Ketika Bromo Sudah Membuka Diri Lagi

Standard
Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Semburat Jingga Sebelum Mentari Terbit

Ini foto-foto hasil jepretan saya dengan menggunakan ponsel saat saya mengunjungi Bromo di akhir Juli 2011. Ya, Bromo memang cantik! Pantas saja banyak wisatawan yang penasaran untuk berkunjung ke sana, baik dari Indonesia maupun manca negara.

Bromo Gulita Menjelang Fajar

Bromo Gulita Menjelang Fajar

 

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

Bromo Tersaput Kilauan Emas Sang Fajar

 

Para Pemburu Matahari Terbit

Para Pemburu Matahari Terbit

 

Laskar 'Ojeg' Berkuda

Laskar 'Ojeg' Berkuda

 

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

Padang Pasir Bromo Berpayung Langit Biru

 

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

Pura Tersaput Pusaran Angin dan Debu

 

Kawah Bromo

Kawah Bromo

 

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Mengintip Kawah Bromo di Batas Pijakan yang Rapuh

Menikmati Liburan Usai Lebaran di Pantai Wotgalih, Lumajang

Standard

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Memburu Merapi Tanpa Awan

Standard

Melihat Merapi dari Kali Tengah saat sedang tak berbaju awan putih

Siang yang mendung di Jogja. Bahkan saat itu masih terasa kelam karena sejak dini hari, di hari Rabu (7/4) lalu, tanah dengan masyarakatnya yang kini bangkit dari keterpurukuan sejak gempa itu diguyur curahan air dari langit tiada jeda.

Usai tes wawancara untuk masuk kuliah Pascasarjana UGM, saya sempat ditawari oleh sahabat saya Andik untuk melihat Merapi. Namun saya menyangsikan, “Apa yakin bisa lihat puncaknya?!” celutuk saya demi melihat awan yang masih bergelayut tebal di sana- sini.

Tapi karena tidak tahu harus mengisi waktu dengan cara apa, saya pun akhirnya meminta untuk benar-benar diajak melihat seperti apa Merapi yang sesungguhnya dari jarak dekat.

Andik lalu mengajak saya menuju sebuah daerah bernama Kali Tengah. Benar saja, ketika sampai di sana, saya hanya bisa melihat Merapi yang separuh tubuhnya terselimuti gumpalan tebal berwarna putih.

Merapi saat tersapu awan gelap

Menurut kawan saya tersebut, di tempat itu terdapat bunker atau tempat untuk berlindung dari wedhus gembel serta sebuah gua peninggalan Jepang. Dan masih menurut kawan saya, dulunya, di bunker itu pernah memakan korban ketika ada dua orang relawan yang mencoba berlindung dari wedhus gembel dengan masuk ke dalam bunker, akan tetapi justru terkubur oleh muntahan Merapi.

Bunker tempat berlindung dari wedhus gembel

Karena tangan saya gatal dan kangen dengan fotografi, maka objek seadanyalah yang coba saya cari di sana untuk bahan foto. Misalnya, potret tentang sepasang lelaki dan wanita tua yang mencoba memecah tiga gelondong kayu besar untuk memudahkan mereka saat membawanya. Atau, sebuah batu besar yang berdiri tanggung di batas antara pijakan atas dan bagian bawah dari kali.

Batu yang enggan beranjak turun

Ketika berniat beranjak dari Merapi, entah mengapa, sekilas saat saya berpaling kembali mencoba menatap puncak dari gunung tersebut, kali itu saya justru bisa melihat puncak merapi yang nampak mulai bersih dari sapuan awan tebal.

Awan yang mulai pergi meninggalkan puncak Merapi

Momen yang tidak akan saya lewatkan! Apalagi saat itu Andik menyemangati saya untuk segera mengabadikan momen yang katanya langka dan bisa jadi sebentar lagi, sang Merapi kembali akan mengenakan selimut putih dari awan. Sampai-sampai waktu itu, saya terpeleset kerikil-kerikil kecil yang saya salah pijak.

Cuaca tak cerah dari langit justru makin berkebalikan ketika saya dan kawan saya menuruni Merapi untuk pulang ke rumah. Sepanjang jalan, saat saya sesekali melirik ke puncak Merapi yang saya tinggalkan, gunung yang masih aktif itu justru nampak makin terlihat cerah dan bersih dari awan putih.

Hingga tibalah saya di sebuah jembatan dari bendungan Kali Kuning. Di tempat itu, Sang Merapi justru telah siap berpose cantik menunggu saya untuk mengabadikan keanggunannya.

Cantiknya Merapi dari Bendungan Kali Kuning

Foto-foto lain dari Merapi dan sekitarnya yang sempat saya ambil:

Batu sendiri

Sendiri dan tak ingin beranjak

The Hercules, ketika kawan saya Andik menjadi model untuk berpose mendorong batu yang besar

Kali Tengah, tempat merapi menyalurkan muntahannya

Kekuatan Pikiran dalam Kesederhanaan

Standard

Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi

Ini cerita lain yang saya dapatkan ketika saya menapaki kaki untuk pertama kalinya di kaki gunung Merapi. Kala itu sayup-sayup, saya mendengar desingan suara yang terus bertalu-talu dari kejauhan. Di jauh seberang yang tak seberapa jelas terlihat oleh mata saya, sepasang laki-laki dan perempuan nampak bergerak-gerak seiring dengan taluan suara yang mampir di telinga saya.

Ke sana yuk, Ndik,” ajak saya pada sahabat saya Andik yang sore itu berkenan berbaik hati mengantar saya untuk mengenal Merapi dari jarak lebih dekat.

Makin dekat, semakin saya sadar apa yang saya lihat. Ada sepasang kakek nenek, dengan wajah keriput yang masih terlihat segar, saling bergantian memecah sebuah batang pohon besar dengan tumbukan pada besi dan bahkan batu-batuan cadas yang berserak di sekitar mereka. Sedangkan di dekat mereka, dua bongkahan kayu dengan ukuran yang sama, masih tetap utuh tergeletak begitu saja.

Terus mencoba membelaha kayu menjadi dua

Kayu ini dipecah, biar mudah dibawa,” kata sang nenek dalam bahasa Jawa ketika kawan saya, Andik, bertanya.

Lho, memang tadi dapatnya dari mana?” Andik kembali bertanya.

Dari sana,” ujar sang kakek dan tunjuk sang perempuan pada arah kaki gunung Merapi yang lebih mendekati lereng.

Lho, terus tadi dibawa ke sini pakai apa?” sahabat saya itu jadi kebingungan. Karena, untuk apa memecah kayu menjadi dua jika sebelumnya mereka bisa membawa tiga-tiganya ke dekat tepi Kali Tengah?

Ya tadi bawanya juga gantian. Tapi sampai sini tidak kuat,” jawab sang nenek membuat kami terpukau. Bagaimana tidak, sepotong kayu itu saja besarnya satu lingkar pelukan tangan orang dewasa dengan panjang sekitar setinggi sepangkal kaki saya. Tiga gelondong kayu, dan mereka hanyalah berdua!

Gelondong kayu yang sungguh tidaklah kecil

Sementara Andik sesekali bertanya, saya asyik jepret sana sini sambil sesekali merenung membatin. “Ya Allah, kayu itu cukup besar. Bagaimana mereka tadi bisa kuat membawanya? Lalu jika memecah dengan cara seperti ini, kapan mereka bisa berhasil? Sudah berapa lama mereka tekun memecah kayu itu hingga hari yang sudah tergelincir dari waktu Ashar saat itu saja, mereka masih belum kunjung memecah sebuah balok kayu saja?” tanya saya tanpa suara.

Alih-alih tak kuat melihat keteguhan mereka, saya naik ke sebuah bukit di atas mereka mencari objek lain. Karena tidak menemukan apa-apa, saya balik ke posisi di mana sepasang kakek nenek itu masih terus memecah kayu.

Prak!” seketika saya menoleh dan langsung spontan tercetus ucap syukur. Sebuah kayu yang lama ditekuni untuk dibelah itu akhirnya merekah menjadi dua bagian. Mendengar saya yang mengucap syukur, kakek nenek itu pun memandang saya juga dengan senyum bahagia.

Iya alhamdulillah, akhirnya terbelah,” ujar mereka girang.

Beberapa kali mereka saling berkata, namun saya tidak bisa paham dengan pasti apa yang mereka bicarakan. Maklum, terkadang kemampuan bahasa Jawa saya memang payah! Namun saat saya memilih sibuk untuk lebih memperhatikan kayu yang kini tak lagi berbadan satu, sekilas saya lirik sang nenek menggulingkan sebuah kayu yang awalnya tegak berdiri untuk juga kembali dibelah.

Lho, itu juga mau dibelah?” tanya saya yang dijawab iya oleh mereka.

Dan lagi saya dibuat terkesima demi melihat bagaimana sebetulnya cara mereka memulai untuk membuat celah pada bongkahan kayu yang kerasnya bahkan seperti batu. Mereka menancapkan sebentuk besi seperti linggis di sebuah bagian tubuh, lalu melakukannya pada besi yang lain di tubuh dari kayu yang searah dengan besi pertama yang ditancapkan.

Seperti terlihat mustahil jika melihat proses mereka dari awal seperti itu. Tapi toh mata saya sudah disodori bukti tentang sebuah kayu yang pada sebelumnya, nasibnya telah terbelah menjadi dua.

Saat pulang menuruni kaki Merapi, saya sibuk mencerna sebuah pelajaran dari Tuhan yang diberikan pada saya hari itu. Saya sudah tahu tentang kekuatan pikiran dari buku The Secret. Tapi kali itu, saya sungguh disuguhi oleh bukti dari kekuatan pikiran yang sesungguhnya.

Masyarakat kaki gunung Merapi memang tidak seperti saya yang membaca buku The Secret dulu lalu baru tahu tentang apa itu kekuatan pikiran. Dan mereka sudah membuktikan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesederhanaan.

Berdua pantang menyerah membelah kayu

Bergantian istirahat dan menghujam kayu agar terbelah

Kalah Undian

Standard

Foto ini saya ambil sekitar seminggu yang lalu, saat acara jalan sehat di kelurahan tempat saya tinggal. Biasanya memang, untuk memeriahkan acara semacam ini, pihak penyelenggara kerap mengadakan acara undian bagi para pesertanya. Ehem, seperti yang ada dalam foto inilah yang kerap terjadi…

cerita ningsih dan septi

cerita ningsih dan septi

Pada Sebuah Kursi Kayu Panjang dan Sepeda Tua

Standard

Foto-foto ini saya ambil dengan latar sebuah kursi kayu panjang yang ada di depan rumah Mbah saya di Temenggungan, Lamongan, Jatim. Sayang, karena nggak ada software buat ngedit yang jadi ciamik, jadinya mengandalkan pengambilan sudut pandang dan pengarahan gaya saja andalannya…

Pose Om dan Bulek saya dalam nostalgia masa dulu. Hehehe... aslinya sih habis pusing mikirin uang yang mudah menguap untuk biaya sekolah anaknya! Hehehe..

Pose Om dan Bulek saya dalam nostalgia masa dulu. Hehehe... aslinya sih habis pusing mikirin uang yang mudah menguap untuk biaya sekolah anaknya! Hehehe..

Mbah Kakung dengan radio dan sepeda tuanya

Mbah Kakung dengan radio dan sepeda tuanya

Sepeda yang biasa disebut dengan sepeda jengki ini digunakan untuk menjajakan sebuah tangga oleh seorang pedagang keliling. Foto ini diambil ketika saya sedang asyik memfoto mbah saya dan kemudian lewatlah seorang penjaja tangga dari kayu yang lewat di dekat kami.

Sepeda yang biasa disebut dengan sepeda jengki ini digunakan untuk menjajakan sebuah tangga oleh seorang pedagang keliling. Foto ini diambil ketika saya sedang asyik memfoto mbah saya dan kemudian lewatlah seorang penjaja tangga dari kayu yang lewat di dekat kami.

Ika Maya Susanti dengan pose di balik sepeda jengki. Hehehe... bukan ika namanya kalau nggak bisa buat foto nartistik = narsis tapi harus artistik!

Ika Maya Susanti dengan pose di balik sepeda jengki. Hehehe... bukan ika namanya kalau nggak bisa buat foto nartistik = narsis tapi harus artistik!

Kebun Raya Mini ala Bumiaji

Standard

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu

Arboretum di Bumiaji, Kota Batu


Bumiaji, Kota Batu

Bumiaji, Kota Batu

Jika di Bogor atau Pasuruan ada kebun raya, di Kota Batu atau tepatnya di Kecamatan Bumiaji, ternyata ada juga sebuah kebun raya mini yang tak kalah cantiknya. Letaknya ada di lereng gunung dan hampir berada di puncak dari perbukitan Kota Batu.

Tempat ini sendiri memiliki julukan arboretum atau kebun percobaan. Jika menurut Sulvi, satu dari mahasiswi Universitas Negeri Malang jurusan Biologi, arboretum menjadi surga dari  anak-anak Biologi, bidang studi yang dipilihnya.

Julukan kebun raya mini memang bisa mengena untuk tempat ini. Berbagai jenis tumbuhan ada dan ditanam di sana berikut nama-namanya. Anda bisa menemukan Pohon Kina yang bisa digunakan sebagai obat malaria, Paku Pohon yang berbentuk paku-pakuan tapi bisa tumbuh besar sebagai sebuah pohon, Kayu Manis, dan segala macam jenis tumbuhan lainnya.

Sayangnya saya kurang bisa mengajak bicara pengelola dari tempat itu. Yang saya tahu, di dekat pintu masuknya saja ada sebuah pohon sejenis cemara yang ditanam pada tahun 1992.

Hingga kini, tempat ini sering dijadikan kegiatan penelitian misalnya oleh para mahasiswa yang membutuhkan tempat ini sebagai bahan pembelajaran, sebagai wahana rekreasi oleh masyarakat, hingga kegiatan mahasiswa seperti diklat alam yang saya ikuti oleh adik-adik saya di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang.

Memang, tempat ini cukup cantik untuk dijadikan tempat rekreasi. Pengelola tempat ini sendiri memberikan beberapa sentuhan yang makin membuat siapapun menjadi nyaman untuk berada di sana.

Misalnya saja jalan setapak yang ditanami Bunga Panca Warna atau yang kadang juga disebut Bunga Desember. Bunga dengan kelopak-kelopak kecil yang mengumpul menjadi gerombolan berbentuk bulatan besar ini akan membaut gemas siapapun yang melihatnya. Warnanya yang bisa berubah-rubah membuat tempat itu seakan-akan memiliki beberapa jenis bunga yang berbeda warna.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Bunga Panca Warna memang memiliki beberapa fase pergantian warna. Mulai dari putih, kuning, biru, semburat keunguan, merah, atau beranjak ke jingga. Sayangnya, saya tidak hapal fase pergantian warna dari bunga ini.

Bunga Panca Warna

Bunga Panca Warna

Beberapa jembatan juga dibuat berjenjang di beberapa tempat. Karena tempat ini merupakan lereng bukit, maka kontur tanah di daerah inipun tidak rata. Dan jika Anda berdiri di pinggir sungai yang mengalirkan air dari sumbernya, maka Anda akan bisa melihat jembatan yang melintang dengan berjenjang.

Arboretum, Kota Batu

Arboretum, Kota Batu

Tak hanya pepohonan dan bunga yang ditanam dengan sengaja dan teratur, beberapa tumbuhan liar baik yang berbunga maupun tidak juga ikut tumbuh dan menambah kecantikan dari tempat ini.

Bunga liar

Bunga liar


Bunga di Arboretum

Bunga di Arboretum

Di tempat ini sendiri juga sebetulnya terdapat satu dari sekian sumber mata air dari Sungai Brantas. Kejernihan airnya bisa menghapus siapapun yang mungkin pusing jika pernah mengetahui betapa kotornya sungai itu ketika berada dalam garis menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Surabaya.

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Mata air Kali Brantas di Arboretum Bumiaji

Kecantikan tempat ini juga mengasyikkan bagi mereka yang mencintai dunia fotografi. Apalagi bagi mereka yang ingin mengabadikannya sebagai sesi foto pre wedding, inilah surga yang penuh dengan sudut natural yang segar sebagai pembalut kesan keromantisan.

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Arboretum Bumiaji, Kota Batu

Namun jika memang itu tujuannya, sebaiknya datanglah ke tempat ini di kala pagi hari. Karena tempat ini berada di lereng puncak bukit, sinar matahari memang hanya bisa bersinar sampai sekitar pukul 10 pagi. Selebihnya, saputan awan akan mengambil alih dan membuat pencahayaan menjadi redup. Bahkan, rintikan gerimis justru yang kemudian turun membuat suasana menjadi muram.