Sepeda Hias Putri


Oleh: Ika Maya Susanti

 

            “Anak-anak, Ibu punya pengumuman untuk kalian,” seru Bu Guru mencoba menenangkan kelasku yang sedang ramai. Aku yang semula hanya asyik mencorat-coret buku, lalu mencoba menyimak apa yang akan disampaikan Bu Rosa, guruku.

“Bulan November nanti, sekolah kita seperti biasanya akan ikut parade sepeda hias. Nah, beberapa nama yang Ibu sebutkan setelah ini, akan mewakili sekolah kita dalam parade tersebut,” ujar Bu Rosa. Ternyata dari sekian nama yang disebutkan Bu Rosa, namaku ada di dalamnya.

“Pasti sepedaku lagi yang akan diminta untuk berada di barisan depan,” ujar Wina dengan pongah.

“Iya, Win. Sepeda hiasmu kan selama ini selalu paling bagus hiasannya. Bahan untuk menghiasnya saja selalu yang mahal!” timpal Dhea.

“Kalau kamu Put, pasti cuma di barisan tengah atau belakang seperti biasanya,” ejek Wina ke arahku diiringi tawa teman-temannya.

“Ah, biarkan saja. Yang penting, kali ini aku akan mewujudkan mimpiku jadi putri bersepeda hias yang cantik di parade nanti!” batinku senang.

Sampai di rumah, aku mulai mencari ide yang menarik. Waktu aku bertanya ke Papi dan Mami, mereka malah menyarankanku menggunakan barang-barang bekas.

“Kok barang bekas?” tanyaku bingung.

“Kalau kamu membeli bahan-bahan yang mahal, kan nanti akhirnya juga dibuang. Sayang kan, uangnya?” ujar Mami.

“Iya, Put. Barang-barang bekas itu sebetulnya bisa dibuat menarik, kok. Begini saja, bagaimana kalau kamu buat ide rancangannya dulu, lalu Papi dan Mami akan membantu menghias sepedamu?” saran Papi.

Aku mengangguk setuju.

“Hm, sepertinya kalau kubuat ada bentuk sayapnya, pasti menarik!” gumamku senang saat membuat rancangan sepeda hiasku nanti.

Waktu aku menunjukkan ide rancanganku pada Papi dan Mami, mereka menyarankanku menggunakan plastik-plastik bekas pembungkus makanan ringan. Usai mendapatkan sampah-sampah plastik dari bapak kantin yang menjual makanan di sekolahku, aku, Papi, dan Mami lalu mulai menghias bagian-bagian dari sepedaku. Plastik-plastik bekas yang sudah aku kumpulkan itu, dibalik semuanya. Yang digunakan cuma lapisan yang berwarna perak saja.

“Wah, sepertinya sepedamu ini menarik nantinya! Ide polanya dari mana sih, Put?” tanya Papi sambil membantuku melilit plastik pembukus makanan bagian warna peraknya di tubuh sepedaku.

“Dari cerita Mami!” jawabku mantap.

“Lho, kok bisa dari cerita Mami? Cerita Mami yang mana, Put?” Mami bingung menerka-nerka cerita yang aku maksud.

“Itu lho Mi, tentang seorang putri yang memiliki kendaraan cantik dan disukai oleh banyak orang!” jawabku mengingatkan cerita Mami.

“Ih, itu kan cerita Mami zaman waktu kamu masih kecil dulu. Itu lho Pi, cerita pengantar tidur waktu si Putri masih kecil…” terang Mami kepada Papi.

“Hahaha… kamu ini kreatif juga ya Put, ternyata!” puji Papi kepadaku.

“Yah, siapa dulu dong papi maminya? Kan Papi dan Mami yang selalu mengajarkan kepada Putri untuk jadi anak yang kreatif dalam mewujudkan apa yang Putri mau. Iya kan?”

Papi dan Mami menanggapi ucapanku dengan tersenyum bangga.

Keesokan harinya, aku lalu berangkat ke sekolah mengayuh sepedaku dengan riang gembira. Penampilannya memang hampir mirip seperti yang ada dalam bayanganku selama ini. Apalagi, warnanya serba perak berkilau! Hehe, padahal aslinya dari plastik bekas makanan, tuh! Yang membuatku bangga selama di sepanjang jalan, banyak orang yang menyapaku karena tertarik sewaktu melihat sepeda hias yang sedang kunaiki.

Sampai di sekolah, Bu Rosa langsung terpikat kala melihat sepeda hias rancanganku.

“Wah Put, sepedamu ini menarik sekali hiasannya! Kalau begitu kali ini, kamu yang berada di barisan depan. Biar Wina ada di barisan nomor tiga. Nomor duanya Rio, ya! Karena sepertinya, hiasan sepeda Rio ini juga menarik dan kreatif. Pasti, para juri akan senang melihat karya kalian yang kreatif-kreatif ini,” ujar Bu Rosa sambil mengatur barisan aku dan teman-teman yang akan mewakili sekolahku dalam parade sepeda hias.

Namun kejutan lain ternyata masih ada. Saat berkumpul di alun-alun, sekolahku mendapat undian barisan nomor satu, memimpin parade sepeda hias hari itu. Tentu saja aku tidak menyangka. Karena seumur-umur, aku belum pernah berada dalam sebuah parade sepeda hias di barisan paling depan di antara seluruh peserta parade.

Sepanjang jalan, banyak orang yang menyenangi sepedaku. Komentarnya unik dan lucu-lucu. Ada yang menyangka hiasan sepedaku mirip ikan, ada yang berkata mirip burung, dan ada yang berkata mirip mata kucing. Yah, meski tidak ada yang menebak dengan benar jika sepedaku adalah sebuah kereta seorang putri, tapi aku cukup senang di hari itu.

(Cerpen ini pernah dimuat di Kompas Anak minggu pertama di bulanJuni 2011)

About these ads

2 thoughts on “Sepeda Hias Putri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s