Arsip untuk Juni 26th, 2009

26
Jun
09

Sambal Mangga yang Nagihin!

sambal mangga

sambal mangga

“Mbah… minta mangganya! Mau bikin sambal mangga…” seorang wanita muda yang sedang hamil tiba-tiba turun dari motor dan menghampiri mbah saya yang sedang menunggui pekerjaan dua orang pria yang sedang menebas pohon mangganya.

Sambal mangga? Wah… entah kenapa saya baru ingat sambal favorit saya tersebut. Dulu ketika saya kos di Citra Batam, pembantu iu kos saya memang gemar sekali membuat sambal mangga. Dan sambal itu juga yang membuat saya awalnya hanya terbilang biasa untuk menikmati sambal, tiba-tiba jadi hobi sekali yang namanya makan pedas.

Akhirnya sampai di rumah, keinginan saya untuk membuat sambal itupun tidak tertahankan lagi. Lagi-lagi saya menyesal, kenapa juga ya saya baru ingat sambal mangga sekarang dan tidak kemarin-kemarin? Padahal, sudah ada sekitar dua hingga tingga minggu ini rumah saya selalu dibajiri oleh mangga hasil petikan dari pohon mangga yang ada di depan rumah mbah saya.

Mangga milik mbah saya itu tergolong jenis Mangga Bapang. Fisik buahnya sih memang terlihat menggemaskan, berwujud mengkal dan ranum. Namun sayangnya jika dicicipi, rasanya manis dan cenderung masam dengan air buahnya yang begitu banyak.

Berhubung adik ipar saya sedang hamil muda, maka mangga yang ranum namun cenderung masam ini jadi idola para keluarga di rumah mbah saya untuk dikirim atau diberikan ke rumah saya melulu. Tentu saja, adik ipar saya girang bukan kepalang! Hehehe…

Nah, kembali ke pembicaraan sambal mangga, jenis mangga dengan rasa seperti itulah yang saya pikir sepertinya cocok untuk dibuat sambal. Sebetulnya sih sambal mangga itu paling cocok jika menggunakan mangga yang sedang muda cenderung tua. Namun karena mangga di tempat mbah saya kebanyakan sudah matang pohon, akhirnya mangga tua itulah yang saya gunakan sebagai sambal.

Mau tahu cara membuat sambal mangga ala saya? Hehe… ini dia rumusnya!

3 buah cabai besar

5 sampai 9 buah cabai kecil

10 biji kacang tanah

½ butir bawang putih

1 buah tomat ukuran kecil

garam secukupnya

gula pasir secukupnya

daging buah mangga secukupnya (sekitar ¼ – 1/8 buah saja)

Bahan-bahannya sih biasa saja kan? Sebetulnya sama kok seperti membuat sambal. Kalau Anda sangat menyukai pedas, konon katanya sih gunakan cabai dengan ukuran ganjil. Itu mitos membuat masakan dengan cabai ala orang Jawa katanya!

Resep membuat sambal ini aslinya tidak menggunakan kacang tanah. Saya sendiri yang memodifikasi dengan menambahkan kacang tanah sebagai campurannya. Kacang tanah yang sudah digoreng sebelum diulek ini akan menambah citarasa gurih dan sedikit manis pada sambal nantinya.

Sebelum menghaluskan semua bahan, bahan-bahan seperti cabai, tomat, bawang putih, dan  kacang tanah digoreng terlebih dahulu dengan sedikit minyak goreng. Lalu sebelum Anda memasukkan irisan buah mangga, haluskan semua bahan.

Jangan lupa, sertakan gula dan garam. Meski Anda memasukkan gula pasir dalam jumlah yang agak banyak (misal tiga sendok kecil) jangan khawatir akan terasa manis. Karena perpaduan gula dan garam itulah yang akan membuat sambal jadi terasa gurih. Gula pasir sendiri konon jika ditambahkan pada sambal, malah akan membuat pedasnya sambal makin terasa. Namun jika Anda memang ingin sambal Anda terasa menggigit, tambahkan saja jumlah cabai makin banyak. Jumlah cabai inilah yang lebih menentukan makin pedas tidaknya sambal.

Setelah bahan-bahan tersebut halus, masukkan daging buah mangga. Jika bisa, pilihlah mangga yang hampir matang karena rasa masamnya itulah yang membuat sambal jadi terasa nikmat. Saya sendiri menggunakan mangga Bapang karena buahnya yang memang masam dari sananya!

Sambal mangga ala formula saya ini rasanya jadi gurih, pedas, manis, dan asam. Klop deh rasanya! Gurihnya didapat dari campuran gula dan garam serta kacang tanah, pedasnya tentu saja dari cabai, manis dan asamnya dari buah mangga. Tentu saja, kalau rasa-rasa itu berkumpul jadi satu dalam sambal, dijamin, pedas sambal alias kapok tapi maunya terus-terus akan membuat Anda ketagihan sambal mangga ini! Selamat mencoba…

26
Jun
09

Demam Budaya Malaysia di Indonesia

“Dia… Isabella… lambang cinta…” (mohon maaf, saya tidak bisa meneruskan syair lagu ini karena saya lupa apa kelanjutan kata-katanya!) Hehehe…

Ada orang bilang, jangan terlalu benci sama sesuatu. Soalnya, yang dibenci itu justru nanti bisa dicinta. Sepertinya ungkapan itu ada benarnya juga buat budaya Malaysia yang akhir-akhir ini serasa jadi tren di Indonesia.

Misalnya nih mulai beberapa tahun terakhir ini, para musisi Indonesia sedang demam banget lagu beraliran mello ala Malaysia. Entahlah, apa mungkin itu mereka lakukan demi menarik pangsa pasar masyarakat Malaysia yang konon memang tergila-gila dengan hasil produksi musik Indonesia.

Padahal sekitar beberapa tahun yang lalu, para dedengkot musisi Malaysia sempat mengklaim untuk antimusik asal Indonesia. Bagaimana tidak, musisi Malaysia sendiri memang kurang jadi tuan rumah di negaranya sendiri.

Contoh saja deh ketika saya melihat tayangan musik di televisi atau ketika mendengar musik asal stasiun radio Malaysia saat saya di Batam waktu itu. Proporsi musik asal musisi Malaysia dengan musisi Indonesia bisa sekitar satu berbanding tiga sampai lima lagu. Artinya, jika stasiun radio Malaysia misalnya menyetel sebuah lagu yang dinyanyikan oleh musisi Malaysia, pasti sebelum atau sesudahnya adalah lagu asal musisi Indonesia yang jumlah bisa tiga sampai lima lagu. Kasihan sekali kan?

Maka itu mereka akhirnya melancarkan aksi memboikot lagu dan musisi asal Indonesia. Yah, namanya usaha membenci tapi pasar berkata beda, tetap saja lagu Indonesia dipuja di sana. Bahkan, hal itu makin menjadi ketika musisi Indonesia mencoba mendekati faktor tentang apa yang disuka oleh pangsa pasar musik di Malaysia.

Nah, akhir-akhir ini sepertinya aksi itu berbalik dan terjadi di Indonesia. Sejak sering terungkap kasus penyiksaan terhadap para TKI di Malaysia, sampai kasus si Manohara yang katanya di siksa oleh suaminya yang berasal dari Malaysia, belum lagi ditambah kasus memanasnya wilayah Ambalat di perbatasan Indonesia-Malaysia, kata-kata ‘Ganyang Malaysia’ pun memuncak. Begitu semangat masyarakat Indonesia untuk lalu membenci Malaysia.

Tapi toh kembali pada istilah tadi, yang dibenci, tapi jadi dicinta. Sudahlah kemarin kita sempat pusing dengan aksi musisi kita yang jadi gemar mengeluarkan karya lagu bermello-melloan ala Malaysia, sekarang sinetron Indonesia pun sedang terjangkit wabah logat Malaysia.

Mulai dari sinetron Melati untuk Marvel, lalu sebentar lagi ada juga sinetron Cinta Issabela, Isabella, sampai Manohara yang kesemuanya selalu terisi dengan adegan-adegan berlogat Malaysia atau hal-hal yang berbau Malaysia. Simak saja deh logat si Marvel di Melati untuk Marvel yang katanya sih, itu logat Malaysia. Lalu kalau di Cinta Isabella yang akan tayang di Indosiar (yang aslinya meniru gaya cerita kasusnya si Manohara) tentu saja juga tidak luput dari kata-kata ‘I’ dan ‘You’-nya. Belum lagi budaya Malaysia yang akan hadir di sinetron Manohara (yang asli, kelihatan banget nggak bisa akting!) dan sinetron Isabella (yang sepertinya rumah produksi dan stasiun televisi RCTI nggak puas dengan satu sinetron yang mengangkat satu cerita ala Manohara saja!).

Satu lagi nih, urusan jilbab! Kalau Anda yang wanita kebetulan jalan-jalan ke suatu tempat yang banyak menawarkan jilbab, pasti sekarang ini sedang sering ditawarkan jilbab berembel-embel Manohara.

Jilbab Manohara itu yang seperti apa sih? Itu lho, jilbab berbentuk segi empat yang di bagian tepinya dihiasi dengan manik-manik gemerlap yang identik dengan warna keperakan. Itulah yang konon katanya dinamakan jilbab Manohara!

Padahal aslinya, jilbab itu sendiri sudah jadi tren di kalangan masyarakat Minang sana. Saat saya di Batam, teman saya yang kebetulan berasal dari ranah Minang, sempat membawa beberapa model jilbab segi empat dengan model seperti itu. Menurut Ici, nama teman saya itu, jilbab seperti itu memang banyak dibuat oleh masyarakat Bukit Tinggi dan kemudian menjadi tren di Malaysia.

Nah tentu saja, aslinya bukan kita bangsa Indonesia kan yang meniru model jilbab tersebut?! Namun salah kaprahnya, justru kita yang (dengan bangganya) meniru model jilbab yang konon ala Malaysia sana!

Eit, masih ingat dengan kata ‘lebai’? Nah, memang tren kemalaysia-malaysiaan itulah yang akan ‘belebai’ di Indonesia. Kata lebai sendiri sebetulnya jadi tren juga gara-gara ada musisi bergaya rap asal Malaysia (kalau nggak salah namanya Anak Ayam ya?) yang membuat kata itu lalu tren.

Heah… sebetulnya lebih baik sih kalau Indonesia dijangkiti tren budaya melayu daripada budaya Malaysia. Meski satu rumpun, tetap ada bedanya kok. Nah buat Anda yang asli melayu, ayo… buat tren di Indonesia sendiri dong! Jangan sampai deh Indonesia malah terjangkit budaya melayu tapi dapatnya malah dari negara tetangga…




Kalender

Juni 2009
S S R K J S M
« Mei   Jul »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 380,032 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan