“Ini Hendri Lamiri, atau bukan ya?” gumam saya berkali-kali.
Pasalnya, wajah violis yang siang tadi (11/3) tampil di Gedung Sultan Suriansyah Banjarmasin itu saya lihat tampak lebih muda, cerah, dan segar. Sampai akhirnya saya membatin, “Ah, apa mungkin yang sedang saya lihat ini adiknya ya?”
Tapi, gaya khasnya saat memainkan biola, serta topi yang saya tidak tahu sebutannya itu sekali lagi mengusik saya.
“Orang yang sedang tampil bersama grup musik Debu ini… rasanya memang Hendri Lamiri!” bisik batin saya sekali lagi.
Dan benar saja. Tak lama kemudian, pembawa acara pun menyebut nama Hendri Lamiri sebagai sosok yang memang tampil bersama Debu siang itu. Saya pun langsung tersenyum senang. Apalagi saat Hendri akhirnya menunjukkan kepiawaiannya memainkan biola di pembuka sebuah lagu yang akan dimainkan oleh Debu. Kedua mata saya pun langsung berbinar senang saat gesekan biola Hendri menari di kedua telinga saya.
Puas dari menyaksikan aksi panggung grup musik Debu yang dihadirkan dalam rangka ulang tahun surat kabar harian Media Kalimantan, saya pun melenggang pulang meninggalkan gedung. Namun pihak Bu Hasnuryani dari Yayasan Hasnur menahan langkah saya dan teman-teman.
“Makan dulu,” ajaknya ramah. Sebuah ajakan yang membuat saya dan teman-teman pada akhirnya mendapat sebuah kejutan di luar dugaan di ruang makan.
Kejutan itu adalah makan bersama grup musik Debu dan juga Hendri Lamiri! Benar-benar sebuah ketidaksengajaan yang langsung dimanfaatkan oleh teman-teman saya untuk berfoto bersama pada personel grup musik Debu.
Kekaguman saya terhadap sosok Hendri Lamiri sendiri hanya terobati ketika saya bisa sedikit berbincang dengannya di sela-sela acara foto bersama beberapa teman saya.
“Bang, apa nih resepnya awet muda?” celutuk saya.
“Ikhlas,” jawabnya singkat.
Sambil mengatur pose dan tetap tersenyum menghadapi bidikan kamera di ajang foto bersama itu, ia pun lalu menambahkan, “Kalau ada masalah, direduksi. Jangan ditumpuk,” imbuhnya ramah.
Jujur, inilah jawaban di luar dugaan saya yang entah mengapa seakan-akan seperti dikirim Tuhan untuk menasehati saya dan teman-teman saya. Atas apa yang sedang saya dan teman-teman alami saat ini, rasanya kata-kata seorang Hendri Lamiri seperti sebuah sentilan yang menyentuh kami.
