Ketika Bromo Sudah Membuka Diri Lagi

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.

Bromo Gulita Menjelang Fajar

Bromo Gulita Menjelang Fajar

 

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

 

Para Pemburu Matahari Terbit

Para Pemburu Matahari Terbit

 

Laskar 'Ojeg' Berkuda

Laskar 'Ojeg' Berkuda

 

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

 

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

 

Kawah Bromo

Kawah Bromo

 

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Pasar Buah Ranuyoso, Lumajang

Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Kebun Raya Mini ala Bumiaji

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu


Bumiaji, Kota Batu

Bumiaji, Kota Batu

Jika di Bogor atau Pasuruan ada kebun raya, di Kota Batu atau tepatnya di Kecamatan Bumiaji, ternyata ada juga sebuah kebun raya mini yang tak kalah cantiknya. Letaknya ada di lereng gunung dan hampir berada di puncak dari perbukitan Kota Batu.

Tempat ini sendiri memiliki julukan arboretum atau kebun percobaan. Jika menurut Sulvi, satu dari mahasiswi Universitas Negeri Malang jurusan Biologi, arboretum menjadi surga dari  anak-anak Biologi, bidang studi yang dipilihnya.

Julukan kebun raya mini memang bisa mengena untuk tempat ini. Berbagai jenis tumbuhan ada dan ditanam di sana berikut nama-namanya. Anda bisa menemukan Pohon Kina yang bisa digunakan sebagai obat malaria, Paku Pohon yang berbentuk paku-pakuan tapi bisa tumbuh besar sebagai sebuah pohon, Kayu Manis, dan segala macam jenis tumbuhan lainnya.

Sayangnya saya kurang bisa mengajak bicara pengelola dari tempat itu. Yang saya tahu, di dekat pintu masuknya saja ada sebuah pohon sejenis cemara yang ditanam pada tahun 1992.

Hingga kini, tempat ini sering dijadikan kegiatan penelitian misalnya oleh para mahasiswa yang membutuhkan tempat ini sebagai bahan pembelajaran, sebagai wahana rekreasi oleh masyarakat, hingga kegiatan mahasiswa seperti diklat alam yang saya ikuti oleh adik-adik saya di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang.

Memang, tempat ini cukup cantik untuk dijadikan tempat rekreasi. Pengelola tempat ini sendiri memberikan beberapa sentuhan yang makin membuat siapapun menjadi nyaman untuk berada di sana.

Misalnya saja jalan setapak yang ditanami Bunga Panca Warna atau yang kadang juga disebut Bunga Desember. Bunga dengan kelopak-kelopak kecil yang mengumpul menjadi gerombolan berbentuk bulatan besar ini akan membaut gemas siapapun yang melihatnya. Warnanya yang bisa berubah-rubah membuat tempat itu seakan-akan memiliki beberapa jenis bunga yang berbeda warna.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Bunga Panca Warna memang memiliki beberapa fase pergantian warna. Mulai dari putih, kuning, biru, semburat keunguan, merah, atau beranjak ke jingga. Sayangnya, saya tidak hapal fase pergantian warna dari bunga ini.

Bunga Panca Warna

Bunga Panca Warna

Beberapa jembatan juga dibuat berjenjang di beberapa tempat. Karena tempat ini merupakan lereng bukit, maka kontur tanah di daerah inipun tidak rata. Dan jika Anda berdiri di pinggir sungai yang mengalirkan air dari sumbernya, maka Anda akan bisa melihat jembatan yang melintang dengan berjenjang.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Tak hanya pepohonan dan bunga yang ditanam dengan sengaja dan teratur, beberapa tumbuhan liar baik yang berbunga maupun tidak juga ikut tumbuh dan menambah kecantikan dari tempat ini.

Bunga liar

Bunga liar


Bunga di Arboretum

Bunga di Arboretum

Di tempat ini sendiri juga sebetulnya terdapat satu dari sekian sumber mata air dari Sungai Brantas. Kejernihan airnya bisa menghapus siapapun yang mungkin pusing jika pernah mengetahui betapa kotornya sungai itu ketika berada dalam garis menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Surabaya.

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Kecantikan tempat ini juga mengasyikkan bagi mereka yang mencintai dunia fotografi. Apalagi bagi mereka yang ingin mengabadikannya sebagai sesi foto pre wedding, inilah surga yang penuh dengan sudut natural yang segar sebagai pembalut kesan keromantisan.

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Namun jika memang itu tujuannya, sebaiknya datanglah ke tempat ini di kala pagi hari. Karena tempat ini berada di lereng puncak bukit, sinar matahari memang hanya bisa bersinar sampai sekitar pukul 10 pagi. Selebihnya, saputan awan akan mengambil alih dan membuat pencahayaan menjadi redup. Bahkan, rintikan gerimis justru yang kemudian turun membuat suasana menjadi muram.

Lembutnya Dandelion di Lereng Kota Batu

Dandelion-Kota Batu

Dandelion-Kota Batu

Setumpuk oleh-oleh kenangan memang saya dapatkan dari keikutsertaan saya di acara UKMP kemarin. Satu di antaranya adalah perkenalan saya dengan bunga Dandelion.

“Itu lho Mbak, yang ada di video klipnya BCL, Sunny!” celutuk Mita, satu dari sekian anak UKMP yang satu jurusan dengan saya hobinya, berfoto!

Bunga Dandelion adalah sejenis bunga rumput yang hidup di daerah dingin atau pegunungan. Jika di suhu biasa, memang ada bunga seperti ini namun dengan bulatan lingkaran yang kecil.

Ketika menemukan bungan inipun, Mita langsung merayu saya untuk minta difoto. Dan, jadilah saya fotografer serta pengarah gaya dengan Mita sebagai modelnya. Hasilnya sungguh cantik. Wajah Mita yang baby face dan pintar berakting serta lembutnya bulatan bunga dandelion menjadi perpaduan yang pas. Dan, inilah hasil foto-foto saya dengan dandelion dan juga Mita sebagai modelnya.

Dandelion and Mita

Dandelion and Mita

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Kalau yang ini, gaya fotografernya alias saya sendiri yang nggak mau kalah! Hehehe… Jika sesi foto dengan Mita kami lakukan saat siang hari di mana mendung sudah bergelayut di lereng gunung, maka foto-foto ini saya sendiri ini saya ambil ketika cahaya pagi sedang ramah-ramahnya di Arboretum.

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion