Akhir-akhir ini saya agak sedikit kecewa dengan pembaca blog saya. Pasalnya, tidak sedikit dari pembaca blog saya yang memberi komentar dan tersirat bahwa ia tidak paham dengan apa yang saya tulis.
Dulu, saya memang pernah menjadi seorang jurnalis yang banyak mendapatkan berita-berita tentang bidang yang berbeda-beda. Mulai dari urusan kesehatan, kecantikan, sampai ke urusan dunia usaha. Akhirnya, tulisan yang naik ke media tempat saya bekerja dulu, saya masukkan juga ke blog milik saya. Saya pikir, semoga apa yang saya lakukan itu bisa lebih membantu orang lain untuk mengetahui berbagai informasi.
Dari sekian oleh-oleh saya yang saya buat dalam bentuk berita dan lalu saya masukkan ke dalam blog, ada beberapa tulisan yang saya amati, akhir-akhir ini kerap dibaca oleh banyak orang. Tulisan-tulisan tersebut antara lain hasil wawancara dengan Mbak Silvia Hilda pemilik Shilloute Agency seputar Event Organizer atau EO, tulisan tentang kanker kulit, dan beberapa tulisan seputar dunia anak remaja seperti tentang CLBK atau Buaya Darat.
Awal-awalnya sih senang banget, ternyata mulai banyak orang yang gemar mencari informasi dari internet dan kemudian mampir ke blog saya. Tapi jujur, akhir-akhir ini saya agak kesal dengan sikap mereka yang kurang tanggap dengan apa yang mereka baca.
Misalnya tulisan saya tentang EO. Sudah jelas-jelas di situ saya menulisnya dalam bentuk berita, berikut ada kutipan yang itu berarti ada orang lain yang bicara dan saya tulis ucapannya, dan ada juga saya tulis siapa yang bicara. Eh… ujung-ujungnya saya malah jadi sering ditinggali komentar oleh para pembaca blog saya dengan tulisan seperti nih, “Mbak, saya boleh nggak sharing tentang EO. Saya sedang belajar nih Mbak. Boleh bagi ilmunya?”
Sekali dua kali, saya jawab bahwa itu hanya tulisan saya dalam bentuk berita, bukan saya yang punya EO. Tapi ternyata tulisan komentar balik saya tidak dicermati oleh pembaca-pembaca yang lain. Akibatnya, tidak berhenti juga orang-orang yang terus bertanya dan minta saya untuk berbagi ilmu tentang EO.
Begitu juga tulisan saya tentang kanker kulit. Ujung-ujungnya, saya jadi sering ditanya atau jadi bahan konsultasi tentang penyakit orang-orang yang kebetulan membaca tulisan saya di blog. Walah-walah…
Dan yang paling membuat saya kesal itu kalau anak-anak remaja yang membaca artikel saya seputar dunia remaja. Ada yang kemudian mengungkapkan kekecewaan atas pengalamannya yang juga satu tema dengan artikel saya (misalnya di tulisan saya tentang Buaya Darat), bahkan yang sampai-sampai mengumpat tidak jelas. Untung blog saya itu saya buat dengan kendali komentar yang harus saya seleksi terlebih dulu. Kalau tidak, entah apa jadinya blog saya tersebut!
Bahasa Komunikasi Dunia Maya yang Kurang Dipahami
Meski orang yang gagap teknologi makin sedikit, makin banyak orang yang mulai bersentuhan dengan dunia maya, namun ada satu hal yang saya amati justru menunjukkan masih rendahnya kualitas masyarakat Indonesia dalam hal berkomunikasi Apalagi kalau bukan masalah penguasaan bahasa komunikasi dunia maya. Saya akui, saat ini memang cukup lumayan orang yang melirik dunia blog untuk menjadi bagian dari gaya hidupnya. Namun sayangnya, masih banyak juga orang yang tidak menyadari apa itu blog!
Blog sebetulnya memang sebuah media internet yang bisa dimiliki oleh pribadi. Kebanyakan, blog, pun kemudian dijadikan sebagai ajang penuangan opini atau pendapat dari si pemilik blog tentang apa yang ada di sekitarnya.
Seperti halnya saya yang menggunakan blog untuk media opini, blog milik saya itu memang sesekali saya gunakan untuk menulis pendapat atau hasil pengamatan saya tentang suatu masalah. Namun terkadang, blog itupun saya gunakan juga untuk menulis sebuah artikel yang tentu saja, bukan lagi ada dalam tataran opini atau pendapat semata.
Nah sayangnya, banyak masyarakat yang masih kurang memahami tentang mana itu yang opini, artikel, atau berita. Kesannya seperti kurang menguasai sekali ya apa itu pelajaran Bahasa Indonesia? Padahal kalau dilogika, mereka yang bersentuhan dengan blog, paling tidak kan adalah orang-orang yang sedang atau telah lulus pendidikan SMA dan seharusnya mengerti jika yang ia baca itu apakah sebuah berita, artikel, atau opini bukan?!
Seperti kasus yang saya alami. Sudah jelas-jelas di dalam tulisan saya itu ada kutipan pembicaraan dari orang lain, ada nama narasumbernya, tidak menggunakan bahasa aku atau saya di dalamnya, kok masih dikira pengalaman pribadi?
Menjabarkan Fakta Malah Dituduh Fitnah
Ketika merangkai runut apa yang saya alami dengan apa yang dialami oleh Mbak Prita Mulyasari, saya jadi makin sadar kalau ternyata banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham tentang bahasa komunikasi tulis. Apalagi dalam dunia maya.
Ambil contoh tentang apa yang dialami Mbak Prita. Sebetulnya kasusnya Mbak Prita ini kan tentang tulisannya dalam sebuah email yang kemudian menyebar di mailling list alias millis. Eh… banyak media misalkan di televisi malah mengungkapkan kalau Mbak Prita itu blogger! Padahal, blog dan millis itu kan beda banget!!!
Blog bisa dikatakan sebagai situs pribadi, sedangkan millis adalah sebuah komunitas di dunia maya yang keanggotaannya bisa diikuti dengan keikutsertaan email kita bergabung dengan komunitas-komunitas tertentu.
Belum lagi tentang isi emailnya yang menurut RS OMNI Internasional, Mbak Prita telah mencemarkan nama baik RS tersebut. Kalau saya jadi RS OMNI, jelas-jelas saya malu dan tidak berani menuntut Mbak Prita. Lha orang jelas-jelas ditulis di email itu runutan kejadiannya berikut rincian apa yang dialami oleh Mbak Prita berikut apa yang sudah dilakukan oleh pihak RS. Kalau dibilang menyebar sesuatu yang tidak sesuai fakta, di email Mbak Prita, justru sebaliknya. Fakta-faktanya ada tertulis dengan jelas dan lengkap!
Mbak Prita malah dengan baik hati, mau lho menyembunyikan nama-nama dokter yang salah menanganinya dan menulis inisialnya saja. Ia malah paham bagaimana laiknya kode etik seorang jurnalis ketika menulis tersangka dengan cara menulis inisialnya saja. Kalau dia memang mau berbuat jahat, kenapa nggak sekalian nama-nama dokternya ditulis dengan jelas sekalian kan?!
Jadi saya pikir, apa yang dilakukan oleh RS OMNI ini jadi satu dari sekian bukti bahwa ternyata kemampuan penguasaan bahasa komunikasi dalam dunia maya bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang mulai melek teknologi itu, masih minim!
Ck ck ck… terbukti banget kan kalau pelajaran Bahasa Indonesia yang ada di sekolah itu kebanyakan gagal. Padahal, pelajaran tersebut tidak hanya mengajar orang yang belajar untuk sekedar bisa berbahasa Indonesia, tapi juga belajar tentang logika bahasa berikut penggunaannya dalam komunikasi.
Ayo Jadi Masyarakat Dunia Maya yang Cerdas!
Wah, kalau tulisan ini diteruskan, bisa jadi curhat karena saya teringat pengalaman saya waktu mengajar para mahasiswa yang kacau masalah logika bahasanya nih! Intinya tolong deh, jika Anda mulai ramah bersentuhan dengan dunia maya, cobalah juga untuk paham apa yang Anda baca dan apa yang lalu akan Anda lakukan.
Contoh kasusnya jika Anda sedang membuka sebuah situs. Cermati dulu dong, apakah itu memang situs ataukah blog milik pribadi. Jadi jika Anda kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya, Anda bisa paham dan mengerti apakah itu memang fakta ataukah opini semata dari si pemilik blog.
Ini terutama mungkin terjadi pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Niatnya mau mencari bahan untuk tugas kuliah, masuk ke blog, yang ada justru mengambil opini si pemilik blog yang belum tentu jelas faktanya.
Padahal cirinya mudah saja kok untuk mengetahui apakah itu berita dan artikel yang akurat faktanya, ataukah opini semata. Kita tinggal melihat apakah dari tulisan yang Anda baca itu banyak memuat kata-kata saya, aku, menurutku, opini saya, atau kalimat dan kata-kata lain yang menjurus bahwa itu hanyalah pikiran si penulis blog semata.
Begitu juga kalau Anda menerima email yang berisi sesuatu apalagi yang meminta Anda untuk menyebarkannya ke orang lain. Biasanya sih dengan embel-embel untuk kebaikan orang lain atau imbuhan “Jika Anda tidak menyebarkannya ke orang lain, maka…”
Pernah atau sering bukan menerima emal-email seperti itu? Nah, hati-hati dan jangan asal menyebarkannya ke orang lain. Karena jika Anda menyebarkan hal yang tidak akurat kebenarannya meski Anda hanya meneruskan ke orang lain dan tidak membuatnya sendiri, Anda juga ikut bertanggung jawab lho dengan isi email tersebut!
Ambil kasus misalkan pada seorang pria yang beberapa waktu lalu menyebarkan email tentang nama-nama bank yang akan bangkrut. Si pria ini awalnya mendapatkan email dari Singapura tentang nama-nama bank di Indonesia yang kurang sehat. Niatnya untuk menyelamatkan teman-temannya, eh… ia justru dituduh sebagai penyebar informasi yang tidak benar.
Belum lagi tipe-tipe ‘orang baik’ yang suka menambahkan sesuatu atau menghilangkan sesuatu yang dari email yang ia terima dan meneruskannya ke orang lain. Misalkan jika Anda menerima informasi yang Anda kira bagus, Anda pun kemudian menambahkan, “Sebarkan email ini jika Anda peduli orang lain,” atau menghilangkan nama si penulis asli atau unsur-unsur lain yang Anda kira tidak penting padahal itu penting. Nah, jika yang terakhir itu ingin Anda lakukan, coba berpikir yang cerdas dulu deh yah.
Komentar Terbaru