Energi Potensial yang Terabaikan
Akhir-akhir ini masyarakat begitu panik dengan kekhawatiran dan penyiasatan penggunaan energi minyak. Di Kepri sendiri, baru saja krisis listrik berakhir setelah Gubernur Kepri mendesak pemerintah untuk memastikan bahwa krisis listrik tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Bayangkan saja, ketika FTZ Batam sudah dimudahkan oleh pemerintah dengan adanya tiga Peraturan Pemerintah, infrastruktur penunjangnya yaitu listrik malah yang justru kurang mendukung.
Satu hal yang saya sesalkan adalah mengapa pemerintah kurang memikirkan solusi alternatif ketika kebijakan itu akan digulirkan atau telah berjalan. Akhirnya, jangan salahkan masyarakat jika sebelum kebijakan itu bergulir saja, respon ketakutan akan sesuatu yang bisa terjadi di masa yang akan datang terlihat menjadi berlebihan.
Padahal jikalau saja pemerintah mau memberikan solusi alternatif terlebih dahulu kepada masyarakat tentang sumber energi yang bisa dimanfaatkan, pastinya kecemasan dari masyarakat pun tidak akan menimbulkan reaksi yang labil.
Begitu banyak sumber energi sesungguhnya yang bisa diberdayakan. Mulai dari yang gratis dan selalu bersentuhan dengan manusia saja, angin, air, dan panas matahari, selalu hadir dengan lewat begitu saja tanpa terpikirkan potensi yang bisa ditimbulkan jika hal tersebut termanfaatkan.
Kekurangkondusifan di masyarakat saat harga minyak naik atau krisis energi mendera ini pun makin diperparah dengan reaksi dari mahasiswa dan kalangan akademisi yang kurang berimbang. Aksi kalangan akademisi terutama mahasiswa sering muncul dalam bentuk protes tanpa adanya solusi dan hanya berupa kritik. Mengapa para mahasiswa atau kalangan akademisi ini tidak membantu pemerintah untuk memunculkan ide-ide positif yang solutif bagi masyarakat?
Misalnya, dengan mengaplikasikan ilmu mereka pada penciptaan teknologi yang dapat membantu dan memecahkan masalah yang sedang dialami masyarakat saat ini, utamanya tentang masalah pemanfaatan sumber energi.
Saya pun begitu salut ketika melihat ada segelintir kalangan akademisi di beberapa tempat yang justru asyik dengan percobaan serta pengkomunikasian kepada masyarakat tentang adanya sumber-sumber energi lain yang bisa dimanfaatkan. Misalnya mahasiswa IPB dengan konsep energi yang berasal dari singkong, atau mahasiswa Unmer Malang dengan konsep energi bletong yang berbahan baku ampas tebu.
Andai Alat Itu Ada
Saya jadi teringat tentang keberadaan masyarakat-masyarakat di kepulauan yang ada di Kepri yang belum terjamah oleh listrik dari PLN. Ketika harga minyak dinaikkan, entah bagaimana akhirnya mereka bisa memenuhi kebutuhan listrik mereka saat ini.
Satu atau dua tahun lalu saja, ketika saya berkunjng ke Pulau Subang Mas yang letaknya masih berada di dalam pemerintahan Kota Batam, masyarakat di sana hidup dengan listrik yang hanya dinyalakan sejak pukul 18.00 hingga 22.30 WIB. Tumpuan secercah energi listrik tersebut ada pada tenaga diesel yang menggunakan tenaga minyak. Demikian juga kebutuhan minyak yang mereka butuhkan untuk menjalankan kapal kecil sebagai media mencari ikan dalam mata pencaharian mereka sehari-hari.
Sebetulnya, ada satu ide yang sempat terbersit dalam benak saya akhir-akhir ini, yaitu tentang pemanfaaatan sumber energi yang melimpah namun kurang terperhatikan, yaitu energi matahari. Setelah tanya ke sana sini, beberapa orang pun mengatakan bahwasanya alat yang bisa digunakan untuk memanfaatkan energi matahari tersebut harganya cukup mahal. Belum lagi biaya perawatannya yang juga lumayan cukup menguras kantong!
Padahal seandainya saja keberadaan sumber energi serta perangkat pengolahnya bisa dipadukan, beban kewajiban pemerintah untuk memenuhi pasokan listrik ke rumah tangga saja misalnya bisa dapat berkurang. Otomatis efek dominonya adalah adanya keefektifan dari masyarakat untuk menguras sumber energi gas dan minyak yang selama ini selalu menjadi andalan.
Karena itulah saya pun kemudian berpikiran seandainya saja Politeknik Batam melalui Jurusan Elektronya bisa membuat sebuah alat yang mampu memanfaatkan tenaga surya dan bisa digunakan secara efektif untuk rumah tangga, maka peran serta kalangan akademisi ini pun bisa turut menyumbangkan sumbangsihnya bagi terwujudkan situasi yang kondusif untuk SEZ Kepri.
Alat tersebut hendaknya bisa dirancang sedemikian rupa yang memungkinkan masyarakat dapat mudah menggunakan serta merawatnya. Selain itu, alat tersebut hendaknya bisa dirancang dengan perangkat yang tidak mahal akan tetapi dapat bekerja dengan cukup efektif. Saya rasa ini hanya bisa disiasati oleh kalangan akademisi di bidang elektronika yang lebih memahaminya.
Dengan adanya alat tersebut, masyarakat pun tidak lagi kerap menjadi sasaran alasan karena adanya pemborosan penggunaan energi dari pihak pemerintah. Masyarakat bisa dapat mandiri dan dapat hidup layak tanpa perlu pusing lagi untuk memikirkan bagaimana mereka dapat memperoleh sumber energi tersebut.











Komentar Terbaru