Ketika Bromo Sudah Membuka Diri Lagi

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.

Bromo Gulita Menjelang Fajar

Bromo Gulita Menjelang Fajar

 

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

 

Para Pemburu Matahari Terbit

Para Pemburu Matahari Terbit

 

Laskar 'Ojeg' Berkuda

Laskar 'Ojeg' Berkuda

 

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

 

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

 

Kawah Bromo

Kawah Bromo

 

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Pasar Buah Ranuyoso, Lumajang

Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Kebun Raya Mini ala Bumiaji

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu


Bumiaji, Kota Batu

Bumiaji, Kota Batu

Jika di Bogor atau Pasuruan ada kebun raya, di Kota Batu atau tepatnya di Kecamatan Bumiaji, ternyata ada juga sebuah kebun raya mini yang tak kalah cantiknya. Letaknya ada di lereng gunung dan hampir berada di puncak dari perbukitan Kota Batu.

Tempat ini sendiri memiliki julukan arboretum atau kebun percobaan. Jika menurut Sulvi, satu dari mahasiswi Universitas Negeri Malang jurusan Biologi, arboretum menjadi surga dari  anak-anak Biologi, bidang studi yang dipilihnya.

Julukan kebun raya mini memang bisa mengena untuk tempat ini. Berbagai jenis tumbuhan ada dan ditanam di sana berikut nama-namanya. Anda bisa menemukan Pohon Kina yang bisa digunakan sebagai obat malaria, Paku Pohon yang berbentuk paku-pakuan tapi bisa tumbuh besar sebagai sebuah pohon, Kayu Manis, dan segala macam jenis tumbuhan lainnya.

Sayangnya saya kurang bisa mengajak bicara pengelola dari tempat itu. Yang saya tahu, di dekat pintu masuknya saja ada sebuah pohon sejenis cemara yang ditanam pada tahun 1992.

Hingga kini, tempat ini sering dijadikan kegiatan penelitian misalnya oleh para mahasiswa yang membutuhkan tempat ini sebagai bahan pembelajaran, sebagai wahana rekreasi oleh masyarakat, hingga kegiatan mahasiswa seperti diklat alam yang saya ikuti oleh adik-adik saya di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang.

Memang, tempat ini cukup cantik untuk dijadikan tempat rekreasi. Pengelola tempat ini sendiri memberikan beberapa sentuhan yang makin membuat siapapun menjadi nyaman untuk berada di sana.

Misalnya saja jalan setapak yang ditanami Bunga Panca Warna atau yang kadang juga disebut Bunga Desember. Bunga dengan kelopak-kelopak kecil yang mengumpul menjadi gerombolan berbentuk bulatan besar ini akan membaut gemas siapapun yang melihatnya. Warnanya yang bisa berubah-rubah membuat tempat itu seakan-akan memiliki beberapa jenis bunga yang berbeda warna.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Bunga Panca Warna memang memiliki beberapa fase pergantian warna. Mulai dari putih, kuning, biru, semburat keunguan, merah, atau beranjak ke jingga. Sayangnya, saya tidak hapal fase pergantian warna dari bunga ini.

Bunga Panca Warna

Bunga Panca Warna

Beberapa jembatan juga dibuat berjenjang di beberapa tempat. Karena tempat ini merupakan lereng bukit, maka kontur tanah di daerah inipun tidak rata. Dan jika Anda berdiri di pinggir sungai yang mengalirkan air dari sumbernya, maka Anda akan bisa melihat jembatan yang melintang dengan berjenjang.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Tak hanya pepohonan dan bunga yang ditanam dengan sengaja dan teratur, beberapa tumbuhan liar baik yang berbunga maupun tidak juga ikut tumbuh dan menambah kecantikan dari tempat ini.

Bunga liar

Bunga liar


Bunga di Arboretum

Bunga di Arboretum

Di tempat ini sendiri juga sebetulnya terdapat satu dari sekian sumber mata air dari Sungai Brantas. Kejernihan airnya bisa menghapus siapapun yang mungkin pusing jika pernah mengetahui betapa kotornya sungai itu ketika berada dalam garis menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Surabaya.

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Kecantikan tempat ini juga mengasyikkan bagi mereka yang mencintai dunia fotografi. Apalagi bagi mereka yang ingin mengabadikannya sebagai sesi foto pre wedding, inilah surga yang penuh dengan sudut natural yang segar sebagai pembalut kesan keromantisan.

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Namun jika memang itu tujuannya, sebaiknya datanglah ke tempat ini di kala pagi hari. Karena tempat ini berada di lereng puncak bukit, sinar matahari memang hanya bisa bersinar sampai sekitar pukul 10 pagi. Selebihnya, saputan awan akan mengambil alih dan membuat pencahayaan menjadi redup. Bahkan, rintikan gerimis justru yang kemudian turun membuat suasana menjadi muram.

Lembutnya Dandelion di Lereng Kota Batu

Dandelion-Kota Batu

Dandelion-Kota Batu

Setumpuk oleh-oleh kenangan memang saya dapatkan dari keikutsertaan saya di acara UKMP kemarin. Satu di antaranya adalah perkenalan saya dengan bunga Dandelion.

“Itu lho Mbak, yang ada di video klipnya BCL, Sunny!” celutuk Mita, satu dari sekian anak UKMP yang satu jurusan dengan saya hobinya, berfoto!

Bunga Dandelion adalah sejenis bunga rumput yang hidup di daerah dingin atau pegunungan. Jika di suhu biasa, memang ada bunga seperti ini namun dengan bulatan lingkaran yang kecil.

Ketika menemukan bungan inipun, Mita langsung merayu saya untuk minta difoto. Dan, jadilah saya fotografer serta pengarah gaya dengan Mita sebagai modelnya. Hasilnya sungguh cantik. Wajah Mita yang baby face dan pintar berakting serta lembutnya bulatan bunga dandelion menjadi perpaduan yang pas. Dan, inilah hasil foto-foto saya dengan dandelion dan juga Mita sebagai modelnya.

Dandelion and Mita

Dandelion and Mita

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Mita and Dandelion

Kalau yang ini, gaya fotografernya alias saya sendiri yang nggak mau kalah! Hehehe… Jika sesi foto dengan Mita kami lakukan saat siang hari di mana mendung sudah bergelayut di lereng gunung, maka foto-foto ini saya sendiri ini saya ambil ketika cahaya pagi sedang ramah-ramahnya di Arboretum.

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion

Ika Maya Susanti and Dandelion

Nasi Boranan

Penjual Nasi Boranan

Penjual Nasi Boranan

Makanan yang Hanya Ada di Lamongan

Seumur-umur saya tinggal di luar kota Lamongan, mulai dari lahir di Jakarta, Bekasi, Jogja, Malang, Batam, hingga Tanjungpinang, saya tidak pernah menemukan makanan khas dari Lamongan yang satu ini, selain di Lamongan sendiri. Namanya Nasi Boranan.

Pun ketika saya mencarinya di internet, tulisan Nasi Boranan berikut fotonya begitu langka saya dapatkan. Nah, untuk para perantau asal Lamongan yang kangen dengan Nasi Boranan, kali ini saya akan mencoba mengobati rasa itu dengan tulisan yang saya buat ini.

Entah kenapa, jika saya sedang berada di beberapa tempat dan lalu mengaku dari Lamongan, pasti yang ditodong adalah Soto Lamongannya. Padahal, Lamongan punya beberapa jenis makanan yang jadi andalannya. Selain Soto Lamongan, ada Wingko Babat, Tahu Campur, dan Nasi Boranan.

Dari sekian kota yang saya singgahi, rasanya saya tidak pernah menjumpai ada orang Lamongan atau orang dari daerah lain yang menawarkan Nasi Boranan. Padahal, makanan yang satu ini menjadi menu yang begitu lekat dalam kehidupan masyarakat Lamongan. Sehingga pantas sebetulnya apabila orang lalu bicara Nasi Boranan dengan orang Lamongan perantau, daripada bicara tentang Soto Lamongan.

Di Lamongan sendiri, Nasi Boranan memang identik menjadi sajian pada pagi hari, atau sore dan malam hari. Karena di waktu-waktu tersebut, para penjual Nasi Boranan akan mangkal di beberapa tempat berikut dengan penggemar setianya yang rela mengantri untuk bisa menikmati makanan yang satu ini.

Saya pernah bertanya pada ibu saya, “Kenapa ya kok tidak pernah ada yang menjual Nasi Boranan di daerah lain? Kenapa ya kebanyakan perantau asal Lamongan lebih suka menawarkan Ayam Penyet atau Soto Lamongan meskipun jarang juga jumlahnya?”

Ternyata menurut ibu saya, Nasi Boranan itu memang biasanya hanya bisa dibuat oleh orang-orang tertentu saja. Tidak sembarang orang bisa memasak Nasi Boranan yang dapat menghasilkan citarasa enak dan pas di lidah masyarakat Lamongan.

Satu tempat yang saya tahu sebagai daerah produsen Nasi Boranan adalah di daerah Kautan yang berada di Kecamatan Lamongan. Tempatnya dekat dengan Perumnas Made, tempat saya tinggal. Di daerah inilah, para penjual Nasi Boranan di kota Lamongan rata-rata berasal dari daerah tersebut.

Jika pagi, atau sore hari, berduyun-duyunlah para penjual Nasi Boranan ini akan diantar oleh keluarganya dengan menggunakan sepeda motor. Tempat mangkalnya memang ada beberapa di kota Lamongan. Satu di antara sekian tempat yang terkenal sebagai kawasan mangkal penjual Nasi Boranan adalah di Jalan Basuki Rahmat atau yang dikenal dengan daerah Rangge.

Di jalan ini, para penjual Nasi Boranan bisa duduk di tempat itu mulai dari sore hingga larut malam. Pembelinya pun seakan tidak ada habis-habisnya. Padahal, jalan ini hanya memiliki trotoar dengan ukuran biasa dan tidak menyediakan daerah khusus untuk penjual dan pembeli Nasi Boranan.

Sedangkan kalau kata adik saya yang hobi jajan makan enak, penjual Nasi Boranan yang rasanya paling enak adalah yang ada di seberang Balai Pengobatan Muhammadiyah atau  daerah tusuk sate di Demangan.

“Pokoknya cari saja orang paling gemuk di situ. Nasi Boranan di ibu itu yang paling enak,” cerita dari adik saya.

Boran sebagai Andalannya

Nasi Boranan, disebut demikian karena makanan ini dibawa dengan sebuah wadah besar yang disebut dengan boran. Boran berbentuk tinggi, kira-kira selutut orang dewasa dengan bahan yang terbuat dari jalinan bambu. Biasanya, penjual Nasi Boranan akan meletakkan nasi di dalam boran tersebut.

Wadah yang bernama boran

Wadah yang bernama boran

Nasi Boranan sendiri sebetulnya tergolong dalam nasi campur. Campuran untuk lauk dan sayurnya lumayan sangat beragam! Untuk sayurnya sendiri biasanya berupa urap. Kalau zaman kecil saya dulu, urapnya malah menggunakan krawu.

alur, sejenis rumput yang digunakan untuk krawu dalam nasi boranan

alur, sejenis rumput yang digunakan untuk krawu dalam nasi boranan

Krawu ini beda dengan nasi krawu khas Gresik lho! Tetapi yang dimaksud krawu ini adalah sayur dari sejenis rerumputan yang segar rasanya. Krenyes-krenyes enak deh kalau dikunyah. Urap yang dicampur dengan krawu juga akan terasa lebih sedap dan manis rasanya.

Aneka lauk Nasi Boranan

Aneka lauk Nasi Boranan

Sekarang kita bicara lauknya. Wah, kalau Anda baru saja tahu yang namanya Nasi Boranan, pasti bingung memilih lauknya. Mulai dari lauk keringnya saja ada telur bebek rebus, telur dadar yang digoreng dengan tepung, juga gumpalan singkong yang digoreng dan empuk.

Lauk yang berbentuk gumpalan singkong ini berasal singkong yang dihaluskan, diberi bumbu, lalu dibentuk bulatan dan digoreng. Sedangkan empuk adalah sebutan untuk gorengan yang berasal dari gumpalan tepung berbumbu. Kedua lauk ini rasanya gurih dan agak cenderung sedikit pedas.

Sambal Nasi Boranan

Sambal Nasi Boranan

Lauk lainnya adalah sambal dari Nasi Boranan itu sendiri. Konon, sambal Nasi Boranan yang asli dibuat dari bumbu lengkap yang dicampur dengan dedak. Di dalam sambal ini bisa terdiri dari udang, ikan bandeng, ikan sili, tahu, dan tempe. Rasa Nasi Boranan memang tidak akan lengkap apabila tanpa sambal tersebut. Namun, sambal itu sendiri rasanya akan lebih asyik lagi apabila terdapat ikan sili di dalamnya.

Ikan Sili adalah sejenis ikan yang berasal dari sungai. Bentuknya mirip ikan lele, pipih memanjang, dengan panjang sekitar 10 cm. Ikan yang satu ini memiliki ciri khas rasa yang berbeda dengan ikan biasanya. Sayangnya, ikan ini tidak bisa dibudidayakan. Karena sifatnya musiman, ikan inipun terkadang bisa juga berharga mahal karena langka.

Masih ada lagi pelengkap lain dari Nasi Boranan ini yaitu peyek dan pelthuk. Plethuk berupa bubuk yang cenderung manis dan gurih rasanya.

Lebih asyik lagi bila menikmati Nasi Boranan ini adalah apabila dimakan dalam bentuk bungkusan daun pisang. Nasinya yang hangat dan dibungkus dalam daun pisang ini akan membuat siapapun pasti akan lahap menyantapnya.

Ngidam yang Menyusahkan

Ada cerita lucu berkaitan dengan betapa langkanya Nasi Boranan di daerah lain selain Lamongan. Dulu ketika ibu mengandung saya, ia yang asli Lamongan ngidam Nasi Boranan. Sedangkan mencari Nasi Boranan di Jakarta tentu saja sulit dan mustahil menemukannya.

Akhirnya demi sang jabang bayi, ibu pun harus pulang ke Lamongan selama beberapa bulan untuk memuaskan diri menikmati Nasi Boranan. Duh, kalau tahu cerita itu, rasanya saya  merasa kalau saat itu menjadi bayi yang menyusahkan orangtua deh!

Langkanya Nasi Boranan sebagai makanan yang juga saya sukai tentu saja juga sempat membuat saya kewalahan ketika jadi anak perantau. Untuk urusan panganan Lamongan, saya memang suka dengan Nasi Boranan dan Rujak Cingur.

Ketika saya kuliah di Malang, kerja di Batam dan Tanjungpinang, urusan kangen makanan daerah asal memang sulit-sulit mudah. Mudah untuk urusan Rujak Cingur, karena di kota-kota tersebut makanan itu selalu ada terjual. Tapi kalau urusan Nasi Boranan?

Di Batam yang menurut saya sebagai kota paling lengkap yang bisa menawarkan segala masakan dari daerah hingga manca, Nasi Boranan ternyata masih juga jadi makanan yang langka.

Pikir punya pikir, pernah juga sih saya terpikir, kenapa ya kok tidak ada orang Lamongan yang mau menawarkan Nasi Boranan di Batam? Kenapa berduyun-duyun menawarkan Ayam Penyet?

Padahal, masyarakat Batam hobi sekali wisata kuliner. Orang Madiun atau Ponorogo saja percaya diri untuk menawarkan Nasi Pecelnya. Jadi, cukup prospek bukan? Nah, adakah Anda para pembaca yang kebetulan tinggal di kota besar ingin mencobanya?

Adik ipar dan ibu saya yang sedang antri Nasi Boranan

Adik ipar dan ibu saya yang sedang antri Nasi Boranan

Jajanan Enak untuk Dicicipi di Batam

Biarpun badan saya kurus dan ceking, tapi saya paling hobi dengan yang namanya wisata kuliner. Alias makan enak! Dan yang saya suka selama tinggal di Batam satu di antaranya adalah adanya makan enak yang jumlahnya sangat beragam. Apalagi ketika jadi wartawan mingguan selama di Tribun Batam. Wah… banyak kesempatan yang saya dapatkan untuk bisa mencicipi makanan enak! Pokoknya seluruh makanan se-Indonesia raya, pasti ada di Batam.

Nah untuk mengobati rasa kangen saya terhadap wisata kuliner di Batam, kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa makanan enak ala versi saya sendiri selama di sana. Hehehe… namanya juga blog milik saya, jadi ya suka-suka saya mendaftar makanan apa saja yang menurut saya enak!

    • Roti Prata rasa pisang dan bubur tahu yang ada di Mitra Raya

      Inilah yang paling sering saya kangeni akhir-akhir ini! Soalnya dulu sebelum cabut dari Batam, saya hobi sekali mampir ke Pasar Mitra Raya untuk membeli Roti Prata rasa pisang untuk saya bawa sarapan ke Poltek saat kerja.

      Kalau mau tahu tempatnya, adanya di daerah pojok dekat pintu masuk utama Mitra Raya. Jadi ketika masuk pintu utama, silakan Anda belok kiri, dan di daerah pojok yang ramai penjualnya itulah terselip sebuah tempat di pojokan yang menjual empat macam roti prata. Ada roti prata kosong yang maksudnya tidak ada campurannya, isi telur, sarden, dan pisang.

      Saya sendiri memang suka sekali memesan yang rasa pisang. Soalnya, pisang yang digunakan ini sepertinya sudah tua sehingga ketika dimasak, keluarlah rasa manisnya. Rasa manis ini akan terasa enak di lidah karena bercampur dengan rasa pedas dari kuah kari roti prata tersebut. Meskipun si penjualnya ini orang Jawa, tapi entah kenapa rasa karinya bisa begitu pekat seperti ketika Anda mencicipi masakan berkuah kari yang ada di Little India, Singapura. Kalau Anda tergolong penyuka makanan pedas berasa pekat seperti saya, mungkin Anda akan suka roti prata yang ada di tempat ini!

      Kalau jalan ke Mitra Raya, saya juga punya daftar makanan buruan lainnya. Ada Bubur Tahu dan Roti Cakue. Untuk yang Bubur Tahu, sepertinya ini jadi ciri khasnya makanan orang Tionghoa di Batam deh, selain air soya atau air tahu. Bentuknya ya seperti bubur, cuma ini dari sari tahu yang telah diolah sedemikian rupa. Biasanya diletakkan di wadah mangkok plastik berpenutup dengan kuah air gula di dalam bubur tersebut. Rasanya manis, lembut di lidah, dan enak di pencernaan.

      • Teh Tarik dan Tom Yam Sea Food yang ada di sebelah Hotel Oasis

        Nama kedainya sebetulnya memang Teh Tarik. Tempat ini jadi favoritnya anak-anak Tribun Batam kalau sedang ingin nongkrong. Maklum, awal muasalanya kan anak-anak Tribun banyak yang tinggal di Lancang Kuning yang ada di dekat tempat ini. Jadinya tempat inipun jadi tempat favorit anak-anak Tribun. Hehehe… kalau di Tribun dulu sampai-sampai siapa sedang dekat dengan siapa, bisa ketahuan kalau kebanyakan nongkrong di tempat ini!

        Tempat ini juga jadi favoritnya Pak Ria Saptarika, Wakil Wali Kota Batam lho! Saya awalnya sempat kaget waktu tahu Pak Ria suka makan di tempat ini juga. Secara, tempat ini memang biasa dan nggak mewah. Letaknya pas di sebelah Hotel Oasis yang kini masih almarhum. Tempatnya itu di deretan ruko-ruko lama yang boleh dibilang tidak bagus lagi. Depan tempat ini malah ruli, alias rumah liar! Tapi karena si pemilik kedai meletakkan meja-meja di luar kedai, di tempat terbuka, jadi terasa nyamannya. Cuma kalau dipikir-pikir masalah kualitas makanan, tempat ini memang top markotop deh!

        Kalau saya dan beberapa teman dekat saya paling hobi dengan Tom Yam. Ada tiga macam Tom Yam yang ditawarkan di sini, Tom Yam daging, Tom Yam Sea Food, atau Tom Yam campur (ada daging ya juga seafood).

        Eits, ada yang belum tahu Tom Yam itu apa nggak ya? Soalnya, beberapa teman saya di Batam banyak juga yang tidak tahu Tom Yam itu apa. Hehehe… biar nggak malu, saya beri tahu deh sebelum terlambat. Tom Yam itu adalah sejenis sup ala Thailand. Isinya selain bisa berupa potongan daging, sotong, atau udang, Tom Yam ini juga dilengkapi dengan bumbu-bumbu yang khas. Ada serai, potongan cabai, irisan bawang bombay, dan bumbu-bumbu lainnya. Maaf karena saya lupa, mungkin Anda yang kurang tahu Tom Yam bisa mencari di internet deh untuk lebih lengkapnya.

        Yang membuat Tom Yam di tempat Teh Tarik ini enak adalah jenisnya yang nggak biasa ditawarkan di tempat bakul Tom Yam kebanyakan. Seingat saya ketika liputan kuliner dulu, memang ada dua macam Tom Yam di Thailand (kalau nggak salah Thailand sebelah utara dan selatan atau apa ya dulu?!). Tom Yam memang ada dua macam dari Thailand, yang berkuah merah atau berkuah bening. Nah, di tempat ini Tom Yam-nya yang berkuah bening.

        Tom Yam yang berkuah bening menurut saya lebih enak karena tidak banyak mengandung minyak. Jadi rasa hangat cenderung panas dari kuah Tom Yam ketika mengalir di tenggorokan itu memang asli dari bumbunya, bukan karena minyaknya.

        Kalau Anda sedang kedinginan karena cuaca atau sakit, tidak enak badan seperti demam, pilek, pusing, atau masuk angin, nah… coba saja Tom Yam yang ada di tempat ini. Dijamin, setelah makan, Anda akan langsung merasa kepala menjadi ringan, hidung terasa plong, dan badan jadi terasa segar karena bisa berkeringat.

        Makanan lain yang enak di tempat Teh Tarik ini juga masih banyak lho! Ada Nasi Prata, yaitu nasi goreng yang dibungkus dengan telur dadar. Ada juga Kwetiau Hongkong yaitu kwetiau yang dimasak dengan orak arik telur, campuran sayur, dengan sedikit kuah kental saat disajikan. Lebih enak lagi kalau Kwetiau Hongkong ini dimakan dengan kecap khusus yang diirisi cabai. Rasanya? Hm… antara sedikit manis, gurih, dan pedas yang enak banget!

        Buat yang suka pedas, masih ada lagi nih tantangan untuk mencoba Sotong atau Udang Asam Pedas. Rasanya memang benar-benar campuran antara asam dan pedas yang menggelegar banget! Soalnya, masakan ini terbuat dari sotong atau udang yang diberi kuah kental berwarna oranye kemerahan yang terasa pedas.

        Aneka seafood yang dimasak dengan bakar-bakaran atau rebus juga ditawarkan di tempat ini. Kerang, gonggong, aneka jenis ikan juga ada. Tapi satu menu yang nggak kalah seru di tempat ini buat saya adalah tentu saja Teh Tarik itu sendiri. Soalnya, Teh Tarik di tempat ini sepertinya bukan asal Teh yang dicampur dengan susu saja. Kalau saya rasa di lidah, rasa tehnya itu seperti menggunakan teh khusus yang dicampur juga dengan beberapa rempah-rempah. Mau diminum hangat atau dingin, atur saja deh. Soalnya sama enaknya!

          • Rujak Beubeuk di Seraya

            Yang namanya rujak beubeuk itu dulunya jadi jajanan masa kecil saya dulu ketika di Bekasi. Lama nggak makan, eh… bisa ketemu lagi ketika ada di Batam! Tempatnya ada di deretan penjual rujak yang ada di Seraya.

            Buat yang nggak tahu rujak beubeuk itu apa, rujaknya itu sebetulnya masuk dalam kategori rujak buah. Terkenalnya sih kalau nggak salah dari daerah Jawa Barat sana. Rujak ini berupa beberapa buah ditumbuk menjadi satu dengan bumbu kacang. Cuma yang membedakan, rujak beubeuk itu khasnya kalau ditambah dengan tumbukan daging jambu mede.

            Karena bumbunya jadi satu dan nggak sebanyak seperti rujak biasanya, hati-hati kalau memesan berapa cabai untuk dicampur di dalam tumbukan rujak beubek. Karena dua cabai saja, whuah… bisa pedas banget rasanya!

            Di Seraya ini memang aneka macam rujak sepertinya ada semua. Mau rujak buah, rujak serut, rujak beubeuk, sampai rujak cingur juga ada. Meskipun tempatnya di pinggir jalan yang susah banget untuk mencari tempat parkir (kalau pas ramai pengunjung) tapi siapapun pasti mengaku kalau suka nongkrong di tempat ini.

              • Lakse dan Roti Jale di pasar dadakan Tanjung Uma selama bulan Ramadan

                Setiap bulan puasa, saya selalu paling tidak menyempatkan diri satu kali datang ke pasar dadakan yang ada di pelantar Tanjung Uma. Ini pasar tua lho! Maksudnya, tradisi pasar dadakan ini memang sudah ada lama banget di Batam.

                Dulu kalau zaman di Tribun, wah… bisa sering banget menodong teman-teman untuk diseret (diajak, bahasa halusnya, hehehe…) cari makanan pembuka di tempat ini. Dan kebanyakan memang nggak ada yang menolak kok!

                Padahal secara tempat, walah… susah banget untuk mencapai tempat yang satu ini! Buat yang orang Batam tahu sendiri kan, jalan daerah Tanjung Uma itu naik turun curam dan berbelak-belok. Belum lagi kalau pas puasa. Duh, banyak banget kendaraan ke daerah ini demi ya itu tadi, ke Pasar Pelantar Tanjung Uma.

                Kalau yang belum tahu tempatnya, ikuti jalan utama saja di Tanjung Uma sampai menemukan daerah pelantar. Tenang… nggak usah takut tersesat… banyak temannya kok yang akan ke sana (alias ya masyarakat Batam yang ingin ke pasar itu). Saran saya sih, lebih baik naik motor saja. Soalnya biar nggak susah-susah kalau akan parkir nanti. Jika naik mobil, siap-siap lama di jalan saja deh! Padahal, pasar yang sudah buka mulai sekitar jam tiga sore ini ramai-ramainya justru antara jam empat sampai jam lima. Bayangkan saja padatnya kendaraan motor dan mobil di jalan yang lebarnya hanya cukup untuk pas dua mobil berdempetan saja itu!

                Ada alternatif cara lagi sih, yaitu naik sampan. Cari atau tanya-tanya saja di mana pelabuhan rakyat, pelabuhan sampan, atau pelabuhan kecil yang ada di belakang ruko di daerah seberang hotel Novotel, dekat pasar Jodoh. Nantinya ada pelabuhan rakyat yang sampan-sampan kecilnya siap mengantar Anda langsung ke pasar pelantar. Jadi, motor atau mobil Anda bisa diparkir di sekitar pelabuhan kecil itu.

                Bagi Anda yang suka aneka seafood bakar, tempat ini surganya! Mau ikan pari bakar, aneka ikan laut bakar, sotong bakar, ada semua! Ikannya segar-segar lho! Meskipun kondisinya sudah mati, tapi terhitung hasil tangkapan baru para nelayan di sana. Karena banyak penjual seafood bakar di tempat ini, dan Anda sedang puasa, ehem, hati-hati tergoda deh! Karena aroma bakarnya itu sangat menggoda iman!

                Yang seru dari tempat ini kalau menurut saya adalah segala makanan Melayu yang bisa saya dapatkan di tempat ini. Maklum, saya pecinta berat makanan Melayu sih! Mau kue epok-epok (kue seperti pastel namun berisi adonan kentang dengan rasa campuran gurih dan cenderung pedas), kotu piring (sejenis kue putu kalau di Jawa, namun ini bentuknya pipih, dan berisi gula di dalamnya), serta Lakse dan Roti Jale, ada semua di sana!

                Lakse di tempat ini beda benget dan bukan yang maksudnya Lakse Singapura lho ya! Laksenya itu khas ala Pulau Penyengat Tanjungpinang. Bentuknya seperti mi tapi asalnya dari tepung sagu yang kemudian dicetak bulat-bulat diletakkan di atas daun pisang. Cara makannya menggunakan kuah kari yang khas karena ada daun kesum-nya. Daun kesum itu kadang disebut juga daun kari, sejenis daun yang memang digunakan untuk campuran aneka kuah makanan kalau di Melayu. Di dalam kuah ini kadang ada juga potongan daging sapi atau ayam dan kentang di dalamnya.

                Saudaranya Lakse ini adalah Roti Kirai. Kuahnya kadang dibuat sama sih walapun kalau aslinya orang Melayu yang membuat, sebetulnya beda. Roti Jale alias Kirai kadang orang menyebutnya, itu berupa adonan tepung yang dimasak dengan cara tertentu. Adonan yang sudah dibuat, diambil dengan menggunakan cetakan khusus (bentuknya seperti sendok besar yang di bawahnya ada beberapa lubang), lalu dituang di wajan secara acak yang sudah diberi sedikit minyak. Caranya mirip kalau kita memasak untuk kulit kue lumpia basah yang hijau itu. Cuma kalau Roti Jale, setelah kita menuang adonan di wajan, harus kita lipat jadi empat dulu.

                Hiks, sayangnya meski sebelum cabut dari Batam saya sudah menyempatkan diri membeli cetakannya, saya masih belum pernah membuat roti yang satu ini. Habisnya, mana seru roti jale tanpa kuah kari dengan daun kesum?! Cari daun kesum di Jawa nggak ketemu sih! Kemarin sebelum pulang, juga lupa bawa bibit daun kesumnya!

                Nah, karena pasar ini tergolong pasar yang memang tradisional, jangan dibayangkan tradisionalnya seperti pasar Batu Aji atau Pasar Jodoh ya. Soalnya tempatnya memang desak-desakan dan tradisional banget. Jadi diharapkan untuk para wanita, jika datang ke tempat ini, jangan pakai hak tinggi atau baju yang cantik-cantik dan parfum yang harum. Dijamin, keluar dari sana, baju bisa kusut semua, dan parfum baru pun bisa melekat sempurna. Apalagi kalau buka aroma ikan bakar!

                Eits, jangan tertawa ya kalau saya menulis tentang tadi. Soalnya kasusnya memang benar-benar ada. Saya pernah mengajak beberapa teman kos saya ke sana. Meskipun sudah diwanti-wanti untuk nggak usah tampil cantik, tetap saja mereka pikir, “Halah, paling ya seperti Pasar Mitra Raya!” Hingga setelah saya saya ajak ke sana, mereka pun langsung kapok dan nggak mau lagi saya ajak. Jadi catatan tambahannya, pasar ini memang hanya untuk mereka yang wisatawan kuliner sejati!

                  • Sotong Asam Pedas di warung Sedep Marem depan Rusun Lancang Kuning

                    Yang namanya sotong memang makanan berat favorit saya. Entah karena memang saya hobi, atau karena kalau dalam bahasa Jepang kata ika itu berarti sotong ya? Hehehe…

                    Lagi-lagi saya paling hobi kalau ditawari makan sotong apalagi sotong asam pedas. Eits, tapi asam pedasnya dengan catatan cuma ada di Kedai Teh Tarik sama di tempat yang satu ini nih! Namanya warung Sedep Marem yang letaknya ada di jalan seberang Rusun Lancang Kuning. Karena kalau pesan makanan di tempat ini kita harus sabar menunggu, saya dengan teman-teman Tribun sih malah menjuluki tempat ini SM, bukan Sedep Marem, tapi Sabar Menanti!

                    Sotong Asam Pedas di tempat ini jadi idola saya karena campuran bumbunya yang menggunakan bumbu kunyit untuk merendam ayam penyet. Kalau di lidah, rasanya itu gurih-gurih enak karena adanya ketumbar di dalam campuran bumbunya. Selain, rasa pedas dan sedikit manis dari kuahnya yang kental dan panas menggelegak waktu disajikan! Hm…

                      • Ayam Penyet di Nagoya

                        Sebetulnya saya sendiri baru satu kali sih mencoba makan di tempat ini. Tapi dari segi rasa, pas banget di lidah! Ayam penyet ini adanya di warung tenda yang ada di seberang Gedung Wisma Sulaiman Nagoya. Eh sebentar, benar nggak sih nama tempatnya? Itu lho, tempat di deretan dekatnya Nagoya Hill, lalu di daerah seberangnya.

                        Nah, di situ kan ada deretan warung tenda yang menjual ayam penyet tuh, ada satu tempat kalau tidak salah di sebelah paling pinggir dari deretan warung tenda itu. Yang membuat ayam penyet di tempat ini enak sih menurut saya ada di sambalnya. Soalnya, sambalnya itu dicampur dengan bumbu untuk merendam ayam sebelum akan digoreng.

                        Yang namanya bumbu untuk diresapkan ke ayam goreng kan biasanya menggunakan campuran kunyit dan ketumbar, nah… di situlah muasal rasa enaknya. Sambal yang dicampur itu pun jadi terasa lebih enak dan gurih di lidah.

                          • Nasi Uduk dan Bebek Penyet di Simpang Frengki

                            Ini satu lagi warung tenda pinggir jalan favorit saya. Tempatnya itu ada di Simpang Frengki, daerah Batam Centre. Yang membuat enak dari segala masakan penyet (ayam, bebek, tahu, tempe, dan lele) di tempat ini adalah karena kita bisa memilih nasi uduk sebagai nasi utamanya.

                            Tahu sendiri kan, nasi uduk itu kan rasanya gurih karena adanya cmpuran santan waktu memasaknya. Jadi ketika digunakan untuk makan, lidah pun bisa bergoyang keenakan. Pokoknya bisa-bisa nggak terasa deh kalau habis banyak!

                            Buat saya, yang paling enak di tempat ini adalah bebek gorengnya. Hm… bumbunya itu terasa meresap sampai ke dalam dagingnya. Ditambah lagi, daging bebek itu kan lebih gurih jika dibandingkan daging ayam. Apalagi kalau cuma ditanding dengan daging ayam negeri.

                              • Mi Lendir Nagoya

                                Namanya itu memang Mi Lendir. Ehem, cuma karena banyak yang risih dengan istilah itu, ada juga yang menyebutnya mi kuah. Mi ini bentuknya berupa mi kuning yang berbumbu kuah kacang pekat dengan diirisi potongan cabai hijau. Jangan takut kepedasan, karena irisan cabai hijaunya itu cuma diletakkan di pinggir piring saja kok!

                                Nah, sekarang yang agak repot itu cerita di mana tempatnya! Patokannya begini saja deh, cari saja Hotel Sari Jaya yang ada di dekat area belakang Gedung Dana Graha, atau belakang ruko yang ada di seberang Lippo Bank Nagoya. Nah, di situ kan banyak ruas-ruas jalan tuh. Anda cari saja daerah belakangnya ruko seberang Lippo Bank yang berseberangan dengan Hotel Sari Jaya. Catatan tambahan, banyak tolah toleh ke sana sini saja deh untuk mencari tempat ini. Terselip banget sih tempatnya!

                                Kenapa kok mi lendir di tempat yang terselip ini saya bilang enak? Soalnya rasanya bisa agak ditandingi dengan mi lendir yang ada di Jalan Pos Tanjungpinang. Cuma bedanya, mi lendir yang ada di Jalan Pos Tanjungpinang itu memang sudah tersohor dari zaman dulu.

                                  • Soto Medan di Batam Centre dan Nagoya

                                    Soto Medan yang ada di tempat ini juga tersohor karena sudah ada di Batam dari zaman masih hutan belantara! (hehehe… terlalu belebai kalau orang Melayu bilang!) Asal muasal tempatnya sih di ruko yang ada di deretan kantor pos Nagoya (dekat Nagoya Hill). Tapi, si Ibu yang empunya rumah makan yang asli orang Jawa Medan ini, beberapa tahun yang lalu, juga buka cabang di Batam Centre. Tempatnya di seberang Mpek-mpek Pak Raden, atau di deretan Warung Resto Kediri.

                                    Kalau menurut saya sih, Soto Medannya itu pas banget di lidah saya. Nggak terlalu eneg, ada gurihnya, ditambah lagi campuran jeroan dan daging di dalam kuah santan sotonya. Bah, Soto Medan kali lah!

                                      • Gulai Kepala Ikan seberang BCM Batam Centre

                                        Tempat ini saya tahu gara-gara teman saya di Poltek, Ici. Karena dia orang Minang sejati, jadinya tahu di mana makanan Minang yang memang khas ala lidahnya orang Minang! Tempatnya itu ada di seberang BCM, deretan kantor pos yang ada di seputaran Batam Centre.

                                        Yang paling enak dari tempat ini adalah Gulai Kepala Ikannya. Mm, kalau nggak salah pakai ikan patin ya? Yang jelas, buat Anda yang suka iseng dan telaten makan kepalanya ikan, memecah bagian demi bagian kepala ikan dan menyesapnya, menemukan secuil daging di kepalanya ikan yang khas rasa gurihnya, hm… inilah tempat yang cocok untuk Anda, penyuka kepala ikan! Apalagi untuk Anda yang benar-benar menyadari adanya kandungan omega di kepalanya ikan, bodo teuing deh kalau orang Sunda bilang! Alias, nggak peduli meskipun makannya agak-agak repot seperti orang kurang kerjaan (lha wong dagingnya ikan saja enak makannya, nggak susah-susah!) yang penting bisa dapat kandungan omega-nya si ikan!

                                        Eit, masih ada lagi, kuahnya itu lho yang enak di lidah! Rasa gurihnya pekat, khas berasa ikan dengan tentu saja rasa gurih yang berasal dari santan yang kental.

                                          • Nasi Goreng Kambing dan Mi Kuah di Rumah Makan Aceh dekat pintu masuk Citra Batam

                                            Namanya saja makanan khas Aceh, tentu saja tidak lepas dari yang namanya bumbu-bumbu khas yang bisa membuat masakan menjadi sedap. Makanya, kalau Anda mencoba makan di Rumah Makan Aceh yang ada di dekat pintu masuk Komplek Citra Batam, pasti bisa merasakan rasanya makanan yang menggunakan bumbu khas Aceh.

                                            Di tempat ini, saya paling suka dengan nasi goreng kambing atau mi kuahnya. Karena ya itu tadi, masakannya itu terasa tidak hanya menggunakan bumbu kebanyakan saja. Kalau nasi gorengnya, karena khas Aceh, dia disajikan dengan acar irisan bawang dan cabai utuh, lalu campuran kacang tanah dan teri goreng.

                                            Untuk Mi Kuahnya juga enak banget lho! Soalnya terasa pekat banget bumbunya. Yah, namanya saja ala khas Aceh! Selain itu, mi-nya juga dibuat khusus mi Aceh, bukan mi kuning biasa. Nah, perpaduan antara mi yang dibuat sendiri khas Aceh dan bumbu pekatnya itulah yang membuat mi kuah di tempat ini enak dab beda banget dengan mi kuah kebanyakan.

                                              • Bubur Ayam dan Air Soya di Morning Bakery Nagoya

                                                Ini tempat favorit saya dengan dua sohib saya, Tari dan Uul. Kalau kami sedang kumpul (karena Uul ada di Karimun), kami sering makan pagi di tempat ini. Menu kami yang kompak adalah bubur ayam. Buburnya menggunakan irisan cakue, campuran kacang tanah, dan teri.

                                                Kalau di tempat ini, saya paling hobi untuk minum air soya, alias air tahu. Mau diminum hangat atau dingin, sama enaknya!

                                                  • Ayam Rica-rica di Food City Mega Mall

                                                    Untuk urusan makan, saya jarang menyukai makanan di mall. Soalnya versinya itu kebanyakan, dan rasanya nggak ada yang sampai bisa melekat di lidah untuk membuat saya kangen. Tapi ternyata, pertahanan lidah saya runtuh waktu pernah mencicipi Ayam Rica-rica yang ada di Food City Mega Mall.

                                                    Sekali lagi karena saya suka sekali makanan pedas, makanya saya juga hobi dengan Ayam Rica-rica. Tahu sendiri lah, ayam ini bisa terasa istimewa karena dimasak dengan kuah pedas khas cabai. Belum lagi irisan agak halus dari cabai yang dicampur di kuahnya. Pokoknya pedas dan enak banget buat lidah saya!

                                                      • Batagor Mamang yang ada di BCM

                                                        Seumur-umur saya mencicipi batagor, saya cuma paling merasa cocok dengan batagornya Si Mamang yang berjualan di BCM. Mungkin karena yang buat juga orang Sunda asli ya? Soalnya jika masakan suatu daerah dimasak oleh orang yang memang asli dari daerah masakan tersebut, rasanya memang lebih enak terasa.

                                                        Batagor di tempat Mamang ini enak di lidah saya karena bumbunya yang kental tapi tidak terlalu manis sehingga eneg di lidah dan perut, serta masih terasanya rasa gurih. Pokoknya rasanya bisa pas semua deh di lidah saya.

                                                        Sayangnya di saat-saat terakhir saya ada di Batam, saya sering tidak mendapati si Mamang berjualan lagi di BCM. Ngomong-ngomong ada yang tahu nggak ya, si Mamang pindah ke mana?

                                                          • Martabak Sari Eco

                                                            Kalau orang di Jawa yang biasa berjualan martabak kebanyakan lalu berjualan di Batam atau Tanjungpinang, saya tebak mungkin tidak laku. Soalnya, martabak di Batam terkenal tebal-tebal dengan isi yang nggak nanggung! Misalnya saja Martabak Sari Eco.

                                                            Waktu saya tahu pertama kali martabak ini, whuih… kaget juga waktu tahu bagaimana si penjual menaburkan kacang atau memarut balokan keju. Nggak tanggung-tanggung tebalnya! Teman saya yang dari Jawa saja dan beberapa temannya dari daerah lain waktu saya belikan martabak Sari Eco (sewaktu acara kongres nasional PMII), sampai kaget. Kok tebal begitu ya?

                                                            Sebetulnya bukan Martabak Sari Eco saja sih yang seru. Banyak juga kok penjual martabak di pinggir jalan yang lain yang nggak kalah enaknya menawarkan martabak buatannya. Ada yang isinya jagung, pisang, (selain kacang, cokelat, dan keju yang sudah biasa) atau campuran di antara itu.

                                                            Cuma… untuk mereka yang kurang suka cita rasa yang terlalu legit, mungkin agak eneg sewaktu makan martabak yang konon yang punya mereka ‘ala bangka’ ini. Kenapa disebut ‘ala bangka’? Soalnya ya karena tebal martabaknya itu kali ya yang ‘ala bangka’…

                                                              • Kek Pisang Vila

                                                                Kalau di Jawa Barat menjagokan brownies untuk oleh-oleh, di Batam ada Kek Pisang Vila lho! Namanya saja kek, bentuknya yang memang berupa roti kek. Cuma, ada rasa-rasa pisangnya kalau kita makan. Soalnya, kek ini memang dibuat dari campuran pisang di adonannya.

                                                                Rasanya juga macam-macam. Ada yang rasa cokelat, keju, buberry, dan lain-lain. Kalau nggak salah sih memang banyak banget jenisnya. Rasanya bisa terasa banget di mulut, baik pisangnya, maupun bahan campuran tambahannya.

                                                                Kalau mau mencari Kek Pisang Vila yang dikelola oleh Pak Deni dan Bu Silvi ini cukup mudah kok. Tempatnya ada di sebelah Nagoya Plaza, di Batam Centre deretan Resto Kediri, di Penuin sebelum arah ke Tua Pek Kong Windsor, dan juga di ruko bagian depan Villa Muka Kuning (ini tempat paling asal dari Kek Pisang Vila).

                                                                  • Rujak Cingur dan Pecel di Pasar Mitra Raya

                                                                    Seumur-umur makan rujak cingur dan pecel, saya baru merasa cocok dengan rasa dan harganya ya di tempat ini. Nama tempatnya sih Rumah Makan Jawa. Adanya di bilangan Pasar Mitra Raya Batam Center.

                                                                    Untuk yang biasa makan rujak cingur dan pecel ala Jawa Timur-an, mungkin sepakat deh dengan saya tentang tempat ini. Soalnya cita rasa rujak dan pecelnya itu memang terasa Jawa Timur-an banget! Maklum, yang membuat memang asli orang Jawa Timur (saya lupa si ibu itu dari daerah mana).

                                                                    Kalau untuk urusan rujak cingurnya, cara menawarkannya sama dengan di daerah saya, Lamongan. Mau rujak cingur yang seperti apa, buah, sayur, atau campur? Lalu untuk urusan petisnya juga terasa khas deh kalau itu buatan dari Jawa. Tak lupa, cingur alias mulutnya sapi dan kulit sapi yang jadi ciri khas utamanya.

                                                                    Sedangkan untuk pecelnya, juga sesuai banget dengan lidah saya yang orang Jawa Timur. Bumbunya itu agak-agak pedas, dengan peyek yang rasanya khas untuk pelengkap makan pecel.

                                                                    Hehehe… cuma karena sekarang saya hampir tiap hari bisa makan rujak cingur di Lamongan, jadinya ya untuk makanan yang satu ini saya nggak kangen lagi. Lha wong di sini ketemu biangnya rujak cingur dan pecel tuh…!!!

                                                                    Nah, itu tadi sederetan makanan yang enak (sekali lagi kalau menurut saya lho ya) yang ada di Batam. Pokoknya, yang namanya Batam itu bisa jadi tempat untuk wisata kuliner yang seru juga kok! Yah, nggak kalah serunya dengan Jakarta atau Bandung…