Target Bacaan Qur’an Ibu

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

Semua bermula dari saat kulihat Ibu bersantai lama di teras rumah pada suatu petang. Ini sungguh jarang terjadi, karena biasanya seusai maghrib, Ibu selalu memilih untuk mematung menyaksikan sinetron di televisi. Dan uniknya, saat itu Ibu justru berada di bangku panjang rebah di balik pagar yang tak bercelah. Meski pandangan yang terbatas tak dapat melihat ke luar, namun tatapan Ibu seperti menembus pembatas hijau milik pagar itu.

“Ada apa dengan Ibu? Tumben!” kata batinku bertanya.

Penasaran, kutanyai Ibu, dengan pertanyaan “Sedang apa?” Wajah Ibu saat itu kudapati tampak khusyuk menembus pembatas pagar. Tentu saja seperti melihat sesuatu yang tak bisa terlihat mata. Tergagap, Ibu pun menjawab pertanyaanku dengan gelengan kepala. Tapi, ada seraut ekspresi yang tak bisa kutangkap gerangan apa di wajah Ibu.

Kupandangi seberang rumah yang masih riuh dengan suara anak-anak kecil menderas bacaan Qur’an. Oh, mungkin Ibu sedang menikmati celoteh kecil Arsa atau Kiki, anak-anak tetanggaku usia TK yang memang terkenal kerap berulah lucu jika sedang mengaji.

Kembali ku masuk, namun beberapa menit kemudian lagi, kudekati Ibu di luar rumah. Ternyata, Ibu tak berada sedang merebahkan dirinya di kursi panjang itu lagi. Tak ada satu pun orang yang bisa ku tanya. Namun suara Ibu di seberang rumah, menjadi jawabannya. Ibu ada di rumah Bu Sam, tetanggaku. Masih juga aku bertanya, sungguh petang yang tak biasa bagiku ketika melihat Ibu demikian.

Dan jawabannya, akhirnya kudapati juga di beberapa waktu selanjutnya. Usai dari rumah Bu Sam, wajah Ibu tampak berseri-seri. Namun tidak semeriah ketika usai mendapatkan arisan. Dalam setengah berbisik, Ibu berkata lamat-lamat, “Mbak, mulai besok, Ibu mau ngaji di tempat Bu Sam. Ibu minta ngaji dari awal saja. Nggak pa pa wes kalau dari alif ba’ ta’. Yang penting bacaannya bener!” kabar gembira itu Ibu sampaikan padaku.

Sungguh hal yang tak ku kira. Karena selama ini, sebetulnya aku sedikit kecewa ketika Ibu ku ajak mengaji di rumah sakit tempatnya kerja, namun Ibu selalu tak mau. Alasannya karena tak dapat mengikuti kecepatan ritme bacaan para peserta pengajian. Tapi kini, Ibu berinisiatif untuk belajar mengaji di rumah tetanggaku yang selama ini kerap membelajari anak-anak kecil membaca Al Qur’an.

Sebetulnya sejak aku kembali dari Batam usai sekian tahun lamanya meninggalkan rumah, aku cukup senang ketika bisa membelajari Ibu membaca Qur’an. Waktu itu, Ibu sendiri yang meminta kepadaku. Seusai maghrib, kami pun menekuni Al Qur’an di pangkuan masing-masing. Ibu yang membaca dengan bersuara, aku yang menyimak membetulkan. Waktu itu rasanya menyenangkan sekali. Tak menyangka, ternyata pilihanku untuk kembali hidup dekat dengan orang tua menjadi alasan Tuhan yang memintaku untuk membenahi bacaan Qur’an Ibu.

Sayang, kebiasaan itu hanya berjalan beberapa hari. Aku kerap memilih menekuni lembaran-lembaran target bacaanku Qur’anku sendiri. Sedang Ibu, menjadi kembali asyik dengan tayangan sinetron di televisi. Cengkrama bersama kami dengan Qur’an tak berlanjut lagi.

Dan kini, Ibu ingin belajar kembali, dengan seorang wanita yang memang sangat mengerti bagaimana membaca Qur’an. Di hari pertama, Ibuku melapor jika ternyata ia tak harus memulai dari Iqra’ jilid 1. Menurut analisa Bu Sam yang disampaikan Ibu padaku, Ibu hanya tinggal membenahi tajwid dan membaca secara lancar saja.

Sayangnya, ayahku tak begitu menyepakati apa yang dilakukan Ibu. Menurut Ayah, kenapa Ibu tak belajar di rumah saja denganku. Mungkin Ayah malu, istrinya masih belajar mengaji dengan cara mengeja, bahkan kalah dengan anak-anak kecil di sesi usai maghrib yang telah khatam Qur’an beberapa kali. Terlebih lagi, suara Ibu yang sedang membaca Qur’an memang terdengar lantang ke sana sini.

Tapi Ibu tak peduli. Bahkan yang ada, malah makin bersemangat. Menurut Ibu yang masih disalinnya dari perkataan Bu Sam, sebetulnya ada banyak para tetangga yang juga kurang bisa lancar membaca Qur’an seperti Ibu.

“Malah, Pak Mu’in itu dulunya yo nggak bisa lancar baca Qur’an juga kok, Mbak. Tapi karena ditunjuk jadi pengurus mushola, Pak Mu’in yang waktu itu masih dinas di Surabaya, belajar sama orang di sana. Lama-lama yo buktinya bisa lancar baca dan sering jadi imam di mushola,” kata Ibu dengan semangat membela dirinya.

Semangat Ibu memang terbukti. Kerutinannya mengaji di Bu Sam berbuah seorang teman yang juga berumah sebagai tetanggaku. Bu Joko, yang biasanya kerap ikut tadarus usai tarawih di mushola ketika bulan Ramadan, menjadi teman belajar Ibu di Bu Sam setiap usai shalat Isya’.

Kini hampir sebulan Ibu rutin mengaji. Suatu ketika, barulah ku tahu apa yang sebenarnya menjadi satu dari sekian target Ibu untuk belajar membaca Qur’an. “Moga-moga nanti pas bulan puasa, Ibu bisa ikut tadarus di mushola,” kata Ibu dengan wajah sumringah.

Aku jadi teringat kejadian satu bulan puasa tahun lalu, yang menjadi saat pertama dalam hidupku mengikuti tadarus di mushola dekat rumah. Bu Sam memang sempat mengeluh, karena malam-malam tadarus terutama untuk para wanita, hanya dihidupkan oleh segelintir orang saja. Paling-paling, hanya aku dan sekitar lima orang remaja yang menjadi pengisinya. Untuk ibu-ibunya, hanya Bu Sam dan dua orang ibu-ibu lainnya. Belum lagi ketika masa halangan menjangkiti kami para wanita atau masa-masa mendekati akhir dari bulan ramadan. Absen ketidakhadiran jadi makin meningkat!

Kata-kata Ibu yang kudengar itu pun membuatku tersenyum. Yah, semoga malam-malam tadarus nanti ada pertambahan pasukan yang membuat lantunan Qur’an makin meriah kala beradu dengan mushola-mushola lain yang ada di lingkungan perumnas kami. Paling tidak, satu orang yaitu ibuku itulah yang bisa menjadi pasukan barunya!

(Berdasarkan kisah nyata sendiri. Intinya, yuk kita sama-sama melihat sekeliling atau diri sendiri, makin dekat ramadan, kira-kira apa ya yang bisa kita persiapkan untuk bulan suci tersebut?) :)

Mengapa Balon Hijau Harus Meletus Lebih Dulu?

Standard

             LAGI-LAGI aku mendengar aduan Bu Siti tentang ulah Mimi. Kembali aku menerima keluhan guru dari putriku yang berulah di kelasnya.

            “Bu, Mimi tadi menangis lagi sewaktu kami semua menyanyi lagu Balonku Ada Lima. Sebetulnya ada apa ya Bu?” terulang pertanyaan yang sama dan selalu kudengar sejak Mimi mengenal kata TK sebagai status pendidikannya tujuh hari terakhir ini.

            Ya, ya, ini sudah hampir seminggu Bu Siti mengadu kepadaku. Besok hari Minggu, dan mungkin seharian besok aku bisa mengulang ingatan untuk menggali tahu, mengapa Mimi selalu menangis saat mendengar lagu tersebut.

            “Mimi sayang, tadi kenapa kok nangis lagi?” kubelai kelam halus rambut putriku satu-satunya itu dalam perjalanan pulang ke rumah setelah aku menjemputnya dari sekolah.

            Bibir putri keduaku malah menjawab dengan gerak makin mengerucut, dan bukannya suara. Jika melihat ini bisa kutebak, tak akan ada jawaban yang dapat dengar. Dengan cairan ingus yang tersisa di hidung, digerakkan hidungnya ke atas hingga sebuah suara tarikan terdengar. Sementara itu, sisa air mata masih nampak mengembun di ujung-ujung bulu matanya. Mimi mengerjap, membuat bekas tangisannya lebih lama membekas.

            Aku turuti kemauan Mimi untuk diam. Akhirnya sesampainya di rumah, kulakukan ritual seperti biasanya. Mengecek ke dapur apakah bibik telah siap dengan masakannya, membantu Mimi berganti baju, dan ini yang mungkin hari ini tidak akan aku lakukan dan aku lewati, menanyakan apa saja kegiatannya tadi di sekolah.

            Teringat perkara yang membuatnya ngambek sampai menangis, akhirnya kupilih untuk langsung mengajaknya ke meja makan. Kupikir ada hal di luar kebiasan yang harus kulakukan. Makanya, hidangan Mimi siang itu kutambah dengan semangkok ice cream. Tentu saja si mungilku itu langsung merubah garis bibirnya dengan senyum.

            “Mama, ini kan baru hari Sabtu. Biasanya baru besok Mimi bisa makan ice cream. Mama nggak sedang lupa kan?” Mimi mengingatkan dengan mata mengerjap-kerjap tanda kegirangan di tengah keasyikannya mengulum sendok demi sendok ice cream.

            Namun demi melihatnya senang, kukatakan saja, “Aih, mama lupa. Tapi yah, Mimi sudah makan ice cremnya tuh,” jawabku pura-pura sungguhan lupa.

            Senyum menangnya mekar. Tapi aku senang. Menurut yang pernah kudengar, ice cream bisa mengembalikan mood seseorang. Itu pun yang kuinginkan ada dari Mimi. Semoga ia kembali riang. Dan semoga aku bisa menemukan jawaban, mengapa ia selalu menagis kala mendengar lagu Balonku Ada Lima.

            Pengaruh makan siang itu akhirnya membuat Mimi mengantuk. Setelah ku tahan dahulu dengan selembar kertas dan krayon untuk beraktivitas, setelah satu jam kurasa cukup untuk pencernaannya, akhirnya Mimi kuperbolehkan tidur. Membiarkannya asyik dengan kebiasaan ini memang sengaja untuk mengembangkan kreativitasnya. Siapa sih orang tua yang tidak bangga jika anaknya suka apalagi sampai berbakat menggambar? Ditambah lagi, besok ia akan kembali mengikuti lomba mewarnai. Lomba yang bisa membuatnya besok malam justru akan tiada henti bercanda dengan kertas dan crayonnya.

            “Supaya besok kalau ada lomba lagi bisa menang Ma. Jadi kita harus terus belajar,” selalu itu yang jadi alasan Mimi usai mengikuti lomba dan kalah, entah nasehat itu ditujukannya untuk siapa. Ah, mungkin itu akan berubah jika ia menang besok, batinku dalam lamunan.

            Namun, astaga, mengapa dengan anakku kali ini? Lebih tepatnya dengan apa yang digambarnya barusan. Selembar kertas yang tadi tidak sempat kuperhatikan kini ada di kedua tanganku. Bukan hanya karena di gambar itu aku melihat seorang anak berkucir dua, yang kurasa Mimi menggambar dirinya sendiri, sedang membawa balon begitu banyak. Namun dalam gambar itu, semua balon berwarna hijau. Gambar yang belum selesai itu begitu menonjol dengan dominasi warna hijau. Hanya ada goresan krayon hitam yang menjadi penegas lekuk bentuk gambar demi gambar.

            Aku terpana, lantas mengeja-eja lagu Balonku Ada Lima. “Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya. Hijau kuning kelabu. Merah muda dan biru. Meletus balon hijau. Door!”

            Ya, seperti lagu itu. Aku teringat, entah mengapa dulu sewaktu aku hamil Mimi, aku begitu kacau jika harus bertemu warna hijau dominan. Baju hijau, rumput hijau, daun hijau, dan segala yang dominan hijau. Untung tidak sampai pada membenci sayuran hijau. Entah apalah jadinya Mimi dan rambutnya jika aku tak suka makan sayur.

            Ibuku bilang sayur bagus untuk rambut bayi yang sedang kita kandung. “Nggak doyan sayur nanti rambut anakmu tipis, lho,” pesan ibu.

            Nenek Mimi itu juga mengatakan padaku, “Jangan sampai benci sangat dengan sesuatu. Nanti berkebalikan pada anakmu.” Dan waktu hamil, kuakui aku membenci warna hijau yang dominan. Jangan tanya kenapa, kukira kebiasaan itu karena bawaan bayi yang sedang kukandung, Mimi.

            Suamiku pun tiada hentinya membujukku untuk menyukai warna hijau. “Warna hijau kan sejuk, warna yang alami, warna yang sehat. Malah ada kata orang terapi mata dengan melihat hijaunya daun-daunnya.”

            Tapi tetap saja, yang namanya lagi tidak suka, ya tidak. Kadang apa yang aku alami sewaktu hamil kala itu cukup membuat aku kesulitan. Bayangkan, orang begitu enaknya berekreasi dengan duduk-duduk di bawah pohon yang rindang. Sedangkan aku, bisa mendadak pusing bila campuran  warna biru dan kuning itu melintas meruah di mataku.

            Okelah, kalaupun Mimi sekarang malah begitu menyukai warna hijau. Namun mengapa sampai harus menangis bila mendengar lagu Balonku Ada Lima? Masa iya Senin besok aku harus mengatakan hal ini pada Bu Siti seperti ini, “Bu, waktu menyanyi lagu Balonku Ada Lima, yang dinyanyikan meletus balon kuning saja ya, Bu.” Atau, “Bagaimana kalau balon biru saja, Bu. Biar sama akhiran u-nya dengan kata ‘kacau’?”

            Ya ampun, apa nggak terbahak-bahak nanti Bu Siti dan ibu dari teman-teman Mimi yang lain? Nah lho, terus apa dong yang harus aku lakukan?

            “Mama… balonnya yang hijau jangan dipecah,” ceracau igau Mimi membuyarkan sesaat debat pikirku.

            Tuhan, sebegitu dalamkah makna hijau bagi seorang putriku ini? Sampai ia harus membuat gambar dengan semua balon yang diwarnainya dengan hijau. Betulkah balon hijau yang jumlahnya setelah kuhitung ternyata ada sebelas dalam gambarnya ini sebagai ganti satu balon hijau yang meletus dalam lagu itu?

            Aku menggeleng bingung. Jawaban teka teki ini memang sudah kutemukan. Namun justru kini aku belum bisa menemukan cara menggunakan jawaban itu.

**

            MALAMNYA, saat kuceritakan hal itu kepada suamiku, justru kami terbawa arus debat sibuk menerka-nerka. Kenapa balon yang meletus dalam lagu itu harus yang warnanya hijau.

            “Mungkin karena ditiup paling awal. Yang lebih dulu ada makanya ia meletus lebih cepat,” jawab suamiku asal namun bisa dinalar.

            “Ah Pa, kenapa kita jadi tebak-tebakkan begini. Sekarang solusinya seperti apa?” sahutku tak sabaran.

            Sungguh, aku rasanya harus berekspresi apalagi jika Bu Siti kembali mengutarakan hal yang sama waktu aku menjemput Mimi. Sebagai orangtua, tentunya aku pun tak tahan jika terus menerus melihat putriku berlinang air mata setiap kali pulang sekolah. Jadi apa jalan keluarnya?

            “Usulkan saja untuk menyanyikan lagu Balonku Ada Lima sampai ceritanya semua balon di lagu itu meletus,” kembali jawaban asal namun rasional itu terlontar dari suamiku.

            “Iya, ya,” aku mengangguk-angguk seperti terlintas sebuah ide cemerlang. “Mereka jadi belajar menghitung dan menghapal balon apa saja yang sudah meletus,” gumamku.

            “Nah, sudah nggak pusing lagi kan Senin besok?” Aku menggeleng tersenyum menatap suamiku. Meski aku masih tidak tahu tepatnya mengapa balon hijau harus meletus lebih dulu, tapi setidaknya kini aku tahu cara agar Mimi tidak menangis lagi bila mendengar lagu Balonku Ada Lima.

**

            DUA HARI kemudian aku bisa melangkahkan kaki ringan kala mengantar Mimi ke sekolah. Aku tidak perlu khawatir dengan tangis Mimi. Malahan, usulku nanti bisa membantu Bu Siti untuk mengajar anak-anak kan?

“Oh, begitu ya Bu, ceritanya,” Bu Siti mengangguk anggukkan kepalanya ketika kusampaikan gagasanku. Anggukan kepalanya makin yakin ketika ia mendengar alasan usulku tersebut yang menurutku, bisa mencerdaskan anak-anak karena belajar mengingat dan menghitung.

Akhirnya, khusus hari Senin itu aku menunggui Mimi di sekolah. Sampai satu jam waktu belajarnya aku masih bisa melihatnya tersenyum. Aku jadi teringat bagaimana aku mengajak Mimi selama dua jam untuk menyanyikan lagu Balonku Ada Lima saat hari Minggu kemarin.

Yah…, awalnya seperti yang kuduga, ia menangis memprotes.

“Mama, jangan nyanyi lagu itu,” rengeknya kesal.

“Eits, dengarkan dulu. Lagu yang ini nggak seperti yang dinyanyikan bu guru di sekolah kok,” bujukku.

Mimi tetap menangis. Kakinya menendang-nendang dalam posisi duduknya. Tapi aku tidak peduli. Setelah satu lagu Balonku Ada Lima berisi balon hijau yang meletus, aku mengulang lagu itu kembali.

“Mi, habis balon hijau tadi, warna balonnya apa lagi?”

“Nggak tahu!” Mimi membuang wajahnya kesal di sela-sela isak tangisnya.

Aku malah tersenyum geli melihatnya ngambek. Tapi dengan cueknya, kunyanyikan lagi lagu tersebut.

“Meletus balon kuning. Dorr! Hatiku sangat kacau.”

Mimi ikut terkejut.

“Balon ku tinggal tiga. Kupegang erat-erat,” kulirik Mimi yang menurunkan nada tangisnya. Lagu itu kembali kuulang yang tentunya giliran balon berwarna kelabu kemudian yang meletus.

Tiba giliran dimana lagu tersebut meletuskan balon merah muda, Mimi sudah mulai bisa sedikit-sedikit mengikuti nyanyianku. Dan begitulah, setelah beberapa kali menyanyi, wajah gembira Mimi sudah berseri.

**

YA, SAAT-SAAT mendebarkan itu akhirnya tiba di setengah jam akhir waktu Mimi di sekolah.

“Anak-anak, sekarang waktu pulang. Tapi sebelum pulang kita nyanyi dulu yuk. Ibu punya lagu baru nih,” Bu Siti seperti biasanya sewaktu pulang sekolah kembali mengajak murid-muridnya untuk menyanyi.

“Balonku ada lima. Rupa-rupa warnanya.”

Belum sempat lagu itu selesai, Biyan, kawan Mimi yang duduk di bangku paling depan memprotes. “Ibu guru bohong. Katanya lagu baru.”

Bu Siti menghentikan senandungnya. “Eit, coba dengarkan dulu.” Kemudian apa yang kemarin kulakukan pada Mimi kini selanjutnya diulang oleh Bu Siti di depan kelasnya.

Tentu saja, Mimi menjadi penjawab yang paling keras suaranya, paling pertama menjawab, dan tentunya paling benar. Di waktu pulang, dengan menggandeng tanganku Mimi berceloteh lebih dulu.

“Mama tahu nggak kenapa balon hijau meletus duluan?”

Aku menoleh ke arah Mimi bingung. “Mungkin karena ditiup paling awal. Jadi karena ia lebih dulu ada makanya ia meletus lebih cepat,” jawabku teringat perbincangan dengan suamiku dua hari lalu.

“Salah Ma. Karena hati kita sedang kacau, makanya yang meletus duluan warna hijau. Coba kalau kitanya lagi marah-marah, mungkin warna merah yang duluan. Terus kalau hati kita lagi senang, mungkin malah jadi balon kuning yang meletus duluan,” jawab Mimi.

Aku menatap wajah mungil putriku penasaran. “Tahu darimana?”

“Kemarin waktu lomba menggambar, Mimi sempat tanya ke kakak-kakak yang kemarin jadi panitia. Katanya jawabannya kayak begitu.”

Aku melongo terkejut. Kok ya sempat-sempatnya dia bertanya ke orang-orang di sekitarnya.

“Makanya Mimi tadi nggak nangis lagi. Kan Mimi sudah tahu jawabannya kenapa kok balon hijau yang meletus duluan. Tapi Ma, yang penting Mimi sekarang senang karena semua balon bisa adil meletus semua,” ujarnya mengangguk-angguk yakin.

Aku membatin, jadi bukan karena ideku merubah lagu ya?

Mungkin Nanti

Standard

“Cobalah Sas, untuk pacaran,” terngiang-ngiang ucapan Lando tempo hari ketika kami sama-sama melakukan liputan jelajah pulau ke Subang Mas.

Aku tertawa kecil mengingatnya. Oke Lando, mungkin sebentar lagi akan ada berita dariku sesuai dengan permintaanmu dulu. Aku, seorang Saskia, akan segera mengakhiri kesendirian yang kujaga selama ini.

Yup, hingga usiaku yang hampir melewati seperempat abad, di zaman yang sudah melewati angka 2000, mungkin jarang ada orang percaya bila masih ada seorang wanita yang belum pernah pacaran sekalipun di usia sejauh itu. Tapi itu memang benar adanya terjadi padaku.

Kucermati bayangan tubuhku dalam pantulan cermin. Mengoreksi detail demi detail bagian wajah, tubuh, dan penampilan total diriku. Kadang geli juga. Ku akui aku tak pernah sebegini heboh mempersiapkan diriku demi apapun itu. Bahkan pada hari pernikahan adikku sekalipun.

Senyum kecilku mengembang bila teringat bagaimana terkejutnya Lando mengetahui hal itu.

“Apa, adikmu malah sudah nikah duluan?!” Lando sempat tak percaya saat kuceritakan tentang adikku yang sudah menikah lebih dulu beberapa bulan yang lalu. “Bukannya dalam adat Jawa itu katanya pamali?” ujar pria kelahiran Manado yang kini menjadi partnerku sebagai kameramen selama liputan jelajah pulau.

Aku cuma tertawa. “Terus salahnya dimana? Lha kalau memang dia yang lebih dulu diberi rezeki jodoh, masa iya mau aku tahan. Demi sebuah kepercayaan, kalau adik cowok melangkahi kita sebagai kakak perempuan, kitanya yang akan seret jodoh?!” aku mengibaskan tanganku.

Masih ku ingat tatapan takjub sosok yang menjadi sahabat karibku sejak ia dan aku sama-sama bekerja di sebuah stasiun televisi lokal Batam. “Tapi lihat sekarang Ndo, sebentar lagi akan ada yang berubah,” gumamku sendirian sembari berlalu, mengakhiri acara dandanku.

Malam ini mungkin menjadi malam yang istimewa untukku. Beberapa kilometer dari tempatku berpijak sekarang, beberapa menit dari detik ini, aku akan mengiyakan permintaan seorang cowok yang telah begitu lama menantiku.

“Sampai kapan Saski, sampai berapa kali aku harus meminta kesedianmu,” wajah putus asa Roni masih tersimpan dalam memoriku. Lelaki itu kukenal awalnya sebagai narasumberku. Namun ternyata perkenalan kami berlanjut hingga pertemanan yang memunculkan simpati dirinya untukku.

Dan saat itu aku cuma termenung bingung. Begitu besar keyakinanku untuk terus sendiri. Namun aku pun teringat betapa banyak diskusi yang telah kulakukan dengan Lando hingga harapannya agar aku segera memiliki pasangan terjadi.

Wajah Roni kala itu masih menatap harap. “Yang terakhir Saski, setelah itu okelah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Tiga hari lagi, Sabtu malam nanti, aku ajak kamu untuk dinner di Restoran Sanur. Jika kamu memang memenuhi harapanku, pergilah bersamaku. Jika tidak, aku akan menyerah untuk tidak akan mengusikmu dengan pertanyaan ini lagi. Bagaimana?”

Mataku mengerjap-kerjap. Tak bisakah kita berjalan bersama tanpa adanya ini? Sama halnya seperti kedekatanku dengan Lando yang tak mengharapkan pamrih apapun. Tapi… “Oke, tidak perlu engkau jemput. Aku akan sendiri. Tapi jika aku tak datang, masih kumohon anggaplah aku sebagai temanmu. Meski aku tidak bisa memenuhi harapanmu untuk mengikat kasih.”

Ku buka pintu mobil dan bersiap duduk di belakang setir. Sekilas terlihat olehku bayangan wajahku masih nampak legam akibat sunburn. Memang baru minggu lalu aku mendapat tugas liputan dengan Lando ke Pulau Subang Mas. Dan ternyata kelam di wajahku masilah belum sempurna pulih. Begitu juga ingatanku akan cerita Mak Zizah, ibu RW tempat kami menginap selama liputan jelajah pulau di Kepulauan Riau.

“Suami Mamak dulu sebetulnya bukan Pak Along yang kalian kenal sekarang ini. Ini suami kedua mamak. Mamak dulu pernah cerai,” aku Mak Zizah.

Aku terkejut. Di zaman dulu seperti itu, di pulau yang belum begitu tersentuh moderenisasi seperti daerah lain ini, sudah adakah yang namanya perceraian? Wah… wah…, aku takjub.

“Iye, Mak punye cerite macem gini, dulu Mamak dijodohin same orangtue Mamak. Namanye anak, ya Mamak ini nurut saje. Mamak tak kenal calon suami Mamak siape, pokoknye Mamak diminta nikah. Yah, tapi itulah kalau kite tak tahu baik siape jodoh kite. Ternyata, suami Mamak itu kejam kali sama Mamak. Huh, habislah Mamak sering dipukulnye,” cerita Mamak.

Wanita yang sudah berusia setengah abad itu lalu meneruskan ceritanya. “Ade teman Mamak beri tahu, lebih baik Mamak cerai saje. Mamak pikir, benar juge tak ape, Mamak masih mude. Buat ape Mamak sengsare lame sama orang tak beri sayang Mamak.”

Aku mengernyitkan alis. “Ih Mak, Saski pikir zaman dulu tak ada lho yang namanya orang cerai. Aku pikir semua orang itu rukun-rukun hidupnya walaupun nikah hasil dijodohkan orang tua.” Manalagi aku selalu berpikir tidak akan mau pacaran dan bahkan, terbersit juga keinginan untuk tidak menikah.

“Ah, siape nak cakap macem gitu. Makanya kalau bise, Saski kenal baik dulu lah calon suami Saski. Jangan asal nikah macem Mamak,” saran Mak Zizah.

Ternyata melamun itu membuat perjalanan mobilku tidak terasa berlalu. Tiga tikungan lagi, restoran yang aku tuju segera nampak. Tapi, hehh, aku menghela nafas.

“Sebetulnya kenapa sih kamu nggak pernah mau pacaran?” pertanyaan Lando entah untuk yang keberapa mengusikku sekali lagi kala itu.

Aku sendiri yang disodori pertanyaan itu justru terdiam bingung.

“Halooo?!” Lando meminta perhatian.

“Bingung Ndo mau jawab apa,” cuman itu akhirnya yang keluar.

“Kamu pernah patah hati karena cowok? Atau yang paling parah pernah dilecehkan oleh cowok? Kamu juga nggak lesbi kan?” dari pertanyaan biasa sampai yang bernada menuduh dihujamkan Lando padaku.

Sekali lagi aku cuma melongo bingung. Karena buatku alasan itu terlalu komplek namun biasa. “Apa ya… Sepele saja sih Ndo alasannya. Aku terlalu lama untuk melakukan apa-apa sendiri. Pacaran itu membuat aku harus membagi waktu, perhatian, sayang, dan juga duit,” kataku bercanda sok kikir.

“Terus kalau nggak mau pacaran, bagaimana kamu bisa mengenal orang yang akan menikah denganmu? Aku saja yang kupikir sudah merasa cocok dengan pacarku dan bersiap-siap untuk menikah, ternyata selalu saja mengalami ketidakcocokan. Bingung juga mau cari pasangan yang seperti apa nantinya,” keluh Lando sendirian. “Eits, jangan-jangan kamu nggak mau menikah juga?” Lando terkejut khawatir.

Tawaku meledak. Sesaat, namun terdiam dengan sadar yang baru kudapatkan. “Ya Ndo, bahkan untuk menikah pun tidak terpikirkan olehku. Orangtuaku fine-fine saja sih. Hehe, mungkin belum kali ya.”

Lando menggeleng-gelengkan kepalanya. “Wah, kayaknya kamu sudah kebanyakan hidup di kota besar macam Batam begini nih. Ya, jangan begitu lah.”

“Yah, lihat saja deh nanti. Pokoknya sejauh ini aku masih merasa baik-baik saja kok dengan kondisiku seperti ini. Kecuali mungkin nanti berubah kalau aku bertemu cowok yang klik barangkali ya?” aku mulai tidak optimis dengan pendirianku. Yah daripada nanti kualat sama omongan sendiri.

Restoran yang kutuju benar-benar kini sudah di depan mata. Setelah memarkirkan mobilku, aku justru termenung. Di seberang mobilku, ku tahu sedan metalik bernomor BM 1510 XX itu milik Roni. Pukul 19.45 WIB, aku sudah telat 15 menit dari janji kami berdua. Ah, dan betapa tepat waktunya Roni yang kini pastinya telah menunggu di dalam sana.

Bimbang itu menyergap diriku lagi. Tapi, ya ampun Saskia, ini kan cuma masalah iya atau tidak pacaran saja. Kenapa sebegitu paniknya diriku!

Namun sisi hatiku yang lain mengajak berdebat. Tapi coba akibatnya nanti apa, kemana-mana harus pamit nantinya, ini itu nggak bisa cuek lagi, apa ini yang aku inginkan? Langsung terbayang bagaimana waktu sendiriku yang banyak kulakukan untuk membaca dan menulis seperti hobiku sejak dulu harus terkurangi. Tidak terbayang juga jika nanti justru Roni akan sedikit-sedikit mengkhawatirkanku jika aku mendapat tugas liputan malam atau ke tempat yang jauhnya minta ampun. Duh, pasti nggak seru lagi!

“Kamu nggak bisa terus hanya membagi perhatian dan sayang itu dengan teman dan keluarga Sas,” suara Lando yang dulu pernah mampir ke telingaku tiba-tiba ikut-ikutan memberiku pertimbangan.

“Tuhan, beri aku petunjuk,” pintaku menggumam.

Aku langsung turun dari mobil dan berjalan pasti masuk ke dalam restoran. Begitu melihat Roni senyumku langsung merekah terkesima. Sayang sekali mungkin jika ada wanita yang begitu menyia-nyiakan perhatian dan ketulusan perasaaan seorang Roni yang banyak membuat para wanita terpikat.

Begitu melihatku, Roni langsung berdiri. “Terimakasih Saski, kamu betul-betul datang,” ujarnya seraya menarik kursi untukku duduk.

Sesaat aku membuang lirikan pandangan ke kanan. Jikalau Roni tahu ilmu bahasa tubuh, seharusnya ia bisa menebak apa yang sedang terjadi padaku. Sebuah rencana yang mungkin tak akan pernah dilupakannya.

Kursi untukku masih menunggu tubuhku untuk kududuki. Namun sayangnya aku tidak memilih tindakan itu. “Maafkan aku Roni, mungkin semua ini sudah begitu berharga untukmu. Mulai dari restoran ini, waktu yang kau sediakan untukku, sampai kesediaanmu hingga saat ini menungguku. Namun…” wajahku sesaat pucat menahan rasa.

“Ada apa Sas? Kamu sedang tidak enak badan,” Roni menggenggam tanganku. “Ayolah, duduk dulu.”

Ku teruskan ucapanku yang terputus. “Aku memang datang Roni, sekarang ada di hadapanmu. Tapi hanya untuk meminta maaf demi apa yang selama ini telah aku lakukan. Dan aku ingin katakan kalau aku masih belum siap untukmu, juga untuk menerimamu. Mungkin suatu ketika perasaanku benar-benar tumbuh untukmu ketika mungkin juga sudah tidak ada lagi rasa yang sama seperti sekarang untukku. Sekali lagi maaf, dan belajarlah untuk melupakanku.”

Segera kubalikkan tubuhku dan bergegas berjalan menjauh. Entah apa yang terjadi di balik tubuhku, aku tidak ingin mencoba untuk tahu. Maaf, aku sudah mencoba untuk mempercayai semuanya, Lando, Roni, atau entah siapapun kalian. Tapi aku sendiri bahkan tidak tahu apa yang sedang aku rasakan atau aku alami. Aku hanya percaya, mungkin besok semua keyakinan dan ketetapan ini bisa berubah, tapi tidak sekarang. Yah, mungkin besok, dan sekarang aku masih belum siap.

**

Bunyi nada dering handphone mengusik lelapku di tengah malam. Aku melirik malas layar handphone yang telah cukup membangunkanku. Ah, ternyata Lando meminta perhatianku untuk membaca kiriman sms darinya.

“Gmn kncanx?”

Aku menguap memuaskan rasa kantukku. “Yg jls, msh te2p single,” balasku yang lalu kuteruskan dengan mematikan handphone.

Dan, ah, tiba-tiba sebuah ide nakal terbersit dalam alam setengah sadarku. Bagaimana ya bila aku jadian dengan Lando saja?

Saat Perempuan Datang Bulan

Standard

    Baru saja membuka mata, batinku langsung memaki, “I hate Friday!” Karena Jumat berarti penghujung minggu. Itu artinya hari kerja keras buatku untuk menyelesaikan semua tugas terbitan edisi mingguan yang harus naik cetak pada hari Sabtu. Dengan gerak menghentak dan suara kasar, tubuhku beranjak dari tempat tidur.

            Mela, teman sekamarku terkejut mendengarnya. Ia akhirnya ikut terbangun karena suara gaduh yang telah aku buat. “Pagi-pagi begini mau kemana, Ra?” suara malas Mela entah kenapa justru membuatku jengkel. Enak sekali ya kerja seperti Mela yang bisa hidup santai jadi wartawati hiburan.

            “Ck, kayak nggak tahu saja sih kerjaanku dua minggu terakhir ini! Biasa, menyelesaikan terbitan tabloid edisi minggu nih. Kalau nggak dikebut ngetik hari ini, fuih, ntar malam alamat ada orang yang ngomel-ngomel,” gerutuku.

            Mata Mela menyipit memandang ke arahku. Kemudian diliriknya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Lho, bukannya semalam kamu sudah kerja berat sampai jam tiga dinihari. Dipakai istirahat dulu lah,” saran Mela.

            “Ya ampun Mel, semalam saja bisa kerja sampai jam segitu karena barusan diomelin. Kata Mbak Reni, tugas mingguanku baru sedikit yang kusetor. Heran, kok nggak mau tahu banget ya, orang udah kerja kayak gimana. Maunya beres saja!”

            Mela akhirnya cuma menanggapi dengan senyuman. Aku pun segera berlalu menuju kamar mandi. Air dingin dan wangi sabun beraroma terapi masih belum bisa meredam emosiku. Hingga aku keluar kamar mandi, Mela sepertinya mengerti ketidakberesan yang sedang aku alami.

            “Kamu tuh mau datang bulan ya?” tebak Mela.

            Aku cuma mengerutkan alis tak mengerti.

            “Iya, bawaannya dari tadi kok marah melulu. Mana ini kan masih pagi lagi, awalnya hari,” sambung Mela.

            “Iya Mel, kamu nggak tahu gimana rasanya jadi aku. Enak kalau kayak kamu sama teman-teman yang lain yang setor berita cuma beberapa dalam sehari. Lha aku, satu harinya saja ditarget berapa halaman dan yang berarti berapa berita. Belum lagi Mbak Reni yang suka marah-marah. Kayaknya semua kerjaku nggak ada yang beres di matanya.”

            Mela terdiam sejenak. “Iya sih, banyak anak-anak yang kasihan juga melihat kamu bisa kerja keras seperti itu untuk edisi minggu yang banyaknya 12 halaman itu. Aku juga sudah ngomong sih ke Mas Toni kalau kerjamu itu berat banget,” Mela menyebut nama redaktur senior tempatku bekerja. Yah, sedikitnya aku merasa terhibur dengan ucapan Mela barusan. Tapi…

            “Nggak tahu deh. Kayaknya hari ini jadi hari berat. Pikiranku lagi kacau banget Mel. Kemarin Sihar juga buat masalah lagi. Nggak tahu deh apa maunya tuh anak tahu-tahu kok ngambek.”

            Mela menatapku sambil tersenyum kecil. “Iya kayaknya, Ra. Kamu tuh lagi mau datang bulan, ya? Biasanya sih, bukan hanya kita jadi lebih sensitif sih. Nggak tahu kenapa, orang-orang di sekitar kita juga kayaknya unwell deh kalau bersikap ke kita. Yah, yang sabar saja.”

            Aku menggeleng tidak setuju. “Nggak ah. Aku nggak percaya sama yang kayak begituan. Memang dasar orang-orang lagi pada ngeselin saja,” aku langsung bangkit meraih tas ranselku untuk berangkat ke kantor.

            Mela, teman sekamarku di rumah susun sekaligus teman sekantorku itu memang suka sekali menghubungkan sesuatu dengan hal-hal yang berbau irasional. Sebetulnya bukan pertama kali tadi saja sih dia berkata kalau perempuan mau datang bulan itu pasti banyak cobaannya. Tapi itu hal yang nggak masuk akal ah! Kalau orang lain mengalami seperti yang aku alami, aku pikir siapa saja juga pasti akan berbuat hal yang sama. Sudah mengerjakan tabloid edisi minggu 12 halaman sendirian, menghadapi redaktur yang cerewetnya bukan main, pacar lagi nggak bisa ketebak maunya apa. Tuh kan, siapa yang nggak kesal melewati hari seperti itu.

“Tiiinnn! Woi, kalau jalan jangan seenaknya dong!” maki seorang bapak dengan mata mendelik menyalip motorku.

            Aku melongo keheranan. Bukannya aku sudah memberi lampu tanda akan membelok ke arah kanan? Dasar, di Batam ini memang susah sekali mencari orang sopan. Yah, diingat-ingat saja pepatahnya. Batam, bila Anda tabah, Anda menang. Tabah… tabah…, gumamku sendirian.

            Sampai di kantor terutama ruang redaksi, akulah orang pertama yang menjejakkan kaki di lantai dua. Sudah pulang paling belakang, datang paling dulu. Nasib… nasib… Kunyalakan komputer sembari mengeluarkan jadwal tugas mingguanku. Ternyata masih ada tiga halaman lagi yang masih belum kukerjakan. “Hoaahh!” aku menahan kantuk. Yang penting malam ini harus selesai semua. Jadi besok Sabtu bisa jalan-jalan, tekadku. Sudah terbayang wajah cemberut Sihar pacarku. Semoga besok aku benar-benar bisa menemaninya.

            Tiba-tiba perutku merasa tak enak. Rasa kurang nyaman tiba-tiba berdesir di bagian bawah tubuhku. Aduh, masa iya sudah datang bulan. Bukannya masih beberapa hari lagi. Sialnya, setelah kucek ternyata dugaan itu benar.

            Segera saja aku panik mencari pembalut yang biasanya berada di dalam tasku. Hari sial, rutukku, barang yang kucari itu ternyata tidak ada. Kulirik Desi, sekretaris redaksi yang baru saja melenggang masuk ruangan.

            “Ada pembalut Des?”

            Desi mencoba mengingat. “Ada,” katanya sembari membuka kunci laci mejanya.

            Setelah disibukkan dengan urusan kewanitaan, kembali kulanjutkan tugasku.

            Tidak terasa hingga pukul tiga sore, masih ada satu halaman lagi yang belum kuselesaikan. Sementara itu langkah kaki Mbak Reni dengan sepatu berhak-nya sudah mulai terdengar menapaki tangga.

            “Gimana Ra tugas mingguannya, sudah selesai?” tanyanya sewaktu melewati mejaku yang kebetulan dekat dengan pintu masuk ruang redaksi.

            “Iya Mbak, kurang halaman Pretty saja.”

            “Foto-fotonya sama nama fotonya jangan lupa lho. Kayak semalam, aku harus kebingungan buat ngatur foto yang mau naik.”

            Aku cuma tersenyum kecil. Lha, itu kan tugas fotografer, kenapa aku juga yang ikutan kena. Tapi daripada debat, mending diiyakan saja.

            “Raraaaa, pinjam headphonenya dong,” Lili tahu-tahu sudah mengangkat headphone yang mengapit dua telingaku.

            “Ck, apaan sih!” protesku.

            “Ayolah Ra, ada lagu enak nih yang barusan aku download. Yah?” pinta Lili sambil tetap memegang headphone ku.

            “Aduh Li, aku juga lagi butuh buat refreshing sambil ngedengerin musik. Lagian, dari dulu kenapa nggak pernah mau beli sendiri sih!”

            “Huh dasar pelit!” Lili malah mendorong tubuhku dan kemudian kembali ke mejanya.

            Aku cuma bisa menahan kesal. Lho, yang seenaknya siapa, yang seharusnya kesal siapa?! Lagi-lagi nyeri di perutku meminta perhatian. Tapi sepertinya perhatianku tak lama ketika handphoneku memberitahu ada pesan masuk. Kulirik tulisan ‘my sugar’ julukanku untuk Sihar meminta untuk dibaca. Sewaktu ku klik, serentetan pesan dari Sihar keluar. “Ra, nanti malam temani ke rumah tante ya. Adik sepupuku sakit.”

            Aku malah kembali menekuni tulisan di komputerku. Selain sedang tidak ada pulsa, aku juga nggak janji untuk bisa menemaninya.

            Ternyata tidak hanya sampai di situ. Dering miscall dari Danang justru terus menerus menggangguku. Apa sih maunya nih anak! Langkah yang kemudian terlintas dalam benakku adalah mematikan handphone yang tiada kunjung usai mengusik.

            “Raaa!!! Fotonya Pak Susilo dimana???” teriak Mbak Reni yang duduk di ujung ruangan lain, berjauhan dengan mejaku.

            Aku mendengus kesal. Terpaksa berdiri beranjak menghampiri meja Mbak Reni. Rasanya memalukan jika harus ikut-ikutan berteriak. Selesai untuk Mbak Reni, ganti Lili yang membuat masalah. Headphoneku tiba-tiba sudah nampak bertengger di kepalanya dengan manis. Demi melihat wajahku yang terang-terangan sangat tidak menyukai sikapnya, Lili malah melirik sekilas dan menganggap tidak menyadari kehadiranku.

            Langsung saja kutarik harddisk komputernya, mencabut kabel headphone dari belakang harddisk, dan kemudian mengangkat speakar dari kepalanya. “Tolong ya, hargai hak milik orang!” pintaku sengit.

            “Hehe, Rara pelit… Rara pelit…” ejek Lili.

            Aku pura-pura tidak mendengar. Sepertinya bego sekali jika harus meladeni sikap Lili.

            Sampai di meja aku mengomel kesal sendiri. “Bagaimana bisa cepat selesai kalau selalu ada saja yang usil. Ah, yang penting cepat ngetik, cepat selesai, dan bisa pulang tidur,” doaku. Dan aduh, perutku makin sulit untuk diajak kompromi. Secangkir air hangat kuambil dari dispenser demi mengurangi rasa sakit itu.

            Dan sepertinya doaku sedikit terkabul. Pukul delapan malam, akhirnya semua tanggung jawab halaman edisi mingguku selesai kukerjakan. Rasanya, fiuh, lega! Artinya, aku bisa membuktikan kalau aku, seorang wartawati yang bisa dipercaya memegang sisipan tabloid edisi minggu ini sendirian. Bagaimana tidak, tugas untuk mengerjakan terbitan 12 halaman itu awalnya dikerjakan ramai-ramai oleh seluruh wartawan koran tempatku bekerja. Karena banyak wartawan yang mengeluh tugas hariannya jadi berantakan, maka dibuatlah kebijakan jika tugas minggu ini dikerjakan oleh satu wartawan dan satu redaktur saja. Dengan catatan, wartawan mingguan tidak lagi dibebankan dengan tugas liputan harian.

            Belum sempat aku mengemasi barang-barangku di atas meja, sebuah dering di line telepon dekat mejaku meminta perhatian. Sebuah suara yang khas langsung membuat telingaku merinding.

            “Maaf, bisa bicara dengan Rara,” suara Sihar di seberang.

            “Iya Har, ini Rara,” jawabku pasrah mencoba menebak apa yang akan ia tumpahkan demi kekesalan yang barusan telah kulakukan.

            Benar saja, nada suara Sihar langsung cepat berubah. “Bah, ternyata masih hidup betulan orang ini. Sudah selesai Ra? Kalau sudah cepatlah turun ke bawah,” suara Sihar lebih bernada perintah daripada meminta.

            Secepat mungkin, kulanjutkan kesibukanku mengemasi kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan segera turun. Wajah Sihar sudah berlipat-lipat demi melihat kehadiranku yang menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.

            “Kenapa pakai acara mematikan handphone?” tajam suara Sihar langsung menyerangku.

            “Sori, tadi low battery karena semalam nggak sempat ngecharge,” tiba-tiba sebuah alasan tepat muncul di kepalaku.

            “Macam mana pula! Cepat ikut aku ke rumah Tante!” lagi-lagi logat Medan Sihar memerintahku untuk melakukan seperti apa yang diinginkannya.

            “Lho, terus motorku gimana?”

            “Sudah tinggal saja. Besok kan bisa diambil.”

            “Tapi…” aku melirik ragu jika harus meninggalkan motorku di kantor. Bagaimana jika besok aku membutuhkannya untuk pergi keluar rumah.

            “Kamu nih kebayakan buat masalah dari tadi. Nggak tahu, kalau sepupuku sakitnya sudah dari kemarin. Jangan buat masalah baru lah!” kata-kata Sihar justru membuatku kebingungan. Dimana yang salah?

            Dan habis sudah kesabaranku. “Har sori, aku juga capek. Semalam, eh salah, tadi pagi lebih tepatnya, aku harus pulang jam tiga dan tadi harus berangkat jam sembilan. Kamu pikir aku nggak butuh istirahat? Kalau tidak percaya, tanya sama Pak Ace” protesku sambil memintanya menanyakan kebenaran ucapanku pada seorang satpam yang duduk di dekat gerbang masuk. Ku gigit bawah bibirku menahan rasa sakit yang makin menjadi di perutku serta pening yang menyergap bagian belakang kepalaku.

            “Siapa yang suruh kamu jadi wartawan. Aku kan sudah bilang dari dulu untuk keluar saja. Toh kalau kita nikah, aku bisa membahagiakan kamu dengan materi yang berkecukupan. Gaji wartawanmu itu berapa sih?!” kata-kata Sihar cukup menyinggung perasaanku.

            Seakan-akan tidak merasakan kehadirannya, aku langsung berjalan saja ke arah motorku dan bertekad kuat, pulang dan tidur. Cukup, aku sudah cukup lelah!

            “Hey, maumu apa!” suara keras Sihar membuat Pak Ace memandang ke arah kami berdua.

“Mauku pulang dan tidur,” jawabku santai.

            “Kamu ini macam perempuan tak punya aturan saja. Kalau begini caranya, kita putus saja. Dasar perempuan tak jelas!” Sihar merutuk.

            Aku malah melirik ke arah Pak Ace. Duh malunya, apa yang dia pikirkan ya?

            “Hey!” ternyata Sihar masih belum terima akan sikapku. Diraihnya motorku secara paksa dan memintaku turun. Sebuah tangan seketika melayang ke arah wajahku jika tidak ada tangan lain mencegahnya.

            “Abang, tolonglah. Nak ingin buat kacau, pergi saje!” hardik satpam.

            “Eh, apa kau mau ikut campur urusan kami?!” mata Sihar melotot marah. Entah apa yang telah merasuki tubuhnya.

            “Urusan saye mengamankan lingkungan di kantor ini. Nak awak ingin buat hal macam-macam apalagi main tampar ke Mbak Rara, itu juga jadi tanggungjawab saye,” logat melayu Pak Ace membelaku.

            Karena melihat satpam lainnya datang menghampiri kami, nyali Sihar ciut. Ia akhirnya memilih pergi dengan masih terlebih dulu menatap nanar ke arahku. “Awas kau perempuan sialan!”

            Sepeninggal Sihar, aku tak kuasa menggugurkan air mata.

            “Mbak Rara masih kuat pulang sendiri?” tanya Pak Ace.

            Aku mengangguk kuat. “Masih kok, Pak,” jawabku sembari memandang orang yang telah menyelamatkanku. “Terimakasih Pak.”

            Sesampainya di rumah aku meneruskan tangisku. Watak kasar Sihar sebetulnya sudah kuketahui sejak awal. Namun dengan kejadian barusan aku makin yakin bahwa Tuhan telah menyelamatkan masa depanku. Ia telah memberi tahuku.

            “Lho Ra, kenapa?” Mela terkejut sewaktu mendapatiku menangis di atas kasur.

            Aku mendongak menatap Mela dan teringat ucapannya pagi tadi. “Mel, aku tetap nggak percaya tentang ucapanmu tadi pagi,” sahutku yang membuat Mela menatap kebingungan. Mencoba mengingat-ingat apa yang telah diucapkannya padaku.

 

Catatan:

Nak: kalau

Awak: anda

Saye: saya

Saje: saja