Kesurupan


Oleh: Ika Maya Susanti

“Whusshh…” asap putih mendadak keluar dari bawah meja Vina.

“Eh Vin, apaan tuh yang ada di bawah mejamu?!” seru Ria yang duduk di seberang Vina.

Suara Ria yang agak keras kontan saja membuat Bu Nanda menoleh. Padahal saat itu ia sedang asyik menerangkan pelajaran Ekonomi. Kebisingan itu membuat Bu Nanda jadi harus menghentikan aktivitasnya karena merasa terganggu.

“Ria, Vina! Bisa nggak sih kalian tenang?!” seru Bu Nanda.

“Uhm, i-itu Bu, da-dari bawah meja sa-saya tiba-tiba a-ada asap keluar,” ujar Vina tergagap-gagap dengan ekspresi ketakutan.

Bu Nanda mendengus kesal sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Ah kalian ini, mengada-ada! Sudah, tenang! Tidak usah membuat gaduh!!!” bentak Bu Nanda kesal.

Suasana kelas II A kembali tenang. Namun hanya sejenak, kegaduhan kembali terjadi di kelas tersebut.

“Aaaarrrggghhhh… aaaarrrrrrggghhhh…!!!” Vina tiba-tiba menjerit sejadi-jadinya.

Bu Nanda yang sedang asyik menerangkan kembali merasa terusik. “Vina, apa-apaan sih kamu ini?! Saya minta kamu keluar sekarang!” Bu Nanda hilang kesabarannya.

“Sebetulnya apa sih yang kalian ributkan dari tadi?!” Bu Nanda menggerutu kesal.

“Vin-Vina, kamu kenapa?” Ria mencoba menenangkan sahabatnya tersebut dengan memegang kedua bahu Vina.

“LEPASKAN!!! AKU MUAK DENGAN KALIAN SEMUA!!!” teriak Vina yang suaranya kini terdengar lebih besar. Dengan kasar, dihentakkannya tangan Ria yang mencoba menenangkannya. Tubuh Ria sampai ke arah samping. Untung ia tidak  sampai tersungkur ke bawah.

Heru yang duduk di seberang bangku Ria dan Vina sangat terkejut. Ia pun kemudian membantu Ria untuk bangkit.

“Eh, Vina kesurupan ya? Vina kesurupan…” Beberapa anak di kelas menjadi panik saat menyadari tingkah ganjil Vina.

Bu Nanda yang awalnya merasa jengkel, akhirnya perlahan ikut merasa ketakutan dan berlari keluar kelas mencari pertolongan.

Sementara itu Vina justru makin terlihat liar. Wajahnya merah padam dengan mata melotot nyalang menatap teman-temannya yang berkerumun di sekitarnya. Ditatap seperti itu, teman-temannya pun menjadi ketakutan hingga ada yang memilih lari keluar kelas.

“Hati-hati, nanti kita ketularan. Katanya bisa seperti itu lho!” celutuk seorang anak sambil menarik temannya yang lain. Namun ada juga memilih menonton ulah Vina. Ada yang penasaran, adapula yang mencoba ingin membantu dengan mengucap berbagai macam rapalan doa.

“HEI, APA KALIAN LIHAT-LIHAT? MEMANGNYA SAYA TONTONAN?!” teriak Vina menggelegar.

Vina lalu bangkit dan menaiki mejanya sambil berdiri. Ditunjukinya teman-temannya satu per satu dengan tatapan mata tajam.

“KAMU… KAMU… KAMU…” tunjuk Vina. “KALIAN PUAS SEKARANG BISA MELIHAT AKU SEPERTI INI?!”

Vina lalu mencari-cari sesosok wajah. “MANA TADI GURU YANG MENYURUH VINA UNTUK DUDUK DI BANGKU INI? MANA DIA??!!!” suara Vina murka.

“Uhm… dia sudah keluar Eyang,” jawab Heru.

“EYANG… EYANG… EMANGNYA AKU MBAHMU APA?” Vina lalu bangkit mendekati Heru. Dengan sekali cengkeraman, ditariknya kerah seragam Heru.

“KAMU TAHU NGGAK SIH SEBENARNYA AKU INI SIAPA, HA?!” hardik Vina.

Cowok yang kini begitu ketakutan karena dicengkeram kerah bajunya oleh Vina hanya bisa menggeleng dengan lemas dan pasrah.

Vina menghentikan cengkeramannya. Ia kembali duduk di atas mejanya. Jika sebelumnya ia terlihat garang, kini justru ia mulai meneteskan air mata. Suaranya begitu keras dan berat, berganti dengan isakan tangis.

“Hu hu hu… namaku sebetulnya Dea. Aku dulu sekolah di tempat ini. Tapi, ada temanku yang memperkosa aku di toilet, dan kemudian membunuhku. Hu hu hu…” Vina menangis tersedu-sedu sambil meratap.

Tapi hanya sesaat. Vila lalu seakan tersadar dan menyeka air matanya sambil kemudian kembali melotot. Dengan sigap, ia kembali naik ke atas mejanya dan berdiri sambil berkacak pinggang.

“INI MEJAKU…!!! INI MEJAKU…!!! KALIAN TAHU TIDAK SIH?! AKU KAN SELALU BILANG, JANGAN PERNAH DUDUKI TEMPATKU INI!!! SUSAH SEKALI SIH KALIAN INI UNTUK MENGERTI?!”

Ria yang merupakan sahabat karib Vina lalu mencoba mendekati. Dengan ketakutan, ia mencoba berkomunikasi dengan Dea yang ada di tubuh Vina. “Maaf Vin, eh, mm, Kak Dea ya? Kami mohon Kak, kasihanilah Vina. Keluarlah dari tubuhnya. Vina nggak tahu dan nggak salah apa-apa,” pinta Ria.

Vina melotot, menatap tajam ke wajah Ria. “YA, VINA MEMANG TIDAK SALAH APA-APA. TAPI KALIAN TETAP HARUS AKU BERI PELAJARAN. SUDAH BERKALI-KALI KAN AKU BILANG, JANGAN DUDUK DI BANGKU NOMOR TIGA DARI BARIS SEBELAH KANAN. PAK SURAJI SUDAH AKU BERITAHU DAN KALIAN JUGA SUDAH SERING DIBERITAHU OLEH DIA KAN? EH, MASIH SAJA KALIAN NGGAK MAU MENGGUBRIS!”

Beberapa murid kelas II A pun segera saling berbisik. “Vina beneran kesurupan nggak sih? Atau pura-pura? Kok pakai minta bangku dikosongin segala? Kayak cerita film saja?!” beberapa teman Vina menangkap keganjilan yang sedang ada di hadapan mereka.

“Iya ya, kok aneh!” celutuk yang lain masih sambil berbisik.

“Tapi dulu, Pak Suraji memang pernah cerita seperti itu. Tapi, cerita itu kan udah lama banget. Kenapa setelah lama nggak pernah ada kejadian, kok baru sekarang cerita itu terjadi lagi?”

“Iya! Selama ini kalau kita duduk di bangku itu nggak apa-apa, kan? Masa sih arwah yang punya bangku itu sekarang marah karena udah lama kita mengabaikan pesan dari dia? Aneh!” para siswa masih saling berbisik tentang keganjilan ulah Vina.

“Ah, lebih baik kita panggil Pak Suraji. Mungkin dia bisa menenangkan arwah yang ada di tubuh Vina sekarang,” beberapa siswa yang mencoba mencari cara untuk mengatasi ulah Vina yang makin menjadi.

Berita adanya murid yang kesurupan di SMA itupun cepat tersebar sehingga membuat para wartawan di kota itu berdatangan ke sekolah tersebut. Sekejap saja, sekolah itu menjadi heboh. Banyak warga di sekitar sekolah itu juga merasa tertarik untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Orang pintar yang dianggap mampu menyembuhkan orang yang kesurupan pun dipanggil untuk mencoba menenangkan Vina.

Sedangkan Pak Suraji justru merasa heran. Menurutnya, seharusnya arwah Dea sudah tidak lagi muncul di sekolah itu sejak sekitar delapan tahun yang lalu. Sejak acara doa bersama yang telah dilakukan dulu, seharusnya masalah seperti itu tidak lagi terulang. Pak Suraji merasakan ada yang aneh dari semua keganjilan tersebut.

**

Di rumah Vina, beberapa waktu usai semua berlalu…

“Wah, kamu tadi pintar banget ya Vin, aktingnya!” puji Ria.

“Aargh… ehem, ehem,” Vina merasa suaranya terganggu akibat ulahnya sendiri.

“Tapi gila beneran deh! Ehem, suaraku ini jadi serak karena tadi dipakai untuk teriak-teriak terus. Mana harus berakting pakai suara gede melulu lagi! Ah, ehem, tapi aktingmu juga lumayan bagus kok, Ria’!” ujar Vina.

“Emang!” Ria jadi merasa bangga. “Wah, akting kita tadi sebetulnya nggak kalah lho sama pemain film. Tapi, kamu kok niat banget sih ingin terkenal sampai pakai cara seperti itu?”

“Sebetulnya kalau dibilang alasannya sih banyak banget. Secara, Bu Nanda itu emang udah keterlaluan nggak enaknya kalau ngajar. Dia perlu sekali-kali dibuat kapok! Lagian, cerita itu emang benar ada kan kata Pak Suraji dulu. Jadi aku pikir, kenapa kita nggak coba saja cara tadi,” Vina tersenyum puas.

“Ehem, tapi emang betulan ampuh lho kalau niatnya untuk buat kita terkenal. Tahu nggak, besok tuh aku ada janji sama wartawan untuk wawancara khusus! Yah, waktu tadi aku dibilangin kalau mereka ingin wawancara dengan aku, aku bilang saja nggak tahu dengan tampang yang masih kayak orang linglung,” celoteh Vina sambil tertawa terbahak-bahak dengan suara seraknya yang masih belum hilang.

Saat Ria dan Vina sedang asyik membicarakan kehebohan yang sudah mereka lakukan, tanpa mereka sadar, sesosok tubuh berwajah pucat sedang berdiri memerhatikan mereka dari jarak yang tidak terlalu jauh.

“Kurang ajar anak-anak ini! Mau terkenal kok nggak kreatif. Bikin acara kesurupan, meniru cerita di film, eh… pakai mencatut namaku! Dasar manusia, masih hidup saja kok buat acara yang aneh-aneh! Aku kan sudah lama tenang. Gara-gara tadi, aku jadi terusik lagi!” gerutu sesosok tubuh tersebut.

Sosok pucat yang sebetulnya merupakan arwah sesungguhnya dari Dea itu pun berjalan mendekati Vina dan Ria yang masih asyik membahas keberhasilan mereka yang sukses membuat heboh sekolah dan bahkan membuat mereka menjadi terkenal.

Tiba-tiba tubuh Ria terguncang hebat. Matanya melotot menatap nyalang ke arah Vina.

“Lho Ria, kamu kenapa sih?” Vina memegangi tubuh Ria yang tiba-tiba berguncang mengejang untuk beberapa saat.

Ketika tubuh Ria kembali terlihat tenang, seraut wajah milik Ria tiba-tiba berubah menjadi terlihat janggal. “Hai Vina, apa kabar?” Ria dengan mata yang tiba-tiba berubah menjadi sayu, wajah memucat, dan senyum dengan bibir yang lebih membentuk seperti sebuah seringai tersenyum ke arah Vina.

“Ah, kamu tuh apaan sih Ria?! Kalau mau ikutan akting kayak aku, kenapa nggak dari tadi aja sih barengan sekalian di sekolah? Ngapain sih kamu sekarang ini?” Vina menertawakan ulah sohibnya yang menurutnya cukup menggelikan. Ia masih belum menyadari apa yang sesungguhnya sedang terjadi.

Senyum Ria makin menyeringai lebar. Dicengkeramnya tangan Vina yang kemudian ditariknya untuk berjalan pergi menuju ke suatu tempat. Ia tidak peduli meski tubuh Vina berjalan dengan tersaruk-saruk mengikuti langkah Ria yang menyeretnya tanpa mau tahu.

“Eh Ria, kok tanganmu kenapa jadi dingin begini sih? Eh, lho, aku mau dibawa ke mana nih?!” protes Vina ketika sadar apa yang dilakukan oleh Ria bukanlah main-main. Cengkeraman tangan Ria begitu kuat menyeret tubuhnya untuk mau tidak mau harus berjalan ke sebuah arah.

“Kamu, harus ikut aku kembali sekolah! Ada pelajaran tambahan yang harus kamu ikuti sekarang juga!” jawab Ria tanpa peduli dengan Vina yang berjalan begitu payah diseret kuat oleh Ria. Vina mulai sadar bahaya apa yang sedang ia dapatkan.

Wajah Vina pun seketika pucat pasi. Ia sungguh tak menyangka jika kini ia harus sungguhan berhadapan dengan arwah Dea yang datang dan menuntut tanggungjawab darinya sekarang!

About these ads

3 thoughts on “Kesurupan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s