Berasa di Film Upin Ipin

Berasa di Film Upin Ipin.jpg

Suara sirine mobil pemadam kebakaran terus meraung. Membuat siapapun penasaran, kira-kira di mana ya ada kebakaran?

Rasa ingin tahu itu juga ada dalam benak para guru, siswa, dan para pengajar berikut fotografer dan videografer dari Kelas Inspirasi 3 Lamongan yang sedang ada di SDN Tumenggungan 2. Saat mobil pemadam kebakaran lalu masuk ke halaman SD, senyum kecil bermunculan merekah di bibir setiap fasilitator Kelas Inspirasi.

“Surprise!” ujar Mbak Mardiana, koordinator fasilitator Kelas Inspirasi Kecamatan Lamongan dengan nada santai saat saya menunjukkan wajah bengong di depan pintu kelas 1.

Rupanya, diam-diam para fasilitator juga ingin memberikan inspirasi tentang profesi pemadam kebakaran di SDN Tumenggungan 2.

SAM_3264ok

“Wah, rugi kalau nggak masuk hari ini! Untung aku nggak jadi bolos,” celutuk seorang siswa. Ternyata, ia teringat temannya yang sengaja tidak masuk hari itu karena tahu akan tidak ada pelajaran di sekolah.

SAM_3273ok

Ya, hari Sabtu, 30 Januari 2016 lalu menjadi hari yang menyenangkan bagi anak-anak di SD tersebut. Keasyikan mereka dengan para petugas pemadam kebakaran membuat siapapun jadi teringat sebuah episode di film Ipin Upin.

Dengan jelas dan lengkap, para petugas kebakaran menerangkan tentang profesi mereka berikut cara-cara mengatasi kebakaran. Wajah-wajah antusias dan penuh semangat terlihat saat mereka begitu ingin ikut memadamkan api dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran juga air dari selang. Tidak peduli apakah itu anak laki-laki atau perempuan, kelas 6 atau kelas 1 SD, banyak dari mereka yang berebut ingin mencoba.

SAM_3277ok

Tahun ini merupakan kali ke tiga Kelas Inspirasi diadakan di Lamongan. Selain SDN Tumenggungan 2 yang ada di Kecamatan Lamongan, Kelas Inspirasi Lamongan tahun ini juga diadakan di Kecamatan Maduran, Sugio, Bluluk, Glagah, Paciran, Mantup, Brondong, Pucuk, Kali Tengah, dan Kembangbahu.

Yang tidak saya duga, ternyata para relawan baik pengajar, vidoegrafer, maupun fotografernya banyak berasal dari luar Lamongan. Bahkan ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Para ‘petualang relawan’ ini rupanya kerap menjadi relawan juga di Kelas Inspirasi yang ada di daerah-daerah lain. Many thumbs deh! *salut

Dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang berlangsung selama satu hari, para pengajar mengenalkan profesinya masing-masing. Tujuannya untuk memberi inspirasi kepada anak-anak usia belia, bahwa di dunia ini ada lho, profesi yang tak hanya dokter, guru, polisi, tentara, atau artis. Hehe, nyatanya, memang jika ditanya cita-cita, banyak anak-anak yang melulu menjawab profesi-profesi tersebut.

Saya sendiri di tahun ini ikut menjadi relawan pengajar dan mengenalkan profesi penulis cerita anak. Sok ngegaya, memilih kelas yang diajar adalah kelas 1 SD. Padahal dari beberapa cerita para relawan pengajar yang bercerita di blognya, anak kelas 1 dan 2 SD itu tantangannya gede! Mereka masih suka susah diajak konsentrasi serius.

Di Kelas Inspirasi, saya membawa dua buku cerita karya Mbak Widya Ross yang berjudul ‘Dongeng Misterius dari Lima Benua’ dan buku karya Mbak Watiek Ideo yang berjudul ‘Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri’.

Saat masuk kelas, saya sapa anak-anak dengan salam khas Kelas Inspirasi Lamongan.

“Teteretetet… Wusss!” dengan tangan terkepal mengacung ke depan lalu di arahkan ke samping, kesepuluh anak di kelas 1 menyambut salam saya.

Agar makin cair suasananya, saya ajak mereka untuk bernyanyi Familly Finger (*saya lupa judul aslinya). Maksudnya, sekaligus biar mengetes konsentrasi mereka.

Cerita pertama yang saya sampaikan berjudul ‘Penyihir Ditakuti di Seluruh Jagat Raya’ dari bukunya Mbak Widya. Karena masih awal pertemuan, masih serius tuh merekanya mau menyimak cerita saya. Apalagi saya sambil memerankan tokoh nenek sihir dan mengajak seorang anak untuk menjadi tokoh Daniel yang ada di cerita tersebut.

Lanjut, saya bercerita lagi yang judulnya ‘Apakah Ada Monster?’ yang berasal dari bukunya Mbak Watiek. Anak-anak pun masih berminat menyimak cerita saya.

Namun setelah itu, setelah dua cerita habis, setelah para fotografer sekaligus videografer tidak ada lagi di kelas saya, setelah mereka ingat bahwa minggu lalu mereka tidak olah raga dan begitu juga hari itu, nah… mulailah semuanya jadi tak terkendali! *meringis

Ada anak yang mulai jalan ke sana-sini, ada yang ke luar kelas, ada yang berkali-kali tanya, “Kapan Bu, kita olah raga?” dan ada yang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Hahaha, benar-benar saya sampai speechless! Pasalnya waktu dulu saya pegang daycare, anak-anak balita itu bisa antusias lama mendengar saya bercerita. Karena itulah saya pe-de ambil kelas 1. *sigh

Baiklah, sepertinya kalau tahun depan ada lagi, saya harus ubah strategi. Waktu satu jam yang saya pikir akan sebentar, ternyata saat itu terasa lama. Kali itu saya merasa pengalaman pegang daycare dan mengajar anak SMA serta mahasiswa di Poltek, tidak ada artinya.

img-20160201-wa0003.jpg

Para guru SDN Tumenggungan 2 Lamongan, tim pengajar dan fasilitator Kelas Inspirasi Lamongan

Bagaimana dengan kelas yang lain? Di SD Tumenggungan 2 kemarin, saya juga ditemani enam pengajar lain yang berasal dari profesi lain. Ada Mbak Asti yang mengenalkan profesi koki, Mbak Ika dengan profesi HSE Officer, Mbak Ratna sebagai penyuluh pertanian dan peternakan, Mbak Dinar yang jago doodle art, Mas Afiv sebagai engineering yang berduet dengan istrinya, Mbak Fatimah dengan pengenalan profesi HRD.

 

image

image

Urusan mengabadikan ke foto, ada relawan fotografer yaitu Mas Tahfif, Mas Lukman, dan Mbak Haura. Sedangkan videografernya ada Mas Arif.

Usai acara pengenalan profesi, anak-anak lalu diajak untuk menuliskan cita-citanya di mika bening warna-warni, lalu digantung di batang pohon yang kami sebut pohon cita-cita.

Overall, acara kemarin sukses bin asyik! Senang rasanya bisa kenalan dengan para guru SDN Tumenggungan 2 yang baik-baik. Tentu saja, kegiatan kemarin juga sukses karena adanya teman-teman fasilitator, Mbak Mardiana, Mbak Balqis, Mbak Aisyah, Mas Ical, Mbak Farokha.

Kelas Inspirasi Lamongan, sehari menginspirasi, seumur hidup memberi arti. Teteretetet… Wusss!!! :D
image

Terlalu Sayang

Pict Gado-gado

Punya orangtua yang terlalu sayang pada anaknya itu bisa dibilang ada enaknya tapi ada juga serunya. Saya sengaja pakai kata ‘ada serunya’ untuk mengganti kata ’tidak enak’. Yah, karena bagaimanapun sikap mereka, saya tahu, maksud orangtua saya yang terlalu sayang dengan perhatian berlebihan itu sebenarnya baik. Meskipun tak jarang, akhirnya saya jadi sering mendapatkan pengalaman unik dari sikap orangtua saya tersebut.

Misalnya pengalaman saat dulu bekerja sebagai reporter di Batam, sementara orangtua saya tetap tinggal di Lamongan, Jawa Timur. Setiap Ramadan, saya memang punya kebiasaan untuk minta ditelepon agar bisa bangun sahur. Karena saya sering pulang dari kantor hingga larut malam, ditambah kebiasaan tidur saya yang suka susah bangun, membuat saya termasuk orang yang sulit untuk bisa bangun pagi.

Suatu ketika saat sedang haid, saya lupa memberitahu kedua orangtua saya. Malamnya menjelang tidur, nada dering ponsel saya nonaktifkan. Sengaja hal itu saya lakukan karena terkadang ada narasumber yang minta diliput dan menghubungi saya di pagi hari. Pikir saya, mumpung besok jam liputan yang diberikan koordinator liputan ke saya adalah siang hari, saya ingin sekali bangun agak siang.

Pagi harinya, saya dibangunkan oleh suara ponsel Tari, teman sekamar saya. Terdengar sayup-sayup, Tari menyebut nama saya dalam percakapannya.

“Ika? Ada kok, Mas. Ini orangnya baru bangun tidur. Apa? Oh, mau bicara sama dia?” Tari kemudian memberikan ponselnya pada saya.

“Mbak Ika? Mbak Ika baik-baik saja kan?” tanya suara di seberang. Saya hapal, itu adalah suara Mas Gentur, manajer iklan di kantor saya. Mendengar pertanyaan Mas Gentur yang menurut saya aneh, kesadaran saya yang terserak di berbagai alam mimpi langsung terkumpul cepat di kepala.

“Saya baik-baik saja kok, Mas. Ada apa ya?” saya langsung sontak duduk dari posisi tidur.

“Jadi gini, tadi itu saya dapat telepon dari Mas Elang. Dia minta saya ngecek kondisi Mbak Ika. Soalnya Mas Elang dapat telepon dari orangtua Mbak Ika. Katanya kok telepon Mbak Ika berkali-kali nggak bisa. Jangan-jangan Mbak Ikanya kenapa-kenapa,” jelas Mas Gentur yang langsung membuat mulut saya menganga, membelalakkan mata, dan memegang kening erat-erat. Saya tak menyangka orangtua saya sampai menghubungi HRD pusat yang ada di Jakarta demi mencari tahu kabar kondisi saya.

“Oh, maaf Mas. Hp saya mungkin mati,” jawab saya sembari tangan meraba-raba ke bawah bantal, mencari ponsel yang biasanya saya letakkan di dekat sana.

Usai menutup telepon dari Mas Gentur dan saya pun berhasil menemukan ponsel, terlihat ada 24 panggilan tak terjawab dan lima sms. Semua panggilan itu dari nomor ponsel ayah dan ibu saya.

“Ada apa Bu, kok sampai telepon aku bolak-balik?” tanya saya yang saat itu segera meneleponnya.

“Kamu itu ya, ditelepon bolak-balik kok nggak diangkat! Ayah ibu sampai panik. Jadi tadi ya ayahmu nelepon ke pak yang ngebawa kamu waktu tes di Jogja dulu itu. Lha kamu tadi udah sahur apa belum? Kan biasanya minta bangunin sahur. Ya Ibu sama Ayah nelepon!” cerocos ibu saya di seberang sana dengan nada khawatir bercampur kesal karena sesekali terdengar suaranya yang membentak saya.

“Oh, eh, maaf Bu. Aku lagi haid. Jadi hpnya aku silent,” jawabku.

Akhirnya ibu saya meminta nomor ponsel Tari dan Mbak Ruri yang bersahabat dekat dengan saya saat di Batam. Kata mereka buat jaga-jaga, biar tidak perlu lagi menelepon ke HRD di Jakarta jika saya ada apa-apa. Ampun deh!

Yang membuat saya malu, berita tentang saya yang dicari orangtua saya ini sampai terdengar ke pimpinan redaksi alias pimred saya, Mas Febby.

“Jadi ini ta, anak ilang sing dicari orangtuanya tadi pagi!” seru Mas Febby dengan logat suroboyoannya sambil terkekeh geli.

Saya langsung berlalu sembari nyengir dan tutup muka. Dalam hati saya berdoa, semoga ia masih memercayakan saya sebagai anak buahnya untuk liputan. Nggak lucu kan kalau saya dapat liputan yang itu-itu saja hanya karena ia khawatir kalau saya kenapa-kenapa dan orangtua saya kebingungan lagi.

Waktu itu kadang saya terpikir, entah apa jadinya ya jika ayah dan ibu saya juga ikut tinggal di Batam? Jangan-jangan mereka jadi dag dig dug melulu. Soalnya yang namanya liputan itu sering tidak kenal waktu dan tempat. Bisa jadi saya harus meliput sendirian, malam hari, di tempat yang jauh.

Di lain waktu, giliran teman saya yang sedang nikah yang kena sasaran orangtua saya. Ceritanya, waktu itu saya menghadiri nikahan kawan dekat saya yang sebelumnya menjadi teman kerja saya juga saat menjadi reporter. Saya memanggilnya Mbak Ruri. Sendirian saya berangkat ke Jogja dari Lamongan. Meski belum pernah tahu rumahnya tapi saya yakin bisa sampai ke sana berbekal petunjuk dari Mbak Ruri.

Sampai di rumah Mbak Ruri, saya lihat sedang ada acara seperti doa bersama secara Katolik sebelum hari pernikahan esok harinya di gereja. Akhirnya saya memilih untuk salat asar dulu di musala dekat sana. Saat kembali ke rumah Mbak Ruri, teman saya itu langsung berseru, “Lhah, kowe wes nyampe tho, Ka? Tadi ayahmu telepon beberapa kali ke aku nanya tapi aku nggak seberapa bisa jawab. Wong tadi ada acara itu, e.”

Saya menggeleng-gelengkan kepala karena tak habis pikir melihat sikap orangtua saya yang lagi-lagi terlalu khawatir.

“Ampun deh Ayah… masa anaknya yang udah sebesar ini dan pernah jadi reporter liputan ke mana-mana masih dikhawatirkan tersesat?” batin saya.

Ketika saya meminta maaf karena sikap ayah yang terlalu mengkhawatirkan saya, teman saya jadi tertawa geli. “Lha yo, Ka. Padahal kan kamu biasanya liputan sana sini kayak gitu ya? Kalaupun kesasar ya bisa telepon atau tanya orang, tho?” komentar Mbak Ruri dengan nada takjub.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina Rubrik Gado-gado yang terbit 19-25 Desember 2015

Mencairkan Dana Jamsostek atau BPJS Ketenagakerjaan

image

Baiklah, to the point dulu deh biar para pembaca yang butuh infonya bisa langsung bungkus.
Kita bisa mencairkan dana Jamsostek kalau…
1.   Sudah keluar dari tempat kerja dan menganggur atau pensiun.
2. Kalaupun masih kerja lagi, kita tidak punya kartu Jamsostek lagi. Maksudnya misalnya nih, kita keluar dari perusahaan A ke B. Di perusahaan B, kita nggak punya kartu Jamsostek (atau belum mengurus baru). Tapi kalau di tempat baru kita punya kartu Jamsostek baru, kartu Jamsostek lama kita tidak bisa kita cairkan.
3. Nggak usah lagi nunggu bertahun-tahun untuk mencairkan. Tapi biar aman, datang saja ke kantor Jamsostek terdekat, lalu cek apakah kartu Jamsostek kita sudah tidak aktif. Karena sering juga ada kejadian, kitanya sudah keluar, tapi dana Jamsostek kita masih dibayarkan perusahan tempat kita kerja.
Cara mengecek saldo:
1. Bisa dilakukan lewat internet atau aplikasi BPJSTK di Google Playstore. Nanti kita diminta daftar dulu dengan memasukkan nomor Jamsostek kita, baru kemudian kita dapat pin untuk pengecekan seterusnya.
2. Bisa juga langsung tanya ke kantor BPJSTK. Nanti sekalian kita bisa tahu, apakah dana Jamsostek kita sudah bisa diambil atau belum.
Yang diperlukan untuk pengurusan dana Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan):
1.   Kartu Jamsostek yang asli
2. Foto kopi KTP. Bawa juga yang asli.
3. Fotokopi (bawa juga yang asli) bukti sudah keluar dari perusahaan. Tapi kalau keluarnya setelah taggal 1 September 2015, harus pakai surat tambahan yaitu surat keterangan dari perusahaan yang sudah ditembuskan ke dinas tenaga kerja.
4. Foto kopi KK. Bawa juga yang asli.
5. Foto kopi buku tabungan dan bawa juga yang asli. Ini kalau kita mau dana Jamsostek kita dicairkan lewat langsung transfer ke rekening kita.
6. Formulir pengambilan dana Jamsostek yang sudah diisi.
Beberapa kasus khusus:
1. Bawa materai untuk jaga-jaga kalau ada data kita yang tidak klop dengan data di Jamsostek. Pengalaman saya, karena nomor KTP di data Jamsostek beda dengan KTP saya sekarang karena dulu pakai yang belum e-KTP, saya diminta untuk mengisi surat pernyataan plus membubuhkan materai dan tanda tangan.
2. Kalau dari tempat kerja lama kita nggak dapat surat tanda sudah berhenti kerja, kita bisa minta dulu ke bagian HRD/PSDM tempat dulu kita kerja. Tapi kalau tempat kerja kita sudah tutup, kita harus mengurus surat kehilangan ke kepolisian. Ehm, bukan surat kehilangan kantor kerja kita dulu lho ya… Tapi surat kehilangan tanda bukti jika kita sudah tidak kerja di perusahaan tersebut.
Nah, sekarang cerita pengalaman saya nih. Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh teman untuk mencairkan dana Jamsostek dari tempat kerja sebelumnya. Ini kali ke dua ada teman saya yang mengingatkan. Awalnya saya tidak peduli karena rasanya, paling hanya sedikit dana yang saya dapat. Tapi setelah kali ke dua diingatkan teman yang lain, saya pun penasaran dan mengeceknya.
Waktu itu saya mengecek via online. Awalnya saya daftar dulu via internet di netbook. Setelah berhasil dapat nomor pin, saya pun mencek dan jadi tahu saldo Jamsostek saya.
Tapi saat saya ingin mengecek kartu Jamsostek yang lain, saya kesulitan. Akhirnya saya pakai aplikasi BPJSTK di Google playstore. Dengan nomor pin yang sama waktu saya buat pakai netbook, aplikasi ini malah memudahkan saya melihat saldo Jamsostek dari dua kartu yang saya miliki. GPL alias cepat lagi!
Kaget juga waktu tahu. Setelah saya jumlahkan keduanya, ternyata nominalnya besar juga. Setelah itu langsung saya cari tahu cara mencairkannya.
Setelah browsing sana-sini, saya temukan kantor perwakilan di Bojonegoro atau Gresik yang bisa saya tuju. Dengan pertimbangan kemungkinan di Bojonegoro lebih sepi, berangkatlah saya ke sana.
Agak rempong juga lho prosesnya. Pasalnya saya punya bayi yang full ASI. Kemudian, saya pun mengajak adik ipar saya untuk ikut mencairkan dana Jamsosteknya. Pada akhirnya, berangkatlah saya, ibu saya biar bisa saya titipi anak saya selama mengurus, adik ipar, berikut anaknya yang masih kecil karena ia tidak bisa menitipkan anaknya ke orangtuanya yang sedang bekerja. Ini masih ditambah saya harus meminjam mobil bulek saya.
Menurut beberapa informasi, katanya sih kalau berangkat itu lebih baik pagi-pagi sekali. Yah, namanya juga duo emak-emak bawa anak, tetap saja susah berangkat pagi. Dari Lamongan, kami berangkat jam tujuh lebih. Sampai Bojonegoro, sekitar jam sembilan. Agak muter-muter dulu karena alamat kantornya tidak sama dengan di internet. Untungnya, Jalan Untung Suropati, tempat kantor baru, tidak jauh dari kantor yang lama.
Pas sampai kantor BPJSTK, fuih, itu antrian sudah banyak kakak… Kantornya itu berupa bangunan rumah yang diubah jadi kantor. Lalu yang antri, diminta duduk di tempat yang dulunya adalah area garasi. Ada pak satpam yang tugasnya jadi front office menangani nomor antrian dan panggilan.
Sewaktu awal datang, dengan pe-denya, saya langsung isi formulir dan optimis urusan cepat selesai karena data-data saya lengkap. Eh, Pak satpamnya cuma merespon saya dengan memberi stampel foto kopi KTP saya, lalu disuruh balik seminggu kemudian.
Jauh-jauh dari Lamongan, cuma dapat stempel KTP, disuruh balik lagi berikut berkas-berkas yang lengkap sudah saya bawa, rasanya kayak orang pindah minum teh ke tempat jauh yang pindahnya butuh waktu 2 jam! Iya, dengan dongkol, saya dan adik ipar akhirnya keluar kantor Jamsostek, minum teh di warung seberang, lalu memutuskan segera pulang. Ini persis kayak orang jalan-jalan kurang kerjaan! Sampai di Lamongan lagi saja, waktu pas saat Dzuhur.
Membayangkan harus ke Bojonegoro lagi, saat itu rasanya sudah malas. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ibu saya dapat info dari teman kerjanya dulu kalau ada kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan di Lamongan. Hohoho, ke mana saja saya selama ini? Beginilah kalau jadi orang yang keseringan melulu di rumah.
Beberapa hari kemudian saya coba mengurus ke sana. Kondisinya lebih nyaman dari pada ke Bojonegoro euy. Antrian nggak seberapa, petugasnya pun ramah. Saya malah bisa tanya ini itu tentang masalah yang dihadapi adik saya.
Seperti halnya di Bojonegoro, di Lamongan pun saya diminta ambil nomor antrian dulu untuk pengurusan seminggu kemudian. Kali ini sih nggak pakai acara ngedumel. Wong cuma di Lamongan saja.
Pas hari H, alhamdulillah dikasih Allah kemudahan yang awalnya terlihat berupa tantangan. Ceritanya, jalanan lagi macet karena ada acara anak-anak TK di GOR. Momen langka nih ada kemacetan di kota sekecil Lamongan. Pas sampai di tempat, kantornya sepi! Antrian pun kayak orang jalan lewat tol. Orang-orang yang dipanggil, pada nggak ada. Saya yang dapat nomor antri 26, malah bisa antri menunggu empat orang saja.
Pas mengurus, ketemu mbak yang ramah dan suka bertanya seputar Batam. Setelah melewati proses pengecekan sampai difoto, urusan saya pun selesai. Hanya sekitar dua jam saja lho jadinya saya ada di kantor itu.
Setelah menunggu-nunggu, akhirnya dana yang ditunggu cair juga setelah 10 hari kemudian. Alhamdulillah…
Eh iya, saya baru tahu lho kalau dana Jamsostek itu bisa berkembang tiap tahunnya kalau tidak kita ambil. Jadi buat yang mau punya tabungan di Jamsostek, kayaknya bisa tuh ambil dana sekian persen saja dulu. Sisanya, bisa dibiarkan berkembang di Jamsostek.

Mewaspadai Extrapyramidal Symptoms

Saya benar-benar tidak akan lupa atas apa yang terjadi pada anak saya beberapa hari lalu. Bayi yang baru beberapa hari melewati usia satu tahunnya itu harus melewati sembilan jam kondisi otot kaku yang tak saya sadari sedikitpun.
Semua berawal saat ia mengalami muntah-muntah sebanyak empat kali sejak Selasa siang hingga malam. Lalu makin malam, perutnya kembung. Suhu badannya juga makin naik.
Karena bayi saya tidak suka minum obat dan saya pun berusaha sebisa mungkin memilih cara alternatif, akhirnya saya buatkan campuran irisan bawang merah dan minyak telon. Setelah itu, saya usap bagian perut, punggung, dan telapak kakinya dengan campuran tersebut.
Pagi harinya, kondinya tak juga membaik. Akhirnya saya dan suami berinisiatif membawanya ke bidan yang terkenal kerap menyembuhkan anak-anak yang sakit. Sepulang dari sana, saya mendapat tiga obat: antimual-muntah, antikembung, dan lactobacylus. Ketiganya lalu segera saya minumkan. Dan di situlah semuanya bermula.
Awalnya bayi saya pada akhirnya bisa tertidur pulas. Namun ketika bangun, lambat laun keceriaannya berubah menjadi wajah mungil yang terus menatap ke arah atas. Semula saya kira ia tertarik pada benda yang sedang dilihatnya. Saat saya ambilkan benda tersebut, tangannya menampik.
Beberapa waktu kemudian posisi tidurnya saya ubah. Kembali ia menatap ke arah atas. Saya telusuri apa yang menarik perhatiannya. Saat menjumpai bayangan beberapa boneka besar yang kerap tak ia suka, sudut itu lalu ditutupi koran oleh ibu saya.
Pandangannya tak juga beralih. Saya dan ibu mulai gelisah. Akhirnya bayi saya digendong ibu. Ia pun berujar, mungkin anak saya sawan pengantin karena beberapa waktu lalu diajak ke pengantin. Ibu lalu mendesak suami saya untuk memintakan bedak pengantin untuk diusap ke tubuh anak saya.
Makin lama, tatapan mata anak saya makin terlihat kosong. Ia masih sering menatap ke atas. Malah saat saya susui, saya lihat matanya menjadi juling. Tak hanya itu, makin sore, tubuhnya makin lemah. Anak yang biasanya penuh teriakan, tawa, dan kaki yang aktif menendang, saat itu tidak lagi saya jumpai. Ia bahkan hanya dia tak mau saya susui.
Suami saya lalu mengajak untuk membawa si kecil ke dokter anak. Di situlah kami baru tahu, ternyata ada dua obat yang seharusnya tidak boleh diminumkan. Obat yang maksudnya untuk mengatasi kembung, malah merupakan obat maagh. Padahal anak saya tidak maagh. Lalu yang paling membuat saya terkejut adalah obat antimual yang karena inilah anak saya menjadi terlihat aneh.
Saat itu saya bertanya, kenapa anak saya jadi melulu menatap ke atas. Padahal sampai pagi hari itu tidak demikian.
“Ya itu akibat obat antimualnya itu. Dulu saya pernah ketemu kasus kayak gini. Anaknya sampai melotot terus ke atas terus kejang-kejang. Orang tuanya sudah manggil para normal segala. Padahal anaknya kena efek obat itu.”
image

Saya dan suami langsung merasa lega. Selain jadi tahu penyebabnya, kami pun jadi makin percaya bahwa tidak ada yang namanya sawan penganten.
Segera kami pulang ke rumah. Namun saat kami usai shalat maghrib, saya yang sedang meracik bubur untuk anak saya, dikejutkan oleh suara suami yang meminta saya segera datang.
“Mi’, anake kena apa iki lo?”
Saya lihat kedua tangan anak saya mengepal kencang. Sebisa mungkin suami saya mencoba mengendurkan kepalan tangannya. Sadar apa yang terjadi dengan sekilas teringat masa kecil adik saya yang kerap kejang, saya cek mulut anak saya. Gigi-giginya sedikit mengatup. Namun tidak begitu kencang menggigit.
Segera saya angkat dan saya dudukkan ia di pangkuan saya. Pelan-pelan, saya suapi ia dengan biskuit bayi kesukaannya dengan tujuan agar ada sesuatu yang bisa ia gigit. Sementara itu, suami saya segera melarikan motor kembali ke dokter anak sebelumnya karena saat kami telepon, pihak klinik malah meminta kami untuk datang meminta obat antikejang.
Lambat laun bayi kecil saya mengendurkan kepalan tangan dan katupan giginya. Lega melihatnya pelan-pelan mau makan. Meski alam hati saya bingung, kenapa saya merasakan tubuhnya gemetar di pangkuan saya. Saat melihat gelas, ia merengek yang saya pahami sebagai kebiasaannya meminta minum.
Usai minum, saya minumkan sekalian obat dari dokter anak. Obat berhasil masuk. Sesudah itu, saya lihat ia menjulur-julurkan lidahnya. Saat saya beri air putih, ia seperti kesulitan menelan. Segera saya susui. Senang rasanya saat ia kembali mau menyusu.
Namun beberapa saat kemudian ia malah menggigit dan terus makin kuat. Saya lepas sebisa mungkin dan saya ganti dengan jempol saya. Gigitannya makin mengencang hingga saya kesakitan. Sambil panik, ibu segera mencari perban untuk mengganjal.
Pikiran kami sama, langsung segera membawa ia ke IGD. Bergegas ibu menggendong bayi saya dan membawanya pergi. Sementara saya terpaksa menunggu beberapa saat di rumah karena suami belum pulang dari dokter anak dan ayah saya masih keluar membeli lauk makan malam.
Saat akhirnya saya dan suami bisa menyusul becak yang dinaiki ibu, segera saya angkat bayi saya agar lebih cepat sampai ke IGD.
Petugas IGD langsung menyediakan tempat tidur dan obat-obatan. Setelah saya ditanya berat badan si kecil, selang oksigen segera dipasang. Obat segera dimasukkan ke dalam dubur. Alat deteksi jantung dijepitkan di jempol kaki anak saya.
Senyum saya pecah saat melihatnya bisa teriak lagi, menangis, dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Karena hampir seharian, saya sulit menjumpai itu semua.
Semua tanda tanya besar saya terjawab saat dua kali kunjungan dokter anak yang mengecek kondisi bayi saya selama opname dua hari berturut-turut.
  – Anak saya tidak kejang akan tetapi mengalami Extrapyramidal symptoms. Karena jika kejang, ia tidak bersuara. Beda dengan ekstrapiramidal di mana saat itu ia masih bisa mengelurkan suara rintihan tangis. Benar-benar pengetahuan baru buat saya dan juga para dokter muda yang mengikuti dokter anak yang sedang kunjungan. Karena di histori lembar data anak saya, kasus yang dialami anak saya ditulis dengan bahasa kejang. Padahal aslinya seharusnya bukan.
  – Semua yang terjadi pada anak saya adalah akibat zat metoclopramide. Obat antimual dengan kandungan ini sebetulnya tidak boleh diberikan pada anak-anak. Dari hasil cerita dengan bulek saya atau saat baca di internet, ada beberapa orang yang bisa mengalami efek samping berupa kejang otot. Ada yang lehernya kaku. Sementara adik sepupu saya pernah sampai tergulung ke belakang lidahnya.
Extrapyramidal symptoms memang efek samping dari obat anti mual yang jika tidak diwaspadai, bisa berlarut-larut dan akhirnya fatal akibatnya.
Ini akan jadi catatan bagi histori kesehatan untuk anak saya. Ke depannya, saya maupun ia, harus waspada dengan zat metoclopramide. Meski apapun merk obatnya.
Satu hal yang juga saya syukuri, alhamdulillah ia selamat dari kecerobohan saya yang tidak paham bagaimana mengatasi anak dengan kondisi kejang atau extrapyramidal symtomps. Seharusnya, saya tidak boleh menyuapinya atau memasukkan tangan untuk mengganjal giginya yang mengatup rapat.
Kini saya jadi lebih waspada untuk selalu siap sedia termometer dan obat penurun panas. Sebelumnya, saya akui kalau saya itu ‘ndablek’ dengan yang namanya suhu tubuh si kecil. Pasalnya, saya amati bayi saya mirip dengan abinya yang kerap memiliki suhu tubuh lebih tinggi dari orang kebanyakan. Biasanya jika sumeng, saya cukup susui saja dan setelah itu ia banyak berkeringan lalu kembali normal.
Terus saya berharap, ia tak lagi kembali opname di RS baik itu di setiap tanggal 30 Desember maupun waktu-waktu lainnya. Ya, seminggu setelah lahir, tahun lalu bayi saya harus opname tiga hari dua malam di NICU karena kuning. Tahun ini, di tanggal dan waktu yang sama ia kembali harus opname di RS.

Pelajaran Silaturahmi di Idul Fitri

 

“Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia bersilaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

silaturahmi

(Sumber foto: sadikemonikafitriani.blogspot.com)

 

Menjadi anak dari orangtua dan cucu dari mbah yang dituakan itu sangat melenakan saya. Dulu saat saya lajang, setiap lebaran, saya suka nongkrong anteng di rumah atau di rumah mbah. Nggak perlu capek-capek keliling. Toh saudara-saudara yang lain pastinya akan berdatangan ke rumah untuk bersilaturahmi lebaran. Jadi, saya tinggal ikut saliman deh.

 

Semuanya berubah saat saya menikah. Kondisi yang pertama, suami saya tinggal di desa dengan tradisi saling kunjung. Rasanya, satu desa itu harus dikunjungi semuanya. Sedangkan kondisi kedua, ehm, suami saya ternyata hobi bersilaturahmi!

 

Karakter saya dan suami memang beda untuk urusan hubungan sosial. Saya tipe introvert dan kurang suka bertemu banyak orang. Sementara suami, tipe ekstrovert yang senang berkomunikasi dengan orang banyak.

 

Dua kali lebaran terakhir ini, saya resmi melepas status lajang. Artinya, ya saya harus ikut suami juga keliling-keliling silaturahmi. Kondisi istimewanya, di lebaran tahun lalu saya dalam kondisi hamil, sedangkan lebaran tahun ini punya seorang bayi yang ke mana-mana harus digendong.

 

Saat lebaran, saya sampai harus sering pasang muka cemberut karena kelelahan. Suami saya mengajak berkunjung ke tetangga-tetangga desa. Kalau bawa badan sendiri sih enak. Lha sekarang ini harus sambil gendong bayi euy! Rasanya kaki saya sungguh lelah. Dari satu rumah ke rumah lain, langkah kaki saya sampai tersaruk-saruk.

 

Dan yang membuat saya gemas, suami cuma ketawa melihat ulah saya sambil berkomentar, “Biar kenal orang di sini.”

 

Saya sendiri memang tidak bisa sepenuhnya menyalahkan suami. Kalaupun saya minta bergantian menggendong bayi, suami saya tidak bisa menggunakan gendongan langsung pakai seperti yang biasa saya pakai. Jadilah mau tidak mau saya sendiri yang harus menggendong si kecil.

 

Pikiran saya tentang betapa menyebalkannya harus bersilaturahmi ke banyak orang itu sedikit demi sedikit berubah saat saya diajak mengunjungi keluarga atasannya dulu sewaktu bekerja di Surabaya. Waktu itu saya pikir, “Ngapain sih keluarganya mantan atasan saja kok harus didatengin?”

 

Yah, mungkin di situlah Allah punya cara berkomunikasi dengan saya. Selama berkunjung ke rumah tersebut, suami saya dan mereka tampak akrab berbincang-bincang. Uniknya meski didatangi suami saya yang sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi dengan mereka, keluarga mantan atasan suami saya tersebut cukup ramah.

 

“Iya ya, lama lho kamu itu nggak main ke sini. Tapi bener, silaturahmi itu memang jalannya rezeki,” ucap keluarga mantan atasan suami.

 

Deg! Saya langsung tercenung. Saya perhatikan dan mencoba menarik kesimpulan, mungkin itulah mengapa orang yang saat itu sedang saya kunjungi bisa sukses memiliki usaha les pelajaran untuk anak-anak sekolah.

 

Hingga beberapa hari kemudian pikiran saya tentang silaturahmi pun lalu berkelana ke beberapa hal. Salah satunya adalah tentang cerita ibu saya bahwa konon, salah satu orang kaya di kota tempat saya tinggal itu sebetulnya masih punya hubungan darah dengan keluarga ibu. Namun karena perbedaan ekonomi, jadilah lambat laun hubungan silaturahmi dengan mereka jadi merenggang.

 

Hal lain yang saya renungkan adalah tentang sudah banyaknya generasi di tingkatan mbah yang sudah tidak ada. Jika saya ingat-ingat, saya bahkan sampai tidak tahu siapa anak padhe saya yang masih satu mbah buyut dengan saya. Jika dibiarkan, wah, jangan-jangan silaturahmi itu bisa putus di generasi anak saya nanti.

 

Sementara itu jika dibandingkan suami saya, ia bahkan rela mengajak saya dan si kecil untuk bersilaturahmi ke sepupu-sepupu suami yang dengar-dengar sih, mereka kurang mau bersilaturahmi dengan keluarga suami saya. Tapi suami tidak memermasalahkan hal itu. Karena baginya, inti dari silaturahmi itu lebih penting dari pada memikirkan siapa dan bagaimana orang lain punya cara beda bersilaturahmi dengan kita.

 

Nah, karena Allah saja sudah mau berkomunikasi dengan saya dengan cara hikmah yang membuat saya merenung itu, maka saya pikir, saya harus berubah. Seperti dalam hadis yang berujar jika silaturahmi itu berkaitan dengan rezeki dan umur, jadi saya tidak mau jika dua hal itu Allah sempitkan untuk saya.

 

Jadilah di tahun ini, saya mulai mengajak si kecil untuk bersilaturahmi ke rumah pakdhe dan budhe, yang merupakan sepupu ibu saya, yang rumahnya berjarak dekat dari rumah tempat saya tinggal. Pikir saya, kebangetan deh kalau rumah sedekat itu kok saya yang muda ini nggak mau berkunjung ke mereka. Padahal saat saya melahirkan, mereka mau berkunjung ke rumah untuk menengok saya.

 

Seperti yang suami pernah katakan ke saya, saya harus memerkenalkan saudara-saudara ke anak saya agar anak saya kelak tidak menjadi sosok yang kaku hingga tak mau kenal saudara. Jadi jika saya ingin anak saya tidak seperti itu, maka saya sendiri dulu kan yang harus berubah? Dan di Idul Fitri tahun ini, buat saya, Allah memberi pelajaran  momen silaturahmi untuk membuat saya menjadi lebih baik.

11231684_726139134158452_6792884820157637012_n

Berfoto bersama keluarga besar suami. (Sumber foto: koleksi pribadi)

Mengejar Rezeki di Bulan Ramadhan

Menekuni dunia kepenulisan merupakan keputusan saya sejak tahun lalu. Setelah menikah dan kemudian punya anak, pada akhirnya saya memilih untuk melakoni dunia tersebut di rumah. Jadi meskipun di rumah, saya tetap bekerja.

thewriteratwork dot com ---frontcover

Foto ilustrasi. Sumber foto: thewriteratwork.com

Rumah yang kini sedang saya tempati, juga bersama orangtua ini tidak ada ruang kerjanya. Untuk kegiatan menulis, saya kerap melakukannya di kamar sambil mengasuh anak saya yang masih bayi. Selain itu, ruang lain di rumah yang jadi ‘kantor’ saya adalah ruang tengah yang sekaligus menjadi ruang makan. Malah saat belum punya anak, saya bahkan bisa mengetik di dapur juga lho! Hehe, variasi biar tidak bosan.

Apalagi di bulan Ramadhan saat ini, rumah benar-benar jadi markas besar saya untuk makin giat menulis. Maklum, karena tidak kerja kantoran, otomatis saya tidak lagi mendapatkan gaji atau THR untuk persiapan lebaran. Kebetulan akhir-akhir ini saya menjumpai banyak lomba menulis terutama menulis blog. Dengan harapan bisa mendapatkan rezeki dari sana, siapa tahu, saya bisa menang dan ada uang yang masuk untuk dana lebaran. :D

Karena sehari-hari saya bekerja di rumah, tentunya ada beberapa hal yang saya lakukan untuk mendukung aktivitas saya tersebut.

  • Ruangan yang bersih

Jujur, sebetulnya saya termasuk orang yang OCD, alias Obsessive Compulsive Disorder. Apa-apa sering maunya harus terlihat rapih dan bersih. Jika tidak, mood baik saya bisa langsung melayang entah ke mana. Untuk itu, urusan bersih-bersih rumah selalu saya lakukan setiap hari terutama pagi hari seperti menyapu dan membersihkan debu.

ruralenterprisesolutions dot co dot uk -- clean-home-furniture-design

Rumah yang bersih dan rapih itu sumber mood positif. (Foto ilustrasi. Sumber: ruralenterprisesolutions.co.uk)

  • Rapikan sesegera mungkin

Menurut saya, sesuatu yang terlihat sepele dan diabaikan itu kelak bisa jadi bom waktu. Ini buat saya berlaku di urusan membereskan ketidakrapihan. Simpel saja, jika sudah melakukan sesuatu, segera rapikan. Kalau pakai acara jurus menunda nanti dan nanti, wah alamat tuh, ada waktunya kita bisa terkejut saat menyadari betapa berantakannya rumah kita. Misalnya saja usai mengetik dengan netbook dan bahan buku bacaan yang berserak, jika memungkinkan, saya segera merapikannya.

euro-maids dot com -- woman-cleaning-corbis-580xx101910-1

Rajin membersihkan dan merapikan rumah itu perlu agar ketidakteraturan makin menjadi. (Foto ilustrasi. Sumber foto: euromaids.com)

  • Ada waktunya membiarkan ketidakteraturan sejenak

Nah, kalau tadi judul kecilnya rajin beres-beres rumah, namun ada waktunya saya juga harus rela membiarkan rumah dalam keadaan tidak begitu rapih dan bersih. Biasanya ini saya lakukan karena ada hal lain yang lebih penting, yaitu bayi saya sedang lebih membutuhkan perhatian. Tapi jika sudah senggang, segera, ketidakberesan itu saya bereskan.

ummi-online dot com ---14tips-rumah-bersih-dan-rapi-sediakan-3-barang-ini-di-rumah

Biarpun punya anak kecil, tetap saja jangan biarkan rumah sekacau ini. (Foto ilustrasi. Sumber foto: ummioline.com)

  • Mencicil membereskan rumah untuk persiapan Idul Fitri

Karena setelah ini momen Idul Fitri, urusan beres-beres makin bertambah. Misalnya jika biasanya saya jarang membersihkan jendela, maka ini jadi PR yang harus saya lakukan di waktu senggang.

Meski judulnya tidak bekerja di luar rumah, saya baru sadar kalau ternyata berkegiatan di rumah itu justru membutuhkan kelihaian dalam mengatur waktu. Rasanya makin hari 24 jam itu makin tidak cukup, euy! Karena itu terutama di bulan Ramadhan kali ini, inilah yang saya lakukan untuk mengisi waktu sehari-hari di rumah.

  • Si kecil tetap jadi prioritas

Biar bagaimanapun sibuknya menulis atau mengurus rumah, tetap saja, bayi saya yang baru berumur 6 bulan itu yang jadi prioritas. Sering banget tuh, saya lagi mengetik, anak pup, ya si kecil yang harus saya urus dulu. Pada akhirnya memang saat si kecil tidur lah waktu saya untuk bisa melakukan apapun. Sebisa mungkin, saya mencoba menemaninya saat ia sedang terjaga. Atau jika ia sedang terjaga dan saya harus melakukan hal yang lain, saya akan buat ia juga tetap beraktivitas. Misalnya saya beri sesuatu yang aman dan bisa ia pegang. Atau, saya perdengarkan murotal atau musik klasik untuk sementara menemaninya. Jika waktunya hanya sebentar, saya kadang juga mengajaknya menonton film edukatif.

  • Mengetik di waktu senggang

Saat ada waktu luang, misalkan bayi saya sedang tidur atau ada orang lain yang bisa menemaninya, barulah biasanya saya gunakan untuk mengetik. Momen luang ini paling banyak saya manfaat untuk membuat tulisan yang sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.

  • Bekerja multitasking

Karena banyaknya hal yang harus saya lakukan di rumah, mau tak mau biasanya saya juga melakukan sesuatu sekaligus melakukan hal lain. Mengetik sambil memangku atau mengajak si kecil bercanda. Hehe, tentunya ini membutuhkan konsentrasi tinggi. Kadang saat sedang menulis sebuah kalimat, terpotong karena mengajak bicara si kecil, pas lihat netbook lagi, eh… sudah lupa deh tadinya mau ngetik apa. Multitasking paling sering yang saya lakukan adalah ketika sedang menyusui. Biasanya biar tidak mengantuk, saya membuka ponsel untuk mencari bahan tulisan, info kepenulisan, atau buka sosmed. Membaca Alquran juga kerap saya lakukan sambil menyusui. Apalagi saat bulan Ramadhan begini. Harapannya, target bacaan Alquran saya tetap bisa tercapai.

dreamtsime dot com --- multitasking-mom-mother-remarkable-woman-was-able-to-handle-all-work-all-professions-can-properly-38915671

Jadi wanita yang bekerja di rumah harus bisa multitasking. (Foto ilustrasi. Sumber foto: dreamstime.com)

  • Rajin browsing

Biar tidak ketinggalan informasi kepenulisan, tiap hari saya harus rajin browsing. Selain membuka di situs-situs yang rajin meng-update informasi lomba kepenulisan, saya juga mencarinya lewat twitter dengan menggunakan kata kunci ‘lomba blog’ atau ‘lomba menulis.’

Rumahku, kantorku. Karena itu, saya harus membuat rumah senyaman mungkin untuk aktivitas saya yang hampir setiap hari selalu ada berada di dalam rumah. Memang, Ramadhan kali ini merupakan yang tak biasa seperti sebelum-sebelumnya. Di rumah, mengais rezeki dari kegiatan menulis, dan sudah ada anak. Jadi urusannya sekarang ya seputar tiga hal itu. Meski multitasking, meski waktu 24 jam rasanya sering nggak cukup, tentunya harus tetap semangat dong di bulan Ramadhan.

Menidurkan Si Bayi Aktif

Punya bayi yang aktif dan susah tidur nyenyak memang benar-benar tantangan tersendiri. Ditambah lagi, ia punya ritme tidur yang susah ditebak. Jika dihitung-hitung, rasanya waktu itu ia hanya tidur sekitar 5 jam. Sungguh bukan waktu tidur yang mencukupi untuk Kayyisah, bayi saya.

Belum lagi saat ia growth sprout atau percepatan pertumbuhan. Maunya melek dan menyusu melulu. Waktu tidur saya jadi sedikit. Padahal saat pagi hingga siang hari, saya juga harus beres-beres rumah. Kayyisah pun tak mau tidur jika tidak ditemani.

Kayyisah juga tipe anak yang sensitif. Cahaya terang, suara berisik, nyamuk yang menggigit, bisa jadi penyebab yang membuatnya susah tidur.

Di waktu awal-awal tidur, Kayyisah bisa sensitif sama suara. Apalagi ada orang ngobrol. Tapi kalau sudah tidur, mau ada suara super heboh kayak apa juga dia nggak bakal bangun.

Kalau tidur dalam kondisi cahaya terang, Kayyisah suka melihat ke sana-sini. Padahal saat itu kemampuan melihatnya masih belum sempurna betul. Sedangkan jika lampu dimatikan, sayanya yang kelimpungan karena banyak nyamuk.

Akhirnya saya mencoba tanya ke teman-teman di Facebook. Banyak dari mereka lalu berbagi pengalaman untuk mengatasi masalah susah tidur yang dialami Kayyisah.

Menurut seorang teman, bayi di bawah usia 3 bulan memang punya kecenderungan susah tidur. “Kalau sudah di atas umur 3 bulan, malah hobi tidur tuh, Mbak,” katanya.

Oke, itu memang kenyataannya. Tapi saya kasihan melihat Kayyisah yang sampai bermata panda karena kurang tidur.

Untuk urusan cahaya saat tidur, teman yang lain menyarankan memasang lampu temaram. Beberapa artikel yang saya baca pun menyarankan hal serupa. Jadinya, bayi terbiasa mengenali siang dan malam.

Cara ini saya coba. Awalnya Kayyisah bisa terbiasa dengan keadaan ini. Tidurnya jadi pulas. Karena gelap dan saya kesulitan mengontrol nyamuk, Kayyisah saya tutupi dengan tudung selambu jaring untuk bayi.

Tapi beberapa hari kemudian, cara ini tidak ampuh. Lucunya, Kayyisah takut sama gelap. Kalau lampu ditemaramkan, dia bisa membelalakkan matanya, memandang ke sekeliling dengan nafas terngah-engah, lalu kaki dan tangannya terus bergerak.

Terpaksa, saya kembali menggunakan lampu terang. Karena nyamuknya banyak, saya masih berusaha menutupinya dengan tudung selambu jarring. Dasar si anak aktif, tudung ini membuatnya tidak bisa bergerak leluasa.

SAM_2930

Pakai tudung selambu ini suka kadang bisa kadang nggak klop sama Kayyisah. Kadang ia bisa tidur pulas. Tapi kadang, ia suka kegerahan dan kurang bisa bergerak bebas di dalamnya.

Akhirnya ayah saya membelikan raket nyamuk. Cukup lumayan mengamankan Kayyisah yang sering terganggu nyamuk. Tapi, si nyamuk suka masuk dari bawah celah pintu saat saya sudah tertidur. Waktu bangun, terlihat beberapa bekas gigitan nyamuk di tangan, kaki, atau kepala Kayyisah. Kesalnya, bekas gigitan nyamuk susah hilang di kulit Kayyisah.

SAM_2931

Raket nyamuk, terkadang cukup membantu menghalau nyamuk.

Teman saya di Facebook juga ada yang menyarankan mengoleskan lotion bayi aroma lavender yang baunya menenangkan. Ada juga yang menyarankan untuk mengolesi minyak telon yang bisa menghalau nyamuk dan baunya juga enak untuk bayi biar bisa tidur nyenyak.

Tapi walau produk itu punya kekuatan, tetap saja, ada batas habisnya jika kulit bayi terus bergesekan dengan kain di sekitarnya. Saat lapisannya hilang, Kayyisah jadi didatangi nyamuk lagi.

Biar praktis, saya lalu memilih Baygon Liquid Elektrik, perlindungan anti nyamuk yang tepat untuk kamar anak, tanpa asap, tanpa repot, tanpa nyamuk. Nggak perlu lagi nyuruh orang serumah keluar untuk menyemprot ruangan di rumah. Tanpa asap yang mengganggu apalagi bikin dinding rumah jadi belang-belang. Kayyisah jadi aman dari nyamuk, tidurnya bisa pulas, saya pun nggak sedih lagi lihat kulitnya yang bentol-bentol atau hitam bekas digigit nyamuk.

Satu lagi, saya jadi bisa tidur memeluk Kayyisah, deh. Kalau dulu suka terhalang oleh tudung, sekarang saya jadi bisa tidur berdekatan dengannya tanpa penghalang lagi.