Jangan Letakkan Telur dalam Satu Keranjang
-
Peluang Investasi di Tahun 2009
Ibarat meletakkan telur, jangan letakkan telur di satu keranjang. Karena jika keranjang itu jatuh, maka habislah telur yang kita miliki. Itulah yang disarankan oleh Uya Kuya, artis sekaligus pengusaha yang memiliki lahan bisnis di beberapa bidang ini dalam sebuah acara talkshow yang ada di televisi TV One pada hari Selasa (30/12) ini.
Dalam acara tersebut, hadir juga Safir Senduk, konsultan keuangan yang meskipun masih muda, namun kemampuannya dalam memberikan saran di bidang keuangan sudah diakui oleh masyarakat luas.
Bicara tentang prospek ekonomi di penghujung tahun, tak ayal lagi, pastilah membicarakan apa yang bagus dan tidak untuk bidang ekonomi di tahun berada dalam naungan shio kerbau tersebut.
“Pada dasarnya jika kita bicara investasi, ada dua macam, bisnis atau non bisnis?” ujar Safir. Bicara bisnis, maka yang dimaksud adalah menanamkan sejumlah uang untuk melakukan usaha. Misalnya seperti membuat usaha makanan.
Sedangkan jika kita bicara nonbisnis, maka yang dimaksud adalah menanamkan sejumlah uang untuk reksadana atau surat hutang seperti ORI. Dan menurut Safir, justru inilah yang memang kecil resikonya untuk tahun 2009 yang konon katanya masih tidak stabil.
“Memang jika bicara stabil atau tidak stabil, bisa jadi dua minggu ke depan, atau sebulan nanti, kondisi tidak stabil itu bisa terjadi,” imbuh Safir.
Namun jika ingin berbisnis, sebetulnya syaratnya cukup lakukan saja, tanpa berpikir apakah ini nantinya akan untung atau rugi. Meskipun sebetulnya jika seseorang ingin menginvestasikan uangnya dalam bisnis, ia bisa jadi akan mereguk keuntungan yang lebih atau cukup besar, namun dengan resiko yang juga akan besar.
Lantas Safir pun menyarankan apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengivestasikan uang di tahun 2009 nantinya. Jika kita ingin berinvestasi dalam bidang nonbisnis, pilihlah bentuk investasi yang akan memberikan bunga atau keuntungan yang stabil. Berinvestasi dalam bentuk saham memang akan menimbulkan kemungkinan yang berfluktuatif.
Bagaimana dengan bentuk investasi dalam bisnis? Uya Kuya pun memberikan tipsnya. Satu di antaranya adalah kita sebagai orang yang akan berinvestasilah yang harus turun sendiri ke lapangan untuk melihat apa yang mungkin kita kembangkan kelak.
Safir pun menambahkan, jadilah pebisnis yang memiliki perbedaan. Jika kita terjun dalam dunia bisnis di mana mereka yang bergerak di bidang itu sudah cukup banyak, maka milikiah keperbedaan yang tidak dimiliki oleh bisnis lain.
Karena dalam berbisnis seseorang harus menemukan ritme terdahulu bagaimana masyarakat membutuhkan produknya, maka Safir pun mengungkapkan bahwasanya bisnis dengan bentuk franchise atau waralaba adalah pilihan yang memiliki resiko tidak seberapa besar.
“Kita tidak perlu mencari ritmenya dulu seperti yang dilakukan oleh Uya misalnya, yang baru tahu ritme usahanya di masyarakat setelah tiga bulan lebih dulu. Karena itu, franchise terhitung lebih aman,” ujar Safir.
Sebaliknya, bisnis yang membuat orang kemudian menempuh kredit lewat bank memang bisa jadi masih riskan di tahun depan. Ini tentu saja menyangkut suku bunga yang masih tinggi di dalam dunia perbankan.
Semua Orang Suka Pisang
Prinsip tidak menaruh telur dalam satu keranjang dilakukan oleh Uya ketika rejeki yang ia peroleh dari dunia hiburan berada dalam sakunya. Terjun ke dalam dunia bisnis pun akhirnya dipilih oleh artis yang kondang dengan acara Hari yang aneh di Anteve atau Playboy Kabel di RCTI.
Tengok saja sederetan usaha yang ia coba. Mulai dari pisang goreng, distro, showroom, siomay Bandung, sampai Bakso Malang ia jelajahi. Semuanya bisa dibilang dapat bertahan dan tidak rentan alias buka tutup. Apa yang menjadi rahasianya?
Meskipun dalam dunia hiburan Uya terlihat sebagai pribadi yang kocak dan konyol, namun ternyata di dalam menggeluti dunia bisnis, Uya adalah pribadi yang serius dan penuh dengan perhitungan sebelum melangkah.
Misalnya dalam bisnis pisang gorengnya. “Jujur, saya memang tidak suka pisang mentah yang maksudnya belum diolah. Tapi kalau pisang itu sudah dimasak atau diolah, saya suka,” akunya.
Ketika ia melirik pisang sebagai sesuatu yang bisa diolah, Uya pun mencoba terlebih dahulu dengan melihat pasar yang ada. “Saya sering beli pisang goreng di mana-mana. Saya coba, dan saya makan juga dengan teman-teman saya. Setiap saya memberinya ke teman-teman saya untuk dicoba, saya minta mereka untuk menilai,” kisahnya.
Di dalam proses itulah, Uya tetap mencoba terus resep pisang yang sedang dipersiapkannya. Saat resep itu sudah siap, ia pun melakukan langkah yang sama yaitu memberikannya kepada teman-temannya untuk dicicipi dan dinilai.
“Ya tentu saja, saya tidak bilang kalau itu pisang goreng saya sendiri. Nanti kalau tahu, mereka jadi bilang enak karena takut nggak enak sama saya,” selorohnya tapi itu merupakan hal sungguhan yang ia bagi sebagai tips darinya.
Pisang goreng sendiri menurutnya adalah makanan yang bisa dibeli oleh kebanyakan orang pada saat kapanpun meskipun itu di saat makan pagi, siang, malam, atau di luar waktu-waktu tersebut.
“Segementasi produk saya memang untuk kalangan menengah yang sebetulnya bisa untuk semua masyarakat. Mereka yang naik mobil, motor, jalan kaki, atau siapa saja saya harapkan memang pada akhirnya menyukai produk saya,” akunya.
Setelah usahanya berdiri, ia pun menunggu usahanya tersebut sampai terlihat stabil. Dan begitu seterusnya yang Uya lakukan pada usaha-usahanya yang lain. Menurutnya, terjun langsung untuk melakukan riset adalah hal yang penting.
“Untuk siomay Bandung atau Bakso Malang, saya juga terjun datang langsung ke Bandung dan Malang. Misalnya Bakso Malang, yang saya tahu di sana, Bakso Malang yang asli itu adalah bakso yang makannya dicocol dengan saos tomat yang itu hanya asli ada di Malang,” ujar Uya yang akhirnya mengaku mengimport langsung, demikian istilah untuk apa yang telah ia lakukan, saos tomat tersebut dari Malang secara langsung.
Bagi Uya, usaha jajanan ataupun baju sekalipun tidak akan mati meski krisis melanda. Karena, makanan atau baju tetaplah merupakan kebutuhan primer. “Kalau krisis, apakah berarti orang kemudian tidak butuh baju?”
Bagaimana Uya memantau usaha-usahanya yang ada di berbagai tempat tersebut? Caranya dengan mengunjunginya setiap kali ia shooting dan berada dekat dengan tempat usahanya. “Kalau ingin makan kan tinggal mampir saja. Tapi saya tetap bayar habis berapa saja, itu agar tetap balance keuangannya,” aku Uya.
Tips untuk mereka yang ingin berinvestasi di dunia bisnis:
-
Pilih produk yang disukai oleh kebanyakan orang.
-
Lakukan riset dengan turun sendiri ke lapangan
-
Jika telah ada usaha serupa, buatlah perbedaan yang merupakan ciri khas usaha Anda
-
Jika sudah diputuskan untuk berdiri, lihat ritmenya dalam beberapa bulan
-
Tunggu ritmenya hingga stabil sebelum membuka usaha baru lainnya












