
Penjual Nasi Boranan
Makanan yang Hanya Ada di Lamongan
Seumur-umur saya tinggal di luar kota Lamongan, mulai dari lahir di Jakarta, Bekasi, Jogja, Malang, Batam, hingga Tanjungpinang, saya tidak pernah menemukan makanan khas dari Lamongan yang satu ini, selain di Lamongan sendiri. Namanya Nasi Boranan.
Pun ketika saya mencarinya di internet, tulisan Nasi Boranan berikut fotonya begitu langka saya dapatkan. Nah, untuk para perantau asal Lamongan yang kangen dengan Nasi Boranan, kali ini saya akan mencoba mengobati rasa itu dengan tulisan yang saya buat ini.
Entah kenapa, jika saya sedang berada di beberapa tempat dan lalu mengaku dari Lamongan, pasti yang ditodong adalah Soto Lamongannya. Padahal, Lamongan punya beberapa jenis makanan yang jadi andalannya. Selain Soto Lamongan, ada Wingko Babat, Tahu Campur, dan Nasi Boranan.
Dari sekian kota yang saya singgahi, rasanya saya tidak pernah menjumpai ada orang Lamongan atau orang dari daerah lain yang menawarkan Nasi Boranan. Padahal, makanan yang satu ini menjadi menu yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Lamongan. Sehingga pantas sebetulnya apabila orang lalu bicara Nasi Boranan dengan orang Lamongan perantau, daripada bicara tentang Soto Lamongan.
Di Lamongan sendiri, Nasi Boranan memang identik menjadi sajian pada pagi hari, atau sore dan malam hari. Karena di waktu-waktu tersebut, para penjual Nasi Boranan akan mangkal di beberapa tempat berikut dengan penggemar setianya yang rela mengantri untuk bisa menikmati makanan yang satu ini.
Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Kenapa ya kok tidak pernah ada yang menjual Nasi Boranan di daerah lain? Kenapa ya kebanyakan perantau asal Lamongan lebih suka menawarkan Ayam Penyet atau Soto Lamongan meskipun jarang juga jumlahnya?”
Ternyata menurut ibu saya, Nasi Boranan itu memang biasanya hanya bisa dibuat oleh orang-orang tertentu saja. Tidak sembarang orang bisa memasak Nasi Boranan yang dapat menghasilkan citarasa enak dan pas di lidah masyarakat Lamongan.
Satu tempat yang saya tahu sebagai daerah produsen Nasi Boranan adalah di daerah Kautan yang berada di Kecamatan Lamongan. Tempatnya dekat dengan Perumnas Made, tempat saya tinggal. Di daerah inilah, para penjual Nasi Boranan di kota Lamongan rata-rata berasal dari daerah tersebut.
Jika pagi, atau sore hari, berduyun-duyunlah para penjual Nasi Boranan ini akan diantar oleh keluarganya dengan menggunakan sepeda motor. Tempat mangkalnya memang ada beberapa di kota Lamongan. Satu di antara sekian tempat yang terkenal sebagai kawasan mangkal penjual Nasi Boranan adalah di Jalan Basuki Rahmat atau yang dikenal dengan daerah Rangge.
Di jalan ini, para penjual Nasi Boranan bisa duduk di tempat itu mulai dari sore hingga larut malam. Pembelinya pun seakan tidak ada habis-habisnya. Padahal, jalan ini hanya memiliki trotoar dengan ukuran biasa dan tidak menyediakan daerah khusus untuk penjual dan pembeli Nasi Boranan.
Sedangkan kalau kata adik saya yang hobi jajan makan enak, penjual Nasi Boranan yang rasanya paling enak adalah yang ada di seberang Balai Pengobatan Muhammadiyah atau daerah tusuk sate di Demangan.
“Pokoknya cari saja orang paling gemuk di situ. Nasi Boranan di ibu itu yang paling enak,” cerita dari adik saya.
Boran sebagai Andalannya
Nasi Boranan, disebut demikian karena makanan ini dibawa dengan sebuah wadah besar yang disebut dengan boran. Boran berbentuk tinggi, kira-kira selutut orang dewasa dengan bahan yang terbuat dari jalinan bambu. Biasanya, penjual Nasi Boranan akan meletakkan nasi di dalam boran tersebut.

Wadah yang bernama boran
Nasi Boranan sendiri sebetulnya tergolong dalam nasi campur. Campuran untuk lauk dan sayurnya lumayan sangat beragam! Untuk sayurnya sendiri biasanya berupa urap. Kalau zaman kecil saya dulu, urapnya malah menggunakan krawu.

alur, sejenis rumput yang digunakan untuk krawu dalam nasi boranan
Krawu ini beda dengan nasi krawu khas Gresik lho! Tetapi yang dimaksud krawu ini adalah sayur dari sejenis rerumputan yang segar rasanya. Krenyes-krenyes enak deh kalau dikunyah. Urap yang dicampur dengan krawu juga akan terasa lebih sedap dan manis rasanya.

Aneka lauk Nasi Boranan
Sekarang kita bicara lauknya. Wah, kalau Anda baru saja tahu yang namanya Nasi Boranan, pasti bingung memilih lauknya. Mulai dari lauk keringnya saja ada telur bebek rebus, telur dadar yang digoreng dengan tepung, juga gumpalan singkong yang digoreng dan empuk.
Lauk yang berbentuk gumpalan singkong ini berasal singkong yang dihaluskan, diberi bumbu, lalu dibentuk bulatan dan digoreng. Sedangkan empuk adalah sebutan untuk gorengan yang berasal dari gumpalan tepung berbumbu. Kedua lauk ini rasanya gurih dan agak cenderung sedikit pedas.

Sambal Nasi Boranan
Lauk lainnya adalah sambal dari Nasi Boranan itu sendiri. Konon, sambal Nasi Boranan yang asli dibuat dari bumbu lengkap yang dicampur dengan dedak. Di dalam sambal ini bisa terdiri dari udang, ikan bandeng, ikan sili, tahu, dan tempe. Rasa Nasi Boranan memang tidak akan lengkap apabila tanpa sambal tersebut. Namun, sambal itu sendiri rasanya akan lebih asyik lagi apabila terdapat ikan sili di dalamnya.
Ikan Sili adalah sejenis ikan yang berasal dari sungai. Bentuknya mirip ikan lele, pipih memanjang, dengan panjang sekitar 10 cm. Ikan yang satu ini memiliki ciri khas rasa yang berbeda dengan ikan biasanya. Sayangnya, ikan ini tidak bisa dibudidayakan. Karena sifatnya musiman, ikan inipun terkadang bisa juga berharga mahal karena langka.
Masih ada lagi pelengkap lain dari Nasi Boranan ini yaitu peyek dan pelthuk. Plethuk berupa bubuk yang cenderung manis dan gurih rasanya.
Lebih asyik lagi bila menikmati Nasi Boranan ini adalah apabila dimakan dalam bentuk bungkusan daun pisang. Nasinya yang hangat dan dibungkus dalam daun pisang ini akan membuat siapapun pasti akan lahap menyantapnya.
Ngidam yang Menyusahkan
Ada cerita lucu berkaitan dengan betapa langkanya Nasi Boranan di daerah lain selain Lamongan. Dulu ketika ibu mengandung saya, ia yang asli Lamongan ngidam Nasi Boranan. Sedangkan mencari Nasi Boranan di Jakarta tentu saja sulit dan mustahil menemukannya.
Akhirnya demi sang jabang bayi, ibu pun harus pulang ke Lamongan selama beberapa bulan untuk memuaskan diri menikmati Nasi Boranan. Duh, kalau tahu cerita itu, rasanya saya merasa kalau saat itu menjadi bayi yang menyusahkan orangtua deh!
Langkanya Nasi Boranan sebagai makanan yang juga saya sukai tentu saja juga sempat membuat saya kewalahan ketika jadi anak perantau. Untuk urusan panganan Lamongan, saya memang suka dengan Nasi Boranan dan Rujak Cingur.
Ketika saya kuliah di Malang, kerja di Batam dan Tanjungpinang, urusan kangen makanan daerah asal memang sulit-sulit mudah. Mudah untuk urusan Rujak Cingur, karena di kota-kota tersebut makanan itu selalu ada terjual. Tapi kalau urusan Nasi Boranan?
Di Batam yang menurut saya sebagai kota paling lengkap yang bisa menawarkan segala masakan dari daerah hingga manca, Nasi Boranan ternyata masih juga jadi makanan yang langka.
Pikir punya pikir, pernah juga sih saya terpikir, kenapa ya kok tidak ada orang Lamongan yang mau menawarkan Nasi Boranan di Batam? Kenapa berduyun-duyun menawarkan Ayam Penyet?
Padahal, masyarakat Batam hobi sekali wisata kuliner. Orang Madiun atau Ponorogo saja percaya diri untuk menawarkan Nasi Pecelnya. Jadi, cukup prospek bukan? Nah, adakah Anda para pembaca yang kebetulan tinggal di kota besar ingin mencobanya?

Adik ipar dan ibu saya yang sedang antri Nasi Boranan