Category: Indahnya Islam


“Kalau sampai ayah ibu kenapa-kenapa, terus kamu nggak dibolehin sama suamimu keluar rumah, jangan keluar!”

Kata-kata keras dari Ayah itu berarti dalam untuk saya, membuat saya memaknainya dengan pilahan sisi yang tak cukup satu dua.

Saya tahu dan sadar, seorang istri adalah makmum dari suaminya. Yah tentu saja, itu berikut kesadaran bahwa sang suami memang seorang imam yang membawa keluarga ke arah kebaikan di jalan Allah.

Lalu ketika saya mengetahui ayah saya juga sadar akan hal itu, saya cukup bahagia. Suatu saat nanti jika memang saya ada dalam posisi patuh terhadap kata-kata suami, sementara banyak orang justru mencoba membuat saya sangsi, hati saya bisa tenang karena ayah dan ibu saya ada dalam posisi turut mendukung keputusan suami.

Di sisi lain, kata-kata ayah saya tersebut, yang sejalan dengan keyakinan saya, juga membuat saya menjadi orang pemilih hingga kini. Malam ini saat menelepon ibu, kembali ibu saya bertanya, sudahkah saya memiliki calon suami?

Untuk kesekian kalinya saya kembali tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan, saya coba tenangkan ibu saya tentang mengapa saya tak begitu mudah memilih seseorang untuk hadir dalam kehidupan saya.

Saat menikah kelak, bukan lagi kedua orangtua saya yang harus saya patuhi. Sebagai wanita, suamilah yang menjadi imam saya. Jika suami saya tidak peduli dengan keluarga saya, kurang memiliki rasa empati terhadap orang-orang yang menjadi darah daging saya, saya sungguh tidak mau menjadi orang yang harus terputus atau merenggang hubungan silaturahmi terutama dengan kedua orangtua saya.

Ditambah lagi watak keras yang saya miliki. Saya sungguh tidak mau di suatu waktu nanti menjadi istri pembangkang atas apa yang suami saya telah putuskan. Karena yang saya sadari sejak kini, saya akan patuh pada keputusan siapapun yang menjadi pemimpin saya asalkan apa yang telah diputuskan adalah sesuatu yang baik dan memang seharusnya. Saya sangat percaya, Tuhan akan memberikan seorang imam untuk saya yang mampu mengendalikan watak keras saya dengan keputusan-keputusan bijaknya.

Telahkah saya terlalu menjadi sosok pemilih? Biarkan saja siapapun berkata demikian. Saya seorang hamba yang masih terus berusaha, dan saya hanya percaya Tuhan dengan segala macam caraNya yang penuh kejutan. :)

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

*Ibu Hamil 8 Bulan pun Tarawih 23 Rakaat

Sejak awal tarawih di Masjid Akbar Surabaya malam itu, saya mencuri-curi lirikan ke seorang wanita muda yang berada di sebelah kiri saya. Ia sedang hamil. Di setiap peralihan shalat, wanita ini pun kerap agak terduduk lama sebelum berdiri untuk memulai shalat lagi. Mungkin ia mengatur tenaganya, itu batin saya.

Dan pertanyaan saya akhirnya baru dapat saya keluarkan usai rangkaian shalat tarawih sebanyak 23 rakaat selesai.

“Hamil berapa bulan, Bu?” tanya saya usai menyalaminya di akhir shalat witir.

“Delapan bulan,” jawabnya yang membuat saya terkejut. Pasalnya, saya sendiri saja jarang-jarang mau shalat tarawih hingga 23 rakaat. Malah di sekitar 10 hari terakhir ramadhan, saya ‘ngungsi’ shalat tarawih ke sebuah masjid yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah saya jika saya menuju ke sana dengan bersepeda motor.

Wanita muda itu pun lalu bertutur. Menurutnya, ia sudah biasa shalat tarawih berjumlah sebanyak itu selama bulan ramadhan. Biasanya ia lakukan di rumah. Dan untuk di Masjid Akbar Surabaya, baru malam itulah ia bisa melaksanakan shalat di sana.

Shalat tarawih di masjid berkubah biru yang anggun itu dilaksanakan dalam dua versi. Para jamaah shalat bisa mengikuti 8 rakaat, dan bisa juga meneruskan hingga 23 rakaat berikut shalat witir.

Pelaksanaannya dilakukan dengan tenang dan khusyuk. Untuk mereka yang benar-benar ingin menghayati dan menikmati shalat, rasanya tepat untuk bershalat tarawih di sana. Tentu saja, rangkaian shalat tarawih, witir, sekaligus hingga ceramah itu dilakukan cukup lama. Sekitar pukul setengah sembilan malam, rangkaian shalat itu akhirnya usai. Shalat itu sendiri dipimpin oleh dua imam. Setiap imam memimpin 10 rakaat tarawih.

Ceramahnya sendiri dilaksanakan usai shalat Isya’. Yang membuat asyik shalat di tempat ini adalah di saat ceramah dan adzan. Ada dua layar besar yang di pasang beberapa meter di bagian kanan dan kiri dari tempat imam yang menampilkan hasil shooting dari posisi imam.

Anehnya selama saya shalat, saya sampai tidak tersadar jika sudah menempuh waktu yang lama untuk bershalat tarawih. Karena biasanya jika saya mengikuti shalat tarawih sebanyak 23 rakaat, saya kerap merasa bosan dan akhirnya menghitung sudah berapa rakaat yang harus saya tempuh lagi.

Hingga suatu ketika, saya memutuskan pindah shalat! Tapi aksi saya itu ada alasannya. Saya capek ‘gedubrak gedubruk’ shalat tarawih 23 rakaat. Apalagi usai sering mengikuti acara Ensiklopedi Islam yang dikawangi oleh Ustad Abu Sangkan, yang selalu membahas tentang kenikmatan-kenikmatan dalam shalat, saya ingin sekali menikmati shalat tarawih di masa-masa akhir bulan ramadhan. Akhirnya, mengungsilah saya bershalat tarawih di Masjid Al Azhar Lamongan yang memang menjadi basis dari jamaah Muhammadiyah.

*Pembaca Quran di Setiap Sudut Masjid

Beri’tikaf di Masjid Al Akbar Surabaya selama 10 hari terakhir ramadhan memiliki keasyikan tersendiri. Di sana, kita beribadah dengan merasa tidak sendirian. Banyak yang memilih untuk meningkatkan ibadah di tempat itu. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Yang datang juga beragam. Ada remaja yang datang berkelompok dengan teman-temannya, juga ada pula keluarga bahkan berikut anaknya yang masih balita.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

Saya sendiri datang dengan teman saya, Viva, dari Lamongan. Untuk yang belum tahu, dari Lamongan menuju Surabaya harus ditempuh dengan kendaraan umum sekitar selama 2 jam.

Apa saja yang dilakukan para peserta i’tikaf? Kebanyakan memilih untuk membaca Al Quran. Jika Anda berada di sana, Anda akan melihat bahwa hampir di setiap sudut masjid, banyak orang yang memilih duduk bersimpuh dan tekun membaca kitab Allah tersebut. Sedangkan jika malam hari, para peserta i’tikaf ini banyak yang melakukan shalat sunat.

Namun, ada juga para jamaah masjid yang memilih untuk pulang terlebih dahulu seusai shalat witir. Namun mendekati tengah malam, masjid pun kembali riuh dengan para jamaah yang memeriahkan rumah Allah. Ramainya bahkan semeriah saat shalat tarawih!

Saya sendiri sebetulnya terkesan dengan kegiatan i’tikaf ini ketika pernah melakukannya di Masjid Raya Batam Centre. Saat i’tikaf, terkadang, kita memang bisa berinteraksi dengan para jamaah lain yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya

*Seperti Diserbu Pasukan Jin dan Malaikat

Sewaktu i’tikaf, saya memilih untuk melakukan tidur dalam sejenak di sekitar pukul sebelas malam. Namun dalam tidur yang tentunya tidak bisa pulas itu, saya sangat terkejut ketika beberapa menit kemudian, suasana di sekitar saya tidak lagi lengang.

Tiba-tiba, saya seperti merasa banyak orang yang entah kapan dan dari mana mereka datang hingga sebegitu banyaknya berada di sekitar saya. Padahal sebelum saya terlelap, saya hanya melihat belasan orang saja yang ada di sekitar saya. Ada yang sedang menunaikan shalat malam, membaca Al Quran, atau tertidur.

Tapi ketika bangun, jumlah orang-orang yang melakukan itu bisa mencapai puluhan adanya di sekitar saya! Saya sampai sempat berpikir, “Ya Allah, apakah mereka semua manusia yang sedang juga beri’tikaf di malam-malam ganjil yang terakhir? Atau, adakah dari mereka ini malaikat atau jin?”

Rangkaian shalat malam di masjid itu sendiri sebetulnya direncanakan dimulai pukul satu dini hari. Namun akhirnya, baru sekitar setengah dua pagi shalat dimulai. Untuk menambah keheningan dan kekhusyukan, seluruh lampu ruangan di masjid itu dimatikan.

Shalat malam itu terdiri dari dua kali shalat tahajud yang tentunya masing-masing dua rakaat, shalat tasbih empat rakaat yang dibagi dengan salam seusai rakaat ke dua, dan penutupnya adalah dua rakaat shalat hajat.

Di akhir shalat hajat, imam mengajak jamaah shalat untuk sujud lama. Mungkin saya rasa, sekitar 15 hingga 30 menit sujud itu dilakukan. Dan rangkaian dari shalat malam itu baru selesai sekitar pukul tiga pagi.

Payahnya, karena saya belum pernah sama sekali beri’tikaf di sana, saya melakukan shalat dan niat! Jadi, ketika shalat tahajud yang ke dua, saya malah berniat shalat tasbih. Eh, di shalat tasbih yang ke dua, saya malah berniat shalat hajat!

Sudah begitu, perut saya yang menahan angin karena kebiasaan saya yang memang begitu mudah masuk angin, membuat saya kurang bisa khusyuk saat melakukan rangkaian shalat ini. Pelajaran pribadi, rasanya tahun depan jika ada kesempatan melakukan shalat di masjid itu lagi, saya harus menyediakan jamu tolak angin saset!

*Makan Berbuka dan Sahur Disediakan Pihak Masjid

Sebetulnya untuk para jamaah di masjid ini, pihak masjid menyediakan makanan bungkus untuk berbuka dan sahur. Begitu memudahkan para jamaah! Namun sayangnya karena jumlah jamaah cukup banyak, makanan tersebut juga harus didapat dengan cara antri atau bahkan berebut dengan para jamaah yang lain. Utamanya saat sahur. Maklum, jarang-jarang kan memang ada istilah antri di saat semua orang merasa terkejar waktu?!

Saya pribadi punya pelajaran dari hasil i’tikaf saya yang baru pertama kalinya saya lakukan di sana. Untuk berbuka, kita bisa memilih untuk memakan nasi bungkusan yang memang gratis itu, atau memilih untuk mencari makan di luar masjid.

Namun, pilihan ke dua itu juga tidak sepenuhnya memuaskan lho! Pasalnya selain urusan rasa, harga makanan yang dijual pun cukup lumayan. Saat saya makan berbuka saja, saya harus memilih untuk makan nasi soto yang rasanya berantakan!

Namun jika takut lama baru mendapatkan makanan saat sahur, ya karena ada istilah berebut itu tadi, belilah makanan untuk sahur di saat usai shalat tarawih. Kenapa demikian? Nah, kalau yang satu ini karena ada hubungannya dengan toilet.

Maklumi dan bayangkan saja, jamaah yang sebegitu banyaknya itu pasti seusai makan, rata-rata akan berebut untuk ke toilet sebelum shalat subuh. Di tempat wudhu jamaah wanita sendiri, sebetulnya ada sekitar 8 kamar mandi yang tersedia. Namun jika di situ ada ratusan jamaah wanita, tentunya kamar mandi sejumlah itu sangat tidak mencukupi. Ujung-ujungnya ya kembalilah ada istilah keakuan dengan dasar saya sedang terpepet oleh waktu!

*Rapat Tubuh Bukan Rapat Sajadah

Selama saya beri’tikaf di sana, saya salut dengan keberadaan para petugas masjid yang ada.  Untuk di kalangan jamaah wanita sendiri, petugas masjidnya terdiri dari ibu-ibu sekitar usia 50-an.

Mereka sangat membantu para jamaah lainnya. Mulai dari urusan membagi makanan sahur dan buka puasa, sampai di urusan menata shaf shalat. Apalagi wanita, urusan shaf memang kerap sulit untuk bisa teratur. Paling maksimal, mereka akan merapatkan sajadah sebagai maksud dari permintaan rapatkan shaf!

Malah yang kerap membuat saya gemas, ketika ada yang kosong, jamaah yang belakang enggan untuk mengisi. Meski sudah diperingatkan untuk diisi, yang ada, mereka bisa mencueki ajakan tersebut. Padahal istilah shaf yang rapat sesungguhnya adalah rapatnya tubuh secara sejajar antara satu dengan yang lain.

Nah, para petugas di Masjid Akbar inilah yang akan memantau, apakah jamaah hingga di shaf yang paling belakang sudah cukup rapat dan tidak bolong shafnya. Mereka bisa tegas memanggil atau mengajak orang-orang yang berada di bagian belakang untuk mengisi shaf yang masih kosong. Dan seperti kegemasan saya, orang-orang itu pun lebih banyak yang berlaku cuek, pura-pura tidak mendengar, atau tidak tahu!

Para petugas ini memiliki ciri khas yaitu memakai kalung dari tali yang bertanda nomor pada sebuah kertas kotak kecil. Dan yang salut dari mereka adalah ketika waktu berbuka tiba. Ketika semua orang sudah duduk menghadap kurma dan gelas di depannya masing-masing, para petugas ini masih hilir mudik mengajak, memanggil, dan menunjukkan tempat yang kosong untuk para jamaah agar bisa berbuka puasa tepat waktu!

Acara berbuka puasa di masjid ini sendiri dilaksanakan dengan cara dibentangkannya plastik panjang di bagian teras. Di bentangan itu, terdapatilah bungkusan kurma sebanyak 4 biji berikut air mineral. Nah, tugas para petugas masjid itulah yang memastikan, di mana tempat yang kosong yang bisa diisi oleh para jamaah yang akan berbuka puasa.


Oleh: Ika Maya Susanti

Semua bermula dari saat kulihat Ibu bersantai lama di teras rumah pada suatu petang. Ini sungguh jarang terjadi, karena biasanya seusai maghrib, Ibu selalu memilih untuk mematung menyaksikan sinetron di televisi. Dan uniknya, saat itu Ibu justru berada di bangku panjang rebah di balik pagar yang tak bercelah. Meski pandangan yang terbatas tak dapat melihat ke luar, namun tatapan Ibu seperti menembus pembatas hijau milik pagar itu.

“Ada apa dengan Ibu? Tumben!” kata batinku bertanya.

Penasaran, kutanyai Ibu, dengan pertanyaan “Sedang apa?” Wajah Ibu saat itu kudapati tampak khusyuk menembus pembatas pagar. Tentu saja seperti melihat sesuatu yang tak bisa terlihat mata. Tergagap, Ibu pun menjawab pertanyaanku dengan gelengan kepala. Tapi, ada seraut ekspresi yang tak bisa kutangkap gerangan apa di wajah Ibu.

Kupandangi seberang rumah yang masih riuh dengan suara anak-anak kecil menderas bacaan Qur’an. Oh, mungkin Ibu sedang menikmati celoteh kecil Arsa atau Kiki, anak-anak tetanggaku usia TK yang memang terkenal kerap berulah lucu jika sedang mengaji.

Kembali ku masuk, namun beberapa menit kemudian lagi, kudekati Ibu di luar rumah. Ternyata, Ibu tak berada sedang merebahkan dirinya di kursi panjang itu lagi. Tak ada satu pun orang yang bisa ku tanya. Namun suara Ibu di seberang rumah, menjadi jawabannya. Ibu ada di rumah Bu Sam, tetanggaku. Masih juga aku bertanya, sungguh petang yang tak biasa bagiku ketika melihat Ibu demikian.

Dan jawabannya, akhirnya kudapati juga di beberapa waktu selanjutnya. Usai dari rumah Bu Sam, wajah Ibu tampak berseri-seri. Namun tidak semeriah ketika usai mendapatkan arisan. Dalam setengah berbisik, Ibu berkata lamat-lamat, “Mbak, mulai besok, Ibu mau ngaji di tempat Bu Sam. Ibu minta ngaji dari awal saja. Nggak pa pa wes kalau dari alif ba’ ta’. Yang penting bacaannya bener!” kabar gembira itu Ibu sampaikan padaku.

Sungguh hal yang tak ku kira. Karena selama ini, sebetulnya aku sedikit kecewa ketika Ibu ku ajak mengaji di rumah sakit tempatnya kerja, namun Ibu selalu tak mau. Alasannya karena tak dapat mengikuti kecepatan ritme bacaan para peserta pengajian. Tapi kini, Ibu berinisiatif untuk belajar mengaji di rumah tetanggaku yang selama ini kerap membelajari anak-anak kecil membaca Al Qur’an.

Sebetulnya sejak aku kembali dari Batam usai sekian tahun lamanya meninggalkan rumah, aku cukup senang ketika bisa membelajari Ibu membaca Qur’an. Waktu itu, Ibu sendiri yang meminta kepadaku. Seusai maghrib, kami pun menekuni Al Qur’an di pangkuan masing-masing. Ibu yang membaca dengan bersuara, aku yang menyimak membetulkan. Waktu itu rasanya menyenangkan sekali. Tak menyangka, ternyata pilihanku untuk kembali hidup dekat dengan orang tua menjadi alasan Tuhan yang memintaku untuk membenahi bacaan Qur’an Ibu.

Sayang, kebiasaan itu hanya berjalan beberapa hari. Aku kerap memilih menekuni lembaran-lembaran target bacaanku Qur’anku sendiri. Sedang Ibu, menjadi kembali asyik dengan tayangan sinetron di televisi. Cengkrama bersama kami dengan Qur’an tak berlanjut lagi.

Dan kini, Ibu ingin belajar kembali, dengan seorang wanita yang memang sangat mengerti bagaimana membaca Qur’an. Di hari pertama, Ibuku melapor jika ternyata ia tak harus memulai dari Iqra’ jilid 1. Menurut analisa Bu Sam yang disampaikan Ibu padaku, Ibu hanya tinggal membenahi tajwid dan membaca secara lancar saja.

Sayangnya, ayahku tak begitu menyepakati apa yang dilakukan Ibu. Menurut Ayah, kenapa Ibu tak belajar di rumah saja denganku. Mungkin Ayah malu, istrinya masih belajar mengaji dengan cara mengeja, bahkan kalah dengan anak-anak kecil di sesi usai maghrib yang telah khatam Qur’an beberapa kali. Terlebih lagi, suara Ibu yang sedang membaca Qur’an memang terdengar lantang ke sana sini.

Tapi Ibu tak peduli. Bahkan yang ada, malah makin bersemangat. Menurut Ibu yang masih disalinnya dari perkataan Bu Sam, sebetulnya ada banyak para tetangga yang juga kurang bisa lancar membaca Qur’an seperti Ibu.

“Malah, Pak Mu’in itu dulunya yo nggak bisa lancar baca Qur’an juga kok, Mbak. Tapi karena ditunjuk jadi pengurus mushola, Pak Mu’in yang waktu itu masih dinas di Surabaya, belajar sama orang di sana. Lama-lama yo buktinya bisa lancar baca dan sering jadi imam di mushola,” kata Ibu dengan semangat membela dirinya.

Semangat Ibu memang terbukti. Kerutinannya mengaji di Bu Sam berbuah seorang teman yang juga berumah sebagai tetanggaku. Bu Joko, yang biasanya kerap ikut tadarus usai tarawih di mushola ketika bulan Ramadan, menjadi teman belajar Ibu di Bu Sam setiap usai shalat Isya’.

Kini hampir sebulan Ibu rutin mengaji. Suatu ketika, barulah ku tahu apa yang sebenarnya menjadi satu dari sekian target Ibu untuk belajar membaca Qur’an. “Moga-moga nanti pas bulan puasa, Ibu bisa ikut tadarus di mushola,” kata Ibu dengan wajah sumringah.

Aku jadi teringat kejadian satu bulan puasa tahun lalu, yang menjadi saat pertama dalam hidupku mengikuti tadarus di mushola dekat rumah. Bu Sam memang sempat mengeluh, karena malam-malam tadarus terutama untuk para wanita, hanya dihidupkan oleh segelintir orang saja. Paling-paling, hanya aku dan sekitar lima orang remaja yang menjadi pengisinya. Untuk ibu-ibunya, hanya Bu Sam dan dua orang ibu-ibu lainnya. Belum lagi ketika masa halangan menjangkiti kami para wanita atau masa-masa mendekati akhir dari bulan ramadan. Absen ketidakhadiran jadi makin meningkat!

Kata-kata Ibu yang kudengar itu pun membuatku tersenyum. Yah, semoga malam-malam tadarus nanti ada pertambahan pasukan yang membuat lantunan Qur’an makin meriah kala beradu dengan mushola-mushola lain yang ada di lingkungan perumnas kami. Paling tidak, satu orang yaitu ibuku itulah yang bisa menjadi pasukan barunya!

(Berdasarkan kisah nyata sendiri. Intinya, yuk kita sama-sama melihat sekeliling atau diri sendiri, makin dekat ramadan, kira-kira apa ya yang bisa kita persiapkan untuk bulan suci tersebut?) :)


Sudah lama sebetulnya saya ingin menulis pengalaman saya ini yang terjadi pada sebuah hari Minggu di awal bulan April. Cerita saya kali ini tentang anak-anak yang punya semangat besar untuk menghidupkan rumah Allah.

Ceritanya, suatu ketika saya sedang bermain di rumah mbah saya yang berada di daerah bernama Temenggungan, sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan. Entah mengapa kala itu hati saya begitu tergerak untuk memenuhi sebuah panggilan berupa lantunan adzan yang sangat indah dari suara seorang anak kecil melalui pengeras suara.

Maka akhirnya bergegaslah saya memenuhi kewajiban dzuhur saya. Mulai dari awal, semula saya pun bingung. Saya hanya menemukan anak-anak kecil yang menemani saya berwudhu hingga komat tanda deadline shalat di mushola itu dikumandangkan. Masih dari suara seorang anak kecil.

Penasaran, saya sibak sedikit tirai pembatas jamaah laki-laki dan perempuan. Yang kemudian saya temukan adalah, masihlah anak-anak kecil yang nampak sibuk bercanda.

“Lho, imamnya mana?” tanya saya kebingungan karena penasaran, mengapa anak-anak ini berani mengumandangkan adzan dan komat tanpa ada orang dewasa sama sekali. Dan jawaban saya itu pun lantas dijawab oleh sikap saling tatap dan senyum-senyum dari wajah cilik mereka.

Sedetik dua detik, barulah saya sadar, memang tidak akan ada orang dewasa di shalat jamaah dzuhur kali itu. “Ya sudah deh, salah satu jadi imamnya sana, gih!” pinta saya.

Lantas shalat dzuhur saya dengan anak-anak itu pun dimulai dan kemudian berakhir dengan lancar. Namanya saja shalat dengan anak-anak, ada saja tingkah mereka yang memang tidaklah bisa berlaku tertib dan hening selama shalat berlangsung. Misalnya suara anak bersendawa yang disengaja dan tiada henti-hentinya. Hehehe… dasar anak-anak!

Usai shalat dzuhur, penasaran, saya tanyai anak-anak tersebut. Anak yang mengumandangkan adzan bernama Yoga, seorang anak yang masih duduk di kelas 4 SD. Sedangkan yang menjadi imam dan sayangnya saya lupa namanya, masih duduk di kelas 3 SD. Dari sekian jumlah anak-anak tersebut, hanya satu orang yang paling tua dan itu pun masih duduk di kelas 5 SD.

“Shalat seperti ini ya memang sering kalian lakukan tanpa orang dewasa?” tanya saya yang dijawab dengan kata iya dan anggukan kepala dari anak-anak tersebut. Mereka sendiri tidak tahu, mengapa mereka kerap hanya berjamaah sendiri tanpa orang dewasa.

Uniknya, saya dengan naif bisa bertanya, “Lho, hari Minggu begini ini apa orangtua kalian tidak libur?” tanya saya lugu demi berpikir, jika anaknya saja bisa shalat berjamaah di mushola, mengapa orangtuanya tidak?

Pertanyaan saya dijawab balik dengan wajah keheranan dari anak-anak tersebut. Pasalnya, orangtua mereka bukanlah pegawai yang bisa libur di hari Minggu. Mereka anak-anak dari orangtua yang terus mengais rezeki setiap hari untuk membuat dapur tetap mengepul.

Saat berjalan pulang, saya membatin berbagai pikiran. Suara adzan yang sungguh cantik, dan anak-anak yang mandiri dengan tetap bersama membuat rumah Allah itu tetap berfungsi sebagai mana mestinya. Sungguh, anda saya orangtua mereka, banggalah saya pastinya memiliki anak-anak seperti itu yang tanpa saya sebagai orangtuanya, meminta mereka dalam sebentuk perintah wajib!

“Sesungguhnya Allah itu bersama dengan orang-orang yang sabar.” Kata-kata itu dulu jadi kerap saya dengar dari Etty, sahabat saya semasa berkuliah dan kos di Malang dalam bentuk ucapan bahasa Arabnya. Dalam ketidaksabarannya menghadapi sesuatu, kerap, Etty menahan rasa emosinya dengan mengucapkan kata-kata tersebut dan berupaya untuk tersenyum sembari menghela nafas.

Di kemudian hari, masih di Malang, saya yang awalnya hanya gemar membaca Al Quran tanpa tahu artinya, baru tahu jika kata-kata dalam bahasa Arab yang sering diucapkan Etty itu adalah bagian dari ayat Al Quran. Hehe… payah yah?!

Namun bagi saya sebelumnya, kata-kata tersebut hanya saya maknai sebagai arti bahwa Allah itu akan membantu orang-orang yang sedang berkondisi sabar. Paling tidak, kita melatihnya ketika melakukan shalat, puasa, atau ketika menghadapi orang yang sedang emosi. Pikir saya kala itu, jika kita sedang menghadapi suatu kesulitan, maka sebaiknya kita banyak melakukan shalat dan puasa. Maka, dari situlah Allah akan membantu kita.

Tapi itu pengertian yang saya pahami sebelum saya mendengar penjelasan dari Ustadz Abu Sangkan dalam acara Ensiklopedia Islam di Metro TV. Dalam acara yang selalu paling saya sukai setiap kali bulan Ramadan tiba, Ust Abu membuka pikiran saya dengan sebuah penjelasan nalar yang cukup membuat saya terpukau. Ia bisa menerangkan tentang sabar dalam sudut pandang energi dari ilmu tai chi milik Tionghoa.

Menurutnya, seseorang yang berada dalam kondisi sabar itu seperti laiknya seseorang yang sedang dalam kondisi kosong. Namun meski kosong yang terlihat, sesungguhnya kondisi sabar itu bisa membuat seseorang mengisi penuh energinya sehingga ia mampu memiliki kekuatan.

Misalnya saja ketika kita sedang menghadapi seseorang yang sedang emosi, sesungguhnya orang tersebut justru tidak sedang dalam kondisi berenergi. Yang ada, energi yang dimiliki oleh seseorang yang sedang emosi tersebut justru bisa terserap oleh orang di hadapannya yang sedang dalam kondisi diam, alias sabar.

Karena itulah seseorang yang usai menangis atau marah, pasti sesudahnya akan merasa lemas. Dalam Al Quran sendiri (yang maaf saya lupa surat dan ayatnya), disebutkan bahwasanya seseorang yang usai bersedih atau menangis, akan diberikan Allah rasa kantuk pada tubuhnya. Subhanallah, dari penjelasan Ust Abu, saya jadi paham makna dari surat tersebut!

Hubungan sabar dengan shalat juga hampir mirip dengan penalaran hubungan seseorang yang sabar ketika menghadapi seseorang yang sedang emosional. Seseorang yang sedang sabar dalam melakukan shalat, sesungguhnya ia sedang mengondisikan dirinya dalam keadaan yang nyaman. Baik itu dalam otak atau pikiran, maupun dalam gerak tubuhnya.

Kondisi otak dan tubuh yang seperti itu ternyata menurut Ust Abu, mampu membuat seseorang bahkan memiliki peningkatan antibodi dalam tubuhnya. Karena, otak akan dengan sendirinya memerintahkan pada tubuh untuk mengeluarkan zat kekebalan tubuh ketika seseorang berada dalam kondisi tersebut. Itu bahkan artinya, mampu membuat seseorang menyingkirkan sendiri penyakit-penyakit yang ada pada tubuhnya.

Penjelasan itulah yang membuat saya makin paham dan yakin akan khasiat shalat tahajud. Pernah saya dengar, jika kita memiliki penyakit kanker misalnya, bisa sembuh dengan sendiri melalui shalat tahajud yang dilakukan secara rutin.

Hilangnya penyakit itu memang tak lain dari izin Allah yang berasal dari doa-doa yang kita panjatkan kepada-Nya demi kesembuhan yang kita pinta. Namun jika melihat penjelasan akan efek shalat pada antibodi, sesungguhnya sistem kerja itulah yang sedang berproses pada diri kita.

Bagaimana cara shalat dengan sabar? Ust Abu pun memberikan tipsnya. Caranya, tak lain adalah dengan menikmati. Bahkan, Ust Abu pun justru tidak memberikan tips untuk berkonsentrasi lho ketika shalat!

Yang ada, Ust Abu justru menyarankan kita untuk sadar ketika shalat dan berpikir bahwasanya apa yang sedang kita ucapkan itu sesungguhnya memang ucapan yang sedang kita bicarakan kepada Allah yang berada di hadapan kita ketika kita sedang shalat. Cara sadar seperti itulah yang justru membuat kita bisa menikmati ritualitas shalat.

Nah, mumpung Ramadan, kita sama-sama belajar yuk untuk sabar. Semoga ketika kelak kita diberi rejeki usia oleh Allah bisa melewati masa Ramadan, ilmu sabar ini sudah bisa kita kuasai… J

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers