Arsip untuk Juli, 2009

30
Jul
09

Berasnya Diganti Sebungkus Kerupuk

Serah terima beras

Gantinya kerupuk ya...

Gantinya kerupuk ya...

Serah terima beras

PKK, mendengar kata tersebut yang ada dalam bayangan saya adalah sekumpulan ibu-ibu, berbusana hijau-hijau mulai dari atasan hingga bawahannya, berkumpul dengan acara pembuka nyanyian khas ala ibu-ibu PKK, lalu acara diisi dengan pembicaraan yang bermuatan untuk kemajuan dan perkembangan para ibu-ibu PKK.

Namun tebakan saya agak meleset kali itu! Karena yang datang kemudian memang para ibu-ibu yang kesemuanya datang dengan sebuah tas jinjing berlabel nama masing-masing dan berisi sejumlah beras. Ketika sampai di rumah yang mengadakan acara PKK, beras itupun kemudian ditukar dengan sebungkus kerupuk. Lho kok?!

Hehehe… tapi demikianlah yang memang terjadi pada acara tingkepan atau selamatan untuk ibu hamil yang diadakan ibu mertua dari adik saya untuk adik ipar saya. Satu dari sekian acara yang merupakan bagian dari syukuran tersebut adalah undangan ibu-ibu PKK yang diadakan pada siang hari.

Tapi memang acara PKK ini sangat berbeda dengan yang selama ini ada. Tidak ada ibu-ibu yang datang dengan seragam hijau-hijau khas PKK. Mereka pun punya bawaan wajib yaitu beras satu tas serta sebuah buku kecil untuk tempat catatan setoran beras.

Ukuran beras yang dibawapun ada syaratnya. Sesampainya di tempat yang mengadakan acara PKK, beras yang dibawa para ibu-ibu tersebut akan dituang dalam sebuah takaran bermuatan 4 Kg. Di bawah takaran tersebut akan dihampar selembar karung untuk menadah sisa tumpahan beras.

Beras dari dalam tas akan dituang dalam wadah hingga melebihi jumlah takaran, diratakan dengan sebuah kayu hingga ukurannya pas sesuai dengan wadah takaran tersebut, dan beras yang berada dalam takaran akan dikumpulan dalam sebuah karung.

Sementara, beras yang tidak masuk takaran akan dikembalikan ke dalam tas si pembawa. Uniknya, satu takaran beras itu akan diganti dengan sebungkus kerupuk aneka rupa dari si tuan rumah alias si pemilik hajatan.

Tidak asal menyetor beras, para ibu-ibu yang membawa beras tersebut pun akan memberikan buku kecil catatannya kepada pihak pencatat. Isi buku itu sendiri berupa halaman-halaman yang tercatat nama-nama para peserta PKK yang tentu saja adalah para ibu-ibu. Satu orang, satu halaman.

Misalnya, jika PKK kemarin berlangsung di rumah Ibu Dasim, maka si pencatat akan mencari halaman bernama tersebut di buku si pembawa beras dan mencatat jumlah setoran beras yang diberikan berikut kapan penyetorannya.

Si tuan rumah sendiri punya sebuah buku catatan berukuran besar. Isinya, adalah dua buah halaman yang bertulis nama-nama dari tetangga-tetangganya yang menyetorkan beras. Jadi jika ada yang sudah atau belum untuk datang dan menyetor beras, si pencatat pun tahu siapa orangnya.

Dicatat dulu ya bukunya...

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

"Endi seh jenenge?!" (Di mana ya namanya?)

Dicatat dulu ya bukunya…

Sementara nasib buku kecil yang dibawa pembawa beras sedang dalam urusan pencatatan, pemiliknya akan dipersilakan untuk duduk dan menikmati hidangan yang ada. Jika telah selesai, maka mereka pun dapat pulang. Hm… sebuah PKK yang unik bukan?!

Gotong Royong ala Desa

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

"Ayo... berkatane digilir..." (berkatan=sewadah makanan untuk acara syukuran)

Begitulah enaknya hidup di desa. Ketika kita memiliki hajatan, cukuplah kita memikirkan segala keperluan selain urusan beras dan para pasukan pembantu masak hingga kebersihan.  Dari acara yang dilangsungkan ibu dari adik ipar saya kemarin saja saya melihat, ada dua setengah karung setinggi 1 meter yang penuh berisi beras kiriman dari para tetangganya.

Wah wah wah… sepertinya beras tersebut tidak habis hanya untuk acara selametan saja ya?! Berminggu-minggu sesudahnya pun rasanya beras itu tidak akan habis untuk dimakan satu keluarga sendiri!

Demikian juga untuk urusan masak atau kegiatan bersih-bersih lainnya. Si pemilik hajatan cukup tinggal berdiri untuk menyapa para pengunjung yang datang saja. Sedangkan urusan masak hingga pelayanan tamu akan dibantu oleh para anggota keluarga yang lain.

Itupun ada bagian-bagiannya sendiri lho! Mulai dari urusan membuat rujak, membuat ketan, memasak nasi, memasak gulai, sampai cuci piring, semua ada bagiannya masing-masing. Nah, menyenangkan bukan melihat gotong royong seperti itu?!

Tapi ternyata, tidak semua desa di tempat saya di Lamongan memiliki budaya seperti itu. Misalnya saja sebuah desa tempat om saya berada. Bahkan untuk urusan adanya warga yang meninggal, warga di desa itu justru datang untuk meminta makan. Tidak ada satu pun yang datang untuk membawa barang ala kadarnya. Selain itu, masyarakat di desa tersebut juga tidak memiliki budaya untuk mengucapkan terima kasih dalam bentuk perkataan saja ketika mereka telah ditolong orang lain.

Karena itulah, ketika saya melihat begitu kentalnya budaya gotong royong di desa tempat adik ipar saya, saya membatin, untung… sekali adik saya mendapatkan istri dari desa tersebut. Coba kalau dari desa seperti tempat om saya. Entah apa jadinya keluarga saya dibuat kaget akan perbedaan budaya tersebut!

Pesta Selamatan Ibu Hamil

Untuk urusan pesta atau perayaan, umumnya masyarakat akan membuat acara besar-besaran pada urusan pernikahan. Atau mungkin pesta dibuat ketika ada anak yang usai disunat. Namun di desa tempat adik ipar saya, selamatan ibu hamil atau yang sering disebut dengan tingkepan pun lumayan dibuat besar perayaannya.

Mulai dari siang, si pemilik hajatan akan mengundang ibu-ibu PKK untuk hadir berikut dengan acara arisan berasnya. Sore harinya, waktu untuk para undangan yang datang sekedarnya. Sementara itu malam harinya, giliran para bapak-bapak yang datang dengan membawa uang. Belum lagi adanya acara ceramah di kala habis Isya’. Pokoknya benar-benar seperti hajatan orang menikah saja rasanya!

24
Jul
09

Rajin SMS Meski Sibuk Operasi

Akhir-akhir ini ada seorang pria yang sering mengirimi saya sms. Eit, jangan salah sangka dulu. Kali ini saya sebetulnya ingin bercerita tentang seseorang, yang rajin sms itu, yang memiliki sikap dan rasanya patut jadi bahan renungan.

Namanya dr Anas. Ia adalah seorang dokter bedah di RS Muhammadiyah tempat ibu saya bekerja. Usianya mungkin tak jauh berbeda dari Ayah saya yang kini hampir di penghujung gerbang 60 tahun.

Saya mengenal dr Anas sebetulnya jauh hari sejak saya berada dalam penanganan operasi olehnya. Namun sejak saya mengikuti pengajian yang ia koordinatori di RS Muhammadiyah, muncul kekaguman dari diri saya terhadap beliau.

Jika melihat dari profesinya, seorang dokter bedah, siapapun mungkin akan berpikir sama, “Wah, pastinya ia adalah seorang dokter yang sibuk!” Memang demikian adanya. Profesi dokter bedah hampir sama rating kesibukannya seperti dokter anak atau dokter kandungan. Setiap hari, selalu saja ada orang yang membutuhkan keberadaannya untuk tindakan operasi.

Tidak tanggung-tanggung, tindakan operasi yang bisa dikatakan tidak cukup membutuhkan waktu singat itu bisa dilakukan lebih dari dua kali dalam sehari. Belum lagi waktu prakteknya yang digunakan untuk pemeriksaan pra dan pasca operasi bagi pasiennya. Sibuk sekali bukan?!

Nah, kekaguman saya terhadap beliau muncul usai saya mengikuti pengajian pertama dengannya. Awalnya ketika ia memberitahu kepada saya dan rekan-rekan di pengajian tersebut untuk jikalau bisa menghabiskan beberapa halaman Al Quran, saya hanya mendengarnya secara lewat saja.

Namun ternyata tidaklah demikian. Hampir setiap hari, beliau akan mengirim sms di pagi hari kepada kami para peserta pengajian Senin dan Kamis itu tentang halaman-halaman apa saja yang sebaiknya dibaca. Ia memang menyarankan kepada kami semua untuk membuat target membaca empat halaman Al Quran setiap sebelum shalat Subuh, seusai shalat Dhuha, seusai shalat Dzuhur, seusai shalat Ashar, seusai shalat Maghrib, dan seusai shalat Isya’. Sehingga paling tidak dalam sehari, kami bisa melewati 1 juz Al Quran.

Tidak hanya mengirim sms untuk mengingatkan halaman-halaman apa saja yang hendaknya jadi target bacaan harian. Ia pun juga terkadang menyelipkan hal lainnya seperti tanda-tanda bacaan yang hendaknya dibaca seperti apa, ayat-ayat tertentu yang patut untuk dinikmati kala membacanya, sampai pesan-pesan untuk selalu tetap istiqomah.

Misalnya seperti yang saya dapatkan pada hari Rabu (22/7), “Padati hidup dengan penuh syukur kepada-Nya. Terhadap semua yang ada pada diri dan sekitar kita. Jangan terjebak sebagaimana kebanyakan. Sibuk mendamba yang belum ada, lupa syukuri yang di tangan. Salah satu bentuk syukur nikmat lisan adalah mengerahkannya untuk melantunkan Qur’an yang penuh hikmah. Bila pagi sepi dari membacanya, adakah untaian yang lebih indah dan mulia dari-Nya. KEEP ISTIQOMAH!!!”

Dan bagi kami para peserta pengajian, ia memiliki panggilan khusus. Maqbuler atau penggiat maqbul, demikian istilah itu ia munculkan untuk menjadi motivasi bagi kami. Intinya, sms dari dr Anas ini tidak pernah membosankan dan berunsur semangat bagi kami semua.

Hm… rasanya enak bukan?! Kita bisa seperti berlangganan layanan sms tausyiah harian! Gratis lagi! Yah, begitulah dr Anas, seorang dokter yang terkenal pantang berhitung harta yang ia miliki. Sms darinya bisa datang hingga 3 sampai 5 sms jumlahnya. Dan coba bayangkan, sms tersebut dikalikan sekitar 20 orang lebih yang nantinya akan menerima sms dari beliau!

Dokter yang satu ini pun tak pernah terdengar buruk bagi lisan mereka yang ada di sekitarnya. Konon katanya menurut Ibu saya dan teman-temannya, dr Anas adalah orang yang sangat memiliki rejeki melimpah hingga sering kebingungan hendak membagi kepada siapa. Di RS Muhammadiyah saja, terkadang ia sering menawarkan bantuan dana kepada siapapun yang membutuhkan dengan tanpa bunga dan tanpa tenggang waktu yang ia tetapkan.

Misalkan saja untuk Al Quran terjemahan yang harganya 150 ribu rupiah jika saya membelinya di Lamongan. Melihat bagusnya Al Quran tersebut yang memiliki terjemahan secara keseluruhan, per ayat, juga bagian-bagian lainnya yang membuat Al Quran ini laik untuk dimiliki dan dibaca oleh setiap umat muslim, dr Anas pun tergerak untuk membelinya sendiri ke Surabaya. Di kota tersebut, harga 120 ribu rupiah bisa ia dapatkan.

Lagi-lagi tak ada kata berhitung bagi dr Anas. Ia menawarkan Al Quran tersebut kepada kami para peserta pengajian dengan harga yang sama ia dapatkan di Surabaya. Bahkan, kami diminta untuk mencicil saja sehingga terasa ringan. Tentu saja, tanpa bunga!

Satu hal yang saya ingin bagi sebetulnya dari cerita ini adalah bagaimana kita bisa melihat sisi lain dari seseorang yang memiliki waktu sibuk namun tetap memegang ibadahnya untuk dirinya sendiri dan juga orang lain. Contohnya saja tentang bagaimana ia bisa tetap mengingatkan saya dan rekan-rekan pengajian tentang jumlah halaman Al Quran yang hendaknya jadi target bacaan.

Jika ia bisa mengingatkan kami, paling tidak saya pikir, ia pun akan melakukannya terlebih dahulu untuk dirinya sendiri. Ya tentu saja seperti yang ia juga pernah beritahu kami, jumlah halaman itu bukanlah harga mati. Namun saya yakin, melihat ia yang memiliki waktu padat dalam bekerja, ia pun akan juga memiliki waktu yang fleksibel namun tetap konsisten pada target bacaan Al Qurannya yang 20 halaman per hari.

Siapapun dari kita mungkin memiliki kepadatan jam kerja yang bisa jadi sama padatnya seperti dr Anas yang saya ceritakan tadi. Namun lihatlah, jika ia saja bisa tetap konsisten dan konsekuen dalam ibadahnya, tentunya bukan hal yang mustahil bukan bagi kita juga? Saya atau Anda, mungkin memiliki cerita yang berbeda. Tapi saya pikir, Allah memiliki makhluk seperti dr Anas bisa jadi bertujuan agar kita dapat bercermin dari sosok tersebut.

Membaca Al Quran dengan Murotal

Al Quran berikut terjemahan yang saya dan teman-teman pengajian gunakan

Al Quran berikut terjemahan yang saya dan teman-teman pengajian gunakan

Bila kita biasanya membaca Al Quran secara bersama-sama, ada cara berbeda yang dilakukan oleh pengajian yang saya ikuti dengan dr Anas. Perbedaannya adalah dalam membaca Al Quran, kami semua membaca secara bersama-sama dengan kemudian diiringi oleh suara murotal dari seseorang. Misalkan suara Musyari Rasyid atau Ghomidi yang juga melafalkan ayat yang sama dengan yang kami baca. Suara murotal tersebut diperdengarkan melalui file dalam laptop milik dr Anas atau MP4 miliknya.

Jika sudah menghabiskan beberapa halaman, biasanya kami kemudian akan diminta untuk secara bergilir membaca kata per kata berikut arti kata dalam bahasa Indonesia dari ayat yang kami baca.

Memang, pengajian yang kami ikuti tersebut tidaklah fokus membahas kandungan ayat secara detail. Hanya beberapa tausyiah untuk pengingat saja yang sering diberikan dr Anas seperti halnya ketika ia kerap menuliskan dalam sms hariannya kepada kami.

Namun demikian, semangat giat untuk terus beribadah yang dikoordinatori oleh dr Anas untuk dua kali seminggu ini terasa indah bagi saya yang sebelum-sebelumnya memang jarang mengikuti sebuah majelis taklim. Saya bisa bersilaturahmi dan menambah persaudaraan dengan sesama muslim, ada pengingat yang terus membisiki saya untuk tetap istiqomah, dan seperti ada motivasi untuk terus berusaha menggiatkan ibadah dari hari ke hari.

Dan mungkin jika Anda tertarik, silakan saja coba cara ini dengan lingkungan sekitar Anda! :)

24
Jul
09

Keajaiban Numerologi Surat Ar Rahman

Keajaiban Numerologi Surat Ar Rahman

Mengulik Surat Ar Rahman Melalui Surat Luqman dan Yunus

Surat Ar Rahman

Surat Ar Rahman

Sejak saya mengenal Surat Ar Rahman, saya sering penasaran dengan surat tersebut yang berulang-ulang menyebutkan ayat yang berarti, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Hingga ketika sekitar bulan Februari 2009 lalu, suatu ketika, saya mencoba mencari tahu tentang ayat tersebut. Catatan ini sendiri baru terkulik semalam dari buku catatan kecil milik saya. Subhanallah, setelah saya coba mengetikkannya semalam, ada hal lain yang saya temukan dan akhirnya saya bagi kepada teman-teman.

Setelah saya hitung-hitung, ayat tersebut ternyata bisa berulang kali terbaca hingga 31 kali banyaknya. Anda bisa mendapatkannya di ayat ke-13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77.

Melihat angka dalam ayat tersebut, entah kenapa saya tiba-tiba teringat buku Numerologi Al Quran. Dalam buku tersebut intinya, kita memang diajak untuk menguak kecantikan Al Quran dari sisi numerologinya.

Akhirnya dalam surat Ar Rahman, saya pun mencoba mengulik makna angka yang ada. Angka 31 yang menyatakan jumlah ayat dari surat tersebut pun saya coba telusuri dengan melihat Surat 31 dari Al Quran. Ketemulah Surat Luqman. Saat melirik ke ayat ke 31 dari surat tersebut, subhanallah… inilah yang saya temukan!

“Tidaklah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.”

Bismillah… Ketika saya coba tangkap maksud dari hubungan dua ayat tersebut, sebetulnya ada yang ingin Allah tunjukkan kepada kita. Bahwa bagaimana kapal bisa berlayar di laut sesungguhnya adalah satu dari tanda kebesaran Allah dengan bentuknya yaitu berupa nikmat.

Dari sana, Allah ingin menunjukkan kepada kita, makhluk-Nya, tentang nikmat dari-Nya. Coba saja, kita yang tidak punya perangkat dalam tubuh kita untuk bisa berjalan di atas air, ternyata kemudian mampu melakukannya dengan perantara alat yaitu sebuah kapal yang mengapung di atas air.

Jika dikaitkan ke Surat Ar Rahman, jadi, nikmat Tuhan mana yang akan kita dustakan? Tanda-tanda kebesaran Allah yang ada, hanyalah bisa kita lihat, tidak kita dustai, kita anggap sebagai nikmat, jika kita termasuk dalam golongan yang sabar dan banyak bersyukur.

Yang saya tangkap, jika kita semua bisa mampu bersabar dan mudah bersyukur akan apa yang Allah berikan, insya Allah, akan kita tangkap kebesaran Allah dan menjadi rasa nikmat yang kita rasakan. Terkadang, apa yang Allah berikan saat mungkin berupa kenikmatan, ujian, atau cobaan yang sedang kita terima, bisa menjadi sebentuk kekaguman kita, kenikmatan tiada tara bagi kita, jika kita bisa melihatnya sebagai bentuk kebesaran Allah.

Eit, masih ada lagi nih… Surat Ar Rahman di dalam Al Quran adalah surat ke-55. Jika dijumlahkan, 5 ditambah 5, kita bisa menemukan angka 10. Dan, cobalah buka surat ke-10 dalam Al Quran yaitu Surat Yunus, lalu bukalah ayat ke-10. Subhanallah… ketakjuban lain saya temukan dalam surat tersebut!

“Doa mereka di dalamnya ialah,”Subhanakallahumma” (Maha Suci Engkau, ya Tuhan Kami), dan salam penghormatan mereka ialah, “Salam (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, “Al-hamdu lillahi Rabbil ‘alamin,” (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam).

Mungkin jika Anda hanya langsung membaca ayat ini saja, Anda bisa jadi bingung dengan kata-kata awal, “Doa mereka.” Siapakah yang dimaksud “mereka” itu? Silakan baca ayat sebelumnya dari ayat tersebut yang berbunyi seperti ini…

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, niscaya diberi petunjuk oleh Tuhan karena keimanannya. Mereka di dalam surga yang penuh kenikmatan, mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Lagi-lagi, kita menemukan kata “nikmat” di dalamnya. Nikmat ini bisa dirasakan oleh mereka yang berada di dalam surga dengan sungai-sungai yang mengalir di dalamnya. Terlepas keberadaan surga atau neraka di dunia nanti yang akan kita jalani, dunia tempat kita hidup sekarang ini pun bisa berupa surga dan neraka.

Surga bisa kita sebut jika kita dapat hidup dekat dengan sungai. Sejak masa purbakala saja, manusia kerap terbukti membuat sebuah komunitas kehidupan yang berada di sepanjang sungai. In tak lain karena sungai merupakan bagian dari sumber kehidupan. Air yang tawar dan aneka makhluk air yang ada di dalamnya, bisa menjadi sumber kehidupan untuk manusia.

Kata surga pun sering diidentikkan dengan kenikmatan. Analoginya, nikmat bukan jika kita bisa hidup di tepi sungai, hidup di dekat alam yang bisa kita tuai segalanya untuk kelangsungan hidup kita?

Dalam ayat ke-9 Surat Yunus, mereka yang bisa merasakan kenikmatan surga itu adalah orang-orang yang beriman, yang melakukan kebajikan, sehingga diberi petunjuk oleh Tuhan. Tidak ada kenikmatan memang dalam hidup ini, jikalau kita berada dalam sesuatu dan bisa mendapatkan petunjuk dari Allah.

Dan dalam surat tersebut kita bisa memetik janji Allah, jika kita beriman dan melakukan kebajikan, niscaya Allah akan memberikan petunjuk untuk kita. Cobalah saja kita renungkan, apa sih yang kita miliki sekarang ini? Meskipun harta melimpah, memiliki anak yang pintar, cantik, atau bagus rupanya, pekerjaan yang terhormat, telahkah kita merasakan bahagia? Atau justru ada yang terasa kosong pada diri kita?

Sungguh berbeda jika kita mendapatkan petunjuk dari Allah. Apapun kondisi kita yang mungkin terlihat tidak ‘wah’ di mata masyarakat umum, namun kita bahagia, insya Allah, sepertinya kita sudah mendapatkan petunjuk dari Allah. Dan tentu saja, itu nikmat bukan?

Ah, baru sedikit itu saja saya berhasil mengulik Surat Ar Rahman, sebuah surat yang berkali-kali bertanya kepada kita, nikmat Tuhan yang mana sih yang mau kita dustakan? Seperti arti Ar Rahman itu sendiri yang berarti ‘Yang Maha Pemurah’, sungguh, Allah Tuhan kita itu adalah Tuhan yang memang Maha Pemurah, yang gemar memberi nikmat untuk makhluknya. Saking murahnya, sebetulnya begitu banyak nikmat yang bisa kita rasakan.

Tentunya berkali-kali ayat “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” itu bisa ada dalam Al Quran, dalam Surat Ar Rahman, karena memang demikianlah keadaan kita manusia dari zaman dulu hingga sekarang yang kerap mendustakan kenikmatan dari Tuhan. Surat Ar Rahman ini membuat kita sadar, mengingatkan kita, ayo, kita cari nikmat apa yang sebetulnya sudah kita miliki, yang bisa kita lihat atau rasakan, yang memang sudah diberikan Tuhan untuk kita!

Yah, semoga ini memang petunjuk yang diberikan Allah melalui saya. Jikalau salah, itulah kesalahan yang datang dari saya sendiri. Meski demikian lepas dari itu semua, sebetulnya ada sih beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan kepada teman-teman sekalian. Telahkah teman-teman pernah mengetahui apa yang telah saya tulis di atas tadi? Jika ya, bisakah kita sama-sama menolong untuk mendapatkan bahasan lebih lengkap tentang Surat Ar Rahman terutama jika mengulik melalui numerologinya?

Harapan saya, semoga teman-teman yang memiliki hal menakjubkan lain tentang Al Quran, bisa saling berbagi kepada saya ataupun yang lain. Kan asyik tuh kalau dibagi sehingga kita bisa sama-sama menikmati indahnya Al Quran.

Ehem, maksud saya, jika selama ini mungkin kita hanya sering berbagi cerita berhikmah dari negeri antah berantah saja, kenapa kita tidak membagi hal-hal seperti ini yang membuat kita jadi makin yakin akan Al Quran yang bukanlah sebuah kitab biasa? Bukankah hal seperti ini bisa bermanfaat juga kan kepada kita dan makin membuat kita yakin bahwa Islam memang pilihan keyakinan kita yang tepat?

20
Jul
09

Layar Tancap tanpa Proyektor

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Layar Tancap di Sari Rejo yang sedang menayangkan film Laskar Pelangi

Tidak ada suara bising proyektor yang memutar film. Namun kebisingan mesin diesel yang bersaing dengan suara film tetaplah ada. Pun, layar terkembang yang terikat pada dua buah ruas panjang bambu tertanam di tanah tempat orang menancapkan pandangan, tetaplah ada. Sehingga acara nonton bersama yang diadakan oleh RS Muhammadiyah Lamongan di halaman SDN Kedungkumpul 02 Sarirejo, Lamongan, Sabtu malam (18/7), dengan film Laskar Pelangi yang menjadi tontonan masyarakat desa itu, masih bisa disebut sebagai layar tancap.

Zaman sudahlah moderen. Keberadaan proyektor yang biasa digunakan untuk memutar rol pita film kini telah berganti dengan laptop tempat file film dimainkan dan infocus untuk memantulkan gambar dari laptop ke layar besar.

Namun tentu saja, karena ini bukanlah tayangan film berkualitas gedung bioskop, suara bising mesin pembangkit listrik dan sound system yang terkadang tak jelas memantulkan suara, membuat siapapun yang dulunya pernah mengetahui keberadaan layar tancap, merasa jika apa yang sedang ditontonnya saat itu adalah layar tancap yang tak jauh berbeda.

Misalnya saja seorang ibu yang asyik menonton film malam itu. Meski waktu sudahlah menjelang dini hari, ia masih asyik bertahan dengan beberapa teman-temannya.

“Nostalgia ta, nonton layar tancep?” celutuk seorang pemuda yang lewat di dekat si ibu tersebut.

“Iyo,” jawabnya sambil tersenyum dikulum. Ia lalu berujar kepada saya, jika dulu pernah ketika ia hamil tujuh bulan, ia pun pernah bersama teman-temannya berjalan jauh demi melihat layar tancap.

Pihak RS Muhammadiyah sendiri memang sengaja menyertakan acara nonton bersama film Laskar Pelangi dalam rangkaian acara baksos tahun ini. Tak lain, mereka ingin menumbuhkan jiwa sadar akan pentingnya arti pendidikan pada anak-anak di tempat itu. Apalagi kebetulan, dalam film tersebut, mengisahkan tentang sebuah SD Muhammadiyah, yang tentunya nama SD tersebut pas dengan misi organisasi Muhammadiyah.

Namun sayang, misi tersebut agaknya kurang mengena. Acara nonton bersama yang diadakan usai dua buah ceramah, membuat tayangan film Laskar Pelangi baru diputar ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Meskipun acara ceramah itu sendiri banyak diminati oleh masyarakat karena kualitas ceramahnya yang cukup bagus, memasyarakat, dan disampaikan dengan tidak membosankan, namun malam yang cukup larut tak cukup membuat kebanyakan dari masyarakat bertahan untuk menuruti antusias mereka menyaksikan film Laskar Pelangi yang juga cukup mereka tunggu-tunggu.

Contohnya saja Dian, seorang gadis cilik yang kini sudah duduk di kelas 5 SDN Kedungkumpul 02 yang pada awalnya begitu antusias untuk terus bertahan menonton. Bahkan ketika teman-temannya banyak yang memilih untuk pulang karena tak kuasa lagi menahan kantuk, Dian masih bergeming di kursinya. Ketika serangan kantuk makin menjadi, Dian pun beranjak duduk mendekati ibunya. Namun masih dengan gaya duduk tegak menyaksikan film di hadapannya. Tak sampai satu jam sejak film itu diputar, tubuh Dian sudah ambruk tertidur di pangkuan sang ibu.

Dua Bulan Pesta Desa

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Acara Baksos RS Muhammadiyah Lamongan yang diadakan di Desa Kedungkumpul

Jika Anda berpikir sebuah desa pastinya akan terasa hanya ramai oleh tingkah suara serangga, jangan bayangkan itu ada di Desa Kedungkumpul Lamongan pada bulan Juni dan Juli. Karena bisa jadi, malam-malam Anda setiap harinya akan penuh terdengar suara musik setiap kali Anda beranjak tidur hingga bangun di keesokan harinya.

Pasalnya di daerah tersebut memiliki tradisi untuk menyelenggarakan pesta dan membuat keramaian hingga berhari-hari lamanya. Mulai dari pernikahan, sunat, aqiqah, hingga tujuh bulanan ibu hamil tak cukup hanya berupa resepsi satu hari saja.

Selalu saja akan ada keramaian di malam hari hingga dini hari jika sebuah keluarga memiliki hajatan. Kalau tidak wayang kulit, atau bisa jadi panggung orkestra. Bahkan jika dulu, ada juga yang menayangkan layar tancap sebagai pelengkap kemeriahan pesta.

“Soalnya bulan-bulan gini ini waktunya orang kebanyakan musim panen, Mbak. Makanya kalau buat pesta, pasti kebanyakan sekitaran bukan-bulan Juni atau Juli,” ujar adik ipar saya menerangkan.

Saya sendiri yang kebetulan kali kemarin ikut ke rumah adik ipar saya tersebut hanya bisa tak habis-habisnya keheranan akan tradisi tersebut. Yah meksipun unik bagi saya, tapi memang itulah tradisi desa yang masih bertahan dan membuat mereka tetap terikat dalam tradisi kekeluargaan.

Misalnya saja acara nujuh bulan kehamilan adik ipar saya yang rencananya akan dibuat besar. Bagi keluarga kami, rasanya janggal kala mendengar hal tersebut. Namun, ternyata memang begitulah budayanya. Acara nujuh bulan tidak hanya sekedar hajatan biasa. Ya ada undangan, sound system yang dipesan, sampai pengajian akbar.

Acara yang sedianya diadakan berbarengan dengan baksos RS Muhammadiyah itupun urung. Bukan saja karena kebetulan tempatnya yang berhadap-hadapan antara rumah keluarga adik  ipar saya dengan tempat baksos yang malam harinya juga ndilalah mengadakan pengajian akbar. Akan tetapi, acara nujuh bulan itu ditunda karena banyak dari keluarga adik ipar saya yang tidak bisa membantu dan harus menjadi panitia acara baksos.

Yah, meski budaya pestanya itu yang membuat saya takjub, tapi saya tetap salut dengan sistem kekeluargaan mereka yang akan berkumpul di satu tempat jika tempat tersebut kebetulan sedang mengadakan hajatan. Sangat berbeda bukan dengan di kota yang untuk setiap hajatan kini dapat mudah dilakukan dengan memesan segala sesuatunya kepada orang lain untuk diurus?

01
Jul
09

Pada Sebuah Kursi Kayu Panjang dan Sepeda Tua

Foto-foto ini saya ambil dengan latar sebuah kursi kayu panjang yang ada di depan rumah Mbah saya di Temenggungan, Lamongan, Jatim. Sayang, karena nggak ada software buat ngedit yang jadi ciamik, jadinya mengandalkan pengambilan sudut pandang dan pengarahan gaya saja andalannya…

Pose Om dan Bulek saya dalam nostalgia masa dulu. Hehehe... aslinya sih habis pusing mikirin uang yang mudah menguap untuk biaya sekolah anaknya! Hehehe..

Pose Om dan Bulek saya dalam nostalgia masa dulu. Hehehe... aslinya sih habis pusing mikirin uang yang mudah menguap untuk biaya sekolah anaknya! Hehehe..

Mbah Kakung dengan radio dan sepeda tuanya

Mbah Kakung dengan radio dan sepeda tuanya

Sepeda yang biasa disebut dengan sepeda jengki ini digunakan untuk menjajakan sebuah tangga oleh seorang pedagang keliling. Foto ini diambil ketika saya sedang asyik memfoto mbah saya dan kemudian lewatlah seorang penjaja tangga dari kayu yang lewat di dekat kami.

Sepeda yang biasa disebut dengan sepeda jengki ini digunakan untuk menjajakan sebuah tangga oleh seorang pedagang keliling. Foto ini diambil ketika saya sedang asyik memfoto mbah saya dan kemudian lewatlah seorang penjaja tangga dari kayu yang lewat di dekat kami.

Ika Maya Susanti dengan pose di balik sepeda jengki. Hehehe... bukan ika namanya kalau nggak bisa buat foto nartistik = narsis tapi harus artistik!

Ika Maya Susanti dengan pose di balik sepeda jengki. Hehehe... bukan ika namanya kalau nggak bisa buat foto nartistik = narsis tapi harus artistik!




Kalender

Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 380,032 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan