Guru Berkualitas Itu Lahir dari UT

IMG-20160818-WA0001

Saya mengamati foto yang dipasang Epen, adik ipar saya pada foto profil BB-nya.

Di foto itu, terlihat gambar beberapa anak yang sedang bermain cublak-cublak suweng, sebuah permaian tradisional.

Di lain waktu, Epen menunjukkan foto aktivitas murid-muridnya di Facebooknya lagi. Kali ini, mereka sedang berjalan-jalan dengan latar pemandangan sawah.

“Enak banget ya, jadi muridnya Epen!” batin saya.

Dulu, sebetulnya saya kerap berpikir sebelah mata tentang kualitas pendidikan anak-anak yang tidak bersekolah di kota.

Tapi dari foto-foto Epen, saya melihat sisi yang berbeda. Meski ia mengajar di TK yang bukan berada di kota, namun kegiatannya tidaklah sembarangan.

 

Lulusan mana sih?

 Pertanyaannya mirip iklan ya? Tapi emang sih seringnya, pertanyaan ini kerap muncul untuk memenuhi rasa penasaran, mengapa seseorang bisa bekerja dengan cara-cara tertentu.

Yuk, saya cerita sekilas tentang Epen, seorang guru TK di sebuah daerah di Lamongan.

12039516_1154585777889307_6783657905086921048_n

Sebetulnya apa yang dialami Epen agak mirip dengan kebanyakan fenomena guru lembaga pendidikan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Sekitar tahun 2005, Epen bergabung menjadi tenaga pengajar di sebuah TK. Waktu itu status pendidikannya masih lulusan SMA.

Seiring waktu, tentunya ada tuntutan dari pihak Dinas Pendidikan tentang standar tenaga pendidik. Lagi pula jika hanya mengandalkan ijazah SMA, tentunya tidak ada tunjangan sertifikasi yang bisa didapat.

Di titik ini, masih cerita Epen seperti kebanyakan tenaga pendidik lainnya.

Lalu keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jejang S1 lah yang mulai membedakannya.

Epen sengaja mengambil kuliah di Universitas Terbuka (UT), bukan di lembaga pendidikan lain yang menawarkan pendidikan berikut ijazah S1 guru PAUD.

 

Ada beberapa alasan mengapa UT berbeda dengan kampus lain. Dan alasan inilah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan Epen.

  1. UT adalah kampus negeri

Di kebanyakan tempat, status negeri atau tidak berikut akreditasinya apa, kerap menjadi penilaian bagi kebanyakan orang.

Stigma yang sering ada, biasanya tuh kalau kampusnya negeri, ya kualitasnya bagus.

Dan memang kenyataannya, UT diakui secara akreditasi bahkan peringkatnya bersaing dengan kampus-kampus negeri tersohor seperti UI atau UGM.

Bagi Epen sendiri, keberadaan UT yang kampus negeri ini terlihat akan memudahkannya dalam mengurus berbagai hal terkait profesinya sebagai pengajar.

Nggak perlu lagi ada pertanyaan atau kesangsian dari berbagai pihak jika Epen melampirkan ijazahnya yang keluar dari UT saat mengurus berkas sertifikasi.

  1. Benar-benar dapat ilmu yang berkualitas di UT

Sebelum memilih UT, Epen memang mencari informasi dulu perihal kualitas pendidikan yang akan dipilihnya. Ia tidak mau asal.

Kebetulan, pihak dinas Kecamatan Kembangbahu yang merupakan daerah domisili Epen serta sekolah tempatnya mengajar, di suatu ketika mengumumkan informasi UT yang membuka kelas untuk guru PAUD.

Epen membandingkan dengan kampus lain hingga akhirnya pilihannya jatuh di UT.

Benar saja, menurut Epen, kuliah di UT memang tidak asal-asalan kuliah.

Mulai dari sesi pertemuan dengan dosen, bahan-bahan kuliah yang dibagikan, praktek mengajar, dan sebagainya, menjadi sumber ilmu yang bernilai buat Epen.

“Kalau dulu ngajar ya ngajar, Mbak. Tapi sejak kuliah, jadi tahu ilmunya,” tutur Epen ke saya.

Ada yang paling membuat Epen terkesan. Yaitu, saat ia dan mahasiswa yang lain diminta membuat lagu untuk mengajar ke anak-anak.

Biasanya dan sebelumnya, ia hanya menggunakan lagu-lagu yang sudah ada atau dari orang lain.

Tapi karena di UT ia diminta seperti itu, ilmu itu pun akhirnya kerap berguna saat ia menghadapi anak-anaknya di sekolah.

“Misalnya Mbak, hari ini aku bikin lagu tentang kucing. Nanti pas di sekolah, ada anak yang suka burung terus minta dibikinkan lagu tentang burung. Gitu itu ya aku bikin lagi.”

Tak heran, ketika diminta membuat portofolio, Epen bisa membuat sebuah portofolio yang tebal.

Satu di antara beberapa hal yang membuat portofolionya tebal adalah keberadaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Buat Epen, ia terbiasa membuat itu sendiri. Nggak ada yang namanya copas sana sini lho ya.

Dan ilmunya dari mana lagi kalau tidak dari UT tempatnya kuliah.

Satu lagi cerita tentang UT yang membuat Epen terkesan adalah saat ujian. Di tempat lain, mungkin peluang untuk sontek-menyontek itu ada. Di UT?

“Wong ujian aja kadang pengawasnya dari Jakarta, Mbak. Pakai dishooting segala!”

  1. Bisa dilakukan sambil tetap mengajar

Untuk sesi pertemuan dengan dosen, kelas yang ditempuh Epen bisa ia lakukan cukup di Lamongan saja. Tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya, misalnya.

Meski begitu, dosennya tidak sembarangan. Menurut Epen, sesekali ia kedatangan pengajar dari Jakarta juga.

Sesi kuliah ini berlangsung akhir minggu. Jadi di hari lain, Epen bisa tetap mengajar seperti biasanya.

Grafik kondisi mahasiswa di Universitas Terbuka. Mereka yang berprofesi sebagai guru banyak menjadi mahasiswa di UT. Demikian juga Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan menjadi fakultas yang paling banyak dipilih.Sedangkan untuk usia, yang menarik, banyak juga mahasiswa yang usianya di atas 40 tahun. Saya duga, ini berasal dari para guru yang sudah bertahun-tahun menekuni dunia pendidikan namun masih memiliki ijazah S1.

  1. Masuk gampang, keluar susah

Nah ini nih, ini yang paling-paling khas dari UT!

Konon katanya, sudah jadi hal yang umum kalau kuliah di UT itu sangat menuntut kualitas.

Pengajar dan kuliahnya tidak asal-asalan. Tentunya yang namanya tugas, ujian, hingga ujian akhir seperti skripnya pun tidak sembarangan.

Epen membenarkan hal itu. Katanya sih memang, dapat nilai A di UT itu bukan hal yang gampang.

Saking selektifnya proses perkuliahan yang menuntut standar kualitas, banyak teman-teman Epen yang memilih putus kuliah sebelum lulus.

Dari 24 orang di kelompoknya, tinggal 18 orang saja yang bertahan.

Kebanyakan, mereka yang memilih keluar adalah orang-orang yang kerap bingung dengan sistem di UT yang harus ini dan itu.

Tugas harus dikumpulkan seperti apa, mengurus administrasi perkuliahan harus seperti apa, dan sebagainya.

Tidak ada yang namanya bisa lobi ini itu terutama terkait deadline yang telah diputuskan dosen atau pihak UT.

Dari cerita Epen saya menyimpulkan, kalau kitanya kuliah di sana tapi seenaknya, ya alamat bye bye goodbye!

Saya langsung terbayang cerita bagaimana mahasiswa saya dulu atau cerita teman saya tentang mahasiswanya.

Telat mengumpulkan tugas, ngelobi. Nilai C karena akumulasi dari semau guenya mahasiswa yang bersangkutan selama perkuliahan, protes. Eh, ada juga lho yang sudah dapat B masih protes.

Apa kabarnya kalau mahasiswa kayak begitu kuliah di UT ya?

 

UT memang membuka peluang bagi para guru yang ingin meng-upgrade jenjang pendidikannya.

Informasi lengkapnya, bisa dibaca di sini untuk yang S1, dan di sini untuk yang S2.

Sayang, untuk S2-nya, hanya ada jurusan pendidikan matematika dan bahasa Inggris.

Saya yang lulusan Pendidikan Ekonomi, jadi nggak bisa nyambung ke tingkat S2 yang linier deh.

Hm, mungkin lain waktu saya coba saja ambil S2 Manajemen di UT. Kan enak tuh bisa kuliah S2 online di kampus negeri yang bonafide lagi statusnya.

Meski sekarang ini saya break dulu dari berkarir di luar rumah, tetap ada keinginan melanjutkan pendidikan dalam daftar target hidup saya.

 

Keberadaan UT yang membuka peluang jurusan terkait kependidikan ini tentunya punya arti besar bagi masa depan Indonesia.

Bermula dari titik pendidikan, UT yang menawarkan pendidikan berkualitas bisa mencetak guru yang juga berkualitas.

Yah, seperti cerita saya tentang Epen tadi.

Efeknya, ke anak didiknya. Tentu akan menjadi beda, anak-anak yang dikawal oleh tenaga pendidik berkualitas dengan yang asal-asalan.

Dari anak-anak masa depan bangsa yang mendapat pendidikan berkualitas, dari para guru yang mendapat ilmu untuk menunjang kemampuannya meningkatkan pendidikan berkualitas, dan dari UT yang telah empat windu memberi pendidikan berkulitas, semoga bangsa Indonesia bisa terus tumbuh dan menjadi besar.

 

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Universitas Terbuka

 

 

5 Hal Menyenangkan Ini Pernah Saya Alami Saat Lajang di Kala Lebaran

5 Hal Menyenangkan Ini.jpg

Jadi lajang di saat lebaran?

Bagi kebanyakan orang, apalagi perempuan berstatus lajang, rasanya begitu menyebalkan.

Ayo tebak karena apa?

Pasti deh, karena todongan pertanyaan dan cecaran pernyataan tentang kenapa kok masih melulu lajang.

Apalagi kalau kitanya sudah berusia di atas 25 tahun. Lebih ngegemesin lagi malah saat di atas 30 tahun.

Ngaku deh, pasti yang namanya lebaran itu rasanya pengen dilalui di rumah saja.

Pasalnya kalau bersilaturahmi dengan yang lain, kebanyakan selalu ketemu orang-orang yang begitu peduli dengan status lajang kita.

Hehe, soalnya yang nulis tulisan ini pernah juga mengalaminya. Sampai usia 32 tahun euy dapat perhatian berupa teror yang mengutak-atik status kelajangan saya.

Tapi, saya pernah kok mengalami masa-masa lajang tapi terasa menyenangkan di waktu lebaran.

Padahal, waktu itu kondisinya saya hidup di rantau dan jauh dari orangtua. Saya tinggal di Batam, orangtua tinggal di Jawa.

Ditambah lagi, saat itu saya juga harus tetap kerja di kala lebaran. Yah, namanya saja kerja jadi reporter. Jadinya ya tuntutan profesi deh.

Awal-awalnya sih ya kangen keluarga banget. Tapi setelahnya, eh… yang ada malah lupa!

Mau tahu hal mengasyikkan apa saja yang saya pernah alami?

  • Ikut takbiran keliling

Kegiatan takbiran keliling di Batam menjadi agenda tahunan yang bahkan dilombakan. Jadi mobil yang ikut penjurian, akan dihias secantik mungkin.

Kesannya, mirip pawai keliling tujun belasan. Karena malam, saya sendiri sih jadi dejavu kayak malam tahun baruan waktu kecil di Jakarta. Meriah!

Bersama teman-teman yang kebanyakan cowok, saya ikut takbiran keliling di mobil bak terbuka.

Tapi karena saya dan teman-teman cuma ikut menambah kemeriahan saja, mobil kami hanya dibiarkan tanpa hiasan dan ikut di barisan belakang.

Sedangkan saya sebagai reporter, takbiran dengan misi ganda: meliput kegiatan takbiran!

Yah, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui kan? Niatnya takbiran, kerjaan juga dapat deh!

Nah, hal yang paling seru waktu takbiran keliling itu adalah saat harus mengikuti arak-arakan mobil peserta takbiran.

Seringkali, mobil kami kehilangan arah. Saat sedang mencari-cari arah peserta takbiran, kami yang salah arah ini malah jadi patokan beberapa kendaraan yang lain.

Sebetulnya kendaraan ini juga bukan peserta, hanya ikut takbiran keliling saja. Jadilah mobil kami dan beberapa mobil yang lain salah jalan berjamaah!😀

Di lain waktu, kejadiannya juga pernah terbalik.

Kami mencoba ikut mobil yang terlihat berhias pernak-pernik. Dugaan kami, ini pasti juga mobil peserta. Jadilah kami ikuti mereka.

Eh, ndilalah itu mobil salah arah. Kami yang di belakangnya, serta beberapa mobil yang lain jadi ikut salah arah juga!

  • Konvoi silaturahmi keliling bersama teman, ke rumah teman

Kelar urusan shalat Id, sedikit memantau untuk bahan berita, biasanya saya dan teman-teman janjian kumpul. Agendanya, konvoi silaturahmi keliling.

Kebetulan saat merantau, tinggal, dan kerja di Batam, saya juga memiliki teman-teman yang nasibnya sama: lajang, perantau, kerja di media, dan tinggal di rusun. Klop, deh!

Nasib kami rata-rata seragam: nggak punya keluarga yang bisa dikunjungi silaturahmi, juga nggak punya makanan khas lebaran di rumah. Sampai-sampai jajanan toplesan pun kami tidak punya, lho!

Waktu itu kebanyakan dari kami memang tinggal di Rusun Jamsostek yang ada di Batuampar. Setelah shalat dan liputan, kami lalu berkumpul di depan kamar salah satu dari kami.

Agendanya ya tentu seperti laiknya sebuah keluarga, salim-saliman dulu dong antarsesama kita.

4234_1155460959402_6805024_n
Foto bersama dulu sebelum konvoi silaturahmi

Setelah itu, barulah kami menentukan rute yang akan kami lewati. Ada daftarnya tuh, rumah siapa saja, dan di mana saja.

Tujuan yang kami tuju sebetulnya ya teman-teman kerja kami juga. Tapi, mereka sudah punya rumah sendiri dan juga keluarga.

Setelah itu, kami pun mulai melakukan persiapan. Yang disiapkan tentu saja kendaraan untuk keliling, plus rantang atau tempat makanan.

Pasti bingung deh. Apa urusan tuh rantang kok jadi penting sekali untuk disiapkan?

Jadi ceritanya di setiap kami berkunjung, sering dan hampir selalu dapat todongan HARUS MAKAN.

Kalau tidak, alamat dapat kata-kata, “Nanti kempunan, lho!”

Saya sebetulnya tidak tahu pasti juga arti dari kempunan. Tapi dari hasil tanya sana-sini, sebetulnya kempunan itu 11-12 dengan istilah pamali.

Nah, rezeki kan nggak boleh ditolak tho? Jadi ya harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. *apasih?

Caranya tentu saja, dengan menyediakan alat penampungnya yaitu tempat makanan.

Jadi kalau sekiranya di rumah yang didatangi itu kita ingin mencoba makanannya, ya dimakan. Kalau tidak, tampung deh ke rantang yang sudah disiapkan.

Tak hanya makanan berat, camilan pun tak luput dari sasaran kami. Pulang-pulang, jadilah kami OKB. Orang Kaya Baru… dapat makanan!😀

  • Dapat angpao lebaran

Siapa bilang lajang di saat lebaran itu mengenaskan?

Saya dan beberapa teman pernah lho dapat rezeki gara-gara status lajang.

Awalnya kami tidak tahu, kalau di beberapa orang dalam masyarakat Melayu, punya tradisi memberikan angpao kepada orang lajang.

Jadi nggak hanya anak kecil saja lho yang dapat angpao. Kita-kita yang udah gede, umur di atas 20 tahun, ternyata bisa kebagian juga.

kad-raya-2012.jpg
Waktu itu kira-kira angpaonya selucu ini gambarnya, kartu dengan kata-kata khas bahasa Malaysia.

Saya sendiri punya pengalaman mendapat angpao dua kali. Satu dari narasumber, yang satu lagi dari seorang teman etnis Melayu yang tinggal di Singapura.

Kalau yang dari narasumber, ceritanya waktu itu agak alot.

Kan sudah jadi hal paten tuh, kalau yang namanya reporter nggak boleh dapat amplop dari narasumber.

Sedangkan saat sedang berkunjung dengan seorang teman ke seorang narasumber di Tanjungpinang, kami diberi angpao oleh mereka.

Akhirnya kami coba untuk mengembalikannya. Eh yang ada, kami malah diancam akan nggak diperbolehkan lagi meliput ke tempat mereka.

Tapi mereka juga memberitahu, kalau sebenarnya itu adalah adat Melayu. Malah kalau nggak diterima, bisa-bisa kena apa gitu istilahnya.

Jadilah saya dan teman menerima angpao tersebut.

Sepulang dari sana, kami lalu bisik-bisik. Enak banget ya ternyata jadi lajang pas lebaran di tanah Melayu.

  • Jalan-jalan bersama teman

Kalau agenda liputan ini itu sudah kelar, daftar orang-orang yang harus dikunjungi sudah beres, saya dan teman-teman kerja di sana waktu itu mengisi waktu libur dengan liburan.

Ya iyes, tentu dong kami ingin seperti mereka yang liburan dengan keluarganya masing-masing.

Waktu itu saya dan teman-teman pernah memutuskan untuk berlibur ke Sekilak dan juga ke pantai di Bintan rame-rame.

4234_1155467879575_805276_n.jpg
Rame-rame ke Sekilak

Saat pengunjung yang lain datang dengan keluarganya masing-masing, kami pun datang dengan keluarga seperantauan kami.

Nggak tanggung-tanggung, kami ada berbelasan orang yang datang ke sana.

Jadi rasanya kayak rekreasi kantor gitu.

Saat-saat seperti itu, sering saya kenang hingga saat ini.

Ya, meski hidup kami jauh dari keluarga, tapi kami seperti tidak kesepian. Teman-teman seperantauan itulah keluarga kami di sana.

  • Ke luar negeri

Percaya nggak percaya, saya pernah lho memilih ke luar negeri dari pada pulang ke Jawa sewaktu lebaran.

Eit, jangan salah pikir. Gara-garanya, waktu itu jatah cuti tidak saya dapatkan di waktu lebaran.

Tentu saja sebagai reporter, kalau semua-semuanya minta cuti, lha siapa yang bagian meliput berita?

Selain itu, tentu semua orang tahu lah. Yang namanya tiket transportasi umum, apapun itu, harganya kan selangit waktu lebaran.

Apalagi ongkos pesawat PP Batam-Surabaya. Berapa jeti, oi?

Malah yang ada, biaya transportasi ke Singapura jauh lebih kecil dari pada dipakai buat pulang ke Jawa.

Jadilah waktu itu saya dan beberapa teman memutuskan pergi ke Singapura.

Agendanya, mengunjungi seorang teman yang tinggal di sana, berikut tentu saja, agenda jalan-jalan.

5080_1172373102195_4979006_n.jpg
Kalau waktu itu nggak ada acara kemalamam, pasti nggak bisa wefie kayak begini sama si Merlion

Nah, pas berkunjung ke rumah teman, seperti yang tadi saya sudah bilang, kami dapat angpao lajang.

Tentunya senang dong, pulang balik ke Batam dapat sangu dari dolar Singapura.

Sayangnya karena kemalaman saat harus balik ke Batam, kapal ferrynya penuh semua dan sudah di jam yang tidak beroperasi lagi, uang angpao itu akhirnya kami pakai untuk bayar penginapan semalam di Little India.

Hikmahnya, agenda jalan-jalan jadi makin bisa ke sana-sini. Niatnya cuma sehari di Singapura, eh jadinya dua hari satu malam.

Pulangnya, orangtua saya yang senewen. Pasalnya saya pamit telepon ke mereka kalau hanya sebentar ke Singapura.

Pas mereka telepon lagi, hp saya tidak aktif karena habis baterai.

Saat sudah sampai di Batam, hp bisa saya aktifkan lagi, jadilah dapat omelan dari ayah dan ibu.

Hehe, mungkin ayah dan ibu saya mikir begini kali ya… Nih anak jauh dari orangtua kok malah bahagia. Sementara orangtua yang di rumah kepikiran anaknya.

Tapi benar deh, kalau nggak ada teman di perantauan, mungkin saya akan melewati lebaran dengan rasa sedih nggak ketulungan.

Lha iya, sudah lajang, nggak punya saudara, sepi teman, gimana rasanya coba?

Alhamdulillah, saya malah pernah mengalami banyak hal menyenangkan saat menjadi lajang di kala lebaran.

Apalagi kalau bukan karena keberadaan teman senasib, seperjuangan, seperantauan…

 

 

* Tulisan in diikutsertakan dalam lomba CERIA “Cerita Lebaran Asyik” yang diadakan Diary Hijaber

Upcoming event dari Diary Hijaber

diaryhijaber.jpeg

Berasa di Film Upin Ipin

Berasa di Film Upin Ipin.jpg

Suara sirine mobil pemadam kebakaran terus meraung. Membuat siapapun penasaran, kira-kira di mana ya ada kebakaran?

Rasa ingin tahu itu juga ada dalam benak para guru, siswa, dan para pengajar berikut fotografer dan videografer dari Kelas Inspirasi 3 Lamongan yang sedang ada di SDN Tumenggungan 2. Saat mobil pemadam kebakaran lalu masuk ke halaman SD, senyum kecil bermunculan merekah di bibir setiap fasilitator Kelas Inspirasi.

“Surprise!” ujar Mbak Mardiana, koordinator fasilitator Kelas Inspirasi Kecamatan Lamongan dengan nada santai saat saya menunjukkan wajah bengong di depan pintu kelas 1.

Rupanya, diam-diam para fasilitator juga ingin memberikan inspirasi tentang profesi pemadam kebakaran di SDN Tumenggungan 2.

SAM_3264ok

“Wah, rugi kalau nggak masuk hari ini! Untung aku nggak jadi bolos,” celutuk seorang siswa. Ternyata, ia teringat temannya yang sengaja tidak masuk hari itu karena tahu akan tidak ada pelajaran di sekolah.

SAM_3273ok

Ya, hari Sabtu, 30 Januari 2016 lalu menjadi hari yang menyenangkan bagi anak-anak di SD tersebut. Keasyikan mereka dengan para petugas pemadam kebakaran membuat siapapun jadi teringat sebuah episode di film Ipin Upin.

Dengan jelas dan lengkap, para petugas kebakaran menerangkan tentang profesi mereka berikut cara-cara mengatasi kebakaran. Wajah-wajah antusias dan penuh semangat terlihat saat mereka begitu ingin ikut memadamkan api dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran juga air dari selang. Tidak peduli apakah itu anak laki-laki atau perempuan, kelas 6 atau kelas 1 SD, banyak dari mereka yang berebut ingin mencoba.

SAM_3277ok

Tahun ini merupakan kali ke tiga Kelas Inspirasi diadakan di Lamongan. Selain SDN Tumenggungan 2 yang ada di Kecamatan Lamongan, Kelas Inspirasi Lamongan tahun ini juga diadakan di Kecamatan Maduran, Sugio, Bluluk, Glagah, Paciran, Mantup, Brondong, Pucuk, Kali Tengah, dan Kembangbahu.

Yang tidak saya duga, ternyata para relawan baik pengajar, vidoegrafer, maupun fotografernya banyak berasal dari luar Lamongan. Bahkan ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Para ‘petualang relawan’ ini rupanya kerap menjadi relawan juga di Kelas Inspirasi yang ada di daerah-daerah lain. Many thumbs deh! *salut

Dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang berlangsung selama satu hari, para pengajar mengenalkan profesinya masing-masing. Tujuannya untuk memberi inspirasi kepada anak-anak usia belia, bahwa di dunia ini ada lho, profesi yang tak hanya dokter, guru, polisi, tentara, atau artis. Hehe, nyatanya, memang jika ditanya cita-cita, banyak anak-anak yang melulu menjawab profesi-profesi tersebut.

Saya sendiri di tahun ini ikut menjadi relawan pengajar dan mengenalkan profesi penulis cerita anak. Sok ngegaya, memilih kelas yang diajar adalah kelas 1 SD. Padahal dari beberapa cerita para relawan pengajar yang bercerita di blognya, anak kelas 1 dan 2 SD itu tantangannya gede! Mereka masih suka susah diajak konsentrasi serius.

Di Kelas Inspirasi, saya membawa dua buku cerita karya Mbak Widya Ross yang berjudul ‘Dongeng Misterius dari Lima Benua’ dan buku karya Mbak Watiek Ideo yang berjudul ‘Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri’.

Saat masuk kelas, saya sapa anak-anak dengan salam khas Kelas Inspirasi Lamongan.

“Teteretetet… Wusss!” dengan tangan terkepal mengacung ke depan lalu di arahkan ke samping, kesepuluh anak di kelas 1 menyambut salam saya.

Agar makin cair suasananya, saya ajak mereka untuk bernyanyi Familly Finger (*saya lupa judul aslinya). Maksudnya, sekaligus biar mengetes konsentrasi mereka.

Cerita pertama yang saya sampaikan berjudul ‘Penyihir Ditakuti di Seluruh Jagat Raya’ dari bukunya Mbak Widya. Karena masih awal pertemuan, masih serius tuh merekanya mau menyimak cerita saya. Apalagi saya sambil memerankan tokoh nenek sihir dan mengajak seorang anak untuk menjadi tokoh Daniel yang ada di cerita tersebut.

Lanjut, saya bercerita lagi yang judulnya ‘Apakah Ada Monster?’ yang berasal dari bukunya Mbak Watiek. Anak-anak pun masih berminat menyimak cerita saya.

Namun setelah itu, setelah dua cerita habis, setelah para fotografer sekaligus videografer tidak ada lagi di kelas saya, setelah mereka ingat bahwa minggu lalu mereka tidak olah raga dan begitu juga hari itu, nah… mulailah semuanya jadi tak terkendali! *meringis

Ada anak yang mulai jalan ke sana-sini, ada yang ke luar kelas, ada yang berkali-kali tanya, “Kapan Bu, kita olah raga?” dan ada yang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Hahaha, benar-benar saya sampai speechless! Pasalnya waktu dulu saya pegang daycare, anak-anak balita itu bisa antusias lama mendengar saya bercerita. Karena itulah saya pe-de ambil kelas 1. *sigh

Baiklah, sepertinya kalau tahun depan ada lagi, saya harus ubah strategi. Waktu satu jam yang saya pikir akan sebentar, ternyata saat itu terasa lama. Kali itu saya merasa pengalaman pegang daycare dan mengajar anak SMA serta mahasiswa di Poltek, tidak ada artinya.

img-20160201-wa0003.jpg
Para guru SDN Tumenggungan 2 Lamongan, tim pengajar dan fasilitator Kelas Inspirasi Lamongan

Bagaimana dengan kelas yang lain? Di SD Tumenggungan 2 kemarin, saya juga ditemani enam pengajar lain yang berasal dari profesi lain. Ada Mbak Asti yang mengenalkan profesi koki, Mbak Ika dengan profesi HSE Officer, Mbak Ratna sebagai penyuluh pertanian dan peternakan, Mbak Dinar yang jago doodle art, Mas Afiv sebagai engineering yang berduet dengan istrinya, Mbak Fatimah dengan pengenalan profesi HRD.

 

image

image

Urusan mengabadikan ke foto, ada relawan fotografer yaitu Mas Tahfif, Mas Lukman, dan Mbak Haura. Sedangkan videografernya ada Mas Arif.

Usai acara pengenalan profesi, anak-anak lalu diajak untuk menuliskan cita-citanya di mika bening warna-warni, lalu digantung di batang pohon yang kami sebut pohon cita-cita.

Overall, acara kemarin sukses bin asyik! Senang rasanya bisa kenalan dengan para guru SDN Tumenggungan 2 yang baik-baik. Tentu saja, kegiatan kemarin juga sukses karena adanya teman-teman fasilitator, Mbak Mardiana, Mbak Balqis, Mbak Aisyah, Mas Ical, Mbak Farokha.

Kelas Inspirasi Lamongan, sehari menginspirasi, seumur hidup memberi arti. Teteretetet… Wusss!!!😀
image

Terlalu Sayang

Pict Gado-gado

Punya orangtua yang terlalu sayang pada anaknya itu bisa dibilang ada enaknya tapi ada juga serunya. Saya sengaja pakai kata ‘ada serunya’ untuk mengganti kata ’tidak enak’. Yah, karena bagaimanapun sikap mereka, saya tahu, maksud orangtua saya yang terlalu sayang dengan perhatian berlebihan itu sebenarnya baik. Meskipun tak jarang, akhirnya saya jadi sering mendapatkan pengalaman unik dari sikap orangtua saya tersebut.

Misalnya pengalaman saat dulu bekerja sebagai reporter di Batam, sementara orangtua saya tetap tinggal di Lamongan, Jawa Timur. Setiap Ramadan, saya memang punya kebiasaan untuk minta ditelepon agar bisa bangun sahur. Karena saya sering pulang dari kantor hingga larut malam, ditambah kebiasaan tidur saya yang suka susah bangun, membuat saya termasuk orang yang sulit untuk bisa bangun pagi.

Suatu ketika saat sedang haid, saya lupa memberitahu kedua orangtua saya. Malamnya menjelang tidur, nada dering ponsel saya nonaktifkan. Sengaja hal itu saya lakukan karena terkadang ada narasumber yang minta diliput dan menghubungi saya di pagi hari. Pikir saya, mumpung besok jam liputan yang diberikan koordinator liputan ke saya adalah siang hari, saya ingin sekali bangun agak siang.

Pagi harinya, saya dibangunkan oleh suara ponsel Tari, teman sekamar saya. Terdengar sayup-sayup, Tari menyebut nama saya dalam percakapannya.

“Ika? Ada kok, Mas. Ini orangnya baru bangun tidur. Apa? Oh, mau bicara sama dia?” Tari kemudian memberikan ponselnya pada saya.

“Mbak Ika? Mbak Ika baik-baik saja kan?” tanya suara di seberang. Saya hapal, itu adalah suara Mas Gentur, manajer iklan di kantor saya. Mendengar pertanyaan Mas Gentur yang menurut saya aneh, kesadaran saya yang terserak di berbagai alam mimpi langsung terkumpul cepat di kepala.

“Saya baik-baik saja kok, Mas. Ada apa ya?” saya langsung sontak duduk dari posisi tidur.

“Jadi gini, tadi itu saya dapat telepon dari Mas Elang. Dia minta saya ngecek kondisi Mbak Ika. Soalnya Mas Elang dapat telepon dari orangtua Mbak Ika. Katanya kok telepon Mbak Ika berkali-kali nggak bisa. Jangan-jangan Mbak Ikanya kenapa-kenapa,” jelas Mas Gentur yang langsung membuat mulut saya menganga, membelalakkan mata, dan memegang kening erat-erat. Saya tak menyangka orangtua saya sampai menghubungi HRD pusat yang ada di Jakarta demi mencari tahu kabar kondisi saya.

“Oh, maaf Mas. Hp saya mungkin mati,” jawab saya sembari tangan meraba-raba ke bawah bantal, mencari ponsel yang biasanya saya letakkan di dekat sana.

Usai menutup telepon dari Mas Gentur dan saya pun berhasil menemukan ponsel, terlihat ada 24 panggilan tak terjawab dan lima sms. Semua panggilan itu dari nomor ponsel ayah dan ibu saya.

“Ada apa Bu, kok sampai telepon aku bolak-balik?” tanya saya yang saat itu segera meneleponnya.

“Kamu itu ya, ditelepon bolak-balik kok nggak diangkat! Ayah ibu sampai panik. Jadi tadi ya ayahmu nelepon ke pak yang ngebawa kamu waktu tes di Jogja dulu itu. Lha kamu tadi udah sahur apa belum? Kan biasanya minta bangunin sahur. Ya Ibu sama Ayah nelepon!” cerocos ibu saya di seberang sana dengan nada khawatir bercampur kesal karena sesekali terdengar suaranya yang membentak saya.

“Oh, eh, maaf Bu. Aku lagi haid. Jadi hpnya aku silent,” jawabku.

Akhirnya ibu saya meminta nomor ponsel Tari dan Mbak Ruri yang bersahabat dekat dengan saya saat di Batam. Kata mereka buat jaga-jaga, biar tidak perlu lagi menelepon ke HRD di Jakarta jika saya ada apa-apa. Ampun deh!

Yang membuat saya malu, berita tentang saya yang dicari orangtua saya ini sampai terdengar ke pimpinan redaksi alias pimred saya, Mas Febby.

“Jadi ini ta, anak ilang sing dicari orangtuanya tadi pagi!” seru Mas Febby dengan logat suroboyoannya sambil terkekeh geli.

Saya langsung berlalu sembari nyengir dan tutup muka. Dalam hati saya berdoa, semoga ia masih memercayakan saya sebagai anak buahnya untuk liputan. Nggak lucu kan kalau saya dapat liputan yang itu-itu saja hanya karena ia khawatir kalau saya kenapa-kenapa dan orangtua saya kebingungan lagi.

Waktu itu kadang saya terpikir, entah apa jadinya ya jika ayah dan ibu saya juga ikut tinggal di Batam? Jangan-jangan mereka jadi dag dig dug melulu. Soalnya yang namanya liputan itu sering tidak kenal waktu dan tempat. Bisa jadi saya harus meliput sendirian, malam hari, di tempat yang jauh.

Di lain waktu, giliran teman saya yang sedang nikah yang kena sasaran orangtua saya. Ceritanya, waktu itu saya menghadiri nikahan kawan dekat saya yang sebelumnya menjadi teman kerja saya juga saat menjadi reporter. Saya memanggilnya Mbak Ruri. Sendirian saya berangkat ke Jogja dari Lamongan. Meski belum pernah tahu rumahnya tapi saya yakin bisa sampai ke sana berbekal petunjuk dari Mbak Ruri.

Sampai di rumah Mbak Ruri, saya lihat sedang ada acara seperti doa bersama secara Katolik sebelum hari pernikahan esok harinya di gereja. Akhirnya saya memilih untuk salat asar dulu di musala dekat sana. Saat kembali ke rumah Mbak Ruri, teman saya itu langsung berseru, “Lhah, kowe wes nyampe tho, Ka? Tadi ayahmu telepon beberapa kali ke aku nanya tapi aku nggak seberapa bisa jawab. Wong tadi ada acara itu, e.”

Saya menggeleng-gelengkan kepala karena tak habis pikir melihat sikap orangtua saya yang lagi-lagi terlalu khawatir.

“Ampun deh Ayah… masa anaknya yang udah sebesar ini dan pernah jadi reporter liputan ke mana-mana masih dikhawatirkan tersesat?” batin saya.

Ketika saya meminta maaf karena sikap ayah yang terlalu mengkhawatirkan saya, teman saya jadi tertawa geli. “Lha yo, Ka. Padahal kan kamu biasanya liputan sana sini kayak gitu ya? Kalaupun kesasar ya bisa telepon atau tanya orang, tho?” komentar Mbak Ruri dengan nada takjub.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina Rubrik Gado-gado yang terbit 19-25 Desember 2015

Mencairkan Dana Jamsostek atau BPJS Ketenagakerjaan

image

Baiklah, to the point dulu deh biar para pembaca yang butuh infonya bisa langsung bungkus.
Kita bisa mencairkan dana Jamsostek kalau…
1.   Sudah keluar dari tempat kerja dan menganggur atau pensiun.
2. Kalaupun masih kerja lagi, kita tidak punya kartu Jamsostek lagi. Maksudnya misalnya nih, kita keluar dari perusahaan A ke B. Di perusahaan B, kita nggak punya kartu Jamsostek (atau belum mengurus baru). Tapi kalau di tempat baru kita punya kartu Jamsostek baru, kartu Jamsostek lama kita tidak bisa kita cairkan.
3. Nggak usah lagi nunggu bertahun-tahun untuk mencairkan. Tapi biar aman, datang saja ke kantor Jamsostek terdekat, lalu cek apakah kartu Jamsostek kita sudah tidak aktif. Karena sering juga ada kejadian, kitanya sudah keluar, tapi dana Jamsostek kita masih dibayarkan perusahan tempat kita kerja.
Cara mengecek saldo:
1. Bisa dilakukan lewat internet atau aplikasi BPJSTK di Google Playstore. Nanti kita diminta daftar dulu dengan memasukkan nomor Jamsostek kita, baru kemudian kita dapat pin untuk pengecekan seterusnya.
2. Bisa juga langsung tanya ke kantor BPJSTK. Nanti sekalian kita bisa tahu, apakah dana Jamsostek kita sudah bisa diambil atau belum.
Yang diperlukan untuk pengurusan dana Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan):
1.   Kartu Jamsostek yang asli
2. Foto kopi KTP. Bawa juga yang asli.
3. Fotokopi (bawa juga yang asli) bukti sudah keluar dari perusahaan. Tapi kalau keluarnya setelah taggal 1 September 2015, harus pakai surat tambahan yaitu surat keterangan dari perusahaan yang sudah ditembuskan ke dinas tenaga kerja.
4. Foto kopi KK. Bawa juga yang asli.
5. Foto kopi buku tabungan dan bawa juga yang asli. Ini kalau kita mau dana Jamsostek kita dicairkan lewat langsung transfer ke rekening kita.
6. Formulir pengambilan dana Jamsostek yang sudah diisi.
Beberapa kasus khusus:
1. Bawa materai untuk jaga-jaga kalau ada data kita yang tidak klop dengan data di Jamsostek. Pengalaman saya, karena nomor KTP di data Jamsostek beda dengan KTP saya sekarang karena dulu pakai yang belum e-KTP, saya diminta untuk mengisi surat pernyataan plus membubuhkan materai dan tanda tangan.
2. Kalau dari tempat kerja lama kita nggak dapat surat tanda sudah berhenti kerja, kita bisa minta dulu ke bagian HRD/PSDM tempat dulu kita kerja. Tapi kalau tempat kerja kita sudah tutup, kita harus mengurus surat kehilangan ke kepolisian. Ehm, bukan surat kehilangan kantor kerja kita dulu lho ya… Tapi surat kehilangan tanda bukti jika kita sudah tidak kerja di perusahaan tersebut.
Nah, sekarang cerita pengalaman saya nih. Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh teman untuk mencairkan dana Jamsostek dari tempat kerja sebelumnya. Ini kali ke dua ada teman saya yang mengingatkan. Awalnya saya tidak peduli karena rasanya, paling hanya sedikit dana yang saya dapat. Tapi setelah kali ke dua diingatkan teman yang lain, saya pun penasaran dan mengeceknya.
Waktu itu saya mengecek via online. Awalnya saya daftar dulu via internet di netbook. Setelah berhasil dapat nomor pin, saya pun mencek dan jadi tahu saldo Jamsostek saya.
Tapi saat saya ingin mengecek kartu Jamsostek yang lain, saya kesulitan. Akhirnya saya pakai aplikasi BPJSTK di Google playstore. Dengan nomor pin yang sama waktu saya buat pakai netbook, aplikasi ini malah memudahkan saya melihat saldo Jamsostek dari dua kartu yang saya miliki. GPL alias cepat lagi!
Kaget juga waktu tahu. Setelah saya jumlahkan keduanya, ternyata nominalnya besar juga. Setelah itu langsung saya cari tahu cara mencairkannya.
Setelah browsing sana-sini, saya temukan kantor perwakilan di Bojonegoro atau Gresik yang bisa saya tuju. Dengan pertimbangan kemungkinan di Bojonegoro lebih sepi, berangkatlah saya ke sana.
Agak rempong juga lho prosesnya. Pasalnya saya punya bayi yang full ASI. Kemudian, saya pun mengajak adik ipar saya untuk ikut mencairkan dana Jamsosteknya. Pada akhirnya, berangkatlah saya, ibu saya biar bisa saya titipi anak saya selama mengurus, adik ipar, berikut anaknya yang masih kecil karena ia tidak bisa menitipkan anaknya ke orangtuanya yang sedang bekerja. Ini masih ditambah saya harus meminjam mobil bulek saya.
Menurut beberapa informasi, katanya sih kalau berangkat itu lebih baik pagi-pagi sekali. Yah, namanya juga duo emak-emak bawa anak, tetap saja susah berangkat pagi. Dari Lamongan, kami berangkat jam tujuh lebih. Sampai Bojonegoro, sekitar jam sembilan. Agak muter-muter dulu karena alamat kantornya tidak sama dengan di internet. Untungnya, Jalan Untung Suropati, tempat kantor baru, tidak jauh dari kantor yang lama.
Pas sampai kantor BPJSTK, fuih, itu antrian sudah banyak kakak… Kantornya itu berupa bangunan rumah yang diubah jadi kantor. Lalu yang antri, diminta duduk di tempat yang dulunya adalah area garasi. Ada pak satpam yang tugasnya jadi front office menangani nomor antrian dan panggilan.
Sewaktu awal datang, dengan pe-denya, saya langsung isi formulir dan optimis urusan cepat selesai karena data-data saya lengkap. Eh, Pak satpamnya cuma merespon saya dengan memberi stampel foto kopi KTP saya, lalu disuruh balik seminggu kemudian.
Jauh-jauh dari Lamongan, cuma dapat stempel KTP, disuruh balik lagi berikut berkas-berkas yang lengkap sudah saya bawa, rasanya kayak orang pindah minum teh ke tempat jauh yang pindahnya butuh waktu 2 jam! Iya, dengan dongkol, saya dan adik ipar akhirnya keluar kantor Jamsostek, minum teh di warung seberang, lalu memutuskan segera pulang. Ini persis kayak orang jalan-jalan kurang kerjaan! Sampai di Lamongan lagi saja, waktu pas saat Dzuhur.
Membayangkan harus ke Bojonegoro lagi, saat itu rasanya sudah malas. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ibu saya dapat info dari teman kerjanya dulu kalau ada kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan di Lamongan. Hohoho, ke mana saja saya selama ini? Beginilah kalau jadi orang yang keseringan melulu di rumah.
Beberapa hari kemudian saya coba mengurus ke sana. Kondisinya lebih nyaman dari pada ke Bojonegoro euy. Antrian nggak seberapa, petugasnya pun ramah. Saya malah bisa tanya ini itu tentang masalah yang dihadapi adik saya.
Seperti halnya di Bojonegoro, di Lamongan pun saya diminta ambil nomor antrian dulu untuk pengurusan seminggu kemudian. Kali ini sih nggak pakai acara ngedumel. Wong cuma di Lamongan saja.
Pas hari H, alhamdulillah dikasih Allah kemudahan yang awalnya terlihat berupa tantangan. Ceritanya, jalanan lagi macet karena ada acara anak-anak TK di GOR. Momen langka nih ada kemacetan di kota sekecil Lamongan. Pas sampai di tempat, kantornya sepi! Antrian pun kayak orang jalan lewat tol. Orang-orang yang dipanggil, pada nggak ada. Saya yang dapat nomor antri 26, malah bisa antri menunggu empat orang saja.
Pas mengurus, ketemu mbak yang ramah dan suka bertanya seputar Batam. Setelah melewati proses pengecekan sampai difoto, urusan saya pun selesai. Hanya sekitar dua jam saja lho jadinya saya ada di kantor itu.
Setelah menunggu-nunggu, akhirnya dana yang ditunggu cair juga setelah 10 hari kemudian. Alhamdulillah…
Eh iya, saya baru tahu lho kalau dana Jamsostek itu bisa berkembang tiap tahunnya kalau tidak kita ambil. Jadi buat yang mau punya tabungan di Jamsostek, kayaknya bisa tuh ambil dana sekian persen saja dulu. Sisanya, bisa dibiarkan berkembang di Jamsostek.