Vegetarian

Vegetarian Boleh Makan Apapun

            Siapapun mungkin akan terkejut kala mendengar hal tersebut. Karena yang kita tahu selama ini, vegetarian selalu menghindari hewan untuk dimakan. Padahal menurut Budianto, Ketua Majelis Budha Indonesia Provinsi Kepri, makna vegetarian sebenarnya adalah makan apa saja yang dipersembahkan oleh orang lain.

            “Budha menekankan untuk makan apa yang dipersembahkan orang lain. Sementara itu mengapa daging tidak dimakan dalam pola vegetarian yang berlaku umumnya, sebetulnya kebiasaan tersebut berasal dari jaman Cina dahulu,” terang Budi.

            Cina mengalami empat macam musim setiap tahunnya. Sewaktu musim dingin, masyarakat Cina tidak bisa makan daging sehingga hanya memakan sayur-sayuran saja. Kebiasaan turun temurun ini menurut Budi akhirnya berlaku pada mereka yang melakukan vegetarian kini.

            Dalam vegetarian, ada beberapa makanan yang harus dihindari. Misalnya bawang, baik itu umbinya maupun daunnya. Masyarakat Cina di waktu musim dingin, akan jarang mandi karena cuaca yang kurang baik. Bila mereka makan bawang, otomatis akan sangat mempengaruhi bau badan pemakannya. Selain itu dari segi biologis, mengkonsumsi bawang juga dapat mempengaruhi hormon seseorang sehingga bawang tidak diperbolehkan dalam vegetarian.

            Pola vegetarian ini dilakukan dengan mengkonsumsi sayur-sayuran bergizi, seperti kangkung, sawi, atau jamur. “Jamur itu memiliki protein tinggi seperti yang ada di daging,” imbuh Budi.

            Inti dari hidangan vegetarian sendiri memiliki rasa yang biasa sehingga sesuai dengan ungkapan makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan. Daging hewani dihindari karena ajaran Budha yang tidak membunuh mahkluk apalagi untuk dimakan.

            “Ini juga termasuk di niat untuk makan. Jadi kalau niatnya tidak ingin makan hewan akan tetapi memakan yang seperti hewan sama saja niatnya kurang. Vegetarian itu makan yang biasa-biasa saja,” jelas Budi. (ika)

 

Puasa dalam Buddha

Siklus Bulan Pengaruhi Gairah Seks

*Budha Anjurkan Puasa

            Siklus perputaran bulan yang mengelilingi bumi sebetulnya memiliki dampak terhadap nafsu manusia. Apakah gairah seks, kondisi emosional, atau nafsu batin dan pribadi setiap orang akan terpengaruh dengan posisi bulan yang sedang beredar.

            “Ada empat posisi bulan yang sedang beredar yang dapat mempengaruhi emosi seseorang, yaitu saat bulan mati, sabit, purnama, dan bulan kembali sabit,” ujar Budianto, Ketua Majelis Budha Indonesia.

            Sementara itu dalam penanggalan Tionghoa, keempat posisi bulan tersebut jatuh pada tanggal 1, 8, 15, dan 23 setiap bulannya. Hubungan hukum alam gaya grafitasi bumi dan langit tersebut paling mempengaruhi kondisi manusia utamanya menurut Budi pada tanggal 15.

            “Di tanggal-tanggal tersebut gejolak manusia timbul. Makanya, para bikhu biasanya mengadakan puasa dan meditasi untuk mengatasinya. Dan ini dalam Budha memang ditekankan untuk dilakukan,” imbuh Budi.

            Puasa ini dilakukan dengan pola vegetarian pada pagi dan siang hari sebelum pukul 12.00. Setelah itu barulah puasa dilakukan dengan tidak tidak makan pada malam harinya.

            Dikatakan Budi, puasa dapat menghilangkan keangkuhan, memunculkan sikap rendah hati, tidak emosional, serta menumbuhkan cinta kasih antar sesama. Selain itu, puasa juga diperuntukkan untuk menjaga kesehatan. “Bukan untuk menghapus dosa,” sanggah Budi terhadap kepercayaan yang selama ini ada.

            “Puasa tidak hanya dilakukan untuk menjaga selera makan saja. Mulut atau ucapan, pikiran, tubuh, dan seks juga masuk dalam puasa,” tegas Budi. (ika)

 

Pengobatan ala Tionghoa (2)

Keringkan Dahulu Agar Tak Beracun

            Ingin sehat dengan obat tradisional sebetulnya tidaklah susah. Namun sayangnya, begitu banyak tumbuh-tumbuhan yang hidup di sekeliling kita memiliki khasiat untuk kesehatan. Baik yang berbentuk bunga maupun dedaunan asal tahu khasiat dan cara mengelolanya, tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk kesehatan.

            Misalnya kuntum melati, chrysant, dan mawar. Ketiga bunga ini memiliki khasiat berbeda dan berguna bagi kesehatan. Namun menurut sin shie Han Yun Bo dari Klinik Batam Sehat, kedua bunga in harus benar-benar kering baru bisa dikonsumsi.

            “Kalau dikeringkan dengan cara biasa butuh waktu empat hari. Sedangkan kalau pakai alat pengering bisa sebentar saja,” ujar Han saat ditemui di kliniknya yang terletak di Nagoya Newton Blok I No 9 Batam.

            Saat ditanya mengapa tidak boleh langsung digunakan, Han mengatakan, bunga ini masih mengandung racun. Setelah dikeringkan, barulah bunga ini boleh dikonsumsi. Apabila dalam keadaan segar bunga tersebut langsung dikonsumsi dapat menimbulkan efek dari racun yang berupa mual dan pening.

            Bunga melati menurut Han, dapat digunakan untuk menyembuhkan jantung dan liver yang terasa panas, serta tidak enak tidur. Cara meminumnya dengan mengambil lima hingga delapan kuntum melati kering, dicampur dengan air panas satu gelas, dan diminum beserta melati keringnya sebanyak tiga kali satu hari.

            Sedangkan di balik keindahan bunga mawar ternyata juga dapat digunakan untuk kecantikan selain untuk kesehatan. Dengan menyeduh satu kuntum besar hingga dua kuntum kecil dengan segelas air panas, seduhan mawar ini dapat mengatasi kulit yang kering serta masuk angin.

            Sementara bagi kita yang selama ini mengetahui adanya teh yang dicampur dengan bunga chrysant, bunga yang juga cantik ini dapat berguna untuk mengobati tubuh yang panas, membersihkan darah, serta paru-paru.

            “Tapi yang boleh digunakan hanya yang bunganya putih dan kuning saja sedangkan yang lain tidak boleh dikonsumsi,” pesan Han.

            Selain ketiga bunga tersebut sebetulnya masih banyak tumbuhan dan bunga yang bisa diseduh selayaknya meminum teh. Misalnya bunga berwarna ungu yang biasanya menjadi tanaman hias di tepi jalan.

            Di Klinik Batam Sehat sendiri, bunga dan dedaunan kering tersebut juga tersedia dalam kemasan bungkusan tersendiri. Kesemuanya sudah melalui proses pengeringan dengan mesin pengering sehingga aman untuk dikonsumsi. (ika)

Pengobatan ala Tionghoa

Keladi Tikus Mampu Sembuhkan Kanker

*Banyak Ditemukan di Batam

            Siapa mengira kalau Batam ternyata banyak memiliki tumbuhan obat-obatan. Bahkan, sejenis umbi yang bernama Keladi Tikus dapat digunakan untuk menyembuhkan kanker.

Umbi yang banyak tumbuh di Batam ini justru kurang begitu diketahui manfaatnya oleh masyarakat Batam sendiri. Padahal di negara Cina, umbi dari tumbuhan tersebut dapat digunakan untuk menyembuhkan penyakit yang dikenal mampu merenggut nyawa manusia ini.

“Saya sebelumnya mendapatkannya dengan cara mendatangkannya dari Cina. Tetapi ada beberapa orang yang bilang kalau umbi ini banyak tumbuh di Batam sini. Saya pernah juga menanamnya dan di dekat-dekat sini memang ada tumbuh,” ujar sin she Han Yun Bo dari Batam Sehat.

Umbi keladi tikus ini sekilas seperti singkong namun ukurannya lebih besar dan gemuk. Ia direbus bersama dengan kurma Cina bila ingin digunakan sebagai obat. Namun, keladi tikus ini baiknya digunakan oleh orang yang tahu cara pemakaiannya. Karena jika salah penggunaan, justru racun umbi ini yang akan bekerja.

Dari situ, Han pun kemudian sering mencari bahan obat-obatan tradisional yang digunakannya dalam pengobatan di Indonesia. Mulai dari masuk ke hutan yang ada di Batam, Pekanbaru, Siak, hingga Dumai.

Bila kita mengunjungi Batam Sehat, di etalase yang terletak di ruang masuk, kita akan menemukan berbungkus-bungkus bahan obat tradisional yang biasa digunakan untuk pengobatan. Bahkan, ada sejenis bunga yang selama ini kita temui di taman dan justru bisa digunakan untuk obat.

“Bunga ini bagi kita yang di sini mungkin dianggap sepele karena kita tidak tahu manfaatnya. Padahal di Cina sana, bunga yang dikeringkan tersebut mahal lho,” ujar Budi yang sering bolak balik Batam Cina dan mengetahui keberadaan manfaat bunga tersebut bagi masyarakat di Cina.

 

Deteksi Penyakit dengan Tiga Jari

            Unik cara pengobatan alternatif yang satu ini. Hanya dengan menyentuhkan tiga jari di pergelangan kedua tangan, Han Yun Bo dapat mendeteksi apa yang dialami seseorang. Pria yang tiga tahun terakhir ini menjadi sin she di Batam Sehat, mengaku mendapatkan ilmu tersebut dari pendidikan khusus di Universitas Hei Long Jiang, Beijing.

            “Lima tahun saya belajar di jurusan pengobatan tradisional di universitas tersebut. Sedangkan untuk mendalami pengobatan dengan cara ini saya lalui sampai 20 tahun,” aku Han yang memiliki gaya bicara lemah lembut dengan dialek Tionghoanya.

            Saat seseorang berkunjung ke tempatnya, ia akan terlebih dahulu mendeteksi dengan meletakkan tiga jarinya saja di pergelangan tangannya. Pada tangan sebelah kanan, ia mampu mendeteksi kondisi paru-paru, maag, dan pinggang. Sedangkan pada pergelangan tangan sebelah kiri, ia mampu mengetahui seperti apa kondisi jantung, liver, dan ginjal serta pinggang atau usus seseorang.

            Setelah ia mengetahui hal tersebut, mulailah pengobatan dilakukan. Ada berbagai cara yang bisa ditempuhnya. Mulai dari mengkonsumsi obat-obatan tradisional, akupuntur, listrik, hingga tenaga dalam. Cara-cara tersebut dilakukan tergantung penyakit yang diderita seseorang. Lama penyembuhannya pun tergantung parah tidaknya sakit yang diderita.

Macam-macam penyakit yang bisa diusahakan olehnya untuk disembuhkan. Dari sakit yang ringan seperti panas dalam, hingga sakit yang mampu merengut nyawa seseorang seperti kanker.

Pengobatan alternatif ini pernah menyelamatkan nyawa seorang ibu yang menderita kanker payudara. Ia bahkan telah berobat ke Singapura dan Malaka namun tak kunjung sembuh. Barulah setelah dibawa ke Batam Sehat, tiga bulan kemudian, wanita ini berhasil sembuh.

“Saya juga pernah menangani seorang tentara di Tanjungpinang yang menderita sakit kanker otak dan bisa sembuh,” imbuh Han yang bersma istrinya sering membantu orang yang datang untuk mengkonsultasikan kesehatan.

Masyarakat yang berkunjung meminta bantuannya untuk disembuhkan pun tak hanya mereka yang berasal dari Tionghoa. Banyak pula masyarakat non Tionghoa yang datang untuk berobat ke sin she Han di Batam Sehat.

“Karena di sini kami memiliki obat tradisional dari tumbuh-tumbuhan, harga pengobatannya pun jadi tak mahal. Selain itu obat dari tumbuh-tumbuhan ini pun tidak ada efek sampingnya,” ujarnya. (ika)

Sastra Tionghoa

Cirinya Romantis dan Suka Mengenang

            Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina, kiranya benar pepatah itu adanya. Karena dari negeri panda tersebut, banyak ilmu pengetahuan yang bisa diserap. Misalnya saja pepatah yang sarat akan arti dan makna. Belum lagi nilai sastra yang dibuat oleh para pujangga dahulu.

            Misalkan pada pepatah pohon buah jatuh ke tanah kembali ke akar. Perumpamaan pohon, buah, dan akar ini dimaksudkan agar setiap orang harus mengingat kembali ke asal mausalnya. Ini baru sebuah pepatah sederhana namun memiliki makna yang dalam, belum lagi karya-karya sastra mandarin.

            Dari sekian banyak karya sastra Tionghoa, ada dua hal yang menjadi ciri khasnya. “Sastra mandarin cirinya romantis dan suka mengenang,” ungkap Suki Ariono, Pemilik Pusat Bimbingan Bahasa Mandarin Pelita Budaya Bangsa.

            Unsur romantisme ini terbukti dari seringnya ditemukan penggunaan kata-kata sinar bulan atau salju serta penggambaran suasana romantis yang tergambar dalam sebuah puisi mandarin.

            Sedangkan pengungkapan kenangan ini biasanya terlihat dari kata-kata yang menggambarkan bagaimana masa kecil dahulu pernah dilewati oleh penulis serta kenangan akan orang tua.

            Suki lantas mencontohkan sebuah puisi yang terdiri dari empat baris. Di baris pertama tertulis, sinar bulan yang menyinari kamar tidur dan jatuh di depan ranjang. Pada baris kedua, kiranya musim dingin salju-salju bertaburan di tanah. Baris ketiga, diangkatkan kepala melihat bulan. Dan pada baris terakhir, tundukkan kepala rindukan kampung halaman.

            “Ini karena kebanyakan penulis sastra Tionghoa dahulu yang ada dalam perantauan memiliki pengalaman masa kecil ketika masih di sana (Cina, red). Jadi ketika ia merantau kemana-mana, kenangan akan kampung halaman, masa kecil, dan orang tualah yang terkenang,” jelasnya.

            Tak terkecuali pada sastra moderen mandarin, pengaruh unsur itupun menurut Suki masih melekat. Meski sudah tidak begitu terikat pada aturan, namun sastra moderen mandarin harus enak didengar dan memiliki makna yang dalam.

            Di Pelita Budaya Bangsa, para pengajar memberikan bentuk-bentuk puisi yang sederhana dan pepatah disisipkan dalam materi pelajaran. Di pusat bimbingan bahasa ini memang tidak hanya sekedar memberikan pelajaran membaca, menulis, ataupun percakapan dalam bahasa mandarin.

            “Sengaja saya selipkan pepatah dan kerangka sastra agar mereka lama teringat akan apa yang telah diberikan,” jawab Suki sambil menceritakan apa yang pernah ditanyakan oleh muridnya. Waktu itu, Suki pernah ditanya mengapa dalam pelajaran percakapan saja ada unsur seperti itu yang diikutsertakan.

            Jika menilik karya-karya sastra mandarin yang memiliki makna tersendiri, tentunya sayang sekali jika karya yang ada tersebut kurang didalami oleh generasi saat ini. Untuk itulah, Suki memasukkan unsur tersebut dalam pengajaran bahasa mandarin yang ada di lembaga pendidikannya.

            Suki memang sering menyelipkan puisi hasil karya pengarang mandarin ternama. Namun tak jarang, ia juga kerap memberikan contoh puisi yang dibuatnya sendiri. Sedangkan kepada muridnya di tingkatan yang agak tinggi, ia mengajak untuk membahas bahasa dan tugas untuk mengarang yang memiliki unsur sastra. (ika)

Chan Zu

Chan Zu-nya Jangan Difoto

            Saat berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, tidak jarang kita menjumpai patung kodok dengan keping logam di mulutnya atau patung kucing dengan tangan yang melambai. Patung-patung ini dipercaya akan membawa keberuntungan berbeda bagi pemiliknya.

Seperti yang dipercaya oleh seorang pemuda penjual hanphone yang berada di Center Point. Ia meletakkan sebuah patung kodok dengan sekeping logam di mulutnya dalam sebuah etalase yang di dalamnya juga terpajang beberapa hand phone yang dijualnya. Dipercaya, patung akan menambah rejeki bagi pemiliknya.

            Dalam sebuah etalase kaca, patung kodok tersebut diletakkan di rak teratas di tengah-tengah jajaran handphone yang dipajangnya untuk dijual. Namun saat Tribun berkata ingin memfoto patung tersebut, pria yang tak ingin disebut namanya ini enggan saat patung kodok tersebut ingin difoto.

            “Wah terima kasih tadi mbaknya minta ijin dulu kalau ingin foto. Chan Zu-nya jangan difoto,” ujarnya. Ia lebih lanjut kemudian mengatakan kalau patung kodok itu akan berkurang auranya kalau difoto.

            “Itu pesan dari teman saya. Dia pernah bilang kalau patung ini jangan sampai difoto orang. Nanti auranya masuk ke kamera jadinya kurang bisa menambah rejeki lagi,” jelasnya.

            Patung kodok atau yang dalam bahasa mandarin disebut dengan Chan Zu ini dipercaya memang bisa menambah hoki dari pemiliknya. Menurut Ema, karyawan toko barang-barang oriental yang ada di Center Point tersebut, Chan Zu ini memang banyak dicari oleh masyarakat Tionghoa kebanyakan.

            “Wah kalau sekarang ini sudah habis. Memang itu banyak yang nyari,” ujarnya.

            Tak hanya Chan Zu, patung-patung lain yang dipercaya bisa mendatangkan rejeki bagi pemiliknya rata-rata memiliki bentuk uang di bagian tubuhnya. Entah itu pajangan berbentuk sempoa, ataupun patung dewa yang di tangan kirinya memegang sekeping uang tail.

            Selain patung yang dipercaya membawa rejeki, ada juga bentuk patung lain yang dipercaya memberikan keberuntungan bagi pemiliknya. Misalnya sosok patung berjanggut lebat yang pada tubuhnya terlihat sedang membawa senjata.

            “Kalau patung yang ini biasanya dipercaya bisa membawa keselamatan bagi pemiliknya yang meletakkan di depan rumah. Orang bilang patung untuk jaga,” jelas Ema. (rur/ika)

Cerita di Balik Kue Bulan

            Bila dilihat dari penanggalan Tionghoa, tepat pada tanggal 15 bulan 8, bulan purnama selalu dalam keadaan paling besar yang bis dilihat dari bumi. Namun di balik itu, ada dua buah cerita yang beredar di masyarakat Tionghoa tentang Hari Bulan. Hal ini seperti yang dikisahkan oleh Harsono, Ketua Seksi Budaya Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).

 

Penghormatan terhadap Selir yang Baik Hati

            Dahulu kala, ada seorang raja yang sedang berkuasa. Ia sangat kejam karena suka membunuh. Namun, raja tersebut memiliki seorang selir yang berhati baik.

            Suatu ketika, sang raja menemukan sebuah pil yang dapat membuatnya hidup selama-lamanya. Pil tersebut harus diminum pada tanggal 15 bulan 8.

Selir raja pun mengetahuinya. Namun sang selir tidak ingin hal tersebut terjadi. Karena apabila raja dapat hidup selama-lamanya, kekejamannya pun akan membahayakan manusia lainnya.

            Akhirnya pada saat sang raja ingin meminum pil tersebut, sang selir mendaului meminumnya. Apabila laki-laki yang meminum pil tersebut, ia akan hidup selama-lamanya. Namun apabila perempuan yang meminumnya, ia akan terbang ke angkasa menuju bulan.

            Atas pengorbanan sang selir inilah, masyarakat saat itu kemudian bersembahyang untuk menghormati apa yang telah dilakukan selir. Sembahyang ini akhirnya terus dilakukan setiap tanggal 15 bulan 8.

            Sedangkan bagi para wanita yang usai bersembahyang pada hari bulan kemudian mengenakan perlengkapan riasnya, dipercaya cara ini akan membuat sang wanita makin cantik.

 

Tak Ada SMS, Kue Bulan pun Jadi

            Hari Bulan akan kurang rasanya kalau tidak ada kue bulan. Kue berbentuk bundar ini selama ini selalu menjadi pelengkap saat hari bulan, entah itu untuk hantaran ke orang tua atau teman.

            Namun siapa yang menyangka kalau kue bulan ini sebetulnya memiliki sebuah kisah yang unik. Kue ini dahulu pernah menjadi sarana pengantar pesan untuk sebuah perang besar.

            Waktu itu, bangsa Mongolia menjadi penguasa Tiongkok. Namun, bangsa Han yang menjadi komunitas terbanyak di sana. Bangsa Han ini berencana akan mengadakan pemberontakan untuk menggulingkan pemerintahan Mongolia.

            Meski di jaman itu handphone tidak ada, namun mereka tidak kehabisan akal. Mereka lantas menggunakan kue bulan sebagai penyampai pesan antara satu dengan yang lain.

Caranya, di dalam kue tersebut dimasukkan sebentuk benda yang berisi sebuah pesan berisi rencana pemberontakan yang akan diadakan pada tanggal 15 bulan delapan. Siapapun yang menerima kue bulan, membuka dan akan memakannya,akan menemukan pesan tersebut.

Akhirnya, pemberontakan itupun berhasil dilakukan. Sementara untuk memperingati peristiwa tersebut, kua bulan akhirnya menjadi makanan yang selalu ada dalam perayaan hari bulan. Kue bulan inipun kini sudah bisa didapati di awal bulan ke 8. (fer/ika)