Awet Muda a la Hendri Lamiri

Hendri Lamiri di tengah-tengah grup musik Debu

“Ini Hendri Lamiri, atau bukan ya?” gumam saya berkali-kali.

Pasalnya, wajah violis yang siang tadi (11/3) tampil di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin itu saya lihat tampak lebih muda, cerah, dan segar. Sampai akhirnya saya membatin, “Ah, apa mungkin yang sedang saya lihat ini adiknya ya?”

Tapi, gaya khasnya saat memainkan biola, serta topi yang saya tidak tahu sebutannya itu sekali lagi mengusik saya.

“Orang yang sedang tampil bersama grup musik Debu ini… rasanya memang Hendri Lamiri!” bisik batin saya sekali lagi.

Dan benar saja. Tak lama kemudian, pembawa acara pun menyebut nama Hendri Lamiri sebagai sosok yang memang tampil bersama Debu siang itu. Saya pun langsung tersenyum senang. Apalagi saat Hendri akhirnya menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola di pembuka sebuah lagu yang akan dimainkan oleh Debu. Kedua mata saya pun langsung berbinar senang saat gesekan biola Hendri menari di kedua telinga saya.

Puas dari menyaksikan aksi panggung grup musik Debu yang dihadirkan dalam rangka ulang tahun surat kabar harian Media Kalimantan, saya pun melenggang pulang meninggalkan gedung. Namun pihak Bu Hasnuryani dari Yayasan Hasnur menahan langkah saya dan teman-teman.

“Makan dulu,” ajaknya ramah. Sebuah ajakan yang membuat saya dan teman-teman pada akhirnya mendapat sebuah kejutan di luar dugaan di ruang makan.

Kejutan itu adalah makan bersama grup musik Debu dan juga Hendri Lamiri! Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang langsung dimanfaatkan oleh teman-teman saya untuk berfoto bersama pada personel grup musik Debu.

Kekaguman saya terhadap sosok Hendri Lamiri sendiri hanya terobati ketika saya bisa sedikit berbincang dengannya di sela-sela acara foto bersama beberapa teman saya.

“Bang, apa nih resepnya awet muda?” celutuk saya.

“Ikhlas,” jawabnya singkat.

Sambil mengatur pose dan tetap tersenyum menghadapi bidikan kamera di ajang foto bersama itu, ia pun lalu menambahkan, “Kalau ada masalah, direduksi. Jangan ditumpuk,” imbuhnya ramah.

Jujur, inilah jawaban di luar dugaan saya yang entah mengapa seakan-akan seperti dikirim Tuhan untuk menasehati saya dan teman-teman saya. Atas apa yang sedang saya dan teman-teman alami saat ini, rasanya kata-kata seorang Hendri Lamiri seperti sebuah sentilan yang menyentuh kami.

Mama Perias

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Nis, tolong ambilkan kantong plastik hitam di belakang ya!” seru Mama dari arah ruang salonnya.

Aku keluar dari kamarku dengan langkah malas, lalu mengambilkan apa yang Mama minta. Saat aku masuk ke salon, tampak ruang salon telah sepi dari pengunjung. Aneh, padahal biasanya setiap sore, salon Mama pasti masih ramai pengunjungnya.

Kantong plastik yang ada di tanganku lalu kuberikan pada Mama. Mama meraih kantong plastik sambil memandangku dengan heran. “Nisa kenapa? Kok tidak seperti biasanya?”

Mama masih terus menatapku. Namun karena aku tetap tak menjawab, akhirnya Mama menyerah dan kembali menyapu sisa rambut yang berserakan.

“Enggak ada apa-apa.” Aku berlalu meninggalkan Mama. Aku takut Mama bisa menebak yang sebenarnya. Tapi belum sempat langkahku menjauh, Mama kembali memanggilku.

“Nis, habis maghrib, kamu mau enggak kalau Mama ajak keluar?” panggil Mama lagi.

“Iya.” aku hanya menjawab pendek tanpa bertanya ke mana dan untuk apa.

Malamnya, Mama mengajakku ke jalan-jalan mall. Malam yang aneh bagiku. Karena sepertinya, Mama sedang benar-benar ingin menghibur diriku. Mulai dari menawari beberapa baju baru, mengajakku makan makanan yang aku suka, juga mengajakku membeli buku-buku cerita kesukaanku. Rasanya, aku seperti menemukan mamaku yang dulu.

“Kamu senang, kan malam ini?” tiba-tiba saat pulang dari mall, Mama bertanya padaku.

“Uhm, Nisa senang sih, Ma. Tapi, memangnya ada apa sih, Ma?” aku jadi bingung sendiri.

Mama tersenyum. “Nisa pikir Mama tidak tahu? Nisa sedang sedih gara-gara Mama sampai akhirnya menangis tadi sore, kan?” tebakan Mama yang benar membuat aku mengangguk.

“Nis, Mama minta maaf ya! Selama ini, Mama selalu sibuk di salon. Karena salon itu baru berdiri, tentu saja banyak yang harus Mama kerjakan. Sampai-sampai jika malam hari, Mama jadi tidak punya waktu lagi untuk menemanimu belajar. Atau, mengajakmu jalan-jalan seperti dulu.”

Aku terdiam menunduk dan mulai merasa bersalah.

“Tapi, semua Mama lakukan untuk menolong ekonomi keluarga kita. Sejak Papa tidak ada, Mama susah payah mengatur keuangan keluarga. Dan akhirnya ketika tabungan peninggalan Papa tinggal sedikit, Mama pikir, sudah saatnya Mama harus bekerja! Tidak mungkin kan kita terus mengandalkan uang tabungan Papa? Kebutuhan sekolahmu saja makin hari makin besar.”

“Tapi, kenapa Mama harus bekerja setiap hari? Setiap hari libur, Mama juga sibuk di salon. Jujur Ma, Nisa sedih karena Mama jadi kurang memerhatikan Nisa,” protesku.

“Yah mau bagaimana lagi, Nis. Apalagi sekarang sedang musim banyak orang menikah. Banyak orang yang membutuhkan jasa Mama. Tentu saja, mendandani orang menikah di hari Minggu kan tidak setiap tahun. Tapi mulai sekarang Mama janji kok, Mama akan selalu menyisihkan waktu setiap hari untuk kamu. Oh iya, besok, mulai ada orang baru lho di salon! Dia akan membantu kerja Mama. Jadi, Mama enggak akan sesibuk seperti dulu lagi. Tapi, Mama juga minta pengertian dari Nisa ya tentang kesibukan Mama. Karena sekarang, mamanya Nisa bukan lagi ibu rumah tangga, lho!” ujar Mama sambil tersenyum menenangkanku.

Aku tersenyum dan memeluk Mama. “Maafkan Nisa, Ma. Nisa sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Mama. Nisa pikir, Mama sekarang sudah tidak sayang dan peduli lagi sama Nisa.”

Mama lantas membalas pelukanku dengan erat. Ah, kini aku tahu. Mamaku ini memang mama perias yang tidak hanya bisa membuat orang lain senang karena telah dibuat menjadi cantik. Tapi, ia juga bisa membuat anaknya menjadi anak paling bahagia di dunia.

Sejak saat itu, aku mencoba jadi mulai memahami dan mengerti pekerjaan Mama. Malah terkadang, aku kini lebih banyak mencoba untuk membantu Mama. Paling tidak, membantu membereskan perlengkapan atau membersihkan lantai salon. Terkadang aku juga sering duduk-duduk di salon Mama sambil memerhatikan bagaimana kerja Mama dan Tante Rini, orang yang kini membantu Mama. Siapa tahu nanti aku bisa membantu Mama untuk memotong rambut, mendandani, atau melakukan perawatan rambut untuk orang lain.

Yah, Mama kan sudah mencoba berjuang untuk aku. Jadi, kenapa aku harus marah padanya atau malah tidak mau tahu sama sekali tentang pekerjaannya sekarang? Ah, aku jadi malu dengan ulahku beberapa waktu yang lalu.

 

Kecerdikan Tora

Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Clok!” segumpal cairan kental jatuh di dekat pasukan semut yang sedang mencari makan.

“Makanan! Ayo teman-teman, kita serbu!” seru Bono, semut yang terkenal paling berani. Ia kemudian mempercepat larinya karena ingin sampai lebih dulu.

Tapi, kali ini Bono bertindak ceroboh. Ia langsung menerjang makanan sasarannya tanpa berhati-hati terlebih dahulu. Padahal, sasaran makanan tersebut adalah cairan kental yang mengandung minyak. Gara-gara kecerobohannya, Bono terperangkap di dalam cairan itu.

“Aduh, kenapa aku tidak bisa bergerak? Tolong, keluarkan aku dari sini!” teriak Bono kepada para semut yang sedang merayap di sekitarnya.

Mendengar teriakan itu, semut lainnya langsung waspada. Mereka hanya berjalan mengelilingi cairan makanan karena takut dan tidak mau ikut terjebak seperti Bono.

Namun, ada juga beberapa semut yang diam menunggu di dekat makanan. Ada juga yang mencoba mendekat dengan maksud menolong Bono. Termasuk, seekor semut yang bernama Tora.

“Aku penasaran dengan cairan ini! Hm, baunya sedap sekali! Pasti rasanya enak!” batin Tora sambil mengendus aroma cairan tersebut.

Bono yang masih terjebak di dalam cairan langsung mengingatkan Tora. “Hei, lebih baik kamu pulang saja! Panggil komandan kita. Dia kan bertubuh besar dan kuat. Pasti ia punya cara untuk menyelamatkanku.”

Dari jauh, komandan semut yang bernama Vero terlihat berjalan menghampiri mereka. Rupanya, ia sudah mendapat laporan tentang seekor pasukan semut yang terperangkap di dalam cairan makanan.

“Bono, mengapa kamu bisa terperangkap? Kamu kan pasukan semut yang terkenal handal?” ungkap Vero yang kecewa terhadap kecerobohan Bono.

Vero lalu berjalan mengelilingi cairan tersebut. Ia terus sibuk mengomeli Bono. Tapi, Vero tak kunjung beraksi menyelamatkan Bono. Karena sesungguhnya, Vero bahkan tidak tahu bagaimana cara membawa cairan makanan itu ke sarang para semut.

Bono sendiri malah asyik menceritakan keberhasilan-keberhasilannya saat dulu unggul dalam ajang berburu makanan. Ia sibuk menyalahkan dirinya dan bukan mencari jalan keluar,

Berbeda dengan Tora. Ia terdiam sambil mengamati percikan-percikan cairan yang menyebar ke mana-mana akibat ulah Bono yang terlalu banyak bicara dan bergerak. Saat percikan cairan itu ia dekati, ternyata ia bisa mengangkat gumpalan cairan itu dengan mudah.

“Ah, aku tahu bagaimana mengatasi masalah ini! Ayo Bono, teruslah bergerak sehingga cairan ini terpercik ke mana-mana!” teriak Tora menyemangati.

“Apa? Kamu bermaksud mengejekku ya? Kamu tahu, aku itu sudah lelah berada di dalam sini!” keluh Bono tersinggung.

Karena Bono sulit diajak bekerja sama, Tora akhirnya mencoba cara lain. Didekatinya cairan itu hingga menyentuh sedikit kepalanya. Lalu, ia tarik mundur hingga cairan itu berceceran.

“Apa yang kamu lakukan? Nanti kamu terperangkap seperti aku!” omel Bono.

Ternyata, cara yang dilakukan Tora justru aman bagi dirinya. “Ayo teman-teman, kalian ambili cairan yang berceceran! Ini aman dan ringan jika kalian membawa lalu menyeretnya!” seru Tora pada para semut di sekitarnya.

Pasukan semut yang sebelumnya telah melihat bagaimana cara Tora menyeret cairan makanan, langsung mencoba mengikuti cara itu. Sedangkan Vero yang dari tadi hanya sibuk bicara, akhirnya mengikuti perintah Tora. Cairan yang menjebak Bono pun lama-lama berkurang sehingga Bono bisa keluar dari cairan makanan yang kental itu.

Para pasukan semut kemudian membawa butiran-butiran kecil cairan makanan tersebut ke sarangnya. Mereka gembira, karena cadangan makanan mereka telah bertambah.

Di kemudian hari, karena kecerdikan dan keberanianya, Tora lalu mendapat penghargaan dari Ratu Semut.

“Wahai pasukanku, lain kali tirulah cara yang sudah dilakukan Tora. Ia pasukan semut yang cukup berani. Ia juga menggunakan kecerdasannya untuk menyelesaikan masalah. Jadi mulai sekarang, aku akan mengangkatnya sebagai komandan pasukan kita,” ujar Ratu Semut.

Ratu Semut kemudian memberikan jabatan komandan semut pada Tora. Vero yang tidak lagi menjadi komandan semut, tersenyum bangga pada komandan barunya. “Kau memang pantas menjadi komandanku, Tora!”

 

 

 

 

 

 

 

Cerita Pohon Kersen dan Pohon Mangga

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Angin bertiup kencang. Untuk kesekian kalinya, Pohon Kersen menahan tubuhnya agar tidak miring saat dihembus angin.

“Hahaha! Makanya, jangan jadi pohon yang lemah! Kena angin saja, sudah mau roboh. Huh!” ejek Pohon Mangga.

Pohon Kersen muda menatap Pohon Mangga yang tinggi menjulang jauh di atasnya. Pohon Kersen berkhayal, andai ia bisa seperti Pohon Mangga yang bisa berdiri kokoh. Apalagi jika musim berbuah, buah Pohon Mangga berbuah lebat dan menggiurkan siapapun. Pantas saja, Pohon Mangga sampai bisa hidup lama dan tidak ditebang Mbah Hadi, pemilik pekarangan tempat mereka hidup.

Mbah Hadi sangat menyayangi Pohon Mangga. Sering ia berkata kepada banyak orang tentang kehebatan Pohon Mangga miliknya.

“Jarang ada Pohon Mangga Manalagi yang bisa manis dan berbuah selalu banyak seperti ini. Buahnya besar-besar lagi.”

“Sudahlah, tak usah sedih. Aku kan juga bertubuh sama sepertimu. Aku tak bisa berdiri kuat seperti Pohon Mangga,” ujar Pohon Ketapang muda yang diam-diam memerhatikan Pohon Kersen yang bersedih.

“Ah, kalian berdua ini pohon yang tidak berguna! Apalagi Pohon Kersen. Hidupnya saja berasal dari biji yang dibuang burung secara tak sengaja ke sini. Tidak ada orang yang sengaja menanam dirimu di sini. Aku yakin, pasti sebentar lagi Mbah Hadi akan menebangmu. Kamu kan tanaman liar!” kata Pohon Mangga dengan pongah.

Pohon Kersen ketakutan. Setiap hari ia berdoa semoga bisa tetap hidup sampai berbuah.

Namun saat akhirnya bisa berbuah, Pohon Kersen cuma mengeluarkan buah yang berukuran kecil. Hatinya makin sedih dan berkecil hati.

“Jangan-jangan, benar apa yang dikatakan Pohon Mangga tentang Mbah Hadi yang akan menebangku,” batin Pohon Kersen cemas.

Suatu ketika, Mbah Hadi sedang menunggui kedua cucunya, Rafa dan Rangga yang asyik bermain di pekarangan.

“Mbah nggak suka dengan Pohon Kersen ini. Daunnya suka banyak yang berguguran dan membuat pekarangan Mbah jadi kotor,” gerutu Mbah Hadi.

Mendengar kata-kata Mbah Hadi, Pohon Kersen ketakutan. Sedangkan Pohon Mangga yang tahu itu justru tersenyum senang.

“Jangan, Mbah. Aku suka ada Pohon Kersen ini di sini. Nanti, aku dan Rafa kan jadi bisa bermain memanjat di pohon ini,” kata Rangga.

“Iya Mbah, aku lebih suka kalau ada Pohon Kersen. Kita kan jadi bisa mengambili buah-buahnya yang manis itu,” ujar Rafa yang diiringi anggukan kepala dari Rangga.

Mbah Hadi akhirnya menuruti permintaan kedua cucunya. Pohon Kersen merasa sangat lega saat tahu dirinya tidak jadi ditebang Mbah Hadi.

“Sekarang kamu boleh merasa tenang. Tapi lihat saja nanti, siapa sih yang suka dengan kehadiranmu di sini?” seru Pohon Mangga dengan sombong.

Seiring waktu, Pohon Kersen mengeluarkan buah yang makin banyak. Buahnya yang jika tua berwarna merah, terasa sangat manis.

Rafa dan Rangga jadi makin suka bermain di bawah Pohoh Kersen. Kadang mereka memanjat di pohon itu sambil saling bercerita. Mereka juga sering beradu siapa yang bisa paling banyak mengambil buah Pohon Kersen.

Buah Pohon Kersen yang sangat banyak seakan tak pernah habis. Setiap hari, selalu ada saja buah Pohon Kersen yang matang dan bisa dipetik oleh Rafa dan Rangga.

Anak-anak lain di sekitar rumah Mbah Hadi yang melihat keasyikan Rafa dan Rangga saat bermain di bawah Pohon Kersen jadi ikut-ikutan bermain di sana. Karena begitu ramainya anak-anak yang suka bermain di bawah Pohon Kersen, Mbah Hadi lalu membuatkan dua buah kursi kayu panjang di bawah pohon tersebut. Kini, anak-anak di desa itu jadi makin suka bermain dan berkumpul di bawah Pohon Kersen.

“Hei Pohon Mangga, sekarang siapa yang seharusnya boleh sombong, kamu atau Pohon Kersen?” seru Pohon Ketapang.

Pohon Mangga tidak bisa menjawab sepatah katapun. Ia malu karena dulu sering menyepelekan Pohon Kersen yang dianggapnya sebagai pohon liar.

“Sudahlah Pohon Ketapang, tak ada gunanya kita berdebat siapa yang paling baik. Masing-masing dari kita ada kelebihannya kok. Kamu sendiri berdaun lebar dan hijau. Orang sengaja menanammu untuk membuat udara menjadi bersih. Pohon Mangga juga banyak manfaatnya karena buahnya yang manis,” ujar Pohon Kersen meredam kekesalan Pohon Ketapang.

“Yah, aku harus meminta maaf padamu atas kata-kataku kemarin. Aku sudah menyepelekan dirimu dan menganggapmu sebagai pohon liar yang tak berguna,” sesal Pohon Mangga.

 

 

 

Antara Nesa dan Nino

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Di suatu sore, aku melihat mamaku pulang dari kerja sambil membawa bungkusan besar yang tertutup kertas warna cokelat. Terdengar suara berisik dari dalam bungkusan itu.

“Buka’no… buka’no…” sebuah suara tiba-tiba terdengar.

“Lho, Mama pulang sama siapa? Kok ada suara berisik begitu?” tanyaku heran.

“Mama punya kejutan nih untuk kalian berdua,” Mama membuka bungkusan besar yang dibawanya.

Ternyata, isi bungkusan itu adalah sebuah sangkar yang berisi burung beo. Aku langsung tertawa senang.

“Terima kasih banyak ya Ma!” Kukecup kedua pipi Mama sebagai tanda terima kasih.

Tapi, ternyata Nesa adikku, justru hanya memerhatikan burung beo itu dari kejauhan. Aku melihat wajahnya agak ketakutan bercampur rasa heran.

“Nes, sini! Burung beonya lucu lho!” ajakku pada Nesa.

“Nes, sini. Nes, sini,” si burung beo malah meloncat-loncat sambil mengikuti ucapanku.

Aku langsung tertawa. Sementara Nesa malah mendelik ketakutan.

“Oh iya Ma, nama burung beonya siapa ya?”

“Siapa? Siapa?” si burung beo masih saja menirukan ucapanku.

“Oh, tadi kata penjualnya, namanya Nino. Tapi, si Nino ini kurang bisa bicara bahasa Indonesia, lho. Dia kebanyakan bisanya bahasa Jawa,” kata Mama.

“Jenengku Nino. Jenengku Nino,” sahut si Nino.

Aku malah tertawa terbahak-bahak. Wah, si Nino benar-benar lucu! Aku jadi senang karena merasa bisa sekalian belajar bahasa Jawa dengan Nino.

Mama dan papaku memang orang Jawa. Tapi, kami sekeluarga sudah lama hidup di Batam. Jadi, aku dan Nesa tidak bisa bicara dengan bahasa Jawa. Sebetulnya kalau aku sih bisa sedikit-sedikit. Mama dan papaku sering saling berbicara dengan bahasa Jawa. Tapi jika bicara ke aku dan Nesa, mama dan papaku hanya bicara dengan bahasa Indonesia.

Hingga keesokan harinya, ternyata Nesa masih saja ketakutan dengan Nino. Ia hanya berani melihat aku dan Nino yang sedang asyik bermain dari kejauhan. Mungkin dalam pikirannya, “Ih, kok ada ya burung yang bisa bicara? Burungku kan seharusnya cuma bisa berkicau saja.”

Tapi, ketakutan Nesa pada Nino akhirnya selesai juga pada keesokan harinya. Waktu itu sepulang sekolah, adikku yang baru berumur tiga tahun itu sedang berdiri di depan sangkar Nino.

“Nino. Nino,” panggil Nesa.

“Dalem. Dalem,” jawab Nino.

Nesa tertawa terkekeh-kekeh.

Nesa lalu berlari ke kulkas dan mengambil sebatang cokelat.

“Nino suka cokelat?” tanya Nesa sambil memegang sebungkus cokelat.

“Ora ngerti. Ora ngerti. Opo kuwi? Opo kuwi?” Nino malah menjawab dengan bahasa Jawa.

“Opo Kuwi itu altinya apa, ya?” gantian, adikku yang masih belum bisa menyebut huruf R itu, tidak mengerti bahasa Nino.

Tentu saja aku jadi tertawa melihat ulah Nesa dan Nino. Adikku itu cuma bisa bahasa Indonesia, sedangkan Nino hanya bisa bahasa Jawa. Jadi, mereka berdua saling berbicara tapi sama-sama tidak mengerti bahasa yang lain.

Akhirnya, Nesa lalu menyodori bungkus cokelatnya ke sangkar Nino. Nino lalu mendekati bungkus cokelat itu tapi hanya sebentar saja.

“Ora enak! Ora enak!” ujar Nino sambil meloncat menjauhi cokelat yang disodorkan Nesa.

Nesa mengangguk-anggukan kepala. “Oh, jadi maksudnya ola enak itu kamu enggak mau, ya? Kamu enggak suka cokelat? Telus, kamu sukanya makan apa? Kalau kacang mede mau, enggak? Enak lho!”

“Opo kuwi? Opo kuwi?” Nino mengoceh lagi.

Nesa lalu menoleh ke arahku. “Kak, opo kuwi itu makanan apa, sih?”

Aku lagi-lagi tertawa melihat ulah Nesa. “Opo kuwi itu artinya apa itu. Jadi, Nino itu nggak tahu Nesa ngomong apa.”

“Yah!” Nesa lalu mendengus menghembuskan nafas kesal. “Nino aneh, ah! Olang ditanya kok malah nanya ke Nesa. Ninonya itu pasti lagi pusing ya, Kak? Udah ah, capek ngomong sama Nino. Nanti lagi saja deh!” Nesa lalu pergi ke kamarnya untuk tidur siang.

Mbok Mina, pembantuku lalu berkata, “Lha ya gimana si Ninonya nggak pusing Mbak Rere. Wong Nesa itu ngajak ngobrol Nino dari tadi pagi, lho! Kalau Nesa enggak ngerti artinya, dia terus tanya ke saya.”

Tentu saja aku jadi tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Mbok Mina.

Ajaibnya seminggu kemudian, adikku itu jadi hobi bicara dengan bahasa Jawa ke aku, mamaku, dan juga papaku! Kalau diajak bicara, dia pasti sedikit-sedikit menjawab dengan, “Ola ngelti. Opo kuwi? Ning endi? Ola gelem.”

Akhirnya, ganti aku yang sering kebingungan dengan ocehan Nesa. Duh, ternyata aku kalah sama adikku dalam hal menguasai bahasa Jawa. Soalnya, dia lebih rutin sih, setiap hari belajar bahasa Jawanya sama si Nino dari pada aku!

 

Cerita Kakek Rafa

Oleh: Ika Maya Susanti

            “Waktu kelas 5 SD, Kakek Rafa pernah enggak naik kelas. Sekarang, Kakek jadi pengusaha kue yang sukses. Jadi, kenapa aku harus pintar di sekolah?”

“Yola belum tahu cerita lengkap Kakek yang sebenarnya? Baiklah, sekarang Yola pergi ke rumah Kakek dan tanyakan cerita yang sebenarnya!” bayangan tubuh Mama lalu menghilang.

Mamaku memang sangat perhatian. Meski bekerja di kantor, tapi Mama selalu memantauku dengan ponselnya yang bisa membuat tubuh Mama seperti hadir di hadapanku. Yah, andai aku tidak hidup di tahun 2072, pasti aku tidak akan sering dikontrol Mama dengan ponselnya itu. Kata Kakek, dulu sewaktu ia kecil, belum ada teknologi ponsel seperti di tahunku sekarang ini.

Hari ini hasil raportku dibagikan. Nilai-nilaiku langsung dikirim ke email pribadi Mama. Aku tahu, nilai-nilaiku pasti jelek.

Bergegas, aku menuju garasi dan mengambil sepeda terbangku. Sambil bersepeda melayang di udara, aku melamun. Sering aku berpikir jika suatu saat seluruh harta kakekku pastinya akan diberikan kepadaku. “Aku kan cucu kesayangannya!”

Sesampainya di tujuan, Kakek langsung menyambutku. “Ya, mamamu sudah cerita tentang nilaimu yang jelek. Untung kamu tidak sampai naik kelas seperti kakek dulu!” kata kakekku yang telah berumur 70 tahun lebih namun masih bertubuh sehat karena rajin berolah raga.

“Berarti, kakek dulu bukan anak yang pintar? Tapi, sekarang bisa jadi pengusaha. Jadi untuk apa aku harus pintar di sekolah?”

Kakek tertawa. Aku lalu diajaknya masuk ke dalam ruangan khusus untuk menonton film. Saat film diputar, ruangan itu bisa berubah menjadi tempat yang sesuai dengan kejadian di film.

“Ayo, kita lihat cerita Kakek saat kelas 5 SD. Video ini adalah ingatan Kakek yang sudah terekam dengan alat penyerap ingatan agar anak dan cucu Kakek bisa belajar dari cerita ini,” terang Kakek.

Sekejap, ruangan yang semula gelap tiba-tiba berubah menjadi sebuah ruang sekolah. “Oh, jadi begini ya sekolah di tahun 2011? Uh, ruangannya membosankan! Lebih enak kelasku sekarang karena bisa berubah menjadi alam dan tempat-tempat lain meski aslinya masih di dalam kelas,” batinku.

“Nah, itu Kakek,” tunjuk Kakek pada seorang anak yang sedang terlihat murung.

“Lho Kakek kenapa sedih?” aku keheranan. Sementara kulihat, teman-teman yang ada di sekelilingnya malah sedang bergembira.

Akhirnya, aku baru sadar jika sedang menyaksikan kejadian sewaktu Kakek tidak naik kelas. Waktu itu Kakek terlihat murung, duduk sendirian, dan tidak punya teman. Sedangkan teman-teman di sekelilingnya terlihat riang gembira.

“Rafa, besok kita bolos, yuk!” seru dua anak yang berjalan mendekati Kakek.

“Aku tidak mau lagi ikut kalian!” seru Kakek marah.

Kedua anak yang telah mengajak bolos itu lalu tertawa terbahak-bahak.

Kakek yang berdiri di sampingku lalu berujar, “Nah, sekarang Kakek tekan tombol untuk mempercepat, ya? Kita lihat apa yang terjadi beberapa bulan kemudian.”

Kini aku berada di dalam ruangan yang sepertinya rumah Kakek sewaktu kecil. Ruangannya sangat sederhana. Aku melihat Kakek sedang tekun belajar. Di dekatnya, ada seorang wanita yang sedang membuat banyak kue. Aku baru ingat cerita Kakek kalau orang tuanya adalah penjual kue.

“Hah, Kakek belajar sampai pagi?” seruku takjub saat melihat jam di ruangan itu yang menunjukkan pukul setengah empat pagi.

“Kakek biasa tidur mulai jam sembilan malam. Sebelum shalat subuh, Kakek bangun dan belajar sambil menemani ibu yang sedang membuat kue untuk dijual. Nah, sekarang Kakek tekan tombol untuk mempercepat lagi!”

Tak berapa lama, ruangan yang kutempati sudah berubah kembali menjadi kelas. Di situ ada seorang guru yang sedang berbincang-bincang dengan orang tua Kakek.

“Saya salut dengan perjuangan Rafa yang sekarang malah bisa mendapat rangking 2 di kelas. Padahal sebelumnya, Rafa pernah tidak naik kelas,” ujar Pak Guru.

Usai adegan itu, Kakek lalu menepuk bahuku. “Jadi kamu sudah tahu kan apa yang terjadi setelah Kakek tidak naik kelas? Kamu tidak tahu, betapa sedihnya Kakek waktu itu. Kakek makin sedih saat melihat orang tua Kakek kecewa. Padahal, sebelumnya mereka bangga pada Kakek waktu Kakek pernah mengatakan bercita-cita ingin menjadi pengusaha kue.”

Aku mencoba memahami kata-kata Kakek. “Kakek tahu enggak, aku sering berpikir kalau nantinya Kakek pasti akan mewariskan seluruh harta Kakek padaku. Makanya, aku jadi malas belajar karena nanti pastinya aku juga bisa hidup kaya raya seperti Kakek.”

“Hahaha… buktikan dulu kalau kamu anak pintar. Kakek kan tidak mau usaha Kakek bangkrut nantinya!” seru Kakek yang membuatku jadi tertawa terbahak-bahak.

Laksmi dan Plastik Bekas

Laksmi dan Plastik Bekas

Laksmi dan Plastik Bekas

Oleh: Ika Maya Susanti

Hari pertamaku di sekolah baru, di kelas 4 B. Saat masuk dan dikenalkan di depan kelas, mataku langsung melihat sosok yang sepertinya baru kulihat kemarin. Saat aku duduk, kupandangi gadis yang duduk di depanku itu. Untuk sesaat, aku jadi teringat kejadian di siang hari kemarin.

“Hai! Sedang apa?” tanyaku penasaran pada seorang gadis yang sedang mencari-cari sesuatu di bak sampah di depan rumahku.

“Aku mencari botol bekas apa saja yang berasal dari plastik. Apa di dalam rumahmu ada?” tanyanya.

Sesaat aku mencoba mengingat-ingat. “Ada, sebentar ya!” Aku berlari menuju kamarku, mengambili beberapa botol bekas minuman yang belum sempat kubuang.

“Ini!” seruku sambil memberikan botol-botol itu kepadanya.

Dengan wajah gembira, ia memasukkan botol-botol itu ke dalam karung plastiknya. “Terima kasih banyak!” serunya riang.

“Sama-sama. Tapi, untuk apa kamu mengumpulkan botol-botol bekas itu?” aku ingin tahu.

“Untuk diolah jadi bijih plastik,” jawabnya.

Baru kali itu aku mendengar kata-kata bijih plastik. Namun sayang, saat aku ingin bertanya lebih lanjut, gadis itu sudah buru-buru berlalu dari depan rumahku.

Dan gadis itu, kini duduk di depanku? Aku langsung seperti merasa tak percaya. Apalagi saat selama pelajaran, gadis itu sepertinya sangat pintar. Sering pertanyaan-pertanyaan dari guru di kelas bisa dijawabnya dengan benar.

Saat istirahat tiba, banyak teman-teman baruku yang mengajakku berkenalan. Termasuk gadis yang sangat membuatku penasaran itu.

“Kita sempat bertemu kemarin, kan? Namaku Laksmi,” ujar gadis itu ramah sambil mengulurkan tangannya.

“Uhm, eh, iya ya? Namaku Gadis,” jawabku lalu menjabat tangan Laksmi.

Tapi tak berapa lama, Nia dan Hera menarik tanganku dan membuatku menjauh dari Laksmi.

“Enggak usah deh dekat-dekat Laksmi,” seru Hera.

“Kamu enggak tahu ya, Laksmi itu kerjanya pemulung sampah!” tambah Nia.

“Lalu, apa yang salah?” aku heran. “Aku memang sudah tahu karena kemarin, dia lewat di depan rumahku,” jawabku jujur.

“Kamu enggak risih? Hih, bau seragamnya saja enggak enak!” seru Hera dengan jijik.

Karena Nia dan Hera terus menerus menjelek-jelekkan Laksmi, aku jadi kesal dan mencoba kembali duduk di bangkuku.

Saat kembali, kulihat Laksmi menatap sedih ke arahku. “Kamu juga akan menjauhiku seperti mereka?” tanyanya.

“Ya ampun Laksmi, kalau memang aku seperti mereka, pasti kemarin aku tidak akan menyapamu sewaktu kamu lewat di depan rumahku!” ujarku mencoba menenangkan Laksmi.

“Maaf. Kukira kamu akan seperti mereka juga,” keluhnya sedih.

Aku dan Laksmi jadi terdiam. Tiba-tiba sesuatu teringat di benakku. “Hei, boleh enggak pulang sekolah nanti aku main ke rumahmu? Sebetulnya aku masih ingin tahu apa itu bijih plastik seperti yang kamu bilang kemarin.”

“Tapi, nanti pulang sekolah aku harus keliling ke perumahan tempatmu tinggal untuk mencari sampah,” jawab Laksmi.

Sejenak aku jadi bingung sendiri. “Oh, atau begini saja. Bagaimana jika aku menemanimu berkeliling? Sekalian, aku jadi bisa membantumu dan sekaligus jadi bisa tahu jalan di perumahanku itu. Bagaimana?”

Awalnya Laksmi tetap menolak tawaranku. Ia takut aku jadi kotor, bau, dan malah membuatku jijik atas pekerjaannya itu. Namun karena aku terus memaksanya, Laksmi akhirnya menyerah.

Saat di perjalanan selama mencari sampah, Laksmi banyak bercerita tentang kondisinya.

“Aku bisa sekolah di sini karena beasiswa, Dis. Aku cuma ingin bisa pintar dan bisa jadi dokter nantinya. Itu cita-citaku sejak bapakku meninggal! Ia meninggal karena sakit dan tidak punya biaya untuk berobat. Sejak itu aku janji, aku harus pintar dan bisa jadi dokter. Aku tidak mau ada orang yang mengalami seperti apa yang bapakku alami. Apapun asal itu baik, akan aku lakukan Dis agar cita-citaku bisa tercapai. Meski aku harus jadi pemulung sekalipun, aku tidak menyesal!” cerita Laksmi panjang lebar. Sungguh, aku jadi ingin menangis rasanya saat tahu cerita tentang Laksmi yang sebenarnya.

Seharian bersama Laksmi, membuatku banyak tahu tentang sampah-sampah plastik yang dikumpulkan Laksmi dan bisa menghasilkan uang. Ternyata, sampah-sampah itu dikumpulkan di sebuah tempat, ditimbang, lalu Laksmi akan mendapatkan uang sebagai upahnya. Kebetulan, pengumpul sampah mau berbaik hati mengajakku untuk melihat bagaimana cara mengolah plastik-plastik bekas menjadi butiran kecil yang disebut biji plastik.

“Ini nanti bisa digunakan untuk membuat botol plastik lagi atau kantong kresek. Bahkan bisa diekspor juga lho!” ujar pengumpul plastik itu.

Sepulangnya dari jalan-jalan bersama Laksmi, aku sampai keheranan sendiri dengan pengalaman baruku hari itu. Tentang bijih plastik, tentang cita-cita Laksmi. Ah, rasanya aku pantas bersyukur bisa mengenal seorang teman baru seperti Laksmi.

(Cerpen ini pernah dimuat di Harian Kompas tanggal 19 Februari 2012)