Jadi Mbok Jamu Kunyit Karena Typhus

Oleh: Ika Maya Susanti

Ada saat di mana hari-hari saya selama hampir sebulan penuh harus menjadi mbok jamu di setiap sore hari. Setiap pulang kuliah, saya harus memarut kunyit, memeras, dan meminumnya dengan dicampur madu terlebih dahulu.

Ceritanya sewaktu dulu kuliah, hampir sebulan saya harus isirahat di rumah Lamongan karena sakit typhus. Tapi istirahat itu tidak membuat saya pulih seperti sedia kala dalam waktu yang cepat. Bagaimana tidak, pikiran saya ada di Malang. Saya bingung memikirkan bagaimana tertinggalnya materi perkuliahan saya, tugas-tugas yang belum saya kerjakan, dan beberapa ujian dari dosen.

Akhirnya saya putuskan untuk segera kembali ke Malang meski kondisi yang belum sepenuhnya fit. Namun ada yang saya dan ibu saya khawatirkan jika saya harus kembali kuliah. Obat dari dokter yang hampir habis sementara tubuh saya tidak kunjung benar-benar sehat. Masih ada rasa nyeri di bagian perut jika saya agak banyak bergerak.

Suatu ketika, ibu saya diberitahu oleh seorang saudara untuk membuat jamu kunyit madu dan itu harus diminum setiap harinya. Dan menurut banyak penelitian, satu dari sekian manfaat kunyit adalah untuk mengobati penyakit typhus. Di hari-hari terakhir saya berada di rumah, jamu kunyit madu ini ternyata cukup terasa manfaatnya. Nyeri di bagian perut saya pun jadi agak berkurang dan tidak sehebat seperti biasanya.

Saat harus kembali ke Malang, akhirnya saya harus membawa sekantong plastik kunyit sebagai bekal. Rasanya hampir satu kilo banyaknya kunyit yang saya bawa! Ada alasan kenapa saya harus repot-repot membawa kunyit dari rumah. Kunyit yang dipakai bukanlah sembarang kunyit melainkan rimpang kunyit yang tua.

Ibu saya menyebutnya dengan empunya kunyit. Warnanya lebih tua dan hampir berwarna merah, rimpangnya lebih besar, tidak oranye muda atau berimpang kecil seperti kebanyakan kunyit yang biasa ada di pasar. Kunyit tua ini jarang sekali bisa ditemukan di pasar biasa karena umumnya orang lebih suka memakai kunyit biasa atau yang masih muda untuk memasak. Kunyit tua ini jika diparut memiliki getah yang lebih banyak dari pada kunyit biasa. Warna getahnya agak putih dan cenderung lengket.

Prosesnya biasanya saya memarut kunyit terlebih dahulu, menyeduhnya dengan air panas, lalu setelah agak dingin baru disaring dan dicampur dengan madu. Tentunya semua proses ini membuat tangan saya menjadi kuning. Tak jarang, saya sering jadi bahan olok-olok teman-teman kuliah. Tapi, ya sudahlah, yang penting saya bisa benar-benar sembuh dari sakit yang saya alami itu.

Alhamdulillah, tak sampai sebulan, rasa sakit di perut saya akhirnya hilang. Saya jadi bisa lagi bergerak dan berjalan cepat. Pasalnya selama sakit, saya harus bergerak serba lambat sambil memegangi perut. Ini sungguh sangat mengganggu aktivitas saya.

Karena sakit typhus itu terkadang kerap muncul saat saya terlalu kelelahan, biasanya jika tanda-tanda gejalanya sudah mulai terasa, kunyit inilah yang jadi andalan saya. Jika perut saya kok terasa mulai agak nyeri, lidah saya terasa pahit dan warnanya memutih, badan terasa demam, langsung deh saya mengambil kunyit untuk dijadikan obat.

Tapi karena proses membuat jamu kunyit dengan cara memarut dan memeras itu sangat membutuhkan waktu, saya tidak lagi menggunakan cara memarut dan memeras lagi. Cukup dibersihkan kulitnya lalu saya iris tipis-tipis. Potongan kunyit itu kemudian saya seduh dengan air panas. Jika sudah agak dingin, saya kemudian menuangkan madu ke dalamnya.

Beberapa teman yang tahu kebiasaan saya tersebut memang sering bergidik saat melihat saya meminum air seduhan kunyit. Selalu saja pertanyaannya, “Nggak pahit?” Dan saya hanya menggeleng samil tertawa.

Karena sering meminum seduhan kunyit, saya memang jadi terbiasa dengan rasa kunyit yang menurut saya sih, tidak pahit. Benar lho, rasanya masih lebih pahit bubuk puyer yang harus saya minum saat sakit waktu kecil! Meski tidak diberi madu, saya asyik saja meminum seduhan kunyit itu. Yah, dari pada harus meminum obat yang khasiatnya saja lebih ampuh kunyit, kenapa ia tidak jadi sahabat setia saya saja?

Referensi:

http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection/564-herbal-tanaman-koleksi-kunyit

Perlunya Pelestarian Air Tanah di Pemukiman Padat

Oleh: Ika Maya Susanti

Sudah lama keluarga saya dan banyak orang yang tinggal di pemukiman tempat saya tinggal menggantungkan kebutuhan airnya dengan mengandalkan air tanah. Semua ini bermula dari masalah betapa sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Saya dan keluarga sejak sekitar awal tahun 90-an tinggal di sebuah perumnas yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur. Oke, bayangkan saja bagaimana bentuk perumnas itu. Ada yang di satu ruas jalan terdiri dari rumah-rumah besar, hingga satu gang yang bisa terdiri dari deretan rapat rumah berukuran tipe 36.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Beginilah kondisi tempat saya tinggal yang berada di sebuah gang kecil dengan rumah tipe 36 yang berjejer rapat.

Di tempat saya tinggal, air PAM hanya mengalir di waktu-waktu tertentu saja. Sungguh berbeda dengan daerah pusat kota yang bisa mendapatkan air bersih kapan saja dari keran-keran yang ada di rumah. Itupun tergantung dengan waktu dan siapa yang tinggal lebih dulu dekat dengan aliran air. Rumah-rumah di daerah yang dilewati oleh air terlebih dahulu otomatis bisa terpenuhi dulu kebutuhannya. Sedangkan di ujung jalan yang sama, yang tidak dilewati air terlebih dahulu, nasibnya bisa sebaliknya.

Itu masih belum lagi masalah waktu pengaliran air yang terkadang jadwalnya adalah saat tengah alam atau dini hari di kala orang-orang sedang beristirahat. Ditambah dengan masalah siapa yang dapat lebih dulu, otomatis banyak orang yang kesal dengan kondisi tersebut.

Solusinya, saat di waktu awal-awal saya tinggal di sana, banyak orang giat membuat tandon air. Umumnya diletakkan di bawah yang berada di halaman rumah agar air mudah mengisi ke tandon tersebut. Tapi tetap saja, saat perumnas makin hari makin menambah rumah-rumah baru, jadwal giiliran air yang makin padat, tentunya banyak orang yang sudah sangat tidak sabar dengan masalah ini.

Beberapa orang lambat laun mulai memikirkan untuk mencari solusi lain. Ada daerah RW misalnya yang berinisiatif membuat pompa air manual bertuas untuk dipakai beramai-ramai dengan warga di sekitar tersebut. Warga dari daerah lain sampai ikut mengantri dengan membawa berbagai wadah penampung air dan dibawa atau dipikul bolak-balik ke rumahnya.

Kondisi yang melelahkan itu membuat beberapa orang mulai terpikir untuk mencoba mengebor air tanah di halaman rumahnya masing-masing. Untungnya, rumah saya termasuk yang airnya tawar dan jernih. Sementara di beberapa tempat lain di perumnas tidak demikian. Bagi keluarga saya, solusi air akhirnya terpecahkan. Sering keluarga kami juga menawarkan kepada siapa saja yang membutuhkan air bersih dari sumber air di depan rumah kami. Dan untuk air PAM, selamat tinggal! Kami akhirnya memutuskan untuk tidak lagi mengaktifkan meteran air yang ada. Asyiknya, kami tentunya tidak perlu lagi bayar air, begadang demi menunggu air yang itu pun kadang bisa jadi tidak keluar di waktu yang seharusnya, dan bisa menggunakan air kapan saja untuk kebutuhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Inilah yang kemudian menjadi andalan di hampir tiap rumah, membuat pompa air tanah.

Apa yang kami lakukan akhirnya ditiru oleh beberapa tetangga dan banyak orang di perumnas pun melakukan hal yang serupa. Namun karena keluarga kami tidak merasa yakin dengan kebersihan air tanah yang kadang bisa berwarna keruh, kami pun mengandalkan air galon. Untuk konsumsi langsung minum, kami menggunakan Aqua. Sedangkan untuk memasak, kami menggunakan air galon isi ulang.

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Untuk minum langsung sehari-hari, kami mengandalkan air dari galon Aqua

Kondisi itu sudah berlangsung sejak saya tinggal di akhir-akhir tahun 90-an. Seiring waktu, masalah pun muncul. Saat kemarau, air tanah di tempat saya jadi berkurang debitnya. Warnanya pun kerap makin keruh. Pernah juga sekitar tak sampai lima kali sejak pengeboran air tanah dibuat, kami harus memperdalam kedalaman pengeboran.

Bagaimana tidak, kondisi itu terjadi sejak para tetangga di sekitar kami juga mengandalkan air tanah. Perbandingannya bisa 20 rumah mengandalkan air tanah dan hanya satu saja yang masih setia dengan PAM!

Ini makin diperparah dengan minimnya penunjang pelestarian air tanah. Sangat minim keberadaan lahan terbuka yang memungkinkan air dari permukaan tanah jadi mudah terserap. Di tempat saya tinggal yang berada di gang kecil dengan rumah-rumah tipe 36 yang berjejer padat, hanya sedikit saja yang membiarkan halaman rumahnya tetap ditumbuhi tanaman atau pohon mangga yang menjadi pemberian awal dari pihak perumnas. Perbandingannya bisa senasib dengan kondisi siapa yang punya sumber air tanah dengan yang setia dengan air PAM. Halaman terbatas yang ada kerap digunakan pemilik rumah untuk membuat tandon air sebagai cara mengatasi masalah air di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, akar pohon mangga yang kokoh dirasa tidak cocok untuk menjadikan tanaman tersebut tumbuh di lahan yang terbatas.

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Jalan, got, dan pekarangan yang tanahnya sudah ditutup rapat. Jika sudah seperti ini, di mana orang bisa membuat biopori?

Kesadaran warga akan kelestarian lingkungan alam ini kemudian berubah sejak beberapa tahun yang lalu. Lomba lingkungan sehat yang kerap diadakan pihak kabupaten hingga nasional membuat warga sekitar pada akhirnya membuat lubang resapan biopori.

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Lubang biopori ini akhirnya dibuat di tengah jalan gang karena keterbatasan lahan yang bisa digunakan

Banyak orang tentunya sudah tahu manfaat dari keberadaan biopori. Beberapa lubang biopori yang ada mampu memudahkan tanah untuk meresapkan air dari permukaan tanah sehingga meminimalisir masalah banjir. Air resapan ini pada akhirnya juga bermanfaat sebagai cara untuk menjaga kelestarian dan volume air tanah yang ada.

Uniknya seperti gambaran yang telah saya sebutkan, lahan terbuka untuk membuat biopori di lingkungan tempat saya tinggal ini sangat terbatas. Bayangkan saja, ada seruas jalan berbentuk gang, lalu got di tepi kanan dan kiri, kemudian area rumah warga. Tentunya dengan masing-masing rumah yang rata-rata telah ditutup permukaan tanahnya.

Akhirnya biopori itu pun dibuat di tengah jalan gang! Ini hal yang sangat dilematis bagi warga di tempat saya tinggal. Pernah ada pihak yang menyalahkan kenapa ada pembuatan biopori di tengah jalan. Namun terbatasnya lahan membuat setiap orang pun harus bertanya, lantas di mana lagi biopori harus dibuat?

Cerita lain dari sulitnya usaha pelestarian air tanah adalah sikap penggunaan air tanah dalam kehidupan sehari-hari. Air tanah yang bisa keluar kapan saja membuat banyak orang terlena dengan kondisi ini. Jujur, penggunaan air tanah ini bisa membuat kami kerap tidak cermat dan irit. Sering air mengalir begitu saja di tengah-tengah aktivitas penggunaannya yang padahal dan seharusnya air itu harus dihentikan.

Sementara itu, peringatan tentang kualitas dan kuantitas kondisi air tanah sudah terlihat di beberapa tahun terakhir. Air yang makin keruh, pun volumenya yang makin sedikit. Saya tidak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisinya di 5 atau 10 tahun mendatang. Kerap saya berpikir, akankah saya dan orang-orang di sekitar saya masih bisa mengandalkan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.

Aksi pelestarian lingkungan hidup yang kerap hadir dalam bentuk lomba membuat saya terpikir andai saja ada juga penilaian tentang bagaimana warga di suatu tempat melestarikan air tanah atau bagaimana manajemen yang cerdas dari warga untuk menggunakan air yang ada. Bisa air PAM atau terutama air tanah.

Karena dari lomba yang telah ada sebelumnya, saya melihat justru dari situlah warga tergerak untuk terpacu melestarikan dan menjaga lingkungan alam yang ada. Tidak hanya agar lingkungan terlihat hijau, akan tetapi semoga esensi dari pelestarian alam yang sesungguhnya, bisa juga dimaksudkan untuk melestarikan air tanah yang merupakan bagian dari kekayaan alam yang ada.

Pernah saya ditunjukkan oleh seorang teman bagaimana sikap hidup saat ini terhadap alam mampu memiliki akibat di kehidupan yang akan datang. Waktu itu, saya begitu enteng menanggapinya. Dan tentang keberadaan air tanah, rupanya kini saya lambat laun sudah melihat bagaimana dampaknya jika kita kurang bijak dalam menggunakan sumber air tanah.

Besarnya Manfaat Tanah Bagi Kesehatan

(Termasuk, Kenapa Air Liur Anjing Harus Dibasuh dengan Tanah atau Debu)

Pagi tadi, saya merasa agak terganggu dengan jari kaki saya yang terasa gatal. Sejak SMA, saya memang punya alergi alias tidak tahan dengan detergen yang mengenai daerah jari kaki saya. Jika sudah kena detergen dalam waktu yang agak lama, ada beberapa jari saya yang langsung terasa gatal-gatal. Saya lupa istilah medisnya waktu itu. Jelasnya, apa yang saya alami itu bukanlah kutu air.

Nah, ketika itulah saya lalu teringat dengan tanah. Ya, biasanya jika jari kaki saya sedang bermasalah, yang saya ingat, dulunya saya bisa menyembuhkannya dengan cara berjalan-jalan dengan tanpa alas kaki, dan langsung menginjak tanah.

Saat teringat itu pagi tadi, ingatan saya pun jadi melayang ke sebuah artikel yang pernah saya baca yaitu tentang mengapa dalam Islam air liur anjing harus dibasuh dengan menggunakan tanah atau debu untuk mensucikannya.

Untuk lebih lengkapnya, teman-teman bisa melihat artikel yang ada di sini: http://www.indrabpm.co.cc/2010/07/bahaya-air-liur-anjing.htm

Singkat ceritanya, ternyata air liur anjing itu mengandung berbagai kuman atau bakteri penyebab penyakit. Jika setelah terkena air liur lalu mencucinya dengan air sabun saja, menurut artikel tersebut, keberadaan sabun masih belum bisa untuk membuat kuman atau bakteri itu bersih.

Hal menarik lain dari tanah yang ada hubungannya dengan kesehatan tubuh juga bisa teman-teman lihat di dalam artikel ini: http://id.shvoong.com/medicine-and-health/1750718-makan-tanah-demi-kesehatan/

Artikel tersebut cukup unik karena di dalamnya kita bisa membaca tentang manfaat mengkonsumsi tanah yang dilakukan oleh penduduk lokal Uganda dan simpanse.

Tak hanya tanah, hewan yang memiliki kehidupan sangat dekat dengan tanah pun memiliki khasiat yang sangat besar bagi kesehatan. Nah, teman-teman tentunya sudah sering kan mendengar khasiat manfaat mengonsumsi cacing tanah bagi kesehatan? Meskipun masih banyak yang merasa jijik untuk melakukannya, tapi tidak dipungkiri bahwa ada fakta tentang manfaat besar dari mengonsumsi cacing tanah bagi kesehatan, terutama untuk penyembuhan.

Setelah membaca artikel-artikel tersebut, saya jadi punya pikiran seperti ini nih:

  1. Rasanya, rumah beralaskan tanah lebih sehat dari pada rumah yang menggunakan lantai keramik ya? :D
  2. Fenomena khasiat tanah ini juga jadi membuat saya teringat dengan kebiasaan penduduk yang ada di suatu kawasan di Pulau Madura, yang menggunakan pasir untuk bagian dari rumahnya. Termasuk untuk tempat tidur. Kalau teman-teman mungkin sudah tahu, ada nggak ya hasil penelitian yang mengungkapkan korelasi positif antara kebiasaan penduduk di daerah itu dengan kesehatan mereka?
  3. Sepertinya, memungkinkan barangkali ya, adanya pengobatan alternatif dengan cara mengubur tubuh di dalam tanah? (tentu saja dengan kepala di atas tanah) :D

Kesehatan Gigi

Superman pun Sikat Gigi Dulu

            Punya anak dengan gigi sehat putih berderet seperti intan mutiara memang menjadi kebanggaan orang tua. Namun siapa yang tahan kalau mendengar anak merengek meminta ice cream atau permen yang menjadi makanan kesukaannya. Padahal, makanan tersebut sangat membahayakan kesehatan gigi.

            “Kita tidak bisa melarang mereka untuk makan ice cream atau permen. Anak kalau dilarang untuk makan itu susah sekali. Boleh saja makan asal minta mereka untuk sikat gigi setelah itu,” ujar dokter gigi Akira.

            Jika menginginkan buah hati kita memiliki gigi yang sehat, sebetulnya kebiasaan membersihkan gigi harus dibiasakan sejak usia dini. Bahkan sejak bayi mulai memiliki gigi susu.

            “Dari bayi usia empat sampai enam bulan, ia harus rutin dibersihkan giginya walau hanya baru tumbuh satu gigi. Caranya dengan menggunakan kapas atau handuk basah dan dilap giginya,” saran Akira.

            Sedangkan ketika anak menginjak usia dua tahun, mulailah kebiasaan menyikat gigi harus dimulai. Akira menganjurkan, ajarilah anak menggosok giginya dengan sikat dan pasta gigi yang mengandung fluroid. Kebiasaan berkumur juga perlu dibiasakan pada anak usia ini.

            Kebiasaan menggosok gigi ini hendaknya diawali dari kebiasaan orang tua dalam menggosok gigi yang ditunjukkan kepada anak. Untuk menanamkan anak agar senang menggosok gigi, bisa juga dimulai dari kebiasaan mendongeng yang biasa dilakukan oleh orang tua.

            “Bisa juga kan kalau pas orang tua mendongeng, diselipkan pesan-pesan agar anak jadi senang gogok gigi. Misalnya, ada Superman, dia gosok gigi juga kok, Dek,” ibu dari dua putra ini mencontohkan kebiasaan yang bisa dilakukan oleh para orang tua.

            Ketika anak sudah mulai mau melakukan aktivitas menggosok gigi, orang tua juga perlu memberikan contoh cara menyikat gigi yang benar. Baik gigi susu maupun gigi dewasa, cara menyikat gigi yang benar adalah dengan gerakan sikat dari atas ke bawah dan bukan dari satu sisi ke samping sisi yang lain. Jangan lupa, biasakan juga untuk menyikat lidah karena bagian mulut inipun bisa menyimpan sisa-sisa makanan.

            Setelah anak terbiasa untuk menyikat gigi, orang tua pun tak perlu khawatir lagi apabila melihat si kecil menikmati santapan ice cream atau permen. Asalkan mereka mau menyikat giginya seusai makan, menurut Akira tidak ada masalah.

            Selain kebiasaan menyikat gigi, konsultasi secara rutin ke dokter juga perlu dibiasakan. “Malah kalau dua sudah punya gigi pada umur dua bulan, anak harus dibiasakan dibawa berkonsultasi ke dokter gigi. Konsultasi ini dilakukan setiap enam bulan sekali,” imbuh  dokter gigi Chandra Rizal. (ika)

 

Kandungannya Bauksitnya Rusak Gigi

            Gigi berlubang, gusi bengkak, hingga gigi membusuk. Masalah-masalah tersebut memang begitu mudah ditemui dalam masyarakat di Kepulauan Riau (Kepri). Terutama bagi mereka yang tinggal di pulau-pulau terpencil.

            Maka tak heran bagi Kartika, seorang dokter gigi yang sering melakukan bakti sosial di pulau-pulau terpencil bersama dengan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI), ia kerap sampai harus mencabut gigi setiap pasiennya. Tak jarang, 20 lebih dari gigi para pasien pun bisa harus dicabutnya dalam sebuah acara bakti sosial.

            “Ini karena banyak masyarakat di kepulauan yang kurang tahu cara merawat gigi yang benar. Mulai dari cara menggosok gigi sampai faktor air di daerah Kepri yang banyak mengandung bauksit,” ungkapnya.

            Karena itu, Kartika sering mendemokan kepada masyarakat utamanya mereka yang ada di kepulauan tentang cara menyikat gigi yang benar. “Lakukan sikat gigi secara rutin terutama jangan lupa untuk mengosok gigi setiap malam,” pesan Kartika. (ika)

 

Waspadai juga Minuman Bersoda

            Jika para orangtua mencemaskan keberadaan permen, ice cream, atau makanan manis lainnya yang biasa disukai oleh anak-anak, sebetulnya ada satu jenis minuman yang juga harus diwaspadai.

            Sebetulnya, sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwasanya soda sangat tidak baik bagi kesehatan. Selain kandungan gulanya yang tidak baik bagi mereka yang utamanya mengalami kegemukan, soda juga sangat tidak baik bagi pertumbuhan gigi apalagi pada anak.

            Menurut sebuah penelitian tim peneliti dari Southern Illinois University School of Dental Medicine, kandungan asam sitrat pada minuman bersoda mampu mengikis lapisan enamel gigi 10 kali lebih kuat dari pada jus buah.

            Meski kita menggosok gigi seusai meminumsoda, etap saja, minuman bersoda mampu mengikis lapisan gigi kita dalam waktu tiga menit setelah kita meminum soda. (ika)

Menolong Korban Tenggelam

Hindari Berenang Setelah Makan

            Sering masyarakat saling menasehati agar jika setelah makan, jangan langsung berenang. Namun, jarang dari masyarakat yang mengetahui mengapa kegiatan berenang tidak boleh dilakukan sesaat setelah berenang.

            Ternyata menurut Didi Juli Handoko, Training Manager dari Jet Asia, kasus tenggelamnya seseorang saat berenang sering juga disebabkan karena kegiatan tersebut dilakukan setelah makan.

            “Yang pernah kejadian dulu juga seperti itu. Jadi habis makan langsung berenang sehingga terjadi kejang perut. Kalau bisa setengah jam setelah makan itu kita jangan dulu berenang karena ketika makanan yang sudah masuk bisa menyumbat saluran pernafasan,”jelasnya.

            Jika Anda berada di dekat kejadian dimana seseorang tenggelam, maka harus ada seseorang yang menghubungi pihak tenaga medis atau ambulan untuk datang ke lokasi kejadian. Menurut Didi, pertolongan kejadian seperti ini tidak bisa dilakukan seorang diri.

            Sementara itu jika ada dari saksi mata yang mengetahui kejadian tersebut dan bisa berenang sekaligus menyelam, orang inilah yang bisa menjadi penolong korban yang sedang tenggelam.

Jika korban masih bergerak, tolong korban dengan cara membawanya menggunakan tali. Tapi yang terpenting menurut Didi, si penyelamat juga harus dalam posisi selamat lebih dulu untuk bisa menolong korban.

            “Sedangkan kalau korban langsung tenggelam, si penolong harus berenang dan menyelam mengambil korban. Bawa dia ke permukaan dan langsung cek denyut nadinya yang berada di urat leher sambil dibawa ke tepian,”terang Didi.

            Cara menolongnya pun tidak bisa sembarangan. Letakkan kepala korban di bahu kanan, jika si penolong tidak kidal, kemudian angkat dagu korban dan letakkan di dada sebelah kanan dari penolong.

            “Yang terpenting harus diketahui ada yang namanya tehnik ABC. Urut-urutannya yang pertama itu airway atau saluran pernafasannya, breathing atau ada tidaknya nafas, dan circulation atau sirkulasi udara dari korban,”Didi mengingatkan.

            Dalam tehnik A, penolong harus melihat apakah ada atau tidak makanan yang mengganjal dan terdapat di mulut korban. Biasanya kasus orang tenggelam sering diakibatkan oleh adanya makanan yang menyumbat saluran pernafasan.

            Jika dijumpai adanya makanan yang menyumbat, penolong harus mengorek makanan tersebut dengan jari bahkan jika perlu ke bagian kerongkongannya hingga bersih dan tidak ada lagi terlihat makanan yang menyumbat.

            Sedangkan untuk tehnik B, cek ada tidaknya nafas. “Kaitkan pipi kita ke hidung korban dari situ kita bisa cek ada nggaknya nafas dari korban,”imbuh Didi yang masih mengingatkan untuk melakukan hal tersebut di saat penolong menarik korban ke tepian sembari berenang.

            Jika saluran nafas sudah bersih, tiup dua kali mulut korban dengan menutup hidungnya sambil berenang ke tepian dan cek apakah ia sudah lancar bernafas. Lalu yang terakhir adalah tehnik C dengan mengecek sirkulasi udara dari korban.

            Saat penolong sudah berhasil membawa korban ke tepian, bawa ia ke daratan yang datar. Jika korban masih belum membaik, lakukan dua kali tiupan ke mulut sambil menutup hidung dan lalu buka hidung korban. Cek apakah ada udara yang keluar lewat hidung atau tidak. Pertolongan ini dilakukan jika korban paru-parunya tidak bisa berkembang namun jantung masih berdetak.

            Kasus lain yang kadang juga terjadi adalah jika korban tidak dapat terdeteksi denyut nadinya. Jika terjadi seperti ini, lakukan juga 15 kali tekan dada selain dua kali tiup mulut.

            “Yang ditekan adalah tulang sternum yang letaknya di ujung dari tulang kita. Jadi kalau kita meraba tulang dada kita ke bawah itu ada tulang sternum yang letaknya di atas uluhati. Tekan tulang itu dengan tiga jari atas kita dengan hitungan satu detikan. Jadi hitungannya tidak asal,”ujar Didi.

            Biasanya menurut Didi, jika korban baru beberapa menit tenggelam dan bisa tertolong dengan cara-cara pertolongan di atas permukaan air, korban akan merespon dengan muntah. Namun jika yang terjadi korban sudah tenggelam lama, maka hanya kemungkinan kecil korban bisa tertolong meski sudah melewati cara-cara tadi.

            Perlu diperhatikan juga penanganan apabila korban sudah bisa bernafas setelah ditolong dengan cra-cara tadi. Posisikan tubuh korban dengan tidur miring ke arah kiri atau kanan.

Jika tubuh dimiringkan ke arah kanan, letakkan telapak tangan kiri korban di bawah pipi sebelah kanannya. Begitu juga sebaliknya. Tangan korban ditekuk ini secara tidak langsung akan menyanggah tubuh korban sehingga pernafasan lebih lancar.

“Terus selimuti tubuh korban agar hangat. Lebih baik jangan dulu dikasih makanan atau minuman. Begitu juga bau-bauan yang bisa merangsang dia agar siuman. Jangan dia dipaksa untuk sadar. Yang penting, cek saja terus pernafasannya karena sewaktu-waktu dia bisa kembali tidak lancar pernafasannya,”Didi mengingatkan. (ika)

Morning Sickness

Bisa Dipicu Maag dan Stres

            Mual, muntah, pusing, sulit nafsu makan, kebanyakan kondisi tersebut pastinya sering dialami oleh seorang wanita yang sedang mengandung. Meskipun, ada juga wanita  hamil yang tidak mengalami masalah tersebut, namun menurut dr Adri Yanti SpOG, dokter kandungan yang ada di Batam Medical Centre, 70 persen wanita hamil pasti mengalami rasa tidak mengenakkan di dua bulan awal kehamilan.

            “Penyebabnya karena adanya perubahan hormon pada ibu hamil. Akhirnya ibu hamil ada yang mengalami morning sickness. Tapi tidak hanya pagi saja. Ada juga ibu hamil yang merasa tidak enak seperti itu pada sore, malam, atau bahkan sepanjang hari,” terang Adri.

            Namun jika seorang wanita memiliki riwayat sakit maag atau memiliki kecenderungan untuk mudah panik dan bermental labil, maka kondisi tidak mengenakkan pada saat kehamilan tersebut bisa berlangsung hingga saat kelahiran tiba.

            “Untuk itulah seorang ibu perlu mendapatkan dukungan support emosi yangcukup dari lingkungan sekitarnya. Kadang memang kalau wanita hamil itu kelihatan kolokan. Tapi jangan dikira kalau dia gampang mengeluh dan manja itu merupakan keinginan dia. Siapapun wanita pastinya tidak ingin merasa sakit seperti itu,” jelas Adri.

            Dengan adanya support dari lingkungan sekitar, maka seorang wanita yang sedang hamil dan merasa bahagia serta memiliki tingkat stres yang rendah berkemungkinan untuk mengalami rasa tidak mengenakkan yang minim terjadi.

Selain kelelahan pikiran, seorang ibu hamil juga dianjurkan untuk mengurangi keaktivannya seperti biasanya. Hindari terlalu capek, banyak mengangkat beban yang berat, dan menempuh perjalanan yang jauh. (ika)

 

Hindari Minyak dan Softdrink

            Meski rasa tidak mengenakkan kerap hadir pada ibu hamil, namun tetap saja ia harus terus memenuhi kebutuhan tubuhnya untuk makan. Sampai-sampai menurut Adri, ia sering mengatakan kepada pasiennya dengan pesan, “Ayo berjuang untuk makan, untuk kesehatan ibu dan juga bayinya.”

            Menurut Adri, sesungguhnya seorang ibu bisa memenuhi kebutuhan bayinya selama satu bulan awal kehamilan jika sang ibu mengalami kondisi kurang makan dengan porsi seperti kebiasaan pada umumnya.

            Namun tetap saja, seorang ibu perlu tetap makan untuk memenuhi kebutuhan asupan tubuhnya serta bayi yang sedang dikandungnya. Jika rasa tidak mengenakkan itu ada, menurut Adri, hendaknya seorang ibu bisa melakukan pola makan yang sedikit-sedikit tapi sering.

            “Bisa dua sampai tiga sendok dulu kemudian dua jam lagi makan lagi. Sedikit-sedikit asal sering,” saran Adri.

            Lantas, makanan dan minuman apa saja yang hendaknya dihindari untuk mencegah semakin parahnya kondisi mual? Adri menyarankan untuk menghindari terlalu banyak makan yang berlemak atau mengandung minyak serta mengkonsumsi soft drink yang mampu membuat perut menjadi kembung.

            “Ada baiknya makan makanan yang hangat atau segar. Jika ingin ngemil, bisa juga dengan mengkonsumsi cracker atau makanan alternatif lainnya. Jika tidak bisa makan nasi, bisa juga diganti dengan bubur sereal atau air sop, ice cream, dan jus atau sayur sebagai pengganti cairan tubuh yang hilang,” lanjut Adri.

            Sedangkan untuk urusan ngidam yang kerap dialami oleh ibu hamil, menurut Adri hendaknya dilihat-lihat dulu makanan atau minuman apa yang diinginkan oleh sang ibu. Jika itu merupakan makanan atau minuman yang tidak membahayakan kondisi sang ibu tersebut karena sedang mengandung, tak ada salahnya untuk dipenuhi.

            “Tapi kalau membahayakan, ya jangan dituruti. Nggak ada kok hubungannya dalam medis antara ibu hamil ngidam dan tidak dituruti dengan cerita nanti anaknya kalau lahir akan mudah ngiler,” sahut Adri. (ika)

           

Rencanakan dari Tiga Bulan Sebelumnya

            Mendengar istilah merencanakan kehamilan sebelum beberapa bulan sebelumnya, pasti yang akan banyak terpikir di benak kebanyakan orang adalah menyiapkan mental dan dana yang cukup. Padahal, ada hal lain yang sama pentingnya dan perlu dilakukan oleh seorang calon ibu sebelum memutuskan untuk hamil.

            Menurut Adri, seorang ibu seharusnya mempersiapkan dirinya selama tiga bulan sebelum ia hamil. Di masa tersebut, seorang wanita yang sedang mempersiapkan kehamilannya harus memenuhi asupan asam folatnya.

            “Asam folat ini penting untuk membentuk syaraf pada bayi serta mencegah cacat pada bayi. Untuk itu pada masa tiga bulan sebelum seorang wanita memutuskan untuk hamil, ia harus memenuhi asupan asam folat yang cukup dari sayur-sayuran,” saran Adri.

            Selain itu pada seorang wanita yang merencanakan kehamilan dan memiliki kebiasaan merokok, ia tentunya harus menghentikan kebiasaannya tersebut. Demikian juga pada wanita gemuk yang sedang menjalani program diet dengan mengkonsumsi obat-obatan tertentu, juga harus menghentikan kebiasaannya tersebut.

            “Sehingga sel telur yang akan dibuahi itu nantinya dalam kondisi sehat dan berkualitas. Sebelum hamil, seorang wanita juga harus melakukan konsultasi ke dokter. Nantinya, dokter bisa memberikan saran pilihan obat-obatan mana yang bisa dikonsumsi selama masa sebelum kehamilan,” terang Adri.

            Ditegaskan kembali oleh Adri, seorang wanita yang sedang merencanakan kehamilan perlu berhati-hati dalam memenuhi asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuhnya. Karena dengan asupan yang berkualitas bisa mempengaruhi kondisi bayi yang ada dalam kandungan serta yang akan dilahirkan nantinya. (ika)

 

Evening Sickness Pun Ada

            Siapa bilang wanita hamil hanya merasakan morning sickness. Rasa tidak mengenakkan di waktu pagi itu ternyata juga bisa hadir kala sore hari atau yang bisa disebut dengan evening sickness. Itu juga yang dialami oleh Situ Nurbaya atau yang biasa akrab disapa dengan Nora.

            “Wah nggak hanya pagi saja. Kalau saya sore hari terutama kalau pas mau maghrib itu rasanya nggak enak juga. Ya mual, pusing. Jadi nggak hanya morning sickness, evening sickness juga,” aku wanita yang kini bekerja di bagian protokol Pemko Batam tersebut.

            Uniknya di kehamilannya yang kedua kali ini, Nora juga merasakan rasa tidak mengenakkan yang berkepanjangan. Jika pada kehamilannya yang pertama ia cukup merasakan rasa tidak mengenakkan tersebut hanya sekitar tiga bulan, kini di usia kandungannya yang sudah menginjak 22 minggu, rasa tak mengenakkan tersebut masih tetap ada.

            Untuk mengatasi rasa mualnya tersebut, Nora pun akhirnya mengikuti saran dokter untuk mengkonsumsi obat penghilang rasa mual. “Tapi kata dokter kalau bisa ditahan, lebih baik ditahan dulu. Kalau tidak kuat, baru minum obat,” ujar Nora.

            Untungnya, Nora tidak mengalami rasa tidak mengenakkan tersebut hingga pada kondisi yang parah. Menurutnya, ia masih bisa beraktivitas selama kehamilan dan tidak merasa terlalu terganggu dengan rasa tidak mengenakkan yang kadang kerap muncul.

            “Untuk makan aku juga nggak rewel yang sampai ngidam aneh-aneh gitu. Paling-paling hanya pengen makan yang lebih segar-segar saja,” imbuh Nora.

            Menurut dr Adri Yanti SpOG, dokter kandungan yang ada di Batam Medical Centre, normalnya, ibu hamil bisa mengalami tidak hanya morning sickness akan tetapi evening sickness bahkan bisa jadi sepanjang hari. Semua itu tergantung dengan kondisi dari ibu hamil tersebut.

            Demikian juga dengan masa morning sickness. Jika pada kebanyakan orang hal tidak mengenakkan tersebut bisa muncul hingga usia kandungan mencapai hingga dua bulan, namun ada juga yang lebih dari masa kehamilan tersebut.

            Namun ditegaskan oleh Adri, keberadaan rasa tidak mengenakkan tersebut tidak ada hubungannya dengan kualitas kehamilan. “Ada orang bilang kalau hamil tapi kok nggak sakit itu berarti ada apa-apa. Yang betul nggak ada itu kaitan antara mual dengan kualitas hamil.” (ika)

Penyembuhan dengan Oxidant Drainage Therapy

Untuk Kecantikan hingga Kanker

            Jika orang sering bicara banyak hal yang kini bisa memudahkan seseorang untuk sakit, maka sesungguhnya, banyak juga cara yang bisa dilakukan untuk menyembuhkan diri dari penyakit dan membuat tubuh tetap sehat.

            Misalnya dengan proses pengobatan Oxidant Drainage Therapy (ODT) yang inti proses pengobatannya adalah dengan mengeluarkan oksidan atau racun yang ada dari dalam tubuh melalui permukaan kulit.

            “Oksidan itu muncul karena sistem daya tahan tubuh yang terdiri dari leukosit, hormon, dan enzim dikalahkan oleh penyerang dari luar tubuh seperti bakteri atau parasit. Akibatnya imunitas tubuh menjadi lemah. Tubuh pun jadi mudah diserang penyakit,” ujar Candra P Pusponegoro, Therapyst Master Oxidant Drainage Therapy.

            Lantas dari mana oksidan tersebut dapat muncul? Menurut Candra, makanan yang mengandung pengawet, zat pewarna, pestisida, logam, minuman kaleng yang diawetkan, polusi udara yang berasal dari asap rokok, kendaraan, atau dari mesin pabrik lah yang kemudian dikonsumsi atau dihirup oleh manusia itulah yang dapat menyebabkan timbulnya oksidan di dalam tubuh.

            Akumulasi racun dlam tubuh tidak hanya berakibat pada penyerapan nutrisi yang tidak optimal. Melainkan, fungsi-fungsi organ tubuh tubuh pun bisa dapat menurun atau terganggu. Termasuk pada sistem imunitasnya.

            “Tandanya bisa terlihat seperti capek, lesu, kulit kusam, terlihat lebih tua, kehilangan gairah dan energi, mudah sakit, sembelit, demam, kelebihan berat badan, tumor, hingga flu,” imbuh Candra.

            Sayangnya, olahraga saja tidak dapat menjamin zat-zat toksi tersebut dalam tubuh bisa keluar melalui keringat, air seni, dan buang air besar. Jangankan untuk mereka yang rajin berolahraga, untuk mereka yang jarang berolahraga tentunya akan makin mengalami penumpukan toksin yang akan mengganggu kinerja organ tubuh.

            Dengan metode ODT, sekitar 100 macam penyakit bisa terobati. Mulai dari anemia, hepatitis, insomnia, kelelahan, tumor, kanker payudara, jantung, hingga ginjal pun bisa disembuhkan dengan cara ini.

Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat bisa menghubungi nomor telepon 081328712147 atau 07780422076. (ika)

 

Keluarkan Racun lewat Kulit

            Proses pengobatan dengan ODT ini sebetulnya tidak bisa ditentukan berapa waktu yang harus dibutuhkan. Karena tiap penyakit yang berbeda, berbeda pula waktu penyembuhannya.

            Cara yang pertama dilakukan adalah dengan pemeriksaan tekanan darah terlebih dahulu. Barulah setelah itu, bagian tubuh yang terdeteksi mengandung penyakit kemudian dibersihkan dengan alkohol 70 persen dan antiseptik di bagian permukaan kulitnya.

            “Setelah itu baru dilakukan anastesi yaitu bagian kulit yang akan ditoreh dicupping terlebih dahulu selama tiga sampai lima menit. Nanti kalau setelah dicupping, bagian kulit jadi menebal dan tidak akan sakit saat ditoreh. Itu untuk proses anastesinya,” jelas Candra.

            Setelah dianastesi, barulah kulit tersebut ditoreh dengan pisau bedah dengan ukuran mikro. Tahap ini sendiri disebut dengan bedah minor yang dilakukan di titik-titik tertentu dari pasien.

Karena ukuran ketajamannya yang sangat tipis, pisau ini pun tidak akan terasa pedih jika digoreskan ke permukaan kulit. Begitu juga ketika nantinya proses ODT ini selesai, bekas goresan dari pisau ini pun tidak akan meninggalkan bekas maupun luka.

“Pisaunya ini juga hanya sekali pakai saja. Satu pasien, satu pisau,” sambung Candra yang membuka praktek di Bukit Aljabar nomor 2A, Bengkong.

Usai kulit ditoreh dengan pisau, lapisan kulit atas ini kembali dicupping untuk mengeluarkan oksidan. Proses ini dilakukan berulang-ulang sampai cairan yang keluar tidak lagi berwarna merah akan tetapi sudah berbentuk getah bening.

Jika ada bagian tubuh yang mengalami gangguan kesehatan, biasanya di titik di mana dilakukan ODT tersebut akan mengeluarkan cairan berwarna merah yang lebih banyak dari pada di titik lain.

“Cairan merah itu bukan darah melainkan oksidan atau racun yang ada dalam tubuh. Tandanya jika proses cupping selesai adalah kalau warna merahnya sudah berganti dengan cairan bening,” terang Candra. (ika)

 

Tidak Ada Pantangan

            Yang unik dari proses penyembuhan ini adalah bisa dilakukan oleh siapapun. Menurut Candra, seseorang yang akan melakukan ODT tidak harus memiliki kondisi tubuh tertentu.

            “Kalau orang yang akan melakukan ODT memiliki darah tinggi, setelah melakukan pengobatan ini bisa turun tekanan darahnya. Begitu juga kalau mereka yang punya tekanan darah rendah,” imbuh Candra.

            Demikian halnya jika usai melakukan proses ODT, seseorang tidak perlu melakukan pantangan apapun. Baik itu aktivitas maupun makanan atau minuman yang akan dikonsumsinya. (ika)