Homeschooling

Latih Anak Berpikir Kreatif

Menerapkan Home Schooling Bagi Anak

            Gaya pendidikan home schooling atau sekolah sendiri di rumah bagi anak mungkin masih menjadi hal yang asing di Batam. Di Indonesia sendiri, home schooling sudah nampak mulai bermunculan. Sedangkan di Amerika, home schooling sudah menjadi hal yang tidak asing lagi bahkan perbandingannya pun fifty-fifty.

            Beragam hal yang mendorong orangtua untuk memutuskan menerapkan home schooling bagi putra atau putrinya. Seperti yang dilakukan Evy Rakryani, psikolog anak dari Batam. Ia memutuskan menarik putrinya dari pendidikan sekolah formal dan melanjutkan home schooling dengan dirinya sendiri sebagai guru.

            “Setiap hari Frida nangis terus. Ada saja yang diadukannya. Mulai dari masalah temannya atau gurunya. Saya pun sering protes tidak puas ke sekolahnya. Akhirnya saya tarik dan putuskan home schooling,” ungkap Evy yang sudah memikirkan hal tersebut sejak sekitar awal tahun 2000.

            Keputusan Evy ini pun bukan tanpa dasar atau pertimbangan. Wanita yang pernah tinggal sekeluarga dengan suaminya di Amerika Serikat ini pun mengaku awalnya mengenal seorang teman yang menerapkan home schooling bagi anaknya. Dari sanalah ia mulai menimba pengetahuan tentang apa itu home schooling berikut persiapan yang dibutuhkan.

            “Ada juga teman saya di Kuningan Jakarta yang kini memiliki home schooling. Dia bahkan bisa menunjukkan kalau anak-anaknya yang kini di perguruan tinggi bisa lebih terlihat prestasinya,” ungkap Evy.

            Menurutnya, kebanyakan anak hasil home schooling memiliki daya kekritisan yang lebih dari pada anak sebayanya. Selain itu, anak hasil home schooling rata-rata bisa melewati tingkatan sekolah lebih cepat daripada umumnya.

            Bagusnya home schooling menurut Evy sendiri adalah anak dapat belajar sesuai dengan minatnya. “Misalnya anak saya ini minatnya lebih banyak ke sains atau yang sifatnya mekanik, dia bisa lebih banyak menekuni hal itu di home schooling. Selain itu, anak hasil home schooling biasanya juga lebih kreatif. Karena dalam home schooling anak dilatih untuk berpikir kritis,” jelas Evy.

            Frida, putri Evy yang kini jika dalam tingkatan sekolah duduk di kelas lima SD inipun mengaku selama ini sering ditekankan untuk hafal tetapi kurang mengerti. Akhirnya ketika Evy mengutarakan keinginannya untuk mengajak Frida home schooling, Frida pun menyetujuinya dan bahkan merasa sangat senang.

            Home schooling ini memang bisa memungkinkan anak-anak untuk belajar dalam waktu kapan pun dan dalam kondisi apapun. Bahkan saat Evy sedang menyetir dan mengajak Frida.

            “Untuk awal-awal ini saya menerapkan belajar dari jam 8 sampai 12. Tapi nantinya bisa lebih dari itu,” imbuh Evy. (ika)

 

Tetapkan Kurikulum yang Akan Dipakai

            Menerapkan home schooling pada anak bukan berarti tidak membutuhkan patokan dalam sistem pendidikannya. Meski sifatnya fleksibel, orangtua juga membutuhkan adanya patokan kurikulum atau bahan pengajaran bagi anak.

            Seperti yang dilakukan oleh Evy. Setelah menimbang dan memperhatikan berbagai bahan pengajaran bagi putrinya, ia akhirnya memilih membuat kurikulum sendiri yang acuannya pada kurikulum Singapura dan disinkronkan dengan kurikulum Indonesia.

            “Tapi sebenarnya ibu tahu yang dibutuhkan oleh anak berdasarkan nalurinya. Yang penting materinya nyaman untuk anak,” ujar Evy.

            Sayangnya menurut Evy, ia belum tahu keberadaan komunitas home schooling yang ada di Batam. Di jakarta sendiri, para orang tua yang sama-sama melakukan home schooling bagi anaknya tidak hanya saling berkumpul dan tukar informasi. Sesekali, anak-anak home schooling ini akan dikumpulkan dan mengerjakan tugas secara bersama.

            “Bisa jadi kita bertukar anak home schooling. Atau, anak yang tingkatannya lebih tinggi bisa mengajarkan anak home schooling lain yang tingkatannya lebih rendah,” imbuh Evy.

            Bagi anak yang mengikuti home schooling, ia hanya akan mengikuti  ujian SAT yang diadakan sebagai pengakuan untuk melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Misalnya untuk anak yang dinyatakan bisa melanjutkan SMP, SMA, atau perguruan tinggi. (ika)

 

Cari Bahan Home Schooling?

            Berikut ini ada beberapa situs yang bisa membantu para orangtua yang ingin menjadi guru bagi putra atau putrinya dalam metode home schooling.

-http://www.lessonplanspage.com/

Sumber pelajaran yang dibagi berdasarkan subject seperti: math, science, social studies, music, dll. Setelah pilih subjek, kita pilih levelnya yaitu Kindergarden, 1st grade, dan seterusnya. Lalu baru dibagi menurut sub-subjek, contohnya subjek science dibagi lagi menjadi astronomy, biology, dll. Setiap lesson plan dengan jelas dijelaskan objectivenya, activitynya, dll. Resource mudah digunakan karena pembagian yang berdasarkan subjek dan level itu.

-http://www.thehomeschoolmom.com/ http://www.thehomeschoolmom.com/schoolroom/

Di sini bisa didapatkan berbagai sumber pengajaran yang dikategorikan berdasarkan topik. Ada tentang geography, tentang negara-negara, astronomy, history, serangga atau apa saja. Begitu klik di topik yang kita inginkan, akan tersambung ke website lain yang isinya bahan pelajaran tentang topik tersebut.

-http://www.ilovethatteachingidea.com/

Berisi kumpulan ide-ide pelajaran dari guru, moms, dll. Ide-idenya dibagi menurut topik subjek seperti art, science, social studies, ide untuk field trips, dll. Setiap ide juga disertai grade, misalnya yang cocok untuk kindergarten atau grade 1. Contoh under art dalam situs ini ada tentang cara membuat vas bunga dari botol, membuat bunga dari cereal, dll.

-http://www.teachyourchildrenwell.org/

Di sini ada banyak materi-materi dan bahkan membantu dalam membuat worksheet math misalnya. Ada juga maze maker, permainan mencari jalan yang sering ada di majalah anak-anak.  Di situ ini, kita bisa mendesain maze lalu diprint untuk anak-anak. Tingkatan kesulitannya pun  bisa diatur.

-http://www.homeschoolzone.com/

http://www.homeschoolzone.com/pp/index3.htm

Di website homeschool ini ada beberapa arts and crafts yang dibagi menurut festivities season atau masa perayaan tertentu. Bahkan ada resep masakan yang bisa didapat dalam situs ini.

-http://www.homeschoolmath.net/

Ini merupakan resources math untuk homeschooler. Kita bisa memprint math worksheet dari sini yang kemudian didesign sendiri sesuai level anak kita.

-http://www.earthlife.net/

Website ini berisi segala hal tentang hewan (kupu-kupu, burung, ikan dan hewan bertulang belakang). Contohnya tentang jenis-jenis burung bahkan jenis-jenis dari sarang burung.  Cukup banyak tentang hewan yang bisa dipelajari dari sini.

-http://www.homeschoolfreestuff.com/

Ini tempat mendaftar untuk mendapatkan free email issue yang berisi homeschool resources tiap minggunya. Materinya memang tidak ada di sini. Tapi jika kita mendaftarkan email kita, setiap minggu kita akan dikirimi materi berupa kurikulum, worksheet, dll. Ada pula contoh issuenya.

-http://homeschooling.gomilpitas.com/materials/Free.htm

Link ini tersambung ke banyak website-website lain yang semuanya tentang homeschool.  Ada artikel, materi, lesson plans, dll.

Pendidikan Natal untuk Anak

Berikan Pengertian Tentang Natal

            Bagi anak kecil, Natal bisa berarti banyak kado, banyak makanan enak yang lebih bisa mereka nikmati dari hari sebelumnya, atau berbagai kegiatan menyenangkan lainnya. Namun alangkah baiknya, jika sejak dini, anak pun diberikan pengertian tentang makna dari peringatan Natal.

            Misalnya, orangtua bisa memberikan pengertian tentang makna Natal, bahwasanya Natal adalah untuk memperingati lahirnya tuhan Yesus yang tugasnya menyelamatkan manusia. Untuk lebih mempermudah, berikan pengertian tersebut dalam bentuk dongeng sehingga anak-anak pun tertarik.

            Selain itu karena peringatan Natal ini diadakan tiap tahun, maka selain orangtua, anak-anak pun jga bisa mendapatkan pemahaman Natal melalui sekolah minggu yang ada di setiap gereja masing-masing.

Pada saat Natal pun, anak-anak juga bisa menikmati drama tentang kelahiran Yesus Kristus yang sering mereka dapati dalam berbagai kegiatan perayaan Natal. Untuk lebih mempermudah mereka mencerna dalam memahami, bantulah mereka dengan penjelasan yang mudah mereka terima.

            Demikan pula tentang esensi Natal. Peringatan Natal tidaklah harus yang bermewah-mewah, melainkan dalam peringatan Natal ada semangat berbagi yang harus mereka pahami. Berikan pengertian bahwasanya Natal bukan berarti identik dengan makan-makan, pesta mewah, atau hadiah yang bergelimangan.

            Dalam cerita tentang kelahiran Yesus Kristus misalnya, anak bisa mengambil hikmah, bahwasanya Yesus saja dilahirkan di tempat yang sangat sederhana. Maka ketika merayakannya pun tidak harus dengan cara yang juga mewah. (ika/bbs)

 

Jadikan Anak Sebagai Sinterklas

            Yang identik dari Natal adalah berbagi kado. Namun selama ini, sering juga anak-anak memaknainya dengan keinginan mereka yang harus dipenuhi dalam bentuk kado Natal yang mereka terima nantinya.

            Ada baiknya, mulailah kebiasaan pada mereka untuk melewati Natal dengan berbagi kado dan bukannya menerima kado. Caranya, bisa dengan mengajak mereka ke panti asuhan dan mengajak mereka untuk membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak sebayanya di panti asuhan tersebut.

            Agar lebih menarik minat mereka, jadikan mereka sebagai tokoh Sinterklas yang sedang membagi-bagikan hadiah. Anak pun jadi bersemangat untuk memberikan kado Natal dan terbiasa untuk saling berbagi.

Soal siapa yang harus diberi bisa siapa saja. Bisa saja untuk teman mereka yang paling tidak punya. Pokoknya bagikan kepada orang yang paling membutuhkan tanpa harus seiman.

Dengan cara ini, anak pun dapat terbiasa untuk melatih rasa kepedulian, kasih sayang, dan empati kepada orang lain. Dan semuanya itu nanti pasti akan bedampak sampai anak besar kelak. (ika/bbs)

Anak Suka Membantah

Saat Anak Seperti Sinchan

            Memiliki anak seperti Sinchan, tokoh utama dalam film kartun Crayon Sinchan memang membuat pusing. Bagamana tidak, jika anak yang masih berusia balita tersebut sudah pandai sekali berargumen. Jika orangtua memberitahu sesuatu, bukannya sikap menurut, akan tetapi ia justru bertanya mengapa dan bagaimana serta ini itu. Atau, malah seakan mengajak kita untuk berdebat.

            Dan tentunya, orangtua mana yang akan tega jika sebentar-sebentar menjewer bahkan memukul anak karena ulahnya mendebat ucapan kita sebagai orangtua. Meskipun jengkel dan bahkan itu sampai lepas kontrol untuk dilakukan seperti mamanya Sinchan, tetap saja rasa tidak tega dan menyesal lebih menguasai kita setelahnya.

            Lantas, cara apa yang perlu dilakukan orangtua manakala menghadapi anak yang suka membantah? “Caranya orangtua juga jangan kalah berargumen dengan anak. Waktu mengajak komunikasi atau ngobrol dengan anak ketika mereka berbuat salah, orangtua perlu mengajak mereka berkomunikasi dengan bahasa yang dimengerti dia. Ini justru meningkatkan kekritisan anak,” ujar Esther Irene Djara, ibu dari satu putri dan satu putra ini.

            Ketika ditanya apakah anak kemudian tidak menjadi suka membantah karena terbiasa diajak untuk berkomunikasi daripada langsung dihukum, Esther  justru menjawab, itu menjadi hal yang bagus untuk membangun watak kekritisan anak kelak.

            Memang sudah watak dasar dari anak untuk mempertanyakan ini dan itu jika itu dirasanya menjadi hal yang aneh atau baru. Anak pun biasanya akan menyanggah apa yang diucapkan orangtua manakala sebelumnya ia mengetahui hal yang sama dari lingkungan lain.

            Contohnya ketika anak diminta untuk tidur siang, ia bisa bertanya mengapa hal itu harus dilakukan. Atau, ia malah akan menyanggah, “Kok teman adek boleh main sama mamanya. Kenapa Adek disuruh tidur?” mungkin itu yang terlontar dari bibir mungil mereka.

            Untuk menghadapi prilaku anak seperti Sinchan tersebut, jangan juga menghadapinya seperti mamanya Sinchan, memukul ataupun mencubit anak. Meskipun kadang kita dalam posisi lelah atau anak yang kelewatan kritis untuk menyanggah.

            Seperti yang dikemukakan Esther, jika kita tidak ingin kalah dari anak, taklukan mereka dengan argumentasi-argumentasi yang cerdas dan juga yang tidak bersifat menakut-nakuti atau mengancam anak.

            Biasakan juga sebelumnya untuk membuat kesepakatan konsekuensi yang akan anak terima jika hal tersebut dilanggarnya sendiri. Dan jikalau mereka sudah melakukan seperti telah disepakati atau menjadi anak yang baik dengan menuruti apa yang kita pinta, berikan ia hadiah. (ika)

 

Penyebab Anak Suka Membantah

            Banyak hal yang menyebabkan anak suka membantah. Sebelum orangtua menanganinya, ada baiknya kita mengetahui dahulu apa saja yang membuat anak memiliki watak untuk membantah

1. Anak melihat contoh dari lingkungan sekitarnya. Misalnya ia melihat kakaknya sering membantah orangtua.

2. Anak selalu diminta untuk melakukan hal-hal di luar kemampuannya, misalnya anak disuruh mengambil buku di atas rak, padahal anak tidak mampu melakukannya, hal itu mengakibatkan  anak membantah perintah orang tua.

3. Anak memiliki keinginan yang berbeda dengan orangtua, misalnya orangtua menyuruhnya mandi padahal anak masih ingin bermain.

4. Akibat penerapan disiplin yang longgar dan ketidakmampuan orangtua untuk mengatakan ‘tidak’ pada anak.

5. Disiplin yang berlebihan, otoriter, perfeksionis dan terlalu mendominasi.

6. Akibat disiplin yang tidak konsisten. Misalnya, ibu akan mengingatkan bila anak tidak gosok gigi sebelum tidur, namun ayah membiarkannya saja.

7. Akibat situasi stress atau konflik yang sedang dihadapi orangtua.

8. Terjadi pada anak kreatif, yang tidak ingin membeo dan hanya ingin melakukan apa yang ia inginkan.

9. Akibat marah dan kecewa pada orangtua atau anggota keluarga.

10. Terjadi pada anak cerdas dan biasanya suka membantah, namun mereka tahu konsekuensi dari tingkah lakunya.

11. Anak yang lelah, sakit, lapar, atau perasaan tidak enak lainnya. (net)

 

Buka Komunikasi dengan Anak

            Untuk mengetahui kemungkinan apa saja yang menyebabkan anak membantah perkataan orangtua, cobalah membuka komunikasi dengannya sehingga kita sebagai orangtua bisa mengetahui penyebab dan alasan mengapa anak mempertahankan pendapatnya. Setelah itu, orangtua pun jadi dapat menemukan jalan keluarnya bersama-sama.

            Kalau bisa, terapkan disiplin yang konsisten, menyenangkan, dan terbuka. Maksudnya, ketika anak sudah diminta untuk mentaati peraturan, orangtuapun harus konsisten dengan apa yang sudah ditetapkan bersama anak. Juga jangan tutup kemungkinan untuk menerima masukan dari anak.

            Ciptakan juga suasana yang menyenangkan dalam keluarga. Karena jika terdapat kondisi stres dan konflik yang terjadi pada orangtua dan itu diketahui oleh anak, dapat mengurangi penghargaan anak terhadap orangtua. Ujung-ujungnya, mucul sikap negatif yang dikeluarkan oleh anak. (ika/bbs)

Anak dan Emosi

Anak Jadi Sulit Beradaptasi

            Melihat anak bisa bermain dengan teman-temannya memang melegakan hati. Namun bagaimana jika anak menunjukkan sikap yang kurang menyenangkan di depan teman-temannya. Kalau tidak sering mau menangnya sendiri misalnya dalam berebut mainan, atau justru malah gampang menangis karena kalah bermain.

            Bisakah akhirnya Anda berpikir, sebetulnya apakah yang terjadi pada buah hati Anda. Bisa jadi, mungkin Anda pun harus berpikir, adakah yang salah pada penerapan pendidikan yang Anda berlakukan pada buah hati Anda. Karena dari hasil sebuah penelitian mengatakan, bahwa agresi psikologis bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berprilaku buruk karena berbagai faktor.

             Satu diantaranya, bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak. Bila ini dialami oleh anak, bisa berefek pada sulitnya mereka untuk beradaptasi atau bahkan berujung pada berprilaku buruk. Disiplin terlalu keras dapat mempengaruhi mental anak di masa yang akan datang.

            Menurut survei, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orang tua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.

            Tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung terlihat dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.

            Agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.

            Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, dan bukan dibentak-bentak dan dimarahi. (ika/net)

 

Rasa Empati pun Dapat Berkurang

            Dari sebuah penelitian, bahwa ibu yang menerapkan disiplin dan sistem hukuman yang berlebihan, yang tidak berusaha berkomunikasi, memberikan penjelasan, pengertian dan menerapkan peraturan-peraturan yang konsisten, dan yang secara keterlaluan memarahi anak-anak mereka ataupun menunjukkan kekecewaan mereka terhadap si anak cenderung menghalangi perkembangan prasosial si anak.

Orang tua yang menggunakan hukuman keras sebagai bagian dari disiplin dalam mendidik anak mereka memiliki kemungkinan untuk menyebabkan masalah yang lebih dari sekedar hubungan orangtua-anak yang kurang mesra.

            Penelitian tersebut juga menyimpulkan anak-anak mengartikan perilaku keras tersebut sebagai tidak adanya kasih sayang dari orang tua mereka. Kebalikannya, para ibu yang bersikap hangat, menggunakan penjelasan dan tidak mengandalkan hukuman keras dalam mendisiplinkan anak-anak, mereka akan cenderung menumbuhkan rasa empati dalam diri anak-anak mereka.

            Untuk mengukur kadar rasa empati, para peneliti melihat bagaimana anak-anak tersebut bereaksi terhadap sandiwara dimana seorang peneliti wanita atau ibu dari si anak mengalami kecelakaan kaki. Si orang dewasa yang mengalami kecelakaan meringis, mengekspresikan rasa sakitnya secara verbal dan menggosok-gosok tempat yang sakit.

            Sedangkan pada usia anak pra sekolah sekitar usia 4 sampai 5 tahun, anak-anak yang agresif dan perusuh menunjukkan rasa peduli yang sama dengan teman-teman mereka. Beberapa tahun kemudian, anak-anak dengan masalah perilaku baru menunjukkan kepedulian yang kurang terhadap orang dewasa yang terluka. Pada usia mendekati 7 tahun, mayoritas dari anak-anak bermasalah ini telah kehilangan hampir seluruh dari rasa peduli mereka.

            Lebih tragis lagi, anak-anak ini juga dideskripsikan sebagai pribadi yang antisosial oleh guru mereka, dan diri mereka sendiri. Anak-anak yang disebut agresif menunjukkan ketidakpedulian mereka terhadap sesama melalui kemarahan, kekerasan, dan menertawakan ketidakberuntungan orang lain, khususnya terhadap ibu mereka. Para peneliti pun mengatakan bahwa respons ini adalah reaksi terhadap gaya asuh ibu-ibu mereka.

            Anak-anak laki-laki tersebut cenderung mengalami kesakitan secara emosionil dan, kemungkinan, fisik, dalam hubungan mereka dengan ibu mereka. Kemarahan mereka dan ketidakacuhan mereka pada saat ibu mereka membutuhkan pertolongan kemungkinan merupakan usaha mereka untuk memberikan jarak atau mengurangi rasa sakit yang mereka rasakan dalam interaksi dengan ibu mereka.

            Para peneliti memperhatikan bahwa anak-anak pra sekolah dengan masalah perilaku menjadi berkurang sikap agresifnya jika mereka diajarkan untuk peduli terhadap sesama. Menanamkan rasa kepedulian kepada anak-anak adalah cara yang baik untuk menghilangkan masalah perilaku pada anak-anak yang cenderung agresif atau perusuh pada usia dini, demikian peneliti menyimpulkan. (ika/net)

 

Orangtua Tetap Pegang Kendali

            Sedang bersantai bersama si kecil, tiba-tiba ia merengek untuk minta dibelikan barang yang menurut Anda tidak pantas untuk mereka. Jika ia langsung menurut setelah mendengar penjelasan kita, hati kita pun bisa langsung lega.

Akan tetapi jika ia justru makin merengek, ngambek, marah, atau berteriak-teriak minta pulang, berguling-guling di bawah, memukul, bahkan sampai melempar apa saja yang ada di sekitarnya. Anda pun bisa jadi kebingungan dibuatnya.

Menurut banyak ahli perkembangan dan psikolog anak, hal ini sering terjadi karena anak mengalami frustasi dengan keadaannya sedangkan dia tidak mampu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata atau ekspresi yang diinginkannya. Hal ini pun sering dialami oleh anak usia 2 sampai 3 tahun.  

Ini karena anak usia tersebut biasanya sudah mulai mengerti banyak hal dari yang didengar, dilihat maupun dialaminya, tetapi kemampuan bahasa atau berbicaranya masih sangat terbatas. Lantas apa yang bisa dilakukan oleh Anda sebagai orangtua?

Pertama, tidak usah kita ikut-ikutan marah. Karena ketika anak anda sedang mengalami ledakan emosi, baik dengan teriakan maupun tindakan fisik lainnya, dia tidak akan bisa menerima alasan atau bujukan, tetapi justru terhadap apapun yang Anda lakukan anak akan merespons secara negatif.

Di dalam kondisi tersebut, anak sedang merasa bahwa Anda telah mengabaikannya, dan semakin membuat anak merasa ketakutan dengan apa yag terjadi.

Anak akan merasa lebih tenang jika Anda tetap berada di dekatnya. Jika memungkinkan, gendong atau peluk anak anda sehingga dia akan lebih cepat menenangkan diri.

            Yang kedua, Anda sebagai orangtua harus tetap yang memegang kendali. Jangan mengikuti permintaan anak yang tidak realistik atau tidak bisa anda terima hanya untuk menghindari ledakan emosi anak. Hal ini memang sering terjadi di tempat-tempat umum seperti mall, dimana anak meminta sesuatu namun tidak Anda izinkan.

            Jadi, jika memang anak meminta sesuatu yang di luar toleransi, kita harus tegas mengatakan tidak. Jika anak menjadi marah besar dan mulai memukul ataupun tindakan lain yang membahayakan, bawalah dia ke tempat yang lebih aman hingga anak menjadi tenang. Selama anak belum tenang, jangan memberikan nasehat atas tindakannya, tetapi fokuskan hanya untuk menenangkan dirinya. Tentunya tanpa emosi ataupun bernada memarahinya. (ika/net)