Arsip untuk April, 2009

30
Apr
09

Jajanan Enak untuk Dicicipi di Batam

Biarpun badan saya kurus dan ceking, tapi saya paling hobi dengan yang namanya wisata kuliner. Alias makan enak! Dan yang saya suka selama tinggal di Batam satu di antaranya adalah adanya makan enak yang jumlahnya sangat beragam. Apalagi ketika jadi wartawan mingguan selama di Tribun Batam. Wah… banyak kesempatan yang saya dapatkan untuk bisa mencicipi makanan enak! Pokoknya seluruh makanan se-Indonesia raya, pasti ada di Batam.

Nah untuk mengobati rasa kangen saya terhadap wisata kuliner di Batam, kali ini saya ingin bercerita tentang beberapa makanan enak ala versi saya sendiri selama di sana. Hehehe… namanya juga blog milik saya, jadi ya suka-suka saya mendaftar makanan apa saja yang menurut saya enak!

    • Roti Prata rasa pisang dan bubur tahu yang ada di Mitra Raya

      Inilah yang paling sering saya kangeni akhir-akhir ini! Soalnya dulu sebelum cabut dari Batam, saya hobi sekali mampir ke Pasar Mitra Raya untuk membeli Roti Prata rasa pisang untuk saya bawa sarapan ke Poltek saat kerja.

      Kalau mau tahu tempatnya, adanya di daerah pojok dekat pintu masuk utama Mitra Raya. Jadi ketika masuk pintu utama, silakan Anda belok kiri, dan di daerah pojok yang ramai penjualnya itulah terselip sebuah tempat di pojokan yang menjual empat macam roti prata. Ada roti prata kosong yang maksudnya tidak ada campurannya, isi telur, sarden, dan pisang.

      Saya sendiri memang suka sekali memesan yang rasa pisang. Soalnya, pisang yang digunakan ini sepertinya sudah tua sehingga ketika dimasak, keluarlah rasa manisnya. Rasa manis ini akan terasa enak di lidah karena bercampur dengan rasa pedas dari kuah kari roti prata tersebut. Meskipun si penjualnya ini orang Jawa, tapi entah kenapa rasa karinya bisa begitu pekat seperti ketika Anda mencicipi masakan berkuah kari yang ada di Little India, Singapura. Kalau Anda tergolong penyuka makanan pedas berasa pekat seperti saya, mungkin Anda akan suka roti prata yang ada di tempat ini!

      Kalau jalan ke Mitra Raya, saya juga punya daftar makanan buruan lainnya. Ada Bubur Tahu dan Roti Cakue. Untuk yang Bubur Tahu, sepertinya ini jadi ciri khasnya makanan orang Tionghoa di Batam deh, selain air soya atau air tahu. Bentuknya ya seperti bubur, cuma ini dari sari tahu yang telah diolah sedemikian rupa. Biasanya diletakkan di wadah mangkok plastik berpenutup dengan kuah air gula di dalam bubur tersebut. Rasanya manis, lembut di lidah, dan enak di pencernaan.

      • Teh Tarik dan Tom Yam Sea Food yang ada di sebelah Hotel Oasis

        Nama kedainya sebetulnya memang Teh Tarik. Tempat ini jadi favoritnya anak-anak Tribun Batam kalau sedang ingin nongkrong. Maklum, awal muasalanya kan anak-anak Tribun banyak yang tinggal di Lancang Kuning yang ada di dekat tempat ini. Jadinya tempat inipun jadi tempat favorit anak-anak Tribun. Hehehe… kalau di Tribun dulu sampai-sampai siapa sedang dekat dengan siapa, bisa ketahuan kalau kebanyakan nongkrong di tempat ini!

        Tempat ini juga jadi favoritnya Pak Ria Saptarika, Wakil Wali Kota Batam lho! Saya awalnya sempat kaget waktu tahu Pak Ria suka makan di tempat ini juga. Secara, tempat ini memang biasa dan nggak mewah. Letaknya pas di sebelah Hotel Oasis yang kini masih almarhum. Tempatnya itu di deretan ruko-ruko lama yang boleh dibilang tidak bagus lagi. Depan tempat ini malah ruli, alias rumah liar! Tapi karena si pemilik kedai meletakkan meja-meja di luar kedai, di tempat terbuka, jadi terasa nyamannya. Cuma kalau dipikir-pikir masalah kualitas makanan, tempat ini memang top markotop deh!

        Kalau saya dan beberapa teman dekat saya paling hobi dengan Tom Yam. Ada tiga macam Tom Yam yang ditawarkan di sini, Tom Yam daging, Tom Yam Sea Food, atau Tom Yam campur (ada daging ya juga seafood).

        Eits, ada yang belum tahu Tom Yam itu apa nggak ya? Soalnya, beberapa teman saya di Batam banyak juga yang tidak tahu Tom Yam itu apa. Hehehe… biar nggak malu, saya beri tahu deh sebelum terlambat. Tom Yam itu adalah sejenis sup ala Thailand. Isinya selain bisa berupa potongan daging, sotong, atau udang, Tom Yam ini juga dilengkapi dengan bumbu-bumbu yang khas. Ada serai, potongan cabai, irisan bawang bombay, dan bumbu-bumbu lainnya. Maaf karena saya lupa, mungkin Anda yang kurang tahu Tom Yam bisa mencari di internet deh untuk lebih lengkapnya.

        Yang membuat Tom Yam di tempat Teh Tarik ini enak adalah jenisnya yang nggak biasa ditawarkan di tempat bakul Tom Yam kebanyakan. Seingat saya ketika liputan kuliner dulu, memang ada dua macam Tom Yam di Thailand (kalau nggak salah Thailand sebelah utara dan selatan atau apa ya dulu?!). Tom Yam memang ada dua macam dari Thailand, yang berkuah merah atau berkuah bening. Nah, di tempat ini Tom Yam-nya yang berkuah bening.

        Tom Yam yang berkuah bening menurut saya lebih enak karena tidak banyak mengandung minyak. Jadi rasa hangat cenderung panas dari kuah Tom Yam ketika mengalir di tenggorokan itu memang asli dari bumbunya, bukan karena minyaknya.

        Kalau Anda sedang kedinginan karena cuaca atau sakit, tidak enak badan seperti demam, pilek, pusing, atau masuk angin, nah… coba saja Tom Yam yang ada di tempat ini. Dijamin, setelah makan, Anda akan langsung merasa kepala menjadi ringan, hidung terasa plong, dan badan jadi terasa segar karena bisa berkeringat.

        Makanan lain yang enak di tempat Teh Tarik ini juga masih banyak lho! Ada Nasi Prata, yaitu nasi goreng yang dibungkus dengan telur dadar. Ada juga Kwetiau Hongkong yaitu kwetiau yang dimasak dengan orak arik telur, campuran sayur, dengan sedikit kuah kental saat disajikan. Lebih enak lagi kalau Kwetiau Hongkong ini dimakan dengan kecap khusus yang diirisi cabai. Rasanya? Hm… antara sedikit manis, gurih, dan pedas yang enak banget!

        Buat yang suka pedas, masih ada lagi nih tantangan untuk mencoba Sotong atau Udang Asam Pedas. Rasanya memang benar-benar campuran antara asam dan pedas yang menggelegar banget! Soalnya, masakan ini terbuat dari sotong atau udang yang diberi kuah kental berwarna oranye kemerahan yang terasa pedas.

        Aneka seafood yang dimasak dengan bakar-bakaran atau rebus juga ditawarkan di tempat ini. Kerang, gonggong, aneka jenis ikan juga ada. Tapi satu menu yang nggak kalah seru di tempat ini buat saya adalah tentu saja Teh Tarik itu sendiri. Soalnya, Teh Tarik di tempat ini sepertinya bukan asal Teh yang dicampur dengan susu saja. Kalau saya rasa di lidah, rasa tehnya itu seperti menggunakan teh khusus yang dicampur juga dengan beberapa rempah-rempah. Mau diminum hangat atau dingin, atur saja deh. Soalnya sama enaknya!

          • Rujak Beubeuk di Seraya

            Yang namanya rujak beubeuk itu dulunya jadi jajanan masa kecil saya dulu ketika di Bekasi. Lama nggak makan, eh… bisa ketemu lagi ketika ada di Batam! Tempatnya ada di deretan penjual rujak yang ada di Seraya.

            Buat yang nggak tahu rujak beubeuk itu apa, rujaknya itu sebetulnya masuk dalam kategori rujak buah. Terkenalnya sih kalau nggak salah dari daerah Jawa Barat sana. Rujak ini berupa beberapa buah ditumbuk menjadi satu dengan bumbu kacang. Cuma yang membedakan, rujak beubeuk itu khasnya kalau ditambah dengan tumbukan daging jambu mede.

            Karena bumbunya jadi satu dan nggak sebanyak seperti rujak biasanya, hati-hati kalau memesan berapa cabai untuk dicampur di dalam tumbukan rujak beubek. Karena dua cabai saja, whuah… bisa pedas banget rasanya!

            Di Seraya ini memang aneka macam rujak sepertinya ada semua. Mau rujak buah, rujak serut, rujak beubeuk, sampai rujak cingur juga ada. Meskipun tempatnya di pinggir jalan yang susah banget untuk mencari tempat parkir (kalau pas ramai pengunjung) tapi siapapun pasti mengaku kalau suka nongkrong di tempat ini.

              • Lakse dan Roti Jale di pasar dadakan Tanjung Uma selama bulan Ramadan

                Setiap bulan puasa, saya selalu paling tidak menyempatkan diri satu kali datang ke pasar dadakan yang ada di pelantar Tanjung Uma. Ini pasar tua lho! Maksudnya, tradisi pasar dadakan ini memang sudah ada lama banget di Batam.

                Dulu kalau zaman di Tribun, wah… bisa sering banget menodong teman-teman untuk diseret (diajak, bahasa halusnya, hehehe…) cari makanan pembuka di tempat ini. Dan kebanyakan memang nggak ada yang menolak kok!

                Padahal secara tempat, walah… susah banget untuk mencapai tempat yang satu ini! Buat yang orang Batam tahu sendiri kan, jalan daerah Tanjung Uma itu naik turun curam dan berbelak-belok. Belum lagi kalau pas puasa. Duh, banyak banget kendaraan ke daerah ini demi ya itu tadi, ke Pasar Pelantar Tanjung Uma.

                Kalau yang belum tahu tempatnya, ikuti jalan utama saja di Tanjung Uma sampai menemukan daerah pelantar. Tenang… nggak usah takut tersesat… banyak temannya kok yang akan ke sana (alias ya masyarakat Batam yang ingin ke pasar itu). Saran saya sih, lebih baik naik motor saja. Soalnya biar nggak susah-susah kalau akan parkir nanti. Jika naik mobil, siap-siap lama di jalan saja deh! Padahal, pasar yang sudah buka mulai sekitar jam tiga sore ini ramai-ramainya justru antara jam empat sampai jam lima. Bayangkan saja padatnya kendaraan motor dan mobil di jalan yang lebarnya hanya cukup untuk pas dua mobil berdempetan saja itu!

                Ada alternatif cara lagi sih, yaitu naik sampan. Cari atau tanya-tanya saja di mana pelabuhan rakyat, pelabuhan sampan, atau pelabuhan kecil yang ada di belakang ruko di daerah seberang hotel Novotel, dekat pasar Jodoh. Nantinya ada pelabuhan rakyat yang sampan-sampan kecilnya siap mengantar Anda langsung ke pasar pelantar. Jadi, motor atau mobil Anda bisa diparkir di sekitar pelabuhan kecil itu.

                Bagi Anda yang suka aneka seafood bakar, tempat ini surganya! Mau ikan pari bakar, aneka ikan laut bakar, sotong bakar, ada semua! Ikannya segar-segar lho! Meskipun kondisinya sudah mati, tapi terhitung hasil tangkapan baru para nelayan di sana. Karena banyak penjual seafood bakar di tempat ini, dan Anda sedang puasa, ehem, hati-hati tergoda deh! Karena aroma bakarnya itu sangat menggoda iman!

                Yang seru dari tempat ini kalau menurut saya adalah segala makanan Melayu yang bisa saya dapatkan di tempat ini. Maklum, saya pecinta berat makanan Melayu sih! Mau kue epok-epok (kue seperti pastel namun berisi adonan kentang dengan rasa campuran gurih dan cenderung pedas), kotu piring (sejenis kue putu kalau di Jawa, namun ini bentuknya pipih, dan berisi gula di dalamnya), serta Lakse dan Roti Jale, ada semua di sana!

                Lakse di tempat ini beda benget dan bukan yang maksudnya Lakse Singapura lho ya! Laksenya itu khas ala Pulau Penyengat Tanjungpinang. Bentuknya seperti mi tapi asalnya dari tepung sagu yang kemudian dicetak bulat-bulat diletakkan di atas daun pisang. Cara makannya menggunakan kuah kari yang khas karena ada daun kesum-nya. Daun kesum itu kadang disebut juga daun kari, sejenis daun yang memang digunakan untuk campuran aneka kuah makanan kalau di Melayu. Di dalam kuah ini kadang ada juga potongan daging sapi atau ayam dan kentang di dalamnya.

                Saudaranya Lakse ini adalah Roti Kirai. Kuahnya kadang dibuat sama sih walapun kalau aslinya orang Melayu yang membuat, sebetulnya beda. Roti Jale alias Kirai kadang orang menyebutnya, itu berupa adonan tepung yang dimasak dengan cara tertentu. Adonan yang sudah dibuat, diambil dengan menggunakan cetakan khusus (bentuknya seperti sendok besar yang di bawahnya ada beberapa lubang), lalu dituang di wajan secara acak yang sudah diberi sedikit minyak. Caranya mirip kalau kita memasak untuk kulit kue lumpia basah yang hijau itu. Cuma kalau Roti Jale, setelah kita menuang adonan di wajan, harus kita lipat jadi empat dulu.

                Hiks, sayangnya meski sebelum cabut dari Batam saya sudah menyempatkan diri membeli cetakannya, saya masih belum pernah membuat roti yang satu ini. Habisnya, mana seru roti jale tanpa kuah kari dengan daun kesum?! Cari daun kesum di Jawa nggak ketemu sih! Kemarin sebelum pulang, juga lupa bawa bibit daun kesumnya!

                Nah, karena pasar ini tergolong pasar yang memang tradisional, jangan dibayangkan tradisionalnya seperti pasar Batu Aji atau Pasar Jodoh ya. Soalnya tempatnya memang desak-desakan dan tradisional banget. Jadi diharapkan untuk para wanita, jika datang ke tempat ini, jangan pakai hak tinggi atau baju yang cantik-cantik dan parfum yang harum. Dijamin, keluar dari sana, baju bisa kusut semua, dan parfum baru pun bisa melekat sempurna. Apalagi kalau buka aroma ikan bakar!

                Eits, jangan tertawa ya kalau saya menulis tentang tadi. Soalnya kasusnya memang benar-benar ada. Saya pernah mengajak beberapa teman kos saya ke sana. Meskipun sudah diwanti-wanti untuk nggak usah tampil cantik, tetap saja mereka pikir, “Halah, paling ya seperti Pasar Mitra Raya!” Hingga setelah saya saya ajak ke sana, mereka pun langsung kapok dan nggak mau lagi saya ajak. Jadi catatan tambahannya, pasar ini memang hanya untuk mereka yang wisatawan kuliner sejati!

                  • Sotong Asam Pedas di warung Sedep Marem depan Rusun Lancang Kuning

                    Yang namanya sotong memang makanan berat favorit saya. Entah karena memang saya hobi, atau karena kalau dalam bahasa Jepang kata ika itu berarti sotong ya? Hehehe…

                    Lagi-lagi saya paling hobi kalau ditawari makan sotong apalagi sotong asam pedas. Eits, tapi asam pedasnya dengan catatan cuma ada di Kedai Teh Tarik sama di tempat yang satu ini nih! Namanya warung Sedep Marem yang letaknya ada di jalan seberang Rusun Lancang Kuning. Karena kalau pesan makanan di tempat ini kita harus sabar menunggu, saya dengan teman-teman Tribun sih malah menjuluki tempat ini SM, bukan Sedep Marem, tapi Sabar Menanti!

                    Sotong Asam Pedas di tempat ini jadi idola saya karena campuran bumbunya yang menggunakan bumbu kunyit untuk merendam ayam penyet. Kalau di lidah, rasanya itu gurih-gurih enak karena adanya ketumbar di dalam campuran bumbunya. Selain, rasa pedas dan sedikit manis dari kuahnya yang kental dan panas menggelegak waktu disajikan! Hm…

                      • Ayam Penyet di Nagoya

                        Sebetulnya saya sendiri baru satu kali sih mencoba makan di tempat ini. Tapi dari segi rasa, pas banget di lidah! Ayam penyet ini adanya di warung tenda yang ada di seberang Gedung Wisma Sulaiman Nagoya. Eh sebentar, benar nggak sih nama tempatnya? Itu lho, tempat di deretan dekatnya Nagoya Hill, lalu di daerah seberangnya.

                        Nah, di situ kan ada deretan warung tenda yang menjual ayam penyet tuh, ada satu tempat kalau tidak salah di sebelah paling pinggir dari deretan warung tenda itu. Yang membuat ayam penyet di tempat ini enak sih menurut saya ada di sambalnya. Soalnya, sambalnya itu dicampur dengan bumbu untuk merendam ayam sebelum akan digoreng.

                        Yang namanya bumbu untuk diresapkan ke ayam goreng kan biasanya menggunakan campuran kunyit dan ketumbar, nah… di situlah muasal rasa enaknya. Sambal yang dicampur itu pun jadi terasa lebih enak dan gurih di lidah.

                          • Nasi Uduk dan Bebek Penyet di Simpang Frengki

                            Ini satu lagi warung tenda pinggir jalan favorit saya. Tempatnya itu ada di Simpang Frengki, daerah Batam Centre. Yang membuat enak dari segala masakan penyet (ayam, bebek, tahu, tempe, dan lele) di tempat ini adalah karena kita bisa memilih nasi uduk sebagai nasi utamanya.

                            Tahu sendiri kan, nasi uduk itu kan rasanya gurih karena adanya cmpuran santan waktu memasaknya. Jadi ketika digunakan untuk makan, lidah pun bisa bergoyang keenakan. Pokoknya bisa-bisa nggak terasa deh kalau habis banyak!

                            Buat saya, yang paling enak di tempat ini adalah bebek gorengnya. Hm… bumbunya itu terasa meresap sampai ke dalam dagingnya. Ditambah lagi, daging bebek itu kan lebih gurih jika dibandingkan daging ayam. Apalagi kalau cuma ditanding dengan daging ayam negeri.

                              • Mi Lendir Nagoya

                                Namanya itu memang Mi Lendir. Ehem, cuma karena banyak yang risih dengan istilah itu, ada juga yang menyebutnya mi kuah. Mi ini bentuknya berupa mi kuning yang berbumbu kuah kacang pekat dengan diirisi potongan cabai hijau. Jangan takut kepedasan, karena irisan cabai hijaunya itu cuma diletakkan di pinggir piring saja kok!

                                Nah, sekarang yang agak repot itu cerita di mana tempatnya! Patokannya begini saja deh, cari saja Hotel Sari Jaya yang ada di dekat area belakang Gedung Dana Graha, atau belakang ruko yang ada di seberang Lippo Bank Nagoya. Nah, di situ kan banyak ruas-ruas jalan tuh. Anda cari saja daerah belakangnya ruko seberang Lippo Bank yang berseberangan dengan Hotel Sari Jaya. Catatan tambahan, banyak tolah toleh ke sana sini saja deh untuk mencari tempat ini. Terselip banget sih tempatnya!

                                Kenapa kok mi lendir di tempat yang terselip ini saya bilang enak? Soalnya rasanya bisa agak ditandingi dengan mi lendir yang ada di Jalan Pos Tanjungpinang. Cuma bedanya, mi lendir yang ada di Jalan Pos Tanjungpinang itu memang sudah tersohor dari zaman dulu.

                                  • Soto Medan di Batam Centre dan Nagoya

                                    Soto Medan yang ada di tempat ini juga tersohor karena sudah ada di Batam dari zaman masih hutan belantara! (hehehe… terlalu belebai kalau orang Melayu bilang!) Asal muasal tempatnya sih di ruko yang ada di deretan kantor pos Nagoya (dekat Nagoya Hill). Tapi, si Ibu yang empunya rumah makan yang asli orang Jawa Medan ini, beberapa tahun yang lalu, juga buka cabang di Batam Centre. Tempatnya di seberang Mpek-mpek Pak Raden, atau di deretan Warung Resto Kediri.

                                    Kalau menurut saya sih, Soto Medannya itu pas banget di lidah saya. Nggak terlalu eneg, ada gurihnya, ditambah lagi campuran jeroan dan daging di dalam kuah santan sotonya. Bah, Soto Medan kali lah!

                                      • Gulai Kepala Ikan seberang BCM Batam Centre

                                        Tempat ini saya tahu gara-gara teman saya di Poltek, Ici. Karena dia orang Minang sejati, jadinya tahu di mana makanan Minang yang memang khas ala lidahnya orang Minang! Tempatnya itu ada di seberang BCM, deretan kantor pos yang ada di seputaran Batam Centre.

                                        Yang paling enak dari tempat ini adalah Gulai Kepala Ikannya. Mm, kalau nggak salah pakai ikan patin ya? Yang jelas, buat Anda yang suka iseng dan telaten makan kepalanya ikan, memecah bagian demi bagian kepala ikan dan menyesapnya, menemukan secuil daging di kepalanya ikan yang khas rasa gurihnya, hm… inilah tempat yang cocok untuk Anda, penyuka kepala ikan! Apalagi untuk Anda yang benar-benar menyadari adanya kandungan omega di kepalanya ikan, bodo teuing deh kalau orang Sunda bilang! Alias, nggak peduli meskipun makannya agak-agak repot seperti orang kurang kerjaan (lha wong dagingnya ikan saja enak makannya, nggak susah-susah!) yang penting bisa dapat kandungan omega-nya si ikan!

                                        Eit, masih ada lagi, kuahnya itu lho yang enak di lidah! Rasa gurihnya pekat, khas berasa ikan dengan tentu saja rasa gurih yang berasal dari santan yang kental.

                                          • Nasi Goreng Kambing dan Mi Kuah di Rumah Makan Aceh dekat pintu masuk Citra Batam

                                            Namanya saja makanan khas Aceh, tentu saja tidak lepas dari yang namanya bumbu-bumbu khas yang bisa membuat masakan menjadi sedap. Makanya, kalau Anda mencoba makan di Rumah Makan Aceh yang ada di dekat pintu masuk Komplek Citra Batam, pasti bisa merasakan rasanya makanan yang menggunakan bumbu khas Aceh.

                                            Di tempat ini, saya paling suka dengan nasi goreng kambing atau mi kuahnya. Karena ya itu tadi, masakannya itu terasa tidak hanya menggunakan bumbu kebanyakan saja. Kalau nasi gorengnya, karena khas Aceh, dia disajikan dengan acar irisan bawang dan cabai utuh, lalu campuran kacang tanah dan teri goreng.

                                            Untuk Mi Kuahnya juga enak banget lho! Soalnya terasa pekat banget bumbunya. Yah, namanya saja ala khas Aceh! Selain itu, mi-nya juga dibuat khusus mi Aceh, bukan mi kuning biasa. Nah, perpaduan antara mi yang dibuat sendiri khas Aceh dan bumbu pekatnya itulah yang membuat mi kuah di tempat ini enak dab beda banget dengan mi kuah kebanyakan.

                                              • Bubur Ayam dan Air Soya di Morning Bakery Nagoya

                                                Ini tempat favorit saya dengan dua sohib saya, Tari dan Uul. Kalau kami sedang kumpul (karena Uul ada di Karimun), kami sering makan pagi di tempat ini. Menu kami yang kompak adalah bubur ayam. Buburnya menggunakan irisan cakue, campuran kacang tanah, dan teri.

                                                Kalau di tempat ini, saya paling hobi untuk minum air soya, alias air tahu. Mau diminum hangat atau dingin, sama enaknya!

                                                  • Ayam Rica-rica di Food City Mega Mall

                                                    Untuk urusan makan, saya jarang menyukai makanan di mall. Soalnya versinya itu kebanyakan, dan rasanya nggak ada yang sampai bisa melekat di lidah untuk membuat saya kangen. Tapi ternyata, pertahanan lidah saya runtuh waktu pernah mencicipi Ayam Rica-rica yang ada di Food City Mega Mall.

                                                    Sekali lagi karena saya suka sekali makanan pedas, makanya saya juga hobi dengan Ayam Rica-rica. Tahu sendiri lah, ayam ini bisa terasa istimewa karena dimasak dengan kuah pedas khas cabai. Belum lagi irisan agak halus dari cabai yang dicampur di kuahnya. Pokoknya pedas dan enak banget buat lidah saya!

                                                      • Batagor Mamang yang ada di BCM

                                                        Seumur-umur saya mencicipi batagor, saya cuma paling merasa cocok dengan batagornya Si Mamang yang berjualan di BCM. Mungkin karena yang buat juga orang Sunda asli ya? Soalnya jika masakan suatu daerah dimasak oleh orang yang memang asli dari daerah masakan tersebut, rasanya memang lebih enak terasa.

                                                        Batagor di tempat Mamang ini enak di lidah saya karena bumbunya yang kental tapi tidak terlalu manis sehingga eneg di lidah dan perut, serta masih terasanya rasa gurih. Pokoknya rasanya bisa pas semua deh di lidah saya.

                                                        Sayangnya di saat-saat terakhir saya ada di Batam, saya sering tidak mendapati si Mamang berjualan lagi di BCM. Ngomong-ngomong ada yang tahu nggak ya, si Mamang pindah ke mana?

                                                          • Martabak Sari Eco

                                                            Kalau orang di Jawa yang biasa berjualan martabak kebanyakan lalu berjualan di Batam atau Tanjungpinang, saya tebak mungkin tidak laku. Soalnya, martabak di Batam terkenal tebal-tebal dengan isi yang nggak nanggung! Misalnya saja Martabak Sari Eco.

                                                            Waktu saya tahu pertama kali martabak ini, whuih… kaget juga waktu tahu bagaimana si penjual menaburkan kacang atau memarut balokan keju. Nggak tanggung-tanggung tebalnya! Teman saya yang dari Jawa saja dan beberapa temannya dari daerah lain waktu saya belikan martabak Sari Eco (sewaktu acara kongres nasional PMII), sampai kaget. Kok tebal begitu ya?

                                                            Sebetulnya bukan Martabak Sari Eco saja sih yang seru. Banyak juga kok penjual martabak di pinggir jalan yang lain yang nggak kalah enaknya menawarkan martabak buatannya. Ada yang isinya jagung, pisang, (selain kacang, cokelat, dan keju yang sudah biasa) atau campuran di antara itu.

                                                            Cuma… untuk mereka yang kurang suka cita rasa yang terlalu legit, mungkin agak eneg sewaktu makan martabak yang konon yang punya mereka ‘ala bangka’ ini. Kenapa disebut ‘ala bangka’? Soalnya ya karena tebal martabaknya itu kali ya yang ‘ala bangka’…

                                                              • Kek Pisang Vila

                                                                Kalau di Jawa Barat menjagokan brownies untuk oleh-oleh, di Batam ada Kek Pisang Vila lho! Namanya saja kek, bentuknya yang memang berupa roti kek. Cuma, ada rasa-rasa pisangnya kalau kita makan. Soalnya, kek ini memang dibuat dari campuran pisang di adonannya.

                                                                Rasanya juga macam-macam. Ada yang rasa cokelat, keju, buberry, dan lain-lain. Kalau nggak salah sih memang banyak banget jenisnya. Rasanya bisa terasa banget di mulut, baik pisangnya, maupun bahan campuran tambahannya.

                                                                Kalau mau mencari Kek Pisang Vila yang dikelola oleh Pak Deni dan Bu Silvi ini cukup mudah kok. Tempatnya ada di sebelah Nagoya Plaza, di Batam Centre deretan Resto Kediri, di Penuin sebelum arah ke Tua Pek Kong Windsor, dan juga di ruko bagian depan Villa Muka Kuning (ini tempat paling asal dari Kek Pisang Vila).

                                                                  • Rujak Cingur dan Pecel di Pasar Mitra Raya

                                                                    Seumur-umur makan rujak cingur dan pecel, saya baru merasa cocok dengan rasa dan harganya ya di tempat ini. Nama tempatnya sih Rumah Makan Jawa. Adanya di bilangan Pasar Mitra Raya Batam Center.

                                                                    Untuk yang biasa makan rujak cingur dan pecel ala Jawa Timur-an, mungkin sepakat deh dengan saya tentang tempat ini. Soalnya cita rasa rujak dan pecelnya itu memang terasa Jawa Timur-an banget! Maklum, yang membuat memang asli orang Jawa Timur (saya lupa si ibu itu dari daerah mana).

                                                                    Kalau untuk urusan rujak cingurnya, cara menawarkannya sama dengan di daerah saya, Lamongan. Mau rujak cingur yang seperti apa, buah, sayur, atau campur? Lalu untuk urusan petisnya juga terasa khas deh kalau itu buatan dari Jawa. Tak lupa, cingur alias mulutnya sapi dan kulit sapi yang jadi ciri khas utamanya.

                                                                    Sedangkan untuk pecelnya, juga sesuai banget dengan lidah saya yang orang Jawa Timur. Bumbunya itu agak-agak pedas, dengan peyek yang rasanya khas untuk pelengkap makan pecel.

                                                                    Hehehe… cuma karena sekarang saya hampir tiap hari bisa makan rujak cingur di Lamongan, jadinya ya untuk makanan yang satu ini saya nggak kangen lagi. Lha wong di sini ketemu biangnya rujak cingur dan pecel tuh…!!!

                                                                    Nah, itu tadi sederetan makanan yang enak (sekali lagi kalau menurut saya lho ya) yang ada di Batam. Pokoknya, yang namanya Batam itu bisa jadi tempat untuk wisata kuliner yang seru juga kok! Yah, nggak kalah serunya dengan Jakarta atau Bandung…

                                                                    22
                                                                    Apr
                                                                    09

                                                                    Bukan Aku

                                                                    “Anak-anak mohon perhatiannya! Kali ini terpaksa pelajaran kita tunda terlebih dahulu. Ibu minta kepada kalian semua untuk sementara keluar kelas sekarang juga, kecuali Nanda,” seru Bu Guru yang membuat kami jadi saling berbisik-bisik.

                                                                    “Wah, ada masalah apa nih?!” bisikku pelan sambil dag dig dug khawatir. Biasanya kalau Bu Guru seperti ini, pasti ada sesuatu yang sangat penting.

                                                                    “Kamu kan yang mengambil uang Nanda?!” tiba-tiba Fara berseru dan menunjuk ke arahku.

                                                                    “U… ang?!” aku tergagap kebingungan.

                                                                    “Iya, uang Nanda hilang! Pasti kamu lagi kan pelakunya? Ayo mengaku!” ganti Rio menuduhku.

                                                                    Aku menjadi bingung. “Aku benar-benar tidak tahu,” jawabku sudah dengan setengah menangis. Sungguh, aku bingung. Rio dan Fara menanyai uang Nanda kepadaku dengan nada marah. Suara keras mereka membuat beberapa teman-teman yang lain jadi ikut mengerubungiku.

                                                                    “Hei teman-teman, kalian tahu nggak? Di dalam kelas, Bu Guru dan Nanda itu sebetulnya sedang memeriksa tas-tas kita sekarang ini. Uang Nanda hilang tadi,” ganti Dea yang berkata dengan nada keras yang membuat semua teman jadi langsung melihat ke arahku.

                                                                    “Iya, lagipula kan ada pepatahnya. Sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tidak akan percaya. Kalian pasti juga menebak pelakunya itu adalah Ayu kan?” kali ini Fara yang bicara.

                                                                    Kini air mataku sudah tidak dapat kutahan. “Bukan aku… Aku benar-benar tidak tahu apa-apa…”

                                                                    “Sudahlah, kamu mengaku saja! Pasti uang itu juga akan ditemukan di tas kamu!”

                                                                    “Atau kalau tidak, pasti sudah habis dipakainya jajan tadi!”

                                                                    Aku langsung menutup mata dan menangis ketakutan. “Bukan aku… bukan aku…”

                                                                    “Hei, ada apa ini. Ayo kalian semua, masuk ke dalam. Ibu ingin bicara dengan kalian,” tiba-tiba terdengar suara Bu Guru yang seketika menyelamatkanku.

                                                                    Namun beberapa tangan terasa masih sesekali mendorong tubuhku. “Huh, dasar pencuri!”

                                                                    “Anak-anak, hari ini uang dagangan orangtua Nanda yang ia bawa hilang. Tadi Ibu sudah memeriksa kelas kalian namun tidak ada. Jadi Ibu ingin tanya dan minta kejujuran dari kalian, siapa yang sudah mencuri uang Nanda? Atau, Ibu tunggu kejujuran kalian sampai besok.”

                                                                    “Iya tuh Bu, Ayu nggak mengaku! Padahal kami sudah mendesaknya mengaku tadi,” seru Rio.

                                                                    Sekali lagi aku langsung menggeleng kuat-kuat sambil terisak-isak.

                                                                    “Sudahlah, lebih baik kita teruskan pelajaran yang sudah tertunda,” ujar Bu Guru melerai.

                                                                    Saat usai pelajaran, aku langsung mendekati Nanda. Rasanya tidak enak jika ia juga menuduhku.

                                                                    “Nda, aku ikut menyesal atas uangmu yang hilang. Maaf, tapi aku memang tidak mengambil uangmu itu. Aku dulu memang pernah mencuri uang Fara. Tapi jujur, aku tidak terpikir lagi untuk melakukan itu. Waktu itu aku khilaf,” ujarku pada Nanda.

                                                                    Nanda menatapku tajam. “Yu, kita kan sama-sama dari orang yang kurang berada. Kamu tahu kan, uang sebesar itu besar artinya buat kita. Kalau sampai hilang, entah bagaimana aku harus bicara pada orangtuaku,” terang Ayu dengan nada menuduh.

                                                                    “Hei sudahlah,” tiba-tiba Dafa, ketua kelas kami, sudah ada di sebelahku. “Maaf, dari tadi aku perhatikan semua orang jadi saling menuduh. Ayu memang pernah salah. Tapi bukan berarti kalau ada kejadian seperti ini lagi pelakunya itu Ayu. Menurutku bagaimana kalau kita lebih baik mencari tahu, siapa yang telah mencuri uangmu Yu,”

                                                                    Aku dan Nanda lalu menggangguk setuju.

                                                                    “Ayo kita runut, hari ini tempat-tempat mana saja yang sudah kamu lewati?” tanya Dafa.

                                                                    “Tadi sebelum berangkat sekolah, bapakku memberikan uang seratus ribu untuk memintaku membayarkan hutangnya ke seseorang. Lalu aku berangkat ke sekolah, tapi mampir dulu ke pasar untuk menitipkan kerupuk buatan ibuku ke tempat langganan kami biasanya. Setelah itu, ya aku berangkat ke sekolah. Sewaktu akan jajan di kantin, aku baru sadar kalau uang itu tidak ada,” terang Nanda.

                                                                    “Hm… jadi kalaupun ada teman kita yang sudah mencurinya, berarti ia telah mengambilnya sewaktu sebelum masuk, atau ketika pelajaran sedang berlangsung,” gumam Dafa.

                                                                    “Tapi Nanda, bukankah tadi kamu datang ke sekolah tepat ketika bel sudah berbunyi?” tanyaku.

                                                                    “Iya, itu memang benar,” jawab Nanda.

                                                                    “Sebentar, uangnya kamu letakkan di mana?” Dafa menyelidik.

                                                                    “Di dompet. Cuma anehnya, tidak semua uangku yang hilang. Hanya selembar uang seratus ribu itu saja yang tidak ada,” ujar Nanda.

                                                                    “Masih ada berapa lagi uang di dompetmu? Pecahannya berapa saja?” Dafa bertanya beruntun.

                                                                    “Tinggal dua belas ribu. Dua lembar uang seribu, dan satu lembar uang sepuluh ribuan.”

                                                                    Tiba-tiba terlintas pikiran dalam benakku. “Maaf Nda, atau mungkin kamu telah keliru mengeluarkan uang? Soalnya, pecahan sepuluh ribu dan seratus ribu kadang terlihat hampir mirip.”

                                                                    “Ah iya, kamu bisa jadi benar juga, Yu. Apakah mungkin ketika di pasar tadi kamu telah salah mengeluarkan uang?” tanya Dafa.

                                                                    “Aduh, apa mungkin begitu ya? Soalnya tadi ketika di pasar, aku memang sekalian menagih uang kerupuk yang kemarin kutitipkan. Karena orangnya tidak punya uang pas, maka aku harus mengeluarkan uang sepuluh ribu untuk kembaliannya,” ujar Nanda panik.

                                                                    “Tapi kalau memang benar seperti itu, kenapa orang itu tidak mengingatkan Nanda,” aku malah menjadi bingung dan ikutan panik. Aduh, kalau benar begitu, lalu bagaimana dengan uang Nanda?

                                                                    “Sudahlah, lebih baik kita ke pasar sekarang. Kira-kira orangnya masih berjualan di pasar nggak ya?” tanya Dafa kepada Nanda.

                                                                    “Sepertinya masih. Apakah kalian mau menemaniku?” pinta Nanda pada kami.

                                                                    Aku dan Dafa saling berpandangan dan mengangguk. “Mau,” jawab kami berdua.

                                                                    Bergegas kami pun segera berangkat ke pasar. Benar saja, sesampainya di sana, bapak yang dititipi kerupuk oleh Nanda langsung mengeluarkan uang milik seratus ribu milik Nanda.

                                                                    “Ah, untung kau datang. Tadi siang Bapak baru sadar kalau uangmu ternyata seratus ribu. Bapak pikir biar besok saja kalau kamu ke sini lagi, uang ini akan Bapak kembalikan,” ujar Bapak tersebut.

                                                                    Kami bertiga langsung bernafas lega. “Ah, terimakasih banyak Pak. Kalau tidak, entah bagaimana saya harus membayarkan hutang Bapak saya ke seseorang,” ungkap Nanda lega.

                                                                    Aku pun langsung ikut tersenyum lega karena telah membantu temanku untuk menemukan uangnya yang hilang. Selain itu, berarti tidak ada lagi yang menuding jika akulah pencuri uang Nanda.

                                                                    “Nah Yu, sekarang terbukti, memang bukan kamu pencurinya,” Dafa menepuk bahuku.

                                                                    “Iya Ayu, aku benar-benar minta maaf. Besok, akan aku ceritakan hal ini semua kepada teman-teman di kelas. Kamu memang bukan pencurinya. Malah, kamu dan Dafa telah membantu saya. Terimakasih yah,” Nanda tersenyum kepadaku.

                                                                    22
                                                                    Apr
                                                                    09

                                                                    Sandal yang Tersembunyi

                                                                    “Tasya… ayo sarapan dulu!” suara mama terdengar nyaring memanggilku, membuatku urung melangkah ke luar rumah.

                                                                    “Aduh Mama ini, nggak seru!” sungutku. Tapi, akhirnya aku menurut juga. Yah, daripada nantinya aku tidak punya energi untuk rapat dengan teman-teman baruku itu, lebih baik aku sarapan dulu deh. Hehe, mungkin kalian tersenyum mendengarnya, kok pakai istilah rapat segala?!

                                                                    Iya nih teman-teman, aku saat ini sedang punya masalah setiap shalat maghrib di masjid dekat rumah kakekku. Ceritanya begini, sudah tiga hari ini aku sedang berlibur di tempat kakek dan nenekku. Nah, setiap kali aku shalat maghrib, selalu saja sandalku hilang satu. Sebetulnya cuma disembunyikan. Tapi, itu cukup mengesalkanku! Masa setiap habis shalat, aku harus selalu sibuk mencari dulu sandalku ke mana-mana sih?!

                                                                    Hari pertama, sandalku yang berwarna merah jambu. Uuh, rasanya waktu itu sudah ingin menangis saja waktu tahu sandal kesayanganku itu hanya tinggal satu. Sewaktu sudah coba mencari ke sana ke sini, ketemu juga akhirnya di atas genteng sekolahan. Memang, posisi masjid di tempat nenekku itu lebih tinggi dari gedung sekolah yang ada di sebelahnya.

                                                                    Nah, sejak itu aku pikir, mungkin ada orang yang ingin usil terhadapku. Karena kalau dia memang ingin jahat, pasti sandalku akan diambilnya semua, bukan disembunyikan salah satunya saja.

                                                                    Akhirnya di hari ke dua, aku berangkat shalat dengan menggunakan sandal jepit milik Kak Tiwi, kakak sepupuku. Eh usai shalat, ternyata salah satu sandalku itu disembunyikan lagi. Kali ini, sandalku disembunyikan di undak-undakan tangga masjid paling bawah, di tempat shalat pria. Rasanya kesal dan gemas banget! Untungnya ada teman-teman baruku yang selama ini selalu membantu mencari sandal yang disembunyikan oleh orang usil itu.

                                                                    “Hei Tasya, kalau makan jangan dikulum terus! Nanti kalau nasi di dalam mulutmu kemudian jadi lem bagaimana hayo?” seru Kak Tiwi, kakak sepupuku memperingatkanku sambil bercanda. “Tuh, Yanti, Novi, dan Andik sudah menunggumu di luar.”

                                                                    Langsung saja kupercepat acara makanku. Ah, ternyata aku sudah makan terlalu lama gara-gara sibuk memikirkan masalah sandalku itu! Jadi penasaran, siapa ya orang usil itu? Dan kenapa ia berbuat seperti itu ya?

                                                                    “Teman-teman, kita rapat dulu yuk sekarang,” ajakku pada teman-temanku yang sudah menunggu di teras rumah kakek.

                                                                    “Oh iya ya, sampai lupa aku!” Novi menepuk dahinya. “Jadi, apa nih rencana kita agar sandalmu tidak jadi sasaran si pelaku usil itu?”

                                                                    “Bagaimana kalau sandalnya dimasukkan ke dalam kantong plastik, lalu kamu bawa saat shalat,” usul Yanti.

                                                                    “Aduh, nanti dikira orang, aku ini anak kota yang sombong. Masa sih, semua orang meletakkan sandalnya di tangga masjid, sedangkan aku membungkus sandalku lalu membawanya shalat?”

                                                                    “Atau, tunggui saja sandalmu sampai waktu shalat akan dimulai,” saran Andik.

                                                                    “Ah, bisa capek dan tidak khusyuk kalau harus menunggui sandal melulu. Tasya nantinya jadi harus shalat terlambat, dan juga menyelesaikan shalatnya dengan terburu-buru,” sanggah Yanti.

                                                                    “Ya sudah, kalau begitu berangkat ke masjidnya nggak usah pakai sandal saja!” sahut Novi.

                                                                    Langsung saja, aku, Andik, dan Yanti jadi melotot ke arah Novi. “Nov, punya ide yang lebih bagus lagi nggak sih?!” dengan gemas, Yanti mencubit gemas pipi tembam Novi.

                                                                    “Begini saja, adikmu kan suka bermain di luar masjid saat waktu shalat. Kita minta tolong dia saja untuk menjadi mata-mata. Jadi, kita bisa tahu, siapa sih sebenarnya orang yang suka iseng menyembunyikan sandalmu itu,” saran Yanti.

                                                                    “Nah, itu lebih asik. Jadi, aku kan bisa santai membawa sandal dan meletakkannya seperti biasa. Selain itu, aku kan jadi tidak perlu lagi mencari-cari di mana sandalku disembunyikan,” ucapku.

                                                                    Yanti, Andik, dan Novi pun mengangguk-angguk tanda setuju.

                                                                    Saat maghrib tiba, akhirnya rencana itu aku jalankan. Yah, daripada Lina, adikku itu sibuk bermain di waktu shalat, lebih baik aku titipi sandalku saja untuk diawasi. Tapi… tahukah teman-teman, laporan apa yang aku dapatkan dari adikku itu?

                                                                    “Kakak, sandalnya sekalang sudah Lina kembalikan lho!” lapor adikku yang masih belum genap berumur empat tahun dan belum fasih mengucap huruf R itu.

                                                                    “Lho, maksudnya apa Lin?”

                                                                    “Iya, kalau kemalin-kemalin kan Lina pakai main petak umpet sandal dengan teman-teman. Tapi sekalang, sudah Lina dan teman-teman kembalikan lagi kok. Tuh, di sana,” tunjuk Lina ke arah posisi sandalku yang memang sebelum shalat tadi sudah kuletakkan di tempat itu.

                                                                    “Ha, jadi selama ini Lina yang menyembunyikan sandal kakak?” seruku kaget.

                                                                    “Bukan Lina sembunyikan Kak… Tapi, Lina buat mainan,” bantah Lina.

                                                                    “Ya sama saja! Intinya, kamu kan kan pelaku usil itu?!” bentakku pada adikku itu karena rasa kesal dan malu. Jadi, selama ini adikku sendiri yang suka usil?!

                                                                    “Sudahlah Tasya, yang penting sekarang adikmu sudah mengaku. Tapi sebentar, sebetulnya kenapa Lina melakukan itu kemarin-kemarin? Kan kakakmu jadi bingung mencari-cari sandalnya terus setiap habis shalat?” tanya Andik dengan ramah pada adikku.

                                                                    “Habisnya, teman-teman Lina nggak mau pakai sandal lain. Takut dimalahin olang nantinya. Jadinya, Lina pakai sandal kakak saja. Tapi kemalin, Lina lupa bilang dan lupa menaluh lagi di tempatnya semula. Teyus kalau yang kemalinnya lagi, ada teman Lina yang menyembunyikannya di atas genteng sekolah sambil dilempal. Jadinya, kami semua nggak ada yang bisa ambil lagi,” jawabnya polos.

                                                                    “Hahaha…” Andik, Yanti, dan Novi yang berdiri di belakangku langsung tertawa terbahak-bahak.

                                                                    Aku langsung menggeleng-gelengkan kepala. “Huuh! Tapi, kenapa pas kemarin kakak mengeluh masalah sandal, Lina nggak cerita ke kakak sih?”

                                                                    Lina langsung menunduk. “Habisnya, Kakak kemalin kelihatan sedang malah besal. Jadinya Lina takut waktu itu. Sekalang saja sewaktu Lina mengaku, Kakak malah kan ke Lina?” ujarnya ketakutan.

                                                                    Aku merasa sadar dan tidak enak dengan sikapku sendiri.

                                                                    “Tuh Tasya, makanya jangan terburu-buru emosi,” celutuk Yanti.

                                                                    “Hehe, iya deh . Aku janji nggak akan mudah marah-marah lagi. Tapi besok kalau misalkan aku seperti itu lagi, ingatkan aku ya,” jawabku malu dan berjanji tidak akan mudah terburu-buru emosi lagi.

                                                                    “Benal ya… Jadi kalau kakak malah-malah lagi teyus Lina ingatkan, jangan malah yah!” celutuk Lina yang langsung membuatku melotot ke arahnya.

                                                                    “Eit… jangan marah!” Novi, Andik, Yanti, dan Lina langsung menunjuk ke arahku mengingatkan.

                                                                    22
                                                                    Apr
                                                                    09

                                                                    Misteri Pak A Wong

                                                                    Ada sebuah rumah di dekat jalan menuju sekolahku yang selalu membuat aku dan kawan-kawanku ketakutan saat melewatinya. Konon katanya, di situ tinggallah seorang bapak bersama istri dan ketiga anaknya. Namanya Pak A Wong. Sebetulnya, penampilan Pak A Wong dan keluarganya tidaklah menakutkan. Tapi aku dan teman-temanku menjadi takut karena mendengar cerita yang menyeramkan tentang kebiasaan Pak A Wong dan keluarganya.

                                                                    “Pak A Wong itu, ternyata sering makan kucing lho! Jadi kalau kalian melihat Pak A Wong sedang membakar-bakar sesuatu di dekat rumahnya dan berbau busuk, itu artinya ia sedang membakar kucing untuk dimakan bersama keluarganya!” seru Lia sambil membelalakkan matanya mencoba meyakinkan aku dan Ima. Kami bertiga langsung merinding saat mendengarnya.

                                                                    “Masa iya sih Lia?” Ima ketakutan mendengarnya.

                                                                    Ih, benar kok! Sepupuku sendiri yang cerita seperti itu,” Lia mencoba meyakinkan.

                                                                    Kami semua jadi merinding ketakutan. Sejak itu jika setiap kali aku, Lia, dan Ima pergi atau pulang dari sekolah lalu melewati rumah Pak A Wong, kami pasti akan mempercepat langkah atau bahkan berlari jika ada Pak A Wong di depan rumahnya.

                                                                    Suatu ketika, aku harus berlatih untuk menjadi petugas pengibar bendera di hari Senin. Mau tidak mau, aku jadi terpaksa harus berjalan sendirian siang hari itu. Padahal, aku takut sekali jika harus melewati rumah Pak A Wong. Sebalnya, Lia dan Ima memilih pulang lebih dulu. Mereka tidak mau menemani aku untuk pulang terlambat dari sekolah karena takut. Jika kami pulang terlambat, teman-teman kami memang sudah pulang lebih dulu sehingga jalan menjadi sepi.

                                                                    Betul saja, apa yang aku takutkan sungguh terjadi. Saat sedang berjalan pulang, dari kejauhan aku melihat Pak A Wong sedang berdiri di depan rumah sambil membakar sesuatu. Ku lihat ia memegang sebilah pisau besar yang tampak berlumuran darah.

                                                                    “Uh, bagaimana ini?!” keluhku panik dan ketakutan. Tanpa berpikir panjang, aku memilih melewati rumah Pak A Wong sambil berlari dan sesekali melirik ke arah Pak A Wong. Benar-benar takut rasanya kalau-kalau Pak A Wong akan menangkap aku.

                                                                    Sayang, karena tidak melihat jalan dengan baik, aku jadi terjatuh.

                                                                    “Hu hu hu…,” aku merasa ada yang nyeri di daerah kakiku. Sambil menangis, aku melihat ke arah lututku yang tampak berdarah karena terbentur dan bergesekan dengan aspal. Ku lihat, Pak A Wong berjalan mendekatiku masih dengan membawa sebilah pisau besar di genggaman tangannya. Aduh, aku langsung menangis keras sambil meminta tolong karena ketakutan dan merasakan sakit di kakiku.

                                                                    “Hei, kenapa kamu berlari sambil tidak melihat jalan dengan benar? Jadinya seperti inilah kakimu sekarang!” Pak A Wong kini menatap kakiku yang sedang mengucurkan darah.

                                                                    “Hu hu hu… akan diapakan aku setelah ini?” ujarku makin tersedu.

                                                                    Saat mendekat, Pak A Wong malah menggendong aku dan membawa ke dalam rumahnya. Tangisku jadi makin menjadi. Namun, Pak A Wong seakan tidak peduli dan justru terlihat sibuk sendiri. Kulihat ia sedang mengumpulkan daun-daunan yang kemudian dikunyahnya.

                                                                    Seketika aku curiga sambil teringat film kartun Tom and Jerry. Di film itu, Tom begitu asyik untuk mempersiapkan santapannya tanpa mempedulikan kepanikan Jerry.

                                                                    “Hu hu hu… apakah aku akan dimakan oleh Pak A Wong? Hu hu hu… ia pasti akan memakanku! Kucing saja bisa ia makan! Hu hu hu… nanti, bagaimana ayah dan ibu akan mencariku? Mereka pasti akan kebingungan… Lia dan Ima juga pasti akan sedih karena aku tidak ada lagi,” berbagai pikiran khawatir muncul di benakku.

                                                                    Tiba-tiba aku terkejut. Pak A Wong malah meludahi lukaku dengan daun-daunan yang telah dikunyahnya.

                                                                    “Aduh… apakah dia akan mulai memakanku?” tanyaku dalam hati sambil terus menangis.

                                                                    Aneh, Pak A Wong justru pergi meninggalkanku setelah itu. Tak lama kemudian, aku melihat istri Pak A Wong datang sambil membawakan sebuah minuman. Ia memintaku untuk meminum air berwarna hijau kehitam-hitaman di gelas itu.

                                                                    “Sudahlah, jangan menangis terus. Minumlah ini. Ini akan mengurangi rasa sakit dari lukamu itu,” istri dari Pak A Wong kemudian memeriksa luka yang ada di kakiku. “Hm… sebentar lagi rasa sakitnya pasti akan berkurang.”

                                                                    Ajaib, benar saja! Setelah aku menuruti perkataan istri dari Pak A Wong untuk meminum segelas minuman yang rasanya aneh itu, aku merasa rasa sakit di lututku lambat laun berkurang. Malah saat aku melihat ke arah lukaku, bekas luka itu sudah terlihat mengering. Lututku pun justru sudah bisa digerak-gerakkan lagi seperti biasa. Padahal jika biasanya aku terjatuh dan terluka di lutut saat bermain, luka itu akan membuat lututku sulit untuk digerakkan selama beberapa hari. Apakah ini karena obat yang diberikan oleh Pak A Wong dan istrinya ya?

                                                                    Saat aku sibuk mengamati lukaku, tanpa aku sadar, Pak A Wong dan istrinya sudah duduk berada di depanku.

                                                                    “Bagaimana lukanya, sudah terasa membaik, kan?” tanya Pak A Wong.

                                                                    Aku mengangguk sambil tersenyum. Kini, aku tidak lagi merasa takut pada Pak A Wong dan istrinya meski mereka berada di dekatku.

                                                                    “Nah, kalau sudah baikan, lebih baik sekarang kamu pulang ke rumah. Biar saya antar kamu sampai ke rumah,” ujar istri Pak A Wong.

                                                                    Aku menatap wajah Pak A Wong dan istrinya. Yah kini aku tahu, segala cerita buruk tentang Pak A Wong dan istrinya hanyalah sebuah kebohongan. Nanti sepulang dari rumah Pak A Wong, aku janji dalam hati akan menceritakan semua kebaikan Pak A Wong dan istrinya kepada semua orang. Aku yakin, semua orang pasti akan percaya padaku karena ada bukti yang kuat. Buktinya ya lututku ini.

                                                                    “Ah, aku jadi malu! Aku sudah terlalu percaya dengan cerita teman-teman yang sungguh tidak masuk akal. Apalagi, tadi aku sempat panik sambil teringat film Tom and Jerry. Bodohnya, itu kan cuma ada dalam film saja!” rutukku dalam hati.

                                                                    “Terimakasih, Pak… Bu… Terimakasih…” aku tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih pada Pak A Wong dan istrinya yang sudah membantu mengobati lukaku.

                                                                    22
                                                                    Apr
                                                                    09

                                                                    Misteri Bukit Kerang

                                                                    Sudah sejak hari Minggu kemarin aku berlibur di tempat Heri, teman sekolahku yang tinggal di daerah Kawal, Bintan. Oh iya kalau kalian belum tahu, Bintan itu adanya di Provinsi Kepulauan Riau. Sekarang ini, tinggal lima hari lagi jatah waktu liburku. Setelah itu, aku harus kembali lagi ke rumahku di Batam. Karena banyaknya agenda bermain, aku jadi teringat janji Heri mengajakku ke suatu tempat.

                                                                    “Her, kapan kita ke bukit kerang yang pernah engkau ceritakan itu? Aku penasaran, karena minggu kemarin, aku juga sempat membaca beritanya di koran. Kata om aku, Om Edi, yang menulis beritanya, tempat itu katanya memang menarik ya?”

                                                                    Heri langsung mengacak-ngacak rambutnya. “Iya ya, aku sampai terlupa! Kalau sore ini bagaimana? Nanti kita bisa sambil minum kelapa muda di sana. Kebetulan, itu lahan kebun kelapa milik pamanku. Nanti, aku sendiri deh yang akan memanjat pohon kelapanya.”

                                                                    Bukit kerang itu berupa gundukan setinggi sekitar empat meter. Tempatnya memang menarik. “Apa dulu di sini ada orang yang iseng menumpuk kerang setiap habis makan, Her?” tanyaku penasaran.

                                                                    “Entahlah Jun. Kau lihat sendiri kan, di sekitar sini yang ada hanyalah kebun sawit, kelapa, dan karet. Rumah penduduk saja adanya jauh di sana. Daerah ini memang hanya untuk kebun. Makanya, Paman Amat sampai menanaminya pisang dan kelapa di atas bukit ini. Aneh ya, padahal di bawahnya berupa tumpukan kerang,” cerita Heri.

                                                                    Aku langsung melihat ke arah atas bukit. Wah benar, bukit ini unik! Aku kemudian mengamati gundukan kerang itu dari dekat dan baru menyadari kalau ada celah menjorok ke dalam, letaknya di tengah-tengah gundukan. Aneh, bentuk celah itu kok seperti bekas potongan yang disengaja ya?

                                                                    “Itulah Jun kenapa orang kadang menyebut tempat ini dengan istilah benteng. Karena, seperti ada tempat untuk berlindung di tengah-tengah bukit ini. Penduduk di sini juga bingung. Bentuknya dari tumpukan kerang, tapi ada celah berlubang di salah satu sisinya,” terang Heri.

                                                                    “Hei, kalian sedang apa?” sebuah suara tiba-tiba mengejutkan kami.

                                                                    Aku dan Heri menoleh. Empat orang pria berbadan besar tiba-tiba berdiri di bawah bukit. Mereka membawa cangkul, sekop, dan beberapa peralatan lainnya.

                                                                    “Ya Pak, ada apa?” wajah Heri nampak terlihat bingung.

                                                                    “Lho, kami kan tadi yang sudah bertanya ke kalian lebih dulu!” hardik pria itu lagi.

                                                                    “Saya sedang mengantar teman saya untuk melihat bukit ini. Memangnya ada apa, Pak? Saya kan sedang bermain di lahan paman saya sendiri,” terang Heri masih kebingungan.

                                                                    “Cuma ini sudah sore. Apa kalian tidak sebaiknya pulang saja?” ujar pria yang lain lebih ramah.

                                                                    “Tapi kami…” Heri mencoba membantah.

                                                                    “”Iya Pak, terimakasih sudah mengingatkan kami. Yuk Her, sebentar lagi juga maghrib, nih. Tak enak dengan ibumu. Jangan-jangan nanti ia mencari kita,” ujarku sambil menarik tangan Heri. Karena yang aku lihat, bapak-bapak itu sepertinya memang tidak ingin kami ada di situ.

                                                                    “Tapi, ini aneh! Tempat itu lahan pamanku sendiri. Semua orang juga saling kenal di sini. Aku tidak mengenal mereka. Dan, kenapa mereka tidak tahu kalau aku ini keponakan dari pemilik kebun itu?”

                                                                    Hingga usai makan malam, Heri dan aku pun masih sibuk membicarakan tentang masalah itu.

                                                                    “Kok rasanya aku ingin kembali ke bukit kerang lagi,” cetus Heri akhirnya.

                                                                    “Kamu yakin Her? Ini sudah malam lho!”

                                                                    Bergegas Heri langsung mengambil senter. “Tak apa, aku sudah terbiasa kok. Ayo!” ajak Heri.

                                                                    Aku pun akhirnya mengikuti Heri pergi. Untungnya bapak dan ibu Heri mengizinkan kami keluar malam itu. Saat kami akhirnya tiba di bukit kerang, ternyata aktivitas orang-orang itu belumlah selesai. Diam-diam, aku dan Heri mengamati apa saja yang sedang dilakukan oleh orang-orang tersebut.

                                                                    “Tunggu, aku ambil fotonya dulu. Untung saja aku selalu membawa kamera saku ini ke mana-mana,” cetusku sambil mengambil kamera andalanku.

                                                                    “Hati-hati Jun! Jangan pakai sinar blitz. Nanti ketahuan!” Heri mengingatkanku.

                                                                    Ternyata, keempat pria yang sedang kami amati itu nampak sedang menggali-gali di sekeliling gundukan bukit kerang dengan bantuan penerangan senter. Apa yang sedang mereka cari ya, pikirku.

                                                                    “Krak!” sebuah ranting terinjak saat aku menggeser tempat berdiriku. Aku langsung panik.

                                                                    “Hei, siapa di sana?!” teriak seseorang di antara mereka sambil mengarahkan senter ke arah kami.

                                                                    Aku dan Heri langsung ketakutan. “Gawat, kita ketahuan!”

                                                                    Langsung saja kami bergegas berusaha melarikan diri dari tempat persembunyian kami. Namun saat para pria itu mencoba mengejar kami, aku melihat Bapak dan Paman datang dari arah berlawanan.

                                                                    “Eh, ada apa ini?” Paman melihat ke arah kami dan para pria tersebut. “Hei, apa yang kalian lakukan di tanah saya?!” hardik Paman ketika menyadari banyak galian di sekitar bukit kerang.

                                                                    Anehnya, orang-orang berbadan kekar tersebut nampak tidak takut dengan kehadiran paman dan bapak. “Ini bukan urusan kalian!” hardik mereka seakan-akan justru kebun itu adalah milik mereka. Selanjutnya, mereka pun mengemasi perangkat mereka, dan langsung pergi begitu saja. Aku, Heri, Bapak, dan Paman seakan dianggap tidak ada.

                                                                    Mungkin karena mereka berjumlah lima orang, Bapak dan Paman akhirnya membiarkan mereka pergi begitu saja. “Sebaiknya nanti kita laporkan saja ke Pak RT, Dik,” ujar Paman. “Dan kalian, besok lagi kalau merasa ada yang mencurigakan, segera beritahu kami. Untungnya, tadi Bapak sempat mendengar pembicaraan kalian,” nasehat Paman.

                                                                    Pulang dari bukit kerang, aku pun segera melaporkan kejadian tersebut pada Om Edi. Ternyata, memang bukit kerang tersebut diduga merupakan situs peninggalan purbakala. Kalau dalam istilah ilmu sejarah, disebut dengan sampah dapur.

                                                                    “Wah, Oom sangat berterimakasih sekali dengan informasi ini, Jun. Karena kalau tidak, bisa jadi orang itu akan membuat lubang lagi seperti yang dulu pernah dibuat orang lain. Itu lho, celah berlubang yang mungkin tadi kamu lihat di bukit itu. Sebetulnya, sekarang tempat itu sedang diteliti oleh para peneliti. Nanti biar Oom laporkan saja ke polisi dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bintan agar tempat itu dijaga,” terang Om Edi dalam telepon ketika aku melaporkan kejadian itu.

                                                                    “Pantas saja ya Jun, orang itu terlihat mencurigakan. Pasti mereka sedang mencoba mencari benda-benda purbakala yang bernilai sejarah dan bisa mereka jual,” ujar Heri seusai mendengar pembicaraanku dengan Om Edi di telepon.

                                                                    “Ya, sepertinya kita pun sebagai masyarakat di sini harus makin mewaspadai segala aktivitas yang ada di sekitar situ. Biar bagaimanapun kita memang harus ikut bertanggungjawab,” sahut Paman yang juga sedang duduk tak jauh dari tempat kami di beranda rumah.

                                                                    “Terimakasih ya Jun, kamu sudah membantu kami,” ujar Bapak sambil tersenyum.

                                                                    “Sama-sama Pak. Itu pun juga berkat keberanian Heri. Kalau Heri tadi tidak memberanikan diri mengajak saya ke sana, mungkin saya juga tidak akan berpikir ke sana,” jawabku yang kini sudah merasa agak tenang karena sudah ikut membantu menjaga sesuatu yang ternyata cukup bernilai.




                                                                    Kalender

                                                                    April 2009
                                                                    S S R K J S M
                                                                    « Mar   Mei »
                                                                     12345
                                                                    6789101112
                                                                    13141516171819
                                                                    20212223242526
                                                                    27282930  

                                                                    Kelompok Tema

                                                                    Terimakasih untuk...

                                                                    • 387,762 pembaca

                                                                    Koleksi Foto Milik Ika

                                                                    pintu air jagir wonokromo

                                                                    My Grand Father

                                                                    dandelion

                                                                    Teratai di Simbatan

                                                                    the hidden face

                                                                    Broken Queen of The Ant

                                                                    Shadow of The Big Tree

                                                                    Following The Stone

                                                                    Keong

                                                                    Tepi Laut Tanjungpinang

                                                                    More Photos

                                                                    Kategori

                                                                    Aneka Tulisan