Category: Keluarga


Mengamati tumbuhan Puteri Malu

Siapa dari Anda, orang dewasa yang akan membiarkan anak-anak untuk berani memegang ulat pada sebuah buah yang busuk? Atau bahkan dengan tantangan, memegang kupu-kupu yang cantik dengan sayapnya yang penuh dengan serbuk?

Yang sering ada, kebanyakan orang dewasa akan meminta anak-anak untuk menjauhinya, menganggap sebagai hal yang menjijikan, dan kotor. Nyatanya, ketakutan atau rasa tidak menyukai itu justru pada awalnya hanya dimiliki oleh orang dewasa saja dan tidak pada anak-anak.

Mengamati Kupu-kupu

Padahal, begitu banyak hal positif yang bisa didapat anak andai mereka diberikan kesempatan untuk lebih dekat dan mengenal hewan-hewan yang selalu diidentikkan dengan hal yang kotor dan menjijikkan tersebut. Menjadi ilmuan, menjadi peneliti, tak akan mudah dicapai jika anak tidak dikenalkan dengan dekat kepada hal-hal seperti itu.

Berawal dari pikiran itulah akhirnya saya jadi terpikir untuk mengkhususkan satu hari dalam seminggu yaitu di hari Jumat dengan mengajak anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan waktu itu, untuk mengunjungi sebuah lahan kosong yang ada di samping TPA. Di lahan tersebut memang terdapat sebuah pohon belimbing serta rerumputan liar yang tingginya sekitar selutut anak batita.

Di situ, saya mengajak anak-anak yang masih dalam kelompok target pendidikan untuk anak usia dini tersebut untuk lebih dekat dengan alam. Berteduh sambil duduk santai di bawah pohon belimbing dan menikmati hijaunya tumbuh-tumbuhan dan kupu-kupu yang lalu lalang terbang ke sana sini, bermain dengan pohon putri malu yang bisa menguncup saat disentuh, mengenalkan beberapa pohon yang tak mereka tahu namanya, mengamati gerak belalang yang mungil pada rerumputan, atau mengamati pohon belimbing dengan buah-buahnya yang hijau dan kuning bergelantungan.

Mengamati tumbuhan putri malu adalah bagian dari yang paling mereka suka di awal-awal saya mengenalkan mereka. Ada yang terheran-heran saat melihat daun dari tumbuhan itu bisa bergerak dan menguncup, ada yang ketakutan tapi lama-lama mau mencoba untuk menyentuhnya, bahkan ada yang mencoba menerangkan kepada temannya yang lain yang ketakutan tidak mau menyentuh sama sekali agar tidak takut. Padahal, usia rata-rata mereka masihlah di bawah 4 tahun.

Beberapa hewan yang dekat dengan kehidupan alam menjadi sasaran saya untuk saya perkenalkan dengan mereka. Mulai dari belalang, jangkrik, kecoa, kaki seribu, kupu-kupu di semak yang baru saja keluar dari kepompongnya, sampai belatung yang ada di belimbing busuk pun saya perkenalkan dan saya dekatkan kepada mereka.

Mengamati ulat

Awalnya saya ajak mereka berpikir bahwasanya hewan-hewan itu pun sama dengan manusia, punya rumah, punya mama, punya papa. Hingga ketika ada dari mereka yang mungkin saking takutnya lalu akan membunuh si hewan, sering saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan cara empati.

Lho nak, kok mau dibunuh? Nanti kalau orangtuanya mencari bagaimana? Kasihan kan? Kita biarkan dia pulang yuk. Biar ketemu sama mama papanya…” ujar saya jika gelagat ingin mematikan hewan mulai nampak dari sikap anak-anak saya.

Mengamati kaki seribu

Begitu juga jika itu berupa tumbuh-tumbuhan. Terkadang, anak-anak memang kerap gemas dengan tumbuh-tumbuhan lalu mencabutnya secara asal. Di situlah saya bisa menerangkan bahwasanya tumbuhan pun bisa merasa sakit.

Memang, ada beberapa macam tipe anak-anak di TPA saya. Anak saya yang bernama Naka misalnya. Pada dasarnya ia berani dan memang selalu berani dengan hewan apapun. Ada juga yang memiliki sikap penakut tetapi ikut-ikutan. Misalnya Koko atau Nisa. Jika ada temannya yang menakut-nakuuti, mereka akan ikut takut. Namun jika ada temannya yang berani, mereka bisa ikut-ikutan berebut untuk menunjukkan bahwa saya adalah anak pemberani.

Jika pada awal-awal pengenalan alam saya kerap lebih menggunakan pelajaran empati, maka di kemudian hari, saya justru mulai mendekatkan mereka pada hewan-hewan yang memang sering dipandang menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Belatung, hewan mungil yang meski sudah berwarna putih itu kerap selalu diidentikkan dengan rasa menjijikkan. Sayangnya, sering juga banyak orang dewasa yang lantas mengajak anak-anak untuk menyikapi hewan ini dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk harus ditiru oleh anak.

Namun yang saya lakukan justru sebaliknya. Belatung itu saya perkenalkan sebagai hewan yang lucu, mengasyikkan untuk diamati cara bergeraknya, dan memiliki cerita kehidupan untuk diketahui. Walhasil, seluruh anak-anak saya jadi berani untuk memegangnya.

Usia anak-anak yang masih belia memang jadi masa tepat untuk menanamkan hal yang ingin kita harapkan berbuah dari mereka kelak. Menginginkan mereka menjadi orang besar yang hebat, tentunya perlu dari hal yang kecil dan mungkin sering dianggap diabaikan bukan? Karena dari situlah, mereka bisa belajar melihat dengan jeli, teliti, dan mengikutsertakan rasa yang positif, modal utama untuk karya-karya besar mereka kelak!

Apalagi jika kelak kita berharap ia bisa menjadi ilmuwan. Nah, bagaimana mau berani meneliti jika pada hewan-hewan tertentu saja mereka ketakutan atau merasa jijik? Jadi, pendidikan berani dan menyayangi alam itu perlu dilakukan di saat usia anak masih begitu dini!

Oleh: Ika Maya Susanti, Mantan Kepala Sekolah Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan

Zuhri mengajari Khansa mengaji

Lho, kok judulnya belajar tapi bermain? Hehehe… cerita anak-anak saya kali ini di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan memang sedang belajar mengaji. Lebih tepatnya, belajar mengenal huruf hijaiyah melalui buku Iqra’. Tapi, mereka juga bisa melakukannya sambil bermain lho!

Sudah dua bulan ini, saya dengan rekan-rekan di Taman Penitipan Anak mencoba mengenalkan huruf hijaiyah kepada mereka setiap paginya. Jadi setiap hari, seusai berdoa bersama, mereka akan kami panggil satu per satu untuk dikenalkan huruf hijaiyah.

Karena permintaan dari para orangtua agar anak-anak mereka yang dititipkan kepada kami diajarkan juga mengaji, jadi mulailah program belajar huruf hijaiyah itu kami adakan setiap pagi. Tentunya, tidak ada paksaan bagi mereka. Jika kita panggil mereka namun mereka tidak mau, kami pun tidak memaksa.

Caranya seperti ini, mereka akan kami panggil satu per satu, duduk di pangkuan kami, lalu kami bimbing  telunjuk mereka untuk menunjuk huruf demi huruf hijaiyah yang ada di Iqra’. Kami yang melafalkan, mereka yang menirukan. Namun seiring waktu karena beberapa dari mereka telah bisa membaca, kami pun tinggal mengarahkan telunjuk mungil mereka ke arah huruf-huruf hijaiyah secara acak, dan mereka pun yang akan membacanya tanpa harus menirukan lagi.

Kebiasaan kami mengajarkan anak-anak ini, ternyata mereka tiru lho. Anak kami yang bernama Alif usia 2 tahun 9 bulan misalnya. Menurut sang ayah, jika di rumah, gadis ciliknya ini gemar sekali mendudukkan boneka-bonekanya untuk diajari huruf hijaiyah!

Beda lagi dengan Zuhri. Anak yang memiliki kemampuan membaca huruf hijaiyah paling  bagus dibandingkan teman-temannya ini pernah suatu ketika mengejutkan saya dengan ulahnya yang juga membuat saya tersenyum geli plus bangga.

Ceritanya suatu ketika, temannya yang bernama Nisa’ dibawakan buku Iqra’ sendiri oleh ibunya dari rumah. Bukannya disimpan di dalam tas, Nisa’ justru membawa ke mana-mana buku itu untuk mainan. Meski kami sudah mengingatkannya berkali-kali untuk menyimpan buku itu di dalam tasnya.

Dan, Zuhri yang memang saya tahu punya inisiatif tinggi untuk selalu bermain di ranah sosio drama, mengajak teman-temannya untuk belajar bermain huruf hijaiyah. “Sini… sini… ta’ ajarin baca yah… yah…” ajaknya kepada Nisa.

“Mana jarinya? Gini!” Zuhri lalu meminta telunjuk Nisa’ untuk menunjuk buku, mirip seperti yang kami biasakan kepada mereka setiap kali belajar mengaji.

“Ini apa? Ba! Kalau ini… A!” tunjuk Zuhri pada tulisan ba’ berfathah dan alif berfathah.

Usai Nisa’, gantilah anak-anak yang lain diajari oleh Zuhri. Rangga, Khansa, sampai teman-teman lainnya yang tak mau pun ia kejar agar mau ia ajari.

Bukannya asal. Apa yang dibaca Zuhri yang masih berusia 3 tahun 4 bulan ini juga tepat lho! Walhasil, saya pun jadi senyum-senyum geli sendiri melihat ulah Zuhri dan kawan-kawannya. Ah, benar-benar bersyukur saya bisa menikmati keindahan dari keajaiban nalar kemampuan anak saya yang satu itu!

Sementara itu sebelumnya, saya pun pernah melihat Zuhri yang menunjukkan kemampuannya dalam mengajari Rangga berhitung dengan tangan. Angka satu sampai lima dan bagaimana jari yang seharusnya dibentuk, Zuhri ajarkan pada Rangga yang berusia tepat satu tahun lebih muda darinya.

Gaya Zuhri mirip seperti orang dewasa yang mengajari seorang anak kecil berhitung, lho! “Tiga. Ayo, tiga jarinya gimana? Begini lho…” Ia lalu mengatur jari Rangga agar menunjukkan hitungan angka tiga dengan jari.

Hm… pokoknya yang namanya hidup dengan anak-anak kecil, benar-benar akan membuat kita sering tersenyum deh melihat bagaimana mereka terkadang menunjukkan berbagai tingkah yang tak akan terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun! Padahal, orang dewasa juga pernah jadi anak kecil kan?! :D

Zuhri mengajari Nisa' dan Rangga membaca huruf hijaiyah

Zuhri ganti mengajari Khansa, sedangkan Rangga sedang mencoba merenungi apa yang baru diajarkan oleh Zuhri

Nisa mencoba meniru jejak Zuhri dengan mengajari Khansa dan Ridho

Bermain dengan Kupu-kupu

foto bersama dengan kupu-kupu

Dari sekian kegiatan-kegiatan menyenangkan yang saya lakukan dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun, kegiatan mengeksplorasi alam di lahan samping merupakan yang paling saya suka.

Sebetulnya lahan yang ada di samping TPA tersebut tidaklah bisa dibilang lahan yang sangat-sangat aman untuk anak-anak saya. Rerumputan tumbuh liar dan hampir selutut dari anak-anak saya. Tentu saja untuk ukuran lutut batita. Namun, justru di situlah saya dan anak-anak bisa mengeksplorasi berbagai kehidupan alam di sana.

Jika beberapa waktu lalu saya bercerita tentang kegiatan saya dan anak-anak mengskplorasi ulat di buah belimbing yang membusuk, kali ini saya ingin bercerita tentang kupu-kupu. Meski hewan tersebut sangat cantik dan manis, namun ternyata tidak semua anak-anak saya berani menyentuhnya, lho!

Kebetulan di hari kemarin, begitu banyak kupu-kupu yang berlalu lalang di lahan kosong tersebut. Bahkan, saya bisa menemukan dengan mudah beberapa kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

Mengamati kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

menyiapkan kupu-kupu hasil tangkapan untuk diamati bersama anak-anak

Walhasil, kegiranganlah saya menemukan bahan yang mengasyikkan untuk dibahas dan dimainkan bersama anak-anak saya. Mulai dari mengamati kupu-kupu yang terbang bebas, mengendap-endap bersama mereka memetik daun berkepompong dengan kupu-kupu yang bergelantungan dan belum bisa terbang karena baru saja terlepas dari selaput kepompongnya, menceritakan kepada mereka tentang proses kehidupan kupu-kupu, melepaskan kepergian kupu-kupu yang telah beberapa saat keluar dari kepompong untuk bisa terbang di alam bebas, hingga tentu saja acara… berfoto bersama!

Acara berfoto bersama dengan objek yang rata-rata ditakuti oleh anak-anak memang kerap sengaja saya lakukan bersama mereka sebagai jurus andalan saya untuk membujuk mereka memiliki mental pemberani. Jika dulu berfoto dengan ulat, maka sesi foto kali ini lebih terasa indah karena berfoto dengan para kupu-kupu yang cantik.

Ehem, meski begitu, ternyata masih banyak juga lho anak-anak saya yang penakut dengan kupu-kupu! Tapi demi melihat beberapa dari mereka yang hari demi hari makin pemberani dan bahkan menahan rasa takut demi bisa difoto, saya jadi makin salut dan optimis. Saya yakin, kegiatan-kegiatan seperti ini akan makin menambah anak-anak bermental kuat yang berani untuk mengeksplorasi rahasia dunia!

Mazaya dan kupu-kupu

Naka dan kupu-kupu

Tiara yang saya kenal di awal saya masuk di TPA adalah anak yang introvert. Kini, ia telah berubah menjadi gadis cilik yang pemberani, yang selalu bangga apabila saya menunjukkan ekspresi bangga terhadap keberanian yang baru saja ia lakukan.

Jika Anak Harus ke Taman Penitipan Anak

Anak-anak di TPA Qurrata A'yun Lamongan usai menggambar

Anak-anak di TPA Qurrata A'yun Lamongan usai menggambar

Anak Dipantau Perkembangannya

Ketika orangtua harus bekerja, sedangkan anak masih dalam kondisi yang belum bisa mandiri, pertanyaannya pasti mengarah kepada, “Lantas, si kecil harus dengan siapa?”

Sementara itu, kesibukan orangtua untuk tetap harus memenuhi nafkah atau mengejar karir saat-saat ini begitu sulit untuk dikalahkan. Namun tentu saja, orangtua manapun tetap tidak ingin membiarkan si kecil begitu saja melewati masa-masa golden age-nya.

Pilihannya tentu saja tidak lain menitipkan si kecil pada pihak yang bisa menjaganya. Saat ini, masih banyak orangtua yang memercayakan anak-anaknya untuk dititipkan pada kerabat atau orang yang bisa dipercaya untuk mengasuh putra putrinya selama orangtua bekerja.

Sayangnya, sebetulnya tidak semua orang bahkan keluarga sendiri sekalipun menjadi tempat yang tepat untuk menitipkan si kecil. Karena sesungguhnya, anak tidak hanya perlu menghabiskan waktunya untuk bermain saja. Mereka pun perlu untuk melewatkan waktunya dengan kegiatan yang mampu mengasah kemampuannya. Belum lagi pengetahuan tentang psikologi anak yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang.

Hingga kini, muncullah tren untuk menitipkan anak pada taman penitipan anak atau TPA. Di sana anak tidak hanya sekedar dititipkan saja. Melainkan, mereka juga diarahkan untuk mengisi waktunya dengan bermain yang edukatif.

Beberapa TPA pun kini makin melengkapi dirinya dengan agenda kegiatan demi kegiatan untuk anak yang berpatokan pada menu generik yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan. Dalam menu generik tersebut, anak per usianya memiliki target penguasaan kemampuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk aktivitas anak sehari-hari di TPA.

Selain pantauan perkembangan fisik dan penguasaan kemampuan akan beberapa hal, TPA juga memantau kesehatan anak. Bahkan jika anak dititipkan di TPA yang memberikan fasilitas makan pada anak, anak pun dapat terpenuhi kebutuhan gizinya secara ketat dan tepat.

Anak-anak juga akan belajar arti tanggung jawab dan hidup bersosial atau berbagi dengan teman-temannya. Di TPA tentu saja, semua adalah milik bersama. Permainan, fasilitas, semua membutuhkan istilah berbagi atau bergantian. Kecuali hal-hal yang dibawakan setiap orangtua untuk anak-anaknya.

Karena milik bersama, segala fasilitas pun harus digunakan dengan cara yang bertanggung jawab. Meskipun itu adalah anak kecil, mereka sebetulnya bisa lho untuk mulai ditanamkan arti kepemilikan bersama berikut kegiatan untuk menjaga bersama. Padahal, anak kecil memiliki masa-masa keakuan yang cukup tinggi. Namun ketika mereka sudah dibiasakan untuk berbagi, yakin deh, hal itu akan berpengaruh besar pada hidupnya kelak!

Selanjutnya adalah jiwa mandiri. Di TPA tempat saya, anak usia 6 bulan saja sudah ada yang bisa memegang dotnya sendiri. Bahkan itu berlangsung sebelum tidur hingga mereka benar-benar tertidur sendiri! Sedangkan jika sudah besar, mereka tentu saja bahkan kerap harus bisa memilih kegiatan yang akan mereka tekuni sendiri dan mereka sukai.

Sungguh berbeda bukan kondisinya jika anak dititipkan pada keluarga sendiri atau orang yang dipercayakan hanya merewat anak itu saja sendiri? Kebutuhan anak serba dilayani, apa-apa serba ditentukan, dan anakpun bahkan bisa jadi melewati waktunya dengan aktivitas yang kurang penting bagi perkembangannya.

Tak Tahan dengan Tangis Si Kecil

Sudah tiga bulan ini saya memegang tanggung jawab manajerial di sebuah TPA. Dan dari sekian waktu yang ada, kerap saya temui adanya beberapa orangtua yang tidak nyaman ketika anaknya telah diputuskan untuk dititipkan di TPA.

Yang pertama, mereka yang ‘terpaksa’ menitipkan anaknya di TPA karena suatu hal. Pembantu tidak bisa masuk, keluarga sedang tidak bisa menjaga anaknya, atau mendadak harus menuju suatu tempat dan tidak memungkinkan mengajak si kecil.

Untuk golongan yang pertama ini termasuk pihak yang saya sayangkan. Mereka kerap begitu teganya mengabaikan tangisan si kecil yang tidak dipersiapkan untuk dibawa ke TPA, dan berpikir jika pasti cukup hanya sekali itu saja mereka menitipkan anaknya di TPA!

Walhasil, saya dan para pengasuh lainnya lah yang kemudian kewalahan menghadapi fluktuatif emosi dari si kecil ini. Kegiatan bermain dan belajar dari anak-anak lainnya pun harus kacau karenanya. Kerap saya temui, anak-anak yang terbiasa dititipkan di TPA menjadi terganggu konsentrasi dan kondisi psikologinya hingga akhirnya kerap ikut-ikutan menjadi emosional.

Golongan kedua adalah orangtua yang tidak tega kala melihat dan mendengar anaknya menangis. Ketika sudah memutuskan untuk menitipkan anaknya di TPA, lalu mendengar si kecil menangis tidak terima, tidak sedikit orangtua yang kemudian mencabut kembali anaknya dengan alasan yang selalu karena “tidak tega!”

Malah, saya pernah menemukan alasan tersebut terlontar oleh seorang pendidik yang notebene juga seorang guru TK yang pada awalnya menitipkan anaknya di TPA tempat saya. Kala itu saya hanya geleng-geleng kepala dan berpikir, bagaimana bisa seorang pendidik anak usia dini tidak memahami bahwasanya anak memiliki tahapan proses adaptasi.

Sempat juga suatu ketika saya tercetus pada teman dari seorang orangtua yang khawatir akan anak temannya yang terus menangis ketika akan dititipkan di TPA. “Anak tidak akan mati karena menangis!” demikian seru saya kala itu karena saking gemasnya.

Mungkin, siapapun bisa beralasan jika saya mudah mengucapkan itu karena saya masihlah seorang lajang yang belum memiliki anak kandung sendiri. Namun yang saya tahu dan kerap saya temui, untuk mereka yang paham akan psikologi anak-anak dan memang sudah memiliki anak, mereka bisa paham jika anak memang akan berperilaku seperti itu sebagai wujud masa adaptasinya.

Yah, jangankan anak kecil, orang dewasa pun akan memiliki rasa was-was kala berada di tempat baru dengan orang-orang yang semuanya baru dikenalnya. Jadi pahamilah, berempatilah, dan kondisikanlah anak jika Anda akan memutuskan menitipkan si kecil di TPA.

Ajak Si Kecil Berkomunikasi

Datang pertama kali, dan harus ditinggal selama hampir 5 jam lebih! Bayangkan saja jika Anda yang sudah dewasa berada dalam kondisi seperti si kecil yang tiba-tiba dibawa dan diletakkan di tempat yang belum pernah dikunjungi berikut orang-orang baru yang tak pernah dikenalnya.

Begitulah gambaran saya tentang beberapa anak baru di TPA. Panik mereka pun tentu saja bukan main. Versinya bisa macam-macam. Ada yang menangis berteriak-teriak, sesenggukan menangis ditahan dengan sedikit suara, dan segala versi kegiatan menangis lainnya.

Berbeda tentunya dengan anak-anak yang dibawa ke sebuah sekolah baru, playgroup atau TK di mana itu menjadi awal bagi mereka mengenal bangku pendidikan. Kebanyakan dan yang selalu ada, anak-anak ini akan ditemani di masa-masa awal hingga bahkan waktu pulang sekolah.

Masa ketika akan diajak sekolah pun kerap digunakan para orangtua untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil. “Nak, besok kamu akan sekolah lho. Ketemu teman-teman baru. Bisa belajar sambil bermain!” Hm, terdengar menyenangkan bukan?!

Berbeda dengan anak-anak yang akan dititipkan di TPA untuk pertama kalinya. Yang sering ada dan sering saya ketahui, mereka seperti anak-anak yang dibawa ke sebuah tempat, tanpa dikomunikasikan terlebih dahulu, dan ditinggalkan menangis dengan rasa tega atau dibuat tega oleh orangtuanya!

Sering saya berpikir, mengapa sih harus seperti itu? Mengapa mereka tidak mengomunikasikan terlebih dahulu dengan si kecil? TPA memang nantinya akan menjadi tempat yang menyenangkan bagi anak-anak. Ada teman yang banyak, permainan yang banyak, mengapa tidak itu juga yang dikomunikasikan kepada anak yang akan dititipkan di TPA?

Lantas yang kerap buat saya lebih geregetan lagi, ada dari orangtua yang kemudian akan memarahi si kecil bila ketahuan menangis terus selama di TPA pada hari itu. Duh duh duh… bisa empati nggak ya sama perasaan anak kecil? Kok ya tega tanpa berpikir jika mereka telah tega untuk merenggut waktu si kecil jauh dari mereka yang notebene orangtua kandungnya dan memilih untuk bekerja atau mengejar karir?

Jadi bila Anda membaca tulisan ini dan terbersit untuk menitipkan si kecil di TPA, baik dengan alasan tidak ada yang menemani si kecil maupun dengan alasan cerdas agar si kecil bisa beraktivitas dengan pintar, tolong, cobalah untuk berkomunikasi terlebih dahulu dengan si kecil.

Anak-anak, meskipun mereka kecil dan kita adalah orang dewasa, tetaplah sosok yang perlu dan bisa untuk diajak berkomunikasi. Jika orangtua kemudian datang ke TPA, mengenalkan guru-guru atau para pengasuh TPA kepada si kecil, lantas menunjukkan hal-hal apa saya yang bisa menyenangkan bagi si kecil, yakin deh, anak manapun akan berproses untuk mencoba mengerti dan menerimanya.

Selanjutnya, biarkan mereka untuk berproses beradaptasi. Memang, menangis adalah pilihan anak untuk beradaptasi pada hal-hal yang tidak atau sama sekali belum dikenalnya. Namun percayalah, lambat laun hal yang bagi mereka serba tidak mengenakkan itu akan berubah menjadi menyenangkan.

Hehehe, buktinya sekarang, sering sekali saya temui anak-anak saya di TPA tidak mau diajak pulang oleh orangtuanya dari TPA. Bahkan, ada yang sudah tidak dititipkan lagi di TPA tapi kemudian meminta sendiri ke orangtuanya untuk kembali ke TPA. Ketagihan asyiknya di TPA sih!

Ulat Itu Hewan yang Lucu

naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

Saya kadang suka geli sendiri apabila ada orang yang phobia terhadap hewan-hewan tertentu. Misalnya, takut belatung, kecoa, ulat bulu, atau belalang. Memang, mungkin sayalah yang tergolong unik karena bagi kebanyakan orang, beberapa dari hewan tersebut termasuk menjijikkan. Namun, ada baiknya kan jika kebiasaan berani pada hewan-hewan tersebut ditanamkan pada anak-anak usia dini?

Apalagi jika kelak kita berharap ia bisa menjadi ilmuwan. Nah, bagaimana mau berani meneliti jika pada hewan-hewan tertentu saja mereka ketakutan atau merasa jijik? Jadi, pendidikan berani dan menyayangi hewan itu perlu menurut saya!

Berawal dari pikiran itulah akhirnya saya jadi terpikir untuk mengajak anak-anak saya di TPA untuk tidak hanya sekedar mengenal hewan. Mulai dari belalang, jangkrik, kecoa, kaki seribu, sampai belatung yang ada di belimbing busuk pun saya perkenalkan dan saya dekatkan kepada mereka.

Awalnya saya ajak mereka berpikir bahwasanya hewan-hewan itu pun sama dengan manusia, punya rumah, punya mama, punya papa. Hingga ketika ada dari mereka yang mungkin saking takutnya lalu akan membunuh si hewan, sering saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan cara empati.

“Lho nak, kok mau dibunuh? Nanti kalau orangtuanya nyariin gimana? Kasihan kan? Kita biarkan dia pulang yuk. Biar ketemu sama mama papanya…” ujar saya jika gelagat ingin mematikan hewan mulai nampak dari sikap anak-anak saya.

Memang, ada beberapa macam tipe anak-anakdi TPA saya. Anak saya yang bernama Naka misalnya. Pada dasarnya ia berani dan memang selalu berani dengan hewan apapun. Ada juga yang memiliki sikap penakut tetapi ikut-ikutan. Misalnya Koko atau Nisa. Yang peragu dan musiman sikapnya pun ada. Kadang penakut, kadang bisa jadi berani! Hehehe…

Ketika kemarin-kemarin saya kerap lebih menggunakan pelajaran empati, maka akhir-akhir ini saya justru mulai mendekatkan mereka pada hewan-hewan yang memang sering dipandang menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Kebetulan, di samping TPA yang saya kelola, ada sebidang tanah kosong yang tidak terlalu bersih dari rerumputan. Sebatang pohon belimbing berada di sana. Sesekali, saya kerap menemukan belimbing busuk yang tentu saja bisa ditebak hewan apa yang ada di dalamnya. Yap, belatung!

Hewan mungil yang meski sudah berwarna putih itu kerap selalu diidentikkan dengan kejijikan. Yah, karena tempatnya yang memang berada di kondisi buruk. Sayangnya, sering juga banyak orang dewasa yang lantas mengajak anak-anak untuk menyikapi hewan ini dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk harus ditiru oleh anak.

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Namun yang saya lakukan justru sebaliknya. Belatung itu saya perkenalkan sebagai hewan yang lucu, mengasyikkan untuk diamati cara bergeraknya, dan memiliki cerita kehidupan untuk diketahui. Walhasil, seluruh anak-anak saya jadi berani untuk memegangnya.

Hewan lain yang bisa saya amati bersama anak-anak di lahan kosong itu adalah kaki seribu. Hm… sayangnya saya lupa nama asli hewan ini. Hanya saja di daerah saya, kami menyebutnya kluwing. Bentuknya sering hanya paling panjang sepanjang jari kelingking, berwarna merah, berkaki banyak hingga karena itulah ia dijuluki si kaki seribu, dan sering melingkar untuk melindungi dirinya.

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Awalnya anak saya bernama Koko yang menemukannya. Bentuknya sudah dalam posisi melingkar ketika ia bertanya apakah yang sedang dipegangnya saat itu. Saya yang tahu jika Koko kadang adalah anak yang penakut untuk hewan-hewan yang tak dikenalnnya, jadi senyum-senyum juga saat tahu Koko berani memegangnya. Mungkin waktu itu ia berpikir jika apa yang dipegangnya adalah bukan hewan.

Namun ketika si kaki seribu itu saya genggam dan kemudian menunjukkan bentuk aslinya yang memanjang, barulah mulai gelagat ketakutan muncul di wajah anak-anak saya, kecuali Naka. Apalagi ketika saya biarkan ia berjalan di tangan saya, suara ha hi langsung keluar dari bibir-bibir mungil mereka.

Lambat laun rasa ketakutan mereka berubah saat mereka melihat bagaimana hewan tersebut santai berjalan merambat di tangan Naka dan lalu Syaif. Barulah mereka lantas mencoba berebut ingin ikut memegangnya.

Usia anak-anak yang masih belia memang jadi masa tepat untuk menanamkan hal yang ingin kita harapkan berbuah dari mereka kelak. Menginginkan mereka menjadi orang besar yang hebat, tentunya perlu dari hal yang kecil dan mungkin sering dianggap diabaikan bukan? Karena dari situlah, mereka bisa belajar melihat dengan jeli, teliti, dan mengikutsertakan rasa yang positif, modal utama untuk karya-karya besar mereka kelak!

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers