Saya tidak pernah bosan menyaksikan film kartun Monster Inc. Pun, film-film kartun lainnya atau film untuk anak-anak buatan AS. Pasalnya buat saya, cerita dari film-film tersebut begitu sarat makna. Meski identiknya film itu adalah untuk konsumsi anak-anak, tapi bagi saya, film-film itu punya arti lebih yang tidak hanya sekedar menghibur anak.
Ambillah contoh film Monster Inc. Di akhir cerita kita baru disadarkan bahwasanya membuat anak-anak tertawa itu lebih menghasilkan energi untuk kehidupan, daripada membuat anak-anak ketakutan akan monster. Analoginya, tangisan atau tawa anak-anak itu mampu menjadi sumber energi bagi kehidupan dunia monster. Namun teriakan tawa anak-anak, lebih dapat mampu mengisi tabung energi kehidupan dibandingkan teriakan tangisan.
Sungguh, menurut saya sebuah pemikiran yang sangat cemerlang untuk bisa menghasilkan sebuah ide cerita seperti dalam film tersebut. Ya itu tadi, meski awalnya untuk hiburan dengan tampilan visual yang mengasyikkan untuk dinikmati, namun tetap, unsur inti yaitu nilai-nilai yang bisa diserap oleh anak-anak itu disisipkan begitu halus dan mudah terserap oleh daya pikir anak-anak. Sementara seperti saya (yang tentu saja jelas bukanlah anak-anak lagi) hanya bisa terwah-wah saat menyadari nilai yang terkadang berbentuk filosofi dalam di dalam alur cerita film tersebut.
Film lainnya yang bisa diambil sebagai contoh adalah Chocolate Factory. Dengan tampilan visual dunia yang hampir terletak antah berantah namun mampu membuat imajinasi kita terkagum-kagum menyaksikannya, film ini justru sangat sarat disisipi nilai-nilai bagi anak dan bahkan orangtua.
Meski menurut saya, film ini sangat gamlang penyampaian pesannya. Misalnya untuk anak yang serakah dan selalu dituruti keinginannya. Dalam muatan nyanyian, si anak yang salah tersebut mendapat ganjaran dengan tersedot ke dalam lubang yang berujung pada tempat sampah. Pun di akhir cerita, ketidakmasukakalan itu nampak menambahi unsur bahwasanya yang salah, maka akan seperti itulah ganjaran yang akan diterimanya. Misalkan tubuh yang fatal menggelembung seperti bola.
Mengemas konsep dalam bentuk hiburan dengan menyisipkan nilai yang sangat berarti dalam sebuah cerita anak, bahkan memikirkan bagaimana anak tersebut berproses untuk memikirkannya, tentu saja bukanlah sebuah pekerjaan gampang bagi pembuat cerita anak.
Bagaimana dengan di dalam negeri sendiri? Sebetulnya kualitasnya pun bisa dibilang tidaklah mengecewakan. Meski terkadang dalam sebuah cerita, ada juga yang unsur happy endingnya begitu terlihat memihak tokoh protagonis tanpa terlebih dahulu membuat alur proses yang bisa dibilang, hei, manusia itu tidak 100 % sempurna lho!
Nah untuk para penulis cerita anak di Indonesia, kita jadi punya PR nih sebetulnya untuk meniru gaya para pembuat cerita asal luar negeri atau paling tidak makin meningkatkan kualitas cerita anak di dalam negeri. Bukannya sekarang masih dalam kualitas jelek. Justru saya pikir itu tidak juga kok. Jadi ayo, jangan mau kalah dong dengan para kreator cerita anak luar negeri yah…











0 Tanggapan ke “Membuat Cerita Anak yang Bernilai Lebih”