
Back to campus, back to UKMP!!!
Nama UKMP memang menjadi bagian dari fase hidup saya yang tidak bisa saya lupakan begitu saja. Organisasi dalam bentuk Unit Kegiatan Mahasiswa tersebut itu benar-benar pernah menjadi pengasah untuk kepribadian yang saya miliki. Dan ketika saya kembali ke Jawa, UKMP lah rumah pertama saya bila saya berkunjung ke Malang.
Kebetulan di bulan Mei ini, adik-adik saya di UKMP sedang mengadakan diklat kepenulisan untuk perekrutan anggota baru. Kami menamakannya DJ&PKMTD, atau Diklat Jurnalistik dan Pendidikan Kepenulisan Mahasiswa Tingkat Dasar. Di tanggal 9 dan 10 Mei atau hari Sabtu dan Minggu kemarin, adik-adik saya itupun mengadakan diklat alam yang dilaksanakan di Arboretum Sumber Air Brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
Kegiatan itupun tidak hanya sekedar sebagai ajang hiburan atau pengakraban antar mahasiswa yang sudah bergabung terlebih dahulu dengan mereka yang masih baru. Akan tetapi, misi pelekatan komitmen pun menjadi bagian dari lapis demi lapis kegiatan yang diadakan di tempat yang masih terkenal dinginnya itu.
Hari pertama, para calon anggota UKMP itu diminta untuk mengikuti sebuah kegiatan yang membuat mereka harus melewati tiga pos. Pos pertama untuk ke-UKMP-an, pos ke dua untuk komitmen personal, dan pos ke tiga untuk permainan.
Sedangkan ke-2 calon anggota baru dibagi menjadi empat kelompok. Dua kelompok dilabeli Fiksi, dan dua kelompok yang lain dilabeli Jurnalistik. Per kelompok itulah mereka melewati pos demi pos panitia yang tersebar di beberapa titik.

Saya sendiri mengambil bagian di pos dua, bersama Sulvi sang ketum UKMP, Jayaning sang ketum tahun lalu, Hasna yang kini di bagian Dewan Pertimbangan Organisasi, serta Faruk, wakil ketua di tahun 2002, masa kepemimpinan saya dulu.
Mendengar celotehan anak-anak baru kala itu sungguh membuat saya jadi sering senyum-senyum sendiri. Lugu! Itulah kesan dari saya pribadi. Jawaban-jawaban seperti, “Saya akan melaksanakan segala tugas yang diberikan kepada saya nanti ketika saya jadi anggota UKMP,” atau kelompok jurnalistik yang berisi enam orang cewek yang berkeliling dengan payung.
Kebetulan, saat acara melewati pos demi pos yang ada, cuaca di daerah yang dekat dengan puncak gunung itu memang sedang digelayuti awan yang turun. Gerimis pun tidak bisa dielakkan lagi.
Namun demi melihat kelompok yang konon kebanyakan bercita-cita ingin menjadi jurnalis itu, gaya mereka yang membawa payung membuat saya berpikir, “Lha, besok masa iya mau meliput ke mana-mana sambil membawa payung?” Bukannya hal yang salah memang. Tapi demi melihat cara ribet yang akhirnya harus mereka lakukan saat bergerak dengan payung itu membuat saya jadi senyum-senyum saja melihatnya!
Keluguan mereka inipun membuat saya jadi mengingat masa yang juga pernah saya tempuh seperti mereka sekarang. Begitu lugunya dengan arti kata tanggung jawab. Dan ketika dipaparkan pada sebuah pertanyaan tentang apa yang harus kita lakukan, malah jawaban ideal yang dikedepankan. Tapi saya tahu, kelak mereka akan berproses hingga mencapai suatu titik di mana mereka bisa ikut tersenyum bila berada dalam posisi seperti yang saya alami kemarin.
Saat berkesan lain bagi saya tentang acara diklat alam kemarin adalah malam perenungan. Uhm, mungkin lebih tepatnya perenungan di dini hari. Di kala dingin menyergap yang entah hanya berapa belas derajat suhu saat itu, di kala bicara saja bisa membuat asap putih keluar dari mulut, para calon anggota baru itu diminta untuk mendengarkan celotehan seorang panitia tentang arti sebuah komitmen.
Cukup bagus memang konsep yang satu ini! Dalam kondisi seseorang mengantuk atau yang disebut trance, mereka diminta untuk mendengarkan sebuah doktrin tentang komitmen dalam organisasi kelak. Konsep ini sendiri memang mengambil dari konsep hipnosis. Seseorang memang akan bisa merekam dan menyimpan memori dengan bagus apabila ia berada dalam kondisi setengah sadar atau setengah terlelap.
Konsep ini dulu sempat dicetuskan Munir, mantan sekretaris umum saya di masa tahun 2002. Sayangnya, dulu saya tidak mengambil konsep itu dan mengaplikasikannya dengan saat dan keputusan yang tepat!
Namun pengaplikasian perenungan dini hari yang dilakukan adik-adik saya kemarin juga masih ada sesuatu yang bagi saya kurang. Penekanan kata-kata negatif dan pilihan kalimat yang panjang menurut saya dan Jayaning, anak Psikologi yang juga merupakan ketua umum tahun lalu, sebetulnya masihlah kurang tepat.
“Tapi mari kita lihat saja Mbak nanti hasilnya,” cetus Jayaning yang membuat saya tersenyum. Ya, aksi memang lebih baik daripada teori. Buktinya, generasi UKMP saat ini pun lebih kompak, berkualitas dan bagus secara kerja dan gerak keorganisasian atau kepenulisan. Jauh jika dibandingkan tahun saya dulu atau tahun-tahun sebelumnya.
Akhir cerita yang menyenangkan pun menjadi penutup di kala sinar pagi sedang begitu ramah menyaput bagian dari lereng gunung tempat kami berinteraksi. Pelantikan anggota baru itu menjadi akhir di hari Minggu pagi.

Terimakasih ya untuk adik-adik UKMP yang memberi kesempatan saya untuk ikut kemarin. Kalian yang cukup punya semangat untuk berorganisasi dan berkarya, kehangatan persahabatan antar kalian, dan segala yang indah di Arboretum itu bisa membuat saya makin memompa hidup yang sedang saya pilih sekarang. Menjadi penulis dan pengerajin kertas!














0 Tanggapan ke “Melekatkan Komitmen di Dinginnya Batu”