Pasar Buah Ranuyoso, Lumajang

Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Nisannya Timbul Sendiri, Cerita dari Pulau Subang Mas

            “Putri Dahlia berkata kepada saya, mudah-mudahan kawasan ini akan maju,” demikian Senin, juru kunci makam Putri Dahlia menirukan ucapan sang putri yang pernah datang dalam mimpinya. Cerita tentang Putri Dahlia sendiri menjadi hal yang unik bagi masyarakat Pulau Subang Mas.

Bagaimana tidak, makam putri asal Daik Lingga ini bisa muncul sendiri dari atas tanah. Padahal, masyarakat di daerah tersebut sebelumnya tidak pernah melihat adanya area pekuburan. Cerita Senin pun diawali dari sebuah peristiwa pada tahun 1997.

“Jadi ceritanya ada seorang wanita bernama Beti yang tinggal di Penghujan, Pulau Bintan. Mamaknya keturunan Daik dan bapaknya orang Padang. Suatu ketika dia mimpi ada orang mengaku bernama Putri Dahlia yang minta kuburannya disalurkan kain kuning. Waktu itu dia cuma cerita ke mamaknya,” kata Senin.

Satu dua mimpinya itu kemudian tidak dianggapnya penting oleh Beti. Namun setelah mimpi yang ketiga dan Beti masih tetap tidak berusaha mencari makam tersebut, ia kehilangan suaranya.

“Dia kemudian diantar temannya ke sini dan ketemu dengan saya. Waktu itu sekitar dua hari sebelum puasa tanggal 29 November 1997. Saya tunjukkan sebuah tempat yang memang sebelumnya dianggap keramat oleh masyarakat sini. Tapi ternyata Beti menggeleng bukan,” lanjut Senin.

Perjalanan menyusuri tepi pantai untuk mencari makam Putri Dahlia pun berlanjut. Tiba-tiba dalam perjalanan pencarian, Beti menunjuk ke arah sebuah tempat dan keluarlah suaranya setelah sekian lama tidak bisa bersuara.

“Ini makamnya. Ini makam dayang pengasuh dan ini makam panglima,” Senin menirukan suara Beti. Ia dan masyarakat pun dibuat terkejut karena selama ini tidak pernah melihat adanya nisan di daerah tersebut.

Setelah diberi kain kuning seperti pinta Putri Dahlia dalam mimpi Beti, satu persatu nisan entah mengapa lambat laun muncul tiba-tiba hingga kini. Senin mengaku nisan tersebut biasanya ditemukan saat ia sedang membersihkan area makam. Ada yang nisannya terbuat dari batu berukir, adapula yang terbuat dari kayu.

“Kita juga sudah minta bantuan dari pemerintah. Saat itu pemerintah mau kasih bantuan untuk melindungi makam asal sejarahnya jelas. Setelah ditelusuri ke Lingga, memang benar pernah ada seorang putri entah dari selir yang mana yang bahteranya karam,” Senin berkisah.

Dalam mimpi Snin, Putri Dahlia juga mengatakan kalau ia dan seluruh awak bahtera yang dinaikinya setelah dari Pulau Penyengat, karam ketika akan pulang ke kerajaan di Daik. Tempat keramat yang awalnya dihormati oleh masyarakat Subang Mas ternyata tempat karamnya kapal.

Dalam gambaran mimpi Senin, ia bercerita kalau Putri Dahlia memiliki rambut panjang sepinggang dan berwajah cantik. Sedangkan panglima memiliki tubuh besar dengan selempang kuning menyilang di dada dan bahu, serta menggunakan tanjak yang mengikat rambut ikalnya. Dayang pengasuh sendiri sudah tampak tua, bertubuh pendek, dan rambutnya sudah beruban.

Kejadian-kejadian aneh pun sesekali terjadi. Misalnya ketika makam sudah ditemukan dan selama dua minggu, Senin tidak membersihkan makam, ia didera sakit. Begitu pula ketika tembok makam didirikan, seluruh masyarkat di Subang Mas diserang sakit tidak jelas. Namun Snin sendiri mengaku justru banyak dibantu oleh arwah Putri Dahlia. Dengan petunjuknya, ia kerap dibantu mengobati orang yang sakit.

Selain Putri Dahlia, adapula beberapa tempat yang menurut Senin memiliki kekuatan khusus. Misalnya singgasana Putri Dahlia yang terletak di tepi pantai. Bentuknya indah menyerupai kursi singgasana meski terbuat dari batu. Adapula batu cincin yang menurut Snin, tempat itu adalah persinggahan sepasang putri duyung. Ada juga batu berbentuk ketam yang berada di dua lokasi berbeda. Satu Pangeran Ketam Hitam dan satunya lagi Pangeran Ketam Putih.

Terlepas dari cerita mistik yang melingkari Pulau Subang Mas, pulau yang terletak tak jauh dari Pulau Rempang ini memang memiliki kecantikan tersendiri. Seperti Pantai Trikora yang berada di Pulau Bintan, Pulau Subang Mas juga memiliki batu-batu besar berwarna merah yang memiliki bentuk khas. Sementara itu di depan pulau ini terdapat Pulau Tunjuk yang nampak berkilau dengan pasir putihnya tepat di daerah yang menyerupai ujung jari telunjuk.

Sayangnya, kecantikan pulau ini kini terpendam. Beberapa tahun yang lalu memang sempat didirikan sebuah tempat wisata di sebuah sisi pulau. Namun tempat itu tidak berjalan lama. Keganasan laut terutama pada musim angin utara sempat menelan korban hingga pengunjung pun akhirnya jarang datang kembali ke pulau ini.

Transportasi untuk menuju pulau ini pun agak sulit. Jika dari Pelabuhan Punggur, siapaun yang ingin mengunjungi pulau ini harus mencarter dengan biaya sekitar Rp 100 ribu. Belum lagi perjalanan yang bisa menghabiskan waktu sekitar dua jam untuk sampai ke pulau tersebut diiringi dengan gelombang lautan yang lumayan besar. Sedangkan dari daerah Rempang Cate yang memiliki posisi dekat dengan pulau Subang Mas, jarang ada penduduk yang mau mengantar hingga ke Pulau Subang Mas.

           

Berangkat Sekolah Harus Renang

            Masalah ombak yang mengitari Pulau Subang Mas juga menjadi kendala bagi anak-anak pulau tersebut untuk melanjutkan sekolah ke jenjang SMP. Padahal, SMP ada di Pulau Air Raja yang terletak di bagian barat dari pulau tersebut. Hanya saja, kebanyakan masyarakat tinggal di bagian timur Pulau Subang Mas atau Pulau Tunjuk yang letaknya di sebelah timur Pulau Subang Mas.

            “Jaraknya sih cuma sekitar 200 meter. Tapi untuk ke sana anak-anak harus naik sampan dayung yang bisa makan waktu sekitar tiga jam. Belum lagi jalan ke sekolah yang butuh waktu setengah jam,” ujar Ustad Marzuki, dai pulau utusan Lembaga Amil Zakat Masjid Raya Batam dan guru bantu di SD 019 Subang Mas.

            Bisa juga anak-anak di pulau Subang Mas menempuh perjalanan darat dulu sekitar satu jam. Barulah mereka menyebrang dengan menggunakan pompong yang satu orang bisa menghabiskan Rp 10 ribu untuk pulang pergi setiap harinya.

            “Kadang karena banyak orangtua yang nggak tega, mereka dikoskan di sana. Biayanya juga lebih murah kos,” imbuh Marzuki.

            Bagi Muhamad dan Haripah, putri mereka, Elis, akhirnya disekolahkan di sebuah SMP di Rempang. “Di sana enak banyak kegiatannya,” ujar Haripah.

            Namun tak banyak yang seberuntung Elis. Riani misalnya. Gadis yang ingin menjadi guru SD ini harus pasrah untuk memutuskan pendidikannya hanya sampai SD karena tidak ada biaya.

            “Kos bisa seratus ribu lebih per bulan. Belum beli pakaiannya,” keluh Riani yang mengaku empat dari delapan murid di kelasnya yang tidak bisa meneruskan sekolah ke jenjang SMP seperti dirinya.

            Masyarakat di pulau tersebut memang begitu mengandalkan laut sebagai tempat mengais rejeki. Hanya satu dua saja yang mulai mengandalkan ladang untuk mata pencaharian.

            “Kalau semuanya mau kompak ngolah ladang mungkin enak. Kalau kaya kita sendiri kemarin ya hancur. Habis dimakan babi,” keluh Haripah.

            Sementara itu seperti umumnya nelayan mereka begitu tergantung pada kondisi cuaca. Apalagi saat musim angin utara, mereka bisa hanya memperoleh ikan untuk dimakan sendiri. Itupun dengan mengandalkan hasil dari tangkapan di kelong. (ika maya susanti, sri murni)

Bukan Lagi Anak Air Asin, Cerita dari Kehidupan Suku Laut Pulau Tanjung Sauh

anak suku laut

(anak suku laut dari pulau Air Mas yang akan berangkat sekolah ke pulau Ngenang)

Pernahkan terbayang hidup dalam sebuah sampan di atas lautan selama bertahun-tahun dan menempuh seluruh proses kehidupan di dalamnya? Mungkin bagi kita yang terbiasa hidup menetap dalam sebuah rumah di daratan, hal tersebut terasa begitu berat dilakukan.

Namun itulah yang terjadi dalam kehidupan suku laut hingga beberapa tahun yang lalu. Mulai dari lahir, besar, makan, tidur, memasak, sampai menikah pun dilakukan di atas sampan yang mereka istilahkan dengan kajang, benda berbentuk sampan yang di atasnya diberi sirap atau atap dari daun kelapa. Di situlah selama berpuluh-puluh tahun masyarakat suku laut hidup.

Memang, saat ini kehidupan seperti itu sudah jarang ditemui di Kepulauan Riau. Sejak Batam di tahun 90-an mulai terus berbenah, kehidupan masyarakat suku laut di sekitar Batam mulai berubah. Mereka pun kemudian menetap dalam sebuah rumah di tepi laut di beberapa pulau seperti Tanjung Sauh, Kubung, dan Todak yang letaknya tak jauh dari Pulau Ngenang dan berada di dalam lingkungan pemerintahan Kelurahan Ngenang, Kecamatan Nongsa.

“Kalau seperti saya dulu masih lahir di atas kajang,” ujar Susana Sarum, Ketua RT 2 Tanjung Sauh. Bahkan ia dan Sadiyah, wanita yang juga berasal dari suku laut di Tanjung Sauh tersebut mengistilahkan diri mereka sebagai anak air asin.

“Seperti kami ini masih mandi air asin waktu lahir. Kalau anak-anak saya sekarang sih sudah bukan lagi anak air asin,” ujar Sadiyah.

Seperti layaknya kehidupan manusia di atas daratan, mereka pun melakukan aktivitas umumnya seperti memasak. Dalam sebuah kajang, mereka akan menyisakan sebuah tempat yang digunakan untuk memasak. Api mereka dapatkan dengan menggunakan gesekan batu atau kayu.

Prosesi pernikahan juga dilakukan di atas kajang. “Ya pakai baju pengantin segala. Nanti mereka yang sudah menikah buat kajang baru,” cerita Jaiyah, wanita asal Suku Laut.

Ibu dari 14 anak ini mengaku melahirkan anak-anaknya hingga anak yang ke 10 di atas kajang. Nah, tak terbayangkan kan apabila Jaiyah dan suaminya, Den, beserta 10 anak mereka tinggal di atas sebuah kajang yang besarnya kira-kira seukuran pancung.

“Dulu malah waktu mereka dibuatkan rumah oleh pemerintah sampai tidak mau menempati, lho. Katanya takut waktu melihat atapnya tinggi. Mungkin karena mereka terbiasa tinggal di atap yang pendek,” jelas Taofik, Ketua RW 1 Ngenang.

Namun kini apabila mereka ditanya lebih enak mana tinggal seperti dulu di kajang atau seperti sekarang di dalam rumah, jawaban inilah yang keluar, “Enak sekarang bisa lihat tivi,” jawaban polos dari Den, tetua Suku Laut di daerah Air Mas.

Listrik memang telah menyentuh sendi kehidupan beberapa masyarakat suku laut saat ini. Dengan tenaga diesel dan bahan bakar tiga liter solar setiap malam, rumah Den dan sebuah rumah di sebelahnya hingga sekitar pukul 22.00 WIB sempat merasakan terangnya sinar lampu dan menikmati tayangan sinetron televisi.

Namun ini tidak bisa dinikmati oleh seluruh rumah yang ada di sekitarnya. “Diesel itu dulu dibeli dari uang hasil bantuan. Tapi sayang kabelnya nggak cukup sampai semua rumah,” ujar Toni, putra Den.

Kehidupan yang telah melangka moderen memang mulai ditapaki oleh masyarakat suku laut. Tak hanya televisi, hanphone pun sudah mereka miliki. Bahkan saat kru sebuah stasiun televisi meliput kehidupan suku laut di Air Mas, mereka sudah bisa berkata untung rugi.

Alkisah, ada sekelompok kru sebuah stasiun televisi swasta yang ingin menayangkan tentang kehidupan suku laut. Seusai para kru tv ini mengambil foto dan gambar tentang kehidupan mereka, masyarakat yang terlibat dalam syuting acara tersebut kemudian dengan terus terang meminta uang kepada para kru tv tersebut. Bahkan, saat melihat ayam mereka masuk dalam syuting kamera, mereka meminta uang atas nilai ayam yang masuk dalam syuting kamera tersebut.

“Itu kejadiannya sekitar setahun yang lalu. Tapi kalau kami tidak seperti itu,” ujar Jaiyah yang merasa malu atas kejadian tersebut karena membawa nama suku laut.

Dari segi ekonomi, suku laut terkenal di kalangan pulau-pulau sekitarnya merupakan suku yang pintar mencari uang. “Mereka itu kalau dibandingkan kita, cepat kaya. Mau punya sampan saja mereka cepat bisa punya. Tapi kebanyakan dari mereka kurang pintar mengelola uang,” ujar Edi, putra Sarum.

Sarum sendiri yang mengaku memiliki leluhur dari suku laut dan tinggal di Pulau Tanjung Sauh persis di seberang Pulau Ngenang, bersama suaminya kini memiliki usaha pembakaran arang. Usaha yang dirintis sejak sekitar 10 tahun yang lalu ini bahkan memasok arang untuk diekspor ke Singapura. Tempat Sarum dan keluarganya hingga kni disebut Dapur Arang oleh masyarakat di sekitar daerah tersebut.

Seperti layaknya masyarakat kepulauan, kebanyakan dari masyarakat suku laut ini tidak bisa lepas dari kehidupan nelayan sebagai mata pencaharian. Bahkan di tengah kehidupan mereka sekarang, melaut selama berbulan-bulan dengan kajang pun masih dilakukan apabila lepas musim angin utara.

“Kalau sudah angin utara selesai, ada juga yang pergi melaut pakai kajang. Rumah mereka tinggalkan. Nanti mereka bisa kembali lagi,” cerita Jaiyah.

Anak-anak suku laut pun sudah banyak yang mengenyam pendidikan di Pulau Ngenang. Dengan sampan kayuh, anak-anak kecil ini mengayuh sampannya untuk berangkat dan pulang dari SDN 006 Ngenang.

Sayangnya, hingga kini mereka membutuhkan tenaga bidan untuk membantu persalinan. Untuk setiap kelahiran, mereka harus menjemput atau membawa wanita yang melahirkan ke rumah bidan yang berada di Pulau Todak.

“Kalau dulu kita melahirkan ditolong sama orang yang biasanya membantu kita melahirkan. Sekarang mereka sudah banyak yang meninggal. Sampai kemarin dalam satu bulan ada tiga ibu melahirkan yang meninggal. Cuman satu yang bisa selamat anaknya. Kalau ibunya, meninggal semua,” tutur Jaiyah. (sri murni, ika maya susanti)

Tradisi Pernikahan dalam Adat Melayu, Roti Buaya Singgah di Pulau Penyengat

             Roti buaya memang masuk dalam tradisi pernikahan Betawi. Namun roti itupun akhirnya singgah juga di Pulau Penyengat kala berlangsung pernikahan H Ahmad Faruk dan Nurliza, Sabtu (12/11) kemarin.

            Karena Faruk, mempelai pria berasal dari Jakarta, ia pun akhirnya meminang Nurliza yang berasal dari Pulau Penyengat dengan membawa kue buaya dalam 34 macam hantarannya.

            Roti buaya tersebut berjumlah dua buah. Masing-masing roti buaya terdiri dari sebuah roti buaya besar dan satu buah berukuran kecil. “Kalau di tradisi Betawi, roti ini artinya agar pasangan pengantin diberkahi keturunan atau anak,” cerita Raja Elza yang merupakan masyarakat Pulau Penyengat

            Selain keunikan adanya roti buaya dalam tradisi pernikahan tersebut, pasangan inipun memiliki kisah cinta yang unik hingga akhirnya bersanding di pelaminan. Faruk memang berasal dari Jakarta namun memiliki kakek dan nenek asal Pulau Penyengat. Sementara itu Liza asli berasal dari Pulau Penyengat namun kuliah di Jakarta.

            Kedua insan ini bertemu di Jakarta hingga akhirnya mengikat janji sebagai sepasang suami istri alam sebuah akad nikah di Pulau Penyengat.

            Tak hanya karena Faruk yang memiliki asal muasal dari Pulau Penyengat. Rumah keluarga Faruk yang berada di pulau tersebut pun ternyata letaknya hanya selisih dua rumah dari rumah Liza.

            Acara pernikahan putra H M Yusuf dan putri dari H Abdul Jalil Muis ini berlangsung sekitar pukul 10.00 WIB. Iring-iringan dari rumah keluarga H M Yusuf ini dimulai dengan pihak keluarga yang membawa hataran berjumlah 34 macam.

            Dalam hantaran tersebut berisi tepak sirih, mas kawin seperangkat perhiasan berupa kalung, gelang, dan cincin, cake, roti buaya, tas dan sepatu, handuk, make up dan produk perawatan kecantikan, serta tilam. Sementara itu mempelai pria berjalan di belakang dengan payung berwarna emas yang memayunginya.

            Setelah sampai di rumah calon mempelai perempuan, calon mempelai pria ini duduk di ruang tamu yang telah didekorasi sedemikian rupa. Pihak keluarga kedua calon mempelai yang hampir semuanya pria juga duduk di ruang tersebut.

Di dalam kamar pengantin, duduklah Liza, calon mempelai perempuan yang telah dua minggu tidak dipertemukan oleh calon suaminya. “Jadi calon mempelai perempuan istilahnya dipingit. Mereka pun nanti setelah ijab kabul baru bisa duduk bersanding setelah acara arakan,” jelas Elza.

Sebelum ijab kabul dimulai, acara didahului dengan saling berbalas pantun dari wakil kedua calon mempelai. Raja Al Hafidz dari calon mempelai pria dan Raja Ibrahim dari calon mempelai wanita saling melempar pantun, seperti yang sering terjadi dalam adat melayu.

“Bunge rampai di teluk pandan. Dicampur dengan bunge yang lain. Sudah jadi pilihan badan. Pilihan hati tak pade yang lain.” Demikian sebuah pantun yang terucap Hafidz dalam acara walimatul akad atau walimatul urus.

Di sela-sela saling berbalas pantun itu, dilakukan pula acara icip sirih yang dilakukan oleh Ibrahim dari tepak sirih yang dibawa oleh rombongan calon mempelai pria.

Para wali calon mempelai ini memang saling melempar pantun dalam setiap kali ingin menyampaikan maksud. Termasuk ketika Hafidz menunjukkan mas kawin berupa kalung dari calon mempelai pria kepada Liza, calon mempelai wanita.

Usai acara saling berbalas pantun selesai, demikian pula ketika maksud untuk melamar dan lamaran tersebut diterima pun telah dilakukan, tiba gilirannya petugas Kantor Urusan Agama untuk mengijabkabulkan kedua mempelai.

Dalam acara ini, mempelai wanita pun masih tetap berada di dalam kamar. Barulah setelah buku akta pernikahan usai ditandatangani oleh mempelai pria, para petugas KUA mengunjungi kamar mempelai wanita untuk meminta tanda tangan.

Kedua mempelai inipun hanya sebentar dipertemukan untuk acara foto bersama dengan membawa akta pernikahan di tangan masing-masing. Tradisi walimatul akad ini kemudian disambung dengan acara tepung tawar. (ika)