Cerpen: Pak Umar dan Sepeda Jengkinya

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

“Bapak itu lagi!” Niar menggumam dalam diam di tepi jendela. Matanya menatap malam yang sedang memilih warna hitam pekat. Namun pandangan Niar yang sebenarnya, ada di berbagai peristiwa. Gaya melamunnya milik orang kebanyakan, duduk di depan meja sambil kedua tangannya menopang dagu.

Inilah rutinitas Niar seusai belajar. Melamun! Dan kali ini tema lamunan Niar seusai belajar adalah tentang seorang pria hampir paruh baya yang bagi Niar selalu khas lekat dengan sepeda jengkinya.

Niar sangat tahu betul sosok itu. Selama setahun kemarin, bapak itu selalu berpapasan dengannya di jalan. Niar kerap menyalip sepedanya di pagi hari. Terutama jika itu adalah hari Senin. Semua orang tahu, hari Senin adalah waktu untuk upacara bendera. Dan bagi Niar, hari Senin berarti juga waktunya piket membersihkan kelas. Karena itulah, hari Senin menjadi alasan bagi Niar untuk menjadi pembalap pagi hari di jalan.

Menyalip sepeda bapak itu juga dilakukan Niar di hampir setiap pulang dari sekolah. Banyak orang akan melakukan hal seperti yang Niar lakukan, bergegas mengenderai sepeda di tengah terik siang yang menyengat.

Sepeda milik Niar bukanlah sepeda balap. Sepeda dengan keranjang di depan, sepeda andalan yang pas untuk para perempuan. Tidak ada juga perangkat untuk memberatkan atau meringankan kayuhan  pengendaranya yang biasa terletak di stang sepeda.

Hanya saja, Niar memang selalu punya gagasan untuk menjadi pembalap di jalan. Bahkan, mengajak balapan angkutan umum berisi teman-temannya yang juga pulang sekolah. Sebentuk kebanggaan yang terukur bagi Niar, bila ia bisa mengalahkan mobil bertubuh kuning itu. Meski sebetulnya, tentu saja dikarenakan kecepatan angkutan umum tersebut yang tidak bisa melaju cepat. Kendaraan itu kerap mampir di banyak tempat, menurunkan dan mengangkut penumpang, lalu tetap berjalan lambat demi, andai saja ada penumpang di dalam gang yang terlihat sedang berjalan untuk menyetop angkutan umum.

Sepeda milik bapak itu juga bukan sepeda tua, sehingga membuat pengendaranya selalu disalip banyak orang.             Sepeda jengki, begitu orang menyebut jenisnya. Ibarat tubuh manusia, sepeda jenis ini bertubuh tinggi langsing, lebih ramping meski berfisik mirip sepeda kumbang. Namun kalau urusan laju, diameter bannya yang besar bisa membuat sepeda ini melaju lumayan gesit.

Jadi mengapa Niar kerap menyalip bapak itu, jelas sudah bukan karena urusan kualitas sepeda. Tapi, karena alasan Niar untuk harus cepat saat mengendarai sepeda di jalan. Dan, alasan bapak itu selalu berkenan disalip oleh Niar, tak pernah Niar ketahui.

Tapi sejak tadi siang, Niar punya dasar kuat untuk tidak menjadi pembalap di jalan raya. Apalagi, kini ia punya penghalang untuk tidak lagi bisa menyalip bapak bersepeda jengki yang sudah Niar ketahui identitasnya.

Paginya, Niar memang masih menjadi pembalap. Karena di awal hari itu, Niar ingin punya pengalaman pertama yang menyenangkan saat ia sudah bisa mengganti rok birunya dengan warna abu-abu.

Semua bermula dari upacara bendera. Sebetulnya mata Niar menatap silau ke segala penjuru arah. Topi barunya tak bisa menutupi wajahnya dengan maksimal. Apalagi, tidak ada barisan yang memagar di depannya. Nias sempat menggerutu, mengapa ia menjadi murid paling tinggi di kelasnya sekarang. Karena itu berarti, selama setahun nanti Niar harus kerap berada di barisan paling depan sebagai aturan baku baris berbaris. Siapa yang paling tinggi, baris di tempat kehormatan paling depan!

Para guru berbaris di tempat yang teduh, menghadap para siswa baru yang menikmati sinar pagi kaya manfaat untuk tubuh. Berbalikan dengan aturan baris berbaris pada siswa, para guru berbaris dengan aturan siapa yang paling dulu. Atau, mungkin siapa yang paling mungil, dialah yang ada di depan. Karena dalam pengamatan Niar, ternyata bapak itu berbaris di barisan paling depan, berikut juga barisan di samping kanan kirinya yang juga terdiri dari para guru dengan tinggi tubuh yang tak jauh beda dengannya.

Tapi tentu tidak ada satu orangpun yang sengaja mengatur, mengapa Niar bisa berbaris paling depan dan mengapa bapak itu juga satu arah dengannya berbaris paling depan. Lalu di kemudian waktu, membuat mereka saling kerap bertatap-tatapan.

“Ya Tuhan… itu kan bapak yang sering aku salip di jalan?” waktu itu Niar ingat pasti kalau dia cuma bisa tanpa sadar membuka mulut lebar tanda ternganga. Sedangkan bapak yang ditatap Niar, membalas dengan senyum khas yang kerap dilihat Niar.

“Ah ya, senyum itu!” Niar ingat pasti bagaimana ada seseorang yang pernah membuatnya cemberut hanya karena ia tersenyum.

Dalam pikiran Niar, sulit dijelaskan tentang seseorang yang bisa menikmati sinar matahari di siang hari. Mungkin itu sah jika jawabannya adalah para turis di Kuta Bali. Tapi ini, adalah seorang bapak, dengan seragam abu-abu gelapnya, yang mengendarai sepeda jengki, berikut senyum bahagianya.

Ya, senyum itu memang terlihat tulus tanpa paksaan matahari yang panas. Meski keringat juga terlihat mengucur lancar di wajahnya yang tak bertopi. Dan Niar menjadi keki karena tidak bisa ikut berbahagia seperti cara bapak itu!

Lain waktu, Niar menjumpai bapak itu di kala sore hari. Kali ini juga dengan kondisi yang membuat Niar geleng-geleng kepala tanda salut. Si bapak bisa memancar senyum bahagia dalam kondisi tak terbebani sosok di belakangnya. Di balik tubuh bapak itu, ada seorang wanita yang mungkin istrinya, duduk bergaya menyamping, sambil memikul setumpuk perangkat dan bahan dagangan untuk berjualan nasi boran.

Membayangkan memangkunya dalam diam saja, Niar tak mampu. Perangkat dan bahan untuk berjualan makanan khas Lamongan itu tak pernah bisa hadir dengan versi sederhana sejak dulu. Ada nasi yang diletakkan di sebuah wadah besar dari jalinan bambu yang disebut boran. Berikut, berbagai lauk yang diletakkan di beberapa wadah terpisah. Jika bagian-bagian itu disatukan, maka jadilah tumpukan setinggi sekitar kaki orang dewasa yang harus dipangku oleh wanita itu di atas dudukan belakang sepeda jengki.

Memang, tumpukan itu bisa melekat pada tubuh pembawanya karena ada selendang sebagai alat pengikat untuk menggendong. Tapi memeganginya sambil menjaga keseimbangan dengan duduk di boncengan sepeda, tentu menghasilkan gerakan-gerakan yang membuat si pemboncengnya harus lihai mengendalikan setir sepeda.

Dan jika pembonceng itu adalah Niar, ia yakin, baru satu kayuhan saja sepedanya pasti akan oleng ke samping karena beban yang ada di belakangnya. Jadi pastinya, tak akan ada gambaran dalam pikiran Niar untuk bisa menikmati kayuhan sepeda sambil tersenyum bahagia!

***

Namanya Pak Umar. Kini, memang sudah ada yang berubah dari hubungan Niar dengan orang yang selalu hanya ia bisa sebut dengan panggilan bapak atau bapak bersepeda jengki, tanpa embel-embel nama asli di belakangnya.

Setelah kejadian upacara di hari pertama ia masuk sekolah, Niar jadi mengenal nama Pak Umar. Karena, bapak itu lalu menjadi guru Matematika di kelasnya. Bapak yang senang menebar senyum sepanjang jalan sambil mengayuh sepeda itu ternyata juga murah berwajah ramah saat mengajar. Padahal mata pelajarannya adalah satu dari sekian pelajaran yang tidak disukai Niar. Juga, kebanyakan teman-temannya. Tapi entah karena senyuman Pak Umar, atau memang cara mengajarnya, Niar jadi betah dan mudah mengerti Matematika.

Di jalan pun, kini Niar bisa sambil ikut tersenyum saat mengayuh sepeda. Karena, ada Pak Umar yang kadang enak untuk diajak berbicara selama di perjalanan saat kebetulan berbarengan. Jikalau harus menyalip Pak Umar karena suatu hal, ia bisa terbiasa untuk menggunakan perilaku kesopanan. Niar akan menyapa, mengatakan maaf, lalu permisi untuk melaju lebih dulu.

Namun hampir satu semester, Niar selalu kesulitan untuk menjawab pertanyaannya sendiri tentang Pak Umar. Niar masih penasaran, mengapa seorang guru yang mengajar di sekolah dengan label RSBI masih harus mengayuh sepeda. Yang Niar bingungkan, sekolahnya kini sedang berusaha menstandarkan pendidikannya dengan standar internasional. Dan, bukankah untuk masuk ke sana, Niar dan kawan-kawannya sudah membayar cukup banyak uang setara sekolah di swasta? Apa iya uang-uang itu tidak bisa meningkatkan kesejahteraan seorang guru seperti Pak Umar? Apa iya ini hanya karena Pak Umar tak pernah membuka les sepeeti kebanyakan guru-guru Niar lainnya, sehingga tak memiliki uang pemasukan tambahan?

Yang Niar tahu, banyak guru di sekolahnya mengendarai mobil atau motor. Itu pun jika motor, modelnya pasti keluaran terbaru. Hanya Pak Umar, guru dengan transportasi sepeda jengki. Karena rasa penasaran itu makin memuncak, Niar mulai memberanikan diri mulai menyusun aksi.

Berbagai pertanyaan itu makin menumpuk dengan satu rasa penasaran lagi yang dimiliki oleh Niar. “Mengapa Pak Umar selalu bersepeda dengan tersenyum? Meskipun di bawah panas terik matahari, atau meskipun sedang membonceng istrinya yang membawa setumpuk wadah boran, mengapa harus ada senyum di wajahnya?”

Kali ini, Niar berniat main ke rumah Pak Umar. Kebetulan, Niar memiliki kesulitan dengan pokok bahasan kalimat persamaan. Setelah meminta izin untuk berencana main ke rumah Pak Umar di waktu petang, Niar akan mencoba menanyakan rasa penasarannya itu.

Wawancara langsung antara Niar dengan Pak Umar akhirnya terjadi. Tentunya didahului dengan kata-kata maaf dan permisi seusai masalah Niar tentang kalimat persamaan dapat ia mengerti dari Pak Umar.

Pertanyaan pertama Niar. “Kenapa ya, Bapak kok masih betah dengan sepeda jengki? Maaf sekali lagi lho Pak, atas pertanyaan saya. Soalnya, bagi saya Bapak itu unik, sih!”

Pak Umar sedikit tergelak mendengar pertanyaan tersebut. “Yah… sekarang kan sedang tren aksi go green!” jawab Pak Umar santai namun sebetulnya cukup masuk akal. Di mana-mana, apalagi di kota besar, saat ini begitu banyak gerakan bersepeda yang bahkan dilakukan para pegawai kantoran.

Tapi Niar memicingkan mata tak percaya karena teringat hal yang lain. “Masak sih, Pak? Tapi, sambil membonceng Ibu, apa Bapak juga tidak terpikir kesulitan sehingga juga ingin punya motor?”

Pak Umar menggelengkan kepala.

Niar lalu menemukan jawaban pertanyaannya sendiri. “Oh, saya tahu. Bapak ini menghayati lagu Oemar Bakri-nya Iwan Fals, ya?” canda Niar yang dijawab tawa Pak Umar, masih dengan bonus gelengan kepala.

“Atau… maaf nih Pak, apa iya gaji Bapak tidak cukup untuk beli motor? Kan Bapak ngajar di RSBI. Gajinya pasti besar. Atau, kenapa Bapak tidak mengadakan les Matematika saja seperti para guru Fisika dan Kimia?” Niar masih mencecar. Ia sudah bertekad, malam itu, ia harus mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya.

Kali ini strategi Niar rupanya berhasil. Pak Umar langsung menghela nafas dalam. “Hm… pasti kali ini Pak Umar akan menjawab jujur pertanyaanku,” batin Niar yakin.

“Saya itu tidak pernah terpikir untuk ingin mengambil keuntungan dari les, Niar. Cukuplah menerangkan kalian dengan jelas di kelas. Kalau ada yang kurang mengerti, akan saya persilakan datang bertanya ke rumah. Ya seperti kamu sekarang ini.”

“Lalu?” Niar masih tidak puas karena pertanyaannya masih belum dijawab.

“Hm… saya itu tidak bisa naik motor lho!” jawaban Pak Umar bermimik serius yang tak dipercayai oleh Niar. Niar malah tertawa. Pasti Pak Umar cuma beralasan mengada-ada, itu pikir Niar.

“Lho, serius ini! Banyak orang yang menawari saya untuk belajar. Tapi saya malu. Masa, sudah tua seperti saya ini baru belajar naik sepeda motor,” jelas Pak Umar yang langsung membuat Niar malu karena sudah tertawa sendiri pada orang yang telah bicara jujur.

“Aduh Pak, kalau begitu saya minta maaf ya. Saya benar-benar tidak berniat menyinggung Bapak. Sekali lagi saya mohon maaf,” pinta Niar.

Pak Umar tersenyum, dan Niar langsung ingat pertanyaannya yang lain.

Menginjak ke pertanyaan dari rasa penasarannya yang ke dua. “Pak, Bapak apa tidak tersiksa kepanasan setiap siang? Tidak keberatan ketika sedang menggonceng Ibu? Soalnya saya lihat, Bapak ini aneh! Siang-siang kepanasan tapi masih bisa naik sepeda sambil tersenyum. Waktu membonceng istri Bapak juga begitu,” aksi reportase Niar sepertinya sulit untuk berhenti.

“Oh, itu… Saya itu punya kebiasaan melamun lho, saat naik sepeda. Kadang, saya sambil ingat hal-hal lucu yang sering saya ketahui. Misalnya, melihat ulah kalian waktu di kelas. Atau, kadang saya terpikir tentang ide baru untuk bisa menerangkan Matematika dengan mudah kepada kalian nantinya di kelas. Pokoknya, melamun sambil naik sepeda itu banyak menghasilkan inspirasi!” mantap jawaban Pak Umar.

Niar sedikit mengernyitkan kening.

“Niar coba deh kalau tidak percaya. Biar Niar nggak suka kebut-kebutan lagi di jalan. Bahaya, anak gadis main kebut-kebutan naik sepeda di jalan besar!”

Mendengar petuah itu, Niar malu sendiri.

Sesampainya di rumah, Niar menyesal. Ia menyesal karena sepertinya pertanyaan-pertanyaannya tadi telah menyinggung Pak Umar. Ia pun menyesal karena ternyata setelah tahu jawaban Pak Umar, ia juga masih harus melamun di pinggir jendela seperti biasanya.

“Bayangkan saja, hari semoderen ini, masih ada orang yang tidak bisa naik motor?” Niar bertanya pada bayangan tak jelas dalam pikiran lamunannya.

***

Sedangkan orang yang dilamunkan Niar, ternyata juga sedang termenung diri. Sejak kepulangan sang murid dari rumahnya, berkali-kali ia bergumam kata maaf. Ia memang sudah tidak jujur pada jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Niar yang rasanya sudah terpikirkan sebelumnya oleh muridnya itu. Namun kalaupun Pak Umar harus jujur, sungguh, ia justru akan mengeluarkan penjelasan sepanjang rumus Matematika. Seperti saat menerangkan penguraian sebuah kalimat matematika yang panjang. Atau, selengkap rumus dimensi ruang yang membutuhkan unsur panjang kali lebar kali tinggi. Mungkin ditambah dengan kali lama, karena penjelasan Pak Umar memerlukan ketinggian pemahaman.

Sejak muda, Pak Umar sudah bisa mengendarai sepeda motor. Tapi posisinya, selalu dalam istilah pinjam milik orang lain. Mungkin orang tak akan lantas percaya, jika Pak Umar sepertinya punya surat keterangan tambahan sejak lahir, tidak bisa memiliki sepeda motor!

Setiap hendak membeli motor, ada saja yang menjadi ganjalannya. Orangtua sakit, anak perlu biaya sekolah, istri butuh modal, tetangga perlu pinjam orang, dan semua itu bisa silih berganti datang hingga sekarang.

Kini, uang yang selalu ada setiap bulannya dari gaji mengajarnya, uang yang selalu ada setiap harinya dari hasil berjualan nasi boran istrinya, selalu ada tersedia untuk menuju ke kantong kedua anaknya yang butuh biaya pendidikan. Anak Pak Umar memang cerdas dan pintar. Namun kelebihan itu tidak sekaligus membuat mereka bisa ditanggung total kebutuhan pendidikannya di sekolah oleh beasiswa.

Dan beberapa tahun terakhir ini, Pak Umar telah menghentikan setiap usahanya untuk memiliki sebuah sepeda motor. Ia sadar, garis hidup yang ia miliki sepertinya adalah berjodoh dengan sepeda jengki yang tak berpolusi.

 

Catatan: Cerpen ini awalnya saya ikutkan lomba di LMCR 2010. Namun karena tidak menang, kembali akhirnya saya masukkan cerpen ini ke dalam blog. Ide awal dari cerpen ini sendiri adalah tentang seorang pria hampir paruh baya yang kerap saya lihat bersepeda dengan santai. Tentang ia yang tetap tersenyum meski sedang terpapar sinar matahari, itu benar adanya. Karena menarik, ia pun akhinya saya abadikan ke dalam sebuah cerpen ini yang lalu saya kembangkan dengan gaya imajinasi saya.

Hujan

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

“Saya suka kamu!”

Hening. Satu, dua, tiga, hingga berapa detik pun berlalu dengan hitungan yang hampir bersamaan di masing-masing hati Opik dan Indah. Tolehan kepala yang bersamaan membuat kedua wajah mereka bersemu merah. Lalu, masing-masing kepala itu kembali terpekur menatap sepatu masing-masing.

Sepatuku masih sama, pikir Opik. Dan ia pun lalu menatap langit yang ternyata sudah berubah sejak terakhir ia memandangnya. Sebelumnya penuh berawan putih. Namun, kini telah berubah menjadi hitam pekat menggantung. Cuaca Batam memang selalu tak menentu, batin Opik.

“Oke deh, aku pulang sekarang.”

“Nggak perlu jawabannya sekarang kan?”

Opik menggeleng sambil tersenyum. Tubuhnya setengah melompat dari posisi duduknya. Lalu berjalan menyeberangi halaman kampus. Ketika kakinya menginjakkan area pejalan kaki yang beratap, hujan lalu turun cepat menderu. Sampai di ujung area pejalan kaki, hujan makin menjadi. Ia tak siap dengan jas hujan karena berpikir pastinya hari yang cerah di pagi hari tidak mengundang hujan di sore harinya. Meski ketika hujan seperti sekarang ini pun ia lalu kembali tersadar, bahwa Batam tak pernah mengenal cuaca.

Sedia payung sebelum hujan? “Huh, pantang! Nggak banget deh kalau cowok pakai payung ke mana-mana! Apalagi dengan versi warna kembang-kembang atau yang ngejreng seperti pink, kuning, atau biru! Hitam? Emangnya mau ngelayat?” selalu itu yang ia rutuki jika sedikit saja terbersit kata payung saat hujan menjebaknya seperti sekarang.

Kos tempat Opik tinggal berada di seberang kampus. Jika menyeberangi jalan dua arah, ia tinggal menuruni tanah setapak yang menurun dan menghubungkan jalan besar dengan perumahan tempat kosnya berada. Namun jika hujan begini, jangan harap untuk mencoba jalan setapak itu. Karena yang ada justru kegiatan land skating, pengganti ice skating, yang bisa menuntutnya. Sudahlah menurun, tanah merah itupun akan nampak belikat dan licin dipijak.

Berjalan memutar! Sepertinya tiada solusi lain yang bisa ia miliki saat hujan yang deras dan langit yang sepertinya tak jua memudar pekat hitamnya. “Nggak ada salahnya bukan mencoba sesuatu yang berbeda sekali-sekali. Biar makin lengkap sudah keunikan hari ini!” pikir Opik.

Saat Opik memutuskan menerobos hujan, berjalan menyeberang jalan, tanpa payung atau jas hujan, seseorang yang berdiri di tepi Opik seketika bernafas lega. Cukup lumayan sudah ia berharap sesuatu yang sepertinya mustahil, ada orang di sekitarnya yang sudi memberikan sedikti tempat untuk menyelamatkan sepatu sneakernya yang basah tersiram hujan, di tengah hujan deras yang siapapun pasti berpikir normal untuk berteduh. Dan ketika Opik pergi, ia seperti melihat sebuah keajaiban tiba-tiba terjadi.

Namun hanya ia sendiri yang tak berpikir seperti kebanyakan orang yang menujukan tatapannya ke arah tubuh Opik. Hujan deras, main hujan-hujanan, pasti bukan orang waras! Batin banyak orang kompak. Tapi seperti tahu jika dirinya sedang menjadi pembicaraan batin banyak orang, Opik lalu mengedarkan pandangannya. Tersenyum!

“Benar-benar anak yang kurang waras!”

“Eh, bukannya itu kawan engkau?”

“Iya, satu kos aku. Ah, biar sajalah dia berulah. Tinggal aku lihat lah bagaimana ia terkapar nanti di kamar,” sahut yang lain.

Opik jelas tidak mendengar. Ia asyik berjalan santai, tidak terburu-buru, dan begitu menikmati tetesan-tetesan besar hujan yang menerpa kepala hingga tubuhnya.

Opik rindu bermain dengan hujan. Ia ingat pertama kali ketika memutuskan bermain dengan hujan, saat berada di rumah mbahnya yang ada di Lamongan. Ada sebuah tambak di depan rumah mbahnya. Setiap kali hujan, orang pun banyak keluar rumah bak merayakan sebuah pesta besar. Dari anak kecil, hingga mbah-mbah! Bekal mereka bisa dua macam, satu sachet sampo, atau sebungkus sabun padat.

Versi pertama, tambak menjadi tujuan awal bagi mereka yang baru saja keluar rumah. Usai berenang sepuasnya, giliran membilas badan yang dilakukan di bawah guyuran air hujan. Bersih, pulang, membilas lagi, dan tinggal menikmati berbagai jajanan gorengan yang jadi ciri khas hampir setiap rumah.

Versi ke dua, jalan-jalan dulu sepuas-puasnya berkeliling kampung menikmati siraman hujan. Syukur-syukur acara keliling ini bisa sekalian menjemput teman-teman lain yang pastinya kebanyakan akan memutuskan turut serta keluar rumah. Jika massa sudah terkumpul banyak, waktunya sesi bermain di dalam tambak. Adu renang, menggoda kelompok lain, atau sekedar berdiam diri di tepian. Bilasnya dilakukan di rumah masing-masing, atau di dalam tambak itu juga.

Dan mereka semua tidaklah pernah menyiarkan kabar jika si A sakit usai bermain hujan-hujanan. Atau, Si B masuk rumah sakit karena demam akut. Semuanya selamat, semuanya senang, dan semuanya menganggap itu sebagai ritual tradisi.

Kini, Opik mengulang kenangannya, dengan optimisme jika ia pastinya tidak akan sakit akibat kehujanan. Lamunannya akan tanah nenek moyangnya pun membuatnya tak sadar jika ia sudah berada di depan pagar kos tempatnya tinggal.

Meski ia optimis tidak akan sakit, namun tetap saja ia ingat petuah sang ibu. “Masak air panas buat mandi jika habis kena hujan. Biar tak sakit dan menggigil engkau setelahnya!” Dan petuah itu ia turuti dengan patuh kini.

Namun, optimisme Opik mulai mengikis ketika dirasanya sedikit rasa tidak mengenakkan menyerang di bagian kepalanya. “Walah, petuah ibu pun sudah kuturuti. Kenapa pula kepala ini masih terasa pening?” desah Opik.

Jurus kedua lalu ia lakukan. Membuat secangkir minuman coklat panas, campur kopi seujung sendok. Lumayan, jurus itu agak meredakan peningnya. “Hm, mungkin jika petuah ibu dan minuman ini tidak aku minum, entah apa pula ya rasa badan ini?”

“Kenapa Pik?” Bagus membuka pintu kamar Opik dengan kepala yang hanya menyembul.

“Entahlah ini, agak tak beres badan rasanya!” senyum Opik sedikit menyengir.

“Itulah engkau ini, buat sensasi tak jelas di waktu hujan deras. Kesambet apa kau pulang dari kampus tadi?”

“Ah, tak ada lah. Hanya ingin suasana beda saja!”

Bagus paling hapal dengan Opik, tentang kebiasaannya yang tak bisa mudah untuk dikalahkan bantahannya. Dan akhirnya, Bagus memilih pergi dari kamar Opik sambil menggeleng-gelengkan kepala.

Opik mengambil sarungnya, memilih tidur bergaya udang melingkar, dan lalu memejamkan mata dengan senyum mengembang.

“Drt… drt…” nada getar di ponsel Opik yang dinonaktifkan suaranya membuat mata Opik kembali terjaga. Telepon dari Indah, dan ia memutuskan untuk menerimanya.

“Pik, maaf ya tadi aku nggak langsung jawab. Kamu marah ya? Uhm, tadi kok sampai aku lihat kamu hujan-hujanan begitu.”

“Hehehe…” Opik terkekeh. Itulah yang ia suka dari Indah, selalu memberinya perhatian di saat yang tepat.

“Pik, beneran deh aku minta maaf. Sulit lah Pik buat jawab. Engkau itu sudah aku anggap sebagai teman yang dekat sekali. Sampai tak bisa lah dibilang ada rasa spesial.”

“Hm…” Opik cuma mengeluarkan suara deheman panjang.

“Eh, hei, kamu sakit ya? Dari tadi kok tak seberapa ada suara begitu?”

“Ah, biasalah ini Ndah! Akibat lama nggak main hujan-hujanan!”

“Uhm… nggak gara-gara aku nggak jawab?”

“Hahaha… tak sampai gitu lah Ndah! Cuma ingin suasana unik dan beda saja hari ini. Bisa menyatakan rasa suka ke kamu, main hujan-hujanan setelah lama tak pernah main hujan, yah… ingin hari yang beda saja!”

“Jadi, nggak usah langsung aku jawab, uhm… nggak apa-apa kan?”

“Hahaha, emangnya aku tadi tanya apa? Aku cuma bilang suka. Nggak nanya apa-apa kan?”

Lama tak ada suara dari Indah.

“Halo… halo…”

“Lha, terus maksudnya apa sih Pik? Wah, aku yang udah kege-eran ya?”

“Ah sudahlah, kita bicarakan lagi besok kalau ketemu di kampus yah? Oke?” Opik ingin menyudahi teleponnya.

“Oke.”

Usai telepon terputus, Opik tersenyum. Tiba-tiba rasa nyeri di kepalanya hilang, dan tubuhnya merasakan hangat yang menjalar. “Hari ini aku puas!” cetusnya dan kembali meneruskan tidur gaya udangnya. Ternyata ramalan bintang yang tadi sempat dibacanya, yang selama ini selalu tak pernah ia percaya, justru jadi inspirasinya hari ini. Cobalah sesuatu yang unik!

Catatan: Cerpen ini saya buat spontan setelah membaca quotation mantan mahasiswa saya di Politeknik Batam. Jadi untuk siapapun yang merasa, hehehe… ini hanya rekaan fiksi saja lho!

Ponsel Idan

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

“Tampang cowok kamu memang keren sih… Kalau yang nggak tahu, mungkin barangkali dikiranya model! Tapi, aduh….” Elis mengelus keningnya berkali-kali.

Manda jadi bingung sendiri. “Kenapa Lis? Emangnya Idan kenapa? Kok kamu jadi ngelus-elus kening begitu? Emangnya Idan bisa bikin kening jadi gatel ya?” celutuk Manda sambil mengerdip-kerdipkan mata. Sebetulnya Manda tahu arah pembicaraan Elis. Namun sekali lagi, untuk kali ini Manda masih mencoba bersikap tenang.

“Ponselnya itu lho! Ih, cakep-cakep kok pakai ponsel jadul?!” ekspresi wajah Elis terlihat mengejek dengan bentuk bibirnya yang mengerucut lama sembari menyebut kata jadul.

“Eh udah, ngomong jadul ya jadul. Tapi nggak usah sampai monyong lama begitu dong,” tangan Manda mencoba menangkup bibir Elis karena gemas yang namun segera ditepis oleh Elis.

“Iih… apaan sih! Serius nih! Iya tuh Nda, bisa nggak sih kamu rubah penampilan jadul si Idan, cowokmu itu?!” protes Elis tak ada habis-habisnya.

Manda masih senyum dengan manisnya menanggapi protes dari Elis. “Aduh, kamu itu kenapa sih?! Orang Idan yang punya ponsel saja nggak ada masalah. Aku juga yang jadi pacarnya nggak kerasa keganggu tuh. Terus kenapa kamu jadi sibuk sendiri? Ah udah deh, aku mau pulang dulu. Udah ditunggu sama Idan tuh. Daagh…” Manda lalu berlalu sambil melambai ke arah Elis. Menurutnya jika ia terus-terusan ada di situ, pastinya Elis tidak akan ada habis-habisnya memprotes ponsel milik Idan.

Namun ucapan Elis mau tak mau mengganggu pikiran dan perasaan Manda. Manda memang pernah bertanya padda Idan. Namun ia tidak pernah mendapat jawaban jujur dari pacarnya tersebut. Dan saat sedang bersama Idan, Manda pun jadi penasaran untuk menanyakan masalah tentang ponsel milik pacarnya itu.

“Dan, kenapa sih kamu nggak ganti ponsel? Itu ponsel kan udah jadul banget. Aku jadi  penasaran! Udah gitu, banyak banget tuh aspirasi dari teman-teman yang disampaikan ke aku melulu,” tanya Manda suatu ketika di akhir setumpuk rasa penasaran dari dirinya dan juga setumpuk kecapekan telinganya mendengar aspirasi dari teman-temannya.

Idan malah menggenggam ponselnya sambil ditunjukkan ke arah Manda. “Kamu tahu nggak Nda, ponsel ini tuh tahan banting. Untuk ngelempar anjing yang lagi rese juga bisa. Mantap beneran tuh kalau sampai kena! Dan kayaknya, mungkin nggak akan rusak kali buat ngelempar anjing rese!” jelas Idan sambil terkekeh.

Manda lalu mencubit lengan Idan dengan gemas. “Iiih…. aku serius nih! Awalnya sih aku nggak apa-apa. Tapi karena banyak banget orang yang protes lewat kupingku, akhirnya aku jadi penasaran juga nih!”

Idan lalu menggenggam tangan Manda. Sambil tersenyum, ditatapnya wajah Manda dalam-dalam. “Kamu lagi serius ya Nda. Kalau begitu aku nawar lima rius deh. Hehe… Sekarang aku ganti tanya, kamu malu ya Nda kalau punya cowok pakai ponsel jadul?” Nada suara Idan jadi ikut-ikutan benar-benar serius, membuat Manda jadi kikuk ditanya seperti itu.

“Nda, ponsel ini sangat dalam arti sejarahnya buat aku. Waktu itu ayahku hanya mampu membelikan ponsel ini ketika aku merengek-rengek ingin punya ponsel seperti teman-temanku. Pas aku jalan sama ayah habis pulang dari beli ponsel, ayahku diserempet orang sampai jatuh dan…” Idan tidak bisa meneruskan kata-katanya karena kemudian ia hanya bisa menunduk.

Manda memeluk Idan erat. “Kenapa kamu nggak pernah cerita tentang itu, Dan?” ujar Manda yang jadi merasa bersalah.

Idan melepas pelukan Manda. “Itu kenangan yang membuat aku selalu cengeng saat mengingatnya, Nda. Apalagi kalau harus cerita. Jadinya bikin aku harus menangis seperti ini. Hehe, jangan ketawa ya kalau lihat aku nangis. Ah, padahal aku ini kan cowok!” sambil malu-malu, Idan menyeka air matanya.

“Aku nggak akan ketawa kok, Dan. Tapi cuma tersenyum. Lihat nih!” Manda tersenyum semanis-manisnya untuk Idan. “Kamu tahu kan Dan, aku selalu menerima kekurangan kamu?”

“Makasih Nda. Oh iya, satu lagi. Keteguhan hatiku menjaga ponsel jadul ini juga bukti kalau aku ini tipe setia lho! Setia sama pemberian ayah, setia sama ponsel ini, dan juga mencoba setia sama kamu. Pokoknya aku ini cowok yang setia kok!” celoteh Idan yang membuat Manda tak tahan untuk memeluk Idan lagi.

“Aku juga nggak akan mudah melepas cowok seperti kamu kok, Dan! Seperti kamu yang nggak mudah melepas ponsel milikmu itu!” tekad Manda dalam hati.

Riri atau Yiyi

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

“Perkenalkan, nama saya Yina Matha. Panggil saja Yiyi. Maaf, ejaannya dengan huruf…,” aku lalu membentuk huruf R dengan kedua tanganku.

Mataku menyapu ke arah teman-teman di kelas tingkat awal di SMA yang merupakan kelas baruku tersebut. Tampaknya, mereka mulai kebingungan dengan caraku memperkenalkan diri. Aku tersenyum lebar, bergegas mengambil spidol, dan menuliskan kata RIRI dan RINA MARTHA besar-besar di bidang white board.

“Ooo…” koor serempak dari seisi kelas mulai terdengar. Sedikit kasak kusuk pun sempat mampir di telingaku ketika aku kembali ke bangku tempatku duduk.

“Eh, dia cadel ya?”

“Iya, cantik sih anaknya. Tapi kok cadel ya? Hihihi…”

“Psst… keras banget sih ngomongnya! Kasihan, nanti dia dengar lho!” timpal yang lain.

Aku cuma tersenyum ringan. Buatku, apa yang baru saja aku alami di kelas baruku dalam sesi perkenalan siswa baru itu kini sudah bisa membuatku bereaksi biasa. Juga sudah sama biasanya ketika ada teman-teman yang mengolok-olok dengan terang-terangan. Sudah kebal deh sepertinya rasa kuping dan hatiku ini. Misalnya seperti ini nih dulu yang aku alami sewaktu SMP…

“Tayi, denga-denga kamu lagi pacayan sama Yadit ya?”

“Iih… kok ngomong jorok sih? Nama bagus-bagus Tari kok jadi dipanggil begitu?”

“Iya nih, udah gede kok masih cadel!”

“Coba diulang! Bilangnya begini nih, Tarri, dengarr-dengarr kamu lagi pacarran sama Rradit ya? Gitu dong bilangnya…” timpal temanku yang lain tak mau kalah mengolok-olok dengan menekankan setiap huruf R yang diucapkannya.

Kalau urusan diejek seperti itu, seperti ketika aku duduk di bangku SD atau SMP dulu, bisa dibilang aku sudah cukup kebal. Tapi ada masanya juga lho dulu kadang aku bisa nangis sejadi-jadinya kalau harus mendengar ejekan nggak mengenakkan dari teman-temanku yang kebanyakan lebih suka menertawakan kekuranganku daripada menerima kondisiku.

Pernah suatu ketika pas SMP, guruku sedang mengadakan audisi untuk mencari siapa di antara kami yang duduk di kelas dua waktu itu, yang bisa mewakili sekolah untuk mengikuti lomba puisi di tingkat daerah.

Pas guru bahasa Indonesiaku masuk ke dalam kelas, teman-teman sudah langsung mendahului dengan mengatakan seperti ini, “Wah, audisi ini kayaknya punya perkecualian nih! Rrirri… karrena kamu kan pastinya nggak bisa memenangkan audisi, lebih baik sekarrang, kamu menyaksikan kami saja deh yang akan ikut audisi. Gimana?” ujar seorang temanku dengan nada bercanda namun cukup menusuk hatiku.

Senyum tipis aku tunjukkan di antara tumpahan air yang berdesakan ingin keluar dari mataku. Ah, itulah setidaknya sedikit dari sekian pengalaman yang masih aku simpan kesan rasa sakitnya.

Dulu, jika ingat masa-masa sewaktu aku kecil, ketika umurku sudah menginjak empat tahun, aku atau orangtuaku masih bisa santai-santai saja ketika aku belum bisa melafalkan huruf R dengan jelas.

Tapi waktu aku sudah berumur tujuh tahun, saat orangtuaku mulai memasukkan aku ke SD, kepanikan kami pun mulai terjadi. Yang aku sempat rasakan, orangtuaku waktu itu agak malu dengan kekurangan putri satu-satunya itu.

Tapi seiring waktu, yang aku lupa tepatnya kapan, sepertinya mereka jadi sering mengikutsertakan aku ke berbagai kegiatan ini itu. Les menari, les melukis, les biola, sampai berbagai macam les lainnya yang aku sendiri sampai lupa. Habisnya, banyak banget lesnya!

Tentu saja dari sekian banyak les tersebut, orangtuaku tidak akan mengarahkan aku untuk ikut les yang mengandalkan kemampuan bicaraku. Les paduan suara atau les teater misalnya. Ya begitulah, karena aku cadel!

Meskipun akhirnya ada beberapa les yang aku tekuni, hingga membuat aku bisa menguasai beberapa keahlian, tetap saja aku sering minder.

Misalnya nih kalau sekolahku mengikutsertakan aku ke berbagai lomba atau acara, meski awalnya Pe-De, tetap saja kalau akhirnya ada urusan cuap-cuap, aku langsung ketakutan setengah mati. Rasanya takut sekali kalau sampai ada orang yang tahu aku cadel terus mengolok-olokku habis-habisan.

Ada lagi nih cerita yang menyedihkan yaitu ketika aku duduk di bangku SMP. Ceritanya, ada tetanggaku yang punya anak cewek sebayaku dan entah kenapa, ia selalu suka mengolok-olokku habis-habisan. Kebetulan, Nana, nama anak cewek itu, selalu bisa satu sekolah denganku. Dan dari dialah, orang-orang di seantero sekolah akhirnya selalu tahu kalau aku ini cadel. Kayaknya dia nggak puas banget deh kalau cuma orang sekelas saja atau beberapa orang saja yang tahu kalau aku ini cadel.

Usut punya usut, ternyata dia iri dengan beberapa kelebihan yang aku miliki. Anaknya sih sebetulnya cantik. Meski aku juga cantik, itu kata teman-teman lho! Tapi aku akui, tetanggaku ini memang sedikit lebih cantik dari aku.

Yah, apa mungkin nggak semua orang yang diberi kelebihan selalu mensyukurinya ya? Jadi ternyata menurut beberapa temanku, Nana itu selalu tidak terima ketika sekolah kami sering memilih aku untuk maju mewakili lomba atau acara ini itu di luar sekolah.

Oke deh, untuk urusan sering memberitahu ke seantero sekolah kalau aku itu cadel masih bisa aku terima. Hiks, meskipun rasanya kok tega banget sih! Tapi, pernah suatu ketika ia membeli seekor anjing yang kemudian diberi nama… Yiyi!

Ih, rasanya sengaja menghina banget kan nih orang?! Masa, ketika jalan-jalan di taman komplek, dia memanggil keras-keras nama anjingnya itu. “Yiyi… yiyi…”

Aku yang awalnya belum tahu kalau nama anjingnya itu Yiyi, kontan waktu itu menjawab dengan “Hai, ada apa…” Yah, aku pikir si tetangga ini memang sengaja memanggilku karena yang aku tahu, ia memang sering sengaja memanggilku yang kadang dengan maksud setengah mengejek, memanggilku dengan nama cadelku.

Tapi ketika aku sudah menyahut, eh… dengan enaknya ia langsung menjawab, “Oh sori ya, aku sedang memanggil anjingku. Uhm, namamu bukannya Rrirri? Bukan Yiyi, kan? Kenapa menyahut?” jawabnya tanpa berdosa. Apalagi ketika dilihatnya orang-orang di sekitar kami yang menyadari kelucuan dari kejadian itu pun jadi ikut-ikutan menertawakan diriku.

Akhirnya sepulang dari taman, aku yang sudah tidak kuat menahan sekian lama berbagai penderitaan dan penghinaan yang aku alami, ehem, sedikit didramatisir, kemudian mengadu dan protes kepada mama.

“Mama, kenapa sih Yiyi dulu waktu kecil nggak dipaksa suka makan pedas. Sekayang kayak begini nih jadinya. Hu hu hu…” aduku sambil menangis tersedu-sedu.

“Sayang, mama sudah pernah mencoba memeriksakan Riri ke dokter dulu sewaktu kecil. Kata dokter, ada kelainan ukuran lidah Riri yang membuat Riri jadinya cadel sampai sekarang. Jadi, itu bukan karena Riri nggak suka makan pedas kok.”

Aku masih cemberut tidak terima. “Oke deh, tapi teyus kenapa sih Yiyi kok dulu dikasih nama Yiyi. Ini benar-benar menyulitkan Yiyi sendiyi jadinya. Masa manggil nama sendiyi saja susah?!”

Mama sejenak menghela nafas. “Aduh maaf ya Ri, padahal mama dan papa dulu memberikan namamu itu karena ada artinya lho, nggak sembarangan. Jadi mana tahu kalau ternyata jadinya seperti ini sekarang,” mama jadi salah tingkah menghadapiku.

Seketika aku langsung menghentikan tangisku. Jujur, seumur-umur hingga aku duduk di bangku SMP waktu itu, aku belum tahu arti namaku sendiri itu apa.

Mama pun dengan lemah lembut mencoba menjelaskan apa yang dulu pernah menjadi harapannya dengan papa atas diriku, sekarang dan nanti. “Rina itu kalau dalam bahasa Jawa artinya hari, dan Martha itu artinya yang berkuasa. Karena papa dan mama dulu susah punya anak, sekalinya ada kamu, ya kami merasa seperti ada kekuasaan Tuhan yang tiba-tiba memberikan kamu kepada kami. Nah, apa iya sekarang kami atau kamu harus menyesali nama yang begitu punya arti itu?”

Aku jadi tertegun mendengarkannya. Jadi namaku bukan sembarangan ya artinya? Ah, aku jadi menyesal waktu itu jika mengingat sikap dan pikiranku selama ini.

“Sekarang ganti mama yang tanya, kenapa hayo kamu selalu minder dan malu sama kekurangan kamu? Padahal, banyak lho kelebihan yang kamu punya. Demi mama, demi papa, dan juga demi kamu sendiri, mau nggak mulai sekarang kamu percaya diri? Dianggap lewat saja deh kalau ada orang yang mengolok-olok kamu…”

Aku kembali cuma bisa terdiam. Ah, ternyata ketika aku belum menunjukkan kekuranganku yang cadel itu, Mama dan Papa sudah menumpukan sebuah harapan besar untukku. Lalu, mengapa aku malah mengecewakan mereka dengan keterpurukanku pada kekuranganku itu saja?

Lalu seperti sebuah tumbukan yang mengandung pegas, walah, kok jadi ngomongin fisika ya, aku kemudian melesat meninggalkan seorang Riri yang dulunya memang malu karena cadel, menjadi seorang Riri yang tidak takut lagi untuk malu karena cadel!

Lantas aku berpikir, ah, memang benar kok, sebetulnya banyak kan bidang lain yang tidak memerlukan kelihaian untuk berbicara? Toh, model iklan di video klipnya Letto di lagu Sebelum Cahaya itu juga malah bisu dan tuli kok. Tapi dia bisa jadi model.

Sejak itu mulailah aku mencari bidang-bidang yang bisa aku geluti, yang aku sukai, yang bisa aku jadikan sebagai ajang untuk mengejar prestasi, dan bisa menjadi kebanggaanku tentunya!

Nggak bisa nyanyi karena cadel? Ya kenapa nggak aku main musik saja dengan belajar piano atau biola? Nggak bisa main teater? Ya kenapa nggak aku membuat cerita atau menjadi script writernya saja? Dan berkat dorongan Mama yang sejak aku kecil mengikutsertakan aku ke les ini itu, kini sewaktu aku SMA, aku jadi punya banyak kelebihan yang yah… tentunya lumayan membuatku serta kedua orangtuaku menjadi bangga!

Terus apa hidup kemudian akan menjadi indah tentram sentosa selamanya untukku? Ah, ternyata belum juga! Buktinya tetanggaku yang bernama Nana itu, masih saja dan rasanya, makin giat untuk membuatku tidak hidup dengan tenang.

Ketika aku mampu menguasai sebuah keahlian, ia pasti akan ikut-ikutan menekuninya juga. Saat aku mengikuti lomba ini itu, ia juga kemudian akan membuntuti apa yang aku lakukan.

Kesal? Ada juga sih rasa seperti itu, jelas! Tapi di balik itu, entah kenapa ada rasa bangga yang terselip di antara rasa tidak mengenakkan yang ada. Ada rasa bangga yang membuat aku jadi tidak lagi pusing memikirkan apa yang harus aku lakukan agar ia bisa kalah dariku atau menyingkir untuk tidak lagi membuntutiku.

Dan lihat saja, ternyata Nana justru sering kelelahan untuk mencoba mengikuti keberagaman aktivitasku. Atau ketika kami ada dalam satu kompetisi, Nana sering kebingungan untuk menemukan cara agar bisa mengalahkanku.

Hingga suatu ketika, aku begitu kasihan melihat Nana yang tampak keletihan. “Na, bisa nggak sih kita bedamai saja? Jadi teman?”

Waktu itu, aku melihatnya terduduk lesu di sebuah taman setelah kami usai sama-sama mengikuti kompetisi lomba memasak yang kami ikuti di lingkungan perumahan tempat kami tinggal. Tentunya lagi-lagi, kali ini ia tidak bisa menang dariku meski aku pun cuma berhasil mencapai juara kedua di lomba itu.

Dengan sorot mata seperti biasa yang tidak bersahabat, Nana menatapku tajam. “Apa? Kalau aku berdamai dengan kamu, yang ada aku akan selalu jadi orang nomor dua yang dilihat oleh orang lain!”

Aku menggelengkan kepala tidak setuju. “Na, apa yang aku bilang ini bukannya bohongan lho. Kamu lebih cantik dayi pada aku. Meski aku juga cantik sih…” kataku sambil tersenyum.

“Kamu bisa nyanyi dengan suaya yang medu. Aku nggak bisa Na.”

Nana yang awalnya membuang muka, kini lalu mencoba menatapku.

“Kamu bisa akting bagus. Aku nggak bisa Na.”

Nana terdiam seakan mencoba merenungi ucapanku. Dan aku tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Nana waktu itu. “Na, semua oyang punya kelebihan masing-masing kok. Jika kita jadi sahabat, kamu nggak akan dianggap sebagai oyang nomo dua.”

Aku lalu duduk di samping Nana mencoba menggenggam tangannya. “Na, masing-masing dayi kita akan jadi oyang nomo satu kok. Pada bidang yang bebeda tentunya. Kamu bisa jadi bintang di bidang nyanyi dan akting, aku bisa jadi bintang di bidang musik dan membuat ceyita teate.”

Nana mengeratkan genggaman tangannya. “Sori Ri, aku memang pecundang selama ini. Aku selalu iri dengan dirimu.”

Seperti akhir dari cerita-cerita yang selama ini ada, kami pun mengakhiri pertikaian kami dengan berpelukan tanda perdamaian. Ah… Teletubies sekali rasanya… Tapi yang jelas, sejak itu Nana tidak lagi memanggilku dengan kata Yiyi! Kan namaku Riri… Hehe… ini karena aku menuliskan cerita ini saja nih jadinya aku bisa menyebutkan namaku dengan benar…

Permusuhan Ninuk dengan Nyamuk

Standard


Oleh: Ika Maya Susanti

“Sejak gigitan pertama yang meninggalkan rasa sakit, gatal berkepanjangan, dan bekas yang terpaksa menjadi tato sementara pada kulitku, aku, Ninuk Kusuma Wardhani atau yang biasa dipanggil Ninuk, berikrar untuk tidak akan pernah mengenal kata damai pada KAU, NYAMUK!!!” Mata Ninuk melotot geram sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan berukuran tiga kali empat meter.

Usai berikrar, Ninuk kemudian mengikatkan kepalanya dengan seutas kain panjang yang membuat poni yang biasa digunakan untuk menutup jidat yang menurutnya seperti lapangan sepak bola itu tersingkap untuk sementara waktu. Aku lantas melihatnya mengambil sebuah raket listrik yang kemudian ia pegang erat-erat di tangan kanannya.

“Maafkan aku laptop dan segenap tugas kuliahku. Kalian harus kutinggalkan untuk sementara waktu demi aksi pengenyahan para GPK, Gerakan Pengacau Kekhusyukan ini! Karena jika tidak, hidupku tidak akan tenteram, damai, sejahtera, dan sentosa malam ini!”

Berjurus kilat petir menebas pohon kelapa, Ninuk pun lantas mengibaskan raketnya ke segala penjuru ruangan kamar kami berdua. Matanya nyalang bagai radar yang mampu mengetahui di mana saja arah nyamuk yang sedang terbang dengan gaya melambai santai hingga yang terbang bergaya meroket bak siluman nyamuk.

Herannya, mata Ninuk seakan selalu tahu di mana saja nyamuk yang sedang berterbangan hilir mudik. Sesekali, suara “Krip krip!” terdengar dari raket yang digenggam Ninuk berikut percikan kecil sebagai tanda adanya nyamuk yang berhasil tersetrum karena kurang gesit terbang menghindar.

Namun lebih naasnya lagi adalah jika terdengar bunyi letusan yang lebih mirip suara petasan kecil namun lumayan mengejutkan. “Tarrr!!!” demikian bunyinya dengan percikan kilatan yang menyerupai bunga api orang yang sedang mengelas besi. Kalau ada yang seperti itu, berarti tandanya Ninuk berhasil mendapatkan nyamuk besar dan gendut yang sarat akan cairan merah kehitam-hitaman. Cairan apalagi kalau bukan setetes kecil darah yang berhasil dicuri si nyamuk dari tubuh manusia.

Jika suara “Krip-krip!” yang terdengar, senyuman Ninuk akan menyudut kecil, berbeda lagi jika yang berbunyi adalah “Tarrr!” Tak hanya senyum kemenangan, bahkan tawa lebar berikut umpatan kebun binatang sampai gaya preman di jalanan bisa keluar dari bibir Ninuk yang terkenal berwatak halus budi pekertinya itu. Ya, Ninuk yang lemah lembut dan seakan tidak pernah mampu membunuh semut itu akan berubah menjadi pemburu berdarah dingin jika melihat sesosok nyamuk saja yang terbang melintasinya atau tertangkap radar telinganya.

“Sudah dapat berapa Nuk?” aku melirik ke arah Ninuk yang asyik dengan sebatang lidi melepaskan mayat-mayat nyamuk yang bersalah karena menggoda Ninuk hingga terpanggang dalam setruman raket listrik.

“Lumayan, 12 ekor! Tapi sepertinya ini masih ada yang ngiung-ngiung nih suaranya! Ngeganggu banget di kuping!” sesekali mata Ninuk beredar ke penjuru kamar mencari nyamuk yang sedang berseriosa di kupingnya.

“Terus Nuk, kamu kapan mau belajar kalau kayak begini terus? Besok kan kita sama-sama punya tugas statistik yang harus dikumpulkan. Belum lagi tugas Pengantas Ilmu Ekonomi,” aku menyela di tengah kekhusyukan Ninuk yang belum ingin menghentikan aksi gencatan raketnya dengan para nyamuk di kamar kami.

“Nggak bisa Tan! Ini adalah tugas wajib yang justru harus dikerjakan lebih dulu malam ini!” Ninuk mengabaikan peringatanku dan kembali mengibaskan raketnya ke sana ke mari.

Yah, itulah sekilas gambaranku saat ini dengan apa yang sedang terjadi di alam realitaku sekarang. Sejak sekamar kos dengan Ninuk yang paling alergi dengan nyamuk, hidupku kini jadi penuh warna warni dinamika hubungan perseteruan antara manusia dengan nyamuk. Fatalnya, kami tinggal di Surabaya yang sejak kejadian lumpur Lapindo, terasa makin panas dan nyamuk yang ada pun serasa makin urakan dan ganas.

Memang, Ninuk sahabatku itu sangat berbeda sekali dengan aku, atau mungkin kebanyakan manusia. Aku bisa bilang kebanyakan manusia karena pada umumnya manusia memang wajar menerima keberadaan nyamuk meski mereka tidak bersahabat. Sudah mengambil setetes darah, nyamuk juga hobi meninggalkan rasa gatal bercampur sakit pada kulit manusia.

Namun jika umumnya manusia hanya sekejap saja merasakan gatal dan sakit akibat gigitan nyamuk, berbeda dengan apa yang dialami oleh Ninuk atau mungkin sedikit orang yang ada di muka bumi ini. Rasa gatal dan perih bisa Ninuk rasakan berhari-hari. Belum lagi bekas gigitannya yang mulai dari berwujud bentolan merah besar jika nyamuk habis menggigit kulitnya hingga berangsur menjadi bintik merah. Konon kata Ninuk, gatalnya terasa minta ampun menggoda jarinya hingga ia harus giat menggaruk bekas gigitan itu. Bintik merah yang awalnya hampir tidak kelihatan itupun kemudian akan berubah menjadi luka akibat garukan kuku-kuku Ninuk. Dan jika sudah seperti itu, bekas hitam pun akan menyisa di kulit Ninuk. Berakhir tragis memang! Ninuk yang seharusnya bangga memiliki kulit halus mulus seperti kebanyakan cewek seusianya, harus memiliki kulit yang justru berbelang-belang hitam.

Pernah suatu ketika Ninuk berkonsultasi ke dokter spesialis kulit dan pulang dengan kekecewaan putus asa berkepanjangan. Setelah berkonsultasi dengan dokter tersebut, Ninuk justru disarankan untuk membeli sebuah lotion yang harganya lumayan wah. Meskipun konon katanya, lotion itu mampu menghilangkan bekas gigitan nyamuk yang berwarna bintik-bintik merah atau bekas garukan yang berwarna belang-belang hitam dalam hitungan hari. Tujuan Ninuk datang ke dokter spesialis kulit berharap bisa menjadi manusia normal yang tidak paranoid terhadap nyamuk untuk selamanya, harus kandas begitu saja!

Kebalikan dari Ninuk, aku justru memiliki kulit yang sangat kusyukuri kekebalannya terhadap nyamuk. Tidak bermasalah seperti kulit milik Ninuk. Bisa dibilang kulit badaklah! Jika nyamuk menggigit kulitku, aku cuma sedikit merasakan gatal dan selesailah sudah. Tidak ada rasa gatal campur pedih berkepanjangan atau bekas yang tertinggal lama di kulitku. Bahkan jika nyamuk menggigit kulitku, aku sering tidak merasakannya.

Aneh memang jika aku sedang bersama Ninuk atau jika kami sedang bersama beberapa orang lainnya. Ninuk justru kerap menjadi target idola utama gigitan nyamuk sedangkan tidak bagi aku dan mungkin orang lain yang sedang berada di sekitar kami. Jika sedang menyaksikan tivi misalnya di ruang tengah kos-an kami, Ninuk sering mendahului acara garuk menggaruk akibat digigit nyamuk. Sering pula aku ataupun yang lainnya jadi keheranan karena sementara tidak ada satupun nyamuk yang menggigit kami, Ninuk justru sudah sibuk sendirian mengusir nyamuk hingga acara heboh menggaruk-garuk karena merasa kegatalan akibat digigit nyamuk.

Nah, jika para cewek selalu dekat dengan yang namanya krim tabir surya, Ninuk justru tidak bisa lepas dengan yang namanya lotion anti nyamuk. Ke manapun dan di manapun, parfum yang tercium dari tubuh Ninuk cuma satu, parfum khas lotion anti nyamuk.

Naasnya, Ninuk sekamar dengan aku yang alergi dengan segala bau-bauan yang keluar dari obat anti nyamuk. Mulai dari semprotan spray, obat nyamuk bakar, obat nyamuk elektrik, sampai terkadang lotion anti nyamuk. Entah kenapa, sejak kecil, aku begitu anti dengan bau-bauan itu. Meskipun versinya obat anti nyamuk itu makin hari makin harum bak bau bunga aslinya, tetap saja, aku tidak tahan dan bahkan bisa muntah jika menciumnya. Beruntung aku tidak mengalami alergi dengan nyamuk seperti Ninuk sehingga tidak harus bersentuhan dengan barang-barang anti nyamuk seperti itu.

Sebagai wujud solidaritasnya, Ninuk akhirnya cuma memiliki sebuah modal untuk mengusir nyamuk jika kami berdua sedang berada di kamar. Apalagi kalau bukan raket elektrik andalannya yang sekali tebas, bisa mengenai nyamuk yang hobi terbang melayang-layang mencari mangsa. Raket ini memang cukup aman menurut kami berdua. Paling-paling, kami terkadang hanya sedikit terkejut jika nyamuk besar yang sempat kena, mengeluarkan bunyi letusan kecil dan bau gosong yang menguar akibat adanya nyamuk yang tersangkut raket dan terbakar gara-gara terkena sengatan listrik.

“Heah… heah… heah… Hei, heah… heah… ngapain sih dari tadi senyam senyum melulu sambil ngelihatin aku? Heah… heah… Bahagia ya melihat aku harus berjibaku membunuh nyamuk ke sana ke mari?” sembur Ninuk sambil sesekali ngos-ngosan karena kelelahan mengejar nyamuk ke segala penjuru sudut kamar. Rupanya ia merasa jika aku yang dari tadi asyik dengan laptopku sendiri, kurang memiliki rasa solidaritas terhadapnya.

“Ya habis mau bagaimana lagi? Raket listrik cuma satu. Aku nggak bisa bantu kami berburu nyamuk dong! Akhirnya ya… aku bantu doa saja dari dalam hatiku ini sambil duduk manis di sini ngeblog,” jawanku enteng.

Ninuk lalu menjatuhkan tubuhnya di sampingku. Nafasnya masih memburu, dan keringat pun bercucuran dari tubuhnya. “Aduh… sudah habis belum ya tu nyamuk?” gerutu Ninuk.

Baru sebentar saja suara keluhan Ninuk keluar, seekor nyamuk lewat di dekat kami dengan suara ejekan khasnya. Ninuk pun langsung bangkit dan memburu nyamuk yang mungkin berkata, “Hei hei… aku masih ada di sini lho! Ayo, tangkaplah aku, kau kugoda…”

Sesaat aku menghentikan aktivitas ngeblogku, sekilas mengamati keberadaan Ninuk, dan kembali meneruskan mengetik. Yah, sampai tulisan ini diketikkan, ternyata masih belum ada tanda-tanda kapan pertikaian antara Ninuk dengan para nyamuk akan berakhir!

“Oh nyamuk… kasihanilah Ninuk malam ini dan hari-hari berikutnya… Biarkanlah ia bisa merasakan hidup tenang seperti laiknya manusia pada umumnya…” doaku tulus terucap di bibir dari relung hati paling dalam sebagai sahabat Ninuk yang paling mengerti penderitaannya.

“Nuk,” panggilku dan Ninuk pun kemudian menoleh ke arahku, tampak tersenyum penuh rasa haru. “Lanjutkan perjuanganmu!” pesanku sambil mengepalkan tangan kanan memberi semangat kepada Ninuk dan kembali menekuni laptopku. Suara Ninuk lantas kudengar menjerit keki!

Oom Genit

Standard

Oom Genit

Oleh: Ika Maya Susanti

“Len, nanti pulang sekolah, temani aku ke mall, yuk! Mau cari kado buat adikku,” ajakku pada Leni, teman sebangku yang juga teman dekatku.

“Aduh, aku udah janji sama Mas Fandi. Sebetulnya nanti kami ke mall juga. Atau… bagaimana kalau bareng saja,” Leni justru ganti mengajakku.

Aku langsung menggeleng. “Ih, nggak enak banget kalau kayak begitu. Aku jadi obat nyamuknya dong!” seruku menolak.

“Ye… ya nggak lah. Yuk!”

Tapi sekali ini aku mengibaskan tangan tanda benar-benar tak ingin. “Nggak ah, nggak asik! Aku sendirian saja ntar,” aku lalu memilih pergi berlalu dari hadapan Leni.

Jujur, akhir-akhir ini aku memang sering kesal dengan Leni. Sejak ia dekat dengan Mas Fandy, yang ia akui jadi pacarnya sekarang, Leni jadi jarang punya waktu untuk bersama denganku. Memang, aku merasa kehilangan Leni sekarang ini! Bukannya tidak ada teman yang lain, sih. Namun, aku merasa sudah begitu klop saja dengan Leni.

Namun sebetulnya sejak awal, aku merasa agak janggal dengan hubungan Leni dan Mas Fandy. Umur Leni sekarang masih 14 tahun. Kami masih duduk di bangku SMP. Tapi Mas Fandy, menurutku ia adalah pria dewasa. Selain itu yang aku tahu, ia saja sudah bekerja di sebuah bank swasta. Bahkan yang pernah kudengar dari Leni, umur Mas Fandy itu saja sudah 25 tahun. Beda jauh banget kan?!

“Ya kan nggak salah Vik. Sosoknya dia itu dewasa! Jadinya aku ini merasa terlindungi,” Leni langsung selalu membela diri jika aku mengungkit-ungkit tentang Mas Fandy yang umurnya beda jauh dengan Leni.

Entahlah, aku memang heran sekali dengan Leni sahabatku itu. Apakah karena cinta buta, atau memang ia sudah tahu bagaimana caranya memilih pacar yang benar? Ah… Aku sungguh bingung!

Akhirnya sepulang sekolah, aku pergi ke mall tanpa teman. Namun, ah, mengapa sih dunia ini begitu kecil? Di mall tempat aku mencari kado untuk adikku, aku malah melihat Leni sedang bergelanyut manja dengan Mas Fandy. Namun, ouch, entah kenapa kok aku jadi merasa risih waktu melihat Leni kala itu!

Pakaian dan dandanan Leni terlihat begitu dewasa. Mungkin orang yang tidak mengenalnya akan menyangka Leni sudah berusia 20-an. Sudah begitu gaya pacarannya, astaga…!!! Kok bisa jadi seperti itu sih kamu, Len?

Aku langsung berpaling dan pergi menjauhi keberadaan Leni dan Mas Fandy. Aku tidak ingin mereka tahu kalau aku juga ada di sini. Selain itu, aku jadi kecewa dan sedih pada Leni waktu melihat ulahnya dengan Mas Fandy. Di tempat umum seperti ini, mengapa mereka bisa tidak risih untuk bercumbu seperti itu ya? Ah, mungkin besok aku harus mengingatkan Leni. Biar bagaimanapun, aku menyayangi Leni sebagai sahabat dekatku!

“Vika! Ternyata kamu ada di sini juga ya?” sapa Leni mengejutkanku dari belakang.

Dan saat aku berpaling, aduh… kenapa aku harus berpapasan dengan mereka juga sih?!

“Eh, hai Len. Hehe, nggak nyangka juga ya kalau kita jadi ketemu di sini,” ujarku kikuk.

“Iya nih! Eh iya, kamu belum pernah aku kenalkan langsung ke Mas Fandi kan? Mas, ini Vika. Itu lho, teman dekatku yang sering aku ceritakan itu,” Leni mencoba memerkenalkan aku.

“Hai Mas,” sapaku. “Aku sudah sering tahu Mas dari cerita Leni kok.”

“Oh ini yang namanya Vika,” Mas Fandy lalu mengulurkan tangan. Aneh, jabatan tangannya terasa janggal saat menyentuh tanganku. Belum lagi tatapan matanya yang justru membuatku jadi merasa risih sendiri. Seketika, aku langsung berusaha menarik tanganku dengan kuat dari jabatan tangan Mas Fandy.

“Gimana, sudah ketemu barang yang kamu cari, Vik?” Leni bertanya.

“Belum Len. Mungkin besok saja aku cari lagi di tempat lain. Di sini nggak ada yang cocok sepertinya,” elakku. Huh, kalau nggak gara-gara aku melihat ulah kalian di mall yang menurutku tidak mengenakkan untuk dilihat itu, mungkin aku tidak akan seperti orang linglung sekarang ini!

“Atau, bagaimana kalau kita cari di mall lain saja?” tawar Mas Fandy.

“Ah nggak deh, terimakasih. Besok saya cari lagi saja sendiri,” jawabku namun dengan nada yang agak tidak enak untuk didengar. Entah kenapa perasaanku jadi tidak nyaman dengan sosok Mas Fandy.

“Ya sudah, kita ke kafe dulu saja yuk! Kelihatannya kamu capek. Saya lihat wajahmu kok pucat begitu. Yuk!” Mas Fandy kini ganti mengajakku dan Leni untuk ke kafe.

“Kita dari tadi kan belum istirahat ya, sayang. Kita ke kafe dulu saja. Setuju kan?” tawar Mas Fandy kepada Leni.

Dalam hati aku menggerutu. Huh, wajahku pucat ini gara-gara pusing melihat ulah kalian! Namun, aku sudah kehilangan akal untuk mengelak dari ajakan Mas Fandy. Karena Leni setuju, mau tak mau akhirnya aku pun menuruti ajakan tersebut.

Sepanjang jalan menuju kafe, benar-benar aku berjalan sebagai obat nyamuk di tengah mereka. Atau becak barangkali ya? Habisnya, mereka berdua asik dan cuek dengan mesranya berjalan sambil berpelukan di depanku. Sedangkan aku, berjalan sendiri di belakang mereka.

Saat di kafe, Leni langsung pamit ingin ke toilet. Sialan, kenapa aku ditinggal dengan Mas Fandy?! Aku tak henti merutuk dalam hati dan jadi merasa tidak nyaman.

“Kalian ini katanya teman dekat, ya?” Mas Fandy mulai bertanya-tanya ramah.

Aku mengangguk seadanya.

Saat aku melirik ke arah Mas Fandy, aku baru sadar kalau ia sedang asik memerhatikanku.

“Wah wah wah, cewek SMP zaman sekarang cantik-cantik yah! Nggak seperti zaman saya dulu. Culun-culun!” komentarnya yang membuatku kebingungan. Maksud orang ini apa sih?

“Eh Vika, boleh minta nomor Hp kamu nggak? Siapa tahu ada temanku yang ingin kenalan juga,” kata Mas Fandy yang membuat aku langsung melotot.

“Ha?! Oh, maaf yah, saya nggak minat sama om-om!” jawabku sinis yang membuat wajah Mas Fandy langsung memerah.

“Halah, sok jual mahal kamu! Kata Leni, kamu belum punya pacar kan? Ck ck… kasihan! Heh, jadi jomblo itu nggak usah sok deh!” seru Mas Fandy mengejek.

Aku lalu membuang muka. Rasanya jadi jijik aku berhadapan dengan orang ini. Uh, Leni mana sih? Aku lalu melihat ke arah toilet mencari-cari sosok Leni.

“Vik,” panggil Mas Fandy sambil memegang tanganku yang membuatku langsung terkejut.

“Eh ini orang! Kurang ajar banget sih!” ujarku dengan nada tinggi.

Mas Fandy langsung melotot. “Kamu itu ya, jadi cewek, masih kecil, jangan belagu! Bisa-bisa nanti kamu jadi perawan tua, tahu!” ancam Mas Fandy yang membuat aku langsung berdiri.

“Dasar om-om genit!” makiku. Karena sudah tidak tahan, aku memilih untuk pergi. Biar saja, urusan Leni, aku nanti akan sms ke dia.

Sampai di rumah, aku memilih langsung membaringkan tubuhku dan tidur. Kepalaku terasa pening. Terlintas dalam benakku kelebatan tubuh Leni dan Mas Fandy, maki-makian Mas Fandy dan rayuannya. Perutku langsung mual!

Tak terasa, tidurku ternyata cukup lama. Aku baru terbangun ketika mendengar suara Hp milikku yang berbunyi kencang.

“Hah, sudah pukul 9 malam? Lama betul ternyata tidurku!” gumamku saat melihat ke arah jam.

Saat ku cek layar Hpku, ternyata ada beberapa sms dan miscall di sana. Aku langsung membuka sms-sms dari Leni.

“Hi Vik, td kmna aj?kok kmu prgi gt aj?!kta M Fandy kmu skit y?makany td prgi.sori,aku skit prut jd lma d toilet,” sms dari Leni.

Aku langsung membalas sms tersebut. “Iy Len,kplaku skit.mknya aq pulng dluan.sori td g pmit,” jawabku.

Lalu aku mengecek Hp kembali dan ternyata ada satu sms dengan nomor yang tidak aku kenal.

“Alo cwek judes tp mnis.Kok telp dr aq g diangkt2?Ni M Fandy.Sory y kl td aq dah ngmong g enak k kmu,” aku langsung melotot. Hah, untuk apa orang ini telepon aku berkali-kali?! Belum sempat aku mengecek berapa kali Mas Fandy mencoba meneleponku, Hp yang ada di tanganku itu tiba-tiba berbunyi.

“Mas Fandy? Untuk apa orang ini malam-malam telepon aku?” aku terkejut.

“Halo,” ujarku setelah menekan tanda terima telepon.

“Hai Vika. Kok lama banget teleponku baru diangkat. Kamu sedang apa? Ini Mas Fandy. Aku benar-benar minta maaf lho atas kejadian tadi sore,” cerocos Mas Fandy.

“Ada apa, Mas?” tanyaku dengan nada ketus.

“Ya nggak ada apa-apa. Eh, kamu jangan mulai lagi ketus seperti itu dong. Aku kan cuma mau kenal kamu saja.” Kali ini meski aku sudah ketus terhadapnya, ternyata ia agak lebih lunak dari sore tadi.

“Hem. Iya, terus sekarang ini telepon mau apa? Saya tadi sudah sms kok ke Leni. Terimakasih sudah beritahu ke Leni kalau saya sedang sakit,” ujarku dengan nada kaku.

“Nah, begitu dong. Ada ucapan terimakasih, ada imbalan terimakasih juga kan?” ujar Mas Fandy yang sungguh sulit kumengerti.

“Maksudnya apa?” ujarku kembali dengan nada ketus.

“Yah, kamu mau kan kalau besok aku ajak jalan?” jawab Mas Fandy di seberang sana yang membuat perutku tiba-tiba kembali terasa mual.

“Ini orang emang kurang ajar!” makiku sambil menutup pembicaraan dengan menekan tombol di Hp.

Aku langsung teringat Leni. Ah, sepertinya harus secepatnya aku bicara dengan Leni. Cowok yang dianggapnya sebagai pacar ini ternyata memang bukan cowok baik-baik!

Hp di tanganku bergetar. Aku lihat ternyata ada sms yang masuk di sana. Saat ku buka, aduh, oh Tuhan… kenapa lagi sih dengan orang ini!

“Kl kmu tolak ajakan q,kmu akan lhat hal mmalukan trjdi pd tmnmu itu!aq pnya fto2 Leni yg aduhai,lho!” ternyata Mas Fandy malah mengancamku.

Aku langsung menonaktifkan Hp. Sungguh, aku jadi khawatir dengan diriku sendiri. Aku juga jadi ingat Leni. Ah, apa yang sudah engkau lakukan Len dengan Mas Fandy? Namun di tengah kekhawatiranku, aku mencoba berpikir waras. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebelum hal buruk terjadi lebih parah pada Leni, aku, atau gadis yang lain, aku harus menghentikannya.

Kupandangi Hpku yang kini sudah dalam keadaan mati. “Ah, untung semua sms dari Mas Fandy tadi masih ada di Hpku. Aku harus melaporkan Mas Fandy ke polisi!” tekadku. Besok, semuanya ini harus berakhir!

Biang Gosip

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

“Hm… hari ini aku puas banget!” pekik kecil Vela sembari membanting ringan tubuhnya di atas kasur. Sambil memejamkan mata, ia menghitung apa saja yang berhasil sudah ia lakukan seharian itu di sekolah.

Mulai dari datang melangkahkan kaki masuk ke sekolah, ia sudah menyapa Rani yang kebetulan berbarengan dengannya memasuki gerbang sekolah.

“Hai Ran, aku punya kabar baru nih!” sapa Vela.

“Apaan Vel?” Rani jadi penasaran ingin tahu.

Vela langsung memasang muka serius. “Denger-denger, Dani, mantan kamu itu, sudah jadian ya sama Mike? Sobat kamu sendiri? Ih, kok tega banget ya si Mike itu? Emang kamu sama Dani sudah nggak pacaran lagi ya?”

Mata Rani langsung memandang dengan gaya menyelidik. “Ah, yang benar? Masak sih Mike berani begitu?”

Vela mengangguk mantap. “Sori nih Ran kalau mungkin sepertinya aku ikut campur. Kamu sama Mike lagi ada perselisihan ya? Kayaknya Mike itu emang mau bikin gencatan senjata sama kamu! Pas kemarin jalan ke mall, aku lihat Mike lagi jalan bareng sama Dani. Jalannya mesra banget lagi!” adu Vela.

Rani langsung meremas kepalan tangan kanannya. “Huh, ternyata berani banget dia! Aku nyesal dulu udah sempat minta tolong Mike buat jadi mak comblang. Ternyata dia sudah tega melakukan itu ke aku!”

Vela puas demi melihat ekspresi Rani. Namun, kepuasan atas pemandangan wajah keruh Rani tidak bisa ia nikmati lebih lama. Vela dan Rani lalu berpisah karena masuk ke kelas yang berbeda.

Senyum puas tersungging di bibir Vela kala mengingat itu. “Ah, aku tadi memang tidak bohong kan? Toh aku memang beneran melihat Mike dan Dani jalan bareng kemarin di mall,” batin Vela dalan hati. Namun, ia merasa ulahnya menyebar gosip tentang perpecahan Rani, Mike dan Dani, masihlah belum apa-apa jika dibandingkan gosip tentang Kiki dan Boni.

“Lis, kamu tahu nggak kenapa Kiki dan Boni keluar dari sekolah ini?” tanya Vela pada Lilis, teman sekelas Kiki waktu Vela sedang main ke kelas Lilis.

“Uhm, bukannya Kiki pindah karena harus ikut orangtuanya yang pindah kerja? Terus, kalau Boni kan karena dia ingin lanjut sekolah di Singapura. Yah, kasihan sih mereka. Jadinya harus pacaran jarak jauh begitu,” jawab Lilis.

“Salah besar!” sahut Vela sambil mencibir dan mengibaskan tangannya. “Kiki itu lagi hamil! Yah, gara-gara pacaran sama si Boni itu! Salah mereka sendiri. Orangtua mereka kan nggak suka kalau mereka pacaran. Eh, mereka malah nggak peduli. Ya udah deh. Jadinya pas Kiki hamil, ia harus pindah sekolah dari sini. Terus, si Boni jadinya disekolahkan orangtuanya ke Singapura.”

“Ah, kamu sok tahu Vel! Emangnya kamu tahu dari mana?” seru Lilis tidak percaya.

“Yee, nggak percaya! Sekarang kamu perhatiin nggak sih, kenapa badan Kiki jadi kelihatan lebih gemuk kemarin? Padahal, sebelum-sebelumnya kan dia nggak segemuk itu? Yakin deh, beritaku ini akurat!” Vela mencoba meyakinkan.

Lilis lalu mengangguk-angguk mencoba mengingat-ingat beberapa kejadian yang terjadi sebelum Kiki dan Boni pindah dari sekolahnya.

Vela jadi tersenyum geli sendirian di kamarnya saat mengingat kejadian-kejadian itu di sekolah. “Puas banget aku hari ini!” serunya senang. Terbayang olehnya bagaimana serunya saat gosip tersebut tersebar di sekolah.

***

“Aduh, hari ini kok aku nggak punya bahan apa-apa ya buat digosipin,” rutuk Vela saat sedang asik makan bakso di kantin. Diingatnya satu per satu teman-temannya di sekolah yang menurutnya pantas dan asyik untuk dijadikan bahan gosip.

“Hai Vel, ada gosip apa hari ini?” sapa Mike saat Vela sedang melamun.

Vela cuma menggelengkan kepala. “Nggak tahu nih Mik, kayaknya masih sepi berita! Hehe, rasanya nggak seru ya kalau nggak ada gosip?!”

Mike merutuk dalam hati. “Dasar tukang gosip!”

Sambil melirik ke kanan dan kiri, Mike pun mulai melancarkan pertanyaannya lagi ke Vela. “Wah, justru kalau gitu aku yang pengen tanya, nih. Benar nggak sih kalau adik kamu yang SMP itu lagi…”

“Lagi apa maksudnya, Mik?” Vela langsung merasa penasaran. “Memangnya ada berita apa tentang adikku?”

“Sori ya Vel, aku dengar adikmu itu sedang hamil ya? Malah katanya, sebentar lagi akan nikah ya?” tanya Mike.

Mata Vela langsung melotot. “Eh, siapa yang bilang?!” Vela menyeru kaget. Dia tidak menyangka adiknya sendiri ternyata sedang menjadi bahan gosip di sekolahnya.

“Aku kan cuma dengar-dengar aja, Vel. Eh udahan yuk. Aku mau balik ke kelas. Jangan lupa, aku dikasih undangannya yah. Daagh…” Mike melambai dan berlalu. Tinggal Vela yang cuma bisa bengong sendirian.

Karena hatinya merasa tidak enak, akhirnya Vela memilih untuk menyendiri di kelas. Namun saat Vela mencoba mencari tahu siapa yang sudah membuat gosip tak enak tentang adiknya, tiba-tiba Dani mendekat.

“Hai Vela!” sapa Dani.

“Hai juga, Dan,” Vela menjawab dengan lemah.

“Lho, kenapa Vel? Kok kelihatannya lagi nggak bersemangat begitu?” Dani mengambil tempat duduk di samping Vela sambil memperhatikan tampang Vela yang kusut. “Hmm… aku tahu penyebabnya!” tebak Dani

“Apa?” Vela menyahut masih dengan ucapan tidak bersemangat.

“Kamu habis ditolak lagi kan sama cewek?” bisik Dani sambil menyenggol siku Vela.

Mendengar pertanyaan yang aneh dari Dani, Vela langsung merasa tidak percaya dengan apa yang ia dengar. “Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi!”

“Iya, kamu-habis-ditolak-lagi-sama-cewek!” kali ini Doni mengeja kata demi kata dengan lambat.

Bug! Vela langsung meninju lengan Dani dengan kesal. “Eh, kalau ngomong jangan kurang ajar yah! Kamu pikir aku lesbi gitu?!” Vela langsung berdiri dengan hati kesal.

“Alah… jangan sok belagak enggak merasa deh! Eh Vel, kamu itu sebetulnya banyak ditaksir sama cowok di sekolah ini. Tapi, lambat laun kami jadi pada tahu kalau kamu tuh sebetulnya lesbi!” seru Dani tidak mau kalah.

Demi mendengar tuduhan dari Dani, Vela malah menatap Dani seakan tak percaya. “Masa iya semua anak cowok di sekolah ini tahu itu? Ya ampun, rusak banget reputasi aku?!” gerutu Vela kesal dalam hati.

“Iya Vel, benar kan?” Dani mencoba minta kepastian yang malah terdengar seperti nada mengejek bagi Vela.

Karena mendapat tuduhan seperti itu, Vela pun tak kuat lagi mendengarnya. Sambil menggebrak meja, Vela memilih keluar dari kelas dan pergi meninggalkan Dani. Ia benar-benar tidak kuat mendapat tuduhan dari Dani.

***

Boni: sukses tadi aksimu Mik?

Mike: kayaknya sukses deh

Mike: si Vela tadi langsung bingung waktu aku tanya tentang adiknya yang hamil

Mike: ini juga ada Lilis sama aku

Mike: dia lagi sama aku sekarang

Kiki: hai hai…

Kiki: udah mulai ya ngomongin si Vela?

Mike: hai Ki

Kiki: rasa dendammu sudah aku balas lho tadi di sekolah

Rani: ini kok udah pada mulai duluan sih ngobrolinnya?

Boni: nyantai saja Ran!

Boni: aku, Kiki, sama Mike juga baru mulai kok

Rani: eh, kemana nih Dani?

Rani: tadi kami nggak janji bareng sih

Mike: dia kan eksekutor kita yang paling kita andalin kemarin

Dani: sori… aku telat

Dani: tapi cuma beberapa menit saja kan?

Rani: aduh kamu itu Dan!

Mike: kita sudah nggak sabar dengar cerita kamu nih!”

Dani: tenang…

Dani: tadi aku sukses kok teman-teman!

Kiki: beneran?

Dani: iya!

Dani: dia sampai nangis tadi pas aku tanya tentang kabar dia lesbi

Dani: sampai pakai acara gebrak meja segala lagi

Mike: hehehe…

Mike: biang gosip kena gosip!

Rani: syukurin…

Rani: emangnya enak?!

Boni: iya tu…

Boni: pakai bikin gosip yang nggak-nggak sih tuh anak!

Kiki: bentar-bentar…

Kiki: tapi apa nggak keterlaluan nih?!

Kiki: kalau anak-anak di sekolah sampai pada ikutan tahu juga

Kiki: kan kasihan si Vela

Boni: ya ampun Kiki…

Boni: kamu dan aku itu ikut ketimpa gosip si Vela

Boni: kok bisa-bisanya sih sampai kasihan?!

Mike: tenang-tenang…

Mike: aku tadi nggak sampai anak lain tahu kok

Mike: pas di kantin tadi aku dekatin dia

Mike: terus aku tanya tentang adiknya yang hamil itu…

Mike: si Lilis yang kebagian jadi tukang intainya dari jauh

Mike: jaga-jaga biar nggak ada anak lain yang dengar

Rani: kalau kamu Dan?

Rani: sayangnya tadi aku belum sempat minta diceritain

Rani: soalnya Mama udah nelepon-nelepon minta aku pulang cepet

Rani: sori yah Dan

Rani: kita tadi jadi nggak bareng pulangnya…

Boni: aduh kalian ini…

Boni: urusan rumah tangga kok dibawa-bawa ke sini sih?!

Mike: hehehe…

Kiki: iya, gimana tadi Dan?”

Dani: banyak yang nggak sabaran nih!

Dani: oke, aku ceritain ya…

Dani: tadi aku sudah coba mainin si Vela

Dani: yah, sesuai kesepakatan kita kemarin kan?

Dani: tadi aku ngobrol sama dia di sekolah

Dani: cuma kamu berdua kok

Dani: sepertinya nggak ada deh yang bakal ngedengerin!

Mike: Ehem!

Mike: Berdua???

Rani: tenang Dan…

Rani: tenang Mik…

Rani: aku baik-baik saja kok…

Kiki: hihihi…

Boni: ya sudah deh

Boni: yang penting kan rencana kita berhasil!

Mike: tapi Lilis bilang nih…

Mike: kalau misal tuh anak nggak kapok gimana?

Rani: kayaknya kita harus ngelabrak dia bareng-bareng!

Dani: Iya

Dani: enak saja sudah bikin masalah ke aku, Rani, dan Mike!

Mike: yups!

Mike: biar dia tahu

Mike: kekuatan persahabatan itu nggak akan mudah rapuh

Mike: aku jalan sama Dani itu kan untuk jadi juru penengah

Mike: eh, malah digosipin kalau aku ngerebut Dani dari Rani!

Mike: orang Rani sama Dani dulu yang nyomblangin juga aku

Mike: masa iya aku yang mau merusak usahaku sendiri?!

Kiki: Iya tuh anak!

Mike: untung kita nggak asal percaya sama gosip.

Rani: Iya

Rani: kalau nggak

Rani: bisa-bisa yang temenan jadi musuhan

Rani: terus yang pacaran bisa jadi gencatan!

Keenam anak yang asyik berkomunikasi dalam chat room itu pun tertawa di hadapan komputer dan laptopnya masing-masing. Mereka cukup puas karena seharian ini bisa membalas ulah usil Vela si tukang gosip!