Siapa dari Anda, orang dewasa yang akan membiarkan anak-anak untuk berani memegang ulat pada sebuah buah yang busuk? Atau bahkan dengan tantangan, memegang kupu-kupu yang cantik dengan sayapnya yang penuh dengan serbuk?
Yang sering ada, kebanyakan orang dewasa akan meminta anak-anak untuk menjauhinya, menganggap sebagai hal yang menjijikan, dan kotor. Nyatanya, ketakutan atau rasa tidak menyukai itu justru pada awalnya hanya dimiliki oleh orang dewasa saja dan tidak pada anak-anak.
Padahal, begitu banyak hal positif yang bisa didapat anak andai mereka diberikan kesempatan untuk lebih dekat dan mengenal hewan-hewan yang selalu diidentikkan dengan hal yang kotor dan menjijikkan tersebut. Menjadi ilmuan, menjadi peneliti, tak akan mudah dicapai jika anak tidak dikenalkan dengan dekat kepada hal-hal seperti itu.
Berawal dari pikiran itulah akhirnya saya jadi terpikir untuk mengkhususkan satu hari dalam seminggu yaitu di hari Jumat dengan mengajak anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan waktu itu, untuk mengunjungi sebuah lahan kosong yang ada di samping TPA. Di lahan tersebut memang terdapat sebuah pohon belimbing serta rerumputan liar yang tingginya sekitar selutut anak batita.
Di situ, saya mengajak anak-anak yang masih dalam kelompok target pendidikan untuk anak usia dini tersebut untuk lebih dekat dengan alam. Berteduh sambil duduk santai di bawah pohon belimbing dan menikmati hijaunya tumbuh-tumbuhan dan kupu-kupu yang lalu lalang terbang ke sana sini, bermain dengan pohon putri malu yang bisa menguncup saat disentuh, mengenalkan beberapa pohon yang tak mereka tahu namanya, mengamati gerak belalang yang mungil pada rerumputan, atau mengamati pohon belimbing dengan buah-buahnya yang hijau dan kuning bergelantungan.
Mengamati tumbuhan putri malu adalah bagian dari yang paling mereka suka di awal-awal saya mengenalkan mereka. Ada yang terheran-heran saat melihat daun dari tumbuhan itu bisa bergerak dan menguncup, ada yang ketakutan tapi lama-lama mau mencoba untuk menyentuhnya, bahkan ada yang mencoba menerangkan kepada temannya yang lain yang ketakutan tidak mau menyentuh sama sekali agar tidak takut. Padahal, usia rata-rata mereka masihlah di bawah 4 tahun.
Beberapa hewan yang dekat dengan kehidupan alam menjadi sasaran saya untuk saya perkenalkan dengan mereka. Mulai dari belalang, jangkrik, kecoa, kaki seribu, kupu-kupu di semak yang baru saja keluar dari kepompongnya, sampai belatung yang ada di belimbing busuk pun saya perkenalkan dan saya dekatkan kepada mereka.
Awalnya saya ajak mereka berpikir bahwasanya hewan-hewan itu pun sama dengan manusia, punya rumah, punya mama, punya papa. Hingga ketika ada dari mereka yang mungkin saking takutnya lalu akan membunuh si hewan, sering saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan cara empati.
“Lho nak, kok mau dibunuh? Nanti kalau orangtuanya mencari bagaimana? Kasihan kan? Kita biarkan dia pulang yuk. Biar ketemu sama mama papanya…” ujar saya jika gelagat ingin mematikan hewan mulai nampak dari sikap anak-anak saya.
Begitu juga jika itu berupa tumbuh-tumbuhan. Terkadang, anak-anak memang kerap gemas dengan tumbuh-tumbuhan lalu mencabutnya secara asal. Di situlah saya bisa menerangkan bahwasanya tumbuhan pun bisa merasa sakit.
Memang, ada beberapa macam tipe anak-anak di TPA saya. Anak saya yang bernama Naka misalnya. Pada dasarnya ia berani dan memang selalu berani dengan hewan apapun. Ada juga yang memiliki sikap penakut tetapi ikut-ikutan. Misalnya Koko atau Nisa. Jika ada temannya yang menakut-nakuuti, mereka akan ikut takut. Namun jika ada temannya yang berani, mereka bisa ikut-ikutan berebut untuk menunjukkan bahwa saya adalah anak pemberani.
Jika pada awal-awal pengenalan alam saya kerap lebih menggunakan pelajaran empati, maka di kemudian hari, saya justru mulai mendekatkan mereka pada hewan-hewan yang memang sering dipandang menjijikkan bagi kebanyakan orang.
Belatung, hewan mungil yang meski sudah berwarna putih itu kerap selalu diidentikkan dengan rasa menjijikkan. Sayangnya, sering juga banyak orang dewasa yang lantas mengajak anak-anak untuk menyikapi hewan ini dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk harus ditiru oleh anak.
Namun yang saya lakukan justru sebaliknya. Belatung itu saya perkenalkan sebagai hewan yang lucu, mengasyikkan untuk diamati cara bergeraknya, dan memiliki cerita kehidupan untuk diketahui. Walhasil, seluruh anak-anak saya jadi berani untuk memegangnya.
Usia anak-anak yang masih belia memang jadi masa tepat untuk menanamkan hal yang ingin kita harapkan berbuah dari mereka kelak. Menginginkan mereka menjadi orang besar yang hebat, tentunya perlu dari hal yang kecil dan mungkin sering dianggap diabaikan bukan? Karena dari situlah, mereka bisa belajar melihat dengan jeli, teliti, dan mengikutsertakan rasa yang positif, modal utama untuk karya-karya besar mereka kelak!
Apalagi jika kelak kita berharap ia bisa menjadi ilmuwan. Nah, bagaimana mau berani meneliti jika pada hewan-hewan tertentu saja mereka ketakutan atau merasa jijik? Jadi, pendidikan berani dan menyayangi alam itu perlu dilakukan di saat usia anak masih begitu dini!
Oleh: Ika Maya Susanti, Mantan Kepala Sekolah Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan






























