Oleh: Ika Maya Susanti
Merasa aneh mendengar judul tersebut? Bagaimana tidak, selama ini, orang selalu menganggap HIV/AIDS adalah sebuah momok yang berada dan berstigma pada ujung kematian. Sedangkan dalam judul tersebut, HIV/AIDS justru diperlakukan untuk dipopulerkan di kalangan masyarakat.
Ide pemopuleran HIV/AIDS ini sendiri berawal dari fakta sosialisasi HIV/AIDS yang ada di masyarakat. Meski beberapa elemen pemerintah hingga Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang ini telah memberikan penjelasan yang terang kepada masyarakat akan keberadaan HIV/AIDS, yang ada, justru masih banyak masyarakat yang awam tentang apa itu HIV/AIDS berikut juga dengan keberadaan orang yang hidup dengan HIV/AIDS atau disebut dengan ODHA (Orang dengan HIV/AIDS). Akhirnya, jumlah korban HIV/AIDS pun makin bertambah, dan para ODHA pun tak kunjung terentas dari kondisi termarjinalkan.
Mari kita lirik dari istilah HIV/AIDS-nya saja terlebih dahulu. Banyak dari masyarakat yang kurang tahu apa perbedaan dari kedua kata yang terpisahkan dengan garis miring tersebut. Padahal, AIDSĀ atau singkatan dari Aquired Immun Deficiency Syndrome merupakan sebentuk penyakit yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia akibat adanya infeksi virus. Virus itulah yang disebut dengan HIV atau Human Immunodeficiency Virus.
Karena penyakit ini belum memiliki obat yang pasti mampu mengenyahkan virus tersebut dari tubuh manusia serta bahkan membuat manusia yang terserangnya meninggal dunia akibat daya tahan tubuh yang terus berkurang, pengetahuan itulah yang diketahui oleh masyarakat umum dan membuat HIV/AIDS terus menjadi hantu dalam pikiran masyarakat.
Selain karena pengetahuan tentang kemampuan HIV/AIDS yang tak tersembuhkan, sebetulnya ada beberapa hal lain yang membuat orangpun bergidik untuk mengenal HIV/AIDS, atau langsung berantipati dengan keberadaan ODHA. Satu di antaranya adalah keawaman pengetahuan tentang cara penularan.
HIV memang bisa bertransfusi melalui cairan tubuh manusia yaitu darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu. Namun, tidak melalui air liur atau keringat. Jadi jika hanya berjabat tangan, bicara dalam jarak dekat dengan ODHA, terkena cipratan bersin atau batuk, tergigit nyamuk yang telah menggigit ODHA, tidaklah akan mampu membuat orang yang sehat kemudian dapat tertulari HIV.
Namun ketakutan akan akibat dari HIV/AIDS yang mematikan, banyak masyarakat awam pun langsung enggan untuk berdekatan dengan ODHA. Meskipun, penjelasan tentang cara penularan telah mereka ketahui. Dan ketakutan itulah yang membuat banyak masyarakat kurang menggali lebih dalam lagi informasi tentang seluk beluk HIV/AIDS.
Belum lagi adanya anggapan bahwa mereka yang terkena HIV/AIDS adalah mereka yang telah berperilaku buruk sebelumnya, seperti seks bebas, atau narkoba. Padahal, tidak semaunya penderita dari penyakit ini adalah mereka yang memang pernah melakukan perilaku menyimpang. Bisa jadi, para penderita AIDS adalah mereka yang secara tidak sengaja tertulari oleh penderita AIDS yang lain.
Dan anehnya, meski anggapan minor tentang penderita AIDS banyak berkembang, tidak sedikit juga dari masyarakat yang masih melanggar batas keamanan untuk diri mereka sendiri terhadap kemungkinan penularan. Misalnya saja fakta bahwa penularan HIV/AIDS masih banyak berasal dari kasus narkoba atau pergaulan bebas. Hal inilah yang justru kemudian terus menguatkan dugaan bahwa HIV/AIDS memang identik dengan seks bebas dan narkoba.
Keawaman tentang pengetahuan HIV/AIDS, cara penularannya, hingga pengabaian batas keselamatan kemungkinan tertular, lantas, berapa banyak lagi orang yang kemudian mungkin tertulari HIV/AIDS? Ini masih ditambah dengan kurangnya kesadaran pentingnya kewajiban untuk memeriksakan kesehatan diri bagi mereka yang mungkin mengalami gejala awal HIV/AIDS.
PR lainnya adalah sampai kapan para ODHA akan terus termarjinalkan karena masyarakat ketakutan berlebihan dan awam tentang cara penularan HIV/AIDS? Inilah sebetulnya yang perlu dipecahkan bersama sebagai tanggung jawab dari seluruh elemen masyarakat.
Di Manakah Rantai Ketidakberhasilan Itu Terjadi?
Sebelum bicara solusi, baiknya kita temukan dulu di manakah titik kegagalan akan sosialisasi HIV/AIDS dan keberadaan ODHA itu mulai terjadi. Sebetulnya, pintu pertama yang harus mampu memberikan peberangan kepada masyarakat adalah dunia medis, misalnya saja pihak rumah sakit.
Sesungguhnya, sudah menjadi tugas dari Rumah Sakit untuk memberikan pendidikan HIV/AIDS yang jelas dan gamblang kepada masyarakat. Bentuknya bisa berupa sosialisasi secara berkala ke seluruh elemen masyarakat. Masyarakat pun kemudian tak seharusnya bingung jika ingin bertanya ke mana jika ingin memperoleh kejelasan tentang HIV/AIDS.
Sayangnya, fakta yang banyak terungkap, tidak sedikit pihak medis seperti dokter atau perawat yang justru awam tentang HIV/AIDS. Sering terjadi, para ODHA mengungkapkan kemarjinalan dirinya saat diperlakukan secara tidak adil kala mereka menuntut hak perawatan kesehatan. Masih banyaknya kasus seperti ini membuktikan bahwa ternyata, pihak medis pun bisa awam tentang masalah HIV/AIDS. Jika itu terjadi, lantas bagaimana dengan pemahaman yang ada pada sebagian besar masyarakat sendiri?
Belum lagi adanya sikap pemerintah yang masih kurang total dalam bersikap kala menentukan kebijakan yang terkait dengan sosialisasi HIV/AIDS maupun penyikapan terhadap keberadaan ODHA. Setali tiga uang dengan dunia medis, HIV/AIDS dan keberadaan ODHA dianggap sebagai musuh yang tidak patut disentuh dan perlu dienyahkan keberadaannya. Bukan untuk dihadapi kenyataannya!
Para ODHA yang ada juga kebanyakan lantas berposisi sebagai bagian yang kurang penting dari sosialisasi HIV/AIDS. Ada ODHA yang memilih diam dan menyingkir dari kehidupan masyarakat yang di matanya lebih normal dan sehat. Atau kalaupun ada yang berani tampil, justru terselubung dalam elegi ketidakberdayaan mereka saat tanpa bisa menolak, harus tertulari HIV/AIDS. Dua kondisi itu melebihi jumlah para ODHA yang mampu tampil untuk menunjukkan sikap optimisme diri yang kemudian membuat ia mampu bangkit dan bertindak untuk mencegah agar tidak makin banyak masyarakat yang tertulari HIV/AIDS.
Populerkan HIV/AIDS
Sesuatu tidak akan dikenali jika telah ada ketakutan berlebihan yang lebih dulu ada pada pikiran dan membuat enggan untuk dikenal! HIV/AIDS memang mampu berakibat fatal pada nyawa manusia. Namun, bagaimana jika ketakutan akan hal itu disingkirkan dengan cara mengemasnya dalam sebuah langkah yang populis?
Hal yang menyeramkan dibuat menyenangkan, tentunya tidak mudah untuk mengenalkan apa itu HIV/AIDS yang terkenal berkolerasi dengan maut itu dengan cara yang tidak menakutkan. Namun ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menembus prilaku takut yang justru memerangkapkan seseorang dalam jerat HIV/AIDS.
Misalnya saja dengan menyelipkan kampanye tersebut pada sosialisasi antinarkoba atau pergaulan bebas. Khususnya pada dunia remaja seperti pelajar dan mahasiswa sebagai kalangan yang rentan bersinggungan dengan gerbang penularan HIV/AIDS.
Tentu saja, tidak hanya sepintas lalu yang perlu ditampilkan dengan hanya mengatakan bahwasanya HIV/AIDS bisa tertular melalui jarum suntik narkoba atau pergaulan bebas berikut ancaman kematian yang diimbuhkan di belakangnya.
Atau, perang dalam bentuk sosialisasi khusus tentang HIV/AIDS namun hanya berupa pemaparan apa itu, bagaimana cara penularannya, serta apa akibatnya. Inilah yang kemudian menambah daftar panjang istilah ‘tahu tapi tak paham’ akan HIV/AIDS. Dan inilah saatnya bagi para ODHA yang masih mengalami stadium rendah dan memiliki jiwa optimisme untuk membantu memerangi penyebaran HIV/AIDS dengan tampil ke permukaan.
Kemunculan para ODHA juga sebaiknya tidak melulu pada pengakuan penyesalan atau pengungkapan asal muasal penularan saja. Akan tetapi, munculkan juga sikap optimisme bahwa meski berstatus ODHA, hidup tetaplah bisa dijalani normal seperti laiknya manusia sehat lainnya.
Komunikasi cara inilah yang disebut dengan tahapan mengenal dan tidak sekedar tahu. Mulai dari hanya berjabat tangan saja dengan para ODHA dalam kegiatan sosialisasi HIV/AIDS, semangat ajakan untuk hidup bersama dan tidak meminta belas kasihan, hal tersebut bisa membuat masyarakat membuka pintu komunikasi penerimaan dengan para ODHA dan mengikis pemarjinalan yang kerap ada.
Tentunya, langkah ini hanya bisa ditempuh jika para ODHA yang ada pada stadium awal telah siap dan disiapkan untuk bisa memompa optimisme hidup pada diri mereka sendiri terlebih dahulu. Jika mereka berani untuk tempil bersingungan dengan masyarakat umum, pembuktian fakta yang sesungguhnya akan penularan HIV/AIDS pun akan makin dimengerti oleh masyarakat.
Dukungan yang positif dalam hubungan antara masyarakat dengan ODHA inipun menjadi sesuatu yang kondusi bagi para ODHA sendiri. Ketika mereka dalam kondisi yang nyaman, diterima, tidak merasa ditekan, dilecehkan, atau dibenci oleh lingkungan sekitarnya, hal ini secara langsung yang akan memengaruhi kelangsungan hidup para ODHA ke arah kontinyuitas hidup mereka.
Faktanya, para ODHA yang hidup dengan pikiran positif dan penerimaan yang baik dari lingkungan sekitarnya terutama keluarga, mampu memiliki kondisi psikologi yang bisa meningkatkan daya tahan tubuh mereka sendiri. Dan memang, tulah yang menjadi bagian penting bagi setiap ODHA.
Satu hal lagi yang tak kalah penting adalah munculnya orang-orang yang hidup bersama para ODHA. Bisa suami, istri, anak, LSM yang mendampingi, teman, atau personal-personal lainnya yang selama ini hidup bersama dengan ODHA.
Karena selama ini, para ODHA lebih sering terekspos oleh media massa atau justru dituntut untuk lebih aktif tampil di masyarakat. Padahal, sebetulnya peran mereka yang hidup bersama dengan para ODHA-lah yang bisa menolong para ODHA untuk berani tampil di depan masyarakat umum.
Hanya dengan dukungan positif, para ODHA berani berpartisipasi turut mensosialisasikan pemahaman tentang HIV/AIDS. Mereka yang hidup berdampingan dengan para ODHA inilah yang bisa menjadi bukti bahwa ODHA bisa hidup di tengah masyarakat tanpa memiliki andil dalam penularan.
Semakin banyak dan seringnya mereka yang hidup dengan ODHA ini turut tampil dalam sosialisasi HIV/AIDS, masyarakat yang awalnya awampun makin mengerti tentang apa itu HIV/AIDS, berikut bagaimana agar mereka tetap bisa aman. Dan tentunya, para ODHA tidak lagi terus berada dalam kondisi termarjinalkan.











ibuuuuuu…
saya mau nanya..
kok kata populer ditambah imbuhan me jadi memopulerkan…???
kenapa bisa begitu ibu ikaaaaaa…..
Ibu ga salah kan..
atau gara-gara kemaren ngajar ekonomi pembangunan di poltek jadi lupa lupa ingat…
asslmu’alakm,
salam kenal bu ika, saya sedang tertarik dengan masalah HIV/AIDS dan PMS yang menyebar di Indonesia, maka saya berniat ingin meneliti pengetahuan mahasiswa suatu universitas, kira2 faktor yang mempengaruhinya apa y??? bisa bagi artikel yang berhubungan dengan masalah tersebut? tolong y bu ika…
kirim ke sini,,arif.muttaqin@gmail.com.terima kasih
pesan: jangan jauhi orang yang terkena HIV tapi jauhi virusnya, y kan bu?:)