Guru Berkualitas Itu Lahir dari UT

IMG-20160818-WA0001

Saya mengamati foto yang dipasang Epen, adik ipar saya pada foto profil BB-nya.

Di foto itu, terlihat gambar beberapa anak yang sedang bermain cublak-cublak suweng, sebuah permaian tradisional.

Di lain waktu, Epen menunjukkan foto aktivitas murid-muridnya di Facebooknya lagi. Kali ini, mereka sedang berjalan-jalan dengan latar pemandangan sawah.

“Enak banget ya, jadi muridnya Epen!” batin saya.

Dulu, sebetulnya saya kerap berpikir sebelah mata tentang kualitas pendidikan anak-anak yang tidak bersekolah di kota.

Tapi dari foto-foto Epen, saya melihat sisi yang berbeda. Meski ia mengajar di TK yang bukan berada di kota, namun kegiatannya tidaklah sembarangan.

 

Lulusan mana sih?

 Pertanyaannya mirip iklan ya? Tapi emang sih seringnya, pertanyaan ini kerap muncul untuk memenuhi rasa penasaran, mengapa seseorang bisa bekerja dengan cara-cara tertentu.

Yuk, saya cerita sekilas tentang Epen, seorang guru TK di sebuah daerah di Lamongan.

12039516_1154585777889307_6783657905086921048_n

Sebetulnya apa yang dialami Epen agak mirip dengan kebanyakan fenomena guru lembaga pendidikan di tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Sekitar tahun 2005, Epen bergabung menjadi tenaga pengajar di sebuah TK. Waktu itu status pendidikannya masih lulusan SMA.

Seiring waktu, tentunya ada tuntutan dari pihak Dinas Pendidikan tentang standar tenaga pendidik. Lagi pula jika hanya mengandalkan ijazah SMA, tentunya tidak ada tunjangan sertifikasi yang bisa didapat.

Di titik ini, masih cerita Epen seperti kebanyakan tenaga pendidik lainnya.

Lalu keputusannya untuk melanjutkan pendidikan ke jejang S1 lah yang mulai membedakannya.

Epen sengaja mengambil kuliah di Universitas Terbuka (UT), bukan di lembaga pendidikan lain yang menawarkan pendidikan berikut ijazah S1 guru PAUD.

 

Ada beberapa alasan mengapa UT berbeda dengan kampus lain. Dan alasan inilah yang kemudian menjadi dasar pertimbangan Epen.

  1. UT adalah kampus negeri

Di kebanyakan tempat, status negeri atau tidak berikut akreditasinya apa, kerap menjadi penilaian bagi kebanyakan orang.

Stigma yang sering ada, biasanya tuh kalau kampusnya negeri, ya kualitasnya bagus.

Dan memang kenyataannya, UT diakui secara akreditasi bahkan peringkatnya bersaing dengan kampus-kampus negeri tersohor seperti UI atau UGM.

Bagi Epen sendiri, keberadaan UT yang kampus negeri ini terlihat akan memudahkannya dalam mengurus berbagai hal terkait profesinya sebagai pengajar.

Nggak perlu lagi ada pertanyaan atau kesangsian dari berbagai pihak jika Epen melampirkan ijazahnya yang keluar dari UT saat mengurus berkas sertifikasi.

  1. Benar-benar dapat ilmu yang berkualitas di UT

Sebelum memilih UT, Epen memang mencari informasi dulu perihal kualitas pendidikan yang akan dipilihnya. Ia tidak mau asal.

Kebetulan, pihak dinas Kecamatan Kembangbahu yang merupakan daerah domisili Epen serta sekolah tempatnya mengajar, di suatu ketika mengumumkan informasi UT yang membuka kelas untuk guru PAUD.

Epen membandingkan dengan kampus lain hingga akhirnya pilihannya jatuh di UT.

Benar saja, menurut Epen, kuliah di UT memang tidak asal-asalan kuliah.

Mulai dari sesi pertemuan dengan dosen, bahan-bahan kuliah yang dibagikan, praktek mengajar, dan sebagainya, menjadi sumber ilmu yang bernilai buat Epen.

“Kalau dulu ngajar ya ngajar, Mbak. Tapi sejak kuliah, jadi tahu ilmunya,” tutur Epen ke saya.

Ada yang paling membuat Epen terkesan. Yaitu, saat ia dan mahasiswa yang lain diminta membuat lagu untuk mengajar ke anak-anak.

Biasanya dan sebelumnya, ia hanya menggunakan lagu-lagu yang sudah ada atau dari orang lain.

Tapi karena di UT ia diminta seperti itu, ilmu itu pun akhirnya kerap berguna saat ia menghadapi anak-anaknya di sekolah.

“Misalnya Mbak, hari ini aku bikin lagu tentang kucing. Nanti pas di sekolah, ada anak yang suka burung terus minta dibikinkan lagu tentang burung. Gitu itu ya aku bikin lagi.”

Tak heran, ketika diminta membuat portofolio, Epen bisa membuat sebuah portofolio yang tebal.

Satu di antara beberapa hal yang membuat portofolionya tebal adalah keberadaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Buat Epen, ia terbiasa membuat itu sendiri. Nggak ada yang namanya copas sana sini lho ya.

Dan ilmunya dari mana lagi kalau tidak dari UT tempatnya kuliah.

Satu lagi cerita tentang UT yang membuat Epen terkesan adalah saat ujian. Di tempat lain, mungkin peluang untuk sontek-menyontek itu ada. Di UT?

“Wong ujian aja kadang pengawasnya dari Jakarta, Mbak. Pakai dishooting segala!”

  1. Bisa dilakukan sambil tetap mengajar

Untuk sesi pertemuan dengan dosen, kelas yang ditempuh Epen bisa ia lakukan cukup di Lamongan saja. Tidak perlu jauh-jauh ke Surabaya, misalnya.

Meski begitu, dosennya tidak sembarangan. Menurut Epen, sesekali ia kedatangan pengajar dari Jakarta juga.

Sesi kuliah ini berlangsung akhir minggu. Jadi di hari lain, Epen bisa tetap mengajar seperti biasanya.

Grafik kondisi mahasiswa di Universitas Terbuka. Mereka yang berprofesi sebagai guru banyak menjadi mahasiswa di UT. Demikian juga Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan menjadi fakultas yang paling banyak dipilih.Sedangkan untuk usia, yang menarik, banyak juga mahasiswa yang usianya di atas 40 tahun. Saya duga, ini berasal dari para guru yang sudah bertahun-tahun menekuni dunia pendidikan namun masih memiliki ijazah S1.

  1. Masuk gampang, keluar susah

Nah ini nih, ini yang paling-paling khas dari UT!

Konon katanya, sudah jadi hal yang umum kalau kuliah di UT itu sangat menuntut kualitas.

Pengajar dan kuliahnya tidak asal-asalan. Tentunya yang namanya tugas, ujian, hingga ujian akhir seperti skripnya pun tidak sembarangan.

Epen membenarkan hal itu. Katanya sih memang, dapat nilai A di UT itu bukan hal yang gampang.

Saking selektifnya proses perkuliahan yang menuntut standar kualitas, banyak teman-teman Epen yang memilih putus kuliah sebelum lulus.

Dari 24 orang di kelompoknya, tinggal 18 orang saja yang bertahan.

Kebanyakan, mereka yang memilih keluar adalah orang-orang yang kerap bingung dengan sistem di UT yang harus ini dan itu.

Tugas harus dikumpulkan seperti apa, mengurus administrasi perkuliahan harus seperti apa, dan sebagainya.

Tidak ada yang namanya bisa lobi ini itu terutama terkait deadline yang telah diputuskan dosen atau pihak UT.

Dari cerita Epen saya menyimpulkan, kalau kitanya kuliah di sana tapi seenaknya, ya alamat bye bye goodbye!

Saya langsung terbayang cerita bagaimana mahasiswa saya dulu atau cerita teman saya tentang mahasiswanya.

Telat mengumpulkan tugas, ngelobi. Nilai C karena akumulasi dari semau guenya mahasiswa yang bersangkutan selama perkuliahan, protes. Eh, ada juga lho yang sudah dapat B masih protes.

Apa kabarnya kalau mahasiswa kayak begitu kuliah di UT ya?

 

UT memang membuka peluang bagi para guru yang ingin meng-upgrade jenjang pendidikannya.

Informasi lengkapnya, bisa dibaca di sini untuk yang S1, dan di sini untuk yang S2.

Sayang, untuk S2-nya, hanya ada jurusan pendidikan matematika dan bahasa Inggris.

Saya yang lulusan Pendidikan Ekonomi, jadi nggak bisa nyambung ke tingkat S2 yang linier deh.

Hm, mungkin lain waktu saya coba saja ambil S2 Manajemen di UT. Kan enak tuh bisa kuliah S2 online di kampus negeri yang bonafide lagi statusnya.

Meski sekarang ini saya break dulu dari berkarir di luar rumah, tetap ada keinginan melanjutkan pendidikan dalam daftar target hidup saya.

 

Keberadaan UT yang membuka peluang jurusan terkait kependidikan ini tentunya punya arti besar bagi masa depan Indonesia.

Bermula dari titik pendidikan, UT yang menawarkan pendidikan berkualitas bisa mencetak guru yang juga berkualitas.

Yah, seperti cerita saya tentang Epen tadi.

Efeknya, ke anak didiknya. Tentu akan menjadi beda, anak-anak yang dikawal oleh tenaga pendidik berkualitas dengan yang asal-asalan.

Dari anak-anak masa depan bangsa yang mendapat pendidikan berkualitas, dari para guru yang mendapat ilmu untuk menunjang kemampuannya meningkatkan pendidikan berkualitas, dan dari UT yang telah empat windu memberi pendidikan berkulitas, semoga bangsa Indonesia bisa terus tumbuh dan menjadi besar.

 

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba blog dari Universitas Terbuka dalam rangka memperingati HUT Universitas Terbuka ke-32. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakan.”

Universitas Terbuka

 

 

5 Hal Menyenangkan Ini Pernah Saya Alami Saat Lajang di Kala Lebaran

5 Hal Menyenangkan Ini.jpg

Jadi lajang di saat lebaran?

Bagi kebanyakan orang, apalagi perempuan berstatus lajang, rasanya begitu menyebalkan.

Ayo tebak karena apa?

Pasti deh, karena todongan pertanyaan dan cecaran pernyataan tentang kenapa kok masih melulu lajang.

Apalagi kalau kitanya sudah berusia di atas 25 tahun. Lebih ngegemesin lagi malah saat di atas 30 tahun.

Ngaku deh, pasti yang namanya lebaran itu rasanya pengen dilalui di rumah saja.

Pasalnya kalau bersilaturahmi dengan yang lain, kebanyakan selalu ketemu orang-orang yang begitu peduli dengan status lajang kita.

Hehe, soalnya yang nulis tulisan ini pernah juga mengalaminya. Sampai usia 32 tahun euy dapat perhatian berupa teror yang mengutak-atik status kelajangan saya.

Tapi, saya pernah kok mengalami masa-masa lajang tapi terasa menyenangkan di waktu lebaran.

Padahal, waktu itu kondisinya saya hidup di rantau dan jauh dari orangtua. Saya tinggal di Batam, orangtua tinggal di Jawa.

Ditambah lagi, saat itu saya juga harus tetap kerja di kala lebaran. Yah, namanya saja kerja jadi reporter. Jadinya ya tuntutan profesi deh.

Awal-awalnya sih ya kangen keluarga banget. Tapi setelahnya, eh… yang ada malah lupa!

Mau tahu hal mengasyikkan apa saja yang saya pernah alami?

  • Ikut takbiran keliling

Kegiatan takbiran keliling di Batam menjadi agenda tahunan yang bahkan dilombakan. Jadi mobil yang ikut penjurian, akan dihias secantik mungkin.

Kesannya, mirip pawai keliling tujun belasan. Karena malam, saya sendiri sih jadi dejavu kayak malam tahun baruan waktu kecil di Jakarta. Meriah!

Bersama teman-teman yang kebanyakan cowok, saya ikut takbiran keliling di mobil bak terbuka.

Tapi karena saya dan teman-teman cuma ikut menambah kemeriahan saja, mobil kami hanya dibiarkan tanpa hiasan dan ikut di barisan belakang.

Sedangkan saya sebagai reporter, takbiran dengan misi ganda: meliput kegiatan takbiran!

Yah, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui kan? Niatnya takbiran, kerjaan juga dapat deh!

Nah, hal yang paling seru waktu takbiran keliling itu adalah saat harus mengikuti arak-arakan mobil peserta takbiran.

Seringkali, mobil kami kehilangan arah. Saat sedang mencari-cari arah peserta takbiran, kami yang salah arah ini malah jadi patokan beberapa kendaraan yang lain.

Sebetulnya kendaraan ini juga bukan peserta, hanya ikut takbiran keliling saja. Jadilah mobil kami dan beberapa mobil yang lain salah jalan berjamaah!😀

Di lain waktu, kejadiannya juga pernah terbalik.

Kami mencoba ikut mobil yang terlihat berhias pernak-pernik. Dugaan kami, ini pasti juga mobil peserta. Jadilah kami ikuti mereka.

Eh, ndilalah itu mobil salah arah. Kami yang di belakangnya, serta beberapa mobil yang lain jadi ikut salah arah juga!

  • Konvoi silaturahmi keliling bersama teman, ke rumah teman

Kelar urusan shalat Id, sedikit memantau untuk bahan berita, biasanya saya dan teman-teman janjian kumpul. Agendanya, konvoi silaturahmi keliling.

Kebetulan saat merantau, tinggal, dan kerja di Batam, saya juga memiliki teman-teman yang nasibnya sama: lajang, perantau, kerja di media, dan tinggal di rusun. Klop, deh!

Nasib kami rata-rata seragam: nggak punya keluarga yang bisa dikunjungi silaturahmi, juga nggak punya makanan khas lebaran di rumah. Sampai-sampai jajanan toplesan pun kami tidak punya, lho!

Waktu itu kebanyakan dari kami memang tinggal di Rusun Jamsostek yang ada di Batuampar. Setelah shalat dan liputan, kami lalu berkumpul di depan kamar salah satu dari kami.

Agendanya ya tentu seperti laiknya sebuah keluarga, salim-saliman dulu dong antarsesama kita.

4234_1155460959402_6805024_n
Foto bersama dulu sebelum konvoi silaturahmi

Setelah itu, barulah kami menentukan rute yang akan kami lewati. Ada daftarnya tuh, rumah siapa saja, dan di mana saja.

Tujuan yang kami tuju sebetulnya ya teman-teman kerja kami juga. Tapi, mereka sudah punya rumah sendiri dan juga keluarga.

Setelah itu, kami pun mulai melakukan persiapan. Yang disiapkan tentu saja kendaraan untuk keliling, plus rantang atau tempat makanan.

Pasti bingung deh. Apa urusan tuh rantang kok jadi penting sekali untuk disiapkan?

Jadi ceritanya di setiap kami berkunjung, sering dan hampir selalu dapat todongan HARUS MAKAN.

Kalau tidak, alamat dapat kata-kata, “Nanti kempunan, lho!”

Saya sebetulnya tidak tahu pasti juga arti dari kempunan. Tapi dari hasil tanya sana-sini, sebetulnya kempunan itu 11-12 dengan istilah pamali.

Nah, rezeki kan nggak boleh ditolak tho? Jadi ya harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. *apasih?

Caranya tentu saja, dengan menyediakan alat penampungnya yaitu tempat makanan.

Jadi kalau sekiranya di rumah yang didatangi itu kita ingin mencoba makanannya, ya dimakan. Kalau tidak, tampung deh ke rantang yang sudah disiapkan.

Tak hanya makanan berat, camilan pun tak luput dari sasaran kami. Pulang-pulang, jadilah kami OKB. Orang Kaya Baru… dapat makanan!😀

  • Dapat angpao lebaran

Siapa bilang lajang di saat lebaran itu mengenaskan?

Saya dan beberapa teman pernah lho dapat rezeki gara-gara status lajang.

Awalnya kami tidak tahu, kalau di beberapa orang dalam masyarakat Melayu, punya tradisi memberikan angpao kepada orang lajang.

Jadi nggak hanya anak kecil saja lho yang dapat angpao. Kita-kita yang udah gede, umur di atas 20 tahun, ternyata bisa kebagian juga.

kad-raya-2012.jpg
Waktu itu kira-kira angpaonya selucu ini gambarnya, kartu dengan kata-kata khas bahasa Malaysia.

Saya sendiri punya pengalaman mendapat angpao dua kali. Satu dari narasumber, yang satu lagi dari seorang teman etnis Melayu yang tinggal di Singapura.

Kalau yang dari narasumber, ceritanya waktu itu agak alot.

Kan sudah jadi hal paten tuh, kalau yang namanya reporter nggak boleh dapat amplop dari narasumber.

Sedangkan saat sedang berkunjung dengan seorang teman ke seorang narasumber di Tanjungpinang, kami diberi angpao oleh mereka.

Akhirnya kami coba untuk mengembalikannya. Eh yang ada, kami malah diancam akan nggak diperbolehkan lagi meliput ke tempat mereka.

Tapi mereka juga memberitahu, kalau sebenarnya itu adalah adat Melayu. Malah kalau nggak diterima, bisa-bisa kena apa gitu istilahnya.

Jadilah saya dan teman menerima angpao tersebut.

Sepulang dari sana, kami lalu bisik-bisik. Enak banget ya ternyata jadi lajang pas lebaran di tanah Melayu.

  • Jalan-jalan bersama teman

Kalau agenda liputan ini itu sudah kelar, daftar orang-orang yang harus dikunjungi sudah beres, saya dan teman-teman kerja di sana waktu itu mengisi waktu libur dengan liburan.

Ya iyes, tentu dong kami ingin seperti mereka yang liburan dengan keluarganya masing-masing.

Waktu itu saya dan teman-teman pernah memutuskan untuk berlibur ke Sekilak dan juga ke pantai di Bintan rame-rame.

4234_1155467879575_805276_n.jpg
Rame-rame ke Sekilak

Saat pengunjung yang lain datang dengan keluarganya masing-masing, kami pun datang dengan keluarga seperantauan kami.

Nggak tanggung-tanggung, kami ada berbelasan orang yang datang ke sana.

Jadi rasanya kayak rekreasi kantor gitu.

Saat-saat seperti itu, sering saya kenang hingga saat ini.

Ya, meski hidup kami jauh dari keluarga, tapi kami seperti tidak kesepian. Teman-teman seperantauan itulah keluarga kami di sana.

  • Ke luar negeri

Percaya nggak percaya, saya pernah lho memilih ke luar negeri dari pada pulang ke Jawa sewaktu lebaran.

Eit, jangan salah pikir. Gara-garanya, waktu itu jatah cuti tidak saya dapatkan di waktu lebaran.

Tentu saja sebagai reporter, kalau semua-semuanya minta cuti, lha siapa yang bagian meliput berita?

Selain itu, tentu semua orang tahu lah. Yang namanya tiket transportasi umum, apapun itu, harganya kan selangit waktu lebaran.

Apalagi ongkos pesawat PP Batam-Surabaya. Berapa jeti, oi?

Malah yang ada, biaya transportasi ke Singapura jauh lebih kecil dari pada dipakai buat pulang ke Jawa.

Jadilah waktu itu saya dan beberapa teman memutuskan pergi ke Singapura.

Agendanya, mengunjungi seorang teman yang tinggal di sana, berikut tentu saja, agenda jalan-jalan.

5080_1172373102195_4979006_n.jpg
Kalau waktu itu nggak ada acara kemalamam, pasti nggak bisa wefie kayak begini sama si Merlion

Nah, pas berkunjung ke rumah teman, seperti yang tadi saya sudah bilang, kami dapat angpao lajang.

Tentunya senang dong, pulang balik ke Batam dapat sangu dari dolar Singapura.

Sayangnya karena kemalaman saat harus balik ke Batam, kapal ferrynya penuh semua dan sudah di jam yang tidak beroperasi lagi, uang angpao itu akhirnya kami pakai untuk bayar penginapan semalam di Little India.

Hikmahnya, agenda jalan-jalan jadi makin bisa ke sana-sini. Niatnya cuma sehari di Singapura, eh jadinya dua hari satu malam.

Pulangnya, orangtua saya yang senewen. Pasalnya saya pamit telepon ke mereka kalau hanya sebentar ke Singapura.

Pas mereka telepon lagi, hp saya tidak aktif karena habis baterai.

Saat sudah sampai di Batam, hp bisa saya aktifkan lagi, jadilah dapat omelan dari ayah dan ibu.

Hehe, mungkin ayah dan ibu saya mikir begini kali ya… Nih anak jauh dari orangtua kok malah bahagia. Sementara orangtua yang di rumah kepikiran anaknya.

Tapi benar deh, kalau nggak ada teman di perantauan, mungkin saya akan melewati lebaran dengan rasa sedih nggak ketulungan.

Lha iya, sudah lajang, nggak punya saudara, sepi teman, gimana rasanya coba?

Alhamdulillah, saya malah pernah mengalami banyak hal menyenangkan saat menjadi lajang di kala lebaran.

Apalagi kalau bukan karena keberadaan teman senasib, seperjuangan, seperantauan…

 

 

* Tulisan in diikutsertakan dalam lomba CERIA “Cerita Lebaran Asyik” yang diadakan Diary Hijaber

Upcoming event dari Diary Hijaber

diaryhijaber.jpeg

Antara Olin dan Andi

image

Wajah Olin merah padam. Tangannya mengepal kencang. Bantal Spongebob milik Lia tak kuasa mengelak tinju Olin pada akhirnya. Pemilik bantal yang sedari tadi meringis, langsung bergidik ngeri memejamkan mata sipitnya.

“Sebetulnya apa teh masalah dia? Kenapa hampir semua keputusan saya di organisasi ini selalu ia permainkan? Ra mudeng!”

“Sabar Lin, sabar. Kata Olin kan, Tuhan itu selalu bersama orang yang sabar lo’?” Lia mencoba menenangkan sembari beringsut perlahan mengambil bantal Spongebobnya. Ia tak mau bantalnya berburai terkena pukulan tangan Olin lagi yang terbiasa memukul punching-pet saat taekwondo.

image

Olin langsung istighfar, menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Saya beneran kesal sama Andi. Oke, dia memang ketua klub kewirausahaan sebelum saya. Tapi teh kenapa gitu, setiap saya melakukan apapun yang terkait organisasi, dia selalu jadi trouble maker,” gerutu Olin.

Olin memegang kepalanya. Di balik jilbabnya, ia merasa ada denyutan yang membuatnya pening.

“Nih, lu selesein baca buku lu dulu. Kali’ bisa jadi hiburan,” Kristin menyodorkan buku terbitan Kaifa berjudul The Secret of Money Magnet yang baru dibeli Olin beberapa hari lalu.

image

“Trims,” ucap Olin.

Sementara itu Lia mengaktifkan modem Smartfren 4G LTE. Ia penasaran ingin mengecek apakah ada film Masha and The Bear yang baru dirilis di Youtube. Tak berapa lama kemudian, Lia langsung senyum-senyum sendiri. Karena dengan menggunakan Smartfren, ia tak perlu lagi menghadapi buffering saat menonton Youtube.

Namun keasikan Lia terusik saat mendengar punya bip kecil dari headsetnya. Segera ia mengecek Facebook dan menemukan sebuah pesan terkirim dari Kristin.

Sejenak Lia mendongakkan kepala memandang Kristin seakan-akan bertanya. Namun Kristin masih saja asik mengetik cepat di atas keyboard laptopnya.

“Gue sebetulnya tahu, apa masalahnya Andi ke Olin,” tulis Kristin.

“Dia sebetulnya naksir Olin. Tapi karena prinsip dia sama kayak Olin, nggak mau pacaran, dia akhirnya mencoba mati-matian ngebenci Olin.”

Mata sipit Lia membuka lebar. Ia menggeleng-gelengkan kepala karena tak percaya.

“Masa iya?” ketik Lia.

Kristin mengangguk. “Beneran, gue tahunya pas nggak sengaja pernah denger Andi digodain Edo. Waktu Edo desak, Andi akhirnya ngaku.”

“Jadi sebagai teman, kita harus bantu apa lo’?”

Belum sempat Kristin membalas pertanyaan Lia, mereka berdua lalu mendengar suara Olin. “Please deh, nggak usah ngomongin teman di belakang!”

Lia sontak mengarahkan pandangan ke tempat Olin duduk, namun ia malah menemukan sahabatnya itu sudah berdiri di belakang Kristin dengan menekuk kedua tangan di depan dada.

“Gosip murahan dari mana tuh?” cecar Olin sambil menatap tajam ke Kristin.

Mata Kristin tak mampu membalas tatapan Olin, pun ia kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan tersebut.

“Sabar, Olin. Ayo, tarik napas… buang… lalu katakan, dunia itu begitu indah,” Lia mencoba menenangkan.

Saran Lia tidak ampuh. Olin makin menambah level emosinya. “Gini ya, kalau dia memang benar naksir saya, itu masalah dia tho? Sebodo’ teuing! Bukan masalah saya. Bukan masalah organisasi.”

Ia lalu mengungkit bagaimana Andi kerap mengaburkan semua kebijakan Olin di organisasi. Terutama tentang tambak lele yang baru saja sedang jadi usaha bersama anak-anak klub kewirausahaan.

“Dulu waktu lele masih kecil, saya bilang lebih baik dipanen saja. Kan kalau dijadikan camilan baby lele, enak tho? Lha kok dia bilang dengan argumen ini itu dan akhirnya teman-teman setuju dengan usulan dia. Lalu saat lele sudah besar dan saya pikir waktunya panen, dia buat ulah lagi hingga teman-teman setuju pendapatnya dan tidak jadi panen. Eh sekarang waktu lele-lelenya jadi kurus, bahkan banyak yang kanibal, dia nyalahin saya. Saya didesak untuk buru-buru menghubungi orang yang mau borong panen lele kita. Ujung-ujungnya, usaha kita rugi dan nggak balik modal karena bobot lele hasil panen kita kecil!”

Setelah itu hening mengikat mereka bertiga. Tak ada yang mengeluarkan suara sedikit pun. Hingga akhirnya Kristin melihat sekelebat sosok dari jendela ruang klub kewirausahaan tempat mereka berada saat ini.

“Kayaknya emang lu mesti ngajak ngomong tu orang,” dagu Kristin mengarah ke sosok tersebut.

Andi yang sedang membuka pintu, langsung terhenyak saat mendapati Olin, Kristin, dan Lia sedang menatap tajam ke arahnya. “Ada apa?”

“Ngaku deh Ndi, lu beneran lagi suka Olin kan? Tapi lu nggak mau pacaran. Jadinya lu nyoba ngebenci Olin habis-habisan. Iya kan?” todong Kristin.

Andi jadi salah tingkah. “Sok tahu! Gosip dari mana?”

“Kapan hari yang ngaku ke Edo waktu di kantin, elu kan?”

Andi kembali kebingungan untuk menjawab ucapan Kristin.

“Ngomong aja deh, Ndi. Kalau iya, saya teh nggak bakalan ge-er. Cuma kalau memang benar, lha yo itu masalahmu. Jangan nyalahin saya atau bawa-bawa organisasi. Mikir dong, kalau dulu kamu yang jadi ketua, terus ada orang ngerusuh kayak kamu gitu, kamu mau?” omel Olin.

Untuk beberapa detik Andi menatap Olin dengan tajam. Setelah itu Andi berpaling dan pergi begitu saja meninggalkan ruang klub kewirausahaan.

**

Hari-hari berikutnya Olin tak lagi menjumpai Andi main ke klub kewirausahaan. Olin lega. Kini ia merasa bisa leluasa membuat solid teman-temannya di klub. Namun di sisi lain, Olin juga kerap kebingungan mendapati pertanyaan teman-temannya yang bingung karena tak pernah lagi melihat Andi main ke klub.

“Mungkin dia sedang sibuk menyiapkan ujian kelulusan,” Olin mengarang jawaban yang sekiranya masuk akal.

Hari-hari berikutnya, tak hanya teman-temannya yang merindukan Andi. Olin juga merasa ada yang hilang. Ia akui, Andi adalah sosok yang cerdas. Saat melontarkan ide, ia selalu memberikan logika yang tepat. Olin seperti kehilangan orang yang mampu memancingnya untuk berpikir kritis saat menyikapi sesuatu.

“Coba saja Olin hubungi Andi duluan. Nggak ada salahnya, lo’. Anggap saja kalian nggak ada masalah apa-apa,” usul Lia usai mendengar curhat Olin.

“Nanti dia pikir macam-macam lagi. Enggak ah!” tolak Olin.

“Kangen ya? Elu suka Andi?” goda Kristin.

Untuk beberapa saat Olin menumpukan pandangannya ke gantungan tas milik Lia yang berbentuk ikan nemo.

“Suka? Aku cuma ngerasa, Andi bikin otakku jadi terus bergerak. Nggak stuck. Tapi saat makin hari kelakuannya terus mengacaukan kebijakanku di organisasi, aku nggak suka!”

Olin lantas mengibaskan tangannya. “Udah ah. Aku mau menenangkan diri dulu.”

Tangan Olin lalu mengambil Syaamil Quran ungunya. Sekuat mungkin ia mencoba mengalihkan pikirannya dengan menambah hapalan Surat Al Kahfi.

Kristin dan Olin tak ingin mengusik. Mereka lalu mengaktifkan modem Smartfren 4G LTE.

image

“Ya ampun, mau ada pekan big sale di toko online langganan gue!” pekik Kristin heboh.

Lia yang terkejut dengan suara Kristin yang tiba-tiba lantang sambil melihat ke arah laptopnya, langsung memberi kode dengan menyenggol siku Kristin.

“Jangan keras-keras,” bisik Lia sambil ikut mengintip laptop Kristin. “Pst, by the way, ada jual kaos Kungfu Panda 3?”

“Ngapain lu pake cari Kungfu Panda 3? Orang tu panda juga sama aja. Nggak berubah jadi beruban, kek. Atau pakai baju, kek,” timpal Kristin.

Lia nyengir lalu mengacak rambut ikal Kristin dengan gemas.

Kristin yang akan membalas mencubit Lia lantas terhenti karena mendengar suara pintu ruang klub yang dibuka dari luar.

“Assalamu’alaikum. Hai. Kok sepi ya?”

“Wa’alaikumsalam warrahmah, jawab Olin yang langsung melebarkan matanya saat melihat sosok yang baru saja hadir.

“Hai. Apa kami mesti keluar dulu biar kalian enak ngobrolnya?” Lia segera mengapit tangan Kristin.

“Lho jangan. Nanti malah tambah sepi. Ya kan, Lin?”

Olin mengangguk dan tersenyum kaku.

“Lama pisan nggak lihat kamu main ke klub, Ndi. Teman-teman yang lain sampai pada nanya,” ujar Olin.

“Biasa, nyiapin ujian. Eh, mau ada proyek apa nih habis ini? Ikutan dong. Sumpek juga melulu belajar buat ujian,” celoteh Andi yang membuat Olin lega.

“Eh, gimana kalau kita bikin bazar. Yang usaha teman-teman kita sendiri. Nggak mesti anak klub kita atau anak sosial saja,” usul Lia.

Kristin lantas menimpali. Andi menambahkan idenya. Dan Olin untuk beberapa detik mengedip-kedipkan kelopak matanya. Ia bersyukur, Andi kembali dan seakan tak pernah terjadi apapun di antara mereka. Kerinduan Olin pada sosok yang penuh ide cemerlang itu telah terobati.

“Jazakallah, Ndi,” Olin mengirim pesan melalui WA.

Saat Olin kemudian asik menimpali usul dan ide yang terlontar di antara teman-temannya, sebuah pesan masuk di WA-nya.

“Maaf.” tulis Andi, diikuti tanda dua jari dan tanda wajah tersenyum lebar.

Olin tersenyum. Ia seperti menemukan kembali sosok Andi yang dulu membuatnya kagum. Sosok yang telah berhasil ia netralkan dari segala warna merah jambu dalam hatinya saat pertama kali mengenal Andi.

“Semoga kamu juga sudah bisa menetralkan warna itu, Ndi,” bisik hati Olin.

**

            Bazar yang digagas klub kewirausahaan berlangsung meriah. Olin dan kawan-kawan puas dengan hasil kerja mereka. Anak-anak di SMA itu pun merasa senang ada hiburan pasar murah.

Dari kejauhan, Kristin menatap ekspresi gembira Olin dan teman-teman yang sedang berdiri di dekat Olin sambil menikmati bakso bakar.

“Kayaknya lu sukses bikin Olin jadi seorang pemimpin yang tangguh,” ujar Kristin pada Andi yang sedang mengamati sebuah bros berbentuk Pinto Aceh yang jadi dagangan Kristin.

Andi ikut menatap Olin untuk beberapa saat. “Alhamdulillah. Padahal aku sudah khawatir kalau manajamen konflik yang aku mainkan malah bikin Olin kesulitan.”

“Eh, mau beli bros itu. Buat… ehm! Gue kasih diskon,” celutuk Kristin.

Andi tersenyum kecil. “Memang mau buat siapa?”

Kristin mengarahkan pandangannya ke Olin untuk memberi isyarat. “Yang dulu nyuruh gue bilang suka sama Olin, kalau dibikin beneran juga nggak apa-apa.”

Andi terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepala. Namun ia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang berubah merah merona. Ada yang berdentum lebih keras di dada Andi tiba-tiba.

image

Berasa di Film Upin Ipin

Berasa di Film Upin Ipin.jpg

Suara sirine mobil pemadam kebakaran terus meraung. Membuat siapapun penasaran, kira-kira di mana ya ada kebakaran?

Rasa ingin tahu itu juga ada dalam benak para guru, siswa, dan para pengajar berikut fotografer dan videografer dari Kelas Inspirasi 3 Lamongan yang sedang ada di SDN Tumenggungan 2. Saat mobil pemadam kebakaran lalu masuk ke halaman SD, senyum kecil bermunculan merekah di bibir setiap fasilitator Kelas Inspirasi.

“Surprise!” ujar Mbak Mardiana, koordinator fasilitator Kelas Inspirasi Kecamatan Lamongan dengan nada santai saat saya menunjukkan wajah bengong di depan pintu kelas 1.

Rupanya, diam-diam para fasilitator juga ingin memberikan inspirasi tentang profesi pemadam kebakaran di SDN Tumenggungan 2.

SAM_3264ok

“Wah, rugi kalau nggak masuk hari ini! Untung aku nggak jadi bolos,” celutuk seorang siswa. Ternyata, ia teringat temannya yang sengaja tidak masuk hari itu karena tahu akan tidak ada pelajaran di sekolah.

SAM_3273ok

Ya, hari Sabtu, 30 Januari 2016 lalu menjadi hari yang menyenangkan bagi anak-anak di SD tersebut. Keasyikan mereka dengan para petugas pemadam kebakaran membuat siapapun jadi teringat sebuah episode di film Ipin Upin.

Dengan jelas dan lengkap, para petugas kebakaran menerangkan tentang profesi mereka berikut cara-cara mengatasi kebakaran. Wajah-wajah antusias dan penuh semangat terlihat saat mereka begitu ingin ikut memadamkan api dengan menggunakan tabung pemadam kebakaran juga air dari selang. Tidak peduli apakah itu anak laki-laki atau perempuan, kelas 6 atau kelas 1 SD, banyak dari mereka yang berebut ingin mencoba.

SAM_3277ok

Tahun ini merupakan kali ke tiga Kelas Inspirasi diadakan di Lamongan. Selain SDN Tumenggungan 2 yang ada di Kecamatan Lamongan, Kelas Inspirasi Lamongan tahun ini juga diadakan di Kecamatan Maduran, Sugio, Bluluk, Glagah, Paciran, Mantup, Brondong, Pucuk, Kali Tengah, dan Kembangbahu.

Yang tidak saya duga, ternyata para relawan baik pengajar, vidoegrafer, maupun fotografernya banyak berasal dari luar Lamongan. Bahkan ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, dan Jogjakarta. Para ‘petualang relawan’ ini rupanya kerap menjadi relawan juga di Kelas Inspirasi yang ada di daerah-daerah lain. Many thumbs deh! *salut

Dalam kegiatan Kelas Inspirasi yang berlangsung selama satu hari, para pengajar mengenalkan profesinya masing-masing. Tujuannya untuk memberi inspirasi kepada anak-anak usia belia, bahwa di dunia ini ada lho, profesi yang tak hanya dokter, guru, polisi, tentara, atau artis. Hehe, nyatanya, memang jika ditanya cita-cita, banyak anak-anak yang melulu menjawab profesi-profesi tersebut.

Saya sendiri di tahun ini ikut menjadi relawan pengajar dan mengenalkan profesi penulis cerita anak. Sok ngegaya, memilih kelas yang diajar adalah kelas 1 SD. Padahal dari beberapa cerita para relawan pengajar yang bercerita di blognya, anak kelas 1 dan 2 SD itu tantangannya gede! Mereka masih suka susah diajak konsentrasi serius.

Di Kelas Inspirasi, saya membawa dua buku cerita karya Mbak Widya Ross yang berjudul ‘Dongeng Misterius dari Lima Benua’ dan buku karya Mbak Watiek Ideo yang berjudul ‘Aku Anak yang Berani, Bisa Melindungi Diri Sendiri’.

Saat masuk kelas, saya sapa anak-anak dengan salam khas Kelas Inspirasi Lamongan.

“Teteretetet… Wusss!” dengan tangan terkepal mengacung ke depan lalu di arahkan ke samping, kesepuluh anak di kelas 1 menyambut salam saya.

Agar makin cair suasananya, saya ajak mereka untuk bernyanyi Familly Finger (*saya lupa judul aslinya). Maksudnya, sekaligus biar mengetes konsentrasi mereka.

Cerita pertama yang saya sampaikan berjudul ‘Penyihir Ditakuti di Seluruh Jagat Raya’ dari bukunya Mbak Widya. Karena masih awal pertemuan, masih serius tuh merekanya mau menyimak cerita saya. Apalagi saya sambil memerankan tokoh nenek sihir dan mengajak seorang anak untuk menjadi tokoh Daniel yang ada di cerita tersebut.

Lanjut, saya bercerita lagi yang judulnya ‘Apakah Ada Monster?’ yang berasal dari bukunya Mbak Watiek. Anak-anak pun masih berminat menyimak cerita saya.

Namun setelah itu, setelah dua cerita habis, setelah para fotografer sekaligus videografer tidak ada lagi di kelas saya, setelah mereka ingat bahwa minggu lalu mereka tidak olah raga dan begitu juga hari itu, nah… mulailah semuanya jadi tak terkendali! *meringis

Ada anak yang mulai jalan ke sana-sini, ada yang ke luar kelas, ada yang berkali-kali tanya, “Kapan Bu, kita olah raga?” dan ada yang asyik ngobrol dengan teman sebangkunya. Hahaha, benar-benar saya sampai speechless! Pasalnya waktu dulu saya pegang daycare, anak-anak balita itu bisa antusias lama mendengar saya bercerita. Karena itulah saya pe-de ambil kelas 1. *sigh

Baiklah, sepertinya kalau tahun depan ada lagi, saya harus ubah strategi. Waktu satu jam yang saya pikir akan sebentar, ternyata saat itu terasa lama. Kali itu saya merasa pengalaman pegang daycare dan mengajar anak SMA serta mahasiswa di Poltek, tidak ada artinya.

img-20160201-wa0003.jpg
Para guru SDN Tumenggungan 2 Lamongan, tim pengajar dan fasilitator Kelas Inspirasi Lamongan

Bagaimana dengan kelas yang lain? Di SD Tumenggungan 2 kemarin, saya juga ditemani enam pengajar lain yang berasal dari profesi lain. Ada Mbak Asti yang mengenalkan profesi koki, Mbak Ika dengan profesi HSE Officer, Mbak Ratna sebagai penyuluh pertanian dan peternakan, Mbak Dinar yang jago doodle art, Mas Afiv sebagai engineering yang berduet dengan istrinya, Mbak Fatimah dengan pengenalan profesi HRD.

 

image

image

Urusan mengabadikan ke foto, ada relawan fotografer yaitu Mas Tahfif, Mas Lukman, dan Mbak Haura. Sedangkan videografernya ada Mas Arif.

Usai acara pengenalan profesi, anak-anak lalu diajak untuk menuliskan cita-citanya di mika bening warna-warni, lalu digantung di batang pohon yang kami sebut pohon cita-cita.

Overall, acara kemarin sukses bin asyik! Senang rasanya bisa kenalan dengan para guru SDN Tumenggungan 2 yang baik-baik. Tentu saja, kegiatan kemarin juga sukses karena adanya teman-teman fasilitator, Mbak Mardiana, Mbak Balqis, Mbak Aisyah, Mas Ical, Mbak Farokha.

Kelas Inspirasi Lamongan, sehari menginspirasi, seumur hidup memberi arti. Teteretetet… Wusss!!!😀
image

Terlalu Sayang

Pict Gado-gado

Punya orangtua yang terlalu sayang pada anaknya itu bisa dibilang ada enaknya tapi ada juga serunya. Saya sengaja pakai kata ‘ada serunya’ untuk mengganti kata ’tidak enak’. Yah, karena bagaimanapun sikap mereka, saya tahu, maksud orangtua saya yang terlalu sayang dengan perhatian berlebihan itu sebenarnya baik. Meskipun tak jarang, akhirnya saya jadi sering mendapatkan pengalaman unik dari sikap orangtua saya tersebut.

Misalnya pengalaman saat dulu bekerja sebagai reporter di Batam, sementara orangtua saya tetap tinggal di Lamongan, Jawa Timur. Setiap Ramadan, saya memang punya kebiasaan untuk minta ditelepon agar bisa bangun sahur. Karena saya sering pulang dari kantor hingga larut malam, ditambah kebiasaan tidur saya yang suka susah bangun, membuat saya termasuk orang yang sulit untuk bisa bangun pagi.

Suatu ketika saat sedang haid, saya lupa memberitahu kedua orangtua saya. Malamnya menjelang tidur, nada dering ponsel saya nonaktifkan. Sengaja hal itu saya lakukan karena terkadang ada narasumber yang minta diliput dan menghubungi saya di pagi hari. Pikir saya, mumpung besok jam liputan yang diberikan koordinator liputan ke saya adalah siang hari, saya ingin sekali bangun agak siang.

Pagi harinya, saya dibangunkan oleh suara ponsel Tari, teman sekamar saya. Terdengar sayup-sayup, Tari menyebut nama saya dalam percakapannya.

“Ika? Ada kok, Mas. Ini orangnya baru bangun tidur. Apa? Oh, mau bicara sama dia?” Tari kemudian memberikan ponselnya pada saya.

“Mbak Ika? Mbak Ika baik-baik saja kan?” tanya suara di seberang. Saya hapal, itu adalah suara Mas Gentur, manajer iklan di kantor saya. Mendengar pertanyaan Mas Gentur yang menurut saya aneh, kesadaran saya yang terserak di berbagai alam mimpi langsung terkumpul cepat di kepala.

“Saya baik-baik saja kok, Mas. Ada apa ya?” saya langsung sontak duduk dari posisi tidur.

“Jadi gini, tadi itu saya dapat telepon dari Mas Elang. Dia minta saya ngecek kondisi Mbak Ika. Soalnya Mas Elang dapat telepon dari orangtua Mbak Ika. Katanya kok telepon Mbak Ika berkali-kali nggak bisa. Jangan-jangan Mbak Ikanya kenapa-kenapa,” jelas Mas Gentur yang langsung membuat mulut saya menganga, membelalakkan mata, dan memegang kening erat-erat. Saya tak menyangka orangtua saya sampai menghubungi HRD pusat yang ada di Jakarta demi mencari tahu kabar kondisi saya.

“Oh, maaf Mas. Hp saya mungkin mati,” jawab saya sembari tangan meraba-raba ke bawah bantal, mencari ponsel yang biasanya saya letakkan di dekat sana.

Usai menutup telepon dari Mas Gentur dan saya pun berhasil menemukan ponsel, terlihat ada 24 panggilan tak terjawab dan lima sms. Semua panggilan itu dari nomor ponsel ayah dan ibu saya.

“Ada apa Bu, kok sampai telepon aku bolak-balik?” tanya saya yang saat itu segera meneleponnya.

“Kamu itu ya, ditelepon bolak-balik kok nggak diangkat! Ayah ibu sampai panik. Jadi tadi ya ayahmu nelepon ke pak yang ngebawa kamu waktu tes di Jogja dulu itu. Lha kamu tadi udah sahur apa belum? Kan biasanya minta bangunin sahur. Ya Ibu sama Ayah nelepon!” cerocos ibu saya di seberang sana dengan nada khawatir bercampur kesal karena sesekali terdengar suaranya yang membentak saya.

“Oh, eh, maaf Bu. Aku lagi haid. Jadi hpnya aku silent,” jawabku.

Akhirnya ibu saya meminta nomor ponsel Tari dan Mbak Ruri yang bersahabat dekat dengan saya saat di Batam. Kata mereka buat jaga-jaga, biar tidak perlu lagi menelepon ke HRD di Jakarta jika saya ada apa-apa. Ampun deh!

Yang membuat saya malu, berita tentang saya yang dicari orangtua saya ini sampai terdengar ke pimpinan redaksi alias pimred saya, Mas Febby.

“Jadi ini ta, anak ilang sing dicari orangtuanya tadi pagi!” seru Mas Febby dengan logat suroboyoannya sambil terkekeh geli.

Saya langsung berlalu sembari nyengir dan tutup muka. Dalam hati saya berdoa, semoga ia masih memercayakan saya sebagai anak buahnya untuk liputan. Nggak lucu kan kalau saya dapat liputan yang itu-itu saja hanya karena ia khawatir kalau saya kenapa-kenapa dan orangtua saya kebingungan lagi.

Waktu itu kadang saya terpikir, entah apa jadinya ya jika ayah dan ibu saya juga ikut tinggal di Batam? Jangan-jangan mereka jadi dag dig dug melulu. Soalnya yang namanya liputan itu sering tidak kenal waktu dan tempat. Bisa jadi saya harus meliput sendirian, malam hari, di tempat yang jauh.

Di lain waktu, giliran teman saya yang sedang nikah yang kena sasaran orangtua saya. Ceritanya, waktu itu saya menghadiri nikahan kawan dekat saya yang sebelumnya menjadi teman kerja saya juga saat menjadi reporter. Saya memanggilnya Mbak Ruri. Sendirian saya berangkat ke Jogja dari Lamongan. Meski belum pernah tahu rumahnya tapi saya yakin bisa sampai ke sana berbekal petunjuk dari Mbak Ruri.

Sampai di rumah Mbak Ruri, saya lihat sedang ada acara seperti doa bersama secara Katolik sebelum hari pernikahan esok harinya di gereja. Akhirnya saya memilih untuk salat asar dulu di musala dekat sana. Saat kembali ke rumah Mbak Ruri, teman saya itu langsung berseru, “Lhah, kowe wes nyampe tho, Ka? Tadi ayahmu telepon beberapa kali ke aku nanya tapi aku nggak seberapa bisa jawab. Wong tadi ada acara itu, e.”

Saya menggeleng-gelengkan kepala karena tak habis pikir melihat sikap orangtua saya yang lagi-lagi terlalu khawatir.

“Ampun deh Ayah… masa anaknya yang udah sebesar ini dan pernah jadi reporter liputan ke mana-mana masih dikhawatirkan tersesat?” batin saya.

Ketika saya meminta maaf karena sikap ayah yang terlalu mengkhawatirkan saya, teman saya jadi tertawa geli. “Lha yo, Ka. Padahal kan kamu biasanya liputan sana sini kayak gitu ya? Kalaupun kesasar ya bisa telepon atau tanya orang, tho?” komentar Mbak Ruri dengan nada takjub.

 

*Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Femina Rubrik Gado-gado yang terbit 19-25 Desember 2015