Konsekuensi dari Berani Berkata Benar

Standard

Sewaktu melakukan itu, saya hanya terpikir seandainya saya menjadi anak-anak yang datang ke saya dengan kebingungan dan kekhawatiran. Sewaktu mengungkapkan kebenaran itu, tak ada sedikitpun keinginan untuk menyingkirkan atau meminorkan pencitraan siapapun. Sewaktu melakukan itu, saya hanya ingin semuanya berjalan harmonis kembali seperti semula.

Tapi apa yang terjadi? Pekerja baik yang sedang khilaf itu disingkirkan. Para pecundang yang selama ini kerap berjalan setengah langkah dengan keberanian pura-pura itu yang bertahan. dan tinggallah saya yang menyaksikan semua drama dengan rasa bersalah.

Kemarin malam, sungguh tak bisa diungkap bagaimana rasa sesal saya di perahu kebimbangan. Saya bertanya pada diri sendiri, haruskah lain kali saya diam jika saya tahu sebuah kebenaran? Haruskan saya bungkam jika saya menjadi tempat mengadu anak-anak yang khawatir akan nasib mereka? Tidak. Saya bukan orang yang sangat bersedia menjadi tong sampah. Saya paling tidak suka menyediakan gratis telinga saya sementara otak saya hanya sibuk merekam namun tidak menghasilkan solusi masalah.

Tapi jika saya bertindak, saya tidak bisa menghindari adanya konsekuensi dari tindakan saya. Kecuali, jika sayalah pemimpinnya. Kecuali jika titik tumpu penyelesaian masalah ini ada pada saya yang bisa membuat harmonis kembali sebuah masalah. Faktanya, saya sedang tidak mengambil peran sebagai seorang pemimpin.

Saat mendengar berita itu, saya tidak bisa menunjukkan ekspresi apa-apa? Haruskah saya sedih karena orang yang sedang khilaf itu pergi? Tidak. Saya sedih karena begitu bagusnya para pemain drama itu memainkan peran berduka. Haruskah saya merasa bersalah? Tidak. Karena saya merasa bersalah telah mengambil langkah penyelesaian masalah ke orang-orang yang selama ini saya kenal kerap bertindak dengan setengah langkah.

Dan kini saya bertanya, haruskah setiap tindakan berani mengungkap kebenaran itu memerlukan hadirnya konsekuensi yang kerap tak mengenakkan?

Kekuatan Kata-kata

Standard

Namanya Galih, satu dari sekian anak saya di kelas Social Boys yang akhir-akhir ini kemajuannya begitu pesat. Kebetulan, saya tipe guru yang begitu mengamati perkembangan tiap anak dari sejak awal berkenalan.

Sejak awal saya mengenal Galih, sosoknya begitu kurang percaya diri. Selain itu, ia juga mudah gugup. Akibatnya di setiap kali ujian, nilai Galih selalu kurang memuaskan. Padahal, kerja kerasnya sudah sangat maksimal. Bahkan, kerap ia telah lebih bersusah payah dibandingkan teman-temannya yang akhirnya mendapat nilai jauh lebih tinggi.

Kondisi Galih tersebut terus berlanjut hingga di semester 2. Saya yang melihatnya jadi merasa khawatir sekaligus kasihan.

Galih seorang yang pleghmatis, suka damai. Saya tahu ia kecewa saat berkali-kali melihat nilainya yang kurang memuaskan. Namun dengan cepat ia tutup rasa ketidaknyamanannya dengan senyuman. Tapi bagi saya, kondisi itu sangat menyiksa pikiran saya sendiri.

Hingga pembagian nilai rapot seusai midtest semester 2, nilai Galih tidak berubah. Namun setelahnya, ada yang berbeda dari seorang Galih.

Nilai-nilai Galih jadi kerap berakhir gemilang. Bahkan, ia sering menjadi guru bagi teman-temannya dalam beberapa mata pelajaran. Perubahan Galih sangat drastis.

Ujung-ujungnya saat pembagian rapot seusai UAS semester 2, Galih mendapat nilai menakjubkan. Bahkan anak yang semula mendapat ranking 17 di semester 1 itu bisa naik menjadi ranking 10. Padahal, di semester 1 Galih ada di kelas dengan tingkat persaingan yang begitu rendah. Sementara di semester 2, Galih ada di kelas dengan anak-anak yang begitu hobi bersaing untuk menjadi yang terbaik di bidang akademik.

Penasaran, saya dekati Galih seusai pembagian rapot. Saya tanya, apa yang menyebabkan ia bisa berubah menjadi sangat lebih baik.

Jawabannya mengejutkan. Ia mengatakan keberhasilannya itu juga berkat kata-kata saya. Saya memang pernah memanggil Galih dan mengajaknya bicara tentang perkembangan akademiknya. Uniknya, saya malah hampir lupa, kapan, dan apa yang saya bicarakan.

Galih berujar, ia menempel apa yang saya katakan padanya, tentang saya yang percaya bahwa ia bisa. Ia sugesti dirinya dengan kata-kata ‘saya bisa’ ‘saya mampu’ di selembar kertas kecil dan ia tempel di dekat tempat tidur. Dibacanya kata-kata itu sebelum dan saat bangun tidur.

Mendengar itu, saya jadi malu. Karena jujur, selama ini saya mengira itu hal yang biasa. Bahkan seperti yang telah saya katakan, saya bahkan lupa jika pernah berkomunikasi itu dengan Galih. Tapi nyatanya, itu jadi hal yang begitu berarti untuk seorang Galih.

Sejenak saya merenung. Jujur, terkadang saya sering temperamen ke anak-anak saat melihat kebanyakan dari mereka yang kurang disiplin. Terkadang saya kurang mengingat jika apa yang saya lakukan, saya ucapkan, bisa berdampak entah itu positif atau negatif pada anak-anak. Terkadang saya tidak memerhitungkan itu semua. Dan cerita tentang Galih ini membuat saya belajar, saya harus lebih berhati-hati dalam bersikap dan berucap kepada anak-anak.

Inelastisnya Pasar Penerbangan Rute Banjarmasin – Surabaya

Standard

Semalam dan hari ini, saya benar-benar dibuat kaget oleh Citilink. Sebuah pesan masuk ke ponsel saya, informasi bahwa pesawat yang melayani rute Surabaya-Banjarmasin tidak lagi beroperasi sejak 1 Juli 2013. Itu saja pemberitahuannya. Saya pun baru berhasil menghubungi pihak customer service saat lewat tengah malam.

Mau tahu apa jawaban pihak CS? “Iya, kami belum bisa member informasi apa-apa karena hal tersebut sedang dalam pembicaraan.”

Akhirnya, saya putuskan untuk menghubungi pihak Citilink yang ada di bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Saya tidak sendiri. Rekan kerja saya yang juga memilih menggunakan Citilink mengalami nasib yang juga sama. Jadi kami putuskan, siang tadi untuk menghubungi kantor cabang maskapai yang satu grup dengan Garuda tersebut.

Sesampainya di bandara, saya melihat banyak orang yang juga berkerumun di depan loket. Bisa ditebak, wajah mereka pun gusar karena nasib jadwal penerbangan yang sudah mereka pesan tiba-tiba dinyatakan tutup rute. Pilihannya dua, meminta uang kembali atau pindah penerbangan.

Saya sendiri akhirnya memilih pindah penerbangan dengan konsekuensi harus menunggu kabar tiga hingga empat hari. Yah, dari pada saya meminta uang kembali dan harus membeli tiket maskapai lain yang lebih mahal? Selain itu, pilihan dipindah penerbangan ini pun tidak membuat saya harus bayar ekstra.

Saat keluar dari bandara, saya dan teman saya melihat sebuah papan iklan besar tentang adanya rute baru pesawat Garuda dengan tujuan Banjarmasin Surabaya. Teman saya langsung berujar, “Wah, Garuda akhirnya ada penerbangan baru Banjarmasin Surabaya!”

Kepala saya langsung mengerti apa yang sesungguhnya sedang saya alami. Yah tebakan yang mudah bukan? Citilink menutup rute Banjarmasin-Surabaya dan sebaliknya. Garuda, si saudara tuanya itu membuka rute yang sama. Jadi saya kira, keputusan saya untuk memindah penerbangan tadi adalah untuk dialihkan ke penerbangan ini. Ehem, itu sepertinya. Namun entah kepastiannya.

Sementara itu sebelumnya, penawaran dari pihak maskapai yang ada di Indonesia sendiri untuk rute tersebut adalah berasal dari Citilink, Lion Air, Sriwijaya, dan Batavia. Dua nama yang terakhir itu akhirnya tidak beroperasi. Pasar penerbangan pun menjadi duopoli, antara Lion Air dan Citilink.

Lantas, pilihan yang cerdas bagi Garuda untuk membuka rute penerbangan ini, dan menutup rute yang sebelumnya dipegang oleh Citilink. Pasar atau peminat rute penerbangan Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya ini memang terbilang tinggi. Cukup banyak orang Jawa Tmur yang merantau ke Kalimantan Selatan. Apalagi orang Lamongan yang terkenal sebagai penguasa pasar ayam penyet di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, maskapai Garuda yang kerap disebut sebagai penerbangan kelas ekonomi menengah ke atas, rasanya tetap tidak akan takut kalah persaingan oleh Lion Air, atau kehilangan income dari ditutupnya rute Citilink. Karena pangsa pasar rute ini selalu ada serta cukup banyak permintaannya. Meski Garuda memasang harga di atas Lion Air sekalipun, peminatnya tetap ada dan tidak bisa dibilang sedikit.

Dalam ilmu ekonomi, fenomena ini masuk dalam kategori permintaan inelastis. Berapapun harganya, entah itu murah atau mahal, jumlah permintaannya cenderung statis atau sedikit mengalami perubahan. Apalagi di waktu lebaran atau liburan, saat di mana kecenderungan masyarakat Indonesia memilih berkumpul bersama keluarga di tempat lain.

Jadi bagi para konsumen pasar penerbangan rute Banjarmasin – Surabaya atau sebaliknya, selamat, Anda masuk dalam jebakan pasar inelastis dengan produsen duopoli yang akan berani menawarkan harga tinggi untuk Anda yang tidak lagi menganggap berpergian dengan pesawat adalah bentuk kemewahan lagi.

Berani

Standard

“Kamu itu jadi cewek terlalu berani, Ka. Sampai aku mau nembak kamu dari dulu saja enggak berani.”

Kali ke sekian, teman saya itu mengucapkan hal seperti itu. Apalagi ketika ia mendengar cerita saya tentang masalah yang sedang saya alami, masalah orang lain yang saya ketahui dan saya bercerita ingin melakukan ini dan itu.

“Sekali lagi, jadi orang jangan terlalu keras. Sekarang kamu pikir, kalau kamu ngelakuin itu, apa nanti efeknya ke kamu? Kamu dapat apa? Kalau ada apa-apa, kamu dapat apa? Kamu itu cewek. Iya kalau aku. Ada apa-apa aku bisa berantem. Kalau kamu ada apa-apa terus diapain orang, gimana?”

Menjadi orang yang berani menegur jika saya tahu ada hal yang tidak seharusnya, memang sudah jadi hal yang mengkhawatirkan tentang saya bagi orangtua saya. Mungkin orangtua saya berpikir, “Ini anak dulu waktu kecil kalau ada apa-apa suka nangis, kenapa sekarang jadi begini?”

Dan berkali-kali akhirnya ketika saya bercerita ada sesuatu di lingkungan kerja dan saya bilang akan melakukan ini dan itu yang sifatnya berani berkonfrontasi, selalu saja orangtua saya mengingatkan, “Sudah, jadi orang yang biasa-biasa saja. Nggak usah ngelakuin hal yang terlalu berani seperti itu.”

Saya tahu, orangtua saya sepertinya khawatir jika saya mengalami apa yang pernah ayah saya alami dulu: terlalu berani di tempat kerja, memerjuangkan teman-temannya, melakukan hal-hal yang idealis, tapi akhirnya, ayah saya harus terpaksa mengundurkan diri karena tekanan rekan-rekan di tempat kerjanya yang sangat tidak suka dengan sepak terjang ayah saya.

Mengingat itu, saya jadi terpikir, jika saya seperti sekarang, rasanya itu genetik yang diturunkan dari orangtua saya. Pun, dari leluhur saya yang rasanya akan cukup panjang jika diceritakan. Yah, mungkin jika kelak saya punya anak dan suka bersikap nekat, saya sadar, itulah cermin diri saya yang saya pantulkan padanya.

Lalu hari ini, seorang teman mengingatkan dengan sebuah hadist yang intinya seperti ini: Jika melihat kemungkaran, lawanlah dengan tindakan. Jika tidak, dengan ucapan. Atau dengan diam dan berdoa. Dan yang terakhir itu adalah selemah-lemahnya iman.

Entah sudah kali ke berapa saya mendengar hadist tersebut. Jika memang diam dan berdoa adalah selemah-lemahnya iman, saya lebih memilih untuk tidak punya iman yang lemah. Bahkan saya berpikir, “Atau lebih baik saya segera pergi sehingga saya tidak lagi tahu kemungkaran yang terjadi.”

Malam ini saya menyadari satu hal, memiliki karakter sepemberani pria namun bertubuh wanita, sungguh kerap bukan hal yang mudah. Dan sadar bahwa saya terlalu berani dari pada kebanyakan pria, membuat saya bertanya, apakah saya salah?

Sungguh benar-benar bahagia ya hidup orang yang bisa tak acuh? :)

Jangan Belajar Sebelum Ujian

Standard

Berpikir beda terkadang sering membuat kita terlabeli gila. Tapi jika ingin memiliik warna yang tak membosankan dan tak biasa, maka mari sesekali berpikir beda.

Hari ini, lebih tepatnya beberapa hari terakhir ini, saya sering mencekoki anak-anak saya untuk TIDAK BELAJAR di musim midtest. Hahaha, mungkin saya guru yang gila! Tapi saya tak ingin anak-anak juga gila dengan ujian bersistem menguji apakah ia amnesia atau tidak.

Betapa saya tidak mengernyitkan alis melihat sistem pendidikan di tempat saya mengajar sekarang ini. Anak-anak hanya diberi waktu 3 bulan untuk belajar. Sementara untuk midtest, mereka hanya diberi waktu satu minggu dengan tiap harinya mereka harus menghadapi 3 mata pelajaran yang diujikan.

Kemarin-kemarin, saya bisa menyemangati anak-anak untuk tetap bertahan dengan segala macam timbunan ulangan harian dan tugas dari para guru, efek dari para guru yang harus mengejar target pemberian materi dengan waktu yang begitu minim. Meski dalam hati saya miris, mereka adalah anak-anak yang hidup di boarding school, yang juga punya tuntutan harus menguasai hal lain selain yang terkait dengan pelajaran. Tapi kali ini, di musim midtest ini, saya punya empati yang bertoleransi dengan apa yang sedang mereka hadapi.

Andai saya jadi anak-anak itu, saya pastinya akan sangat pusing saat harus belajar. Sedang enak-enaknya belajar matematika, otak saya mencemaskan pelajaran Fiqih. Saat saya sedang menghadapi buku pelajaran Fiqih, kepala saya terpikir nasib ulangan PKN.

Hingga suatu ketika, seorang murid saya bernama Michelle menghampiri saya dan berkata, “Miss, kayak saya dong, nggak belajar. Sudah dua hari ini Miss saya nggak belajar,” ujar anak saya yang terkenal punya karakter unik ini.

Awalnya saya agak merasa aneh dengan kata-katanya. Memang, Michelle adalah anak yang sangat cerdas sehingga saat SMP saja dia masuk kelas akselerasi. Jika seorang secerdas Michelle tak belajar sebelum ujian, bisa jadi itu adalah hal yang wajar.

Tapi otak saya lantas berpikir wajar juga saat saya melihat korelasi antara pentingnya memaksa belajar dengan apa esensi dari proses ujian itu sendiri. Belajar yang benar memang adalah ketika seorang siswa melalui proses memahami materi sejak awal kegiatan belajar mengajar dimulai. Bukan menghapal teori yang digunakan untuk menjawab pertanyaan ujian, lalu selesailah semua memori itu dibuang di atas selembar kertas.

Apakah anak paham atau tidak, mengaplikasikan ilmu yang sudah ia dapat atau tidak, atau mengingat teori-teori itu sebagai bentuk konsekuensi menalar dan melogika realita di kehidupan, rasanya semua itu tidak tercakup dalam esensi proses ujian dan belajar yang sesungguhnya.

Jadi, untuk apa belajar di sekolah? Untuk apa ada ujian sekolah? Untuk mendapat nilai? Untuk mencari kerja dengan nilai bagus? Kenyataan yang lucu ketika dari pertanyaan-pertanyaan itu ternyata menimbulkan jawaban bahwasanya belajar, ujian, nilai, dan kerja memiliki hubungan yang sangat dipaksakan!

Di hari ini, saya sengaja makin menjadi menyuruh anak tidak belajar, dan mengingatkan mereka dengan kepercumaan belajar dalam kondisi memaksa namun pada akhirnya mereka sulit untuk mengingat apa yang sudah mereka hapal saat ujian. Karena belajar yang sesungguhnya itu adalah bukan di saat sebelum ujian. Karena mereka sesungguhnya tidak melewati proses ujian sebagai bagian dari ujian apakah mereka amnesia atau tidak!

Dan di hari ini, saya juga dengan jahilnya membalas keluhan anak-anak saya yang nilainya jauh dari kata memuaskan. “Kenapa? Nilai matematikamu 45? Dulu nilai saya matematika 35 waktu sekolah. Tapi saya bisa jadi guru, dosen, kepala sekolah, wartawan, dan penulis. Nilai 45mu itu tidak membuat masa dapanmu suram! Tidak membuat duniamu berhenti saat ini!”

Yah, saya sendiri memang tidak pernah menyesal dengan nilai jelek saya. Tidak pernah menyesal mengapa saya tidak bisa masuk IPA meski saya begitu jatuh cinta dengan Fisika. Karena toh hingga saat ini saya masih cukup sering bisa mengingat teori-teori yang diajarkan guru saya dan mengaitkannya dengan realita yang sedang saya hadapi. Saya tidak mau membuat guru-guru saya melakukan hal yang sia-sia. Karena saya pernah menjadi siswa yang menjadikan ilmu itu barakah dengan cara memahaminya. Tidak menghapal. Minim melakukan kecurangan demi sebuah nilai gemilang.

Saya akui, dulu saya memang bukan murid yang sangat baik dan pintar. Bukan murid yang selalu tidak pernah mencontek dan kadang melakukan kecurangan sesekali. Bukan murid yang selalu mendapat nilai memuaskan. Tapi saya cukup bangga pernah menjadi murid yang bisa diandalkan saat beradu mengerjakan soal cerita Fisika. Saya cukup bangga bisa mengingat banyak hal yang pernah saya pelajari sewaktu SD hingga SMA.

Apapun sistemnya, saya tidak akan mau membiarkan anak-anak saya menjadi korban sistem pendidikan yang tidak menyentuh esensi dari pendidikan itu sendiri. Mereka harus sadar, bahwa belajar adalah paham lalu mengingat untuk mengaplikasikannya, bukan menghapal dan melupakan kemudian tidak menggunakan ilmunya untuk kehidupan nyata.

Imam Keluarga

Standard

“Kalau sampai ayah ibu kenapa-kenapa, terus kamu nggak dibolehin sama suamimu keluar rumah, jangan keluar!”

Kata-kata keras dari Ayah itu berarti dalam untuk saya, membuat saya memaknainya dengan pilahan sisi yang tak cukup satu dua.

Saya tahu dan sadar, seorang istri adalah makmum dari suaminya. Yah tentu saja, itu berikut kesadaran bahwa sang suami memang seorang imam yang membawa keluarga ke arah kebaikan di jalan Allah.

Lalu ketika saya mengetahui ayah saya juga sadar akan hal itu, saya cukup bahagia. Suatu saat nanti jika memang saya ada dalam posisi patuh terhadap kata-kata suami, sementara banyak orang justru mencoba membuat saya sangsi, hati saya bisa tenang karena ayah dan ibu saya ada dalam posisi turut mendukung keputusan suami.

Di sisi lain, kata-kata ayah saya tersebut, yang sejalan dengan keyakinan saya, juga membuat saya menjadi orang pemilih hingga kini. Malam ini saat menelepon ibu, kembali ibu saya bertanya, sudahkah saya memiliki calon suami?

Untuk kesekian kalinya saya kembali tersenyum. Dengan tenang dan meyakinkan, saya coba tenangkan ibu saya tentang mengapa saya tak begitu mudah memilih seseorang untuk hadir dalam kehidupan saya.

Saat menikah kelak, bukan lagi kedua orangtua saya yang harus saya patuhi. Sebagai wanita, suamilah yang menjadi imam saya. Jika suami saya tidak peduli dengan keluarga saya, kurang memiliki rasa empati terhadap orang-orang yang menjadi darah daging saya, saya sungguh tidak mau menjadi orang yang harus terputus atau merenggang hubungan silaturahmi terutama dengan kedua orangtua saya.

Ditambah lagi watak keras yang saya miliki. Saya sungguh tidak mau di suatu waktu nanti menjadi istri pembangkang atas apa yang suami saya telah putuskan. Karena yang saya sadari sejak kini, saya akan patuh pada keputusan siapapun yang menjadi pemimpin saya asalkan apa yang telah diputuskan adalah sesuatu yang baik dan memang seharusnya. Saya sangat percaya, Tuhan akan memberikan seorang imam untuk saya yang mampu mengendalikan watak keras saya dengan keputusan-keputusan bijaknya.

Telahkah saya terlalu menjadi sosok pemilih? Biarkan saja siapapun berkata demikian. Saya seorang hamba yang masih terus berusaha, dan saya hanya percaya Tuhan dengan segala macam caraNya yang penuh kejutan. :)

Awet Muda a la Hendri Lamiri

Standard

Hendri Lamiri di tengah-tengah grup musik Debu

“Ini Hendri Lamiri, atau bukan ya?” gumam saya berkali-kali.

Pasalnya, wajah violis yang siang tadi (11/3) tampil di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin itu saya lihat tampak lebih muda, cerah, dan segar. Sampai akhirnya saya membatin, “Ah, apa mungkin yang sedang saya lihat ini adiknya ya?”

Tapi, gaya khasnya saat memainkan biola, serta topi yang saya tidak tahu sebutannya itu sekali lagi mengusik saya.

“Orang yang sedang tampil bersama grup musik Debu ini… rasanya memang Hendri Lamiri!” bisik batin saya sekali lagi.

Dan benar saja. Tak lama kemudian, pembawa acara pun menyebut nama Hendri Lamiri sebagai sosok yang memang tampil bersama Debu siang itu. Saya pun langsung tersenyum senang. Apalagi saat Hendri akhirnya menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola di pembuka sebuah lagu yang akan dimainkan oleh Debu. Kedua mata saya pun langsung berbinar senang saat gesekan biola Hendri menari di kedua telinga saya.

Puas dari menyaksikan aksi panggung grup musik Debu yang dihadirkan dalam rangka ulang tahun surat kabar harian Media Kalimantan, saya pun melenggang pulang meninggalkan gedung. Namun pihak Bu Hasnuryani dari Yayasan Hasnur menahan langkah saya dan teman-teman.

“Makan dulu,” ajaknya ramah. Sebuah ajakan yang membuat saya dan teman-teman pada akhirnya mendapat sebuah kejutan di luar dugaan di ruang makan.

Kejutan itu adalah makan bersama grup musik Debu dan juga Hendri Lamiri! Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang langsung dimanfaatkan oleh teman-teman saya untuk berfoto bersama pada personel grup musik Debu.

Kekaguman saya terhadap sosok Hendri Lamiri sendiri hanya terobati ketika saya bisa sedikit berbincang dengannya di sela-sela acara foto bersama beberapa teman saya.

“Bang, apa nih resepnya awet muda?” celutuk saya.

“Ikhlas,” jawabnya singkat.

Sambil mengatur pose dan tetap tersenyum menghadapi bidikan kamera di ajang foto bersama itu, ia pun lalu menambahkan, “Kalau ada masalah, direduksi. Jangan ditumpuk,” imbuhnya ramah.

Jujur, inilah jawaban di luar dugaan saya yang entah mengapa seakan-akan seperti dikirim Tuhan untuk menasehati saya dan teman-teman saya. Atas apa yang sedang saya dan teman-teman alami saat ini, rasanya kata-kata seorang Hendri Lamiri seperti sebuah sentilan yang menyentuh kami.