Halaman Arsip 2

20
Des
09

Hujan


Oleh: Ika Maya Susanti

“Saya suka kamu!”

Hening. Satu, dua, tiga, hingga berapa detik pun berlalu dengan hitungan yang hampir bersamaan di masing-masing hati Opik dan Indah. Tolehan kepala yang bersamaan membuat kedua wajah mereka bersemu merah. Lalu, masing-masing kepala itu kembali terpekur menatap sepatu masing-masing.

Sepatuku masih sama, pikir Opik. Dan ia pun lalu menatap langit yang ternyata sudah berubah sejak terakhir ia memandangnya. Sebelumnya penuh berawan putih. Namun, kini telah berubah menjadi hitam pekat menggantung. Cuaca Batam memang selalu tak menentu, batin Opik.

“Oke deh, aku pulang sekarang.”

“Nggak perlu jawabannya sekarang kan?”

Opik menggeleng sambil tersenyum. Tubuhnya setengah melompat dari posisi duduknya. Lalu berjalan menyeberangi halaman kampus. Ketika kakinya menginjakkan area pejalan kaki yang beratap, hujan lalu turun cepat menderu. Sampai di ujung area pejalan kaki, hujan makin menjadi. Ia tak siap dengan jas hujan karena berpikir pastinya hari yang cerah di pagi hari tidak mengundang hujan di sore harinya. Meski ketika hujan seperti sekarang ini pun ia lalu kembali tersadar, bahwa Batam tak pernah mengenal cuaca.

Sedia payung sebelum hujan? “Huh, pantang! Nggak banget deh kalau cowok pakai payung ke mana-mana! Apalagi dengan versi warna kembang-kembang atau yang ngejreng seperti pink, kuning, atau biru! Hitam? Emangnya mau ngelayat?” selalu itu yang ia rutuki jika sedikit saja terbersit kata payung saat hujan menjebaknya seperti sekarang.

Kos tempat Opik tinggal berada di seberang kampus. Jika menyeberangi jalan dua arah, ia tinggal menuruni tanah setapak yang menurun dan menghubungkan jalan besar dengan perumahan tempat kosnya berada. Namun jika hujan begini, jangan harap untuk mencoba jalan setapak itu. Karena yang ada justru kegiatan land skating, pengganti ice skating, yang bisa menuntutnya. Sudahlah menurun, tanah merah itupun akan nampak belikat dan licin dipijak.

Berjalan memutar! Sepertinya tiada solusi lain yang bisa ia miliki saat hujan yang deras dan langit yang sepertinya tak jua memudar pekat hitamnya. “Nggak ada salahnya bukan mencoba sesuatu yang berbeda sekali-sekali. Biar makin lengkap sudah keunikan hari ini!” pikir Opik.

Saat Opik memutuskan menerobos hujan, berjalan menyeberang jalan, tanpa payung atau jas hujan, seseorang yang berdiri di tepi Opik seketika bernafas lega. Cukup lumayan sudah ia berharap sesuatu yang sepertinya mustahil, ada orang di sekitarnya yang sudi memberikan sedikti tempat untuk menyelamatkan sepatu sneakernya yang basah tersiram hujan, di tengah hujan deras yang siapapun pasti berpikir normal untuk berteduh. Dan ketika Opik pergi, ia seperti melihat sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi.

Namun hanya ia sendiri yang tak berpikir seperti kebanyakan orang yang menujukan tatapannya ke arah tubuh Opik. Hujan deras, main hujan-hujanan, pasti bukan orang waras! Batin banyak orang kompak. Tapi seperti tahu jika dirinya sedang menjadi pembicaraan batin banyak orang, Opik lalu mengedarkan pandangannya. Tersenyum!

“Benar-benar anak yang kurang waras!”

“Eh, bukannya itu kawan engkau?”

“Iya, satu kos aku. Ah, biar sajalah dia berulah. Tinggal aku lihat lah bagaimana ia terkapar nanti di kamar,” sahut yang lain.

Opik jelas tidak mendengar. Ia asyik berjalan santai, tidak terburu-buru, dan begitu menikmati tetesan-tetesan besar hujan yang menerpa kepala hingga tubuhnya.

Opik rindu bermain dengan hujan. Ia ingat pertama kali ketika memutuskan bermain dengan hujan, saat berada di rumah mbahnya yang ada di Lamongan. Ada sebuah tambak di depan rumah mbahnya. Setiap kali hujan, orang pun banyak keluar rumah bak merayakan sebuah pesta besar. Dari anak kecil, hingga mbah-mbah! Bekal mereka bisa dua macam, satu sachet sampo, atau sebungkus sabun padat.

Versi pertama, tambak menjadi tujuan awal bagi mereka yang baru saja keluar rumah. Usai berenang sepuasnya, giliran membilas badan yang dilakukan di bawah guyuran air hujan. Bersih, pulang, membilas lagi, dan tinggal menikmati berbagai jajanan gorengan yang jadi ciri khas hampir setiap rumah.

Versi ke dua, jalan-jalan dulu sepuas-puasnya berkeliling kampung menikmati siraman hujan. Syukur-syukur acara keliling ini bisa sekalian menjemput teman-teman lain yang pastinya kebanyakan akan memutuskan turut serta keluar rumah. Jika massa sudah terkumpul banyak, waktunya sesi bermain di dalam tambak. Adu renang, menggoda kelompok lain, atau sekedar berdiam diri di tepian. Bilasnya dilakukan di rumah masing-masing, atau di dalam tambak itu juga.

Dan mereka semua tidaklah pernah menyiarkan kabar jika si A sakit usai bermain hujan-hujanan. Atau, Si B masuk rumah sakit karena demam akut. Semuanya selamat, semuanya senang, dan semuanya menganggap itu sebagai ritual tradisi.

Kini, Opik mengulang kenangannya, dengan optimisme jika ia pastinya tidak akan sakit akibat kehujanan. Lamunannya akan tanah nenek moyangnya pun membuatnya tak sadar jika ia sudah berada di depan pagar kos tempatnya tinggal.

Meski ia optimis tidak akan sakit, namun tetap saja ia ingat petuah sang ibu. “Masak air panas buat mandi jika habis kena hujan. Biar tak sakit dan menggigil engkau setelahnya!” Dan petuah itu ia turuti dengan patuh kini.

Namun, optimisme Opik mulai mengikis ketika dirasanya sedikit rasa tidak mengenakkan menyerang di bagian kepalanya. “Walah, petuah ibu pun sudah kuturuti. Kenapa pula kepala ini masih terasa pening?” desah Opik.

Jurus kedua lalu ia lakukan. Membuat secangkir minuman coklat panas, campur kopi seujung sendok. Lumayan, jurus itu agak meredakan peningnya. “Hm, mungkin jika petuah ibu dan minuman ini tidak aku minum, entah apa pula ya rasa badan ini?”

“Kenapa Pik?” Bagus membuka pintu kamar Opik dengan kepala yang hanya menyembul.

“Entahlah ini, agak tak beres badan rasanya!” senyum Opik sedikit menyengir.

“Itulah engkau ini, buat sensasi tak jelas di waktu hujan deras. Kesambet apa kau pulang dari kampus tadi?”

“Ah, tak ada lah. Hanya ingin suasana beda saja!”

Bagus paling hapal dengan Opik, tentang kebiasaannya yang tak bisa mudah untuk dikalahkan bantahannya. Dan akhirnya, Bagus memilih pergi dari kamar Opik sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Opik mengambil sarungnya, memilih tidur bergaya udang melingkar, dan lalu memejamkan mata dengan senyum mengembang.

“Drt… drt…” nada getar di ponsel Opik yang dinonaktifkan suaranya membuat mata Opik kembali terjaga. Telepon dari Indah, dan ia memutuskan untuk menerimanya.

“Pik, maaf ya tadi aku nggak langsung jawab. Kamu marah ya? Uhm, tadi kok sampai aku lihat kamu hujan-hujanan begitu.”

“Hehehe…” Opik terkekeh. Itulah yang ia suka dari Indah, selalu memberinya perhatian di saat yang tepat.

“Pik, beneran deh aku minta maaf. Sulit lah Pik buat jawab. Engkau itu sudah aku anggap sebagai teman yang dekat sekali. Sampai tak bisa lah dibilang ada rasa spesial.”

“Hm…” Opik cuma mengeluarkan suara deheman panjang.

“Eh, hei, kamu sakit ya? Dari tadi kok tak seberapa ada suara begitu?”

“Ah, biasalah ini Ndah! Akibat lama nggak main hujan-hujanan!”

“Uhm… nggak gara-gara aku nggak jawab?”

“Hahaha… tak sampai gitu lah Ndah! Cuma ingin suasana unik dan beda saja hari ini. Bisa menyatakan rasa suka ke kamu, main hujan-hujanan setelah lama tak pernah main hujan, yah… ingin hari yang beda saja!”

“Jadi, nggak usah langsung aku jawab, uhm… nggak apa-apa kan?”

“Hahaha, emangnya aku tadi tanya apa? Aku cuma bilang suka. Nggak nanya apa-apa kan?”

Lama tak ada suara dari Indah.

“Halo… halo…”

“Lha, terus maksudnya apa sih Pik? Wah, aku yang udah kege-eran ya?”

“Ah sudahlah, kita bicarakan lagi besok kalau ketemu di kampus yah? Oke?” Opik ingin menyudahi teleponnya.

“Oke.”

Usai telepon terputus, Opik tersenyum. Tiba-tiba rasa nyeri di kepalanya hilang, dan tubuhnya merasakan hangat yang menjalar. “Hari ini aku puas!” cetusnya dan kembali meneruskan tidur gaya udangnya. Ternyata ramalan bintang yang tadi sempat dibacanya, yang selama ini selalu tak pernah ia percaya, justru jadi inspirasinya hari ini. Cobalah sesuatu yang unik!

Catatan: Cerpen ini saya buat spontan setelah membaca quotation mantan mahasiswa saya di Politeknik Batam. Jadi untuk siapapun yang merasa, hehehe… ini hanya rekaan fiksi saja lho!

20
Des
09

Ponsel Idan


Oleh: Ika Maya Susanti

“Tampang cowok kamu memang keren sih… Kalau yang nggak tahu, mungkin barangkali dikiranya model! Tapi, aduh….” Elis mengelus keningnya berkali-kali.

Manda jadi bingung sendiri. “Kenapa Lis? Emangnya Idan kenapa? Kok kamu jadi ngelus-elus kening begitu? Emangnya Idan bisa bikin kening jadi gatel ya?” celutuk Manda sambil mengerdip-kerdipkan mata. Sebetulnya Manda tahu arah pembicaraan Elis. Namun sekali lagi, untuk kali ini Manda masih mencoba bersikap tenang.

“Ponselnya itu lho! Ih, cakep-cakep kok pakai ponsel jadul?!” ekspresi wajah Elis terlihat mengejek dengan bentuk bibirnya yang mengerucut lama sembari menyebut kata jadul.

“Eh udah, ngomong jadul ya jadul. Tapi nggak usah sampai monyong lama begitu dong,” tangan Manda mencoba menangkup bibir Elis karena gemas yang namun segera ditepis oleh Elis.

“Iih… apaan sih! Serius nih! Iya tuh Nda, bisa nggak sih kamu rubah penampilan jadul si Idan, cowokmu itu?!” protes Elis tak ada habis-habisnya.

Manda masih senyum dengan manisnya menanggapi protes dari Elis. “Aduh, kamu itu kenapa sih?! Orang Idan yang punya ponsel saja nggak ada masalah. Aku juga yang jadi pacarnya nggak kerasa keganggu tuh. Terus kenapa kamu jadi sibuk sendiri? Ah udah deh, aku mau pulang dulu. Udah ditunggu sama Idan tuh. Daagh…” Manda lalu berlalu sambil melambai ke arah Elis. Menurutnya jika ia terus-terusan ada di situ, pastinya Elis tidak akan ada habis-habisnya memprotes ponsel milik Idan.

Namun ucapan Elis mau tak mau mengganggu pikiran dan perasaan Manda. Manda memang pernah bertanya padda Idan. Namun ia tidak pernah mendapat jawaban jujur dari pacarnya tersebut. Dan saat sedang bersama Idan, Manda pun jadi penasaran untuk menanyakan masalah tentang ponsel milik pacarnya itu.

“Dan, kenapa sih kamu nggak ganti ponsel? Itu ponsel kan udah jadul banget. Aku jadi  penasaran! Udah gitu, banyak banget tuh aspirasi dari teman-teman yang disampaikan ke aku melulu,” tanya Manda suatu ketika di akhir setumpuk rasa penasaran dari dirinya dan juga setumpuk kecapekan telinganya mendengar aspirasi dari teman-temannya.

Idan malah menggenggam ponselnya sambil ditunjukkan ke arah Manda. “Kamu tahu nggak Nda, ponsel ini tuh tahan banting. Untuk ngelempar anjing yang lagi rese juga bisa. Mantap beneran tuh kalau sampai kena! Dan kayaknya, mungkin nggak akan rusak kali buat ngelempar anjing rese!” jelas Idan sambil terkekeh.

Manda lalu mencubit lengan Idan dengan gemas. “Iiih…. aku serius nih! Awalnya sih aku nggak apa-apa. Tapi karena banyak banget orang yang protes lewat kupingku, akhirnya aku jadi penasaran juga nih!”

Idan lalu menggenggam tangan Manda. Sambil tersenyum, ditatapnya wajah Manda dalam-dalam. “Kamu lagi serius ya Nda. Kalau begitu aku nawar lima rius deh. Hehe… Sekarang aku ganti tanya, kamu malu ya Nda kalau punya cowok pakai ponsel jadul?” Nada suara Idan jadi ikut-ikutan benar-benar serius, membuat Manda jadi kikuk ditanya seperti itu.

“Nda, ponsel ini sangat dalam arti sejarahnya buat aku. Waktu itu ayahku hanya mampu membelikan ponsel ini ketika aku merengek-rengek ingin punya ponsel seperti teman-temanku. Pas aku jalan sama ayah habis pulang dari beli ponsel, ayahku diserempet orang sampai jatuh dan…” Idan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kemudian ia hanya bisa menunduk.

Manda memeluk Idan erat. “Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang itu, Dan?” ujar Manda yang jadi merasa bersalah.

Idan melepas pelukan Manda. “Itu kenangan yang membuat aku selalu cengeng saat mengingatnya, Nda. Apalagi kalau harus cerita. Jadinya bikin aku harus menangis seperti ini. Hehe, jangan ketawa ya kalau lihat aku nangis. Ah, padahal aku ini kan cowok!” sambil malu-malu, Idan menyeka air matanya.

“Aku nggak akan ketawa kok, Dan. Tapi cuma tersenyum. Lihat nih!” Manda tersenyum semanis-manisnya untuk Idan. “Kamu tahu kan Dan, aku selalu menerima kekurangan kamu?”

“Makasih Nda. Oh iya, satu lagi. Keteguhan hatiku menjaga ponsel jadul ini juga bukti kalau aku ini tipe setia lho! Setia sama pemberian ayah, setia sama ponsel ini, dan juga mencoba setia sama kamu. Pokoknya aku ini cowok yang setia kok!” celoteh Idan yang membuat Manda tak tahan untuk memeluk Idan lagi.

“Aku juga nggak akan mudah melepas cowok seperti kamu kok, Dan! Seperti kamu yang nggak mudah melepas ponsel milikmu itu!” tekad Manda dalam hati.

20
Des
09

Riri atau Yiyi


Oleh: Ika Maya Susanti

“Perkenalkan, nama saya Yina Matha. Panggil saja Yiyi. Maaf, ejaannya dengan huruf…,” aku lalu membentuk huruf R dengan kedua tanganku.

Mataku menyapu ke arah teman-teman di kelas tingkat awal di SMA yang merupakan kelas baruku tersebut. Tampaknya, mereka mulai kebingungan dengan caraku memperkenalkan diri. Aku tersenyum lebar, bergegas mengambil spidol, dan menuliskan kata RIRI dan RINA MARTHA besar-besar di bidang white board.

“Ooo…” koor serempak dari seisi kelas mulai terdengar. Sedikit kasak kusuk pun sempat mampir di telingaku ketika aku kembali ke bangku tempatku duduk.

“Eh, dia cadel ya?”

“Iya, cantik sih anaknya. Tapi kok cadel ya? Hihihi…”

“Psst… keras banget sih ngomongnya! Kasihan, nanti dia dengar lho!” timpal yang lain.

Aku cuma tersenyum ringan. Buatku, apa yang baru saja aku alami di kelas baruku dalam sesi perkenalan siswa baru itu kini sudah bisa membuatku bereaksi biasa. Juga sudah sama biasanya ketika ada teman-teman yang mengolok-olok dengan terang-terangan. Sudah kebal deh sepertinya rasa kuping dan hatiku ini. Misalnya seperti ini nih dulu yang aku alami sewaktu SMP…

“Tayi, denga-denga kamu lagi pacayan sama Yadit ya?”

“Iih… kok ngomong jorok sih? Nama bagus-bagus Tari kok jadi dipanggil begitu?”

“Iya nih, udah gede kok masih cadel!”

“Coba diulang! Bilangnya begini nih, Tarri, dengarr-dengarr kamu lagi pacarran sama Rradit ya? Gitu dong bilangnya…” timpal temanku yang lain tak mau kalah mengolok-olok dengan menekankan setiap huruf R yang diucapkannya.

Kalau urusan diejek seperti itu, seperti ketika aku duduk di bangku SD atau SMP dulu, bisa dibilang aku sudah cukup kebal. Tapi ada masanya juga lho dulu kadang aku bisa nangis sejadi-jadinya kalau harus mendengar ejekan nggak mengenakkan dari teman-temanku yang kebanyakan lebih suka menertawakan kekuranganku daripada menerima kondisiku.

Pernah suatu ketika pas SMP, guruku sedang mengadakan audisi untuk mencari siapa di antara kami yang duduk di kelas dua waktu itu, yang bisa mewakili sekolah untuk mengikuti lomba puisi di tingkat daerah.

Pas guru bahasa Indonesiaku masuk ke dalam kelas, teman-teman sudah langsung mendahului dengan mengatakan seperti ini, “Wah, audisi ini kayaknya punya perkecualian nih! Rrirri… karrena kamu kan pastinya nggak bisa memenangkan audisi, lebih baik sekarrang, kamu menyaksikan kami saja deh yang akan ikut audisi. Gimana?” ujar seorang temanku dengan nada bercanda namun cukup menusuk hatiku.

Senyum tipis aku tunjukkan di antara tumpahan air yang berdesakan ingin keluar dari mataku. Ah, itulah setidaknya sedikit dari sekian pengalaman yang masih aku simpan kesan rasa sakitnya.

Dulu, jika ingat masa-masa sewaktu aku kecil, ketika umurku sudah menginjak empat tahun, aku atau orangtuaku masih bisa santai-santai saja ketika aku belum bisa melafalkan huruf R dengan jelas.

Tapi waktu aku sudah berumur tujuh tahun, saat orangtuaku mulai memasukkan aku ke SD, kepanikan kami pun mulai terjadi. Yang aku sempat rasakan, orangtuaku waktu itu agak malu dengan kekurangan putri satu-satunya itu.

Tapi seiring waktu, yang aku lupa tepatnya kapan, sepertinya mereka jadi sering mengikutsertakan aku ke berbagai kegiatan ini itu. Les menari, les melukis, les biola, sampai berbagai macam les lainnya yang aku sendiri sampai lupa. Habisnya, banyak banget lesnya!

Tentu saja dari sekian banyak les tersebut, orangtuaku tidak akan mengarahkan aku untuk ikut les yang mengandalkan kemampuan bicaraku. Les paduan suara atau les teater misalnya. Ya begitulah, karena aku cadel!

Meskipun akhirnya ada beberapa les yang aku tekuni, hingga membuat aku bisa menguasai beberapa keahlian, tetap saja aku sering minder.

Misalnya nih kalau sekolahku mengikutsertakan aku ke berbagai lomba atau acara, meski awalnya Pe-De, tetap saja kalau akhirnya ada urusan cuap-cuap, aku langsung ketakutan setengah mati. Rasanya takut sekali kalau sampai ada orang yang tahu aku cadel terus mengolok-olokku habis-habisan.

Ada lagi nih cerita yang menyedihkan yaitu ketika aku duduk di bangku SMP. Ceritanya, ada tetanggaku yang punya anak cewek sebayaku dan entah kenapa, ia selalu suka mengolok-olokku habis-habisan. Kebetulan, Nana, nama anak cewek itu, selalu bisa satu sekolah denganku. Dan dari dialah, orang-orang di seantero sekolah akhirnya selalu tahu kalau aku ini cadel. Kayaknya dia nggak puas banget deh kalau cuma orang sekelas saja atau beberapa orang saja yang tahu kalau aku ini cadel.

Usut punya usut, ternyata dia iri dengan beberapa kelebihan yang aku miliki. Anaknya sih sebetulnya cantik. Meski aku juga cantik, itu kata teman-teman lho! Tapi aku akui, tetanggaku ini memang sedikit lebih cantik dari aku.

Yah, apa mungkin nggak semua orang yang diberi kelebihan selalu mensyukurinya ya? Jadi ternyata menurut beberapa temanku, Nana itu selalu tidak terima ketika sekolah kami sering memilih aku untuk maju mewakili lomba atau acara ini itu di luar sekolah.

Oke deh, untuk urusan sering memberitahu ke seantero sekolah kalau aku itu cadel masih bisa aku terima. Hiks, meskipun rasanya kok tega banget sih! Tapi, pernah suatu ketika ia membeli seekor anjing yang kemudian diberi nama… Yiyi!

Ih, rasanya sengaja menghina banget kan nih orang?! Masa, ketika jalan-jalan di taman komplek, dia memanggil keras-keras nama anjingnya itu. “Yiyi… yiyi…”

Aku yang awalnya belum tahu kalau nama anjingnya itu Yiyi, kontan waktu itu menjawab dengan “Hai, ada apa…” Yah, aku pikir si tetangga ini memang sengaja memanggilku karena yang aku tahu, ia memang sering sengaja memanggilku yang kadang dengan maksud setengah mengejek, memanggilku dengan nama cadelku.

Tapi ketika aku sudah menyahut, eh… dengan enaknya ia langsung menjawab, “Oh sori ya, aku sedang memanggil anjingku. Uhm, namamu bukannya Rrirri? Bukan Yiyi, kan? Kenapa menyahut?” jawabnya tanpa berdosa. Apalagi ketika dilihatnya orang-orang di sekitar kami yang menyadari kelucuan dari kejadian itu pun jadi ikut-ikutan menertawakan diriku.

Akhirnya sepulang dari taman, aku yang sudah tidak kuat menahan sekian lama berbagai penderitaan dan penghinaan yang aku alami, ehem, sedikit didramatisir, kemudian mengadu dan protes kepada mama.

“Mama, kenapa sih Yiyi dulu waktu kecil nggak dipaksa suka makan pedas. Sekayang kayak begini nih jadinya. Hu hu hu…” aduku sambil menangis tersedu-sedu.

“Sayang, mama sudah pernah mencoba memeriksakan Riri ke dokter dulu sewaktu kecil. Kata dokter, ada kelainan ukuran lidah Riri yang membuat Riri jadinya cadel sampai sekarang. Jadi, itu bukan karena Riri nggak suka makan pedas kok.”

Aku masih cemberut tidak terima. “Oke deh, tapi teyus kenapa sih Yiyi kok dulu dikasih nama Yiyi. Ini benar-benar menyulitkan Yiyi sendiyi jadinya. Masa manggil nama sendiyi saja susah?!”

Mama sejenak menghela nafas. “Aduh maaf ya Ri, padahal mama dan papa dulu memberikan namamu itu karena ada artinya lho, nggak sembarangan. Jadi mana tahu kalau ternyata jadinya seperti ini sekarang,” mama jadi salah tingkah menghadapiku.

Seketika aku langsung menghentikan tangisku. Jujur, seumur-umur hingga aku duduk di bangku SMP waktu itu, aku belum tahu arti namaku sendiri itu apa.

Mama pun dengan lemah lembut mencoba menjelaskan apa yang dulu pernah menjadi harapannya dengan papa atas diriku, sekarang dan nanti. “Rina itu kalau dalam bahasa Jawa artinya hari, dan Martha itu artinya yang berkuasa. Karena papa dan mama dulu susah punya anak, sekalinya ada kamu, ya kami merasa seperti ada kekuasaan Tuhan yang tiba-tiba memberikan kamu kepada kami. Nah, apa iya sekarang kami atau kamu harus menyesali nama yang begitu punya arti itu?”

Aku jadi tertegun mendengarkannya. Jadi namaku bukan sembarangan ya artinya? Ah, aku jadi menyesal waktu itu jika mengingat sikap dan pikiranku selama ini.

“Sekarang ganti mama yang tanya, kenapa hayo kamu selalu minder dan malu sama kekurangan kamu? Padahal, banyak lho kelebihan yang kamu punya. Demi mama, demi papa, dan juga demi kamu sendiri, mau nggak mulai sekarang kamu percaya diri? Dianggap lewat saja deh kalau ada orang yang mengolok-olok kamu…”

Aku kembali cuma bisa terdiam. Ah, ternyata ketika aku belum menunjukkan kekuranganku yang cadel itu, Mama dan Papa sudah menumpukan sebuah harapan besar untukku. Lalu, mengapa aku malah mengecewakan mereka dengan keterpurukanku pada kekuranganku itu saja?

Lalu seperti sebuah tumbukan yang mengandung pegas, walah, kok jadi ngomongin fisika ya, aku kemudian melesat meninggalkan seorang Riri yang dulunya memang malu karena cadel, menjadi seorang Riri yang tidak takut lagi untuk malu karena cadel!

Lantas aku berpikir, ah, memang benar kok, sebetulnya banyak kan bidang lain yang tidak memerlukan kelihaian untuk berbicara? Toh, model iklan di video klipnya Letto di lagu Sebelum Cahaya itu juga malah bisu dan tuli kok. Tapi dia bisa jadi model.

Sejak itu mulailah aku mencari bidang-bidang yang bisa aku geluti, yang aku sukai, yang bisa aku jadikan sebagai ajang untuk mengejar prestasi, dan bisa menjadi kebanggaanku tentunya!

Nggak bisa nyanyi karena cadel? Ya kenapa nggak aku main musik saja dengan belajar piano atau biola? Nggak bisa main teater? Ya kenapa nggak aku membuat cerita atau menjadi script writernya saja? Dan berkat dorongan Mama yang sejak aku kecil mengikutsertakan aku ke les ini itu, kini sewaktu aku SMA, aku jadi punya banyak kelebihan yang yah… tentunya lumayan membuatku serta kedua orangtuaku menjadi bangga!

Terus apa hidup kemudian akan menjadi indah tentram sentosa selamanya untukku? Ah, ternyata belum juga! Buktinya tetanggaku yang bernama Nana itu, masih saja dan rasanya, makin giat untuk membuatku tidak hidup dengan tenang.

Ketika aku mampu menguasai sebuah keahlian, ia pasti akan ikut-ikutan menekuninya juga. Saat aku mengikuti lomba ini itu, ia juga kemudian akan membuntuti apa yang aku lakukan.

Kesal? Ada juga sih rasa seperti itu, jelas! Tapi di balik itu, entah kenapa ada rasa bangga yang terselip di antara rasa tidak mengenakkan yang ada. Ada rasa bangga yang membuat aku jadi tidak lagi pusing memikirkan apa yang harus aku lakukan agar ia bisa kalah dariku atau menyingkir untuk tidak lagi membuntutiku.

Dan lihat saja, ternyata Nana justru sering kelelahan untuk mencoba mengikuti keberagaman aktivitasku. Atau ketika kami ada dalam satu kompetisi, Nana sering kebingungan untuk menemukan cara agar bisa mengalahkanku.

Hingga suatu ketika, aku begitu kasihan melihat Nana yang tampak keletihan. “Na, bisa nggak sih kita bedamai saja? Jadi teman?”

Waktu itu, aku melihatnya terduduk lesu di sebuah taman setelah kami usai sama-sama mengikuti kompetisi lomba memasak yang kami ikuti di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Tentunya lagi-lagi, kali ini ia tidak bisa menang dariku meski aku pun cuma berhasil mencapai juara kedua di lomba itu.

Dengan sorot mata seperti biasa yang tidak bersahabat, Nana menatapku tajam. “Apa? Kalau aku berdamai dengan kamu, yang ada aku akan selalu jadi orang nomor dua yang dilihat oleh orang lain!”

Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Na, apa yang aku bilang ini bukannya bohongan lho. Kamu lebih cantik dayi pada aku. Meski aku juga cantik sih…” kataku sambil tersenyum.

“Kamu bisa nyanyi dengan suaya yang medu. Aku nggak bisa Na.”

Nana yang awalnya membuang muka, kini lalu mencoba menatapku.

“Kamu bisa akting bagus. Aku nggak bisa Na.”

Nana terdiam seakan mencoba merenungi ucapanku. Dan aku tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Nana waktu itu. “Na, semua oyang punya kelebihan masing-masing kok. Jika kita jadi sahabat, kamu nggak akan dianggap sebagai oyang nomo dua.”

Aku lalu duduk di samping Nana mencoba menggenggam tangannya. “Na, masing-masing dayi kita akan jadi oyang nomo satu kok. Pada bidang yang bebeda tentunya. Kamu bisa jadi bintang di bidang nyanyi dan akting, aku bisa jadi bintang di bidang musik dan membuat ceyita teate.”

Nana mengeratkan genggaman tangannya. “Sori Ri, aku memang pecundang selama ini. Aku selalu iri dengan dirimu.”

Seperti akhir dari cerita-cerita yang selama ini ada, kami pun mengakhiri pertikaian kami dengan berpelukan tanda perdamaian. Ah… Teletubies sekali rasanya… Tapi yang jelas, sejak itu Nana tidak lagi memanggilku dengan kata Yiyi! Kan namaku Riri… Hehe… ini karena aku menuliskan cerita ini saja nih jadinya aku bisa menyebutkan namaku dengan benar…

20
Des
09

Amin


Oleh: Ika Maya Susanti

Amin, cukup kata itu saja yang diberikan mamakku untuk menjadi panggilan bagi setiap orang kepadaku. Dari aku lahir, sampai besar dan tua kelak. Mungkin seumur hidupku, aku tidak akan berniat untuk mengganti nama pemberian mamakku itu. Kata mamak, ia memberikannya untukku karena ia tahu arti nama itu adalah untuk sebutan bagi orang yang dipercaya.

“Mamak ingin engkau sampai besar, bisa jadi orang yang dipercaya, Min,” cukup itulah alasan dan harapan Mamak untukku.

Padahal yang pernah kudengar, nama itu bisa menjadi doa sepanjang hidup bagi orang yang mendapatkannya. Bukannya aku tak suka dengan harapan ibu yang sebetulnya juga baik dan luhur itu untukku. Namun, mengapa doa Mamakku begitu sederhana?

“Ah, engkau itu Min, tak banggakah namamu bisa sering disebut orang sehabis shalat saat doa,” ujar Budi, kawanku.

Entah maksudnya bercanda, menenangkanku, atau membuatku bangga, yang jelas akhirnya aku selalu mencoba untuk menerima kenyataan bahwa namaku memang Amin.

Dan lihatlah, inilah hidupku sekarang. Hanya menjadi seorang tukang ojek di sebuah kota yang lumayan besar, Batam. Padahal jika ada orang mendengar di mana aku tinggal, ia pasti langsung akan berpikir wah mendengar nama kota itu.

“Batam? Kerja di perusahaan mana engkau, Min? Ah, pasti duit engkau banyak lah ya! Di sana apa saja bisa diusahakan untuk dapat uang banyak,” demikian saudara-saudaraku yang ada Riau daratan berkomentar. Ah, padahal hanyalah seorang tukang ojek saja, apa yang bisa aku banggakan?

“Hei anakku, cobalah kau pikirkan, apa kebanggaan yang bisa engkau punya? Engkau seorang tukang ojek. Bisa dapat rejeki halal dari kerja engkau sekarang ini. Bisa membantu orang pergi ke suatu tempat. Mengapa pula engkau harus malu?!” demikian omelan mamak jika mendengar aku mengeluh tentang keadaanku.

“Tak usahlah lagi engkau mempertanyakan mengapa aku memberi namamu dengan kata amin. Kau pikir, tak besar kah harapan yang aku inginkan. Jika engkau bisa dipercaya orang, maka sesuatu yang besar sekalipun bisa engkau dapatkan nanti,” pastilah itu teguran mamakku jika kemudian aku mengaitkan dengan namaku yang hanya terdiri dari empat huruf itu.

Mungkin isi bicara mamak terdengar bijaksana. Namun meski sekolah ala kadarnya dulu, namun begitulah ia bisa berbicara. Kata orang, orang tua bisa bicara bijaksana karena pengalaman yang telah ia jalani.

Tapi, keyakinan ibu begitu sulit menghapus kekecewaan yang kerap aku rasakan. Oh nasib… mengapa aku harus menerima hidup seperti ini? Hanya seorang lulusan SMA, tak punya keahlian apa-apa selain hanya bisa menaiki motor saja. Lantas, kepercayaan besar apa yang bisa sampai padaku jika cuma demikian adanya kondisi diriku? Mengapa tak Kau ciptakan aku menjadi orang besar? Mengapa ibuku harus Engkau beri inspirasi untuk memberikan nama sebuah kata amin untukku?

“Ojek, Bang?” tiba-tiba seorang pria melambai tangan, mencoba menghentikan lamunan gerutuan yang berkecamuk di hatiku.

“Ya, ke mana?”

“Engku Putri ya Bang,” ujarnya menyebut sebuah lapangan utama di Batam.

Langsung kunyalakan motor dan memberikan helm ke padanya. Bau wangi tercium di hidungku. Ah wanginya! Orang ini, pastilah kerja di kantor yang besar dan ber-AC, batinku. Badannya masih tercium wangi meski sudah sepetang ini.

Sesampainya di Engku Putri, pria itu pun turun. Bukannya segera membayar, ia malah senyum-senyum ke padaku.

“Tiga ribu saja Bang. Tadi kan Abang cuma naik dari dekat saja,” ujarku.

Sekali lagi ia cuma tersenyum. “Maaf Bang, sebetulnya saya tak punya uang. Uang saya habis karena dari tadi saya pakai ke sana sini melamar kerja,” jawabnya.

Aku langsung tertegun. Ku perhatikan lagi sekujur tubuhnya. Mulai dari sepatu hitam yang berkilat, setelan kemeja dan celana yang rapih hampir tak memiliki kerut lusuh, rambut yang tertata rapih, dah ah, wanginya itu? Apa iya orang seperti ini tak punya uang?

“Sekali lagi maaf ya Bang,” ujarnya lagi lalu berjalan pergi.

Entah kenapa aku tak bisa marah ataupun sedikit saja menegurnya. Kubiarkan saja ia berlalu tanpa aku cegah sedikitpun. Meski dalam hati, sekepal panas seakan siap meledak.

“Janganlah kalian sesekali mengumpat orang. Karena jika demikian, kalian sama saja mengumpat makhluk yang sudah dibuat oleh Allah,” suara Bapak Guru mengaji di kala aku SD terngiang kembali.

“Tapi Pak, kalau ada orang yang sudah berbuat sesuatu yang kurang ajar kepada kita, atau bahkan jahat, apakah kita diam saja?” protesku kala itu.

“Mungkin Allah sedang menguji atau mengingatkan sikap kita. Atau, mungkin Allah sedang mengirim kita kepada orang itu untuk menolongnya,” demikian jawaban bijak Bapak Guru yang membuat aku hingga sekarang mencoba untuk sedikit bersikap bijak.

Ku pandangi lagi punggung orang yang baru saja membuatku berhenti untuk melamun tadi. Ah, nasibnya ternyata tak sebaik seperti yang aku duga. Berpakaian rapih dan berparfum wangi, namun ternyata belum punya pekerjaan. Aku lebih baik dari orang itu. Yah, meskipun hanya sebagai tukang ojek! Malam ini, aku punya beberapa lembar uang meski tidak banyak di kantong celanaku. Dia? Bahkan untuk membayar ojekku saja ia tak bisa. Apakah ini jawaban dari lamunanku tadi ya? Mungkin, aku dipercaya oleh Allah untuk menjadi orang yang tidak mau memarahi orang yang tidak punya uang untuk naik ojek?!

Aku menghembuskan napas berat. Capek! Sepertinya cukup sudah perburuanku mengejar pria yang ingin menggunakan jasa ojekku. Alhamdulillah, hasilnya hari ini cukup lumayan. Sekarang waktunya berterimakasih pada yang memberiku rejeki. Yah, fatal mungkin. Karena sepertinya sudah setengah jam yang lalu adzan maghrib berkumandang, namun aku tidak datang untuk bersujud menyapa-Nya.

Masjid Raya Batam Centre yang terletak berseberangan dengan Engku Putri jadi tempat tujuanku selanjutnya. Biarlah, selepas Isya’ saja aku baru pulang nanti.

Aku lalu duduk di tangga masjid. Inilah tempat favoritku yang sering aku kugunakan, sekali lagi untuk hobi melamunku. Ah tidak, lebih tepatnya hobi mengamati. Bisa melihat orang yang berpakaian bagus, biasa, bahkan dekil. Lantas kemudian, biasanya aku memikirkan bagaimana nasib yang sedang ia jalani. Bahagiakah hidupnya? Atau lebih meranakah dari aku?

Namun kejadian barusan tentang seorang pria yang tak mampu membayar ojek, kini agak mulai merubah pikiranku. Ketika aku melihat orang berpakaian lusuh yang lebih buruk dariku, aku lantas berpikir, bisa jadi ia cukup bahagia dengan hidupnya sekarang. Lihatlah, ia punya waktu untuk duduk mengaji Al Quran di masjid.

Saat aku mengalihkan pandangan dan melihat seseorang yang berpakaian bagus, masuk lalu shalat, dan pergi sesegera mungkin, pastilah ia orang yang kaya namun sibuk dengan kerjaannya. Di waktu yang hampir mahrib ini, ia justru tergesa-gesa menjalankan shalat ashar. Kasihan, betapa sedikitnya waktu yang ia miliki, batinku.

Dan saat aku melihat seseorang tertidur di tempat tak jauh dari tempatku duduk, aku jadi tersenyum. Ia berpakaian rapih namun tertidur dengan dengkurannya yang keras. Mungkinkah pria ini seperti pria yang tak mampu membayar ojekku tadi? Ia kelelahan ke sana sini untuk mencari kerja?

“Yo, begitu Nak, hidup itu!” tiba-tiba seorang bapak tua menduduk tubuhnya di dekat tempatku duduk.

“Bapak lihat, kamu dari tadi lihat sana, lihat sini, kelihatan mikir, senyum sendiri? Pasti sedang berpikir, apa cerita hidup mereka hari ini, iya?” tebaknya jitu.

“Mengapa Bapak bisa tahu?” aku lalu ganti mencermati bapak tua yang duduk bersila menghadap ke arahku sembari menyandarkan punggungnya di dinding.

“Hehehe…” ia malah terkekeh. “Sudahlah, Bapak tahu kamu belum shalat maghrib kan? Sudah sana, shalat dulu. Masa belum shalat malah sudah sibuk memikirkan nasib orang?!” tegurnya.

Akhirnya aku bergegas untuk menunaikan hutang shalat maghribku. Setelah usai, aku kembali ke tempat tangga di mana aku melamun sebelumnya. Ternyata, bapak tua itu masih asyik duduk di sana dengan tasbih di tangannya. Sementara cuaca di luar yang tadi terang, kini menjadii hu jan deras. Memang, kondisi di Batam yang bentuknya pulau itu kerap membuat cuaca tidak menentu. Bisa jadi sebentar hujan, kemudian seperti tidak ada apa-apa. Atau sebaliknya.

Aku lalu mengamati bapak tua tadi. Tak ada yang istimewa dari pakaiannya. Hanya baju koko berwarna biru laut yang memudar dan sarung kotak-kotak berwarna hijau.

“Bapak sendirian ke masjid?” tanyaku.

Ia menghela nafas untuk mengatur nafasnya. “Iya. Dari mana kamu tadi? Kok sampai maghrib sudah lama lewat baru shalat? Sibuk cari uang juga?”

Aku membenahi sila dudukku. “Iya Pak, saya ngojek.”

“Repot ya hidup di Batam ini. Memang sih, katanya kalau ulet, di sini mudah sekali bisa mendapatkan uang. Beda dengan di Jakarta yang lebih butuh kreatifitas lebih banyak lagi, baru bisa uang. Heah… semua orang sibuk cari uang di sini ini,” keluhnya.

“Yah, habis mau bagaimana lagi Pak,” aku berkelit.

Bapak itu lalu menoleh ke arah dalam masjid. “Lho, kok jadi sepi begini ya? Padahal sebentar lagi adzan isya’ ini. Siapa yang adzan nantinya kalau yang biasanya adzan tidak ada?” gumamnya sendirian.

Tiba-tiba ia menoleh ke arahku. “Kalau tiba-tiba kamu yang harus adzan, karena muadzin masjid ini tidak ada, kamu mau?” tantangnya.

Bukannya langsung menjawab, aku malah melihat ke arah luar. Hujan memang masih deras-derasnya. Mungkin muadzin masjid ini tadi harus keluar karena ada suatu urusan dan tidak dapat kembali karena hujan yang sedang turun deras.

“Bisa adzan kan?” tanya bapak itu lagi.

“Bisa sih Pak. Tapi ya… masa harus saya, Pak?” aku mencoba mengelak halus. Jujur, aku memang bisa adzan. Sewaktu sekolah dulu saja aku pernah meraih juara adzan. Tapi itu kan dulu, dulu sekali ketika zaman SMP. Dan yang sekarang ini, aku sedang berada di Masjid terbesar di Batam. Apakah pantas aku melantunkan adzan di rumah Allah semegah ini?

“Kenapa, nggak percaya diri ya? Walah… kamu itu! Sekarang lihat kondisinya. Di masjid ini sedang sepi. Beberapa pria yang ada malah tidur. Cuma kamu dan aku yang ada. Kalau Bapak yang adzan, suara Bapak nggak kuat. Jadi ya satu-satunya yang ada tinggal kamu.”

Aku sekali lagi menoleh ke sana ke sini. Wah, benar juga.

“Sudah, adzan sana! Ini sudah masuk waktunya. Masa kamu nggak malu apa, rumah Allah sebesar ini, adanya di pusat kota, adzannya terlambat?” bapak tua itu mencoba mengingatkan aku lagi.

Mau tidak mau akhirnya aku beranjak berdiri menuju tempat adzan. “Bismillah,” ucapku lalu melantunkan sedikit doa sebelum adzan.

Selanjutnya, terdengarlah suaraku yang terdengar begitu keras menggema. Subhanallah… mimpi apa aku semalam. Bisa mendapat kepercayaan dari Allah untuk mengumandangkan adzan di rumah-Nya yang sebesar ini?!

25
Agu
09

Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!




Kalender

Januari 2010
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,762 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan