Akhir-akhir ini ada seorang pria yang sering mengirimi saya sms. Eit, jangan salah sangka dulu. Kali ini saya sebetulnya ingin bercerita tentang seseorang, yang rajin sms itu, yang memiliki sikap dan rasanya patut jadi bahan renungan.
Namanya dr Anas. Ia adalah seorang dokter bedah di RS Muhammadiyah tempat ibu saya bekerja. Usianya mungkin tak jauh berbeda dari Ayah saya yang kini hampir di penghujung gerbang 60 tahun.
Saya mengenal dr Anas sebetulnya jauh hari sejak saya berada dalam penanganan operasi olehnya. Namun sejak saya mengikuti pengajian yang ia koordinatori di RS Muhammadiyah, muncul kekaguman dari diri saya terhadap beliau.
Jika melihat dari profesinya, seorang dokter bedah, siapapun mungkin akan berpikir sama, “Wah, pastinya ia adalah seorang dokter yang sibuk!” Memang demikian adanya. Profesi dokter bedah hampir sama rating kesibukannya seperti dokter anak atau dokter kandungan. Setiap hari, selalu saja ada orang yang membutuhkan keberadaannya untuk tindakan operasi.
Tidak tanggung-tanggung, tindakan operasi yang bisa dikatakan tidak cukup membutuhkan waktu singat itu bisa dilakukan lebih dari dua kali dalam sehari. Belum lagi waktu prakteknya yang digunakan untuk pemeriksaan pra dan pasca operasi bagi pasiennya. Sibuk sekali bukan?!
Nah, kekaguman saya terhadap beliau muncul usai saya mengikuti pengajian pertama dengannya. Awalnya ketika ia memberitahu kepada saya dan rekan-rekan di pengajian tersebut untuk jikalau bisa menghabiskan beberapa halaman Al Quran, saya hanya mendengarnya secara lewat saja.
Namun ternyata tidaklah demikian. Hampir setiap hari, beliau akan mengirim sms di pagi hari kepada kami para peserta pengajian Senin dan Kamis itu tentang halaman-halaman apa saja yang sebaiknya dibaca. Ia memang menyarankan kepada kami semua untuk membuat target membaca empat halaman Al Quran setiap sebelum shalat Subuh, seusai shalat Dhuha, seusai shalat Dzuhur, seusai shalat Ashar, seusai shalat Maghrib, dan seusai shalat Isya’. Sehingga paling tidak dalam sehari, kami bisa melewati 1 juz Al Quran.
Tidak hanya mengirim sms untuk mengingatkan halaman-halaman apa saja yang hendaknya jadi target bacaan harian. Ia pun juga terkadang menyelipkan hal lainnya seperti tanda-tanda bacaan yang hendaknya dibaca seperti apa, ayat-ayat tertentu yang patut untuk dinikmati kala membacanya, sampai pesan-pesan untuk selalu tetap istiqomah.
Misalnya seperti yang saya dapatkan pada hari Rabu (22/7), “Padati hidup dengan penuh syukur kepada-Nya. Terhadap semua yang ada pada diri dan sekitar kita. Jangan terjebak sebagaimana kebanyakan. Sibuk mendamba yang belum ada, lupa syukuri yang di tangan. Salah satu bentuk syukur nikmat lisan adalah mengerahkannya untuk melantunkan Qur’an yang penuh hikmah. Bila pagi sepi dari membacanya, adakah untaian yang lebih indah dan mulia dari-Nya. KEEP ISTIQOMAH!!!”
Dan bagi kami para peserta pengajian, ia memiliki panggilan khusus. Maqbuler atau penggiat maqbul, demikian istilah itu ia munculkan untuk menjadi motivasi bagi kami. Intinya, sms dari dr Anas ini tidak pernah membosankan dan berunsur semangat bagi kami semua.
Hm… rasanya enak bukan?! Kita bisa seperti berlangganan layanan sms tausyiah harian! Gratis lagi! Yah, begitulah dr Anas, seorang dokter yang terkenal pantang berhitung harta yang ia miliki. Sms darinya bisa datang hingga 3 sampai 5 sms jumlahnya. Dan coba bayangkan, sms tersebut dikalikan sekitar 20 orang lebih yang nantinya akan menerima sms dari beliau!
Dokter yang satu ini pun tak pernah terdengar buruk bagi lisan mereka yang ada di sekitarnya. Konon katanya menurut Ibu saya dan teman-temannya, dr Anas adalah orang yang sangat memiliki rejeki melimpah hingga sering kebingungan hendak membagi kepada siapa. Di RS Muhammadiyah saja, terkadang ia sering menawarkan bantuan dana kepada siapapun yang membutuhkan dengan tanpa bunga dan tanpa tenggang waktu yang ia tetapkan.
Misalkan saja untuk Al Quran terjemahan yang harganya 150 ribu rupiah jika saya membelinya di Lamongan. Melihat bagusnya Al Quran tersebut yang memiliki terjemahan secara keseluruhan, per ayat, juga bagian-bagian lainnya yang membuat Al Quran ini laik untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap umat muslim, dr Anas pun tergerak untuk membelinya sendiri ke Surabaya. Di kota tersebut, harga 120 ribu rupiah bisa ia dapatkan.
Lagi-lagi tak ada kata berhitung bagi dr Anas. Ia menawarkan Al Quran tersebut kepada kami para peserta pengajian dengan harga yang sama ia dapatkan di Surabaya. Bahkan, kami diminta untuk mencicil saja sehingga terasa ringan. Tentu saja, tanpa bunga!
Satu hal yang saya ingin bagi sebetulnya dari cerita ini adalah bagaimana kita bisa melihat sisi lain dari seseorang yang memiliki waktu sibuk namun tetap memegang ibadahnya untuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Contohnya saja tentang bagaimana ia bisa tetap mengingatkan saya dan rekan-rekan pengajian tentang jumlah halaman Al Quran yang hendaknya jadi target bacaan.
Jika ia bisa mengingatkan kami, paling tidak saya pikir, ia pun akan melakukannya terlebih dahulu untuk dirinya sendiri. Ya tentu saja seperti yang ia juga pernah beritahu kami, jumlah halaman itu bukanlah harga mati. Namun saya yakin, melihat ia yang memiliki waktu padat dalam bekerja, ia pun akan juga memiliki waktu yang fleksibel namun tetap konsisten pada target bacaan Al Qurannya yang 20 halaman per hari.
Siapapun dari kita mungkin memiliki kepadatan jam kerja yang bisa jadi sama padatnya seperti dr Anas yang saya ceritakan tadi. Namun lihatlah, jika ia saja bisa tetap konsisten dan konsekuen dalam ibadahnya, tentunya bukan hal yang mustahil bukan bagi kita juga? Saya atau Anda, mungkin memiliki cerita yang berbeda. Tapi saya pikir, Allah memiliki makhluk seperti dr Anas bisa jadi bertujuan agar kita dapat bercermin dari sosok tersebut.
Membaca Al Quran dengan Murotal

Al Quran berikut terjemahan yang saya dan teman-teman pengajian gunakan
Bila kita biasanya membaca Al Quran secara bersama-sama, ada cara berbeda yang dilakukan oleh pengajian yang saya ikuti dengan dr Anas. Perbedaannya adalah dalam membaca Al Quran, kami semua membaca secara bersama-sama dengan kemudian diiringi oleh suara murotal dari seseorang. Misalkan suara Musyari Rasyid atau Ghomidi yang juga melafalkan ayat yang sama dengan yang kami baca. Suara murotal tersebut diperdengarkan melalui file dalam laptop milik dr Anas atau MP4 miliknya.
Jika sudah menghabiskan beberapa halaman, biasanya kami kemudian akan diminta untuk secara bergilir membaca kata per kata berikut arti kata dalam bahasa Indonesia dari ayat yang kami baca.
Memang, pengajian yang kami ikuti tersebut tidaklah fokus membahas kandungan ayat secara detail. Hanya beberapa tausyiah untuk pengingat saja yang sering diberikan dr Anas seperti halnya ketika ia kerap menuliskan dalam sms hariannya kepada kami.
Namun demikian, semangat giat untuk terus beribadah yang dikoordinatori oleh dr Anas untuk dua kali seminggu ini terasa indah bagi saya yang sebelum-sebelumnya memang jarang mengikuti sebuah majelis taklim. Saya bisa bersilaturahmi dan menambah persaudaraan dengan sesama muslim, ada pengingat yang terus membisiki saya untuk tetap istiqomah, dan seperti ada motivasi untuk terus berusaha menggiatkan ibadah dari hari ke hari.
Dan mungkin jika Anda tertarik, silakan saja coba cara ini dengan lingkungan sekitar Anda!












Komentar Terbaru