Tentang Kalimat (sentences)

dari twitter @windyariestanty

The sentence is the writer’s most important tool

Sederhana saja, bila penulis tidak bisa membuat kalimat yang baik, mustahil tulisannya dibaca.

It was the best of sentences, it was the worst of sentences by June Casagandre, is a book that shows how important the sentences are.

Membuat kalimat yang baik bukan hanya bertujuan menyenangkan diri sendiri, tetapi yang terpenting menyenangkan pembaca.

Unlike when we speak, we usually spend time thinking about what we want to say before we write.

What’s more when we write we often have in our heads more information than we can use, don’t know how to leave out.

Tapi kata June Casagandre, alasan utama yang bikin kalimat-kalimat jadi jelek adalah ‘seseorang’ menghilang ketika kita sedang menulis.

‘Seseorang’ yang dimaksud adalah pembaca.

‘Thy reader, thy god’, kata June Casagandre.

If you want to master the art of sentence, you must first accept a some what unpleasant truth something a lot of writers would rather deny.

The reader is king. You, writers are his servant.

You serve the reader information, entertainment, and detail of your character and conflict. As a writer, your working for readers.

Only by knowing your place can you do your job well. Good writing hangs in the balance.

Your writing is not about you. It’s about the reader.

Mungkin kita menulis tentang sesuatu tentang kita, memoar, personal literature or essay, atau bahkan biografi, tapi ini tidak sepenuhnya tentang kita.

Ever read a memoir that sounded too self-pitying? Pernah baca blog yang ngomongin orang-orang yang nggak kita tahu sama sekali sehingga berasa asing?

Those things happened because the writer forgot the place. They forgot that they’re working for readers, the other way around.

This is the rule: whether u’re christian, moslem, jew, or just believe in god, when you sit down to write, the reader is thy god.

Sure, we can’t know everything the reader wants. You can’t serve the reader all the time. And you should not try.

Tapi hanya ada satu hal yang diinginkan pembaca: kalimat yang jelas, ringkas, dan mudah dipahami sangat penting untuk mereka.

All great writing has one thing in common. It starts with a sentence.

Peta Menulis Fiksi (Plot)

dari twitter @windyariestanty

Apabila sebuah cerita kita ibaratkan sebuah kota, maka plot dalam cerita adalah petunjuk bagi para pendatang agar tidak tersesat.

Seperti darah yang mengalir di tubuh, begitulah pentingnya plot dalam sebuah fiksi.

Menulis fiksi bukan sekedar kalimat yang memukau. Mengedit fiksi sama dengan bukan sekedar diksi.

Ketika seorang editor mengedit cerita fiksi, diksi memang merupakan poin yang harus diperhatikan.

Tetapi, sebelum masuk ke sana, elemen ceritalah yang harus terlebih dahulu diperhatikan.

Ada 7 elemen cerita yang diperhatikan editor ketika mengedit fiksi. 7 elemen ini juga yang sebaiknya diperhatikan ketika menulis fiksi.

Tujuh elemen cerita itu adalah plot, karakter, dialog, adegan, poin of view, latar belakang cerita atau tema, pembuka yang menarik.

Diksi yang bagus tidak akan ada gunanya apabila elemen cerita yang dibangun tak padu alias lepas.

Kali ini kita fokus ke plot. Maka pertanyaan mendasarnya apakah plot yang dibangun tidak membuat pembaca tersasar dan membingungkan mereka.

Mengapa begini, mengapa begitu? Plot yang baik harus bisa menjawab itu semua.

Bagaimana mengundang si tuan plot agar bertandang?

Secara sederhana, plot atau alur cerita bisa didefinisikan sebagai sebuah proses untuk membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan.

Plot berfungsi mengikat perhatian pembaca terhadap tujuan dramatik sebuah cerita, mempertahankan keingintahuan pembaca.

Juga berfungsi menuntun pembaca ke arah penyelesaian yang meyakinkan.

Unsur dramatik dalam sebuah cerita terentuk melalui 2 hal.

Unsur dramatik sebuah cerita dibentuk oleh (1) tindakan, (2) kejadian.

Apabila penulis berhasil mengurai dua hal tersebut, maka jalan cerita akan mengalir lancar.

Hubungan sebab akibatnya terlihat jelas, perkembangan konflik memengaruhi perkembangan tokoh dan tujuan yang tercapai.

Dan yang paling penting semuanya masuk di akal.

Salah satu contoh plot yang bagus adalah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Ini salah satu plot klasik yang sukses diterapkan di zaman manapun.

Cinta yang tumbuh di tengah perseteruan antar keluarga merupakan konflik yang membawa cerita bergerak.

Plot dari cerita itu menggiring pada penyelesaian akhir yang dramatis.

Melalui sepasang kekasih itu, melalui peristiwaa demi persitiwa dan serangkaian tindakan, pembaca diajak merasakan kekuatan cinta.

Bagaimana menelisik plot lewat karakter? Pastikan selalu ada tujuan. Caranya?

(1) Kenali setiap karakter yang terlibat di dalam cerita tersebut.

(2) Cari tahu bagaimana kita melibatkan secara langsung setiap karakter dalam berbagai situasi dan kejadian.

(3) Dalam setiap cerita, masing-masing karakter melakukan tindakannya untuk mencapai tujuan.

Tindakan yang dilakukan setiap karakter harus membawa cerita ke arah penyelesaian.

Tantangan dan hambatan muncul karena setiap karakter bertindak menurut cara mereka dan mungkin saling menjegal sehingga muncul hambatan baru.

Tindakan mengatasi hambatan ini akan memberikan efek dramatis pada setiap langkah yang dilakukan karakter atau tokoh untuk mencapai tujuan.

Bagaimana membangun adegan untuk memperkuat plot?

Apakah adegan menentukan perkembanan cerita? Tentu saja karena ia memiliki tujuan.

Setiap adegan pada cerita, bahkan di genre komedi sekalipun, bukan panggung untuk mengobrol ngalor ngidul, sekedar bercanda tanpa juntrungan.

Ini yang sering jadi kelemahan tulisan komedi. Kebanyakan berpikir yang penting konyol. Alur cerita? Nanti dulu!

Coba ajukan beberapa pertanyaan berikut untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan dari adegan pada cerita.

(1) Apakah ada konflik di setiap adegan, sesuatu yang akan memaksa tokoh melakukan suatu tindakan?

Kalau tidak, apa yang akan terjadi? Bisakah kamu membayangkan adegan yang relevan dengan plot?

(2) Apakah setiap adegan mendukung perkembangan karakter dan evolusinya?

Amati bagian-bagian mana dari perubahan tokoh yang disebabkan oleh sebuah kejadian atau peristiwa.

Kalau tidak ada, maka cari tahu, apa yang bisa dilakukan oleh tokoh untuk bisa menarik minat pembaca.

(3) Apakah tokoh-tokoh yang munculdalam setiap kejadian itu memiliki peranan penting?

Atau apakah akan terjadi sesuatu yang mengejutkan apabila pembaca tidak memberikan cukup perhatian pada tokoh tersebut?

Apabila tidak ada yang terjawab, artinya cerita tersebut tidak memiliki tujuan.

Potong adegan, atau tambakan sesuatu pada adegan sehingga bisa membuat perbedaan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

Lalu bagaimana menghadirkan adegan yang bisa mengembangkan cerita?

(1) Mengamati adegan dari sudut pandang yang berbeda.

Sediakan waktu lebih untuk mengutak atik cara pandang terhadap sesuatu dari berbagai karakter.

Seorang editor fiksi biasanya akan membuat tabel karakter dari kejadian untuk merunut semuanya.

Nah, ada baiknya penulis melakukan persiapan yang lebih agar dia sendiri tidak tersesat di dalam ceritanya.

Pada tabel tersebut, buatlah segala kemungkinan yang bisa timbul jika seseorang dengan karakter A mengalami kejadian B.

Ini memang menghabiskan cukup banyak waktu, tetapi tidak ada tulisan yang hidup, bila penulis tidak mencoba masuk ke inti cerita.

Inception punya semua elemen cerita tadi. Karakter kuat, dialog membangun cerita, plot-nya rapih. Tak ada satu pun yang lolos dari akan kita.

Cerita yang baik memiliki elemen personal yang membantu terbentuknya cerita.

Pada titik tertentu, ini membuat cerita memiliki sesuatu yang bisa dikenali sebagai ciri si penulis.

Ingat, hanya mereka yang mengenal sesuatu dengan baik yang bisa menggali lebih dalam dan memperkaya apa yang sedang dikerjakannya.

(2) Keterkaitan antar-adegan.

Karena adegan merupakan pondasi bagaimana sesuatu terjadi, maka setiap adegan tidak berdiri sendiri.

Satu kejadian memengaruhi kejadian yang lain.

Misal, ada dua hal yang dilakukan di tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan.

Apakah sudah sangat jelas bagi pembaca bahwa kita berada pada tempat dan waktu yang berbeda? Pada bagian mana ini saling terkait.

(3) Jangan jadi ‘Tuhan’ yang Sok Tahu.

Penulis boleh merasa jadi ‘Tuhan’ dalam tulisannya, tapi pastikan semua yang terjadi memangĀ  layak diterima para tokoh.

Apakah penulis menyelesaikan konflik yang dihadapi tokohnya terlalu cepat?

Jika iya, berarti penulis telah melakukan kesalahan menghancurkan rasa ingin tahu pembaca yang terlalu cepat.

Jadi ‘Tuhan’ bukan pekerjaan mudah. Setiap tokoh punya hak untuk berkembang. Penulis harus bisa menjadi ‘Tuhan’ yang bijak.

(4) Hindari adegan atau tokoh yang muncul tiba-tiba.

Dalam membangun cerita, jangan memasukkan adegan atau tokoh tiba-tiba.

Seringkali di tengah-tengah ceritakita menemukan adegan atau tokoh yang sifatnya tempelan.

Apabila dalam naskah kita menemukannya, maka jangan ragu untuk memangkasnya.

Terutama kalau kamu sendiri pun bahkan tak memiliki penjelasan mengapa adegan dan tokoh itu harus ada.

Hey, tanpa mereka ceritanya akan baik-baik saja kan?

WHAT SHOULD YOU KNOW WHEN YOUR BOOK WILL BE PUBLISHED

dari twitter @windyariestanty

Setelah penerbit memberi tahu naskahmu akan diterbitkan, biasanya ada sejumlah hal yang layak kamu tahu.

Ingat, tidak semua naskah begitu disepakati terbit akan terbit saat itu juga.

Terbitnya naskah tergantung antrean naskah yang sudah dijadwalkan terbit oleh penerbit.

Sebaiknya selagi menunggu jadwal terbit, kamu bisa menghabiskan waktu dengan memerbaiki naskah.

Jangan ragu menghubungi editor, tanyakan apakah ada sejumlah revisi yang harus kamu lakukan.

Setelah diputuskan terbit, penerbit akan menyiapkan SPPB untuk penulis. SPPB singkatan dari Surat Perjanjian Penerbit Buku.

SPPB ini memuat hak dan kewajiban antara penulis dan penerbit.

Pelajari kontrak dengan baik. Apabila ada hal yang kurang kamu pahami, jangan ragu untuk bertanya.

SPPB setiap penerbit pastinya berbeda-beda. Kita tak bisa menyamakannya.

SPPB hanya mengikat buku, atau judul yang disebut bukan penulis.

SPPB hanya untuk 1 buku, bukan semua buku yang akan kamu tulis atau terbitkan.

Apabila ada SPPB yang bersifat eksklusif, sebaiknya kamu tanyakan ke penerbitnya.

Kontrak eksklusif biasanya mengikat penulis hingga batas waktu tertentu dan hanya boleh menerbitkan buku di penerbit ybs.

Biasanya penulis bangga jika diikat eksklusif. Sementara berdasarkan pengalaman, kontrak eksklusif bikin penulis tidak merdeka.

Loyalitas penulis tidak bisa diikat dengan kontrak, tetapi dengan kepercayaan, kejujuran, saling menghargai, dan kinerja yang baik.

Jenis kontrak boleh beragam, tetapi semuanya kembali ke penulis. Sepenuhnya itu hak penulis.

Idealnya satu buku = satu kontrak.

Dalam SPPB, hal yang biasanya sangat diperhatikan penulis adalah royalti. Royalti memang salah satu hak penulis.

Besarnya royalti yang diberikan penerbit beragam. Mulai dari 6 persen sampai 12 persen. Bahkan ada juga 4 persen.

Idealnya royalti diberikan sebesar 10 persen ke penulis. Ini besar yang paling jamak dan berlaku internasional.

Apabila besarnya royalti lebih besar atau lebih kecil, sebaiknya tanyakan ke penerbit, apa yang menjadi alasan.

Biasanya ada sejumlah faktor yang menyebabkan besaran royalti berbeda.

Ada penerbit yang memberlakukan sistem royalti flat, ada juga progresif.

Sistem royalti flat: berapapun buku yang laku, maka selamanya persentase royalti tidak akan berubah.

Sistem royalti progresif: bila penjualan mencapai angka tertentu yang disepakati, maka besaran persen royalti akan meningkat.

Artinya semakin buku terjual tinggi, persen royalti yang diterima penulis pun bertambah. Nah angka penjualan ini yang tak sama.

Sistem royalti progresif ini menurut saya paling adil. Penulis dapat tambahan royakti apabila bukunya terjual luar biasa.

Kalau dulu angka keramat 3.000 buku terjual per tahun itu sudah dianggap bestseller, hari ini angka keramatnya berbeda.

Umumnya royalti dibayarkan setiap 6 bulan sekali untuk setiap judul dan sudah dipotong pajak.

Tapi ada juga penulis yang sistem pembayaran royaltinya berbeda.

Ketika buku naik cetak, penulis berhak mendapatkan uang muka royalti. Besarnya pun berbeda-beda di setiap penerbit.

Penerbit wajib melaporkan penjualan buku kepada penulis. Laporan penjualan biasanya berbarengan dengan surat pemberitahuan royalti.

Penulis berhak tahu berapa bukunya yang telah terjual. Juga wajib untuk memikirkan bagaimana agar bisa terjual lebih.

Tugas penulis tidak berhenti ketika tulisan selesai. Penulis pun wajib memikirkan cara mempromosikannya.

Royalti berlaku seumur hidup dan bisa diwariskan ke orang yang ditunjuk oleh si penulis.

Selain royalti, di SPPB juga disebutkan jumlah buku untuk cetakan pertama. Ingat, ini juga berbeda di setiap penerbit.

Selain royalti, hal lain yang jadi hak penulis adalah HAK CIPTA. Ini mengikat selamanya dan membuat penulis menjadi abadi.

Apabila dalam SPPB dinyatakan hak cipta buku tersebut adalah milik penerbit atau pihak lain, I suggest you guys to say NO.

SPPB berlaku sampai penulis berniat menarik hak terbit buku tersebut dari penerbit bersangkutan.

Apabila buku kalian cetak ulang, maka berlaku mutatis mutandis, artinya berlaku sama dengan sebelumnya.

Apa Saja yang Menjadi Bobot Menilai Sebuah Fiksi

dari twitter @windyarietanty (editor penerbit Gagas Media dan Bukune)

(Sumber utama: 10 Langkah Menulis Cerita yang dibuat oleh A S Laksana)

1. Bacalah. Membaca sangat penting untuk setiap orang yang ingin menulis. Demi meningkatkan kemampuan menulis cerita, mulanya harus banyak membaca.

Ini bukan hanya memberi motivasi dan inspirasi, tetapi juga membantu kita memahami bagaimana penulis lain memikat pembaca.

Juga bagaimana mereka menerapkan gaya mereka. Dari sana kita bisa membangun gaya bertutur sendiri.

2. Mendapatkan ilham. Bagi para penulis yang sudah jago, ilham tampaknya datang begitu saja setiap saat.

Bagi para penulis baru? Jangan khawatir, ilham bisa didapat di mana-mana. Banyak hal sederhana bisa menginspirasi. Ini hanya persoalan ‘cara melihat’.

3. Rumuskan konsep cerita kita. Ini tentang ‘apa’ yang ingin kita sampaikan. Misal, dalam MMJ (Marmut Merah Muda karya Raditya Dika), Radit ingin bicara tentang cinta yang diam-diam.

4. Tentukan peristiwa kunci. Tulislah daftar peristiwa kunci yang akan terjadi dalam cerita kita.

Tulis karakter-karakter yang akan menghidupkan cerita. Tidak harus detail. Ini hanya sketsa kasar jalannya cerita.

5. Pahami karakter-karakter dalam cerita yang akan kita buat.

Menulis cerita kira-kira sama dengan menyampaikan sebuah peristiwa yang dialami oleh ‘seseorang’ atau ‘beberapa orang’

Jika Anda kenal betul dengan orang itu, cerita kita akan meyakinkan. ‘Seseorang’ dalam cerita kita adalah tokoh yang kita ciptakan.

Kenali tokoh itu sedalam-dalamnya dan kita akan bisa menuturkan cerita yang menarik tentangnya. Bikinlah tokoh kita masuk akal tapi menyimpan misteri.

6. Bikinlah pembukaan yang baik.

Pembukaan harus menarik karena kita harus memikat pembaca dari awal hingga akhir cerita. This is the power of first paragraph.

Pelajari paragraf pertama dari banyak cerita yang kita baca. Apa yang membuat kita tertarik untuk terus membaca?

7. Bangunlah plot yang memikat.

Sejak permulaan, sodorkan peristiwa yang akan segera melahirkan persoalan atau konflik bagi karakter utama.

Perbesar konflik selama cerita berjalan. Ini akan membuat pembaca kita dengan senang hati melahap cerita sampai habis.

8. Gunakan dialog.

Dialog penting untuk menghidupkan cerita.

Gunakan dialog untuk memperkuat cerita dan menghidupkan karakter. Jangan menggunakannya sebagai cara untuk memanjang-manjangkan cerita.

9. Tulislah cepat-cepat.

Kita harus cepat menyelesaikan cerita sebelum kehilangan mood. Kalau terlalu lama manyun di satu cerita, kita sendiri akan bosan dan kelelahan.

10. Edit & revise it!

Cerita kita sudah selesai. Simpan barang seminggu. Tulis lagi cerita baru. Setelah kurang lebih seminggu, tiba saatnya untuk mengedit cerita yang lama.

Perbaiki sebagus-bagusnya cerita tersebut. Baik juga meminta teman untuk membaca cerita kita.

Mereka biasanya jeli melihat kesalahan. Tak usah cemberut jika mereka mengkritik.

Dan ada beberapa hal kecil tapi tidak sepele yang harus juga kita perhatikan dalam menulis cerita selain 10 tadi.

(10 yang tadi dari A S Laksana, 3 yang berikut ini tambahan dari windyariestanty sendiri)

1. Point of view. Sudut pandang yang digunakan. Ingat, semua orang punya point of view yang beda. Jadi kalau semua karaktermu sama, itu tidak seru.

2. Perhatikan cara berbicara tokoh. Pilihan kalimatnya, intonasinya. Tidak mungkin semua karakter bicara dengan nada yang sama.

Pernah nggak kamu baca novel yang semua karakternya mirip, mulai dari cara berpikir, begitu juga dengan cara berbicaranya?

Seorang tokoh yang pemalu, tentunya memiliki cara berbicara yang berbeda dengan anak yang pemberani. Setiap orang punya gaya bicara.

3. Logika bercerita. Bahkan dalam fiksi sekalipun logika bercerita harus dijaga.

Dalam fiksi bukan berarti semua semua hal dimaklumi dan menjadi boleh dengan alasan ‘namanya juga fiksi’

Imajinasi yang ‘bohong’ sekalipun membutuhkan fakta dan realitas untuk kondisinya agar bisa disebut bohong. Begitulah sebuah fiksi bermain.

Fakta akurat yang didapat dari riset membuat realitas imajinatif yang disuguhkan pengarang dalam karya fiksinya tidak kehilangan logika.

Cerita pun menjadi meyakinkan. Jika tidak, maka cerita akan cacat. Pembaca yang kritis akan sangat terganggu dengan cacat ini.

Tips Menulis a la Fira Basuki

dari twitter @FiraBasuki

Paling penting, menulislah dari dalam hati. Jadi tanpa paksaan.

Jadilah diri sendiri, cari gaya bahasa dan gaya penulisan yang sesuai. Sudah ada @deelestari (Dee Lestari), sudah ada @radityadika (Raditya Dika) misal, jadi ngapain ikut-ikut gaya mereka?

Ide dapat dari mana? dari mana-mana! Sehari-hari, imajinasi, bahkan mimpi! Kata siapa tokohnya nggak boleh aneh-aneh? Harry Potter gimana?

Terus jangan tidur-tiduran berharap ide jatuh dari atap. Cari dong ah! Jalan-jalan, baca, nonton, buka wawasan!

Tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia fiksi. Tapi, bener mau njelek-njelekin agama atau budaya orang misalnya? Buku itu abadi! (Maksud Fira, berhati-hatilah kalau menulis. Karena apa yang pernah kita tulis itu sifatnya panjang sebagai karya untuk bisa dinikmati orang sepanjang masa)

Siapa bilang nulis harus dari depan, tengah, belakang ikut bagian berurut? Kalau memang tahu akhirnya dulu, silakan lho!

Perlu banget lihat acara-acara. Nah, kayak sekarang nih cari ide di acara 17-an. Lihat beragam karakter, rekam untuk ide.

Nggak bisa semua dimasukin ke 1 buku. Pilih fokusnya apa? Tujuannya apa? Mmasakan kalau kebanyakan bumbu juga eneg.

Jangan meremehkan apapun. dari hujan sampai cacing, bisa memberi ide. Buka indera kepekaan.

Paragraf pertama amat sangat penting. Gunakan kata-kata atau kalimat yang ‘catchy’. Bikin orang senyum, tertarik, penasaran.

Seperti atlet yang latihan tiap hari atau teratur, untuk lancar menulis pun demikian. Kalau bisa tiap hari nulis! Apapun! Walau sedikit.

Untuk pemula, nulis novel supaya teratur, rapi, nggak lupa, catat ringkasan para karakter dan alur ceritanya.

Tata bahasa tidak harus EYD, mau bahasa gaul boleh gaya teenlit atau chicklit, campur istilah, formal. Semua boleh tergantung target pembaca.

Penting! Kalau pakai quote atau kutipan, jangan lupa akreditas, disebut siapa atau diambil dari mana. Hormati ucapan atau karya orang.

Konsisten gaya! Kalau sudah pakai bahasa gaul jangan tiba-tiba nikung jadi bahasa bak pidato kepresidenan.

Campur fakta atau imajinasi? Kalau fiksi kenapa nggak? Mau bikin karakter berkuping panjang ngopi di starbucks? Sila…

Ignore people yang suka merasa kisah cerita kita berasal dari mereka Ide suka bercampur Selama bentuknya fiksi, Anda selamat.

Judul atau isi dulu? Siapa peduli? Pas bikin Rojak, tahu judul belum tahu isi. Pembaca nggak perlu tahu proses. Terserah, yang penting hasil.

Bagaimana jika ide aru datang yang beda sama sekali? Ngetik dengan ide baru! Bisa jadi 2 buku atau yang lama lupakan atau diamkan dulu.

Mau masukin ini itu biar tulisan bagus? Halooo, yang nentuin bagus atau nggak itu pembaca. Makanya jangan segan-segan suruh orang baca.

Tanya pendapat? Jangan tanya keluarga, sahabat, apalagi ibu yang ada pujian-pujian yang diterima. Cari orang yang netral.

Ciptakan signature style, that’s you. Jadi penulis berkarakter, khas, percaya diri. Pikirkan gue yang ‘sangat gue banget’ jadi nyaman berkarya.

Jangan pernah menghina karya taua buku orang lain. Kalau tidak suka dan tidak puas, bikin yang lebih baik.

Kalau nggak ngerti atau nggak suka pasa baca suatu buku, simpen. Baca lagi di kurun waktu beda. Kematangan bisa jadi buat buku tadi tiba-tiba menarik.

Menghargai karya orang lain bisa jadi pembelajaran menulis bagi Anda.

Ada orang yang suka gado-gado tapi dia nggak suka pizza. Ada mie ayam yang banyak orang suka termasuk si penyuka gado-gado tadi. Pilih mau ‘masak’ apa?

Tapi paling penting jangan stres. Nulis mesti menyenangkan, bikin hati happy. Jangan merasa terpaksa.

Uang, ketenaran, itu hadir setelah hasil dan juga takdir. Saat proses jangan mikirin ini. Menulislah karena ingin menulis.

Banyak hal tidak bisa diukur uang, termasuk karya abadi. Bayangkan anak cucu baca, buku-buku ada di perpustakaan. Nama sesudah tiada.

Writer’s block? Biasa! Santai aja, tinggal aja dulu untuk refreshing. Jalan-jalan, senang-senang, ntar juga nemu ide lagi.

Nggak suka baca? Sorry, nggak usah jadi penulis aja. Bener deh, baca buku, koran, majalah, dan lain-lain itu wajib bagi penulis.