Cerpen: Pak Umar dan Sepeda Jengkinya


Oleh: Ika Maya Susanti

“Bapak itu lagi!” Niar menggumam dalam diam di tepi jendela. Matanya menatap malam yang sedang memilih warna hitam pekat. Namun pandangan Niar yang sebenarnya, ada di berbagai peristiwa. Gaya melamunnya milik orang kebanyakan, duduk di depan meja sambil kedua tangannya menopang dagu.

Inilah rutinitas Niar seusai belajar. Melamun! Dan kali ini tema lamunan Niar seusai belajar adalah tentang seorang pria hampir paruh baya yang bagi Niar selalu khas lekat dengan sepeda jengkinya.

Niar sangat tahu betul sosok itu. Selama setahun kemarin, bapak itu selalu berpapasan dengannya di jalan. Niar kerap menyalip sepedanya di pagi hari. Terutama jika itu adalah hari Senin. Semua orang tahu, hari Senin adalah waktu untuk upacara bendera. Dan bagi Niar, hari Senin berarti juga waktunya piket membersihkan kelas. Karena itulah, hari Senin menjadi alasan bagi Niar untuk menjadi pembalap pagi hari di jalan.

Menyalip sepeda bapak itu juga dilakukan Niar di hampir setiap pulang dari sekolah. Banyak orang akan melakukan hal seperti yang Niar lakukan, bergegas mengenderai sepeda di tengah terik siang yang menyengat.

Sepeda milik Niar bukanlah sepeda balap. Sepeda dengan keranjang di depan, sepeda andalan yang pas untuk para perempuan. Tidak ada juga perangkat untuk memberatkan atau meringankan kayuhan  pengendaranya yang biasa terletak di stang sepeda.

Hanya saja, Niar memang selalu punya gagasan untuk menjadi pembalap di jalan. Bahkan, mengajak balapan angkutan umum berisi teman-temannya yang juga pulang sekolah. Sebentuk kebanggaan yang terukur bagi Niar, bila ia bisa mengalahkan mobil bertubuh kuning itu. Meski sebetulnya, tentu saja dikarenakan kecepatan angkutan umum tersebut yang tidak bisa melaju cepat. Kendaraan itu kerap mampir di banyak tempat, menurunkan dan mengangkut penumpang, lalu tetap berjalan lambat demi, andai saja ada penumpang di dalam gang yang terlihat sedang berjalan untuk menyetop angkutan umum.

Sepeda milik bapak itu juga bukan sepeda tua, sehingga membuat pengendaranya selalu disalip banyak orang.             Sepeda jengki, begitu orang menyebut jenisnya. Ibarat tubuh manusia, sepeda jenis ini bertubuh tinggi langsing, lebih ramping meski berfisik mirip sepeda kumbang. Namun kalau urusan laju, diameter bannya yang besar bisa membuat sepeda ini melaju lumayan gesit.

Jadi mengapa Niar kerap menyalip bapak itu, jelas sudah bukan karena urusan kualitas sepeda. Tapi, karena alasan Niar untuk harus cepat saat mengendarai sepeda di jalan. Dan, alasan bapak itu selalu berkenan disalip oleh Niar, tak pernah Niar ketahui.

Tapi sejak tadi siang, Niar punya dasar kuat untuk tidak menjadi pembalap di jalan raya. Apalagi, kini ia punya penghalang untuk tidak lagi bisa menyalip bapak bersepeda jengki yang sudah Niar ketahui identitasnya.

Paginya, Niar memang masih menjadi pembalap. Karena di awal hari itu, Niar ingin punya pengalaman pertama yang menyenangkan saat ia sudah bisa mengganti rok birunya dengan warna abu-abu.

Semua bermula dari upacara bendera. Sebetulnya mata Niar menatap silau ke segala penjuru arah. Topi barunya tak bisa menutupi wajahnya dengan maksimal. Apalagi, tidak ada barisan yang memagar di depannya. Nias sempat menggerutu, mengapa ia menjadi murid paling tinggi di kelasnya sekarang. Karena itu berarti, selama setahun nanti Niar harus kerap berada di barisan paling depan sebagai aturan baku baris berbaris. Siapa yang paling tinggi, baris di tempat kehormatan paling depan!

Para guru berbaris di tempat yang teduh, menghadap para siswa baru yang menikmati sinar pagi kaya manfaat untuk tubuh. Berbalikan dengan aturan baris berbaris pada siswa, para guru berbaris dengan aturan siapa yang paling dulu. Atau, mungkin siapa yang paling mungil, dialah yang ada di depan. Karena dalam pengamatan Niar, ternyata bapak itu berbaris di barisan paling depan, berikut juga barisan di samping kanan kirinya yang juga terdiri dari para guru dengan tinggi tubuh yang tak jauh beda dengannya.

Tapi tentu tidak ada satu orangpun yang sengaja mengatur, mengapa Niar bisa berbaris paling depan dan mengapa bapak itu juga satu arah dengannya berbaris paling depan. Lalu di kemudian waktu, membuat mereka saling kerap bertatap-tatapan.

“Ya Tuhan… itu kan bapak yang sering aku salip di jalan?” waktu itu Niar ingat pasti kalau dia cuma bisa tanpa sadar membuka mulut lebar tanda ternganga. Sedangkan bapak yang ditatap Niar, membalas dengan senyum khas yang kerap dilihat Niar.

“Ah ya, senyum itu!” Niar ingat pasti bagaimana ada seseorang yang pernah membuatnya cemberut hanya karena ia tersenyum.

Dalam pikiran Niar, sulit dijelaskan tentang seseorang yang bisa menikmati sinar matahari di siang hari. Mungkin itu sah jika jawabannya adalah para turis di Kuta Bali. Tapi ini, adalah seorang bapak, dengan seragam abu-abu gelapnya, yang mengendarai sepeda jengki, berikut senyum bahagianya.

Ya, senyum itu memang terlihat tulus tanpa paksaan matahari yang panas. Meski keringat juga terlihat mengucur lancar di wajahnya yang tak bertopi. Dan Niar menjadi keki karena tidak bisa ikut berbahagia seperti cara bapak itu!

Lain waktu, Niar menjumpai bapak itu di kala sore hari. Kali ini juga dengan kondisi yang membuat Niar geleng-geleng kepala tanda salut. Si bapak bisa memancar senyum bahagia dalam kondisi tak terbebani sosok di belakangnya. Di balik tubuh bapak itu, ada seorang wanita yang mungkin istrinya, duduk bergaya menyamping, sambil memikul setumpuk perangkat dan bahan dagangan untuk berjualan nasi boran.

Membayangkan memangkunya dalam diam saja, Niar tak mampu. Perangkat dan bahan untuk berjualan makanan khas Lamongan itu tak pernah bisa hadir dengan versi sederhana sejak dulu. Ada nasi yang diletakkan di sebuah wadah besar dari jalinan bambu yang disebut boran. Berikut, berbagai lauk yang diletakkan di beberapa wadah terpisah. Jika bagian-bagian itu disatukan, maka jadilah tumpukan setinggi sekitar kaki orang dewasa yang harus dipangku oleh wanita itu di atas dudukan belakang sepeda jengki.

Memang, tumpukan itu bisa melekat pada tubuh pembawanya karena ada selendang sebagai alat pengikat untuk menggendong. Tapi memeganginya sambil menjaga keseimbangan dengan duduk di boncengan sepeda, tentu menghasilkan gerakan-gerakan yang membuat si pemboncengnya harus lihai mengendalikan setir sepeda.

Dan jika pembonceng itu adalah Niar, ia yakin, baru satu kayuhan saja sepedanya pasti akan oleng ke samping karena beban yang ada di belakangnya. Jadi pastinya, tak akan ada gambaran dalam pikiran Niar untuk bisa menikmati kayuhan sepeda sambil tersenyum bahagia!

***

Namanya Pak Umar. Kini, memang sudah ada yang berubah dari hubungan Niar dengan orang yang selalu hanya ia bisa sebut dengan panggilan bapak atau bapak bersepeda jengki, tanpa embel-embel nama asli di belakangnya.

Setelah kejadian upacara di hari pertama ia masuk sekolah, Niar jadi mengenal nama Pak Umar. Karena, bapak itu lalu menjadi guru Matematika di kelasnya. Bapak yang senang menebar senyum sepanjang jalan sambil mengayuh sepeda itu ternyata juga murah berwajah ramah saat mengajar. Padahal mata pelajarannya adalah satu dari sekian pelajaran yang tidak disukai Niar. Juga, kebanyakan teman-temannya. Tapi entah karena senyuman Pak Umar, atau memang cara mengajarnya, Niar jadi betah dan mudah mengerti Matematika.

Di jalan pun, kini Niar bisa sambil ikut tersenyum saat mengayuh sepeda. Karena, ada Pak Umar yang kadang enak untuk diajak berbicara selama di perjalanan saat kebetulan berbarengan. Jikalau harus menyalip Pak Umar karena suatu hal, ia bisa terbiasa untuk menggunakan perilaku kesopanan. Niar akan menyapa, mengatakan maaf, lalu permisi untuk melaju lebih dulu.

Namun hampir satu semester, Niar selalu kesulitan untuk menjawab pertanyaannya sendiri tentang Pak Umar. Niar masih penasaran, mengapa seorang guru yang mengajar di sekolah dengan label RSBI masih harus mengayuh sepeda. Yang Niar bingungkan, sekolahnya kini sedang berusaha menstandarkan pendidikannya dengan standar internasional. Dan, bukankah untuk masuk ke sana, Niar dan kawan-kawannya sudah membayar cukup banyak uang setara sekolah di swasta? Apa iya uang-uang itu tidak bisa meningkatkan kesejahteraan seorang guru seperti Pak Umar? Apa iya ini hanya karena Pak Umar tak pernah membuka les sepeeti kebanyakan guru-guru Niar lainnya, sehingga tak memiliki uang pemasukan tambahan?

Yang Niar tahu, banyak guru di sekolahnya mengendarai mobil atau motor. Itu pun jika motor, modelnya pasti keluaran terbaru. Hanya Pak Umar, guru dengan transportasi sepeda jengki. Karena rasa penasaran itu makin memuncak, Niar mulai memberanikan diri mulai menyusun aksi.

Berbagai pertanyaan itu makin menumpuk dengan satu rasa penasaran lagi yang dimiliki oleh Niar. “Mengapa Pak Umar selalu bersepeda dengan tersenyum? Meskipun di bawah panas terik matahari, atau meskipun sedang membonceng istrinya yang membawa setumpuk wadah boran, mengapa harus ada senyum di wajahnya?”

Kali ini, Niar berniat main ke rumah Pak Umar. Kebetulan, Niar memiliki kesulitan dengan pokok bahasan kalimat persamaan. Setelah meminta izin untuk berencana main ke rumah Pak Umar di waktu petang, Niar akan mencoba menanyakan rasa penasarannya itu.

Wawancara langsung antara Niar dengan Pak Umar akhirnya terjadi. Tentunya didahului dengan kata-kata maaf dan permisi seusai masalah Niar tentang kalimat persamaan dapat ia mengerti dari Pak Umar.

Pertanyaan pertama Niar. “Kenapa ya, Bapak kok masih betah dengan sepeda jengki? Maaf sekali lagi lho Pak, atas pertanyaan saya. Soalnya, bagi saya Bapak itu unik, sih!”

Pak Umar sedikit tergelak mendengar pertanyaan tersebut. “Yah… sekarang kan sedang tren aksi go green!” jawab Pak Umar santai namun sebetulnya cukup masuk akal. Di mana-mana, apalagi di kota besar, saat ini begitu banyak gerakan bersepeda yang bahkan dilakukan para pegawai kantoran.

Tapi Niar memicingkan mata tak percaya karena teringat hal yang lain. “Masak sih, Pak? Tapi, sambil membonceng Ibu, apa Bapak juga tidak terpikir kesulitan sehingga juga ingin punya motor?”

Pak Umar menggelengkan kepala.

Niar lalu menemukan jawaban pertanyaannya sendiri. “Oh, saya tahu. Bapak ini menghayati lagu Oemar Bakri-nya Iwan Fals, ya?” canda Niar yang dijawab tawa Pak Umar, masih dengan bonus gelengan kepala.

“Atau… maaf nih Pak, apa iya gaji Bapak tidak cukup untuk beli motor? Kan Bapak ngajar di RSBI. Gajinya pasti besar. Atau, kenapa Bapak tidak mengadakan les Matematika saja seperti para guru Fisika dan Kimia?” Niar masih mencecar. Ia sudah bertekad, malam itu, ia harus mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.

Kali ini strategi Niar rupanya berhasil. Pak Umar langsung menghela nafas dalam. “Hm… pasti kali ini Pak Umar akan menjawab jujur pertanyaanku,” batin Niar yakin.

“Saya itu tidak pernah terpikir untuk ingin mengambil keuntungan dari les, Niar. Cukuplah menerangkan kalian dengan jelas di kelas. Kalau ada yang kurang mengerti, akan saya persilakan datang bertanya ke rumah. Ya seperti kamu sekarang ini.”

“Lalu?” Niar masih tidak puas karena pertanyaannya masih belum dijawab.

“Hm… saya itu tidak bisa naik motor lho!” jawaban Pak Umar bermimik serius yang tak dipercayai oleh Niar. Niar malah tertawa. Pasti Pak Umar cuma beralasan mengada-ada, itu pikir Niar.

“Lho, serius ini! Banyak orang yang menawari saya untuk belajar. Tapi saya malu. Masa, sudah tua seperti saya ini baru belajar naik sepeda motor,” jelas Pak Umar yang langsung membuat Niar malu karena sudah tertawa sendiri pada orang yang telah bicara jujur.

“Aduh Pak, kalau begitu saya minta maaf ya. Saya benar-benar tidak berniat menyinggung Bapak. Sekali lagi saya mohon maaf,” pinta Niar.

Pak Umar tersenyum, dan Niar langsung ingat pertanyaannya yang lain.

Menginjak ke pertanyaan dari rasa penasarannya yang ke dua. “Pak, Bapak apa tidak tersiksa kepanasan setiap siang? Tidak keberatan ketika sedang menggonceng Ibu? Soalnya saya lihat, Bapak ini aneh! Siang-siang kepanasan tapi masih bisa naik sepeda sambil tersenyum. Waktu membonceng istri Bapak juga begitu,” aksi reportase Niar sepertinya sulit untuk berhenti.

“Oh, itu… Saya itu punya kebiasaan melamun lho, saat naik sepeda. Kadang, saya sambil ingat hal-hal lucu yang sering saya ketahui. Misalnya, melihat ulah kalian waktu di kelas. Atau, kadang saya terpikir tentang ide baru untuk bisa menerangkan Matematika dengan mudah kepada kalian nantinya di kelas. Pokoknya, melamun sambil naik sepeda itu banyak menghasilkan inspirasi!” mantap jawaban Pak Umar.

Niar sedikit mengernyitkan kening.

“Niar coba deh kalau tidak percaya. Biar Niar nggak suka kebut-kebutan lagi di jalan. Bahaya, anak gadis main kebut-kebutan naik sepeda di jalan besar!”

Mendengar petuah itu, Niar malu sendiri.

Sesampainya di rumah, Niar menyesal. Ia menyesal karena sepertinya pertanyaan-pertanyaannya tadi telah menyinggung Pak Umar. Ia pun menyesal karena ternyata setelah tahu jawaban Pak Umar, ia juga masih harus melamun di pinggir jendela seperti biasanya.

“Bayangkan saja, hari semoderen ini, masih ada orang yang tidak bisa naik motor?” Niar bertanya pada bayangan tak jelas dalam pikiran lamunannya.

***

Sedangkan orang yang dilamunkan Niar, ternyata juga sedang termenung diri. Sejak kepulangan sang murid dari rumahnya, berkali-kali ia bergumam kata maaf. Ia memang sudah tidak jujur pada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Niar yang rasanya sudah terpikirkan sebelumnya oleh muridnya itu. Namun kalaupun Pak Umar harus jujur, sungguh, ia justru akan mengeluarkan penjelasan sepanjang rumus Matematika. Seperti saat menerangkan penguraian sebuah kalimat matematika yang panjang. Atau, selengkap rumus dimensi ruang yang membutuhkan unsur panjang kali lebar kali tinggi. Mungkin ditambah dengan kali lama, karena penjelasan Pak Umar memerlukan ketinggian pemahaman.

Sejak muda, Pak Umar sudah bisa mengendarai sepeda motor. Tapi posisinya, selalu dalam istilah pinjam milik orang lain. Mungkin orang tak akan lantas percaya, jika Pak Umar sepertinya punya surat keterangan tambahan sejak lahir, tidak bisa memiliki sepeda motor!

Setiap hendak membeli motor, ada saja yang menjadi ganjalannya. Orangtua sakit, anak perlu biaya sekolah, istri butuh modal, tetangga perlu pinjam orang, dan semua itu bisa silih berganti datang hingga sekarang.

Kini, uang yang selalu ada setiap bulannya dari gaji mengajarnya, uang yang selalu ada setiap harinya dari hasil berjualan nasi boran istrinya, selalu ada tersedia untuk menuju ke kantong kedua anaknya yang butuh biaya pendidikan. Anak Pak Umar memang cerdas dan pintar. Namun kelebihan itu tidak sekaligus membuat mereka bisa ditanggung total kebutuhan pendidikannya di sekolah oleh beasiswa.

Dan beberapa tahun terakhir ini, Pak Umar telah menghentikan setiap usahanya untuk memiliki sebuah sepeda motor. Ia sadar, garis hidup yang ia miliki sepertinya adalah berjodoh dengan sepeda jengki yang tak berpolusi.

 

Catatan: Cerpen ini awalnya saya ikutkan lomba di LMCR 2010. Namun karena tidak menang, kembali akhirnya saya masukkan cerpen ini ke dalam blog. Ide awal dari cerpen ini sendiri adalah tentang seorang pria hampir paruh baya yang kerap saya lihat bersepeda dengan santai. Tentang ia yang tetap tersenyum meski sedang terpapar sinar matahari, itu benar adanya. Karena menarik, ia pun akhinya saya abadikan ke dalam sebuah cerpen ini yang lalu saya kembangkan dengan gaya imajinasi saya.

Hujan


Oleh: Ika Maya Susanti

“Saya suka kamu!”

Hening. Satu, dua, tiga, hingga berapa detik pun berlalu dengan hitungan yang hampir bersamaan di masing-masing hati Opik dan Indah. Tolehan kepala yang bersamaan membuat kedua wajah mereka bersemu merah. Lalu, masing-masing kepala itu kembali terpekur menatap sepatu masing-masing.

Sepatuku masih sama, pikir Opik. Dan ia pun lalu menatap langit yang ternyata sudah berubah sejak terakhir ia memandangnya. Sebelumnya penuh berawan putih. Namun, kini telah berubah menjadi hitam pekat menggantung. Cuaca Batam memang selalu tak menentu, batin Opik.

“Oke deh, aku pulang sekarang.”

“Nggak perlu jawabannya sekarang kan?”

Opik menggeleng sambil tersenyum. Tubuhnya setengah melompat dari posisi duduknya. Lalu berjalan menyeberangi halaman kampus. Ketika kakinya menginjakkan area pejalan kaki yang beratap, hujan lalu turun cepat menderu. Sampai di ujung area pejalan kaki, hujan makin menjadi. Ia tak siap dengan jas hujan karena berpikir pastinya hari yang cerah di pagi hari tidak mengundang hujan di sore harinya. Meski ketika hujan seperti sekarang ini pun ia lalu kembali tersadar, bahwa Batam tak pernah mengenal cuaca.

Sedia payung sebelum hujan? “Huh, pantang! Nggak banget deh kalau cowok pakai payung ke mana-mana! Apalagi dengan versi warna kembang-kembang atau yang ngejreng seperti pink, kuning, atau biru! Hitam? Emangnya mau ngelayat?” selalu itu yang ia rutuki jika sedikit saja terbersit kata payung saat hujan menjebaknya seperti sekarang.

Kos tempat Opik tinggal berada di seberang kampus. Jika menyeberangi jalan dua arah, ia tinggal menuruni tanah setapak yang menurun dan menghubungkan jalan besar dengan perumahan tempat kosnya berada. Namun jika hujan begini, jangan harap untuk mencoba jalan setapak itu. Karena yang ada justru kegiatan land skating, pengganti ice skating, yang bisa menuntutnya. Sudahlah menurun, tanah merah itupun akan nampak belikat dan licin dipijak.

Berjalan memutar! Sepertinya tiada solusi lain yang bisa ia miliki saat hujan yang deras dan langit yang sepertinya tak jua memudar pekat hitamnya. “Nggak ada salahnya bukan mencoba sesuatu yang berbeda sekali-sekali. Biar makin lengkap sudah keunikan hari ini!” pikir Opik.

Saat Opik memutuskan menerobos hujan, berjalan menyeberang jalan, tanpa payung atau jas hujan, seseorang yang berdiri di tepi Opik seketika bernafas lega. Cukup lumayan sudah ia berharap sesuatu yang sepertinya mustahil, ada orang di sekitarnya yang sudi memberikan sedikti tempat untuk menyelamatkan sepatu sneakernya yang basah tersiram hujan, di tengah hujan deras yang siapapun pasti berpikir normal untuk berteduh. Dan ketika Opik pergi, ia seperti melihat sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi.

Namun hanya ia sendiri yang tak berpikir seperti kebanyakan orang yang menujukan tatapannya ke arah tubuh Opik. Hujan deras, main hujan-hujanan, pasti bukan orang waras! Batin banyak orang kompak. Tapi seperti tahu jika dirinya sedang menjadi pembicaraan batin banyak orang, Opik lalu mengedarkan pandangannya. Tersenyum!

“Benar-benar anak yang kurang waras!”

“Eh, bukannya itu kawan engkau?”

“Iya, satu kos aku. Ah, biar sajalah dia berulah. Tinggal aku lihat lah bagaimana ia terkapar nanti di kamar,” sahut yang lain.

Opik jelas tidak mendengar. Ia asyik berjalan santai, tidak terburu-buru, dan begitu menikmati tetesan-tetesan besar hujan yang menerpa kepala hingga tubuhnya.

Opik rindu bermain dengan hujan. Ia ingat pertama kali ketika memutuskan bermain dengan hujan, saat berada di rumah mbahnya yang ada di Lamongan. Ada sebuah tambak di depan rumah mbahnya. Setiap kali hujan, orang pun banyak keluar rumah bak merayakan sebuah pesta besar. Dari anak kecil, hingga mbah-mbah! Bekal mereka bisa dua macam, satu sachet sampo, atau sebungkus sabun padat.

Versi pertama, tambak menjadi tujuan awal bagi mereka yang baru saja keluar rumah. Usai berenang sepuasnya, giliran membilas badan yang dilakukan di bawah guyuran air hujan. Bersih, pulang, membilas lagi, dan tinggal menikmati berbagai jajanan gorengan yang jadi ciri khas hampir setiap rumah.

Versi ke dua, jalan-jalan dulu sepuas-puasnya berkeliling kampung menikmati siraman hujan. Syukur-syukur acara keliling ini bisa sekalian menjemput teman-teman lain yang pastinya kebanyakan akan memutuskan turut serta keluar rumah. Jika massa sudah terkumpul banyak, waktunya sesi bermain di dalam tambak. Adu renang, menggoda kelompok lain, atau sekedar berdiam diri di tepian. Bilasnya dilakukan di rumah masing-masing, atau di dalam tambak itu juga.

Dan mereka semua tidaklah pernah menyiarkan kabar jika si A sakit usai bermain hujan-hujanan. Atau, Si B masuk rumah sakit karena demam akut. Semuanya selamat, semuanya senang, dan semuanya menganggap itu sebagai ritual tradisi.

Kini, Opik mengulang kenangannya, dengan optimisme jika ia pastinya tidak akan sakit akibat kehujanan. Lamunannya akan tanah nenek moyangnya pun membuatnya tak sadar jika ia sudah berada di depan pagar kos tempatnya tinggal.

Meski ia optimis tidak akan sakit, namun tetap saja ia ingat petuah sang ibu. “Masak air panas buat mandi jika habis kena hujan. Biar tak sakit dan menggigil engkau setelahnya!” Dan petuah itu ia turuti dengan patuh kini.

Namun, optimisme Opik mulai mengikis ketika dirasanya sedikit rasa tidak mengenakkan menyerang di bagian kepalanya. “Walah, petuah ibu pun sudah kuturuti. Kenapa pula kepala ini masih terasa pening?” desah Opik.

Jurus kedua lalu ia lakukan. Membuat secangkir minuman coklat panas, campur kopi seujung sendok. Lumayan, jurus itu agak meredakan peningnya. “Hm, mungkin jika petuah ibu dan minuman ini tidak aku minum, entah apa pula ya rasa badan ini?”

“Kenapa Pik?” Bagus membuka pintu kamar Opik dengan kepala yang hanya menyembul.

“Entahlah ini, agak tak beres badan rasanya!” senyum Opik sedikit menyengir.

“Itulah engkau ini, buat sensasi tak jelas di waktu hujan deras. Kesambet apa kau pulang dari kampus tadi?”

“Ah, tak ada lah. Hanya ingin suasana beda saja!”

Bagus paling hapal dengan Opik, tentang kebiasaannya yang tak bisa mudah untuk dikalahkan bantahannya. Dan akhirnya, Bagus memilih pergi dari kamar Opik sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Opik mengambil sarungnya, memilih tidur bergaya udang melingkar, dan lalu memejamkan mata dengan senyum mengembang.

“Drt… drt…” nada getar di ponsel Opik yang dinonaktifkan suaranya membuat mata Opik kembali terjaga. Telepon dari Indah, dan ia memutuskan untuk menerimanya.

“Pik, maaf ya tadi aku nggak langsung jawab. Kamu marah ya? Uhm, tadi kok sampai aku lihat kamu hujan-hujanan begitu.”

“Hehehe…” Opik terkekeh. Itulah yang ia suka dari Indah, selalu memberinya perhatian di saat yang tepat.

“Pik, beneran deh aku minta maaf. Sulit lah Pik buat jawab. Engkau itu sudah aku anggap sebagai teman yang dekat sekali. Sampai tak bisa lah dibilang ada rasa spesial.”

“Hm…” Opik cuma mengeluarkan suara deheman panjang.

“Eh, hei, kamu sakit ya? Dari tadi kok tak seberapa ada suara begitu?”

“Ah, biasalah ini Ndah! Akibat lama nggak main hujan-hujanan!”

“Uhm… nggak gara-gara aku nggak jawab?”

“Hahaha… tak sampai gitu lah Ndah! Cuma ingin suasana unik dan beda saja hari ini. Bisa menyatakan rasa suka ke kamu, main hujan-hujanan setelah lama tak pernah main hujan, yah… ingin hari yang beda saja!”

“Jadi, nggak usah langsung aku jawab, uhm… nggak apa-apa kan?”

“Hahaha, emangnya aku tadi tanya apa? Aku cuma bilang suka. Nggak nanya apa-apa kan?”

Lama tak ada suara dari Indah.

“Halo… halo…”

“Lha, terus maksudnya apa sih Pik? Wah, aku yang udah kege-eran ya?”

“Ah sudahlah, kita bicarakan lagi besok kalau ketemu di kampus yah? Oke?” Opik ingin menyudahi teleponnya.

“Oke.”

Usai telepon terputus, Opik tersenyum. Tiba-tiba rasa nyeri di kepalanya hilang, dan tubuhnya merasakan hangat yang menjalar. “Hari ini aku puas!” cetusnya dan kembali meneruskan tidur gaya udangnya. Ternyata ramalan bintang yang tadi sempat dibacanya, yang selama ini selalu tak pernah ia percaya, justru jadi inspirasinya hari ini. Cobalah sesuatu yang unik!

Catatan: Cerpen ini saya buat spontan setelah membaca quotation mantan mahasiswa saya di Politeknik Batam. Jadi untuk siapapun yang merasa, hehehe… ini hanya rekaan fiksi saja lho!

Ponsel Idan


Oleh: Ika Maya Susanti

“Tampang cowok kamu memang keren sih… Kalau yang nggak tahu, mungkin barangkali dikiranya model! Tapi, aduh….” Elis mengelus keningnya berkali-kali.

Manda jadi bingung sendiri. “Kenapa Lis? Emangnya Idan kenapa? Kok kamu jadi ngelus-elus kening begitu? Emangnya Idan bisa bikin kening jadi gatel ya?” celutuk Manda sambil mengerdip-kerdipkan mata. Sebetulnya Manda tahu arah pembicaraan Elis. Namun sekali lagi, untuk kali ini Manda masih mencoba bersikap tenang.

“Ponselnya itu lho! Ih, cakep-cakep kok pakai ponsel jadul?!” ekspresi wajah Elis terlihat mengejek dengan bentuk bibirnya yang mengerucut lama sembari menyebut kata jadul.

“Eh udah, ngomong jadul ya jadul. Tapi nggak usah sampai monyong lama begitu dong,” tangan Manda mencoba menangkup bibir Elis karena gemas yang namun segera ditepis oleh Elis.

“Iih… apaan sih! Serius nih! Iya tuh Nda, bisa nggak sih kamu rubah penampilan jadul si Idan, cowokmu itu?!” protes Elis tak ada habis-habisnya.

Manda masih senyum dengan manisnya menanggapi protes dari Elis. “Aduh, kamu itu kenapa sih?! Orang Idan yang punya ponsel saja nggak ada masalah. Aku juga yang jadi pacarnya nggak kerasa keganggu tuh. Terus kenapa kamu jadi sibuk sendiri? Ah udah deh, aku mau pulang dulu. Udah ditunggu sama Idan tuh. Daagh…” Manda lalu berlalu sambil melambai ke arah Elis. Menurutnya jika ia terus-terusan ada di situ, pastinya Elis tidak akan ada habis-habisnya memprotes ponsel milik Idan.

Namun ucapan Elis mau tak mau mengganggu pikiran dan perasaan Manda. Manda memang pernah bertanya padda Idan. Namun ia tidak pernah mendapat jawaban jujur dari pacarnya tersebut. Dan saat sedang bersama Idan, Manda pun jadi penasaran untuk menanyakan masalah tentang ponsel milik pacarnya itu.

“Dan, kenapa sih kamu nggak ganti ponsel? Itu ponsel kan udah jadul banget. Aku jadi  penasaran! Udah gitu, banyak banget tuh aspirasi dari teman-teman yang disampaikan ke aku melulu,” tanya Manda suatu ketika di akhir setumpuk rasa penasaran dari dirinya dan juga setumpuk kecapekan telinganya mendengar aspirasi dari teman-temannya.

Idan malah menggenggam ponselnya sambil ditunjukkan ke arah Manda. “Kamu tahu nggak Nda, ponsel ini tuh tahan banting. Untuk ngelempar anjing yang lagi rese juga bisa. Mantap beneran tuh kalau sampai kena! Dan kayaknya, mungkin nggak akan rusak kali buat ngelempar anjing rese!” jelas Idan sambil terkekeh.

Manda lalu mencubit lengan Idan dengan gemas. “Iiih…. aku serius nih! Awalnya sih aku nggak apa-apa. Tapi karena banyak banget orang yang protes lewat kupingku, akhirnya aku jadi penasaran juga nih!”

Idan lalu menggenggam tangan Manda. Sambil tersenyum, ditatapnya wajah Manda dalam-dalam. “Kamu lagi serius ya Nda. Kalau begitu aku nawar lima rius deh. Hehe… Sekarang aku ganti tanya, kamu malu ya Nda kalau punya cowok pakai ponsel jadul?” Nada suara Idan jadi ikut-ikutan benar-benar serius, membuat Manda jadi kikuk ditanya seperti itu.

“Nda, ponsel ini sangat dalam arti sejarahnya buat aku. Waktu itu ayahku hanya mampu membelikan ponsel ini ketika aku merengek-rengek ingin punya ponsel seperti teman-temanku. Pas aku jalan sama ayah habis pulang dari beli ponsel, ayahku diserempet orang sampai jatuh dan…” Idan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kemudian ia hanya bisa menunduk.

Manda memeluk Idan erat. “Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang itu, Dan?” ujar Manda yang jadi merasa bersalah.

Idan melepas pelukan Manda. “Itu kenangan yang membuat aku selalu cengeng saat mengingatnya, Nda. Apalagi kalau harus cerita. Jadinya bikin aku harus menangis seperti ini. Hehe, jangan ketawa ya kalau lihat aku nangis. Ah, padahal aku ini kan cowok!” sambil malu-malu, Idan menyeka air matanya.

“Aku nggak akan ketawa kok, Dan. Tapi cuma tersenyum. Lihat nih!” Manda tersenyum semanis-manisnya untuk Idan. “Kamu tahu kan Dan, aku selalu menerima kekurangan kamu?”

“Makasih Nda. Oh iya, satu lagi. Keteguhan hatiku menjaga ponsel jadul ini juga bukti kalau aku ini tipe setia lho! Setia sama pemberian ayah, setia sama ponsel ini, dan juga mencoba setia sama kamu. Pokoknya aku ini cowok yang setia kok!” celoteh Idan yang membuat Manda tak tahan untuk memeluk Idan lagi.

“Aku juga nggak akan mudah melepas cowok seperti kamu kok, Dan! Seperti kamu yang nggak mudah melepas ponsel milikmu itu!” tekad Manda dalam hati.

Riri atau Yiyi


Oleh: Ika Maya Susanti

“Perkenalkan, nama saya Yina Matha. Panggil saja Yiyi. Maaf, ejaannya dengan huruf…,” aku lalu membentuk huruf R dengan kedua tanganku.

Mataku menyapu ke arah teman-teman di kelas tingkat awal di SMA yang merupakan kelas baruku tersebut. Tampaknya, mereka mulai kebingungan dengan caraku memperkenalkan diri. Aku tersenyum lebar, bergegas mengambil spidol, dan menuliskan kata RIRI dan RINA MARTHA besar-besar di bidang white board.

“Ooo…” koor serempak dari seisi kelas mulai terdengar. Sedikit kasak kusuk pun sempat mampir di telingaku ketika aku kembali ke bangku tempatku duduk.

“Eh, dia cadel ya?”

“Iya, cantik sih anaknya. Tapi kok cadel ya? Hihihi…”

“Psst… keras banget sih ngomongnya! Kasihan, nanti dia dengar lho!” timpal yang lain.

Aku cuma tersenyum ringan. Buatku, apa yang baru saja aku alami di kelas baruku dalam sesi perkenalan siswa baru itu kini sudah bisa membuatku bereaksi biasa. Juga sudah sama biasanya ketika ada teman-teman yang mengolok-olok dengan terang-terangan. Sudah kebal deh sepertinya rasa kuping dan hatiku ini. Misalnya seperti ini nih dulu yang aku alami sewaktu SMP…

“Tayi, denga-denga kamu lagi pacayan sama Yadit ya?”

“Iih… kok ngomong jorok sih? Nama bagus-bagus Tari kok jadi dipanggil begitu?”

“Iya nih, udah gede kok masih cadel!”

“Coba diulang! Bilangnya begini nih, Tarri, dengarr-dengarr kamu lagi pacarran sama Rradit ya? Gitu dong bilangnya…” timpal temanku yang lain tak mau kalah mengolok-olok dengan menekankan setiap huruf R yang diucapkannya.

Kalau urusan diejek seperti itu, seperti ketika aku duduk di bangku SD atau SMP dulu, bisa dibilang aku sudah cukup kebal. Tapi ada masanya juga lho dulu kadang aku bisa nangis sejadi-jadinya kalau harus mendengar ejekan nggak mengenakkan dari teman-temanku yang kebanyakan lebih suka menertawakan kekuranganku daripada menerima kondisiku.

Pernah suatu ketika pas SMP, guruku sedang mengadakan audisi untuk mencari siapa di antara kami yang duduk di kelas dua waktu itu, yang bisa mewakili sekolah untuk mengikuti lomba puisi di tingkat daerah.

Pas guru bahasa Indonesiaku masuk ke dalam kelas, teman-teman sudah langsung mendahului dengan mengatakan seperti ini, “Wah, audisi ini kayaknya punya perkecualian nih! Rrirri… karrena kamu kan pastinya nggak bisa memenangkan audisi, lebih baik sekarrang, kamu menyaksikan kami saja deh yang akan ikut audisi. Gimana?” ujar seorang temanku dengan nada bercanda namun cukup menusuk hatiku.

Senyum tipis aku tunjukkan di antara tumpahan air yang berdesakan ingin keluar dari mataku. Ah, itulah setidaknya sedikit dari sekian pengalaman yang masih aku simpan kesan rasa sakitnya.

Dulu, jika ingat masa-masa sewaktu aku kecil, ketika umurku sudah menginjak empat tahun, aku atau orangtuaku masih bisa santai-santai saja ketika aku belum bisa melafalkan huruf R dengan jelas.

Tapi waktu aku sudah berumur tujuh tahun, saat orangtuaku mulai memasukkan aku ke SD, kepanikan kami pun mulai terjadi. Yang aku sempat rasakan, orangtuaku waktu itu agak malu dengan kekurangan putri satu-satunya itu.

Tapi seiring waktu, yang aku lupa tepatnya kapan, sepertinya mereka jadi sering mengikutsertakan aku ke berbagai kegiatan ini itu. Les menari, les melukis, les biola, sampai berbagai macam les lainnya yang aku sendiri sampai lupa. Habisnya, banyak banget lesnya!

Tentu saja dari sekian banyak les tersebut, orangtuaku tidak akan mengarahkan aku untuk ikut les yang mengandalkan kemampuan bicaraku. Les paduan suara atau les teater misalnya. Ya begitulah, karena aku cadel!

Meskipun akhirnya ada beberapa les yang aku tekuni, hingga membuat aku bisa menguasai beberapa keahlian, tetap saja aku sering minder.

Misalnya nih kalau sekolahku mengikutsertakan aku ke berbagai lomba atau acara, meski awalnya Pe-De, tetap saja kalau akhirnya ada urusan cuap-cuap, aku langsung ketakutan setengah mati. Rasanya takut sekali kalau sampai ada orang yang tahu aku cadel terus mengolok-olokku habis-habisan.

Ada lagi nih cerita yang menyedihkan yaitu ketika aku duduk di bangku SMP. Ceritanya, ada tetanggaku yang punya anak cewek sebayaku dan entah kenapa, ia selalu suka mengolok-olokku habis-habisan. Kebetulan, Nana, nama anak cewek itu, selalu bisa satu sekolah denganku. Dan dari dialah, orang-orang di seantero sekolah akhirnya selalu tahu kalau aku ini cadel. Kayaknya dia nggak puas banget deh kalau cuma orang sekelas saja atau beberapa orang saja yang tahu kalau aku ini cadel.

Usut punya usut, ternyata dia iri dengan beberapa kelebihan yang aku miliki. Anaknya sih sebetulnya cantik. Meski aku juga cantik, itu kata teman-teman lho! Tapi aku akui, tetanggaku ini memang sedikit lebih cantik dari aku.

Yah, apa mungkin nggak semua orang yang diberi kelebihan selalu mensyukurinya ya? Jadi ternyata menurut beberapa temanku, Nana itu selalu tidak terima ketika sekolah kami sering memilih aku untuk maju mewakili lomba atau acara ini itu di luar sekolah.

Oke deh, untuk urusan sering memberitahu ke seantero sekolah kalau aku itu cadel masih bisa aku terima. Hiks, meskipun rasanya kok tega banget sih! Tapi, pernah suatu ketika ia membeli seekor anjing yang kemudian diberi nama… Yiyi!

Ih, rasanya sengaja menghina banget kan nih orang?! Masa, ketika jalan-jalan di taman komplek, dia memanggil keras-keras nama anjingnya itu. “Yiyi… yiyi…”

Aku yang awalnya belum tahu kalau nama anjingnya itu Yiyi, kontan waktu itu menjawab dengan “Hai, ada apa…” Yah, aku pikir si tetangga ini memang sengaja memanggilku karena yang aku tahu, ia memang sering sengaja memanggilku yang kadang dengan maksud setengah mengejek, memanggilku dengan nama cadelku.

Tapi ketika aku sudah menyahut, eh… dengan enaknya ia langsung menjawab, “Oh sori ya, aku sedang memanggil anjingku. Uhm, namamu bukannya Rrirri? Bukan Yiyi, kan? Kenapa menyahut?” jawabnya tanpa berdosa. Apalagi ketika dilihatnya orang-orang di sekitar kami yang menyadari kelucuan dari kejadian itu pun jadi ikut-ikutan menertawakan diriku.

Akhirnya sepulang dari taman, aku yang sudah tidak kuat menahan sekian lama berbagai penderitaan dan penghinaan yang aku alami, ehem, sedikit didramatisir, kemudian mengadu dan protes kepada mama.

“Mama, kenapa sih Yiyi dulu waktu kecil nggak dipaksa suka makan pedas. Sekayang kayak begini nih jadinya. Hu hu hu…” aduku sambil menangis tersedu-sedu.

“Sayang, mama sudah pernah mencoba memeriksakan Riri ke dokter dulu sewaktu kecil. Kata dokter, ada kelainan ukuran lidah Riri yang membuat Riri jadinya cadel sampai sekarang. Jadi, itu bukan karena Riri nggak suka makan pedas kok.”

Aku masih cemberut tidak terima. “Oke deh, tapi teyus kenapa sih Yiyi kok dulu dikasih nama Yiyi. Ini benar-benar menyulitkan Yiyi sendiyi jadinya. Masa manggil nama sendiyi saja susah?!”

Mama sejenak menghela nafas. “Aduh maaf ya Ri, padahal mama dan papa dulu memberikan namamu itu karena ada artinya lho, nggak sembarangan. Jadi mana tahu kalau ternyata jadinya seperti ini sekarang,” mama jadi salah tingkah menghadapiku.

Seketika aku langsung menghentikan tangisku. Jujur, seumur-umur hingga aku duduk di bangku SMP waktu itu, aku belum tahu arti namaku sendiri itu apa.

Mama pun dengan lemah lembut mencoba menjelaskan apa yang dulu pernah menjadi harapannya dengan papa atas diriku, sekarang dan nanti. “Rina itu kalau dalam bahasa Jawa artinya hari, dan Martha itu artinya yang berkuasa. Karena papa dan mama dulu susah punya anak, sekalinya ada kamu, ya kami merasa seperti ada kekuasaan Tuhan yang tiba-tiba memberikan kamu kepada kami. Nah, apa iya sekarang kami atau kamu harus menyesali nama yang begitu punya arti itu?”

Aku jadi tertegun mendengarkannya. Jadi namaku bukan sembarangan ya artinya? Ah, aku jadi menyesal waktu itu jika mengingat sikap dan pikiranku selama ini.

“Sekarang ganti mama yang tanya, kenapa hayo kamu selalu minder dan malu sama kekurangan kamu? Padahal, banyak lho kelebihan yang kamu punya. Demi mama, demi papa, dan juga demi kamu sendiri, mau nggak mulai sekarang kamu percaya diri? Dianggap lewat saja deh kalau ada orang yang mengolok-olok kamu…”

Aku kembali cuma bisa terdiam. Ah, ternyata ketika aku belum menunjukkan kekuranganku yang cadel itu, Mama dan Papa sudah menumpukan sebuah harapan besar untukku. Lalu, mengapa aku malah mengecewakan mereka dengan keterpurukanku pada kekuranganku itu saja?

Lalu seperti sebuah tumbukan yang mengandung pegas, walah, kok jadi ngomongin fisika ya, aku kemudian melesat meninggalkan seorang Riri yang dulunya memang malu karena cadel, menjadi seorang Riri yang tidak takut lagi untuk malu karena cadel!

Lantas aku berpikir, ah, memang benar kok, sebetulnya banyak kan bidang lain yang tidak memerlukan kelihaian untuk berbicara? Toh, model iklan di video klipnya Letto di lagu Sebelum Cahaya itu juga malah bisu dan tuli kok. Tapi dia bisa jadi model.

Sejak itu mulailah aku mencari bidang-bidang yang bisa aku geluti, yang aku sukai, yang bisa aku jadikan sebagai ajang untuk mengejar prestasi, dan bisa menjadi kebanggaanku tentunya!

Nggak bisa nyanyi karena cadel? Ya kenapa nggak aku main musik saja dengan belajar piano atau biola? Nggak bisa main teater? Ya kenapa nggak aku membuat cerita atau menjadi script writernya saja? Dan berkat dorongan Mama yang sejak aku kecil mengikutsertakan aku ke les ini itu, kini sewaktu aku SMA, aku jadi punya banyak kelebihan yang yah… tentunya lumayan membuatku serta kedua orangtuaku menjadi bangga!

Terus apa hidup kemudian akan menjadi indah tentram sentosa selamanya untukku? Ah, ternyata belum juga! Buktinya tetanggaku yang bernama Nana itu, masih saja dan rasanya, makin giat untuk membuatku tidak hidup dengan tenang.

Ketika aku mampu menguasai sebuah keahlian, ia pasti akan ikut-ikutan menekuninya juga. Saat aku mengikuti lomba ini itu, ia juga kemudian akan membuntuti apa yang aku lakukan.

Kesal? Ada juga sih rasa seperti itu, jelas! Tapi di balik itu, entah kenapa ada rasa bangga yang terselip di antara rasa tidak mengenakkan yang ada. Ada rasa bangga yang membuat aku jadi tidak lagi pusing memikirkan apa yang harus aku lakukan agar ia bisa kalah dariku atau menyingkir untuk tidak lagi membuntutiku.

Dan lihat saja, ternyata Nana justru sering kelelahan untuk mencoba mengikuti keberagaman aktivitasku. Atau ketika kami ada dalam satu kompetisi, Nana sering kebingungan untuk menemukan cara agar bisa mengalahkanku.

Hingga suatu ketika, aku begitu kasihan melihat Nana yang tampak keletihan. “Na, bisa nggak sih kita bedamai saja? Jadi teman?”

Waktu itu, aku melihatnya terduduk lesu di sebuah taman setelah kami usai sama-sama mengikuti kompetisi lomba memasak yang kami ikuti di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Tentunya lagi-lagi, kali ini ia tidak bisa menang dariku meski aku pun cuma berhasil mencapai juara kedua di lomba itu.

Dengan sorot mata seperti biasa yang tidak bersahabat, Nana menatapku tajam. “Apa? Kalau aku berdamai dengan kamu, yang ada aku akan selalu jadi orang nomor dua yang dilihat oleh orang lain!”

Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Na, apa yang aku bilang ini bukannya bohongan lho. Kamu lebih cantik dayi pada aku. Meski aku juga cantik sih…” kataku sambil tersenyum.

“Kamu bisa nyanyi dengan suaya yang medu. Aku nggak bisa Na.”

Nana yang awalnya membuang muka, kini lalu mencoba menatapku.

“Kamu bisa akting bagus. Aku nggak bisa Na.”

Nana terdiam seakan mencoba merenungi ucapanku. Dan aku tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Nana waktu itu. “Na, semua oyang punya kelebihan masing-masing kok. Jika kita jadi sahabat, kamu nggak akan dianggap sebagai oyang nomo dua.”

Aku lalu duduk di samping Nana mencoba menggenggam tangannya. “Na, masing-masing dayi kita akan jadi oyang nomo satu kok. Pada bidang yang bebeda tentunya. Kamu bisa jadi bintang di bidang nyanyi dan akting, aku bisa jadi bintang di bidang musik dan membuat ceyita teate.”

Nana mengeratkan genggaman tangannya. “Sori Ri, aku memang pecundang selama ini. Aku selalu iri dengan dirimu.”

Seperti akhir dari cerita-cerita yang selama ini ada, kami pun mengakhiri pertikaian kami dengan berpelukan tanda perdamaian. Ah… Teletubies sekali rasanya… Tapi yang jelas, sejak itu Nana tidak lagi memanggilku dengan kata Yiyi! Kan namaku Riri… Hehe… ini karena aku menuliskan cerita ini saja nih jadinya aku bisa menyebutkan namaku dengan benar…

Permusuhan Ninuk dengan Nyamuk


Oleh: Ika Maya Susanti

“Sejak gigitan pertama yang meninggalkan rasa sakit, gatal berkepanjangan, dan bekas yang terpaksa menjadi tato sementara pada kulitku, aku, Ninuk Kusuma Wardhani atau yang biasa dipanggil Ninuk, berikrar untuk tidak akan pernah mengenal kata damai pada KAU, NYAMUK!!!” Mata Ninuk melotot geram sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan berukuran tiga kali empat meter.

Usai berikrar, Ninuk kemudian mengikatkan kepalanya dengan seutas kain panjang yang membuat poni yang biasa digunakan untuk menutup jidat yang menurutnya seperti lapangan sepak bola itu tersingkap untuk sementara waktu. Aku lantas melihatnya mengambil sebuah raket listrik yang kemudian ia pegang erat-erat di tangan kanannya.

“Maafkan aku laptop dan segenap tugas kuliahku. Kalian harus kutinggalkan untuk sementara waktu demi aksi pengenyahan para GPK, Gerakan Pengacau Kekhusyukan ini! Karena jika tidak, hidupku tidak akan tenteram, damai, sejahtera, dan sentosa malam ini!”

Berjurus kilat petir menebas pohon kelapa, Ninuk pun lantas mengibaskan raketnya ke segala penjuru ruangan kamar kami berdua. Matanya nyalang bagai radar yang mampu mengetahui di mana saja arah nyamuk yang sedang terbang dengan gaya melambai santai hingga yang terbang bergaya meroket bak siluman nyamuk.

Herannya, mata Ninuk seakan selalu tahu di mana saja nyamuk yang sedang berterbangan hilir mudik. Sesekali, suara “Krip krip!” terdengar dari raket yang digenggam Ninuk berikut percikan kecil sebagai tanda adanya nyamuk yang berhasil tersetrum karena kurang gesit terbang menghindar.

Namun lebih naasnya lagi adalah jika terdengar bunyi letusan yang lebih mirip suara petasan kecil namun lumayan mengejutkan. “Tarrr!!!” demikian bunyinya dengan percikan kilatan yang menyerupai bunga api orang yang sedang mengelas besi. Kalau ada yang seperti itu, berarti tandanya Ninuk berhasil mendapatkan nyamuk besar dan gendut yang sarat akan cairan merah kehitam-hitaman. Cairan apalagi kalau bukan setetes kecil darah yang berhasil dicuri si nyamuk dari tubuh manusia.

Jika suara “Krip-krip!” yang terdengar, senyuman Ninuk akan menyudut kecil, berbeda lagi jika yang berbunyi adalah “Tarrr!” Tak hanya senyum kemenangan, bahkan tawa lebar berikut umpatan kebun binatang sampai gaya preman di jalanan bisa keluar dari bibir Ninuk yang terkenal berwatak halus budi pekertinya itu. Ya, Ninuk yang lemah lembut dan seakan tidak pernah mampu membunuh semut itu akan berubah menjadi pemburu berdarah dingin jika melihat sesosok nyamuk saja yang terbang melintasinya atau tertangkap radar telinganya.

“Sudah dapat berapa Nuk?” aku melirik ke arah Ninuk yang asyik dengan sebatang lidi melepaskan mayat-mayat nyamuk yang bersalah karena menggoda Ninuk hingga terpanggang dalam setruman raket listrik.

“Lumayan, 12 ekor! Tapi sepertinya ini masih ada yang ngiung-ngiung nih suaranya! Ngeganggu banget di kuping!” sesekali mata Ninuk beredar ke penjuru kamar mencari nyamuk yang sedang berseriosa di kupingnya.

“Terus Nuk, kamu kapan mau belajar kalau kayak begini terus? Besok kan kita sama-sama punya tugas statistik yang harus dikumpulkan. Belum lagi tugas Pengantas Ilmu Ekonomi,” aku menyela di tengah kekhusyukan Ninuk yang belum ingin menghentikan aksi gencatan raketnya dengan para nyamuk di kamar kami.

“Nggak bisa Tan! Ini adalah tugas wajib yang justru harus dikerjakan lebih dulu malam ini!” Ninuk mengabaikan peringatanku dan kembali mengibaskan raketnya ke sana ke mari.

Yah, itulah sekilas gambaranku saat ini dengan apa yang sedang terjadi di alam realitaku sekarang. Sejak sekamar kos dengan Ninuk yang paling alergi dengan nyamuk, hidupku kini jadi penuh warna warni dinamika hubungan perseteruan antara manusia dengan nyamuk. Fatalnya, kami tinggal di Surabaya yang sejak kejadian lumpur Lapindo, terasa makin panas dan nyamuk yang ada pun serasa makin urakan dan ganas.

Memang, Ninuk sahabatku itu sangat berbeda sekali dengan aku, atau mungkin kebanyakan manusia. Aku bisa bilang kebanyakan manusia karena pada umumnya manusia memang wajar menerima keberadaan nyamuk meski mereka tidak bersahabat. Sudah mengambil setetes darah, nyamuk juga hobi meninggalkan rasa gatal bercampur sakit pada kulit manusia.

Namun jika umumnya manusia hanya sekejap saja merasakan gatal dan sakit akibat gigitan nyamuk, berbeda dengan apa yang dialami oleh Ninuk atau mungkin sedikit orang yang ada di muka bumi ini. Rasa gatal dan perih bisa Ninuk rasakan berhari-hari. Belum lagi bekas gigitannya yang mulai dari berwujud bentolan merah besar jika nyamuk habis menggigit kulitnya hingga berangsur menjadi bintik merah. Konon kata Ninuk, gatalnya terasa minta ampun menggoda jarinya hingga ia harus giat menggaruk bekas gigitan itu. Bintik merah yang awalnya hampir tidak kelihatan itupun kemudian akan berubah menjadi luka akibat garukan kuku-kuku Ninuk. Dan jika sudah seperti itu, bekas hitam pun akan menyisa di kulit Ninuk. Berakhir tragis memang! Ninuk yang seharusnya bangga memiliki kulit halus mulus seperti kebanyakan cewek seusianya, harus memiliki kulit yang justru berbelang-belang hitam.

Pernah suatu ketika Ninuk berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan pulang dengan kekecewaan putus asa berkepanjangan. Setelah berkonsultasi dengan dokter tersebut, Ninuk justru disarankan untuk membeli sebuah lotion yang harganya lumayan wah. Meskipun konon katanya, lotion itu mampu menghilangkan bekas gigitan nyamuk yang berwarna bintik-bintik merah atau bekas garukan yang berwarna belang-belang hitam dalam hitungan hari. Tujuan Ninuk datang ke dokter spesialis kulit berharap bisa menjadi manusia normal yang tidak paranoid terhadap nyamuk untuk selamanya, harus kandas begitu saja!

Kebalikan dari Ninuk, aku justru memiliki kulit yang sangat kusyukuri kekebalannya terhadap nyamuk. Tidak bermasalah seperti kulit milik Ninuk. Bisa dibilang kulit badaklah! Jika nyamuk menggigit kulitku, aku cuma sedikit merasakan gatal dan selesailah sudah. Tidak ada rasa gatal campur pedih berkepanjangan atau bekas yang tertinggal lama di kulitku. Bahkan jika nyamuk menggigit kulitku, aku sering tidak merasakannya.

Aneh memang jika aku sedang bersama Ninuk atau jika kami sedang bersama beberapa orang lainnya. Ninuk justru kerap menjadi target idola utama gigitan nyamuk sedangkan tidak bagi aku dan mungkin orang lain yang sedang berada di sekitar kami. Jika sedang menyaksikan tivi misalnya di ruang tengah kos-an kami, Ninuk sering mendahului acara garuk menggaruk akibat digigit nyamuk. Sering pula aku ataupun yang lainnya jadi keheranan karena sementara tidak ada satupun nyamuk yang menggigit kami, Ninuk justru sudah sibuk sendirian mengusir nyamuk hingga acara heboh menggaruk-garuk karena merasa kegatalan akibat digigit nyamuk.

Nah, jika para cewek selalu dekat dengan yang namanya krim tabir surya, Ninuk justru tidak bisa lepas dengan yang namanya lotion anti nyamuk. Ke manapun dan di manapun, parfum yang tercium dari tubuh Ninuk cuma satu, parfum khas lotion anti nyamuk.

Naasnya, Ninuk sekamar dengan aku yang alergi dengan segala bau-bauan yang keluar dari obat anti nyamuk. Mulai dari semprotan spray, obat nyamuk bakar, obat nyamuk elektrik, sampai terkadang lotion anti nyamuk. Entah kenapa, sejak kecil, aku begitu anti dengan bau-bauan itu. Meskipun versinya obat anti nyamuk itu makin hari makin harum bak bau bunga aslinya, tetap saja, aku tidak tahan dan bahkan bisa muntah jika menciumnya. Beruntung aku tidak mengalami alergi dengan nyamuk seperti Ninuk sehingga tidak harus bersentuhan dengan barang-barang anti nyamuk seperti itu.

Sebagai wujud solidaritasnya, Ninuk akhirnya cuma memiliki sebuah modal untuk mengusir nyamuk jika kami berdua sedang berada di kamar. Apalagi kalau bukan raket elektrik andalannya yang sekali tebas, bisa mengenai nyamuk yang hobi terbang melayang-layang mencari mangsa. Raket ini memang cukup aman menurut kami berdua. Paling-paling, kami terkadang hanya sedikit terkejut jika nyamuk besar yang sempat kena, mengeluarkan bunyi letusan kecil dan bau gosong yang menguar akibat adanya nyamuk yang tersangkut raket dan terbakar gara-gara terkena sengatan listrik.

“Heah… heah… heah… Hei, heah… heah… ngapain sih dari tadi senyam senyum melulu sambil ngelihatin aku? Heah… heah… Bahagia ya melihat aku harus berjibaku membunuh nyamuk ke sana ke mari?” sembur Ninuk sambil sesekali ngos-ngosan karena kelelahan mengejar nyamuk ke segala penjuru sudut kamar. Rupanya ia merasa jika aku yang dari tadi asyik dengan laptopku sendiri, kurang memiliki rasa solidaritas terhadapnya.

“Ya habis mau bagaimana lagi? Raket listrik cuma satu. Aku nggak bisa bantu kami berburu nyamuk dong! Akhirnya ya… aku bantu doa saja dari dalam hatiku ini sambil duduk manis di sini ngeblog,” jawanku enteng.

Ninuk lalu menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Nafasnya masih memburu, dan keringat pun bercucuran dari tubuhnya. “Aduh… sudah habis belum ya tu nyamuk?” gerutu Ninuk.

Baru sebentar saja suara keluhan Ninuk keluar, seekor nyamuk lewat di dekat kami dengan suara ejekan khasnya. Ninuk pun langsung bangkit dan memburu nyamuk yang mungkin berkata, “Hei hei… aku masih ada di sini lho! Ayo, tangkaplah aku, kau kugoda…”

Sesaat aku menghentikan aktivitas ngeblogku, sekilas mengamati keberadaan Ninuk, dan kembali meneruskan mengetik. Yah, sampai tulisan ini diketikkan, ternyata masih belum ada tanda-tanda kapan pertikaian antara Ninuk dengan para nyamuk akan berakhir!

“Oh nyamuk… kasihanilah Ninuk malam ini dan hari-hari berikutnya… Biarkanlah ia bisa merasakan hidup tenang seperti laiknya manusia pada umumnya…” doaku tulus terucap di bibir dari relung hati paling dalam sebagai sahabat Ninuk yang paling mengerti penderitaannya.

“Nuk,” panggilku dan Ninuk pun kemudian menoleh ke arahku, tampak tersenyum penuh rasa haru. “Lanjutkan perjuanganmu!” pesanku sambil mengepalkan tangan kanan memberi semangat kepada Ninuk dan kembali menekuni laptopku. Suara Ninuk lantas kudengar menjerit keki!