20
Jul
09

Layar Tancap tanpa Proyektor

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Tidak ada suara bising proyektor yang memutar film. Namun kebisingan mesin diesel yang bersaing dengan suara film tetaplah ada. Pun, layar terkembang yang terikat pada dua buah ruas panjang bambu tertanam di tanah tempat orang menancapkan pandangan, tetaplah ada. Sehingga acara nonton bersama yang diadakan oleh RS Muhammadiyah Lamongan di halaman SDN Kedungkumpul 02 Sarirejo, Lamongan, Sabtu malam (18/7), dengan film Laskar Pelangi yang menjadi tontonan masyarakat desa itu, masih bisa disebut sebagai layar tancap.

Zaman sudahlah moderen. Keberadaan proyektor yang biasa digunakan untuk memutar rol pita film kini telah berganti dengan laptop tempat file film dimainkan dan infocus untuk memantulkan gambar dari laptop ke layar besar.

Namun tentu saja, karena ini bukanlah tayangan film berkualitas gedung bioskop, suara bising mesin pembangkit listrik dan sound system yang terkadang tak jelas memantulkan suara, membuat siapapun yang dulunya pernah mengetahui keberadaan layar tancap, merasa jika apa yang sedang ditontonnya saat itu adalah layar tancap yang tak jauh berbeda.

Misalnya saja seorang ibu yang asyik menonton film malam itu. Meski waktu sudahlah menjelang dini hari, ia masih asyik bertahan dengan beberapa teman-temannya.

“Nostalgia ta, nonton layar tancep?” celutuk seorang pemuda yang lewat di dekat si ibu tersebut.

“Iyo,” jawabnya sambil tersenyum dikulum. Ia lalu berujar kepada saya, jika dulu pernah ketika ia hamil tujuh bulan, ia pun pernah bersama teman-temannya berjalan jauh demi melihat layar tancap.

Pihak RS Muhammadiyah sendiri memang sengaja menyertakan acara nonton bersama film Laskar Pelangi dalam rangkaian acara baksos tahun ini. Tak lain, mereka ingin menumbuhkan jiwa sadar akan pentingnya arti pendidikan pada anak-anak di tempat itu. Apalagi kebetulan, dalam film tersebut, mengisahkan tentang sebuah SD Muhammadiyah, yang tentunya nama SD tersebut pas dengan misi organisasi Muhammadiyah.

Namun sayang, misi tersebut agaknya kurang mengena. Acara nonton bersama yang diadakan usai dua buah ceramah, membuat tayangan film Laskar Pelangi baru diputar ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun acara ceramah itu sendiri banyak diminati oleh masyarakat karena kualitas ceramahnya yang cukup bagus, memasyarakat, dan disampaikan dengan tidak membosankan, namun malam yang cukup larut tak cukup membuat kebanyakan dari masyarakat bertahan untuk menuruti antusias mereka menyaksikan film Laskar Pelangi yang juga cukup mereka tunggu-tunggu.

Contohnya saja Dian, seorang gadis cilik yang kini sudah duduk di kelas 5 SDN Kedungkumpul 02 yang pada awalnya begitu antusias untuk terus bertahan menonton. Bahkan ketika teman-temannya banyak yang memilih untuk pulang karena tak kuasa lagi menahan kantuk, Dian masih bergeming di kursinya. Ketika serangan kantuk makin menjadi, Dian pun beranjak duduk mendekati ibunya. Namun masih dengan gaya duduk tegak menyaksikan film di hadapannya. Tak sampai satu jam sejak film itu diputar, tubuh Dian sudah ambruk tertidur di pangkuan sang ibu.

Dua Bulan Pesta Desa

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Jika Anda berpikir sebuah desa pastinya akan terasa hanya ramai oleh tingkah suara serangga, jangan bayangkan itu ada di Desa Kedungkumpul Lamongan pada bulan Juni dan Juli. Karena bisa jadi, malam-malam Anda setiap harinya akan penuh terdengar suara musik setiap kali Anda beranjak tidur hingga bangun di keesokan harinya.

Pasalnya di daerah tersebut memiliki tradisi untuk menyelenggarakan pesta dan membuat keramaian hingga berhari-hari lamanya. Mulai dari pernikahan, sunat, aqiqah, hingga tujuh bulanan ibu hamil tak cukup hanya berupa resepsi satu hari saja.

Selalu saja akan ada keramaian di malam hari hingga dini hari jika sebuah keluarga memiliki hajatan. Kalau tidak wayang kulit, atau bisa jadi panggung orkestra. Bahkan jika dulu, ada juga yang menayangkan layar tancap sebagai pelengkap kemeriahan pesta.

“Soalnya bulan-bulan gini ini waktunya orang kebanyakan musim panen, Mbak. Makanya kalau buat pesta, pasti kebanyakan sekitaran bukan-bulan Juni atau Juli,” ujar adik ipar saya menerangkan.

Saya sendiri yang kebetulan kali kemarin ikut ke rumah adik ipar saya tersebut hanya bisa tak habis-habisnya keheranan akan tradisi tersebut. Yah meksipun unik bagi saya, tapi memang itulah tradisi desa yang masih bertahan dan membuat mereka tetap terikat dalam tradisi kekeluargaan.

Misalnya saja acara nujuh bulan kehamilan adik ipar saya yang rencananya akan dibuat besar. Bagi keluarga kami, rasanya janggal kala mendengar hal tersebut. Namun, ternyata memang begitulah budayanya. Acara nujuh bulan tidak hanya sekedar hajatan biasa. Ya ada undangan, sound system yang dipesan, sampai pengajian akbar.

Acara yang sedianya diadakan berbarengan dengan baksos RS Muhammadiyah itupun urung. Bukan saja karena kebetulan tempatnya yang berhadap-hadapan antara rumah keluarga adik  ipar saya dengan tempat baksos yang malam harinya juga ndilalah mengadakan pengajian akbar. Akan tetapi, acara nujuh bulan itu ditunda karena banyak dari keluarga adik ipar saya yang tidak bisa membantu dan harus menjadi panitia acara baksos.

Yah, meski budaya pestanya itu yang membuat saya takjub, tapi saya tetap salut dengan sistem kekeluargaan mereka yang akan berkumpul di satu tempat jika tempat tersebut kebetulan sedang mengadakan hajatan. Sangat berbeda bukan dengan di kota yang untuk setiap hajatan kini dapat mudah dilakukan dengan memesan segala sesuatunya kepada orang lain untuk diurus?


0 Tanggapan ke “Layar Tancap tanpa Proyektor”



  1. Belum Ada Tanggapan

Tinggalkan Balasan




Kalender

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,767 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan