Jangan Belajar Sebelum Ujian

Berpikir beda terkadang sering membuat kita terlabeli gila. Tapi jika ingin memiliik warna yang tak membosankan dan tak biasa, maka mari sesekali berpikir beda.

Hari ini, lebih tepatnya beberapa hari terakhir ini, saya sering mencekoki anak-anak saya untuk TIDAK BELAJAR di musim midtest. Hahaha, mungkin saya guru yang gila! Tapi saya tak ingin anak-anak juga gila dengan ujian bersistem menguji apakah ia amnesia atau tidak.

Betapa saya tidak mengernyitkan alis melihat sistem pendidikan di tempat saya mengajar sekarang ini. Anak-anak hanya diberi waktu 3 bulan untuk belajar. Sementara untuk midtest, mereka hanya diberi waktu satu minggu dengan tiap harinya mereka harus menghadapi 3 mata pelajaran yang diujikan.

Kemarin-kemarin, saya bisa menyemangati anak-anak untuk tetap bertahan dengan segala macam timbunan ulangan harian dan tugas dari para guru, efek dari para guru yang harus mengejar target pemberian materi dengan waktu yang begitu minim. Meski dalam hati saya miris, mereka adalah anak-anak yang hidup di boarding school, yang juga punya tuntutan harus menguasai hal lain selain yang terkait dengan pelajaran. Tapi kali ini, di musim midtest ini, saya punya empati yang bertoleransi dengan apa yang sedang mereka hadapi.

Andai saya jadi anak-anak itu, saya pastinya akan sangat pusing saat harus belajar. Sedang enak-enaknya belajar matematika, otak saya mencemaskan pelajaran Fiqih. Saat saya sedang menghadapi buku pelajaran Fiqih, kepala saya terpikir nasib ulangan PKN.

Hingga suatu ketika, seorang murid saya bernama Michelle menghampiri saya dan berkata, “Miss, kayak saya dong, nggak belajar. Sudah dua hari ini Miss saya nggak belajar,” ujar anak saya yang terkenal punya karakter unik ini.

Awalnya saya agak merasa aneh dengan kata-katanya. Memang, Michelle adalah anak yang sangat cerdas sehingga saat SMP saja dia masuk kelas akselerasi. Jika seorang secerdas Michelle tak belajar sebelum ujian, bisa jadi itu adalah hal yang wajar.

Tapi otak saya lantas berpikir wajar juga saat saya melihat korelasi antara pentingnya memaksa belajar dengan apa esensi dari proses ujian itu sendiri. Belajar yang benar memang adalah ketika seorang siswa melalui proses memahami materi sejak awal kegiatan belajar mengajar dimulai. Bukan menghapal teori yang digunakan untuk menjawab pertanyaan ujian, lalu selesailah semua memori itu dibuang di atas selembar kertas.

Apakah anak paham atau tidak, mengaplikasikan ilmu yang sudah ia dapat atau tidak, atau mengingat teori-teori itu sebagai bentuk konsekuensi menalar dan melogika realita di kehidupan, rasanya semua itu tidak tercakup dalam esensi proses ujian dan belajar yang sesungguhnya.

Jadi, untuk apa belajar di sekolah? Untuk apa ada ujian sekolah? Untuk mendapat nilai? Untuk mencari kerja dengan nilai bagus? Kenyataan yang lucu ketika dari pertanyaan-pertanyaan itu ternyata menimbulkan jawaban bahwasanya belajar, ujian, nilai, dan kerja memiliki hubungan yang sangat dipaksakan!

Di hari ini, saya sengaja makin menjadi menyuruh anak tidak belajar, dan mengingatkan mereka dengan kepercumaan belajar dalam kondisi memaksa namun pada akhirnya mereka sulit untuk mengingat apa yang sudah mereka hapal saat ujian. Karena belajar yang sesungguhnya itu adalah bukan di saat sebelum ujian. Karena mereka sesungguhnya tidak melewati proses ujian sebagai bagian dari ujian apakah mereka amnesia atau tidak!

Dan di hari ini, saya juga dengan jahilnya membalas keluhan anak-anak saya yang nilainya jauh dari kata memuaskan. “Kenapa? Nilai matematikamu 45? Dulu nilai saya matematika 35 waktu sekolah. Tapi saya bisa jadi guru, dosen, kepala sekolah, wartawan, dan penulis. Nilai 45mu itu tidak membuat masa dapanmu suram! Tidak membuat duniamu berhenti saat ini!”

Yah, saya sendiri memang tidak pernah menyesal dengan nilai jelek saya. Tidak pernah menyesal mengapa saya tidak bisa masuk IPA meski saya begitu jatuh cinta dengan Fisika. Karena toh hingga saat ini saya masih cukup sering bisa mengingat teori-teori yang diajarkan guru saya dan mengaitkannya dengan realita yang sedang saya hadapi. Saya tidak mau membuat guru-guru saya melakukan hal yang sia-sia. Karena saya pernah menjadi siswa yang menjadikan ilmu itu barakah dengan cara memahaminya. Tidak menghapal. Minim melakukan kecurangan demi sebuah nilai gemilang.

Saya akui, dulu saya memang bukan murid yang sangat baik dan pintar. Bukan murid yang selalu tidak pernah mencontek dan kadang melakukan kecurangan sesekali. Bukan murid yang selalu mendapat nilai memuaskan. Tapi saya cukup bangga pernah menjadi murid yang bisa diandalkan saat beradu mengerjakan soal cerita Fisika. Saya cukup bangga bisa mengingat banyak hal yang pernah saya pelajari sewaktu SD hingga SMA.

Apapun sistemnya, saya tidak akan mau membiarkan anak-anak saya menjadi korban sistem pendidikan yang tidak menyentuh esensi dari pendidikan itu sendiri. Mereka harus sadar, bahwa belajar adalah paham lalu mengingat untuk mengaplikasikannya, bukan menghapal dan melupakan kemudian tidak menggunakan ilmunya untuk kehidupan nyata.

Antara Sandal dan Museum

Tulisan ini sedianya saya kirimkan ke Leutika. Namun karena tidak lolos seleksi, saya muat di sini saja yah! :D

============================================

Oleh: Ika Maya Susanti

Seorang ibu tampak sedang serius mengamati tayangan di televisi. Di depannya, sebuah berita tentang skandal artis yang bermasalah dengan video mesum menjadi bahasan yang menarik minatnya. Sementara itu, seorang anak berusia 4 tahun di sampingnya malah berekspresi kebingungan.

“Bunda, tivinya rusak ya? Kok gambarnya nggak jelas gitu?”

“Itu bukan rusak sayang, tapi memang sengaja dibuat nggak jelas gambarnya dari sana.”

“Lho kok? Kalau gambarnya nggak jelas, ngapain bunda lihat?”

“Aduh, udah deh kebanyakan tanya! Kamu anak kecil, mending main di luar gih, sana!”

Dan si kecil pun berlalu menuruti perintah ibunya. Segudang pertanyaan bermain di kepalanya. “Gambar nggak jelas kok dilihat! Udah gitu ngomongin apa sih tu berita dari tadi? Sandal? Museum?”

Ini hanya sebuah fragmen yang mungkin rekaan saya pribadi. Namun saya duga, banyak dari para orang dewasa yang juga melakukan hal seperti itu, sedang mengikuti tren berita saat ini yaitu kasus video porno artis, dan menyaksikannya tanpa memerhatikan apakah ada anak kecil yang berada di sekitarnya. Apakah mungkin ada anak-anak usia balita yang ikut menonton atau mungkin hanya bermain di ruang yang sama dan cukup mendengarkan saja berita yang ada, atau para ibu yang menonton tayangan televisi tersebut sambil menggendong bayi, nyatanya, sedikit yang mengerti dampak dari tindakan-tindakan tersebut.

Tayangan tersebut akhir-akhir ini menjadi isu hangat yang menggantikan kehebohan kasus Israel di jalur Gaza. Jika sebelumnya orang dengan mudahnya mengumpat, mencaci maki, dan meneriakkan dengan lantang hujatan terhadap Israel secara bertubi-tubi, justru yang terjadi kini langsung berbalik arah.

Tanpa kita sadari, banyak dari kita yang nampak sibuk membahas kasus dari video artis porno tersebut. Benar tidaknya, bagaimana itu bisa terjadi, sampai maaf, bahan-bahan pembicaraan yang sebetulnya tidak pantas untuk menjadi bahan konsumsi pembicaraan namun seakan mudah dibicangkan menjadi bahan guyonan.

Memang, fenomena di masyarakat ini tidak bisa dilepaskan begitu saja dari peran media yang juga memborbardir berita tersebut. Bahkan hampir di setiap saluran televisi pada setiap jamnya! Belum lagi ulah nakal dari media yang meski membuat blur tayangan, namun tetap saja, ada sedikit-sedikit celah yang justru membuat fantasi nakal dari para pengkonsumsi berita. Ini, masih ditambah lagi ulah dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang membuat siapapun dengan mudah mengakses video porno tersebut di internet.

Yang cukup saya sangat herankan, mengapa cukup sedikit dari mereka yang memikirkan efek buruknya pada anak-anak? Menyaksikan tayangan berita tersebut dengan membiarkan anak-anak ikut menontonnya atau membicarakan hal tersebut di dekat anak-anak.

Ya, memang tidak banyak orang yang menyadari bahwa usia 0-6 tahun dari anak sebetulnya adalah masa emas yang dimiliki oleh otak anak. Mereka bisa seperti spon yang begitu mudah menyerap berbagai informasi untuk disimpan dalam jangka panjang. Kebalikannya, justru banyak orang dewasa yang karena ketidaktahuannya, malah berpikir permisif bahwa anak-anak bahkan bayi sekalipun tak akan paham apa yang sedang dibicarakan oleh orang dewasa.

Belum lagi anak-anak di atas usia tersebut yang kini begitu dengan mudahnya mengenal dekat akses ke internet. Meskipun hanya sekedar untuk urusan bermain game. Namun melihat tuntutan anak untuk belajar dan mencari sumber bahan tugas sekolahnya dari internet, saya rasa, anak-anak itu kini sudah berada di usia riskan yang tak lagi tidak mengerti tentang apa itu video mesum atau video porno.

Sebagai contoh, pernah suatu ketika di bulan ramadan, saya memakai jasa internet yang sebelumnya harus bergantian komputer dengan seorang anak laki-laki yang kira-kira masih duduk di bangku SMP. Yang membuat saya terkejut, ternyata, si anak yang menjadi pemakai sebelumnya, baru saja membuka sebuah situs porno yang meski penghitung waktu penggunaan internet telah ia akhiri, tapi laman situs yang dibukanya terlupa untuk ditutup.

Nah, belum lagi ketika sekarang video porno yang sedang ramai diperbicangkan di televisi itu ternyata begitu sangat mudah diunduh dari internet. Bisa terbayangkan kan nasib kebanyakan anak Indonesia saat ini?

Jadi, silakan saja media memborbardir pemberitaan tentang artis berikut video pornonya. Tapi, saya ingin sekali mengajak para orang dewasa, tidak hanya para orangtua, untuk lebih peduli terhadap nasib anak-anak di sekitarnya. Paling tidak, rasanya cukup deh untuk kita tidak ikut-ikutan memeriahkan perluasan berita itu. Kasihan kan jika mereka kemudian menuntut kita dengan pertanyaan, “Apa sih sandal artis dan video museum yang sedang ramai dibicarakan di televisi?”

Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!

Memopulerkan HIV/AIDS


Oleh: Ika Maya Susanti

Merasa aneh mendengar judul tersebut? Bagaimana tidak, selama ini, orang selalu menganggap HIV/AIDS adalah sebuah momok yang berada dan berstigma pada ujung kematian. Sedangkan dalam judul tersebut, HIV/AIDS justru diperlakukan untuk dipopulerkan di kalangan masyarakat.

Ide pemopuleran HIV/AIDS ini sendiri berawal dari fakta sosialisasi HIV/AIDS yang ada di masyarakat. Meski beberapa elemen pemerintah hingga Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang ini telah memberikan penjelasan yang terang kepada masyarakat akan keberadaan HIV/AIDS, yang ada, justru masih banyak masyarakat yang awam tentang apa itu HIV/AIDS berikut juga dengan keberadaan orang yang hidup dengan HIV/AIDS atau disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Akhirnya, jumlah korban HIV/AIDS pun makin bertambah, dan para ODHA pun tak kunjung terentas dari kondisi termarjinalkan.

Mari kita lirik dari istilah HIV/AIDS-nya saja terlebih dahulu. Banyak dari masyarakat yang kurang tahu apa perbedaan dari kedua kata yang terpisahkan dengan garis miring tersebut. Padahal, AIDS  atau singkatan dari Aquired Immun Deficiency Syndrome merupakan sebentuk penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia akibat adanya infeksi virus. Virus itulah yang disebut dengan HIV atau Human Immunodeficiency Virus.

Karena penyakit ini belum memiliki obat yang pasti mampu mengenyahkan virus tersebut dari tubuh manusia serta bahkan membuat manusia yang terserangnya meninggal dunia akibat daya tahan tubuh yang terus berkurang, pengetahuan itulah yang diketahui oleh masyarakat umum dan membuat HIV/AIDS terus menjadi hantu dalam pikiran masyarakat.

Selain karena pengetahuan tentang kemampuan HIV/AIDS yang tak tersembuhkan, sebetulnya ada beberapa hal lain yang membuat orangpun bergidik untuk mengenal HIV/AIDS, atau langsung berantipati dengan keberadaan ODHA. Satu di antaranya adalah keawaman pengetahuan tentang cara penularan.

HIV memang bisa bertransfusi melalui cairan tubuh manusia yaitu darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Namun, tidak melalui air liur atau keringat. Jadi jika hanya berjabat tangan, bicara dalam jarak dekat dengan ODHA, terkena cipratan bersin atau batuk, tergigit nyamuk yang telah menggigit ODHA, tidaklah akan mampu membuat orang yang sehat kemudian dapat tertulari HIV.

Namun ketakutan akan akibat dari HIV/AIDS yang mematikan, banyak masyarakat awam pun langsung enggan untuk berdekatan dengan ODHA. Meskipun, penjelasan tentang cara penularan telah mereka ketahui. Dan ketakutan itulah yang membuat banyak masyarakat kurang menggali lebih dalam lagi informasi tentang seluk beluk HIV/AIDS.

Belum lagi adanya anggapan bahwa mereka yang terkena HIV/AIDS adalah mereka yang telah berperilaku buruk sebelumnya, seperti seks bebas, atau narkoba. Padahal, tidak semaunya penderita dari penyakit ini adalah mereka yang memang pernah melakukan perilaku menyimpang. Bisa jadi, para penderita AIDS adalah mereka yang secara tidak sengaja tertulari oleh penderita AIDS yang lain.

Dan anehnya, meski anggapan minor tentang penderita AIDS banyak berkembang, tidak sedikit juga dari masyarakat yang masih melanggar batas keamanan untuk diri mereka sendiri terhadap kemungkinan penularan. Misalnya saja fakta bahwa penularan HIV/AIDS masih banyak berasal dari kasus narkoba atau pergaulan bebas. Hal inilah yang justru kemudian terus menguatkan dugaan bahwa HIV/AIDS memang identik dengan seks bebas dan narkoba.

Keawaman tentang pengetahuan HIV/AIDS, cara penularannya, hingga pengabaian batas keselamatan kemungkinan tertular, lantas, berapa banyak lagi orang yang kemudian mungkin tertulari HIV/AIDS? Ini masih ditambah dengan kurangnya kesadaran pentingnya kewajiban untuk memeriksakan kesehatan diri bagi mereka yang mungkin mengalami gejala awal HIV/AIDS.

PR lainnya adalah sampai kapan para ODHA akan terus termarjinalkan karena masyarakat ketakutan berlebihan dan awam tentang cara penularan HIV/AIDS? Inilah sebetulnya yang perlu dipecahkan bersama sebagai tanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat.

Di Manakah Rantai Ketidakberhasilan Itu Terjadi?

Sebelum bicara solusi, baiknya kita temukan dulu di manakah titik kegagalan akan sosialisasi HIV/AIDS dan keberadaan ODHA itu mulai terjadi. Sebetulnya, pintu pertama yang harus mampu memberikan peberangan kepada masyarakat adalah dunia medis, misalnya saja pihak rumah sakit.

Sesungguhnya, sudah menjadi tugas dari Rumah Sakit untuk memberikan pendidikan HIV/AIDS yang jelas dan gamblang kepada masyarakat. Bentuknya bisa berupa sosialisasi secara berkala ke seluruh elemen masyarakat. Masyarakat pun kemudian tak seharusnya bingung jika ingin bertanya ke mana jika ingin memperoleh kejelasan tentang HIV/AIDS.

Sayangnya, fakta yang banyak terungkap, tidak sedikit pihak medis seperti dokter atau perawat yang justru awam tentang HIV/AIDS. Sering terjadi, para ODHA mengungkapkan kemarjinalan dirinya saat diperlakukan secara tidak adil kala mereka menuntut hak perawatan kesehatan. Masih banyaknya kasus seperti ini membuktikan bahwa ternyata, pihak medis pun bisa awam tentang masalah HIV/AIDS. Jika itu terjadi, lantas bagaimana dengan pemahaman yang ada pada sebagian besar masyarakat sendiri?

Belum lagi adanya sikap pemerintah yang masih kurang total dalam bersikap kala menentukan kebijakan yang terkait dengan sosialisasi HIV/AIDS maupun penyikapan terhadap keberadaan ODHA. Setali tiga uang dengan dunia medis, HIV/AIDS dan keberadaan ODHA dianggap sebagai musuh yang tidak patut disentuh dan perlu dienyahkan keberadaannya. Bukan untuk dihadapi kenyataannya!

Para ODHA yang ada juga kebanyakan lantas berposisi sebagai bagian yang kurang penting dari sosialisasi HIV/AIDS. Ada ODHA yang memilih diam dan menyingkir dari kehidupan masyarakat yang di matanya lebih normal dan sehat. Atau kalaupun ada yang berani tampil, justru terselubung dalam elegi ketidakberdayaan mereka saat tanpa bisa menolak, harus tertulari HIV/AIDS. Dua kondisi itu melebihi jumlah para ODHA yang mampu tampil untuk menunjukkan sikap optimisme diri yang kemudian membuat ia mampu bangkit dan bertindak untuk mencegah agar tidak makin banyak masyarakat yang tertulari HIV/AIDS.

Populerkan HIV/AIDS

Sesuatu tidak akan dikenali jika telah ada ketakutan berlebihan yang lebih dulu ada pada pikiran dan membuat enggan untuk dikenal! HIV/AIDS memang mampu berakibat fatal pada nyawa manusia. Namun, bagaimana jika ketakutan akan hal itu disingkirkan dengan cara mengemasnya dalam sebuah langkah yang populis?

Hal yang menyeramkan dibuat menyenangkan, tentunya tidak mudah untuk mengenalkan apa itu HIV/AIDS yang terkenal berkolerasi dengan maut itu dengan cara yang tidak menakutkan. Namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menembus prilaku takut yang justru memerangkapkan seseorang dalam jerat HIV/AIDS.

Misalnya saja dengan menyelipkan kampanye tersebut pada sosialisasi antinarkoba atau pergaulan bebas. Khususnya pada dunia remaja seperti pelajar dan mahasiswa sebagai kalangan yang rentan bersinggungan dengan gerbang penularan HIV/AIDS.

Tentu saja, tidak hanya sepintas lalu yang perlu ditampilkan dengan hanya mengatakan bahwasanya HIV/AIDS bisa tertular melalui jarum suntik narkoba atau pergaulan bebas berikut ancaman kematian yang diimbuhkan di belakangnya.

Atau, perang dalam bentuk sosialisasi khusus tentang HIV/AIDS namun hanya berupa pemaparan apa itu, bagaimana cara penularannya, serta apa akibatnya. Inilah yang kemudian menambah daftar panjang istilah ‘tahu tapi tak paham’ akan HIV/AIDS. Dan inilah saatnya bagi para ODHA yang masih mengalami stadium rendah dan memiliki jiwa optimisme untuk membantu memerangi penyebaran HIV/AIDS dengan tampil ke permukaan.

Kemunculan para ODHA juga sebaiknya tidak melulu pada pengakuan penyesalan atau pengungkapan asal muasal penularan saja. Akan tetapi, munculkan juga sikap optimisme bahwa meski berstatus ODHA, hidup tetaplah bisa dijalani normal seperti laiknya manusia sehat lainnya.

Komunikasi cara inilah yang disebut dengan tahapan mengenal dan tidak sekedar tahu. Mulai dari hanya berjabat tangan saja dengan para ODHA dalam kegiatan sosialisasi HIV/AIDS, semangat ajakan untuk hidup bersama dan tidak meminta belas kasihan, hal tersebut bisa membuat masyarakat membuka pintu komunikasi penerimaan dengan para ODHA dan mengikis pemarjinalan yang kerap ada.

Tentunya, langkah ini hanya bisa ditempuh jika para ODHA yang ada pada stadium awal telah siap dan disiapkan untuk bisa memompa optimisme hidup pada diri mereka sendiri terlebih dahulu. Jika mereka berani untuk tempil bersingungan dengan masyarakat umum, pembuktian fakta yang sesungguhnya akan penularan HIV/AIDS pun akan makin dimengerti oleh masyarakat.

Dukungan yang positif dalam hubungan antara masyarakat dengan ODHA inipun menjadi sesuatu yang kondusi bagi para ODHA sendiri. Ketika mereka dalam kondisi yang nyaman, diterima, tidak merasa ditekan, dilecehkan, atau dibenci oleh lingkungan sekitarnya, hal ini secara langsung yang akan memengaruhi kelangsungan hidup para ODHA ke arah kontinyuitas hidup mereka.

Faktanya, para ODHA yang hidup dengan pikiran positif dan penerimaan yang baik dari lingkungan sekitarnya terutama keluarga, mampu memiliki kondisi psikologi yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh mereka sendiri. Dan memang, tulah yang menjadi bagian penting bagi setiap ODHA.

Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah munculnya orang-orang yang hidup bersama para ODHA. Bisa suami, istri, anak, LSM yang mendampingi, teman, atau personal-personal lainnya yang selama ini hidup bersama dengan ODHA.

Karena selama ini, para ODHA lebih sering terekspos oleh media massa atau justru dituntut untuk lebih aktif tampil di masyarakat. Padahal, sebetulnya peran mereka yang hidup bersama dengan para ODHA-lah yang bisa menolong para ODHA untuk berani tampil di depan masyarakat umum.

Hanya dengan dukungan positif, para ODHA berani berpartisipasi turut mensosialisasikan pemahaman tentang HIV/AIDS. Mereka yang hidup berdampingan dengan para ODHA inilah yang bisa menjadi bukti bahwa ODHA bisa hidup di tengah masyarakat tanpa memiliki andil dalam penularan.

Semakin banyak dan seringnya mereka yang hidup dengan ODHA ini turut tampil dalam sosialisasi HIV/AIDS, masyarakat yang awalnya awampun makin mengerti tentang apa itu HIV/AIDS, berikut bagaimana agar mereka tetap bisa aman. Dan tentunya, para ODHA tidak lagi terus berada dalam kondisi termarjinalkan.