11
Jun
08

Selalu Menjawab Telepon dari Masyarakat

(kisah seorang Kapoltabes Barelang)

Polisi kerap menjadi momok bagi saya, dan itu begitu tertanam sejak saya kecil. Namun ternyata, momok tersebut juga coba ditanamkan pada diri Slamet Riyanto semasa ia kecil, sesosok pria yang kini menyandang AKBP sebagai bagian tertinggi di Poltabes Barelang.

“Dulu sewaktu kecil, saya juga sama, sering ditakut-takuti dengan sosok polisi. Soalnya dulu kalau zaman perang, polisi itu kan identiknya bekerja sama dengan Belanda untuk menguras harta rakyat. Jadi kalau sudah bunyi alarm, mereka diminta untuk sembunyi di dalam bunker. Nah, itulah saatnya Bellanda dan polisi menguras harta rakyat,” cerita Slamet.

Bahkan, Slamet juga pernah memliki pengalaman unik dengan profesi yang disandangnya tersebut. Alkisah suatu ketika, ia sedang berdiri tak jauh dari seorang ibu yang sedang bersama dua anaknya yang masih kecil. Sang anak menangis, dan sang ibu menakut-nakutinya dengan ujaran, “Hush, jangan nangis. Tuh, ada Pak Polisi tuh! Ntar kamu ditangkep kalau nangis terus,” demikian seperti yang dituturkan oleh Slamet yang waktu itu langsung menghampiri sang ibu.

“Lalu ya saya beri penjelasan ibu itu kalau sebetulnya tugas polisi itu bukan seperti itu dan bukan juga seperti itu menjelaskan kepada anak. Jangan didik anak untuk takut pada saya. Polisi itu sahabat anak, kok,” cerita Slamet.

Untuk memupus momok polisi di kalangan masyarakat, Slamet pun memiliki program di Poltabes Barelang untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui sekolah-sekolah. Caranya adalah dengan menjadi pemimpin serta pembina upacara yang itu dilakukan oleh polisi secara bergantian.

Memang, sosok Slamet ternyata mampu menghapus rasa tidak nyaman saya pada profesi polisi. Ketika menyambut saya serta para mahasiswa Politeknik Batam yang Selasa (10/6) lalu saat berkunjung ke Poltabes Barelang, pria yang awalnya berencana hanya menyambut singkat kehadiran kami ini justru bercerita panjang lebar tentang dirinya, profesinya, serta hal-hal lainnya.

“Saya ini memang kalau sudah sekalinya bercerita bisa banyak. Padahal tadi rencananya cuma mau memberi pembukaan singkat saja,” ujarnya.

Sesekali, ia harus menyela pembicaraan demi mengangkat telepon yang berdering secara bergantian melalui telepon selulernya. “Orang yang telepon itu biasanya mengadukan ke saya tentang kejadian-kejadian yang ada. Itu harus saya angkat dan saya jawab. Kalau orang sudah sering teleponnya nggak diangkat, nanti dia kapok nggak akan telepon saya lagi. Kalau sudah begitu, saya jadi tidak bisa tahu kalau ada kejadian di lapangan.”

Ia mencontohkan ketika terjadi kekrusuhan di Simpang Basecamp, ada seseorang yang dipukuli habis-habisan lalu dikubur di timbunan sampah. Orang itu untungnya masih bisa menelepon rekannya yang menjadi satpam di Imperium. Melalui satpam yang kemudian melapor ke Slamet inilah maka korban yang tertimbun sampah itupun dapat tertolong.

“Entah apa karena yang nelepon minta untuk orang itu diselamatkan namanya Slamet makanya orang itu bisa selamet betulan,” ujar Slamet bercanda, “Makanya itulah, kalau ada apa-apa, lebih baik jangan sendiri tapi berdua. Jadi kalau yang satu ada apa-apa, yang lain bisa minta tolong. Saya pun kalau menegaskan ke polisi yang lainnya juga seperti itu. Kalau bertugas sebaiknya berdua, jangan sendiri. Jadi kalau yang satu diserang, yang lain bisa minta pertolongan.”

Selama menjabat sebagai Poltabes di Batam, ia mengungkapkan kesannya yang beragam tentang kota yang baru saja meraih prestasi Adipura. Batam menurutnya adalah sebuah kota yang lebih aman. Namun untuk urusan lalu lintas, Slamet cukup geleng-geleng kepala keheranan. Budaya mengendarai kendaraan secara pelan di jalur kanan misalnya, cukup membuat Slamet kebingungan dengan tardisi tersebut.

“Di kota -kota lain, masyarakatnya sudah cukup tertib dengan mengendarai kendaraan di jalur sebelah kiri. Tapi di sini, orang jalan pelan ambilnya di jalur kanan. Mau nyalip dari kiri itu dianya pindah ke kiri. Lalu saya pikir-pikir, apa karena di sini kepulauan barangkali ya? Jadi orang biasa naik kapal. Dan kalau nyalip kan bisa di kiri atau kanan karena nggak ada aturan mengendarai di jalur kiri kan?” katanya berseloroh.


0 Tanggapan ke “Selalu Menjawab Telepon dari Masyarakat”



  1. No Comments Yet

Tinggalkan Balasan




Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 374,741 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

Orang Ke Tiga (The Other Woman)

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan