Menghadapi Anak Matang Sebelum Waktunya

Bila Si Kecil Dewasa Lebih Dini
Alkisah, sepulang dari sekolahnya, seorang anak nampak menangis tersedu-sedu sewaktu memasuki rumahnya. Ketika ditanya oleh sang ibu, gadis yang masih duduk di kelas lima SD ini pun menjawab dengan saura terisak-isak.
“Pacarku selingkuh… Dia sudah jalan sama cewek lain…” begitu jawaban yang keluar dari bibir si gadis si cilik yang kontan saja, membuat sang ibu langsung melongo mendengarnya.
Atau berbeda lagi cerita dari Imelda Yetti, guru bahasa Inggris di sekolah Charitas yang tanpa sengaja mendengar percakapan dua orang muridnya yang masih duduk di bangku kelas satu. “Pokoknya kita putus!”
Imelda yang mendengar ucapan sang murid pun sempat terkejut meski akhirnya kemudian hanya bisa tersenyum. “Sekarang anaknya sudah naik kelas dua. Dengar-dengar dari murid-murid saya yang lain, mereka ini memang pacaran. Mulai dari kelas satu sampai kelas dua sekarang, mereka tetap duduk satu meja,” ujar Imelda.
Atau Anda masih ingat film I Love You Om yang sempat tayang pada sekitar tahun lalu? Dalam film tersebut, tokoh Dion yang baru berusia 12 tahun ternyata bisa juga mencintai seorang pria bernama Gaza yang usianya 35 tahun!
Jadi, benarkah seorang anak yang bahkan masih belum matang organ reproduksinya itu bisa benar-benar mengerti makna tentang cinta atau pacaran? Adakah yang salah, pertumbuhan mereka yang tidak wajar, ataukah kita sebagai orangtua yang kurang tepat dalam mendampingi pertumbuhan mereka?
Seringnya, orangtua yang kemudian melihat ada yang salah dalam pekembangan diri anaknya, akan menyalahkan media informasi yang ada. Padahal, anak tidak mungkin dilarang untuk tidak bersentuhan dengan media apapun. Baik itu koran, internet, atau televisi.
“Dalam Konvensi Hak-hak Anak yang diadopsi dari Dewan Umum PBB, anak itu memiliki kebebasan berekspresi. Yaitu, mereka mempunyai hak untuk mengungkapkan pandangannya, memperoleh informasi, membuat ide-ide atau informasi yang diketahui tanpa batasan,” jelas Imelda.
Jadi menurut Imelda, anak tidak bisa dilarang untuk memperoleh informasi apapun dan dari manapun. Sebagai orangtua, Anda hanya boleh untuk mengarahkannya dan bukannya menyembunyikan informasi dari mereka. Salah-salah, si kecil pun justru akan curi-curi informasi untuk memenuhi rasa penasarannya.
Anak juga tidak bisa Anda bohongi ketika mereka bertanya tentang informasi tertentu. Jika dibohongi, hal itu justru bisa-bisa dapat mengganggu perkembangan mereka. Misalnya seperti yang diceritakan oleh Imelda berikut ini.
“Ada dulu seorang anak yang suka diberitahu kalau cewek dan cowok berdekatan itu bisa jadi hamil nantinya. Akhirnya, si anak ini selalu takut dengan yang namanya cowok. Ia pun sampai mengalami gangguan pertumbuhan dan ketika akhirnya ia tahu yang sebenarnya, ia baru menyadarinya ketika sudah SMA,” kata Imelda. (ika)

Arahkan dan Bukan Larangan
Tidak hanya peran orangtua, sekolah hingga media massa pun punya peran untuk perkembangan tumbuh kembang anak. Misalnya seperti yang dialami Imelda saat harus memberi penjelasan tentang celotehan murid-muridnya yang masih berusia belia.
“Murid-murid saya itu suka baca koran dan tahu lho perkembangan berita-berita yang ada. Misalnya tentang kasus pembunuhan Sandriani, mereka bisa tanya ke saya, Miss, Sandriani itu kan meninggalnya karena begini begini…” ujar Imelda sembari menirukan aduan murid-muridnya.
Atau ketika ia menemukan kenyataan adanya murid-muridnya yang duduk di kelas satu dan dua namun sudah mengaku bahwa mereka telah memiliki pacar, bagi Imelda, tugasnya sebagai guru adalah harus mengarahkan ke hal yang positif. Jadikan ajang kebersamaan anak yang berbeda jenis tersebut untuk membuat mereka dapat kompak dalam mengerjakan tugas belajar bersama.
Pengarahan kepada hal yang positif juga perlu diberikan pada bagaimana menjawab kekritisan anak saat bertanya tentang kebenaran informasi yang mereka dapatkan dari media massa.
Karena begitu kritisnya anak-anak dan bahkan mereka pun kini tidak mau ketinggalan informasi dari media apapun, maka Imelda juga mengharapkan adanya kontrol dari pihak media massa sendiri. Setidaknya, media massa memiliki ruang untuk anak yang disediakan untuk konsumsi anak-anak.
Itu baru hubungannya dengan media massa. Belum lagi yang berhubungan dengan televisi apalagi sinetron yang kini bahkan seakan-anak telah menjadi kebutuhan pokok. Untuk mengantisipasi dampak buruk sinetron, saran dari Dhea, sebaiknya acara menonton TV menjadi acara keluarga.
“Artinya boleh nonton TV tapi bersama-sama keluarga, supaya bisa berdiskusi tentang manfaat atau baik tidak sebuah tayangan. Karena sinetron remaja di TV kita sudah jauh dari teladan yang bisa ditiru anak-anak kita. Sehingga perlu pendampingan. Ada baiknya di sekolah-sekolah guru juga membahas tentang sinetron untuk mendapatkan filter agar tidak ditiru mentah-mentah oleh remaja,” solusi dari Dhea. (ika)

Munculkan Figur Teladan
Sebagai orangtua, memang kita harus bertanggung jawab terhadap informasi dan media yang disentuh oleh anak. Namun bagi orangtua apalagi yang memiliki kesibukan dalam berkarir, apa iya mudah untuk bisa terus mengawasi gerak gerik anak? Toh, ia pun tentunya tidak akan suka kalau terus menerus dibuntuti segala gerak geriknya.
Cara yang bisa ditempuh oleh para orangtua satu di antaranya adalah melalui pemberian perhatian. “Seiring dengan perubahan usia, anak pun mempunyai tugas perkembangan yang meningkat. Sehingga orangtua perlu untuk memberi kesempatan pada anak untuk mempelajari dan melewati tugas-tugas perkembangannya,” ujar Bibiana Dyah, psikolog anak dari Batam yang biasa disapa dengan Mbak Dhea.
Anak perlu belajar mandiri, problem solving, percaya diri dan sebagainya. Perhatian dan pengertian dari orangtua akan tugas-tugas perkembangan anak, akan dapat membantu anak menjadi dewasa secara positif. Terutama teladan dari orangtuanya.
Selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh para orangtua menurut Dhea adalah komunikasi dua arah. Orangtua cenderung menjadi ‘penasehat’, ‘pemberi masukan’, ‘pembuat larangan dan keharusan’, tanpa mau mendengar anak-anak mereka. Anak-anak juga umumnya menjadi ‘penuntut’, ‘tukang protes’, ‘peminta-minta’ dan lain sebagainya. Hampir tak ada yang mau menjadi pendengar. Semua ingin didengar.
Sehingga, komunikasi satu arah yang ada akan memunculkan kecurigaan, saling menyalahkan, dan lain sebagainya. Untuk itu perlu ditumbuhkan sejak dini saling mendengar, berdiskusi, atau memberi kesempatan argumentasi mempunyai banyak alternatif.
“Nah agar tidak saling curiga dan bisa saling memahami, tentu saja harus ada komunikasi yang dua arah. Kunci komunikasi ini adalah dua belah pihak tidak saling menuntut namun justru saling memberi informasi dan masukan,” saran dari Dhea.
Pola asuh yang demokratis, pemanjaan yang berlebihan, dan pelarangan yang ketat akan membuat anak tidak ‘menjadi dirinya sendiri’ dan sulit menjadi dewasa. “Pola-pola demokratislah yang perlu dikembangkan. Orangtua hendaknya tidak merasa ‘paling pintar’, ‘paling bisa’, atau ‘tidak pernah salah’. Anak pun tidak merasa harus selalu ikut kata ortu, sehingga mempunyai kesempatan belajar menjadi dirinya sendiri,” imbuh Dhea.
Bantuan dukungan dari lingkungan yang kondusif  bisa dilakukan dengan pemilihan sekolah, pemilihan lingkungan, termasuk dalam pembentukan kepribadian anak. Sehingga dapat membantu anak dalam memposisikan dirinya secara benar.
“Membimbing anak bukan hanya mengajari anak. Tetapi bersama-sama anak menciptakan hal-hal positif bagi kehidupan. Anak memerlukan figur teladan dari sekitarnya. Bagaimana sopan, bagaimana sabar, atau bagaimana bersikap baik. Ini karena anak akan meniru dari lingkungannya, yaitu orangtua,” tegas Dhea.
Imelda juga sependapat dengan perlunya figur teladan yang baik pada diri anak. Misalnya saja dalam cara berpakaian. Anak-anak yang sekarang ini memiliki kecenderungan berpakaian seksi laiknya orang dewasa, bisa jadi merupakan hasil peniruan atas apa yang dilihat dari orangtuanya.
“Mereka jadi terbiasa untuk berpakaian seperti itu dan merasa tidak masalah. Nah kalau ada apa-apa dengan dia yang dilakukan oleh orang lain, salah siapa kalau seperti itu? Jadilah orangtua yang baik dan anak pasti akan mengikuti yang baik dari orangtua,” cetus Imelda. (ika)

Kedekatan Emosi dapat Kuatkan Anak
Pada orangtua yang super sibuk, tak bisa dipungkiri, mereka harus instropeksi tentang anak-anak yang bagaimana yang mereka inginkan. Artinya perlu ada pengorbanan dan kesungguhan dari orangtua dalam mengharapkan anak-anak seperti yang mereka inginkan.
“Harus ada kuantitas dan kualitas waktu bersama anak-anak. Kuantitas maksudnya cukup waktu untuk berkomunikasi dan bermain dengan anak-anak, serta kualitas pertemuan tesebut, diisi dengan kegiatan apa,” ujar Dhea.
Biasanya waktu yang bisa disiasati adalah saat sarapan bersama, makan malam bersama, dan sebelum tutur. Ditambah dengan komunikasi melalui ponsel misalnya pada jam-jam siang, atau sore. Sedangkan waktu liburan adalah saat yang panjang dan harus diluangkan bersama anak-anak.
Walaupun sulit bertemu dengan teman-teman anak-anak, orangtua bisa mengenal dengan mendengar cerita anak tentang sekolah serta teman-temannya. Beri waktu meski sedikit untuk mengetahui kesulitan yang sedang dihadapi dan membantu alternatif solusi, mengenal lingkungan anak, seperti teman, guru, dan permainannya, memotivasi anak dan memberi semangat, mengetahui harapan-harapan dan kebutuhan mereka, atau menceritakan tentang kegiatan orangtua.
Pada single parent, anak juga tetap memerlukan figur pengganti ayah atau ibu. Bisa didapatkan misalnya dengan mendekatkan pada saudara seperti om, tante, kakek, nenek, atau dengan penanaman pemahaman tugas-tugas figur pada anak.
Intinya, krisis sosial pada masa perkembangan, umumnya yang dirasa berat adalah saat anak memasuki masa remaja. Sehingga orangtua atau orang dewasa di sekitarnya sepatutnya membantu anak memberi informasi yang benar. Hal-hal seperti kemandirian, problem solving, sex education, informasi sekolah, atau informasi karir. Bisa dibantu oleh guru di sekolah, tenaga profesional seperti dokter kandungan, psikolog, atau dokter kulit dan kelamin.
Sentuhan secara fisik juga sangat dibutuhkan orangtua. Elusan pada rambut, menepuk-nepuk punggung, ciuman di pipi atau kening, pelukan dari orang dekat yaitu ibu, ayah, saudara akan membuat seorang anak atau remaja menjadi merasa dihargai, dibutuhkan, disayangi, sehingga akan menjadikan mereka lebih percaya diri dalam menjalani tantangan-tantangannya. (ika)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s