Menjaga Orangtua-Orang Tua

Keputusan Menjaga Orangtua

ayah dan ibunya ikaayah dan ibunya ika

Satu dari sekian hal yang membuat saya memilih mundur dari Politeknik dan balik ke Jawa adalah orangtua. Orangtua saya memanglah belum terlalu tua. Setiap kali ada yang bertanya alasan saya kembali ke Jawa dan lalu saya menjawab karena orangtua, mereka pasti lantas bertanya berapa usia orangtua saya.

Ayah saya Juli nanti berusia 58 tahun, sedangkan ibu saya Januari lalu telah menginjak waktu setengah abad. Belum terlalu tua memang. Namun jika mengingat beberapa waktu ke belakang, saya jadi sering menangis saat-saat ini. Apalagi ketika kemarin Ayah saya mengalami jatuh dari tangga.

Ingatan saya yang pertama adalah saat Lebaran lalu. Waktu itu, saya sempat merengek-rengek kepada teman saya yang bernama Ghurrun dan Nanang karena saya begitu ingin ikut berkunjung silaturahmi ke rumah teman saya yang lain. Namun karena mereka tahu saya baru saja operasi, serta peringatan ibu saya di depan kedua teman saya tersebut untuk tidak ke sana, kunjungan silaturahmi itu pun batal.

Demi menenangkan saya yang kesal karena acara itu tidak jadi, Ghurrun mengirim sms ke saya yang membuat saya tercenung lama. Saya lupa tepatnya seperti apa. Namun yang saya ingat, ia ingin agar saya menuruti keinginan ibu saya dan agar tidak menyesal nantinya. Sempat saya membaca maksud dari sms Ghurrun bahwa ia tidak ingin saya menyesal seperti dia yang sering mengabaikan suara orangtuanya. Dan ketika satu dari kedua orangtuanya tiada beberapa tahun yang lalu, betapa ia lalu menyesal berkepanjangan hingga kini. Lama sms itu saya simpan di hp untuk saya renungkan.

Satu hal lagi yang membuat saya memutuskan untuk menjaga orangtua saya adalah Abang, seseorang yang sempat menjadi calon suami saya. Sebagai anak tengah dan seorang anak laki-laki, mungkin aneh rasanya ketika kedua orangtuanya begitu ingin menghabiskan masa tua hanya dengannya.

Namun akhirnya dengan kedua mata saya sendiri, saya melihat betapa ia memang benar-benar begitu menjaga kedua orangtuanya. Apalagi ketika bapaknya sempat mengalami sakit yang membutuhkan kesabaran seorang anak untuk bisa merawat.

Saya lalu berpikir, dia saja yang anak laki-laki bisa menjaga orangtua, kenapa saya justru tidak?! Meskipun akhirnya saya dan Abang tidak jadi bersama, namun saya baru tahu, mungkin kedekatan saya dengan Abang sampai harus ikut merawat orangtuanya adalah maksud Allah untuk mendekatkan hati saya dengan orangtua saya sendiri.

Dan kemarin, ayah saya jatuh dari tangga yang membuat ia harus berjalan tertatih-tatih. Salah satu telapak kakinya terkilir sampai bengkak. Sedih rasanya saat melihat Ayah saat ini. Ayah yang biasanya sangat hobi bergerak ke sana ke sini, akhirnya hanya bisa pasrah untuk harus istirahat dan mengurangi aktivitas berjalan.

Saat kami santai berkumpul sekeluarga, ibu pun lantas sempat bercerita bahwa jatuh dari tangga adalah kejadian yang juga pernah ia alami. Ceritanya ia sedang mengangkat jemuran, turun dari tangga, dan melangkah menuruni lantas dasar dengan melewati beberapa anak tangga. Ibu jatuh telentang dengan kepala terbentur tembok tangga. Untung ia tidak sampai buta. Karena katanya ketika jatuh saat itu, ibu sempat tidak bisa melihat selama beberapa saat. Kejadian itu terjadi ketika saya sedang berada di Batam.

Sungguh, saya tidak ingin lagi kedua orangtua saya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan ketika saya tidak ada. Atau meskipun jika orangtua saya harus mengalami hal itu, saya ingin ada di dekat mereka untuk bisa menjaga mereka berdua. Semoga Tuhan benar-benar menjaga hati dan pikiran saya untuk tidak berpikir melangkah berpetualang lagi.

Seninya Merawat Orangtua

Kecil dimanja-manja, remaja disayang-sayang, dewasa menyia-nyia. Benar-benar, saya sangat tidak ingin kalimat itu menjadi predikat untuk saya. Rasanya kalau dipikir normal, memang aneh ya? Kenapa siklus manusia itu harus berlaku seperti itu. Sewaktu kecil bisa dimanja, ketika remaja bisa disayang, namun ketika dewasa menyia-nyia, dan tua pun akhirnya menjadi disia-sia.

Sampai-sampai ada ujaran, jika kita ingin nanti tuanya tidak disia-sia anak kita, belajarlah untuk tidak menyia-nyiakan orangtua kita saat ini. Apa menjamin ya? Kalaupun iya, benarkah kita bisa benar-benar ikhlas dan sabar untuk tidak menyia-nyiakan orangtua?

Saya ingat sebelum kembali ke Jawa, saya sempat mendengar cerita sahabat saya, Ici yang harus sabar tehadap mamaknya. Sikapnya yang kerap cuek pada hal sekitar, tidak bisa berlaku lagi ketika ia telah memilih untuk mengajak sang mamak tinggal bersamanya di Batam.

Saya sendiri benar-benar merasakannya sekarang setelah sebelumnya saya kerap masa bodoh tentang pertanyaan, orangtuaku kabarnya sekarang bagaimana ya? Yang ada dan selalu terpikir, besok kerja saya apa, besok saya harus melakukan apa, dan besok target pekerjaan saya apa. Pokoknya isinya hanya saya dan pekerjaan. Karena itulah saya memilih untuk tidak bekerja dengan orang lain hingga lebih banyak memiliki waktu untuk saya dan keluarga saya.

Ketika Ayah saya jatuh dan harus tertatih-tatih sejak kemarin, olala… ternyata ia tidak mau terima begitu saja ketika diminta untuk istirahat. Masih ada saja yang ia lakukan demi alasan capek karena disuruh istirahat melulu. Menyapu lantai, meminta untuk tetap mengantarkan ibu berangkat kerja dengan motor, atau jalan ke sana sini yang membuat saya sering bingung melihatnya. Padahal rumah saya hanyalah tipe RSS yang kalau dibuat acara jalan-jalan, ya juntrungnya nggak kemana-mana.

Kaki Ayah yang bengkak, seakan-akan jadi mainan baru yang unik untuk Ayah. Sesekali, ia sering menenak-nekan bagian yang bengkak atau menginjak telapak kanannya dengan kaki kirinya yang tidak sakit. Dan ketika Ibu akhirnya membeli sepasang tongkat, Ayah pun malah jadi kegirangan lagi dengan tambahan ‘;mainan barunya’ itu. Hehehe…

Kadang saya memang gemas saat melihat tingkah Ayah. Orang sakit kok nggak mau istirahat ya? Tapi sebisa mungkin saya coba untuk tidak cerewet atau menegurnya dengan membentak. Kasihan juga kalau terus menerus kita tegus jangan ini itu.

Jurus andalah saya adalah mencoba kembali mengingat masa kecil saya. Dulu, rasanya saya pun anak nakal yang banyak ulah tingkahnya. Ketika kebanyakan ditegur dan tidak boleh ini itu, sangat tidak mengenakan bukan?

Kata orang, kalau orang sudah tua itu memang akan kembali seperti anak-anak. Tingkah lakukan kembali menjadi anak-anak. Cuma yang membedakan, orangtua tentunya tidak ingin dibilang kalau dia itu sudah tua dan tingkah lakunya seperti anak-anak. “Yang saya lakukan ini benar, dan saya lebih tahu.” Itulah orangtua.

Lantas bagaimana cara yang lain untuk bisa ikhlas merawat orangtua? Saya ingat perkataan Ibu saya tentang Mbah Kakung saya. “Dulu, Mbah sayang banget sama Ibu. Waktu Ibu di Jakarta saja, Mbah sering datang menjenguk sambil membawakan oleh-oleh.”

Kalimat itu tercetus ketika saya dan Ibu suatu ketika membicarakan ulah Bulek saya. Selama ini, Bulek saya memang yang merawat Mbah Kakung dan Mbah Putri saya. Mbah Kakung adalah orang yang punya watak keras. Persis seperti yang saya katakan tadi, “Saya orangtua, dan saya yang lebih tahu.”

Padahal, kenyataannya tidaklah melulu seperti itu saat ini. Sering Bulek saya mencurahkan kekesalan hatinya pada Ibu saya tentang ulah Mbah Kakung. Kalau Mbah Kakung punya pikiran, selalu maunya itu.

Belum lagi tingkah lakunya yang kembali menjadi anak-anak. Sudah makan tiga kali masih saja berkata belum. Mungkin bagi orang yang sadar, kok apa nggak kekenyangan ya? Tapi mari cobalah dipikir wajar saja, apakah mungkin seseorang berkata ingin makan jika perutnya masih kenyang?

Jika saya jadi Bulek, mungkin Mbah Kakung tetap saja saya ambilkan makan meski saya tahu, saya sudah mengambilkan makan untuk yang ketiga kalinya dalam kurun waktu yang masih lima jam. Yah, mungkin ada yang bisa menjelaskan dari medis, apa iya ya kalau orang tua itu sering merasa lapar sehingga makannya banyak ya?

Sesekali saya sempat merasa kasihan melihat Mbah Kakung. Wajahnya yang ceria seperti sering saya lihat dulu, kini sudah meredup. Saya lalu berpikir, semoga orangtua saya nanti tidak sampai ketakutan dengan saya hanya karena saya terlalu keras dan judes saat merawat mereka.

Sadar sesadar-sadarnya, mencoba sekuat mungkin untuk ikhlas, dan mengingat-ingat bagaimana kita dulu benar-benar telah disayang oleh kedua orangtua kita, mungkin itulah tips yang bisa membuat kita mampu tetap merawat kedua orangtua kita. Bukan karena kewajiban, tetapi lebih kepada wujud ungkapan rasa sayang kita yang sebenarnya.

Masa Tua Ada di Tangan Anda

Ingat dengan kata-kata tersebut? Itu tuh, yang ada di iklan suplemen vitamin… Tapi memang benar lho, masa tua kita sendiri itu sebetulnya ada di tangan kita. Khususnya untuk Anda yang mungkin ingin berpikir bagaimana jika saya tua nanti.

Saya cukup bersyukur, sempat mengenal Mamak dari Abang, calon ibu mertua saya yang tidak jadi. Hingga saya memutuskan komitmen dengan Abang, Mamak tetaplah kurang menaruh simpatinya kepada saya. Namun selama saya dekat dengannya, entah kenapa, sosok yang saya pikir antagonis itu justru saya rasa itulah diri saya kelak. Hingga akhirnya saya berpikir, terimakasih Tuhan, Engkau telah memperingatkan saya sekarang daripada terlambat nanti.

Sebetulnya cara itu bisa menjadi satu dari sekian cara Tuhan atau kita sendiri dalam mempersiapkan masa tua kita nanti. Meski umur saya masih 27 tahun, namun tidak ada salahnya kan kalau saya, atau mungkin Anda juga mempersiapkan diri kita untuk masa tua nanti. Aturan Tuhan yang membuat saya mengenal Mamak, membuat saya pun jadi mulai mempersiapkan karakter saya nanti di masa tua.

Dan jika Anda adalah tipe orang yang sibuk hingga tidak bisa merawat orangtua Anda sendiri, coba deh mulai dari sekarang Anda pikirkan apa hobi Anda saat ini yang bisa Anda tekuni nantinya di masa tua Anda. Atau jika Anda saat ini sedang merawat orangtua, coba deh untuk membuat kesibukan yang bisa membuat orangtua Anda pun bahagia.

Saya sendiri tahu, Ayah saya adalah orang yang suka sekali beraktivitas. Apalagi kalau yang ada hubungannya dengan bercocok tanam, berjualan, memelihara hewan, dan berbicara. Hehehe… yang terakhir itu kelihatannya aneh ya? Berkebalikan dengan Ibu yang malah jarang suka berbicara. Hobi Ibu adalah membuat kue.

Meski memang saat ini belum terwujud, tapi saya percaya bisa dan ingin sekali mewujudkan sebuah masa tua untuk kedua orangtua saya. Ingin rasanya nanti saya bisa memiliki sebuah rumah di lingkungan pedesaan yang memiliki tanah yang luas. Biarlah Ayah saya bisa memiliki aktivitas berkebun, memelihara ikan hias atau burung, dan memiliki kedai kecil yang menjual koran dan bensin!

Hehehe… yang terakhir itu adalah ide ibu saya. Memang, Ayah saya adalah orang yang ‘sangat ramah’ dengan orang lain. Pokoknya kalau ada orang yang bisa diajak berbincang-bincang atau berdiskusi, itulah orang yang bisa membuat Ayah saya merasa senang. Nah, sambil menjaga kedai itu, setiap ada orang yang membeli koran atau bensin, kan jadinya bisa jadi teman Ayah untuk diajak membicarakan paling tidak, apa sih berita utama hari ini? Itulah gambaran masa tua untuk Ayah yang begitu saya inginkan dan saya harapkan disukai oleh Ayah.

Sedangkan Ibu, biasanya adalah orang yang sangat mudah menyesuaikan diri. Saya rasa apapun aktivitas Ayah, Ibu bisa menunjang itu. Sementara saya, tetap beraktivitas di rumah saja. Tidak bekerja dengan orang lain adalah idaman saya saat ini dan nanti. Dengan kondisi seperti itu, saya bisa tetap menjaga kedua orangtua saya, juga terus menekuni dunia kepenulisan dan membuat kerajinan tangan.

Nah sekali lagi, apa hobi Anda saat ini? Syukur-syukur jika jawabannya bisa ada beberapa. Karena, dari sekian jawaban itu nantinya ada yang bisa Anda jadikan kegiatan untuk masa tua Anda nanti.

Slogannya kan tadi seperti itu, masa tua ada di tangan Anda. Kalau Anda terlalu sibuk sekarang apalagi untuk Anda yang bekerja dengan orang, dan tahu-tahu… Oow! Sudah tua ya?! Sudah waktunya pensiun ya?! Bingung sendiri kan?

Memangnya Anda mau merepoti anak-anak Anda dengan hanya diladeni dan terima jadi disuruh tenang, tiduran, bersantai, sampai Anda kecapekan bersantai karena sudah terbiasa workaholik? Iya kalau anak-anak Anda mau merawat Anda. Kalau mereka sendiri tidak mau memikirkan dan mengupayakan apa yang bisa membuat Anda bahagia, mau meminta tolong siapa?

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s