Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih
Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih
Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih
Perkemahan di Pantai Wotgalih
Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih
Menghias tenda di Pantai Wotgalih
Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya
Merah putih tetap lebih tinggi
Kemeriahan bendera
Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai
Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri
Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.
Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

I’tikaf a la Masjid Akbar Surabaya

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

*Ibu Hamil 8 Bulan pun Tarawih 23 Rakaat

Sejak awal tarawih di Masjid Akbar Surabaya malam itu, saya mencuri-curi lirikan ke seorang wanita muda yang berada di sebelah kiri saya. Ia sedang hamil. Di setiap peralihan shalat, wanita ini pun kerap agak terduduk lama sebelum berdiri untuk memulai shalat lagi. Mungkin ia mengatur tenaganya, itu batin saya.

Dan pertanyaan saya akhirnya baru dapat saya keluarkan usai rangkaian shalat tarawih sebanyak 23 rakaat selesai.

“Hamil berapa bulan, Bu?” tanya saya usai menyalaminya di akhir shalat witir.

“Delapan bulan,” jawabnya yang membuat saya terkejut. Pasalnya, saya sendiri saja jarang-jarang mau shalat tarawih hingga 23 rakaat. Malah di sekitar 10 hari terakhir ramadhan, saya ‘ngungsi’ shalat tarawih ke sebuah masjid yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah saya jika saya menuju ke sana dengan bersepeda motor.

Wanita muda itu pun lalu bertutur. Menurutnya, ia sudah biasa shalat tarawih berjumlah sebanyak itu selama bulan ramadhan. Biasanya ia lakukan di rumah. Dan untuk di Masjid Akbar Surabaya, baru malam itulah ia bisa melaksanakan shalat di sana.

Shalat tarawih di masjid berkubah biru yang anggun itu dilaksanakan dalam dua versi. Para jamaah shalat bisa mengikuti 8 rakaat, dan bisa juga meneruskan hingga 23 rakaat berikut shalat witir.

Pelaksanaannya dilakukan dengan tenang dan khusyuk. Untuk mereka yang benar-benar ingin menghayati dan menikmati shalat, rasanya tepat untuk bershalat tarawih di sana. Tentu saja, rangkaian shalat tarawih, witir, sekaligus hingga ceramah itu dilakukan cukup lama. Sekitar pukul setengah sembilan malam, rangkaian shalat itu akhirnya usai. Shalat itu sendiri dipimpin oleh dua imam. Setiap imam memimpin 10 rakaat tarawih.

Ceramahnya sendiri dilaksanakan usai shalat Isya’. Yang membuat asyik shalat di tempat ini adalah di saat ceramah dan adzan. Ada dua layar besar yang di pasang beberapa meter di bagian kanan dan kiri dari tempat imam yang menampilkan hasil shooting dari posisi imam.

Anehnya selama saya shalat, saya sampai tidak tersadar jika sudah menempuh waktu yang lama untuk bershalat tarawih. Karena biasanya jika saya mengikuti shalat tarawih sebanyak 23 rakaat, saya kerap merasa bosan dan akhirnya menghitung sudah berapa rakaat yang harus saya tempuh lagi.

Hingga suatu ketika, saya memutuskan pindah shalat! Tapi aksi saya itu ada alasannya. Saya capek ‘gedubrak gedubruk’ shalat tarawih 23 rakaat. Apalagi usai sering mengikuti acara Ensiklopedi Islam yang dikawangi oleh Ustad Abu Sangkan, yang selalu membahas tentang kenikmatan-kenikmatan dalam shalat, saya ingin sekali menikmati shalat tarawih di masa-masa akhir bulan ramadhan. Akhirnya, mengungsilah saya bershalat tarawih di Masjid Al Azhar Lamongan yang memang menjadi basis dari jamaah Muhammadiyah.

*Pembaca Quran di Setiap Sudut Masjid

Beri’tikaf di Masjid Al Akbar Surabaya selama 10 hari terakhir ramadhan memiliki keasyikan tersendiri. Di sana, kita beribadah dengan merasa tidak sendirian. Banyak yang memilih untuk meningkatkan ibadah di tempat itu. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Yang datang juga beragam. Ada remaja yang datang berkelompok dengan teman-temannya, juga ada pula keluarga bahkan berikut anaknya yang masih balita.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

Saya sendiri datang dengan teman saya, Viva, dari Lamongan. Untuk yang belum tahu, dari Lamongan menuju Surabaya harus ditempuh dengan kendaraan umum sekitar selama 2 jam.

Apa saja yang dilakukan para peserta i’tikaf? Kebanyakan memilih untuk membaca Al Quran. Jika Anda berada di sana, Anda akan melihat bahwa hampir di setiap sudut masjid, banyak orang yang memilih duduk bersimpuh dan tekun membaca kitab Allah tersebut. Sedangkan jika malam hari, para peserta i’tikaf ini banyak yang melakukan shalat sunat.

Namun, ada juga para jamaah masjid yang memilih untuk pulang terlebih dahulu seusai shalat witir. Namun mendekati tengah malam, masjid pun kembali riuh dengan para jamaah yang memeriahkan rumah Allah. Ramainya bahkan semeriah saat shalat tarawih!

Saya sendiri sebetulnya terkesan dengan kegiatan i’tikaf ini ketika pernah melakukannya di Masjid Raya Batam Centre. Saat i’tikaf, terkadang, kita memang bisa berinteraksi dengan para jamaah lain yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

*Seperti Diserbu Pasukan Jin dan Malaikat

Sewaktu i’tikaf, saya memilih untuk melakukan tidur dalam sejenak di sekitar pukul sebelas malam. Namun dalam tidur yang tentunya tidak bisa pulas itu, saya sangat terkejut ketika beberapa menit kemudian, suasana di sekitar saya tidak lagi lengang.

Tiba-tiba, saya seperti merasa banyak orang yang entah kapan dan dari mana mereka datang hingga sebegitu banyaknya berada di sekitar saya. Padahal sebelum saya terlelap, saya hanya melihat belasan orang saja yang ada di sekitar saya. Ada yang sedang menunaikan shalat malam, membaca Al Quran, atau tertidur.

Tapi ketika bangun, jumlah orang-orang yang melakukan itu bisa mencapai puluhan adanya di sekitar saya! Saya sampai sempat berpikir, “Ya Allah, apakah mereka semua manusia yang sedang juga beri’tikaf di malam-malam ganjil yang terakhir? Atau, adakah dari mereka ini malaikat atau jin?”

Rangkaian shalat malam di masjid itu sendiri sebetulnya direncanakan dimulai pukul satu dini hari. Namun akhirnya, baru sekitar setengah dua pagi shalat dimulai. Untuk menambah keheningan dan kekhusyukan, seluruh lampu ruangan di masjid itu dimatikan.

Shalat malam itu terdiri dari dua kali shalat tahajud yang tentunya masing-masing dua rakaat, shalat tasbih empat rakaat yang dibagi dengan salam seusai rakaat ke dua, dan penutupnya adalah dua rakaat shalat hajat.

Di akhir shalat hajat, imam mengajak jamaah shalat untuk sujud lama. Mungkin saya rasa, sekitar 15 hingga 30 menit sujud itu dilakukan. Dan rangkaian dari shalat malam itu baru selesai sekitar pukul tiga pagi.

Payahnya, karena saya belum pernah sama sekali beri’tikaf di sana, saya melakukan shalat dan niat! Jadi, ketika shalat tahajud yang ke dua, saya malah berniat shalat tasbih. Eh, di shalat tasbih yang ke dua, saya malah berniat shalat hajat!

Sudah begitu, perut saya yang menahan angin karena kebiasaan saya yang memang begitu mudah masuk angin, membuat saya kurang bisa khusyuk saat melakukan rangkaian shalat ini. Pelajaran pribadi, rasanya tahun depan jika ada kesempatan melakukan shalat di masjid itu lagi, saya harus menyediakan jamu tolak angin saset!

*Makan Berbuka dan Sahur Disediakan Pihak Masjid

Sebetulnya untuk para jamaah di masjid ini, pihak masjid menyediakan makanan bungkus untuk berbuka dan sahur. Begitu memudahkan para jamaah! Namun sayangnya karena jumlah jamaah cukup banyak, makanan tersebut juga harus didapat dengan cara antri atau bahkan berebut dengan para jamaah yang lain. Utamanya saat sahur. Maklum, jarang-jarang kan memang ada istilah antri di saat semua orang merasa terkejar waktu?!

Saya pribadi punya pelajaran dari hasil i’tikaf saya yang baru pertama kalinya saya lakukan di sana. Untuk berbuka, kita bisa memilih untuk memakan nasi bungkusan yang memang gratis itu, atau memilih untuk mencari makan di luar masjid.

Namun, pilihan ke dua itu juga tidak sepenuhnya memuaskan lho! Pasalnya selain urusan rasa, harga makanan yang dijual pun cukup lumayan. Saat saya makan berbuka saja, saya harus memilih untuk makan nasi soto yang rasanya berantakan!

Namun jika takut lama baru mendapatkan makanan saat sahur, ya karena ada istilah berebut itu tadi, belilah makanan untuk sahur di saat usai shalat tarawih. Kenapa demikian? Nah, kalau yang satu ini karena ada hubungannya dengan toilet.

Maklumi dan bayangkan saja, jamaah yang sebegitu banyaknya itu pasti seusai makan, rata-rata akan berebut untuk ke toilet sebelum shalat subuh. Di tempat wudhu jamaah wanita sendiri, sebetulnya ada sekitar 8 kamar mandi yang tersedia. Namun jika di situ ada ratusan jamaah wanita, tentunya kamar mandi sejumlah itu sangat tidak mencukupi. Ujung-ujungnya ya kembalilah ada istilah keakuan dengan dasar saya sedang terpepet oleh waktu!

*Rapat Tubuh Bukan Rapat Sajadah

Selama saya beri’tikaf di sana, saya salut dengan keberadaan para petugas masjid yang ada.  Untuk di kalangan jamaah wanita sendiri, petugas masjidnya terdiri dari ibu-ibu sekitar usia 50-an.

Mereka sangat membantu para jamaah lainnya. Mulai dari urusan membagi makanan sahur dan buka puasa, sampai di urusan menata shaf shalat. Apalagi wanita, urusan shaf memang kerap sulit untuk bisa teratur. Paling maksimal, mereka akan merapatkan sajadah sebagai maksud dari permintaan rapatkan shaf!

Malah yang kerap membuat saya gemas, ketika ada yang kosong, jamaah yang belakang enggan untuk mengisi. Meski sudah diperingatkan untuk diisi, yang ada, mereka bisa mencueki ajakan tersebut. Padahal istilah shaf yang rapat sesungguhnya adalah rapatnya tubuh secara sejajar antara satu dengan yang lain.

Nah, para petugas di Masjid Akbar inilah yang akan memantau, apakah jamaah hingga di shaf yang paling belakang sudah cukup rapat dan tidak bolong shafnya. Mereka bisa tegas memanggil atau mengajak orang-orang yang berada di bagian belakang untuk mengisi shaf yang masih kosong. Dan seperti kegemasan saya, orang-orang itu pun lebih banyak yang berlaku cuek, pura-pura tidak mendengar, atau tidak tahu!

Para petugas ini memiliki ciri khas yaitu memakai kalung dari tali yang bertanda nomor pada sebuah kertas kotak kecil. Dan yang salut dari mereka adalah ketika waktu berbuka tiba. Ketika semua orang sudah duduk menghadap kurma dan gelas di depannya masing-masing, para petugas ini masih hilir mudik mengajak, memanggil, dan menunjukkan tempat yang kosong untuk para jamaah agar bisa berbuka puasa tepat waktu!

Acara berbuka puasa di masjid ini sendiri dilaksanakan dengan cara dibentangkannya plastik panjang di bagian teras. Di bentangan itu, terdapatilah bungkusan kurma sebanyak 4 biji berikut air mineral. Nah, tugas para petugas masjid itulah yang memastikan, di mana tempat yang kosong yang bisa diisi oleh para jamaah yang akan berbuka puasa.

Nadzar dari Mimpi

Bulek dan ibu saya (ibu saya yang berjilbab) membantu memersiapkan tumpeng yang sedianya akan dibagikan ke mushola

Seumur-umur saya tahu istilah nadzar*, rasanya inilah nadzar yang unik menurut saya. Nadzar yang saya maksud itu adalah nadzar a la mbah kakung saya.

Ceritanya suatu ketika, ia pernah bermimpi memotong dua ekor ayam. Ketika mimpi itu beliau ceritakan kepada anak tertuanya, yaitu pakdhe saya, ujung-ujungnya, terputuskanlah jika suatu saat ia akan memenuhi nadzarnya. Nadzar yang akan terlaksana itu pun adalah membuat syukuran dengan memotong dua ekor ayam untuk menjadi lauk dari tumpeng yang lalu dibagi-bagikan kepada orang lain.

Kebetulan, mbah kakung dan apalagi mbah putri saya baru saja usai sakit keras. Mbah putri saya baru saja mengalami kecelakaan yang membuat kondisi tubuhnya menurun hingga 50 persen! Jadi, mimpi yang dialami oleh mbah kakung saya lalu disikapi sebagai bagian dari nadzar yang harus dilaksanakan.

Hari H pun tiba. Dua ekor ayam yang terpotong, lalu diolah menjadi ayam panggang. Daging ayam tersebut diolah dengan cara hanya dibersihkan isi perutnya, tidak dipotong-potong. Kemudian, ayam dilumuri bumbu dan lalu dibakar.

Ayam inilah yang lalu disajikan sebagai lauk dari tumpeng. Tentu saja pelengkapnya seperti laiknya tumpeng, ada sayur urap, berikut tahu dan tempe masak santan. Kesemuanya itu  diletakkan dalam wadah besar yang kemudian dibawa ke masjid.

Kebetulan di Temenggungan, sebuah daerah di Kecamatan Lamongan, ada dua masjid yang berdekatan dengan kuburan leluhur masyarakat Temenggungan bahkan Lamongan. Ke dua tempat itulah mbah saya lalu menghantarkan syukuran tumpeng.

“Biasanya, gitu itu entar langsung diserbu tumpengnya sama orang-orang sekitar. Aku dulu waktu kecil juga ikutan gitu kok,” cerita sepupu saya tentang tradisi tumpeng yang diantar ke makam.

Beginilah bentuk rupa dari lauk dan sayuran untuk tumpeng itu.

*Ada Bunga Khusus

Keunikan dari tumpeng hasi nadzar ini adalah adanya bunga sebagai penyerta. Bunganya juga bukan sembarang bunga. Saya yang kebetulan mendapat tugas membeli bunga ke tetangga dari mbah saya, ternyata harus menitikberatkan kata-kata pembelian dengan, “Kembang nyekar untuk ke makam Mbah Lamong!”

Ketika saya tanya kenapa demikian, ternyata bunga yang digunakan untuk ke makam para leluhur ini tidaklah bisa sembarangan. Khusus ke makam leluhur itu, bunganya hanyalah bunga kenanga saja.

Jika bunganya salah, ternyata ada konsekuensinya lho! Bisa jadi, tumpeng yang diantar akan cepat basi, tidak enak, atau hal-hal tidak mengenakkan lainnya yang terkait dengan tumpeng tersebut. Bisa dibilang, Istilahnya, tumpengnya ditolak sama mbah yang ada di dalam makam kali ya?!

Saya sendiri awalnya heran. Mengapa harus ada bunga khusus untuk ‘ritual’ seperti itu. Dan yang lalu saya tangkap dari cerita sepupu dan bulek saya, memang ada istilah ‘dunia perkembangan’ untuk tujuan-tujuan khusus.

Ada racikan kembang khusus yang berbeda-beda dan digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda juga, seperti ziarah, perdukunan, mandi, dan ke makam-makam tertentu. “Kalau Bulek Karwati itu memang orang yang jual kembang dan ngerti Mbak. Beda sama orang yang biasa jualan di dekat kuburan dan musiman itu,” imbuh adik sepupu saya sambil menyebut nama tetangga dari mbah saya yang memang berprofesi sebagai penjual kembang.

*Nadzar menurut Kamus Ilmiah Poluper: janji untuk melakukan sesuatu kebaktian kepada Tuhan untuk mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus rasa syukur atas nikmat-Nya, baik dengan syarat maupun tidak

Bergelantungan di Atas Ban

Tulisan ini sebetulnya sebelumnya saya tujukan untuk mengikuti sebuah lomba. Hehe, tapi tidak menang! Mungkin pihak redaksi menganggap tulisan ini tidak cukup gila dari pada para finalis lain yang terpilih dan diakui kriterianya.

Oleh: Ika Maya Susanti

Baca judulnya, dan mungkin penasaran, untuk apa sih ya bergelantungan di atas ban? Tapi, pengalaman saya ini memang berawal dari kurang kerjaan yang hasilnya malah menjadi pengalaman yang nggak akan terlupakan!

Ceritanya, waktu itu saya diajak oleh seorang kawan untuk meliput fasilitas outbond baru di sebuah hotel. Berhubung gratisan, ya siapa sih yang nggak nolak? Apalagi, outbond memang selalu jadi permainan yang nggak pernah membosankan untukku.

Tak hanya mengajak saya sebagai juru peliputnya, kawan saya itu pun mengajak beberapa kawan saya lainnya yang sekiranya mau untuk diajak bermain outbond. Berhubung waktu itu hari Minggu, minim wartawan di kantor dan juga para kru lainnya, jadilah beberapa orang saja yang mau untuk diajak.

Nyatanya ketika sampai di lokasi, yang ada bukanlah sekedar liputan biasa. Tapi, saya dan teman-teman justru diajak untuk bertanding outbond. “Nah, inilah tim yang terakhir datang… Ayo, segera bersiap-siap yah!”

Gubrak! Tentu saja saya jadi melongo kebingungan. Lho, katanya tadi cuma liputan plus main-main. Kenapa jadinya malah disuruh bertanding? Tapi tetap saja, keterkejutan itu tak begitu berpengaruh. Empat orang cowok dengan saya satu-satunya cewek di dalam tim, jadilah kami memberanikan diri untuk mengikuti pertandingan tersebut. Sedangkan satu orang kawan saya yang lain, seorang cowok, bersedia menjadi pengabadi gambar alias juru foto.

Pada awalnya, ya agak merinding juga. Permainan itu menuntut para pemainnya untuk naik ke ketinggian melalui tangga pada sebuah tiang, dan meniti rintangan demi rintangan yang juga masih berada di ketinggian tersebut.

Sewaktu memanjat tiangnya saja, rasanya sudah mulai terasa deg-degannya. Apalagi angin musim kemarau yang sedang berhembus kencang, membuat tiang jadi terasa seperti bergoyang-goyang.

Sekilas memang apabila dilihat dari bawah, seluruh permainan yang ada waktu itu rasanya tidaklah sulit. Namun ketika sampai di atas ketinggian, terkena hembusan angin yang membuat tubuh bergerak ke sana sini menggoyahkan keseimbangan, hm… benar-benar terasa merindingnya!

Titik puncak dari kengerian dari permainan itu ternyata justru ada di walking donuts! Bentuk permainannya, para pemain harus melewati serangkaian ban yang bergelantungan bebas dan terikat pada sebuah besi memanjang. Berhubung saya tidak pernah memainkan permainan itu sebelumnya, jadilah saya menontoh ulah dua kawan yang sudah ada di depan saya terlebih dahulu.

Kawan saya yang pertama, ternyata harus pontang panting saat melewatinya. Cara yang ditempuhnya adalah, ia masukkan kakinya satu per satu ke dalam rongga ban, lalu berjalan meraih ban-ban yang ada selanjutnya.

Perkaranya menjadi sulit, karena angin bisa jadi membuat ban bergoyang tak karuan yang menjadikan pemain jadi sulit untuk melangkah. Atau, janganlah melangkah. Untuk berada di satu ban saja, tubuh pemainnya harus mati-matian menjaga keseimbangan untuk tidak dipermainkan oleh angin.

Meski pontang panting, tapi nyatanya, teman pertama saya itu bisa sukses melewati permainan yang bergelantungan a la Tarzan tersebut! Namun, kesuksesan itu tidak diikuti oleh kawan saya yang kedua. Usaha tubuhnya untuk menyeimbangkan diri, yang ada malah jadi membuatnya tak karuan berperang menghadapi gerakan angin yang mengombang-ambingkan tubuh.

Berkali-kali kawan saya itu meringis kesakitan akibat kakinya yang ia jepitkan di rongga ban. Belum lagi badan yang terpelintir seperti baju diperas usai dibilas saat berpegangan di tali yang menggantung ban! Endingnya, kawan saya itu lalu menyerah dan memilih turun ke bawah, tidak meneruskan permainan.

Tinggallah saya yang menjadi pemain selanjutnya. Dua teman saya yang mengantri di belakang saya sebetulnya sudah mengarahkan cara berbeda yang rasanya bisa lebih berhasil dilakukan, dari pada mengikuti dua cara teman saya sebelumnya. Namun berhubung saya tidak tahu gambarannya seperti apa, jadilah saya menjadi orang ketiga yang mengikuti cara sama yang juga kurang tepat.

Kejadiannya pun berlangsung sama. Saya masukkan kedua kaki saya ke dalam rongga ban, dan mencoba meraih tali dari ban yang selanjutnya. Nyatanya belum lagi saya meraih tali, tubuh saya malah selalu diputar-putar oleh angin ke arah yang tak jelas.

Satu, demi satu ban semuanya saya lalui dengan waktu yang sangat lama. Namun, gaya saya sungguh mengkhawatirkan. Setiap meraih dan melangkah ke ban selanjutnya, saya harus berposisi seperti orang sirkus yang sedang beratraksi. Satu kaki bisa menceng ke satu arah, dan kaki yang lain bisa melenceng ke arah yang berbeda. Walhasil, jadilah tubuh saya yang berdiri di dua ban berbeda namun seperti orang tertekuk-tekuk tak karuan!

Berbagai ekspresi dan teriakan orang yang ada di bawah pun sudah bermacam-macam. Ada yang tetap menyoraki untuk terus, namun banyak juga yang berteriak meminta saya turun. Mungkin mereka sudah tega melihat tubuh saya yang sudah tak karuan bentuknya. Namun anehnya, semua suara itu sepertinya tidak saya hiraukan bahkan tidak saya dengarkan dengan pasti. Yang ada, pikiran saya sendirilah yang berperang antara memilih langkah seperti yang dilakukan oleh kawan saya sebelumnya, atau tetap meneruskan permainan.

Di atas ketinggian itu, pikiran saya tak kalah karuannya. Ada pikiran, “Kasihan juga ya yang di bawah, harus menunggu saya bergelantungan nggak jelas di atas begini?!” Ada juga pikiran, “Rasanya kalau turun, mungkin enak kali ya? Nggak usah capek dan kesakitan seperti ini.”
Sementara itu, bagian kaki saya di atas mata kaki, rasanya sudah sakit tak karuan karena terjepit-jepit. Belum lagi napas saya yang sudah tersengal-sengal karena energi tubuh yang terkuras untuk mempertahankan posisi keseimbangan.

Posisi terakhir yang membuat saya berpikir lama saat itu adalah ketika dua kaki saya ada di ban yang berbeda, dengan tubuh saya yang berposisi jongkok dan tidak punya kekuatan sama sekali untuk bisa berdiri. Bahkan jangankan berdiri, menggerakkan kaki saja untuk menuruti suara-suara di bawah yang meminta saya melepaskan badan dan menggantung turun, tidak bisa saya lakukan sama sekali!

Tapi entah kenapa, seperti ada kekuatan lain yang membisikkan saya waktu itu, “Ayo bangun! Semua ini cuma akan terasa sebentar jika semuanya bisa segera selesai! Kuatkan diri menahan rasa sakit, bangun, lalu meraih ban yang terakhir. Pasti di permainan selanjutnya lebih mudah dari permainan ini!”

Bangun, tiba-tiba lupa pada sakit, dan sekejap saja, permainan walking donuts itu bisa saya selesaikan! Aneh jika saya ingat-ingat waktu itu. Karena sebelumnya, saya bahkan tak bisa sama sekali bangkit dengan kedua kaki yang rasanya mengalami sakit luar biasa.

Puasnya tentu saja dobel! Saya merasa lega karena bisa menyelesaikan permainan yang sulitnya minta ampun untuk dilewati, plus merasa puas karena bisa menjadi cewek yang berhasil sukses dari pada teman saya yang notebene seorang cowok.

Di akhir permainan, ternyata ketika diumumkan, tim kami menjadi juara ke tiga lho! Itu pun kalau tidak gara-gara teman yang ada di posisi sebelum saya tidak turun menyerah, mungkin peringkat kami bisa naik menjadi juara 2!

Sejak saat itu, momen di walking donuts menjadi ingatan yang membuat saya bisa bertahan menghadapi apapun, ketika pikiran dan tubuh saya mungkin sudah merasa ingin menyerah! Rasanya memang seperti keajaiban, hanya dengan memerintahkan otak dan yakin bisa, tiba-tiba seluruh tubuh pun bisa menurut untuk menjalankan perintah tersebut.

Sedangkan keesokan harinya usai kegiatan tersebut, kedua kaki saya jadi harus berjalan dengan langkah terpincang-pincang karena kesakitan. Belum lagi warna biru keungu-unguan bak terong yang menandakan bagaimana terjepitnya kaki saya waktu itu di rongga dalam dari ban. Tapi yang penting, bisa pulang membawa piala, bisa menjadi satu-satunya cewek di tim, dan bahkan mengalahkan ketangguhan teman saya yang cowok, rasanya semua sakit itu tidak ada apa-apa rasanya deh!

Memburu Merapi Tanpa Awan

Melihat Merapi dari Kali Tengah saat sedang tak berbaju awan putih

Siang yang mendung di Jogja. Bahkan saat itu masih terasa kelam karena sejak dini hari, di hari Rabu (7/4) lalu, tanah dengan masyarakatnya yang kini bangkit dari keterpurukuan sejak gempa itu diguyur curahan air dari langit tiada jeda.

Usai tes wawancara untuk masuk kuliah Pascasarjana UGM, saya sempat ditawari oleh sahabat saya Andik untuk melihat Merapi. Namun saya menyangsikan, “Apa yakin bisa lihat puncaknya?!” celutuk saya demi melihat awan yang masih bergelayut tebal di sana- sini.

Tapi karena tidak tahu harus mengisi waktu dengan cara apa, saya pun akhirnya meminta untuk benar-benar diajak melihat seperti apa Merapi yang sesungguhnya dari jarak dekat.

Andik lalu mengajak saya menuju sebuah daerah bernama Kali Tengah. Benar saja, ketika sampai di sana, saya hanya bisa melihat Merapi yang separuh tubuhnya terselimuti gumpalan tebal berwarna putih.

Merapi saat tersapu awan gelap

Menurut kawan saya tersebut, di tempat itu terdapat bunker atau tempat untuk berlindung dari wedhus gembel serta sebuah gua peninggalan Jepang. Dan masih menurut kawan saya, dulunya, di bunker itu pernah memakan korban ketika ada dua orang relawan yang mencoba berlindung dari wedhus gembel dengan masuk ke dalam bunker, akan tetapi justru terkubur oleh muntahan Merapi.

Bunker tempat berlindung dari wedhus gembel

Karena tangan saya gatal dan kangen dengan fotografi, maka objek seadanyalah yang coba saya cari di sana untuk bahan foto. Misalnya, potret tentang sepasang lelaki dan wanita tua yang mencoba memecah tiga gelondong kayu besar untuk memudahkan mereka saat membawanya. Atau, sebuah batu besar yang berdiri tanggung di batas antara pijakan atas dan bagian bawah dari kali.

Batu yang enggan beranjak turun

Ketika berniat beranjak dari Merapi, entah mengapa, sekilas saat saya berpaling kembali mencoba menatap puncak dari gunung tersebut, kali itu saya justru bisa melihat puncak merapi yang nampak mulai bersih dari sapuan awan tebal.

Awan yang mulai pergi meninggalkan puncak Merapi

Momen yang tidak akan saya lewatkan! Apalagi saat itu Andik menyemangati saya untuk segera mengabadikan momen yang katanya langka dan bisa jadi sebentar lagi, sang Merapi kembali akan mengenakan selimut putih dari awan. Sampai-sampai waktu itu, saya terpeleset kerikil-kerikil kecil yang saya salah pijak.

Cuaca tak cerah dari langit justru makin berkebalikan ketika saya dan kawan saya menuruni Merapi untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan, saat saya sesekali melirik ke puncak Merapi yang saya tinggalkan, gunung yang masih aktif itu justru nampak makin terlihat cerah dan bersih dari awan putih.

Hingga tibalah saya di sebuah jembatan dari bendungan Kali Kuning. Di tempat itu, Sang Merapi justru telah siap berpose cantik menunggu saya untuk mengabadikan keanggunannya.

Cantiknya Merapi dari Bendungan Kali Kuning

Foto-foto lain dari Merapi dan sekitarnya yang sempat saya ambil:

Batu sendiri
Sendiri dan tak ingin beranjak
The Hercules, ketika kawan saya Andik menjadi model untuk berpose mendorong batu yang besar
Kali Tengah, tempat merapi menyalurkan muntahannya