Sesosok Gadis dalam Cermin Air

“Untuk apa air mata itu kau jatuhkan ke laut? Kerajaan air ini tak membutuhkan tambahan segelintir tetesan air yang asinnya tak sebanding dengan miliknya!”

Mata gadis ber-eye shadow tebal itu menatapku. Tak tajam, namun warna hitam luntur di lingkaran matanya menghujam belati ke arah mataku di balik keredupan sinar matanya.

“Siapa engkau?” gadis itu justru bertanya.

“Aku? Hanya orang yang kebetulan juga sepertimu, sedan g duduk di tepi lautan ini. Dan aku merasa terganggu dengan pemandangan suram yang kau hadirkan di sini.”

Sebuah tarikan di sudut bibir kanannya ia berikan demi mengganti tatapan matanya yang ia lempar jauh ke batas imajiner tempat matahari beberapa saat lagi menenggalamkan diri.

“Ia tak pernah menolakku untuk ada di sini. Apakah aku sedang bahagia, ataukah aku sedang merana, ia selalu menerimaku. Toh, kau bukan seseorang yang mengatur kadar asin air laut. Atau, pengatur aba-aba bagi tenggelamnya matahari,” cetus gadis dengan rambut terurai setengah kusut akibat permainan angin.

Jujur, aku jengah dengan kehadirannya. Banyak senyum manusia mengurai di sekitarku. Namun sosok gadis di hadapanku ini telah menguarkan aura kelabu dalam keriangan sapuan emas matahari yang sedang berjalan turun.

“Sudahlah! Kita tidak saling kenal. Jadi, pergilah dan carilah orang lain yang bisa kau ganggu!” hardiknya memintaku enyah.

Aku menatap sekali lagi ke arah sosok di hadapanku. Benarkah aku tak mengenalnya? Oh, tidak. Aku sedikit ingat siapa ia sebelum kemudian ia menumpahkan buliran-buliran air mata itu ke lautan. Bukankah ia gadis yang selalu menebar tawa meski orang lain tahu bagaimana ia telah menderita?

“Tidak, aku mengenalmu!” sahutku seusai rentetan bisu.

“Hahaha…” gadis itu tergelak, dan di sinilah aku yakin bahwa aku memang mengenalnya. Ya, aku kenal betul dengan pecahan tawa membahana itu!

“Baiklah, sekarang semua orang mengaku mengenalku. Sekarang aku tanya, apa yang kau kenal dariku?” todongnya memberi tanya.

“Kau gadis yang tak pernah mengenal duka. Namamu adalah Bahagia!”

Di sisa-sisa tawanya yang menyurut, ia mengayun-ayunkan kepala, tubuh, dan kedua kakinya. Aku menajamkan telinga. Tak ada musik yang kudengar. Tapi ada alunan tak nyata yang telah membuatnya berayun santai. Aku mulai ingat siapa gadis ini sesungguhnya.

“Engkau adalah sosok yang selalu memberi cinta meski kepada orang lain yang mungkin akan memberimu dinding batu yang sangat dingin,” lanjutku setelah sukses menggali memori.

Kini di pada tawanya yang mulai sulit aku kais, bening kristal kembali bergulir dari pelupuk matanya.

“Tapi kau tak pernah mengenalku yang selalu mencoba sekuat tenaga membangun sebuah taman penuh dengan bunga beraneka rupa dan aroma. Kau tak pernah tahu betapa aku kerap harus membereskan taman yang kerap porak poranda. Kau tak pernah tahu seperti engkau yang tak pernah peduli akan semua usahaku itu.”

Ombak air dari mata air yang memerah menelusup ke arah mataku. “Dan kau serta semua orang tak pernah tahu saat aku kemudian harus hadir menjadi hantu yang sungguh tak kuinginkan sebagai rupaku dalam kebahagiaan tanpaku yang telah aku ikhlaskan. Aku dan kesendirianku yang tak ingin aku harapkan kerap menjadi sesuatu yang membuat banyak orang murka. Aku sudah berjalan sendiri tanpa mengusik kebahagiaan yang telah meninggalkanku. Tapi mengapa aku masih harus disalahkan atas sebuah ketidakbahagiaan yang tercipta bukan karena salahku?”

Kini, aku kembali lupa siapa gadis di hadapanku. Seperti saat sebelumnya, saat air mata itu menetesi lautan, aku kembali amnesia akan siapa ia sesungguhnya.

“Siapa engkau?” tanyaku.

“Ah, kau memang tidak mengenalku. Jadi percuma aku harus bercerita siapa aku pada orang yang tak mengetahuiku. Yakinlah, lara ini bukan sebuah sajian yang menyenangkan untuk disukai,” ujarnya pada akhirnya lalu beranjak pergi.

“Hei, siapa engkau?” aku menahannya sekuat suara tanyaku. Gadis itu berhenti seketika namun tak kunjung menjawab. Ia hanya menatap air laut yang ada di hadapanku. Kuikuti arah tatapan itu. Dan aku melihat bayanganku adalah wajah gadis itu.