
Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya
*Ibu Hamil 8 Bulan pun Tarawih 23 Rakaat
Sejak awal tarawih di Masjid Akbar Surabaya malam itu, saya mencuri-curi lirikan ke seorang wanita muda yang berada di sebelah kiri saya. Ia sedang hamil. Di setiap peralihan shalat, wanita ini pun kerap agak terduduk lama sebelum berdiri untuk memulai shalat lagi. Mungkin ia mengatur tenaganya, itu batin saya.
Dan pertanyaan saya akhirnya baru dapat saya keluarkan usai rangkaian shalat tarawih sebanyak 23 rakaat selesai.
“Hamil berapa bulan, Bu?” tanya saya usai menyalaminya di akhir shalat witir.
“Delapan bulan,” jawabnya yang membuat saya terkejut. Pasalnya, saya sendiri saja jarang-jarang mau shalat tarawih hingga 23 rakaat. Malah di sekitar 10 hari terakhir ramadhan, saya ‘ngungsi’ shalat tarawih ke sebuah masjid yang jaraknya sekitar 15 menit dari rumah saya jika saya menuju ke sana dengan bersepeda motor.
Wanita muda itu pun lalu bertutur. Menurutnya, ia sudah biasa shalat tarawih berjumlah sebanyak itu selama bulan ramadhan. Biasanya ia lakukan di rumah. Dan untuk di Masjid Akbar Surabaya, baru malam itulah ia bisa melaksanakan shalat di sana.
Shalat tarawih di masjid berkubah biru yang anggun itu dilaksanakan dalam dua versi. Para jamaah shalat bisa mengikuti 8 rakaat, dan bisa juga meneruskan hingga 23 rakaat berikut shalat witir.
Pelaksanaannya dilakukan dengan tenang dan khusyuk. Untuk mereka yang benar-benar ingin menghayati dan menikmati shalat, rasanya tepat untuk bershalat tarawih di sana. Tentu saja, rangkaian shalat tarawih, witir, sekaligus hingga ceramah itu dilakukan cukup lama. Sekitar pukul setengah sembilan malam, rangkaian shalat itu akhirnya usai. Shalat itu sendiri dipimpin oleh dua imam. Setiap imam memimpin 10 rakaat tarawih.
Ceramahnya sendiri dilaksanakan usai shalat Isya’. Yang membuat asyik shalat di tempat ini adalah di saat ceramah dan adzan. Ada dua layar besar yang di pasang beberapa meter di bagian kanan dan kiri dari tempat imam yang menampilkan hasil shooting dari posisi imam.
Anehnya selama saya shalat, saya sampai tidak tersadar jika sudah menempuh waktu yang lama untuk bershalat tarawih. Karena biasanya jika saya mengikuti shalat tarawih sebanyak 23 rakaat, saya kerap merasa bosan dan akhirnya menghitung sudah berapa rakaat yang harus saya tempuh lagi.
Hingga suatu ketika, saya memutuskan pindah shalat! Tapi aksi saya itu ada alasannya. Saya capek ‘gedubrak gedubruk’ shalat tarawih 23 rakaat. Apalagi usai sering mengikuti acara Ensiklopedi Islam yang dikawangi oleh Ustad Abu Sangkan, yang selalu membahas tentang kenikmatan-kenikmatan dalam shalat, saya ingin sekali menikmati shalat tarawih di masa-masa akhir bulan ramadhan. Akhirnya, mengungsilah saya bershalat tarawih di Masjid Al Azhar Lamongan yang memang menjadi basis dari jamaah Muhammadiyah.
*Pembaca Quran di Setiap Sudut Masjid
Beri’tikaf di Masjid Al Akbar Surabaya selama 10 hari terakhir ramadhan memiliki keasyikan tersendiri. Di sana, kita beribadah dengan merasa tidak sendirian. Banyak yang memilih untuk meningkatkan ibadah di tempat itu. Mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua. Yang datang juga beragam. Ada remaja yang datang berkelompok dengan teman-temannya, juga ada pula keluarga bahkan berikut anaknya yang masih balita.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya
Saya sendiri datang dengan teman saya, Viva, dari Lamongan. Untuk yang belum tahu, dari Lamongan menuju Surabaya harus ditempuh dengan kendaraan umum sekitar selama 2 jam.
Apa saja yang dilakukan para peserta i’tikaf? Kebanyakan memilih untuk membaca Al Quran. Jika Anda berada di sana, Anda akan melihat bahwa hampir di setiap sudut masjid, banyak orang yang memilih duduk bersimpuh dan tekun membaca kitab Allah tersebut. Sedangkan jika malam hari, para peserta i’tikaf ini banyak yang melakukan shalat sunat.
Namun, ada juga para jamaah masjid yang memilih untuk pulang terlebih dahulu seusai shalat witir. Namun mendekati tengah malam, masjid pun kembali riuh dengan para jamaah yang memeriahkan rumah Allah. Ramainya bahkan semeriah saat shalat tarawih!
Saya sendiri sebetulnya terkesan dengan kegiatan i’tikaf ini ketika pernah melakukannya di Masjid Raya Batam Centre. Saat i’tikaf, terkadang, kita memang bisa berinteraksi dengan para jamaah lain yang bahkan tidak kita kenal sebelumnya.

Suasana I'tikaf di Masjid AKbar Surabaya
*Seperti Diserbu Pasukan Jin dan Malaikat
Sewaktu i’tikaf, saya memilih untuk melakukan tidur dalam sejenak di sekitar pukul sebelas malam. Namun dalam tidur yang tentunya tidak bisa pulas itu, saya sangat terkejut ketika beberapa menit kemudian, suasana di sekitar saya tidak lagi lengang.
Tiba-tiba, saya seperti merasa banyak orang yang entah kapan dan dari mana mereka datang hingga sebegitu banyaknya berada di sekitar saya. Padahal sebelum saya terlelap, saya hanya melihat belasan orang saja yang ada di sekitar saya. Ada yang sedang menunaikan shalat malam, membaca Al Quran, atau tertidur.
Tapi ketika bangun, jumlah orang-orang yang melakukan itu bisa mencapai puluhan adanya di sekitar saya! Saya sampai sempat berpikir, “Ya Allah, apakah mereka semua manusia yang sedang juga beri’tikaf di malam-malam ganjil yang terakhir? Atau, adakah dari mereka ini malaikat atau jin?”
Rangkaian shalat malam di masjid itu sendiri sebetulnya direncanakan dimulai pukul satu dini hari. Namun akhirnya, baru sekitar setengah dua pagi shalat dimulai. Untuk menambah keheningan dan kekhusyukan, seluruh lampu ruangan di masjid itu dimatikan.
Shalat malam itu terdiri dari dua kali shalat tahajud yang tentunya masing-masing dua rakaat, shalat tasbih empat rakaat yang dibagi dengan salam seusai rakaat ke dua, dan penutupnya adalah dua rakaat shalat hajat.
Di akhir shalat hajat, imam mengajak jamaah shalat untuk sujud lama. Mungkin saya rasa, sekitar 15 hingga 30 menit sujud itu dilakukan. Dan rangkaian dari shalat malam itu baru selesai sekitar pukul tiga pagi.
Payahnya, karena saya belum pernah sama sekali beri’tikaf di sana, saya melakukan shalat dan niat! Jadi, ketika shalat tahajud yang ke dua, saya malah berniat shalat tasbih. Eh, di shalat tasbih yang ke dua, saya malah berniat shalat hajat!
Sudah begitu, perut saya yang menahan angin karena kebiasaan saya yang memang begitu mudah masuk angin, membuat saya kurang bisa khusyuk saat melakukan rangkaian shalat ini. Pelajaran pribadi, rasanya tahun depan jika ada kesempatan melakukan shalat di masjid itu lagi, saya harus menyediakan jamu tolak angin saset!
*Makan Berbuka dan Sahur Disediakan Pihak Masjid
Sebetulnya untuk para jamaah di masjid ini, pihak masjid menyediakan makanan bungkus untuk berbuka dan sahur. Begitu memudahkan para jamaah! Namun sayangnya karena jumlah jamaah cukup banyak, makanan tersebut juga harus didapat dengan cara antri atau bahkan berebut dengan para jamaah yang lain. Utamanya saat sahur. Maklum, jarang-jarang kan memang ada istilah antri di saat semua orang merasa terkejar waktu?!
Saya pribadi punya pelajaran dari hasil i’tikaf saya yang baru pertama kalinya saya lakukan di sana. Untuk berbuka, kita bisa memilih untuk memakan nasi bungkusan yang memang gratis itu, atau memilih untuk mencari makan di luar masjid.
Namun, pilihan ke dua itu juga tidak sepenuhnya memuaskan lho! Pasalnya selain urusan rasa, harga makanan yang dijual pun cukup lumayan. Saat saya makan berbuka saja, saya harus memilih untuk makan nasi soto yang rasanya berantakan!
Namun jika takut lama baru mendapatkan makanan saat sahur, ya karena ada istilah berebut itu tadi, belilah makanan untuk sahur di saat usai shalat tarawih. Kenapa demikian? Nah, kalau yang satu ini karena ada hubungannya dengan toilet.
Maklumi dan bayangkan saja, jamaah yang sebegitu banyaknya itu pasti seusai makan, rata-rata akan berebut untuk ke toilet sebelum shalat subuh. Di tempat wudhu jamaah wanita sendiri, sebetulnya ada sekitar 8 kamar mandi yang tersedia. Namun jika di situ ada ratusan jamaah wanita, tentunya kamar mandi sejumlah itu sangat tidak mencukupi. Ujung-ujungnya ya kembalilah ada istilah keakuan dengan dasar saya sedang terpepet oleh waktu!
*Rapat Tubuh Bukan Rapat Sajadah
Selama saya beri’tikaf di sana, saya salut dengan keberadaan para petugas masjid yang ada. Untuk di kalangan jamaah wanita sendiri, petugas masjidnya terdiri dari ibu-ibu sekitar usia 50-an.
Mereka sangat membantu para jamaah lainnya. Mulai dari urusan membagi makanan sahur dan buka puasa, sampai di urusan menata shaf shalat. Apalagi wanita, urusan shaf memang kerap sulit untuk bisa teratur. Paling maksimal, mereka akan merapatkan sajadah sebagai maksud dari permintaan rapatkan shaf!
Malah yang kerap membuat saya gemas, ketika ada yang kosong, jamaah yang belakang enggan untuk mengisi. Meski sudah diperingatkan untuk diisi, yang ada, mereka bisa mencueki ajakan tersebut. Padahal istilah shaf yang rapat sesungguhnya adalah rapatnya tubuh secara sejajar antara satu dengan yang lain.
Nah, para petugas di Masjid Akbar inilah yang akan memantau, apakah jamaah hingga di shaf yang paling belakang sudah cukup rapat dan tidak bolong shafnya. Mereka bisa tegas memanggil atau mengajak orang-orang yang berada di bagian belakang untuk mengisi shaf yang masih kosong. Dan seperti kegemasan saya, orang-orang itu pun lebih banyak yang berlaku cuek, pura-pura tidak mendengar, atau tidak tahu!
Para petugas ini memiliki ciri khas yaitu memakai kalung dari tali yang bertanda nomor pada sebuah kertas kotak kecil. Dan yang salut dari mereka adalah ketika waktu berbuka tiba. Ketika semua orang sudah duduk menghadap kurma dan gelas di depannya masing-masing, para petugas ini masih hilir mudik mengajak, memanggil, dan menunjukkan tempat yang kosong untuk para jamaah agar bisa berbuka puasa tepat waktu!
Acara berbuka puasa di masjid ini sendiri dilaksanakan dengan cara dibentangkannya plastik panjang di bagian teras. Di bentangan itu, terdapatilah bungkusan kurma sebanyak 4 biji berikut air mineral. Nah, tugas para petugas masjid itulah yang memastikan, di mana tempat yang kosong yang bisa diisi oleh para jamaah yang akan berbuka puasa.