Arsip untuk April, 2008

30
Apr
08

Waria juga Punya HAM

Film Banci juga Manusia Karya Gank Gokil

Judul filmnya, banci juga Manusia’, itulah judul film pendek sekaligus tema yang ingin diangkat oleh anak-anak muda jurusan Informatika semester 4, FT Umrah Kepri. Sebuah ide kreatif yang juga dipadu dengan cara yang kreatif, telah membuat saya akhirnya terpikat dengan film ini.

Seperti biasa di matakuliah Kewarganegaraan, anak-anak saya mencoba mengangkat berbagai realitas  yang ada dalam benak mereka dan dituangkan dalam bentuk kreasi film pendek. “Ini sudah jadi bahan renungan saya, kami satu kelompok, bukan sekedar pilih tema,” sanggah Satria Indra yang jadi sutradara sekaligus penulis naskah dari film yang digarapnya bersama Muji Syukur, Andria Sasongko, Agung Prasetya, Yudi Permana, dan Darmawan.

Cerita yang ada di film tersebut mengisahkan seorang waria bernama Mince yang harus menjajakan tubuhnya demi untuk kelangsungan hidupnya. Namun malang nasib Mince, ketika ia sedang mendapatkan pelanggan yang berpeluang memberinya uang dan rencananya akan digunakan untuk membayar tunggakan sewa kamar, Mince harus mengalami penyiksaan oleh satpam yang bertugas di dekat tempatnya biasa mencari ‘pelanggan’.

Tema dan cerita yang diangkat oleh Satria ini memang akhirnya menjadi kontroversi di kalangan teman-temannya. Menurut Aulia, Hari, Abdi, dan teman-teman yang lainnya, mereka berpendapat bahwa ketika Tuhan menciptakan manusia, yang hanyalah pria dan wanita. Tidak ada waria! Maka ketika masyarakat membeci waria, apalagi jika dilihat dari tingkah polahnya yang kebanyakan tidak menyenangkan, masyarakat pun makin menginginkan bahwa waria tidak pantas untuk ada.

Namun Satria bersikeras bahwa inilah memang fakta yang terjadi. Meski waria, ia tetap punya hak. Dan ketika ia menjajakan tubuhnya, ia harus melakukan itu karena terpaksa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Dan inilah yang kemudian menjadi perdebatan di kalangan teman-temannya. Untunglah ada Zulham yang berpendapat bahwa seharusnya waria-waria bisa diarahkan untuk melakukan aktivitas lain. Penyiksaan yang menjurus ke arah pelanggaran HAM pun bisa diminimalisir.

 

Apa yang Salah pada Waria?

Memang, waria tidak sengaja diciptakan Tuhan karena Tuhan hanya menciptakan manusia sebagai pria atau wanita. Namun banyak juga masyarakat yang kurang menyadari, mengapa seseorang menjadi waria? Yang ada hanyalah kesadaran bahwa waria adalah orang yang memang menentang kehendak Tuhan. Itu saja, dan habis perkara!

Padahal, ada beberapa hal yang menyebabkan waria menjadi seperti demikian. Pertama karena lingkungannya. Waria, sebetulnya bisa dikategorikan menular dan menjadi gaya hidup. Tentu saja bagi mereka yang mengalami ini, tidak bisa ’setulen’ waria yang sesungguhnya tercipta dari kecil.

Beda lagi dengan waria yang didapatnya dari lahir. Bukan salahnya ketika ia dilahirkan dengan jumlah kromosom yang berbeda dengan pria sejenisnya. Akhirnya, ia pun menjadi berbeda jika dibandingkan dengan pria kebanyakan.

Ini pun bisa berpeluang menjadi dua kejadian, mereka yang akhirnya tetap menjadi pria meski berbeda, dan mereka yang akhirnya memilih untuk mengubah keadaan, alias menjadi waria. Nah, yang terakhir ini pun bisa menjadi berbeda-beda, ada yang memilih untuk menjajakan tubuhnya, dan ada yang memang mengubah kondisi dirinya untuk menjadi waria namun tetap ingin hidup secara baik-baik.

Saya pun ketika di kelas mencoba menjelaskan bahwasanya di kawasan Batuampar misalnya, banyak waria yang menjajakan tubuhnya hanya Rp 10 ribu hingga Rp 50 ribu namun memiliki tubuh yang memang tidak berbeda jauh dari wanita, baik fisik hingga (maaf) alat kelaminnya. Nah, apakah mereka bisa dikatakan butuh uang? Sedangkan untuk biaya operasi itu saja bisa membutuhkan uang berjuta-juta dan bahkan hingga ke luar negeri untuk operasinya.

Namun, ada juga para waria yang akhirnya meski berani berbeda, tetapi bisa hidup denagn cara baik-baik. Mbak Merlyn Malang misalnya. Berani hidup dan berkarya dengan aktif di lembaga sosial sampai menerbitkan buku.

Tapi saya tidak juga bermaksud membenarkan mereka yang memilih untuk berabni mengubah kondisi. Tidak sedikit juga para pria yang memiliki kondisi seperti ini tetap memilih mejadi pria, hidup normal, berkeluarga, hingga memiliki anak. Meskipun sekali lagi, terkadang jalan hidup yang sudah dipilih seperti itupun masih dilihat sebelah mata. Masyarakat kebanyakan masih memandang bahwa mereka terlihat aneh secara fisik, secara tingkah laku, dan akhirnya masih menyepelekan kehadirannya.

Jadi, apa yang salah pada mereka ketika memang mereka lahir dalam kondisi kromosom yang berbeda dengan manusia kebanyakan?

 

Gratis Biaya Salon

Ada sebuah kisah menarik di balik pembuatan film Banci juga Manusia yang dibuat oleh Gank Gokil. Ceritanya, Satria dan kawan-kawannya tersebut membawa Sasongko, sang pemeran waria untuk make up ke salon sekaligus meminjam kostum dari salon tersebut.

“Agak kaget juga Bu pas ditagih, katanya Rp 100 ribu! Tapi karena kami bilang kalau ini adalah tugas kuliah dan untuk memperjuangkan hak para waria juga, jadi digratisin Bu. Mbak salonnya emang waria juga,” cerita Satria.

Cerita lain lagi yang mengalir dari bibir Satria adalah tentang bagaimana mereka melakukan shooting di kala malam hari. “Banci-bancinya juga banyak banget Bu yang ngelihat kami pas shooting. Mungkin dipikirnya ada apa ya?” kata Satria geli.

Nah, penasaran seperti apa filmnya?

02
Apr
08

Cleaning Service pun tak Luput dari Wawancara

Kuliah Kewarganegaraan dengan Cara Menyenangkan

Mendengar matakuliah Kewarganegaraan, pasti rasanya yang terbersit dalam kepala adalah sebuah matakuliah yang membosankan, membuat mengantuk, dan akan lebih mengasyikkan kalau sang dosen akhirnya dibiarkan berbicara sesuka hati!

Jujur, saya sendiri sejak masa sekolah, begitu kurang menyukai mata pelajaran hingga mata kuliah berjenis ini. Nggak peduli apakah namanya itu PPKN, Kewiraan, Pancasila, atau Kewarganegaraan.

Kalau nggak karena bosan dikarenakan judul-judul pelajarannya yang mirip dengan film India seperti Cinta Tanah Air, Pengorbanan, atau Kasih Sayang, atau matakuliahnya yang akhirnya membuat saya dan teman-teman memiliki kesibukan lain seperti mengantuk, tidur, ngerumpi, atau mengerjakan tugas pelajaran yang lain. Belum lagi ajakan untuk mengikuti diskusi yang sayangnya kurang kondusif situasinya.

Parahnya ketika profesi pengajar akhirnya saya sandang, bukanlah matakuliah di bidang ekonomi yang merupakan bidang saya sendiri semasa kuliah dululah yang harus saya ajarkan, atau hanya matakuliah Bahasa Indonesia yang merupakan bidang yang saya pelajari dengan otodidak. Akan tetapi, matakuliah Kewarganegaraan pun menjadi tuntutan yang harus saya kuasai.

Maka sebelum perkuliahan itu dimulai, saya pun sibuk mencari konsep apa yang bisa dirasa menarik untuk matakuliah yang satu ini. Akhirnya, bentuk presentasi yang membutuhkan kekreativitasan mahasiswa hingga acara menonton film bareng pun bisa ada di kelas saya di kemudian hari.

Jadi di masa awal perkualiahan, semenarik dan semenyenangkan mungkin saya mencoba mengawali pendekatan dengan mahasiswa. Misalnya saja mulai dari aturan di dalam kelas.

Kalau di kelas dan matakuliah yang lain ada larangan makan atau minum, berbeda dengan kelas saya yang bisa memungkinkan mahasiswa ‘ngemil’ sambil belajar, atau mendengarkan musik dari handphone.

Sedangkan bagi yang melanggar kesepakatan aturan, saya akan meminta si pelanggar untuk mentraktir Beng-beng stick untuk satu kelasnya! Jadi meskipun dirasa begitu bebas, tetap saja ada aturan yang mereka patuhi. Tidak terlambat lebih dari 10 menit tanpa ada pemberitahuan, atau mengaktifkan ringtone handphone yang memungkinkan nada satu lagu bahkan satu album keluar dari suara handphone, menjadi pantangan-pantangan yang ada di kelas saya.

Jika acara nonton bareng dan analisis film cuma ada di jurusan atau fakultas Komunikasi, maka saya pun berpikir mengapa tidak memungkinkan juga untuk matakuliah Kewarganegaraan? Jadi jangan heran jika di kelas saya, bisa ada pemandangan para mahasiswa yang asyik menyaksikan film Denias, Get Married, atau Nagabonar Jadi 2 sambil ‘ngemil’.

Saya pun berterimakasih untuk para sineas yang berhasil menghasilkan film-film berkualitas yang menunjukkan ciri khas ke-Indonesia-an. Karena tanpa mereka, saya tidak bisa mengajak mahasiswa saya untuk bisa belajar bersama tentang apa itu Demokrasi, Hak Asasi Manusia, Identitas Nasional, hingga Politik dan Strategi Nasional dengan cara-cara yang kekinian serta menyenangkan.

Beberapa situs yang memungkinkan untuk dikaji atau menjadi contoh dari cara belajar kewargaan dan kewarganegaraan yang khas ala anak muda serta begitu dekat dengan dunia mahasiswa saya juga menjadi alat bantu bagi saya untuk mengajak mereka lebih peduli tentang segala topik yang ada di matakuliah Kewarganegaraan.

Misalnya saja www.cendanabatam.wordpress.com yaitu blog milik sebuah lingkungan RT di Perumahan Cendana Batam atau www.cived.org yang merupakan situs pembelajaran Demokrasi khas ala anak muda juga menjadi pintu yang kami masuki. Di situs Cendana, kami bisa mempelajari bagaimana cara demokrasi di sebuah lingkungan RT yang bisa terbilang unik. Sedangkan di situs Cived, kami pun bisa mempelajari bagaimana bentuk-bentuk demokrasi yang disuarakan oleh anak muda Indonesia.

Acara diskusi pun saya kondisikan dengan memancing kreatifitas dari mahasiswa. Untuk di kelas Akuntansi, saya mempersilahkan mereka untuk melakukan presentasi dari tema yang mereka pilih dan disesuaikan dengan bab yang sudah ditentukan. Bentuknya bisa film pendek, slide foto, artikel atau makalah, sampai karikatur.

Sementara itu untuk jurusan Informatika yang sudah mempelajari matakuliah multimedia, saya meminta mereka untuk hanya membuat sebuah film pendek dengan tema yang sudah dipilih serta disesuaikan dengan bab yang sudah ditentukan.

Hasilnya? Ternyata cukup memancing antusiasme mereka yang itu begitu saya syukuri. Di kelas Informatika saja, untuk kelompok yang digawangi oleh Nova Ade Saputra, Refky Pramana, Deni Arsenal, Syafuan Rasidin, Iman Teguh, dan Seto Suhafidzi sebagai kelompok perdana yang tampil, mereka berhasil membuat sebuah film pendek hasil karya mereka sendiri dengan tema Demokrasi. Lebih tepatnya, mereka-mereka inilah pemain sekaligus sutradaranya.

Cerita yang disutradarai oleh Nova ini menceritakan tentang bagaimana proses sebuah aksi demo untuk menurunkan harga barang. Konflik yang ada adalah adanya ketidakkonsistenan para tokoh di film tersebut terhadap janji untuk rapat. Akan tetapi akhirnya, rapat hingga aksi demo itu berhasil mereka lakukan meski aksi mereka dinilai kurang berhasil.

Berbeda lagi dengan versi penampilan kelompok dari kelas Akuntansi yaitu Nurbadriyah, Afni Afriani, Adisty Mayasari, Reda Rianty, Sherly Agustia, dan Siti Sariza. Mereka menampilkan tentang tema wanita pemimpin yang dikombinasi dengan sebuah film dokumentasi yang mereka dapatkan dari Youtube, serta tayangan dokumentasi hasil wawancara dengan beberapa orang di kampus kami, Fakultas Teknik-Bisnis Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

“Awalnya kami sudah minat wawancara dengan Pak Eko (PR 3 UMRAH), Pak Dedy (Kepala Sekolah Trenz), dan Bu Sinar (Ketua Program Studi Akuntansi) Bu… Tapi pas udah bikin janji, mereka rata-rata sibuk,” keluh Sherly.

Tak kehabisan akal, teman mereka yang ada di jurusan Akuntansi semester 2 kelas D, Farizan, hingga cleaning service pun jadi sasaran nara sumber mereka. Padahal, pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan cukup lumayan ‘berat’. Misalnya, para narasumber ini dimintai pendapatnya tentang kemungkinan wanita menjadi pemimpin, sampai diskriminasi wanita di bidang politik.

“Onde mande, jadi hasil wawancaranya itu dilihat dua kelas Akuntansi?!” cetus si Mas Cleaning Service dengan nada terkejut saat saya menceritakan bagaimana bahwa hasil wawancaranya sudah ditayangkan. “Hehe… saya sendiri awalnya bingung Bu. Mereka itu kok sedang lirik sana sini, terus jadi saya dan teman saya itu yang jadinya diwawancarai,” cerita si Mas kemudian.

Kini, saya pun tinggal menunggu kejutan-kejutan lain dari para mahasiswa saya yang sedang mereka-reka kekreativitasan apa yang akan mereka lakukan untuk menyaingi rekan-rekannya yang sudah dinilai bagus dan tampil lebih dulu.

Dan tentunya, belajar Kewarganegaraan bukan harus berarti dosen yang berceramah panjang kali lebar kali tinggi kali lama bukan? Atau, mahasiswa juga tidak harus melulu diajak untuk berdiskusi hal-hal yang pelik tentang perpolitikan. Setidaknya, bagaimana mereka bisa menjadi warga negara yang baik untuk lingkungan sekitarnya, terdekatnya, untuk konteks mereka sebagai mahasiswa, dan juga sebagai generasi muda, itulah yang semoga bisa terwujud.

Namanya saja matakuliah Kewarganegaraan, maka warga negara seperti yang diharapkan, sesuai dengan peran dan konteksnya, serta yang seharusnyalah yang setidaknya perlu mereka sadari dahulu. Cukup sudah ucapan yang saling menyalahkan ‘negara ini seperti ini karena salah siapa’. Mereka, generasi muda ini, perlu untuk sadar bahwa mereka adalah tumpuan perubahan yang lebih baik untuk masa depan, membiarkan mereka hidup di dalam dunia muda mereka, serta tahu dan sadar akan apa yang perlu dan terbaik harus mereka lakukan untuk diri mereka sendiri, kondisi masyarakat sekitarnya, bangsa, hingga negaranya.

Kalau ala kata Denias, itu sudah…




Kalender

April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Kelompok Tema

Terimakasih untuk...

  • 387,762 pembaca

Koleksi Foto Milik Ika

pintu air jagir wonokromo

My Grand Father

dandelion

Teratai di Simbatan

the hidden face

Broken Queen of The Ant

Shadow of The Big Tree

Following The Stone

Keong

Tepi Laut Tanjungpinang

More Photos

Kategori

Aneka Tulisan