Berasa di Film Upin Ipin

Berasa di Film Upin Ipin.jpg

Suara sirine mobil pemadam kebakaran terus meraung. Membuat siapapun penasaran, kira-kira di mana ya ada kebakaran?

Rasa ingin tahu itu juga ada dalam benak para guru, siswa, dan para pengajar berikut fotografer dan videografer dari Kelas Inspirasi 3 Lamongan yang sedang ada di SDN Tumenggungan 2. Saat mobil pemadam kebakaran lalu masuk ke halaman SD, senyum kecil bermunculan merekah di bibir setiap fasilitator Kelas Inspirasi.

“Surprise!” ujar Mbak Mardiana, koordinator fasilitator Kelas Inspirasi Kecamatan Lamongan dengan nada santai saat saya menunjukkan wajah bengong di depan pintu kelas 1.

Rupanya, diam-diam para fasilitator juga ingin memberikan inspirasi tentang profesi pemadam kebakaran di SDN Tumenggungan 2.

SAM_3264ok

“Wah, rugi kalau nggak masuk hari ini! Untung aku nggak jadi bolos,” celutuk seorang siswa. Ternyata, ia teringat temannya yang sengaja tidak masuk hari itu karena tahu akan tidak ada pelajaran di sekolah.

SAM_3273ok

Ya, hari Sabtu, 30 Januari 2016 lalu menjadi hari yang menyenangkan bagi anak-anak di SD tersebut. Keasyikan mereka dengan para petugas pemadam kebakaran membuat siapapun jadi teringat sebuah episode di film Ipin Upin.

Dengan jelas dan lengkap, para petugas kebakaran menerangkan tentang profesi mereka berikut cara-cara mengatasi kebakaran. Wajah-wajah antusias dan penuh semangat terlihat saat mereka begitu ingin ikut memadamkan api dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran juga air dari selang. Tidak peduli apakah itu anak laki-laki atau perempuan, kelas 6 atau kelas 1 SD, banyak dari mereka yang berebut ingin mencoba.

SAM_3277ok

Tahun ini merupakan kali ke tiga Kelas Inspirasi diadakan di Lamongan. Selain SDN Tumenggungan 2 yang ada di Kecamatan Lamongan, Kelas Inspirasi Lamongan tahun ini juga diadakan di Kecamatan Maduran, Sugio, Bluluk, Glagah, Paciran, Mantup, Brondong, Pucuk, Kali Tengah, dan Kembangbahu.

Yang tidak saya duga, ternyata para relawan baik pengajar, vidoegrafer, maupun fotografernya banyak berasal dari luar Lamongan. Bahkan ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Para ‘petualang relawan’ ini rupanya kerap menjadi relawan juga di Kelas Inspirasi yang ada di daerah-daerah lain. Many thumbs deh! *salut

Dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang berlangsung selama satu hari, para pengajar mengenalkan profesinya masing-masing. Tujuannya untuk memberi inspirasi kepada anak-anak usia belia, bahwa di dunia ini ada lho, profesi yang tak hanya dokter, guru, polisi, tentara, atau artis. Hehe, nyatanya, memang jika ditanya cita-cita, banyak anak-anak yang melulu menjawab profesi-profesi tersebut.

Saya sendiri di tahun ini ikut menjadi relawan pengajar dan mengenalkan profesi penulis cerita anak. Sok ngegaya, memilih kelas yang diajar adalah kelas 1 SD. Padahal dari beberapa cerita para relawan pengajar yang bercerita di blognya, anak kelas 1 dan 2 SD itu tantangannya gede! Mereka masih suka susah diajak konsentrasi serius.

Di Kelas Inspirasi, saya membawa dua buku cerita karya Mbak Widya Ross yang berjudul ‘Dongeng Misterius dari Lima Benua’ dan buku karya Mbak Watiek Ideo yang berjudul ‘Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri’.

Saat masuk kelas, saya sapa anak-anak dengan salam khas Kelas Inspirasi Lamongan.

“Teteretetet… Wusss!” dengan tangan terkepal mengacung ke depan lalu di arahkan ke samping, kesepuluh anak di kelas 1 menyambut salam saya.

Agar makin cair suasananya, saya ajak mereka untuk bernyanyi Familly Finger (*saya lupa judul aslinya). Maksudnya, sekaligus biar mengetes konsentrasi mereka.

Cerita pertama yang saya sampaikan berjudul ‘Penyihir Ditakuti di Seluruh Jagat Raya’ dari bukunya Mbak Widya. Karena masih awal pertemuan, masih serius tuh merekanya mau menyimak cerita saya. Apalagi saya sambil memerankan tokoh nenek sihir dan mengajak seorang anak untuk menjadi tokoh Daniel yang ada di cerita tersebut.

Lanjut, saya bercerita lagi yang judulnya ‘Apakah Ada Monster?’ yang berasal dari bukunya Mbak Watiek. Anak-anak pun masih berminat menyimak cerita saya.

Namun setelah itu, setelah dua cerita habis, setelah para fotografer sekaligus videografer tidak ada lagi di kelas saya, setelah mereka ingat bahwa minggu lalu mereka tidak olah raga dan begitu juga hari itu, nah… mulailah semuanya jadi tak terkendali! *meringis

Ada anak yang mulai jalan ke sana-sini, ada yang ke luar kelas, ada yang berkali-kali tanya, “Kapan Bu, kita olah raga?” dan ada yang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Hahaha, benar-benar saya sampai speechless! Pasalnya waktu dulu saya pegang daycare, anak-anak balita itu bisa antusias lama mendengar saya bercerita. Karena itulah saya pe-de ambil kelas 1. *sigh

Baiklah, sepertinya kalau tahun depan ada lagi, saya harus ubah strategi. Waktu satu jam yang saya pikir akan sebentar, ternyata saat itu terasa lama. Kali itu saya merasa pengalaman pegang daycare dan mengajar anak SMA serta mahasiswa di Poltek, tidak ada artinya.

img-20160201-wa0003.jpg

Para guru SDN Tumenggungan 2 Lamongan, tim pengajar dan fasilitator Kelas Inspirasi Lamongan

Bagaimana dengan kelas yang lain? Di SD Tumenggungan 2 kemarin, saya juga ditemani enam pengajar lain yang berasal dari profesi lain. Ada Mbak Asti yang mengenalkan profesi koki, Mbak Ika dengan profesi HSE Officer, Mbak Ratna sebagai penyuluh pertanian dan peternakan, Mbak Dinar yang jago doodle art, Mas Afiv sebagai engineering yang berduet dengan istrinya, Mbak Fatimah dengan pengenalan profesi HRD.

 

image

image

Urusan mengabadikan ke foto, ada relawan fotografer yaitu Mas Tahfif, Mas Lukman, dan Mbak Haura. Sedangkan videografernya ada Mas Arif.

Usai acara pengenalan profesi, anak-anak lalu diajak untuk menuliskan cita-citanya di mika bening warna-warni, lalu digantung di batang pohon yang kami sebut pohon cita-cita.

Overall, acara kemarin sukses bin asyik! Senang rasanya bisa kenalan dengan para guru SDN Tumenggungan 2 yang baik-baik. Tentu saja, kegiatan kemarin juga sukses karena adanya teman-teman fasilitator, Mbak Mardiana, Mbak Balqis, Mbak Aisyah, Mas Ical, Mbak Farokha.

Kelas Inspirasi Lamongan, sehari menginspirasi, seumur hidup memberi arti. Teteretetet… Wusss!!!😀
image

Terlalu Sayang

Pict Gado-gado

Punya orangtua yang terlalu sayang pada anaknya itu bisa dibilang ada enaknya tapi ada juga serunya. Saya sengaja pakai kata ‘ada serunya’ untuk mengganti kata ’tidak enak’. Yah, karena bagaimanapun sikap mereka, saya tahu, maksud orangtua saya yang terlalu sayang dengan perhatian berlebihan itu sebenarnya baik. Meskipun tak jarang, akhirnya saya jadi sering mendapatkan pengalaman unik dari sikap orangtua saya tersebut.

Misalnya pengalaman saat dulu bekerja sebagai reporter di Batam, sementara orangtua saya tetap tinggal di Lamongan, Jawa Timur. Setiap Ramadan, saya memang punya kebiasaan untuk minta ditelepon agar bisa bangun sahur. Karena saya sering pulang dari kantor hingga larut malam, ditambah kebiasaan tidur saya yang suka susah bangun, membuat saya termasuk orang yang sulit untuk bisa bangun pagi.

Suatu ketika saat sedang haid, saya lupa memberitahu kedua orangtua saya. Malamnya menjelang tidur, nada dering ponsel saya nonaktifkan. Sengaja hal itu saya lakukan karena terkadang ada narasumber yang minta diliput dan menghubungi saya di pagi hari. Pikir saya, mumpung besok jam liputan yang diberikan koordinator liputan ke saya adalah siang hari, saya ingin sekali bangun agak siang.

Pagi harinya, saya dibangunkan oleh suara ponsel Tari, teman sekamar saya. Terdengar sayup-sayup, Tari menyebut nama saya dalam percakapannya.

“Ika? Ada kok, Mas. Ini orangnya baru bangun tidur. Apa? Oh, mau bicara sama dia?” Tari kemudian memberikan ponselnya pada saya.

“Mbak Ika? Mbak Ika baik-baik saja kan?” tanya suara di seberang. Saya hapal, itu adalah suara Mas Gentur, manajer iklan di kantor saya. Mendengar pertanyaan Mas Gentur yang menurut saya aneh, kesadaran saya yang terserak di berbagai alam mimpi langsung terkumpul cepat di kepala.

“Saya baik-baik saja kok, Mas. Ada apa ya?” saya langsung sontak duduk dari posisi tidur.

“Jadi gini, tadi itu saya dapat telepon dari Mas Elang. Dia minta saya ngecek kondisi Mbak Ika. Soalnya Mas Elang dapat telepon dari orangtua Mbak Ika. Katanya kok telepon Mbak Ika berkali-kali nggak bisa. Jangan-jangan Mbak Ikanya kenapa-kenapa,” jelas Mas Gentur yang langsung membuat mulut saya menganga, membelalakkan mata, dan memegang kening erat-erat. Saya tak menyangka orangtua saya sampai menghubungi HRD pusat yang ada di Jakarta demi mencari tahu kabar kondisi saya.

“Oh, maaf Mas. Hp saya mungkin mati,” jawab saya sembari tangan meraba-raba ke bawah bantal, mencari ponsel yang biasanya saya letakkan di dekat sana.

Usai menutup telepon dari Mas Gentur dan saya pun berhasil menemukan ponsel, terlihat ada 24 panggilan tak terjawab dan lima sms. Semua panggilan itu dari nomor ponsel ayah dan ibu saya.

“Ada apa Bu, kok sampai telepon aku bolak-balik?” tanya saya yang saat itu segera meneleponnya.

“Kamu itu ya, ditelepon bolak-balik kok nggak diangkat! Ayah ibu sampai panik. Jadi tadi ya ayahmu nelepon ke pak yang ngebawa kamu waktu tes di Jogja dulu itu. Lha kamu tadi udah sahur apa belum? Kan biasanya minta bangunin sahur. Ya Ibu sama Ayah nelepon!” cerocos ibu saya di seberang sana dengan nada khawatir bercampur kesal karena sesekali terdengar suaranya yang membentak saya.

“Oh, eh, maaf Bu. Aku lagi haid. Jadi hpnya aku silent,” jawabku.

Akhirnya ibu saya meminta nomor ponsel Tari dan Mbak Ruri yang bersahabat dekat dengan saya saat di Batam. Kata mereka buat jaga-jaga, biar tidak perlu lagi menelepon ke HRD di Jakarta jika saya ada apa-apa. Ampun deh!

Yang membuat saya malu, berita tentang saya yang dicari orangtua saya ini sampai terdengar ke pimpinan redaksi alias pimred saya, Mas Febby.

“Jadi ini ta, anak ilang sing dicari orangtuanya tadi pagi!” seru Mas Febby dengan logat suroboyoannya sambil terkekeh geli.

Saya langsung berlalu sembari nyengir dan tutup muka. Dalam hati saya berdoa, semoga ia masih memercayakan saya sebagai anak buahnya untuk liputan. Nggak lucu kan kalau saya dapat liputan yang itu-itu saja hanya karena ia khawatir kalau saya kenapa-kenapa dan orangtua saya kebingungan lagi.

Waktu itu kadang saya terpikir, entah apa jadinya ya jika ayah dan ibu saya juga ikut tinggal di Batam? Jangan-jangan mereka jadi dag dig dug melulu. Soalnya yang namanya liputan itu sering tidak kenal waktu dan tempat. Bisa jadi saya harus meliput sendirian, malam hari, di tempat yang jauh.

Di lain waktu, giliran teman saya yang sedang nikah yang kena sasaran orangtua saya. Ceritanya, waktu itu saya menghadiri nikahan kawan dekat saya yang sebelumnya menjadi teman kerja saya juga saat menjadi reporter. Saya memanggilnya Mbak Ruri. Sendirian saya berangkat ke Jogja dari Lamongan. Meski belum pernah tahu rumahnya tapi saya yakin bisa sampai ke sana berbekal petunjuk dari Mbak Ruri.

Sampai di rumah Mbak Ruri, saya lihat sedang ada acara seperti doa bersama secara Katolik sebelum hari pernikahan esok harinya di gereja. Akhirnya saya memilih untuk salat asar dulu di musala dekat sana. Saat kembali ke rumah Mbak Ruri, teman saya itu langsung berseru, “Lhah, kowe wes nyampe tho, Ka? Tadi ayahmu telepon beberapa kali ke aku nanya tapi aku nggak seberapa bisa jawab. Wong tadi ada acara itu, e.”

Saya menggeleng-gelengkan kepala karena tak habis pikir melihat sikap orangtua saya yang lagi-lagi terlalu khawatir.

“Ampun deh Ayah… masa anaknya yang udah sebesar ini dan pernah jadi reporter liputan ke mana-mana masih dikhawatirkan tersesat?” batin saya.

Ketika saya meminta maaf karena sikap ayah yang terlalu mengkhawatirkan saya, teman saya jadi tertawa geli. “Lha yo, Ka. Padahal kan kamu biasanya liputan sana sini kayak gitu ya? Kalaupun kesasar ya bisa telepon atau tanya orang, tho?” komentar Mbak Ruri dengan nada takjub.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina Rubrik Gado-gado yang terbit 19-25 Desember 2015

Mencairkan Dana Jamsostek atau BPJS Ketenagakerjaan

image

Baiklah, to the point dulu deh biar para pembaca yang butuh infonya bisa langsung bungkus.
Kita bisa mencairkan dana Jamsostek kalau…
1.   Sudah keluar dari tempat kerja dan menganggur atau pensiun.
2. Kalaupun masih kerja lagi, kita tidak punya kartu Jamsostek lagi. Maksudnya misalnya nih, kita keluar dari perusahaan A ke B. Di perusahaan B, kita nggak punya kartu Jamsostek (atau belum mengurus baru). Tapi kalau di tempat baru kita punya kartu Jamsostek baru, kartu Jamsostek lama kita tidak bisa kita cairkan.
3. Nggak usah lagi nunggu bertahun-tahun untuk mencairkan. Tapi biar aman, datang saja ke kantor Jamsostek terdekat, lalu cek apakah kartu Jamsostek kita sudah tidak aktif. Karena sering juga ada kejadian, kitanya sudah keluar, tapi dana Jamsostek kita masih dibayarkan perusahan tempat kita kerja.
Cara mengecek saldo:
1. Bisa dilakukan lewat internet atau aplikasi BPJSTK di Google Playstore. Nanti kita diminta daftar dulu dengan memasukkan nomor Jamsostek kita, baru kemudian kita dapat pin untuk pengecekan seterusnya.
2. Bisa juga langsung tanya ke kantor BPJSTK. Nanti sekalian kita bisa tahu, apakah dana Jamsostek kita sudah bisa diambil atau belum.
Yang diperlukan untuk pengurusan dana Jamsostek (BPJS Ketenagakerjaan):
1.   Kartu Jamsostek yang asli
2. Foto kopi KTP. Bawa juga yang asli.
3. Fotokopi (bawa juga yang asli) bukti sudah keluar dari perusahaan. Tapi kalau keluarnya setelah taggal 1 September 2015, harus pakai surat tambahan yaitu surat keterangan dari perusahaan yang sudah ditembuskan ke dinas tenaga kerja.
4. Foto kopi KK. Bawa juga yang asli.
5. Foto kopi buku tabungan dan bawa juga yang asli. Ini kalau kita mau dana Jamsostek kita dicairkan lewat langsung transfer ke rekening kita.
6. Formulir pengambilan dana Jamsostek yang sudah diisi.
Beberapa kasus khusus:
1. Bawa materai untuk jaga-jaga kalau ada data kita yang tidak klop dengan data di Jamsostek. Pengalaman saya, karena nomor KTP di data Jamsostek beda dengan KTP saya sekarang karena dulu pakai yang belum e-KTP, saya diminta untuk mengisi surat pernyataan plus membubuhkan materai dan tanda tangan.
2. Kalau dari tempat kerja lama kita nggak dapat surat tanda sudah berhenti kerja, kita bisa minta dulu ke bagian HRD/PSDM tempat dulu kita kerja. Tapi kalau tempat kerja kita sudah tutup, kita harus mengurus surat kehilangan ke kepolisian. Ehm, bukan surat kehilangan kantor kerja kita dulu lho ya… Tapi surat kehilangan tanda bukti jika kita sudah tidak kerja di perusahaan tersebut.
Nah, sekarang cerita pengalaman saya nih. Beberapa waktu lalu, saya diingatkan oleh teman untuk mencairkan dana Jamsostek dari tempat kerja sebelumnya. Ini kali ke dua ada teman saya yang mengingatkan. Awalnya saya tidak peduli karena rasanya, paling hanya sedikit dana yang saya dapat. Tapi setelah kali ke dua diingatkan teman yang lain, saya pun penasaran dan mengeceknya.
Waktu itu saya mengecek via online. Awalnya saya daftar dulu via internet di netbook. Setelah berhasil dapat nomor pin, saya pun mencek dan jadi tahu saldo Jamsostek saya.
Tapi saat saya ingin mengecek kartu Jamsostek yang lain, saya kesulitan. Akhirnya saya pakai aplikasi BPJSTK di Google playstore. Dengan nomor pin yang sama waktu saya buat pakai netbook, aplikasi ini malah memudahkan saya melihat saldo Jamsostek dari dua kartu yang saya miliki. GPL alias cepat lagi!
Kaget juga waktu tahu. Setelah saya jumlahkan keduanya, ternyata nominalnya besar juga. Setelah itu langsung saya cari tahu cara mencairkannya.
Setelah browsing sana-sini, saya temukan kantor perwakilan di Bojonegoro atau Gresik yang bisa saya tuju. Dengan pertimbangan kemungkinan di Bojonegoro lebih sepi, berangkatlah saya ke sana.
Agak rempong juga lho prosesnya. Pasalnya saya punya bayi yang full ASI. Kemudian, saya pun mengajak adik ipar saya untuk ikut mencairkan dana Jamsosteknya. Pada akhirnya, berangkatlah saya, ibu saya biar bisa saya titipi anak saya selama mengurus, adik ipar, berikut anaknya yang masih kecil karena ia tidak bisa menitipkan anaknya ke orangtuanya yang sedang bekerja. Ini masih ditambah saya harus meminjam mobil bulek saya.
Menurut beberapa informasi, katanya sih kalau berangkat itu lebih baik pagi-pagi sekali. Yah, namanya juga duo emak-emak bawa anak, tetap saja susah berangkat pagi. Dari Lamongan, kami berangkat jam tujuh lebih. Sampai Bojonegoro, sekitar jam sembilan. Agak muter-muter dulu karena alamat kantornya tidak sama dengan di internet. Untungnya, Jalan Untung Suropati, tempat kantor baru, tidak jauh dari kantor yang lama.
Pas sampai kantor BPJSTK, fuih, itu antrian sudah banyak kakak… Kantornya itu berupa bangunan rumah yang diubah jadi kantor. Lalu yang antri, diminta duduk di tempat yang dulunya adalah area garasi. Ada pak satpam yang tugasnya jadi front office menangani nomor antrian dan panggilan.
Sewaktu awal datang, dengan pe-denya, saya langsung isi formulir dan optimis urusan cepat selesai karena data-data saya lengkap. Eh, Pak satpamnya cuma merespon saya dengan memberi stampel foto kopi KTP saya, lalu disuruh balik seminggu kemudian.
Jauh-jauh dari Lamongan, cuma dapat stempel KTP, disuruh balik lagi berikut berkas-berkas yang lengkap sudah saya bawa, rasanya kayak orang pindah minum teh ke tempat jauh yang pindahnya butuh waktu 2 jam! Iya, dengan dongkol, saya dan adik ipar akhirnya keluar kantor Jamsostek, minum teh di warung seberang, lalu memutuskan segera pulang. Ini persis kayak orang jalan-jalan kurang kerjaan! Sampai di Lamongan lagi saja, waktu pas saat Dzuhur.
Membayangkan harus ke Bojonegoro lagi, saat itu rasanya sudah malas. Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ibu saya dapat info dari teman kerjanya dulu kalau ada kantor cabang BPJS Ketenagakerjaan di Lamongan. Hohoho, ke mana saja saya selama ini? Beginilah kalau jadi orang yang keseringan melulu di rumah.
Beberapa hari kemudian saya coba mengurus ke sana. Kondisinya lebih nyaman dari pada ke Bojonegoro euy. Antrian nggak seberapa, petugasnya pun ramah. Saya malah bisa tanya ini itu tentang masalah yang dihadapi adik saya.
Seperti halnya di Bojonegoro, di Lamongan pun saya diminta ambil nomor antrian dulu untuk pengurusan seminggu kemudian. Kali ini sih nggak pakai acara ngedumel. Wong cuma di Lamongan saja.
Pas hari H, alhamdulillah dikasih Allah kemudahan yang awalnya terlihat berupa tantangan. Ceritanya, jalanan lagi macet karena ada acara anak-anak TK di GOR. Momen langka nih ada kemacetan di kota sekecil Lamongan. Pas sampai di tempat, kantornya sepi! Antrian pun kayak orang jalan lewat tol. Orang-orang yang dipanggil, pada nggak ada. Saya yang dapat nomor antri 26, malah bisa antri menunggu empat orang saja.
Pas mengurus, ketemu mbak yang ramah dan suka bertanya seputar Batam. Setelah melewati proses pengecekan sampai difoto, urusan saya pun selesai. Hanya sekitar dua jam saja lho jadinya saya ada di kantor itu.
Setelah menunggu-nunggu, akhirnya dana yang ditunggu cair juga setelah 10 hari kemudian. Alhamdulillah…
Eh iya, saya baru tahu lho kalau dana Jamsostek itu bisa berkembang tiap tahunnya kalau tidak kita ambil. Jadi buat yang mau punya tabungan di Jamsostek, kayaknya bisa tuh ambil dana sekian persen saja dulu. Sisanya, bisa dibiarkan berkembang di Jamsostek.

Mewaspadai Extrapyramidal Symptoms

Saya benar-benar tidak akan lupa atas apa yang terjadi pada anak saya beberapa hari lalu. Bayi yang baru beberapa hari melewati usia satu tahunnya itu harus melewati sembilan jam kondisi otot kaku yang tak saya sadari sedikitpun.
Semua berawal saat ia mengalami muntah-muntah sebanyak empat kali sejak Selasa siang hingga malam. Lalu makin malam, perutnya kembung. Suhu badannya juga makin naik.
Karena bayi saya tidak suka minum obat dan saya pun berusaha sebisa mungkin memilih cara alternatif, akhirnya saya buatkan campuran irisan bawang merah dan minyak telon. Setelah itu, saya usap bagian perut, punggung, dan telapak kakinya dengan campuran tersebut.
Pagi harinya, kondinya tak juga membaik. Akhirnya saya dan suami berinisiatif membawanya ke bidan yang terkenal kerap menyembuhkan anak-anak yang sakit. Sepulang dari sana, saya mendapat tiga obat: antimual-muntah, antikembung, dan lactobacylus. Ketiganya lalu segera saya minumkan. Dan di situlah semuanya bermula.
Awalnya bayi saya pada akhirnya bisa tertidur pulas. Namun ketika bangun, lambat laun keceriaannya berubah menjadi wajah mungil yang terus menatap ke arah atas. Semula saya kira ia tertarik pada benda yang sedang dilihatnya. Saat saya ambilkan benda tersebut, tangannya menampik.
Beberapa waktu kemudian posisi tidurnya saya ubah. Kembali ia menatap ke arah atas. Saya telusuri apa yang menarik perhatiannya. Saat menjumpai bayangan beberapa boneka besar yang kerap tak ia suka, sudut itu lalu ditutupi koran oleh ibu saya.
Pandangannya tak juga beralih. Saya dan ibu mulai gelisah. Akhirnya bayi saya digendong ibu. Ia pun berujar, mungkin anak saya sawan pengantin karena beberapa waktu lalu diajak ke pengantin. Ibu lalu mendesak suami saya untuk memintakan bedak pengantin untuk diusap ke tubuh anak saya.
Makin lama, tatapan mata anak saya makin terlihat kosong. Ia masih sering menatap ke atas. Malah saat saya susui, saya lihat matanya menjadi juling. Tak hanya itu, makin sore, tubuhnya makin lemah. Anak yang biasanya penuh teriakan, tawa, dan kaki yang aktif menendang, saat itu tidak lagi saya jumpai. Ia bahkan hanya dia tak mau saya susui.
Suami saya lalu mengajak untuk membawa si kecil ke dokter anak. Di situlah kami baru tahu, ternyata ada dua obat yang seharusnya tidak boleh diminumkan. Obat yang maksudnya untuk mengatasi kembung, malah merupakan obat maagh. Padahal anak saya tidak maagh. Lalu yang paling membuat saya terkejut adalah obat antimual yang karena inilah anak saya menjadi terlihat aneh.
Saat itu saya bertanya, kenapa anak saya jadi melulu menatap ke atas. Padahal sampai pagi hari itu tidak demikian.
“Ya itu akibat obat antimualnya itu. Dulu saya pernah ketemu kasus kayak gini. Anaknya sampai melotot terus ke atas terus kejang-kejang. Orang tuanya sudah manggil para normal segala. Padahal anaknya kena efek obat itu.”
image

Saya dan suami langsung merasa lega. Selain jadi tahu penyebabnya, kami pun jadi makin percaya bahwa tidak ada yang namanya sawan penganten.
Segera kami pulang ke rumah. Namun saat kami usai shalat maghrib, saya yang sedang meracik bubur untuk anak saya, dikejutkan oleh suara suami yang meminta saya segera datang.
“Mi’, anake kena apa iki lo?”
Saya lihat kedua tangan anak saya mengepal kencang. Sebisa mungkin suami saya mencoba mengendurkan kepalan tangannya. Sadar apa yang terjadi dengan sekilas teringat masa kecil adik saya yang kerap kejang, saya cek mulut anak saya. Gigi-giginya sedikit mengatup. Namun tidak begitu kencang menggigit.
Segera saya angkat dan saya dudukkan ia di pangkuan saya. Pelan-pelan, saya suapi ia dengan biskuit bayi kesukaannya dengan tujuan agar ada sesuatu yang bisa ia gigit. Sementara itu, suami saya segera melarikan motor kembali ke dokter anak sebelumnya karena saat kami telepon, pihak klinik malah meminta kami untuk datang meminta obat antikejang.
Lambat laun bayi kecil saya mengendurkan kepalan tangan dan katupan giginya. Lega melihatnya pelan-pelan mau makan. Meski alam hati saya bingung, kenapa saya merasakan tubuhnya gemetar di pangkuan saya. Saat melihat gelas, ia merengek yang saya pahami sebagai kebiasaannya meminta minum.
Usai minum, saya minumkan sekalian obat dari dokter anak. Obat berhasil masuk. Sesudah itu, saya lihat ia menjulur-julurkan lidahnya. Saat saya beri air putih, ia seperti kesulitan menelan. Segera saya susui. Senang rasanya saat ia kembali mau menyusu.
Namun beberapa saat kemudian ia malah menggigit dan terus makin kuat. Saya lepas sebisa mungkin dan saya ganti dengan jempol saya. Gigitannya makin mengencang hingga saya kesakitan. Sambil panik, ibu segera mencari perban untuk mengganjal.
Pikiran kami sama, langsung segera membawa ia ke IGD. Bergegas ibu menggendong bayi saya dan membawanya pergi. Sementara saya terpaksa menunggu beberapa saat di rumah karena suami belum pulang dari dokter anak dan ayah saya masih keluar membeli lauk makan malam.
Saat akhirnya saya dan suami bisa menyusul becak yang dinaiki ibu, segera saya angkat bayi saya agar lebih cepat sampai ke IGD.
Petugas IGD langsung menyediakan tempat tidur dan obat-obatan. Setelah saya ditanya berat badan si kecil, selang oksigen segera dipasang. Obat segera dimasukkan ke dalam dubur. Alat deteksi jantung dijepitkan di jempol kaki anak saya.
Senyum saya pecah saat melihatnya bisa teriak lagi, menangis, dan menggerak-gerakkan kaki dan tangannya. Karena hampir seharian, saya sulit menjumpai itu semua.
Semua tanda tanya besar saya terjawab saat dua kali kunjungan dokter anak yang mengecek kondisi bayi saya selama opname dua hari berturut-turut.
  – Anak saya tidak kejang akan tetapi mengalami Extrapyramidal symptoms. Karena jika kejang, ia tidak bersuara. Beda dengan ekstrapiramidal di mana saat itu ia masih bisa mengelurkan suara rintihan tangis. Benar-benar pengetahuan baru buat saya dan juga para dokter muda yang mengikuti dokter anak yang sedang kunjungan. Karena di histori lembar data anak saya, kasus yang dialami anak saya ditulis dengan bahasa kejang. Padahal aslinya seharusnya bukan.
  – Semua yang terjadi pada anak saya adalah akibat zat metoclopramide. Obat antimual dengan kandungan ini sebetulnya tidak boleh diberikan pada anak-anak. Dari hasil cerita dengan bulek saya atau saat baca di internet, ada beberapa orang yang bisa mengalami efek samping berupa kejang otot. Ada yang lehernya kaku. Sementara adik sepupu saya pernah sampai tergulung ke belakang lidahnya.
Extrapyramidal symptoms memang efek samping dari obat anti mual yang jika tidak diwaspadai, bisa berlarut-larut dan akhirnya fatal akibatnya.
Ini akan jadi catatan bagi histori kesehatan untuk anak saya. Ke depannya, saya maupun ia, harus waspada dengan zat metoclopramide. Meski apapun merk obatnya.
Satu hal yang juga saya syukuri, alhamdulillah ia selamat dari kecerobohan saya yang tidak paham bagaimana mengatasi anak dengan kondisi kejang atau extrapyramidal symtomps. Seharusnya, saya tidak boleh menyuapinya atau memasukkan tangan untuk mengganjal giginya yang mengatup rapat.
Kini saya jadi lebih waspada untuk selalu siap sedia termometer dan obat penurun panas. Sebelumnya, saya akui kalau saya itu ‘ndablek’ dengan yang namanya suhu tubuh si kecil. Pasalnya, saya amati bayi saya mirip dengan abinya yang kerap memiliki suhu tubuh lebih tinggi dari orang kebanyakan. Biasanya jika sumeng, saya cukup susui saja dan setelah itu ia banyak berkeringan lalu kembali normal.
Terus saya berharap, ia tak lagi kembali opname di RS baik itu di setiap tanggal 30 Desember maupun waktu-waktu lainnya. Ya, seminggu setelah lahir, tahun lalu bayi saya harus opname tiga hari dua malam di NICU karena kuning. Tahun ini, di tanggal dan waktu yang sama ia kembali harus opname di RS.

Peringatan Alam dari Keringnya Sendang

Oleh: Ika Maya Susanti

Saya hanya bisa memandang wajah-wajah takjub saat ibu mertua dan adik ipar saya melihat beberapa foto sumber mata air yang usai saya ambil sebelumnya.

“Kok bisa begitu ya sekarang? Dulu padahal ini untuk tempat mandi orang. Airnya penuh!” seru ibu mertua saya.

Dan begitulah fakta yang juga sempat saya dengar dari suami saya saat mengajak saya main ke sumber mata air yang menjadi tumpuan banyak warga di Desa Lopang. Kebanyakan warga di desa tersebut sangat mengandalkan keberadaan aliran air yang mengalir dari mata air Beji.

Kondisi mata air itu sendiri saat ini memang sangat jauh berbeda dari beberapa puluh tahun yang lalu. Dahulu, ada dua sendang yang berdekatan yang airnya berasal dari sumber mata air Beji. Bahkan menurut suami saya, memang dahulunya kondisi air sendangnya penuh.

“Bahkan dulu ada yang sempat ketakutan kalau-kalau airnya meluber dan akan membanjiri kampung,” tutur suami saya.

Beginilah kondisinya sekarang, hanya ada sedikit genangan air yang tersisa di musim kemarau. Padahal dulu sendang ini sepat dikhawatirkan airnya meluber dan membanjiri desa.

Beginilah kondisinya sekarang, hanya ada sedikit genangan air yang tersisa di musim kemarau. Padahal dulu sendang ini sepat dikhawatirkan airnya meluber dan membanjiri desa.

Sementara itu faktanya, saat ini kondisi sendang tersebut hampir mengering. Di bagian dasar sendang, saya melihat sebuah pompa air yang terus aktif menyala. Suami saya menyayangkan keberadaan pompa air tersebut yang menurutnya merupakan milik pribadi dan bukan dikelola untuk kepentingan bersama.

“Coba saja kalau ini tidak dibor, pasti airnya bisa memenuhi ke sendang yang ada di sana,” tunjuknya ke arah sendang yang lebih besar.

Di dekat mesin pompa itu sendiri, ada beberapa bekas pipa yang menjadi pertanda jika titik itu juga pernah dibor untuk diambil airnya.

Sedangkan nasib sendang yang lebih besar, lebih mengenaskan lagi. Tak ada sedikitpun air yang menggenang. Saat saya ke sana, memang sedang musim kemarau. Namun kondisi sendang yang mengering itu menurut suami saya, dulu tidak demikian adanya.

Ini sendang yang lebih besar. Kondisinya lebih mengenaskan lagi karena tak tersisa air sedikitpun di dasar sendang ini saat musim kemarau. Saya malah sempat membayangkan, bahkan dasar sendang ini sekarang bisa digunakan anak-anak untuk tempat bermain bola.

Ini sendang yang lebih besar. Kondisinya lebih mengenaskan lagi karena tak tersisa air sedikitpun di dasar sendang ini saat musim kemarau. Saya malah sempat membayangkan, bahkan dasar sendang ini sekarang bisa digunakan anak-anak untuk tempat bermain bola.

Tak jauh dari sendang tersebut, terdapat menara air yang di bagian bawahnya terdapat pompa air berkekuatan besar yang aktif. Sumber air inilah yang menjadi andalan banyak warga sejak sekitar 10 tahun terakhir. Saat saya mengunjungi tempat itu, ternyata baru beberapa bulan dibuatkan sumber bor mata air yang baru.

Menara untuk pengelolaan mata air Beji.

Menara untuk pengelolaan mata air Beji.

Sumber mata air hasil pengeboran baru

Sumber mata air hasil pengeboran baru

Sumber mata air hasil pengeboran lama

Sumber mata air hasil pengeboran lama

Sebetulnya, Desa Lopang adalah daerah yang sangat kaya akan sumber mata air meski letaknya tidak di pegunungan. Menurut suami saya, dalam satu desa, terdapat beberapa wilayah yang air tanahnya berkualitas bagus dan bisa dikonsumsi untuk diminum. Sementara beberapa wilayah yang lain memiliki mata air yang kondisinya tidak demikian. Jika diolah untuk air minum, sumber air tanah jenis yang kedua ini rasanya cenderung pahit.

Nah, daerah inilah yang kemudian awalnya menjadi alasan untuk dibuatnya pengeboran mata air Beji. Warga jadi tidak perlu berpayah-payah lagi harus berjalan ke sendang untuk mengambil air. Para warga hanya tinggal membuat saluran air ke rumah dan air pun akan dengan mudahnya mengalir deras. Kualitas mata air Beji memang cukup baik. Jika dimasak, airnya bisa diminum. Kondisinya pun bening dan bisa mengaliri rumah-rumah warga dengan debit air yang deras.

Pompa air ini bekerja hampir 24 jam setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan air warga Desa Lopang

Pompa air ini bekerja hampir 24 jam setiap harinya untuk memenuhi kebutuhan air warga Desa Lopang

Namun beberapa waktu terakhir, kondisi debit air dari mata air Beji menurun. Apalagi jika memasuki musim kemarau. Terkadang air bisa tidak keluar atau keluar dengan debit yang kecil.

“Ini karena banyak warga yang sekarang dengan mudahnya memilih memakai aliran air dari mata air Beji. Padahal dulu, hanya yang kualitas jelek air tanahnya saja yang pakai,” keluh suami saya.

Memang bisa dibilang warga dimudahkan dengan keberadaan aliran air dari mata air Beji yang dikelola oleh pihak desa. Dalam sebulan, para warga cukup membayar 30 ribu rupiah saja. Itu untuk pemakaian sepuasnya! Tentunya jumlah uang yang keluar bisa lebih besar jika rumah warga yang bersangkutan memilih mengandalkan air tanah di pekarangannya sendiri yang mengandalkan mesin pompa sendiri. Mereka bisa menghabiskan biaya untuk listrik yang jumlah nominalnya jadi lebih besar.

Sementara itu, kelompok pemuda desa yang menyadari pentingnya menjaga kelestarian alam telah berupaya untuk menjaga kelestarian daerah sendang dan mata air Beji. Dahulunya, daerah di sekitar tempat tersebut seperti hutan yang lebat. Banyak pepohonan besar yang tumbuh di sana. Tapi seiring waktu, banyak warga yang menebang pohon-pohon tersebut untuk dimanfaatkan kayunya. Para pemuda desa pun akhirnya mencoba memerbaiki dengan menanam beberapa tanaman yang bisa berumur panjang.

Namun sepertinya usaha tersebut kurang maksimal jika warga tidak lebih bijak dalam memanfaatkan keberadaan mata air Beji. Karena dalam hitungan tahun saja, perubahannya bisa terlihat dari sendang yang mengering serta sumber mata air yang harus berpindah titik karena tidak lagi menghasilkan debit air yang deras. Alam selalu punya cara untuk mengingatkan manusia agar lebih bijak dalam bersikap.

Perlunya Pelestarian Air Tanah di Pemukiman Padat

Oleh: Ika Maya Susanti

Sudah lama keluarga saya dan banyak orang yang tinggal di pemukiman tempat saya tinggal menggantungkan kebutuhan airnya dengan mengandalkan air tanah. Semua ini bermula dari masalah betapa sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya dan keluarga sejak sekitar awal tahun 90-an tinggal di sebuah perumnas yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Oke, bayangkan saja bagaimana bentuk perumnas itu. Ada yang di satu ruas jalan terdiri dari rumah-rumah besar, hingga satu gang yang bisa terdiri dari deretan rapat rumah berukuran tipe 36.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Di tempat saya tinggal, air PAM hanya mengalir di waktu-waktu tertentu saja. Sungguh berbeda dengan daerah pusat kota yang bisa mendapatkan air bersih kapan saja dari keran-keran yang ada di rumah. Itupun tergantung dengan waktu dan siapa yang tinggal lebih dulu dekat dengan aliran air. Rumah-rumah di daerah yang dilewati oleh air terlebih dahulu otomatis bisa terpenuhi dulu kebutuhannya. Sedangkan di ujung jalan yang sama, yang tidak dilewati air terlebih dahulu, nasibnya bisa sebaliknya.

Itu masih belum lagi masalah waktu pengaliran air yang terkadang jadwalnya adalah saat tengah alam atau dini hari di kala orang-orang sedang beristirahat. Ditambah dengan masalah siapa yang dapat lebih dulu, otomatis banyak orang yang kesal dengan kondisi tersebut.

Solusinya, saat di waktu awal-awal saya tinggal di sana, banyak orang giat membuat tandon air. Umumnya diletakkan di bawah yang berada di halaman rumah agar air mudah mengisi ke tandon tersebut. Tapi tetap saja, saat perumnas makin hari makin menambah rumah-rumah baru, jadwal giiliran air yang makin padat, tentunya banyak orang yang sudah sangat tidak sabar dengan masalah ini.

Beberapa orang lambat laun mulai memikirkan untuk mencari solusi lain. Ada daerah RW misalnya yang berinisiatif membuat pompa air manual bertuas untuk dipakai beramai-ramai dengan warga di sekitar tersebut. Warga dari daerah lain sampai ikut mengantri dengan membawa berbagai wadah penampung air dan dibawa atau dipikul bolak-balik ke rumahnya.

Kondisi yang melelahkan itu membuat beberapa orang mulai terpikir untuk mencoba mengebor air tanah di halaman rumahnya masing-masing. Untungnya, rumah saya termasuk yang airnya tawar dan jernih. Sementara di beberapa tempat lain di perumnas tidak demikian. Bagi keluarga saya, solusi air akhirnya terpecahkan. Sering keluarga kami juga menawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan air bersih dari sumber air di depan rumah kami. Dan untuk air PAM, selamat tinggal! Kami akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan meteran air yang ada. Asyiknya, kami tentunya tidak perlu lagi bayar air, begadang demi menunggu air yang itu pun kadang bisa jadi tidak keluar di waktu yang seharusnya, dan bisa menggunakan air kapan saja untuk kebutuhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Apa yang kami lakukan akhirnya ditiru oleh beberapa tetangga dan banyak orang di perumnas pun melakukan hal yang serupa. Namun karena keluarga kami tidak merasa yakin dengan kebersihan air tanah yang kadang bisa berwarna keruh, kami pun mengandalkan air galon. Untuk konsumsi langsung minum, kami menggunakan Aqua. Sedangkan untuk memasak, kami menggunakan air galon isi ulang.

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Kondisi itu sudah berlangsung sejak saya tinggal di akhir-akhir tahun 90-an. Seiring waktu, masalah pun muncul. Saat kemarau, air tanah di tempat saya jadi berkurang debitnya. Warnanya pun kerap makin keruh. Pernah juga sekitar tak sampai lima kali sejak pengeboran air tanah dibuat, kami harus memperdalam kedalaman pengeboran.

Bagaimana tidak, kondisi itu terjadi sejak para tetangga di sekitar kami juga mengandalkan air tanah. Perbandingannya bisa 20 rumah mengandalkan air tanah dan hanya satu saja yang masih setia dengan PAM!

Ini makin diperparah dengan minimnya penunjang pelestarian air tanah. Sangat minim keberadaan lahan terbuka yang memungkinkan air dari permukaan tanah jadi mudah terserap. Di tempat saya tinggal yang berada di gang kecil dengan rumah-rumah tipe 36 yang berjejer padat, hanya sedikit saja yang membiarkan halaman rumahnya tetap ditumbuhi tanaman atau pohon mangga yang menjadi pemberian awal dari pihak perumnas. Perbandingannya bisa senasib dengan kondisi siapa yang punya sumber air tanah dengan yang setia dengan air PAM. Halaman terbatas yang ada kerap digunakan pemilik rumah untuk membuat tandon air sebagai cara mengatasi masalah air di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, akar pohon mangga yang kokoh dirasa tidak cocok untuk menjadikan tanaman tersebut tumbuh di lahan yang terbatas.

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Kesadaran warga akan kelestarian lingkungan alam ini kemudian berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Lomba lingkungan sehat yang kerap diadakan pihak kabupaten hingga nasional membuat warga sekitar pada akhirnya membuat lubang resapan biopori.

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Banyak orang tentunya sudah tahu manfaat dari keberadaan biopori. Beberapa lubang biopori yang ada mampu memudahkan tanah untuk meresapkan air dari permukaan tanah sehingga meminimalisir masalah banjir. Air resapan ini pada akhirnya juga bermanfaat sebagai cara untuk menjaga kelestarian dan volume air tanah yang ada.

Uniknya seperti gambaran yang telah saya sebutkan, lahan terbuka untuk membuat biopori di lingkungan tempat saya tinggal ini sangat terbatas. Bayangkan saja, ada seruas jalan berbentuk gang, lalu got di tepi kanan dan kiri, kemudian area rumah warga. Tentunya dengan masing-masing rumah yang rata-rata telah ditutup permukaan tanahnya.

Akhirnya biopori itu pun dibuat di tengah jalan gang! Ini hal yang sangat dilematis bagi warga di tempat saya tinggal. Pernah ada pihak yang menyalahkan kenapa ada pembuatan biopori di tengah jalan. Namun terbatasnya lahan membuat setiap orang pun harus bertanya, lantas di mana lagi biopori harus dibuat?

Cerita lain dari sulitnya usaha pelestarian air tanah adalah sikap penggunaan air tanah dalam kehidupan sehari-hari. Air tanah yang bisa keluar kapan saja membuat banyak orang terlena dengan kondisi ini. Jujur, penggunaan air tanah ini bisa membuat kami kerap tidak cermat dan irit. Sering air mengalir begitu saja di tengah-tengah aktivitas penggunaannya yang padahal dan seharusnya air itu harus dihentikan.

Sementara itu, peringatan tentang kualitas dan kuantitas kondisi air tanah sudah terlihat di beberapa tahun terakhir. Air yang makin keruh, pun volumenya yang makin sedikit. Saya tidak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisinya di 5 atau 10 tahun mendatang. Kerap saya berpikir, akankah saya dan orang-orang di sekitar saya masih bisa mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Aksi pelestarian lingkungan hidup yang kerap hadir dalam bentuk lomba membuat saya terpikir andai saja ada juga penilaian tentang bagaimana warga di suatu tempat melestarikan air tanah atau bagaimana manajemen yang cerdas dari warga untuk menggunakan air yang ada. Bisa air PAM atau terutama air tanah.

Karena dari lomba yang telah ada sebelumnya, saya melihat justru dari situlah warga tergerak untuk terpacu melestarikan dan menjaga lingkungan alam yang ada. Tidak hanya agar lingkungan terlihat hijau, akan tetapi semoga esensi dari pelestarian alam yang sesungguhnya, bisa juga dimaksudkan untuk melestarikan air tanah yang merupakan bagian dari kekayaan alam yang ada.

Pernah saya ditunjukkan oleh seorang teman bagaimana sikap hidup saat ini terhadap alam mampu memiliki akibat di kehidupan yang akan datang. Waktu itu, saya begitu enteng menanggapinya. Dan tentang keberadaan air tanah, rupanya kini saya lambat laun sudah melihat bagaimana dampaknya jika kita kurang bijak dalam menggunakan sumber air tanah.

Inelastisnya Pasar Penerbangan Rute Banjarmasin – Surabaya

Semalam dan hari ini, saya benar-benar dibuat kaget oleh Citilink. Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, informasi bahwa pesawat yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin tidak lagi beroperasi sejak 1 Juli 2013. Itu saja pemberitahuannya. Saya pun baru berhasil menghubungi pihak customer service saat lewat tengah malam.

Mau tahu apa jawaban pihak CS? “Iya, kami belum bisa member informasi apa-apa karena hal tersebut sedang dalam pembicaraan.”

Akhirnya, saya putuskan untuk menghubungi pihak Citilink yang ada di bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Saya tidak sendiri. Rekan kerja saya yang juga memilih menggunakan Citilink mengalami nasib yang juga sama. Jadi kami putuskan, siang tadi untuk menghubungi kantor cabang maskapai yang satu grup dengan Garuda tersebut.

Sesampainya di bandara, saya melihat banyak orang yang juga berkerumun di depan loket. Bisa ditebak, wajah mereka pun gusar karena nasib jadwal penerbangan yang sudah mereka pesan tiba-tiba dinyatakan tutup rute. Pilihannya dua, meminta uang kembali atau pindah penerbangan.

Saya sendiri akhirnya memilih pindah penerbangan dengan konsekuensi harus menunggu kabar tiga hingga empat hari. Yah, dari pada saya meminta uang kembali dan harus membeli tiket maskapai lain yang lebih mahal? Selain itu, pilihan dipindah penerbangan ini pun tidak membuat saya harus bayar ekstra.

Saat keluar dari bandara, saya dan teman saya melihat sebuah papan iklan besar tentang adanya rute baru pesawat Garuda dengan tujuan Banjarmasin Surabaya. Teman saya langsung berujar, “Wah, Garuda akhirnya ada penerbangan baru Banjarmasin Surabaya!”

Kepala saya langsung mengerti apa yang sesungguhnya sedang saya alami. Yah tebakan yang mudah bukan? Citilink menutup rute Banjarmasin-Surabaya dan sebaliknya. Garuda, si saudara tuanya itu membuka rute yang sama. Jadi saya kira, keputusan saya untuk memindah penerbangan tadi adalah untuk dialihkan ke penerbangan ini. Ehem, itu sepertinya. Namun entah kepastiannya.

Sementara itu sebelumnya, penawaran dari pihak maskapai yang ada di Indonesia sendiri untuk rute tersebut adalah berasal dari Citilink, Lion Air, Sriwijaya, dan Batavia. Dua nama yang terakhir itu akhirnya tidak beroperasi. Pasar penerbangan pun menjadi duopoli, antara Lion Air dan Citilink.

Lantas, pilihan yang cerdas bagi Garuda untuk membuka rute penerbangan ini, dan menutup rute yang sebelumnya dipegang oleh Citilink. Pasar atau peminat rute penerbangan Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya ini memang terbilang tinggi. Cukup banyak orang Jawa Tmur yang merantau ke Kalimantan Selatan. Apalagi orang Lamongan yang terkenal sebagai penguasa pasar ayam penyet di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, maskapai Garuda yang kerap disebut sebagai penerbangan kelas ekonomi menengah ke atas, rasanya tetap tidak akan takut kalah persaingan oleh Lion Air, atau kehilangan income dari ditutupnya rute Citilink. Karena pangsa pasar rute ini selalu ada serta cukup banyak permintaannya. Meski Garuda memasang harga di atas Lion Air sekalipun, peminatnya tetap ada dan tidak bisa dibilang sedikit.

Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini masuk dalam kategori permintaan inelastis. Berapapun harganya, entah itu murah atau mahal, jumlah permintaannya cenderung statis atau sedikit mengalami perubahan. Apalagi di waktu lebaran atau liburan, saat di mana kecenderungan masyarakat Indonesia memilih berkumpul bersama keluarga di tempat lain.

Jadi bagi para konsumen pasar penerbangan rute Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya, selamat, Anda masuk dalam jebakan pasar inelastis dengan produsen duopoli yang akan berani menawarkan harga tinggi untuk Anda yang tidak lagi menganggap berpergian dengan pesawat adalah bentuk kemewahan lagi.