Air Mata Dilla

Andai ada lomba menangis dengan rekor paling lama, atau lomba siapa paling cepat menangis duluan, suer, aku pasti akan ngejagoin Dilla! Oke, aku deskripsikan dulu bagaimana kehebatan dari sahabatku yang kujagokan dalam urusan menangis itu. Sejak bayi, aku dan Dilla sering hidup bersama. Meski bukan saudara kandung, tapi aku sangat mengenal akan kehebatan menangisnya. Apalagi, rumah kami memang bertetangga dan bersebelahan. Sejak kecil aku dan dia selalu main bersama, hingga sekarang pun, kami selalu duduk di TK, SD, dan SMP yang juga sama!

Saat lahir, konon menurut ibuku, Dilla adalah anak yang sudah menunjukkan bakat hebatnya saat menangis. Tangisannya paling kuat dan paling kencang! Sampai-sampai saat diletakkan di ruang bayi, para bayi yang menjadi teman-teman barunya dan sama-sama baru menghirup udara, harus sering terkejut jika waktunya Dilla sedang menangis. Tentu saja, efeknya, para bayi yang sedang tidur pulas dan sudah memenuhi jatah giliran menangis sebelumnya itu, jadi harus ikut menangis lagi.

Waktu kukonfirmasi ke Dilla tentang cerita itu, ia malah menjawab, “Kamu itu nggak tahu bahasa bayi sih, Tira! Maksudku waktu itu begini lho ceritanya… Aku itu sedang menantang mereka dalam lomba menangis. Aku bilang, hoi, aku lagi nangis nih! Ayo, siapa yang bisa nangis paling keras dan paling lama? Dan akhirnya, mereka jadi ikut nangis deh karena nggak mau kalah sama aku. And see? Akulah pemenangnya!” celoteh Dilla dengan bangga bin ngaco!

Sewaktu TK dan SD, Dilla juga tidak pernah lepas dari urusan nangis. Saat main bareng teman-temannya lalu ia kalah dalam permainan, ia pasti nangis! Kesenggol sedikit waktu main gobaksodor, nangis! Dibentak sedikit gara-gara bikin timnya kalah main benteng, nangis!

Gara-gara ulahnya yang tukang nangis, akhirnya kami jadi sering memboikotnya dalam permainan. Kalau ingin main, sering kami harus mengendap-endap mengungsi ke lapangan di blok lain dari perumahan kami agar tidak ketahuan Dilla. Habisnya, kami merasa capek dengan ulahnya! Kalau kalah main, ia akan pulang nangis dan ngadu ke mamanya. Untung mamanya nggak pernah mau percaya sama ulah Dilla yang suka hobi menangis itu!

Anehnya lagi, kalau menang di permainan, dia juga nangis lho! Kitanya berjingkrakan karena senang, eh, dia malah sibuk nangis. Katanya sih sebagai ungkapan rasa haru. Aneh!

Karena ia adalah teman dekatku, aku pun kadang sering terkena imbas ulah anehnya itu. Pernah saat di bis, ia menangis di depan banyak orang. Dengan sesenggukan, ia berkata padaku, “Kasihan Tira nenek itu… Dia nggak dapat tempat duduk. Pasti dia capek. Ih, kok orang-orang ini tega ya?” keluh Dilla dengan mata bercucuran air mata.

Karena sebegitu banyaknya orang sehat, kuat, dan masih muda di sekeliling Dilla yang sedang duduk dan waktu itu mendengar ucapan Dilla, mereka jadi malu. Apalagi demi melihat curahan hati Dilla sambil menangis bombay, serentak, banyaklah orang yang langsung berdiri memersilakan sang nenek untuk duduk. Ujung-ujungnya, ada juga lho para lelaki yang ikut mempersilakan kami berdua yang kecapekan berdiri a la tarzan untuk ikut duduk.

“Kalian cucu yang baik ya. Cucu yang sangat berbakti pada neneknya. Ngomong-ngomong memangnya, kalian dan nenek kalian itu mau kemana?” tanya seorang penumpang yang telah memersilakan kami duduk dan akhirnya memilih berdiri.

“Nenek? Cucu?” ujar aku dan Dilla yang akhirnya cuma bisa senyum dengan kalem. Habisnya, takut ketahuan kalau kami itu sebetulnya bukan apa-apanya si nenek itu. Yah, itulah kejadian yang akan aku ingat sebagai sisi positif dari hobi menangis Dilla.

Cuma, pengalaman yang memalukan justru lebih banyak jumlahnya. Suatu ketika, aku dan Dilla melihat seekor anak kucing yang mengeong seakan-akan sedang mencari ibunya di pinggir jalan. Bisa ditebak, langsung saja deh mata Dilla jadi berkaca-kaca.

“Tira… kasihan kucing itu… Dia pasti terpisah dari ibunya,” cetusnya sedih.

“Hem, iya, kasihan. Terus kenapa? Kamu mau bantu dia nyari ibunya? Nggak inget ya, kita ini sudah terlambat upacara? Pasti kena hukuman berdiri di luar pagar sekolah!” gerutuku masih dengan langkah cepat.

“Tapi…” Dilla masih tidak terima dan mulai bersikap seperti biasanya, membasahi pipinya dengan linangan air mata yang menderas.

“Aduh Dilla, kalau begitu kamu balik ke tempat kucing itu deh! Sana, bantu tuh kucing nemuin ibunya! Kalau aku, yang penting harus segera sampai di sekolah!” omelku.

Entah karena ikut takut kena hukuman, takut omelanku, atau karena ia masih kasihan pada nasib kucing malang itu, maka jadilah aku berjalan sepanjang jalan dari halte hingga sekolah dengan seorang gadis yang menangis heboh selama di jalan. Di sepanjang jalan, banyak orang yang menoleh ke arah kami berdua. Rata-rata mereka kebingungan demi melihat Dilla yang menangis sejadi-jadinya. Sementara, aku malah memajang tampang sangar karena kesal sudah terlambat.

“Mbak, temannya nangis tuh! Emang diapain?” celutuk seorang ibu-ibu mencegat langkah kami berdua.

Dengan sedikit senyum sekilas, akupun lalu berujar, “Itu Bu, nangisin kucing yang kehilangan ibunya di ujung jalan sana. Maaf Bu, saya sudah terlambat. Jadi, permisi…” ramah tamah saya dengan jujur, lalu kembali berjalan cepat dengan Dilla yang masih terus menangis tanpa berniat untuk berhenti.

Tapi di kemudian hari, ada hal yang tak mengenakkan harus Dilla alami. Suatu ketika, aku berangkat ke sekolah dengan seorang Dilla yang membengkak matanya di bagian ujung kiri atas dan bawah. Hanya sebelah mata dan separuh saja. Penampakannya, lebih mirip seperti orang yang baru saja mendapatkan bogem mentah.

“Dil, matamu kenapa?” tanyaku heran.

“Nggak tahu nih. Sejak bangun tidur tadi, mataku tiba-tiba terasa sakit seperti memar. Waktu ngaca, eh, yang ada ya seperti ini…” keluh Dilla.

“Apa kamu semalam habis kebanyakan makan telur? Kok kayak orang bintitan gitu ya?”

Dilla menggeleng.

“Sudah dikompres pakai apa gitu?”

“Sudah, dari cara pakai air hangat sampai air dingin,” jelas Dilla.

“Oh iya, ibuku pernah bilang, kalau bintitan itu, ngempesinnya pakai diolesin bawang putih!” cetusku mengusulkan sebuah cara jitu dengan penuh semangat.

Yang ada, Dilla malah menyorongkan kedua tangannya ke hidungku yang membuat aku langsung menjauh karena mual dengan bau tangan Dilla. “Tuh, bau bawang putih! Dan bengkak mataku ini juga masih nggak kempes-kempes juga!” sungutnya.

Aku perhatikan mata Dilla. Iya ya, kalau dibilang bintitan, kok bentuknya sebegitu besar  bengkaknya?

“Ya sudah, mending nggak usah masuk saja dulu. Malui-maluin ih, kalau kamu ke sekolah tapi matamu kayak ikan koki separuh benjol gitu!” saranku.

Dilla menggeleng kuat. “Lupa ya? Kita kan ada ulangan Sejarah. Kalau sakit, harus ada izin dokter. Kalau semua itu nggak ada, alamat nggak bakal dapat ujian susulan,” Dilla mengingatkanku pada peraturan Pak Heri, guru Sejarah kami.

Walhasil, berangkatlah Dilla ke sekolah dengan mata bengkaknya itu. Tentu saja, banyak orang yang jadi memperhatikan mata Dilla. Bahkan, tidak sedikit orang bertanya dan membuat Dilla harus selalu menjelaskan jawaban yang sama berkali-kali.

Malam harinya, mamanya Dilla mengunjungi rumahku untuk menitipkan surat izin dari dokter karena Dilla tidak bisa masuk sekolah beberapa hari ke depan. Menurutnya, Dilla harus menghadapi operasi mata keesokan harinya.

“Hah, memangnya kenapa Tante?” tubuhku jadi merinding. Kok Dilla sampai harus operasi segala?

“Matanya Dilla bengkak karena timbunan lemak. Ya itu tuh, akibat keseringan menangis!” terang mamanya Dilla.

Antara kasihan dan ingin ketawa rasanya waktu mendengar penjelasan tentang Dilla. Kasihan karena Dilla harus mengalami operasi. Ingin ketawa, ya karena sakitnya Dilla memang berasal dari kekonyolannya sendiri.

Akhirnya selama beberapa hari, aku begitu merindukan kehadiran Dilla. Bahkan dengan kebiasaan konyolnya saat menangis itu.

“Ayo Dil, cepat sembuh dong! Nggak enak nih kemana-mana nggak bisa jalan bareng sama kamu lagi!” cetusku menyemangati Dilla.

“Iya, nggak enak harus di rumah terus seperti ini. Bantu doanya ya biar aku cepat sembuh!”

“He-eh, aku selalu mendoakanmu kok setiap habis shalat. Agar kamu cepat sembuh, dan agar kamu nggak hobi menangis lagi,” jawabku sambil tersenyum bijak.

“Iya Tira, mulai sekarang aku nggak boleh gampang menangis. Kata dokter kalau aku gampang menangis lagi, bisa jadi mataku akan kembali bengkak karena timbunan lemak,” jelas Dilla dengan wajah memelas.

Dan di hari-hari berikutnya, jadilah aku yang super sibuk sebagai teman sekaligus manajer tangisan Dilla. Jika ada hal yang sekiranya akan membuat Dilla menangis, aku langsung akan mencoba mengalihkan perhatiannya. Jika matanya sudah mulai berkaca-kaca karena ingin menangis, langsung aku ceramahi agar ia ingat tentang adanya ancaman operasi mata.

Kasihan Dilla, ia begitu tersiksa dengan kebiasaan barunya itu. Tapi tentu saja, aku jadi menuntut untuk dikasihani. Gimana enggak, sekarang tugasku jadi harus super sibuk mencegah agar air matanya si Dilla nggak gampang jatuh lagi, sih!

Karena Aku Malu

Ramai! Tiba-tiba SMP tempat sekolah Vanda hari ini terasa lebih bising dari pada biasanya. Dan satu hal lagi, tiba-tiba Vanda merasa semua orang di sekelilingnya begitu asyik dengan laptop atau handphone. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, dengan seorang operator handphone atau laptop yang terlihat menjadi pusat dari penyebab itu semua.

“Hm… ada apa ya kok semua orang seperti sedang asyik berdiskusi? Dan… sepagi ini? Hm hm hm… sepertinya sudah ada kemajuan nih di sekolahku! Apa mungkin ini barangkali efek dari program RSBI ya?” Vanda lalu menjawab pertanyaannya sendiri dengan aksi senyum-senyum bak orang bijak. Bu Ratih yang paling senior di sekolah itu pun kalah aktingnya dengan gaya Vanda. Gadis berwajah unik blesteran bhineka tungal ika itu melempar pandangan ke sana dan ke sini, menebar senyum, mengangguk-anggukan kepala, sambil berjalan dengan penuh kebersahajaan.

Untungnya di tengah semua orang yang sedang nampak berdiskusi itu, ada Putri, cewek paling cuek di kelas yang kerap hanya peduli pada buku di tangannya. Sejenak Vanda tertegun. Jika mereka bisa sedang asyik berdiskusi, mengapa Putri masih asyik menyendiri? Bukankah tolak ukur kecerdasan di kelasnya selalu bisa dilihat dari ulah Putri? Masa iya mereka masih mendiamkan Putri dan tidak mengajak temannya itu bersama-sama berdiskusi?

“Pst… pst… Putri!” bisik Vanda lamat-lamat takut mengganggu acara diskusi teman-temannya di seantero sekolahan.

“Hem. Apa, Van?” Putri tetap memandang buku di tangannya. Hebat betul, pikir Vanda. Karena menurut Vanda, bagaimana bisa Putri tahu jika yang memanggil itu adalah Vanda. Sedangkan sedari tadi yang Vanda tahu, tak sedikit pun Putri melepaskan tatapan matanya dari sederet tulisan di setumpuk lapisan kertas yang terjilid jadi satu itu. Belum lagi kabel earphone yang menyambungkan antara handphone dengan kedua telinga Putri.

“Kamu kok nggak ikut diskusi dengan teman-teman? Kamu kok masih asyik dengan bukumu sendiri?” berondong tanya Vanda.

“Asyikan membaca kandungan beberapa kandungan tumbuh-tumbuhan untuk bahan obat-obatan di bukuku ini!” jawab Putri.

“Memangnya, mereka sedang diskusi apa ya?”

“Tanya aja sendiri,” jawab Putri yang jadi membuat Vanda gemas. Vanda lalu lebih memilih menarik buku Putri. Mengusili seorang kutu buku mungkin lebih tidak beresiko dari pada mengusili sekelompok orang yang sedang khusyuk dengan sesuatu, pikir Vanda.

“Kamu itu pelit banget sih sama penjelasan,” gemas Vanda.

Wajah Putri langsung kesal demi bukunya yang direngut paksa oleh Vanda dengan paksa. Sambil mendengus dan menatap sebal orang-orang di sekelilingnya, Putri lalu menarik tangan Vanda.

“Jadi kamu itu menggangguku karena kamu belum tahu, benar-benar tidak tahu, mau tahu, atau karena ingin mengusiliku agar aku juga harus wajib tahu?!” geram wajah Putri menatap Vanda.

Ternyata salah dugaan Vanda jika mengusik seorang Putri. Karena satu orang Putri justru lebih mengkhawatirkan dari pada mengusik orang-orang yang sedang asyik berdiskusi. “Oke, oke… Aku kembalikan bukumu, dan anggaplah aku tak pernah mengganggumu. Maaf, sungguh tadinya aku pikir lebih baik menanyai kamu dari pada mengganggu kelompok orang-orang itu,” Vanda segera meletakkan buku milik Putri, dan segera membalikkan badan. Tapi, kaki Vanda tidak bisa melangkah karena tangannya yang ditarik kencang oleh Putri.

“Sebentar! Jadi… kamu itu memang tidak tahu?”

Vanda menatap mata Putri dalam-dalam. “Put, cukup deh tebak-tebakan menggunakan kata tahu. Karena aslinya, aku itu suka tempe. Suer deh, aku nggak tahu dan cuma suka tempe!” Vanda membentuk huruf V di jari telunjuk dan jari tengahnya.

Putri menghela nafas. “Sejak datang tadi sebetulnya aku sudah cukup menahan emosi, Van. Aku tahu tentang berita itu dari televisi semalam. Dan ternyata, kebanyakan dari mereka semua sudah memiliki video itu juga. Sungguh, aku tak pernah ingin tahu karena aku takut dosa,” Putri mengadu sambil menahan emosi. Dan, Vanda terkejut ketika melihat Putri yang lalu menangis.

Vanda jadi bingung. Kenapa si Putri yang dari tadi banyak membicarakan tahu sekarang malah membicarakan video? Sebetulnya ada apa dengan hari ini? Mengapa banyak hal yang tak biasa bagi Vanda.

“Apakah… aku telah salah bangun ke dimensi mimpi yang lain?” Vanda menepuk pipinya berkali-kali. “Sebetulnya, ada apa sih, Put? Ngomong yang jelas dong!”

“Kamu ini benar-benar nggak tahu ya? Kamu nggak lihat acara tivi semalam? Aku saja yang tahu beritanya, yang lihat sedikit-sedikit tentang foto di berita tentang video itu meski diburamkan, merinding sendiri dan ngeri!”

Sedetik dua detik, Vanda masih diam mematung. Dia masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Putri. Melihat itu, Putri jadi benar-benar sadar bahwa ternyata ia tak sendirian menjadi orang yang belum tahu. Dan ia lantas sadar, kalau ada orang lebih aneh dari dirinya yang belum tahu sama sekali bahkan tentang berita keberadaan video porno artis.

“Ini tentang video porno, Van!” lamat suara Putri takut terdengar oleh banyak orang. “Mereka itu, sedang asyik melihat dan membicarakan video porno yang katanya mirip artis yang itu tuh, satunya pemain musik, satunya pemain film.” Putri lalu menarik Vanda dan membisikkan beberapa kata yang membuat Vanda terperanjat.

Vanda membeliakkan matanya demi mendengar apa yang baru saja Putri bisikkan. Pelan-pelan, Vanda lalu duduk di dekat Putri. Ia menatap sekelilingnya dengan wajah tak karuan. “Hati-hati, mereka bisa memaksamu juga lho untuk ikut melihat! Makanya, dari tadi aku lebih memilih untuk menyumpal kupingku dengan MP3 dan menutup mataku dengan buku.”

“Wah, aku benar-benar tidak tahu, Put! Orangtuaku selalu mengadakan diet TV di rumah. Aku hampir jarang melihat TV,” ujar Vanda masih dengan mata menatap sekelilingnya.

Sayang, Dhea dan Hayu rupanya tahu jika Vanda dan Putri menjadi alien yang nampak sedang tidak berdekatan dengan handphone ataupun laptop. Apalagi juga dengan bahan diskusi yang tidak sama.

“Eh, kamu udah punya belum, Van! Aku malah sudah punya yang versi dengan artis lain lho! Mau transfer via bluetooth nggak?” tawar Dhea ke Vanda dan lalu memandang sinis ke arah Putri. Dhea tahu, Putri tak akan tertarik dan bahkan menolak mentah-mentah tawaran baik hati Dhea.

Vanda meraba saku depan tasnya. Selamat, handphone miliknya ternyata tertinggal di rumah!

“Yah… handphoneku ketinggalan nih!” Vanda kecewa.

“Oh… atau, aku tunjukin yang dari handphoneku saja nih! Nih, aku barusan dapat transferan dari Tio,” Hayu menyodorkan ponselnya.

“Rugi lho kalau belum tahu! Suer, aku saja sampai sudah tiga kali lebih melihatnya!” sahut Dhea.

Lagi-lagi, Vanda terselamatkan. Kali ini oleh bel tanda mulai pelajaran. Tapi ujung-ujungnya, Vanda jadi tidak bisa tenang mengikuti pelajaran. Dalam pikirannya, ada rasa penasaran, tapi ada juga rasa yang lainnya yang seakan terus coba menahan.

“Nda, jadi mau lihat nggak?” Hayu lagi-lagi menawarkan ponselnya sewaktu jam istirahat. Tapi, Putri lebih dulu mencoba menyelamatkan Vanda dengan menariknya ke arah laboratorium.

“Nda, kamu tadi janji mau menemani aku membantu Bu Nisa membereskan laboratorium, kan? Yuk!” kencang Putri menarik tangan Vanda sambil setengah berlari hingga tak ada jeda bagi Dhea untuk sempat memberikan handphonenya ke Vanda.

“Nanti aja ya, Yu!” teriak Vanda sambil mencoba melepaskan tangannya dari tarikan kencang tangan Putri.

“Eh, Put… aduh duh… Sakit nih tangan! Lagian, memangnya aku tadi sudah janji sama kamu ya?” Vanda jadi bingung sendiri.

Putri lalu memelankan langkahnya. “Maaf Nda,” Putri lalu melonggarkan cengkeraman tangannya namun tetap menarik tangan Vanda ke arah laboratorium.

Vanda akhirnya menyetujui ajakan Putri menuju laboratorium. Meski dalam hatinya, masih saja ada perang dunia antara keinginan untuk melihat video itu berikut teriakan malaikat yang terus menerus memohon memintanya untuk berkata tidak!

“Put, beneran kamu nggak tertarik dengan video itu?” tiba-tiba Vanda penasaran dengan Putri. “Masa iya sih, kamu sama sekali tidak ingin lihat? Barangkali jika ia bisa merayu Putri, ia dan Putri bisa sama-sama ikut melihat video yang ada di handphone milik Hayu,” batin Vanda.

Putri seketika menghentikan gerakannya yang sedang membereskan perangkat laboratorium. “Nda, kalau orang normal, mestinya ya penasaran. Tapi… aku ingat banyak hal yang jadi membuat aku menahan diri untuk tidak melihat video itu,” ujar Putri.

Putri lantas menceritakan kepada Vanda, bahwa ia terbayang-bayang wajah kedua orangtuanya yang membuat ia bertahan untuk tidak ikut-ikutan melihat video itu. “Coba bayangkan Nda, bagaimana perasaan orangtuaku kalau mereka tahu aku juga ternyata ikut melihat video itu? Orangtuaku tahu tentang berita itu. Dan semalam sewaktu melihat berita di TV denganku, berkali-kali mereka terlihat kecewa dan kesal dengan berita itu. Jadi, masa iya aku malah melakukan hal yang semalam saja aku tahu kalau orangtuaku tidak suka?!”

Vanda tercekat. Ia tiba-tiba ingat ayahnya yang setiap jam dua pagi sudah harus berangkat ke pasar. Demi untuk menjual kelapa. Vanda juga ingat bagaimana ibunya harus selalu bangun pagi untuk membuat aneka jajanan dan dijual. Semua jerih payah ayahnya, ibunya, hanya untuk ia seorang. Sebagai anak tunggal, kedua orangtuanya pun mati-matian mencoba membuat Vanda menjadi anak yang memenuhi tumpuan kedua orangtuanya! “Kalau aku tadi sampai terbujuk Hayu dan Dhea, bagaimana perasaan kedua orangtuaku ya?” Vanda membatin bertanya-tanya.

“Belum lagi kalau misalkan itu adalah kita, atau saudara kita, apa nggak malu? Yah… meski mereka memang bukan siapa-siapa, rasanya tak pantas lah kita menambah kesalahan diri sendiri dari kesalahan orang lain!” cetus Putri.

“Put,” Vanda menggenggam tangan Putri. “Terima kasih banyak yah sudah mengingatkan. Ternyata kamu itu… dewasa banget! Nggak sekuper yang aku kira,” Vanda menatap kagum sosok yang ada di hadapannya.

“Ya… ya… semua orang memang kurang tahu tentang kelebihanku. Dan eit, asal kamu tahu, aku itu memang sengaja kok memengaruhi kamu untuk tidak ikut-ikutan. Memangnya kamu kira enak apa jadi alien sendirian di tengah orang-orang yang selalu membicarakan video ajaib itu?”

Vanda dan Putri lalu tertawa.

Saat kembali dari laboratorium menuju kelas, lagi-lagu Hayu dan Dhea mencegat Vanda.

“Put, sekarang kamu nggak usah deh menahan-nahan Vanda biar nggak ikut-ikutan nonton!” Dhea mencengkeram tangan Putri agar tidak lagi memengaruhi Vanda.

“Iya nih, orang Vandanya saja mau lihat. Nih Van,” Hayu lalu menyerahkan handphonenya kepada Vanda.

Handphone telah ada di genggaman tangan Vanda. Sesaat, Vanda memandang handphone milik Hayu dan jempolnya telah berada di tombol yang langsung membuat video itu dapat terbuka. Kembali sekelebat bayangan ayah dan ibunya ada di kepala.

“Uhm, percaya nggak kalian, tiba-tiba kok aku melihat ada malaikat berpakaian putih-putih di samping kanan kiriku yah? Terus mereka berbisik, ternyata video itu bisa punya efek samping yang sangat tidak bagus untuk kecerdasan anak yang masih sekolah. Jadi… aku milih nggak jadi saja ah!” Vanda tersenyum menang. Ia bayangkan, pasti malaikat di samping kanan kirinya pun juga tersenyum puas.

Pada Loteng Rumah Hedy

“Loteng ya?” bisik Hedy samar, hampir tak terdengar.

Mya melirik sekilas ke arah Hedy lalu menggerakkan kepalanya dengan anggukan yang hanya beberapa inci saja.

Cira yang sempat mendengar ujara Hedy jadi kebingungan. “Apa sih?”

“Oh, enggak. Tadi kok tiba-tiba teringat saja sama mainan masa kecilku yang kusimpan di loteng! Kayaknya sudah lama nggak aku bersihkan,” sahut Hedy cepat.

“Aneh kamu ini. Keingat sesuatu terus diomongin begitu saja. Apa nggak bisa diomong dalam hati? Bikin yang dengar jadi bingung saja!” omel Cira.

Mya tersenyum tipis melihat ulah Cira dan Hedy, dua sahabat dekatnya.

Ketiga remaja itu pun lagi-lagi kembali asyik dengan dunianya masing-masing. Mya menekuni ponselnya sambil membaca beberapa cerita dari blog pribadi milik orang-orang di internet. Hedy yang juga asyik dengan ponselnya namun tenggelam dalam hutan belantara permainan. Dan Cira, berada di pusaran arus cerita dalam buku teenlit di tangannya.

“Aduh, iya nih sampai kelupaan! Aku kan janji sore ini harus mengantar Mama beli kado buat sepupuku! Hedy, antar aku pulang dong…” rengek Cira meminta.

“Sekarang?”

“Ya iya lah, sekarang! Aku kan nggak bilang besok!” mata Cira sedikit melotot dengan nada suara galak.

“Yah… padahal lagi asyik nih gamenya!” Hedy beranjak dengan tubuh malas.

“Aduh… itu game kan bisa nanti diterusin! Yuk!” Cira menarik tangan Hedy tanpa menunggu Hedy berkata mau atau tidak.

“Mya, aku sama Hedy tinggal dulu, nggak apa-apa kan kalau di sini sendirian?”

“Nyantai aja! Aku mau tetap sendirian di sini dulu kok. Mumpung bunga pohon sono lagi manis-manisnya nih di taman. Jarang-jarang kan bisa menikmati suasana begini.”

“Nah, iya tuh, benar kata Mya. Jarang lho lihat Pohon Sono seperti ini. Gimana kalau kamu pulang sendiri saja?” tawar Hedy yang langsung mendapat jawaban mata melotot dari Cira dan juga Mya.

“Apa sih, alasanmu dibuat-buat saja! Udah, pokoknya sekarang antar aku pulang. Ayo!” Cira tidak berkompromi lagi untuk menarik tangan Hedy.

“Iya, bilang saja kalau mau ngegame! Lagian, jadi cowok itu yang bertanggung jawab dong. Ceweknya pulang, ya dianterin,” Mya ikut-ikutan mengomeli Hedy.

Hedy melangkah dengan gerak kaki yang berat karena tangannya yang ditarik oleh Cira. Matanya meminta pertolongan Mya. Namun Mya yang tahu itu malah melempar pandangan dengan pura-pura menatap bunga-bunga pohon sono. Akhirnya, tangan-tangan yang saling melambai menjadi tanda perpisahan Mya dengan dua sahabatnya. Sepeninggal Cira dan Hedy yang pergi menuju rumah Cira, Mya kembali menekuni ponselnya. Hidung dan matanya memang masih betah berlama-lama di taman itu karena satu alasan, pohon sono yang sedang memekarkan gerombolan bunga kuningnya. Warnanya yang cerah, sesuai dengan warna favorit Mya. Dan wanginya yang menyeruak aroma menenangkan, membuat Mya betah berlama-lama duduk di taman perumahan tempatnya tinggal.

Seharusnya Mya kembali membayangkan andai ia berada di tengah-tengah pepohonan Sakura, dan menenggelamkan diri dalam berbagai cerita di internet yang sedang dikonsumsinya. Tapi bermenit-menit kemudian, keharuman bunga pohon sono tak lagi kuasa menenangkan hatinya. Apalagi sejak kata loteng tadi dengan jelas ia dengar dari Hedy teruntuk dirinya. Mya ingat, rasanya baru beberapa hari lalu Hedy memutuskan untuk menghentikan kebiasaannya dengan Mya yang kerap ngobrol pada waktu malam hari di loteng rumah Hedy. Alasannya, Hedy punya jadwal baru yang harus menelepon Cira setiap malam.

Kedekatan Hedy dan Mya terjalin sejak mereka berdua masih sama-sama berada di dalam kandungan mama mereka masing-masing. Kadang Mya pun heran, mengapa persahabatan dan kedekatan kedua mama mereka itu lalu bisa menurun juga pada ia dan Hedy.

Rumah Mya dan Hedy bersebelahan. Tentunya juga, inilah keinginan yang sudah diatur oleh kedua mama mereka untuk hidup bertetangga. Sampai-sampai, menikah dan hamil pun mereka tetap bisa menjaga kekompakan dan agak berbarengan waktunya! Mya lahir beberapa bulan lebih dulu dari Hedy. Dan sejak mereka bayi, banyak hal yang dibuat dekat oleh kedua mama mereka itu untuk ia dan Hedy.

Ketika waktu remaja tertapaki oleh Mya dan Hedy, hadirlah Cira, teman yang dikenal Mya sejak ia dan Hedy bersekolah di SMA yang sama. Mya yang ternyata mencintai Hedy, dan juga menyayangi Cira, akhirnya harus rela untuk membagi Hedy yang selalu hanya menjadi miliknya sejak ia kecil.

“Kamu ini… benar-benar nggak marah kalau aku jadian sama Cira?” Hedy menatap dalam mata Mya seakan tak percaya saat permintaan izinnya untuk jadian dengan Cira disetujui Mya.

Mya mengangguk pasti sambil tersenyum.

Hedy sendiri waktu itu hanya iseng belaka. Ia yang sebetulnya sangat ingin tahu seperti apa entuk hati Mya yang sesungguhnya, akhirnya benar-benar pacaran dengan Cira yang menjadi sahabat dekat Mya.

Yang tak Hedy sadari adalah, Mya sudah sangat tahu seperti apa Hedy. Hedy yang mungkin ingin melepas kedekatan dengannya, Hedy yang mencoba usil untuk menggoda hati cemburu Mya,  dan Hedy yang pastinya tak akan jauh dari Mya, hal-hal yang sudah begitu mudah ditebak oleh Mya.

Dan Mya benar. Tak hanya sampai seminggu, Hedy yang awalnya membuat jarak dengan Mya, akhirnya tidak bisa juga bertahan untuk kembali ke kebiasaan lama. Loteng di rumah Hedy hanya kosong selama beberapa hari saja dari kehadiran Mya dan cerita-cerita mereka berdua.

***

“Tok tok tok!”

“Halah, kayak nggak hapal saja. Jendela loteng ini kan nggak pernah aku kunci!” Hedy menertawakan ulah Mya.

“Untung nggak ada orang jahat yang tahu. Coba kalau ada, bisa habis harta di rumahmu ini!” Mya geleng-geleng kepala sambil membuka dan melangkah lebar memasuki loteng rumah Hedy.

“Yah… kalaupun rumahku kemalingan, pasti kamu yang aku curigai lebih dulu!” Hedy tertawa lalu mengacak-acak rambut ikal Mya.

Selanjutnya, Mya dan Hedy justru mengisi ruang waktu dengan keheningan. Saat mereka berdua ada di loteng rumah Hedy, memang selalu saja ada barang-barang kuno yang jadi perhatian mereka. Kebanyakan, berupa mainan masa kecil Hedy yang ditumpuk di rumah itu. Kali itu, Hedy sedang menata kembali rangkaian rel mainan kereta apinya. Mya memilih berinisiatif mencoba membantu Hedy dengan mengelap gerbong-gerbong miniatur kereta api.

“Rasanya, aku mau putus dari Cira. Enaknya seperti apa ya caranya mutusin si Cira itu?” tanya Hedy memecah kebisuan mereka berdua.

Mya memastikan kata-kata Hedy dengan memandang ke wajah Hedy. “Yakin?”

Suara hembusan nafas Hedy yang memberat menjadi sedikit jawabannya. “Aku nggak kuat dengan watak bossynya itu. Sudah begitu, cemburuannya minta ampun lagi. Dia bahkan pernah cemburu gara-gara kamu lho!” Hedy bersungut-sungut.

Mya malah tertawa melihat gerutuan Hedy. Karena sebelumnya Mya pernah menebak, gerutuan seperti itu pasti suatu saat akan ia dengar. Pertanyaan yang entah kapan itu terjawab ketika baru saja akhirnya Hedy mengeluarkan keluhannya.

“Eh, kayaknya ada yang bahagia nih terdengar dari nada ketawanya?” sindir Hedy dengan wajah tidak suka.

Demi melihat itu, Mya malah makin ingin tertawa lebar. Tapi selanjutnya, ia memilih untuk hanya tersenyum tertahan dan tertawa terbahak-bahak dari dalam hati. Rasanya sedang tidak tepat rupanya ia menunjukkan ekspresi gelinya demi melihat fenomena seorang Hedy yang cukup mudah ditebak sikapnya oleh Mya.

“Mya, aku serius nih mau minta pendapatmu. Kasih tahu aku dong, gimana caranya mutusin Cira?”

Alis mata Mya terangkat sambil matanya mengerjap-kerjap. “Ya sudah, putusin saja!” jawab Mya seadanya. Entah kenapa, terselip rasa kesal yang menyelinap ke dalam hatinya saat melihat ulah Hedy. Betapa mudahnya ia mempermainkan dirinya dan juga Cira, sahabat dekatnya.

“Mya… aku serius nih!” suara Hedy tiba-tiba sedikit merajuk seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada kakaknya.

Mya menghentikan aktivitasnya mengelap gerbong-gerbong mainan di tangannya. “Boleh Mya tanya, memangnya dulu, apa sih alasan Hedy jadian sama Cira? Jujur ya jawabnya!”

Degup jantung Hedy tiba-tiba agak berdentuman. Pertanyaan itu bagi Hedy seperti sebuah kata tanya yang sudah diketahui jawabannya oleh otak Mya. Hedy menelan ludah, tentu ia tidak bisa terus terang mengatakan apa yang sesungguhnya pada Mya. Karena Hedy merasa, sikap Mya yang sering cuek seakan-akan kerap berkesan bahwa tak ada perasaan suka yang disimpan Mya untuknya.

“Masa sih, kamu dulu jadian sama Cira karena iseng? Bisa gitu?” lagi, Mya mendesak Hedy untuk jujur mengaku.

“Aku benar-benar sudah bosan dengan ulah Cira,” jawab Hedy akhirnya setelah ia mencoba mencari-cari alasan yang tepat.

“Ha? Bosan? Ih, enak banget ya?!” nada sinis terdengar dari ucapan Mya yang lalu memberondong dengan segenap penghakiman. “Kenal Cira, lalu suka, pacaran, terus tahu aslinya seperti apa, kemudian bilang bosan dan berencana putus? Wah, hebat sekali?! Kamu kira Cira tidak punya perasaan untuk sakit hati?”

“Okelah Mya, jujur aku ngaku. Aku jadian dengan Cira karena aku ingin tahu, kamu bisa punya rasa cemburu atau nggak ke aku! Nah, sudah puas dengan jawabanku?!” di ujung pikirannya, Hedy tidak lagi bisa mengelak. Ditatapnya dengan berani mata Mya yang sedari tadi memang menuntut jawaban jujur darinya.

Sedetik dua detik berlalu. Tak disangka, Mya malah tertawa terbahak-bahak. Tentu saja, Hedy jadi kebingungan melihatnya.

“Mya, aku serius! Bisa serius juga nggak sih?!”

Dengan tawa yang masih ada, Mya akhirnya menimpali, “Hedy, Mya tuh sudah kenal Hedy dari bayi. Dari Hedy masih di kandungan Tante Rosa malah. Sebetulnya Mya sudah tahu kok sebetulnya alasan Hedy pacaran dengan Cira!” nada suara Mya enteng.

Hedy kaget. Dengan gemas, ia acak-acak rambut Mya hingga rambut ikal itu makin kusut tak karuan. “Asem! Jadi kamu itu sudah tahu semuanya? Kamu mainin aku ya, Mya?”

Mya menangkis tangan Hedy dari rambutnya. “Aduh… bisa kesusahan deh Mya habis ini menyisir rambut Mya. Kalau gemas, nggak usah mainin rambut dong! Sudah tahu kalau nih rambut perlu penanganan khusus, masih juga hobi mengacak-acak!” protes Mya.

“Kamunya yang keterlaluan juga! Jadi, sebetulnya perasaanmu ke aku itu seperti apa sih, Mya? Oke, sekarang aku minta kamu yang jujur!” Hedy jadi makin penasaran dengan Mya.

Mya mengehela nafas, mencoba mengatur ritme di dadanya yang terasa sedang tidak jelas.

“Oke, kita kembali ke pertanyaanmu tadi saja, ya. Mya tanya, Hedy ingin putus dari Cira karena bosan?” Mya memerjelas kata-kata Hedy yang tadi sudah didengarnya.

Belum sempat Hedy mengangguk atau menjawab, Mya melanjutkan kata-katanya, “Hedy, belajarlah untuk bertanggung jawab pada apa yang sudah Hedy putuskan. Mya nggak akan bilang ke Hedy untuk menasehati agar Hedy putus dari Cira. Gila saja, Cira itu kan sahabat dekat Mya! Tapi dari awal, Mya juga tahu kok perasaan Hedy ke Mya. Jadi kalau Mya sih inginnya… besok, ya akan tetap sama seperti kemarin. Kita tetap temenan, Hedy dan Cira pacaran. Beres, kan?!” ujar Mya sambil bergerak membereskan mainan kereta apa milik Hedy dan menutup wadahnya.

“Tapi, jujur dong ke aku. Perasaanmu itu seperti apa sih Mya?” Hedy penasaran.

Mya terdiam, mencari-cari kepastian perasaannya sendiri. Apakah benar ia juga mencintai Hedy, ataukah selama ini hanya menganggap kedekatannya dengan Hedy adalah sebentuk persahabatan, persaudaraan, ataukah seperti cinta seorang cewek kepada seorang cowok?

Sambil beranjak, akhirnya Mya berujar, “Mungkin hati Mya, seperti loteng ini yang tak akan menunjukkan reaksi ketika ada atau tidak adanya Mya yang datang ke sini. Tapi, ia akan selalu menerima Mya jika Mya datang. Bedanya, kecuali jika Hedy tidak mau Mya ke sini, maka Mya tidak bisa masuk ke sini. Tapi untuk yang satu itu, hati Mya tidak seperti loteng ini,” jawab Mya yang kemudian membuka jendela dan bersiap beranjak keluar.

“Mya tunggu!” Hedy menahan Mya dengan mencengkeram tangan Mya. “Jadi, kamu juga punya perasaan sama dengan aku, kan?” mata Hedy berbinar seakan jawaban yang diinginkannya dari Mya itulah yang memang ada di hati Mya.

“Kita masih muda, Hedy. Masih banyak waktu membuat istilah untuk perasaan Mya dan Hedy, yang lalu kita sebut pacaran. Oke?” Mya menarik tangannya dengan kuat dan lalu melangkah tergesa kembali pulang ke rumahnya dengan meloncati pagar pembatas pendek antara tempat jemuran rumah Hedy dengan rumahnya.

Hedy kebingungan. Usahanya untuk membuat Mya akhirya mengaku ternyata masih juga sia-sia. Tapi jika ia harus terus berpacaran dengan Cira, rasanya ia sungguh tidak kuat untuk terus menghadapi sikap Cira yang menurutnya sungguh sering menjengkelkan dirinya. Malam itu Hedy tak bisa membayangkan jika keesokan harinya dan di hari-hari berikutnya, ia masih harus disiksa oleh permintaan-permintaan Cira yang selalu menuntut ini itu.

Sementara itu, Mya yang telah kembali ke kamarnya sedikit meneteskan air mata. Ada perasaan campur aduk yang ia rasa saat itu. Senang karena memang tebakannya tentang perasaan Hedy terhadapnya benar. Tapi ada juga rasa kesal karena Hedy cuma memanfaatkan Cira yang telah jadi sahabat dekatnya untuk menguji sebuah pernyataan cemburu dari Mya. Mya memang tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya dengan jelas. Ia hanya sayang pada Hedy. Itu saja. Dan apapun yang asalkan bisa membuatnya selalu dekat dengan Hedy, Mya akan selalu melakukannya.

Setelah Papa Masuk Penjara

“Bukan Mama tidak sayang Nindya atau Fatar. Tapi Mama harus cari uang agar keluarga kita tetap bisa hidup. Mohon pengertiannya ya, Nak,” Mama mengecup kepalaku, menatap mataku dalam-dalam, menyeka air mataku yang berlinang dan juga air matanya sendiri yang mengalir deras, lalu membalikkan tubuh.

Saat ini dan untuk seterusnya, yang entah sampai kapan, aku dan adikku, Fatar, pasti akan bisa mendengar suara Mama dari telepon genggam saja.

Kupeluk kuat tubuh nenek. “Kenapa Mama tega pergi jauh dan tidak mengajak kami, Nek?” aku terisak di pelukan Nenek.

Nenek juga menangis. Tapi aku cukup bingung. Jika Nenek yang adalah ibu kandung dari ibuku juga sedih karena anaknya harus pergi, kenapa Nenek mengizinkan Mama bekerja di Singapura?

“Mamamu cari uang, Nin. Biar Nindya dan Fatar bisa tetap terus sekolah. Nanti kalau Papa sudah keluar dari penjara, Mama pasti pulang,” hibur Nenek.

Tapi, aku tetap tidak mengerti. Meski aku sudah kelas 5 SD, buat aku, hidupku sekarang begitu rumit. Aku ingat, semuanya berawal dari kejadian sekitar setahun yang lalu, saat Papa pulang dengan wajah gusar. Kulihat, Mama dan Papa bicara dengan serius di ruang makan. Papa menangis. Lalu Mama memeluk tubuh Papa.

Tak lama kemudian, aku sering melihat wajah papaku di televisi. Banyak berita yang mengatakan papaku telah korupsi. Sebetulnya aku tidak tahu pasti korupsi itu apa. Aku cuma pernah mendengar cerita orang yang melakukan korupsi, dan kemudian aku simpulkan, korupsi itu seperti mencuri.

Saat aku sadar, aku tidak percaya. Papaku itu orang yang jujur. Ia selalu memintaku dan adikku untuk bersikap jujur. Bahkan ketika aku berbohong, Papa lebih marah dari pada saat aku mengakui kesalahanku. Jadi menurutku, pasti orang-orang itu telah salah memberitakan papaku.

Nyatanya, Papa kemudian dipanggil polisi, lalu dipenjara. Aku menangis waktu tahu itu. Namun Mama mencoba menenangkanku. Menurutnya, Papa pasti akan segera keluar dari penjara. Karena Papa tidak salah. Lalu saat Papa dipenjara dan tidak kembali ke rumah, Mama kembali berkata, tidak selamanya orang benar itu dinyatakan benar. Itulah saat di mana aku makin bingung dengan semua yang ada.

“Apa Mama akan sering pulang, Nek?” tanyaku sambil terus menatap deretan pesawat di yang berbaris di bandara.

“Mungkin,” singkat jawaban Nenek.

“Apa Mama akan lupa padaku dan Fatar? Apa Mama akan menikah lagi dengan orang di Singapura? Apa Mama tidak akan pernah kembali lagi?” aku banyak bertanya. Namun semuanya itu aku pendam dalam hati.

Tapi sepertinya Nenek mengerti isi kepalaku. “Mamamu di sana kerja di tempat baik-baik, Nin. Ada kawan Mama yang sudah lama tinggal dan bekerja di sana. Nenek kenal dia, karena ia teman mamamu sejak kecil. Mamamu itu pintar. Tapi ia memilih untuk jadi ibu rumah tangga. Namun kondisi keluarga sekarang ini yang membuat mamamu akhirnya harus bekerja.”

“Papa dipenjara, tapi Papa tidak salah. Mama harus kerja ke luar negeri. Padahal Mama ingin terus dekat dengan aku dan Fatar. Sepertinya, hidup Papa dan Mama lebih berat. Aku harus coba terus jadi anak baik demi Papa dan Mama,” pikirku mencoba mengerti semua yang sedang terjadi. Meskipun, ini bukan hal yang mudah.

Gadis Penulis di Kuburan

Jika kamu sama-sama suka menulis seperti aku, kira-kira tempat apa yang menjadi favoritmu? Kalau aku, jawabannya adalah kuburan! Jangan merasa jawabanku ini aneh. Karena jika kamu belum mencobanya, kamu memang tidak akan pernah tahu bagaimana asyiknya menulis di kuburan!”

***

            Siang yang terik, dan tak akan aku hiraukan demi mengiringi jenazah kakekku tercinta. Untuk terakhir kalinya, satu dari sekian orang yang aku cintai dalam hidupku harus pergi. Setelah sebelumnya, aku juga telah kehilangan tanteku. Entah kenapa, ada dua penyakit yang menggaris dalam keluargaku. Diabetes dan kanker. Kakek meninggal karena diabetes. Tante meninggal karena kanker payudara.

Di pemakaman, saat aku sedang tersedu-sedu ketika melihat tubuh kakek yang berlapis kain putih diturunkan ke tanah, sekilas aku melihat sosok itu. Seorang gadis, mungkin sebayaku, terlihat sedang duduk bersandar di sebuah kuburan. Ia tampak sedang asyik menulis. Awalnya kupikir, mungkin otakku yang sedang berhalusinasi. Tapi ketika beberapa kali aku melihat ke arah gadis itu lagi, ia benar-benar nyata. Ia ada, dan terus asyik menulis.

Keherananku pada gadis itu terus menjadi saat langkahku meninggalkan tanah pemakaman. Sesaat aku berhenti, mencoba memandang gadis itu. Gadis yang masih asyik menulis, di bawah kerindangan pepohonan kamboja, dengan rerumputan tebal yang agak mengelilingi dan melindungi tubuhnya dari pandangan banyak orang. Sesekali pandangannya menyapu sekeliling. Tapi keramaian orang-orang yang ikut memakamkan kakekku, seperti tidak memengaruhi keasyikannya sama sekali.

Untungnya sedang musim liburan sekolah. Jadi keesokan harinya, aku mencoba menebus rasa penasaranku dengan datang lagi ke kuburan, berharap menemui gadis itu lagi. Nyatanya, ia lagi-lagi ada. Masih dengan gaya yang sama, duduk bersandarnya, tempat pilihannya, dan aktivitasnya, menulis!

Kudekati gadis itu. Berisik langkah kakiku yang bertabrakan dengan rumput dan ranting, seperti tidak mengusiknya.

“Hai!” sapaku singkat. Dan baru itulah, ia akhirnya sadar jika ada seseorang yang mendekatinya.

“Oh hai, hai juga!” wajahnya malah terlihat bingung sambil menoleh ke beberapa arah.

“Ada apa? Kok jadi bingung? Maaf, aku mengganggumu ya?” aku jadi tidak enak sendiri dengannya.

“Uhm… hanya bingung. Bagaimana bisa kamu tiba-tiba ada di sini? Kok aku tidak mendengar langkah kakimu?” ia lalu menatapku seakan-akan aku sosok aneh yang tiba-tiba jatuh dari atas langit.

“Hahaha… Mungkin kamu tadi terlalu asyik sendiri. Sampai-sampai, aku jalan mendekati kamu pun, kamu tidak sadar,” ujarku.

“Ya ya… mungkin aku terlalu khusyuk ya?!” akhirnya ia bisa tersenyum ke arahku.

Aku lalu memilih tempat duduk di sampingnya. “Oh ya, kita belum berkenalan kan? Namaku Rhea,” ujarku mengulurkan tangan.

“Nanda,” jawabnya sambil menjabat tanganku.

“Kamu ini memang sedang menulis ya, Nanda? Aneh, kenapa di kuburan?”

“Menulis di kuburan itu asyik lho! Nggak tahu kenapa, di sini suasananya tenang dan sejuk. Apalagi kamboja-kamboja itu…” Nanda menghentikan sejenak ujarannya. Ia menarik nafas dalam-dalam, dan lalu tersenyum dengan damai.

“Baunya harum dan aku sangat menyukainya! Yah, memang aslinya agak capek juga sih menulis dengan cara manual, tidak langsung mengetik di laptop. Tapi suasana di sini, malah membuat aku seperti selalu saja ada inspirasi. Bahkan sampai lupa waktu saat menulis cerita,” ujar Nanda dengan mata berbinar.

“Bagaimana bisa kamu merasa nyaman dan punya ide menulis di kuburan? Apa kamu nggak takut kalau-kalau…” aku lalu merinding menatap ke sekeliling kuburan.

“Hantu?!” tebak Nanda. Tak lama kemudian lepaslah tawa riang Nanda.

“Iya, kamu tidak takut?”

“Ah, mana ada hantu usil yang siang-siang akan mengganggu aku. Lagi pula, aku kan tidak mengganggu mereka. Kalaupun ada yang datang, pasti akan aku ajak ngobrol. Siapa tahu, aku jadi punya inspirasi untuk menjadikannya ceritanya sebagai bahan cerita.”

Sekejap, Nanda lalu melihat ke arahku dengan tatapan penuh selidik. “Kamu bukan hantu kan?”

Aku langsung pura-pura cemberut. “Apa iya ada hantu yang secantik dan semodis aku?”

Kami berdua lalu tertawa bersama.

“Sebetulnya… aku juga suka menulis lho! Cuma masih hanya sebatas suka, sih. Belum bisa dibilang jago. Beberapa kali mengirimkan tulisan ke media, selalu ditolak. Akhirnya, ya cuma jadi koleksi pribadi saja di blog,” ujarku.

“Wah, kita sama kok. Aku juga begitu. Tapi, aku sih cuek-cuek saja dan masih tetap nyoba untuk kirim ke beberapa media. Ikutan lomba juga sering. Tapi… ya itu… nggak pernah menang!” Nanda menertawakan dirinya sendiri.

“Hehehe… ternyata kita satu nasib yah! Eh iya, ngomong-ngomong, kemarin ikutan juga lomba cerpen di majalah Dara, nggak?” tanyaku.

“Iya. Pengumumannya minggu depan kan?”

“Iya. Hm… berharap menang nih!” cetusku.

Nanda juga mengangguk. “Sama! Yah, mungkin karena sering kalah kali ya? Aku juga seperti nggak pernah lelah untuk berharap menang. Meskipun, ternyata nanti kenyataannya kok aku harus kalah lagi.”

Nanda lalu asyik menulis lagi. Aku lalu membatin, rasanya mulai besok aku ingin juga membawa perangkat menulisku, dan bersama Nanda mengasyikkan diri menulis di sini.

Sejak itu, hingga seminggu kemudian, jika ada yang melihat dua orang anak perempuan yang asyik menulis, bersandar di sebuah tepi bangunan kuburan, itulah kami, aku dan Nanda. Bersama Nanda, kami memang menjadi dua orang sahabat yang saling melengkapi saat asyik menulis. Kadang jika salah satu dari kami kehabisan ide, kami bisa saling bertukar pikiran. Jika ada salah satu dari kami yang kelelahan, kami akan bergantian tidur sejenak dan lalu bangun untuk menulis lagi.

Kegiatan menulis di tempat itu jadi terasa asyik karena kami pergi ke kuburan seperti laiknya orang yang sedang piknik. Kami pergi ke kuburan dengan membawa tikar dan bekal makanan yang berisi lengkap. Ada bekal untuk makan siang, camilan, sampai buah-buahan. Sayangnya, keasyikan kami berdua itu cukuplah hanya harus berlangsung selama seminggu.

***

“Nda, selamat yah…” seru Gina dan Mimi saat aku baru saja masuk ke dalam kelas.

“Selamat buat apa ya?” aku kebingungan.

“Namamu ada di daftar nama para pemenang lomba menulis cerpen di majalah Dara, lho!” ujar Mimi. Gina langsung menyodorkan halaman majalah Dara yang telah terbuka ke arahku.

“Memang sih, kamu bukan yang jadi juara satunya. Tapi, lumayan banget kan bisa dapat juara 2? Apalagi kamu selama ini memang ingin sekali bisa menang lomba atau paling tidak dimuat tulisannya di dalam majalah,” ujar Gina.

Kutelusuri halaman majalah yang memuat nama para pemenang lomba. Dan mataku tiba-tiba menemukan sebentuk nama yang begitu aku kenal akhir-akhir ini. “Rhea?”

Gina dan Mimi saling berpandangan. “Kamu kenal sama yang juara satu itu ya?” tanya Gina.

“Uhm, iya. Sebetulnya baru-baru ini juga kenalnya. Itu pun aku kenal dia malah sewaktu sama-sama hobi ke kuburan!” aku lalu tertawa teringat pengalaman mengasyikkanku selama liburan bersama Rhea.

“Di kuburan? Eh, yang benar dong kalau cerita?!” tiba-tiba tubuh Gina bergetar karena sepertinya ia merinding mendengar ucapanku.

“Hehehe… tenang… Rhea itu temanku yang memang aku kenal di kuburan. Jadi ceritanya kemarin pas liburan, aku memang hobi menulis di sana. Nah, pas itulah aku lalu kenalan dengan Rhea. Dia sama dengan aku, suka menulis, dan juga nggak pernah menang lomba atau dimuat tulisannya di majalah. Jadi, kami lalu sering berdua duduk di kuburan selama seharian untuk menulis bersama,” ceritaku pada Mimi dan Gina.

“Kok agak aneh ya waktu mendengarnya?” ujar Gina.

“Iya, sama! Kamu yakin itu Rhea yang menang lomba ini?” sambung Mimi.

“Aku benar-benar yakin. Soalnya Rhea bilang, judul cerpennya itu ya seperti yang ditulis di sini ini. Seperti Kamboja,” tiba-tiba aku seperti disergap perasaan merinding sendiri. Eh, ada apa sih dengan badanku ini?

Siang harinya, aku menyegerakan diri menuju kuburan, melangkahkan kakiku ke sebuah makam yang menjadi tempat biasanya aku dan Rhea bertemu. Aku cukup menyesal, kenapa dari beberapa hari bersama dengan Rhea, aku malah lupa menanyakan di mana alamat dan nomor teleponnya.

Seperti yang sempat aku tebak, aku memang tidak menemukan Rhea di sana. Yah, memang aku tidak ada janji hari ini dengan Rhea untuk saling bertemu di sini. Jadi pantas saja jika akhirnya aku tidak menemukan Rhea seperti hari-hari sebelumnya. Tapi, entah kenapa aku merasa saat itu begitu ingin menjumpainya di kuburan, dan berharap ia juga berada di sana.

Beberapa menit aku duduk bersandar di sebuah kuburan yang menjadi tempatku mengasyikkan diri seperti biasanya. Di tempat itu, beberapa hari kemarin, aku begitu banyak bisa menghasilkan tulisan yang lalu aku kirim ke beberapa media seperti biasanya. Apalagi sejak Rhea kemudian menjadi teman menulisku selama liburan di kuburan. Yang ada, setiap hari selalu saja ada ide-ide baru yang sepertinya tak ada habis-habisnya.

Karena hari makin sore dan suram di area kuburan itu, aku lalu memutuskan untuk pulang. Tiba-tiba, sekuntum bunga kamboja jatuh mengenai kepalaku dan terpantul di sebuah makam yang ada di samping jalan tempatku melangkah. Bunga kamboja yang masih segar. Aku lalu memungut bunga itu dan menghirup wanginya dalam-dalam.

“Seperti Kamboja!” tiba-tiba tubuhku tersentak. Aku langsung teringat dengan sebuah judul cerpen milik Rhea yang membuatnya telah mengungguli aku dalam lomba cerpen di majalah Dara. Saat mencoba memandangi kamboja, tatapan mataku lalu memantul lurus ke arah tulisan di sebuah nisan, tempat kamboja yang sedang ada dalam tanganku sebelumnya kupungut.

“RIP. Rhea.”

Seperti berjuta-juta sengatan listrik lalu menyergap ke tubuhku. Ku amati nisan itu, ada nama Rhea, tanggal lahirnya yang memang sebaya denganku, dan tanggal kematiannya yang tertulis baru saja, sekitar tiga minggu lalu.

Tubuhku langsung merosot, tersungkur di tepi nisan Rhea. “Jadi… selama ini yang menemani aku menulis itu siapa, Rhea? Kamukah itu? Kamukah yang memang sudah berhari-hari ada di dalam kuburan ini?” aku lalu menangis sejadi-jadinya.

Ada berbagai rasa bermain di otak dan hatiku. Yang jelas, aku cukup sedih karena menemui kenyataan bahwa orang yang selama ini begitu menjadi bagian dari sumber inspirasiku, ternyata telah lebih dulu meninggalkan aku? Bahwa ternyata kebersamaanku dengan seorang sahabat beberapa hari kemarin hanyalah sebuah cerita semu? Dan yang paling tidak bisa aku terima, bahwa ternyata aku tidak bisa lagi menjumpai seorang Rhea di kehidupan nyata meski hanya sekedar untuk mengucapkan kata selamat!

Di edisi majalah Dara berikutnya, aku menemukan sedikit profil Rhea. Rhea yang aku temui di kuburan, Rhea yang namanya kutemui dalam pengumuman nama pemenang di majalah, Rhea yang kutemukan nisannya di suatu senja, memang orang yang sama. Sayang, ia harus menerima kenyataan jika ujung perjuangannya untuk menjadi pemenang lomba menulis sekaligus dimuat ceritanya di majalah, tidak bisa ia lihat secara nyata. Penyakit leukemia itu telah menjemputnya lebih dulu.

Jika kalian suka menulis seperti aku, kira-kira tempat apa yang menjadi favoritmu? Kalau aku, jawabannya adalah kuburan! Karena di situlah aku menemukan berbagai inspirasi dan menjumpai seorang sahabat yang meski hanya bisa bersama dalam waktu yang singkat. Meski aku tahu, Rhea yang kujumpai waktu itu adalah sosok tidak nyata, tapi aku tidak pernah jera untuk menulis di kuburan. Bahkan aku berharap, semoga bisa menjumpai lagi sesosok Rhea. Atau mungkin, menjumpai sosok-sosok lain yang sudi kembali datang ke dunia untuk membantuku menemukan jalan cerita dalam setiap tulisanku.

Jatuh

Kabarnya, hari ini waktunya pengumuman hasil olimpiade sains tingkat provinsi. Itu artinya, kalau Nela bisa lolos di Olimpiade Ekonomi kali ini, ia bisa maju sampai tingkat nasional. Dan yang membuat Nela sampai saat ini cemas adalah karena sebelum momen olimpiade, ia tidak sempat jatuh.

Buat Nela, ada hubungannya antara jatuh dengan kesuksesannya. Dulu sebelum ikut Olimpiade Fisika saat SMP, ia jatuh dari motor sewaktu dibonceng tantenya. Tak lama kemudian, ia dinyatakan menang juara 1 Olimpiade Fisika tingkat nasional. Lalu sebelum ujian masuk ke SMA favorit yang saat ini jadi sekolahnya, Nela juga harus melewati peristiwa jatuh dulu dari tempat tidur. Akhirnya, ia bisa diterima di sekolah yang begitu ia impikan dengan nilai ujian masuk tertinggi.

Jadi sebelum Olimpiade Ekonomi tingkat kabupaten kemarin ia jatuh dari tangga, ia tidak kaget lagi. Meskipun kakinya memar dan berwarna biru lebam di sana-sini, ia cuma bisa tersenyum kecil. Sementara Miss Hani, guru ekonominya justru panik dan khawatir habis-habisan.

“Aduh Nel, itu gimana ceritanya sih kamu sampai jatuh dari tangga asrama? Kamu berangkat sekolah sambil buru-buru, ya?”

“Uhm, enggak juga sih Miss. Kemarin itu sambil nunggu Apri, saya duduk di tangga. Terus, saya ingat mimpi saya semalam. Saya mimpi Miss, saya jatuh berguling-guling dari tangga. Lalu saya mikir, apa jadinya ya kalau saya jatuh dari sini sekarang? Habis itu seingat saya, saya ngantuk Miss karena kelamaan nunggu Apri. Tahu-tahu, saya sudah jatuh sampai bawah tangga,” cerita Nela dengan penuh semangat.

Nela mendapati Miss Hani yang lalu menatapnya dengan pandangan aneh.

“Tenang saja Miss, saya sudah biasa kok jatuh sebelum tes. Biasanya habis itu, saya mesti dapat nilai paling bagus di hasil tes,” cetus Nela geli.

Lalu saat sehari sebelum olimpiade sains diselenggarakan, dan Nela menyadari dirinya tidak kunjung jatuh, Nela jadi panik sendiri. Uniknya, Miss Hani pun jadi ikut panik.

“Aduh, gimana ini Nel, kamu kok nggak jatuh-jatuh juga sih?”

“Hehehe,” Nela cuma tertawa menanggapi. Meski dalam hati, sebenarnya ia pun juga ikut panik.

“Bagaimana kalau… kamu saya dorong sekarang biar jatuh?” ujar Miss Hani usil.

“Ih Miss ini! Kan jatuh itu sakit Miss…”

“Habisnya gimana dong? Kalau kamu nggak jatuh, berarti kamu bisa jadi nggak lolos olimpiade provinsi.”

Dalam hati Nela jadi bingung sendiri. Apa iya kalau ia sengaja jatuh, lalu hasil olimpiadenya berarti akan bagus?”

Sore harinya saat berjalan pulang ke asrama, Nela disapa oleh Vita.

“Nel, sudah tahu hasil olimpiade belum? Dengar-dengar nih, dari sekolah kita yang lolos cuma tiga orang lho dari kita berdelapan yang kemarin ikut olimpiade,” tutur Vita yang ikut olimpiade TIK.

“Aku nggak lolos ya?” mata Nela langsung spontan berkaca-kaca. Ia sudah membayangkan hasil yang akan diperolehnya.

“Hehehe, yang nggak lolos itu aku! Kamu sih lolos. Untung lho bisa dapat ranking 3 besar. Selamat ya!”

“Beneran, Vit?” Nela lansung cepat menyeka air matanya.

“Iya. Beruntung banget kamu, Nel. Nilaimu itu cuma beda tipis sama anak yang ranking 4. Tadi aku sudah lihat hasilnya di Miss Luluk.”

Nela justru menangis lagi. Malah, kali ini tangisnya makin deras dari sebelumnya.

“Lho, kamu ini gimana sih? Lolos kok malah nangis?” Vita kebingungan.

Dalam hati, Nela merapal begitu banyak syukur. “Terima kasih Tuhan. Terima kasih. Walaupun aku enggak ranking 1, walaupun nilaiku beda tipis sama yang ranking 4, tapi yang penting aku bisa lolos ke nasional, yang penting aku nggak harus kesakitan karena jatuh. Dan yang penting lagi sekarang aku sadar, kalau aku tidak jatuh itu bukan berarti takdirku jelek.”

Mi Tropicana Slim? Nggak Masalah!

“Beneran kamu ngerjain semua PR Fisika ini sampai begadang?” Cindy bertanya seakan tak percaya dengan kata-kataku barusan.

Aku mengangguk dengan senyum manis.

“Sambil makan mi?” tanyanya lagi dengan nada ketidakpercayaan yang meninggi.

Jawabanku tetap berupa anggukan. Malah makin manis.

“Nggak mungkin!” Cindy berdesis. Ia sangat tahu, selama ini aku sering menghindari begadang sampai malam karena perutku yang suka susah kompromi alias gampang lapar

Sesaat ia menatapku dengan segala tatapan yang meragukanku. Kemudian, ia pun berlalu.

Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Tapi dalam hati, aku tertawa terbahak-bahak bahagia.

Ah, dasar Cindy kudet! Masa dia nggak tahu sih kalau sekarang ini sudah ada Mi Kering Tropicana Slim. Mi yang satu ini lebih rendah lemak. Jadinya meski begadang sambil makan mi, aku sih nggak masalah lagi.

Mi Tropicana Slim

Mi Kering Tropicana Slim rasa ayam bakar, teman camilan yang pas buat begadang sambil ngerjain PR.

Memang, aku ini suka gampang lapar. Apalagi kalau pas begadang sambil ngerjain PR yang bejibun. Jadinya merasa beruntung banget deh ada Mi Tropicana Slim. Lapar hilang, tapi badanku tetap aman nggak gampang gemuk.

Sebagai anak yang sering jawara di kelas atau sekolah, tentunya aku suka teliti dulu kalau ada apa-apa. Termasuk urusan sebelum memilih camilan. Waktu aku lihat di tivi ada Mi Tropicana Slim, aku coba cari tahu dan akhirnya kecantol di link ini.

Mi Kering Tropicana Slim itu dibuat dengan proses pengeringan yang dipanggang, bukan digoreng. Terus, kadar kalorinya terkontrol. Jadi aman tentram damai deh aku mengkonsumsinya.

Kelebihan lain dari Mi Tropicana Slim itu kadar natriumnya lebih rendah. Sebagai jagoannya anak sains, aku tahu banget kalau natrium itu berguna bagi tubuh. Tapi kalau kebanyakan, bisa bikin hipertensi alias darah tinggi. Itu dia yang aku suka dari Mi Tropicana Slim. Lagian, aku nggak suka mi yang rasanya terlalu asin, menurutku, seperti mi yang kebanyakan ada.

Alasan lain kenapa aku sengaja milih Mi Tropicana Slim sebagai camilanku saat begadang, soalnya mi ini kaya vitamin, mineral, dan sumber serat. Di balik bungkusnya, aku bisa tahu kalau Mi Kering Tropicana Slim itu mengandung vitamin A, B1, B2, B3, B6, B12, C, D, E, Asam Folat, Kalsium, dan zat Besi. Tuh kan, pilihan camilanku ini kaya gizi banget!

So, gara-gara Mi Tropicana Slim, persainganku dengan Cindy nampaknya akan makin meruncing. Kalau sebelumnya kami bersaing siapa yang paling pintar di kelas, sekarang persaingan kami sudah di tataran siapa yang bisa lebih kelihatan langsing. Mungkin dia dulu bisa merasa menang karena lebih slim dari pada aku. Tapi kini berkat ada Mi Kering Tropicana Slim, aku yakin bisa jadi yang lebih slim dari Cindy!