Grafiti

Grafiti Menunggu Pagi

            “Apa yang terjadi dengan hatiku. Ku masih di sini menunggu pagi…” Kemudian setelah bunyi pilox terkocok, tangan itu menggores warna terang di sebuah tembok. Bagas tampak lega dengan apa yang barusan dilakukannya.

            Eh, kok jadinya ngomongin film Alexandria ya?! Ini lho, karena sekarang kita lagi mo ngomongin tentang grafiti, nggak papa kan kalau Youngsters dibawa sedikit berkhayal mengingat film Alexandria. Di film itu ada tokoh Bagas yang hobi banget mainin pilox untuk ngebuat grafiti.

            Grafiti emang sekarang lagi booming banget di Batam. jumlah bomba (bomber Batam) pun sekarang bisa ada sekitar 20-an komunitas. Di mana-mana gampang banget kita temuin coretan grafiti di beberapa tembok. Kebanyakan sih, para bomber, istilah untuk pembuat grafiti ini ngebuat jalinan huruf menjadi kata atau yang diistilahin dengan tag.

            Ngomongin seni grafiti, sebetulnya di tingkatan dunia udah ada dari tahun 60-an lho. Para bomber atau pelaku grafiti ini punya senjata andalannya yaitu pilox. Kalau udah ketemu unsur bomber, pilox dan tembok, wah jangan ditanya, sebentar saja tuh tembok udah berisi silangan jalinan huruf yang membentuk kata atau yang biasa disebut tag. Ada juga yang kreatif ngebentuk stensil atau berwujud gambar animasi.

            Tapi kalau sekarang yang sering kita perhatiin di jalan ini kebanyakan sih bentuk tag. “Habis kalau gambar itu rumit bentuknya. Udah gitu butuh warna piloknya banyak,” kata Pepeng, yang berasal dari bomba Marvel.

            Tapi ada juga lho yang bisa bikin stensil yang dibuat lewat proses komputer. Ini dilakukan sama Moltov waktu ngikutin class meeting di sekolah mereka, SMA Yos Sudarso. Sayangnya, cetakan stensil mereka banyak yang ilang. Jadilah cuman wajah Budi yang nongol di grafiti mereka.

            “Jadi kita buat sketsanya di komputer dulu. Terus diprint habis gitu dibuat cetakannya,” jelas Adi dari Moltov.

            Grafiti di Batam sendiri mulai booming sekitar akhir tahun 2005. Waktu itu kebangkitannya diawali sama acara pensi yang diadain Yos Sudarso sekitar Desember 2006. Kata Santa Lidwina, dari SMA Yos Sudarso, yang ikut dalam lomba grafiti di pensi sekolah mereka ada sekitar 18 kelompok.

“Sebetulnya sih sebelum itu udah ada. Cuman waktu pensi itu kita jadi tahu para bomber yang lain di Batam ini,” ujar Abang dari Comb Gad.

            Kebiasaan anak-anak bomber ini mirip kayak lagunya Peterpan Menunggu Pagi. Jadi kalau udah sekitar jam 12 atau jam 1 dini hari, mulailah mereka bereaksi. Ada yang izin dulu, ada juga yang emang ilegal. Tapi kebanyakan sekarang ini, udah banyak emang pihak yang mempersilahkan tembok mereka dicorat coret grafiti. Misalnya tembok di dekat BCS Mall atau di daerah belakang Planet Holiday.

            “Bisa-bisa sampai jam lima pagi gitu,” aku Aji. “Tapi kalau ngebuatnya sih bisa sekitar dua jam-an gitu. Tergantung besar temboknya seberapa,” tambah Rahman dari Comb Gad. (ika)

 

Berharap Ada Tembok Khusus Grafiti

            Ini nih urut-urutan pekerjaan para bomber. Biasanya, mereka akan ngebuat sketsa dulu di kertas. Kebanyakan sih tulisan tentang nama komunitas mereka, misal Marvel. “Ide buatnya sih bareng-bareng termasuk kesepakatan bikin warnanya. Cuman kalau yang ngebuat biasanya satu orang,” jelas Uya’ dari Marvel.

            Kalau udah gitu barulah para bomber ngebom alias ngepilox tembok sesuai sketsa yang udah dibuat. Tehnik ngebom ini juga bisa tergantung sama angin lho. Misalnya kayak diakuin Angga dari Busted waktu mereka class meeting SMA Yos Sudarso.

            Jika sebuah grafiti udah jadi, rasa puas inilah yang kebanyakan diakui sama para bomber. “Apalagi kalau karya kita sampai dilihat orang,” tambah Farid dari Comb Gad. Dan salutnya, ada satu nih etika yang ada di kalangan para bomber. Dilarang merusak hasil karya bomber lainnya.

            “Itu udah kayak jadi etika di antara para bomber. Biasanya yang ngerusak anak lain dan bukan antar bomber,” ujar Pepeng dari Marvel.

            Karena seni grafiti ini sampai sekarang kurang terarah, para bomber ini berharap suatu ketika di Batam ada tempat khusus yang disediakan untuk para bomber. “Kayak di dekat Orchard Singapura ada kan tuh yang emang khusus disediain untuk grafiti. Jadi orang lain juga bisa lihat keindahannya juga,” usul Farid dari Comb Gad. (ika)

 

Belajar dari Internet

            Banyak cerita asal muasal kenapa para bomber ini jadi hobi main grafiti. Misalnya kayak yang diakuin sama Rahman, Adek, Bondan, Kiki, dan Abang dari Comb Gad. Kebanyakan dari mereka ngaku dari yang namanya kepingin ngikutin tren sampai penasaran untuk pengen nyoba.

            Begitu juga kayak cerita Aji, Bob, Pepeng, Uya’, dan Riko dari Marvel. Mereka juga tahu grafiti ketika ada teman mereka dari Jawa yang cerita tentang trendnya grafiti di Jawa.

            Tapi lain lagi alasan dari Angga dan Riki dari Busted. Mereka justru kepikiran untuk kreatif bikin grafiti karena hobi ngegame. “Waktu itu aku pikir, kayaknya gambar yang di game ini oke banget. Trus aku ngobrol-ngobrol sama Julius dan jadilah kita bikin grafiti,” kata Riki.

            Setelah tertarik, para bomber inipun rata-rata bealjar dari model-model grafiti yang ada di internet. Banyak banget emang situs di internet yang nunjukin contoh model grafiti di dunia. Mulai dari www.tembokbomber.com, www.graffiti.playdo.com, www.graffiti.org, atau www.graffiti.net.

Kadar imajinasi tingkat tinggi juga dibutuhin lho. “Jadi kalau salah bisa ditambahin,” kata Kiki dari Comb Gad.

            Trus, berapa lama sih seorang bomber bisa dibilang gape bikin grafiti? “Kalau itu bukan hitungan berapa lama tapi berapa kali nyoba. Biasanya sih sekitar dua kali nyoba,” kata Pepeng dari Marvel.

            Ada beberapa kategori di kalangan bomber tentang penilaian sebuah grafiti. Kata Bayu dari Satoe dan Farid dari Comb Gad, sebuah grafiti bisa dibilang bagus karena tulisannya lebihhidup, bentuk huruf nggak maksa, efek warna, nggak belepotan, adanya gradasi warna, dan adanya efek bayangan atau cahaya.

            Ada lagi yang namanya istilah grips. Bentuknya kayak tetesan lelehan air begitu. Seni kayak gini ini yang bisa dibilang oke. Misalnya kayak yang dibuat anak Science waktu class meeting Yos Sudarso. (ika)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s