Arsip untuk Juni, 2008

24
Jun
08

Peluang Menjadi Resensor

Salam Buku,

Bagi anda yang suka menulis dan mempunyai keinginan untuk menambah penghasilan,
Salamadani memberi kesempatan untuk bergabung dalam Komunitas Resensor
Salamadani (KRS).

Dengan bergabung di komunitas ini, Anda akan mendapatkan  kompensasi yang sangat
menarik bila  meresensi buku-buku terbitan Salamadani  dan dimuat oleh media
massa.

Caranya Anda hanya tinggal mengirimkan bukti resensi tersebut ke Bag. Promosi
Publishing Salamadani.

Info lebih lanjut, bisa menghubungi :
Promosi Publishing
Telp. 022-5222052
Hp. 022-92330120
Email :
<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy32440 = ’salamdani’ + ‘@’;
addy32440 = addy32440 + ‘gmail’ + ‘.’ + ‘com’;
var addy_text32440 = ’salamdan’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy32440 + ‘\’>’ );
document.write( addy_text32440 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n
salamdan
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ’span>’ );
//–>

<!–
var prefix = ‘ma’ + ‘il’ + ‘to’;
var path = ‘hr’ + ‘ef’ + ‘=’;
var addy43704 = ‘i’ + ‘@’;
addy43704 = addy43704 + ‘gmail’ + ‘.’ + ‘com’;
document.write( ‘<a ‘ + path + ‘\” + prefix + ‘:’ + addy43704 + ‘\’>’ );
document.write( addy43704 );
document.write( ‘<\/a>’ );
//–>\n i@gmail.com
<!–
document.write( ‘<span style=\’display: none;\’>’ );
//–>
This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it
<!–
document.write( ‘</’ );
document.write( ’span>’ );
//–>

Up. Ali Fridi/Yeni S.

12
Jun
08

Asus Terkunci Password

Laptop Asus EeePc baru 4 giga hasil kredit baru dua hari berada di tangan. Eh tahu-tahu malamnya, ketika bakat utak atik usil sedang kumat, laptop pun jadi terkunci password dan selalu failed saat dibuka.

Ceritanya sih pas malam itu, sebuah settingan saya ubah dari yang awalnya automatically without password, saya rubah jadi login dengan password. Pas log out dan login lagi, eh, password yang saya buat sebelumnya tidak bisa cocok dan selalu tertera failed.

Segala cara utak atik sudah dicoba. Mulai dari yang namanya masuk di bios lewat F2 (kalau komputer dan laptop program windows pakai F8), ganti password, clear password, tetap saja laptop saya itu nggak bisa dibuka dengan password.

Pas tanya ke sana sini, rata-rata jawabannya kurang memuaskan. Apalagi pas cari di internet entah kenapa nggak ada kasus seperti yang saya alami. Anehnya, situs di luar negeri pun saya tidak mendapatkannya. Mungkin sayanya kali ya yang terlalu jahil?!

Alhasil, larilah saya kembali ke toko penjualnya yang berada di Nagoya Hill. Untungnya saya bertemu koko yang baik hati dan tidak sombong. Ia mau membantu merecovery ulang Asus saya.

Ini dia prosesnya:

  1. Ambil external cd room (karena Asus nggak punya cd room) untuk menginstal cd Recovery DVD.

  2. Restart laptop kemudian tekan esc saat bootup

  3. Untuk lebih lengkapnya, ikuti saja buku petunjuknya yang ada di halaman 5-3.

  4. Nantinya proses ini akan membutuhkan waktu sekitar 5 menit.

Pas saya balik ke kampus, ternyata ada Pak Heru yang memberitahu saya dengan cara lain. Ini dia caranya:

  1. Klik aja di internet situs ini: http://forum.eeeuser.com/viewtopic.php?id=29683 Cara ini hanya membutuhkan cd knopix

  2. Cara lainnya adalah dengan membuka situs: http://eeepc.technoburger.net/password-recovery Konon katanya sih, cara yang ini lebih mudah

Karena itu jika Anda punya Asus EeePC, usahakan simpan saja data yang penting di dalam flashdisc atau external harddisc. Jadi kalau ada apa-apa, bisa recovery sistem. Tapi kalau sudah terlanjur, coba saja cara yang dari Pak Heru tadi.

(English version, sorry if my english language not well)

If Your Asus Eee Pc was Locked

Maybe sometimes you forget your password at your Asus Eee Pc, or… something happen without your fault. It seems like what I done. I don’t know my firstly password at my Asus Eee Pc. Because when I buying that from the shop, they also get The Asus without password when start up.

So, may be you can try this way. Expecialy when your Asus still not full  with your important file.

1. Take your external CD room (because Asus Eee Pc do not have cd room) for install  CD Recovery DVD.

2. Restart your Asus then press Esc when bootup

3. For more complete how to do, you can follow the guide book at page 5-3

4. You will get the process at 5 minute.

Or if your Asus had any file that so important, you can tray this way:

1. Click this site at:http://forum.eeeuser.com/viewtopic.php?id=29683 This way just only need cd knopix

2. Another way, you also can try this one, click: http://eeepc.technoburger.net/password-recovery This way more easy

So if you don’t want your Asus get trouble like this, maybe you can save your file at another place such as at flash disc or external memory. This also for answer about the small capacity at Asus Eee Pc. So have a nice triple E…

11
Jun
08

Selalu Menjawab Telepon dari Masyarakat

(kisah seorang Kapoltabes Barelang)

Polisi kerap menjadi momok bagi saya, dan itu begitu tertanam sejak saya kecil. Namun ternyata, momok tersebut juga coba ditanamkan pada diri Slamet Riyanto semasa ia kecil, sesosok pria yang kini menyandang AKBP sebagai bagian tertinggi di Poltabes Barelang.

“Dulu sewaktu kecil, saya juga sama, sering ditakut-takuti dengan sosok polisi. Soalnya dulu kalau zaman perang, polisi itu kan identiknya bekerja sama dengan Belanda untuk menguras harta rakyat. Jadi kalau sudah bunyi alarm, mereka diminta untuk sembunyi di dalam bunker. Nah, itulah saatnya Bellanda dan polisi menguras harta rakyat,” cerita Slamet.

Bahkan, Slamet juga pernah memliki pengalaman unik dengan profesi yang disandangnya tersebut. Alkisah suatu ketika, ia sedang berdiri tak jauh dari seorang ibu yang sedang bersama dua anaknya yang masih kecil. Sang anak menangis, dan sang ibu menakut-nakutinya dengan ujaran, “Hush, jangan nangis. Tuh, ada Pak Polisi tuh! Ntar kamu ditangkep kalau nangis terus,” demikian seperti yang dituturkan oleh Slamet yang waktu itu langsung menghampiri sang ibu.

“Lalu ya saya beri penjelasan ibu itu kalau sebetulnya tugas polisi itu bukan seperti itu dan bukan juga seperti itu menjelaskan kepada anak. Jangan didik anak untuk takut pada saya. Polisi itu sahabat anak, kok,” cerita Slamet.

Untuk memupus momok polisi di kalangan masyarakat, Slamet pun memiliki program di Poltabes Barelang untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat melalui sekolah-sekolah. Caranya adalah dengan menjadi pemimpin serta pembina upacara yang itu dilakukan oleh polisi secara bergantian.

Memang, sosok Slamet ternyata mampu menghapus rasa tidak nyaman saya pada profesi polisi. Ketika menyambut saya serta para mahasiswa Politeknik Batam yang Selasa (10/6) lalu saat berkunjung ke Poltabes Barelang, pria yang awalnya berencana hanya menyambut singkat kehadiran kami ini justru bercerita panjang lebar tentang dirinya, profesinya, serta hal-hal lainnya.

“Saya ini memang kalau sudah sekalinya bercerita bisa banyak. Padahal tadi rencananya cuma mau memberi pembukaan singkat saja,” ujarnya.

Sesekali, ia harus menyela pembicaraan demi mengangkat telepon yang berdering secara bergantian melalui telepon selulernya. “Orang yang telepon itu biasanya mengadukan ke saya tentang kejadian-kejadian yang ada. Itu harus saya angkat dan saya jawab. Kalau orang sudah sering teleponnya nggak diangkat, nanti dia kapok nggak akan telepon saya lagi. Kalau sudah begitu, saya jadi tidak bisa tahu kalau ada kejadian di lapangan.”

Ia mencontohkan ketika terjadi kekrusuhan di Simpang Basecamp, ada seseorang yang dipukuli habis-habisan lalu dikubur di timbunan sampah. Orang itu untungnya masih bisa menelepon rekannya yang menjadi satpam di Imperium. Melalui satpam yang kemudian melapor ke Slamet inilah maka korban yang tertimbun sampah itupun dapat tertolong.

“Entah apa karena yang nelepon minta untuk orang itu diselamatkan namanya Slamet makanya orang itu bisa selamet betulan,” ujar Slamet bercanda, “Makanya itulah, kalau ada apa-apa, lebih baik jangan sendiri tapi berdua. Jadi kalau yang satu ada apa-apa, yang lain bisa minta tolong. Saya pun kalau menegaskan ke polisi yang lainnya juga seperti itu. Kalau bertugas sebaiknya berdua, jangan sendiri. Jadi kalau yang satu diserang, yang lain bisa minta pertolongan.”

Selama menjabat sebagai Poltabes di Batam, ia mengungkapkan kesannya yang beragam tentang kota yang baru saja meraih prestasi Adipura. Batam menurutnya adalah sebuah kota yang lebih aman. Namun untuk urusan lalu lintas, Slamet cukup geleng-geleng kepala keheranan. Budaya mengendarai kendaraan secara pelan di jalur kanan misalnya, cukup membuat Slamet kebingungan dengan tardisi tersebut.

“Di kota -kota lain, masyarakatnya sudah cukup tertib dengan mengendarai kendaraan di jalur sebelah kiri. Tapi di sini, orang jalan pelan ambilnya di jalur kanan. Mau nyalip dari kiri itu dianya pindah ke kiri. Lalu saya pikir-pikir, apa karena di sini kepulauan barangkali ya? Jadi orang biasa naik kapal. Dan kalau nyalip kan bisa di kiri atau kanan karena nggak ada aturan mengendarai di jalur kiri kan?” katanya berseloroh.

11
Jun
08

Polisi untuk Diri Sendiri

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Ini adalah hasil kunjungan mahasiswa Politeknik Batam Jurusan Akuntansi kelas C dan D semester 2 ke Poltabes Barelang pada hari Selasa, 10 Juni 2008. Para mahasiswa ini disambut oleh Kapoltabes Barelang, Slamet Riyanto, Kepala Bagian Bina Mitra Poltabes Barelang. Nunung Syaifuddin, serta jajaran Poltabes yang lainnya.

Menurut Slamet, masyarakat saat ini masih memiliki pemahaman bahwasanya polisi adalah momok. Ini terbukti dari tingkat kepatuhan masyarakat yang masih rendah terhadap aturan yang sudah ditetapkan.

Tugas Polisi sendiri dapat dilihat di UU Nomor 2 Tahun 2003 yang menyatakan bahwasanya terdapat tiga macam tugas dari polisi. Antara lain, memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, menegakkan hukum, dan memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

Contoh dari sekian pelaksanaan dari tugas polisi tersebut adalah menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah. Polisi tidak hanya menjaga keamanan atau menjaga ketertiban lalu lintas saja, akan tetapi polisi juga bisa melakukan penyuluhan misalnya jke sekolah-sekolah untuk mewujudkan sebuah kesadaran di masyarakat khususnya pada anak-anak di sekolah.

Tujuan lain dari kegiatan tersebut tak lain adalah untuk mewujudkan polisi masyarakat di mana masyarakat juga bisa menjadi polisi untuk lingkungannya sendiri. Atau paling tidak menjadi polisi untuk dirinya sendiri.

Slamet menyontohkan misalnya ketika seseorang mengenakan helm ketika mengendarai sepeda motor, setidaknya ia sudah menjadi polisi untuk dirinya sendiri. Jadi ketika terjadi sesuatu hal di jalan, ia telah bisa melindungi bagian tubuhnya sendiri.

09
Jun
08

Berkunjung Ke Camp Vietnam

Inilah hasil kunjungan mahasiswa Politeknik Batam Jurusan Informatika C dan D semester 4 serta Jurusan Akuntansi A dan B semester 2 ke Camp Vietnam ada hari Sabtu, 7 Juni 2008. Keterangan di bawah ini didapat dari Pak Mursidi, yang sejak masa pengungsian Vietnam hingga sekarang mengelola Camp Vietnam serta Pak Hari Sukoraharjo, Staf Ahli Otorita Batam.

Pada tahun 70-an, di Vietnam terjadi perpecahan dan pertikaian yang dipimpin oleh dua orang kakak beradik. Hal ini menyebabkan Vietnam pun terbagi menjadi dua, bagian utara dan selatan. Bagian utara menganut paham komunis dan bagian selatan menganut menentang paham komunis.

Dampak dari adanya perang tersebut membuat banyak rakyat Vietnam yang mencoba melarikan diri. Dengan menggunakan perahu, mereka mencoba mencari tempat persinggahan baru di negara-negara lainnya.

Banyak dari penduduk Vietnam yang melarikan diri tersebut akhirnya terdampar di Malaysia, Singapura, Filipina, atau Indonesia. Di Malaysia, Singapura, dan Malaysia sendiri, kebanyakan para pengungsi tersebut ditolak dan diminta untuk meninggalkan negara-negara tersebut. Akhirnya, satu-satunya tempat yang mereka tuju adalah Indonesia.

Di Indonesia sendiri, pada pengungsi Vietnam tersebar di berbagai pulau yang ada di Kepulauan Riau seperti di Natuna, Bintan, Senayang, Tanjungpinang, dan Pulau Galang. Pengungsian tersebut terus menerus sampai di Kepri selama lima tahun sejak tahun 1975.

Keberadaan para pengungsi Vietnam yang banyak singgah di Indonesia ini banyak disorot oleh dunia internasional. Hingga di tahun 1979, Pulau Galang pun kemudian disurvei dari UNHCR sebagai tempat pemusatan para pengungsi Vietnam.

Di tahun 1980, Pulau Galang akhirnya menjadi pusat para pengungsi Vietnam. Dari daerah-daerah yang terpencar-pencar, para pengungsi tersebut diangkut dengan menggunakan enam buah kapal feri yang waktu itu masih berbentuk kayu dengan masing-masing kapal berkapasitas 60 hingga 70 orang.

Para pengungsi yang terpusat di Pulau Galang tersebut akhirnya mendapatkan fasilitas hidup mulai dari makanan, tempat ibadah, hingga pengobatan dari UNHCR. Mereka tinggal di sana hingga September 1996. Apabila ditotal, jumlah pengungsi yang ada selama 21 tahun tersebut termasuk yang lahir di dalam masa pengungsian bisa berjumlah 250 ribu jiwa.

Pada tahun 1996, para pengungsi ini diminta meninggalkan Galang untuk dikembalikan ke Vietnam atau dikirim ke negara-negara tujuan seperti Amerika Serikat, Australia, dan negara-negara lain yang bersedia untuk menampung para pengungsi tersebut.

Indonesia sendiri sengaja tidak mengambil resiko untuk menerima mereka sebagai warga negara Indonesia. Meskipun sesungguhnya, begitu banyak para pengungsi Vietnam yang ingin menjadi WNI. Alasannya adalah faktor politik. Indonesia hanya mau menjadi tempat pengungsian sementara dari mereka dengan alasan kemanusiaan.

Menurut Hari, bahkan ketika para pengungsi tinggal di Galang, keberadaan mata-mata dari pemerintah Vietnam saja bisa muncul di tengah-tengah para pengungsi. Begitu juga ketika terjadi reuni para pengungsi Vietnam yang berlangsung pada tahun 2005. Kegiatan tersebut dipermasalahkan oleh pihak pemerintah Vietnam karena mengungkit masa lalu yang pernah terjadi di negara tersebut.

Sementara itu ke depannya, Camp Vietnam yang ada di Pulau Galang ini akan makin dikembangkan sebagai wisata kemanusiaan. Otorita Batam sendiri di tahun 2008 memiliki proyek untuk memerbaiki Camp Vietnam. Misalnya saja perahu yang pernah digunakan para pengungsi. Perahu-perahu tersebut sayangnya kini kondisinya banyak yang telah rusak sehingga membutuhkan perbaikan.

Inilah perahu yang dahulu digunakan para pengungsi Vietnam untuk melarikan diri dari Vietnam. Dahulu satu perahu ini bisa diisi oleh 60 hingga 70 orang yang berdesa-desakkan demi menyelematkan diri. Foto diambil pada bulan Mei 2007 ketika atap yang melindungiperahu masih belum roboh.

Ricai-ricai…!!!

Kalau tadi berita ’serius’nya, inilah hasil cerita di balik kunjungan Sabtu lalu tersebut. Mulai dari pagi sebelum rombongan kami berangkat, satu demi satu para mahasiswa termasuk saya sendiri merasa sedikit kurang optimis. Bagaimana tidak, hujan yang sempat turun deras sekitar pukul 08.00 WIB hingga mendung tebal yang terus bergayut membuat kami khawatir, apakah kunjungan kami akan sukses dan lancar?

Benar saja, cuaca yang kurang kondusif membuat beberapa mahasiswa datang terlambat untuk berkumpul di kampus. Sementara itu ketika kami tiba di Camp Vietnam, hujan deras malah menyambut kami. Akhirnya, para mahasiswa pun banyak yang kedinginan dan kurang berkonsentrasi untuk menyimak keterangan dari Pak Mursidi dan Pak Hari tentang keberadaan Camp Vietnam tersebut.

Namun tidak semua mahasiswa lantas lemas dan tidak bersemangat. Buktinya, ada Hari dari jurusan Informatika yang mencoba bertanya, mengapa para pengungsi tersebut tidak diangkat menjadi WNI (jawaban ada di nagian tulisan yang ada di atas) serta saran darinya agar bekas perahu para pengungsi tersebut tidak disemen bagian bawahnya.

Menurut Pak Hari, ternyata keberadaan perahu yang bagian bawahnya disemen tersebut justru merupakan ciri khas dari perahu masyarakat vietnam. “Hanya orang Vietnam saja di dunia ini yang menyemen perahunya,” terang Pak Hari. Sementara itu kondisi perahu yang rusak tersebut menurutnya adalah dikarenakan tertimpa atap yang dulu sempat dibuat untuk melindungi kapal.

Antusiasme juga ditunjukkan oleh Anresi, Noni, Martina, Ijul dan beberapa teman-temannya dari jurusan Akuntansi yang sibuk bertanya ini itu kepada Pak Mursidi ketika memasuki museum. Mulai dari sejarah, hingga bahasa Vietnam pun mereka coba gali dari Pak Mursidi.

“Bu, nanti kami harus buat laporan seperti apa? Tulisan saya sudah banyak lho Bu dapat dari tadi hasil mencatat,” pamer Noni yang memang terlihat antusias sejak ia mendengar berbagai keterangan seputar Camp Vietnam.

“Yah, nanti sekalian ya Non, buat nulis buku,” kata saya bercanda demi melirik hasil tulisan Noni yang berlembar-lembar di buku catatannya.

Tak ayal ketika pulang, mereka pun mendapat beberapa kosa kata baru dalam bahasa Vietnam. Satu yang saya ingat adalah ‘ricai-ricai’ yang berarti jalan-jalan. Yah… ricai-ricai di hari Sabtu itu meski awalnya diserbu oleh hujan. tapi akhirnya sukses juga…




Kalender

Juni 2008
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 385,475 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan