Cerpen: Ujian Kelulusan


Oleh: Ika Maya Susanti

 

Tangan Waluyo basah dan bergetar. Seumur-umur, apa yang dilakukannya setelah ini begitu sangat menegangkan baginya. Melebihi sengatan rasa tegangnya ketika dulu ia ujian skripsi. Atau, ketika menekuri detik-detik menunggu bayi pertamanya lahir. Jika dihitung-hitung, tak pernah ia seumur-umur merasakan sensasi tegang seperti itu. Ketegangan yang membuat keawasan hati dan pikirannya menjadi bekerja dengan penuh terjaga.

Ini berawal dari kejadian di satu minggu yang lalu. Waktu itu, kepala sekolah tempatnya mengajar mengajaknya untuk rapat bersama guru-guru lain dari sekolah tersebut.

“Kita harus membantu murid-murid kita agar mereka bisa lulus. Lulus dengan seratus persen!” Tolonglah Bapak dan Ibu camkan apa yang sudah saya sampaikan ini,” tegas kepala sekolah.

Kemudian, seniornya yang telah menyandang profesi pendidik selama belasan tahun itu kembali berujar menambahkan. Menurutnya, apa yang ia lakukan itu telah dilegalkan secara tidak legal oleh beberapa orang dinas.

“Jika tidak, sampai kapan daerah kita bisa meluluskan murid-murid yang berlabel berprestasi. Malu lah rasanya, jika kita dihina terus menerus karena selalu diberitakan tidak sukses dalam meluluskan para murid? Apalagi disorot di tingkat nasional!” curahan hati kepala sekolah menderu tegas.

Sebetulnya, Waluyo bisa memilih dan tidak menganggap itu sebagai instruksi. Namun kata-kata yang diungkapkan oleh kepala sekolah membuat ia dan beberapa guru lainnya lalu lebih berpikir. Ada nasib nama sekolah mereka. Juga nasib murid-murid mereka. Bahkan, juga nasib wajah-wajah mereka sendiri nantinya sebagai pengajar di sekolah itu.

Setelah sekian lamanya batin Waluyo bergejolak, akhirnya dibukalah sampul amplop besar yang telah beberapa menit ada di genggaman tangannya. Bercak berwarna cokelat yang lebih terang, terlihat membekas di sana-sini. Itulah hasil dari tangan Waluyo yang basah seusai membasuh keringat di keningnya. Pada benda yang kini berada dalam genggamannya itu, ada nasib anak-anaknya. Hasil ujian dari anak-anak itu akan bergantung pada apa yang akan dikerjakannya. Setelah ini, beberapa menit saja setelah amplop itu ia buka.

Tak dapat dibayangkan oleh Waluyo bagaimana jerih payahnya selama ini. Sudah tiga tahun ia menyampaikan ilmu Matematikanya kepada para siswa di sebuah pulau. Mulai dari menyiapkan bahan pengajaran, hingga terkadang harus berpeluh-peluh menghadapi siswa-siswanya dalam belajar mengajar di dalam ruang kelas tak ber-AC. Semua itu demi dua buah kata yang ingin sekali ia dengar, “Mengerti Pak!” Kata-kata yang juga didamba oleh teman-teman seprofesinya.

Namun kegusaran yang ada pada organ berdenyut di tempurung kepalanya harus tersingkirkan. Dalam benak Waluyo, ia ingin sekali melihat wajah-wajah siswanya bisa tersenyum riang. Semoga, nasib berpihak pada anak-anaknya di tanggal 21 Juni nanti, itu bisik hati Waluyo. Pikirnya, anak-anak itu sudah cukup berpayah-payah untuk berusaha menuntut ilmu selama ini.

Waluyo teringat cerita dua siswanya, Amad dan Eli. Kedua anak itu pernah mengisahkan kepadanya tentang perjuangan perjalanan mereka saat menuju ke sekolah. Mereka berangkat dari rumahnya di pulau seberang dengan berseragam celana pendek warna biru.

Mereka berkisah. “Kalau tidak ada sampan yang bisa kami naiki, ya kami lebih memilih jalan kaki dulu Pak. Ada lah mungkin 8 km lewat jalan darat harus kami tempuh. Habis itu, barulah kami mencopot baju, terus berenang. Kalau tak begitu, tak selamat baju seragam kami ini kena air. Tapi beda lagi kalau kami pulang. Tak payah lagi kami Pak seperti waktu berangkat. Ada mamaknya si Alek yang menjemput Alek dengan sampan. Nah dengan mamak si Alek itu, bisa lah kami menumpang sampai seberang. Yang penting kami tak lagi berpayah-payah mencopot baju seragam dulu lalu berenang pulang macam waktu kami berangkat.”

Waluyo tentu saja terkejut waktu mendengar ujaran semacam itu di awal ia mengajar, dan lalu mendapati kisah dari murid-muridnya. Waktu itu, ia baru diangkat menjadi seorang guru dan mendapatkan surat keputusan untuk mengajar di tempat itu. Tapi ketika Amad dan Eli yang kini menjadi generasi kesekian kalinya sebagai muridnya di sekolah itu bercerita hal yang sama, cuma ada satu tekad yang makin membulat di hatinya. “Mereka harus jadi anak yang pintar!”

Tapi di tahun-tahun belakangan ini, satu tekad lain terpatri di dadanya. Sejak standar nilai ujian nasional dari tahun ke tahun dinaikkan dan itu justru membuatnya sering melihat wajah-wajah kecewa, Waluyo memiliki sebuah tekad baru, “Mereka harus lulus! Anak-anakku harus mengakhiri masa sekolahnya di sekolah ini dengan wajah sumringah.”

Meski demikian, terkadang ia bersyukur jika teringat masa-masa sekolahnya dulu. Waluyo tidak mengalami istilah mencopot baju dan berenang menyeberang pulau seperti yang dilakukan murid-muridnya kini. Cukuplah rasa lelah karena harus berjalan beberapa kilometer jauhnya dari rumah menuju sekolahnya. Rasa syukur miliknya yang terbersit kini, tak pernah ia sangka ada dulunya. Dulu, ia bisa memiliki keluh dalam lelah. Tapi jika membandingkan dengan kenyataan pada apa yang dialami beberapa siswanya, ia langsung merasa malu.

Beberapa tahun terakhir ini, Waluyo harus bertarung untuk mereka yang terus dan terus mau sekolah. Nilai akhir memang membuatnya cemas di setiap waktu akhir jenjang pendidikannya. Dan sepanjang tahun, siswa-siswanya silih berganti harus berjuang untuk mencapai sebuah standar nilai yang begitu tinggi. Untuk sebuah status lulus.

Waluyo sendiri tidak pernah membayangkan akan melalui semuanya itu sebagai bagian dari nasibnya, sebagai seorang guru di sebuah pulau kecil yang jauh dari peradaban kota. Sebuah profesi mulia yang juga ia harapkan dapat menuai penghasilan yang memadai. Dan dengan tetap memegang amanah orangtua semenjak ia kuliah untuk menjadi guru PNS, akhirnya ditekadkan hatinya untuk keluar dari pulau Jawa.

“Guru itu kalau di luar Jawa dihargai banget, lho! Gajinya saja bisa tiga juta lebih. Coba kalau kita di Jawa, susah banget terus-terusan daftar PNS. Susah diterima! Kecuali, kalau kita punya uang banyak untuk bayar. Tapi yo lucu tho yo? Masa’ mau kerja kok kita ibaratnya diminta bayar dulu. Bener, tho?!” itulah kata-kata Arib, sahabatnya yang sudah lebih dulu merantau ke luar pulau Jawa. Tak henti-hentinya teman kuliahnya itu mengobarkan semangat merantau pada diri Waluyo.

Pilihan di depan mata yang ditawarkan Arib tersebut akhirnya ia pilih untuk ia ambil. Di kemudian hari ketika tes PNS benar-benar diikutinya dan vonis untuk tugas mengajar di sebuah pulau harus diterima, Waluyo tetap terus memilih mengikuti garis hidup yang telah diambilnya tersebut.

Namun kenyataan menjadi guru di sebuah pulau sungguh di luar dugaannya. Waluyo tidak pernah tahu bahwa ada kondisi sekolah-sekolah tertentu yang bisa jadi tidak seperti yang ada dalam gambarannya ketika kuliah. Satu komputer untuk satu sekolah, misalnya itu yang ada pada sekolah tempatnya mengajar. Tidak peduli apakah itu untuk kerja para guru ataukah untuk kegiatan belajar bagi para siswa dalam mengenal teknologi komputer, komputer itu jadi benda canggih yang dipakai secara bergantian.

Yang hanya Waluyo tahu dari selama mengikuti kuliah dulunya, menjadi seorang guru haruslah punya beberapa kemampuan. Guru harus mampu memotivasi siswa, mengajar sesuai dengan rancangan pengajaran, dan mengajar dengan metode yang bervariasi demi membuat para siswa tidak menjadi bosan dan dapat dengan mudah menyerap pelajaran. Itulah teori yang Waluyo dapatkan selama kuliah di universitas yang dulunya identik dengan berbagai jurusan keguruannya.

Tapi Waluyo tidak pernah diberitahu jika kondisi-kondisi yang distandarkan itu faktanya tidaklah didukung dengan hal-hal yang juga seiya. Dan saat sadar tentang hal itu, tentunya Waluyo tidak mungkin menyesal. Malu juga rasanya jika harus mundur dari kenyataan. Anak-anaknya yang sudah berani berperang melawan kondisi memprihatinkan pada diri mereka untuk memenuhi kriteria wajib belajar itu sungguh sayang jika harus ia kecewakan! Jika mereka bisa bersemangat untuk tetap terus sekolah dalam kondisi yang tidak menunjang, kenapa ia malah memilih mundur?

**

Semua jawaban untuk ujian akhir nanti akhirnya sudah dikerjakan oleh Waluyo. Hasilnya, siap untuk dibagikan ke pada para murid-muridnya. Apa yang barusan dilakukannya pun sungguh tak ada dalam bayangannya dulu ketika ia menempuh kuliah. Dulu ia berprinsip dalam kondisi ujian apapun, ia harus bisa mengerjakannya sendiri. Tanpa bantuan kecurangan. Tidak ada harapan pertolongan dari teman-temannya, apalagi dari pengajar. Sungguh rasanya tidak masuk akal jika ia harus melewati ujian dengan meminta pertolongan jawaban dari dosen. Yang ia yakini sejak dulu, jika mentalnya ketika menuntut ilmu saja sudah rusak, lantas apakah ia bisa dengan santai meminta para siswanya nanti untuk bersikap jujur dalam ujian? Prinsip Waluyo ketika masih kuliah itu pun kerap ditanggapi dengan senyuman kecil oleh Arib, sahabatnya.

“Lakukanlah hidup itu dengan wajar, kawan. Aku yakin, guru-guru kita pun dulunya pasti sama halnya seperti kita sekarang Mereka juga pastinya kerap melakukan hal-hal yang tidak jujur dalam mengerjakan tugas sekolah,” bela Arib untuk dirinya sendiri.

“Dan nanti, tentunya aku juga akan mati-matian melarang muridku untuk bersikap curang. Pokoknya, aku nggak peduli kalau dulu aku dulu juga suka mencontek sewaktu kuliah!” Waluyo ingat ekspresi Arib yang tanpa ekspresi bersalah saat mengatakan hal itu. Sementara ia yang mendengarnya malah merasa gerah.

“Ah, mungkin teman-temanku yang dulu sering mengolok-olok keidealismeanku, pastinya tidak canggung untuk melakukan seperti apa yang sedang aku lakukan kini. Dan mungkin di saat yang sama, jika mereka kini juga menjadi guru seperti aku sekarang, mereka pun pastinya juga sedang mengusahakan hal yang sama untuk murid-muridnya di sekolah,” batin Waluyo sembari memandang jawaban dari soal-soal ujian yang telah selesai ia kerjakan.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwasanya soal ujian kini sudah begitu mudah didapatkan. Meskipun, ujian akhir nasional masih tinggal empat bulan lagi lamanya. Bahkan menurut kabar pesan pendek dari telepon seluler dan kabar lewat telepon dari teman-temannya yang sering mengakses internet, di dunia tak nyata itu kini sedang ramai bermunculan soal-soal untuk ujian. Tidak ada lagi judul latihan soal untuk persiapan ujian atau soal-soal yang pernah keluar di tahun-tahun lalu dan bisa menjadi bahan belajar bagi para siswa yang akan ujian.

Padahal dulu di masa kecilnya, Waluyo harus merepotkan diri ke sana sini demi mendapatkan soal ujian tahun-tahun sebelumnya untuk dipakai sebagai soal latihan. Tapi kini, para siswa calon peserta ujian akhir itu bahkan sudah bisa berlatih soal-soal yang 99 persen kemungkinannya akan menjadi soal ujian sungguhan nantinya.

Bahkan yang membuat Waluyo terheran-heran, jawaban soal ujian pun sudah bisa didapatkan dengan mudah. Heran bercampur rasa kesal lah yang menjadi hujan rutukan di hati Waluyo. Lantas, apalah gunanya ia dan para siswanya harus menempuh istilah belajar mengajar selama tiga tahun?

Apalagi informasi itu ia dapatkan di tahun-tahun sebelumnya. Saat di mana ia sedang mati-matian mengira-ngira dalam persiapan yang ia lakukan untuk para murid-muridnya tentang soal apa yang akan dikeluarkan oleh para penguasa bidang pendidikan tingkat wahid. Rasanya saat itu barulah ia menyadari, betapa kasihan para muridnya yang di malam ujian harus kebingungan menerka, soal apa yang akan keluar nanti. Jika terlewat kurang beruntung, alamat, tergadaikanlah nilai di akhir ujian. Dan kegemasan Waluyo saat itu tentunya sampai di ubun-ubun ketika mendengar teman-temannya yang kini seprofesi, bisa bercerita ringan dan pasti tentang nasib anak didiknya di akhir ujian nanti. Pasti lulus!

“Ini bukanlah salah kita. Orang-orang yang berada di atas kita yang tidak sadar dan akhirnya meminta kita untuk melakukan ini. Mereka tidak lagi mau malu jika nanti wajah mereka tercoreng aib dengan angka-angka ketidaklulusan yang begitu fantastis,” begitu alasan seorang rekannya yang juga sesama guru di sekolah tempatnya mengajar.

Melihat Waluyo hanya terdiam dengan ekspresi yang seakan masih sulit menerima, rekannya itu pun tak henti menyerah mencoba terus meyakinkannya. “Kita lebih baik mengikuti saja. Kasihan betul lihat anak-anak pulau itu yang sudah mau berpayah-payah bersekolah, lalu harus terus kecewa. Lagipula, nasib sekolah di daerah-daerah lainnya sama juga seperti kita. Kita ini, mengajar sekolah di pulau ini, memang terkenal akan kualitasnya yang kurang baik. Tapi walau bagaimanapun itu, cobalah engkau pikirkan sekali lagi nasib anak-anak kita.” kata-kata dari rekan kerjanya yang sepertinya paham gejolak hati Waluyo, mencoba sedikit meredam kegalauannya.

**

Waluyo berjalan gontai ke sekolah tanpa rasa gairah. Hari ini berita kelulusan anak-anaknya akan diketahuinya. Tapi meski di tahun-tahun sebelumnya angka kelulusan anak-anaknya tidaklah menggembirakan, namun masa-masa dulu itu lebih membuatnya bersemangat untuk memacu langkahnya ke sekolah di saat-saat seperti ini. Dan sekarang, rasanya semua berbeda.

Kejadian demi kejadian seputar ujian nasional terus ada dalam ingatannya. Satu hal, ia masih merasakan sesak di dadanya jika mengingat apa yang telah dilakukannya beberapa bulan lalu. Dan ketika langkah kaki Waluyo akhirnya sampai di sekolah, para siswa pun berhamburan langsung berebut menciumi tangannya.

“Terima kasih, Pak! Terima kasih, Pak!” Wajah-wajah gembira dan lega menyambutnya seusai para murid-muridnya tersebut menempelkan kening mereka di punggung tangan Waluyo saat bersalaman sebagai tanda hormat.

Mata Waluyo yang berkaca-kaca seperti menangkap getar rasa haru di mata para siswanya. Waluyo mencoba membaca satu per satu pikiran anak-anaknya, “Pak, Bapak pasti bangga kami. Angkatan kami akhirnya bisa membuat sekolah kita ini tidak lagi diolok-olok oleh masyarakat. Tidak ada lagi wartawan yang akan datang bergantian untuk meliput nasib sekolah kita yang terus-menerus dinyatakan sebagai sekolah tidak bermutu. Meskipun, seharusnya kami bangga. Karena, kapan lagi kondisi sekolah kita yang memprihatinkan ini bisa diperhatikan oleh masyarakat dengan adanya kejadian ketidaklulusan? Ah, tapi kini pun pastinya mereka akan kembali menyorot prestasi kami di tahun ini. Kami semua sudah bisa lulus!” Tiba-tiba Waluyo seakan mampu membaca pikiran murid-muridnya.

Namun tetes tangis Waluyo bukanlah demi rasa haru. Lebih tepatnya adalah rasa miris yang mengiris nuraninya karena sedih dan marah pada dirinya sendiri. Ya, hari itu murid-murid Waluyo lulus. Tapi bagi Waluyo, ujiannya sebagai guru sebetulnya dinyatakan tidak lulus tahun ini!

 

(Ini cuma ecrita yang beberapa tahun lalu saya buat. Mungkin, realitanya sudah tidak ada lagi. Tapi semoga pentingnya nilai kejujuran yang ingin saya angkat dalam cerpen ini tetap mengena. Apapun kondisinya sekarang)

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s