Kekuatan Pikiran dalam Kesederhanaan

Sepasang kakek nenek pengambil kayu di kaki Merapi

Ini cerita lain yang saya dapatkan ketika saya menapaki kaki untuk pertama kalinya di kaki gunung Merapi. Kala itu sayup-sayup, saya mendengar desingan suara yang terus bertalu-talu dari kejauhan. Di jauh seberang yang tak seberapa jelas terlihat oleh mata saya, sepasang laki-laki dan perempuan nampak bergerak-gerak seiring dengan taluan suara yang mampir di telinga saya.

Ke sana yuk, Ndik,” ajak saya pada sahabat saya Andik yang sore itu berkenan berbaik hati mengantar saya untuk mengenal Merapi dari jarak lebih dekat.

Makin dekat, semakin saya sadar apa yang saya lihat. Ada sepasang kakek nenek, dengan wajah keriput yang masih terlihat segar, saling bergantian memecah sebuah batang pohon besar dengan tumbukan pada besi dan bahkan batu-batuan cadas yang berserak di sekitar mereka. Sedangkan di dekat mereka, dua bongkahan kayu dengan ukuran yang sama, masih tetap utuh tergeletak begitu saja.

Terus mencoba membelaha kayu menjadi dua

Kayu ini dipecah, biar mudah dibawa,” kata sang nenek dalam bahasa Jawa ketika kawan saya, Andik, bertanya.

Lho, memang tadi dapatnya dari mana?” Andik kembali bertanya.

Dari sana,” ujar sang kakek dan tunjuk sang perempuan pada arah kaki gunung Merapi yang lebih mendekati lereng.

Lho, terus tadi dibawa ke sini pakai apa?” sahabat saya itu jadi kebingungan. Karena, untuk apa memecah kayu menjadi dua jika sebelumnya mereka bisa membawa tiga-tiganya ke dekat tepi Kali Tengah?

Ya tadi bawanya juga gantian. Tapi sampai sini tidak kuat,” jawab sang nenek membuat kami terpukau. Bagaimana tidak, sepotong kayu itu saja besarnya satu lingkar pelukan tangan orang dewasa dengan panjang sekitar setinggi sepangkal kaki saya. Tiga gelondong kayu, dan mereka hanyalah berdua!

Gelondong kayu yang sungguh tidaklah kecil

Sementara Andik sesekali bertanya, saya asyik jepret sana sini sambil sesekali merenung membatin. “Ya Allah, kayu itu cukup besar. Bagaimana mereka tadi bisa kuat membawanya? Lalu jika memecah dengan cara seperti ini, kapan mereka bisa berhasil? Sudah berapa lama mereka tekun memecah kayu itu hingga hari yang sudah tergelincir dari waktu Ashar saat itu saja, mereka masih belum kunjung memecah sebuah balok kayu saja?” tanya saya tanpa suara.

Alih-alih tak kuat melihat keteguhan mereka, saya naik ke sebuah bukit di atas mereka mencari objek lain. Karena tidak menemukan apa-apa, saya balik ke posisi di mana sepasang kakek nenek itu masih terus memecah kayu.

Prak!” seketika saya menoleh dan langsung spontan tercetus ucap syukur. Sebuah kayu yang lama ditekuni untuk dibelah itu akhirnya merekah menjadi dua bagian. Mendengar saya yang mengucap syukur, kakek nenek itu pun memandang saya juga dengan senyum bahagia.

Iya alhamdulillah, akhirnya terbelah,” ujar mereka girang.

Beberapa kali mereka saling berkata, namun saya tidak bisa paham dengan pasti apa yang mereka bicarakan. Maklum, terkadang kemampuan bahasa Jawa saya memang payah! Namun saat saya memilih sibuk untuk lebih memperhatikan kayu yang kini tak lagi berbadan satu, sekilas saya lirik sang nenek menggulingkan sebuah kayu yang awalnya tegak berdiri untuk juga kembali dibelah.

Lho, itu juga mau dibelah?” tanya saya yang dijawab iya oleh mereka.

Dan lagi saya dibuat terkesima demi melihat bagaimana sebetulnya cara mereka memulai untuk membuat celah pada bongkahan kayu yang kerasnya bahkan seperti batu. Mereka menancapkan sebentuk besi seperti linggis di sebuah bagian tubuh, lalu melakukannya pada besi yang lain di tubuh dari kayu yang searah dengan besi pertama yang ditancapkan.

Seperti terlihat mustahil jika melihat proses mereka dari awal seperti itu. Tapi toh mata saya sudah disodori bukti tentang sebuah kayu yang pada sebelumnya, nasibnya telah terbelah menjadi dua.

Saat pulang menuruni kaki Merapi, saya sibuk mencerna sebuah pelajaran dari Tuhan yang diberikan pada saya hari itu. Saya sudah tahu tentang kekuatan pikiran dari buku The Secret. Tapi kali itu, saya sungguh disuguhi oleh bukti dari kekuatan pikiran yang sesungguhnya.

Masyarakat kaki gunung Merapi memang tidak seperti saya yang membaca buku The Secret dulu lalu baru tahu tentang apa itu kekuatan pikiran. Dan mereka sudah membuktikan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan kesederhanaan.

Berdua pantang menyerah membelah kayu

Bergantian istirahat dan menghujam kayu agar terbelah

Anak-anak Penghidup Rumah Allah


Sudah lama sebetulnya saya ingin menulis pengalaman saya ini yang terjadi pada sebuah hari Minggu di awal bulan April. Cerita saya kali ini tentang anak-anak yang punya semangat besar untuk menghidupkan rumah Allah.

Ceritanya, suatu ketika saya sedang bermain di rumah mbah saya yang berada di daerah bernama Temenggungan, sebuah kelurahan yang berada di Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan. Entah mengapa kala itu hati saya begitu tergerak untuk memenuhi sebuah panggilan berupa lantunan adzan yang sangat indah dari suara seorang anak kecil melalui pengeras suara.

Maka akhirnya bergegaslah saya memenuhi kewajiban dzuhur saya. Mulai dari awal, semula saya pun bingung. Saya hanya menemukan anak-anak kecil yang menemani saya berwudhu hingga komat tanda deadline shalat di mushola itu dikumandangkan. Masih dari suara seorang anak kecil.

Penasaran, saya sibak sedikit tirai pembatas jamaah laki-laki dan perempuan. Yang kemudian saya temukan adalah, masihlah anak-anak kecil yang nampak sibuk bercanda.

“Lho, imamnya mana?” tanya saya kebingungan karena penasaran, mengapa anak-anak ini berani mengumandangkan adzan dan komat tanpa ada orang dewasa sama sekali. Dan jawaban saya itu pun lantas dijawab oleh sikap saling tatap dan senyum-senyum dari wajah cilik mereka.

Sedetik dua detik, barulah saya sadar, memang tidak akan ada orang dewasa di shalat jamaah dzuhur kali itu. “Ya sudah deh, salah satu jadi imamnya sana, gih!” pinta saya.

Lantas shalat dzuhur saya dengan anak-anak itu pun dimulai dan kemudian berakhir dengan lancar. Namanya saja shalat dengan anak-anak, ada saja tingkah mereka yang memang tidaklah bisa berlaku tertib dan hening selama shalat berlangsung. Misalnya suara anak bersendawa yang disengaja dan tiada henti-hentinya. Hehehe… dasar anak-anak!

Usai shalat dzuhur, penasaran, saya tanyai anak-anak tersebut. Anak yang mengumandangkan adzan bernama Yoga, seorang anak yang masih duduk di kelas 4 SD. Sedangkan yang menjadi imam dan sayangnya saya lupa namanya, masih duduk di kelas 3 SD. Dari sekian jumlah anak-anak tersebut, hanya satu orang yang paling tua dan itu pun masih duduk di kelas 5 SD.

“Shalat seperti ini ya memang sering kalian lakukan tanpa orang dewasa?” tanya saya yang dijawab dengan kata iya dan anggukan kepala dari anak-anak tersebut. Mereka sendiri tidak tahu, mengapa mereka kerap hanya berjamaah sendiri tanpa orang dewasa.

Uniknya, saya dengan naif bisa bertanya, “Lho, hari Minggu begini ini apa orangtua kalian tidak libur?” tanya saya lugu demi berpikir, jika anaknya saja bisa shalat berjamaah di mushola, mengapa orangtuanya tidak?

Pertanyaan saya dijawab balik dengan wajah keheranan dari anak-anak tersebut. Pasalnya, orangtua mereka bukanlah pegawai yang bisa libur di hari Minggu. Mereka anak-anak dari orangtua yang terus mengais rezeki setiap hari untuk membuat dapur tetap mengepul.

Saat berjalan pulang, saya membatin berbagai pikiran. Suara adzan yang sungguh cantik, dan anak-anak yang mandiri dengan tetap bersama membuat rumah Allah itu tetap berfungsi sebagai mana mestinya. Sungguh, anda saya orangtua mereka, banggalah saya pastinya memiliki anak-anak seperti itu yang tanpa saya sebagai orangtuanya, meminta mereka dalam sebentuk perintah wajib!

Doa Berulang pada Sebuah Facebook

Kebiasaan saya beberapa hari terakhir ini adalah membuka Facebook di mulai pada pagi hari. Senang saja rasanya karena biasanya, saya akan mendapati berbagai status bernada positif dan semangat optimis dari berbagai teman-teman saya.

Namun di subuh kali itu, saya mendapati sebuah status yang berbeda. Seorang anak yang awalnya meminta saya menjadi teman dari Facebooknya karena usai membaca blog milik saya, menuliskan tentang kondisi tak baik dari papanya.

Intinya ia berdoa dalam kesedihannya. Karena sejak dini hari, sang papa yang sedang dirawat di rumah sakit, tidak kunjung sadarkan diri. Bahkan meski telah diinfus. Beberapa kali saya membuka facebook, dan anak yang memang tipe Facebooker setia ini selalu memperbaharui statusnya dengan nada yang sama. Ia berharap papanya sadar, dan segera sadar!

Walhasil sepanjang hari itu, saya yang juga sering mengintip Facebook, jadi kerap selalu mengikuti perkembangan kondisi sang papa dari gadis tersebut. Meski sekian kali itu juga, saya juga ikut kecewa karena sang papa tak kunjung sadar seperti harapan dari anak gadisnya.

Malam harinya, nada dari status Facebook itu akhirnya berubah. Sang papa tiada, justru saat sang gadis tak berada di sisinya. Hati saya ikut terhenyak. Meski realitanya sungguh saya tidak mengenal sama sekali gadis itu apalagi keluarganya, namun setiap kali ia menceritakan kondisi papanya, dalam hati kecil ini saya terus ikut berdoa demi kesembuhan sang papa.

Esok harinya, sang gadis masih tetap memperbaharui status-statusnya. Saya cukup heran, karena sering, ia menuliskan status yang bernada akan optimis untuk tetap meraih berbagai mimpinya demi membahagiakan sang papa. Meski sesekali, status sendu juga ia tuliskan yang menyesali mengapa sang papa harus pergi meninggalkannya.

Di situ saya sungguh salut. Bahwa ternyata dari seorang gadis yang baru saja ditinggal meninggal oleh papanya, ia bisa tetap bangkit dengan semangat hidup optimis untuk masa depannya. Meski sedih, ia masih mau berbagi hal positif dan membaginya di Facebook dalam sebuah kotak kecil tempat untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang sedang Anda pikirkan?”

Makna Status Facebook Bagi Orang lain

Ya, Facebook memang sebentuk barang maya yang ternyata mampu menyatukan hati pikiran dan doa saya untuk seseorang yang tak saya kenal. Namun meski ia hanyalah gadis yang hampir seperti kebanyakan yang hidup dengan kekhasan gaya remajanya, saya justru lebih menyukai status-statusnya, terutama saat itu, dibanding beberapa status milik teman saya yang notebene sudah dewasa.

Kerap saya temui, teman-teman saya dengan entengnya mengetikkan kata ingin buang air kecil, makan ini itu, menghujat si A B atau C yang mungkin tak dikenal oleh teman Facebooknya, atau bahkan maaf, ingin berhubungan intim dengan istrinya. Dengan mudah itu terpampang melalui status sebuah Facebook.

Memang tidak ada yang salah ketika kita menjawab pertanyaan dari Facebook, “Apa yang sedang Anda pikirkan?” dengan jawaban yang jujur. Namun apa iya tak terpikirkan bahwa apa yang ditulis itu akan dibaca oleh banyak orang yang kemungkinan ada atau banyak dari teman-teman kita di Facebook adalah orang-orang yang tak kita kenal?

Terkadang saya berpikir, apa untungnya sih mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang lain yang bahkan tak kita kenal? Atau meskipun kita kenal, apa untungnya bagi kita untuk tahu? Toh, artis saja jika ingin ini itu, juga tidak semudah itu juga kok akan berbagi tahu ke orang lain.

Ketika saya mempertanyakan itu, ada juga dari sahabat-sahabat saya yang justru bertanya balik. Apa iya jujur itu salah? Lantas apa bedanya status yang terlalu jujur itu dengan doa-doa panjang yang ditulis di Facebook? Apa Facebook bisa jadi media yang lebih makbul untuk terkabulnya doa seseorang?

Untuk yang terakhir itu saya akui, sang kawan ingin mempertanyakan diri saya yang memang terkadang memiliki kebiasaan menuliskan doa panjang dalam Facebook. Saya pikir, sang kawan tentunya ingin mempertanyakan, apakah pernyataan saya yang menganggap ini pantas dan itu tidak dalam status Facebook lebih disebut baik, jika dibandingkan dengan orang lain yang terlalu jujur menulis apa yang ia pikirkan dalam status Facebooknya?

Kembali saya membatin. Ah, tak tahukan kalian, bahwa sebentuk status itu bisa berarti penting bagi hidup orang lain? Ketika kalian mengemukakan tentang pikiran dan semangat hidup pribadi, ternyata ada juga lho orang lain yang bisa ikut termotivasi. Ketika seseorang mengemukakan keluhan dan doa, ada lho orang lain yang juga akan siap untuk membantu ikut berdoa dan mengamini.

Tidak ingin munafik, dulu, saya juga seorang Facebooker yang seenaknya kala menulis status dalam Facebook. Dan mungkin sampai sekarang masih terkadang menuliskan sesuatu dengan harapan ingin orang-orang tertentu membaca keistimewaan dari apa yang sedang saya alami. Namun ketika saya sadar kekuatan dari sebuah status atas pikiran dari hati saya serta pengaruhnya bagi orang lain, saya mencoba untuk berubah,

Saya memang sering menuliskan status berbentuk doa. Untuk saya sendiri, atau bahkan nasib orang lain yang saya bahkan tak tahu siapa yang kebetulan membaca dan sungguhan mengalaminya. Saya pikir, semoga dengan doa-doa itu saya bisa berbagi kekuatan hidup dengan yang lain.

Karena dalam sebuah penelitian yang saya ketahui dari sebuah pengajian, sebuah komunitas yang bernasib kurang beruntung, lantas dibagi dua, maka kelompok yang sering didoakan oleh orang banyak akan cepat berubah nasibnya jika dibandingkan oleh kelompok yang hanya mengandalkan doa dari dirinya sendiri.

Berdoa bisa di mana saja. Meski Tuhan memang menentukan ada tempat-tempat tertentu yang bisa membuat sebuah doa lebih terkabul. Namun jangan juga abaikan pengaminan dan bantuan orang banyak yang turut memberikan mantra ajaibnya untuk sesuatu yang kita panjatkan kepada Tuhan dan alam semesta.

Saya punya beberapa teman yang terlalu jujur dengan nasibnya untuk ditulis di Facebook. Hari ini bingung dikeluarkan dari kerja dan tak tahu harus mencari sambungan hidup ke mana, dipaksa pergi dari kontrakan hingga tak tahu harus kemana ia pergi bersama istri dan anaknya, cerita tentang seseorang yang dini hari telah harus berjuang mencari nafkah, atau keluhan hati kala melihat seorang pengemis yang menghitung recehan sembari berteduh dari hujan.

Status-status itu terlalu jujur namun tak pernah saya ingin menyalahkan mereka. Karena dari situ saya jadi tergerak untuk berpikir tentang nasib orang lain, mencoba melihat nasib sendiri lalu mensyukurinya, serta ikut mendoakan dan memotivasi mereka agar tetap semangat dalam hidup.

Ya, sebentuk kotak itu memang siap menampung kejujuran dari apa yang kita pikirkan. Namun cobalah untuk selalu berpikir ingat bahwa ada orang lain yang akan turut membacanya dan membuat mereka juga turut menggerakkan otak dan hatinya.

Kita memang tidak tertuntut untuk harus bertanggung jawab atas akibat dari apa yang kita tulis di sebuah status pada pikiran dan bersitan hati orang lain. Namun jika Facebook memang dikatakan sebagai situs jejaring sosial, lantas mengapa kita menjadi individualis untuk tidak mau memikirkan bagaimana efek orang lain yang membaca status kita?

(Untuk semua para pecinta Facebook, mari sama-sama kita saling mengingatkan kesalahan dan membangkitkan semangat hidup diri sendiri dan orang lain) – Ika Maya Susanti

Bermain Belajar Membaca Huruf Hijaiyah

Zuhri mengajari Khansa mengaji

Lho, kok judulnya belajar tapi bermain? Hehehe… cerita anak-anak saya kali ini di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun Lamongan memang sedang belajar mengaji. Lebih tepatnya, belajar mengenal huruf hijaiyah melalui buku Iqra’. Tapi, mereka juga bisa melakukannya sambil bermain lho!

Sudah dua bulan ini, saya dengan rekan-rekan di Taman Penitipan Anak mencoba mengenalkan huruf hijaiyah kepada mereka setiap paginya. Jadi setiap hari, seusai berdoa bersama, mereka akan kami panggil satu per satu untuk dikenalkan huruf hijaiyah.

Karena permintaan dari para orangtua agar anak-anak mereka yang dititipkan kepada kami diajarkan juga mengaji, jadi mulailah program belajar huruf hijaiyah itu kami adakan setiap pagi. Tentunya, tidak ada paksaan bagi mereka. Jika kita panggil mereka namun mereka tidak mau, kami pun tidak memaksa.

Caranya seperti ini, mereka akan kami panggil satu per satu, duduk di pangkuan kami, lalu kami bimbing  telunjuk mereka untuk menunjuk huruf demi huruf hijaiyah yang ada di Iqra’. Kami yang melafalkan, mereka yang menirukan. Namun seiring waktu karena beberapa dari mereka telah bisa membaca, kami pun tinggal mengarahkan telunjuk mungil mereka ke arah huruf-huruf hijaiyah secara acak, dan mereka pun yang akan membacanya tanpa harus menirukan lagi.

Kebiasaan kami mengajarkan anak-anak ini, ternyata mereka tiru lho. Anak kami yang bernama Alif usia 2 tahun 9 bulan misalnya. Menurut sang ayah, jika di rumah, gadis ciliknya ini gemar sekali mendudukkan boneka-bonekanya untuk diajari huruf hijaiyah!

Beda lagi dengan Zuhri. Anak yang memiliki kemampuan membaca huruf hijaiyah paling  bagus dibandingkan teman-temannya ini pernah suatu ketika mengejutkan saya dengan ulahnya yang juga membuat saya tersenyum geli plus bangga.

Ceritanya suatu ketika, temannya yang bernama Nisa’ dibawakan buku Iqra’ sendiri oleh ibunya dari rumah. Bukannya disimpan di dalam tas, Nisa’ justru membawa ke mana-mana buku itu untuk mainan. Meski kami sudah mengingatkannya berkali-kali untuk menyimpan buku itu di dalam tasnya.

Dan, Zuhri yang memang saya tahu punya inisiatif tinggi untuk selalu bermain di ranah sosio drama, mengajak teman-temannya untuk belajar bermain huruf hijaiyah. “Sini… sini… ta’ ajarin baca yah… yah…” ajaknya kepada Nisa.

“Mana jarinya? Gini!” Zuhri lalu meminta telunjuk Nisa’ untuk menunjuk buku, mirip seperti yang kami biasakan kepada mereka setiap kali belajar mengaji.

“Ini apa? Ba! Kalau ini… A!” tunjuk Zuhri pada tulisan ba’ berfathah dan alif berfathah.

Usai Nisa’, gantilah anak-anak yang lain diajari oleh Zuhri. Rangga, Khansa, sampai teman-teman lainnya yang tak mau pun ia kejar agar mau ia ajari.

Bukannya asal. Apa yang dibaca Zuhri yang masih berusia 3 tahun 4 bulan ini juga tepat lho! Walhasil, saya pun jadi senyum-senyum geli sendiri melihat ulah Zuhri dan kawan-kawannya. Ah, benar-benar bersyukur saya bisa menikmati keindahan dari keajaiban nalar kemampuan anak saya yang satu itu!

Sementara itu sebelumnya, saya pun pernah melihat Zuhri yang menunjukkan kemampuannya dalam mengajari Rangga berhitung dengan tangan. Angka satu sampai lima dan bagaimana jari yang seharusnya dibentuk, Zuhri ajarkan pada Rangga yang berusia tepat satu tahun lebih muda darinya.

Gaya Zuhri mirip seperti orang dewasa yang mengajari seorang anak kecil berhitung, lho! “Tiga. Ayo, tiga jarinya gimana? Begini lho…” Ia lalu mengatur jari Rangga agar menunjukkan hitungan angka tiga dengan jari.

Hm… pokoknya yang namanya hidup dengan anak-anak kecil, benar-benar akan membuat kita sering tersenyum deh melihat bagaimana mereka terkadang menunjukkan berbagai tingkah yang tak akan terpikirkan oleh orang dewasa sekalipun! Padahal, orang dewasa juga pernah jadi anak kecil kan?! :D

Zuhri mengajari Nisa' dan Rangga membaca huruf hijaiyah

Zuhri ganti mengajari Khansa, sedangkan Rangga sedang mencoba merenungi apa yang baru diajarkan oleh Zuhri

Nisa mencoba meniru jejak Zuhri dengan mengajari Khansa dan Ridho

Bermain dengan Kupu-kupu

foto bersama dengan kupu-kupu

Dari sekian kegiatan-kegiatan menyenangkan yang saya lakukan dengan anak-anak saya di Taman Penitipan Anak Qurrata A’yun, kegiatan mengeksplorasi alam di lahan samping merupakan yang paling saya suka.

Sebetulnya lahan yang ada di samping TPA tersebut tidaklah bisa dibilang lahan yang sangat-sangat aman untuk anak-anak saya. Rerumputan tumbuh liar dan hampir selutut dari anak-anak saya. Tentu saja untuk ukuran lutut batita. Namun, justru di situlah saya dan anak-anak bisa mengeksplorasi berbagai kehidupan alam di sana.

Jika beberapa waktu lalu saya bercerita tentang kegiatan saya dan anak-anak mengskplorasi ulat di buah belimbing yang membusuk, kali ini saya ingin bercerita tentang kupu-kupu. Meski hewan tersebut sangat cantik dan manis, namun ternyata tidak semua anak-anak saya berani menyentuhnya, lho!

Kebetulan di hari kemarin, begitu banyak kupu-kupu yang berlalu lalang di lahan kosong tersebut. Bahkan, saya bisa menemukan dengan mudah beberapa kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

Mengamati kupu-kupu yang baru lepas dari kepompongnya.

menyiapkan kupu-kupu hasil tangkapan untuk diamati bersama anak-anak

Walhasil, kegiranganlah saya menemukan bahan yang mengasyikkan untuk dibahas dan dimainkan bersama anak-anak saya. Mulai dari mengamati kupu-kupu yang terbang bebas, mengendap-endap bersama mereka memetik daun berkepompong dengan kupu-kupu yang bergelantungan dan belum bisa terbang karena baru saja terlepas dari selaput kepompongnya, menceritakan kepada mereka tentang proses kehidupan kupu-kupu, melepaskan kepergian kupu-kupu yang telah beberapa saat keluar dari kepompong untuk bisa terbang di alam bebas, hingga tentu saja acara… berfoto bersama!

Acara berfoto bersama dengan objek yang rata-rata ditakuti oleh anak-anak memang kerap sengaja saya lakukan bersama mereka sebagai jurus andalan saya untuk membujuk mereka memiliki mental pemberani. Jika dulu berfoto dengan ulat, maka sesi foto kali ini lebih terasa indah karena berfoto dengan para kupu-kupu yang cantik.

Ehem, meski begitu, ternyata masih banyak juga lho anak-anak saya yang penakut dengan kupu-kupu! Tapi demi melihat beberapa dari mereka yang hari demi hari makin pemberani dan bahkan menahan rasa takut demi bisa difoto, saya jadi makin salut dan optimis. Saya yakin, kegiatan-kegiatan seperti ini akan makin menambah anak-anak bermental kuat yang berani untuk mengeksplorasi rahasia dunia!

Mazaya dan kupu-kupu

Naka dan kupu-kupu

Tiara yang saya kenal di awal saya masuk di TPA adalah anak yang introvert. Kini, ia telah berubah menjadi gadis cilik yang pemberani, yang selalu bangga apabila saya menunjukkan ekspresi bangga terhadap keberanian yang baru saja ia lakukan.