

**

Usai pulang dari rumah Heni, Desi seperti tidak bisa menunggu lama saat ia akhirnya bisa bertemu dengan suaminya.

“Mas, aku mau cerita nih tentang masalahnya Heni.”

Tapi begitu melihat suaminya seperti sedang merasa kebingungan, Desi jadi menunda niatnya. “Ada apa tho? Kok kayak orang bingung begitu?”

“Ealah, ini lho Dek, aku baru dapat uang dari atasanku. Katanya buat tambahan lebaran ntar.”

“Lho, dapat uang kok bingung? Yo alhamdulillah…”

Suami Desi malah menghela nafas berat. “Mau tahu ini uang apa? Ini uang hasil setoran beberapa TK dan PAUD karena mereka habis dapat dana bantuan dari pusat!”

“Sebentar, kok aku jadi yang bingung tho, Mas?”

“Jadi, TK dan PAUD itu kalau dapat dana dari pusat, uangnya dipotong terus diminta setor ke dinas. Mereka disuruh setor gitu saja tapi nggak dapat bukti apa-apa. Masuknya ya bisa ke kantong atasanku. Sama atasanku, dibagi-bagi lagi ke bawahannya. Termasuk, ya ke aku ini. Mau nggak mau, aku harus terima!”

Desi langsung tercenung. Rencananya untuk mengadukan masalah sepupunya lalu menguap bercampur dengan cerita yang baru saja ia dengar dari suaminya.

 

(Jika ada kemiripan di dunia nyata, anggap saja ini hanya fiksi. Mohon diambil saja nilai moralnya)

Cerpen: Ujian Kelulusan


Oleh: Ika Maya Susanti

 

Tangan Waluyo basah dan bergetar. Seumur-umur, apa yang dilakukannya setelah ini begitu sangat menegangkan baginya. Melebihi sengatan rasa tegangnya ketika dulu ia ujian skripsi. Atau, ketika menekuri detik-detik menunggu bayi pertamanya lahir. Jika dihitung-hitung, tak pernah ia seumur-umur merasakan sensasi tegang seperti itu. Ketegangan yang membuat keawasan hati dan pikirannya menjadi bekerja dengan penuh terjaga.

Ini berawal dari kejadian di satu minggu yang lalu. Waktu itu, kepala sekolah tempatnya mengajar mengajaknya untuk rapat bersama guru-guru lain dari sekolah tersebut.

“Kita harus membantu murid-murid kita agar mereka bisa lulus. Lulus dengan seratus persen!” Tolonglah Bapak dan Ibu camkan apa yang sudah saya sampaikan ini,” tegas kepala sekolah.

Kemudian, seniornya yang telah menyandang profesi pendidik selama belasan tahun itu kembali berujar menambahkan. Menurutnya, apa yang ia lakukan itu telah dilegalkan secara tidak legal oleh beberapa orang dinas.

“Jika tidak, sampai kapan daerah kita bisa meluluskan murid-murid yang berlabel berprestasi. Malu lah rasanya, jika kita dihina terus menerus karena selalu diberitakan tidak sukses dalam meluluskan para murid? Apalagi disorot di tingkat nasional!” curahan hati kepala sekolah menderu tegas.

Sebetulnya, Waluyo bisa memilih dan tidak menganggap itu sebagai instruksi. Namun kata-kata yang diungkapkan oleh kepala sekolah membuat ia dan beberapa guru lainnya lalu lebih berpikir. Ada nasib nama sekolah mereka. Juga nasib murid-murid mereka. Bahkan, juga nasib wajah-wajah mereka sendiri nantinya sebagai pengajar di sekolah itu.

Setelah sekian lamanya batin Waluyo bergejolak, akhirnya dibukalah sampul amplop besar yang telah beberapa menit ada di genggaman tangannya. Bercak berwarna cokelat yang lebih terang, terlihat membekas di sana-sini. Itulah hasil dari tangan Waluyo yang basah seusai membasuh keringat di keningnya. Pada benda yang kini berada dalam genggamannya itu, ada nasib anak-anaknya. Hasil ujian dari anak-anak itu akan bergantung pada apa yang akan dikerjakannya. Setelah ini, beberapa menit saja setelah amplop itu ia buka.

Tak dapat dibayangkan oleh Waluyo bagaimana jerih payahnya selama ini. Sudah tiga tahun ia menyampaikan ilmu Matematikanya kepada para siswa di sebuah pulau. Mulai dari menyiapkan bahan pengajaran, hingga terkadang harus berpeluh-peluh menghadapi siswa-siswanya dalam belajar mengajar di dalam ruang kelas tak ber-AC. Semua itu demi dua buah kata yang ingin sekali ia dengar, “Mengerti Pak!” Kata-kata yang juga didamba oleh teman-teman seprofesinya.

Namun kegusaran yang ada pada organ berdenyut di tempurung kepalanya harus tersingkirkan. Dalam benak Waluyo, ia ingin sekali melihat wajah-wajah siswanya bisa tersenyum riang. Semoga, nasib berpihak pada anak-anaknya di tanggal 21 Juni nanti, itu bisik hati Waluyo. Pikirnya, anak-anak itu sudah cukup berpayah-payah untuk berusaha menuntut ilmu selama ini.

Waluyo teringat cerita dua siswanya, Amad dan Eli. Kedua anak itu pernah mengisahkan kepadanya tentang perjuangan perjalanan mereka saat menuju ke sekolah. Mereka berangkat dari rumahnya di pulau seberang dengan berseragam celana pendek warna biru.

Mereka berkisah. “Kalau tidak ada sampan yang bisa kami naiki, ya kami lebih memilih jalan kaki dulu Pak. Ada lah mungkin 8 km lewat jalan darat harus kami tempuh. Habis itu, barulah kami mencopot baju, terus berenang. Kalau tak begitu, tak selamat baju seragam kami ini kena air. Tapi beda lagi kalau kami pulang. Tak payah lagi kami Pak seperti waktu berangkat. Ada mamaknya si Alek yang menjemput Alek dengan sampan. Nah dengan mamak si Alek itu, bisa lah kami menumpang sampai seberang. Yang penting kami tak lagi berpayah-payah mencopot baju seragam dulu lalu berenang pulang macam waktu kami berangkat.”

Waluyo tentu saja terkejut waktu mendengar ujaran semacam itu di awal ia mengajar, dan lalu mendapati kisah dari murid-muridnya. Waktu itu, ia baru diangkat menjadi seorang guru dan mendapatkan surat keputusan untuk mengajar di tempat itu. Tapi ketika Amad dan Eli yang kini menjadi generasi kesekian kalinya sebagai muridnya di sekolah itu bercerita hal yang sama, cuma ada satu tekad yang makin membulat di hatinya. “Mereka harus jadi anak yang pintar!”

Tapi di tahun-tahun belakangan ini, satu tekad lain terpatri di dadanya. Sejak standar nilai ujian nasional dari tahun ke tahun dinaikkan dan itu justru membuatnya sering melihat wajah-wajah kecewa, Waluyo memiliki sebuah tekad baru, “Mereka harus lulus! Anak-anakku harus mengakhiri masa sekolahnya di sekolah ini dengan wajah sumringah.”

Meski demikian, terkadang ia bersyukur jika teringat masa-masa sekolahnya dulu. Waluyo tidak mengalami istilah mencopot baju dan berenang menyeberang pulau seperti yang dilakukan murid-muridnya kini. Cukuplah rasa lelah karena harus berjalan beberapa kilometer jauhnya dari rumah menuju sekolahnya. Rasa syukur miliknya yang terbersit kini, tak pernah ia sangka ada dulunya. Dulu, ia bisa memiliki keluh dalam lelah. Tapi jika membandingkan dengan kenyataan pada apa yang dialami beberapa siswanya, ia langsung merasa malu.

Beberapa tahun terakhir ini, Waluyo harus bertarung untuk mereka yang terus dan terus mau sekolah. Nilai akhir memang membuatnya cemas di setiap waktu akhir jenjang pendidikannya. Dan sepanjang tahun, siswa-siswanya silih berganti harus berjuang untuk mencapai sebuah standar nilai yang begitu tinggi. Untuk sebuah status lulus.

Waluyo sendiri tidak pernah membayangkan akan melalui semuanya itu sebagai bagian dari nasibnya, sebagai seorang guru di sebuah pulau kecil yang jauh dari peradaban kota. Sebuah profesi mulia yang juga ia harapkan dapat menuai penghasilan yang memadai. Dan dengan tetap memegang amanah orangtua semenjak ia kuliah untuk menjadi guru PNS, akhirnya ditekadkan hatinya untuk keluar dari pulau Jawa.

“Guru itu kalau di luar Jawa dihargai banget, lho! Gajinya saja bisa tiga juta lebih. Coba kalau kita di Jawa, susah banget terus-terusan daftar PNS. Susah diterima! Kecuali, kalau kita punya uang banyak untuk bayar. Tapi yo lucu tho yo? Masa’ mau kerja kok kita ibaratnya diminta bayar dulu. Bener, tho?!” itulah kata-kata Arib, sahabatnya yang sudah lebih dulu merantau ke luar pulau Jawa. Tak henti-hentinya teman kuliahnya itu mengobarkan semangat merantau pada diri Waluyo.

Pilihan di depan mata yang ditawarkan Arib tersebut akhirnya ia pilih untuk ia ambil. Di kemudian hari ketika tes PNS benar-benar diikutinya dan vonis untuk tugas mengajar di sebuah pulau harus diterima, Waluyo tetap terus memilih mengikuti garis hidup yang telah diambilnya tersebut.

Namun kenyataan menjadi guru di sebuah pulau sungguh di luar dugaannya. Waluyo tidak pernah tahu bahwa ada kondisi sekolah-sekolah tertentu yang bisa jadi tidak seperti yang ada dalam gambarannya ketika kuliah. Satu komputer untuk satu sekolah, misalnya itu yang ada pada sekolah tempatnya mengajar. Tidak peduli apakah itu untuk kerja para guru ataukah untuk kegiatan belajar bagi para siswa dalam mengenal teknologi komputer, komputer itu jadi benda canggih yang dipakai secara bergantian.

Yang hanya Waluyo tahu dari selama mengikuti kuliah dulunya, menjadi seorang guru haruslah punya beberapa kemampuan. Guru harus mampu memotivasi siswa, mengajar sesuai dengan rancangan pengajaran, dan mengajar dengan metode yang bervariasi demi membuat para siswa tidak menjadi bosan dan dapat dengan mudah menyerap pelajaran. Itulah teori yang Waluyo dapatkan selama kuliah di universitas yang dulunya identik dengan berbagai jurusan keguruannya.

Tapi Waluyo tidak pernah diberitahu jika kondisi-kondisi yang distandarkan itu faktanya tidaklah didukung dengan hal-hal yang juga seiya. Dan saat sadar tentang hal itu, tentunya Waluyo tidak mungkin menyesal. Malu juga rasanya jika harus mundur dari kenyataan. Anak-anaknya yang sudah berani berperang melawan kondisi memprihatinkan pada diri mereka untuk memenuhi kriteria wajib belajar itu sungguh sayang jika harus ia kecewakan! Jika mereka bisa bersemangat untuk tetap terus sekolah dalam kondisi yang tidak menunjang, kenapa ia malah memilih mundur?

**

Semua jawaban untuk ujian akhir nanti akhirnya sudah dikerjakan oleh Waluyo. Hasilnya, siap untuk dibagikan ke pada para murid-muridnya. Apa yang barusan dilakukannya pun sungguh tak ada dalam bayangannya dulu ketika ia menempuh kuliah. Dulu ia berprinsip dalam kondisi ujian apapun, ia harus bisa mengerjakannya sendiri. Tanpa bantuan kecurangan. Tidak ada harapan pertolongan dari teman-temannya, apalagi dari pengajar. Sungguh rasanya tidak masuk akal jika ia harus melewati ujian dengan meminta pertolongan jawaban dari dosen. Yang ia yakini sejak dulu, jika mentalnya ketika menuntut ilmu saja sudah rusak, lantas apakah ia bisa dengan santai meminta para siswanya nanti untuk bersikap jujur dalam ujian? Prinsip Waluyo ketika masih kuliah itu pun kerap ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Arib, sahabatnya.

“Lakukanlah hidup itu dengan wajar, kawan. Aku yakin, guru-guru kita pun dulunya pasti sama halnya seperti kita sekarang Mereka juga pastinya kerap melakukan hal-hal yang tidak jujur dalam mengerjakan tugas sekolah,” bela Arib untuk dirinya sendiri.

“Dan nanti, tentunya aku juga akan mati-matian melarang muridku untuk bersikap curang. Pokoknya, aku nggak peduli kalau dulu aku dulu juga suka mencontek sewaktu kuliah!” Waluyo ingat ekspresi Arib yang tanpa ekspresi bersalah saat mengatakan hal itu. Sementara ia yang mendengarnya malah merasa gerah.

“Ah, mungkin teman-temanku yang dulu sering mengolok-olok keidealismeanku, pastinya tidak canggung untuk melakukan seperti apa yang sedang aku lakukan kini. Dan mungkin di saat yang sama, jika mereka kini juga menjadi guru seperti aku sekarang, mereka pun pastinya juga sedang mengusahakan hal yang sama untuk murid-muridnya di sekolah,” batin Waluyo sembari memandang jawaban dari soal-soal ujian yang telah selesai ia kerjakan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya soal ujian kini sudah begitu mudah didapatkan. Meskipun, ujian akhir nasional masih tinggal empat bulan lagi lamanya. Bahkan menurut kabar pesan pendek dari telepon seluler dan kabar lewat telepon dari teman-temannya yang sering mengakses internet, di dunia tak nyata itu kini sedang ramai bermunculan soal-soal untuk ujian. Tidak ada lagi judul latihan soal untuk persiapan ujian atau soal-soal yang pernah keluar di tahun-tahun lalu dan bisa menjadi bahan belajar bagi para siswa yang akan ujian.

Padahal dulu di masa kecilnya, Waluyo harus merepotkan diri ke sana sini demi mendapatkan soal ujian tahun-tahun sebelumnya untuk dipakai sebagai soal latihan. Tapi kini, para siswa calon peserta ujian akhir itu bahkan sudah bisa berlatih soal-soal yang 99 persen kemungkinannya akan menjadi soal ujian sungguhan nantinya.

Bahkan yang membuat Waluyo terheran-heran, jawaban soal ujian pun sudah bisa didapatkan dengan mudah. Heran bercampur rasa kesal lah yang menjadi hujan rutukan di hati Waluyo. Lantas, apalah gunanya ia dan para siswanya harus menempuh istilah belajar mengajar selama tiga tahun?

Apalagi informasi itu ia dapatkan di tahun-tahun sebelumnya. Saat di mana ia sedang mati-matian mengira-ngira dalam persiapan yang ia lakukan untuk para murid-muridnya tentang soal apa yang akan dikeluarkan oleh para penguasa bidang pendidikan tingkat wahid. Rasanya saat itu barulah ia menyadari, betapa kasihan para muridnya yang di malam ujian harus kebingungan menerka, soal apa yang akan keluar nanti. Jika terlewat kurang beruntung, alamat, tergadaikanlah nilai di akhir ujian. Dan kegemasan Waluyo saat itu tentunya sampai di ubun-ubun ketika mendengar teman-temannya yang kini seprofesi, bisa bercerita ringan dan pasti tentang nasib anak didiknya di akhir ujian nanti. Pasti lulus!

“Ini bukanlah salah kita. Orang-orang yang berada di atas kita yang tidak sadar dan akhirnya meminta kita untuk melakukan ini. Mereka tidak lagi mau malu jika nanti wajah mereka tercoreng aib dengan angka-angka ketidaklulusan yang begitu fantastis,” begitu alasan seorang rekannya yang juga sesama guru di sekolah tempatnya mengajar.

Melihat Waluyo hanya terdiam dengan ekspresi yang seakan masih sulit menerima, rekannya itu pun tak henti menyerah mencoba terus meyakinkannya. “Kita lebih baik mengikuti saja. Kasihan betul lihat anak-anak pulau itu yang sudah mau berpayah-payah bersekolah, lalu harus terus kecewa. Lagipula, nasib sekolah di daerah-daerah lainnya sama juga seperti kita. Kita ini, mengajar sekolah di pulau ini, memang terkenal akan kualitasnya yang kurang baik. Tapi walau bagaimanapun itu, cobalah engkau pikirkan sekali lagi nasib anak-anak kita.” kata-kata dari rekan kerjanya yang sepertinya paham gejolak hati Waluyo, mencoba sedikit meredam kegalauannya.

**

Waluyo berjalan gontai ke sekolah tanpa rasa gairah. Hari ini berita kelulusan anak-anaknya akan diketahuinya. Tapi meski di tahun-tahun sebelumnya angka kelulusan anak-anaknya tidaklah menggembirakan, namun masa-masa dulu itu lebih membuatnya bersemangat untuk memacu langkahnya ke sekolah di saat-saat seperti ini. Dan sekarang, rasanya semua berbeda.

Kejadian demi kejadian seputar ujian nasional terus ada dalam ingatannya. Satu hal, ia masih merasakan sesak di dadanya jika mengingat apa yang telah dilakukannya beberapa bulan lalu. Dan ketika langkah kaki Waluyo akhirnya sampai di sekolah, para siswa pun berhamburan langsung berebut menciumi tangannya.

“Terima kasih, Pak! Terima kasih, Pak!” Wajah-wajah gembira dan lega menyambutnya seusai para murid-muridnya tersebut menempelkan kening mereka di punggung tangan Waluyo saat bersalaman sebagai tanda hormat.

Mata Waluyo yang berkaca-kaca seperti menangkap getar rasa haru di mata para siswanya. Waluyo mencoba membaca satu per satu pikiran anak-anaknya, “Pak, Bapak pasti bangga kami. Angkatan kami akhirnya bisa membuat sekolah kita ini tidak lagi diolok-olok oleh masyarakat. Tidak ada lagi wartawan yang akan datang bergantian untuk meliput nasib sekolah kita yang terus-menerus dinyatakan sebagai sekolah tidak bermutu. Meskipun, seharusnya kami bangga. Karena, kapan lagi kondisi sekolah kita yang memprihatinkan ini bisa diperhatikan oleh masyarakat dengan adanya kejadian ketidaklulusan? Ah, tapi kini pun pastinya mereka akan kembali menyorot prestasi kami di tahun ini. Kami semua sudah bisa lulus!” Tiba-tiba Waluyo seakan mampu membaca pikiran murid-muridnya.

Namun tetes tangis Waluyo bukanlah demi rasa haru. Lebih tepatnya adalah rasa miris yang mengiris nuraninya karena sedih dan marah pada dirinya sendiri. Ya, hari itu murid-murid Waluyo lulus. Tapi bagi Waluyo, ujiannya sebagai guru sebetulnya dinyatakan tidak lulus tahun ini!

 

(Ini cuma ecrita yang beberapa tahun lalu saya buat. Mungkin, realitanya sudah tidak ada lagi. Tapi semoga pentingnya nilai kejujuran yang ingin saya angkat dalam cerpen ini tetap mengena. Apapun kondisinya sekarang)

Amin


Oleh: Ika Maya Susanti

Amin, cukup kata itu saja yang diberikan mamakku untuk menjadi panggilan bagi setiap orang kepadaku. Dari aku lahir, sampai besar dan tua kelak. Mungkin seumur hidupku, aku tidak akan berniat untuk mengganti nama pemberian mamakku itu. Kata mamak, ia memberikannya untukku karena ia tahu arti nama itu adalah untuk sebutan bagi orang yang dipercaya.

“Mamak ingin engkau sampai besar, bisa jadi orang yang dipercaya, Min,” cukup itulah alasan dan harapan Mamak untukku.

Padahal yang pernah kudengar, nama itu bisa menjadi doa sepanjang hidup bagi orang yang mendapatkannya. Bukannya aku tak suka dengan harapan ibu yang sebetulnya juga baik dan luhur itu untukku. Namun, mengapa doa Mamakku begitu sederhana?

“Ah, engkau itu Min, tak banggakah namamu bisa sering disebut orang sehabis shalat saat doa,” ujar Budi, kawanku.

Entah maksudnya bercanda, menenangkanku, atau membuatku bangga, yang jelas akhirnya aku selalu mencoba untuk menerima kenyataan bahwa namaku memang Amin.

Dan lihatlah, inilah hidupku sekarang. Hanya menjadi seorang tukang ojek di sebuah kota yang lumayan besar, Batam. Padahal jika ada orang mendengar di mana aku tinggal, ia pasti langsung akan berpikir wah mendengar nama kota itu.

“Batam? Kerja di perusahaan mana engkau, Min? Ah, pasti duit engkau banyak lah ya! Di sana apa saja bisa diusahakan untuk dapat uang banyak,” demikian saudara-saudaraku yang ada Riau daratan berkomentar. Ah, padahal hanyalah seorang tukang ojek saja, apa yang bisa aku banggakan?

“Hei anakku, cobalah kau pikirkan, apa kebanggaan yang bisa engkau punya? Engkau seorang tukang ojek. Bisa dapat rejeki halal dari kerja engkau sekarang ini. Bisa membantu orang pergi ke suatu tempat. Mengapa pula engkau harus malu?!” demikian omelan mamak jika mendengar aku mengeluh tentang keadaanku.

“Tak usahlah lagi engkau mempertanyakan mengapa aku memberi namamu dengan kata amin. Kau pikir, tak besar kah harapan yang aku inginkan. Jika engkau bisa dipercaya orang, maka sesuatu yang besar sekalipun bisa engkau dapatkan nanti,” pastilah itu teguran mamakku jika kemudian aku mengaitkan dengan namaku yang hanya terdiri dari empat huruf itu.

Mungkin isi bicara mamak terdengar bijaksana. Namun meski sekolah ala kadarnya dulu, namun begitulah ia bisa berbicara. Kata orang, orang tua bisa bicara bijaksana karena pengalaman yang telah ia jalani.

Tapi, keyakinan ibu begitu sulit menghapus kekecewaan yang kerap aku rasakan. Oh nasib… mengapa aku harus menerima hidup seperti ini? Hanya seorang lulusan SMA, tak punya keahlian apa-apa selain hanya bisa menaiki motor saja. Lantas, kepercayaan besar apa yang bisa sampai padaku jika cuma demikian adanya kondisi diriku? Mengapa tak Kau ciptakan aku menjadi orang besar? Mengapa ibuku harus Engkau beri inspirasi untuk memberikan nama sebuah kata amin untukku?

“Ojek, Bang?” tiba-tiba seorang pria melambai tangan, mencoba menghentikan lamunan gerutuan yang berkecamuk di hatiku.

“Ya, ke mana?”

“Engku Putri ya Bang,” ujarnya menyebut sebuah lapangan utama di Batam.

Langsung kunyalakan motor dan memberikan helm ke padanya. Bau wangi tercium di hidungku. Ah wanginya! Orang ini, pastilah kerja di kantor yang besar dan ber-AC, batinku. Badannya masih tercium wangi meski sudah sepetang ini.

Sesampainya di Engku Putri, pria itu pun turun. Bukannya segera membayar, ia malah senyum-senyum ke padaku.

“Tiga ribu saja Bang. Tadi kan Abang cuma naik dari dekat saja,” ujarku.

Sekali lagi ia cuma tersenyum. “Maaf Bang, sebetulnya saya tak punya uang. Uang saya habis karena dari tadi saya pakai ke sana sini melamar kerja,” jawabnya.

Aku langsung tertegun. Ku perhatikan lagi sekujur tubuhnya. Mulai dari sepatu hitam yang berkilat, setelan kemeja dan celana yang rapih hampir tak memiliki kerut lusuh, rambut yang tertata rapih, dah ah, wanginya itu? Apa iya orang seperti ini tak punya uang?

“Sekali lagi maaf ya Bang,” ujarnya lagi lalu berjalan pergi.

Entah kenapa aku tak bisa marah ataupun sedikit saja menegurnya. Kubiarkan saja ia berlalu tanpa aku cegah sedikitpun. Meski dalam hati, sekepal panas seakan siap meledak.

“Janganlah kalian sesekali mengumpat orang. Karena jika demikian, kalian sama saja mengumpat makhluk yang sudah dibuat oleh Allah,” suara Bapak Guru mengaji di kala aku SD terngiang kembali.

“Tapi Pak, kalau ada orang yang sudah berbuat sesuatu yang kurang ajar kepada kita, atau bahkan jahat, apakah kita diam saja?” protesku kala itu.

“Mungkin Allah sedang menguji atau mengingatkan sikap kita. Atau, mungkin Allah sedang mengirim kita kepada orang itu untuk menolongnya,” demikian jawaban bijak Bapak Guru yang membuat aku hingga sekarang mencoba untuk sedikit bersikap bijak.

Ku pandangi lagi punggung orang yang baru saja membuatku berhenti untuk melamun tadi. Ah, nasibnya ternyata tak sebaik seperti yang aku duga. Berpakaian rapih dan berparfum wangi, namun ternyata belum punya pekerjaan. Aku lebih baik dari orang itu. Yah, meskipun hanya sebagai tukang ojek! Malam ini, aku punya beberapa lembar uang meski tidak banyak di kantong celanaku. Dia? Bahkan untuk membayar ojekku saja ia tak bisa. Apakah ini jawaban dari lamunanku tadi ya? Mungkin, aku dipercaya oleh Allah untuk menjadi orang yang tidak mau memarahi orang yang tidak punya uang untuk naik ojek?!

Aku menghembuskan napas berat. Capek! Sepertinya cukup sudah perburuanku mengejar pria yang ingin menggunakan jasa ojekku. Alhamdulillah, hasilnya hari ini cukup lumayan. Sekarang waktunya berterimakasih pada yang memberiku rejeki. Yah, fatal mungkin. Karena sepertinya sudah setengah jam yang lalu adzan maghrib berkumandang, namun aku tidak datang untuk bersujud menyapa-Nya.

Masjid Raya Batam Centre yang terletak berseberangan dengan Engku Putri jadi tempat tujuanku selanjutnya. Biarlah, selepas Isya’ saja aku baru pulang nanti.

Aku lalu duduk di tangga masjid. Inilah tempat favoritku yang sering aku kugunakan, sekali lagi untuk hobi melamunku. Ah tidak, lebih tepatnya hobi mengamati. Bisa melihat orang yang berpakaian bagus, biasa, bahkan dekil. Lantas kemudian, biasanya aku memikirkan bagaimana nasib yang sedang ia jalani. Bahagiakah hidupnya? Atau lebih meranakah dari aku?

Namun kejadian barusan tentang seorang pria yang tak mampu membayar ojek, kini agak mulai merubah pikiranku. Ketika aku melihat orang berpakaian lusuh yang lebih buruk dariku, aku lantas berpikir, bisa jadi ia cukup bahagia dengan hidupnya sekarang. Lihatlah, ia punya waktu untuk duduk mengaji Al Quran di masjid.

Saat aku mengalihkan pandangan dan melihat seseorang yang berpakaian bagus, masuk lalu shalat, dan pergi sesegera mungkin, pastilah ia orang yang kaya namun sibuk dengan kerjaannya. Di waktu yang hampir mahrib ini, ia justru tergesa-gesa menjalankan shalat ashar. Kasihan, betapa sedikitnya waktu yang ia miliki, batinku.

Dan saat aku melihat seseorang tertidur di tempat tak jauh dari tempatku duduk, aku jadi tersenyum. Ia berpakaian rapih namun tertidur dengan dengkurannya yang keras. Mungkinkah pria ini seperti pria yang tak mampu membayar ojekku tadi? Ia kelelahan ke sana sini untuk mencari kerja?

“Yo, begitu Nak, hidup itu!” tiba-tiba seorang bapak tua menduduk tubuhnya di dekat tempatku duduk.

“Bapak lihat, kamu dari tadi lihat sana, lihat sini, kelihatan mikir, senyum sendiri? Pasti sedang berpikir, apa cerita hidup mereka hari ini, iya?” tebaknya jitu.

“Mengapa Bapak bisa tahu?” aku lalu ganti mencermati bapak tua yang duduk bersila menghadap ke arahku sembari menyandarkan punggungnya di dinding.

“Hehehe…” ia malah terkekeh. “Sudahlah, Bapak tahu kamu belum shalat maghrib kan? Sudah sana, shalat dulu. Masa belum shalat malah sudah sibuk memikirkan nasib orang?!” tegurnya.

Akhirnya aku bergegas untuk menunaikan hutang shalat maghribku. Setelah usai, aku kembali ke tempat tangga di mana aku melamun sebelumnya. Ternyata, bapak tua itu masih asyik duduk di sana dengan tasbih di tangannya. Sementara cuaca di luar yang tadi terang, kini menjadii hu jan deras. Memang, kondisi di Batam yang bentuknya pulau itu kerap membuat cuaca tidak menentu. Bisa jadi sebentar hujan, kemudian seperti tidak ada apa-apa. Atau sebaliknya.

Aku lalu mengamati bapak tua tadi. Tak ada yang istimewa dari pakaiannya. Hanya baju koko berwarna biru laut yang memudar dan sarung kotak-kotak berwarna hijau.

“Bapak sendirian ke masjid?” tanyaku.

Ia menghela nafas untuk mengatur nafasnya. “Iya. Dari mana kamu tadi? Kok sampai maghrib sudah lama lewat baru shalat? Sibuk cari uang juga?”

Aku membenahi sila dudukku. “Iya Pak, saya ngojek.”

“Repot ya hidup di Batam ini. Memang sih, katanya kalau ulet, di sini mudah sekali bisa mendapatkan uang. Beda dengan di Jakarta yang lebih butuh kreatifitas lebih banyak lagi, baru bisa uang. Heah… semua orang sibuk cari uang di sini ini,” keluhnya.

“Yah, habis mau bagaimana lagi Pak,” aku berkelit.

Bapak itu lalu menoleh ke arah dalam masjid. “Lho, kok jadi sepi begini ya? Padahal sebentar lagi adzan isya’ ini. Siapa yang adzan nantinya kalau yang biasanya adzan tidak ada?” gumamnya sendirian.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. “Kalau tiba-tiba kamu yang harus adzan, karena muadzin masjid ini tidak ada, kamu mau?” tantangnya.

Bukannya langsung menjawab, aku malah melihat ke arah luar. Hujan memang masih deras-derasnya. Mungkin muadzin masjid ini tadi harus keluar karena ada suatu urusan dan tidak dapat kembali karena hujan yang sedang turun deras.

“Bisa adzan kan?” tanya bapak itu lagi.

“Bisa sih Pak. Tapi ya… masa harus saya, Pak?” aku mencoba mengelak halus. Jujur, aku memang bisa adzan. Sewaktu sekolah dulu saja aku pernah meraih juara adzan. Tapi itu kan dulu, dulu sekali ketika zaman SMP. Dan yang sekarang ini, aku sedang berada di Masjid terbesar di Batam. Apakah pantas aku melantunkan adzan di rumah Allah semegah ini?

“Kenapa, nggak percaya diri ya? Walah… kamu itu! Sekarang lihat kondisinya. Di masjid ini sedang sepi. Beberapa pria yang ada malah tidur. Cuma kamu dan aku yang ada. Kalau Bapak yang adzan, suara Bapak nggak kuat. Jadi ya satu-satunya yang ada tinggal kamu.”

Aku sekali lagi menoleh ke sana ke sini. Wah, benar juga.

“Sudah, adzan sana! Ini sudah masuk waktunya. Masa kamu nggak malu apa, rumah Allah sebesar ini, adanya di pusat kota, adzannya terlambat?” bapak tua itu mencoba mengingatkan aku lagi.

Mau tidak mau akhirnya aku beranjak berdiri menuju tempat adzan. “Bismillah,” ucapku lalu melantunkan sedikit doa sebelum adzan.

Selanjutnya, terdengarlah suaraku yang terdengar begitu keras menggema. Subhanallah… mimpi apa aku semalam. Bisa mendapat kepercayaan dari Allah untuk mengumandangkan adzan di rumah-Nya yang sebesar ini?!