Category: Cerita Pengalaman


“Kalau sampai ayah ibu kenapa-kenapa, terus kamu nggak dibolehin sama suamimu keluar rumah, jangan keluar!”

Kata-kata keras dari Ayah itu berarti dalam untuk saya, membuat saya memaknainya dengan pilahan sisi yang tak cukup satu dua.

Saya tahu dan sadar, seorang istri adalah makmum dari suaminya. Yah tentu saja, itu berikut kesadaran bahwa sang suami memang seorang imam yang membawa keluarga ke arah kebaikan di jalan Allah.

Lalu ketika saya mengetahui ayah saya juga sadar akan hal itu, saya cukup bahagia. Suatu saat nanti jika memang saya ada dalam posisi patuh terhadap kata-kata suami, sementara banyak orang justru mencoba membuat saya sangsi, hati saya bisa tenang karena ayah dan ibu saya ada dalam posisi turut mendukung keputusan suami.

Di sisi lain, kata-kata ayah saya tersebut, yang sejalan dengan keyakinan saya, juga membuat saya menjadi orang pemilih hingga kini. Malam ini saat menelepon ibu, kembali ibu saya bertanya, sudahkah saya memiliki calon suami?

Untuk kesekian kalinya saya kembali tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan, saya coba tenangkan ibu saya tentang mengapa saya tak begitu mudah memilih seseorang untuk hadir dalam kehidupan saya.

Saat menikah kelak, bukan lagi kedua orangtua saya yang harus saya patuhi. Sebagai wanita, suamilah yang menjadi imam saya. Jika suami saya tidak peduli dengan keluarga saya, kurang memiliki rasa empati terhadap orang-orang yang menjadi darah daging saya, saya sungguh tidak mau menjadi orang yang harus terputus atau merenggang hubungan silaturahmi terutama dengan kedua orangtua saya.

Ditambah lagi watak keras yang saya miliki. Saya sungguh tidak mau di suatu waktu nanti menjadi istri pembangkang atas apa yang suami saya telah putuskan. Karena yang saya sadari sejak kini, saya akan patuh pada keputusan siapapun yang menjadi pemimpin saya asalkan apa yang telah diputuskan adalah sesuatu yang baik dan memang seharusnya. Saya sangat percaya, Tuhan akan memberikan seorang imam untuk saya yang mampu mengendalikan watak keras saya dengan keputusan-keputusan bijaknya.

Telahkah saya terlalu menjadi sosok pemilih? Biarkan saja siapapun berkata demikian. Saya seorang hamba yang masih terus berusaha, dan saya hanya percaya Tuhan dengan segala macam caraNya yang penuh kejutan. :)

Hendri Lamiri di tengah-tengah grup musik Debu

“Ini Hendri Lamiri, atau bukan ya?” gumam saya berkali-kali.

Pasalnya, wajah violis yang siang tadi (11/3) tampil di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin itu saya lihat tampak lebih muda, cerah, dan segar. Sampai akhirnya saya membatin, “Ah, apa mungkin yang sedang saya lihat ini adiknya ya?”

Tapi, gaya khasnya saat memainkan biola, serta topi yang saya tidak tahu sebutannya itu sekali lagi mengusik saya.

“Orang yang sedang tampil bersama grup musik Debu ini… rasanya memang Hendri Lamiri!” bisik batin saya sekali lagi.

Dan benar saja. Tak lama kemudian, pembawa acara pun menyebut nama Hendri Lamiri sebagai sosok yang memang tampil bersama Debu siang itu. Saya pun langsung tersenyum senang. Apalagi saat Hendri akhirnya menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola di pembuka sebuah lagu yang akan dimainkan oleh Debu. Kedua mata saya pun langsung berbinar senang saat gesekan biola Hendri menari di kedua telinga saya.

Puas dari menyaksikan aksi panggung grup musik Debu yang dihadirkan dalam rangka ulang tahun surat kabar harian Media Kalimantan, saya pun melenggang pulang meninggalkan gedung. Namun pihak Bu Hasnuryani dari Yayasan Hasnur menahan langkah saya dan teman-teman.

“Makan dulu,” ajaknya ramah. Sebuah ajakan yang membuat saya dan teman-teman pada akhirnya mendapat sebuah kejutan di luar dugaan di ruang makan.

Kejutan itu adalah makan bersama grup musik Debu dan juga Hendri Lamiri! Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang langsung dimanfaatkan oleh teman-teman saya untuk berfoto bersama pada personel grup musik Debu.

Kekaguman saya terhadap sosok Hendri Lamiri sendiri hanya terobati ketika saya bisa sedikit berbincang dengannya di sela-sela acara foto bersama beberapa teman saya.

“Bang, apa nih resepnya awet muda?” celutuk saya.

“Ikhlas,” jawabnya singkat.

Sambil mengatur pose dan tetap tersenyum menghadapi bidikan kamera di ajang foto bersama itu, ia pun lalu menambahkan, “Kalau ada masalah, direduksi. Jangan ditumpuk,” imbuhnya ramah.

Jujur, inilah jawaban di luar dugaan saya yang entah mengapa seakan-akan seperti dikirim Tuhan untuk menasehati saya dan teman-teman saya. Atas apa yang sedang saya dan teman-teman alami saat ini, rasanya kata-kata seorang Hendri Lamiri seperti sebuah sentilan yang menyentuh kami.


Oleh: Ika Maya Susanti

 

Ketika melihat film 3 Idiots untuk pertama kalinya, saya lalu terhenyak, ternyata saya bukan satu-satunya orang yang sering dipandang berpikiran aneh di dunia ini! Dan kebetulan, film ini menyajikan beberapa hal yang begitu serupa dengan apa yang saya yakini.

 

Misalnya saja tentang aturan yang harus diikuti dalam hidup. Di dalam film, tokoh utama bernama Rancho memang kerap melakukan sesuatu yang mendobrak aturan umum. Tokoh utama yang berkarakter memesona saya itu pun seketika langsung mengingatkan saya pada proses psikotest yang baru saja saya ikuti.

 

“Kamu ini kecenderungan minus sekali untuk ikut aturan. Tapi kalau urusan mobile, yang bergerak, kamu plusnya banyak sekali,” ujar asesor yang mengetes saya dengan wajah seperti orang yang keheranan.

 

Dari hasil wawancara yang mengcross-check tentang hasil tes kepribadian kita jika dibandingkan dengan tuntutan dalam dunia kerja, saya memang dinyatakan sebagai orang yang suka mobilitas. Beberapa pernyataan yang saya pilih memang cenderung sebagai karakter pemberontak, lebih suka membuat aturan baru, menentang hal yang sifatnya konvensional, atau lebih suka berjalan-jalan ke pedalaman.

 

Hal itu pun terkuak ketika saya dengan jujur dan lugasnya mengatakan tidak suka sama sekali dengan urusan mengerjakan segala yang berbau administrasi pendidikan. “Saya memang dari dulu sejak PPL kurang suka mengerjakan hal-hal seperti itu, Bu,” aku saya sambil mengingat betapa muaknya sesi PPL yang sejak zaman kuliah membuat saya akhirnya memutuskan untuk tidak menjadi guru.

 

“Bahkan kalau bisa, guru itu sebaiknya ada asistennya yang khusus mengerjakan itu, Bu. Jadi tugas guru untuk mengajar bisa optimal menuangkan kreativitasnya,” demikian ide gila saya.

 

Mendengar penjelasan saya itu, makin frustasilah si ibu asesor. Dengan tegas, ia patahkan argumen saya. Misalnya saja tentang sekolah negeri yang menurut saya begitu banyak aturan dan tuntutan di urusan administrasi, sehingga saya mengaku untuk lebih senang bekerja di sekolah swasta.

 

“Siapa bilang. Kalaupun kamu mengajar di sekolah swasta, tetap saja urusan seperti itu harus ada,” tegas si ibu asesor yang membuat saya tersenyum kecut.

 

Dan pada akhirnya, saya hanya mengiyakan apa yang ia katakan meski dalam hati saya masih dengan keras kepalanya tidak sepakat dengan tugas guru yang begitu banyaknya beramah taman dengan urusan administrasi dari pada urusan mengajar.

 

Berpikir di luar kotak, berpikir yang tidak biasa, memang sering bersarang dalam benak saya hingga saya sering dipandang aneh dan pemberontak oleh kebanyakan teman-teman saya. Dan, inilah beberapa hal yang memang kerap mengusik benak saya tentang fenomena dunia pendidikan ataupun hal umum yang terjadi pada masyarakat Indonesia.

 

* Lupakan Kompetisi

Di bagian-bagian awal dari film ini, terlihat bagaimana sahabat dari tokoh bernama Rancho yang terheran-heran dengan ulah sahabatnya itu, yang tidak tertarik dengan kompetisi. Sementara dosennya yang kerap dijuluki dengan Virus memaparkan tentang bagaimana hidup itu harus dilalui dengan kompetisi, Rancho malah menampakkan wajah menertawakan.

 

Yang ada dalam pikiran Rancho, ia hanya ingin hidup sebagai orang yang bisa berguna bagi orang lain, dan menekuni sesuatu sebagai apa yang menjadi kesukaannya. Bukan atas dasar ingin menjadi yang pertama atau yang dipandang.

 

Dan uniknya, yang terjadi dalam film ini di kemudian cerita, justru Rancho yang tidak memiliki minat untuk ikut-ikutan dalam kompetisi menjadi yang terbaik dan tampil menjadi mahasiswa paling berprestasi.

 

Saya sendiri, seumur-umur saat saya menempuh pendidikan formal, jujur, saya memang kerap ikut serta dalam ajang keinginan untuk menjadi yang terbaik. Ini menjadi pola yang sudah ditanamkan oleh orangtua saya sejak saya SD.

 

Namun keanehan, jika bisa disebut demikian, mulai menjangkiti pemikiran saya ketika saya duduk di bangku kuliah. Ketika teman-teman saya berjuang dalam pergulatan materi demi materi kuliah demi mengejar indeks prestasi kumulatif alias IPK yang jika bisa berangka fantastis, saya justru mengasyikkan diri dengan organisasi kepenulisan di kampus. Meskipun pada akhirnya, di akhir-akhir masa-masa kuliah, saya mulai mengejar angka di atas tiga koma demi sesuatu yang konon bisa menjanjikan di masa depan, dan akan mengancam eksistensi masa depan saya jika saya ber-IPK di bawah tiga koma!

 

Gelagat tidak memandang kompetisi kembali muncul dalam diri saya ketika saya bekerja menjadi reporter. Awalnya, seperti kebanyakan teman-teman saya, saya ikut mengejar angka catatan prestasi jumlah berita yang sudah dibuat setiap bulannya.

 

Hingga suatu ketika, sebuah fakta mencuat dalam pengetahuan saya. Berita-berita yang saya buat dengan proses yang tidak asal, tidak mengingat waktu bahkan resiko, banyaknya jumlah berita yang selalu saya kejar, ternyata tidak memengaruhi kebijakan kantor dalam nominal gaji yang saya dapatkan. Malahan, gaji saya bisa berselisih lebih rendah jika dibandingkan teman-teman lain yang ketika mengerjakan berita prosesnya biasa-biasa saja.

 

Maka sejak itulah, saya jadi tidak tertarik untuk mengejar kepuasan yang didapat atas dasar nilai wah yang dipandang secara umum. Apakah gaji saya tetap lebih rendah meski saya bekerja dengan proses mati-matian, atau apakah saya dipandang sebagai reporter biasa yang kurang berprestasi dan tidak dielu-elukan, saya tidak ambil pusing. Saya tetap gila kerja, do the best, dan cukup memiliki kepuasan-kepuasan sendiri ketika tolak ukur a la saya saat proses meliput bisa saya dapatkan.

 

Pun ketika banyak orang di kantor saya saat itu beramai-ramai mengikuti PNS. Saya hanya dengan santainya bekerja seperti biasa, tidak berminat untuk mengikuti PNS, bahkan mengungkapkan untuk tidak ingin keluar dari kantor. Sementara itu, banyak dari teman saya yang sudah kasak kusuk ingin keluar karena tidak puas ini itu, saya masih saja tetap tenang dan tidak ambil pusing.

 

Bahkan hingga sekarang, niat mengikuti PNS yang hingga dipandang memiliki status istimewa di masyarakat, rasanya tipis ada dalam pikiran saya. Seumur-umur, saya memang hanya pernah dan akan mencoba mengikuti PNS, selalu demi karena orang lain. Itu pun dengan doa, semoga saya tidak diterima karena jika iya, itu berarti saya harus bekerja dengan orang-orang yang berlaku secara konvensional, asal, atau kalaupun menentang aturan, itu demi keuntungan dirinya sendiri!

 

* Tehnik Menghapal yang Membuat Saya Gagal

Ini hal lain yang saya temukan di film 3 Idiots, yaitu tentang gagasan ketidaksetujuan atas metode menghapal yang kerap terjadi dalam dunia pendidikan di India. Nyatanya, model seperti itu pun kerap ada di dunia pendidikan di Indonesia.

 

Saya sendiri termasuk satu dari sekian korban tentang keharusan memiliki kemampuan menghapal di dalam dunia pendidikan Indonesia. Hal yang saya ingat dengan sangat adalah tentang gagalnya saya masuk ke dalam jurusan IPA karena nilai saya yang sering jeblok atau pas-pasan. Semua bermuasal dari kapasitas saya yang memang tidak memiliki kemampuan bagus dalam hal menghapal rumus.

 

Metode menghapal memang melemahkan hasil nilai saya untuk urusan pelajaran sains. Saya yang tergila-gila dengan Fisika sejak di kelas 1 SMA, akhirnya harus kerap mendapat hadiah nilai 6 di rapot karena guru Fisika favorit saya tidak bisa mendobrak sistem pengolahan nilai. Sementara jika andai saja beliau sangat taat azas dengan urusan hanya menilai siswa dengan mengolah nilai yang ada, saya yakin, saya bisa lebih parah dari angka 6 untuk nilai Fisika yang terpajang di raport saya.

 

Guru Fisika yang kerap mengajak muridnya untuk berpikir secara nalar dan faktual meski berdasarkan rumus itu memang sangat tahu sekali jika saya sangat menyukai Fisika. Dalam sesi mengerjakan latihan soal, saya memang kerap mengacungkan jari untuk menjawab karena saya sudah memiliki jawaban-jawabannya dari hasil mengutak-atik yang sering saya lakukan tanpa kenal waktu saat di rumah.

 

Kerap hingga malam atau bahkan dini hari, saya begitu hobi mengutak atik rumus, mengombinasikan satu dengan yang lain, demi memecahkan soal cerita yang ada. Rasanya begitu mengasyikkan, seperti asyiknya bermain sebuah games.

 

Nyatanya, saya yang kerap bisa menjawab pertanyaan dibandingkan dengan teman-teman saya di kelas, harus menerima kekalahan di nilai angka ujian. Saya yang lemah menghapal, dan tidak mau ikut-ikutan aksi mencotek rumus saat ulangan, kerap harus menerima melihat angka 6 di raport untuk urusan nilai Fisika, mata pelajaran yang sangat saya cinta!

 

Hingga akhirnya ketika saya diberikan kesempatan oleh Allah untuk bisa menjadi dosen, saya manfaatkan kesempatan itu untuk tidak menekan mahasiswa saya agar mereka harus bisa karena menghapal.

 

“Toh nanti jika kalian kerja, apa kalian harus diminta menghapal dan tidak boleh melihat catatan tentang apa yang seharusnya? Nggak kan? Kalian diminta untuk memahami, menganalisis, bukan menghapal!” demikian yang saya tekankan.

 

Akhirnya ketika ujian, saya sering meminta mahasiswa saya untuk membuka buku ketika mengerjakan. Sayang, berkali-kali saya meminta mereka untuk paham dan bukan menghapal, telah begitu sulit mereka mengerti hanya karena pola menghapal yang sudah menjajah sejak mereka SD dan benar-benar telah mencengkeram otak mereka. Jawaban-jawaban ujian yang tidak ada di buku atau catatan, soal-soal yang bersifat menelaah atau analisis, tidak mereka kerjakan dengan baik hanya karena mereka merasa, “Ah, toh ujian nanti open book, jadi bisa lihat jawabannya di catatan.” Sebuah pemahaman yang salah besar!

 

* Masa Emas Ada pada Proses

Apa yang membuat seseorang mendapatkan hasil yang kurang baik, rata-rata dikarenakan mereka hanya melihat hasil, atau terjebak pada sistem yang tidak menghargai proses. Tokoh Rancho di film 3 Idiots lah yang menguak hal itu dan menyampaikannya kepada dosen maupun teman-temannya.

 

Di Indonesia sendiri, kasus kurang menghargai proses dan hanya menentukan nasib seseorang dari hasil sebuah tahap akhir bisa dilihat dari ujian nasional. Banyak siswa jadi frustasi dalam memersiapkan ujian, hingga akhirnya para guru pun tidak sedikit yang terjebak pada praktek kecurangan demi menyelamatkan anak didiknya, nama baik guru, juga sekolahnya!

 

Ketika saya menjadi dosen, fakta itu pun sering merepotkan saya karena adanya beberapa mahasiswa yang lucunya sering menuntut atau memertanyakan ke saya mengapa mereka tidak mendapat nilai A. Padahal, mereka-mereka yang memertanyakan hal itu adalah sosok yang berkarakter kerap seenaknya ketika kuliah!

 

Akhirnya agar saya tidak lagi menghadapi hal tersebut, keleluasaan proses penilaian yang lebih banyak diserahkan kepada para dosen membuat saya mencoba membuat sistem yang memungkinkan mahasiswa berkonsentrasi pada proses untuk mendapatkan hasil. Bukan melihat hasil lalu mengabaikan proses.

 

Caranya, di setiap tahap selama proses perkuliahan, saya akan memberikan peluang pada mereka untuk memerbaiki tugas maupun ujiannya demi mencantumkan nilai yang pantas atas hasil yang juga pantas telah mereka lakukan. Yah, meskipun akhirnya saya jadi dosen yang kerap dibuat sibuk dengan urusan mengoreksi perbaikan-perbaikan mereka, tapi itulah penghargaan yang saya berikan kepada mereka yang memang juga mau berlelah payah demi hasil akhir mereka sendiri.

 

Namun, saya tidak bisa melaksanakan gagasan tokoh Rancho di film 3 Idiots yang kurang sependapat dengan sistem penilaian didasarkan pada rangking atau angka. Tapi karena saya pun ada dalam sebuah sistem, dan ada dalam lingkungan orang-orang berpemikiran hasil dan harus saya olah proses belajarnya, mau tak mau urusan angka, rangking yang identik dengan hasil itu harus saya acuhkan. Tapi saya tetap saya, si keras kepala yang harus bergerak dengan jalan a la saya dengan sefleksibel mungkin berdamai dengan sistem yang ada.

 

* Menuntut Ilmu untuk Ilmu Itu Sendiri

Hal yang membuat saya tertawa satir adalah ketika tokoh Rancho menertawakan tokoh bernama Sudas yang sekolah hingga tinggi di bidang tehnik, mengejar pendidikan sampai ke luar negeri, mendapatkan hasil yang gemilang, namun hanya untuk balik ke negaranya dan bekerja sebagai karyawan di bank!

 

Benar-benar saya tergelak oleh cerewetan Rancho kala saya sendiri menyadari apa yang terjadi di Indonesia sendiri adalah seperti itu. Bahkan, saya lah satu dari sekian korban ketidakajegan disiplin ilmu, antara yang saya tekuni ketika kuliah hingga apa yang saya tekuni saat ini.

 

Saya, sarjana pendidikan di bidang ekonomi, adalah sosok yang sangat lemah di bidang akuntansi, ilmu yang dulu saya pilih dalam jurusan kuliah saya, tapi justru saya lebih gemilang untuk urusan kepenulisan. Bahkan ketika saya masih kuliah, saya sering menantang diskusi di bidang kepenulisan dengan teman-teman saya yang memang kuliah di jurusan itu. Ujung-ujungnya saya sering membuat mereka kelabakan oleh pertanyaan atau pernyataan saya tentang dunia kepenulisan. Mereka yang konsekuen dengan ilmunya, versus saya, si pengkhianat ilmu ekonomi yang jatuh hati dengan dunia kepenulisan.

 

Kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidup di masa nanti. Pun, saya sendiri tidak bisa menyalahkan ketidaktahuan saya yang kini lebih memilih dunia kepenulisan dari pada bidang ekonomi. Tapi, ada sebuah lagu di film 3 Idiots yang menginspirasi saya untuk tidak mengulang hal yang sama pada anak-anak saya kelak.

 

“Give me the sun shine, give me the rain. Give me another chance, because I wanna my childrens grow up with their own choice!”

 

Semoga ketika nanti Allah memberikan kesempatan kepada saya tentang anak-anak, saya tidak ingin memaksa-maksa mereka harus menjadi apa. Biarlah saya menjadi pengarah atas keputusan mereka hingga mereka menapaki jalan hidup pilihan mereka sendiri sesuai jalurnya. Dan saya tidak ingin menjadi seperti ibu saya yang begitu keukeuh menginginkan saya menjadi PNS, atau ayah saya yang tidak setuju atas pilihan hidup saya sebagai penulis.

 

* Dalam Ketenangan, Ada Kecerdasan

Saya tergelitik saat ada adegan tentang tokoh Rancho yang ditantang oleh Mr Virus untuk mengajar di depan kelas. Dengan santainya, Rancho memermainkan seluruh kelas termasuk sang dosen untuk mencari arti dari dua buah kata dalam waktu singkat yang sesungguhnya tidak ada sama sekali dalam buku.

 

Di situ Rancho sebetulnya ingin membuktikan, bahwa belajar di bawah tekanan memang tidak akan membuat seseorang memiliki otak cemerlang untuk berpikir bahkan menemukan hal yang ganjil atas sesuatu yang bisa dipikir secara ringan dengan nalar.

 

Teori dalam tubuh yang tenang akan memunculkan kecerdasan yang dahsyat ini awalnya saya temui dalam buku quantum learning. Meski belum sepenuhnya paham, saya mencoba mempraktekkannya ketika saya mengajar para mahasiswa saya.

 

Yah, semoga hingga detik ini tidak ada satu pun anak-anak saya saat itu yang mengatakan kepada rekan dosen di poltek tempat saya dulu mengajar jika saya adalah satu-satunya dosen yang mengizinkan mereka untuk makan, minum, mendengarkan musik, bahkan asyik melihat film pada laptopnya masing-masing.

 

Saya sendiri tipe orang yang memang suka berkegiatan dengan kondisi multi. Misalnya, makan sambil bekerja, makan sambil membaca buku atau artikel di internet, atau menulis sambil ngemil dan mendengarkan musik, atau sambil melihat televisi.

 

Ketika saya mengajar, saya pun menemukan beberapa mahasiswa yang memang bisa melakukan hal tersebut dan justru malah memiliki ketertarikan besar dan menunjukkan kecerdasan optimalnya ketika ia dipersilakan untuk melakukan aktivitas lain yang bisa menyenangkan dirinya namun tidak mengganggu orang lain.

 

Sayangnya, izin yang saya berikan itu kerap disalahgunakan oleh beberapa anak yang tidak tahu akan tanggung jawab. Saya hanya menyerahkan proses pada para pelakunya sendiri. Ketika mereka justru tidak memanfaatkan kesempatan yang saya berikan dengan baik, nilai mereka tidak sebaik teman-temannya yang lain, saya hanya bisa tersenyum. Yang saya sadari dan mereka harus sadar, orang yang tahu tanggung jawab, adalah orang yang tahu konsekuensi atas perbuatan yang sudah ia lakukan. Saat itu saya ingin mereka juga belajar tentang itu.

Pasar Buah Ranuyoso

*Tawarlah Separuh Harga

Jika ke Lumajang, ingatlah untuk membeli oleh-oleh berupa pisang. Namun, pisang yang dimaksud itu bukan sembarang pisang lho! Melainkan, pisang tanduk yang bentuk dan ukurannya memang seperti tanduk.

Pisang-pisang tanduk yang digantung untuk ditawarkan ke pembeli

Satu dari sekian tempat sasaran untuk berburu pisang khas Lumajang ini adalah di Pasar Buah Ranuyoso. Di sana, Anda bisa menemukan deretan lengkung-lengkung pisang berwarna kuning berukuran selengan yang tergantung berikut tandannya dan terlihat begitu menggoda.

Pisang tanduk ini sendiri terdiri dari dua macam. Pisang tanduk yang warnanya kemerahan disebut pisang agung. Di Lumajang sendiri, pisang tanduk lebih sering disebut sebagai pisang agung.

Selain pisang tanduk, sebetulnya Anda pun bisa menemukan beberapa buah lainnya. Misalnya, pisang susu, nangka, alpukat, petai, dan makecu atau kenitu. Untuk alpukat dan makecu, buah-buah ini diletakkan di dalam wadah dengan jumlah yang sudah disesuaikan berdasarkan timbangan. Sementara itu untuk makecu, selain diletakkan berdasarkan timbangan, buah ini juga diletakkan dalam wadah yang disesuaikan dengan kategori ukuran, besar dan kecil.

Untuk urusan harga, kisaran pisang tanduk sendiri adalah sekitar 20 hingga 30 ribu rupiah satu tandannya. Satu tandan sendiri bisa terdiri dari satu sampai dua atau tiga sisir pisang. Namun, harga itu biasanya sudah berdasarkan lobi alot antara pembeli dengan penjual.

Pengalaman saya beserta keluarga sewaktu mengunjungi pasar ini adalah pengalaman mendapati harga pisang yang ditawarkan sebesar 50 sampai 65 ribu rupiah. Kontan sewaktu mendengar itu, kagetlah om dan bulek saya. Karena seingat mereka tak lama sebelumnya, om saya sempat pulang membawa pisang itu dan hanya berharga 10 sampai 15 ribu satu tandannya.

Setelah saya pikir-pikir, ini pasti ada penyebabnya dari plat mobil yang kami gunakan. Kebetulan, mobil yang kami gunakan waktu itu adalah huruf B yaitu berasal dari Jakarta. Melihat kondisi para pedagang yang hanya sedikit menurunkan harga, langsung saja, om saya pun memainkan bahasa maduranya! Ajaibnya, langkah ini ternyata lumayan berhasil lho!

Sementara itu untuk harga makecu, satu wadah yang terdiri dari ukuran besar makecu agar dihargai 10 ribu rupiah. Sedangkan untuk satu wadah yang terdiri dari makecu kecil, harganya sekitar lima ribu sampai tujuh ribu rupiah.

Tapi, hati-hati saat membelinya. Karena dalam satu wadah makecu, Anda harus memilih-milih dulu apakah di antara makecu yang sudah terwadahi dalam wadah-wadah itu erkondisi bagus. Pasalnya jika Anda agak sedikit jeli, dalam satu wadah itu akan dicampur dengan beberapa makecu keras yang tentu saja masih mentah, atau beberapa makecu berwarna cokelat yang sudah sangat tua.

*Apel Susu…

Apakah Anda merasa asing dengan buah makecu atau kenitu? Buah yang sifatnya musiman itu berwujud luar seperti apel hijau atau markisa yang masih hijau. Sedangkan wujud daging dan bijinya mirip dengan sawo. Bedanya, buah ini memiliki warna yang putih.

Buah makecu atau kenitu

Buah yang dislogani sebagai apel susu oleh para penjual di sana ini memiliki rasa yang sangat manis! Ibaratnya, jika buah sawo rasa manisnya seperti makanan yang ditambahi gula aren, makecu ini ibaratnya makanan yang diberi gula pasir.

Selain rasa manis, buah yang terkadang disertai dengan air yang juga terasa legit ini juga memiliki sensasi lengket jika kita usai memakannya. Penyebabnya tak lain adalah adanya getah yang juga cukup terkandung di dalam buah ini. Apalagi di dekat bagian kulitnya. Namun jangan khawatir. Setelah memakannya, Anda cukup berkumur atau mengusap mulut Anda dengan air untuk menghilangkan kesan lengket dari getahnya.

Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang

*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi

Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih

Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.

Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.

Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok.  Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.

Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih

Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!

*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!

Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!

Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan

Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?

Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.

Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”

*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan

Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.

Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!

Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”

Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya

Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru

Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.

Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih

Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.

Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!

Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar

*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan

Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.

Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.

Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.

Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers