
Muara di dekat Pantai Wotgalih, Kecamatan Yosowilangun, Lumajang
*Seakan Berada di Perkampungan Gypsi
Jujur, saya sendiri belum tahu perkampungan Gypsi yang sesungguhnya seperti apa. Namun dari mendengar cerita dan melihat kondisi faktualnya, entah kenapa, ingatan saya langsung teringat pada film Kassandra, sebuah film latin bertema Gypsi.

Saya dengan latar perkemahan yang berada di dekat Pantai Wotgalih
Kesan itu muncul saat saya mengunjungi Pantai Wotgalih yang berada di Kecamatan Yosowilangun, Kabupaten Lumajang pada beberapa hari lalu. Awalnya ketika hampir sampai di bibir pantai, saya mengira tenda-tenda yang saya lihat itu adalah para penjual aneka makanan atau souvenir.
Nyatanya, tenda-tenda itu didirikan oleh orang-orang yang rupanya telah berada di sana sejak usai lebaran. “Nginep di sini sampai hari Minggu besok,” ujar seorang pria yang juga telah berada di sana sejak usai hari lebaran pertama.
Sedangkan menurut bulek saya, keberadaan tenda-tenda itu memang sifatnya musiman. Hanya ada beberapa hari seusai lebaran saja. Setelahnya, bahkan pantai itu akan sepi dan terlupakan sebagai sebuah bagian dari tempat wisata di Lumajang!

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih

Perkemahan di Pantai Wotgalih

Suasana perkemahan di Pantai Wotgalih
Para pendiri tenda ini pada umumnya adalah anak-anak muda yang datang berkelompok. Namun, ada juga yang datang dalam bentuk keluarga. Mereka datang dari daerah-daerah di sekitar pantai tersebut yang kemudian mendirikan tenda. Tendanya terbuat dari hamparan terpal dan dibentuk secara segitiga dengan tiang pancang melintang berada di tengahnya.

Membuat tenda di Pantai Wotgalih
Yang tak kalah uniknya adalah keberadaan kebanyakan tenda yang dihias dengan aneka tumbuhan khas pantai. Ada yang bagian tendanya ditempeli dengan tumbuhan merambat, dibuatkan tirai, sampai pagar! Semuanya rata-rata berbahan dasar tumbuhan liar yang hidup di sekitar pantai.
Meski kebanyakan pendiri tenda musiman itu adalah para pria muda, namun mereka tekun lho dalam urusan hias menghias. Misalnya saja ketika saya mengamati sekelompok anak muda yang sedang berkumpul membuatkan pagar untuk tendanya. Mereka bisa tekun memilin dan merapihkan bentuk dari pagar buatan untuk tendanya yang terbuat dari rumput liar yang tumbuh di dekat muara sungai.

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Menghias tenda di Pantai Wotgalih

Membuat tenda di Pantai Wotgalih
Sayangnya, tidak ada perlombaan tenda tercantik dan terbaik di kawasan pantai wisata musiman tersebut. Kalau ada, wah, entah seperti apa lagi para pendiri tenda itu menghias tendanya sebagus mungkin!
*Ada Tenda Berbendera Universitas Riau!
Satu lagi yang menambah kemeriahan dari acara perkemahan itu adalah adanya tiang-tiang bendera yang saling bersaingan menjadi yang paling tinggi. Uniknya, bendera-bendera ini tidak terkait sama sekali dengan maksud dan tujuan tertentu dari si pemasangnya lho!
Ada yang memasang bendera dari kain yang berlambang dan bertuliskan nama partai tertentu, nama dan logo sebuah band, sampai produk kartu seluler, bahkan pegadaian!

Berkibarlah benderanya

Merah putih tetap lebih tinggi

Kemeriahan bendera

Bendera yang tak bertujuan
Ketidakterkaitan antara maksud dan tujuan itulah yang membuat saya tertipu pada kala melihat bendera bertuliskan “Universitas Riau.” Batin saya, walah, benar nih sampai ada yang jauh-jauh dari Riau segala untuk berkemah ke Pantai Wotgalih yang ada di sebuah kabupaten di Jawa Timur bagian timur itu?
Nyatanya setelah saya merunut ke mana arah tiang kayu berbendera itu terpancang, saya dapati sebuah tenda dengan seorang anak di dalamnya yang nampak sedang mencoba untuk tidur.
Saat ditanya, apakah penghuni tenda itu, yaitu ia dan kawan-kawannya adalah anak-anak dari daratan Riau, bocah yang mengaku berasal dari tempat yang tak jauh dari pantai itu hanya menggeleng. Yang ada, ia malah kebingungan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, dari mana ia berasal serta dari mana ia bisa mendapatkan bendera berlabel ‘Universitas Riau.”
*Awas Buaya Muara dan Palung Berjalan
Jika saya amati, sebetulnya keberadaan Pantai Wotgalih ini masih terhitung alami. Apalagi ketika saya dengar dari bulek dan om saya yang berasal dari sana, pantai ini hanya ramai secara musiman saja.
Untuk bisa menikmati keindahan Pantai Wotgalih, Anda cukup membayar uang masuk sebesar seribu rupiah saja per orang. Jika Anda masuk ke sana di waktu yang masih terlalu pagi, Anda malah tidak perlu membayar uang kendaraan. Ini dikarenakan penjaga karcisnya yang masih belum ada!
Pantai ini sendiri berada di dekat sebuah muara sungai. Bahkan saat berjalan menapaki jalan menuju pantai, Anda akan melewati sebuah jembatan tradisional yang terbuat dari anyaman bambu. Jembatan inilah yang membawa Anda menyeberangi sebuah sungai kecil yang terlihat tenang di bawahnya.

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai

Jembatan yang menghubungkan daratan di antara muara sungai
Eit, tapi hati-hati kala melewati jembatan ini. Karena konon, ada buaya yang juga menghuni sungai tersebut. Karena itulah di dekat jembatan, kita bisa menemui sebuah papan bertuliskan “Awas ada buaya!”
Beberapa sudut keindahan dari pantai berpasir hitam ini adalah pemandangan yang cantik dan teduh di dekat sungai tersebut. Jika kita memandang ke arah barat, kita akan melihat wujud tipis dari Gunung Semeru yang seakan-akan berdiri tegak menjadi kepala dari sungai.

Sungai yang mengarah ke Pantai Wotgalih dan Gunung Semeru yang menjadi latar belakangnya
Sedangkan jika kita berjalan beberapa meter kemudian, ganti, pemandangan kering nan kontras terpampang di depan mata. Ada bentangan sabana dengan tumbuhan rumput yang berbunga seperti bola duri landak yang masih berlatar gagahnya Gunung Semeru.

Padang sabana dengan latar Gunung Semeru
Pantai Wotgalih yang menjadi bagian dari deretan panjang pantai selatan ini tentu saja memiliki karakteristik seperti laiknya pantai selatan di daerah Indonesia yang berombak besar. Larangan untuk tidak main di pantai pun terpampang jelas di pintu masuk.
Namun, peringatan ini tidak pernah dihiraukan oleh para pengunjung. Meski berombak besar, namun keganasannya memang tidak sekuat seperti pantai selatan yang ada di Jogjakarta. Hal ini menjadi alasan bagi para pengunjung untuk masih bisa bercengkerama dengan debur lautan.

Bermain dengan debur Pantai Wotgalih
Namun, ada satu hal yang terkenal dari pantai ini adalah keberadaan palung berjalan. Unik memang jika kita menyimak istilahnya. Karena jika menurut istilah geografi, palung yang sesungguhnya adalah sebuah jurang dalam yang berada di dasar lautan.
Tapi, palung yang sebetulnya dimaksud oleh masyarakat itu adalah sungai dasar laut yang kerap muncul namun berpindah-pindah tempat. Menurut warga sekitar, keberadaan sungai tersebut baru bisa diketahui apabila ada tim SAR yang akan mengumumkan keberadaan palung berjalan yang ajaib itu!
Usai bercanda dengan lautan, jangan khawatir dengan urusan membilas tubuh. Karena tak jauh dari laut, ada beberapa tempat yang menyediakan jasa tempat mandi bagi para pengunjung. Bahkan, ada pula kolam buat berikut ban yang disediakan untuk anak-anak yang ingin bermain air dalam kolam.

Anak kecil yang bermain di kolam bilas buatan air tawar
*Siapkan Uang Kecil di Sepanjang Jalan
Hal yang unik dari Lumajang adalah banyaknya tempat ibadah yaitu masjid atau mushola yang dibangun dari hasil sumbangan di jalan. Sewaktu saya berada di sana, mulai dari desa Kraton sampai Wotgalih yang jaraknya sekitar 1 km itu, selama perjalanan, saya sampai mendapati sekitar 5 ‘pos’ orang-orang yang memohon sumbangan di jalan.
Bahkan, fenomena itu kami temui ketika pagi hari masihlah belum memecah angka pukul 7 pagi! Kebanyakan, para pemohon sumbangan ini berdiri di tengah atau pinggir jalan dengan menadahkan wadah seperti kaleng ke setiap pengunjung yang lewat. Terkadang, berikut pengeras suara berupa mik.
Tapi yang saya jumpai satu dua dari 5 pos itu, ada juga lho mereka yang dalam kondisi hampir belum mandi rupanya. Rambut acak-acakan, mata masih agak sembab, serta pakaian yang kusut.
Jadi jika Anda berjalan-jalan di Lumajang, siap-siaplah untuk menyediakan uang kecil. Karena pos-pos seperti itu akan sangat banyak akan Anda jumpai di kota ini!

Tenda yang sendiri

Bunga rumput yang bisa dijadikan permainan. Jika dibakar, bunga kering ini akan mengeluarkan suara letupan-letupan kecil.

Kepiting yang dijadikan permainan tepi pantai