Doa Berulang pada Sebuah Facebook

Kebiasaan saya beberapa hari terakhir ini adalah membuka Facebook di mulai pada pagi hari. Senang saja rasanya karena biasanya, saya akan mendapati berbagai status bernada positif dan semangat optimis dari berbagai teman-teman saya.

Namun di subuh kali itu, saya mendapati sebuah status yang berbeda. Seorang anak yang awalnya meminta saya menjadi teman dari Facebooknya karena usai membaca blog milik saya, menuliskan tentang kondisi tak baik dari papanya.

Intinya ia berdoa dalam kesedihannya. Karena sejak dini hari, sang papa yang sedang dirawat di rumah sakit, tidak kunjung sadarkan diri. Bahkan meski telah diinfus. Beberapa kali saya membuka facebook, dan anak yang memang tipe Facebooker setia ini selalu memperbaharui statusnya dengan nada yang sama. Ia berharap papanya sadar, dan segera sadar!

Walhasil sepanjang hari itu, saya yang juga sering mengintip Facebook, jadi kerap selalu mengikuti perkembangan kondisi sang papa dari gadis tersebut. Meski sekian kali itu juga, saya juga ikut kecewa karena sang papa tak kunjung sadar seperti harapan dari anak gadisnya.

Malam harinya, nada dari status Facebook itu akhirnya berubah. Sang papa tiada, justru saat sang gadis tak berada di sisinya. Hati saya ikut terhenyak. Meski realitanya sungguh saya tidak mengenal sama sekali gadis itu apalagi keluarganya, namun setiap kali ia menceritakan kondisi papanya, dalam hati kecil ini saya terus ikut berdoa demi kesembuhan sang papa.

Esok harinya, sang gadis masih tetap memperbaharui status-statusnya. Saya cukup heran, karena sering, ia menuliskan status yang bernada akan optimis untuk tetap meraih berbagai mimpinya demi membahagiakan sang papa. Meski sesekali, status sendu juga ia tuliskan yang menyesali mengapa sang papa harus pergi meninggalkannya.

Di situ saya sungguh salut. Bahwa ternyata dari seorang gadis yang baru saja ditinggal meninggal oleh papanya, ia bisa tetap bangkit dengan semangat hidup optimis untuk masa depannya. Meski sedih, ia masih mau berbagi hal positif dan membaginya di Facebook dalam sebuah kotak kecil tempat untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang sedang Anda pikirkan?”

Makna Status Facebook Bagi Orang lain

Ya, Facebook memang sebentuk barang maya yang ternyata mampu menyatukan hati pikiran dan doa saya untuk seseorang yang tak saya kenal. Namun meski ia hanyalah gadis yang hampir seperti kebanyakan yang hidup dengan kekhasan gaya remajanya, saya justru lebih menyukai status-statusnya, terutama saat itu, dibanding beberapa status milik teman saya yang notebene sudah dewasa.

Kerap saya temui, teman-teman saya dengan entengnya mengetikkan kata ingin buang air kecil, makan ini itu, menghujat si A B atau C yang mungkin tak dikenal oleh teman Facebooknya, atau bahkan maaf, ingin berhubungan intim dengan istrinya. Dengan mudah itu terpampang melalui status sebuah Facebook.

Memang tidak ada yang salah ketika kita menjawab pertanyaan dari Facebook, “Apa yang sedang Anda pikirkan?” dengan jawaban yang jujur. Namun apa iya tak terpikirkan bahwa apa yang ditulis itu akan dibaca oleh banyak orang yang kemungkinan ada atau banyak dari teman-teman kita di Facebook adalah orang-orang yang tak kita kenal?

Terkadang saya berpikir, apa untungnya sih mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain yang bahkan tak kita kenal? Atau meskipun kita kenal, apa untungnya bagi kita untuk tahu? Toh, artis saja jika ingin ini itu, juga tidak semudah itu juga kok akan berbagi tahu ke orang lain.

Ketika saya mempertanyakan itu, ada juga dari sahabat-sahabat saya yang justru bertanya balik. Apa iya jujur itu salah? Lantas apa bedanya status yang terlalu jujur itu dengan doa-doa panjang yang ditulis di Facebook? Apa Facebook bisa jadi media yang lebih makbul untuk terkabulnya doa seseorang?

Untuk yang terakhir itu saya akui, sang kawan ingin mempertanyakan diri saya yang memang terkadang memiliki kebiasaan menuliskan doa panjang dalam Facebook. Saya pikir, sang kawan tentunya ingin mempertanyakan, apakah pernyataan saya yang menganggap ini pantas dan itu tidak dalam status Facebook lebih disebut baik, jika dibandingkan dengan orang lain yang terlalu jujur menulis apa yang ia pikirkan dalam status Facebooknya?

Kembali saya membatin. Ah, tak tahukan kalian, bahwa sebentuk status itu bisa berarti penting bagi hidup orang lain? Ketika kalian mengemukakan tentang pikiran dan semangat hidup pribadi, ternyata ada juga lho orang lain yang bisa ikut termotivasi. Ketika seseorang mengemukakan keluhan dan doa, ada lho orang lain yang juga akan siap untuk membantu ikut berdoa dan mengamini.

Tidak ingin munafik, dulu, saya juga seorang Facebooker yang seenaknya kala menulis status dalam Facebook. Dan mungkin sampai sekarang masih terkadang menuliskan sesuatu dengan harapan ingin orang-orang tertentu membaca keistimewaan dari apa yang sedang saya alami. Namun ketika saya sadar kekuatan dari sebuah status atas pikiran dari hati saya serta pengaruhnya bagi orang lain, saya mencoba untuk berubah,

Saya memang sering menuliskan status berbentuk doa. Untuk saya sendiri, atau bahkan nasib orang lain yang saya bahkan tak tahu siapa yang kebetulan membaca dan sungguhan mengalaminya. Saya pikir, semoga dengan doa-doa itu saya bisa berbagi kekuatan hidup dengan yang lain.

Karena dalam sebuah penelitian yang saya ketahui dari sebuah pengajian, sebuah komunitas yang bernasib kurang beruntung, lantas dibagi dua, maka kelompok yang sering didoakan oleh orang banyak akan cepat berubah nasibnya jika dibandingkan oleh kelompok yang hanya mengandalkan doa dari dirinya sendiri.

Berdoa bisa di mana saja. Meski Tuhan memang menentukan ada tempat-tempat tertentu yang bisa membuat sebuah doa lebih terkabul. Namun jangan juga abaikan pengaminan dan bantuan orang banyak yang turut memberikan mantra ajaibnya untuk sesuatu yang kita panjatkan kepada Tuhan dan alam semesta.

Saya punya beberapa teman yang terlalu jujur dengan nasibnya untuk ditulis di Facebook. Hari ini bingung dikeluarkan dari kerja dan tak tahu harus mencari sambungan hidup ke mana, dipaksa pergi dari kontrakan hingga tak tahu harus kemana ia pergi bersama istri dan anaknya, cerita tentang seseorang yang dini hari telah harus berjuang mencari nafkah, atau keluhan hati kala melihat seorang pengemis yang menghitung recehan sembari berteduh dari hujan.

Status-status itu terlalu jujur namun tak pernah saya ingin menyalahkan mereka. Karena dari situ saya jadi tergerak untuk berpikir tentang nasib orang lain, mencoba melihat nasib sendiri lalu mensyukurinya, serta ikut mendoakan dan memotivasi mereka agar tetap semangat dalam hidup.

Ya, sebentuk kotak itu memang siap menampung kejujuran dari apa yang kita pikirkan. Namun cobalah untuk selalu berpikir ingat bahwa ada orang lain yang akan turut membacanya dan membuat mereka juga turut menggerakkan otak dan hatinya.

Kita memang tidak tertuntut untuk harus bertanggung jawab atas akibat dari apa yang kita tulis di sebuah status pada pikiran dan bersitan hati orang lain. Namun jika Facebook memang dikatakan sebagai situs jejaring sosial, lantas mengapa kita menjadi individualis untuk tidak mau memikirkan bagaimana efek orang lain yang membaca status kita?

(Untuk semua para pecinta Facebook, mari sama-sama kita saling mengingatkan kesalahan dan membangkitkan semangat hidup diri sendiri dan orang lain) – Ika Maya Susanti

Bocah-bocah Penjaja Bakso

Seorang bocah pria menapaki langkah kakinya dengan memanggul pikulan dagangan bakso Malang. Khas dengan pangsitnya. Dapat tetap tersaji hangat karena tungku berarang selalu menyala di salah satu pikulannya.

Seorang yang lain melenggangkan kaki pertamanya dengan mendorong gerobak bakso. Ada mi dan segala pelengkap bakso lainnya. Ia mendorong dengan mantap.

Lagi, di tempat yang terpisah, seorang bocah tanggung memijak pedal sepeda kumbangnya sebagai langkah pertama menjajakan bakso cimol. Berat sedikit terasa. Karena dua benda bundar yang dinaikinya meringankan bulatan-bulatan bakso yang setia tertata berada di belakang tubuhnya.

Mereka berangkat dari tempat yang terpisah. Berjalan pada jalan yang berbeda. Namun kompak mengusung tema makanan yang sama mereka tawarkan, bakso! Meski berwujud beda.

Dan pada sebuah pos kamling, di sebuah perumahan, selalu, mereka bertemu untuk bersatu. Ada sebuah bola yang selalu menunggu. Ada sekelompok anak-anak perumahan yang selalu menanti untuk bertemu. Bila pertemuan itu berlangsung, mulailah kehidupan mereka yang sesungguhnya harus mereka kenyam teramu.

Mereka sejenak akan meletakkan panggulannya, mengistirahatkan roda gerobak baksonya, menyandarkan sepeda yang berisi bakso-bakso yang masih hangat. Bola-bola bakso itu lantas rela menunggu. Sementara sang pembawanya melupa sejenak untuk bermain dengan bola berkulit yang menggelinding di tanah tak rata.

Dalam lupa, mereka pun akan kembali ingat. Ketika teman-teman mereka bermain lantas lapar dan butuh pengganjal perut, maka kembalilah mereka ke kehidupan masing-masing. Menata dan menuang kuah panas dalam mangkok, menusuk-nusuk bulatan bakso dan mengucurinya dengan saos, atau kembali mengipasi arang tungku yang sejenak tak lagi membara di pikulan.

Tak sedikit mata yang menatap, sadar dan ikut mengiba, namun tak bisa berbuat banyak. Dan ketika langkah-langkah mereka sepakat untuk berpisah, mata-mata itu pun hanya bisa membuat si pemiliknya menghela nafas.

Demi melihat seorang bocah yang seharusnya masih bersekolah SMP, berwajah imut tak kalah dengan artis sinetron abg, berpakaian bersih dan rapih, namun sering terlihat kewalahan memikul kayu pikulan bakso yang tidak bisa dibilang ringan untuk tubuhnya yang kerempeng.

Demi melihat seorang anak belum menginjak remaja, mendorong gerobak yang biasa dibawa oleh usia bapak-bapak, namun dituntut mantap membuat rodanya terus berputar mengelilingi perumahan.

Demi melihat seorang anak laki-laki, mengayuh sepeda berisi bulatan-bulatan bakso. Tetap menyungging senyum kala berkeliling. Ia terus berwajah optimis dagangannya habis!

Mata-mata itu adalah milikku, milik tetangga-tetanggaku, yang hanya bisa terpaku diam dalam renung masing-masing otak beku. Selalu was-was demi melihat tubuh dan bawaan mereka yang tak seimbang terhuyung. Hingga kerap menyelip doa agar dagangan mereka laku. Dan kemudian mencoba untuk melupakan apa yang telah terlihat oleh mata kelu. Karena tak tega selalu!

Tulisan di atas saya buat di sebuah malam. Saat merenung teringat beberapa sore saya melihat seorang bocah penjaja bakso malang yang kerap lewat di depan rumah mbah saya. Ia masih bisa dibilang anak. Dan mungkin sepadan dengan sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SMP.

Anaknya berwajah bagus. Selalu berkeliling dengan pakaian rapih berkemeja kotak-kotak dan celana jins yang tak lusuh. Karena itulah saya menjulukinya dengan penampilan yang tak kalah dari artis abg di televisi.

Namun demi melihat apa yang dipanggulnya, semua orang yang melihat pasti tak tega. Mungkin diam seakan tak peduli tapi menahan iba dalam hati. Atau mungkin seperti bulek saya yang terus selalu mengujar kata kasihan demi mengingat anaknya yang seumuran dengan anak penjaja bakso tersebut.

Tubuhnya kecilnya kerap terlihat berjalan terseok. Kadang terhuyung. Dan tak jarang pikulannya pun seperti hampir nampak berantakan akan terajatuh karena kurang seimbangnya tubuh yang memanggul.

Hingga di suatu sore, kembali, lewatlah anak belia tersebut. Saat itu ada saya, dua sepupu saya, dan bulek saya. Sepupu saya bercerita, jika anak yang sebaya dengannya itu pernah ia ajak bermain bola.

Sontak, marahlah bulek saya. Ia kesal, seorang anak yang sedang sibuk berjualan kok malah diajak bermain bola. Namun sepupu saya yang lain justru berujar, jika di dekat tempat rumahnya, kejadian seperti yang saya tuliskan di atas itulah yang terjadi.

Karena mereka memang masih belia. Masih pantas memiliki waktu sore sebagai pelepas penat dengan bermain. Meski itu mereka lakukan di sela-sela perjalanan menjual bakso. Dan akan kembali berjalan usai permainan bola dengan anak-anak di perumahan mereka lakukan.

Sedih berlarut akan nasib diri sendiri itu egois. Karena seharusnya sedih itu cukup dirasa tapi tidak untuk menguasai hati. Karena sesungguhnya ada empati yang perlu mengisi ruang hati lain tentang nasib orang-orang yang kurang beruntung. Dan jika itu ada, barulah pantas kita bersedih. Karena kemudian kita akan jadi bersyukur. Atau mencoba bangkit membantu yang lain untuk bahagia. Dan dengan begitulah kita pun akan bahagia.” suatu pikiran yang terlintas dalam benakku ketika melihat realita dari cerita yang telah ku buat di atas.

Setengah Abad Lebih Berjualan Tahu Tek

“Teng teng teng teng…!!!”

Sontak, kepala saya pun mencari sumber suara yang begitu saya harapkan ingin bisa membelinya. Tahu tek! Entah kenapa, keinginan saya malam itu untuk mencicipi makanan yang khas dengan unsur petisnya itu justru membuat saya bertemu dengan Pak Nur Said.

Dari kejauhan saja, saya tahu jika pendorong gerobak tahu tek itu sudah berusia lanjut. Dan benar saja, ketika saya dekati, segala tanda-tanda usia tua nampak jelas di wajah dan tubuhnya. Suaranya yang tegas dan masih tidak seberapa meliuk-liuk laiknya orang lanjut usia, serta kemampuannya mendorong gerobak yang masih bisa dikatakan sigap, justru membuat saya entah kenapa langsung terkagum-kagum dengan bapak tua penjual tahu tek itu.

Sekitar setengah abad lebih yang lalu, atau lebih tepatnya sejak tahun 1957, Pak Nur Said menjajakan tahu tek di kota Surabaya pada awalnya. “Walah, malah waktu itu masih pakai arang buat masaknya,” tuturnya mengenang.

Pria yang masih tinggal di bilangan Demangan, Lamongan itu pun kemudian meneruskan usahanya di Lamongan sejak tahun 1992 hingga sekarang. Uniknya, meski saat ini ia telah berusia lanjut, kebiasaannya berjualan tahu tek dengan mendorong gerobak itu terus dilakukannya setiap hari hingga pukul satu dini hari. Rutenya paling tidak melalui daerah Jetis.

“Yah, saya anggap olahraga saja,” begitu sahutnya seakan menerka pikiran saya yang bertanya-tanya, kenapa sih sudah setua ini masih saja berjualan tahu tek dengan mendorong gerobak hingga dini hari!

Namun dari penampilannya, malam itu saya begitu terkesima tentang sebuah pesan hidup dari Pak Nur Said. Bahwa bahagia itu tidak mesti kaya. Punya anak delapan yang tergolong banyak pun tidak berarti susah. Namun bagaimana kita memandang hidup, menertawainya, dan menjalaninya dengan ringan, justru membuat tubuh kita akan mampu menyanggah hidup meski usia telah jauh bertambah.

Seperti Pak Nur Said, pria sepuh yang saya lihat sepanjang jalan mendorong gerobak sering tampak menyunggingkan senyum, ramah mengobrol dengan pembeli, dan menyapa orang-orang yang dikenalnya di sepanjang jalan.

Amalan Agar Lolos hingga Reuni Setiap PNS

Setiap musim PNS, kebanyakan masyarakat Indonesia berada dalam euforia pengharapan untuk bisa bergabung menjadi abdi negara. Hehehe… sayangnya pengecualian itu ada pada saya! Karena tak pernah berminat namun orangtua berkehendak PNS adalah masa depan cerah, maka tahun ini terpaksalah saya ikuti kehendak mereka. Yah, tak ada ruginyalah jika hanya menuruti tes saja.

Nah, ketika minggu lalu saya dinyatakan lolos seleksi administrasi dan dapat berkesempatan mengikuti tes, berbagai cerita unikpun sempat saya alami. Mau tahu apa saja itu?

* Dua Amalan Agar Lolos Tes

Saat saya bercerita pada seseorang tentang rencana saya mengikuti tes, seseorang itu pun lantas memberitahu kepada saya tentang dua amalan yang bisa dilakukan sebelum tes. “Sadakah sebelum tes Bu Santi!” ujarnya. Selain itu, ia pun menyarankan kepada saya untuk berpuasa. Sayangnya, nasehat bagus itu tidak saya jalankan semaunya. Apalagi sebelum tes.

Saya hanya teringat pada sebuah cerita tentang seorang penjual tempe mentah yang begitu berharap dalam doanya agar tempenya bisa tiba-tiba masak seketika dan bisa dibeli orang. Namun ternyata, Allah berkata lain dengan adanya rejeki dari seseorang yang sedang mencari tempe untuk dikirim ke anaknya yang sedang bersekolah di luar negeri.

Dari cerita itu, saya kini jadi belajar untuk berdoa diberikan yang terbaik, bukan meminta A atau B. Karena terkadang, apa yang kita inginkan, kita pinta dalam doa, belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita sendiri.

Jadi, akhirnya amalan itupun saya lakukan justru ketika tes itu usai saya laksanakan. Saya hanya berharap kala itu, Allah akan memberikan saya yang terbaik.

*Reuni Setiap Tes PNS

Ketika saya tahu nomor peserta tes untuk posisi guru mata pelajaran ekonomi SMA adda 86 orang, saya hanya berpikir naif, “Wah, ternyata cukup banyak juga yang orang Lamongan yang lulusan Pendidikan Ekonomi!”

Namun ketika saya mengikuti tes, saya justru bertemu dengan orang-orang dari kota lain seperti Tuban atau Bojonegoro. Itu saya ketahui secara tidak sengaja saat sedang duduk menunggu waktu tes. Usianya pun sudah lumayan di atas saya lho! 30-an tahun!

Tak hanya itu, mereka yang lulusan pendidikan ekonomi ini ternyata sebelumnya juga sempat mencari informasi daerah-daerah mana saja yang membutuhkan guru ekonomi. Saat saya mendengar mereka saling berbincang-bincang, mereka sudah tahu kalau di daerah mana ada yang membutuhkan dan daerah mana yang tidak. Karena Lamongan membutuhkan, mereka pun langsung memburu kota Lamongan untuk menjadi tempat mengikuti tes PNS. Padahal, posisi yang diperlukan hanya 1 orang untuk guru ekonomi SMA dan 1 orang untuk guru ekonomi SMEA lho!

Yang lucu lagi, orang-orang ini ternyata saling mengenal dan tanpa berencana untuk janjian, mereka pun diketemukan saat tes PNS di Lamongan! Hehehe, sampai-sampai saya berpikir, sepertinya setiap tes PNS, mereka pasti akan mengadakan reuni tidak terencana nih!

*13 Kali Tes Baru Lolos

Saat saya sedang berjalan menuju ruang tes yang berada di SMPN 2 Lamongan, tak sengaja, saya bertemu dengan wali murid di TPA yang saya kelola dan seorang rekannya yang sama-sama mengajar di SMPN 2 Lamongan.

Si ibu yang saya tidak sempat saya ketahui namanya itupun lalu berujar, “Saya doakan semoga lolos ya. Saya sendiri dulu malah 13 kali lho ikut tes. Sampai-sampai saya berpikir, Ya Allah, masa sudah setua gitu kok ya nggak lolos-lolos tes ya?”

Angka 13 kali itu membuat saya terhenyak. Subhanallah, sebegitunya ya mengejar posisi PNS hingga 13 kali ikut tes?!

Kurang Bisa Berkreasi

Saya memang ingin menjadi guru. Namun jika itu terkait guru sekolah negeri, saya langsung phobia teringat masa-masa ketika PPL. Perangkat pra dan pasca mengajarnya itu lho yang membuat saya mabuk! Sampai-sampai saya berpikir, seandainya itu ditiadakan, pasti yang namanya guru bisa lebih dioptimalkan untuk berkreasi dalam proses belajar mengajar.

Apalagi kebiasaan saya ketika mengajar adalah memberi ruang kreasi, kreativitas, dan kenyamanan bagi anak-anak saya ketikaa mereka belajar. Karena pada dasarnya, otak manusia akan bisa bekerja optimal jika tubuh sedang merasa nyaman.

Sampai-sampai ketika saya mengajar di Politeknik Batam dulu, saya mempersilakan mahasiswa saya untuk makan dan minum di kelas, sampai mendengarkan musik. Yang penting, mereka tidak membuat ulah yang mengganggu teman-temannya yang lain dan mereka tetap berada pada rel belajar.

Nah, jika itu saya terapkan di sekolah negeri, dengan kepala sekolah yang maaf, rata-rata berumur tidak lagi muda dan maaf lagi, kerap saya temui berpikir konvensional, mana bisa cara saya itu diterima untuk diterapkan?

Belum lagi unsur senioritas dan taat atau patuh asas yang kurang mau membuka diri pada pembaharuan di kebanyakan sekolah, tentunya akan sangat bertentangan sekali dengan saya yang hobinya berkebalikan dari itu.

Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!

Kalah Undian

Foto ini saya ambil sekitar seminggu yang lalu, saat acara jalan sehat di kelurahan tempat saya tinggal. Biasanya memang, untuk memeriahkan acara semacam ini, pihak penyelenggara kerap mengadakan acara undian bagi para pesertanya. Ehem, seperti yang ada dalam foto inilah yang kerap terjadi…

cerita ningsih dan septi

cerita ningsih dan septi

Berasnya Diganti Sebungkus Kerupuk

Serah terima beras

Gantinya kerupuk ya...

Gantinya kerupuk ya...

Serah terima beras

PKK, mendengar kata tersebut yang ada dalam bayangan saya adalah sekumpulan ibu-ibu, berbusana hijau-hijau mulai dari atasan hingga bawahannya, berkumpul dengan acara pembuka nyanyian khas ala ibu-ibu PKK, lalu acara diisi dengan pembicaraan yang bermuatan untuk kemajuan dan perkembangan para ibu-ibu PKK.

Namun tebakan saya agak meleset kali itu! Karena yang datang kemudian memang para ibu-ibu yang kesemuanya datang dengan sebuah tas jinjing berlabel nama masing-masing dan berisi sejumlah beras. Ketika sampai di rumah yang mengadakan acara PKK, beras itupun kemudian ditukar dengan sebungkus kerupuk. Lho kok?!

Hehehe… tapi demikianlah yang memang terjadi pada acara tingkepan atau selamatan untuk ibu hamil yang diadakan ibu mertua dari adik saya untuk adik ipar saya. Satu dari sekian acara yang merupakan bagian dari syukuran tersebut adalah undangan ibu-ibu PKK yang diadakan pada siang hari.

Tapi memang acara PKK ini sangat berbeda dengan yang selama ini ada. Tidak ada ibu-ibu yang datang dengan seragam hijau-hijau khas PKK. Mereka pun punya bawaan wajib yaitu beras satu tas serta sebuah buku kecil untuk tempat catatan setoran beras.

Ukuran beras yang dibawapun ada syaratnya. Sesampainya di tempat yang mengadakan acara PKK, beras yang dibawa para ibu-ibu tersebut akan dituang dalam sebuah takaran bermuatan 4 Kg. Di bawah takaran tersebut akan dihampar selembar karung untuk menadah sisa tumpahan beras.

Beras dari dalam tas akan dituang dalam wadah hingga melebihi jumlah takaran, diratakan dengan sebuah kayu hingga ukurannya pas sesuai dengan wadah takaran tersebut, dan beras yang berada dalam takaran akan dikumpulan dalam sebuah karung.

Sementara, beras yang tidak masuk takaran akan dikembalikan ke dalam tas si pembawa. Uniknya, satu takaran beras itu akan diganti dengan sebungkus kerupuk aneka rupa dari si tuan rumah alias si pemilik hajatan.

Tidak asal menyetor beras, para ibu-ibu yang membawa beras tersebut pun akan memberikan buku kecil catatannya kepada pihak pencatat. Isi buku itu sendiri berupa halaman-halaman yang tercatat nama-nama para peserta PKK yang tentu saja adalah para ibu-ibu. Satu orang, satu halaman.

Misalnya, jika PKK kemarin berlangsung di rumah Ibu Dasim, maka si pencatat akan mencari halaman bernama tersebut di buku si pembawa beras dan mencatat jumlah setoran beras yang diberikan berikut kapan penyetorannya.

Si tuan rumah sendiri punya sebuah buku catatan berukuran besar. Isinya, adalah dua buah halaman yang bertulis nama-nama dari tetangga-tetangganya yang menyetorkan beras. Jadi jika ada yang sudah atau belum untuk datang dan menyetor beras, si pencatat pun tahu siapa orangnya.

Dicatat dulu ya bukunya...

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

Dicatat dulu ya bukunya…

Sementara nasib buku kecil yang dibawa pembawa beras sedang dalam urusan pencatatan, pemiliknya akan dipersilakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang ada. Jika telah selesai, maka mereka pun dapat pulang. Hm… sebuah PKK yang unik bukan?!

Gotong Royong ala Desa

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

Begitulah enaknya hidup di desa. Ketika kita memiliki hajatan, cukuplah kita memikirkan segala keperluan selain urusan beras dan para pasukan pembantu masak hingga kebersihan.  Dari acara yang dilangsungkan ibu dari adik ipar saya kemarin saja saya melihat, ada dua setengah karung setinggi 1 meter yang penuh berisi beras kiriman dari para tetangganya.

Wah wah wah… sepertinya beras tersebut tidak habis hanya untuk acara selametan saja ya?! Berminggu-minggu sesudahnya pun rasanya beras itu tidak akan habis untuk dimakan satu keluarga sendiri!

Demikian juga untuk urusan masak atau kegiatan bersih-bersih lainnya. Si pemilik hajatan cukup tinggal berdiri untuk menyapa para pengunjung yang datang saja. Sedangkan urusan masak hingga pelayanan tamu akan dibantu oleh para anggota keluarga yang lain.

Itupun ada bagian-bagiannya sendiri lho! Mulai dari urusan membuat rujak, membuat ketan, memasak nasi, memasak gulai, sampai cuci piring, semua ada bagiannya masing-masing. Nah, menyenangkan bukan melihat gotong royong seperti itu?!

Tapi ternyata, tidak semua desa di tempat saya di Lamongan memiliki budaya seperti itu. Misalnya saja sebuah desa tempat om saya berada. Bahkan untuk urusan adanya warga yang meninggal, warga di desa itu justru datang untuk meminta makan. Tidak ada satu pun yang datang untuk membawa barang ala kadarnya. Selain itu, masyarakat di desa tersebut juga tidak memiliki budaya untuk mengucapkan terima kasih dalam bentuk perkataan saja ketika mereka telah ditolong orang lain.

Karena itulah, ketika saya melihat begitu kentalnya budaya gotong royong di desa tempat adik ipar saya, saya membatin, untung… sekali adik saya mendapatkan istri dari desa tersebut. Coba kalau dari desa seperti tempat om saya. Entah apa jadinya keluarga saya dibuat kaget akan perbedaan budaya tersebut!

Pesta Selamatan Ibu Hamil

Untuk urusan pesta atau perayaan, umumnya masyarakat akan membuat acara besar-besaran pada urusan pernikahan. Atau mungkin pesta dibuat ketika ada anak yang usai disunat. Namun di desa tempat adik ipar saya, selamatan ibu hamil atau yang sering disebut dengan tingkepan pun lumayan dibuat besar perayaannya.

Mulai dari siang, si pemilik hajatan akan mengundang ibu-ibu PKK untuk hadir berikut dengan acara arisan berasnya. Sore harinya, waktu untuk para undangan yang datang sekedarnya. Sementara itu malam harinya, giliran para bapak-bapak yang datang dengan membawa uang. Belum lagi adanya acara ceramah di kala habis Isya’. Pokoknya benar-benar seperti hajatan orang menikah saja rasanya!