Archive for 13 September, 2011


Berteman Lagi

Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Eh, ada Dista tuh!” seru Rani pada Amel.

“Ah, aku sedang malas mengobrol dengan dia!” sahut Amel.

“Sama!” jawab Rani.

“Kita pergi saja, yuk!” ajak Amel.

Rani mengganggukkan kepala. Sebelum Dista sampai di tempat Amel dan Rani berdiri, kedua anak itu pun sudah beranjak pergi menuju tempat lain.

“Aneh, kenapa ya mereka sepertinya menjauhiku?” batin Dista keheranan.

Sementara itu, Rani dan Amel kembali membicarakan Dista di tempat lain.

“Aku kurang suka dengan Dista yang sekarang! Soalnya jika sedang bersama kita, pasti yang ia bicarakan hanyalah tentang dirinya melulu!” keluh Amel.

“Iya! Mentang-mentang ia baru menang kontes menyanyi, sekarang sepertinya cuma dia saja selalu yang punya cerita! Kita enggak pernah lagi punya kesempatan untuk berbagi cerita,” imbuh Rani.

“Aku pernah waktu itu cerita tentang kakekku yang sedang sakit. Uh, rasanya sedih sekali! Eh, bukannya perhatian, Dista malah punya cerita tandingan sendiri tentang kakeknya. Dia bilang, kalau dia sih bersyukur kakeknya masih hidup. Terus dia malah cerita tentang kakeknya yang paling hobi mendukung dia saat ikut lomba ke mana-mana,” gerutu Amel.

“Iya, aku juga kesal dengan Dista. Kemarin aku cerita kalau aku ingin ikut lomba menyanyi antar kelas di sekolah. Maksudku sih ingin minta dukungan dari dia atau minta tips-tipsnya begitu. Eh, dia dengan sombongnya lalu bilang kalau ia sedih karena sekarang tidak bisa ikut lomba seperti itu lagi. Karena pastinya, semua peserta akan kalah dan dia akan jadi pemenangnya!” Rani mengeluh tak kalah kesalnya.

“Huh, memangnya cuma dia saja yang mau didengarkan ceritanya?” sungut Amel.

“Iya, dia selalu punya cerita sendiri kalau kita sedang bercerita ke dia. Sepertinya cerita dia saja yang harus didengar!” imbuh Rani.

Akhirnya sudah seminggu ini Amel, Rani, dan Dista tidak lagi jalan bersama. Amel dan Rani selalu memilih untuk menghindari Dista. Karena Dista sadar ada yang tidak beres dengan dua sahabatnya, suatu ketika Dista berencana untuk mencegat Amel dan Rani saat pulang dari sekolah.

“Dista tuh!” bisik Amel lirih.

“Ah, kali ini kita di sini saja. Sudah waktunya Dista tahu jika kita tidak suka dengan sikapnya selama ini,” jawab Rani yang lalu merasa sudah saatnya Dista tahu apa masalah yang sebenarnya.

“Rani, Amel! Heah, untung kali ini kalian tidak menjauhi aku lagi. Sebetulnya, kalian ini kenapa sih? Kok akhir-akhir ini sepertinya sedang menjauhi aku, ya?” tanya Dista dengan sikap tidak terima.

Sesaat Rani dan Amel hanya diam dan saling pandang untuk sesaat.

“Uhm, sebetulnya kamu merasa enggak kalau kita sedang mendiamkanmu karena ulahmu sendiri?” tanya Rani pada akhirnya.

“Oh, jadi aku punya salah ya pada kalian? Ada masalah apa?” tanya Dista bingung.

Sesaat Amel menghela nafas.

“Begini Dis, kami itu sebetulnya sedang kesal dengan kamu gara-gara kamu selalu saja hanya mau menceritakan dirimu sendiri,” terang Rani.

“Iya! Dan bahkan, ketika kita cerita tentang masalah kita, kamu tidak mau mendengar dan malah menceritakan dirimu sendiri,” imbuh Amel.

Dista diam sejenak dan lalu berucap, “Jadi itu salahku?”

Amel dan Rani mengangguk.

Dista mencoba mengingat-ingat kejadian yang terjadi beberapa waktu yang lalu. Ya, Amel dan Rani memang benar! Ia ingat, saat Amel dan Rani bercerita tentang masalahnya, ia justru malah menceritakan dirinya sendiri dan tidak mau mendengar cerita-cerita Amel dan Rani. Kini Dista jadi tahu apa yang sedang dipermasalahkan oleh Rani dan Amel tentang dirinya.

“Yah, kami minta maaf lho Dis kalau mungkin perkataan kami ini menyinggung perasaan kamu,” ujar Rani karena merasa tak enak melihat Dista yang justru langsung diam dan tidak berbicara apa-apa setelah Rani dan Amel memprotes tentang sikapnya.

Dista menggelengkan kepala lalu tersenyum. “Ah, enggak kok! Aku tahu, kalian ingin aku menjadi sahabat yang baik. Tapi kalau kalian tetap mendiamkan aku, aku kan jadi tidak tahu di mana salahku.”

“Kamu tidak tersinggung dengan ucapan kami tadi?” Amel jadi merasa khawatir dengan perasaan Dista.

“Yah, orang kan memang harus siap dikritik jika salah. Aku sadar, aku memang sudah salah karena telah egois. Aku kemarin hanya mau bercerita tentang diriku sendiri saja dan kurang mau mendengarkan cerita-cerita kalian. Kalau aku jadi kalian, tentu aku juga tidak mau punya teman seperti itu,” ujar Dista.

Amel dan Rani lalu menggenggam tangan Dista. “Jadi, sekarang kita berteman lagi yah!”

“Iya dong!” sambut Dista dan lalu ketiga sahabat itu pun tertawa dengan riang.

(Cerpen ini pernah dimuat di majalah Girls No.26/Th.VI, terbit 3 Agustus 2011)

Si Tukang Contek


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Pagi, Ning!” sapa Nayla.

“Hai,” jawab Alina sambil tetap asyik membaca buku.

“Aduh, serius sekali! Kamu kan anak pintar. Semester kemarin saja juara umum di kelas lima. Masa mau ulangan Mathematic masih belajar dulu di sekolah? Pelajaran Mathematic kan mudah!” ledek Nayla yang duduk di sebelah Alina.

“Ya, enggak mungkin dong aku dapat nilai bagus tapi tidak belajar dulu?” jawab Alina tersenyum.

“Hm, kalau begitu nanti aku dikasih contekan, yah!”

“Hehehe, maaf Yu! Kamu tahu kan aku tidak bisa. Apalagi ini pelajarannya Bu Desy. Bisa langsung dapat nol nanti jika kita ketahuan!” tolak Alina.

Nayla langsung mencibir. “Huh, pelit!” seru Nayla kesal.

“Yu, aku minta maaf! Kalau pas ulangan, aku tidak berani. Tapi kalau ada PR, kamu kan selalu kuberi contekannya?”

“Iya! ” jawab Nayla dengan nada kesal.

Alina kembali menekuni bukunya. Diam-diam, Alina lalu melirik Nayla. Ia khawatir, jika Nayla masih marah. Tapi, Alina justru kebingungan. Ia melihat Nayla sedang menulis di atas meja dengan tulisan yang sangat kecil.

“Apa itu?” tanya Alina penasaran.

“Sudah, kamu belajar saja. Enggak usah sok ingin tahu!” suara Nayla terdengar ketus.

Alina jadi tidak enak hati. Tapi Alina mulai mengerti apa yang sedang dilakukan  sahabatnya itu.

“Kamu membuat contekan di atas meja, ya?” tebak Alina.

“Aduh, cerewet banget!” bentak Nayla.

“Tapi kalau ketahuan bagaimana?” Alina mengingatkan Nayla.

“Kalau kamu enggak bilang, Bu Desy juga enggak akan tahu. Lagi pula, kamu saja enggak mau menolong aku!” omel Nayla.

Akhirnya karena Nayla sulit diberitahu, Alina pun menyerah. Tapi tetap saja, Alina takut jika nanti Bu Desy tahu apa yang dilakukan Nayla.

Saat ulangan, perasaan Alina terus merasa khawatir. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi dengan baik saat menjawab soal. Sementara Nayla, justru terlihat asyik dan santai. Nayla tinggal mencari jawaban pada tulisan kecilnya yang sudah dibuatnya.

Saat waktu ulangan hampir separuh waktu, Bu Desy berjalan berkeliling ke meja para murid. Melihat itu, pikiran Alina makin panik. Sesekali ia melirik ke arah Nayla dan juga Bu Desy. Saat langkah Bu Desy makin mendekati mejanya dan meja Nayla, Alina makin tidak tenang. Tubuhnya berkeringat deras. Karena ketakutan, Alina jadi kesulitan menjawab soal yang ada. Apalagi Bu Desy kemudian berdiri lama di sebelah meja Nayla yang berada di tengah-tengah kelas.

Namun tiba-tiba…

“Apa ini?” Bu Desy mengamati meja Nayla.

Karena tulisan Nayla terlalu kecil, Bu Desy lalu mendekatkan wajahnya ke arah meja untuk melihat lebih dekat.

“Kamu membuat contekan di sini, ya?”

Nayla ketakutan dan tidak berani bicara.

“Baik, sekarang Ibu anggap kamu tidak ikut ulangan kali ini!” Bu Desy lalu mengambil kertas ulangan yang belum selesai dijawab oleh Nayla.

Detak jantung Alina berdegup kencang. Sisa waktu ulangan yang ada pun tidak bisa dimanfaatkan Alina dengan baik.

**

            “Ning, kamu dipanggil Bu Desy ke ruang guru sekarang!” ujar Prita, teman sekelas Alina.

“Ada apa?” tanya Alina.

“Wah, aku kurang tahu.”

Alina lalu teringat dengan ulangan Mathematic beberapa hari yang lalu. “Aduh, kalau nanti aku ditanya-tanya Bu Desy, aku jawab apa?”

Saat sudah bertemu Bu Desy, Alina memang mendapat beberapa pertanyaan. Bu Desy bertanya ke Alina tentang sikap Nayla selama ini.

“Nayla itu memang sering mencontek tugas-tugas rumahmu ya? Ibu curiga karena nilai-nilai tugasnya selalu bagus, tapi nilai ulangannya sering jelek,” ujar Bu Desy.

“I-iya, Bu. Saya minta maaf,” Alina akhirnya mengaku.

“Kamu kan sudah susah payah mengerjakannya. Kenapa kamu berikan begitu saja? Ibu tidak suka dengan sikapmu itu. Lalu, nilai ulanganmu kemarin hanya mendapat nilai 65! Padahal sebelumnya kamu mendapat nilai 90 bahkan 95. Kok bisa menurun?”

“Saya kemarin ketakutan, Bu. Nayla sebetulnya sudah saya ingatkan sejak sebelum ulangan. Tapi dia tidak peduli. Akhirnya selama ulangan, saya jadi khawatir. Apalagi sewaktu Ibu mengambil kertas ulangan Nayla. Saya jadi gugup dan tidak bisa mengerjakan soal ujian dengan baik,” jawab Alina.

“Ning, Ibu tahu kamu anak yang pintar. Tapi, kamu juga mesti tegas kalau ada temanmu yang meminta jawaban tugas atau ulangan. Walaupun dia teman dekat kamu, kamu tidak bisa bersikap seperti itu. Itu sama saja merugikan dirimu sendiri,” nasehat Bu Desy.

“Iya Bu, saya minta maaf,” ujar Alina.

“Kalau itu adalah tugas rumah, kamu boleh mengajari mereka. Tapi tetap tidak boleh memberi tahu jawabannya begitu saja!” tegur Bu Desy.

“Tapi Bu, saya takut mereka membenci saya.”

“Teman yang baik itu justru akan senang kalau kamu mengajarinya. Dan kalau kamu memberikan jawaban begitu saja ke temanmu, berarti kamu juga merugikan temanmu itu. Apa kamu mau punya teman yang tidak bisa pintar karena terus menerus menerima jawaban dengan mudah dari orang lain?” terang Bu Desy.

Alina menggeleng. Setelah dari ruangan Bu Desy, Alina mencoba memahami kata-kata Bu Desy. Dalam pikirannya, Alina memang khawatir jika Nayla kemudian menjauhinya. Tapi saat ia kembali ingat kata-kata Bu Desy, Alina merasa sudah saatnya ia menjadi teman baik  sesungguhnya untuk Nayla.

Cerita Di Taman Dian


Oleh: Ika Maya Susanti

 

“Selamat pagi teman-teman!” sapa matahari yang baru keluar dari langit bagian timur.

Sekuntum Mawar yang sudah mekar semalam lalu menggeliat. Akibatnya, embun yang sedang bergelantung di kelopaknya jatuh mengenai sehelai rumput yang ada di bawahnya. Helai rumput menjadi jadi menggigil.

“Hi… dingin! Benar sudah pagi ya? Hoam…” seru rumput yang masih mengantuk namun jadi terbangun karena embun kini sedang menggelinding di atas tubuhnya.

“Hai, pagi juga, matahari. Terima kasih ya karena engkau masih dikirim oleh Tuhan untuk menyinari bumi setiap hari,” jawab kuntum Mawar berwarna merah yang semalam baru saja merekah.

Tubuh Mawar lalu sedikit berguncang karena terkena angin. Aroma wangi langsung beredar ke segala penjuru taman.

“Hm, wanginya… Engkau cantik sekali pagi ini, wahai Mawar!” puji Adenium berwarna putih dengan tepian kelopaknya yang berwarna merah.

“Terima kasih. Dan, kita juga perlu berterima kasih terhadap Dian lho, teman-teman,” ujar Mawar.

Bunga Adenium dalam pot yang bertubuh cantik karena selalu dirawat oleh Dian, tumbuhan Melati yang batangnya menjalar teratur di pagar, dan rerimbunan Bougenville berwana ungu yang tertata rapih, semuanya lalu mengangguk serempak.

“Ya, tak dapat kubayangkan bagaimana nasib kita jika tidak ada Dian. Mungkin, aku akan tumbuh liar ke mana-mana sehingga tidak sedap dipandang oleh siapapun. Meskipun, sesungguhnya aku memiliki kuntum yang semerbak mewangi, apa gunanya jika tumbuh liar?” ujar Melati.

Semua tumbuhan yang ada di taman rumah itu memang sangat bersyukur sejak Dian pindah dan menetap di rumah tersebut. Sebelumnya, rumah itu telah lama kosong tak berpenghuni. Akibatnya, tanaman yang hidup di taman rumah itu tumbuh liar, saling tindih, dan tumbuh tak beraturan.

“Ya, Dian juga gadis yang sangat berbeda dengan Vani, anak yang dulu pernah tinggal di rumah ini. Kalian ingat tidak, ia suka sekali menanam kita di taman ini. Tapi setelah itu, ia jarang memerhatikan kita,” ujar Bougenville.

Semua tumbuhan mengangguk membenarkan. Dian memang rajin merawat tanaman di taman rumahnya. Setiap pagi dan sore, ia tak lupa menyiram tanaman. Sesekali, ia juga akan memberi pupuk dan menata bentuk tanaman yang tumbuh kurang teratur.

“Oh ya, satu lagi, aku juga paling suka jika Dian bernyanyi dan sambil mengajak kita bercerita. Menyebutku si anggun, memanggil Mawar si cantik, menjuluki Bougenville dengan si manis, dan membaui melati sambil menyebut si wangi,” celutuk Adenium sambil tersenyum berseri-seri.

“Ya. Aku selalu suka mendengar cerita-cerita Dian. Ia hampir tak pernah menjelek-jelekkan teman-temannya. Rasanya, Dian itu anak yang baik dan banyak disuka oleh teman-temannya. Pasti ia ramah terhadap teman-temannya, seperti ia juga selalu ramah terhadap kita,” imbuh Bougenville.

“Itu benar. Kita memang sering sekali mendengar Dian memuji kita. Tak heran, kita pun jadi senang bermekaran di taman ini,” sahut Melati.

“Ya, ya… kalian memang bunga-bunga yang indah. Pantas, banyak kupu-kupu yang suka bermain di taman ini dari pada ke taman yang lainnya. Aku lihat, banyak di sekitar sini yang rumahnya jarang memiliki taman yang terawat. Apalagi kalau melihat rumah yang gersang tak bertanaman. Huh, aku jadi sedih. Udara juga pernah bercerita padaku lho, jika ia sangat suka mampir di taman yang teduh ini untuk menjemput para oksigen,” tutur matahari.

Jadi, apa nih hadiah kita buat Dian? Buat seorang gadis yang baik hati dan selalu merawat kita semua?” tanya Adenium.

“Tentu saja, apalagi kalau bukan bunga-bunga kita yang indah saat bermekaran? Bukan begitu teman-teman?” jawab Mawar.

“Pst… eh, itu Dian datang dan sedang menuju ke arah kita. Ayo teman-teman, kita berikan penampilan yang seindah mungkin untuk Dian,” seru Melati.

Saat menapaki batu-batu di taman yang tertata dengan teratur, Dian tampak terpukau melihat bunga-bunga di tamannya yang sedang cantik bermekaran. Warnanya telihat cerah karena terkena sinar matahari pagi. Ditambah lagi adanya embun pagi yang masih belum mengering, membuat taman rumah Dian menjadi tampak berkilauan.

“Wah, indahnya…” seru Dian terkesima.

“Lihat kebunku, penuh dengan bunga. Ada yang putih, dan ada yang merah. Setiap pagi, kusiram semua. Mawar, Melati, semuanya indah!” senandung Dian sambil menyentuh ringan kelopak Mawar dan Melati.

“Hai Adenium! Pagi Bougenvile! Apa kabar matahari? Selamat pagi semua penghuni tamanku!” sapa Dian dengan riang.

Rahasia Kata-kata Ajaib

 

Oleh: Ika Maya Susanti

 

Suatu ketika, seorang Raja hendak menguji kedua puteranya, Pangeran Dira dan Pangeran Wira. Raja ingin tahu, siapa di antara kedua pangeran itu yang pantas menjadi raja karena memiliki kata-kata ajaib. Konon, seseorang yang memiliki kata-kata ajaib, bisa berhasil melaksanakan tugas apapun yang meskipun berat.

“Tradisi memilih calon raja yang memiliki kemampuan untuk mengucap kata-kata ajaib ini sudah menjadi tradisi. Begitu juga saat aku dulu terpilih untuk menjadi raja. Jadi sekarang, aku juga harus memilih satu di antara kedua puteraku tersebut dengan cara yang sama,” cetus Raja saat sedang menimbang-nimbang apa yang akan ia tugaskan untuk kedua puteranya.

“Aku ingin kalian meminjam batu sakti milik seekor naga yang tinggal di atas sana,” ujar Raja sambil menunjuk sebuah bukit tinggi yang terlihat dari istana.

Pangeran Wira langsung tersenyum. “Baiklah Ayah, kami akan melakukannya!” jawab Pangeran Wira optimis lalu menoleh ke arah kakaknya.

Wajah Pangeran Dira justru berubah pucat. “Ah, mana mungkin naga itu mau meminjamkan batu saktinya?” batin Pangeran Dira.

Pangeran Dira teringat berbagai cerita tentang naga tersebut. Konon, tubuh naga itu dikelilingi api yang menyala. Matanya selalu tampak marah dan siap menerkam siapa saja yang mendekat.

Tapi tetap saja, akhirnya Pangeran Dira dan Pangeran Wira berangkat melaksanakan tugas tersebut.

“Nanti, apa yang akan engkau lakukan untuk merebut batu itu? Selama ini, tak pernah ada orang yang berani ke sana,” kata Pangeran Dira.

“Tapi, bukankan cerita itu cuma kita dengar dari orang lain?” jawab Pangeran Wira.

“Aku yakin orang-orang itu benar. Kita pasti pulang tanpa membawa apa-apa!” gerutu Pangeran Dira.

Pangeran Wira cuma tersenyum. “Kita coba saja dulu!”

Sementara itu, Pangeran Dira rupanya sudah membuat rencana sendiri. Ia yakin jika tidak akan berhasil. Sehingga nantinya, Pangeran Dira akan membawa pulang sebuah batu biasa yang terlihat istimewa. “Pasti ayahku tidak akan tahu!” batin Pangeran Dira sambil tersenyum licik.

Perjalanan Pangeran Dira dan Pangeran Wira akhirnya sampai di tempat tujuan. Kedua pangeran itu lalu mengintip dari celah-celah pagar batu. Di seberang mereka, berdirilah seekor naga yang sangat menyeramkan!

“Ayo kita coba mendekatinya,” ajak Pangeran Wira.

“Apa kamu tidak takut celaka? Sudah, kita pulang saja!” cegah Pangeran Dira.

Karena merasa terganggu dengan suara Pangeran Dira dan Pangeran Wira yang sedang berdebat, naga menghardik. “Hai, siapa yang ada di balik batu?”

Pangeran Wira langsung berdiri. Sedangkan Pangeran Dira tetap berjongkok bersembunyi di balik batu.

“Maafkan kami jika mengganggumu. Tapi, kami tidak ingin bermaksud jahat,” ujar Pangeran Wira.

Naga lalu mendekati Pangeran Wira.

“Ampun… ampun… kami hanya ingin melihatmu saja. Maafkan aku ya,” teriak Pangeran Dira yang lalu berdiri dan melarikan diri.

Melihat itu, naga justru tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… Apa ia kira aku akan mencelakainya?”

“Maafkan kakakku, wahai naga. Tapi, ia ketakutan karena sering mendengar cerita orang tentang dirimu yang katanya jahat,” jawab Pangeran Wira.

“Tapi kenapa kamu tidak takut?”

“Karena selama ini aku hanya mendengar cerita, jadi aku tidak percaya. Lagi pula, aku ke sini atas perintah ayahku. Ia ingin agar aku dan kakakku meminjam batu sakti milikmu,” jelas Pangeran Wira.

Naga lalu mengajak Pangeran Wira mendekati batu sakti. Ternyata, batu milik naga itu sangat besar bentuknya. Warnanya juga sangat indah dan berkilauan.

“Sekarang, coba kamu angkat batu itu!” ujar naga. Ia sebenarnya ingin menguji, apakah Pangeran Wira benar-benar bisa membawa batu besar tersebut.

Sesaat, Pangeran Wira berdiri di depan batu itu sambil berkata dengan suara pelan, “Batu ini ringan, aku bisa membawanya!”

Ternyata, batu itu jadi mudah diangkat oleh Pangeran Wira.

“Hahaha… kamu hebat! Batu itu memang besar. Tapi ia memiliki berat yang sesuai dengan pikiran orang yang membawanya. Makanya, tidak ada yang berhasil membawa batu itu. Semua orang selalu berpikir, jika batu ini pasti berat. Ternyata kamu pemilik kata-kata ajaib!” ujar naga.

Naga kemudian meminjamkan batu itu ke Pangeran Wira. Raja yang telah melihat kegigihan dan keberhasilan Pangeran Wira, akhirnya menetapkan Pangeran Wira sebagai raja untuk menggantikannya kelak.

Pemimpin Sejati


Oleh: Ika Maya Susanti

 

Suatu ketika, seorang raja ingin mencari pengganti dirinya. Ia mencoba memertimbangkan, siapa dari anak-anaknya yang bisa menggantikannya.

“Bukankah seharusnya Pangeran Cakra?” tanya penasehat raja.

Raja menggeleng. “Ia memang anak pertamaku. Tapi sayang, ia mudah sombong bila ada yang memujinya. Sedangkan jika ada yang mengatakan kekurangannya, ia langsung marah. Padahal jika saja ia mau mendengar apa yang dikatakan orang lain tentang kekurangannya, ia justru jadi bisa tahu kekurangannya,” jelas Raja.

“Atau, Raja umumkan saja kepada keluarga kerajaan jika sedang mencari pengganti,” saran penasehat Raja.

“Baiklah. Nanti usai makan malam, akan aku umumkan pada mereka. Oh ya, sekarang ini seharusnya waktuku berjalan-jalan ke daerah. Kalian antar aku untuk berkeliling melihat rakyatku, ya!” pinta Raja kepada penasehatnya.

Setiap Rabu siang, Raja suka berkeliling melihat langsung kehidupan rakyatnya. Sehingga ia bisa tahu apa yang sedang dialami rakyatnya. Karena itu, rakyat pun jadi begitu mencintai Raja.

Ketika sampai di sebuah lembah, Raja melihat wajah para penduduk terlihat ceria. Terutama anak-anak yang asyik duduk sambil membaca buku. Rupanya sebelumnya, daerah itu telah dikunjungi Putri Pelangi. Ia datang sambil membagi-bagikan buku cerita buatannya sendiri.

“Wah, tampaknya kalian sedang senang ya? Kalian sedang membaca buku apa?” tanya raja pada seorang anak.

“Ini buku cerita bergambar buatan Puteri Pelangi. Gambarnya bagus dan ceritanya juga lucu!” ujar anak tersebut.

Raja mengangguk-anggukkan kepalanya.

Di malam harinya saat usai makan malam, raja seperti biasa bertanya terlebih dahulu kepada anggota kerajaan, apakah ada hal yang ingin mereka sampaikan. Ternyata, saat itu hanya Puteri Pelangi yang mengajukan diri untuk bicara.

“Wahai Ayah dan saudara-saudaraku sekalian, bisakah besok aku meminta baju-baju tebal atau selimut kalian yang sudah tidak terpakai? Karena di daerah selatan, angin sedang bertiup kencang. Banyak masyarakat di sana yang kedinginan jika malam hari,” ujar Puteri Pelangi.
Saat mendengar permintaan Puteri Pelangi, banyak anggota kerajaan yang malah mengeluh. “Ah, kami kira ingin bicara apa. Memangnya hal seperti itu penting ya?” ejek putra ke dua raja.

Tetapi, raja justru tersenyum. “Baiklah, besok kita kumpulkan pakaian dan selimut tebal yang sudah tidak terpakai. Puteri Pelangi benar, kita harus menolong mereka,” ujar Raja menengahi.

Karena tidak ada yang ingin bicara lagi, Raja lalu mengumumkan rencananya untuk mencari pengganti dirinya. Saat mendengar itu, banyak dari anggota kerajaan yang langsung melihat ke arah Pangeran Cakra.

“Ah, pasti nanti akhirnya Raja akan memilihmu!” bisik seorang puteri yang duduk di dekat Pangeran Cakra.

“Dan siapapun yang nanti terpilih, ia adalah seorang pemimpin yang tentunya  juga harus disukai rakyat banyak,” imbuh Raja.

Banyak anggota kerajaan yang menduga Pangeran Cakra adalah orang yang akan dipilih Raja. Namun ternyata ada beberapa pangeran dan puteri raja yang juga ingin terpilih menggantikan raja. Para pangeran dan puteri raja ini kerap terlihat berpura-pura baik membantu rakyat. Padahal sebelumnya, mereka tidak mau melihat kondisi rakyat di negerinya.

Akhirnya, saat pengumuman tiba. Raja lalu mengumpulkan semua anggota kerajaan serta rakyatnya di halaman istana.

“Setelah ini, aku akan mengumumkan siapa penggantiku. Ia adalah orang yang kalian sukai selama ini. Aku sering dengar, ia datang mengunjungi kalian untuk membantu atau menghibur kalian semua,” ujar Raja pada rakyatnya. “Karena itu, pilihanku jatuh kepada Puteri Pelangi. Ia akan menjadi calon raja setelah ini!”

Suara teriakan bahagia dari rakyat terpancar di segala penjuru. Sementara itu, beberapa anggota kerajaan tampak tidak menerima keputusan Raja.

“Ayah, mengapa begitu?” protes Pangeran Cakra yang sebelumnya merasa akan dipilih oleh Raja.

“Cobalah kalian lihat kelebihan Puteri Pelangi. Ia pintar dan baik. Ia juga rendah hati dan tidak sombong. Padahal, ia sudah banyak membantu rakyat. Kalian ingat bukan usulannya aaat ingin mengumpulkan pakaian dan selimut hangat untuk daerah yang kedinginan? Aku juga sering mendengar banyak rakyat yang memuji kebaikan Puteri Pelangi. Jadi, hanya ia yang pantas memimpin karena semua rakyat begitu menyukainya,” terang Raja.

Saat mendekati Puteri Pelangi, Raja tersenyum bangga. “Nak, hanya kamu ternyata yang mampu mewarisi kemampuanku dalam memimpin!” ujar Raja yang disambut dengan anggukan dan senyuman terima kasih dari Puteri Pelangi.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 32 other followers