Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!

Berasnya Diganti Sebungkus Kerupuk

Serah terima beras

Gantinya kerupuk ya...

Gantinya kerupuk ya...

Serah terima beras

PKK, mendengar kata tersebut yang ada dalam bayangan saya adalah sekumpulan ibu-ibu, berbusana hijau-hijau mulai dari atasan hingga bawahannya, berkumpul dengan acara pembuka nyanyian khas ala ibu-ibu PKK, lalu acara diisi dengan pembicaraan yang bermuatan untuk kemajuan dan perkembangan para ibu-ibu PKK.

Namun tebakan saya agak meleset kali itu! Karena yang datang kemudian memang para ibu-ibu yang kesemuanya datang dengan sebuah tas jinjing berlabel nama masing-masing dan berisi sejumlah beras. Ketika sampai di rumah yang mengadakan acara PKK, beras itupun kemudian ditukar dengan sebungkus kerupuk. Lho kok?!

Hehehe… tapi demikianlah yang memang terjadi pada acara tingkepan atau selamatan untuk ibu hamil yang diadakan ibu mertua dari adik saya untuk adik ipar saya. Satu dari sekian acara yang merupakan bagian dari syukuran tersebut adalah undangan ibu-ibu PKK yang diadakan pada siang hari.

Tapi memang acara PKK ini sangat berbeda dengan yang selama ini ada. Tidak ada ibu-ibu yang datang dengan seragam hijau-hijau khas PKK. Mereka pun punya bawaan wajib yaitu beras satu tas serta sebuah buku kecil untuk tempat catatan setoran beras.

Ukuran beras yang dibawapun ada syaratnya. Sesampainya di tempat yang mengadakan acara PKK, beras yang dibawa para ibu-ibu tersebut akan dituang dalam sebuah takaran bermuatan 4 Kg. Di bawah takaran tersebut akan dihampar selembar karung untuk menadah sisa tumpahan beras.

Beras dari dalam tas akan dituang dalam wadah hingga melebihi jumlah takaran, diratakan dengan sebuah kayu hingga ukurannya pas sesuai dengan wadah takaran tersebut, dan beras yang berada dalam takaran akan dikumpulan dalam sebuah karung.

Sementara, beras yang tidak masuk takaran akan dikembalikan ke dalam tas si pembawa. Uniknya, satu takaran beras itu akan diganti dengan sebungkus kerupuk aneka rupa dari si tuan rumah alias si pemilik hajatan.

Tidak asal menyetor beras, para ibu-ibu yang membawa beras tersebut pun akan memberikan buku kecil catatannya kepada pihak pencatat. Isi buku itu sendiri berupa halaman-halaman yang tercatat nama-nama para peserta PKK yang tentu saja adalah para ibu-ibu. Satu orang, satu halaman.

Misalnya, jika PKK kemarin berlangsung di rumah Ibu Dasim, maka si pencatat akan mencari halaman bernama tersebut di buku si pembawa beras dan mencatat jumlah setoran beras yang diberikan berikut kapan penyetorannya.

Si tuan rumah sendiri punya sebuah buku catatan berukuran besar. Isinya, adalah dua buah halaman yang bertulis nama-nama dari tetangga-tetangganya yang menyetorkan beras. Jadi jika ada yang sudah atau belum untuk datang dan menyetor beras, si pencatat pun tahu siapa orangnya.

Dicatat dulu ya bukunya...

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

Dicatat dulu ya bukunya…

Sementara nasib buku kecil yang dibawa pembawa beras sedang dalam urusan pencatatan, pemiliknya akan dipersilakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang ada. Jika telah selesai, maka mereka pun dapat pulang. Hm… sebuah PKK yang unik bukan?!

Gotong Royong ala Desa

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

Begitulah enaknya hidup di desa. Ketika kita memiliki hajatan, cukuplah kita memikirkan segala keperluan selain urusan beras dan para pasukan pembantu masak hingga kebersihan.  Dari acara yang dilangsungkan ibu dari adik ipar saya kemarin saja saya melihat, ada dua setengah karung setinggi 1 meter yang penuh berisi beras kiriman dari para tetangganya.

Wah wah wah… sepertinya beras tersebut tidak habis hanya untuk acara selametan saja ya?! Berminggu-minggu sesudahnya pun rasanya beras itu tidak akan habis untuk dimakan satu keluarga sendiri!

Demikian juga untuk urusan masak atau kegiatan bersih-bersih lainnya. Si pemilik hajatan cukup tinggal berdiri untuk menyapa para pengunjung yang datang saja. Sedangkan urusan masak hingga pelayanan tamu akan dibantu oleh para anggota keluarga yang lain.

Itupun ada bagian-bagiannya sendiri lho! Mulai dari urusan membuat rujak, membuat ketan, memasak nasi, memasak gulai, sampai cuci piring, semua ada bagiannya masing-masing. Nah, menyenangkan bukan melihat gotong royong seperti itu?!

Tapi ternyata, tidak semua desa di tempat saya di Lamongan memiliki budaya seperti itu. Misalnya saja sebuah desa tempat om saya berada. Bahkan untuk urusan adanya warga yang meninggal, warga di desa itu justru datang untuk meminta makan. Tidak ada satu pun yang datang untuk membawa barang ala kadarnya. Selain itu, masyarakat di desa tersebut juga tidak memiliki budaya untuk mengucapkan terima kasih dalam bentuk perkataan saja ketika mereka telah ditolong orang lain.

Karena itulah, ketika saya melihat begitu kentalnya budaya gotong royong di desa tempat adik ipar saya, saya membatin, untung… sekali adik saya mendapatkan istri dari desa tersebut. Coba kalau dari desa seperti tempat om saya. Entah apa jadinya keluarga saya dibuat kaget akan perbedaan budaya tersebut!

Pesta Selamatan Ibu Hamil

Untuk urusan pesta atau perayaan, umumnya masyarakat akan membuat acara besar-besaran pada urusan pernikahan. Atau mungkin pesta dibuat ketika ada anak yang usai disunat. Namun di desa tempat adik ipar saya, selamatan ibu hamil atau yang sering disebut dengan tingkepan pun lumayan dibuat besar perayaannya.

Mulai dari siang, si pemilik hajatan akan mengundang ibu-ibu PKK untuk hadir berikut dengan acara arisan berasnya. Sore harinya, waktu untuk para undangan yang datang sekedarnya. Sementara itu malam harinya, giliran para bapak-bapak yang datang dengan membawa uang. Belum lagi adanya acara ceramah di kala habis Isya’. Pokoknya benar-benar seperti hajatan orang menikah saja rasanya!

Layar Tancap tanpa Proyektor

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Tidak ada suara bising proyektor yang memutar film. Namun kebisingan mesin diesel yang bersaing dengan suara film tetaplah ada. Pun, layar terkembang yang terikat pada dua buah ruas panjang bambu tertanam di tanah tempat orang menancapkan pandangan, tetaplah ada. Sehingga acara nonton bersama yang diadakan oleh RS Muhammadiyah Lamongan di halaman SDN Kedungkumpul 02 Sarirejo, Lamongan, Sabtu malam (18/7), dengan film Laskar Pelangi yang menjadi tontonan masyarakat desa itu, masih bisa disebut sebagai layar tancap.

Zaman sudahlah moderen. Keberadaan proyektor yang biasa digunakan untuk memutar rol pita film kini telah berganti dengan laptop tempat file film dimainkan dan infocus untuk memantulkan gambar dari laptop ke layar besar.

Namun tentu saja, karena ini bukanlah tayangan film berkualitas gedung bioskop, suara bising mesin pembangkit listrik dan sound system yang terkadang tak jelas memantulkan suara, membuat siapapun yang dulunya pernah mengetahui keberadaan layar tancap, merasa jika apa yang sedang ditontonnya saat itu adalah layar tancap yang tak jauh berbeda.

Misalnya saja seorang ibu yang asyik menonton film malam itu. Meski waktu sudahlah menjelang dini hari, ia masih asyik bertahan dengan beberapa teman-temannya.

“Nostalgia ta, nonton layar tancep?” celutuk seorang pemuda yang lewat di dekat si ibu tersebut.

“Iyo,” jawabnya sambil tersenyum dikulum. Ia lalu berujar kepada saya, jika dulu pernah ketika ia hamil tujuh bulan, ia pun pernah bersama teman-temannya berjalan jauh demi melihat layar tancap.

Pihak RS Muhammadiyah sendiri memang sengaja menyertakan acara nonton bersama film Laskar Pelangi dalam rangkaian acara baksos tahun ini. Tak lain, mereka ingin menumbuhkan jiwa sadar akan pentingnya arti pendidikan pada anak-anak di tempat itu. Apalagi kebetulan, dalam film tersebut, mengisahkan tentang sebuah SD Muhammadiyah, yang tentunya nama SD tersebut pas dengan misi organisasi Muhammadiyah.

Namun sayang, misi tersebut agaknya kurang mengena. Acara nonton bersama yang diadakan usai dua buah ceramah, membuat tayangan film Laskar Pelangi baru diputar ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun acara ceramah itu sendiri banyak diminati oleh masyarakat karena kualitas ceramahnya yang cukup bagus, memasyarakat, dan disampaikan dengan tidak membosankan, namun malam yang cukup larut tak cukup membuat kebanyakan dari masyarakat bertahan untuk menuruti antusias mereka menyaksikan film Laskar Pelangi yang juga cukup mereka tunggu-tunggu.

Contohnya saja Dian, seorang gadis cilik yang kini sudah duduk di kelas 5 SDN Kedungkumpul 02 yang pada awalnya begitu antusias untuk terus bertahan menonton. Bahkan ketika teman-temannya banyak yang memilih untuk pulang karena tak kuasa lagi menahan kantuk, Dian masih bergeming di kursinya. Ketika serangan kantuk makin menjadi, Dian pun beranjak duduk mendekati ibunya. Namun masih dengan gaya duduk tegak menyaksikan film di hadapannya. Tak sampai satu jam sejak film itu diputar, tubuh Dian sudah ambruk tertidur di pangkuan sang ibu.

Dua Bulan Pesta Desa

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Jika Anda berpikir sebuah desa pastinya akan terasa hanya ramai oleh tingkah suara serangga, jangan bayangkan itu ada di Desa Kedungkumpul Lamongan pada bulan Juni dan Juli. Karena bisa jadi, malam-malam Anda setiap harinya akan penuh terdengar suara musik setiap kali Anda beranjak tidur hingga bangun di keesokan harinya.

Pasalnya di daerah tersebut memiliki tradisi untuk menyelenggarakan pesta dan membuat keramaian hingga berhari-hari lamanya. Mulai dari pernikahan, sunat, aqiqah, hingga tujuh bulanan ibu hamil tak cukup hanya berupa resepsi satu hari saja.

Selalu saja akan ada keramaian di malam hari hingga dini hari jika sebuah keluarga memiliki hajatan. Kalau tidak wayang kulit, atau bisa jadi panggung orkestra. Bahkan jika dulu, ada juga yang menayangkan layar tancap sebagai pelengkap kemeriahan pesta.

“Soalnya bulan-bulan gini ini waktunya orang kebanyakan musim panen, Mbak. Makanya kalau buat pesta, pasti kebanyakan sekitaran bukan-bulan Juni atau Juli,” ujar adik ipar saya menerangkan.

Saya sendiri yang kebetulan kali kemarin ikut ke rumah adik ipar saya tersebut hanya bisa tak habis-habisnya keheranan akan tradisi tersebut. Yah meksipun unik bagi saya, tapi memang itulah tradisi desa yang masih bertahan dan membuat mereka tetap terikat dalam tradisi kekeluargaan.

Misalnya saja acara nujuh bulan kehamilan adik ipar saya yang rencananya akan dibuat besar. Bagi keluarga kami, rasanya janggal kala mendengar hal tersebut. Namun, ternyata memang begitulah budayanya. Acara nujuh bulan tidak hanya sekedar hajatan biasa. Ya ada undangan, sound system yang dipesan, sampai pengajian akbar.

Acara yang sedianya diadakan berbarengan dengan baksos RS Muhammadiyah itupun urung. Bukan saja karena kebetulan tempatnya yang berhadap-hadapan antara rumah keluarga adik  ipar saya dengan tempat baksos yang malam harinya juga ndilalah mengadakan pengajian akbar. Akan tetapi, acara nujuh bulan itu ditunda karena banyak dari keluarga adik ipar saya yang tidak bisa membantu dan harus menjadi panitia acara baksos.

Yah, meski budaya pestanya itu yang membuat saya takjub, tapi saya tetap salut dengan sistem kekeluargaan mereka yang akan berkumpul di satu tempat jika tempat tersebut kebetulan sedang mengadakan hajatan. Sangat berbeda bukan dengan di kota yang untuk setiap hajatan kini dapat mudah dilakukan dengan memesan segala sesuatunya kepada orang lain untuk diurus?

Semuanya Terjadi di Facebook

“Berawal dari Facebook baruku, kau datang dengan cara tiba-tiba. Bekas kekasih lama yang hilang, satu dari kekasih yang terbaik. Hm…”

Tahu lagu Gigi yang berjudul ‘My Facebook’ itu? Hehehe… sebetulnya sih nggak tepat seperti itu juga cerita yang saya alami. Cuma memang saya akui, sejak ikutan Facebook sekitar akhir tahun lalu, banyak hal yang menyangkut urusan pertemanan bisa saya dapatkan dari situs jejaring sosial itu.

– Melancarkan cara berkomunikasi untuk menolong orang lain

Ini yang jadi satu dari sekian pengalaman mengesankan saya tentang Fb. Gara-gara Fb yang lencananya bisa saya pajang di blog saya, saya jadi bisa menolong beberapa orang yang awalnya ingin mencari informasi dan kemudian nyasar ke blog saya.

Yang paling banyak sih urusan EO! Hehehe… meski kadang, banyak orang yang menyasar ingin berkenalan dengan saya karena dikiran saya yang punya EO!

Cuma, pernah ada dua kali saya benar-benar merasa senang karena bisa menolong orang lain melalui Fb. Misalnya suatu ketika, saya jadi bisa membagi tips tentang tehnik kepenulisan. Atau, memberi tahu seorang siswa yang ingin tahu bagaimana caranya mengadakan acara di Arboretum Batu. Sempat chatting melalui Fb, saya jadi bisa menolong siswa asal Malang tersebut untuk memberi tahu bagaimana cara detail dan ke mana saja ia bisa menghubungi pihak-pihak yang terkait tentang tempat tersebut.

– Berkomunikasi dengan penulis pujaan

Suatu ketika saya terkejut saat mengetahui bahwasanya pemenang ke dua Sayembara Cerber Femina 2008 adalah seorang wanita yang berasal dari Tanjungpinang. Iseng-iseng mencari di Fb, saya pun akhirnya menemukan si pemilik Fb tersebut. Akhirnya melalui Fb, saya jadi bisa menimba ilmu tentang kepenulisan dengannya.

– Ketemu lagi dengan dua orang teman yang tidak pernah bertemu selama 17 tahun

Meski cuma Femi dan Lia dua orang itu saja teman masa kecil saya ketika di Bekasi, tapi setidaknya dari mereka saya jadi bisa tahu cerita yang pernah dan sedang terjadi di sekitar rumah saya dulu, tetangga dan juga teman-teman saya. Misalnya ketika membuka Fb teman saya Lia, saya jadi tahu seperti apa rupa Bapak dan Ibu serta saudara-saudara Lia sekarang. Lumayanlah, menghapus rasa kangen setelah 17 tahun kami tidak pernah bertemu sua!

– Tetap berkomunikasi dengan teman dan anak-anak mantan mahasiswa saya di Batam

Si X sedang jadian sama si Y, si A lagi marah-marah sama si B, dan segala macam kabar anak mahasiswa saya terkadang bisa saya ketahui dari FB. Mereka pun sering juga untuk mampir di Fb saya hanya untuk sekedar menyapa. Kalau nggak mereka yang mengusili Fb saya, ganti sayalah yang sering juga mengusili Fb mereka! Hehehe…

Saya pun bisa mengetahui bagaimana serunya acara jalan-jalan matakuliah Kewarganegaraan anak-anak mahasiswa saya ke Camp Vietnam yang ada di Pulau Galang. Dulunya, memang sayalah yang membuat SAP-nya dengan mengadakan acara ‘jalan-jalan’ tersebut. Alhamdulillah, ternyata SAP buatan saya itu berbuah manis untuk anak-anak mahasiswa saya dan juga beberapa teman-teman saya…

Atau, saya pun bisa tahu juga kabar tentang akan diadakannya acara trekking oleh Tribun Batam tempat saya bekerja dulu. Ini pun berawal dari foto-foto jadul yang masih sempat saya simpan tentang saya dan teman-teman di Tribun Batam (termasuk foto-foto trekking) yang kemudian membuat mereka terinspirasi untuk mengadakan acara itu kembali.

Untuk urusan foto-foto Tribun Batam, saya memang beruntung sempat mengamankan foto-foto itu sebelum saya cabut dari sana. Ternyata ketika sekarang saya dan beberapa teman-teman telah berubah kondisi, ada yang sudah cabut dari sana, atau ada juga yang masih tetap di sana, foto-foto itu bisa jadi ajang reuni bagi kami untuk mengingat masa lalu yang sangat menyenangkan. Meskipun ada juga sih yang sempat mengingatkan rasa tidak mengenakkannya!

– Menemukan mereka yang hampir tidak pernah berkomunikasi lagi

Beberapa teman yang dulu sempat menjadi teman-teman saya ketika SD hingga SMA (sayangnya teman-teman kuliah saya ke mana semua Fb-nya!), atau teman-teman yang sempat saya kenal ketika awal saya di Tribun Batam dan sempat tidak berkomunikasi sama sekali karena kehilangan kontak, bisa saya temukan baik sengaja maupun tidak di Facebook.    Untuk yang satu ini ngaku deh, pasti kebanyakan dari Anda mengalaminya juga kan?

Namun tentang satu hal ini, ada yang paling berkesan bagi saya. Ceritanya, saya masih menyimpan sebuah foto kenangan tentang saya dan 8 orang teman yang dulunya berangkat dari Jawa untuk menjadi reporter di Tribun Batam. Nah, satu per satu saya jadi bisa menemukan mereka melalui Facebook untuk melengkapi nama dari wajah-wajah yang terpampang dalam foto itu. Termasuk Aan, yang uniknya justru saya temukan dari Fb teman saya sewaktu SMP dulu. Setelah menemukan Aan, saya pun jadi tergerak untuk menemukan Daru, teman ex reporter Tribun Batam yang lainnya. Karena, memang hanya tinggal dia yang belum tertandai dalam foto itu.

Foto dan orang-orang yang di dalamnya itu sendiri punya kisah tersendiri di dalamnya. Ada yang pernah saling jatuh cinta, ada yang pernah berteman dan akhirnya bermusuhan sampai sekarang, dan ada yang awalnya saling curiga tapi justru jadi bersaudara hingga sekarang. Kalau tentang foto itu, saya hanya bisa berkomentar, “Teman, apapun yang pernah terjadi hingga sekarang, kita tetap teman yang pernah sama-sama makan duren bareng di Rusun Lancang Kuning Blok Putri!” Maksudnya, meskipun sekarang macam-macam model komunikasinya, aku dan mereka tetap orang-orang yang pernah berteman dan mengalami hidup susah dan senang bersama.

– Ketemu si cinta monyet

Ini yang paling lucu dari cerita Fb saya. Ceritanya suatu ketika, saya di-add oleh seseorang yang dulunya jadi orang yang paling saya musuhi karena aksi cinta monyetnya ke saya saat SD hingga SMP! Sempat senyum-senyum juga sih waktu melihat seseorang itu ada juga di Fb. Untungnya, saat ini ia sudah menikah dan kamipun sudah berkomunikasi dengan damai laiknya orang dewasa. Hehehe…

– Reuni SMA

Sebetulnya jika menemukan lagi teman-teman masa SMA saya dulu, jujur, saya kurang memiliki kesan apa-apa. Pasalnya, saya bukanlah orang gaul semasa itu dan kurang memiliki saat-saat indah seperti kata kebanyakan orang tentang SMA. Jadinya ketika di-add atau meng-add orang-orang yang disarankan untuk di-add oleh teman-teman saya, paling-paling saya hanya berujar, “Oo….” That’s it!

Namun pernah juga sih gara-gara Fb, teman-teman saya zaman SMA itu ingin berkumpul ketika ada dies natalis SMA saya dulu. Cuma entahlah kabar kemudiannya… Hm… buat saya kurang ada greget sih…

Nah, Anda punya cerita unik lainnya yang serupa atau berbeda dari saya? Yuk… kita cerita yuk di sini…

Keajaiban Celoteh Si Kecil

Ulah dan celoteh si kecil terkadang sering membuat siapapun tertakjub-takjub. Pasalnya, apa yang mereka lakukan sering dianggap tidak sesuai dengan umurnya. Tak ayal, itulah yang kemudian dianggap lucu oleh kita yang sudah merasa menjadi ‘orang besar’.

Saya sendiri punya beberapa cerita tentang celoteh dan ulah si kecil, bisa jadi sepupu saya sendiri, juga berasal dari anak-anak tetangga saya.

Konser ala Anak Tetangga

Inilah si kecil Arsa yang sejak difoto oleh saya, jadi nagih terus minta difoto euy!!!

Inilah si kecil Arsa yang sejak difoto oleh saya, jadi nagih terus minta difoto euy!!!

Ada satu hiburan yang paling saya sukai saat berada di rumah, yaitu mendengarkan Arsa, anak sebelah rumah saya yang hobi sekali ‘konser’ nonstop. Hehehe… bocah berumur sekitar tiga tahun ini memang hobi sekali menyanyi. Sebentar saja mendengarkan sebuah lagu, pasti tak lama kemudian ia akan terus menyanyikan bait dari bagian reff.

Lagu-lagu yang biasanya bagian reff-nya akan ia nyanyikan dengan berulang terus menerus misalnya lagu milik Ungu, Hijau Daun, Lucky Laki, dan Ta’ Gendong-nya Mbah Surip. Misalnya nih, habis mendengarkan lagu Ungu, Arsa pasti terus menerus berteriak bernyanyi sambil melulu menyanyi, “Pernahkah kau merasa…” Hanya itu!

Acara konser si Arsa ini bisa makin menjadi jika ia dalam kondisi tidak punya teman dan sendirian berada di teras rumahnya. Sudah deh, lagu apa saja bisa akan ia nyanyikan secara asal dengan suara melengkingnya, sedikit tidak berirama, dan bahkan bisa joget-joget sendirian.

Kalau menyanyikan lagu Lucky Laki, Bukan Supermen, Arsa bisa terus melafalkan, “Aku… bukanlah Supermen!” terus menerus, sambil sesekali dengan gaya satu kaki diangkat ke belakang dan satu tangan diangkat ke depan. Maksudnya sih, ingin meniru gaya Superman!

Nama Arsa sendiri yang saya tahu berasal dari bahasa Sansekerta, memang sebetulnya berarti kegembiraan. Apa yang diinginkan oleh kedua orangtuanya itupun sepertinya memang benar-benar mewujud pada diri Arsa. Si kecil ‘ucrit’ ini memang tidak pernah berhenti dari ulah yang bisa membuatnya gembira.

Pernah juga suatu ketika, Arsa diajak bermain di alun-alun di mana saat itu sedang terdapat latihan drum band. Atraksi drum band ini sendiri merupakan tontonan favori dari Arsa. Ketika suatu ketika ada drum yang menganggur, Arsa lalu mendekati drum itu dan memukul secara asal sambil berteriak-teriak menyanyi lantang dengan percaya dirinya!

Belum lagi jika ada pengamen atau topeng monyet yang kebetulan lewat di jalan gang rumah saya. Arsa pun bisa mengikuti si pengamen atau topeng monyet keliling ini hingga beralih ke jalan gang yang lain. Dengan adanya Arsa, si pengamen pun bisa punya teman ngamen yang ikutan menyanyi sekaligus menari-nari menemani si pengamen!

Si Kecil Rangga yang Hobi Celometan

Adek saya sedang memegangi Rangga yang hobinya 'pencilakan'!

Adek saya sedang memegangi Rangga yang hobinya 'pencilakan'!

Beda lagi dengan adik sepupu saya yang meskipun anaknya kecil mungil dan belum jelas bicara karena masih melewati usia dua tahun, tapi idenya jika berbicara, terkadang bisa membuat orang dewasa geleng-geleng kepala tak habis pikir.

Misalnya nih saat seorang tamu pamit pulang dari rumah Mbah saya. “Udah ya Mbak aku pulang,” pamit sang tamu itu yang lalu disambut oleh Rangga dengan santainya, “Mongo monggo…” Kami semua yang mendengarnya pun cuma bisa melongo, tak menyangka Rangga justru bisa bicara seperti itu.

Atau saat ia sedang digendong ibunya, hobi celometan Rangga itu pun sampai membuat ibunya sendiri malu. Saat sedang bertemu dengan seseorang pria yang memang bertubuh gemuk dan besar, Rangga bisa dengan entengnya menyelutuk, “Whuik, gendute yeek…” Dan dengan malu, ibunya pun lantas spontan menutup mulut anaknya sambil berkali-kali meminta maaf kepada pria tersebut.

Demikian juga ketika ia bertemu dengan tetangganya yang memiliki nama Muslimin. Nah, Anda tahu sebutan muslimin muslimat yang merupakan sapaan di kalangan umat Islam kan? Dengan entengnya, si Rangga bisa memanggil nama tetangganya itu menjadi Muslimin Muslimat. Jadi setiap ada Muslimin lewat, Rangga pasti akan ramah menyapa, “Mucimin mucimat…”

Membuat Cerita Anak yang Bernilai Lebih

Saya tidak pernah bosan menyaksikan film kartun Monster Inc. Pun, film-film kartun lainnya atau film untuk anak-anak buatan AS. Pasalnya buat saya, cerita dari film-film tersebut begitu sarat makna. Meski identiknya film itu adalah untuk konsumsi anak-anak, tapi bagi saya, film-film itu punya arti lebih yang tidak hanya sekedar menghibur anak.

Ambillah contoh film Monster Inc. Di akhir cerita kita baru disadarkan bahwasanya membuat anak-anak tertawa itu lebih menghasilkan energi untuk kehidupan, daripada membuat anak-anak ketakutan akan monster. Analoginya, tangisan atau tawa anak-anak itu mampu menjadi sumber energi bagi kehidupan dunia monster. Namun teriakan tawa anak-anak, lebih dapat mampu mengisi tabung energi kehidupan dibandingkan teriakan tangisan.

Sungguh, menurut saya sebuah pemikiran yang sangat cemerlang untuk bisa menghasilkan sebuah ide cerita seperti dalam film tersebut. Ya itu tadi, meski awalnya untuk hiburan dengan tampilan visual yang mengasyikkan untuk dinikmati, namun tetap, unsur inti yaitu nilai-nilai yang bisa diserap oleh anak-anak itu disisipkan begitu halus dan mudah terserap oleh daya pikir anak-anak. Sementara seperti saya (yang tentu saja jelas bukanlah anak-anak lagi) hanya bisa terwah-wah saat menyadari nilai yang terkadang berbentuk filosofi dalam di dalam alur cerita film tersebut.

Film lainnya yang bisa diambil sebagai contoh adalah Chocolate Factory. Dengan tampilan visual dunia yang hampir terletak antah berantah namun mampu membuat imajinasi kita terkagum-kagum menyaksikannya, film ini justru sangat sarat disisipi nilai-nilai bagi anak dan bahkan orangtua.

Meski menurut saya, film ini sangat gamlang penyampaian pesannya. Misalnya untuk anak yang serakah dan selalu dituruti keinginannya. Dalam muatan nyanyian, si anak yang salah tersebut mendapat ganjaran dengan tersedot ke dalam lubang yang berujung pada tempat sampah. Pun di akhir cerita, ketidakmasukakalan itu nampak menambahi unsur bahwasanya yang salah, maka akan seperti itulah ganjaran yang akan diterimanya. Misalkan tubuh yang fatal menggelembung seperti bola.

Mengemas konsep dalam bentuk hiburan dengan menyisipkan nilai yang sangat berarti dalam sebuah cerita anak, bahkan memikirkan bagaimana anak tersebut berproses untuk memikirkannya, tentu saja bukanlah sebuah pekerjaan gampang bagi pembuat cerita anak.

Bagaimana dengan di dalam negeri sendiri? Sebetulnya kualitasnya pun bisa dibilang tidaklah mengecewakan. Meski terkadang dalam sebuah cerita, ada juga yang unsur happy endingnya begitu terlihat memihak tokoh protagonis tanpa terlebih dahulu membuat alur proses yang bisa dibilang, hei, manusia itu tidak 100 % sempurna lho!

Nah untuk para penulis cerita anak di Indonesia, kita jadi punya PR nih sebetulnya untuk meniru gaya para pembuat cerita asal luar negeri atau paling tidak makin meningkatkan kualitas cerita anak di dalam negeri. Bukannya sekarang masih dalam kualitas jelek. Justru saya pikir itu tidak juga kok. Jadi ayo, jangan mau kalah dong dengan para kreator cerita anak luar negeri yah…