Arsip untuk Juni, 2009



26
Jun
09

Sambal Mangga yang Nagihin!

sambal mangga

sambal mangga

“Mbah… minta mangganya! Mau bikin sambal mangga…” seorang wanita muda yang sedang hamil tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri mbah saya yang sedang menunggui pekerjaan dua orang pria yang sedang menebas pohon mangganya.

Sambal mangga? Wah… entah kenapa saya baru ingat sambal favorit saya tersebut. Dulu ketika saya kos di Citra Batam, pembantu iu kos saya memang gemar sekali membuat sambal mangga. Dan sambal itu juga yang membuat saya awalnya hanya terbilang biasa untuk menikmati sambal, tiba-tiba jadi hobi sekali yang namanya makan pedas.

Akhirnya sampai di rumah, keinginan saya untuk membuat sambal itupun tidak tertahankan lagi. Lagi-lagi saya menyesal, kenapa juga ya saya baru ingat sambal mangga sekarang dan tidak kemarin-kemarin? Padahal, sudah ada sekitar dua hingga tingga minggu ini rumah saya selalu dibajiri oleh mangga hasil petikan dari pohon mangga yang ada di depan rumah mbah saya.

Mangga milik mbah saya itu tergolong jenis Mangga Bapang. Fisik buahnya sih memang terlihat menggemaskan, berwujud mengkal dan ranum. Namun sayangnya jika dicicipi, rasanya manis dan cenderung masam dengan air buahnya yang begitu banyak.

Berhubung adik ipar saya sedang hamil muda, maka mangga yang ranum namun cenderung masam ini jadi idola para keluarga di rumah mbah saya untuk dikirim atau diberikan ke rumah saya melulu. Tentu saja, adik ipar saya girang bukan kepalang! Hehehe…

Nah, kembali ke pembicaraan sambal mangga, jenis mangga dengan rasa seperti itulah yang saya pikir sepertinya cocok untuk dibuat sambal. Sebetulnya sih sambal mangga itu paling cocok jika menggunakan mangga yang sedang muda cenderung tua. Namun karena mangga di tempat mbah saya kebanyakan sudah matang pohon, akhirnya mangga tua itulah yang saya gunakan sebagai sambal.

Mau tahu cara membuat sambal mangga ala saya? Hehe… ini dia rumusnya!

3 buah cabai besar

5 sampai 9 buah cabai kecil

10 biji kacang tanah

½ butir bawang putih

1 buah tomat ukuran kecil

garam secukupnya

gula pasir secukupnya

daging buah mangga secukupnya (sekitar ¼ – 1/8 buah saja)

Bahan-bahannya sih biasa saja kan? Sebetulnya sama kok seperti membuat sambal. Kalau Anda sangat menyukai pedas, konon katanya sih gunakan cabai dengan ukuran ganjil. Itu mitos membuat masakan dengan cabai ala orang Jawa katanya!

Resep membuat sambal ini aslinya tidak menggunakan kacang tanah. Saya sendiri yang memodifikasi dengan menambahkan kacang tanah sebagai campurannya. Kacang tanah yang sudah digoreng sebelum diulek ini akan menambah citarasa gurih dan sedikit manis pada sambal nantinya.

Sebelum menghaluskan semua bahan, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang putih, dan  kacang tanah digoreng terlebih dahulu dengan sedikit minyak goreng. Lalu sebelum Anda memasukkan irisan buah mangga, haluskan semua bahan.

Jangan lupa, sertakan gula dan garam. Meski Anda memasukkan gula pasir dalam jumlah yang agak banyak (misal tiga sendok kecil) jangan khawatir akan terasa manis. Karena perpaduan gula dan garam itulah yang akan membuat sambal jadi terasa gurih. Gula pasir sendiri konon jika ditambahkan pada sambal, malah akan membuat pedasnya sambal makin terasa. Namun jika Anda memang ingin sambal Anda terasa menggigit, tambahkan saja jumlah cabai makin banyak. Jumlah cabai inilah yang lebih menentukan makin pedas tidaknya sambal.

Setelah bahan-bahan tersebut halus, masukkan daging buah mangga. Jika bisa, pilihlah mangga yang hampir matang karena rasa masamnya itulah yang membuat sambal jadi terasa nikmat. Saya sendiri menggunakan mangga Bapang karena buahnya yang memang masam dari sananya!

Sambal mangga ala formula saya ini rasanya jadi gurih, pedas, manis, dan asam. Klop deh rasanya! Gurihnya didapat dari campuran gula dan garam serta kacang tanah, pedasnya tentu saja dari cabai, manis dan asamnya dari buah mangga. Tentu saja, kalau rasa-rasa itu berkumpul jadi satu dalam sambal, dijamin, pedas sambal alias kapok tapi maunya terus-terus akan membuat Anda ketagihan sambal mangga ini! Selamat mencoba…

26
Jun
09

Demam Budaya Malaysia di Indonesia

“Dia… Isabella… lambang cinta…” (mohon maaf, saya tidak bisa meneruskan syair lagu ini karena saya lupa apa kelanjutan kata-katanya!) Hehehe…

Ada orang bilang, jangan terlalu benci sama sesuatu. Soalnya, yang dibenci itu justru nanti bisa dicinta. Sepertinya ungkapan itu ada benarnya juga buat budaya Malaysia yang akhir-akhir ini serasa jadi tren di Indonesia.

Misalnya nih mulai beberapa tahun terakhir ini, para musisi Indonesia sedang demam banget lagu beraliran mello ala Malaysia. Entahlah, apa mungkin itu mereka lakukan demi menarik pangsa pasar masyarakat Malaysia yang konon memang tergila-gila dengan hasil produksi musik Indonesia.

Padahal sekitar beberapa tahun yang lalu, para dedengkot musisi Malaysia sempat mengklaim untuk antimusik asal Indonesia. Bagaimana tidak, musisi Malaysia sendiri memang kurang jadi tuan rumah di negaranya sendiri.

Contoh saja deh ketika saya melihat tayangan musik di televisi atau ketika mendengar musik asal stasiun radio Malaysia saat saya di Batam waktu itu. Proporsi musik asal musisi Malaysia dengan musisi Indonesia bisa sekitar satu berbanding tiga sampai lima lagu. Artinya, jika stasiun radio Malaysia misalnya menyetel sebuah lagu yang dinyanyikan oleh musisi Malaysia, pasti sebelum atau sesudahnya adalah lagu asal musisi Indonesia yang jumlah bisa tiga sampai lima lagu. Kasihan sekali kan?

Maka itu mereka akhirnya melancarkan aksi memboikot lagu dan musisi asal Indonesia. Yah, namanya usaha membenci tapi pasar berkata beda, tetap saja lagu Indonesia dipuja di sana. Bahkan, hal itu makin menjadi ketika musisi Indonesia mencoba mendekati faktor tentang apa yang disuka oleh pangsa pasar musik di Malaysia.

Nah, akhir-akhir ini sepertinya aksi itu berbalik dan terjadi di Indonesia. Sejak sering terungkap kasus penyiksaan terhadap para TKI di Malaysia, sampai kasus si Manohara yang katanya di siksa oleh suaminya yang berasal dari Malaysia, belum lagi ditambah kasus memanasnya wilayah Ambalat di perbatasan Indonesia-Malaysia, kata-kata ‘Ganyang Malaysia’ pun memuncak. Begitu semangat masyarakat Indonesia untuk lalu membenci Malaysia.

Tapi toh kembali pada istilah tadi, yang dibenci, tapi jadi dicinta. Sudahlah kemarin kita sempat pusing dengan aksi musisi kita yang jadi gemar mengeluarkan karya lagu bermello-melloan ala Malaysia, sekarang sinetron Indonesia pun sedang terjangkit wabah logat Malaysia.

Mulai dari sinetron Melati untuk Marvel, lalu sebentar lagi ada juga sinetron Cinta Issabela, Isabella, sampai Manohara yang kesemuanya selalu terisi dengan adegan-adegan berlogat Malaysia atau hal-hal yang berbau Malaysia. Simak saja deh logat si Marvel di Melati untuk Marvel yang katanya sih, itu logat Malaysia. Lalu kalau di Cinta Isabella yang akan tayang di Indosiar (yang aslinya meniru gaya cerita kasusnya si Manohara) tentu saja juga tidak luput dari kata-kata ‘I’ dan ‘You’-nya. Belum lagi budaya Malaysia yang akan hadir di sinetron Manohara (yang asli, kelihatan banget nggak bisa akting!) dan sinetron Isabella (yang sepertinya rumah produksi dan stasiun televisi RCTI nggak puas dengan satu sinetron yang mengangkat satu cerita ala Manohara saja!).

Satu lagi nih, urusan jilbab! Kalau Anda yang wanita kebetulan jalan-jalan ke suatu tempat yang banyak menawarkan jilbab, pasti sekarang ini sedang sering ditawarkan jilbab berembel-embel Manohara.

Jilbab Manohara itu yang seperti apa sih? Itu lho, jilbab berbentuk segi empat yang di bagian tepinya dihiasi dengan manik-manik gemerlap yang identik dengan warna keperakan. Itulah yang konon katanya dinamakan jilbab Manohara!

Padahal aslinya, jilbab itu sendiri sudah jadi tren di kalangan masyarakat Minang sana. Saat saya di Batam, teman saya yang kebetulan berasal dari ranah Minang, sempat membawa beberapa model jilbab segi empat dengan model seperti itu. Menurut Ici, nama teman saya itu, jilbab seperti itu memang banyak dibuat oleh masyarakat Bukit Tinggi dan kemudian menjadi tren di Malaysia.

Nah tentu saja, aslinya bukan kita bangsa Indonesia kan yang meniru model jilbab tersebut?! Namun salah kaprahnya, justru kita yang (dengan bangganya) meniru model jilbab yang konon ala Malaysia sana!

Eit, masih ingat dengan kata ‘lebai’? Nah, memang tren kemalaysia-malaysiaan itulah yang akan ‘belebai’ di Indonesia. Kata lebai sendiri sebetulnya jadi tren juga gara-gara ada musisi bergaya rap asal Malaysia (kalau nggak salah namanya Anak Ayam ya?) yang membuat kata itu lalu tren.

Heah… sebetulnya lebih baik sih kalau Indonesia dijangkiti tren budaya melayu daripada budaya Malaysia. Meski satu rumpun, tetap ada bedanya kok. Nah buat Anda yang asli melayu, ayo… buat tren di Indonesia sendiri dong! Jangan sampai deh Indonesia malah terjangkit budaya melayu tapi dapatnya malah dari negara tetangga…

06
Jun
09

Menulis EO, Kok Jadi Dikira Punya EO?!


Akhir-akhir ini saya agak sedikit kecewa dengan pembaca blog saya. Pasalnya, tidak sedikit dari pembaca blog saya yang memberi komentar dan tersirat bahwa ia tidak paham dengan apa yang saya tulis.

Dulu, saya memang pernah menjadi seorang jurnalis yang banyak mendapatkan berita-berita tentang bidang yang berbeda-beda. Mulai dari urusan kesehatan, kecantikan, sampai ke urusan dunia usaha. Akhirnya, tulisan yang naik ke media tempat saya bekerja dulu, saya masukkan juga ke blog milik saya. Saya pikir, semoga apa yang saya lakukan itu bisa lebih membantu orang lain untuk mengetahui berbagai informasi.

Dari sekian oleh-oleh saya yang saya buat dalam bentuk berita dan lalu saya masukkan ke dalam blog, ada beberapa tulisan yang saya amati, akhir-akhir ini kerap dibaca oleh banyak orang. Tulisan-tulisan tersebut antara lain hasil wawancara dengan Mbak Silvia Hilda pemilik Shilloute Agency seputar Event Organizer atau EO, tulisan tentang kanker kulit, dan beberapa tulisan seputar dunia anak remaja seperti tentang CLBK atau Buaya Darat.

Awal-awalnya sih senang banget, ternyata mulai banyak orang yang gemar mencari informasi dari internet dan kemudian mampir ke blog saya. Tapi jujur, akhir-akhir ini saya agak kesal dengan sikap mereka yang kurang tanggap dengan apa yang mereka baca.

Misalnya tulisan saya tentang EO. Sudah jelas-jelas di situ saya menulisnya dalam bentuk berita, berikut ada kutipan yang itu berarti ada orang lain yang bicara dan saya tulis ucapannya, dan ada juga saya tulis siapa yang bicara. Eh… ujung-ujungnya saya malah jadi sering ditinggali komentar oleh para pembaca blog saya dengan tulisan seperti nih, “Mbak, saya boleh nggak sharing tentang EO. Saya sedang belajar nih Mbak. Boleh bagi ilmunya?”

Sekali dua kali, saya jawab bahwa itu hanya tulisan saya dalam bentuk berita, bukan saya yang punya EO. Tapi ternyata tulisan komentar balik saya tidak dicermati oleh pembaca-pembaca yang lain. Akibatnya, tidak berhenti juga orang-orang yang terus bertanya dan minta saya untuk berbagi ilmu tentang EO.

Begitu juga tulisan saya tentang kanker kulit. Ujung-ujungnya, saya jadi sering ditanya atau jadi bahan konsultasi tentang penyakit orang-orang yang kebetulan membaca tulisan saya di blog. Walah-walah…

Dan yang paling membuat saya kesal itu kalau anak-anak remaja yang membaca artikel saya seputar dunia remaja. Ada yang kemudian mengungkapkan kekecewaan atas pengalamannya yang juga satu tema dengan artikel saya (misalnya di tulisan saya tentang Buaya Darat), bahkan yang sampai-sampai mengumpat tidak jelas. Untung blog saya itu saya buat dengan kendali komentar yang harus saya seleksi terlebih dulu. Kalau tidak, entah apa jadinya blog saya tersebut!

Bahasa Komunikasi Dunia Maya yang Kurang Dipahami

Meski orang yang gagap teknologi makin sedikit, makin banyak orang yang mulai bersentuhan dengan dunia maya, namun ada satu hal yang saya amati justru menunjukkan masih rendahnya kualitas masyarakat Indonesia dalam hal berkomunikasi Apalagi kalau bukan masalah penguasaan bahasa komunikasi dunia maya. Saya akui, saat ini memang cukup lumayan orang yang melirik dunia blog untuk menjadi bagian dari gaya hidupnya. Namun sayangnya, masih banyak juga orang yang tidak menyadari apa itu blog!

Blog sebetulnya memang sebuah media internet yang bisa dimiliki oleh pribadi. Kebanyakan, blog, pun kemudian dijadikan sebagai ajang penuangan opini atau pendapat dari si pemilik blog tentang apa yang ada di sekitarnya.

Seperti halnya saya yang menggunakan blog untuk media opini, blog milik saya itu memang sesekali saya gunakan untuk menulis pendapat atau hasil pengamatan saya tentang suatu masalah. Namun terkadang, blog itupun saya gunakan juga untuk menulis sebuah artikel yang tentu saja, bukan lagi ada dalam tataran opini atau pendapat semata.

Nah sayangnya, banyak masyarakat yang masih kurang memahami tentang mana itu yang opini, artikel, atau berita. Kesannya seperti kurang menguasai sekali ya apa itu pelajaran Bahasa Indonesia? Padahal kalau dilogika, mereka yang bersentuhan dengan blog, paling tidak kan adalah orang-orang yang sedang atau telah lulus pendidikan SMA dan seharusnya mengerti jika yang ia baca itu apakah sebuah berita, artikel, atau opini bukan?!

Seperti kasus yang saya alami. Sudah jelas-jelas di dalam tulisan saya itu ada kutipan pembicaraan dari orang lain, ada nama narasumbernya, tidak menggunakan bahasa aku atau saya di dalamnya, kok masih dikira pengalaman pribadi? :(

Menjabarkan Fakta Malah Dituduh Fitnah

Ketika merangkai runut apa yang saya alami dengan apa yang dialami oleh Mbak Prita Mulyasari, saya jadi makin sadar kalau ternyata banyak masyarakat Indonesia yang tidak paham tentang bahasa komunikasi tulis. Apalagi dalam dunia maya.

Ambil contoh tentang apa yang dialami Mbak Prita. Sebetulnya kasusnya Mbak Prita ini kan tentang tulisannya dalam sebuah email yang kemudian menyebar di mailling list alias millis. Eh… banyak media misalkan di televisi malah mengungkapkan kalau Mbak Prita itu blogger! Padahal, blog dan millis itu kan beda banget!!!

Blog bisa dikatakan sebagai situs pribadi, sedangkan millis adalah sebuah komunitas di dunia maya yang keanggotaannya bisa diikuti dengan keikutsertaan email kita bergabung dengan komunitas-komunitas tertentu.

Belum lagi tentang isi emailnya yang menurut RS OMNI Internasional, Mbak Prita telah mencemarkan nama baik RS tersebut. Kalau saya jadi RS OMNI, jelas-jelas saya malu dan tidak berani menuntut Mbak Prita. Lha orang jelas-jelas ditulis di email itu runutan kejadiannya berikut rincian apa yang dialami oleh Mbak Prita berikut apa yang sudah dilakukan oleh pihak RS. Kalau dibilang menyebar sesuatu yang tidak sesuai fakta, di email Mbak Prita, justru sebaliknya. Fakta-faktanya ada tertulis dengan jelas dan lengkap!

Mbak Prita malah dengan baik hati, mau lho menyembunyikan nama-nama dokter yang salah menanganinya dan menulis inisialnya saja. Ia malah paham bagaimana laiknya kode etik seorang jurnalis ketika menulis tersangka dengan cara menulis inisialnya saja. Kalau dia memang mau berbuat jahat, kenapa nggak sekalian nama-nama dokternya ditulis dengan jelas sekalian kan?!

Jadi saya pikir, apa yang dilakukan oleh RS OMNI ini jadi satu dari sekian bukti bahwa ternyata kemampuan penguasaan bahasa komunikasi dalam dunia maya bagi kebanyakan masyarakat Indonesia yang mulai melek teknologi itu, masih minim!

Ck ck ck… terbukti banget kan kalau pelajaran Bahasa Indonesia yang ada di sekolah itu kebanyakan gagal. Padahal, pelajaran tersebut tidak hanya mengajar orang yang belajar untuk sekedar bisa berbahasa Indonesia, tapi juga belajar tentang logika bahasa berikut penggunaannya dalam komunikasi.

Ayo Jadi Masyarakat Dunia Maya yang Cerdas!

Wah, kalau tulisan ini diteruskan, bisa jadi curhat karena saya teringat pengalaman saya waktu mengajar para mahasiswa yang kacau masalah logika bahasanya nih! Intinya tolong deh, jika Anda mulai ramah bersentuhan dengan dunia maya, cobalah juga untuk paham apa yang Anda baca dan apa yang lalu akan Anda lakukan.

Contoh kasusnya jika Anda sedang membuka sebuah situs. Cermati dulu dong, apakah itu memang situs ataukah blog milik pribadi. Jadi jika Anda kemudian membaca tulisan yang ada di dalamnya, Anda bisa paham dan mengerti apakah itu memang fakta ataukah opini semata dari si pemilik blog.

Ini terutama mungkin terjadi pada kalangan pelajar atau mahasiswa. Niatnya mau mencari bahan untuk tugas kuliah, masuk ke blog, yang ada justru mengambil opini si pemilik blog yang belum tentu jelas faktanya.

Padahal cirinya mudah saja kok untuk mengetahui apakah itu berita dan artikel yang akurat faktanya, ataukah opini semata. Kita tinggal melihat apakah dari tulisan yang Anda baca itu banyak memuat kata-kata saya, aku, menurutku, opini saya, atau kalimat dan kata-kata lain yang menjurus bahwa itu hanyalah pikiran si penulis blog semata.

Begitu juga kalau Anda menerima email yang berisi sesuatu apalagi yang meminta Anda untuk menyebarkannya ke orang lain. Biasanya sih dengan embel-embel untuk kebaikan orang lain atau imbuhan “Jika Anda tidak menyebarkannya ke orang lain, maka…”

Pernah atau sering bukan menerima emal-email seperti itu? Nah, hati-hati dan jangan asal menyebarkannya ke orang lain. Karena jika Anda menyebarkan hal yang tidak akurat kebenarannya meski Anda hanya meneruskan ke orang lain dan tidak membuatnya sendiri, Anda juga ikut bertanggung jawab lho dengan isi email tersebut!

Ambil kasus misalkan pada seorang pria yang beberapa waktu lalu menyebarkan email tentang nama-nama bank yang akan bangkrut. Si pria ini awalnya mendapatkan email dari Singapura tentang nama-nama bank di Indonesia yang kurang sehat. Niatnya untuk menyelamatkan teman-temannya, eh… ia justru dituduh sebagai penyebar informasi yang tidak benar.

Belum lagi tipe-tipe ‘orang baik’ yang suka menambahkan sesuatu atau menghilangkan sesuatu yang dari email yang ia terima dan meneruskannya ke orang lain. Misalkan jika Anda menerima informasi yang Anda kira bagus, Anda pun kemudian menambahkan, “Sebarkan email ini jika Anda peduli orang lain,” atau menghilangkan nama si penulis asli atau unsur-unsur lain yang Anda kira tidak penting padahal itu penting. Nah, jika yang terakhir itu ingin Anda lakukan, coba berpikir yang cerdas dulu deh yah. :)

01
Jun
09

Tak Malu Jadi Ratu Diskon

Negeri dengan perekonomian sekuat AS bisa mengalami keterpurukan! Bagaimana itu bisa terjadi? Ternyata ada suatu budaya di kalangan masyarakat AS yang tak pelak turut menjadi andil dari keterpurukan negara tersebut.

Menurut Dylan ratigan yang merupakan CNBC Headquartes, sebetulnya apa yang sedang dialami oleh AS saat ini tak lepas dari budaya konsumtif masyarakatnya. Masyarakat di sana ternyata sangat begitu menggampangkan kegiatan konsumsinya dengan mengandalkan kartu kredit.

Akhirnya, krisis yang melanda AS itu cukup membuat banyak masyarakat di sana kebingungan mengatur kembali keuangannya. Untuk itu, berbagai solusi diupayakan oleh berbagai pasangan suami istri untuk mengatasi keuangan keluarganya.

Hal inilah yang kemudian diangkat oleh Oprah dalam shownya yang saya saksikan siaran ulangnya di Metro TV pada hari Sabtu kemarin. Mau tahu apa saja yang dilakukan beberapa pasangan suami istri di AS untuk menyiasati keuangan keluarganya? Hm, saya rasa beberapa tips ini oke juga kalau Anda praktekkan juga! :)

1. Hidup sesuai dengan kebutuhan.
Di dalam acara tersebut ada pasangan Sue dan Bret yang berhasil dinobatkan sebagai keluarga yang paling cermat dalam mengatur keuangan. Bagaimana tidak, untuk pulsa ponsel satu bulan saja mereka cukup mengeluarkan uang $ 5. Nilai sebanyak itu hanya mereka pakai untuk keperluan jika anak mereka sakit saja. Selebihnya, mereka cukup menggunakan telepon rumah untuk keperluan komunikasi sehari-hari.

Cara ini memang memungkinkan untuk dilakukan di AS. Di sana, masyarakatnya tidak ketergantungan dan tergila-gila dengan ponsel, sih! Di Indonesia, orang rumahan sampai anak-anak saja harus pegang ponsel. Lha kalau mengandalkan cara telepon rumah ala Sue-Bret, bisa-bisa kita yang brangkut kali ya?!

Suami mereka pun tak gengsi untuk menumpang tetangganya saat berangkat ke kantor. Apa yang mereka lakukan ini cukup membuat pos pengeluaran uang mereka pun menjadi berkurang. Hm… beda banget kan dengan pola masyarakat kita yang setiap rumah saja untuk satu orang menggunakan mobil sendiri-sendiri.

Begitu juga untuk biaya makan. Satu kali makan untuk satu keluarga, Sue, Bret dan kedua anaknya, mereka hanya menghabiskan biaya $ 4! Tapi, Sue sebagai ibu rumah tangga tetap bisa mengemas masakan untuk keluarganya dengan cara yang sehat dan nikmat.

Mungkin terdengar ‘irit’ bukan gaya hidup mereka? Namun pasangan ini berujar, yang terpenting bagi mereka adalah keluarga, makanan, dan tempat berteduh. Itu saja cukup! Nah, berani jika Anda ditantang untuk hidup ala keluarga pasangan Sue dan Bret?

2. Kebutuhan vs Keinginan
Dalam reality show Oprah tersebut, Sue dan Bret juga diberi kesempatan untuk unjuk kemampuan menjadi konsultan keuangan bagi keluarga pasangan Mark dan Vicky. Awalnya Vicky memang ibu pekerja. Keluarga ini pun hidup berkecukupan dan sering memuaskan diri untuk rutin menonton bioskop hingga berpelesir ke luar negeri.

Namun ketika Vicky di-PHK, keluarga inipun harus menata ulang anggaran keluarganya. Sue-Bret pun kemudian memberikan beberapa tips untuk pasangan Mark-Vicky. Misalnya dengan membuat buku jurnal yang setiap hari harus diisi. Dalam dua halaman kiri dan kanan, Mark-Vicky diminta untuk menulis mana yang berupa ‘keinginan’ di halaman sebelah kiri dan mana yang merupakan ‘kebutuhan’ di halaman sebelah kanan.

Kartu kredit yang jumlahnya beberapa itupun mereka gunting dan disingkirkan. Sue-Bret menyarankan untuk lebih baik menggunakan kartu debit saja dibandingkan kartu kredit. Dengan kartu debit, pasangan Mark-Vicky inipun akan lebih mudah mengontrol pengeluaran mereka ketika sedang berbelanja.

Gaya hidup tiap minggu yang rutin menonton film di bioskop diganti dengan menyewa VCD untuk keluarga saja. Hm… sayangnya jika cara ini ditiru di kota besar, banyak masyarakat yang enggan barangkali ya untuk melepas rasa penasaran akan film terbaru daripada hanya menunggu versi VCD-nya saja keluar.

3. Bertukar Perabot atau Rumah
Ini dia cara unik yang mungkin akan enggan dilakukan bagi kebanyakan orang apalagi pada masyarakat Indonesia yang terbilang sangat menyayangkan harta yang sudah dimilikinya. Di AS, saat ini mulai menggejala kebiasaan untuk saling bertukar, alias barter.

Barter adalah pola kegiatan alat jual beli yang dilakukan oleh orang tempo dulu. Namun di zaman moderen sekarang, masyarakat AS pun ternyata melirik lagi cara ini untuk digunakan memenuhi kebutuhan hidup mereka.

Bosan dengan penampilan rumah Anda? Kenapa tidak barter saja dengan tetangga Anda? Itulah yang kemudian dilakukan oleh dua orang wanita yang bersahabat dekat di tampilan Oprah Show. Mereka berdua bertukar sofa ruang tamu dan ternyata kemudian saling menyukai hasil pertukaran tersebut.

“Awalnya kami berdua memang sudah bosan dengan tampilan rumah kami. Ingin merombaknya, tapi tidak punya dana. Kami berdua pun lalu saling bertukar sofa dan jadi tidak perlu mengeluarkan dana untuk merombak penampilan rumah,” ujar kedua wanita tersebut.

Barter rumah pun sampai dilakukan juga oleh warga AS. Ini karena di sana, tidak mudah ternyata untuk menjual rumah begitu saja. Bisa sampai dua tahun lamanya, sebuah rumah mungkin baru bisa terjual.

Dengan memanfaatkan jasa penjualan rumah di internet yang memungkinkan Anda menawarkan rumah dengan cara barter, Anda pun bisa mendapatkan rumah baru, dan rumah Anda pun bisa terjual dengan harga yang sesuai dengan keinginan Anda.

4. Cabut Alat Listrik, tidak Hanya Sekedar Mematikan
Percaya tidak jika ternyata ketika Anda mematikan alat elektronik tapi tidak mencabut kabelnya dari stop kontak, tetap ada aliran listrik yang masih mengalir ke alat tersebut!

Nah, di dalam acara Oprah kemarin, langkah mencabut stop kontak juga jadi satu dari sekian jurus untuk langkah menghemat dana pos pengeluaran. Ini memang akan sangat terasa terutama pada rumah yang begitu banyak memiliki alat elektronik dan membiarkannya saja terus terpasang stop kontaknya.

Jujur, saya pun percaya akan hal ini dan baru menyadarinya setelah menonton acara ini. Di rumah saya, jatah daya yang ada untuk rumah memang tidaklah besar. Jika saya memasang setrika dan masih membiarkan kulkas hidup, pompa air atau bahkan televisi sekalipun tidak lagi memiliki jatah listrik.

Nah, beberapa waktu yang lalu, saya pernah menyetrika dan lalu tiba-tiba terkejut ketika daya listrik di rumah saya lalu padam. Padahal saat itu, tidak ada alat eletronik lain kecuali kulkas yang sedang menyala.

Selidik punya selidik, ternyata saya sadar sekarang jika saat itu, masih ada dua kabel kipas angin yang dalam kondisi mati tapi terpasang stop kontaknya, demikian pula dengan kabel televisi.

5. Koleksi Kupon Diskon

contoh bentuk kupon diskon

contoh bentuk kupon diskon

Inilah jurus irit yang dicontohkan oleh seorang ibu rumah tangga dalam acara tersebut yang paling saya minati. Si ibu ini menjuluki dirinya sendiri dengan Si Ratu Kupon Diskon karena hobinya yang memang mengguntingi kupon-kupon diskon yang ada di media massa atau mengambilnya dari internet.

Kupon diskon dengan masa berlaku yang berbeda-beda itu memang dilakukan oleh penjual pasar moderen untuk menarik minat pembeli. Namun bagi prinsip si Ratu Kupon Diskon ini, cara tersebut juga bisa ia tarik keuntungannya untuk kebutuhan belanja keluarganya.

Di AS, penawaran diskon dalam bentuk kupon memang cukup menggiurkan. Mulai dari wortel sampai sampo, ada semuanya semaunya! Dan keuntungan yang bisa didapat oleh si ibu ini sampai bisa membuatnya bahkan gratis, tidak perlu membayar beberapa item yang dibelinya!

Kalau di Indonesia sendiri, memang kupon ini masih belum seberapa artinya ya?! Tapi jika Anda akrab dengan Indomart atau Alfamart, Anda bisa memanfaatkan beberapa kupon potongan harga yang kadang terlampir dalam lembaran promosi setiap bulannya dan mereka bagi-bagikan ke lingkungan tempat tinggal atau di tempat yang bersangkutan.

Anda juga bisa memanfaatkan kartu keanggotaan belanja yang kadang memberikan fasilitas harga spesial di momen-momen tertentu, atau memanfaatkan hari-hari promo untuk produk-produk tertentu.




Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,762 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan