Ulat Itu Hewan yang Lucu

Standard
naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

naka dan jangkrik, sedangkan koko hanya duduk di sebelahnya untuk mengawasi

Saya kadang suka geli sendiri apabila ada orang yang phobia terhadap hewan-hewan tertentu. Misalnya, takut belatung, kecoa, ulat bulu, atau belalang. Memang, mungkin sayalah yang tergolong unik karena bagi kebanyakan orang, beberapa dari hewan tersebut termasuk menjijikkan. Namun, ada baiknya kan jika kebiasaan berani pada hewan-hewan tersebut ditanamkan pada anak-anak usia dini?

Apalagi jika kelak kita berharap ia bisa menjadi ilmuwan. Nah, bagaimana mau berani meneliti jika pada hewan-hewan tertentu saja mereka ketakutan atau merasa jijik? Jadi, pendidikan berani dan menyayangi hewan itu perlu menurut saya!

Berawal dari pikiran itulah akhirnya saya jadi terpikir untuk mengajak anak-anak saya di TPA untuk tidak hanya sekedar mengenal hewan. Mulai dari belalang, jangkrik, kecoa, kaki seribu, sampai belatung yang ada di belimbing busuk pun saya perkenalkan dan saya dekatkan kepada mereka.

Awalnya saya ajak mereka berpikir bahwasanya hewan-hewan itu pun sama dengan manusia, punya rumah, punya mama, punya papa. Hingga ketika ada dari mereka yang mungkin saking takutnya lalu akan membunuh si hewan, sering saya ajak mereka untuk berkomunikasi dengan cara empati.

“Lho nak, kok mau dibunuh? Nanti kalau orangtuanya nyariin gimana? Kasihan kan? Kita biarkan dia pulang yuk. Biar ketemu sama mama papanya…” ujar saya jika gelagat ingin mematikan hewan mulai nampak dari sikap anak-anak saya.

Memang, ada beberapa macam tipe anak-anakdi TPA saya. Anak saya yang bernama Naka misalnya. Pada dasarnya ia berani dan memang selalu berani dengan hewan apapun. Ada juga yang memiliki sikap penakut tetapi ikut-ikutan. Misalnya Koko atau Nisa. Yang peragu dan musiman sikapnya pun ada. Kadang penakut, kadang bisa jadi berani! Hehehe…

Ketika kemarin-kemarin saya kerap lebih menggunakan pelajaran empati, maka akhir-akhir ini saya justru mulai mendekatkan mereka pada hewan-hewan yang memang sering dipandang menjijikkan bagi kebanyakan orang.

Kebetulan, di samping TPA yang saya kelola, ada sebidang tanah kosong yang tidak terlalu bersih dari rerumputan. Sebatang pohon belimbing berada di sana. Sesekali, saya kerap menemukan belimbing busuk yang tentu saja bisa ditebak hewan apa yang ada di dalamnya. Yap, belatung!

Hewan mungil yang meski sudah berwarna putih itu kerap selalu diidentikkan dengan kejijikan. Yah, karena tempatnya yang memang berada di kondisi buruk. Sayangnya, sering juga banyak orang dewasa yang lantas mengajak anak-anak untuk menyikapi hewan ini dengan ekspresi yang tidak mengenakkan untuk harus ditiru oleh anak.

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Mengamati belatung di belimbing yang busuk

Namun yang saya lakukan justru sebaliknya. Belatung itu saya perkenalkan sebagai hewan yang lucu, mengasyikkan untuk diamati cara bergeraknya, dan memiliki cerita kehidupan untuk diketahui. Walhasil, seluruh anak-anak saya jadi berani untuk memegangnya.

Hewan lain yang bisa saya amati bersama anak-anak di lahan kosong itu adalah kaki seribu. Hm… sayangnya saya lupa nama asli hewan ini. Hanya saja di daerah saya, kami menyebutnya kluwing. Bentuknya sering hanya paling panjang sepanjang jari kelingking, berwarna merah, berkaki banyak hingga karena itulah ia dijuluki si kaki seribu, dan sering melingkar untuk melindungi dirinya.

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Masih ketawa ketiwi waktu melihat si kaki seribu yang melingkar lucu

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Mulai terlihat was-was dan mengamati kala si kaki seribu nampak berjalan merambat

Awalnya anak saya bernama Koko yang menemukannya. Bentuknya sudah dalam posisi melingkar ketika ia bertanya apakah yang sedang dipegangnya saat itu. Saya yang tahu jika Koko kadang adalah anak yang penakut untuk hewan-hewan yang tak dikenalnnya, jadi senyum-senyum juga saat tahu Koko berani memegangnya. Mungkin waktu itu ia berpikir jika apa yang dipegangnya adalah bukan hewan.

Namun ketika si kaki seribu itu saya genggam dan kemudian menunjukkan bentuk aslinya yang memanjang, barulah mulai gelagat ketakutan muncul di wajah anak-anak saya, kecuali Naka. Apalagi ketika saya biarkan ia berjalan di tangan saya, suara ha hi langsung keluar dari bibir-bibir mungil mereka.

Lambat laun rasa ketakutan mereka berubah saat mereka melihat bagaimana hewan tersebut santai berjalan merambat di tangan Naka dan lalu Syaif. Barulah mereka lantas mencoba berebut ingin ikut memegangnya.

Usia anak-anak yang masih belia memang jadi masa tepat untuk menanamkan hal yang ingin kita harapkan berbuah dari mereka kelak. Menginginkan mereka menjadi orang besar yang hebat, tentunya perlu dari hal yang kecil dan mungkin sering dianggap diabaikan bukan? Karena dari situlah, mereka bisa belajar melihat dengan jeli, teliti, dan mengikutsertakan rasa yang positif, modal utama untuk karya-karya besar mereka kelak!

About these ads

3 thoughts on “Ulat Itu Hewan yang Lucu

  1. ilham

    beautiful kids… emang bagus banget mendekatkan anak2 sama alam, membantu mereka jadi pede dan terhubung dengan lingkungan hidupnya (kebanyakan nonton Oprah).

    btw si koko kok ekspresinya kayak ngeri gitu ^^ lol

    ah, saya juga mau belajar brani megang cacing ah..

    oy oy!

  2. Andin Hasnawati

    Yupz Setuju.
    karena ke 3 anak saya sangat berani bermain dengan binatang.
    awalnya saya geli, tapi karena tidak ingin anak anak penasaran
    saya ijinkan saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s