Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.
Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.
*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi
Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.
Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.
Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.
Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!
Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok. Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.
Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.
Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.
Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!
*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!
Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!
Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!
Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?
Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.
Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”
*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan
Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.
Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!
Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.
Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”
Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.
Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.
Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.
Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.
Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.
Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!
Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.
*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan
Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.
Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.
Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.
Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!
Siang yang mendung di Jogja. Bahkan saat itu masih terasa kelam karena sejak dini hari, di hari Rabu (7/4) lalu, tanah dengan masyarakatnya yang kini bangkit dari keterpurukuan sejak gempa itu diguyur curahan air dari langit tiada jeda.
Usai tes wawancara untuk masuk kuliah Pascasarjana UGM, saya sempat ditawari oleh sahabat saya Andik untuk melihat Merapi. Namun saya menyangsikan, “Apa yakin bisa lihat puncaknya?!” celutuk saya demi melihat awan yang masih bergelayut tebal di sana- sini.
Tapi karena tidak tahu harus mengisi waktu dengan cara apa, saya pun akhirnya meminta untuk benar-benar diajak melihat seperti apa Merapi yang sesungguhnya dari jarak dekat.
Andik lalu mengajak saya menuju sebuah daerah bernama Kali Tengah. Benar saja, ketika sampai di sana, saya hanya bisa melihat Merapi yang separuh tubuhnya terselimuti gumpalan tebal berwarna putih.
Menurut kawan saya tersebut, di tempat itu terdapat bunker atau tempat untuk berlindung dari wedhus gembel serta sebuah gua peninggalan Jepang. Dan masih menurut kawan saya, dulunya, di bunker itu pernah memakan korban ketika ada dua orang relawan yang mencoba berlindung dari wedhus gembel dengan masuk ke dalam bunker, akan tetapi justru terkubur oleh muntahan Merapi.
Karena tangan saya gatal dan kangen dengan fotografi, maka objek seadanyalah yang coba saya cari di sana untuk bahan foto. Misalnya, potret tentang sepasang lelaki dan wanita tua yang mencoba memecah tiga gelondong kayu besar untuk memudahkan mereka saat membawanya. Atau, sebuah batu besar yang berdiri tanggung di batas antara pijakan atas dan bagian bawah dari kali.
Ketika berniat beranjak dari Merapi, entah mengapa, sekilas saat saya berpaling kembali mencoba menatap puncak dari gunung tersebut, kali itu saya justru bisa melihat puncak merapi yang nampak mulai bersih dari sapuan awan tebal.
Momen yang tidak akan saya lewatkan! Apalagi saat itu Andik menyemangati saya untuk segera mengabadikan momen yang katanya langka dan bisa jadi sebentar lagi, sang Merapi kembali akan mengenakan selimut putih dari awan. Sampai-sampai waktu itu, saya terpeleset kerikil-kerikil kecil yang saya salah pijak.
Cuaca tak cerah dari langit justru makin berkebalikan ketika saya dan kawan saya menuruni Merapi untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan, saat saya sesekali melirik ke puncak Merapi yang saya tinggalkan, gunung yang masih aktif itu justru nampak makin terlihat cerah dan bersih dari awan putih.
Hingga tibalah saya di sebuah jembatan dari bendungan Kali Kuning. Di tempat itu, Sang Merapi justru telah siap berpose cantik menunggu saya untuk mengabadikan keanggunannya.
Foto-foto lain dari Merapi dan sekitarnya yang sempat saya ambil:
Ini cerita lain yang saya dapatkan ketika saya menapaki kaki untuk pertama kalinya di kaki gunung Merapi. Kala itu sayup-sayup, saya mendengar desingan suara yang terus bertalu-talu dari kejauhan. Di jauh seberang yang tak seberapa jelas terlihat oleh mata saya, sepasang laki-laki dan perempuan nampak bergerak-gerak seiring dengan taluan suara yang mampir di telinga saya.
“Ke sana yuk, Ndik,” ajak saya pada sahabat saya Andik yang sore itu berkenan berbaik hati mengantar saya untuk mengenal Merapi dari jarak lebih dekat.
Makin dekat, semakin saya sadar apa yang saya lihat. Ada sepasang kakek nenek, dengan wajah keriput yang masih terlihat segar, saling bergantian memecah sebuah batang pohon besar dengan tumbukan pada besi dan bahkan batu-batuan cadas yang berserak di sekitar mereka. Sedangkan di dekat mereka, dua bongkahan kayu dengan ukuran yang sama, masih tetap utuh tergeletak begitu saja.
“Kayu ini dipecah, biar mudah dibawa,” kata sang nenek dalam bahasa Jawa ketika kawan saya, Andik, bertanya.
“Lho, memang tadi dapatnya dari mana?” Andik kembali bertanya.
“Dari sana,” ujar sang kakek dan tunjuk sang perempuan pada arah kaki gunung Merapi yang lebih mendekati lereng.
“Lho, terus tadi dibawa ke sini pakai apa?” sahabat saya itu jadi kebingungan. Karena, untuk apa memecah kayu menjadi dua jika sebelumnya mereka bisa membawa tiga-tiganya ke dekat tepi Kali Tengah?
“Ya tadi bawanya juga gantian. Tapi sampai sini tidak kuat,” jawab sang nenek membuat kami terpukau. Bagaimana tidak, sepotong kayu itu saja besarnya satu lingkar pelukan tangan orang dewasa dengan panjang sekitar setinggi sepangkal kaki saya. Tiga gelondong kayu, dan mereka hanyalah berdua!
Sementara Andik sesekali bertanya, saya asyik jepret sana sini sambil sesekali merenung membatin. “Ya Allah, kayu itu cukup besar. Bagaimana mereka tadi bisa kuat membawanya? Lalu jika memecah dengan cara seperti ini, kapan mereka bisa berhasil? Sudah berapa lama mereka tekun memecah kayu itu hingga hari yang sudah tergelincir dari waktu Ashar saat itu saja, mereka masih belum kunjung memecah sebuah balok kayu saja?” tanya saya tanpa suara.
Alih-alih tak kuat melihat keteguhan mereka, saya naik ke sebuah bukit di atas mereka mencari objek lain. Karena tidak menemukan apa-apa, saya balik ke posisi di mana sepasang kakek nenek itu masih terus memecah kayu.
“Prak!” seketika saya menoleh dan langsung spontan tercetus ucap syukur. Sebuah kayu yang lama ditekuni untuk dibelah itu akhirnya merekah menjadi dua bagian. Mendengar saya yang mengucap syukur, kakek nenek itu pun memandang saya juga dengan senyum bahagia.
“Iya alhamdulillah, akhirnya terbelah,” ujar mereka girang.
Beberapa kali mereka saling berkata, namun saya tidak bisa paham dengan pasti apa yang mereka bicarakan. Maklum, terkadang kemampuan bahasa Jawa saya memang payah! Namun saat saya memilih sibuk untuk lebih memperhatikan kayu yang kini tak lagi berbadan satu, sekilas saya lirik sang nenek menggulingkan sebuah kayu yang awalnya tegak berdiri untuk juga kembali dibelah.
“Lho, itu juga mau dibelah?” tanya saya yang dijawab iya oleh mereka.
Dan lagi saya dibuat terkesima demi melihat bagaimana sebetulnya cara mereka memulai untuk membuat celah pada bongkahan kayu yang kerasnya bahkan seperti batu. Mereka menancapkan sebentuk besi seperti linggis di sebuah bagian tubuh, lalu melakukannya pada besi yang lain di tubuh dari kayu yang searah dengan besi pertama yang ditancapkan.
Seperti terlihat mustahil jika melihat proses mereka dari awal seperti itu. Tapi toh mata saya sudah disodori bukti tentang sebuah kayu yang pada sebelumnya, nasibnya telah terbelah menjadi dua.
Saat pulang menuruni kaki Merapi, saya sibuk mencerna sebuah pelajaran dari Tuhan yang diberikan pada saya hari itu. Saya sudah tahu tentang kekuatan pikiran dari buku The Secret. Tapi kali itu, saya sungguh disuguhi oleh bukti dari kekuatan pikiran yang sesungguhnya.
Masyarakat kaki gunung Merapi memang tidak seperti saya yang membaca buku The Secret dulu lalu baru tahu tentang apa itu kekuatan pikiran. Dan mereka sudah membuktikan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesederhanaan.
Foto ini saya ambil sekitar seminggu yang lalu, saat acara jalan sehat di kelurahan tempat saya tinggal. Biasanya memang, untuk memeriahkan acara semacam ini, pihak penyelenggara kerap mengadakan acara undian bagi para pesertanya. Ehem, seperti yang ada dalam foto inilah yang kerap terjadi…

cerita ningsih dan septi