Klapertart Sahnaz

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

Faras tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di Minggu pagi itu. Beberapa meter dari tempatnya berdiri, ada Sahnaz, teman sekolahnya yang sedang berjualan di pasar Minggu pagi yang ada di Jalan Semeru.
“Bukannya dia anak dosen yang katanya habis sekolah di Jerman? Anak dosen kok jualan di emperan?” batin Faras heran.
Sejenak Faras mengingat-ingat dan lalu mengangguk mantap. Faras ingat betul itu karena ia sempat iri dengan cerita-cerita Sahnaz selama hidup di Jerman. Sahnaz yang beberapa lalu menjadi anak baru di sekolahnya banyak memikat hati teman-temannya dengan cerita-ceritanya. Ya, siapa sih yang tidak mau merasakan hidup setahunan lebih di Jerman, bisa bersekolah di sana, dan banyak mengujungi tempat mengasyikkan selama di sana. Dan yang lebih membuat Faras iri, Sahnaz telah membuatnya tersingkir dari teman-temannya. Banyak temannya yang tidak lagi tertarik dengan cerita-ceritanya saat tampil memainkan biola di berbagai tempat serta berbagai prestasinya di tingkat nasional bahkan internasional.
Kembali Faras terpaku dan ragu untuk terus melangkah. Padahal ia ingin sekali ke arah penjual yang ada di dekat tempat Sahnaz berjualan saat ini. Di situ, biasanya ada orang berjualan buah kering yang menjadi langganannya.
“Uh, nanti kalau aku lewat situ, pasti aku akan dipanggilnya. Terus, aku disuruh beli barang dagangannya lagi. Ih, malu-maluin saja!” gerutu Faras.
Tiba-tiba sekejap saja Faras terkejut karena rupanya Sahnaz menyadari ada orang yang sedang memerhatikannya. Faras buru-buru mengalihkan tatapannya saat pandangan mata Sahnaz beradu dengan tatapan matanya Faras. Tak menunggu hitungan detik, Faras langsung bergegas pergi. Ia sempat mendengar suara Sahnaz yang memanggil-manggil namanya. Tapi Faras pura-pura tidak mendengar.
Keesokan paginya di sekolah, Faras kembali melihat keriuhan teman-temannya yang berkumpul di dekat Sahnaz.
“Ah, lagi-lagi si tukang cerita itu pasti sedang mengobral cerita,” gerutu Faras sendirian.
Sebuah tepukan di bahu yang dirasanya tiba-tiba membuat Faras terkejut.
“Ras, kamu kemarin aku panggil-panggil kok enggak dengar sih?” seru Nadine.
“Oh ya? Masa sih?” Faras memutar bola matanya ke arah kanan mencoba mengingat-ingat. Ia tak merasa mendengar suara Nadine yang memanggilnya kemarin saat ia ke pasar Minggu pagi.
“Bukannya kemarin yang memanggil namaku itu Sahnaz ya? Oh, rupanya Nadine,” bisik hati Faras.
“Aku kemarin ikut nongkrong di emperan sama Sahnaz. Awalnya sih aku kebetulan lewat. Eh, baru tahu kalau Sahnaz itu ternyata sejak Minggu pagi kemarin jualan klapertart di sana. Pas nyoba, ternyata enak! Jadi ketagihan deh dan akhirnya nongkrong di situ sambil beli dan mencoba terus klapertartnya Sahnaz,” Nadine bercerita panjang.
“Makan klapertart? Di emperan? Ih, enggak banget deh!” batin Faras. Namun ia tetap memasang tampang senyum meski agak ditahan di depan Nadine.
“Oh iya, kamu lihat Sahnaz enggak?”
Faras langsung mengarahkan kepala dan tatapan matanya ke arah Sahnaz yang masih dikerubungi teman-teman sekelasnya.
“Soalnya aku kemarin pesan ke dia. Kamu harus coba klapertart buatan mamanya Sahnaz, Ras. Enak! Dijamin bisa ketagihan kayak aku,” Nadine tertawa lalu beranjak mendekati Sahnaz.
Mood Faras langsung buruk pagi itu. Teman-temannya sedang memusatkan perhatiannya ke Sahnaz. Nadine juga malah menambahi dengan cerita klapertart buatan mamanya Sahnaz yang katanya lezat. Semuanya terasa menyebalkan baginya.
“Sahnaz, dan Sahnaz lagi! Membosankan!” Faras menggerutu pelan. Ia letakkan kepalanya di atas kedua tangan yang ia lipat dan ditumpuk di atas meja.
“Hei Faras, kamu kemarin sih sudah dipanggil-panggil sama Nadine tapi kamunya enggak dengar. Nih, klapertartnya tinggal satu. Khusus buat kamu, deh,” Sahnaz tiba-tiba menghampiri meja Faras dan meletakkan semangkuk kecil klapertart.
Faras hanya menatap klapertart bertabur kismis dan kacang almond yang nampaknya lezat di matanya.
“Ini klapertartnya spesial, Ras. Mamaku kan asli Manado. Dia punya resep khusus. Kamu coba deh. Nanti kalau enak, kamu bisa beli ke aku,” ujar Sahnaz sambil tertawa dan mengerlingkan mata.
Pada akhirnya Faras memasukkan sesendok klapertart yang langsung membuat matanya mengerjap-kerjap.
“Enak banget!” seru Faras spontan.
“Terima kasih. Hehe, berarti lain kali kamu harus beli,” Sahnaz tersenyum senang. “Aku senang, di sini teman-teman juga mendukung aku jadi pengusaha kecil. Jadi pengusaha itu cita-citaku, Ras. Papaku kan dosen ekonomi. Sering ia memberitahu bagaimana cara bisnis yang asik. Katanya, satu kunci suksesnya itu harus berani. Awalnya aku ragu dan takut malu. Tapi untungnya teman-teman di sini malah mendukungku.”
Faras masih terus diam setelah mendengar celoteh Sahnaz. Banyak hal sedang berputar di kepalanya. Ada rasa malu sendiri, salut, dan tentunya rasa kelapa dan kismis yang sedang bermain di lidah Faras membuatnya terus ketagihan.
“Eh sudah ya. Jangan lupa, aku tunggu pesanannya.”
“Naz, terima kasih,” pada akhirnya Faras bisa tersenyum pada Sahnaz.
Kini Faras tahu, apa yang membuat teman-temannya menyukai Sahnaz. Temannya itu punya kepribadian yang periang dan ramah, berani tidak malu, serta gigih berjuang demi cita-citanya.

*cerpen ini pernah dimuat di Majalah GIRLS No. 06/Th.X, yg terbit 22 Oktober 2014

Tetangga Pak Topi Hitam

Standard

Tetangga Pak Topi Hitam1

Tetangga Pak Topi Hitam2
Oleh: Ika Maya Susanti

“Tetangga yang baik itu suka kebersihan, enggak suka berisik, lalu kalau dikasih makanan itu ya balas memberi makanan,” Pak Topi Hitam berhenti mengomel sejenak. Ia teringat Pak Gendut yang dulu tinggal di sebelah kiri rumahnya.
“Balas memberi makanannya itu juga harus yang enak. Aku kan sudah memberi dia mi istimewa yang kubuat dengan sari strawberry. Eh, dia cuma mengirimi aku mi goreng biasa. Tetangga macam apa itu?” Pak Topi Hitam terus mengomel sambil berjalan. Ia tidak sadar jika langkahnya telah sampai di Kampung Baru tempat para tetangganya sekarang tinggal.
Dulu, Pak Topi Hitam hidup dikelilingi tetangga yang baik dan ramah. Namun selalu ada yang menurutnya kurang baik dari para tetangganya itu. Karena tidak tahan, satu per satu para tetangga Pak Topi Hitam pindah ke Kampung Baru. Mereka menghormati leluhur Pak Topi Hitam yang pernah membangun Desa Lama.
Saat sadar, Pak Topi Hitam lantas segera bersembunyi. Ia ingin tahu bagaimana kehidupan para tetangganya kini di Kampung Baru.
Ia melihat Bu Rok Kuning sedang memetik labu. Pak Topi Hitam memekik tertahan. Itu buah kesukaannya! Dulu, ia sering membuat kue labu. Tapi tidak lagi sejak Bu Rok Kuning pindah. Pak Topi Hitam selalu kesal pada Bu Rok Kuning yang suka memupuk kebunnya dengan kotoran sapi. Menurut Pak Topi Hitam, kebun labu jadi membuat lingkungan desanya bau.
Lalu, ia melihat Nona Sepatu Besar sedang membawa sekeranjang apel hijau. Lagi-lagi Pak Topi Hitam menutup mulutnya erat-erat. Ia takut suara memekiknya terdengar karena begitu ingin apel itu. Dulu Nona Sepatu Besar sering datang ke rumahnya memberi apel hasil kebunnya sambil bernyanyi keras. Pak Topi Hitam tak suka dengan suara Nona Sepatu Besar yang berisik. Tapi sejak Nona Sepatu Besar pergi, ia tidak bisa lagi membuat manisan apel.
Pak Topi Hitam mengeluh. “Uh, andai saja aku bisa berkebun, pasti aku bisa membuat kue labu dan manisan apel yang lezat!”
Tak lama kemudian, Pak Topi Hitam melihat Pak Gendut berjalan melintas. Ia menyapa Nona Sepatu Besar dan Bu Rok Kuning. “Wah, labu yang besar dan bagus. Apel-apelnya juga terlihat segar. Andai ada Pak Topi Hitam, ia pasti bisa membuat makanan yang lezat.”
Nona Sepatu Besar tertunduk sedih menatap keranjang apelnya. “Sayang, aku tidak bisa membuat manisan apel seenak buatannya. Andai bisa, aku ingin membuatnya dan mengirimkan untuk Pak Topi Hitam. Bukankah sekarang hari ulang tahunnya? Aku ingin memberi kado itu untuknya.”
“Ya, aku juga tidak bisa membuat kue labu yang lezat. Aku ingin membuatnya dan memberikan itu padanya. Tapi, ia pasti tidak suka,” sahut Bu Rok Kuning.
“Sama. Aku juga tidak bisa memasak yang enak. Eh, bagaimana jika malam ini kita diam-diam datang ke rumahnya? Kita letakkan saja sekeranjang apel dan sebuah labu besar di depan pintu rumahnya?” usul Pak Gendut.
Mata Bu Rok Kuning dan Nona Sepatu Besar langsung berbinar.
“Usul yang bagus. Biar dia sendiri yang memasaknya. Sejak kita pergi, ia tidak bisa lagi membuat kue labu dan manisan apel karena ia tidak pernah bisa berkebun,” ujar Bu Rok Kuning.
“Ya, aku setuju. Aku janji, nanti malam aku akan datang dan tidak bernyanyi. Aku tak mau ia terganggu lagi dengan suaraku,” ucap Nona Sepatu Besar.
Pak Topi Hitam yang mendengar semua itu merasa terharu, para tetangganya masih ingat makanan-makanan yang suka ia buat. Bahkan mereka ingat jika sekarang hari ulang tahunnya. Sementara Pak Topi Hitam sendiri malah lupa.
Sebuah ide terbersit di kepala Pak Topi Hitam. Ia ingin menyambut kedatangan tetangganya malam ini dan membuatkan kue labu dan manisan apel untuk dimakan bersama. Pak Topi Hitam malu, ia selalu menuntut tetangga-tetangganya ini dan itu.

(Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo Edisi 24 Terbit 25 September 2014)

Perpustakaan di Atas Awan

Standard

Bobo Perpustakaan Di Atas Awan

Oleh: Ika Maya Susanti

Permintaan itu cukup sulit!

“Hanya lima buku saja kok, Nji. Bukumu kan banyak sekali,” pinta Tante Astari sekali lagi.

Tapi Panji begitu mencintai semua buku-bukunya. Apalagi ia bercita-cita nanti ingin punya perpustakaan sendiri.

“Tiga saja,” jawab Panji berat. Ia juga belum tahu, buku mana yang akan ia berikan pada Tante Astari.

“Buku yang banyak gambarnya, ya. Mereka pasti suka melihatnya. Mereka banyak yang kurang mengerti bahasa Indonesia.”

Panji langsung menghela napas. Dengan gerak pelan karena malas, ia membuka lemari bukunya. Cukup lama Panji memandangi satu per satu buku-buku yang tertata rapih di sana. Ia tidak tega harus mengambil tiga buku dan berpisah dari mereka.

Tiga buku akhirnya telah dipilih Panji. Buku berjudul Peri Ungu, Gajah yang Baik Hati, dan Mobil Gulali itu lalu diberikannya pada Tante Astari.

“Terima kasih Panji. Anak-anak di Wae Rebo yang ada di Nusa Tenggara Timur pasti sangat berterima kasih dan senang bisa melihat buku ini,” Tante Astari memasukkan buku itu ke dalam tasnya.

Panji memalingkan wajah. Ia berharap bisa melupakan buku-buku itu segera.

***

Setelah seminggu Tante Astari pergi meliput ke daerah timur Indonesia, sore itu Panji berjumpa lagi dengannya. Biasanya, Panji suka bila bertemu tantenya lagi usai meliput dari luar kota apalagi dari luar pulau. Tak hanya oleh-oleh, Panji bisa tahu banyak cerita tentang banyak tempat dari tantenya. Tapi kali ini, Panji merasa tidak bersemangat menyambut kedatangan tantenya.

“Nih, oleh-oleh buat Panji,” Tante Astari memberikan kain seperti selendang panjang dan gantungan kunci komodo.

“Terima kasih,” Panji menerimanya dengan wajah muram tak bersemangat. Ia masih sedih. Buku-buku itu memang sudah tak pernah dibacanya lagi karena Mama dulu membelikannya saat ia masih TK besar. Waktu ia baru bisa membaca. Banyak kenangan tentang buku-buku itu.

“Nji, ke sini deh. Tante mau menunjukkan sesuatu.”

Panji menghampir Tante Astari yang sedang membuka laptopnya. Tak lama kemudian, ia melihat foto-foto hasil liputan Tante Astari.

“Mereka senang sekali lho Nji, dapat buku-buku itu. Selama ini, mereka kesulitan mendapat buku-buku bagus. Lihat nih, untuk sampai ke desa itu, Tante harus menempuh jarak hampir setengah hari dengan mobil dari pusat kota. Terus, Tante harus jalan kaki lagi selama empat jam. Baru deh sampai di desa Wae Rebo.”

Panji melihat beberapa foto Tante Astari selama berjalan menuju desa. Jalannya terlihat sulit untuk dilalui. Ia bahkan melihat Tante Astari harus berjalan dengan menggunakan tongkat.

“Ini karena kaki Tante sakit?” Panji mulai tertarik dengan cerita tantenya.

“Sedikit sih. Kalau pakai tongkat, jalannya jadi nggak seberapa capek. Padahal tas Tante saja sudah dibawakan orang. Tante nggak sanggup kalau jalan sambil gendong tas. Nah, ini desanya. Cantik ya? Seperti di atas awan.”

Panji melihat foto beberapa rumah dengan atap kerucut yang hampir sampai ke tanah. Mirip topi-topi kerucut yang berada hamparan padang rumput. Foto itu diambil dari atas. Benar kata Tante, desanya seperti di atas awan.

“Nah, ini dia perpustakaannya!” seru Tante Astari.

Panji membelalakkan mata melihat foto-foto yang dilihatnya. Gedung perpustakaan itu mirip dengan rumah kerucut lainnya. Ia berada di atas bukit. Dari foto itu, Panji melihat isi perpustakaan yang hampir kosong.

“Lho, ke mana buku-bukunya?” celutuk Panji.

“Nah, itu dia Nji. Bayangkan saja, rumah mereka jauh dari pusat kota. Jauh sekali kalau mau beli buku. Kasihan, kan?”

Panji tak seberapa mendengar kata-kata tantenya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menahan perasaan tidak nyaman saat melihat foto-foto yang ada. Ada anak-anak berkulit gelap yang tersenyum senang saat berebut ingin membuka buku dari Panji.

“Tante kapan lagi ke sana? Panji mau nitip buku lagi buat mereka,” seru Panji spontan.

Tante Astari tersenyum. “Nah, sayangnya Tante kurang tahu bisa ke sana lagi kapan.”

Panji menyesal. Andai saja waktu itu ia memberi lebih banyak buku. Andai saja ada pintu ajaib yang membuat ia saat itu juga bisa memberi atau meminjamkan buku-buku miliknya. Dilihatnya lemari buku miliknya. Buku-buku itu begitu tenang di sana dan hanya sesekali ia buka. Sementara jika di Wae Rebo, anak-anak itu akan lebih sering menyentuh dan membukanya.

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo Bulan Juli 2014

 

Cita-cita Qisia

Standard

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            Angin menerbangkan rambut Qisia yang sedang melamun saat duduk di atas boncengan sepeda ayahnya. Ia tersadar dan penasaran mengapa negaranya hingga kini belum punya stasiun luar angkasa dan segala perangkat antariksa canggih lainnya.

            Kemarin, Qisia mendapat pertanyaan dari teman-temannya setelah mereka sibuk membanggakan negaranya masing-masing. Ini untuk kesekian kalinya Qisia kesulitan harus menjawab pertanyaan teman-temannya di Sekolah Saint John’s Heidelberg Jerman.

            Dulu sewaktu awal datang ke sekolah itu dan memperkenalkan diri dari Indonesia, banyak temannya yang menanyakan hal aneh. Ada yang bertanya, Indonesia itu ada di mana. Ketika ia jawab dekat Australia, Singapura, dan Malaysia, mereka malah bertanya apakah Indonesia itu dekat dengan Bali. Rasanya ingin sekali Qisia tertawa. Tapi lantas ia menahan mulutnya. Ia melihat tatapan serius teman-temannya yang memang tidak menganggap itu sebagai hal konyol. Saat Qisia menjawab Bali itu sebuah pulau di Indonesia, barulah mereka menggangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Qisia sungguh tak habis pikir, mengapa Bali lebih terkenal dari pada Indonesia.

            Pertanyaan lain yang membuat Qisia sampai membelalakkan mata adalah pertanyaan Frau, temannya dari Rusia. “Apakah di Indonesia itu ada listrik?” Katanya, ia pernah melihat acara tivi tentang orangutan di Kalimantan. Karena itu ia berpikir, Indonesia seperti kebanyakan negara di Afrika. Pertanyaan itu membuat Qisia harus menggigit bibirnya karena merasa tidak nyaman. Ia sedih, kenapa sampai ada orang di luar negeri yang menganggap Indonesia masih belum ada listrik.

            Qisia menghembuskan nafas berat. Ia tidak pernah menyesali keputusan ayahnya yang membawa ia dan ibunya untuk ikut tinggal di Jerman, menemani ayahnya yang sedang kuliah S3. Qisia malah senang, ia jadi bisa tahu banyak hal baru. Tapi jika itu tentang teman-temannya yang saling menceritakan negaranya masing-masing, Qisia kerap merasa tidak nyaman.

            “Ayah, kenapa negara kita tidak punya perangkat antariksa canggih?”

            Pertanyaan Qisia membuat ayahnya yang sedang mengayuh sepeda di tepi Sungai Rhein jadi menghentikan kayuhnya.

            “Memangnya kenapa Qisia? Qisia mau jadi astronot?” tanya Ayah.

            Qisia lalu bercerita tentang kejadian yang kemarin ia alami di sekolah. Frau Elter dan Tatjana bercerita kalau Rusia, Amerika, dan Jerman punya roket, pesawat antariksa, dan stasiun luar angkasa.

“Temanku Tang Tang dari China juga bilang punya. Iman dan Sharina dari India juga bisa buat. Kenapa Indonesia tidak punya? Apa kita tidak punya uang ya? Atau kita tidak mampu membuatnya? Kenapa?” Qisia mengulang pertanyaan-pertanyaan yang ia terima kemarin. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya cuma bisa tersenyum malu karena tidak bisa menjawab. Untungnya, saat itu Miss Elfreda memanggilnya ke kantor. Jika tidak, Qisia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi teman-temannya.

Ayah mengelus rambut panjang Qisia. “Nak, kalau Ayah menjawab dengan jelas pertanyaan teman-temanmu itu, rasanya akan sangat panjang penjelasannya. Intinya, negara kita memang belum mampu. Dan karena itulah ayah sampai mengajakmu untuk sekolah di Jerman. Ayah tidak sekedar ingin meminta Qisia dan Ibu menemani ayah belajar di sini. Kamu harus punya banyak ilmu dari sini.”

Qisia mengedip-kedipkan matanya sambil menatap kedua mata ayahnya dalam. “Ayah ingin Qisia jadi astronot, lalu karena itu Qisia harus belajar di Jerman? Qisia tidak mau jadi astronot, Ayah!” seru Qisia.

Ayah langsung tertawa terbahak-bahak, membuat seorang kakek tua yang kebetulan lewat di dekat mereka jadi tersenyum dengan heran.

“Memangnya Ayah memaksa Qisia jadi astronot? Memangnya Qisia mau jadi apa? Ayah sama Ibu akan menghargai apapun cita-cita Qisia asal itu positif, kok.”

“Qisia kira Ayah benar-benar serius mau menjadikan Qisia astronot karena negara kita tidak punya peralatan canggih antariksa,” Qisia bernafas lega.

Ia lalu teringat Om Hendra, adik ayahnya yang seorang dosen Elektro yang ahli Fisika dan bisa membuat berbagai perangkat elektronik unik di rumahnya sendiri.

“Qisia pengen seperti Om Hendra saja. Ahli Fisika. Nanti, Qisia akan sekolah di Kaiserslautern,” ujar Qisia yakin sambil menyebut sebuah universitas di Jerman yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya.

Ayah langsung membelalakkan mata. “Wah, kalau kamu kuliah di sana, uangnya siapa, Qisia? Hm, semoga ayahmu ini banyak rejeki ya biar kamu bisa kuliah di sana.”

“Ya uang beasiswa, dong. Kayak Ayah sekarang. Kan Qisia ini punya otak cemerlang. Qisia yakin, suatu saat bisa menunjukkan ke dunia kalau Indonesia itu hebat dan punya seorang ahli Fisika bernama Qisia!”

“Aamiin,” Ayah mengamini kata-kata Qisia. “Oh iya, ahli Fisika itu juga bisa jadi astronot, lho!”

“Masa iya, Yah?”

Ayah mengangguk-angguk kepalanya sambil menggerak-gerakkan alisnya. “Jadi, mau jadi ahli Fisika atau astronot?” goda Ayah.

Qisia berpikir sambil menatap Sungai Rhein. “Yang jelas, Qisia mau membuat Indonesia bangga dan tak ada lagi yang mengira kalau di Indonesia itu tidak ada listrik.”

Ayah dan Qisia lalu saling pandang dan tertawa bersama. Ya, Qisia memang masih tak habis pikir, kenapa zaman sekarang masih ada yang mengira Indonesia itu tak ada listrik ya?

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls No.19/Th.IX, terbit 23 April 2014

Cuaca Es Krim

Standard

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Cuaca ekstrim yang sedang terjadi akhir-akhir ini diperkirakan masih akan melanda beberapa daerah di Indonesia selama dua bulan ke depan. Untuk itu masyarakat perlu waspada dan menjaga kondisi tubuhnya untuk menghadapi cuaca tersebut.”

            “Apa tadi kata penyiarnya? Cuaca es krim?” celutuk nenekku yang biasa kupanggil dengan panggilan Mbah Putri.

            “Hihihi, cuaca ekstrim, Mbah,” aku tertawa geli sambil membetulkan ucapannya.

            “Lha yo, cuaca es krim, tho? Kok aku baru dengar ya ada cuaca namanya cuaca es krim? Aneh banget!”

            “Eks-trim!” seruku lebih keras lagi sambil mengeja, membetulkan ucapan mbahku yang masih yakin bahwa yang didengarnya adalah kata es krim.

            “Iya, cuaca es krim itu apa tho? Bukannya yang namanya cuaca itu ya cuma hujan dan panas, ya?”

            Aku termenung beberapa saat. “Aduh, apa ya? Nanti deh Mbah, Rena cari tahu dulu ya,” jawabku pada akhirnya. Lagi pula, aku merasa sudah menyerah jika harus terus membetulkan ucapan mbahku yang melulu mengucap kata es krim.

            Aku dan Mbah Putri sore itu sedang asyik melihat televisi. Kebetulan, kami sedang melihat berita tentang berbagai bencana alam yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.

            “Cuaca ekstrim? Apa maksudnya banjir di mana-mana, gempa dan tsunami?” aku mengelus-elus kepalaku sambil berpikir.

            Sebetulnya, aku bisa saja bertanya pada Mama atau Papa pada sore hari nanti saat mereka pulang kerja. Atau, aku bisa menanyakannya pada guruku di sekolah esok harinya. Tapi, saat ini aku tidak tahan dengan rasa ingin tahuku dan aku sungguh penasaran!

            Aku sering mendengar kata cuaca ekstrim dari berita. Di sekolah, aku dan teman-temanku jadi sering mengucap kata-kata itu saat sedang mengeluh tentang cuaca akhir-akhir ini yang bisa panas dan lalu mendadak hujan. Tapi…

            Aku lalu menepuk jidatku sendiri. Ya ampun, aku baru sadar. Terrnyata, sebenarnya selama ini aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan cuaca ekstrim!

            Segera kunyalakan komputer dan membuka halaman Google. Aku ingat, Mama pernah berpesan kalau aku sedang ingin tahu sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan, aku bisa mencarinya di Google.

            Segera kuketik di kotak Google. “Cuaca ekstrim adalah,” ejaku sambil mengetik.

            Ternyata, tidak ada situs yang langsung bisa membuatku menemukan arti kata cuaca ekstrim. “Yah, sepertinya aku harus membuka situs ini satu persatu.”

            Dari beberapa situs itu, aku memang menemukan penjelasan tentang cuaca ekstrim.

            “Cuaca ekstrim adalah kondisi cuaca yang sangat jarang terjadi, mengandung resiko bencana, dan parameter yang diukur nilainya…” kedua alisku langsung naik.

            “Aduh, kenapa kok bahasanya rumit begini ya? Bagaimana aku bisa menerangkan ke Mbah Putri kalau aku sendiri saja masih bingung dengan penjelasan ini?”

            Kucoba lagi membaca penjelasan dari beberapa situs yang ada. Ada yang menjelaskan, cuaca ekstrim itu seperti yang terjadi di Bandung. Jika siang hari suhunya sangat panas, lalu malam harinya bisa jadi sangat dingin.

            Selesai membaca beberapa situs, tetap saja, aku tidak mengerti dan tidak menemukan apa itu cuaca ekstrim.

            “Sepertinya, aku harus bertanya pada mama, papa, atau guru di sekolah, nih!” ujarku menyerah pada akhirnya.

            “Mbah, Rena masih belum menemukan artinya cuaca ekstrim di internet,” kataku sambil kembali duduk di sebelah Mbah Putri.

            “Apa Na, es krim? Kan, mamamu masih menyimpan es krim di kulkas. Kamu ini kok ya aneh. Hujan-hujan begini, kenapa malah mau makan es krim? Tuh, Mbah Putri baru saja menggoreng pisang goreng, lho. Sepertinya masih hangat. Itu saja eh yang kamu makan untuk jajanan sore ini,” tunjuk Mbah Putri ke arah meja makan.

            Aku kemudian berjingkat meninggalkan Mbah Putri sambil menahan tawa. “Hihihi, sepertinya Mbah Putri memang pendengarannya sudah agak berkurang. Cuaca ekstrim di berita, dibilangnya berkali-kali cuaca es krim. Aku bilang cuaca ekstrim, Mbah Putri malah bilang es krim di kulkas,” kataku dalam hati sambil tertawa geli.

            Sambil menikmati pisang goreng yang masih hangat, pikiranku masih saja penasaran dengan apa itu cuaca ekstrim. “Ekstrim? Hm… kok jadi ikut-ikutan ingat es krim di kulkas, ya?”

            Kubuka kulkas untuk mengambil satu sendok es krim ke dalam mangkok. Namun saat aku memasukkan sesendok es ke dalam mulutku, “Aduh duh duh…!” teriakku karena menahan ngilu di gigiku.

            “Kenapa, Na?” Mbah Putri lalu tergopoh-gopoh menghampiriku.

            “Lha kamu itu ngapain tho, nduk… Habis makan pisang goreng yang masih hangat, kok ya makan es krim. Ya jelas gigimu sakit!” omel Mbah Putri. “Sini, Mbah ambilkan air hangat untuk kamu minum biar rasa ngilunya agak hilang.

            Saat menahan gigiku yang sakit, aku justru tiba-tiba teringat tulisan yang baru saja kubaca dari internet.

            “Aha! Mendadak dingin, lalu panas. Mungkin seperti itu ya cuaca ekstrim. Mendadak hujan dan dingin. Tapi kemudian mendadak matahari bersinar terang dan panas,” aku lalu tersenyum karena sepertinya menemukan jawaban dari apa itu cuaca ekstrim.

            Saat Mbah Putri kembali dengan segelas air putih hangat, aku lalu berujar, “Mbah, Rena sudah tahu apa itu cuaca ekstrim!” seruku mantap.

            “Sudah, jangan bandel mau mencoba meneruskan makan es krim lagi lho, ya!” omel Mbah Putri.

            Aku bingung. Aduh, Mbah Putri ini. Padahal aku kan mau menjawab pertanyaannya tentang cuaca ekstrim!

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls bulan April 2014

Harus Tetap Sekolah

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Semalam, teman kita yang bernama Fahmi mendapatkan musibah. Kalian tentu sudah tahu dari berita semalam, jika ruli tempat Fahmi dan keluarganya tinggal, mengalami kebakaran yang cukup besar. Untuk itu sebelum pelajaran dimulai kita berdoa dulu ya agar Fahmi dan keluarganya, serta orang-orang yang berada di sana dimudahkan urusannya oleh Tuhan. Berdoa, mulai!” pimpin Pak Hadi, guruku di sekolah.

            Sesaat, aku melirik ke arah bangku di sebelahku yang kosong. “Bagaimana kabarmu hari ini, Mi?” batinku sedih.

            Hari itu aku tidak lagi bisa menjumpai Fahmi yang suka bercerita dengan riang. Kelasku juga jadi terasa agak sepi. Biasanya saat pelajaran berlangsung, Fahmi suka aktif bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru kami. Ia juga teman yang baik dan cerdas di hampir semua mata pelajaran. Jika aku atau teman yang lain kesulitan pelajaran, Fahmi tidak segan mengajari kami dengan sabar. Karena itu, Fahmi sering disebut asisten guru. Panggilan itu diberikan oleh para guru dan juga aku serta teman-temanku.

            Sahabatku itu tinggal di sebuah kawasan rumah liar yang kondisinya cukup memprihatinkan. Di Batam, kami menyebutnya dengan ruli. Tidak ada rumah-rumah yang tertata rapih. Sungguh berbeda dengan tempat tinggalku yang berada di perumahan. Karena Fahmi pintar, ia mendapatkan beasiswa sehingga bisa bersekolah di tempatku yang katanya biayanya cukup mahal.

            “Teman-teman, apa yang harus kita lakukan untuk membantu Fahmi? Kalian punya ide?” tanya Nadia, ketua kelasku saat kelas kami mengadakan rapat di jam istirahat.

            “Bagaimana jika kita mengumpulkan dana untuk Fahmi? Jadi nanti waktu pulang sekolah, kita mintai saja teman-teman satu sekolah untuk menyumbang seikhlasnya,” usulku.

            “Iya, betul itu, Gina. Lalu, nanti kita bawa hasil sumbangan itu waktu ke tempat menjenguk ke tempat Fahmi,” ujar temanku yang lain.

            “Aku punya ide. Bagaimana kalau kita mengadakan konser amal di mall? Sekolah kita ini kan terkenal punya banyak kegiatan seninya. Siapa tahu dari acara itu kita bisa menarik perhatian para pengunjung mall untuk membantu Fahmi dan para tetangganya,” cetus Andi temanku.

            “Ide yang bagus!”

            “Ya, aku juga setuju!” seruku dan teman-temanku yang lain dengan girang. Lega juga rasanya ketika kami akhirnya bisa menemukan jalan keluar untuk membantu Fahmi.

            Pak Hadi wali kelasku juga turut membantu usaha kami. Ia mengumpulkan sejumlah uang dari para guru untuk disumbangkan ke Fahmi. Pak Hadi juga ikut mengantar aku dan teman-teman sewaktu menjenguk ke rumah Fahmi.

            Untuk sementara waktu, Fahmi, keluarganya, dan para tetangganya harus tinggal di tempat pengungsian yang ada di sebuah bekas pasar yang sudah kosong dan tak terpakai lagi di dekat mereka semula tinggal. Saat kami menemui Fahmi, ia terlihat tampak banyak tersenyum. Aku sampai salut, meski ia sedang mengalami kesusahan, tapi ia mencoba tidak menunjukkan kesedihannya pada kami. Padahal, banyak barang-barang miliknya dan keluarganya yang habis terbakar.

            Saat Pak Hadi berbincang dengan orang tua Fahmi, kami terkejut saat mendengar bahwa Fahmi sepertinya tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya lagi setelah ini.

            “Buku-buku pelajaran dan seragamnya saja habis terbakar. Sepertinya kami sekeluarga harus mencari uang setelah ini,” ujar bapaknya Fahmi.

            Aku dan teman-temanku yang mendengar itu langsung membelalakkan mata. Saat melirik ke arah Fahmi, sahabatku itu cuma tertunduk sambil diam. Aku tahu, pasti Fahmi tidak ingin berhenti sekolah. Karena yang kutahu selama ini, Fahmi selalu punya semangat tinggi untuk bisa menjadi yang terbaik di sekolah. Aku bahkan ingat, Fahmi pernah mengatakan kepadaku jika ia ingin menjadi seorang guru yang bisa banyak mencerdaskan murid-muridnya.

            “Waduh Pak, coba dipikirkan lagi keputusannya. Sementara itu, biar saya membicarakan masalah ini dulu kepada pihak sekolah. Barangkali, pihak sekolah bisa membantu,” jelas Pak Hadi mencoba menenangkan orang tua Fahmi.

            Saat pulang, aku jadi merasa sedih. “Ah, bagaimana jika Fahmi benar-benar berhenti sekolah?” gumamku cemas.

Aku lalu membayangkan jika diriku adalah Fahmi. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bertemu teman-teman lagi, harus bekerja mencari uang dan tidak bisa belajar pelajaran kesukaanku lagi. Ah, dadaku mendadak sesak membayangkan hal itu.

            “Semoga pas konser amal nanti, banyak orang yang mau menjadi orang tua asuh untuk anak-anak seperti Fahmi, ya Nadin,” cetus Gina di perjalanan pulang.

            “Ya Nad, aku juga berharap begitu,” kataku penuh harap.

            “Pak, tolong bantu Fahmi ya. Tolong bicarakan dengan bapak kepala sekolah agar Fahmi bisa tetap terus sekolah,” pinta Nadin.

            Kepalaku sendiri terus berpikir keras. Orang tua Fahmi sepertinya juga membutuhkan bantuan.

            “Bagaimana jika kita juga bertanya kepada orang tua kita masing-masing, barangkali ada lowongan pekerjaan untuk orang tuanya Fahmi?” cetusku pada teman-temanku.

            “Ya, barangkali ada juga pekerjaan lain untuk para pengungsi yang lain,” sambung Andi.

            “Ah ya, itu benar!” sahut Nadin dengan mata berbinar.

            Pak Hadi yang lebih banyak diam selama di mobil saat perjalanan pulang itu lalu tersenyum memandang kami. “Bapak bangga melihat kalian. Meski kalian dari orang berada, tapi kepedulian kalian terhadap sesama begitu besar.”

 

(Dimuat di Majalah Girls 13 Februari 2014)

Saat Pompong Putus Rantai

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

Tiba-tiba, suara mesin pompong berhenti. Alat transportasi air berbentuk perahu yang aku dan teman-temanku gunakan untuk menyeberang ke Pulau Penyengat itu lalu menjadi lambat jalannya, dan kemudian berhenti. Teman-temanku yang sedang asyik berlatih kompang untuk lomba juga jadi ikut terdiam.
“Ada apa Pak? Kenapa mesin pompongnya mati?”
“Sepertinya mesinnya rusak,” percakapan antara temanku dan pemilik pompong yang berlangsung dalam kegelapan itu langsung membuatku khawatir.
Sebetulnya, jarak antara tepi laut Tanjungpinang dengan Pulau Penyengat itu dekat. Tapi aku takut apabila ada ferry dari Batam, Malaysia, atau Singapura yang mungkin lewat. Pernah kudengar, dulu katanya ada sampan kecil atau pompong masyarakat tertabrak ferry yang sedang lewat dan akan berlabuh di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.
Nah, kalau pompong yang aku naiki ini kemudian tertabrak, bagaimana nasibku? Aku kan tidak bisa berenang! Ah, aku benar-benar panik!
Hal lain yang membuatku khawatir adalah karena beberapa menit lagi lomba kompang akan dimulai. Bisa-bisa, sia-sia saja usahaku dan teman-teman yang sudah berlatih untuk lomba.
“Tenang Di, kita pasti akan sampai ke sana,” Nasir yang duduk di sebelahku berujar sambil menepuk bahuku. Mungkin ia melihatku duduk tidak tenang dan gelisah sehingga ia mencoba menenangkanku.
“Kalau pompong ini ditabrak ferry? Kalau kita telat sampai di sana? Bagaimana?” beruntun aku menanyakan kecemasanku.
“Hahaha, tenang! Kita semua akan baik-baik saja. Lihat itu!” tunjuknya ke arah sebuah pompong yang samar-samar bergerak mendekat. “Pompong itu sepertinya akan menarik pompong yang kita naiki ini.”
Nasir benar. Baiklah, sepertinya kekhawatiranku tentang pompong yang akan ditabrak ferry tidak akan terjadi. Tapi, apakah timku tetap bisa mengikuti lomba? Bagaimana jika terlambat dan lalu kami dianggap tidak bisa mengikuti lomba?
“Ayo ayo, kita latihan saja sekarang!” seru Bang Doni mengajak kami semua berlatih kompang. Suara alat musik berbentuk rebana itu lalu terdengar memecah keheningan perairan Tanjungpinang. Aku mencoba menenangkan diri dengan ikut menabuh kompang dan melagukan shalawat yang menjadi ciri khas dari permainan kompang.
Saat pompong akan merapat di dermaga kecil di Pulau Penyengat, lagi-lagi sebuah masalah muncul.
“Wah, air sedang surut. Pompong kita susah lewat,” seru bapak pemilik pompong.
Aku kembali panik. Sementara bapak pemilik pompong mengayuh dengan kayuh, beberapa temanku mencoba membantu mengayuh dengan menggunakan bambu panjang yang tersimpan di tepi pompong.
“Santai lah, Di! Engkau ini gampang panik ya?” Nasir terkekeh. Lagi-lagi, ia sepertinya tahu kegelisahanku.
“Iya Sir, aku ini memang gampang panik,” jawabku sambil menahan malu. “Apa kita masih bisa ikut lomba itu?”
“Sepertinya masih. Tadi aku sempat dengar sayup-sayup Bang Doni telepon ke panitia memberi tahu kalau kita terlambat karena pompong yang kita naiki mesinnya mati. Eh, coba dengar!”
Sayup-sayup, suara pukulan kompang terdengar di telingku.
“Lombanya masih ada, Di. Kita masih bisa ikut. Ayo Di, kita harus tampil jadi yang terbaik malam ini. Siapa tahu, pompong kita yang mati mesinnya tadi adalah pertanda kalau kita akan menang lomba!” gurau Nasir sambil tertawa.
Saat pompong akhirnya berhasil merapat ke dermaga, ingin rasanya aku segera berlari ke tempat lomba. Dan yang aku herankan, teman-temanku justru masih saja terlihat santai. Padahal kami semua sadar, kami telah terlambat mengikuti lomba.
Tiba di tempat acara, banyak penonton yang langsung menyambut kedatangan tim kami dengan tepuk tangan.
“Ini dia, tim kompang yang telah berjuang untuk bisa sampai di sini,” lantang suara pembawa acara berkumandang, membuat para penonton makin bertepuk tangan dengan keras.
Aku merasa orang-orang di hadapanku memberi semangat untuk tim kami. Segala rasa cemasku berangsur-angsur hilang. Hingga yang ada, aku jadi bersemangat untuk memainkan kompang. Perasaan semangat itu pun juga terpancar dari teman-temanku yang begitu lincah saat memukul kompang. Semangat itu juga terasa dalam syair shalawat yang terlafal dari bibir-bibir kami saat tampil.
Hasilnya? Timku mendapat juara 2, lho! Memang bukan yang pertama. Tapi lomba itu adalah yang paling berkesan untukku. Karena jika kebiasaanku yang mudah khawatir lagi-lagi muncul suatu saat, aku akan ingat bahwa semuanya akan baik-baik saja.