dari twitter @windyariestanty
Apabila sebuah cerita kita ibaratkan sebuah kota, maka plot dalam cerita adalah petunjuk bagi para pendatang agar tidak tersesat.
Seperti darah yang mengalir di tubuh, begitulah pentingnya plot dalam sebuah fiksi.
Menulis fiksi bukan sekedar kalimat yang memukau. Mengedit fiksi sama dengan bukan sekedar diksi.
Ketika seorang editor mengedit cerita fiksi, diksi memang merupakan poin yang harus diperhatikan.
Tetapi, sebelum masuk ke sana, elemen ceritalah yang harus terlebih dahulu diperhatikan.
Ada 7 elemen cerita yang diperhatikan editor ketika mengedit fiksi. 7 elemen ini juga yang sebaiknya diperhatikan ketika menulis fiksi.
Tujuh elemen cerita itu adalah plot, karakter, dialog, adegan, poin of view, latar belakang cerita atau tema, pembuka yang menarik.
Diksi yang bagus tidak akan ada gunanya apabila elemen cerita yang dibangun tak padu alias lepas.
Kali ini kita fokus ke plot. Maka pertanyaan mendasarnya apakah plot yang dibangun tidak membuat pembaca tersasar dan membingungkan mereka.
Mengapa begini, mengapa begitu? Plot yang baik harus bisa menjawab itu semua.
Bagaimana mengundang si tuan plot agar bertandang?
Secara sederhana, plot atau alur cerita bisa didefinisikan sebagai sebuah proses untuk membangkitkan pertanyaan demi pertanyaan.
Plot berfungsi mengikat perhatian pembaca terhadap tujuan dramatik sebuah cerita, mempertahankan keingintahuan pembaca.
Juga berfungsi menuntun pembaca ke arah penyelesaian yang meyakinkan.
Unsur dramatik dalam sebuah cerita terentuk melalui 2 hal.
Unsur dramatik sebuah cerita dibentuk oleh (1) tindakan, (2) kejadian.
Apabila penulis berhasil mengurai dua hal tersebut, maka jalan cerita akan mengalir lancar.
Hubungan sebab akibatnya terlihat jelas, perkembangan konflik memengaruhi perkembangan tokoh dan tujuan yang tercapai.
Dan yang paling penting semuanya masuk di akal.
Salah satu contoh plot yang bagus adalah Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Ini salah satu plot klasik yang sukses diterapkan di zaman manapun.
Cinta yang tumbuh di tengah perseteruan antar keluarga merupakan konflik yang membawa cerita bergerak.
Plot dari cerita itu menggiring pada penyelesaian akhir yang dramatis.
Melalui sepasang kekasih itu, melalui peristiwaa demi persitiwa dan serangkaian tindakan, pembaca diajak merasakan kekuatan cinta.
Bagaimana menelisik plot lewat karakter? Pastikan selalu ada tujuan. Caranya?
(1) Kenali setiap karakter yang terlibat di dalam cerita tersebut.
(2) Cari tahu bagaimana kita melibatkan secara langsung setiap karakter dalam berbagai situasi dan kejadian.
(3) Dalam setiap cerita, masing-masing karakter melakukan tindakannya untuk mencapai tujuan.
Tindakan yang dilakukan setiap karakter harus membawa cerita ke arah penyelesaian.
Tantangan dan hambatan muncul karena setiap karakter bertindak menurut cara mereka dan mungkin saling menjegal sehingga muncul hambatan baru.
Tindakan mengatasi hambatan ini akan memberikan efek dramatis pada setiap langkah yang dilakukan karakter atau tokoh untuk mencapai tujuan.
Bagaimana membangun adegan untuk memperkuat plot?
Apakah adegan menentukan perkembanan cerita? Tentu saja karena ia memiliki tujuan.
Setiap adegan pada cerita, bahkan di genre komedi sekalipun, bukan panggung untuk mengobrol ngalor ngidul, sekedar bercanda tanpa juntrungan.
Ini yang sering jadi kelemahan tulisan komedi. Kebanyakan berpikir yang penting konyol. Alur cerita? Nanti dulu!
Coba ajukan beberapa pertanyaan berikut untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan dari adegan pada cerita.
(1) Apakah ada konflik di setiap adegan, sesuatu yang akan memaksa tokoh melakukan suatu tindakan?
Kalau tidak, apa yang akan terjadi? Bisakah kamu membayangkan adegan yang relevan dengan plot?
(2) Apakah setiap adegan mendukung perkembangan karakter dan evolusinya?
Amati bagian-bagian mana dari perubahan tokoh yang disebabkan oleh sebuah kejadian atau peristiwa.
Kalau tidak ada, maka cari tahu, apa yang bisa dilakukan oleh tokoh untuk bisa menarik minat pembaca.
(3) Apakah tokoh-tokoh yang munculdalam setiap kejadian itu memiliki peranan penting?
Atau apakah akan terjadi sesuatu yang mengejutkan apabila pembaca tidak memberikan cukup perhatian pada tokoh tersebut?
Apabila tidak ada yang terjawab, artinya cerita tersebut tidak memiliki tujuan.
Potong adegan, atau tambakan sesuatu pada adegan sehingga bisa membuat perbedaan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.
Lalu bagaimana menghadirkan adegan yang bisa mengembangkan cerita?
(1) Mengamati adegan dari sudut pandang yang berbeda.
Sediakan waktu lebih untuk mengutak atik cara pandang terhadap sesuatu dari berbagai karakter.
Seorang editor fiksi biasanya akan membuat tabel karakter dari kejadian untuk merunut semuanya.
Nah, ada baiknya penulis melakukan persiapan yang lebih agar dia sendiri tidak tersesat di dalam ceritanya.
Pada tabel tersebut, buatlah segala kemungkinan yang bisa timbul jika seseorang dengan karakter A mengalami kejadian B.
Ini memang menghabiskan cukup banyak waktu, tetapi tidak ada tulisan yang hidup, bila penulis tidak mencoba masuk ke inti cerita.
Inception punya semua elemen cerita tadi. Karakter kuat, dialog membangun cerita, plot-nya rapih. Tak ada satu pun yang lolos dari akan kita.
Cerita yang baik memiliki elemen personal yang membantu terbentuknya cerita.
Pada titik tertentu, ini membuat cerita memiliki sesuatu yang bisa dikenali sebagai ciri si penulis.
Ingat, hanya mereka yang mengenal sesuatu dengan baik yang bisa menggali lebih dalam dan memperkaya apa yang sedang dikerjakannya.
(2) Keterkaitan antar-adegan.
Karena adegan merupakan pondasi bagaimana sesuatu terjadi, maka setiap adegan tidak berdiri sendiri.
Satu kejadian memengaruhi kejadian yang lain.
Misal, ada dua hal yang dilakukan di tempat yang berbeda dalam waktu bersamaan.
Apakah sudah sangat jelas bagi pembaca bahwa kita berada pada tempat dan waktu yang berbeda? Pada bagian mana ini saling terkait.
(3) Jangan jadi ‘Tuhan’ yang Sok Tahu.
Penulis boleh merasa jadi ‘Tuhan’ dalam tulisannya, tapi pastikan semua yang terjadi memangĀ layak diterima para tokoh.
Apakah penulis menyelesaikan konflik yang dihadapi tokohnya terlalu cepat?
Jika iya, berarti penulis telah melakukan kesalahan menghancurkan rasa ingin tahu pembaca yang terlalu cepat.
Jadi ‘Tuhan’ bukan pekerjaan mudah. Setiap tokoh punya hak untuk berkembang. Penulis harus bisa menjadi ‘Tuhan’ yang bijak.
(4) Hindari adegan atau tokoh yang muncul tiba-tiba.
Dalam membangun cerita, jangan memasukkan adegan atau tokoh tiba-tiba.
Seringkali di tengah-tengah ceritakita menemukan adegan atau tokoh yang sifatnya tempelan.
Apabila dalam naskah kita menemukannya, maka jangan ragu untuk memangkasnya.
Terutama kalau kamu sendiri pun bahkan tak memiliki penjelasan mengapa adegan dan tokoh itu harus ada.
Hey, tanpa mereka ceritanya akan baik-baik saja kan?