Category: Kuliner


Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Schotel Kukus Pisang

Schotel Kukus Pisang

Saya suka memasak. Namun, kegiatan ini saya lakukan sebagai bagian dari eksperiman yang bersifat hiburan. Nah di hari Minggu kemarin, saya mencoba berkesperimen dengan limpahan pisang tanduk hasil oleh-oleh saya dari Lumajang.

Eksperimen ini saya juduli Schotel Kukus Pisang. Kalau umumnya schotel itu dipanggang, saya terpaksa harus mengukusnya. Maklum, saya tidak punya oven sih di rumah! :D

Selain itu, eksperimen ini sebetulnya saya tujukan untuk membuat getuk pisang. Tapi karena waktu itu saya tidak mendapatkan tepung sagu dan daun pisang, terpaksa saya pindah haluan menjadi schotel kukus pisang.

Jika Anda berkenan mencobanya, inilah caranya…

Bahan:

-         5 buah pisang tanduk

-         3 sendok makan tepung terigu

-         3 sendok gula pasir

-         Santan kental (Saya memakai santan kental sachet yang memiliki takaran dari 1 buah kelapa)

-         Garam secukupnya (sedikit saja)

-         Margarin secukupnya

-         Vanili secukupnya (sedikit saja)

-         Keju menurut selera (Saya menggunakan lembaran keju chedar. Anda juga bisa menggunakan keju batangan untuk membuat taburan di atas schotel nantinya.)

Cara membuat:

-         Kukus pisang tanduk sekitar selama 30 menit

-         Setelah selesai lumatkan pisang selagi hangat. Ada baiknya lumatkan dengan halus. Anda bisa menggunakan mixer atau blender.

-         Campur dengan seluruh bahan lainnya (kecuali keju dan margarin)

-         Olesi wadah dengan margarin.

-         Tuang adonan ke dalam wadah.

-         Letakkan keju di bagian atas adonan.

-         Kukus adonan selama sekitar 30 menit. Jangan lupa untuk memberi kain pada penutup panci agar air tidak jatuh ke adonan.

-         Angkat dan sajikan.

Sajian ini bisa disajikan selagi hangat. Atau, bisa juga Anda menyimpannya terlebih dahulu di dalam kulkas. Untuk menimatinya, Anda bisa juga menambahkan susu kental manis atau sirup sebagai sausnya.

Catatan tambahan:

-         Sajian ini bersifat lengket dan lunak.

-         Resep ini bias dinikmati untuk sekitar lima orang

-         Selain itu, sajian ini juga bersifat manis. Jadi untuk takaran gula, jika Anda kurang suka menyukai manis yang begitu terasa, kurangi takaran gula 3 sendok dari resep saya di atas.

-         Selain itu karena ini sifatnya eksperimen, saya harap Anda juga bisa bereksperimen dengan resep saya ini :)

Nadzar dari Mimpi

Bulek dan ibu saya (ibu saya yang berjilbab) membantu memersiapkan tumpeng yang sedianya akan dibagikan ke mushola

Seumur-umur saya tahu istilah nadzar*, rasanya inilah nadzar yang unik menurut saya. Nadzar yang saya maksud itu adalah nadzar a la mbah kakung saya.

Ceritanya suatu ketika, ia pernah bermimpi memotong dua ekor ayam. Ketika mimpi itu beliau ceritakan kepada anak tertuanya, yaitu pakdhe saya, ujung-ujungnya, terputuskanlah jika suatu saat ia akan memenuhi nadzarnya. Nadzar yang akan terlaksana itu pun adalah membuat syukuran dengan memotong dua ekor ayam untuk menjadi lauk dari tumpeng yang lalu dibagi-bagikan kepada orang lain.

Kebetulan, mbah kakung dan apalagi mbah putri saya baru saja usai sakit keras. Mbah putri saya baru saja mengalami kecelakaan yang membuat kondisi tubuhnya menurun hingga 50 persen! Jadi, mimpi yang dialami oleh mbah kakung saya lalu disikapi sebagai bagian dari nadzar yang harus dilaksanakan.

Hari H pun tiba. Dua ekor ayam yang terpotong, lalu diolah menjadi ayam panggang. Daging ayam tersebut diolah dengan cara hanya dibersihkan isi perutnya, tidak dipotong-potong. Kemudian, ayam dilumuri bumbu dan lalu dibakar.

Ayam inilah yang lalu disajikan sebagai lauk dari tumpeng. Tentu saja pelengkapnya seperti laiknya tumpeng, ada sayur urap, berikut tahu dan tempe masak santan. Kesemuanya itu  diletakkan dalam wadah besar yang kemudian dibawa ke masjid.

Kebetulan di Temenggungan, sebuah daerah di Kecamatan Lamongan, ada dua masjid yang berdekatan dengan kuburan leluhur masyarakat Temenggungan bahkan Lamongan. Ke dua tempat itulah mbah saya lalu menghantarkan syukuran tumpeng.

“Biasanya, gitu itu entar langsung diserbu tumpengnya sama orang-orang sekitar. Aku dulu waktu kecil juga ikutan gitu kok,” cerita sepupu saya tentang tradisi tumpeng yang diantar ke makam.

Beginilah bentuk rupa dari lauk dan sayuran untuk tumpeng itu.

*Ada Bunga Khusus

Keunikan dari tumpeng hasi nadzar ini adalah adanya bunga sebagai penyerta. Bunganya juga bukan sembarang bunga. Saya yang kebetulan mendapat tugas membeli bunga ke tetangga dari mbah saya, ternyata harus menitikberatkan kata-kata pembelian dengan, “Kembang nyekar untuk ke makam Mbah Lamong!”

Ketika saya tanya kenapa demikian, ternyata bunga yang digunakan untuk ke makam para leluhur ini tidaklah bisa sembarangan. Khusus ke makam leluhur itu, bunganya hanyalah bunga kenanga saja.

Jika bunganya salah, ternyata ada konsekuensinya lho! Bisa jadi, tumpeng yang diantar akan cepat basi, tidak enak, atau hal-hal tidak mengenakkan lainnya yang terkait dengan tumpeng tersebut. Bisa dibilang, Istilahnya, tumpengnya ditolak sama mbah yang ada di dalam makam kali ya?!

Saya sendiri awalnya heran. Mengapa harus ada bunga khusus untuk ‘ritual’ seperti itu. Dan yang lalu saya tangkap dari cerita sepupu dan bulek saya, memang ada istilah ‘dunia perkembangan’ untuk tujuan-tujuan khusus.

Ada racikan kembang khusus yang berbeda-beda dan digunakan untuk tujuan yang berbeda-beda juga, seperti ziarah, perdukunan, mandi, dan ke makam-makam tertentu. “Kalau Bulek Karwati itu memang orang yang jual kembang dan ngerti Mbak. Beda sama orang yang biasa jualan di dekat kuburan dan musiman itu,” imbuh adik sepupu saya sambil menyebut nama tetangga dari mbah saya yang memang berprofesi sebagai penjual kembang.

*Nadzar menurut Kamus Ilmiah Poluper: janji untuk melakukan sesuatu kebaktian kepada Tuhan untuk mendekatkan diri kepada-Nya sekaligus rasa syukur atas nikmat-Nya, baik dengan syarat maupun tidak

Sambal Mangga yang Nagihin!

sambal mangga

sambal mangga

“Mbah… minta mangganya! Mau bikin sambal mangga…” seorang wanita muda yang sedang hamil tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri mbah saya yang sedang menunggui pekerjaan dua orang pria yang sedang menebas pohon mangganya.

Sambal mangga? Wah… entah kenapa saya baru ingat sambal favorit saya tersebut. Dulu ketika saya kos di Citra Batam, pembantu iu kos saya memang gemar sekali membuat sambal mangga. Dan sambal itu juga yang membuat saya awalnya hanya terbilang biasa untuk menikmati sambal, tiba-tiba jadi hobi sekali yang namanya makan pedas.

Akhirnya sampai di rumah, keinginan saya untuk membuat sambal itupun tidak tertahankan lagi. Lagi-lagi saya menyesal, kenapa juga ya saya baru ingat sambal mangga sekarang dan tidak kemarin-kemarin? Padahal, sudah ada sekitar dua hingga tingga minggu ini rumah saya selalu dibajiri oleh mangga hasil petikan dari pohon mangga yang ada di depan rumah mbah saya.

Mangga milik mbah saya itu tergolong jenis Mangga Bapang. Fisik buahnya sih memang terlihat menggemaskan, berwujud mengkal dan ranum. Namun sayangnya jika dicicipi, rasanya manis dan cenderung masam dengan air buahnya yang begitu banyak.

Berhubung adik ipar saya sedang hamil muda, maka mangga yang ranum namun cenderung masam ini jadi idola para keluarga di rumah mbah saya untuk dikirim atau diberikan ke rumah saya melulu. Tentu saja, adik ipar saya girang bukan kepalang! Hehehe…

Nah, kembali ke pembicaraan sambal mangga, jenis mangga dengan rasa seperti itulah yang saya pikir sepertinya cocok untuk dibuat sambal. Sebetulnya sih sambal mangga itu paling cocok jika menggunakan mangga yang sedang muda cenderung tua. Namun karena mangga di tempat mbah saya kebanyakan sudah matang pohon, akhirnya mangga tua itulah yang saya gunakan sebagai sambal.

Mau tahu cara membuat sambal mangga ala saya? Hehe… ini dia rumusnya!

3 buah cabai besar

5 sampai 9 buah cabai kecil

10 biji kacang tanah

½ butir bawang putih

1 buah tomat ukuran kecil

garam secukupnya

gula pasir secukupnya

daging buah mangga secukupnya (sekitar ¼ – 1/8 buah saja)

Bahan-bahannya sih biasa saja kan? Sebetulnya sama kok seperti membuat sambal. Kalau Anda sangat menyukai pedas, konon katanya sih gunakan cabai dengan ukuran ganjil. Itu mitos membuat masakan dengan cabai ala orang Jawa katanya!

Resep membuat sambal ini aslinya tidak menggunakan kacang tanah. Saya sendiri yang memodifikasi dengan menambahkan kacang tanah sebagai campurannya. Kacang tanah yang sudah digoreng sebelum diulek ini akan menambah citarasa gurih dan sedikit manis pada sambal nantinya.

Sebelum menghaluskan semua bahan, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang putih, dan  kacang tanah digoreng terlebih dahulu dengan sedikit minyak goreng. Lalu sebelum Anda memasukkan irisan buah mangga, haluskan semua bahan.

Jangan lupa, sertakan gula dan garam. Meski Anda memasukkan gula pasir dalam jumlah yang agak banyak (misal tiga sendok kecil) jangan khawatir akan terasa manis. Karena perpaduan gula dan garam itulah yang akan membuat sambal jadi terasa gurih. Gula pasir sendiri konon jika ditambahkan pada sambal, malah akan membuat pedasnya sambal makin terasa. Namun jika Anda memang ingin sambal Anda terasa menggigit, tambahkan saja jumlah cabai makin banyak. Jumlah cabai inilah yang lebih menentukan makin pedas tidaknya sambal.

Setelah bahan-bahan tersebut halus, masukkan daging buah mangga. Jika bisa, pilihlah mangga yang hampir matang karena rasa masamnya itulah yang membuat sambal jadi terasa nikmat. Saya sendiri menggunakan mangga Bapang karena buahnya yang memang masam dari sananya!

Sambal mangga ala formula saya ini rasanya jadi gurih, pedas, manis, dan asam. Klop deh rasanya! Gurihnya didapat dari campuran gula dan garam serta kacang tanah, pedasnya tentu saja dari cabai, manis dan asamnya dari buah mangga. Tentu saja, kalau rasa-rasa itu berkumpul jadi satu dalam sambal, dijamin, pedas sambal alias kapok tapi maunya terus-terus akan membuat Anda ketagihan sambal mangga ini! Selamat mencoba…

Nasi Boranan

Penjual Nasi Boranan

Penjual Nasi Boranan

Makanan yang Hanya Ada di Lamongan

Seumur-umur saya tinggal di luar kota Lamongan, mulai dari lahir di Jakarta, Bekasi, Jogja, Malang, Batam, hingga Tanjungpinang, saya tidak pernah menemukan makanan khas dari Lamongan yang satu ini, selain di Lamongan sendiri. Namanya Nasi Boranan.

Pun ketika saya mencarinya di internet, tulisan Nasi Boranan berikut fotonya begitu langka saya dapatkan. Nah, untuk para perantau asal Lamongan yang kangen dengan Nasi Boranan, kali ini saya akan mencoba mengobati rasa itu dengan tulisan yang saya buat ini.

Entah kenapa, jika saya sedang berada di beberapa tempat dan lalu mengaku dari Lamongan, pasti yang ditodong adalah Soto Lamongannya. Padahal, Lamongan punya beberapa jenis makanan yang jadi andalannya. Selain Soto Lamongan, ada Wingko Babat, Tahu Campur, dan Nasi Boranan.

Dari sekian kota yang saya singgahi, rasanya saya tidak pernah menjumpai ada orang Lamongan atau orang dari daerah lain yang menawarkan Nasi Boranan. Padahal, makanan yang satu ini menjadi menu yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Lamongan. Sehingga pantas sebetulnya apabila orang lalu bicara Nasi Boranan dengan orang Lamongan perantau, daripada bicara tentang Soto Lamongan.

Di Lamongan sendiri, Nasi Boranan memang identik menjadi sajian pada pagi hari, atau sore dan malam hari. Karena di waktu-waktu tersebut, para penjual Nasi Boranan akan mangkal di beberapa tempat berikut dengan penggemar setianya yang rela mengantri untuk bisa menikmati makanan yang satu ini.

Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Kenapa ya kok tidak pernah ada yang menjual Nasi Boranan di daerah lain? Kenapa ya kebanyakan perantau asal Lamongan lebih suka menawarkan Ayam Penyet atau Soto Lamongan meskipun jarang juga jumlahnya?”

Ternyata menurut ibu saya, Nasi Boranan itu memang biasanya hanya bisa dibuat oleh orang-orang tertentu saja. Tidak sembarang orang bisa memasak Nasi Boranan yang dapat menghasilkan citarasa enak dan pas di lidah masyarakat Lamongan.

Satu tempat yang saya tahu sebagai daerah produsen Nasi Boranan adalah di daerah Kautan yang berada di Kecamatan Lamongan. Tempatnya dekat dengan Perumnas Made, tempat saya tinggal. Di daerah inilah, para penjual Nasi Boranan di kota Lamongan rata-rata berasal dari daerah tersebut.

Jika pagi, atau sore hari, berduyun-duyunlah para penjual Nasi Boranan ini akan diantar oleh keluarganya dengan menggunakan sepeda motor. Tempat mangkalnya memang ada beberapa di kota Lamongan. Satu di antara sekian tempat yang terkenal sebagai kawasan mangkal penjual Nasi Boranan adalah di Jalan Basuki Rahmat atau yang dikenal dengan daerah Rangge.

Di jalan ini, para penjual Nasi Boranan bisa duduk di tempat itu mulai dari sore hingga larut malam. Pembelinya pun seakan tidak ada habis-habisnya. Padahal, jalan ini hanya memiliki trotoar dengan ukuran biasa dan tidak menyediakan daerah khusus untuk penjual dan pembeli Nasi Boranan.

Sedangkan kalau kata adik saya yang hobi jajan makan enak, penjual Nasi Boranan yang rasanya paling enak adalah yang ada di seberang Balai Pengobatan Muhammadiyah atau  daerah tusuk sate di Demangan.

“Pokoknya cari saja orang paling gemuk di situ. Nasi Boranan di ibu itu yang paling enak,” cerita dari adik saya.

Boran sebagai Andalannya

Nasi Boranan, disebut demikian karena makanan ini dibawa dengan sebuah wadah besar yang disebut dengan boran. Boran berbentuk tinggi, kira-kira selutut orang dewasa dengan bahan yang terbuat dari jalinan bambu. Biasanya, penjual Nasi Boranan akan meletakkan nasi di dalam boran tersebut.

Wadah yang bernama boran

Wadah yang bernama boran

Nasi Boranan sendiri sebetulnya tergolong dalam nasi campur. Campuran untuk lauk dan sayurnya lumayan sangat beragam! Untuk sayurnya sendiri biasanya berupa urap. Kalau zaman kecil saya dulu, urapnya malah menggunakan krawu.

alur, sejenis rumput yang digunakan untuk krawu dalam nasi boranan

alur, sejenis rumput yang digunakan untuk krawu dalam nasi boranan

Krawu ini beda dengan nasi krawu khas Gresik lho! Tetapi yang dimaksud krawu ini adalah sayur dari sejenis rerumputan yang segar rasanya. Krenyes-krenyes enak deh kalau dikunyah. Urap yang dicampur dengan krawu juga akan terasa lebih sedap dan manis rasanya.

Aneka lauk Nasi Boranan

Aneka lauk Nasi Boranan

Sekarang kita bicara lauknya. Wah, kalau Anda baru saja tahu yang namanya Nasi Boranan, pasti bingung memilih lauknya. Mulai dari lauk keringnya saja ada telur bebek rebus, telur dadar yang digoreng dengan tepung, juga gumpalan singkong yang digoreng dan empuk.

Lauk yang berbentuk gumpalan singkong ini berasal singkong yang dihaluskan, diberi bumbu, lalu dibentuk bulatan dan digoreng. Sedangkan empuk adalah sebutan untuk gorengan yang berasal dari gumpalan tepung berbumbu. Kedua lauk ini rasanya gurih dan agak cenderung sedikit pedas.

Sambal Nasi Boranan

Sambal Nasi Boranan

Lauk lainnya adalah sambal dari Nasi Boranan itu sendiri. Konon, sambal Nasi Boranan yang asli dibuat dari bumbu lengkap yang dicampur dengan dedak. Di dalam sambal ini bisa terdiri dari udang, ikan bandeng, ikan sili, tahu, dan tempe. Rasa Nasi Boranan memang tidak akan lengkap apabila tanpa sambal tersebut. Namun, sambal itu sendiri rasanya akan lebih asyik lagi apabila terdapat ikan sili di dalamnya.

Ikan Sili adalah sejenis ikan yang berasal dari sungai. Bentuknya mirip ikan lele, pipih memanjang, dengan panjang sekitar 10 cm. Ikan yang satu ini memiliki ciri khas rasa yang berbeda dengan ikan biasanya. Sayangnya, ikan ini tidak bisa dibudidayakan. Karena sifatnya musiman, ikan inipun terkadang bisa juga berharga mahal karena langka.

Masih ada lagi pelengkap lain dari Nasi Boranan ini yaitu peyek dan pelthuk. Plethuk berupa bubuk yang cenderung manis dan gurih rasanya.

Lebih asyik lagi bila menikmati Nasi Boranan ini adalah apabila dimakan dalam bentuk bungkusan daun pisang. Nasinya yang hangat dan dibungkus dalam daun pisang ini akan membuat siapapun pasti akan lahap menyantapnya.

Ngidam yang Menyusahkan

Ada cerita lucu berkaitan dengan betapa langkanya Nasi Boranan di daerah lain selain Lamongan. Dulu ketika ibu mengandung saya, ia yang asli Lamongan ngidam Nasi Boranan. Sedangkan mencari Nasi Boranan di Jakarta tentu saja sulit dan mustahil menemukannya.

Akhirnya demi sang jabang bayi, ibu pun harus pulang ke Lamongan selama beberapa bulan untuk memuaskan diri menikmati Nasi Boranan. Duh, kalau tahu cerita itu, rasanya saya  merasa kalau saat itu menjadi bayi yang menyusahkan orangtua deh!

Langkanya Nasi Boranan sebagai makanan yang juga saya sukai tentu saja juga sempat membuat saya kewalahan ketika jadi anak perantau. Untuk urusan panganan Lamongan, saya memang suka dengan Nasi Boranan dan Rujak Cingur.

Ketika saya kuliah di Malang, kerja di Batam dan Tanjungpinang, urusan kangen makanan daerah asal memang sulit-sulit mudah. Mudah untuk urusan Rujak Cingur, karena di kota-kota tersebut makanan itu selalu ada terjual. Tapi kalau urusan Nasi Boranan?

Di Batam yang menurut saya sebagai kota paling lengkap yang bisa menawarkan segala masakan dari daerah hingga manca, Nasi Boranan ternyata masih juga jadi makanan yang langka.

Pikir punya pikir, pernah juga sih saya terpikir, kenapa ya kok tidak ada orang Lamongan yang mau menawarkan Nasi Boranan di Batam? Kenapa berduyun-duyun menawarkan Ayam Penyet?

Padahal, masyarakat Batam hobi sekali wisata kuliner. Orang Madiun atau Ponorogo saja percaya diri untuk menawarkan Nasi Pecelnya. Jadi, cukup prospek bukan? Nah, adakah Anda para pembaca yang kebetulan tinggal di kota besar ingin mencobanya?

Adik ipar dan ibu saya yang sedang antri Nasi Boranan

Adik ipar dan ibu saya yang sedang antri Nasi Boranan

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers