Ketika Peppy Iri

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Lagi-lagi di tengah!” gerutuku dalam hati saat Pak Wayan mengatur posisi untuk pentas ujian Tari Bali di Taman Mini Indonesia Indah.

“Masa, aku selalu mendapat tempat yang sama? Dan yang di depan, pasti Erna dan Esti lagi!” aku melirik sebal ke arah dua teman les menariku itu.

Aku tahu, Erna dan Esti pintar menari Bali. Gerakan tubuh mereka lebih gemulai. Tapi, aku sebetulnya tidak kalah bagus juga kok.

Perasaan yang tak nyaman itu membuatku terus memasang wajah masam hingga saat pulang dari les. Mama yang biasa menemaniku les menari, rupanya mengerti ada sesuatu yang tidak membuatku senang sore itu.

“Sepertinya sedang kesal ya? Ada apa?” tanya Mama sambil menyetir mobil sewaktu pulang dari tempat les.

“Itu tuh Ma, Pak Wayan nggak adil! Masa, Erna dan Esti terus yang ada di depan? Sedangkan aku dari dulu selalu dapat tempat di tengah.”

“Oh, nanti coba Mama bilang ke Pak Wayan, ya,” hibur Mama sambil tersenyum.

Hatiku merasa lega. “Ah, Mama memang selalu mengerti aku,” batinku gembira.

“Tapi, Mama juga punya masukan nih buat kamu. Kamu mau dengar enggak?”

“Apa, Ma?” aku menautkan alisku tanda penasaran.

“Peppy itu sebetulnya sudah bagus kok. Cuma, kakinya lebih ditekuk lagi kalau pas sedang menari. Jadi gerakan kakimu lebih terlihat luwes. Apalagi kamu kan tinggi. Mungkin, karena itu juga Pak Wayan sering meminta Peppy ada di bagian tengah,” saran Mama.

Aku mengangguk-angguk sambil mengingat pesan Mama. “Iya ya, sebetulnya Erna dan Esti juga tingginya hampir sama dengan aku. Tapi mereka selalu ada di depan,” ujarku.

“Terus satu lagi, senyumnya lebih lebar dong kalau sedang menari. Peppy itu cantik lho kalau senyumnya lebih lebar,” puji Mama sambil mencubit pipi kananku.

Aku jadi malu. Kalau kuingat, memang, aku sering lupa mengatur senyum saat sedang menari.

“Nanti di rumah, latihan menari di depan Mama, ya. Coba Mama kasih tahu apa saja yang harus Peppy perbaiki. Jadi kalau Mama minta ke Pak Wayan agar Peppy bisa di depan, Peppy memang pantas mendapatkan itu. Bagaimana?” tawar Mama.

Aku mengangguk-angguk dengan semangat tanda setuju. “Pokoknya, apapun aku lakukan asalkan aku bisa dapat menari di barisan paling depan!” tekadku.

Selama beberapa hari, Mama membimbingku untuk lebih giat berlatih. Apalagi, tari yang akan diujikan selain Tari Tenun adalah Tari Manuk Rawa, tari favoritku. Aku suka sekali tarian itu. Gerakan tarinya lincah. Agak melelahkan, sih. Tapi, aku malah menyukainya.

Selama beberapa hari berlatih, aku justru lupa akan keinginanku bisa menari di barisan depan. Yang ada, pikiranku selalu berkonsentrasi untuk menari lebih baik di tempat les dan saat berlatih di rumah. Aku juga makin teliti memerhatikan diriku saat menari dari dinding kaca yang ada ruang les tari.

“Minggu depan kita akan ujian. Cuma, saya ada pengumuman untuk perubahan formasi barisan Tari Manuk Rawa. Kali ini, Peppy ada di bagian depan ya. Sedangkan Esti dan Erna ada di belakang Peppy. Soalnya saya lihat, gerakan Peppy sangat bagus di Tari Manuk Rawa. Cuma untuk tari Tenun saja yang formasinya tetap,” ujar Pak Wayan saat memberi pengumuman di akhir latihan tari pada sebuah sore.

Aku langsung membelalakkan mata tanda tak percaya. “Apa, ada di barisan paling depan? Sendirian? Ah, baru kali ini nih Pak Wayan mengatur posisi seperti ini. Biasanya kan selalu Erna dan Esti yang ada di depan, berdua. Kali ini, aku benar-benar sendiri!” jantungku berdegup kencang karena senang.

Kulirik wajah Mama yang sedang tersenyum. “Mama, terima kasih,” bisikku lirih.

Saat pulang dari les tari, aku langsung mengecup pipi Mama.

“Terima kasih banyak, Ma. Pasti karena Mama kan yang sudah pernah bicara ke Pak Wayan agar aku dipindah ke depan?” ujarku tersenyum.

Mama justru kulihat berusaha menahan tawanya.

“Siapa yang sudah minta ke Pak Wayan agar kamu di depan? Nggak kok, Mama nggak bilang begitu ke Pak Wayan,” jawab Mama yang membuatku langsung berhenti tersenyum.

“Ah, yang benar, Ma?”

“Iya. Mama itu cuma sempat cerita ke Pak Wayan kalau kamu itu sebetulnya ingin di barisan depan. Tapi Mama juga bilang, rasanya kurang pas juga karena kemampuan menarimu memang masih tidak sebagus Erna dan Esti.”

“Ih Mama, anaknya sendiri kok enggak dipuji?” aku cemberut mengerucutkan bibirku.

“Waktu itu, Mama hanya tanya ke Pak Wayan, apa saja sebetulnya yang kurang bagus dari gerakanmu jika sedang menari. Eh, Pak Wayan lalu mengatakan kekuranganmu saat menari, persis seperti yang Mama dulu pernah sarankan ke kamu. Jadi, kalau sekarang kamu dapat tempat paling depan, itu memang karena usahamu sendiri, kok. Bukan karena Mama.”

Aku jadi tersipu.

“Nah, karena kamu sekarang sudah dapat barisan paling depan, tetap dijaga ya. Biar di ujian-ujian tari berikutnya, kamu bisa terus ada di depan seperti Erna dan Esti. Kan siapa tahu, suatu saat kamu berduet dengan Erna, Esti, atau dengan yang lainnya karena kamu dinilai bagus saat menari,” saran Mama.

Aku tersenyum. “Hm, menari di barisan paling depan saat pentas tari Manuk Rawa nanti akan jadi saat yang mendebarkan. Tapi karena aku menyukai tarian itu, aku akan coba menari dengan baik. Juga di tarian-tarian berikutnya,” tekadku dari dalam hati.

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls Edisi 24 Oktober 2012)

Rahasia Kalung Kakek Danu

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Di kampungku, semua orang kenal dengan Kakek Danu. Beliau adalah orang yang paling tua di kampungku. Umurnya saja 150 tahun! Tapi, Kakek Danu tetap kuat melakukan segalanya sendirian. Ia malah tidak suka jika disuruh untuk berdiam diri di rumah.

Kakek Danu punya sebuah hobi. Ia suka duduk lama di warung kopi. Sambil mengopi, Kakek Danu suka bercerita. Terutama, pengalaman masa mudanya saat berperang melawan Belanda dan Jepang.

Banyak yang curiga, kehebatan Kakek Danu pasti karena kalung yang selalu dipakainya. Bentuk liontinnya sangat unik karena mirip sebuah tulang. Warnanya putih kekuning-kuningan. Jika ditanya dari mana asalnya, Kakek Danu tidak mau menjawab. Ia cuma berkata, “Kalung keramat ini adalah kalung kesayanganku.”

Karena penasaran, akhirnya banyak orang yang selalu berusaha menebak-nebak.

“Pasti itu adalah peninggalan orang tua Kakek dulu, ya?” tebak seorang warga.

“Cuma, kok bentuknya seperti tulang yang diasah tak beraturan, Kek?” sahut yang lain.

“Saya tebak, pasti itu adalah gigi hewan purba yang sekarang sudah tidak hidup lagi!” ujar yang lain.

Kakek Danu cuma tersenyum mendengar semua tebakan itu. Namun tetap saja, Kakek Danu tidak mau memberi jawabannya.

Suatu ketika, datanglah dua orang dari kota yang mencari Kakek Danu. Mereka sempat melihat Kakek Danu yang pernah menjadi berita di televisi saat ditemui petugas sensus. Tak hanya itu, mereka juga mendengar desas-desus jika kalung yang dikenakan Kakek Danu adalah kalung keramat.

“Kami ini pengoleksi barang antik, Kek. Kami tertarik dengan kalung milik Kakek. Karena itu, kami ingin membelinya,” ujar satu dari dua pria tersebut.

Kakek Danu tertawa terkekeh-kekeh. “Aduh… maaf sekali ya, kalung ini tidak akan saya dijual.”

“Tapi, kami bersedia membayar mahal lho, Kek!” ujar pria dari kota tersebut.

Kakek Danu tersenyum. “Memangnya mau kalian bayar berapa kalung ini?”

“Hm… bagaimana jika dua puluh juta?” tawar pria tersebut.

Semua orang yang mendengar itu langsung terkejut. Termasuk juga Kakek Danu.

“Baiklah, beri saya waktu semalam dulu ya untuk berpikir,” jawab Kakek Danu pada akhirnya.

Semua orang lalu menebak-nebak. “Pasti Kakek Danu ingin mengadakan ritual dulu sebelum menjual kalungnya!”

“Iya, mungkin karena itu adalah kalung yang sudah membuat Kakek Danu panjang umur,” timpal yang lain.

“Tapi saya kira, besok pasti Kakek Danu akan menjual kalung itu. Uang dua puluh juta itu kan cukup besar!” yang lain ikut menyahut.

Keesokan harinya, semua orang yang ada di kampung berkumpul di rumah Kakek Danu. Mereka penasaran, apakah Kakek Danu akan jadi menjual kalung itu atau tidak. Mereka juga menebak-nebak, mungkinkah akan ada kejadian aneh saat kalung itu dilepas oleh Kakek Danu.

Kakek Danu yang tahu perilah itu jadi tertawa terbahak-bahak. “Baiklah, saya akan ceritakan semua tentang lionting kalung ini. Sebetulnya saya malu untuk menceritakannya. Karena liontin ini adalah gigi geraham saya yang terakhir kali copot waktu saya berumur 70 tahun!”

“Hah?” banyak orang terkejut saat mendengar itu. Mereka tidak menyangka jika benda kecil yang menjadi liontin kalung itu adalah gigi geraham Kakek Danu sendiri!

“Karena bentuknya lucu, saya membuatnya menjadi kalung. Sengaja saya tidak mau mengaku waktu kalian tanya. Saya khawatir, kalian semua akan jijik dengan kalung ini!”

Mendengar penjelasan itu, banyak orang menjadi malu. Termasuk, dua pria asal kota yang semula ingin membeli kalung tersebut.

“Jadi, mohon maaf, saya tidak ingin menjual kalung ini. Saya juga tidak ingin menipu kalian dengan mengaku kalau kalung ini adalah benda keramat,” ujar Kakek Danu pada dua pria asal kota tersebut.

Banyak orang yang kagum dengan sikap jujur Kakek Danu. Padahal jika  Kakek Danu mau berbohong, pasti Kakek Danu bisa mendapatkan uang yang banyak dari hasil penjualan kalungnya.

Tapi, tiba-tiba aku jadi penasaran dengan satu hal. “Lalu, yang membuat Kakek selama ini bisa berumur panjang, apa dong Kek?”

“Hehehe, Kakek ini kan suka berjalan-jalan waktu pagi hari tanpa menggunakan alas kaki. Kakek juga suka makan sayur dan buah-buahan. Jadi, bukan karena kalung ini Kakek panjang umur!” terang Kakek Danu.

Sejak itu, banyak orang di kampungku makin rajin memakan sayur dan buah-buahan serta berolah raga. Mereka semua ingin selalu bisa sehat seperti Kakek Danu.

 

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo, 18 Oktober 2012)

Badut yang tak Biasa

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Kenalkan, namaku Wira,” ujarku mengenalkan diri.

Beberapa teman di sekolah baruku itu lalu mengenalkan dirinya satu persatu.  Lalu, tibalah giliran seorang anak perempuan yang sangat berbeda caranya saat memerkenalkan dirinya.

“Namaku Rini. Ibuku bekerja sebagai badut. Kalau kamu mengadakan pesta ulang tahun, panggil ibuku, ya!”

Aku langsung tertawa mendengarnya. Tapi sewaktu kulihat teman-teman di sekitarku, mereka justru diam dan tidak ada yang tertawa.

“Oh, eh, maaf, ya. Aku tidak bermaksud menghina,” cepat-cepat aku berujar. Aku takut jika Rini yang baru kukenal beberapa jam itu lalu tersinggung. Aku juga khawatir jika teman-temanku yang lain ikut marah dan membuat aku tidak punya teman di hari pertamaku menjadi anak baru.

“Tidak apa-apa,” jawab Rini riang dan terlihat tidak tersinggung.

Saat Rini sudah menjauh, barulah Uwi yang duduk sebangku denganku, bercerita tentang apa yang pernah terjadi pada Rini.

“Sebetulnya, dulu bapaknya Rini yang bekerja sebagai badut. Dia sering dipanggil di pesta-pesta ulang tahun. Tapi suatu hari, bapaknya mengalami kecelakaan dan meninggal. Pekerjaaan menjadi badut itu lalu diteruskan ibunya Rini. Meskipun sebetulnya, ibunya Rini masih bekerja sebagai guru TK hingga saat ini,” cerita Uwi.

Aku termenung. “Lho, lalu kenapa ibunya masih mau menjadi badut? Lagipula, aduh maaf ya, Rini kok malah terlihat bangga sih?” tanyaku heran.

“Soalnya, ibunya Rini seorang badut yang istimewa. Kalau penasaran, coba undang ibunya Rini untuk mengisi acara pesta di rumahmu. Kamu pasti akan tahu maksudku!” timpal Uwi.

Akhirnya saat pulang sekolah, aku meminta pada Mama untuk mengadakan pesta dadakan dalam waktu dekat.

“Wira ini ada-ada saja! Memangnya pesta untuk apa? Hari ulang tahun Wira, kan masih lama?” Mama menolak permintaanku.

“Yah, anggap saja pesta keakraban, Ma! Biar Wira makin mengenal teman-teman di sekolah baru Wira dan juga yang ada di perumahan tempat kita tinggal sekarang ini,” jawabku.

Karena alasanku itu, akhirnya Mama dan Papa setuju. Seminggu kemudian, pesta itu jadi diadakan. Tidak hanya teman-temanku di sekolah dan di perumahan saja yang diundang, Papa dan Mama juga mengundang anak-anak dari sahabat-sahabat Papa di kantor barunya. Tentu, aku tak lupa mengundang ibunya Rini untuk menjadi badut dan mengisi acara pesta itu.

Waktu Rini dan ibunya datang, aku terkejut. Ternyata, Rini juga hadir dengan mengenakan kostum badut di pestaku. “Lho, kamu kok ikut-ikutan jadi badut?”

“Pst… lihat saja deh aksiku dengan ibuku nanti!” jawab Rini.

Rupanya saat beraksi, Rini dan ibunya juga mendongeng. Dongeng itu hasil karangan ibunya Rini sendiri. Ceritanya pun sangat lucu, tentang seorang kurcaci yang tiba-tiba ingin menjadi peri. Karena ibunya Rini dan Rini membawakannya dengan cara yang lucu, aku dan banyak orang di pesta itu pun jadi tertawa senang.

“Jadi ceritanya, kurcaci itu merasa tubuhnya yang mungil memang mustahil untuk menjadi besar setinggi manusia. Karena itu, ia lalu memasang daun pisang di kedua tangannya. Hup! Hup! Ia lalu mengepakkan tangannya berharap bisa terbang,” cerita ibunya Rini sambil meloncat–loncat dengan mimik wajah yang lucu.

Sewaktu atraksi selesai dan waktunya istirahat bagi semua tamu di pesta, aku lalu mendekati Rini.

“Wah, kamu dan ibumu hebat ya, Rin! Sekarang aku jadi tahu kenapa Uwi pernah bilang kalau kamu dan ibumu adalah badut istimewa,” pujiku tulus.

Rini tersenyum. “Terima kasih. Jadi ikut senang nih karena kamu suka penampilanku dan ibuku tadi. Kapan-kapan, undang kami lagi, ya!” jawab Rini dengan wajah berseri-seri.

Dalam hati aku juga kagum dengan Rini yang suka membantu ibunya saat sedang menjadi badut. Yah, pantas saja ia tidak malu. Ibunya memang badut yang istimewa!

 

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo, 27 September 2012)

Sachi yang Malas Sekolah

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Masa, soal seperti ini susah? Kayaknya pas ulangan harian, Sachi bisa, kan?”

“Iya.”

“Terus?”

“Tangan Sachi waktu itu lagi capek mengerjakan soal,” jawab Sachi seenaknya.

“Baiklah, kalau begitu liburan nanti enggak usah ke rumah Nenek di Jogja!”

Bunda berlalu meninggalkan Sachi yang tidak merasa bersalah. Tak berapa lama, Sachi mendengar Bunda menelepon Tante Ruri, sahabat dekat Bunda.

“Nilai ujiannya banyak yang rendah! Aku malu tho kalau ketemu gurunya nanti di sekolah.”

Dalam hati, Sachi justru puas karena sudah membuat Bunda marah. Ia sengaja melakukan itu karena merasa lelah sekolah dan juga les ini itu. Sedangkan menurutnya, Bunda cuma bisa kerja dan tidak mau tahu betapa capeknya Sachi.

“Biar deh, liburan nanti aku cuma di Batam,” ujar Sachi lirih.

“Sachi…” Bunda memanggil Sachi yang ada di kamar dengan suara keras. “Ayo, ikut Bunda sekarang.”

Mata Sachi seketika berbinar. “Jalan-jalan ya? Ke mana?”

“Nanti juga Sachi akan tahu.” jawab Bunda yang terlihat masih menyimpan rasa kesal. Karena tahu perasaan Bundanya, Sachi jadi tidak berani banyak bertanya selama berada di perjalanan.

Tempat yang Bunda tuju ternyata mal yang ada di Batam Centre. Bunda membeli banyak makanan. Tapi setelahnya, Bunda justru mengajak Sachi pergi dari mal itu. Sachi kecewa. Padahal ia kira, Bunda pasti akan mengajaknya makan di tempat favoritnya.

“Jadi kita cuma beli roti terus pulang?” tanya Sachi.

“Enggak,” jawab Bunda seadanya.

Dalam hati Sachi menduga, “Atau, Bunda ingin mengajakku ke pantai Barelang, ya?”

Nyatanya, mobil Bunda terus melewati belokan yang seharusnya mengarah ke Barelang. Beberapa menit kemudian, mobil Bunda akhirnya tiba di sebuah tempat yang asing bagi Sachi. Banyak bangunan berdinding kayu di tempat itu .

“Bu Dina? Wah, sepertinya sudah lama sekali saya tidak pernah bertemu Ibu. Apa kabar, Bu? Duh, terima kasih lho untuk bantuan yang sering Ibu titipkan ke Bu Ruri,” ujar seorang bapak tua yang menyambut mereka.

“Iya, mohon maaf Pak, saya sibuk terus. Oh iya, kenalkan, ini anak saya. Panggilannya Sachi,” ujar Bunda mengenalkan Sachi pada bapak tersebut.

“Hai Sachi,” sapa bapak yang bernama Pak Hari saat Sachi menyalami tangannya.

“Saya sengaja mengajaknya agar ia punya teman-teman baru di sini. Biar hari ini ia bermain di sini,” kata Bunda.

Sachi yang memang mudah akrab dengan siapa saja langsung berkenalan dan bermain dengan anak-anak di tempat itu. Akhirnya Sachi tahu jika tempat di mana ia ada saat itu adalah panti asuhan.

“Eh sebentar, tapi kok tempat kalian seperti ini?” Sachi keheranan sambil menatap ke sekeliling bangunan.

“Memangnya kenapa? Jelek?” tanya Amad, anak di panti tersebut.

“Maaf, maksud Sachi bukan begitu,” Sachi jadi merasa ia sudah salah bicara.

“Kami ini kebanyakan anak-anak yang dibuang sama orangtua kami. Ada juga orangtua kami yang tidak mampu dan akhirnya menitipkan kami di sini. Jadi, kami sih bersyukur saja bisa tinggal di sini meski kondisinya seperti ini,” kata Eli yang baru dikenal Sachi.

“Tapi kalian sekolah, kan?” tanya Sachi.

Sebetulnya Sachi sempat melihat ada seragam sekolah yang sedang dijemur. Tapi karena warnanya sudah hampir tidak jelas, Sachi jadi ragu. Jangan-jangan, itu cuma baju biasa yang bukan dipakai untuk ke sekolah.

“Tentu kami sekolah, dong!” seru Amad dengan wajah bersemangat.

“Iya, kalau kami tidak sekolah, kami nanti enggak bisa pintar dan enggak bisa kerja di kantor. Kalau kami besar, kami kan ingin juga seperti mamamu atau Tante Ruri. Bisa kerja di kantor, bisa punya mobil, terus…”

“Pokoknya kami ini harus tetap sekolah! Kayaknya, rugi ah kalau enggak sekolah. Kita jadi enggak bisa tahu banyak hal,” sahut Amad memotong pembicaraan Eli sambil tertawa.

Sachi lalu mendengar bagaimana bangganya Amad dan Eli yang bisa dapat peringkat lima besar di sekolah, Mereka berjuang untuk dapat beasiswa agar tidak perlu lagi membayar uang sekolah. Yang membuat Sachi heran, mereka tetap semangat sekolah meski harus selalu berjalan kaki setengah jam lebih lamanya.

Dalam perjalanan pulang ke rumah, Sachi banyak berdiam diri.

“Kok jadi pendiam? Tadi, ngobrol apa saja di sana?” tanya Bunda.

Sachi malah menangis sesenggukan. “Bunda, maafin Sachi ya. Sachi sengaja bikin nilai-nilai Sachi jelek. Sachi kesal sama Bunda yang terus menyuruh Sachi ikut les ini itu. Bunda terus sibuk kerja tapi enggak pernah mau tahu capeknya Sachi kalau belajar.”

“Hm, berarti benar tebakan Tante Ruri. Sebetulnya, jalan-jalan ke panti itu tadi idenya Tante Ruri. Ia pikir, mungkin Sachi sedang bosan sekolah. Makanya Tante Ruri usul supaya Sachi diajak ke panti saja. Biar Sachi tahu, di tempat itu ada anak-anak yang justru bersyukur bisa sekolah meski dengan kondisi seadanya.”

“Tapi Bunda, Sachi memang capek. Enggak usah pakai les, ya? Nanti kalau nilai Sachi jelek, Bunda baru suruh Sachi les.”

Bunda terdiam sejenak. “Oke, Bunda juga janji enggak melulu sibuk kerja lagi dan ikut menemani Sachi belajar. Tapi Sachi janji harus memerbaiki nilai di sekolah ya!”

Bunda lalu menghentikan mobilnya ke tepi jalan. Dengan erat, Bunda memeluk Sachi yang kini sudah menyimpan janji.

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls, 31 Juli 2012)

Kamera Ama

Oleh: Ika Maya Susanti

            “Pokoknya Rara mau kamera! Masa, Ama saja dibelikan kamera saku oleh Papa dan Mamanya, aku enggak?”

Aku berlalu meninggalkan Bunda yang justru terlihat tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Yah, bundaku selalu begitu. Bukannya malah menenangkanku, tapi malah tersenyum. Karena kesal, aku lalu keluar dari rumah dan berjalan dengan langkah malas ke arah lapangan basket yang ada di seberang rumahku.

Keluargaku, dan juga keluarganya Ama tinggal di sebuah lingkungan SMA berasrama. Karena usia kami hanya terpaut satu tahun, membuat kami jadi bersahabat dekat. Apalagi di lingkungan sekolah itu, hanya kami berdua saja yang usianya hampir sebaya. Banyak anak dari teman-teman bundaku yang mengajar di sekolah itu, usianya masih kecil.

Hari ini hari Minggu. Banyak siswa di sekolah tempatku tinggal yang sedang bermain basket atau bermain bola di lapangan bola yang letaknya tak jauh dari lapangan basket. Ah, mereka terlihat senang sekali. Sementara, aku justru sedang merasa tidak nyaman. Apalagi, kalau bukan karena permintaanku yang tidak dikabulkan oleh Bunda dan Ayahku. Mereka berdua masih saja tidak mau membelikanku kamera saku.

“Hai Rara, kamu dan keluargamu tidak keluar sekolah hari ini?” tanya Ama yang ternyata sudah ada di dekatku.

Aku cuma mengangkat bahu dengan tidak bersemangat. Sebetulnya tadi sempat kudengar siang ini Bunda dan Ayah akan mengajak aku dan adikku ke mall membeli kebutuhan bulanan seperti biasanya. Saat bisa keluar dari lingkungan sekolah adalah waktu yang selalu menyenangkan untukku. Tapi karena mereka tidak mau membelikanku kamera saku, ah, rasanya jadi malas jika harus ikut keluar.

“Cekrik. Cekrik.” Suara bidikan kamera Ama terdengar. Aku langsung menoleh dan melihat ke arah Ama yang sedang tersenyum senang.

“Hihihi… wajahmu jika sedang cemberut lucu juga ya!” seru Ama.

“Apaan sih?” aku membentak kesal. “Lain kali kalau mau foto orang itu jangan seenaknya begitu dong! Mentang-mentang punya kamera. Huh!” aku mendengus.

“Aduh, maaf… Sepertinya kamu sedang be-te ya hari ini? Tumben!”

“Suka-suka aku dong!” timpalku sengit.

“Ya sudah, kalau begitu aku ke tempat lain saja deh, cari objek foto yang lain,” Ama lalu melangkah pergi meninggalkanku di bangku pinggir lapangan basket.

“Ah, tanpa Ama rasanya lebih enak. Lebih baik aku sendirian di sini, melihat kakak-kakak itu bermain basket. Dari pada makin sakit hati melihat Ama yang asyik dengan kameranya!” batinku.

Tapi nyatanya, pandanganku tidak bisa lepas dari Ama dan kameranya. Dari kejauhan, aku melihat Ama yang begitu asyik membidik ke berbagai objek. Tak jarang, banyak dari kakak-kakak SMA yang meminta Ama untuk memotretnya.

“Ah, menyebalkan!” aku kembali memandang ke arah lapangan basket. Namun tak lama kemudian…

“Aah!” sebuah seruan dari beberapa anak terdengar dari arah lapangan sepak bola. Kontan, aku melihat ke arah sumber suara yang ternyata berasal dari kerumunan tempat Ama dan beberapa kakak SMA yang ada di sana.

Karena ingin tahu, aku berlari mendekat.

“Ada apa, Kak?” tanyaku pada seorang kakak.

“Itu, kameranya Ama jatuh kena bola yang tak sengaja tertendang ke arah sini,” kata-kata itu entah kenapa tiba-tiba terdengar sebagai hal yang menyenangkan di telingaku.

“Lalu?” aku pura-pura perhatian dengan apa yang dialami Ama.

Ama kemudian menunjukkan kameranya yang ternyata memang rusak. LCD kameranya retak.

“Hehe, kameranya rusak deh!” Ama meringis, memaksakan senyumnya, lalu menghela nafas besar.

Sambil berjalan pulang, Ama berujar, “Aku tahu, Papa dan Mamaku mungkin tak akan marah. Mereka tahu, aku ingin sekali belajar fotografi sehingga mereka membelikan kamera saku ini. Tapi aku sedih, karena mereka kan sudah memercayakan aku untuk memiliki kamera ini. Ah, rasanya tak enak kalau aku harus meminta kamera baru lagi,” ujar Ama sambil menimang-nimang kameranya.

Mendengar alasan Ama memiliki kamera itu, hatiku yang awalnya senang jadi agak merasa berubah.

“Memangnya kamu sungguh-sungguh ya ingin belajar fotografi? Maaf, awalnya aku kira kamu cuma ikut-ikutan saja,” ujarku.

“Fotografi itu hal yang menyenangkan, Ra. Aku jadi bisa menyimpan banyak hal indah yang aku lihat dalam jepretan kamera. Awalnya aku cuma tahu dari sepupuku yang hobi fotografi. Aku lalu ingin belajar juga. Waktu aku minta dibelikan kamera ke Papa dan Mamaku, mereka juga sempat tanya, apa aku ini cuma ikut-ikutan saja atau memang benar-benar ingin belajar. Aku lalu janji jika kamera itu benar-benar aku pakai untuk belajar fotografi. Papa dan Mamaku juga berujar, kalau kamera itu tidak aku pakai belajar, maka kameranya akan diambil oleh mereka. Tapi… ah, kamera ini sekarang rusak!” keluh Ama sedih.

Aku jadi malu sendiri dengan diriku. Karena awalnya, tujuanku ingin dibelikan kamera justru karena aku ingin terlihat keren seperti yang kulihat dari Ama.

“Terus, sekarang jadi gimana dong?”

“Yah, sepertinya aku harus menabung dulu untuk bisa punya kamera lagi. Enggak enak ah kalau minta dibelikan kamera lagi,” kata Ama yang lagi-lagi memaksa dirinya untuk berujar sambil tersenyum.

Aku memandang Ama dengan rasa kasihan sekaligus kagum. “Ah Ama, semoga dirimu bisa punya kamera lagi ya!” doaku dari dalam hati.

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Girls tanggal 23 Mei 2012)