Perpustakaan di Atas Awan

Standard

Bobo Perpustakaan Di Atas Awan

Oleh: Ika Maya Susanti

Permintaan itu cukup sulit!

“Hanya lima buku saja kok, Nji. Bukumu kan banyak sekali,” pinta Tante Astari sekali lagi.

Tapi Panji begitu mencintai semua buku-bukunya. Apalagi ia bercita-cita nanti ingin punya perpustakaan sendiri.

“Tiga saja,” jawab Panji berat. Ia juga belum tahu, buku mana yang akan ia berikan pada Tante Astari.

“Buku yang banyak gambarnya, ya. Mereka pasti suka melihatnya. Mereka banyak yang kurang mengerti bahasa Indonesia.”

Panji langsung menghela napas. Dengan gerak pelan karena malas, ia membuka lemari bukunya. Cukup lama Panji memandangi satu per satu buku-buku yang tertata rapih di sana. Ia tidak tega harus mengambil tiga buku dan berpisah dari mereka.

Tiga buku akhirnya telah dipilih Panji. Buku berjudul Peri Ungu, Gajah yang Baik Hati, dan Mobil Gulali itu lalu diberikannya pada Tante Astari.

“Terima kasih Panji. Anak-anak di Wae Rebo yang ada di Nusa Tenggara Timur pasti sangat berterima kasih dan senang bisa melihat buku ini,” Tante Astari memasukkan buku itu ke dalam tasnya.

Panji memalingkan wajah. Ia berharap bisa melupakan buku-buku itu segera.

***

Setelah seminggu Tante Astari pergi meliput ke daerah timur Indonesia, sore itu Panji berjumpa lagi dengannya. Biasanya, Panji suka bila bertemu tantenya lagi usai meliput dari luar kota apalagi dari luar pulau. Tak hanya oleh-oleh, Panji bisa tahu banyak cerita tentang banyak tempat dari tantenya. Tapi kali ini, Panji merasa tidak bersemangat menyambut kedatangan tantenya.

“Nih, oleh-oleh buat Panji,” Tante Astari memberikan kain seperti selendang panjang dan gantungan kunci komodo.

“Terima kasih,” Panji menerimanya dengan wajah muram tak bersemangat. Ia masih sedih. Buku-buku itu memang sudah tak pernah dibacanya lagi karena Mama dulu membelikannya saat ia masih TK besar. Waktu ia baru bisa membaca. Banyak kenangan tentang buku-buku itu.

“Nji, ke sini deh. Tante mau menunjukkan sesuatu.”

Panji menghampir Tante Astari yang sedang membuka laptopnya. Tak lama kemudian, ia melihat foto-foto hasil liputan Tante Astari.

“Mereka senang sekali lho Nji, dapat buku-buku itu. Selama ini, mereka kesulitan mendapat buku-buku bagus. Lihat nih, untuk sampai ke desa itu, Tante harus menempuh jarak hampir setengah hari dengan mobil dari pusat kota. Terus, Tante harus jalan kaki lagi selama empat jam. Baru deh sampai di desa Wae Rebo.”

Panji melihat beberapa foto Tante Astari selama berjalan menuju desa. Jalannya terlihat sulit untuk dilalui. Ia bahkan melihat Tante Astari harus berjalan dengan menggunakan tongkat.

“Ini karena kaki Tante sakit?” Panji mulai tertarik dengan cerita tantenya.

“Sedikit sih. Kalau pakai tongkat, jalannya jadi nggak seberapa capek. Padahal tas Tante saja sudah dibawakan orang. Tante nggak sanggup kalau jalan sambil gendong tas. Nah, ini desanya. Cantik ya? Seperti di atas awan.”

Panji melihat foto beberapa rumah dengan atap kerucut yang hampir sampai ke tanah. Mirip topi-topi kerucut yang berada hamparan padang rumput. Foto itu diambil dari atas. Benar kata Tante, desanya seperti di atas awan.

“Nah, ini dia perpustakaannya!” seru Tante Astari.

Panji membelalakkan mata melihat foto-foto yang dilihatnya. Gedung perpustakaan itu mirip dengan rumah kerucut lainnya. Ia berada di atas bukit. Dari foto itu, Panji melihat isi perpustakaan yang hampir kosong.

“Lho, ke mana buku-bukunya?” celutuk Panji.

“Nah, itu dia Nji. Bayangkan saja, rumah mereka jauh dari pusat kota. Jauh sekali kalau mau beli buku. Kasihan, kan?”

Panji tak seberapa mendengar kata-kata tantenya. Ia menggigit bibir bawahnya sambil menahan perasaan tidak nyaman saat melihat foto-foto yang ada. Ada anak-anak berkulit gelap yang tersenyum senang saat berebut ingin membuka buku dari Panji.

“Tante kapan lagi ke sana? Panji mau nitip buku lagi buat mereka,” seru Panji spontan.

Tante Astari tersenyum. “Nah, sayangnya Tante kurang tahu bisa ke sana lagi kapan.”

Panji menyesal. Andai saja waktu itu ia memberi lebih banyak buku. Andai saja ada pintu ajaib yang membuat ia saat itu juga bisa memberi atau meminjamkan buku-buku miliknya. Dilihatnya lemari buku miliknya. Buku-buku itu begitu tenang di sana dan hanya sesekali ia buka. Sementara jika di Wae Rebo, anak-anak itu akan lebih sering menyentuh dan membukanya.

*Cerpen ini pernah dimuat di Majalah Bobo Bulan Juli 2014

 

Cita-cita Qisia

Standard

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            Angin menerbangkan rambut Qisia yang sedang melamun saat duduk di atas boncengan sepeda ayahnya. Ia tersadar dan penasaran mengapa negaranya hingga kini belum punya stasiun luar angkasa dan segala perangkat antariksa canggih lainnya.

            Kemarin, Qisia mendapat pertanyaan dari teman-temannya setelah mereka sibuk membanggakan negaranya masing-masing. Ini untuk kesekian kalinya Qisia kesulitan harus menjawab pertanyaan teman-temannya di Sekolah Saint John’s Heidelberg Jerman.

            Dulu sewaktu awal datang ke sekolah itu dan memperkenalkan diri dari Indonesia, banyak temannya yang menanyakan hal aneh. Ada yang bertanya, Indonesia itu ada di mana. Ketika ia jawab dekat Australia, Singapura, dan Malaysia, mereka malah bertanya apakah Indonesia itu dekat dengan Bali. Rasanya ingin sekali Qisia tertawa. Tapi lantas ia menahan mulutnya. Ia melihat tatapan serius teman-temannya yang memang tidak menganggap itu sebagai hal konyol. Saat Qisia menjawab Bali itu sebuah pulau di Indonesia, barulah mereka menggangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Qisia sungguh tak habis pikir, mengapa Bali lebih terkenal dari pada Indonesia.

            Pertanyaan lain yang membuat Qisia sampai membelalakkan mata adalah pertanyaan Frau, temannya dari Rusia. “Apakah di Indonesia itu ada listrik?” Katanya, ia pernah melihat acara tivi tentang orangutan di Kalimantan. Karena itu ia berpikir, Indonesia seperti kebanyakan negara di Afrika. Pertanyaan itu membuat Qisia harus menggigit bibirnya karena merasa tidak nyaman. Ia sedih, kenapa sampai ada orang di luar negeri yang menganggap Indonesia masih belum ada listrik.

            Qisia menghembuskan nafas berat. Ia tidak pernah menyesali keputusan ayahnya yang membawa ia dan ibunya untuk ikut tinggal di Jerman, menemani ayahnya yang sedang kuliah S3. Qisia malah senang, ia jadi bisa tahu banyak hal baru. Tapi jika itu tentang teman-temannya yang saling menceritakan negaranya masing-masing, Qisia kerap merasa tidak nyaman.

            “Ayah, kenapa negara kita tidak punya perangkat antariksa canggih?”

            Pertanyaan Qisia membuat ayahnya yang sedang mengayuh sepeda di tepi Sungai Rhein jadi menghentikan kayuhnya.

            “Memangnya kenapa Qisia? Qisia mau jadi astronot?” tanya Ayah.

            Qisia lalu bercerita tentang kejadian yang kemarin ia alami di sekolah. Frau Elter dan Tatjana bercerita kalau Rusia, Amerika, dan Jerman punya roket, pesawat antariksa, dan stasiun luar angkasa.

“Temanku Tang Tang dari China juga bilang punya. Iman dan Sharina dari India juga bisa buat. Kenapa Indonesia tidak punya? Apa kita tidak punya uang ya? Atau kita tidak mampu membuatnya? Kenapa?” Qisia mengulang pertanyaan-pertanyaan yang ia terima kemarin. Pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya cuma bisa tersenyum malu karena tidak bisa menjawab. Untungnya, saat itu Miss Elfreda memanggilnya ke kantor. Jika tidak, Qisia tidak tahu harus bagaimana lagi menghadapi teman-temannya.

Ayah mengelus rambut panjang Qisia. “Nak, kalau Ayah menjawab dengan jelas pertanyaan teman-temanmu itu, rasanya akan sangat panjang penjelasannya. Intinya, negara kita memang belum mampu. Dan karena itulah ayah sampai mengajakmu untuk sekolah di Jerman. Ayah tidak sekedar ingin meminta Qisia dan Ibu menemani ayah belajar di sini. Kamu harus punya banyak ilmu dari sini.”

Qisia mengedip-kedipkan matanya sambil menatap kedua mata ayahnya dalam. “Ayah ingin Qisia jadi astronot, lalu karena itu Qisia harus belajar di Jerman? Qisia tidak mau jadi astronot, Ayah!” seru Qisia.

Ayah langsung tertawa terbahak-bahak, membuat seorang kakek tua yang kebetulan lewat di dekat mereka jadi tersenyum dengan heran.

“Memangnya Ayah memaksa Qisia jadi astronot? Memangnya Qisia mau jadi apa? Ayah sama Ibu akan menghargai apapun cita-cita Qisia asal itu positif, kok.”

“Qisia kira Ayah benar-benar serius mau menjadikan Qisia astronot karena negara kita tidak punya peralatan canggih antariksa,” Qisia bernafas lega.

Ia lalu teringat Om Hendra, adik ayahnya yang seorang dosen Elektro yang ahli Fisika dan bisa membuat berbagai perangkat elektronik unik di rumahnya sendiri.

“Qisia pengen seperti Om Hendra saja. Ahli Fisika. Nanti, Qisia akan sekolah di Kaiserslautern,” ujar Qisia yakin sambil menyebut sebuah universitas di Jerman yang pernah ia kunjungi bersama ayahnya.

Ayah langsung membelalakkan mata. “Wah, kalau kamu kuliah di sana, uangnya siapa, Qisia? Hm, semoga ayahmu ini banyak rejeki ya biar kamu bisa kuliah di sana.”

“Ya uang beasiswa, dong. Kayak Ayah sekarang. Kan Qisia ini punya otak cemerlang. Qisia yakin, suatu saat bisa menunjukkan ke dunia kalau Indonesia itu hebat dan punya seorang ahli Fisika bernama Qisia!”

“Aamiin,” Ayah mengamini kata-kata Qisia. “Oh iya, ahli Fisika itu juga bisa jadi astronot, lho!”

“Masa iya, Yah?”

Ayah mengangguk-angguk kepalanya sambil menggerak-gerakkan alisnya. “Jadi, mau jadi ahli Fisika atau astronot?” goda Ayah.

Qisia berpikir sambil menatap Sungai Rhein. “Yang jelas, Qisia mau membuat Indonesia bangga dan tak ada lagi yang mengira kalau di Indonesia itu tidak ada listrik.”

Ayah dan Qisia lalu saling pandang dan tertawa bersama. Ya, Qisia memang masih tak habis pikir, kenapa zaman sekarang masih ada yang mengira Indonesia itu tak ada listrik ya?

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls No.19/Th.IX, terbit 23 April 2014

Cuaca Es Krim

Standard

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Cuaca ekstrim yang sedang terjadi akhir-akhir ini diperkirakan masih akan melanda beberapa daerah di Indonesia selama dua bulan ke depan. Untuk itu masyarakat perlu waspada dan menjaga kondisi tubuhnya untuk menghadapi cuaca tersebut.”

            “Apa tadi kata penyiarnya? Cuaca es krim?” celutuk nenekku yang biasa kupanggil dengan panggilan Mbah Putri.

            “Hihihi, cuaca ekstrim, Mbah,” aku tertawa geli sambil membetulkan ucapannya.

            “Lha yo, cuaca es krim, tho? Kok aku baru dengar ya ada cuaca namanya cuaca es krim? Aneh banget!”

            “Eks-trim!” seruku lebih keras lagi sambil mengeja, membetulkan ucapan mbahku yang masih yakin bahwa yang didengarnya adalah kata es krim.

            “Iya, cuaca es krim itu apa tho? Bukannya yang namanya cuaca itu ya cuma hujan dan panas, ya?”

            Aku termenung beberapa saat. “Aduh, apa ya? Nanti deh Mbah, Rena cari tahu dulu ya,” jawabku pada akhirnya. Lagi pula, aku merasa sudah menyerah jika harus terus membetulkan ucapan mbahku yang melulu mengucap kata es krim.

            Aku dan Mbah Putri sore itu sedang asyik melihat televisi. Kebetulan, kami sedang melihat berita tentang berbagai bencana alam yang terjadi di banyak daerah di Indonesia.

            “Cuaca ekstrim? Apa maksudnya banjir di mana-mana, gempa dan tsunami?” aku mengelus-elus kepalaku sambil berpikir.

            Sebetulnya, aku bisa saja bertanya pada Mama atau Papa pada sore hari nanti saat mereka pulang kerja. Atau, aku bisa menanyakannya pada guruku di sekolah esok harinya. Tapi, saat ini aku tidak tahan dengan rasa ingin tahuku dan aku sungguh penasaran!

            Aku sering mendengar kata cuaca ekstrim dari berita. Di sekolah, aku dan teman-temanku jadi sering mengucap kata-kata itu saat sedang mengeluh tentang cuaca akhir-akhir ini yang bisa panas dan lalu mendadak hujan. Tapi…

            Aku lalu menepuk jidatku sendiri. Ya ampun, aku baru sadar. Terrnyata, sebenarnya selama ini aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan cuaca ekstrim!

            Segera kunyalakan komputer dan membuka halaman Google. Aku ingat, Mama pernah berpesan kalau aku sedang ingin tahu sesuatu yang bersifat ilmu pengetahuan, aku bisa mencarinya di Google.

            Segera kuketik di kotak Google. “Cuaca ekstrim adalah,” ejaku sambil mengetik.

            Ternyata, tidak ada situs yang langsung bisa membuatku menemukan arti kata cuaca ekstrim. “Yah, sepertinya aku harus membuka situs ini satu persatu.”

            Dari beberapa situs itu, aku memang menemukan penjelasan tentang cuaca ekstrim.

            “Cuaca ekstrim adalah kondisi cuaca yang sangat jarang terjadi, mengandung resiko bencana, dan parameter yang diukur nilainya…” kedua alisku langsung naik.

            “Aduh, kenapa kok bahasanya rumit begini ya? Bagaimana aku bisa menerangkan ke Mbah Putri kalau aku sendiri saja masih bingung dengan penjelasan ini?”

            Kucoba lagi membaca penjelasan dari beberapa situs yang ada. Ada yang menjelaskan, cuaca ekstrim itu seperti yang terjadi di Bandung. Jika siang hari suhunya sangat panas, lalu malam harinya bisa jadi sangat dingin.

            Selesai membaca beberapa situs, tetap saja, aku tidak mengerti dan tidak menemukan apa itu cuaca ekstrim.

            “Sepertinya, aku harus bertanya pada mama, papa, atau guru di sekolah, nih!” ujarku menyerah pada akhirnya.

            “Mbah, Rena masih belum menemukan artinya cuaca ekstrim di internet,” kataku sambil kembali duduk di sebelah Mbah Putri.

            “Apa Na, es krim? Kan, mamamu masih menyimpan es krim di kulkas. Kamu ini kok ya aneh. Hujan-hujan begini, kenapa malah mau makan es krim? Tuh, Mbah Putri baru saja menggoreng pisang goreng, lho. Sepertinya masih hangat. Itu saja eh yang kamu makan untuk jajanan sore ini,” tunjuk Mbah Putri ke arah meja makan.

            Aku kemudian berjingkat meninggalkan Mbah Putri sambil menahan tawa. “Hihihi, sepertinya Mbah Putri memang pendengarannya sudah agak berkurang. Cuaca ekstrim di berita, dibilangnya berkali-kali cuaca es krim. Aku bilang cuaca ekstrim, Mbah Putri malah bilang es krim di kulkas,” kataku dalam hati sambil tertawa geli.

            Sambil menikmati pisang goreng yang masih hangat, pikiranku masih saja penasaran dengan apa itu cuaca ekstrim. “Ekstrim? Hm… kok jadi ikut-ikutan ingat es krim di kulkas, ya?”

            Kubuka kulkas untuk mengambil satu sendok es krim ke dalam mangkok. Namun saat aku memasukkan sesendok es ke dalam mulutku, “Aduh duh duh…!” teriakku karena menahan ngilu di gigiku.

            “Kenapa, Na?” Mbah Putri lalu tergopoh-gopoh menghampiriku.

            “Lha kamu itu ngapain tho, nduk… Habis makan pisang goreng yang masih hangat, kok ya makan es krim. Ya jelas gigimu sakit!” omel Mbah Putri. “Sini, Mbah ambilkan air hangat untuk kamu minum biar rasa ngilunya agak hilang.

            Saat menahan gigiku yang sakit, aku justru tiba-tiba teringat tulisan yang baru saja kubaca dari internet.

            “Aha! Mendadak dingin, lalu panas. Mungkin seperti itu ya cuaca ekstrim. Mendadak hujan dan dingin. Tapi kemudian mendadak matahari bersinar terang dan panas,” aku lalu tersenyum karena sepertinya menemukan jawaban dari apa itu cuaca ekstrim.

            Saat Mbah Putri kembali dengan segelas air putih hangat, aku lalu berujar, “Mbah, Rena sudah tahu apa itu cuaca ekstrim!” seruku mantap.

            “Sudah, jangan bandel mau mencoba meneruskan makan es krim lagi lho, ya!” omel Mbah Putri.

            Aku bingung. Aduh, Mbah Putri ini. Padahal aku kan mau menjawab pertanyaannya tentang cuaca ekstrim!

 

*Pernah dimuat di Majalah Girls bulan April 2014

Harus Tetap Sekolah

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Semalam, teman kita yang bernama Fahmi mendapatkan musibah. Kalian tentu sudah tahu dari berita semalam, jika ruli tempat Fahmi dan keluarganya tinggal, mengalami kebakaran yang cukup besar. Untuk itu sebelum pelajaran dimulai kita berdoa dulu ya agar Fahmi dan keluarganya, serta orang-orang yang berada di sana dimudahkan urusannya oleh Tuhan. Berdoa, mulai!” pimpin Pak Hadi, guruku di sekolah.

            Sesaat, aku melirik ke arah bangku di sebelahku yang kosong. “Bagaimana kabarmu hari ini, Mi?” batinku sedih.

            Hari itu aku tidak lagi bisa menjumpai Fahmi yang suka bercerita dengan riang. Kelasku juga jadi terasa agak sepi. Biasanya saat pelajaran berlangsung, Fahmi suka aktif bertanya dan menjawab pertanyaan-pertanyaan guru kami. Ia juga teman yang baik dan cerdas di hampir semua mata pelajaran. Jika aku atau teman yang lain kesulitan pelajaran, Fahmi tidak segan mengajari kami dengan sabar. Karena itu, Fahmi sering disebut asisten guru. Panggilan itu diberikan oleh para guru dan juga aku serta teman-temanku.

            Sahabatku itu tinggal di sebuah kawasan rumah liar yang kondisinya cukup memprihatinkan. Di Batam, kami menyebutnya dengan ruli. Tidak ada rumah-rumah yang tertata rapih. Sungguh berbeda dengan tempat tinggalku yang berada di perumahan. Karena Fahmi pintar, ia mendapatkan beasiswa sehingga bisa bersekolah di tempatku yang katanya biayanya cukup mahal.

            “Teman-teman, apa yang harus kita lakukan untuk membantu Fahmi? Kalian punya ide?” tanya Nadia, ketua kelasku saat kelas kami mengadakan rapat di jam istirahat.

            “Bagaimana jika kita mengumpulkan dana untuk Fahmi? Jadi nanti waktu pulang sekolah, kita mintai saja teman-teman satu sekolah untuk menyumbang seikhlasnya,” usulku.

            “Iya, betul itu, Gina. Lalu, nanti kita bawa hasil sumbangan itu waktu ke tempat menjenguk ke tempat Fahmi,” ujar temanku yang lain.

            “Aku punya ide. Bagaimana kalau kita mengadakan konser amal di mall? Sekolah kita ini kan terkenal punya banyak kegiatan seninya. Siapa tahu dari acara itu kita bisa menarik perhatian para pengunjung mall untuk membantu Fahmi dan para tetangganya,” cetus Andi temanku.

            “Ide yang bagus!”

            “Ya, aku juga setuju!” seruku dan teman-temanku yang lain dengan girang. Lega juga rasanya ketika kami akhirnya bisa menemukan jalan keluar untuk membantu Fahmi.

            Pak Hadi wali kelasku juga turut membantu usaha kami. Ia mengumpulkan sejumlah uang dari para guru untuk disumbangkan ke Fahmi. Pak Hadi juga ikut mengantar aku dan teman-teman sewaktu menjenguk ke rumah Fahmi.

            Untuk sementara waktu, Fahmi, keluarganya, dan para tetangganya harus tinggal di tempat pengungsian yang ada di sebuah bekas pasar yang sudah kosong dan tak terpakai lagi di dekat mereka semula tinggal. Saat kami menemui Fahmi, ia terlihat tampak banyak tersenyum. Aku sampai salut, meski ia sedang mengalami kesusahan, tapi ia mencoba tidak menunjukkan kesedihannya pada kami. Padahal, banyak barang-barang miliknya dan keluarganya yang habis terbakar.

            Saat Pak Hadi berbincang dengan orang tua Fahmi, kami terkejut saat mendengar bahwa Fahmi sepertinya tidak bisa lagi melanjutkan sekolahnya lagi setelah ini.

            “Buku-buku pelajaran dan seragamnya saja habis terbakar. Sepertinya kami sekeluarga harus mencari uang setelah ini,” ujar bapaknya Fahmi.

            Aku dan teman-temanku yang mendengar itu langsung membelalakkan mata. Saat melirik ke arah Fahmi, sahabatku itu cuma tertunduk sambil diam. Aku tahu, pasti Fahmi tidak ingin berhenti sekolah. Karena yang kutahu selama ini, Fahmi selalu punya semangat tinggi untuk bisa menjadi yang terbaik di sekolah. Aku bahkan ingat, Fahmi pernah mengatakan kepadaku jika ia ingin menjadi seorang guru yang bisa banyak mencerdaskan murid-muridnya.

            “Waduh Pak, coba dipikirkan lagi keputusannya. Sementara itu, biar saya membicarakan masalah ini dulu kepada pihak sekolah. Barangkali, pihak sekolah bisa membantu,” jelas Pak Hadi mencoba menenangkan orang tua Fahmi.

            Saat pulang, aku jadi merasa sedih. “Ah, bagaimana jika Fahmi benar-benar berhenti sekolah?” gumamku cemas.

Aku lalu membayangkan jika diriku adalah Fahmi. Tidak bisa sekolah, tidak bisa bertemu teman-teman lagi, harus bekerja mencari uang dan tidak bisa belajar pelajaran kesukaanku lagi. Ah, dadaku mendadak sesak membayangkan hal itu.

            “Semoga pas konser amal nanti, banyak orang yang mau menjadi orang tua asuh untuk anak-anak seperti Fahmi, ya Nadin,” cetus Gina di perjalanan pulang.

            “Ya Nad, aku juga berharap begitu,” kataku penuh harap.

            “Pak, tolong bantu Fahmi ya. Tolong bicarakan dengan bapak kepala sekolah agar Fahmi bisa tetap terus sekolah,” pinta Nadin.

            Kepalaku sendiri terus berpikir keras. Orang tua Fahmi sepertinya juga membutuhkan bantuan.

            “Bagaimana jika kita juga bertanya kepada orang tua kita masing-masing, barangkali ada lowongan pekerjaan untuk orang tuanya Fahmi?” cetusku pada teman-temanku.

            “Ya, barangkali ada juga pekerjaan lain untuk para pengungsi yang lain,” sambung Andi.

            “Ah ya, itu benar!” sahut Nadin dengan mata berbinar.

            Pak Hadi yang lebih banyak diam selama di mobil saat perjalanan pulang itu lalu tersenyum memandang kami. “Bapak bangga melihat kalian. Meski kalian dari orang berada, tapi kepedulian kalian terhadap sesama begitu besar.”

 

(Dimuat di Majalah Girls 13 Februari 2014)

Saat Pompong Putus Rantai

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

Tiba-tiba, suara mesin pompong berhenti. Alat transportasi air berbentuk perahu yang aku dan teman-temanku gunakan untuk menyeberang ke Pulau Penyengat itu lalu menjadi lambat jalannya, dan kemudian berhenti. Teman-temanku yang sedang asyik berlatih kompang untuk lomba juga jadi ikut terdiam.
“Ada apa Pak? Kenapa mesin pompongnya mati?”
“Sepertinya mesinnya rusak,” percakapan antara temanku dan pemilik pompong yang berlangsung dalam kegelapan itu langsung membuatku khawatir.
Sebetulnya, jarak antara tepi laut Tanjungpinang dengan Pulau Penyengat itu dekat. Tapi aku takut apabila ada ferry dari Batam, Malaysia, atau Singapura yang mungkin lewat. Pernah kudengar, dulu katanya ada sampan kecil atau pompong masyarakat tertabrak ferry yang sedang lewat dan akan berlabuh di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang.
Nah, kalau pompong yang aku naiki ini kemudian tertabrak, bagaimana nasibku? Aku kan tidak bisa berenang! Ah, aku benar-benar panik!
Hal lain yang membuatku khawatir adalah karena beberapa menit lagi lomba kompang akan dimulai. Bisa-bisa, sia-sia saja usahaku dan teman-teman yang sudah berlatih untuk lomba.
“Tenang Di, kita pasti akan sampai ke sana,” Nasir yang duduk di sebelahku berujar sambil menepuk bahuku. Mungkin ia melihatku duduk tidak tenang dan gelisah sehingga ia mencoba menenangkanku.
“Kalau pompong ini ditabrak ferry? Kalau kita telat sampai di sana? Bagaimana?” beruntun aku menanyakan kecemasanku.
“Hahaha, tenang! Kita semua akan baik-baik saja. Lihat itu!” tunjuknya ke arah sebuah pompong yang samar-samar bergerak mendekat. “Pompong itu sepertinya akan menarik pompong yang kita naiki ini.”
Nasir benar. Baiklah, sepertinya kekhawatiranku tentang pompong yang akan ditabrak ferry tidak akan terjadi. Tapi, apakah timku tetap bisa mengikuti lomba? Bagaimana jika terlambat dan lalu kami dianggap tidak bisa mengikuti lomba?
“Ayo ayo, kita latihan saja sekarang!” seru Bang Doni mengajak kami semua berlatih kompang. Suara alat musik berbentuk rebana itu lalu terdengar memecah keheningan perairan Tanjungpinang. Aku mencoba menenangkan diri dengan ikut menabuh kompang dan melagukan shalawat yang menjadi ciri khas dari permainan kompang.
Saat pompong akan merapat di dermaga kecil di Pulau Penyengat, lagi-lagi sebuah masalah muncul.
“Wah, air sedang surut. Pompong kita susah lewat,” seru bapak pemilik pompong.
Aku kembali panik. Sementara bapak pemilik pompong mengayuh dengan kayuh, beberapa temanku mencoba membantu mengayuh dengan menggunakan bambu panjang yang tersimpan di tepi pompong.
“Santai lah, Di! Engkau ini gampang panik ya?” Nasir terkekeh. Lagi-lagi, ia sepertinya tahu kegelisahanku.
“Iya Sir, aku ini memang gampang panik,” jawabku sambil menahan malu. “Apa kita masih bisa ikut lomba itu?”
“Sepertinya masih. Tadi aku sempat dengar sayup-sayup Bang Doni telepon ke panitia memberi tahu kalau kita terlambat karena pompong yang kita naiki mesinnya mati. Eh, coba dengar!”
Sayup-sayup, suara pukulan kompang terdengar di telingku.
“Lombanya masih ada, Di. Kita masih bisa ikut. Ayo Di, kita harus tampil jadi yang terbaik malam ini. Siapa tahu, pompong kita yang mati mesinnya tadi adalah pertanda kalau kita akan menang lomba!” gurau Nasir sambil tertawa.
Saat pompong akhirnya berhasil merapat ke dermaga, ingin rasanya aku segera berlari ke tempat lomba. Dan yang aku herankan, teman-temanku justru masih saja terlihat santai. Padahal kami semua sadar, kami telah terlambat mengikuti lomba.
Tiba di tempat acara, banyak penonton yang langsung menyambut kedatangan tim kami dengan tepuk tangan.
“Ini dia, tim kompang yang telah berjuang untuk bisa sampai di sini,” lantang suara pembawa acara berkumandang, membuat para penonton makin bertepuk tangan dengan keras.
Aku merasa orang-orang di hadapanku memberi semangat untuk tim kami. Segala rasa cemasku berangsur-angsur hilang. Hingga yang ada, aku jadi bersemangat untuk memainkan kompang. Perasaan semangat itu pun juga terpancar dari teman-temanku yang begitu lincah saat memukul kompang. Semangat itu juga terasa dalam syair shalawat yang terlafal dari bibir-bibir kami saat tampil.
Hasilnya? Timku mendapat juara 2, lho! Memang bukan yang pertama. Tapi lomba itu adalah yang paling berkesan untukku. Karena jika kebiasaanku yang mudah khawatir lagi-lagi muncul suatu saat, aku akan ingat bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Resep Sukses Koki Moki

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

Nama Koki Moki sedang naik daun di istana Kulinari. Sebetulnya nama aslinya adalah Koki Roki. Namun karena suatu hari ia menyajikan sebuah Puding Mokacino Leci yang sangat disukai Raja Kulinari, jadilah sejak itu nama Koki Roki menjadi Koki Moki. Moki singkatan dari mokacino dan leci.
“Saya tak pernah merasakan puding mokacino yang begitu pas perpaduan kopi dan cokelatnya seperti puding ini. Apalagi ditambah dengan rasa leci. Hm… manis, sedikit pahit dan sedikit asamnya benar-benar nikmat!” gumam Raja saat mencicipi puding buatan Koki Moki.
Sejak itu, Koki Koko yang menjadi koki utama istana jadi tersaingi. Padahal sebelumnya setiap kali Raja ingin dibuatkan hidangan penutup, ia selalu meminta pada Koki Koko. Kini, perhatian Raja rupanya mulai terbagi pada Koki Moki.
Para koki istana yang lainnya juga kerap memuji Koki Moki.
“Koki Moki itu baik hati. Walaupun sekarang sudah menjadi koki kesayangan raja, tapi mau membagi resep-resepnya pada kita. Berbeda dengan koki yang satu itu tuh…” bisik-bisik para koki istana lainnya. Mereka jadi sering membandingkan Koki Moki dengan Koki Koko.
“Ya, benar! Dulu waktu Koki Koko terkenal setelah berhasil membuat Kue Cokelat yang sekarang jadi andalannya, ia pelit sekali membagi resepnya. Kalau diminta, alasannya selalu rahasia!” gerutu koki yang lain.
Bisik-bisik para koki istana itu akhirnya sampai juga didengar Koki Koko. Ia jadi kesal. “Hebat betul Koki Moki! Ia jadi kesayangan Raja dan disukai para koki istana! Padahal aku ini kan koki senior. Sedangkan Koki Moki cuma baru ada di sini sejak bulan kemarin!” geram Koki Koko.
Suatu hari, Raja Kulinari memberikan pengumuman kepada para koki istana. “Bulan depan, aku akan mengadakan pesta ulang tahun. Tapi sebelumnya, aku ingin melihat keahlian kalian dalam memasak. Karena aku sangat menyukai Puding Mokacino Leci dan Kue Cokelat, buatlah dua sajian itu dengan cara yang kreatif,” pinta Raja.
“Akhirnya, aku punya kesempatan untuk membuktikan kemampuanku. Aku akan tetap menjadi koki nomor satu di istana!” batin Koki Koko senang.
Di hari yang ditentukan, para koki mencoba mengeluarkan kemampuan memasak mereka sebagus mungkin. Hasilnya, ternyata sungguh di luar dugaan raja.
“Wah, Puding Mokacino Leci dan Kue Cokelatnya jadi beraneka rupa! Semuanya terlihat menarik!” seru Raja Kulinari yang kagum sambil memandang deretan puding dan kue yang tertata rapih di atas meja.
Sementara di dalam hati, Koki Koko yakin masakannya akan dipuji sebagai yang terbaik oleh Raja. “Mereka bisa saja membuat Puding Mokacino Leci dan Kue Cokelat dengan berbagai cara kreatif. Tapi yang terbaik, pasti aku!” batin Koki Koko dengan pongah.
Setelah mencicipi semua sajian, Raja Kulinari lalu memutuskan Puding Mokacino dan Kue Cokelat buatan Koki Moki sebagai yang terbaik.
“Saya suka dengan Puding Mokacino Leci yang dipadu dengan Kue Cokelat ini. Rasanya segar dan terasa lembut!” puji Raja Kulinari. “Saya juga tak menyangka kalian semua bisa sekreatif ini dalam membuat Puding Mokacino dan Kue Cokelat. Semuanya terasa enak!”
Seorang koki istana lalu maju dan meminta izin untuk bicara. “Raja, sebetulnya semua ini karena Koki Moki. Ia selalu membagi ilmu memasaknya pada kami semua. Bahkan, ia juga berbagi resep rahasia Puding Mokacino andalannya.”
“Wah, kenapa bisa begitu, Koki Moki?” tanya Raja heran.
“Begini Raja, meskipun orang lain membuat Puding Mokacino dengan resep andalan saya, tapi kan yang mengerjakan berbeda orangnya,” jawab Koki Moki.
“Satu lagi, Raja,” celutuk seorang koki istana lainnya ingin ikut berbicara. “Kami bisa membuat sajian sekreatif ini karena mendapat banyak ide dari Koki Moki juga. Ia banyak memberi inspirasi sehingga kami bisa membuat sajian seperti ini.”
“Saya jadi bingung dengan sikapmu, Koki Moki. Apa kamu tidak takut tersaingi?” Raja kebingungan.
“Anehnya, saya jadi sering mendapat hal baru setelah berbagi ilmu memasak dengan para koki istana lainnya,” jawab Koki Moki.
Koki Koko yang mendengar itu semua hanya menyimak semua pembicaraan itu dengan hati gusar. Di hari-hari berikutnya, Koki Koko masih saja belum mau merubah kebiasaannya yang tak mau berbagi ilmu pada koki-koki lainnya.
Nah kalau kalian menjadi Raja, siapa yang teman-teman akan pilih sebagai koki yang terbaik, Koki Koko, atau Koki Moki, ya?

Saat Kak Linda Akan Pergi

Standard

Oleh: Ika Maya Susanti

“Tenang saja, sebentar lagi kamu enggak punya kakak yang bisa diajak bertengkar lagi!” setengah berbisik Kak Linda berujar sambil menatap tajam ke arahku.
Aku langsung membalikkan tubuh membelakangi Kak Linda.
“Huh, silakan pergi! Silakan menikmati hidup di sekolah mahal. Aku senang, karena kamar yang aku tempati ini akan berkurang sesaknya. Hanya tinggal aku dan ibu,” pikirku riang.
Lusa, Kak Linda akan mulai bersekolah di sebuah SMA di Banjarmasin. Letak kota itu cukup jauh dari Tapin, tempat kami tinggal saat ini. Kata Kak Linda, mungkin sekitar tiga jam untuk bisa ke sana dalam satu kali perjalanan menggunakan mobil. Entahlah, aku memang pernah ke Banjarmasin. Tapi aku tak pernah menghitung bisa berapa lama perjalanan untuk pulang dan pergi dari sana.
Kak Linda itu anak yang pintar. Ia bisa diterima beasiswa setelah melewati dua kali tes di sana. Saat dinyatakan diterima, keluargaku begitu senang. Bapak, ibu, dan nenek sampai menangis terharu. Pamanku tak henti-henti berujar syukur. Tapi perasaanku sendiri begitu campur aduk.
Yah, siapa sih yang tak bangga? Bayangkan saja, dari semua siswa di SMP tempat Kak Linda bersekolah yang ikut tes di sekolah itu, hanya Kak Linda yang bisa lulus.
Tapi buatku, Kak Linda juga orang yang sering menyebalkan! Ia sering sok banyak mengatur tentang waktu hidupku. Aku harus rajin belajar. Aku harus membantu orang tuaku. Aku tidak boleh tidur terlalu malam hanya karena menonton televisi. Pokoknya, begitu banyak aturan Kak Linda yang cukup membuatku kesal.
Seperti malam ini, Kak Linda menasehatiku agar aku jadi anak yang rajin belajar. Aku harus ingat perjuangan Bapak dan Ibu yang selalu pergi ke sawah dari pagi sampai sore demi menghidupi keluarga kami.
Baiklah, aku memang kasihan dengan Bapak dan Ibu. Aku tahu dan sadar itu. Jadi tidak perlu rasanya Kak Linda kemudian menasehati aku. Apa ia pikir, karena ia bisa lulus diterima di sebuah sekolah bagus dan tidak perlu membayar apapun, berarti ia sudah jadi pahlawan untuk keluarga kami?
Karena kesal, langsung saja aku tadi berujar, “Stop menjadi orang yang cerewet! Kalau mau pergi ya pergi saja dari sini. Aku senang, habis ini enggak ada lagi orang yang terlalu banyak mengatur di rumah ini!”
Mendengar itu, Kak Linda langsung menatapku kesal dengan matanya yang berair dan memerah. Sewaktu melihat itu, aku senang bisa membuat Kak Linda marah.
“Uhuk, uhuk!” terdengar suara batuk Kak Linda. Dan hei, apa benar yang aku dengar ini? Kak Linda sepertinya sedang menangis? Di tengah-tengah suara batuknya, aku seperti mendengar Kak Linda yang menangis dengan isakan tertahan.
Perasaan marahku lalu berkurang. Aku jadi bertanya-tanya, apa kata-kataku tadi telah terlalu kasar kepada Kak Linda, ya? Ah, rasanya kami sudah biasa bertengkar dan saling mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan. Jadi, kenapa kali ini Kak Linda harus menangis?
“Linda? Kenapa, Nak?” kali ini kudengar suara Ibu. Mungkin Ibu terbangun karena berkali-kali mendengar suara batuk Kak Linda.
“Aku enggak mau pergi dari rumah, Bu. Aku mau sekolah di dekat sini saja,” adu Kak Linda sambil menangis tergugu.
Apa? Kak Linda enggak mau sekolah di Banjarmasin? Uh, enggak seru! Jadi aku akan terus sering bertemu Kak Linda dan bertengkar dengannya? Segala gerutuanku kuucapkan di dalam hati sambil tetap terus memejamkan mata. Aku mencoba berpura-pura telah tertidur pulas.
“Lho, kemarin katanya Linda senang bisa diterima di sana, kan?” tanya Ibu.
“Nanti kalau aku sekolah di sana, siapa yang akan membantu ibu memasak? Siapa yang akan membantu membersihkan rumah? Siapa yang akan mengajari Eni belajar?”
Aku mendengar kata-kata Kak Linda dengan hati kesal. Memangnya, cuma dia saja selama ini yang bisa membantu Ibu? Aku juga bisa! Aku kan sudah kelas 5 SD.
“Tidak usah khawatir begitu. Nanti ada Acil yang akan bantu Ibu,” jawab Ibu.
Ya, Ibu benar. Kak Linda saja yang terlalu khawatir. Acil adalah panggilan untuk bibi di daerahku. Adik ibuku itu memang tinggal di depan rumah dan kerap membantu keluarga kami jika ada apa-apa.
“Tapi Eni sebentar lagi naik kelas enam, Bu? Siapa nanti yang akan membantu ia belajar?”
Ih, kok namaku jadi ikut disebut-sebut? Aku bisa belajar sendiri, kok.
“Sudah, pokoknya kamu harus tetap sekolah di sana ya. Itu sekolah bagus. Banyak yang mau sekolah di sana. Semuanya akan akan baik-baik saja di sini,” Ibu masih berusaha menenangkan Kak Linda.
Tapi sebentar, apa Kak Linda hanya berpura-pura memerhatikan aku, atau tidak ya? Memang benar, selama ini Kak Linda banyak membantuku dalam belajar di rumah. Tapi Kak Linda selalu menolak jika aku minta untuk langsung mengerjakan tugasku saja dari pada harus menerangkan aku terlebih dulu. Kadang Kak Linda justru membuatku bisa lebih mengerti pelajaran yang sebelumnya sudah diterangkan guruku di sekolah.
Aduh, benar juga ya. Kalau tidak ada Kak Linda, siapa yang akan mengajari aku belajar? Kalau aku ada kesulitan belajar, aku harus bertanya ke siapa? Aku jadi mulai khawatir.
Yah, jika diingat-ingat, Kak Linda memang selalu cerewet. Aku tahu, itu untuk kebaikanku. Hanya saja aku sering tidak tahan dengan kecerewetannya itu.
Aku membuka mataku. Rupanya Kak Linda dan Ibu sudah kembali tidur. Kubalikkan tubuhku hingga membuat aku menatap wajah Kak Linda dari jarak dekat. Wajah itu, sebentar lagi akan jarang aku lihat. Apakah nanti aku akan rindu dengan Kak Linda? Apakah aku akan rindu dengan kecerewetan Kak Linda?
Terbayang sekilas dalam benakku, bagaimana lemah lembutnya Kak Linda saat mengajariku belajar. Ah, Kak Linda benar. Sebentar lagi aku akan kehilangan seorang kakak yang kerap membuatku bertengkar. Rumah ini akan lebih sepi. Tapi… rasanya kemudian aku mungkin akan merindukan segala kebaikan Kak Linda. Namun jarak yang jauh antara Tapin dan Banjarmasin bisa membuat aku tidak bisa sering bertemu dengan Kak Linda.
Perasaan kesalku pada Kak Linda saat ini memang masih ada. Tapi seperti biasanya seusai kami bertengkar, kami selalu saling meminta maaf seperti yang diajarkan oleh Bapak. Meskipun itu yang salah adalah aku atau Kak Linda.
Yah, masih ada hari esok. Aku masih punya waktu untuk meminta maaf dengan sungguh-sungguh padanya.Saat ini aku tidak ingin mengganggu tidur Kak Linda.