Bermain dengan Kupu-kupu

foto bersama dengan kupu-kupu

Dari sekian kegiatan-kegiatan menyenangkan yang saya lakukan dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun, kegiatan mengeksplorasi alam di lahan samping merupakan yang paling saya suka.

Sebetulnya lahan yang ada di samping TPA tersebut tidaklah bisa dibilang lahan yang sangat-sangat aman untuk anak-anak saya. Rerumputan tumbuh liar dan hampir selutut dari anak-anak saya. Tentu saja untuk ukuran lutut batita. Namun, justru di situlah saya dan anak-anak bisa mengeksplorasi berbagai kehidupan alam di sana.

Jika beberapa waktu lalu saya bercerita tentang kegiatan saya dan anak-anak mengskplorasi ulat di buah belimbing yang membusuk, kali ini saya ingin bercerita tentang kupu-kupu. Meski hewan tersebut sangat cantik dan manis, namun ternyata tidak semua anak-anak saya berani menyentuhnya, lho!

Kebetulan di hari kemarin, begitu banyak kupu-kupu yang berlalu lalang di lahan kosong tersebut. Bahkan, saya bisa menemukan dengan mudah beberapa kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

Mengamati kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

menyiapkan kupu-kupu hasil tangkapan untuk diamati bersama anak-anak

Walhasil, kegiranganlah saya menemukan bahan yang mengasyikkan untuk dibahas dan dimainkan bersama anak-anak saya. Mulai dari mengamati kupu-kupu yang terbang bebas, mengendap-endap bersama mereka memetik daun berkepompong dengan kupu-kupu yang bergelantungan dan belum bisa terbang karena baru saja terlepas dari selaput kepompongnya, menceritakan kepada mereka tentang proses kehidupan kupu-kupu, melepaskan kepergian kupu-kupu yang telah beberapa saat keluar dari kepompong untuk bisa terbang di alam bebas, hingga tentu saja acara… berfoto bersama!

Acara berfoto bersama dengan objek yang rata-rata ditakuti oleh anak-anak memang kerap sengaja saya lakukan bersama mereka sebagai jurus andalan saya untuk membujuk mereka memiliki mental pemberani. Jika dulu berfoto dengan ulat, maka sesi foto kali ini lebih terasa indah karena berfoto dengan para kupu-kupu yang cantik.

Ehem, meski begitu, ternyata masih banyak juga lho anak-anak saya yang penakut dengan kupu-kupu! Tapi demi melihat beberapa dari mereka yang hari demi hari makin pemberani dan bahkan menahan rasa takut demi bisa difoto, saya jadi makin salut dan optimis. Saya yakin, kegiatan-kegiatan seperti ini akan makin menambah anak-anak bermental kuat yang berani untuk mengeksplorasi rahasia dunia!

Mazaya dan kupu-kupu

Naka dan kupu-kupu

Tiara yang saya kenal di awal saya masuk di TPA adalah anak yang introvert. Kini, ia telah berubah menjadi gadis cilik yang pemberani, yang selalu bangga apabila saya menunjukkan ekspresi bangga terhadap keberanian yang baru saja ia lakukan.

Bocah-bocah Penjaja Bakso

Seorang bocah pria menapaki langkah kakinya dengan memanggul pikulan dagangan bakso Malang. Khas dengan pangsitnya. Dapat tetap tersaji hangat karena tungku berarang selalu menyala di salah satu pikulannya.

Seorang yang lain melenggangkan kaki pertamanya dengan mendorong gerobak bakso. Ada mi dan segala pelengkap bakso lainnya. Ia mendorong dengan mantap.

Lagi, di tempat yang terpisah, seorang bocah tanggung memijak pedal sepeda kumbangnya sebagai langkah pertama menjajakan bakso cimol. Berat sedikit terasa. Karena dua benda bundar yang dinaikinya meringankan bulatan-bulatan bakso yang setia tertata berada di belakang tubuhnya.

Mereka berangkat dari tempat yang terpisah. Berjalan pada jalan yang berbeda. Namun kompak mengusung tema makanan yang sama mereka tawarkan, bakso! Meski berwujud beda.

Dan pada sebuah pos kamling, di sebuah perumahan, selalu, mereka bertemu untuk bersatu. Ada sebuah bola yang selalu menunggu. Ada sekelompok anak-anak perumahan yang selalu menanti untuk bertemu. Bila pertemuan itu berlangsung, mulailah kehidupan mereka yang sesungguhnya harus mereka kenyam teramu.

Mereka sejenak akan meletakkan panggulannya, mengistirahatkan roda gerobak baksonya, menyandarkan sepeda yang berisi bakso-bakso yang masih hangat. Bola-bola bakso itu lantas rela menunggu. Sementara sang pembawanya melupa sejenak untuk bermain dengan bola berkulit yang menggelinding di tanah tak rata.

Dalam lupa, mereka pun akan kembali ingat. Ketika teman-teman mereka bermain lantas lapar dan butuh pengganjal perut, maka kembalilah mereka ke kehidupan masing-masing. Menata dan menuang kuah panas dalam mangkok, menusuk-nusuk bulatan bakso dan mengucurinya dengan saos, atau kembali mengipasi arang tungku yang sejenak tak lagi membara di pikulan.

Tak sedikit mata yang menatap, sadar dan ikut mengiba, namun tak bisa berbuat banyak. Dan ketika langkah-langkah mereka sepakat untuk berpisah, mata-mata itu pun hanya bisa membuat si pemiliknya menghela nafas.

Demi melihat seorang bocah yang seharusnya masih bersekolah SMP, berwajah imut tak kalah dengan artis sinetron abg, berpakaian bersih dan rapih, namun sering terlihat kewalahan memikul kayu pikulan bakso yang tidak bisa dibilang ringan untuk tubuhnya yang kerempeng.

Demi melihat seorang anak belum menginjak remaja, mendorong gerobak yang biasa dibawa oleh usia bapak-bapak, namun dituntut mantap membuat rodanya terus berputar mengelilingi perumahan.

Demi melihat seorang anak laki-laki, mengayuh sepeda berisi bulatan-bulatan bakso. Tetap menyungging senyum kala berkeliling. Ia terus berwajah optimis dagangannya habis!

Mata-mata itu adalah milikku, milik tetangga-tetanggaku, yang hanya bisa terpaku diam dalam renung masing-masing otak beku. Selalu was-was demi melihat tubuh dan bawaan mereka yang tak seimbang terhuyung. Hingga kerap menyelip doa agar dagangan mereka laku. Dan kemudian mencoba untuk melupakan apa yang telah terlihat oleh mata kelu. Karena tak tega selalu!

Tulisan di atas saya buat di sebuah malam. Saat merenung teringat beberapa sore saya melihat seorang bocah penjaja bakso malang yang kerap lewat di depan rumah mbah saya. Ia masih bisa dibilang anak. Dan mungkin sepadan dengan sepupu saya yang masih duduk di kelas 1 SMP.

Anaknya berwajah bagus. Selalu berkeliling dengan pakaian rapih berkemeja kotak-kotak dan celana jins yang tak lusuh. Karena itulah saya menjulukinya dengan penampilan yang tak kalah dari artis abg di televisi.

Namun demi melihat apa yang dipanggulnya, semua orang yang melihat pasti tak tega. Mungkin diam seakan tak peduli tapi menahan iba dalam hati. Atau mungkin seperti bulek saya yang terus selalu mengujar kata kasihan demi mengingat anaknya yang seumuran dengan anak penjaja bakso tersebut.

Tubuhnya kecilnya kerap terlihat berjalan terseok. Kadang terhuyung. Dan tak jarang pikulannya pun seperti hampir nampak berantakan akan terajatuh karena kurang seimbangnya tubuh yang memanggul.

Hingga di suatu sore, kembali, lewatlah anak belia tersebut. Saat itu ada saya, dua sepupu saya, dan bulek saya. Sepupu saya bercerita, jika anak yang sebaya dengannya itu pernah ia ajak bermain bola.

Sontak, marahlah bulek saya. Ia kesal, seorang anak yang sedang sibuk berjualan kok malah diajak bermain bola. Namun sepupu saya yang lain justru berujar, jika di dekat tempat rumahnya, kejadian seperti yang saya tuliskan di atas itulah yang terjadi.

Karena mereka memang masih belia. Masih pantas memiliki waktu sore sebagai pelepas penat dengan bermain. Meski itu mereka lakukan di sela-sela perjalanan menjual bakso. Dan akan kembali berjalan usai permainan bola dengan anak-anak di perumahan mereka lakukan.

Sedih berlarut akan nasib diri sendiri itu egois. Karena seharusnya sedih itu cukup dirasa tapi tidak untuk menguasai hati. Karena sesungguhnya ada empati yang perlu mengisi ruang hati lain tentang nasib orang-orang yang kurang beruntung. Dan jika itu ada, barulah pantas kita bersedih. Karena kemudian kita akan jadi bersyukur. Atau mencoba bangkit membantu yang lain untuk bahagia. Dan dengan begitulah kita pun akan bahagia.” suatu pikiran yang terlintas dalam benakku ketika melihat realita dari cerita yang telah ku buat di atas.

Bermain dengan Play Dough

Anak mana yang tidak suka bermain dengan plastisin atau yang biasa disebut dengan malam atau lilin. Bentuknya yang lunak dan berwarna warni, membuat anak-anak suka berkreasi dengan mainan yang satu itu.

Tapi di Taman Penitipan Anak yang saya kelola, saya tidak bisa membiarkan anak-anak saya bermain dengan plastisin. Pasalnya, usia mereka kebanyakan sekitar 2 sampai 3 tahun. Rasa ingin tahunya itu lho! Bisa-bisa, tidak hanya sekedar bermain, icip icip pun mungkin sampai mereka lakukan. Maklum, anak-anak kreatif!

Nah, tidak terbayang kan jika plastisin yang baunya khas itu masuk ke dalam mulut anak-anak saya? Sementara itu dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), anak-anak juga dituntut untuk dirangsang kegiatan jari jemari dan tangannya. Dan yang ada pada anak-anak saya, mereka pun akhirnya asyik memilih bermain-main dengan pasir yang berserakan di halaman.

Namun suatu ketika, saya teringat dengan adonan kue yang sifatnya kalis. Saya pikir, sepertinya plastisin bisa digantikan dengan adonan untuk kue seperti itu. Hingga, saya pun mencoba-coba membuat bahan mainan yang aman dan bisa digunakan untuk anak-anak.

Sim sala bim, akhirnya jadilah adonan tepung kreasi saya yang sifatnya tidak berbeda jauh dengan plastisin. Mudah lho cara membuatnya! Tinggal campur saja tepung terigu, minyak goreng, dan air. Untuk ukurannya dikira-kira saja deh.

Namun ternyata, bahan mainan buatan saya itu barulah saya ketahui bernama Play Dough melalui hasil browsing di internet. Di luar negeri sendiri, adonan seperti itu memang lebih kerap digunakan dalam permainan anak-anak. Anak pun tidak hanya kreatif dalam bermain, melainkan para orangtua atau pengajar pun menjadi dituntut pula kekreatifitasannya.

Play Dough juga mudah cara menyimpannya. Jika sudah selesai, masukkan saja ke dalam plastik dan simpan di dalam kulkas. Sayangnya, saya masih belum tahu tingkat ketahanan dari Play Dough ini hingga beberapa lama. Namun jika lebih dari seminggu, Play Dough ini akan seperti laiknya makanan yang berubah aroma menjadi tengik. Jadi jika Anda membuat dan menyimpan Play Dough dalam kulkas, cobalah untuk mengamati bau dan rupanya terlebih dahulu sebelum digunakan kembali.

Bentuk Play Dough jika usai dimasukkan ke dalam kulkas memang agak berbeda. Minyaknya akan mengembang di permukaan. Sementara adonan tepungnya sendiri agak terasa mengeras. Namun jangan khawatir, remas-remas saja Play Dough hingga bagian tepungnya akan melunak dan unsur minyaknya kembali menyerap ke dalam tepung.

Agar lebih menarik lagi, Play Dough ini bisa diberi warna agar terlihat menarik lho! Pisah saja beberapa adonan dan warnai dengan pewarna makanan. Hasilnya, mainan yang satu ini tidak akan kalah dengan plastisin.

Dari Bakso sampai Mi

Bermain Play Dough memang butuh kreatifitas. Tapi, kekreatifitasan anak pun tentu saja juga berasal dari dorongan orangtua memotivasinya bukan? Biar asyik bermain Play Dough dengan si kecil, orangtua pun perlu ikut merasakan serunya bermain dengan anak-anak.

Bermain mudah membentuk Play Dough jika hasil pengalaman saya dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak adalah membuat bakso. Meski bagi kita kelihatannya sepele, tapi membentuk bakso ini menuntut kemampuan otot-otot tangan dan jari anak-anak lho untuk memutar adonan menyerupai bakso! Walhasil, bakso buatan anak-anak saya lebih berbentuk bakso super mungil. Berkali-kali saya mencuilkan sejumput adonan yang lebih besar. Tetap saja, bakso-bakso imut selalu berwujud demikian hasilnya. Hehehe, mungkin karena tangan-tangan yang membuatnya juga mungil kali ya?

Selain bentuk bakso, bentuk lainnya adalah mi. Kalau yang satu ini tinggal tunjukkan saja kemanpuan kita dalam melinting adonan agar mereka menirunya. Cara lainnya adalah dengan memasukkan adonan ke dalam wadah yang berujung lubang kecil, lalu tekan adonan Play Dough hingga terus keluar dari lubang tersebut.

Cara main asyik lainnya adalah dengan membuat cetakan. Ratakan adonan Play Dough ke sebuah wadah datar yang lebar, lalu ambil cetakan bentuk aneka rupa seperti hewat atau bunga, lalu tekan di permukaan Play Dough. Sebelum cetakan diangkat, bersihkan sisa adonan yang ada di sekitarnya. Angkat cetakan, dan jadilah aneka bentuk rupa Play Dough.

Mainan ini asyiknya bisa diterapkan pada anak-anak usia 2 tahunan. Karena anak usia tersebut masih memiliki kecenderungan memasukkan barang ke dalam mulutnya, Anda pun tidak perlu khawatir karena adonan Play Dough sangat aman.

Dan meski kelihatannya mainan ini sepele, tapi nilai edukatifnya cukup besar lho! Mainan ini sesuai dalam kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang menargetkan kemampuan motorik tangan dan jari anak. Belum lagi unsur tuntutan permainannya yang membutuhkan kreativitas.

Nilai lainnya adalah, Anda pun bisa membiasakan anak untuk bermain dengan berbagai barang yang ada di sekitarnya. Tidak harus beli apalagi bernilai mahal. Jika nilai ini sedini mungkin diterapkan, anak Anda pun akan terbiasa hidup kreatif dengan memanfaatkan barang-barang yang ada di sekitarnya. Ehm, mirip iklan susu yang di televisi itu lho…!!!

Setengah Abad Lebih Berjualan Tahu Tek

“Teng teng teng teng…!!!”

Sontak, kepala saya pun mencari sumber suara yang begitu saya harapkan ingin bisa membelinya. Tahu tek! Entah kenapa, keinginan saya malam itu untuk mencicipi makanan yang khas dengan unsur petisnya itu justru membuat saya bertemu dengan Pak Nur Said.

Dari kejauhan saja, saya tahu jika pendorong gerobak tahu tek itu sudah berusia lanjut. Dan benar saja, ketika saya dekati, segala tanda-tanda usia tua nampak jelas di wajah dan tubuhnya. Suaranya yang tegas dan masih tidak seberapa meliuk-liuk laiknya orang lanjut usia, serta kemampuannya mendorong gerobak yang masih bisa dikatakan sigap, justru membuat saya entah kenapa langsung terkagum-kagum dengan bapak tua penjual tahu tek itu.

Sekitar setengah abad lebih yang lalu, atau lebih tepatnya sejak tahun 1957, Pak Nur Said menjajakan tahu tek di kota Surabaya pada awalnya. “Walah, malah waktu itu masih pakai arang buat masaknya,” tuturnya mengenang.

Pria yang masih tinggal di bilangan Demangan, Lamongan itu pun kemudian meneruskan usahanya di Lamongan sejak tahun 1992 hingga sekarang. Uniknya, meski saat ini ia telah berusia lanjut, kebiasaannya berjualan tahu tek dengan mendorong gerobak itu terus dilakukannya setiap hari hingga pukul satu dini hari. Rutenya paling tidak melalui daerah Jetis.

“Yah, saya anggap olahraga saja,” begitu sahutnya seakan menerka pikiran saya yang bertanya-tanya, kenapa sih sudah setua ini masih saja berjualan tahu tek dengan mendorong gerobak hingga dini hari!

Namun dari penampilannya, malam itu saya begitu terkesima tentang sebuah pesan hidup dari Pak Nur Said. Bahwa bahagia itu tidak mesti kaya. Punya anak delapan yang tergolong banyak pun tidak berarti susah. Namun bagaimana kita memandang hidup, menertawainya, dan menjalaninya dengan ringan, justru membuat tubuh kita akan mampu menyanggah hidup meski usia telah jauh bertambah.

Seperti Pak Nur Said, pria sepuh yang saya lihat sepanjang jalan mendorong gerobak sering tampak menyunggingkan senyum, ramah mengobrol dengan pembeli, dan menyapa orang-orang yang dikenalnya di sepanjang jalan.

Amalan Agar Lolos hingga Reuni Setiap PNS

Setiap musim PNS, kebanyakan masyarakat Indonesia berada dalam euforia pengharapan untuk bisa bergabung menjadi abdi negara. Hehehe… sayangnya pengecualian itu ada pada saya! Karena tak pernah berminat namun orangtua berkehendak PNS adalah masa depan cerah, maka tahun ini terpaksalah saya ikuti kehendak mereka. Yah, tak ada ruginyalah jika hanya menuruti tes saja.

Nah, ketika minggu lalu saya dinyatakan lolos seleksi administrasi dan dapat berkesempatan mengikuti tes, berbagai cerita unikpun sempat saya alami. Mau tahu apa saja itu?

* Dua Amalan Agar Lolos Tes

Saat saya bercerita pada seseorang tentang rencana saya mengikuti tes, seseorang itu pun lantas memberitahu kepada saya tentang dua amalan yang bisa dilakukan sebelum tes. “Sadakah sebelum tes Bu Santi!” ujarnya. Selain itu, ia pun menyarankan kepada saya untuk berpuasa. Sayangnya, nasehat bagus itu tidak saya jalankan semaunya. Apalagi sebelum tes.

Saya hanya teringat pada sebuah cerita tentang seorang penjual tempe mentah yang begitu berharap dalam doanya agar tempenya bisa tiba-tiba masak seketika dan bisa dibeli orang. Namun ternyata, Allah berkata lain dengan adanya rejeki dari seseorang yang sedang mencari tempe untuk dikirim ke anaknya yang sedang bersekolah di luar negeri.

Dari cerita itu, saya kini jadi belajar untuk berdoa diberikan yang terbaik, bukan meminta A atau B. Karena terkadang, apa yang kita inginkan, kita pinta dalam doa, belum tentu menjadi yang terbaik untuk kita sendiri.

Jadi, akhirnya amalan itupun saya lakukan justru ketika tes itu usai saya laksanakan. Saya hanya berharap kala itu, Allah akan memberikan saya yang terbaik.

*Reuni Setiap Tes PNS

Ketika saya tahu nomor peserta tes untuk posisi guru mata pelajaran ekonomi SMA adda 86 orang, saya hanya berpikir naif, “Wah, ternyata cukup banyak juga yang orang Lamongan yang lulusan Pendidikan Ekonomi!”

Namun ketika saya mengikuti tes, saya justru bertemu dengan orang-orang dari kota lain seperti Tuban atau Bojonegoro. Itu saya ketahui secara tidak sengaja saat sedang duduk menunggu waktu tes. Usianya pun sudah lumayan di atas saya lho! 30-an tahun!

Tak hanya itu, mereka yang lulusan pendidikan ekonomi ini ternyata sebelumnya juga sempat mencari informasi daerah-daerah mana saja yang membutuhkan guru ekonomi. Saat saya mendengar mereka saling berbincang-bincang, mereka sudah tahu kalau di daerah mana ada yang membutuhkan dan daerah mana yang tidak. Karena Lamongan membutuhkan, mereka pun langsung memburu kota Lamongan untuk menjadi tempat mengikuti tes PNS. Padahal, posisi yang diperlukan hanya 1 orang untuk guru ekonomi SMA dan 1 orang untuk guru ekonomi SMEA lho!

Yang lucu lagi, orang-orang ini ternyata saling mengenal dan tanpa berencana untuk janjian, mereka pun diketemukan saat tes PNS di Lamongan! Hehehe, sampai-sampai saya berpikir, sepertinya setiap tes PNS, mereka pasti akan mengadakan reuni tidak terencana nih!

*13 Kali Tes Baru Lolos

Saat saya sedang berjalan menuju ruang tes yang berada di SMPN 2 Lamongan, tak sengaja, saya bertemu dengan wali murid di TPA yang saya kelola dan seorang rekannya yang sama-sama mengajar di SMPN 2 Lamongan.

Si ibu yang saya tidak sempat saya ketahui namanya itupun lalu berujar, “Saya doakan semoga lolos ya. Saya sendiri dulu malah 13 kali lho ikut tes. Sampai-sampai saya berpikir, Ya Allah, masa sudah setua gitu kok ya nggak lolos-lolos tes ya?”

Angka 13 kali itu membuat saya terhenyak. Subhanallah, sebegitunya ya mengejar posisi PNS hingga 13 kali ikut tes?!

Kurang Bisa Berkreasi

Saya memang ingin menjadi guru. Namun jika itu terkait guru sekolah negeri, saya langsung phobia teringat masa-masa ketika PPL. Perangkat pra dan pasca mengajarnya itu lho yang membuat saya mabuk! Sampai-sampai saya berpikir, seandainya itu ditiadakan, pasti yang namanya guru bisa lebih dioptimalkan untuk berkreasi dalam proses belajar mengajar.

Apalagi kebiasaan saya ketika mengajar adalah memberi ruang kreasi, kreativitas, dan kenyamanan bagi anak-anak saya ketikaa mereka belajar. Karena pada dasarnya, otak manusia akan bisa bekerja optimal jika tubuh sedang merasa nyaman.

Sampai-sampai ketika saya mengajar di Politeknik Batam dulu, saya mempersilakan mahasiswa saya untuk makan dan minum di kelas, sampai mendengarkan musik. Yang penting, mereka tidak membuat ulah yang mengganggu teman-temannya yang lain dan mereka tetap berada pada rel belajar.

Nah, jika itu saya terapkan di sekolah negeri, dengan kepala sekolah yang maaf, rata-rata berumur tidak lagi muda dan maaf lagi, kerap saya temui berpikir konvensional, mana bisa cara saya itu diterima untuk diterapkan?

Belum lagi unsur senioritas dan taat atau patuh asas yang kurang mau membuka diri pada pembaharuan di kebanyakan sekolah, tentunya akan sangat bertentangan sekali dengan saya yang hobinya berkebalikan dari itu.

Menjaga Budaya Bangsa Perantau

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Ujian Tari Pendet yang sedang saya ikuti di tahun 1987 di TMII

Rasa nasionalisme bangsa Indonesia kembali bangkit lagi. Usai Reog, lagu Rasa Sayange, dan Batik, kini giliran tari Pendet asal Bali yang menjadi sasaran keusilan bangsa Malaysia terhadap Indonesia.

Kronologi kasus tari Pendet ini sendiri baru saya ketahui dengan jelas ketika semalam saya menyaksikan tayangan di TV One. Ternyata, tayangan tari Pendet tersebut digunakan oleh sebuah rumah produksi (production house/PH) milik swasta di Malaysia dengan tujuan sebagai penayangan film dokumenter yang mengangkat tentang asal muasal batik di Malaysia yang kemudian ditayangkan oleh Discovery Channel.

Uniknya selama wawancara yang menghadirkan Menteri Pariwisata dan Budaya, Jero Wacik, serta Noorman Abdul Halim pemilik PH asal Malaysia tersebut, tampak beberapa kelucuan yang terdengar dari hasil lontaran penjelasan pihak PH tersebut.

Misalnya dari keterangan pihak PH tersebut, saya jadi tahu bahwa tujuan dari pembuatan film dokumenter itu adalah untuk menerangkan tentang asal usul batik yang ada di Malaysia. Mulai dari adanya tari Bali, wayang, hingga batik sendiri yang kemudian membuat bangsa Malaysia jadi memiliki batik model sendiri.

Tentu saja, keterangan dari pihak PH ini membuat presenter dan Pak Jero sendiri jadi geleng-geleng kepala dan tertawa tidak mengerti. Pasalnya, mereka mengangkat deskripsi yang kebanyakan berasal dari budaya Indonesia tanpa mencantumkan nama Indonesia itu sendiri.

Adu pendapat pun tak terelakkan. Misalnya pernyataan dari pihak PH yang berdalih jika pemuatan tarian Pendet tersebut adalah ulah dari pihak Discovery Channel yang tidak mereka ketahui. Nyatanya ketika presenter TV One menanyakan dari mana Discovery Channel mendapatkan bahan dan dana pembuatan film tersebut, pihak PH mengakui jika itu semua berasal dari mereka.

Sampai akhirnya, penjelasan demi penjelasan dari pihak PH itu sendiri justru makin membuat mereka tersudut dan mencetuskan kata maaf jika memang ulah mereka telah menyinggung harga diri bangsa Indonesia.

Yang juga bisa dikatakan unik, keberadaan PH ini sendiri terungkap manakala adanya pernyataan dari pihak pemerintah Malaysia yang merasa tidak perlu bertanggung jawab atas masalah tersebut. Pasalnya, pembuatan film dokumenter itu sendiri dilakukan oleh pihak swasta, dan bukan inisiatif dari pihak pemerintah Malaysia.

Pihak PH yang diwawancarai oleh TV One pun membenarkan perkara inisiatif tersebut. Bahkan, mereka mengakui jika memang dana pembuatan film berasal dari mereka sendiri. Meski demikian, masa iya ulah sekelompok warga negara lantas dilepas begitu saja tanggung jawabnya oleh pemerintahnya sendiri?!

Memang, bangsa Indonesia begitu kaya akan budaya. Dan satu hal yang juga perlu diperhatikan adalah, adanya budaya merantau yang juga dimiliki oleh bangsa kita. Belum lagi kenyataan bahwa tidak sendikit dari bangsa kita yang merantau ke negara lain itu lalu berbaur menjadi bagian dari bangsa tersebut.

Contohnya adalah keberadaan kampung Jawa yang ada di sebuah daerah di Malaysia. Saya mengetahui keberadaan kampung tersebut dari tayangan Backpacker di TV One pernah saya saksikan suatu ketika. Di tempat tersebut, masyarakat yang mendiami daerah itu memang kental bahasa Melayunya seperti laiknya kebanyakan rakyat Malaysia.

Namun untuk urusan budaya nenek moyang yang notebene adalah orang Jawa, mereka mengaku, budaya tersebut tetap mereka pegang. Bahkan setiap minggunya di hari-hari tertentu, masyarakat di kampung itu mengadakan latihan reog bersama.

Hingga kemudian, masyarakat yang kini telah berstatus warga negara Malaysia itu, diakui sebagai satu dari sekian suku atau bagian masyarakat di Malaysia, yang budayanya menambah kemajemukan budaya negara Malaysia. Tak pelak, ketika Malaysia ingin mempromosikan budaya bangsanya, budaya Reog milik kampung inipun masuk di dalamnya dan diberi ruang untuk menunjukkan diri sebagai bagian dari budaya Malaysia.

Sebetulnya, keberadaan budaya merantau dari masyarakat Indonesia ini bisa dikatakan mirip dengan keberadaan masyarakat Tionghoa yang kemudian tersebar di seluruh dunia. Mereka tak lagi menjadi bangsa Tionghoa yang ada di negara asalnya, berbaur dan melebur menjadi bangsa yang mereka tinggali sekarang, tapi tetap menjaga budaya yang mereka bawa dari tempat mereka berasal. Bahkan secara turun temurun.

Saat karnaval Agustus-an kemarin saja misalnya, di Lamongan tempat saya tinggal, atraksi barongsai bahkan sudah dimasukkan ke dalam bagian dari kemajemukan budaya Indonesia oleh sebuah sekolah kejuruan berbasis Islam. Sampai-sampai, yang memainkannya pun bukan lagi anak-anak asli Tionghoa!

Cuma, memang ada pembeda antara fenomena budaya Tionghoa di berbagai negara atau daerah di dunia dengan fenomena budaya perantau asal Indonesia. Jika budaya Tionghoa yang dibawa oleh para perantaunya kemudian berasimilisi dengan budaya yang didatanginya, berbeda dengan kasus budaya perantau bangsa Indonesia di Malaysia yang lantas mereka akui sebagai budaya bangsa tersebut.

Malaysia jelas-jelas kerap menampilkan beberapa bentuk budaya para perantau asal Indonesia, yang kemudian menjadi warga negaranya dan mereka akui sebagai budayanya, namun dengan penampakan budaya yang masih sama dengan di tempat asalnya, yaitu Indonesia! Paling-paling, urusan nama atau istilah, hingga penampilan yang sedikit sekali saja diubah sehingga terkesan tidak milik Indonesia.

–Patenkan Budaya Suku Perantau–

Lepas dari kasus tersebut, sebetulnya ada hikmah yang bisa diambil oleh pemerintah Indonesia. Satu dari sekian hikmah yang saat ini sedang digembar gemborkan adalah urusan pematenan budaya ke kancah internasional.

Ketika hal tersebut dipertanyakan kepada Pak Jero, beliau mengakui jika upaya tersebut sudah mereka lakukan. Hasilnya antara lain, keberadaan batik dan keris yang kini sudah dipatenkan oleh UNESCO sebagai budaya Indonesia. Sedangkan urusan angklung atau Reog, sedang dalam tahap proses pematenan.

Sayangnya, upaya pematenan ini terkesan menuntut proaktif dari tiap-tiap daerah yang ingin mematenkan budayanya. Padahal, pemerintah sebetulnya harus lebih memerhatikan lagi keberadaan dan perkembangan budaya di berbagai daerah.

Bahkan menurut saya, budaya dari beberapa suku yang terkenal memiliki jiwa perantau inilah yang lebih perlu diperhatikan lagi. Di Indonesia, beberapa suku seperti Jawa, Madura, Minang, dan Bugis memang identik sebagai suku berbudaya merantau yang kental. Tentu saja, ini juga bisa berimbas kepada adanya budaya yang kemudian mereka bawa dan diwariskan ke anak cucu yang kemudian menetap tidak di tempat asal mereka lagi.

Selain Batik atau Wayang, Rendang saja misalnya, sempat diakui sebagai makanan khas asal Malaysia. Padahal siapapun di Indonesia tahu, jika makanan tersebut identik dengan suku Minang berikut budaya Rumah Makan Padang-nya.

Kekayaan budaya Indonesia memang bisa memungkinkan bangsa kita lengah untuk menginventarisir kekayaannya sendiri. Tapi dengan adanya kasus yang ditimbulkan oleh Malaysia, seharusnya pemerintah perlu makin giat untuk mematenkan budaya-budaya yang ada. Jangan hanya ketika sudah menjadi masalah saja usaha itu baru diupayakan!

Coba saja deh lihat kejadian beberapa tahun yang lalu. Jikalau tidak ada ulah Malaysia yang mengklaim batik sebagai budayanya, pemerintah Indonesia tidak terpikir bukan untuk membawa perkara ini ke tingkat UNESCO?

Bahkan saking bangga dan sombongnya akan kesohoran Bali berikut segala budayanya di seantero dunia, sampai-sampai, kekayaan budaya yang paling bisa dilihat dengan jelas sebagai milik Indonesia itu terlupa dipatenkan oleh pemerintah Indonesia.

Yah, kita semua memang bisa jadi tidak terpikirkan akan hal tersebut. Karena kita merasa dunia sudah mengetahui keberadaan Bali dan budayanya, hingga tak ada sedikitpun pikiran jika suatu saat budaya itu akan diakui oleh bangsa lain. Meskipun jika istilah dari pihak PH asal Malaysia, disebut dengan kata ‘dipinjam’!

Selain urusan pematenan budaya, sebetulnya ada satu hal menurut saya yang juga perlu dilakukan oleh pemerintah Indonesia utamanya. Yaitu bagaimana upaya dari pihak pemerintah Indonesia, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan para perantau yang kini bahkan sudah menjadi bagian dari warga negara asing.

Para perantau ini jika ditilik asal muasal perpindahannya, jika dirunut, selalu didasari pada alasan untuk memerbaiki kualitas kehidupan. Ketika tiba di perantauan, rasa rindu akan kampung halaman pun membuat mereka mencoba saling berkumpul, membuat suatu komunitas, dan mencoba menebus rasa rindu mereka terhadap kampung halaman dengan cara melakukan kegiatan budaya seperti di tempat asal mereka.

Ketika kegiatan mereka mendapat apresiasi positif dan menyenangkan dari pihak pemerintah tempat mereka tinggal saat itu, siapapun akan merasa tersanjung. Hingga dengan senang hati, masyarakat inipun akan membalas apresiasi positif itu dengan cara yang juga positif.

Misalnya saja dengan mengikutsertakan diri dalam sebuah ajang unjuk budaya yang membuat mereka bisa menampilkan sebentuk budaya asal daerah mereka dulunya. Tentunya, siapapun akan bangga bukan bila bisa menunjukkan budaya asal mereka yang mendapat respon penerimaan menyenangkan dari tempat mereka tinggal sekarang?

Karena itulah, hal ini menjadi PR atau perhatian bagi pemerintah dan segenap bangsa Indonesia untuk lebih memerhatikan nasib, kondisi, bahkan keberadaan para warga negara Indonesia yang ada di negara perantauan. Meskipun mereka merantau hingga memilih untuk melepas kewarganegaraan Indonesianya, yang jelas, mereka tidak bisa menafikan jika ada bagian dari diri mereka yang masih berwarna merah putih, kebanggaan diri akan Indonesia!

Cara ini misalnya bisa dilakukan dengan sedikit mencontoh sebuah acara yang ditayangkan di sebuah televisi swasta di Singapura. Dulu ketika saya berada di Batam, saya sangat menyukai acara di Channel 5 yang mengangkat cerita tentang orang-orang yang sekarang menjadi warga negara Singapura, namun masih tetap memiliki kerinduan terhadap daerah asalnya.

Suatu ketika dalam tayangan tersebut, saya menyaksikan kisah seorang wanita muda yang mencoba menelusuri keberadaan kerabatnya yang berada di daerah Malang. Dengan bangga dan euforianya, ia tidak hanya menebas rasa rindu pada sebuah tempat dan orang-orang yang bahkan sejak ia lahir hanya pernah ia dengar dari cerita orangtuanya. Akan tetapi, ia pun mencoba dengan ekspresi senang beberapa budaya yang ada di tempat tersebut, yaitu budaya yang ada di Malang.

Nah, mengapa kita tidak bisa membuat acara tayangan televisi yang mirip seperti itu? Saya sangat berharap suatu ketika, ada sebuah acara di televisi yang mengangkat tentang bagaimana cerita dari orang-orang yang kini berstatus bukan lagi warga negara Indonesia, namun masih tetap menjaga, memelihara, dan mewariskan tradisi budaya leluhurnya, yaitu yang berasal dari bangsa Indonesia.

Tayangan seperti itu bisa menjadi upaya menjalin komunikasi dan silaturahmi kepada mereka yang kini berada di perantauan atau bahkan bukan lagi menjadi bagian dari warga negara Indonesia. Sekaligus dengan cara seperti itu, pihak media massa bisa membantu pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kemungkinan yang bisa lagi timbul seperti kasus Reog Ponorogo yang dicuatkan oleh masyarakat kampung Jawa yang ada di Malaysia.

Ah, saya pun jadi teringat cerita sahabat saya Tari yang sedang meliput di Singapura. Ketika bertemu dengan seorang pegawai di sebuah tempat hiburan di sana, sahabat saya itu disambut dengan ulah kegirangan dari pegawai tersebut hanya karena pegawai itu tahu jika Tari berasal dari Jawa!

Konon ternyata, si pegawai yang warga negara Singapura ini masih menyimpan cerita turun temurun di keluarganya jika keluarga mereka berasal dari tanah Jawa. Dan ia, bisa mengatakan dengan nada bangga jika leluhurnya adalah orang Indonesia!

–Yang Muda yang Melestarikan–

Saya selalu salut dengan anak muda asal Minang, dan Batak. Ke manapun mereka tinggal, mereka selalu tidak pernah meninggalkan kecintaan mereka terhadap budaya musik yang kental dengan bahasa daerahnya. Berikut juga kecintaan mereka akan makanan asal daerahnya.

Pak Condra dan Ici, misalnya yang dulu keduanya merupakan teman-teman saya ketika saya bekerja di Politeknik Batam. Jika sedang bekerja di hadapan komputer, mereka dengan asyiknya akan makin menikmati kerja mereka apabila mereka beraktivitas sambil mendengarkan musik asal Minang. Pak Condra dan Ogas, kawan saya yang lain di Tribun Batam, juga bangga dengan musik Saluang yang mereka jadikan dering panggilan untuk ponsel mereka.

Sedangkan jika kita menaiki angkot yang ada di Batam, para pengemudi Metro Trans, demikian istilah untuk angkot di Batam, yang berasal dari suku Batak, kerap memperdengarkan lagu daerah berbahasa Batak yang menjadi label dari suku mereka.

Sementara saya sendiri yang asal Jawa, justru antipati dengan musik gamelan Jawa. Bagi saya, suara gamelan kerap identik dengan kesan yang memungkinkan seseorang menjadi mengantuk saat mendengarkan!

Dan sepertinya, orang muda asal Jawa seperti saya pun agaknya juga cenderung bertingkah serupa. Buktinya selama saya di Batam, tidak ada tuh sopir asal Jawa yang memperdengarkan campur sari apalagi gamelan Jawa yang menjadi ciri khas suku Jawa?!

Namun dari fenomena beberapa teman saya asal Minang itu, lambat laun, ternyata sedikit banyak mampu mengubah sikap saya saat ini. Yah, paling tidak ketika saya kembali ke Lamongan, usai beberapa tahun tinggal di tanah Melayu, saya jadi tidak alergi dengan musik campursari-nya Waljinah. Uniknya, saya justru malah mulai menyukainya lho!

CD campur sari Jawa Tengah-an

CD campur sari Jawa Tengah-an

Bahkan jika diingat-ingat, pernah suatu ketika, saat saya berada di taksi ketika masih di Batam dan beberapa minggu kemudian akan meninggalkan tempat tersebut, saya kegirangan saat bisa mendengarkan lagu ‘Ngapotek’ yang terkenal berasal dari Madura.

Mungkin benar, jika kita berada di perantauan, barulah rasa kecintaan terhadap sesuatu yang dulu kita biasa lihat atau dengar di daerah asal kita, akan terasa istimewa kita tangkap ketika kita di perantauan.

Rasa itu persis seperti yang saya rasakan sebelumnya ketika saya berada di Batam. Atau, kerinduan saya hingga saat ini akan budaya Betawi tempat dulu saya lahir dan melewati masa kecil di Bekasi.

Namun dari melihat bagaimana sebuah budaya bisa bertahan dalam sebuah generasi, sepertinya, peran dari keluargalah paling tidak yang sangat berperan untuk membuat generasi berikutnya tidak alergi terhadap budaya nenek moyangnya.

Saya contohnya, meski dari kecil terkadang sering mendengarkan gending gamelan Jawa yang diputar sendiri oleh kedua orangtua saya, namun musik berirama pop atau berlirik Inggris yang justru menjadi kebanggaan.

Begitu juga kebanggaan yang coba ditanamkan kepada saya ketika saya diminta untuk memelajari tari Bali. Akibatnya bagi saya, gamelan Bali lebih terasa ramah di telinga saya dari pada bunyi-bunyian gamelan Jawa!

Saya baru sadar, jika sejak kecil, saya memang diajak terbiasa namun kurang diajak untuk mencintai budaya Jawa. Ehem, tapi sekali lagi, gara-gara pernah merasakan jadi anak rantau selama beberapa tahun, ternyata pengalaman itu yang justru membuat pikiran saya jadi terbuka sekarang ini.

–Ada Ujian Tari Bali Berikut Rapotnya–

Tari Pendet asal Bali saat ini memang jadi sorotan paling ramai di kalangan masyarakat Indonesia. Tari ini kemudian menjadi ikon yang identik dengan Bali karena tari tersebut menjadi simbol ucapan selamat datang atau sambutan bagi tamu di dalam budaya masyarakat Bali.

Di kalangan para penari Bali sendiri, tari Pendet kerap dijadikan sebagai tarian dasar untuk menguasai tari demi tari Bali selanjutnya. Ini tak lain karena seluruh dasar tari Bali sepertinya ada pada tari ini. Apalagi, ritmenya pelan dan tidak begitu membutuhkan kelincahan dan kecepatan gerak tubuh.

Dulu ketika saya masih berusia lima tahun saat pertama kali belajar tari Bali, gerak tubuh saya benar-benar dibentuk di tari Pendet oleh guru tari saya, Pak I Wayan Suarka. Ibu saya maupun ibu teman-teman saya lainnya bahkan, tidak ada satupun yang akan bisa menolong kami ketika kami diarahkan dengan tegas gerak tubuhnya.

“Pendaknya kurang!” demikian tegas Pak Wayan biasanya kepada kami jika posisi lutut kami saat berdiri kurang ditekuk sehingga tubuh kami masih terlihat berdiri lurus.

Atau, “Tangannya diangkat lagi!” perintah Pak Wayan sambil mengangkat dengan tegas siku kami sejajar lagi dengan dada.

Biasanya saat kami awal-awal latihan, Pak Wayan sampai-sampai akan dengan tegas membentuk tubuh kami mulai dari posisi telapak kaki yang berposisi miring, atau jari kaki yang harus ditekuk ke atas. Jika dalam posisi berdiri, kami diminta untuk menekuk lutut dan menahannya dalam beberapa hitungan. Pun dengan posisi badan yang harus terus tegak, tidak boleh membungkuk. Belum lagi urusan kedua tangan yang tidak boleh sedikitpun terlihat turun dari arah sejajar bidang bahu dan dada.

Latihan dasar lainnya adalah urusan daerah kepala. Mulai dari belajar melotot dan melirik ke kanan dan kiri, serta gerak patah kepala khas tari Bali. Dan jangan lupa, selalu tersenyum saat menari!

Posisi gerak tangan yang banyak diangkat sejajar dengan dada, dan posisi berdiri merendah dengan lutut kaki yang ditekuk memang menjadi syarat utama bagi kami untuk bisa menguasai tari Bali. Dan, semua itu menjadi terbiasa bagi kami jika kami menguasai tari Pendet terlebih dahulu yang memiliki unsur-unsur gerak utama tari Bali.

Meski saya sewaktu kecil belajar tari Bali, namun sayangnya, saya justru baru tahu bahwasanya tari ini dulunya adalah serangkaian gerakan yang digunakan sebagai bagian dari sembahyangnya umat Hindu di Bali. Bahkan, tari Pendet ini pun merupakan tergolong tari kreasi baru seperti laiknya tari Panembrama yang unsur membawa bokornya mirip dengan tari Pendet.

Uniknya, pengetahuan itu justru saya ketahui sekarang setelah kebanyakan orang di Indonesia meramaikan tayangan tari Pendet yang diakui berasal dari Malaysia. Jadi jika dipikir-pikir, ada hikmahnya juga ulah dari PH asal Malaysia tersebut.

Keberadaan tempat-tempat yang bersedia mengajarkan tari Bali itupun kini tidak lagi sebatas berada di Bali. Di Jakarta atau kota-kota besar di sekitarnya misalnya, tari Bali bisa dipelajari seperti laiknya kursus atau les. Bahkan ketika saya dulu mengikuti les tari ini di Bekasi, ada istilah ujian kelulusan di anjungan Bali yang ada Taman Mini Indonesia Indah.

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Ujian Tari Panji Samirang yang saya ikuti di tahun 1988 di TMII

Bahkan, saya terima rapot yang berisi nilai juga lho! Penilaiannya didasari pada nilai wiraga, wirasa, dan wirama. Jika usai ujian dan kami dinyatakan lulus, kami bisa dinyatakan naik ke tingkat selanjutnya.

Rapot Tari bali

Rapot Tari bali

Sementara itu di beberapa kota lainnya, penguasaan tari Bali ini bisa dipelajari oleh siapa saja di pura. Di Batam misalnya, setiap hari Minggu, tidak hanya anak-anak beragama Hindu saja yang belajar tari ini. Anak-anak lain pun bisa ikut memelajarinya.

Sebetulnya, cara seperti ini bisa menjadi satu dari bagian untuk melestarikan kebudayaan daerah tanpa memandang di Indonesia mana tempatnya. Hingga ketika kasus seperti ulah PH Malaysia yang saat ini ada mencuat, saya yang bukan orang Bali pun bisa mengetahui jika gerakan tari yang sedang ditarikan itu memang persis tari Pendet. Namun, bagian lilitan stagen saja menurut saya dari penari itu yang kurang mirip dengan di tempat asalnya, yaitu Bali.

Intinya, dengan cara saling mengenal dan mempelajari budaya sendiri bahkan daerah lain di Indonesia, membuat kita bisa merasa ikut memiliki dan bahkan mengenali identitas kepemilikan bangsa kita sendiri ini dengan jelas.

Tidak ada kata terlambat untuk anak muda Indonesia belajar mencintai dan menjaga budaya sendiri. Apalagi budaya dari daerah sendiri. Cukup sampai di Pendet saja deh perang budaya antara Indonesia dengan Malaysia. Dan, cukup sampai di situ juga Indonesia kalah start urusan pengklaiman budaya dari negara lain!