Berasnya Diganti Sebungkus Kerupuk

Serah terima beras

Gantinya kerupuk ya...

Gantinya kerupuk ya...

Serah terima beras

PKK, mendengar kata tersebut yang ada dalam bayangan saya adalah sekumpulan ibu-ibu, berbusana hijau-hijau mulai dari atasan hingga bawahannya, berkumpul dengan acara pembuka nyanyian khas ala ibu-ibu PKK, lalu acara diisi dengan pembicaraan yang bermuatan untuk kemajuan dan perkembangan para ibu-ibu PKK.

Namun tebakan saya agak meleset kali itu! Karena yang datang kemudian memang para ibu-ibu yang kesemuanya datang dengan sebuah tas jinjing berlabel nama masing-masing dan berisi sejumlah beras. Ketika sampai di rumah yang mengadakan acara PKK, beras itupun kemudian ditukar dengan sebungkus kerupuk. Lho kok?!

Hehehe… tapi demikianlah yang memang terjadi pada acara tingkepan atau selamatan untuk ibu hamil yang diadakan ibu mertua dari adik saya untuk adik ipar saya. Satu dari sekian acara yang merupakan bagian dari syukuran tersebut adalah undangan ibu-ibu PKK yang diadakan pada siang hari.

Tapi memang acara PKK ini sangat berbeda dengan yang selama ini ada. Tidak ada ibu-ibu yang datang dengan seragam hijau-hijau khas PKK. Mereka pun punya bawaan wajib yaitu beras satu tas serta sebuah buku kecil untuk tempat catatan setoran beras.

Ukuran beras yang dibawapun ada syaratnya. Sesampainya di tempat yang mengadakan acara PKK, beras yang dibawa para ibu-ibu tersebut akan dituang dalam sebuah takaran bermuatan 4 Kg. Di bawah takaran tersebut akan dihampar selembar karung untuk menadah sisa tumpahan beras.

Beras dari dalam tas akan dituang dalam wadah hingga melebihi jumlah takaran, diratakan dengan sebuah kayu hingga ukurannya pas sesuai dengan wadah takaran tersebut, dan beras yang berada dalam takaran akan dikumpulan dalam sebuah karung.

Sementara, beras yang tidak masuk takaran akan dikembalikan ke dalam tas si pembawa. Uniknya, satu takaran beras itu akan diganti dengan sebungkus kerupuk aneka rupa dari si tuan rumah alias si pemilik hajatan.

Tidak asal menyetor beras, para ibu-ibu yang membawa beras tersebut pun akan memberikan buku kecil catatannya kepada pihak pencatat. Isi buku itu sendiri berupa halaman-halaman yang tercatat nama-nama para peserta PKK yang tentu saja adalah para ibu-ibu. Satu orang, satu halaman.

Misalnya, jika PKK kemarin berlangsung di rumah Ibu Dasim, maka si pencatat akan mencari halaman bernama tersebut di buku si pembawa beras dan mencatat jumlah setoran beras yang diberikan berikut kapan penyetorannya.

Si tuan rumah sendiri punya sebuah buku catatan berukuran besar. Isinya, adalah dua buah halaman yang bertulis nama-nama dari tetangga-tetangganya yang menyetorkan beras. Jadi jika ada yang sudah atau belum untuk datang dan menyetor beras, si pencatat pun tahu siapa orangnya.

Dicatat dulu ya bukunya...

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

Dicatat dulu ya bukunya…

Sementara nasib buku kecil yang dibawa pembawa beras sedang dalam urusan pencatatan, pemiliknya akan dipersilakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang ada. Jika telah selesai, maka mereka pun dapat pulang. Hm… sebuah PKK yang unik bukan?!

Gotong Royong ala Desa

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

Begitulah enaknya hidup di desa. Ketika kita memiliki hajatan, cukuplah kita memikirkan segala keperluan selain urusan beras dan para pasukan pembantu masak hingga kebersihan.  Dari acara yang dilangsungkan ibu dari adik ipar saya kemarin saja saya melihat, ada dua setengah karung setinggi 1 meter yang penuh berisi beras kiriman dari para tetangganya.

Wah wah wah… sepertinya beras tersebut tidak habis hanya untuk acara selametan saja ya?! Berminggu-minggu sesudahnya pun rasanya beras itu tidak akan habis untuk dimakan satu keluarga sendiri!

Demikian juga untuk urusan masak atau kegiatan bersih-bersih lainnya. Si pemilik hajatan cukup tinggal berdiri untuk menyapa para pengunjung yang datang saja. Sedangkan urusan masak hingga pelayanan tamu akan dibantu oleh para anggota keluarga yang lain.

Itupun ada bagian-bagiannya sendiri lho! Mulai dari urusan membuat rujak, membuat ketan, memasak nasi, memasak gulai, sampai cuci piring, semua ada bagiannya masing-masing. Nah, menyenangkan bukan melihat gotong royong seperti itu?!

Tapi ternyata, tidak semua desa di tempat saya di Lamongan memiliki budaya seperti itu. Misalnya saja sebuah desa tempat om saya berada. Bahkan untuk urusan adanya warga yang meninggal, warga di desa itu justru datang untuk meminta makan. Tidak ada satu pun yang datang untuk membawa barang ala kadarnya. Selain itu, masyarakat di desa tersebut juga tidak memiliki budaya untuk mengucapkan terima kasih dalam bentuk perkataan saja ketika mereka telah ditolong orang lain.

Karena itulah, ketika saya melihat begitu kentalnya budaya gotong royong di desa tempat adik ipar saya, saya membatin, untung… sekali adik saya mendapatkan istri dari desa tersebut. Coba kalau dari desa seperti tempat om saya. Entah apa jadinya keluarga saya dibuat kaget akan perbedaan budaya tersebut!

Pesta Selamatan Ibu Hamil

Untuk urusan pesta atau perayaan, umumnya masyarakat akan membuat acara besar-besaran pada urusan pernikahan. Atau mungkin pesta dibuat ketika ada anak yang usai disunat. Namun di desa tempat adik ipar saya, selamatan ibu hamil atau yang sering disebut dengan tingkepan pun lumayan dibuat besar perayaannya.

Mulai dari siang, si pemilik hajatan akan mengundang ibu-ibu PKK untuk hadir berikut dengan acara arisan berasnya. Sore harinya, waktu untuk para undangan yang datang sekedarnya. Sementara itu malam harinya, giliran para bapak-bapak yang datang dengan membawa uang. Belum lagi adanya acara ceramah di kala habis Isya’. Pokoknya benar-benar seperti hajatan orang menikah saja rasanya!

Layar Tancap tanpa Proyektor

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Tidak ada suara bising proyektor yang memutar film. Namun kebisingan mesin diesel yang bersaing dengan suara film tetaplah ada. Pun, layar terkembang yang terikat pada dua buah ruas panjang bambu tertanam di tanah tempat orang menancapkan pandangan, tetaplah ada. Sehingga acara nonton bersama yang diadakan oleh RS Muhammadiyah Lamongan di halaman SDN Kedungkumpul 02 Sarirejo, Lamongan, Sabtu malam (18/7), dengan film Laskar Pelangi yang menjadi tontonan masyarakat desa itu, masih bisa disebut sebagai layar tancap.

Zaman sudahlah moderen. Keberadaan proyektor yang biasa digunakan untuk memutar rol pita film kini telah berganti dengan laptop tempat file film dimainkan dan infocus untuk memantulkan gambar dari laptop ke layar besar.

Namun tentu saja, karena ini bukanlah tayangan film berkualitas gedung bioskop, suara bising mesin pembangkit listrik dan sound system yang terkadang tak jelas memantulkan suara, membuat siapapun yang dulunya pernah mengetahui keberadaan layar tancap, merasa jika apa yang sedang ditontonnya saat itu adalah layar tancap yang tak jauh berbeda.

Misalnya saja seorang ibu yang asyik menonton film malam itu. Meski waktu sudahlah menjelang dini hari, ia masih asyik bertahan dengan beberapa teman-temannya.

“Nostalgia ta, nonton layar tancep?” celutuk seorang pemuda yang lewat di dekat si ibu tersebut.

“Iyo,” jawabnya sambil tersenyum dikulum. Ia lalu berujar kepada saya, jika dulu pernah ketika ia hamil tujuh bulan, ia pun pernah bersama teman-temannya berjalan jauh demi melihat layar tancap.

Pihak RS Muhammadiyah sendiri memang sengaja menyertakan acara nonton bersama film Laskar Pelangi dalam rangkaian acara baksos tahun ini. Tak lain, mereka ingin menumbuhkan jiwa sadar akan pentingnya arti pendidikan pada anak-anak di tempat itu. Apalagi kebetulan, dalam film tersebut, mengisahkan tentang sebuah SD Muhammadiyah, yang tentunya nama SD tersebut pas dengan misi organisasi Muhammadiyah.

Namun sayang, misi tersebut agaknya kurang mengena. Acara nonton bersama yang diadakan usai dua buah ceramah, membuat tayangan film Laskar Pelangi baru diputar ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun acara ceramah itu sendiri banyak diminati oleh masyarakat karena kualitas ceramahnya yang cukup bagus, memasyarakat, dan disampaikan dengan tidak membosankan, namun malam yang cukup larut tak cukup membuat kebanyakan dari masyarakat bertahan untuk menuruti antusias mereka menyaksikan film Laskar Pelangi yang juga cukup mereka tunggu-tunggu.

Contohnya saja Dian, seorang gadis cilik yang kini sudah duduk di kelas 5 SDN Kedungkumpul 02 yang pada awalnya begitu antusias untuk terus bertahan menonton. Bahkan ketika teman-temannya banyak yang memilih untuk pulang karena tak kuasa lagi menahan kantuk, Dian masih bergeming di kursinya. Ketika serangan kantuk makin menjadi, Dian pun beranjak duduk mendekati ibunya. Namun masih dengan gaya duduk tegak menyaksikan film di hadapannya. Tak sampai satu jam sejak film itu diputar, tubuh Dian sudah ambruk tertidur di pangkuan sang ibu.

Dua Bulan Pesta Desa

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Jika Anda berpikir sebuah desa pastinya akan terasa hanya ramai oleh tingkah suara serangga, jangan bayangkan itu ada di Desa Kedungkumpul Lamongan pada bulan Juni dan Juli. Karena bisa jadi, malam-malam Anda setiap harinya akan penuh terdengar suara musik setiap kali Anda beranjak tidur hingga bangun di keesokan harinya.

Pasalnya di daerah tersebut memiliki tradisi untuk menyelenggarakan pesta dan membuat keramaian hingga berhari-hari lamanya. Mulai dari pernikahan, sunat, aqiqah, hingga tujuh bulanan ibu hamil tak cukup hanya berupa resepsi satu hari saja.

Selalu saja akan ada keramaian di malam hari hingga dini hari jika sebuah keluarga memiliki hajatan. Kalau tidak wayang kulit, atau bisa jadi panggung orkestra. Bahkan jika dulu, ada juga yang menayangkan layar tancap sebagai pelengkap kemeriahan pesta.

“Soalnya bulan-bulan gini ini waktunya orang kebanyakan musim panen, Mbak. Makanya kalau buat pesta, pasti kebanyakan sekitaran bukan-bulan Juni atau Juli,” ujar adik ipar saya menerangkan.

Saya sendiri yang kebetulan kali kemarin ikut ke rumah adik ipar saya tersebut hanya bisa tak habis-habisnya keheranan akan tradisi tersebut. Yah meksipun unik bagi saya, tapi memang itulah tradisi desa yang masih bertahan dan membuat mereka tetap terikat dalam tradisi kekeluargaan.

Misalnya saja acara nujuh bulan kehamilan adik ipar saya yang rencananya akan dibuat besar. Bagi keluarga kami, rasanya janggal kala mendengar hal tersebut. Namun, ternyata memang begitulah budayanya. Acara nujuh bulan tidak hanya sekedar hajatan biasa. Ya ada undangan, sound system yang dipesan, sampai pengajian akbar.

Acara yang sedianya diadakan berbarengan dengan baksos RS Muhammadiyah itupun urung. Bukan saja karena kebetulan tempatnya yang berhadap-hadapan antara rumah keluarga adik  ipar saya dengan tempat baksos yang malam harinya juga ndilalah mengadakan pengajian akbar. Akan tetapi, acara nujuh bulan itu ditunda karena banyak dari keluarga adik ipar saya yang tidak bisa membantu dan harus menjadi panitia acara baksos.

Yah, meski budaya pestanya itu yang membuat saya takjub, tapi saya tetap salut dengan sistem kekeluargaan mereka yang akan berkumpul di satu tempat jika tempat tersebut kebetulan sedang mengadakan hajatan. Sangat berbeda bukan dengan di kota yang untuk setiap hajatan kini dapat mudah dilakukan dengan memesan segala sesuatunya kepada orang lain untuk diurus?

Semuanya Terjadi di Facebook

“Berawal dari Facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba. Bekas kekasih lama yang hilang, satu dari kekasih yang terbaik. Hm…”

Tahu lagu Gigi yang berjudul ‘My Facebook’ itu? Hehehe… sebetulnya sih nggak tepat seperti itu juga cerita yang saya alami. Cuma memang saya akui, sejak ikutan Facebook sekitar akhir tahun lalu, banyak hal yang menyangkut urusan pertemanan bisa saya dapatkan dari situs jejaring sosial itu.

– Melancarkan cara berkomunikasi untuk menolong orang lain

Ini yang jadi satu dari sekian pengalaman mengesankan saya tentang Fb. Gara-gara Fb yang lencananya bisa saya pajang di blog saya, saya jadi bisa menolong beberapa orang yang awalnya ingin mencari informasi dan kemudian nyasar ke blog saya.

Yang paling banyak sih urusan EO! Hehehe… meski kadang, banyak orang yang menyasar ingin berkenalan dengan saya karena dikiran saya yang punya EO!

Cuma, pernah ada dua kali saya benar-benar merasa senang karena bisa menolong orang lain melalui Fb. Misalnya suatu ketika, saya jadi bisa membagi tips tentang tehnik kepenulisan. Atau, memberi tahu seorang siswa yang ingin tahu bagaimana caranya mengadakan acara di Arboretum Batu. Sempat chatting melalui Fb, saya jadi bisa menolong siswa asal Malang tersebut untuk memberi tahu bagaimana cara detail dan ke mana saja ia bisa menghubungi pihak-pihak yang terkait tentang tempat tersebut.

– Berkomunikasi dengan penulis pujaan

Suatu ketika saya terkejut saat mengetahui bahwasanya pemenang ke dua Sayembara Cerber Femina 2008 adalah seorang wanita yang berasal dari Tanjungpinang. Iseng-iseng mencari di Fb, saya pun akhirnya menemukan si pemilik Fb tersebut. Akhirnya melalui Fb, saya jadi bisa menimba ilmu tentang kepenulisan dengannya.

– Ketemu lagi dengan dua orang teman yang tidak pernah bertemu selama 17 tahun

Meski cuma Femi dan Lia dua orang itu saja teman masa kecil saya ketika di Bekasi, tapi setidaknya dari mereka saya jadi bisa tahu cerita yang pernah dan sedang terjadi di sekitar rumah saya dulu, tetangga dan juga teman-teman saya. Misalnya ketika membuka Fb teman saya Lia, saya jadi tahu seperti apa rupa Bapak dan Ibu serta saudara-saudara Lia sekarang. Lumayanlah, menghapus rasa kangen setelah 17 tahun kami tidak pernah bertemu sua!

– Tetap berkomunikasi dengan teman dan anak-anak mantan mahasiswa saya di Batam

Si X sedang jadian sama si Y, si A lagi marah-marah sama si B, dan segala macam kabar anak mahasiswa saya terkadang bisa saya ketahui dari FB. Mereka pun sering juga untuk mampir di Fb saya hanya untuk sekedar menyapa. Kalau nggak mereka yang mengusili Fb saya, ganti sayalah yang sering juga mengusili Fb mereka! Hehehe…

Saya pun bisa mengetahui bagaimana serunya acara jalan-jalan matakuliah Kewarganegaraan anak-anak mahasiswa saya ke Camp Vietnam yang ada di Pulau Galang. Dulunya, memang sayalah yang membuat SAP-nya dengan mengadakan acara ‘jalan-jalan’ tersebut. Alhamdulillah, ternyata SAP buatan saya itu berbuah manis untuk anak-anak mahasiswa saya dan juga beberapa teman-teman saya…

Atau, saya pun bisa tahu juga kabar tentang akan diadakannya acara trekking oleh Tribun Batam tempat saya bekerja dulu. Ini pun berawal dari foto-foto jadul yang masih sempat saya simpan tentang saya dan teman-teman di Tribun Batam (termasuk foto-foto trekking) yang kemudian membuat mereka terinspirasi untuk mengadakan acara itu kembali.

Untuk urusan foto-foto Tribun Batam, saya memang beruntung sempat mengamankan foto-foto itu sebelum saya cabut dari sana. Ternyata ketika sekarang saya dan beberapa teman-teman telah berubah kondisi, ada yang sudah cabut dari sana, atau ada juga yang masih tetap di sana, foto-foto itu bisa jadi ajang reuni bagi kami untuk mengingat masa lalu yang sangat menyenangkan. Meskipun ada juga sih yang sempat mengingatkan rasa tidak mengenakkannya!

– Menemukan mereka yang hampir tidak pernah berkomunikasi lagi

Beberapa teman yang dulu sempat menjadi teman-teman saya ketika SD hingga SMA (sayangnya teman-teman kuliah saya ke mana semua Fb-nya!), atau teman-teman yang sempat saya kenal ketika awal saya di Tribun Batam dan sempat tidak berkomunikasi sama sekali karena kehilangan kontak, bisa saya temukan baik sengaja maupun tidak di Facebook.    Untuk yang satu ini ngaku deh, pasti kebanyakan dari Anda mengalaminya juga kan?

Namun tentang satu hal ini, ada yang paling berkesan bagi saya. Ceritanya, saya masih menyimpan sebuah foto kenangan tentang saya dan 8 orang teman yang dulunya berangkat dari Jawa untuk menjadi reporter di Tribun Batam. Nah, satu per satu saya jadi bisa menemukan mereka melalui Facebook untuk melengkapi nama dari wajah-wajah yang terpampang dalam foto itu. Termasuk Aan, yang uniknya justru saya temukan dari Fb teman saya sewaktu SMP dulu. Setelah menemukan Aan, saya pun jadi tergerak untuk menemukan Daru, teman ex reporter Tribun Batam yang lainnya. Karena, memang hanya tinggal dia yang belum tertandai dalam foto itu.

Foto dan orang-orang yang di dalamnya itu sendiri punya kisah tersendiri di dalamnya. Ada yang pernah saling jatuh cinta, ada yang pernah berteman dan akhirnya bermusuhan sampai sekarang, dan ada yang awalnya saling curiga tapi justru jadi bersaudara hingga sekarang. Kalau tentang foto itu, saya hanya bisa berkomentar, “Teman, apapun yang pernah terjadi hingga sekarang, kita tetap teman yang pernah sama-sama makan duren bareng di Rusun Lancang Kuning Blok Putri!” Maksudnya, meskipun sekarang macam-macam model komunikasinya, aku dan mereka tetap orang-orang yang pernah berteman dan mengalami hidup susah dan senang bersama.

– Ketemu si cinta monyet

Ini yang paling lucu dari cerita Fb saya. Ceritanya suatu ketika, saya di-add oleh seseorang yang dulunya jadi orang yang paling saya musuhi karena aksi cinta monyetnya ke saya saat SD hingga SMP! Sempat senyum-senyum juga sih waktu melihat seseorang itu ada juga di Fb. Untungnya, saat ini ia sudah menikah dan kamipun sudah berkomunikasi dengan damai laiknya orang dewasa. Hehehe…

– Reuni SMA

Sebetulnya jika menemukan lagi teman-teman masa SMA saya dulu, jujur, saya kurang memiliki kesan apa-apa. Pasalnya, saya bukanlah orang gaul semasa itu dan kurang memiliki saat-saat indah seperti kata kebanyakan orang tentang SMA. Jadinya ketika di-add atau meng-add orang-orang yang disarankan untuk di-add oleh teman-teman saya, paling-paling saya hanya berujar, “Oo….” That’s it!

Namun pernah juga sih gara-gara Fb, teman-teman saya zaman SMA itu ingin berkumpul ketika ada dies natalis SMA saya dulu. Cuma entahlah kabar kemudiannya… Hm… buat saya kurang ada greget sih…

Nah, Anda punya cerita unik lainnya yang serupa atau berbeda dari saya? Yuk… kita cerita yuk di sini…

Keajaiban Celoteh Si Kecil

Ulah dan celoteh si kecil terkadang sering membuat siapapun tertakjub-takjub. Pasalnya, apa yang mereka lakukan sering dianggap tidak sesuai dengan umurnya. Tak ayal, itulah yang kemudian dianggap lucu oleh kita yang sudah merasa menjadi ‘orang besar’.

Saya sendiri punya beberapa cerita tentang celoteh dan ulah si kecil, bisa jadi sepupu saya sendiri, juga berasal dari anak-anak tetangga saya.

Konser ala Anak Tetangga

Inilah si kecil Arsa yang sejak difoto oleh saya, jadi nagih terus minta difoto euy!!!

Inilah si kecil Arsa yang sejak difoto oleh saya, jadi nagih terus minta difoto euy!!!

Ada satu hiburan yang paling saya sukai saat berada di rumah, yaitu mendengarkan Arsa, anak sebelah rumah saya yang hobi sekali ‘konser’ nonstop. Hehehe… bocah berumur sekitar tiga tahun ini memang hobi sekali menyanyi. Sebentar saja mendengarkan sebuah lagu, pasti tak lama kemudian ia akan terus menyanyikan bait dari bagian reff.

Lagu-lagu yang biasanya bagian reff-nya akan ia nyanyikan dengan berulang terus menerus misalnya lagu milik Ungu, Hijau Daun, Lucky Laki, dan Ta’ Gendong-nya Mbah Surip. Misalnya nih, habis mendengarkan lagu Ungu, Arsa pasti terus menerus berteriak bernyanyi sambil melulu menyanyi, “Pernahkah kau merasa…” Hanya itu!

Acara konser si Arsa ini bisa makin menjadi jika ia dalam kondisi tidak punya teman dan sendirian berada di teras rumahnya. Sudah deh, lagu apa saja bisa akan ia nyanyikan secara asal dengan suara melengkingnya, sedikit tidak berirama, dan bahkan bisa joget-joget sendirian.

Kalau menyanyikan lagu Lucky Laki, Bukan Supermen, Arsa bisa terus melafalkan, “Aku… bukanlah Supermen!” terus menerus, sambil sesekali dengan gaya satu kaki diangkat ke belakang dan satu tangan diangkat ke depan. Maksudnya sih, ingin meniru gaya Superman!

Nama Arsa sendiri yang saya tahu berasal dari bahasa Sansekerta, memang sebetulnya berarti kegembiraan. Apa yang diinginkan oleh kedua orangtuanya itupun sepertinya memang benar-benar mewujud pada diri Arsa. Si kecil ‘ucrit’ ini memang tidak pernah berhenti dari ulah yang bisa membuatnya gembira.

Pernah juga suatu ketika, Arsa diajak bermain di alun-alun di mana saat itu sedang terdapat latihan drum band. Atraksi drum band ini sendiri merupakan tontonan favori dari Arsa. Ketika suatu ketika ada drum yang menganggur, Arsa lalu mendekati drum itu dan memukul secara asal sambil berteriak-teriak menyanyi lantang dengan percaya dirinya!

Belum lagi jika ada pengamen atau topeng monyet yang kebetulan lewat di jalan gang rumah saya. Arsa pun bisa mengikuti si pengamen atau topeng monyet keliling ini hingga beralih ke jalan gang yang lain. Dengan adanya Arsa, si pengamen pun bisa punya teman ngamen yang ikutan menyanyi sekaligus menari-nari menemani si pengamen!

Si Kecil Rangga yang Hobi Celometan

Adek saya sedang memegangi Rangga yang hobinya 'pencilakan'!

Adek saya sedang memegangi Rangga yang hobinya 'pencilakan'!

Beda lagi dengan adik sepupu saya yang meskipun anaknya kecil mungil dan belum jelas bicara karena masih melewati usia dua tahun, tapi idenya jika berbicara, terkadang bisa membuat orang dewasa geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Misalnya nih saat seorang tamu pamit pulang dari rumah Mbah saya. “Udah ya Mbak aku pulang,” pamit sang tamu itu yang lalu disambut oleh Rangga dengan santainya, “Mongo monggo…” Kami semua yang mendengarnya pun cuma bisa melongo, tak menyangka Rangga justru bisa bicara seperti itu.

Atau saat ia sedang digendong ibunya, hobi celometan Rangga itu pun sampai membuat ibunya sendiri malu. Saat sedang bertemu dengan seseorang pria yang memang bertubuh gemuk dan besar, Rangga bisa dengan entengnya menyelutuk, “Whuik, gendute yeek…” Dan dengan malu, ibunya pun lantas spontan menutup mulut anaknya sambil berkali-kali meminta maaf kepada pria tersebut.

Demikian juga ketika ia bertemu dengan tetangganya yang memiliki nama Muslimin. Nah, Anda tahu sebutan muslimin muslimat yang merupakan sapaan di kalangan umat Islam kan? Dengan entengnya, si Rangga bisa memanggil nama tetangganya itu menjadi Muslimin Muslimat. Jadi setiap ada Muslimin lewat, Rangga pasti akan ramah menyapa, “Mucimin mucimat…”

Membuat Cerita Anak yang Bernilai Lebih

Saya tidak pernah bosan menyaksikan film kartun Monster Inc. Pun, film-film kartun lainnya atau film untuk anak-anak buatan AS. Pasalnya buat saya, cerita dari film-film tersebut begitu sarat makna. Meski identiknya film itu adalah untuk konsumsi anak-anak, tapi bagi saya, film-film itu punya arti lebih yang tidak hanya sekedar menghibur anak.

Ambillah contoh film Monster Inc. Di akhir cerita kita baru disadarkan bahwasanya membuat anak-anak tertawa itu lebih menghasilkan energi untuk kehidupan, daripada membuat anak-anak ketakutan akan monster. Analoginya, tangisan atau tawa anak-anak itu mampu menjadi sumber energi bagi kehidupan dunia monster. Namun teriakan tawa anak-anak, lebih dapat mampu mengisi tabung energi kehidupan dibandingkan teriakan tangisan.

Sungguh, menurut saya sebuah pemikiran yang sangat cemerlang untuk bisa menghasilkan sebuah ide cerita seperti dalam film tersebut. Ya itu tadi, meski awalnya untuk hiburan dengan tampilan visual yang mengasyikkan untuk dinikmati, namun tetap, unsur inti yaitu nilai-nilai yang bisa diserap oleh anak-anak itu disisipkan begitu halus dan mudah terserap oleh daya pikir anak-anak. Sementara seperti saya (yang tentu saja jelas bukanlah anak-anak lagi) hanya bisa terwah-wah saat menyadari nilai yang terkadang berbentuk filosofi dalam di dalam alur cerita film tersebut.

Film lainnya yang bisa diambil sebagai contoh adalah Chocolate Factory. Dengan tampilan visual dunia yang hampir terletak antah berantah namun mampu membuat imajinasi kita terkagum-kagum menyaksikannya, film ini justru sangat sarat disisipi nilai-nilai bagi anak dan bahkan orangtua.

Meski menurut saya, film ini sangat gamlang penyampaian pesannya. Misalnya untuk anak yang serakah dan selalu dituruti keinginannya. Dalam muatan nyanyian, si anak yang salah tersebut mendapat ganjaran dengan tersedot ke dalam lubang yang berujung pada tempat sampah. Pun di akhir cerita, ketidakmasukakalan itu nampak menambahi unsur bahwasanya yang salah, maka akan seperti itulah ganjaran yang akan diterimanya. Misalkan tubuh yang fatal menggelembung seperti bola.

Mengemas konsep dalam bentuk hiburan dengan menyisipkan nilai yang sangat berarti dalam sebuah cerita anak, bahkan memikirkan bagaimana anak tersebut berproses untuk memikirkannya, tentu saja bukanlah sebuah pekerjaan gampang bagi pembuat cerita anak.

Bagaimana dengan di dalam negeri sendiri? Sebetulnya kualitasnya pun bisa dibilang tidaklah mengecewakan. Meski terkadang dalam sebuah cerita, ada juga yang unsur happy endingnya begitu terlihat memihak tokoh protagonis tanpa terlebih dahulu membuat alur proses yang bisa dibilang, hei, manusia itu tidak 100 % sempurna lho!

Nah untuk para penulis cerita anak di Indonesia, kita jadi punya PR nih sebetulnya untuk meniru gaya para pembuat cerita asal luar negeri atau paling tidak makin meningkatkan kualitas cerita anak di dalam negeri. Bukannya sekarang masih dalam kualitas jelek. Justru saya pikir itu tidak juga kok. Jadi ayo, jangan mau kalah dong dengan para kreator cerita anak luar negeri yah…

Like Father, (not always) Like Son

“Ayah, kenapa sih Ayah nggak kerja yang di kantoran, pakai baju rapih, pakai sepatu gitu? Kenapa sih harus jadi bakul kelapa?!” protes Buyung, adik sepupu saya suatu ketika kepada ayahnya, Om Gito yang merupakan om saya.

Mendengar protes dari anaknya, om saya yang biasanya terkenal suka bercanda dan bicara ceplas ceplos, kali itu hanya bisa bersikap agak menunduk dengan mata yang agak berkaca-kaca memerah.

Fenomena seorang anak yang malu dengan profesi orangtuanya kadang kerap terjadi pada anak yang merasa orangtuanya tidak bekerja pada suatu kondisi yang menjadi kebanggaan di kalangan masyarakat kebanyakan. Jujur, saya sendiri dulu ketika remaja sempat juga mengalaminya.

Ceritanya ketika Ayah saya memutuskan keluar dari kerjanya di kantor Coca Cola sebagai seorang manajer, lalu memutuskan mencari nafkah dengan menjadi supir sebuah pick up, saya masuk dalam kategori anak yang hampir mirip seperti cerita sepupu saya tadi, Buyung. Malu saya rasakan, meski tidak selugas Buyung ketika berkomentar.

Secara psikologis, hal itu saya alami karena sejak lahir, saya terbiasa dikondisikan dalam sebuah kenyamanan, memiliki ayah yang bekerja di kantoran, dan kemudian harus menerima kenyataan jika profesi ayahnya adalah seorang sopir. Kejadian itu pun terus berlanjut hingga ibu saya sempat berdagang buah di pasar, sempat menjadi penjual sayur lalu beralih membuat dan menjual jajanan jepit dan rujak, dan kemudian berganti menjadi tukang jahit di sebuah rumah sakit, dan ayah saya yang kemudian menjadi pemasok semangka di pasar.

Fatal mungkin rasanya! Hingga saya lulus kuliah, saya mengalami rasa malu terhadap kondisi kedua orangtua saya yang notebene telah sangat berjuang membiayai pendidikan saya dan adik saya hingga kami berdua bisa lulus dari perguruan tinggi.

Sekarang ketika semua itu berlalu, ketika saya mulai berpikir justru apa yang dilakukan oleh kedua orangtua saya adalah hal yang ‘keren’, saat kemudian justru saya ingin memulai menjadi seorang wirausaha hingga bersedia menjadi pemulung atau mengikuti les jahit terlebih dahulu, saya menyadari satu hal. Rasa malu sebagai perwujudan dari psikologis saya itu terjadi tak lain karena kondisi sekitar yang tidak mengondisikan saya saat itu.

Bangga pada profesi dagang dan bahkan menciptakan rasa itu pada saya, anaknya, hingga menumbuhkan sikap untuk meniru atau mengikuti jejak orangtua, saat itu tidak dilakukan oleh kedua orangtua saya kepada saya.

“Belajarlah Nak, nggak usah bantu orangtua.” Atau, “Kamu besok harus kerja di kantoran, kalau bisa jadi PNS, itu hidupnya enak!” ucapan-ucapan seperti itulah yang justru sering saya dengar dari orangtua saya. Pun sampai ketika saya memutuskan untuk menjadi seorang wirausaha, kedua orangtua saya tetap tidak mendukung sama sekali dan tetap keukeuh menginginkan saya harus bekerja di luar rumah.

Demikian juga yang terjadi pada om saya dan anaknya, Buyung. Contoh saja ketika Buyung akan sekolah SMP dan meminta sepeda kayuh, om saya justru menawarkan sepeda motor Mega Pro-nya.

“Pakai itu saja Yung… Ntar bisa banyak cewek yang naksir sama kamu. Cewek mana sih yang nggak mau dibonceng pakai Mega Pro!” celoteh om saya. Namun tak lama kemudian, om saya pun menambahkan celotehannya sendiri. “Tapi entar nggonceng cewek, naik motor lewat, ayahnya lagi ngulitin kelapa. Mbok mbok mbok… anaknya siapa yang lewat?!” ujar om saya yang membuat saya dan Buyung jadi tertawa mendengarnya.

Jadi jika Anda ingin mendidik anak Anda agar kelak jadi pribadi yang tangguh, coba deh kenalkan dan dekatkan ia pada kondisi yang tidak mengenakkan. Atau paling tidak, kenalkan ia dengan profesi yang sedang Anda tekuni sekarang. Hal itu bisa membuatnya menjadi pribadi yang tidak gampang todong dan terima beres uang pemberian dari orangtua.

Terutama bagi Anda yang memiliki sebuah usaha dan merasa suatu saat kelak, anak-anak Andalah yang berhak mewarisi dan meneruskannya, cobalah untuk mengajaknya dan mengikutsertakannya dalam kerajaan bisnis Anda.

Hal ini sendiri sering saya amati dilakukan di kalangan masyarakat Tionghoa. Tentunya tak heran jika akhirnya banyak pengusaha yang justru berasal dari masyarakat Tionghoa. Dengan kultur seperti itu, sekalipun mereka akhirnya tidak mewarisi apa yang diusahakan oleh orangtuanya, mereka bisa menumbuhkan dan mengembangkan hal lain. Belum lagi mentalitasnya yang tahan banting karena memang mereka terbiasa untuk merasakan ‘tidak enak’ dalam kehidupan mereka yang sebetulnya bisa saja ‘enak’ ketika kecil.

Akhirnya ketika saya kemarin sempat mengajar Pengantar Ilmu Ekonomi di Politeknik Batam, meskipun kelas yang saya ajar adalah Jurusan Akuntansi, saya terbiasa mengajak mereka berkomunikasi dengan mengambil contoh usaha yang mungkin sedang dilakukan oleh orangtua mereka. Berkali-kali juga saya tekankan jika mereka tentunya suatu saat kelak, bisa jadi tidak akan berada dalam bidang yang sedang mereka pelajari saat ini.

Saya pikir, sudah waktunya deh Indonesia bangkit menjadi bangsa yang mandiri dan bisa berinisiatif atas nasibnya sendiri. Tentunya itu bisa terjadi dari hal yang kecil bukan?! :)